-->

WUJUDKAN KEMANDIRIAN PROTEIN HEWANI DENGAN PANCA KRIDA KEMANDIRIAN PANGAN NUSANTARA

Prof Ali Agus saat menyampaikan materinya. (Foto: Istimewa)

Untuk menjaga terjaminnya pasokan sumber protein hewani bagi generasi penerus bangsa, pengembangan industri peternakan diantaranya unggas, sapi, kerbau, kambing dan domba, serta ternak lainnnya sebagai produsen utama protein harus dilakukan.

Terlebih asupan gizi protein hewani bagi sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu prasyarat utama dalam membangun SDM Indonesia yang unggul dan kompetitif di era global saat ini. Sumber gizi protein hewani yang memiliki berbagai zat gizi esensial yang tidak bisa dipenuhi dari sumber pangan lain, berperan penting dalam pembentukan SDM dengan otak yang cerdas dan badan yang sehat.

Hal itu dibahas dalam Indonesia Livestock Club (ILC) #Edisi11 yang diselenggarakan Indonesia Livestock Alliance (ILA) dan Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI), bekerja sama dengan Himpunan Peternak Domba-Kambing Indonesia (HPDKI), Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) pada Sabtu (3/10/2020).

Hadir sebagai narasumber Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Prof Ali Agus, memaparkan tentang panca krida kemandirian pangan nusantara.

"Pertama, komitmen politik dan sinergisitas kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan pelaku usaha. Kedua, optimalisasi pemanfaatan sumber daya lahan dan air untuk produksi protein hewani. Ketiga, kemandirian proses produksi protein hewani. Keempat, promosi dan pembudayaan pola konsumsi pangan protein hewani. Kelima, penguatan kelembagaan dan kualitas SDM," ujar Ali Agus. 

Dalam skala global, terlebih di era pandemi COVID-19, masing-masing negara memiliki tekad dan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya, termasuk protein hewani untuk membangun SDM unggul bangsa. Maka, di masa pandemi ini dengan segala keterbatasan, masing-masing negara lebih memprioritaskan rakyatnya sendiri agar dapat terpenuhi kebutuhan protein hewaninya. Dalam kondisi seperti itu, suatu negara yang tidak memiliki sumber protein hewani yang cukup, akan melakukan impor.

"Masalahnya ketika negara-negara produsen tersebut lebih mementingkan rakyat di dalam negerinya dibanding menjualnya ke luar negeri, produk protein hewani berisiko menjadi langka di pasar dunia. Itulah sebabnya sangat penting bagi Indonesia untuk memilik)i kemandirian akan sumber-sumber protein hewani," katanya.

Ali Agus juga menambahkan, "Menghadapi situasi itu, dalam rangka menyongsong Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-40 yang akan diperingati pada 16 Oktober 2020, sangat penting untuk kembali kita ingatkan para pemangku kepentingan baik di tingkat pemerintah, wakil rakyat, praktisi peternakan, akademisi, peneliti dan lainnya tentang pentingnya bersinergi dalam melakukan langkah bersama guna mewujudkan kemandirian protein hewani Bangsa Indonesia."

ILC yang sudah digelar untuk yang kesebelas kalinya ini, juga menghadirkan narasumber Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak Ir Fini Murfiani yang membawakan tema seputar Kebijakan Pemerintah dalam Mendukung Terwujudnya Kemandirian Protein Hewani, Ketua Umum HPDKI Ir Yudi Guntara Noor yang membahas mengenai Tantangan Peternakan Ruminansia dalam Turut Mewujudkan Kemandirian Protein Hewani, serta Ketua Umum GOPAN Herry Dermawan yang membawakan materi tentang Tantangan Perunggasan dalam Turut Mewujudkan Kemandirian Protein Hewani. (IN)

AUDIENSI VIRTUAL ASOHI-DIRJEN PKH : "ASOHI JANGAN JAUH-JAUH DARI SAYA"


Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dr. Ir. Nasrullah MSc menegaskan bahwa Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) adalah bagian dari keluarga besar  Dirjen PKH . "Jadi ASOHI jangan jauh-jauh dari  saya," tegas  Dirjen saat memberikan tanggapan di acara audiensi virtual pengurus Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Jumat pagi (2/10/20) . Ini adalah pertemuan pertama pengurus ASOHI dengan Dirjen PKH semenjak Nasrullah diangkat sebagai Dirjen PKH bulan Agustus lalu menggantikan Dr. Drh I Ketut Diarmita MP. Mengingat masih situasi pandemi Covid-19, kedua pihak sepakat audiensi dilakukan secara virtual.

Dalam kesempatan ini Ketua Umum ASOHI Drh. Irawati Fari didampingi oleh sekjen Harris Priyadi, Wakil Sekjen Forlin Tinora, Bendahara Umum Henny Rusminah, Para ketua Ketua Bidang (Gowinda Sibit, Andi Wijanarko, Teddy Candinegara, Haryono Jatmiko), serta Dewan Penasehat Gani Haryanto (Ketua) beserta anggotanya yang merupakan para senior yaitu Jonas Jahja, Sofjan Sudardjat, Ketut Tastra Sukata, Rakhmat Nuriyanto. Hadir juga Bambang Suharno selaku sekretaris eksekutif ASOHI dan Pemimpin Umum Majalah Infovet.

Sementara itu Dirjen didampingi oleh Direktur Kesehatan Hewan Drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa PhD, Kasubdit POH Ni Made Ria Isriyanthi PhD, kepala seksi di POH Dameria Melanie.

Acara diawali dengan sambutan Dirjen dilanjutkan dengan presentasi singkat Ketua Umum ASOHI . Dalam paparannya Irawati menjelaskan secara tentang pendiri ASOHI yang salah satunya adalah Dr. Drh. Sofyan Sudardjat MS (Dirjen PKH 1999-2006),  susunan pengurus ASOHI serta peran sebagai mitra pemerintah yang selama ini terlah berjalan dengan berbagai dinamikanya. Irawati juga menyampaikan komitmen ASOHI untuk mendukung pemerintah termasuk dalam program Gratieks (Gerakan Tiga kali ekspor) yang dicanangkan Menteri Pertanian Syarul Yasin Limpo.

Menurut Ira, peran ASOHI selama ini antara lain memberikan masukan konstruktif kepada pemerintah dalam menyusun peraturan perundang-undangan tentang obat hewan.

"ASOHI juga berkontribusi dalam pengembangan produksi dalam negeri dan ekspor obat hewan melalui pembinaan CPOHB (Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik) kepada anggota, kerjasama dengan asosiasi obat hewan negara lain, pertemuan internasional dan kegiatan lainnya ," ujar Irawati.

Ia menambahkan bahwa jumlah eksportir mengalami peningkatan sekitar 2 kali lipat selama 5 tahun dan nilai ekspor mencapai 23,6 triliun selama 2015-2018, serta jumlah negara tujuan juga terus meningkat hingga sekarang telah masuk ke 5 benua dan hampir 100 negara.  Atas nama ASOHI, Ira menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah dalam pengembangan ekspor dan berharap pemerintah terus membantu memfasilitasi kegiatan ekspor obat hewan.

Menanggapi paparan Ketua Umum, Dirjen memberikan apresiasi kepada industri obat hewan di bawah ASOHI yang telah berkontribusi besar pada ekspor. Ia berharap kinerja yang baik ini diekspos agar masyarakat tahu prestasi kita. Bukan hanya ke media bidang peternakan tapi juga ke media umum. Menurut pengamatan Dirjen, selama ini banyak orang  yang belum tahu prestasi industri obat hewan yang sudah berhasil di pasar international. Ia berjanji akan memberikan "karpet merah" berupa dukungan dan bantuan untuk mempermudah pengembangan pasar obat hewan di luar negeri.

Dalam kesempatan ini, Dirjen juga mengharapkan ASOHI untuk ikut memberikan sumbangan pemikiran bukan hanya dalam bidang obat hewan namun juga dalam bidang peternakan, khususnya bidang perunggasan yang sering menghadapi masalah fluktuasi harga.  

Adapun terhadap masukan-masukan ASOHI lainnya tentang harmonisasi aturan pusat daerah, obat hewan ilegal, dan yang lainnya, Dirjen berpesan agar segera ditindaklanjuti bersama Direktur Kesehatan Hewan. *** 

(Bams)

ASOHI BERI MOTIVASI PELAKU USAHA OBAT HEWAN UNTUK EKSPOR

Sharing Bisnis ASOHI bertajuk “Ekspor Obat Hewan dan Bagaimana Strateginya?”. (Foto: Dok. Infovet)

Kamis, 1 Oktober 2020, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) menggelar Webinar Sharing Bisnis ASOHI bertajuk “Ekspor Obat Hewan dan Bagaimana Strateginya?”, yang diharapkan mampu memotivasi para pelaku bisnis di bidang obat hewan.

“Saya harapkan acara ini dapat memotivasi kita semua para pelaku bisnis obat hewan untuk memulai meningkatkan ekspor yang sejalan dengan program pemerintah yakni Gratieks (Gerakan Tiga Kali Ekspor),” ujar Ketua Umum ASOHI, Drh Irawati Fari, dalam sambutannya.

Hal itupun langsung disambut baik oleh Kasubdit POH, Drh Ni Made Ria Isriyanthi, yang hadir mewakili Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, dengan menjabarkan gambaran usaha obat hewan yang tiap tahun meningkat.

Dari data BPS yang diolah Pusdatin Kementan (2019), ditampilkan Ria bahwa ekspor obat hewan pada 2018 mencapai 739.208 kg dengan nilai sekitar Rp 195 miliar, meningkat pada 2019 menjadi 832.896 kg dengan angka Rp 204 miliar.

“Sedangkan pada 2020 (Januari-Agustus) ekspor obat hewan kuantitinya baru mencapai 661.627 kg dengan nilai Rp 149 miliar,” ujar Ria. Adapun negara tujuan ekspor disampaikan Ria, mencapai 95 negara. Diantaranya Asia (35 negara), Eropa (32 negara), Afrika (15 negara), Amerika (11 negara) dan Australia (2 negara).

“Produk kita mampu bersaing di kancah internasional. Rencana ke depan kita akan memperluas peluang pasar di wilayah Asia Tengah dan Afrika. Untuk itu kami pemerintah selalu memutakhirkan aturan-aturan terkait ekspor,” kata Ria.

Webinar yang dihadiri sebanyak 115 orang peserta ini turut menghadirkan narasumber Ketua Sub Bidang Eksportir ASOHI, Peter Yan, yang membahas seluk-beluk ekspor obat hewan ke berbagai negara.

 “Pentingnya ekspor obat hewan ini mendukung peningkatan devisa dan ekonomi negara, sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan. Bagi perusahaan, pentingnya ekspor ini bisa meningkatkan branding product and company, pengembangan perusahaan dan pasar, hingga pemanfaatan kapasitas produksi,” ujar Peter.

Lebih lanjut dijelaskan, ekspor obat hewan ini menjadi sangat penting karena kondisi pasar dalam negeri yang cenderung sudah jenuh. “Kita coba keluar dari zona nyaman agar potensi perusahaan obat hewan kita semakin berkembang dan semakin tumbuh, salah satunya melalui ekspor ini,” tukasnya. (RBS)

WAW!!... TELAH 95 NEGARA TUJUAN EKSPOR OBAT HEWAN INDONESIA

Kamis, 1 Oktober 2020, Seminar via Zoom bertema “Ekspor Obat Hewan dan Bagaimana Strateginya” diselenggarakan oleh Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI). Menghadirkan narasumber tunggal Peter Yan dari PT Medion Farma Jaya yang memaparkan pengalaman Peter Yan tentang ekspor produk obat hewan dari Medion, mulai dari pra ekspor produk, administrasi hingga pelaksanaan pengiriman produk ke negara tujuan.

Ketua Umum ASOHI, Irawati mengantar acara webinar sebagai sharing pengalaman dari salah satu anggota untuk anggota. Webinar yang dibuka oleh Ni Made Ria Isriyanti, Kasubdit POH yang mewakili Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementan RI berdurasi sejak pukul 14.00-16.00 WIB.

Ria menyampaikan bahwa data ekspor produk obat hewan Indonesia dari BPS yang diolah Pusdatin telah sampai ke 95 negara.

Peserta webinar yang sempat menyentuh angka 109 peserta itu, selain dari internal anggota ASOHI baik di Pusat maupun dari ASOHI Daerah seluruh Indonesia, juga dihadiri dari unsur pemerintahan, selain Dit Keswan juga Dit PPHNak, Ditjen PKH.

Pemaparan pemgalaman Peter Yan dilajutkan dengan diskusi dengan para peserta yang dimoderatori oleh Forlin Tinora, Wakil Sekjen ASOHI. Sedangkan Bambang Suharno, Sekertaris Eksekutif ASOHI bertindak sebagai Pemandu Acara.****(DARMA)

AINI BAHAS OPTIMALISASI PALM KERNEL MEAL UNTUK BAHAN BAKU PAKAN TERNAK

Ketersedian PKM di Indonesia melimpah, tetapi pemanfaatannya masih minim


Indonesia dan Malaysia dikenal dunia sebagai dua negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Salah satu produk sampingan dari kelapa sawit adalah bungkil inti sawit alias palm kernel meal yang ternyata dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak.

Potensi ini sepertinya belum banyak dimanfaatkan oleh produsen pakan Indonesia. Asosiasi Ilmu Nutrisi Indonesia (AINI) melihat ini sebagai peluang dikala lesunya industri pakan karena wabah Covid-19. Mereka juga membahas hal ini dalam webinarnya pada Kamis (1/10) melalui aplikasi zoom. Seminar tersebut membahas mengenai pemanfaatan palm kernel meal sebagai bahan baku pakan ternak dari mulai unggas, ruminansia, babi, dan bahkan satw akuatik. Animo peserta yang hadir ternyata sangat tinggi, hal ini terlihat dari jumlah peserta yang mencapai lebih dari 350 orang.

Seminar dibuka dengan opening speech dari Ketua Umum AINI yang juga guru besar FAPET IPB, Prof. Nahrowi. Dalam sambutannya Nahrowi menyebutkan bahwa Indonesia menurut data USDA Indonesia menghasilkan 10,7 juta ton PKM pada tahun 2019, atau 57% produksi dunia.

"Tentunya ini merupakan potensi, kita penghasil PKM terbesar di dunia tetapi kurang memanfaatkan PKM. Padahal kandungan nutrisi PKM dapat dimanfaatkan, namun begitu karena beberapa kendala kita jadi enggan menggunakannya, oleh karena itu diharapkan seminar ini dapat membedah PKM secara dalam dan menambah khazanah kita mengenai PKM," tukas Nahrowi.

Narasumber yang dihadirkan pun juga bukan sembarangan, Prof Arnold Sinurat dari BALITNAK adalah salah satunya. Dalam presentasi berdurasi dua puluh menit, Prof Arnold banyak menjabarkan berbagai hasil penelitian terkait penggunaan PKM sebagai bahan baku bakan di berbagai jenis hewan ternak.

"Rerata di feedmil PKM digunakan 2-3%, paling banyak 5%. banyak orang yang enggan menggunakannya karena beberapa hal, Salah satunya kandungan Mannan yang merupakan Non Starch Poliscaharide yang menyebabkan vsikositas usus meningkat," tuturnya.

Selain itu secara struktur, PKM kandungan nutrisi yang berguna dan dapat dimanfaatkan dalam PKM "terkunci" di dalam. Butuh beberapa treatment yang tepat untuk mengeluarkannya agar dapat dimanfaatkan oleh hewan ternak.

Beberapa perlakuan yang dapat diberikan untuk mengakalinya menurut Arnold yakni dengan melakukan fermentasi dan melakukan penambahan enzim eksogen untuk dapat membuka "kunci" tersebut.

Sementara itu Drh Agus Prastowo dari PT Elanco Animal Health yang bertindak sebagai narasumber kedua menuturkan bahwa kandungan β - mannan yang terdapat dalam PKM sangat tinggi. β - mannan merupakan zat NSP yang bisa dibilang bersifat anti nutrisi, namun begitu jika β - mannan dipecah maka hasilnya adalah Mannan Oligosakarida (MOS) yang dapat berguna sebagai prebiotik untuk bakteri yang menguntungkan di saluran cerna.

"β - mannan jika dipecah akan menjadi MOS dan beberapa jenis gula yang dapat menjadi prebiotik dan sumber energi dari suatu ransum. Oleh karenanya perlu penambahan enzim eksogen semisal β - mannanase, selulase, dan lainnya untuk menguraikan harta karun tersembunyi tersebut," tutur Agus.

Lebih jauh Agus menjelaskan bahwa penambahan enzim semisal β - mannanase dalam susatu ransum yang menggunakan PKM sebagai bahan baku juga dapat meningkatkan produktivitas, kecernaan, feed intake, dan meningkatkan kesehatan saluran cerna pada unggas. (CR)

DIESNATALIS IPB KE 57: ALUMNI GENKSI HELAT ACARA BERTEMA KESEHATAN INI

Minggu 27 September 2020, Alumni IPB (Institut Pertanian Bogor) Angkatan 14/1977 yang disebut Generasi Kreasi, Seni dan Intelektual (Genksi), secara khusus menyelenggarakan webinar dengan topik “Tetap Sehat Di Tengah Pandemi Covid-19” dalam rangka ikut berpartisipasi pada Dies Natalis IPB yang ke 57 tahun pada September 2020.

Webinar bertemakan kesehatan bagi halayak dalam situasi Pandemi Covid-19 dengan menghadirkan tiga orang alumni IPB Angkatan 1977 sebagai pembicara dan satu orang dokter ahli paru sebagai narasumber disambut antusias peserta. Dimoderatori oleh Ir Ruri Sarasono, MBA., acara dibuka oleh Ir M Ashar Lubis, MA sebagai Keynote Speaker.

Webinar dimulai dengan presentasi Prof DR Drh Charul Anam Nidom, MS. Kemudian dilanjutkan oleh Drh Kamaluddin Zarkasie, PhD. Keduanya alumni IPB 14/1977 itu membahas ilmu kesehatan terkait Pandemi Covid-19. Prof Nidom yang kini merupakan Guru Besar Biokimia dan Biologi Molekular Unair memperkenalkan secara singkat tentang apa dan bagaimana virus Corona, penyakit infeksi yang kemudian mengglobal menjadi Pandemi itu.

Sedangkan Drh Kamaluddin Zakasie, PhD., menyampaikan bahwa, secara umum virus Corona dapat menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan dan saluran pencernaan. Dan dari segi klasifikasi genetik, ada dua yang dapat menginfeksi manusia, yaitu Alpha Corona virus dan Beta Corona virus. Sedangkan Gama Corona virus dan Delta Corona virus keduanya menginfeksi burung. “Jadi corona virus pada unggas sudah sangat dikenal pada penyakit IB (Infectious Bronchitis) yang biasa menyerang ayam,” jelasnya.

Narasumber ke tiga adalah dr Kasum Supriadi SpP yang menyajikan bahasan singkat berkenaan dengan dampak infeksi virus Covid-19 dan beberapa tips menghadapinya. Dokter spesialis paru RS Sumber Waras itu menyarakan agar masyarakat dapat beradaptasi dengan protokol keshatan baku yang sudah ditentukan sehingga semua aktifitas dapat berjalan efektif dan aman.

Peserta webinar yang sempat menyentuh jumlah peserta 221 orang itu juga disuguhi pelatihan singhkat tentang peningkatan imunitas tubuh dengan Bio Energi Power (BEP) yang disampaikan oleh Dr Ir Hari Witono DAA yang juga alumni IPB 14/1977 itu. Witono menyampaikan, bahwa hakekat dasar pada setiap manusia memiliki kemampuan untuk self healing alias mengobati dirinya tanpa mengkonsumsi obat. Self healing ini bisa dilakukan dengan cara latihan pernapasan menggunakan metode BEP.

Sebagaimana harapan panitia, agar webinar ini dapat meningkatkan kepedulian peserta untuk meningkatkan ketahanan tubuh, juga turut mengedukasi masyarakat luas serta mempererat silaturahmi, baik antar sesama alumni maupun dengan sesama masyarakat yang peduli terhadap masalah pandemi ini.

Zoomseminar berjalan interaktif antara semua narasumber dengan para peserta yang penuh semangat sehingga waktu lewat 30 menit dari jadwal untuk kemudian ditutup oleh MC, Ir Mimy Santika pada 16.30 WIB. "Semoga IPB terus menginspirasi dan menghadirkan optimisme dengan karya inovasinya yang bermanfaat untuk kemajuan Indonesia."****

SUMBANG SARAN PB PDHI UNTUK DIRJEN BARU

OLEH: DRH M. MUNAWAROH MM

Kami, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) sebagai organisasi profesi mitra pemerintah mengucapkan selamat atas terpilihnya nahkoda baru Direktur Jenderal Peternakan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Dr Ir Nasrullah MSc. Semoga dapat mengemban tugas dengan baik dan senantiasa memberi yang terbaik bagi perkembangan peternakan dan kesehatan hewan nasional. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada pejabat sebelumnya Dr Drh I Ketut Diarmita MP atas karya dan darma baktinya. Sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah, melalui media ini kami menyampaikan sumbang saran untuk Dirjen PKH dengan harapan dapat dipakai sebagai salah satu referensi dalam mengambil kebijakan. Artikel ini merupakan rangkuman dari materi sumbangan pemikiran PB PDHI tentang peternakan dan kesehatan hewan yang telah disampaikan secara resmi ke Dirjen PKH.

Optimalkan Peran Dokter Hewan

Dalam pembangunan nasional saat ini PDHI berpandangan bahwa pemerintah belum mengoptimalkan peran dokter hewan di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Anggaran pemerintah baik APBD maupun APBN juga masih terfokus pada “kesehatan ternak” dan bukan “kesehatan hewan”. Ke depannya pemerintah hendaknya membangun “kesehatan hewan” secara komprehensif, mengingat kerugian ekonomi yang disebabkan Penyakit Hewan Menular (PHM) termasuk zoonosis amatlah besar. Dalam hal ini pemerintah perlu mengupayakan adanya “Anggaran Wabah” untuk PHM Zoonosis dan Non-Zoonosis.


Perihal masalah Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), dimana produk-produk asal hewan harus Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH), pemerintah perlu menghadirkan aparat semacam “Polisi Veteriner” yang bertanggung jawab terhadap struktur dan sistem keamanan pangan asal ternak di lapangan. Termasuk di dalamnya mengawasi rumah pemotongan hewan (RPH) ilegal atau yang tidak memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV), serta beredarnya daging “liar” di pasaran. Keterbatasan tenaga veteriner di Badan Karantina Pertanian yang bertanggung jawab dalam hal struktur dan sistem pertahanan pangan asal ternak dan sistem penangkalan penyakit hewan dari luar negeri perlu menjadi perhatian pemerintah.

Penanganan Wabah

Ketentuan UU No. 18/2009 pada Pasal 46 yang mengatur respon Pemerintah Pusat dan Daerah kami nilai terlalu panjang dan berbelit-belit, hal ini tidak mencerminkan kebijakan yang tanggap terhadap suatu wabah. Selain itu, ketentuan kejadian wabah yang harus diumumkan ke publik menjadi beban psikis tersendiri bagi pimpinan dan jajaran Pejabat Tinggi di unit eselon I yang menangani peternakan dan kesehatan hewan.

PB PDHI siap membantu Dirjen PKH untuk merombak ketentuan Pasal 46 agar respon terhadap wabah dapat dilakukan secara cepat tanpa dibayangi beban psikis jabatan.

Kebijakan Zone Based dan Impor Sapi

Kami juga mengamati pemerintah dalam menerapkan UU No. 41/2014 terutama mengenai Pasal 36 B ayat 2. Menurut hemat kami seharusnya pasal ini bersifat lumintu (terus berkelanjutan), yakni bisa menerima berbagai kriteria sapi untuk kepentingan pengembangan sapi potong dan pemenuhan kebutuhan konsumen dalam negeri.

Terhadap kebijakan impor berbasis zona (zone based) menggantikan country based, kami menilai bahwa sistem ini bakal menyulitkan Ditjen PKH dalam mencegah dan mengendalikan PHM, antara lain PMK, BSE, ASF, COVID-19 dan lain-lain. Kebijakan zone based bisa diterapkan dengan baik sepanjang pemerintah melakukan tahapan sesuai dengan saran Tim Analisa Resiko Independen (TARI). Faktanya sampai saat ini persyaratan yang diharuskan ada oleh tim TARI masih belum dipenuhi, tidak heran jika kemudian terjadi wabah ASF yang sangat mungkin akan diikuti wabah lainnya seperti PMK dan BSE (yang sampai saat ini Indonesia masih bebas).

Masalah lain juga ada di Pasal 36 B ayat 5 yang mewajibkan feedlot menggemukkan sapi paling cepat 4 bulan setelah pelepasan dari karantina. Akibat pasal ini, para pengusaha penggemukan sapi potong dapat mengalami kerugian, karena dengan teknologi saat ini penggemukan sapi dapat dilakukan dalam waktu kurang dari 4 bulan. Artinya, putaran investasi akan memberikan dampak finansial dan ekonomi yang lebih luas dan cepat. Bukan sebaliknya, menjadi lambat dan kurang memberi manfaat bagi ekonomi pedesaan.

Impor daging sapi dan kerbau dari India juga menimbulkan masalah ekonomi. Disparitas harga daging impor dan lokal sangat tinggi dan dapat menyebabkan kerugian pada feedlot dan peternak. Malahan lebih menguntungkan bagi para “pencari cuan” ketimbang peternak dan pengusaha feedlot.

AGP dan Perunggasan

Permasalahan yang tidak kalah penting yakni mengenai Anti Microbial Ressistance (AMR). PDHI dalam hal ini mendukung regulasi pemerintah karena di lapangan penggunaan antibiotik tidak terawasi dengan baik (terutama dalam perunggasan), sehingga PDHI meminta pemerintah agar lebih aktif melakukan fungsi pengawasan. Saat ini PDHI juga sedang menyusun buku tentang Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik, semoga dalam waktu dekat buku ini akan terbit dan bisa digunakan sebagai dasar untuk pengobatan antibiotik di lapangan oleh para praktisi.

Hal yang juga krusial yakni masih banyaknya peredaran obat hewan ilegal. PB PDHI menganggap penting perlunya struktur dan sistem hukum yang bertanggung jawab dalam hal penyidikan dan penindakan terhadap penyimpangan pengadaan maupun peredaran obat hewan. Kementerian Pertanian sampai saat ini, belum memiliki Bidang atau Direktorat Penyidikan dan Penindakan yang berhubungan dengan obat hewan ilegal. Dengan adanya dukungan perangkat lunak berupa landasan hukum yang kuat diharapkan dapat melindungi masyarakat, khususnya peternak kecil dalam mendapatkan obat hewan yang baik dan bermutu.

Dalam bidang perunggasan diharapkan Ditjen PKH dapat segera melakukan audit populasi dan pengurangan produksi parent stock (PS) dan/atau final stock (FS), sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (2) Permentan Nomor 32/Permentan/PK.230/9/2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi, agar kelebihan produksi dapat diselesaikan.

Selain itu pemerintah belum melakukan pembelian ternak ayam sebagaimana ketentuan Pasal 3 ayat (1) Permendag No. 7/2020, yang mewajibkan pemerintah bertanggung jawab untuk melakukan pembelian apabila harga di tingkat peternak di bawah harga acuan yang telah ditetapkan, yaitu sebesar Rp 19.000/kg.

Pemerintah juga seharusnya lebih mendorong integrator untuk ekspor, agar peternak lebih banyak mendapat porsi pasar lokal. Koordinasi antar kementerian agar ditingkatkan dalam penyelesaian masalah perunggasan yang terus berbelit.

Memperkuat Produksi dan Ekspor

Perlu diingat bahwa Indonesia adalah salah satu “hot spot” penyakit infeksius baru (Emerging Infectious Diseases/EID) di dunia. Situasi ini menjadikan kondisi Indonesia sebagai “ancaman” bagi masyarakat karena kemungkinan menjadi sumber munculnya penyakit infeksi baru yang dapat berakibat fatal bagi manusia.

Zoonosis seperti Antraks, Rabies, Leptospirosis, Bruselosis dan lainnya selalu muncul setiap tahun. Kejadian Rabies setiap tahun mengakibatkan kematian manusia cukup banyak. Permasalahan ini yang dihadapi dunia kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat di Indonesia dan sudah seharusnya dapat ditangani secara lebih baik oleh tenaga ahli dari dalam negeri.

Kemampuan penyidikan penyakit hewan di dalam negeri sudah semakin baik. Staf penyidikan yang semakin terdidik dan terlatih secara profesional mendukung tugas mereka dalam menyidik dan menanggulangi terjadinya penyakit di lapangan. Kehandalan para penyidik veteriner ini juga terlihat saat mulai merebaknya kasus African Swine Fever (ASF) di Indonesia pertengahan 2019.

Kemampuan diagnosis petugas Balai Veteriner sudah sangat baik, hal ini menunjukkan bahwa sumber daya manusia di bidang veteriner tidak kalah dari luar negeri. Penelitian penyakit zoonotik juga telah banyak dilakukan oleh peneliti andal dari putra-putri bangsa sendiri. Agen-agen etiologi dari isolat lokal juga telah banyak dikoleksi dari hasil penelitian yang dilakukan.

Lembaga penelitian nasional juga sudah ada yang memiliki fasilitas memadai untuk melakukan penelitian terhadap agen penyakit zoonotik dan non-zooonotik. Hal tersebut merupakan aset bangsa yang sangat berharga, yang bukan hanya memberikan kontribusi dalam rangka penyidikan penyakit, namun dapat dikembangkan pada hal-hal yang lebih produktif dan memberikan keuntungan ekonomi bagi bangsa.

Pengendalian zoonosis dan penyakit hewan non-zoonotik di Indonesia masih sangat tergantung pada importasi alat diagnostik maupun vaksin dari luar negeri. Contoh kasus, saat mencukupi kebutuhan vaksin Rabies dalam pengendalian penyakit ini di Bali beberapa tahun lalu hingga saat ini, Indonesia masih sangat tergantung dari vaksin impor. Di sisi lain, isolat virus Rabies nasional sangat banyak dan dapat dikembangkan menjadi vaksin dan alat diagnostik sekaligus, hal ini juga didukung peneliti/pakar Rabies/virus di Indonesia yang memiliki kapabilitas menghasilkan vaksin maupun alat diagnostik.

Fasilitas untuk melakukan riset inovasi vaksin dan alat diagnosis Rabies dalam negeri juga sudah layak. Indikasi terhadap hal-hal ini dapat dilihat dari hasil riset yang dipublikasikan di jurnal nasional maupun internasional. Kelemahan yang muncul adalah tidak ada dukungan pemerintah khususnya untuk menindaklanjuti aktivitas riset tersebut hingga berhasil dihilirisasi menjadi produk yang dapat dipasarkan.

Kementerian Pertanian juga telah memiliki Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) sebagai unit produksi vaksin maupun alat diagnostik veteriner yang mampu menghilirisasi produk penelitian yang ada. Bercermin dari pandemi COVID-19, Kementerian Pertanian dapat mengambil pelajaran dengan memberikan dukungan semaksimal mungkin kepada bidang veteriner, sehingga dapat menghasilkan produk biologi yang dapat memenuhi kebutuhan nasional, bahkan dapat menjadi produk ekspor yang bernilai ekonomi tinggi. Dengan demikian posisi Indonesia sebagai “hot spot” EID justru memberikan keuntungan bagi bangsa dalam mengendalikan zoonosis maupun non-zoonosis yang ada di dalam negeri, sekaligus mencegah muncul dan menyebarnya penyakit infeksi baru. ***

HARI RABIES SEDUNIA 2020 : MENGEDUKASI ANAK MENGENAI RABIES MELALUI DRAMA VIA DARING

 

Drama via daring zoom, ramai diminati anak - anak

Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, FAO ECTAD, dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengadakan kampanye rabies kepada 481 Sekolah Dasar siswa/i di Kalimantan Barat serta provinsi lainnya yang mendaftar melalui saluran Youtube Ditkesmavet.

Kampanye rabies ini dikemas dalam bentuk pentas drama virtual anak "Aku dan Hewan Kesayanganku Bebas Rabies" yang menyuguhkan informasi tentang apa itu rabies, bahaya rabies, tindakan yang dilakukan jika digigit hewan penular rabies, cara menghindari gigitan anjing serta memelihara hewan kesayangan yang baik melalui konsultasi ke dokter hewan dan pentingnya vaksinasi rabies secara rutin pada hewan.

Dalam pengantarnya, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, drh. Syamsul Ma’arif M.Si mengatakan bahwa rabies adalah salah satu zoonosis yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner bertanggungjawab terhadap pengendalian dan penanggulangan zoonosis, utamanya agar penyakit ini tidak menular kepada manusia.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah peningkatan partisipasi masyarakat dengan memperhatikan kesehatan lingkungan dan kesejahteraan hewan. Syamsul menambahkan bahwa sebagai wujud tanggungjawab kepada hewan peliharaan, maka setiap orang yang memiliki atau memelihara hewan wajib menjaga dan mengamati kesehatan hewan dan menjaga kebersihan serta kesehatan lingkungannya. Jika mengetahui terjadinya kasus zoonosis misalnya rabies pada manusia dan/atau hewan, wajib melaporkan kepada petugas yang berwenang baik itu petugas kesehatan maupun petugas kesehatan hewan.

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Kalimantan Barat Drs. H. Ria Norsan, MM, MH, sangat mengapresiasi bahwa kegiatan edukasi rabies kepada anak-anak sekolah dasar dalam rangka Peringatan hari rabies Sedunia tahun 2020 ini dilaksanakan di wilayahnya, mengingat Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah endemis rabies di Indonesia.

Norsan menyatakan bahwa pada Bulan Agustus 2014 Kalimantan Barat pernah dinyatakan sebagai daerah bebas rabies. Namun pada akhir tahun 2014 provinsi ini kembali dinyatakan sebagai daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies setelah ditemukannya kasus gigitan anjing positif rabies di Kabupaten Ketapang, Melawi, dan terus menyebar ke seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Barat kecuali Kota Pontianak.

“Kasus tertinggi terjadi tahun 2018 dengan jumlah korban meninggal sebanyak 25 orang dari 3.873 kasus gigitan. Pada tahun 2019, ada 14 orang korban meninggal dari 4.398 kasus gigitan. Di tahun 2020 tertanda sampai 21 September ini korban meninggal sebanyak 2 orang dari 1.398 kasus gigitan,” tuturnya.

Norsan mengharapkan agar edukasi tentang rabies ini dapat terus diingat oleh anak-anak, sehingga tidak ada lagi anak-anak di Kalimantan Barat yang tertular rabies, sesuai dengan visi misi Kalimantan Barat, zero infeksi rabies tahun 2023.

Team Leader a.i FAO ECTAD Luuk Schoonman menambahkan bahwa kegiatan KIE yang menargetkan anak-anak di sekolah dasar ini dapat menjadi pengingat kepada sekitarnya untuk saling menjaga kesehatan hewan agar terhindar dari penyakit rabies.

“Anak-anak dapat menjadi agent of change dalam mengingatkan ancaman penyakit rabies kepada orang tua, saudara, maupun teman bermain di lingkungan disekitarnya. Dengan metode penyampaian pesan yang dekat dengan dunia anak, seperti menyanyi dan pentas drama, diharapkan anak-anak dapat lebih mengerti tentang bahaya rabies dan pencegahan jika terjadi gigitan rabies,” ujar Luuk.

Pelaksana Tugas Direktur Kantor Kesehatan USAID Indonesia Pamela Foster mengatakan bahwa tahun ini lebih baik dari sebelumnya karena kita dapat melihat bukti bahwa penyakit menular seperti rabies tidak mengenal batas wilayah dan menimbulkan ancaman serius bagi individu, negara, dan dunia.

“Pemerintah Amerika Serikat, melalui Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), telah bermitra dengan Indonesia selama lebih dari sepuluh tahun sebagai bagian dari komitmen bersama kami terhadap Agenda Ketahanan Kesehatan Global, untuk mengendalikan dan mencegah penyakit menular. Peringatan Hari Rabies Sedunia tahun ini menggarisbawahi peran penting yang dapat dilakukan generasi muda untuk membantu mengatasi tantangan ini dan menjaga diri mereka tetap aman,” tutur Pamela.

Dalam sambutan pembukaanya Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc mengatakan dan edukasi tentang rabies khususnya kepada anak-anak usia sekolah dasar di daerah endemis ini sangat penting, mengingat mayoritas korban gigitan adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Nasrullah menambahkah bahwa rabies merupakan salah satu zoonosis yang mematikan di dunia. Mengutip informasi dari Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) bahwa setiap sembilan menit satu orang meninggal dunia karena rabies. dan setiap tahun, rabies membunuh hampir 59.000 orang di seluruh dunia.

Lebih dari 95 % kasus rabies pada manusia akibat gigitan anjing yang terifeksi rabies. Walaupun mematikan, rabies pada manusia 100 % dapat dicegah. Vaksinasi anjing terhadap rabies merupakan cara yang terbaik dalam mencegah penularan rabies dari hewan ke manusia. Dengan melakukan vaksinasi setidaknya 70 % dari populasi anjing, kita dapat mencegah penularan rabies dari hewan ke manusia.

Tentang Hari Rabies Sedunia 2020

Hari Rabies Sedunia diperingati setiap tanggal 28 September. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian – FAO ECTAD – USAID mengadakan serangkaian kegiatan kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan, WHO, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Dinas Pendidikan Kalimantan Barat, dan Dinas Pangan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat.

Serangkaian kegiatan Hari Rabies Sedunia yang dilakukan secara virtual, terdiri dari lomba foto dan video rabies, pentas drama untuk anak-anak, konferensi pers kepada media, dan webinar acara puncak Hari Rabies Sedunia 2020. Seluruh rangkaian kegiatan ini difokuskan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya pemberantasan rabies di Indonesia. (CR)

BAGAIMANA TREN BISNIS OBAT HEWAN SAAT INI?

Bisnis obat hewan di Indonesia masih didominasi hewan ternak


Dalam industri peternakan aspek kesehatan hewan tidak akan pernah luput di dalamnya. Oleh karenanya perkembangan industri obat hewan juga menjadi salah satu pendukung dalam sektor kesehatan hewan. Layaknya industri lain, dengan mewabahnya Covid-19 di Indonesia, tentunya akan berdampak pula kepada industri obat hewan. 

Dalam rangka mengetahui tren perkembangan industri obat hewan utamanya dikala pandemi Covid-19, majalah TROBOS LIVESTOCK menggelar webinar yang bertajuk "Mimbar Trobos : Tren Industri Obat Hewan". Webinar tersebut dilaksanakan pada Kamis (24/9) melalui daring Zoom yang diikuti kurang lebih 250-an peserta.

Pemateri pertama yakni Drh Ni Made Ria Isriyanthi yang mewakili Direktur Kesehatan Hewan Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa. Dalam presentasinya dirinya menuturkan beberapa kebijakan - kebijakan pemerintah terkait obat hewan terkini. Utamanya mengenai upaya pemerintah mengurangi dan mengendalikan dampak dari Anti Microbial Ressitance (AMR).

"Kebijakan ini memang dinilai tidak populer, terutama bagi pelaku usaha obat hewan, karena ini bisa dibilang membatasi omzet mereka, tetapi kita perlu berlakukan ini karena negara - negara lain sudah mengaplikasikannya dan mau tidak mau kita pun harus melakukannya," kata Ria.

Ia juga memaparkan beberapa data terutama neraca ekspor - impor obat hewan. Dimana obat hewan merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia dari sektor peternakan. Meskipun memang hingga saat ini ekspor obat hewan Indonesia turun ketimbang tahun lalu.

"Sampai Juli 2020 nilai ekspor obat hewan kita masih 9,36 Juta USD sedangkan nilai impor obat hewan kita mencapai 34,6 juta USD. Memang dampak pandemi juga mempengaruhi, dan terlebih lagi sediaan substituen AGP memang masih banyak yang berasal dari luar," tukas Ria.

Oleh karenanya pemerintah menurut Ria, kemungkinan akan memberi insentif bagi produsen obat hewan yang mampu membuat sediaan pengganti AGP terutama yang berbasis herbal, sehingga Indonesia tidak banyak mengimpor.

Pemateri kedua yakni Drh Ahmad Harris Priyadi, Sekretaris Jenderal ASOHI. Menurutnya ada beberapa hal yang mempengaruhi tren bisnis obat hewan yakni tuntunan pasar, kebijakan pemerintah, situasi ekonomi, kondisi ternak dan sumber daya alam.

Lebih jauh ia menjelaskan mengenai kondisi sektor peternakan di Indonesia kala pandemi Covid-19. Berdasarkan data yang ia dapatkan sebagai negara yang peternakannya didominasi dengan unggas, kini kondisi permintaan untuk broiler menyusut karena daya beli menurun, namun permintaan akan telur stabil.

"Masyarakat kini mengalihkan protein hewani mereka ke telur, yang paling murah kan ya telur. Jadi di sektor petelur produksinya lebih stabil dan obat hewan yang digunakan pun permintaannya stabil ketimbang di broiler yang kondisinya mangkrak," tukasnya.

Ia juga menuturkan bahwa sejatinya bisnis obat hewan masih tetap eksis, wabah Covid-19 sejatinya hanya disrupsi sesaat yang menurunkan permintaan.

"Ketika nanti sudah bisa dikendalikan, bisnis ini akan tetap berjalan normal dan bahkan bisa terus berkembang. Toh kita hanya jenuh, permintaan turun, dan belum menemukan pasar yang baru. Padahal ada satu sektor yang sejatinya bisa digarap untuk mengakali kejenuhan ini," tuturnya.

Sektor yang dimaksud oleh Haris yakni pet animal dimana rerata para dokter hewan di Indonesia masih banyak menggunakan obat - obatan manusia untuk mengobati pet animal. Menurutnya jika produsen dan distributor obat hewan di Indonesia bisa menggarap segmen ini, niscaya bisnis akan tetap lancar meskipun pandemi belum berakhir.

Senada dengan Harris, Country Manager Ceva Animal Health Indonesia Drh Eddy Purwoko juga mengatakan hal yang sama. Berdasarkan data yang ia jabarkan, sejatinya pasar terbesar di dunia obat hewan ada di pet animal. Secara global pet animal berpotensi menghasilkan cuan hingga 12,5 milyar USD dengan market share tertinggi diangka 37,3%.

"Ini yang sebenarnya harus didalami, Indonesia sendiri memang masih banyak kolega dokter hewan yang menggunakan obat manusia, jadi ya, saya rasa produsen lokal bisa mulai melakukan improvisasinya, karena segmen ini sangat menjanjikan sebenarnya," tutur Eddy.

Selain itu Eddy juga memaparkan teknologi terkini di bidang perunggasan, khususnya vaksinasi. Dimana kini teknologi vaksinasi in ovo marak digunakan dan efisien sehingga menekan cost produksi yang memang menjadi suatu keniscayaan.

Terkait efisiensi di sektor obat hewan, juga disampaikan oleh Peter Yan, Corporate Communication & Marketing Distribution Director PT Medion. Dirinya setuju bahwa efisiensi harus diutamakan dan merupakan kunci keberhasilan agar bisa bertahan dan tetap eksis.

Selain itu juga yang harus diterapkan adalah inovasi dan pembukaan pasar baru. Oleh karenanya Medion selalu berusaha untuk membuka pasar di luar negeri agar memiliki kesempatan yang lebih banyak. 

"Kami sangat getol mengeksplor pasar di luar Indonesia, selain faktor keuntungan, setidaknya ada kebanggan bagi kami dan kami juga ikut membantu pemerintah mengharumkan nama bangsa di luar negeri sebagai pemain di bisnis ini," tutur Peter.

Dirinya pun mengatakan bahwa pasar obat hewan di Indonesia masih akan terus meingkat seiring dengan banyaknya inovasi dan teknologi baru di bidang ini. Namun begitu ia juga tidak menampik bahwa pemerintah juga sedianya harus mengambil kebijakan yang juga mendukung kehidupan industri ini, tutup Peter. (CR)


USULAN RUMPUN TERNAK: KAMBING SAANEN BATURRADEN

Foto-dok: Kambing Saanen-BBPTU UPT Baturraden

Kambing Saanen Baturraden dari BBPTU HPT Baturraden diusulkan sebagai salah satu Rumpun Ternak Lokal dalam upaya menjaga kelestarian dan kemanfaatan berkelanjutan sekaligus sebagai sebuah apresiasi. Berita ini seperti dalam rilis pada Kamis 24/9/2020 lalu oleh Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH). Ditjen PKH menurut rilis tersebut, terus berupaya mendorong proses penetapan dan pelepasan rumpun atau galur ternak. Salah satunya dengan melaksanakan penilaian tahap II di tahun 2020 terhadap proposal ternak yang akan ditetapkan sebagai rumpun atau galur ternak.

Kegiatan penilaian ini dilaksanakan dalam rangka memberikan penghargaan dan pengakuan terhadap rumpun atau galur ternak untuk menjaga kelestarian dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Direktur Jenderal PKH, Nasrullah menyampaikan, 6 proposal yang dinilai pada tahap II ini terdiri dari 4 usulan penetapan rumpun ternak dan 2 usulan pelepasan galur ternak. Usulan penetapan rumpun yaitu sapi Krui dari Pesisir Barat provinsi Lampung, sapi PO Merauke dari Merauke provinsi Papua.

"Ada juga domba Doser dari Deli Serdang, Sumatera Utara dan Kambing Saanen Baturraden dari BBPTU HPT Baturraden. Sementara, untuk usulan pelepasan galur yaitu ayam Arbor Acres Plus (AA+) dari PT. Expravet Nasuba Medan dan ayam Gaosi-1 Agrinak dari Balitnak Bogor," ungkap Nasrullah.

Nasrullah menerangkan, dalam proses penilaian, tim penilai memberikan tanggapan yang beragam atas paparan dan proposal ternak yang akan ditetapkan sebagai rumpun atau galur ini. Namun, semua tanggapan tersebut mengarah ke hasil yang positif.

"Secara umum tim penilai memberikan apresiasi kepada seluruh pengusul yang memiliki kemauan untuk menjaga kelestarian ternak lokalnya," imbuh Nasrullah.

Meski hasilnya positif, namun secara umum semua proposal usulan pelepasan galur atau penetapan rumpun ternak ini perlu diperbaiki dan dilengkapi terkait dengan data-data secara kualitatif dan kuantitatif. Selain itu, perlu penegasan pola pengembangan rumpun atau galur, serta dilakukan uji observasi oleh KP3RGT.

Sebagai informasi, sampai saat ini, rumpun atau galur ternak yang telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian ada sebanyak 83 ternak. Jika tim penilai menerima 6 usulan ini maka nantinya akan ada sebayak 89 ternak yang terdata dan ini akan menjadi pengembangan ternak yang cukup positif.

"Ternak-ternak hasil pelepasan galur atau penetapan rumpun tersebut harapannya akan menambah variasi galur dan rumpun ternak lokal Indonesia serta memberikan pilihan pada pembibit untuk pengembangan lebih lanjut," jelas Nasrullah.****

FREE WEBINAR: APLIKASI TEKNOLOGI REPRODUKSI & MOLEKULER TERNAK

Obrolan Peternakan (OPERA), Seri ke 12 dimana Majalah INFOVET menjadi salah satu Media Partner itu Bertemakan "Aplikasi Teknologi Reproduksi dan Molekuler Genetik untuk Peningkatan Produktivitas Ternak" rencananya akan digelar dalam bentuk webinar secara gratis.

Diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, acara dihelat pada Rabu 30 September 2020 mendatang, dimulai sejak pukul 09.00 sd 11.00 WIB dengan menghadirkan dua narasumber.

Adalah Ir. Diah Tri Widayati, SPt, MP, PhD, IPM dan Ir. Dyah Maharani,SPt, MP, PhD, IPM sebagai narasumber, dimoderatori oleh Ir. Riyan Nogroho Aji, SPt, MSc, IPP ketiganya merupakan dosen Fapet UGM.

Webinar yang ditayangkan melalui stream on zoom itu pesertanya dibatasi maksimal 500 seats saja. Peminat bisa mendaftarkan diri via http://ugm.id/OPERA12, atau melalui kontak narahubung dengan sdri Iswanti: HP +6285293153518; email: diskusi.fapet@ugm.ac.id

Selain ilmu pengetahuan, peserta akan memperoleh pula e-Sertifikat.

SEKILAS TENTANG PENTINGNYA AIR

Air sering disebut sebagai nutrisi yang 'terlupakan' dalam peternakan ayam pedaging. Penyerapan air yang baik setidaknya sama pentingnya dengan memberi makan unggas. Oleh karena itu, air minum harus bersih segar dan tidak mengandung zat berbahaya atau kotoran.

Jika Anda menduga air minum di kandang mungkin terkontaminasi, lakukan pengujian untuk memastikannya. Selalu periksa kualitas dan suhu air dan periksa kejernihan, bau, dan rasa.

Karena air juga berfungsi sebagai pelarut untuk obat-obatan dan vaksin, pastikan saluran air berfungsi dengan baik. Bilas juga pipa air hingga bersih setelahnya untuk mencegah residu dan penumpukan biofilm. (Dari pultryworld.net)

KENYA MELUNCURKAN PROYEK 1 JUTA TELUR

Sebuah proyek yang melibatkan 32 kelompok komunitas yang masing-masing membesarkan 1.250 layer telah diluncurkan di Kenya. Proyek ini memungkinkan para peternak untuk menghasilkan 1 juta telur per bulan, yang mana akan menghasilkan 1.000 shilling Kenya (US $ 9,26) per hari. Proyek ini dicanangkan oleh gubernur Kirinyaga county, Anne Waiguru, dan diterapkan di bawah program Wezesha Kirinyaga (Aktifkan Kirinyaga). Tujuannya untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas agrikultural dengan fokus khusus pada peningkatan mata pencaharian perempuan dan pemuda.

Defisit yang sangat besar terjadi dalam produksi telur di Kenya dan mengakibatkan negara itu harus mengimpor telur dari negara tetangga. Menurut Waiguru, Kenya mengimpor 10 juta butir telur setiap bulannya.

Total 40.000 DOC telah dikirim ke kelompok peternak pada bulan Maret lalu dan sekarang telah dewasa menghasilkan sekitar 100.000 dalam satu minggu. Layer tersebut diharapkan mencapai kapasitas optimal mulai September ini.

“Proyek unggas Wezesha ditujukan untuk meningkatkan mata pencaharian masyarakat Kirinyaga terutama perempuan dan pemuda, serta menawarkan sumber pendapatan alternatif sehingga mengurangi ketergantungan yang berlebihan pada pertanian tanaman komersial,” kata Waiguru.

Untuk memastikan bahwa para peternak mendapatkan pakan yang terjangkau dan berkualitas, pemerintah county telah mendistribusikan pakan ayam bersertifikat. “Kami memproduksi pakan sendiri untuk mengurangi biaya,” kata Waiguru, seraya menambahkan bahwa pakan tersebut bersertifikat dan diproduksi sesuai dengan standar internasional. Pabrik pakan tersebut hingga saat ini telah memproduksi 6.828 karung yang setara dengan 478 ton pakan. (Sumber poultryworld.net)

APA ITU PALM KERNEL MEAL DALAM PAKAN? GRATIS...IKUTI WEBINAR INI

Indonesia merupakan penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan luas areal perkebunan mencapai 12,3 juta hektar. Dalam proses produksinya, industri kelapa sawit menghasilkan berbagai produk hasil samping, salah satunya yaitu Palm Kernel Meal (PKM) yang produksinya mencapai 5,8 juta ton/tahun.

Berdasarkan kandungan nutrisinya, PKM berpotensi sebagai sumber energi dan protein, namun memiliki constraint kandungan serat yang tinggi sehingga tidak cocok dengan saluran pencernaan hewan monogastrik.

Berbagai teknologi diterapkan untuk memperbaiki kualitas nutrisi PKM diantaranya melalui perlakuan fisik, kimia dan enzimatik.

Pada Zoominar AINI ke-8 yang diselenggarakan oleh @ainifeednutrition ini akan dibahas mengenai "Optimalisasi Pemakaian Palm Kernel Meal dalam Pakan Unggas, Babi dan Ikan", yang akan diselenggarakan pada
Kamis, 1 Oktober 2020 pukul 09.00-11.10

Acara ini gratis dengan kuota terbatas
Silakan segera mendaftar pada link bit.ly/ZOOMINARAINI8

Acara ini didukung oleh media partner: @majalahinfovet;
@livestockreview; @majalahtrobos; @poultryindonesia; @agropustaka; @majalahagrina

MAHASISWA POLIWANGI AJAK MASYARAKAT MANFAATKAN LIMBAH TERNAK UNTUK BIOGAS

Program Hibah Desa Binaan di Desa Glagahagung, Banyuwangi. (Foto: Istimewa)

Mahasiswa Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) mengajak masyarakat Desa Glagahagung, Banyuwangi, untuk turut menyukseskan Program Hibah Desa Binaan (PHDB) yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Program tersebut merupakan salah satu program untuk pengabdian pada masyarakat yang dikelola langsung oleh himpunan mahasiswa di bawah bimbingan dosen.

Pada tahun ini PHDB mengenai Integrated System and Sustainable Farming (ISSF). Dosen pembimbing program, Dyah Triasih, menyebutkan bahwa melalui program PHDB, masyarakat diajak menerapkan ISSF melalui pemanfaatan limbah ternak yang dapat digunakan menjadi biogas dan pupuk organik.

Menurut Dyah, pemanfaatan limbah ternak dilakukan untuk mengurangi pencemaran lingkungan yang biasanya dibuang atau ditumpuk begitu saja, hingga dapat mengganggu ekosistem di sekitar lokasi peternakan.

“Inilah tujuan sebenarnya dari program, yakni untuk mengajak mahasiswa turut serta memberikan edukasi kepada masyarakat awam terkait pentingnya pengelolaan limbah ternak,” kata dosen Poliwangi ini.

Pengelolaan limbah yang akan dijadikan biogas menggunakan metode yang cukup sederhana menggunakan biogas portable. Menurut Dyah, biogas portable tidak memerlukan banyak bahan dan alat, sehingga mudah diadopsi oleh masyarakat, utamanya di Desa Glagahagung.

Ia pun menguraikan tata cara pembuatan biogas portable, diawali dengan pembuatan digester atau reaktor dari drum besar yang memliki volume 400 liter. Digester harus memiliki dua saluran, pertama sebagai tempat memasukkan kotoran ternak dan kedua dijadikan sebagai saluran keluarnya aliran gas. Kemudian kotoran dimasukkan ke dalam digester dengan perbandingan 1:1 dengan air, hal ini bertujuan untuk mempercepat fermentasi.

Sementara narasumber dalam kegiatan PHDB, Joko, menyebutkan bahwa untuk mempercepat terbentuknya gas di dalam digester, perlu ditambahkan air cucian beras. Dalam pembuatan biogas, hal yang juga perlu diperhatikan adalah suhu digester yang tidak boleh melebihi 100° C.

“Suhu yang tinggi dapat menyebabkan kematian pada bakteri sehingga proses pembentukkan gas pun bisa gagal. Nah suhu digester yang dianjurkan selama proses pembuatan biogas adalah 90° C,” kata Joko.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam proses pembuatan biogas, perlu dilakukan pengecekan sekitar tiga hari atau seminggu sekali. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah biogas telah mengeluarkan gas dihari ketiga hingga hari ketujuh atau belum. Ia menegaskan jika gas tidak keluar selama periode tersebut, maka proses pembuatan biogas bisa dikatakan gagal.

Selanjutnya, digester disambungkan dengan penampung gas serta kompor melalui selang beregulator atau selang biasa. Dalam pembuatan biogas menghasilkan sisa berupa ampas. Ampas ini dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman.

“Secara keseluruhan, mulai dari limbah, lalu dibuat biogas, selanjutnya ampas dari biogas itu sendiri dapat dijadikan sebagai pupuk tanaman, artinya kegiatan ini dapat meminimalkan limbah ternak,” kata Joko.

Diharapkan Program Hibah Desa Binaan ini dapat menjadikan contoh bagi masyarakat untuk mengolah limbah ternak menjadi sesuatu yang berguna. Dengan demikian dapat tercipta lingkungan lestari dengan kondisi kehidupan masyarakat yang sejahtera. (Dyah Triasih/Sadarman)

POLIJE GELAR WEBINAR ILMU PETERNAKAN TERAPAN

Webinar yang dilaksanakan Politeknik Negeri Jember. (Foto: Infovet/Sadarman)

Webinar mengenai ilmu peternakan terapan diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Jember (POLIJE). Mengusung tema “Kedaulatan Pangan Nasional Melalui Pengembangan Potensi Ternak Lokal di Era Kenormalan Baru” merupakan rangkaian Dies Natalis POLIJE ke-32 pada 2020.

Ketua panitia pelaksana, Drh Aan Awaludin, menyebut bahwa acara dilaksanakan dalam dua kegiatan, yaitu webinar pada 19 September 2020 dan kegiatan konferensi pada 21-22 September 2020.

“Kegiatan bertujuan untuk menggali hasil-hasil penelitian bidang ternak terapan yang telah dilakukan, lalu disajikan dalam forum, dibaca dan diterapkan oleh pengguna akhir (peternak),” ujar Aan.

Pada kesempatan serupa, Direktur POLIJE, Saiful Anwar, memberikan apresiasi kepada panitia karena dimasa pandemi COVID-19 mampu menyelenggrakan webinar nasional dengan sangat baik. “Terima kasih juga kepada para narasumber yang telah ikut dalam kegiatan ini,” kata Saiful.

Lebih lanjut terkait tema, Saiful mengatakan kedaulatan pangan merupakan kemampuan memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri melalui produk lokal. Upaya ini dapat memberikan hak kepada masyarakat untuk mengambil peran dalam pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri.

“Harus kita sadari bahwa upaya untuk mencapai ketahanan pangan nasional dapat terwujud melalui kemandirian pangan, salah satunya adalah kemandirian produk pangan dari hasil ternak,” tegas dia.

Menurutnya, terwujudnya ketahanan pangan salah satunya dapat dilakukan dengan peningkatan produksi ternak. Komoditi pangan yang berasal dari produk pertanian ataupun peternakan masih bersifat fluktuatif. Di samping itu, beragam masalah dihadapi peternak dalam mewujudkan kedaulatan pangan, diantaranya sarana dan prasarana belum memadai, panjangnya rantai tata niaga dan produk impor yang lebih murah. Oleh karena itu dibutuhkan kolaborasi antara industri, peneliti dan juga peternak untuk mewujudkan kedaulatan pangan.

“Webinar ini salah satu contoh kolaborasi mewujudkan kedaulatan pangan di Indonesia, selain juga menumbuhkan kegairahan potensi ternak lokal di era yang baru ini,” tukasnya.

Webinar dihadiri sekitar 490 orang peserta, 27orang peserta mendaftar sebagai pemakalah yang terbagi menjadi 4 topik, yaitu 9 artikel tentang produksi dan kesehatan ternak, 6 artikel tentang nutrisi dan teknologi pakan, 7 artikel tentang teknologi hasil ternak, dan 5 artikel terkait tentang sosial ekonomi peternakan. Peserta berasal dari lembaga penelitian, dinas peternakan, perguruan tinggi dari Sumatra, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, NTT dan Maluku.

Panitia juga menghadirkan narasumber yang andal di bidangnya, di antaranya Assoc Prof Dr Morakot Kaewthamasorn (Faculty of Veterinary Science Chulalongkorn University), Ir Sugiono (Direktur Pembibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH), Prof Dr Ir Cece Sumantri (Fakultas Peternakan IPB), Dr Ir Dadik Pantaya (Jurusan Peternakan Politeknik Negeri Jember), Prof Dr Irma Isnafia Arief (Fakultas Peternakan IPB), Dewi Masyitoh (PT Kembang Joyo Sriwijaya) dan Nur Agis Aulia (Jawara Farm). (Sadarman)

PENERAPAN SISTEM PELACAKAN PADA INDUSTRI SAPI PEDAGING

Tri Nugrahwanto dalam Training Online bertajuk “Ketertelusuran (Traceability) pada Rantai Pasok Sapi Potong Berbasis Teknologi Informasi”. (Foto: Istimewa)

Di Indonesia, rantai pasok dan teknologi untuk melacak sapi pedaging impor Australia mengalami perkembangan, terutama di sektor usaha penggemukan (feedlot), pasca terjadinya penghentian ekspor sapi hidup Australia ke Indonesia pada 2011 silam.

Rantai pasok (supply chain) dibentuk sebagai suatu jaringan untuk mempermudah melakukan sistem pelacakan sapi-sapi yang diimpor dari Australia. Pelacakan tersebut dilakukan oleh feedlot dengan penerapan standar kesejahteraan hewan (animal welfare) sejak un-loading sapi di pelabuhan sampai sapi dipotong di rumah pemotongan hewan ruminansia (RPH-R).

Hal itu seperti disampaikan Supply Chain Manager PT Tanjung Unggul Mandiri, Tri Nugrahwanto, dalam Training Online bertajuk “Ketertelusuran (Traceability) pada Rantai Pasok Sapi Potong Berbasis Teknologi Informasi” yang dilaksanakan pada Sabtu (19/9/2020).

Acara yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut menghadirkan pula narasumber penting lain yakni Guru Besar pada Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Prof Dr Kudang Boro Seminar.

Dalam paparannya, Tri mengatakan keterlacakan sapi pedaging akan mudah dilakukan melalui sistem pencatatan (recording) ternak digital. Jika melihat bagaimana Australia mengelola sapi-sapinya, sistem pelacakan ternak di Australia sudah terstandarisasi secara baku dan wajib dilaksanakan oleh semua peternak. Sedangkan di Indonesia masih ala kadarnya karena tidak ada sistem pencatatan (recording) digital ternak yang baku dan valid. 

“Sistem recording ternak sapi digital secara nasional dapat untuk mengetahui tingkat ketersediaan dan ketahananan pangan, serta mengangkat potensi ekonomi peternak,” kata Tri.

Ia menambahkan, salah satu unsur recording sapi pada perusahaan feedlot adalah identifikasi individual sapi yang digunakan dalam bentuk ear tags (tag manual) dan RFID (elektronik tag). (IN)

PAKAN MENJADI TIDAK TERJANGKAU BAGI PETERNAK UNGGAS IRAN

Pasokan yang langka dan harga yang tinggi di pasar pakan Iran membuat ribuan peternak unggas tidak beroperasi selama beberapa bulan terakhir. Pemerintah gagal mendistribusikan pakan pakan yang cukup bagi peternakan unggas dengan harga yang dijamin, demikian kata Habibollah Asad-Nejad, wakil ketua Asosiasi Produsen Ayam Iran.

Di Iran, pihak berwenang memperkenalkan nilai tukar pemerintah khusus untuk bahan makanan impor. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah mendistribusikan pakan dengan harga yang jauh lebih rendah daripada harga di pasar terbuka untuk menghindari fluktuasi harga di pasar daging ayam. Namun dalam beberapa bulan terakhir, permintaan pakan lebih tinggi dari yang bisa didistribusikan pemerintah. Di pasar terbuka, peternakan unggas harus membayar IRR 120.000 (US $ 0,5) per kg pakan unggas, lebih tinggi dari harga pemerintah.

Sejak Mei 2020, pemerintah hanya mampu menyuplai 50% kebutuhan peternakan unggas untuk pakan, Asad-Nejad memperkirakan. Masalah pasokan pakan telah menyebabkan 7.000 peternakan unggas berhenti beroperasi dan mendorong banyak hatchery untuk mengurangi produksi.

Gangguan pasokan disebabkan oleh mata uang Iran yang terus turun. Real Iran telah kehilangan sekitar 49% nilainya pada tahun 2020 karena pandemi Covid-19 dan akibatnya terjadi penurunan harga minyak. Pada awal September, nilai tukar jatuh ke rekor terendah terhadap dolar AS. Ini membuat semua produk impor, termasuk bahan pakan, lebih mahal. Iran mengimpor sekitar 80% bahan pakan untuk produksi pakan unggas.

Saat ini, total produksi DOC adalah sekitar 110 juta per bulan, sedangkan sebelum pandemi Covid-19 adalah 120 juta. Pada Mei 2020, kekurangan pakan unggas yang akut di pasar domestik telah mendorong hatchery untuk mengubur hidup-hidup DOC karena tidak ada yang membeli.

Menurut Asosiasi Industri Pakan Iran, pandemi Covid-19 tidak bisa disalahkan. Sanksi AS telah memblokir pembayaran untuk 3 juta ton jagung dan kedelai impor, membuat pasar domestik kekurangan bahan makanan. Peternak unggas Iran meminta pemerintah untuk mengambil langkah segera untuk melindungi industri unggas domestik. Menurut Asad-Nejad, krisis saat ini dapat berdampak parah dan berdampak jangka panjang pada industri perunggasan Iran. (Sumber poultryworld.net)

BRASIL MEMINTA FILIPINA MENGAKHIRI EMBARGO DAGING AYAM

Kementