-->

7 FAKTOR YANG MEMENGARUHI PRODUKSI DAN KUALITAS SUSU SAPI

Produksi susu memainkan peran penting dalam perekonomian negara-negara penghasil susu. Berbagai faktor memengaruhi produksi dan kualitas susu pada sapi perah, yang akan dibahas dalam artikel ini.

Faktor Lingkungan

Iklim dan kelembapan yang ekstrem mengurangi asupan pakan dan produksi susu pada sapi perah. Selain itu, cuaca dan iklim juga memengaruhi kelimpahan dan kualitas pakan yang pada gilirannya memengaruhi kuantitas dan kualitas susu.

Lebih jauh lagi, tekanan panas mengubah profil mikroba susu mentah, meningkatkan jumlah patogen dan mikroorganisme pembusuk, serta menurunkan protein susu, lemak, padatan bukan lemak, dan jumlah sel somatik. Di sisi lain, peningkatan kelembapan selama musim hujan meningkatkan protein susu, lemak, padatan bukan lemak, dan jumlah sel somatik.

Nutrisi

Pola makan sapi perah memengaruhi kuantitas dan kualitas susunya, termasuk rasa, nilai gizi, dan komposisinya. Pola makan berenergi tinggi dari karbohidrat yang mudah difermentasi meningkatkan produksi susu dan mengurangi persentase lemak susu. Jenis hijauan, ukuran partikel, tahap kematangan, dan kandungan serat juga memengaruhi persentase lemak susu.

Makanan ternak yang digiling halus menghasilkan kadar propionat yang lebih tinggi selama fermentasi rumen, sehingga mengurangi persentase lemak susu. Selain itu, jumlah protein kasar makanan yang tidak mencukupi memengaruhi produksi susu dan akibatnya mengurangi persentase protein susu.

Kesehatan dan Fisiologi

Status kesehatan sapi perah memengaruhi produksi dan komposisi susu. Paparan lumpur, pupuk kandang, dan limpasan meningkatkan risiko infeksi dan mengurangi kualitas susu.

Mastitis merusak sintesis susu, melonggarkan hubungan antarsel, dan meningkatkan permeabilitas konstituen darah. Selain itu, mastitis meningkatkan persentase natrium dan klorida dalam susu, menurunkan jumlah kalium, dan mengubah komposisi lemak susu. Meskipun mastitis memiliki dampak kecil pada persentase protein susu total, namun secara drastis mengubah komposisi protein susu.

Pemberian hormon pertumbuhan eksogen pada dosis rendah mengurangi persentase lemak tanpa mengubah komposisi lemak, tetapi pada dosis tinggi, hormon pertumbuhan meningkatkan persentase lemak susu dan meningkatkan kandungan asam lemak endogen.

Jenis Sapi dan Genetika

Berbagai jenis sapi memiliki heritabilitas yang berbeda untuk lemak susu, persentase dan komposisi protein. Misalnya, sapi Jersey memiliki heritabilitas tertinggi untuk persentase lemak susu dan susu sapi Holstein mengandung lebih sedikit kasein dan lebih banyak gamma-kasein dibandingkan dengan susu dari jenis sapi lainnya.

Selain itu, heritabilitas rasio padatan-bukan-lemak terhadap lemak dan protein-terhadap-lemak tertinggi untuk sapi Ayrshire diikuti oleh sapi Jersey, Guernsey, Brown Swiss, dan Holstein. Disarankan untuk memilih sifat-sifat yang berkaitan dengan produksi susu, protein, dan lemak secara bersamaan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Usia dan Tahap Laktasi

Sapi yang lebih muda memiliki produksi susu yang lebih tinggi dengan kandungan lemak yang lebih besar dibandingkan dengan sapi yang lebih tua. Tahap laktasi juga memengaruhi persentase lemak susu. Persentase lemak susu maksimum ditemukan dalam kolostrum, meskipun menurun selama 2 bulan pertama laktasi dan kemudian meningkat secara bertahap seiring dengan kemajuan laktasi.

Selama paruh pertama siklus laktasi, proporsi kandungan asam lemak rantai pendek dan menengah dalam susu meningkat, dan proporsi asam lemak rantai panjang menurun. Namun, selama paruh terakhir laktasi, tidak ada perubahan lebih lanjut yang terjadi dalam komposisi lemak susu.

Pada awal laktasi, protein seperti kasein, beta-laktoglobulin, dan alfa-laktalbumin berlimpah dalam susu. Meskipun, seiring dengan kemajuan laktasi, jumlah protein meningkat secara bertahap dan selama kehamilan jumlah protein meningkat tajam.

Frekuensi Pemerahan

Meningkatkan frekuensi pemerahan hingga 3 kali sehari meningkatkan produksi susu hingga 15-20%. Namun, perlu diperhatikan bahwa peningkatan frekuensi pemerahan menambah biaya tenaga kerja dan peralatan dan penurunan frekuensi pemerahan memengaruhi produksi dan kualitas susu.

Lamanya Periode Kering

Peningkatan atau penurunan lamanya periode kering mengurangi produksi susu pada periode laktasi berikutnya. Disarankan untuk memiliki periode kering selama 45-65 hari dengan interval melahirkan selama 12-13 bulan untuk memaksimalkan produksi dan kualitas susu. Sapi betina membutuhkan setidaknya 60-65 hari periode kering sementara sapi dengan paritas yang lebih tinggi membutuhkan lebih sedikit hari. (Via Dairyglobal.net)

MAKAN DAGING AYAM BISA PENGARUHI HORMON LAKI-LAKI? INI FAKTANYA

Ilustrasi daging ayam. (Foto: Istimewa)

Belakangan ini beredar video yang menyebutkan bahwa pemberian nutrisi seperti lisin dan metionin pada pakan ayam bisa meningkatkan hormon estrogen pada ayam dan memengaruhi hormon anak laki-laki yang mengonsumsi daging ayam. Namun, kabar tersebut tidaklah benar dan tidak didukung bukti ilmiah.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Kementerian Pertanian, Nuryani Zainuddin, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa lisin dan metionin adalah zat penting yang diberikan pada ayam untuk membantu pertumbuhan dan produksi, seperti pembentukan otot dan kesehatan tubuh. Menurutnya, zat ini tidak ada hubungannya dengan peningkatan hormon estrogen pada ayam.

Ia menjelaskan, estrogen adalah hormon alami yang memang ada pada ayam betina, terutama untuk membantu proses bertelur. Namun, pada ayam pedaging (broiler) yang banyak dikonsumsi biasanya dipanen saat usianya masih muda, yaitu sekitar 4-6 minggu. Pada usia tersebut, kadar hormon estrogen di tubuh ayam masih sangat rendah.

“Daging ayam yang kita makan mengandung hormon estrogen yang sangat kecil, tidak cukup untuk memengaruhi kesehatan atau hormon manusia, termasuk anak laki-laki,” kata Nuryani di Kantor Kementerian Pertanian Jakarta, Rabu (18/12/2024).

Hal senada juga diungkapkan oleh pakar kesehatan masyarakat veteriner Denny Widaya Lukman, bersama ahli unggas Antimon Ilyas, dan pakar fisiologi biokimia Ronald Tarigan. Ketiganya menegaskan bahwa pemberian lisin dan metionin pada ayam tidak menyebabkan peningkatan kadar hormon estrogen.

Sementara itu menurut Guru Besar SKHB IPB University, Prof Wayan Teguh Wibawan, juga menanggapi demikian. "Itu ngarang dan tidak saintifik," sebutnya.

Oleh karena itu, pihak pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum terbukti.

“Semua proses produksi ayam termasuk pemberian pakan, diawasi dengan ketat untuk memastikan keamanan pangan. Jadi, daging ayam yang beredar di pasaran aman untuk dikonsumsi,” tambah Nuryani.

Sehingga bisa disimpulkan bahwa pemberian lisin dan metionin pada pakan ayam tidak meningkatkan hormon estrogen pada ayam. Kabar bahwa daging ayam memengaruhi hormon anak laki-laki hanyalah hoaks yang tidak didukung fakta ilmiah.

"Jadi masyarakat tidak perlu khawatir untuk mengonsumsi daging ayam sebagai sumber protein yang sehat," tukasnya. (INF)

FILIPINA: TIONGKOK BARU UNTUK EKSPOR DAGING BABI BRASIL

Untuk pertama kalinya, Filipina menjadi tujuan utama ekspor daging babi Brasil, melampaui Tiongkok, yang menjadi tujuan utama sejak 2018. Sebelumnya, Rusia memimpin peringkat ini selama lebih dari satu dekade.

Pada tahun 2024, negara kepulauan itu membeli 206.000 ton antara Januari dan Oktober — peningkatan luar biasa sebesar 103,3% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023.

“Setelah bertahun-tahun Tiongkok mendominasi pasar utama daging babi Brasil, Filipina telah memimpin. Pergeseran ini terjadi karena sektor ini secara signifikan mendiversifikasi portofolio ekspornya,” kata Ricardo Santin, presiden Asosiasi Protein Hewani Brasil (ABPA).

Tiongkok, yang pernah menjadi importir teratas, kini menempati posisi kedua dengan 199.900 ton, penurunan tajam sebesar 40,6%. Pasar utama lainnya termasuk Chili (92.500 ton, naik 33,9%), Hong Kong (89.400 ton, turun 11,8%), dan Jepang (75.800 ton, naik 137,2%).

“Pada bulan Oktober saja, di antara 10 importir teratas, hanya 2 yang menunjukkan penurunan pertumbuhan. Skenario ini menunjukkan prospek yang lebih berkelanjutan secara komersial bagi industri ekspor daging babi Brasil,” imbuh Ricardo.

NEW HOPE CHINA MEMPERTIMBANGKAN MEMPERLUAS BISNIS PAKAN DI MESIR

New Hope telah mengadakan pertemuan dengan pemerintah Mesir untuk membahas proyek investasi senilai $100 juta yang ditujukan untuk meningkatkan produksi pakan di negara tersebut.

Perusahaan Tiongkok tersebut telah menginvestasikan $70 juta dalam pembangunan 5 pabrik pakan di Mesir di provinsi Menoufia, Beni Suef, dan Beheira di kota Hosh Issa dan Wadi El Natrun, serta kota Gamasa di Dakahlia.

Kapasitas produksi utama New Hope di negara tersebut diperkirakan mencapai 650.000 ton pakan per tahun, setara dengan 10% dari kapasitas terpasang negara tersebut.

Dengan investasi baru tersebut, perusahaan tersebut berupaya mencapai tujuan strategis untuk mendorong kinerjanya di negara tersebut melampaui 1 juta ton per tahun.

New Hope tengah berupaya keras mengembangkan bisnisnya di luar Tiongkok di banyak wilayah, dengan Mesir menjadi salah satu arah terpenting.

Manal Awad, Kementerian Pembangunan Daerah, menekankan bahwa “investasi akan terus membangun jembatan kerja sama ekonomi, perdagangan, dan budaya antara kedua negara”.

WAMENTAN DAN WKU KADIN BERTEMU, BAHAS KETAHANAN DAN SWASEMBADA PANGAN

Wamentan Sudaryono bersama jajaran Kadin bidang peternakan berfoto bersama usai audiensi (Foto: Infovet)

Kamis (19/12/2024) Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menyambut hangat kedatangan Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Peternakan Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia beserta jajaran Wakil Komite Tetap di Gedung A, Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta.  

Didampingi Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dr Drh Nuryani Zainuddin MSi, Wamentan Sudaryono membuka kegiatan ini dengan mengulas sekilas pidato perdana Presiden Prabowo Subianto yang menekankan ketahanan dan swasembada pangan adalah prioritas utama pemerintah.

Sudaryono menuturkan bahwa Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan bertanggung-jawab pada aspek ketersediaan bahan pangan asal ternak.

Dalam kaitannya dengan  program Makan Bergizi Gratis (MBG), Sudaryono menekankan bahwa negara tidak melakukan impor sapi hidup. "Presiden Prabowo menghendaki dalam pemenuhan program MBG tidak diisi dengan produk impor. Saya berharap Kadin turut serta berperan di sini untuk memonitor," tandasnya.

Program MBG diharapkan berperan penting dalam memperkuat perekonomian lokal, serta meningkatkan produktivitas sumber daya lokal. 

Negara membuka peluang seluas-luasnya bagi privat sektor, baik dalam maupun luar negeri untuk berinvestasi mendatangkan sapi hidup ke Indonesia. "Jaminannya adalah daging dan susu akan dibeli untuk menjadi sumber bahan baku, sumber menu di program MBG," imbuh Sudaryono.

Kementan dalam proses mengusulkan 21 lokasi menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk mempermudah investasi sapi perah dan sapi potong. Berdasarkan informasi terkini dari Ditjen PKH, sekitar 211 investor atau industri berkomitmen berinvestasi sapi di Indonesia. "Ada 141 perusahaan untuk yang sapi perah dan 70 perusahaan sapi potong," tutur Sudaryono.

Selain itu, Kementan juga telah mengindentifikasi lahan untuk pemanfaatan dan pengembangan peternakan sekaligus untuk ditanami hijauan pakan. 

Program MBG merupakan new emerging market dengan indikasi permintaan yang tinggi. Hal ini sebagai satu kepastian pasar, guna mempercepat swasembada pangan dan jaminan penyerapan dalam berinvestasi.

Senada dengan Sudaryono, WKU Bidang Peternakan Kadin, Drh Cecep Muhammad Wahyudin SH MH menuturkan program MBG akan meningkatkan gairah peternak lokal. (NDV)

WEBINAR RISNOV TERNAK #7: KINERJA INDUSTRI PERUNGGASAN 2024 DAN STRATEGI INOVASI KE DEPAN

Webinar Risnov Ternak #7. (Foto: Dok. Infovet)

Kamis (19/12/2024), Webinar Risnov Ternak kembali diselenggarakan atas kerja sama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Infovet. Pada kesempatan ini, webinar mengupas bagaimana kinerja industri perunggasan 2024 dan strategi inovasinya ke depan.

“Tahun 2024 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi sektor peternakan, khususnya perunggasan. Situasi stagnasi ekonomi di sektor ini ditandai dengan produksi pakan dan pasar obat hewan yang relatif tidak mengalami peningkatan, serta kebijakan pengendalian produksi akibat oversupply masih berlangsung,” ujar Pemimpin Redaksi Majalah Infovet, Ir Bambang Suharno, dalam sambutannya.

Beragam tantangan seperti oversupply, supply-demand yang tidak seimbang, gejolak harga live bird, pakan, dan lain sebagainya masih mendera sub sektor perunggasan, padahal industri tersebut memberikan kontribusi cukup besar terhadap ketahanan pangan di Indonesia.

Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkular BRIN, Prof Dr Nyak Ilham, mengemukakan akar masalah dari oversupply ini karena adanya over estimasi konsumsi yang membuat impor GPS berlebih sehingga menyebabkan banyaknya telur tetas yang diproduksi. Dari sisi pakan, penggunaan bahan pakan impor akibat tidak stabilnya ketersediaan jagung lokal serta belum maksimalnya pemanfaatan sumber bahan pakan alternatif menjadi suatu keniscayaan.

Oleh karena itu lanjut Nyak Ilham, diperlukan beberapa rekomendasi, di antaranya riset bahan pakan lokal dengan harga murah, perhitungan kebutuhan GPS secara transparan, perlunya kebijakan mendukung daya saing melibatkan peternak kemitraan, peralihan kandang dari sistem open ke closed house, hingga meningkatkan peran Wastukan dan Wasbinak.

Pada kesempatan yang sama, Research Analyst Danareksa Sekuritas, Pengamat Perusahaan Publik Peternakan, Victor Stefano, juga membeberkan kondisi di 2024 yang masih terjadi beberapa gejolak dari sisi harga dan kestabilan pakan.

Walau dilanda gejolak, kinerja emiten perunggasan seperti Charoen Pokphand, Japfa, dan Malindo selama sembilan bulan pertama masih berjalan baik karena pemangkasan mandiri yang dilakukan perusahaan untuk menjaga tingkat profit mereka.

“Untuk di 2025 kita prediksi ada cukup ruang, karena diperkirakan oversupply akan turun karena adanya penurunan kuota GPS sebesar 15%. Kemudian adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga diharapkan dapat mengambil kelebihan supply sehingga terjadi keseimbangan,” katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari SP MSi PhD, yang mengharapkan di tahun depan industri perunggasan bisa meminimalisir risiko dari tantangan yang ada dengan lebih baik.

“Tahun depan kita bisa memaksimalkan mitigasi yang lebih baik dalam menghadapi tantangan, kita optimalkan lagi sekaligus memanfaatkan peluang yang ada, salah satunya dari adanya program MBG, dimana kita harus bekerja sama untuk mendukung keberlanjutan usaha dan meningkatkan perekonomian nasional,” katanya. (RBS)

PEMULIHAN SPANYOL YANG LAMBAT NAMUN STABIL SETELAH PELARANGAN KANDANG AYAM

Industri telur Spanyol telah mengalami beberapa tahun yang penuh gejolak. Produksi terpukul keras dengan pelarangan kandang konvensional pada tahun 2012, yang mencakup 95% sistem kandang. Pemulihan berjalan lambat namun stabil, dengan produksi saat ini mencapai titik tertinggi sepanjang masa.

Arahan 1999/74/EC memaksa industri telur Spanyol untuk mengubah sistem kandang untuk ayam petelur pada tahun 2012. Hingga saat itu, 95% ayam di negara tersebut dipelihara dalam kandang baterai, tetapi kandang yang diperkaya, kandang lepas dan kandang lumbung serta sistem kandang organik harus dibangun. Kandang yang diperkaya, yang awalnya disukai, menjadi kurang penting sementara sistem kandang baru dan kandang lepas semakin diadopsi, paling tidak karena keputusan pengecer makanan terkemuka untuk tidak lagi menjual telur yang diproduksi dalam sistem kandang baterai.

Transformasi sistem kandang mengakibatkan penurunan tajam persediaan ayam petelur dan penurunan produksi telur selama beberapa tahun. Namun industri ini pulih dari pukulan lebih cepat dari yang diharapkan dan bahkan melampaui volume produksi sebelumnya. Pandemi Covid-19 berdampak luas pada konsumsi telur per kapita dan swasembada di Spanyol. Permintaan domestik yang lebih rendah memaksa industri untuk meningkatkan ekspornya, karena produksi telur tetap stabil. Pasar baru dikembangkan di dalam dan luar UE, memastikan masa depan yang sejahtera.

Ketika arahan UE 1999/74/EC mulai berlaku pada tahun 2012, pelarangan kandang konvensional berdampak luas pada industri telur Spanyol. Persediaan ayam petelur menurun sebanyak 8,2 juta ekor antara tahun 2010 dan 2012 (17,7%). Pada tahun-tahun berikutnya, persediaan pulih dan mencapai lebih dari 47 juta ekor pada tahun 2021.

Antara tahun 2017 dan 2021, sistem kandang berubah secara signifikan. Sementara kandang yang diperkaya berkurang sebesar 16%, sistem alternatif meningkat secara signifikan. Pangsa sistem kandang alternatif dalam peternakan ayam petelur meningkat dari 12,2% pada tahun 2017 menjadi 26,7% pada tahun 2021.

Kekuatan pendorong utama di balik perkembangan dinamis ini adalah discounter dan, pada tingkat yang lebih rendah, jaringan supermarket. Lidl berhenti menjual telur yang diproduksi di kandang yang diperkaya pada tahun 2018, dan pengecer makanan lainnya mengikutinya, namun beberapa dengan ragu-ragu.

Pelarangan kandang konvensional juga mengakibatkan penurunan tajam dalam jumlah peternakan telur, dari 1.446 menjadi hanya 1.175 antara tahun 2010 dan 2012. Pada tahun-tahun berikutnya, jumlah peternakan tumbuh pesat dan mencapai titik tertinggi baru pada tahun 2021 di 1.446 peternakan. Pertumbuhan ini merupakan konsekuensi dari perubahan sistem kandang.

Peternakan baru dengan sistem kandang bebas dan organik dengan ukuran kawanan yang lebih kecil mulai berproduksi, terutama untuk pasar domestik. Penurunan drastis persediaan ayam petelur antara tahun 2010 dan 2012 dan perubahan dalam sistem perkandangan mengakibatkan pola spasial yang dimodifikasi dalam pemeliharaan ayam petelur dan produksi telur.

PINSAR INDONESIA MENYELENGGARAKAN RAPAT KERJA NASIONAL

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia) telah sukses menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada tanggal 17 Desember 2024 di Episode Hotel, Gading Serpong. Acara ini dihadiri oleh Anggota DPP Pinsar Indonesia dan beberapa perwakilan Pengurus Wilayah Pinsar Indonesia, dengan tujuan utama untuk merumuskan langkah strategis guna mencapai tujuan organisasi.

Rakernas ini diselenggarakan berdasarkan Ketetapan Musyawarah Nasional VI Pinsar Indonesia Nomor: 07/TAP/MUNAS VI/2024, yang menegaskan pentingnya langkah-langkah strategis untuk memperjuangkan kepentingan para anggota di bidang usaha. Program Kerja Nasional Pinsar Indonesia periode 2024-2029 yang dirumuskan dalam Rakernas ini akan menjadi acuan utama dalam penyusunan kebijakan dan program-program operasional organisasi.

Sebelum dimulainya Rakernas, kegiatan diawali dengan Diskusi Perunggasan yang menghadirkan Dr Drs Nyoto Suwignyo, MM – Deputi Promosi dan Kerjasama Badan Gizi Nasional sebagai pembicara utama, dengan Prof Dr Ir Muladno, MSA bertindak sebagai moderator. Diskusi ini menjadi ajang berbagi wawasan dan pandangan mengenai perkembangan industri perunggasan nasional.

Para peserta Rakernas berkontribusi aktif melalui ide, saran, dan diskusi konstruktif selama kegiatan berlangsung. Ketua Umum PINSAR Indonesia, Singgih Januratmoko, menyampaikan, “Kami yakin hasil dari Rakernas ini akan menjadi fondasi yang kokoh untuk memajukan Pinsar Indonesia ke arah yang lebih baik di masa mendatang.”

Hasil Rakernas ini mencakup beberapa rekomendasi strategis, seperti penguatan kelembagaan, pengembangan kapasitas anggota, serta inisiatif untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan di sektor perunggasan. Semua yang telah dirumuskan diharapkan dapat segera diimplementasikan dengan baik dan memberikan manfaat besar bagi seluruh anggota PINSAR Indonesia, serta turut berkontribusi dalam mendukung industri perunggasan nasional. (Rilis)

DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN KABUPATEN BOJONEGORO SERAHKAN BANTUAN DOMBA

Serah Terima Bantuan Domba Kepada Peternak
(Foto : Istimewa)



Pembinaan dan Serah terima ternak domba,dalam program Domba Kesejahteraan tahun 2024 oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro berlangsung di pendopo Desa Kesongo kecamatan Kedungadem Bojonegoro Jawa Timur Senin (16/12/2024).

Acara tersebut di hadiri Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro Wiwik Sulistyo, camat Kedungadem Bayudono Margajelita,kades desa Kesongo Kusnadi dan 97 orang penerima bantuan domba dari 6 desa di wilayah kecamatan Kedungadem dan kecamatan Sumberejo.

Sekdin Peternakan dan Perikanan Kab Bojonegoro Wiwik Sulistyo mengatakan, pada kesempatan dilakukan pembinaan dan serah terima ternak domba kesejahteraan tahun 2024.Masing masing penerima mendapatkan bantuan sepasang domba, pakan dan obat – obatan.

Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam melaksanakan program ini, penerima agar dapat meningkatkan kemampuan dalam mengelola dan memanfaatkan ternak domba.

Sementara Camat Kedungadem Bayudono Margajelita dalam sambutannya mengatakan, Pada prinsipnya ia yakin masyarakat sudah mempunyai pengetahuan dasar tehnik beternak yang baik dan benar.

" peternak bisa meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga sepanjang ada upaya, niat dan kemauan, pembelajaran peternak yang baik dan benar ” Ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut kepala Desa Kesongo Kusnadi mengungkapkan, Kami mewakili wargai Desa Kesongo dan 6 desa lainnya mengucapkan terimakasih kepada Dinas Peternakan dan Perikanan yang telah memberikan bantuan kepada masyarakat.

"Insya Allah warga kami alhamdulillah sudah terbiasa dengan beternak. Harapan kami semoga tahun depan ada bantuan domba kesejahteraan kepada warga yang lain.” jelasnya.

Parsilan warga Dusun Gagan RT.009 RW. 004 Ds. Kesongo salah satu penerima mengucapkan rasa syukur dan terimakasih kepada Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro yang telah memberikan bantuan domba beserta pakan dan obat-obatan obatan.

"Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah kabupaten Bojonegoro melalui dinas peternakan dan perikanan, semoga bantuan yang diberikan ini dapat membawa kesejahteraan ” tandasnya. (INF)



ASF MELANDA NABIRE, KEMENTAN KIRIM RIBUAN SERUM

Ilustrasi ternak babi. (Foto: bbc.com)

Wabah African Swine Fever (ASF) melanda peternakan babi di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Penyakit ini menimbulkan ancaman serius bagi peternak akibat tingkat penularannya yang tinggi dan dampak fatal pada ternak.

Kementerian Pertanian (Kementan) bertindak cepat merespons kejadian tersebut melalui Balai Besar Veteriner Farma (BBVF) Pusvetma di bawah Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, telah mendistribusikan serum konvalesen SCoVet ASF sebanyak 40.000 dosis secara bertahap melalui Dinas Peternakan Kabupaten Nabire.

Langkah tersebut diharapkan dapat menekan penyebaran virus dan menurunkan angka kematian ternak akibat ASF.

“Pengiriman serum ini merupakan upaya nyata pemerintah dalam membantu peternak menghadapi wabah ASF. Kami berharap SCoVet ASF dapat menjadi solusi yang efektif untuk menyelamatkan populasi babi di Nabire,” ujar Kepala BBVF Pusvetma, Edy Budi Susila, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (12/12/2024).

Selain distribusi serum, Kementan juga mengimbau peternak dan masyarakat untuk mematuhi protokol biosekuriti, melapor jika terdapat indikasi wabah, serta bekerja sama dengan otoritas setempat dalam pelaksanaan program penanggulangan ASF.

Pemerintah juga berkomitmen mendukung keberlanjutan sektor peternakan di Indonesia. Langkah ini tidak hanya menjaga kesehatan hewan, tetapi juga membantu meminimalkan dampak ekonomi akibat wabah. (INF)

KETUM PPSKI : PROGRAM MBG BISA SELAMATKAN SEKTOR PETERNAKAN

Salah Satu Kegiatan di Peternakan Sapi Perah 
(Foto : Istimewa)



Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Nanang Subendro mengaku optimistis, terkait program makan bergizi gratis (MBG) pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut program itu dapat menjadi titik terang bagi industri peternakan dalam negeri. Pasalnya, menurut Nanang, saat ini minat masyarakat Indonesia untuk beternak mulai menurun.

“Saya berkeyakinan makan bergizi gratis akan menimbulkan multiplier effect yang sangat bagus sekali bagi para peternak maupun para pengusaha di pedesaan. Ada banyak usaha-usaha baru yang tumbuh, termasuk usaha para peternak dan petani yang akan menyediakan bahan,” ucapnya.

Nanang melanjutkan, bahwa saat ini profesi peternak kurang diminati oleh anak muda. Oleh karena itu, peluang yang ditimbulkan oleh program makan bergizi gratis diharapkan mampu menarik minat anak-anak muda untuk terjun ke dunia peternakan.

"Jika kita lihat programnya dari sudut pandang kesejahteraan peternak, ini akan membuat para calon peternak tertarik untuk menduduki usaha peternakan, sehingga tanpa didorong-dorong, mereka akan tertarik ke industri peternakan," ucap Nanang.

Ia melanjutkan, targetnya bukan hanya tentang siswa yang mendapatkan makan bergizi gratis, tetapi juga orang-orang di balik bahan baku makanannya, termasuk industri peternakan.

"Saya cukup sering diundang ke banyak perguruan tinggi yang ada fakultas peternakan maupun fakultas kedokteran hewan. Setiap saya memberikan pertanyaan, adakah di antara kalian yang nanti ketika lulus itu mau menjadi peternak sesuai dengan bidang studi mereka? Ternyata animo pada mahasiswa untuk menjadi peternak itu minim sekali," jelasnya.

Perlu diketahui, bahwa lebih dari 56% peternak yang saat ini masih menggeluti usahanya umurnya sudah di atas 50 tahun. "Jadi kita bisa bayangkan kalau yang 56% nanti sudah pensiun dari profesi sebagai peternak, siapa yang akan menggantikan?" lanjut Nanang.

Terakhir, Nanang mengatakan bahwa peluang ekonomi yang dihasilkan oleh industri peternakan Indonesia masih menjanjikan untuk masa depan.

"Situasi Indonesia saat ini masih defisit. Defisit dalam arti prospek bisnis untuk ditekuni masih sangat bagus karena suplai dari lokalnya masih sangat-sangat minim. Sementara sumber daya alam Indonesia benar-benar sangat cukup untuk menunggu kembangnya industri peternakan di Indonesia," pungkas Nanang dalam menanggapi program makan bergizi gratis. (CR)


MENINGKATKAN EFISIENSI DAN KEBERLANJUTAN INDUSTRI BROILER DENGAN TRACE MINERAL & PROTEASE

Novus Asia Team

Memberikan sambutan pada seminar Made of More™ Broiler Forum: Advanced Strategies for Broiler Success, Kamis (21/11), di Vivere Hotel, Gading Serpong, Drh Rika Riantika selaku Regional Sales Director Indonesia, Malaysia and Singapore menuturkan, PT Novus International akan memberikan solusi terhadap bisnis perunggasan di Indonesia dengan Intelligent Nutrition dan sesuai dengan branding tagline terbaru yaitu Made of More.

Menurut Managing Director APAC Novus International, Rajeev S Murthy, meningkatnya produk perunggasan membutuhkan industri yang lebih maju, efisien, dan berkelanjutan. PT Novus berkomitmen untuk selalu mendukung industri perunggasan dengan ide yang inovatif dan berlandaskan science agar industri perunggasan semakin advance dan terdepan.

Seminar yang memaparkan bisnis update perunggasan di Indonesia dan global sekaligus memaparkan produk unggulan PT Novus yaitu MINTREX® dan CIBENZA® ini dihadiri oleh para formulator, nutrisionis, dan pelaku industri perunggasan dari Indonesia dan Malaysia. Menghadirkan tiga pembicara yaitu Dr Edgar Oviedo-Rondon (Professor of Poultry Science North Carolina State University), Dr Hugo Romero (Exec Manager-Global Poultry Technology Lead, Novus International), dan Prof Dr IR Budi Tangendjaja MS MAPPSC (Technical Consultant Nutrition & Feed Technology).

Adaptasi Terhadap Tren Konsumen

“Produsen broiler hendaknya senantiasa beradaptasi dengan perubahan. Salah satunya berubahnya gaya hidup dan preferensi makanan dari konsumen,” kata Budi saat membahas perkembangan industri unggas Indonesia.

“Generasi sekarang lebih peduli pada kesehatan dan kesejahteraan hewan. Hal itu menjadi tantangan bagi produsen untuk menyediakan produk pangan berkualitas dan memenuhi kesejahteraan hewan.”

Menurut Budi, soybean meal (SBM) akan tetap menjadi sumber protein utama dalam pakan broiler. Penting untuk melakukan analisis level trypsin inhibitor activity dan trypsin inhibitor unit dengan benar. Karena trypsin inhibitor dalam kedelai dapat mengurangi kemampuan ayam mencerna protein. Dia menyarankan mengurangi level inhibitor dengan enzim protease yang terbukti mampu mengurangi inhibitor pada kedelai, perlakuan panas, atau dengan cara dilusi.

Pentingnya Kesehatan Usus dan Pakan

Sementara itu, Edgar menekankan pentingnya kesehatan usus broiler. Karena keseimbangan akan tercapai jika usus sehat dan didukung pakan dan air minum yang berkualitas.

“Manajemen pemeliharaan dan biosekuriti serta pengolahan pakan adalah faktor penting bagi kesehatan usus broiler,” kata Edgar.

“Pengolahan pakan yang baik akan menghasilkan ukuran partikel pakan yang tepat. Sehingga akan menstimulasi kerja gizzard dan menormalisasi passage rate, yang akhirnya akan menjaga motilitas usus tetap bekerja dengan baik.”

Pentingnya imbuhan pakan seperti mineral, enzim, asam organik, prebiotik, dan probiotik, yang mampu memodulasi dan meningkatkan stabilitas, resistansi, serta resiliensi microbiome.

Seminar Novus dihadiri lebih dari 55 peserta yang di antaranya peternak broiler, nutrisionis dan formulator pakan.

MINTREX® dan CIBENZA®: Mendukung Keberlanjutan Industri Broiler

Hugo memaparkan produk MINTREX®dan CIBENZA®. Menurutnya untuk keberlanjutan produksi broiler peran trace mineral dan protease sangat penting.

MINTREX® Bis-Chelated Trace Minerals adalah sumber Cu (copper) yang memiliki efek ganda terhadap usus dan tubuh broiler. Mampu mengoptimalkan dosis Cu sehingga ekskresi mineral bebas yang toxic dan antagonisme antar mineral terkurangi. Sedangkan respon ekspresi gen dan mikrobiota broiler menjadi lebih maksimal, menghasilkan skor keberlanjutan lebih tinggi.

MINTREX® juga mampu meningkatkan kesehatan rangka tulang, penyembuhan luka pada kulit, meningkatkan integritas kulit ayam, dan mengurangi dermatitis pada telapak kaki. Penggunaan MINTREX® juga dapat meningkatkan mekanisme pertahanan antioksidan dan sistem imun, sekaligus mendukung regenerasi jaringan dan proses vaskularisasi.

Sedangkan CIBENZA® Enzyme Feed Additives adalah enzim protease yang meningkatkan kecernaan protein dan asam amino dari pakan, yang memungkinkan produsen memanfaatkan bahan baku pakan alternatif tanpa mengorbankan performa hewan ternak.

CIBENZA® juga terbukti efektif menghidrolisis antinutrisi trypsin inhibitor, semakin mendukung peningkatan performa ternak secara optimal. (ADV)


Testimoni Peserta:
Agi Wasistyo Utomo - Feed Formulator PT Cargill Indonesia

“Topik yang diusung oleh Novus - Made of More Broiler Forum sangat menarik. Terutama para expert yang memberikan informasi akurat mengenai masalah kesehatan pencernaan ayam. Dimana saat ini kita juga memerlukan efisiensi sekaligus harus mendapatkan hasil perfoma yang secara industri lebih praktis, serta memberikan kontribusi lebih bagi peternak. Kita memperoleh insight bahwa dengan berbagai macam adjustment, cost dari segi formulasi dapat lebih ditekan. Tercapainya cost efficiency, maka profit margin untuk perusahaan berpeluang meningkat.”

GAP RESOURCE RUSIA INGIN MEMBANGUN PEMROSESAN UNGGAS DI AFRIKA

GAP Resource, salah satu produsen daging ayam pedaging terkemuka Rusia, tengah mempertimbangkan untuk membangun kapasitas pemrosesan unggas di Afrika, Dmitry Antonov, wakil presiden senior GAP Resource, mengungkapkan hal tersebut dalam sebuah konferensi industri di Sochi.

Perusahaan tersebut dapat menjadi produsen daging unggas Rusia pertama yang mengelola aset di luar wilayah pasca-Soviet. Antonov mengungkapkan bahwa GAP Resource telah mulai bekerja dalam arah ini, meskipun ia tidak memberikan rincian tambahan.

Perusahaan tersebut terutama tertarik pada produksi produk unggas di segmen siap saji dan siap masak. Di antara lokasi yang paling menjanjikan, Antonov menyebutkan Afrika Selatan dan Angola. Ada harapan bahwa GAP Resource dapat mengandalkan pendanaan lokal.

“Kami telah mengadakan negosiasi yang sangat berarti dengan Afreximbank sebagai bagian dari kelompok kerja Dewan Bisnis Uni Ekonomi Eurasia dan sepakat bahwa ada peluang untuk membiayai kegiatan ini dan bahwa pasar [Afrika] membutuhkan tim yang secara mental dan fisik mampu melaksanakan proyek-proyek ini bersama dengan mitra Afrika kami,” kata Antonov.

Namun, Antonov mengakui bahwa perusahaan tersebut belum menyusun proyek-proyek yang layak secara ekonomi di Afrika. Namun, GAP Resource memiliki rekam jejak yang sukses dalam mengekspor unggas ke Mesir, Kongo, Liberia, Ghana, Tanzania, Angola, Mozambik, dan 10 negara Afrika lainnya selama 2 tahun terakhir.

EVALUASI DAN PREDIKSI PENYAKIT UNGGAS

Grafik 1. Evaluasi kejadian penyakit selama 2024 yang dirangkum dari laporan tim Romindo di seluruh Indonesia.

Tahun 2024 adalah tahun yang penuh warna dimana merupakan tahun politik, diawali dengan gegap-gempitanya Pilpres yang akhirnya melahirkan pemimpin baru di Indonesia. Kebijakan untuk menjadi negara yang berswasembada pangan dan makan siang gratis menjadi jargon utama dalam kampanye yang harus ditindaklanjuti setelah memenangkan gelaran Pilpres.

Pekerjaan Rumah besarnya adalah mampukah kebijakan tersebut terlaksana di tengah masih carut marutnya kebijakan harga live bird dan telur yang dirasakan para peternak yang telah menjadi pahlawan gizi?

Belum lagi tantangan lapangan berupa penyakit yang tiada henti mendera. Bobot badan yang menjadi target terasa sulit untuk dicapai karena challenge lapangan berupa penyakit dan iklim. Begitu juga tantangan pada produksi telur, yang apabila digambarkan naik turun seperti gelombang (lihat Grafik 1).

Di segmen broiler, pada April sampai November banyak dilaporkan kasus yang disebabkan oleh virus, antara lain avian metapneumovirus (AmPV), newcastle disease (ND), dan IBD. Sedangkan kasus bakterial yang marak terjadi adalah kolibasilosis, chronic respiratory disease (CRD), dan coryza.

Adanya fenomena El Nino juga meningkatkan kasus heat stress seperti yang dilaporkan oleh tim Romindo di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sehingga sedikit banyak menunjang peningkatan produk Selisseo 0,1% sebagai solusi heat stress dengan kandungan pure organic selenium 100% dan mampu disimpan di jaringan sebagai cadangan saat dibutuhkan untuk penguraian, penangkapan, dan eliminasi radikal bebas akibat produksi dari heat stress.

Kemudian kasus IBD yang masih banyak terjadi pada broiler perlu evaluasi mendalam sehingga tidak menimbulkan kerugian pada peternak yang sering di dera fluktuasi harga jual. Pemakaian vaksin IBD seawal mungkin yang dilakukan di hatchery mampu mengoptimalkan performa genetik yang terus berkembang dengan menggunakan vaksin BDA Blen. Serta untuk kasus ND menurut analisis penulis yang masih perlu dievaluasi adalah pemberian tambahan vaksinasi ND kill di hatchery dengan Gallimune ND.

Sedangkan pada segmen layer, kasus-kasus bakterial sepanjang 2024 yang dilaporkan antara lain CRD, CRD kompleks, kolibasilosis, fatty liver dan coryza. Menariknya di sini adalah kasus yang disebabkan Mycoplasma sinoviae (MS) yang merebak di lapangan dengan dicirikan adanya gambaran kualitas kerabang kurang baik seperti adanya... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2024.

Ditulis oleh:
Drh Damar
Technical Departemen Manganer
PT Romindo Primavetcom
0812-8644-9471

BANGKITKAN PERSUSUAN NASIONAL, KEMENTAN PERKUAT KEMITRAAN INDUSTRI DAN PETERNAK

Industri persusuan nasional mendapat perhatian serius dari Kementerian Pertanian menyusul dampak Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada 2022. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Agung Suganda, menyampaikan bahwa sektor ini harus segera bangkit untuk memenuhi kebutuhan susu nasional yang terus meningkat.

“Wabah PMK menurunkan populasi sapi perah lebih dari 10 persen dan menekan produktivitas hingga 30-40 persen. Dampaknya luar biasa bagi persusuan nasional,” ujar Agung saat meninjau fasilitas Milk Collection Center (MCC) yang merupakan hasil kemitraan PT Frisian Flag Indonesia (FFI) dengan Koperasi SAE Pujon, Selasa (10/12).

Saat ini, konsumsi susu Indonesia baru mencapai 16 liter per kapita per tahun, jauh di bawah Vietnam yang sudah mencapai 26 liter. “Kami ingin susu masuk dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh Presiden, agar masyarakat lebih teredukasi dan gizi anak-anak Indonesia terpenuhi,” tambahnya.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor susu—yang saat ini mencapai 80 persen dari kebutuhan nasional—pemerintah menargetkan penambahan populasi sapi perah sebanyak satu juta ekor dalam lima tahun ke depan hingga 2029.

“Pada 2025, target kami adalah mendatangkan 200 ribu ekor sapi perah. Saat ini, sudah ada komitmen investor yang akan mendatangkan 185 ribu ekor sapi tahun 2025. Artinya, kita hanya butuh 15 ribu ekor lagi untuk mencapai target tahun depan,” jelas Agung.

Selain itu, Agung juga mendorong Industri Pengolahan Susu (IPS) untuk aktif bermitra dengan koperasi dan peternak lokal. “Kami meminta IPS ikut berperan dalam mendukung peningkatan populasi sapi perah nasional. Regulasi kita siapkan. Seluruh IPS kami minta komitmennya mendukung pemerintah meningkatkan populasi sapi perah. Pemerintah tidak memaksa, hanya kita meminta industri ikut memperhatikan nasib rakyat,” katanya.

Agung mengungkapkan bahwa pemerintah sedang menyusun Peraturan Presiden (Perpres) tentang Percepatan Produksi Susu Nasional. Regulasi ini akan menjadi pijakan untuk memastikan penyerapan susu segar dari peternak dan menekan impor bahan baku susu.

Langkah-langkah strategis juga dilakukan melalui pengusulan 30 lokasi menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN). “Dengan status PSN, biaya sewa lahan akan lebih murah, ditambah dengan dukungan infrastruktur dan logistik. Ini termasuk dalam RPJMN 2025-2029 yang akan memperkuat ekosistem persusuan kita,” paparnya.

Agung turut mengapresiasi langkah PT Frisian Flag Indonesia (FFI) bersama Koperasi SAE Pujon yang membangun fasilitas Milk Collection Center (MCC). “Fasilitas ini menjawab keraguan terkait kualitas susu dari peternak, sehingga semakin mudah diterima oleh industri,” kata Agung.

Kemitraan ini menjadi bukti nyata bagaimana koperasi dan perusahaan swasta dapat berkolaborasi untuk memperkuat sektor peternakan. “Ini contoh yang bisa diterapkan di daerah lain. Pemerintah tidak memaksa, tetapi kami meminta semua pihak di industri susu untuk memperhatikan nasib peternak,” tegasnya.

Dengan berbagai langkah strategis ini, Ditjen PKH optimis industri persusuan nasional dapat kembali bangkit dan berkembang. “Semoga ini menjadi penggerak dan pendorong bagi seluruh sektor untuk memperkuat persusuan Indonesia, sehingga lebih mandiri, berkualitas, dan memberikan kesejahteraan bagi peternak,” tutup Agung.

Dari upaya ini, harapan besar muncul untuk Indonesia yang lebih kuat dalam memenuhi kebutuhan susu nasional dan menekan ketergantungan impor. (Rilis)

DIGITAL DAN TEKNOLOGI SEBAGAI SOLUSI TENAGA KERJA PETERNAKAN SAPI PERAH AMERIKA

Dalam lanskap peternakan yang berkembang pesat saat ini, menciptakan tenaga kerja yang berkelanjutan menjadi lebih penting dari sebelumnya. Dengan tenaga kerja yang menua dengan cepat, kekurangan tenaga kerja, dan meningkatnya permintaan akan teknologi, peternakan sapi perah harus menemukan cara untuk menarik, mempertahankan, dan mendukung generasi talenta berikutnya, yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya.

Penuaan tenaga kerja Amerika menimbulkan tantangan yang signifikan bagi peternakan. Setiap hari, 11.200 orang Amerika berusia 65 tahun, dan di komunitas peternakan sapi perah, dampaknya bahkan lebih terasa. Akibatnya, banyak peternakan sapi perah menghadapi kenyataan berkurangnya tenaga kerja untuk mengelola operasi harian.

Tenaga kerja yang menua bukanlah satu-satunya tantangan. Selama beberapa dekade, kaum muda telah tertarik ke daerah perkotaan, seringkali mengabaikan peternakan sebagai jalur karier yang layak. Kesalahpahaman umum tentang kehidupan peternakan – seperti jam kerja yang panjang, peluang terbatas untuk maju, dan kurangnya fasilitas modern – telah berkontribusi pada tren ini. Pandangan yang ketinggalan zaman ini mengabaikan kemajuan yang telah dicapai peternakan sapi perah dalam hal integrasi teknologi, keseimbangan kehidupan kerja, dan kepuasan kerja.

Bagaimana para produsen susu mengatasi kekurangan tenaga kerja dan kesalahpahaman untuk menciptakan tenaga kerja yang berkelanjutan?

Soroti Manfaatnya

Pekerja muda yang menemukan manfaat dari kehidupan beternak sering kali melaporkan lingkungan yang lebih aman untuk membesarkan keluarga, lebih sedikit stres dibandingkan dengan kehidupan kota, bersama dengan potensi pekerjaan yang stabil dan jangka panjang. Banyak peternakan sapi perah menawarkan rasa kebersamaan yang kuat, hubungan yang dekat dengan alam, dan peluang untuk pertumbuhan pribadi yang tidak tersedia di lingkungan perkotaan yang lebih tradisional.

Mungkin salah satu alasan paling kuat bagi generasi muda untuk mempertimbangkan pekerjaan peternakan adalah meningkatnya peran teknologi dalam peternakan sapi perah. Sensor IoT, dari perusahaan seperti SCR, Smaxtec, Nedap, Cow Manager, dan Labby, menyediakan data waktu nyata tentang segala hal mulai dari pergerakan sapi dan deteksi panas hingga menganalisis susu secara waktu nyata. Sementara itu, robotika dari Lely, Delaval, Goke, antara lain, mengotomatiskan tugas-tugas yang membosankan seperti memerah susu sapi dan mencampur pakan. Teknologi ini meningkatkan produktivitas dan membuat profesi ini lebih menarik bagi generasi muda.

Upaya Perekrutan dan Hambatan Budaya

Karena peternakan sangat bergantung pada tenaga kerja imigran, menciptakan tempat kerja multibahasa dan multikultural sangat penting bagi keberlanjutan tenaga kerja. Peternakan harus secara aktif mengatasi hambatan bahasa, dan jika manajer multibahasa tidak tersedia, pemilik peternakan sapi perah dapat memanfaatkan teknologi seperti aplikasi penerjemahan dan menawarkan pelatihan bahasa.

Seiring dengan perubahan pasar dan permintaan konsumen yang terus meningkat, peternakan sapi perah akan membutuhkan pemikir kreatif yang mampu menavigasi perubahan ini. Pemikir kreatif sangat penting untuk mengidentifikasi peluang pasar baru, meningkatkan efisiensi operasional, dan membina kesuksesan jangka panjang dalam industri yang kompetitif.

Perusahaan pencarian eksekutif Kincannon & Reed menyarankan bahwa tenaga kerja yang beragam seringkali membawa perspektif baru dan pemikiran inovatif. Pemilik peternakan harus mempertimbangkan untuk memperluas pencarian mereka ke kota-kota terdekat, kota-kota besar, dan industri yang berbeda, karena orang-orang yang tidak tumbuh di peternakan sapi perah dapat membawa ide-ide baru, kreativitas, dan kemauan untuk belajar, membantu peternakan beradaptasi dengan tantangan baru dan berkembang dalam lingkungan yang berubah dengan cepat. Selain itu, bakat yang ditemukan dan dibina dalam tenaga kerja peternakan sapi perah yang ada sering kali menghasilkan laba atas investasi 5:1.

Otomatisasi dalam Peternakan Masa Depan

Karena kekurangan tenaga kerja terus melanda sektor sapi perah, investasi dalam teknologi yang menghemat tenaga kerja menjadi semakin penting. Otomatisasi, mulai dari sistem pemerahan robotik hingga peralatan peternakan presisi, dapat membantu mengurangi beban kerja, menghilangkan tugas yang berulang, dan meningkatkan efisiensi. Dengan memprioritaskan otomatisasi, peternakan sapi perah dapat mengurangi ketergantungan mereka pada tenaga kerja manual, sehingga menjadi lebih berkelanjutan dan menarik bagi pekerja masa depan.

Membangun tenaga kerja yang berkelanjutan memerlukan pendekatan multifaset yang menggabungkan teknologi, praktik perekrutan yang inklusif, dan fokus pada inovasi. Dengan merangkul peralatan modern, mengatasi hambatan bahasa dan budaya, serta memikirkan kembali strategi perekrutan, peternakan sapi perah dapat menciptakan lingkungan kerja yang berkembang yang menarik dan mempertahankan bakat untuk jangka panjang. Berinvestasi dalam strategi ini sekarang akan memastikan bahwa peternakan sapi perah tetap kompetitif dan layak di masa depan.

PERKEMBANGAN PENYAKIT VIRAL DI LINGKUNGAN KANDANG DAN CARA PENCEGAHANNYA

Ilustrasi ternak ayam broiler. (Foto: Konrad Lozinski/thehumaneleague)

Unggas seperti ayam menjaga suhu tubuhnya pada rentang normal dengan melakukan homeostatis secara terus-menerus sebagai makhluk homoioterm. Walaupun demikian, tubuh ayam memiliki kondisi yang unik dengan tidak memiliki kelenjar keringat serta tubuhnya dipenuhi bulu yang berakibat mereka tidak bisa melepaskan panas seperti makhluk lain yang memiliki kelenjar keringat.

Ayam melepaskan panas dengan cara radiasi (melebarkan sayap), konduksi (kontak langsung dengan benda padat lain bersuhu lebih rendah), koveksi (melalui udara atau air), dan evaporasi (panting).

Namun demikian pada kandang komersil yang suhunya sangat tergantung pada kondisi luar dan terbatasnya gerak akibat kepadatan kandang, pelepasan suhu ini menjadi tidak maksimal. Oleh karena itu, apabila kondisi cuaca cepat berubah (panas dan dingin terjadi ekstrem), terutama pada musim pancaroba seperti sekarang ini, maka ayam dapat lebih mudah stres.

Selain dari fisik ayam sendiri, kondisi pancaroba juga dapat memengaruhi hal-hal lain yang mendukung perkembangan agen penyakit seperti bakteri dan jamur akibat kelembapan yang tinggi. Suhu lingkungan yang ekstrem dari musim kemarau ke musim hujan berperan penting terhadap timbulnya penyakit, sehingga perlunya langka preventif untuk pencegahan penyakit pada ayam.

Hal-hal tersebut muncul dari tahun ke tahun dan menjadi poin penting untuk diperhatikan dalam membudidayakan ayam yang sehat dan bebas penyakit.

Kunci keberhasilan usaha peternakan tidak terlepas dari upaya kontrol penyakit. Kontrol penyakit ternak dilakukan untuk efisiensi biaya, baik untuk pengobatan maupun kerugian akibat penurunan produksi.

Manajemen perkandangan dan kontrol populasi, program vaksinasi, pemberian antibiotik dan vitamin, manajamen pemberian pakan dan pengelolaan gudang pakan, serta disinfeksi, merupakan langkah penting untuk diterapkan guna menurunkan angka kejadian penyakit.

Hal pertama yang harus dilakukan dalam penanganan kasus penyakit ayam adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2024. 

TANTANGAN EMISI SELANDIA BARU – FONTERRA MENARGETKAN PENGURANGAN 30%

Menurut laporan keberlanjutan terbaru koperasi tersebut, para peternak sapi perah Fonterra di Selandia Baru dilaporkan melepaskan 20% lebih banyak emisi gas rumah kaca per kg susu yang diproduksi dibandingkan dengan rekan-rekan mereka di Australia.

Fonterra bertujuan untuk mencapai pengurangan 30% dalam intensitas emisi pada tahun 2030, bermitra dengan para peternak untuk menerapkan praktik dan teknologi inovatif.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa setiap kg susu yang lemak dan proteinnya dikoreksi yang diproduksi oleh pemasok Fonterra di Selandia Baru selama musim 2023-2024 dikaitkan dengan 1,04 kg emisi setara karbon dioksida. Sebaliknya, para peternak koperasi di Australia hanya bertanggung jawab atas 0,88 kg setara karbon dioksida per kg susu.

Salah satu alasan perbedaan ini terletak pada metodologi baru Fonterra, yang sekarang memperhitungkan faktor-faktor seperti penggundulan hutan yang terkait dengan pembukaan lahan dan emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari pencucian lahan gambut di Selandia Baru. Pada akhir tahun lalu, Fonterra menetapkan target pengurangan emisi di lahan petrnakan dan merilis Peta Jalan Iklim yang komprehensif. Koperasi tersebut menargetkan pengurangan intensitas emisi dari lahan peternakannya sebesar 30% pada tahun 2030, dengan menggunakan tahun 2018 sebagai acuan.

Untuk mencapai pengurangan ini, Fonterra bekerja sama dengan peternak pemasoknya dalam berbagai strategi, yang mencakup teknik peternakan praktik terbaik (7%), teknologi inovatif (7%), penghilangan karbon melalui vegetasi di lahan peternakan (8%), dan perubahan penggunaan lahan (8%). Khususnya, 86% emisi Fonterra berasal dari aktivitas di lahan peternakan, dan target baru tersebut berfokus pada pengurangan intensitas emisi per ton susu yang dikoreksi lemak dan protein yang dikumpulkan.

Untuk mendukung peningkatan di lahan peternakan, Fonterra secara berkala melakukan penilaian siklus karbon dan memberikan laporan gas rumah kaca khusus kepada peternak yang membantu mereka mengukur kinerja terkini dan memprioritaskan area yang perlu ditingkatkan. Selain itu, Fonterra tengah menjajaki berbagai teknologi terobosan untuk membantu peternak menurunkan emisi di lahan peternakan mereka.

Lokasi Fonterra paling selatan di Selandia Baru, Edendale, telah mengambil langkah signifikan dalam perjalanan dekarbonisasinya dengan mengoperasikan ketel elektroda pertama koperasi tersebut. Ketel baru tersebut baru-baru ini menyala untuk pertama kalinya. Pekerjaan pada ketel tersebut dimulai pada bulan Februari tahun ini, dan hanya membutuhkan waktu 9 bulan untuk menyelesaikannya.

Ketel elektroda baru tersebut menghasilkan uap menggunakan listrik, sehingga mengurangi emisi tahunan keseluruhan lokasi Edendale sekitar 20% – setara dengan 47.500 ton CO2 setiap tahun atau sama dengan menghilangkan sekitar 20.000 mobil dari jalanan Selandia Baru. Hal ini akan berkontribusi pada pengurangan hampir 3% emisi nasional keseluruhan koperasi tersebut dari tahun dasar 2018.

AUSTRALIA DAN PRODUKSI SUSU GLOBAL 2024-2025

Produksi susu di Australia sedang dalam proses pemulihan, dengan pasokan global diperkirakan akan tumbuh sedikit pada tahun mendatang, menurut laporan baru dari Rabobank. Bank tersebut memperkirakan bahwa pertumbuhan pasokan susu yang positif akan datang dari wilayah-wilayah pengekspor susu utama dunia sepanjang sisa tahun 2024 dan hingga tahun 2025.

Untuk musim 2023-2024, yang berakhir pada bulan Juni, produksi susu Australia naik sebesar 3,1% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai total 8,4 miliar liter, yang merupakan peningkatan sebesar 249 juta liter. Namun, Rabobank mengantisipasi bahwa produksi Australia akan tumbuh lebih lambat selama musim 2024-2025, dengan perkiraan peningkatan hanya sebesar 1,5%.

Michael Harvey, analis susu senior di RaboResearch, menyoroti bahwa pertumbuhan pasokan susu di Australia telah meluas, dengan semua negara bagian dan wilayah mengalami peningkatan kecuali Victoria bagian barat, di mana kondisi kering telah membatasi produksi. New South Wales telah menjadi daerah yang menonjol, melaporkan pertumbuhan produksi susu sebesar 5,3% yang mengesankan untuk musim 2023-2024. “Kondisi musiman masih beragam di seluruh wilayah peternakan sapi perah utama,” Harvey menekankan.

Sementara banyak wilayah menikmati kondisi yang menguntungkan, Victoria bagian barat dan Australia Selatan mengalami defisit curah hujan yang signifikan sejauh ini pada tahun 2024, yang berdampak pada produksi susu di wilayah-wilayah ini.

Pasar susu global saat ini seimbang tetapi tetap sensitif terhadap fluktuasi, seperti yang dicatat dalam laporan tersebut. Tahun mendatang dapat menyaksikan pergeseran signifikan karena produksi meningkat dan pasar beradaptasi. Harvey menunjukkan bahwa produksi susu dari wilayah ekspor global utama tidak konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

“Sejak paruh kedua tahun 2021, produksi susu gabungan dari wilayah ekspor susu ‘7 Besar’ – UE, AS, Selandia Baru, Australia, Brasil, Argentina, dan Uruguay – hanya tumbuh dalam tiga kuartal,” katanya. “Namun, harga susu yang membaik pada paruh pertama tahun 2024, bersama dengan biaya pakan yang lebih rendah, telah meningkatkan margin petani, mendorong peningkatan produksi.”

Rabobank memperkirakan pasokan susu dari wilayah-wilayah pengekspor utama ini akan meningkat sedikit sebesar 0,14% pada tahun 2024 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Harvey menyatakan, “Dengan produsen yang melihat peningkatan margin, pasokan susu dapat mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2025. Prakiraan awal kami untuk tahun 2025 menunjukkan peningkatan produksi sebesar 0,65% dari tahun ke tahun dari ‘7 Besar’, sehingga pasokan susu global dari wilayah-wilayah ini berada di atas rata-rata 5 tahun.”

Permintaan untuk produk susu tetap beragam di berbagai wilayah. Di tingkat eceran, deflasi harga terlihat jelas di supermarket di seluruh Amerika Selatan, Amerika Serikat, dan sebagian besar Uni Eropa. “Menanggapi lemahnya belanja konsumen di saluran layanan makanan, perusahaan-perusahaan mengeluarkan lebih banyak biaya untuk promosi dan iklan karena konsumen menghemat uang,” jelas Harvey.

Di Tiongkok, importir susu terbesar di dunia, permintaan dan produksi susu diperkirakan akan menurun. Rabobank telah merevisi estimasi konsumsi susu Tiongkok untuk tahun 2024 ke bawah, mengantisipasi penurunan impor neto sebesar 12% dibandingkan dengan level tahun 2023. Khususnya, volume impor susu skim bubuk dapat menurun sebanyak 30%. Selain itu, produksi susu domestik Tiongkok diproyeksikan menurun sebesar 0,5% tahun-ke-tahun pada tahun 2025 karena tekanan ekonomi pada peternakan yang berasal dari jatuhnya harga susu di tingkat peternakan.

Tidak ada perubahan besar pada harga susu di tingkat peternakan Australia sejak pengumuman musim baru dibuat. Namun, laporan Rabobank menunjukkan bahwa di wilayah ekspor selatan, harga susu bagi mereka yang tidak terikat kontrak telah turun lebih dari 10% dibandingkan dengan musim sebelumnya.

“Sebaliknya, harga susu di wilayah yang memproduksi susu minum untuk pasar domestik sebagian besar tidak berubah,” Harvey menunjukkan. Akibatnya, peternak sapi perah di wilayah yang terkena dampak bersiap menghadapi tekanan margin, yang diperburuk oleh harga sapi potong yang lebih rendah dan berkurangnya volume ekspor sapi dara.

Dalam hal biaya produsen susu, Harvey mengatakan, ada prospek yang beragam. “Harga biji-bijian telah turun, yang merupakan berita baik bagi peternak sapi perah, dan prospek harga untuk panen musim dingin Australia saat ini sebagian besar menguntungkan bagi pembeli. Namun sangat kontras, harga pakan ternak (jerami) telah melonjak, didorong oleh kekhawatiran pasokan.”

Inflasi harga eceran untuk produk susu di supermarket Australia juga terus melambat. Menurut Harvey, Indeks Harga Konsumen triwulanan Juni menunjukkan bahwa inflasi tahunan untuk susu dan keju berada pada angka kurang dari 3%, menandai tingkat inflasi produk susu terendah sejak 2021.

Ekspor susu Australia mengakhiri musim 2023-2024 dengan catatan yang baik, didukung oleh peningkatan ketersediaan susu dan pertumbuhan yang signifikan pada keju, susu bubuk skim, dan produk whey.

ASF POLANDIA: 44 PETERNAKAN TERINFEKSI PADA TAHUN 2024

Di Polandia, jumlah peternakan yang terinfeksi telah meningkat menjadi 44 pada tahun 2024 saja. Terutama peternakan yang terinfeksi terakhir adalah salah satu yang tak terlupakan.

Di Pomerania Barat, sebuah peternakan dengan 11.071 hewan harus dikosongkan pada pertengahan September karena ASF. Peternakan ini terletak dekat dengan kota Kolki, sekitar 80 km dari perbatasan dengan Jerman.

Virus ini muncul di Polandia pada tahun 2014. Selain banyak korban babi hutan, jumlah peternakan yang terinfeksi sekarang menjadi 552, jumlah ini termasuk peternakan skala kecil serta fasilitas komersial.

ASF JERMAN: VIRUS PADA BABI HUTAN YANG TERDAMPAR DI DEKAT KOBLENZ

Virus Demam Babi Afrika (ASFv) telah menyebar sejauh sekitar 60 km ke arah barat laut saat seekor babi hutan yang terdampar di sungai Rhine, Jerman, dinyatakan positif minggu lalu. Kemungkinan besar itu hanya insiden tetapi di zona inti di tenggara, situasinya belum terkendali. Jumlah babi hutan yang terinfeksi di Jerman barat telah bertambah menjadi 541 sejak Juni.

Menurut data yang dibagikan oleh Sistem Informasi Penyakit Hewan Jerman (TSIS) di Jerman, hewan yang terdampar itu ditemukan di distrik Rhein-Hunsrück-Kreis, antara kota Boppard dan Spey, tepat di selatan Koblenz, pada hari Selasa, 26 November. Pada hari Jumat, 29 November, laboratorium rujukan nasional Jerman, Friedrich-Loeffler-Institut, mengonfirmasi kecurigaan ASF.

Kemungkinan besar hewan itu hidup di zona inti, jika diukur dari jarak sekitar 60-80 km ke arah tenggara. Karena ditemukan di tepi sungai Rhine, dapat diasumsikan bahwa hewan itu pasti mati di dekat sungai, dan air pasti telah membawa bangkai hewan itu ke utara. Karena alasan itu, setelah berkonsultasi dengan Kementerian Pertanian Federal Jerman, tidak ada zona inti baru yang ditetapkan sebagai akibat dari penemuan tersebut.

Area penemuan sedang diteliti untuk memastikan bahwa area tersebut benar-benar bebas dari penyakit. Drone telah digunakan untuk terbang di atas area tersebut, dan pada akhir pekan, area seluas 1.850 ha telah digeledah di kedua tepi sungai Rhine. Anjing pelacak juga digunakan untuk memeriksa area tersebut lebih lanjut. Tidak ada babi hutan mati yang ditemukan sejauh ini.

Di zona inti itu sendiri, situasinya menjadi lebih sulit, khususnya di negara bagian Hesse. Di sini, jumlah total babi hutan yang terinfeksi telah bertambah menjadi 483 menurut data yang dibagikan oleh otoritas negara bagian Hesse. Wabah mulai terjadi di distrik Gross-Gerau musim panas ini yang masih memiliki jumlah temuan terbanyak (235), tetapi distrik Bergstrasse sekarang memantau dengan saksama dengan 220 bangkai babi hutan yang dinyatakan positif, yang sebagian besar ditemukan pada bulan lalu.

"Angka-angka ini menunjukkan bahwa situasinya masih dinamis," kata Matthias Schimpf, kepala departemen urusan veteriner dan perburuan setempat di lembaga pertanian Jerman Top Agrar.

Selain itu, di distrik Bergstrasse juga 24 babi hutan di kebun binatang satwa liar berukuran kecil harus disuntik mati pada pertengahan November, ketika virus muncul di populasinya. Secara total 5 hewan telah mati dan ketika semua hewan diuji, 21 terbukti positif ASF.

Bersama dengan 8 peternakan pada bulan Juli, ini adalah lokasi ke-9 dengan hewan di penangkaran di mana pihak berwenang harus melakukan pemusnahan di negara bagian Hesse. Di seluruh Jerman, kini 19 peternakan atau lokasi dengan babi/babi hutan di penangkaran terinfeksi, sejak virus muncul di Jerman pada tahun 2020. Hingga pertengahan tahun 2024, masalah ASF hanya terjadi di negara bagian di Jerman timur, dengan 2 infeksi peternakan satu kali di negara bagian Niedersachsen dan Baden-Württemberg.

Di wilayah timur Jerman, situasi mulai terkendali sedikit demi sedikit karena di sejumlah distrik, virus tampaknya telah menghilang. Namun, ini tentu belum sepenuhnya berakhir, karena bangkai yang hasil tesnya positif masih terus ditemukan di negara bagian Niedersachsen dan Brandenburg di sepanjang perbatasan dengan Polandia. Salah satunya baru-baru ini ditemukan di dekat kota Gransee, sekitar 85 km dari perbatasan dengan Polandia.

Menurut situs web TSIS Jerman, hingga 1 Desember 2024, total 6.373 babi hutan ditemukan terinfeksi ASF.

ASF SRI LANKA: VIRUS MENCAPAI NEGARA KE-21 DI ASIA

Demam Babi Afrika (ASF) telah mencapai negara ke-21 di Asia: Sri Lanka. Media berita lokal telah melaporkan kematian babi, begitu pula Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO). Konfirmasi resmi telah menyusul sekarang oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH).

Laporan WOAH baru-baru ini menyebutkan tentang 3 infeksi di peternakan, yang semuanya dimulai pada 25 Oktober 2024. Ketiganya ditemukan di bagian barat negara itu dalam radius 100 km dari ibu kota Kolombo.

Yang terbesar dari ketiganya adalah sebuah peternakan di Madampe di Provinsi Barat Laut, di distrik Puttalam, tepat di sebelah utara Kolombo. Di sini, virus muncul di sebuah peternakan dengan 855 babi. Secara total, 301 babi telah mati.

Sebuah peternakan di Bollaththa, Ganemulla di Provinsi Barat, di distrik Gampaha, melaporkan wabah di sebuah peternakan dengan 564 babi, yang 91 ekor di antaranya telah mati. Peternakan ini terletak di pinggiran kota metropolitan Colombo, dengan hampir 6 juta penduduk. Peternakan ketiga juga ditemukan positif di Ja-ela, Provinsi Barat, juga di distrik Gampaha. Di peternakan ini, terdapat 282 babi dan sebagian besar (251) telah mati. Jika diukur secara langsung, peternakan ini berjarak sekitar 5 km dari peternakan lainnya di provinsi ini.

Sejalan dengan wabah di tempat lain di Asia, kemungkinan besar wabah telah berkembang ke tingkat yang jauh lebih serius. Setidaknya itulah pesan yang muncul dari sumber-sumber lokal. Departemen Produksi dan Kesehatan Hewan negara itu sendiri telah mengumumkan wabah pertama pada akhir Oktober. Jika situs web FAO menyebutkan 20.000-25.000 korban babi di Provinsi Barat saja, media lokal telah melaporkan bahwa virus tersebut juga telah mencapai Provinsi Uva, Provinsi Utara, dan Provinsi Barat Laut.

Sebelumnya, sejak 2017, ASF masuk ke Asia melalui Siberia. Pada Agustus 2018, virus tersebut muncul di Tiongkok, setelah itu virus tersebut menyebar dengan sangat cepat ke seluruh benua. Selain 21 negara Asia yang sekarang terinfeksi, virus tersebut juga mencapai Papua Nugini pada Maret 2020 – secara teknis negara ini dianggap sebagai bagian dari benua Oseania.

Taiwan memang mengomunikasikan temuan virus ASF pada babi yang terdampar di pantai, tetapi karena mereka kemungkinan besar terbawa arus dari daratan Tiongkok, Taiwan sendiri telah mempertahankan status ASF negatif.

DENMARK BERENCANA MENGENAKAN PAJAK ATAS EMISI GAS RUMAH KACA DARI PETERNAKAN

Denmark telah mengungkapkan rencana untuk menjadi negara pertama di dunia yang mengenakan pajak atas emisi gas rumah kaca dari peternakan. Pajak tersebut akan mulai berlaku pada tahun 2030. Denmark juga bertujuan untuk mengurangi emisi nitrogen sebesar 13.780 ton per tahun mulai tahun 2027.

Lars Aagaard Møller, menteri Iklim, Energi, dan Utilitas Denmark, mengumumkan rencana tersebut. Pemerintah Denmark mengklaim bahwa langkah-langkah tersebut akan mengarah pada perubahan terbesar di pedesaan dalam 100 tahun.

Langkah-langkah tersebut mendapat dukungan politik yang luas di Denmark. Bahkan beberapa partai oposisi juga mendukung kesepakatan tersebut. 'Paket Denmark' mencakup beberapa langkah berat yang akan berdampak signifikan pada peternakann Denmark. Misalnya, peternak harus membayar €16 per ton karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4) yang dikeluarkan mulai tahun 2030. Jumlah tersebut akan meningkat menjadi €40 per ton pada tahun 2035.

Pemerintah Denmark juga telah mengumumkan akan menyediakan dana sebesar DKK43 miliar (kurang dari €6 miliar) untuk membeli lahan pertanian, secara sukarela. Di Denmark, total 250.000 ha hutan baru akan ditambahkan, serta 5 taman nasional. Selain itu, 140.000 ha lahan dataran rendah tidak akan lagi diolah. Pada tahun 2045, sekitar 10% wilayah negara tersebut harus diubah menjadi alam dan hutan.

Tidak mengherankan bahwa Denmark meluncurkan rencana tersebut sekarang. Musim panas lalu, pemerintah Denmark telah mencapai kesepakatan dengan perwakilan sektor pertanian, industri, serikat pekerja, dan sebagian oposisi. Saat itu, emisi nitrogen yang lebih rendah, kualitas air, perencanaan hutan baru, serta pajak GRK sudah menjadi agenda.

Sebuah komite penasihat Denmark menyimpulkan pada tahun 2022 bahwa mengenakan pajak kepada peternak adalah cara terbaik dan termurah untuk mencapai target pengurangan. Komite tersebut kemudian menyimpulkan bahwa peternak harus merasakan tekanan, karena tindakan sukarela tidak akan banyak berpengaruh.

Peraturan baru tersebut kemungkinan akan memengaruhi peternak sapi perah dan sapi potong, dalam beberapa perhitungan, produsen harus membayar sekitar €130 per sapi per tahun. Hasilnya, peraturan tersebut kemungkinan akan mengarah pada peternakan yang lebih intensif dan berskala lebih besar.

APA YANG BARU DI INDIA, PRODUSEN SUSU TERBESAR DI DUNIA

Sebagaimana dicatat dalam laporan Oktober oleh Departemen Pertanian AS Foreign Agricultural Service (FAS), India memiliki kawanan sapi perah (sapi dan kerbau) terbesar di dunia, menjadikannya produsen susu terbesar di dunia.

Karena peningkatan yang diharapkan dalam kawanan nasional, 62 juta ekor diantisipasi akan tercapai pada tahun 2025, yang merupakan peningkatan 0,8% dari tahun 2024.

Kantor FAS New Delhi memperkirakan bahwa total produksi susu India akan meningkat menjadi 216,5 mmt tahun depan. Ini berarti lebih banyak susu yang dipasarkan tetapi juga lebih banyak mentega dan susu skim bubuk. Susu cair terus diekspor ke Bhutan, Singapura, dan Uni Emirat Arab, sementara mentega semakin banyak diekspor ke negara-negara Timur Tengah. FAS mengaitkan pertumbuhan produksi susu nasional dengan meningkatnya populasi dan pendapatan yang lebih tinggi, serta meningkatnya dukungan pemerintah untuk sektor susu, cuaca yang baik, harga susu yang tinggi, dan tidak adanya wabah penyakit besar.

FAS juga melaporkan bahwa ada peningkatan jumlah merek susu di India, dengan pemasaran yang ekstensif meningkatkan permintaan konsumsi untuk susu dan produk susu olahan.

Di antara perkembangan baru, pada bulan Oktober, Britannia Bel Foods mengumumkan akan membangun pabrik keju untuk memproduksi produk The Laughing Cow. Britannia Bel Foods adalah kolaborasi berusia 2 tahun antara Britannia yang berbasis di India dan Bel Groupe, produsen The Laughing Cow, Babybel, Boursin, dan merek keju lainnya yang terkenal di Prancis.

Baru-baru juga dilaporkan bahwa Sid's Farm sedang membangun beberapa pabrik pengolahan di Hyderabad dan Bengaluru. Salah satu perusahaan susu terpadu terbesar di India, Dodla Dairy, sedang membangun pabrik terpadu untuk melayani Distrik Solapur dan Dharashiv di Maharashtra. Namun, beberapa peternak sapi perah dan unggas skala kecil, antara lain, gagal membayar pinjaman keuangan mikro di India. Hal ini sebagian disebabkan oleh ketidakakuratan dalam pendapatan penerima pinjaman yang dilaporkan, sehingga melebih-lebihkan kemampuan mereka untuk membayar kembali pinjaman tersebut.

FAS mencatat bahwa pada tahun 2024 dan 2025, pemerintah federal India telah mengalokasikan lebih banyak uang untuk memajukan sektor peternakan dan susu. Ada lebih banyak dana yang tersedia untuk membeli sapi dan lebih banyak dukungan teknis juga ditawarkan untuk meningkatkan infrastruktur peternakan, pemasaran, kontrol kualitas, ketersediaan pakan dan makanan ternak, pembiakan dan perawatan kesehatan hewan, asuransi ternak, dan banyak lagi.

Karena permintaan yang kuat untuk produk susu, FAS melaporkan bahwa peternak di India terus menerima harga yang menguntungkan, dengan harga susu cair dan lemak susu meningkat terus-menerus, khususnya di wilayah dengan koperasi susu yang aktif. Ada program pemerintah yang memfasilitasi pinjaman bagi koperasi untuk membayar harga yang menguntungkan bagi peternak, sebagian besar dalam bentuk bonus. Pada bulan Oktober, Sundarini, sebuah koperasi susu yang berbasis di Sundarbans, memenangkan penghargaan di ajang International Dairy Federation Awards ketiga di Paris untuk praktik peternakan berkelanjutan. Koperasi ini terdiri dari 4.500 peternak perempuan yang memproduksi 2.000 liter susu per hari.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer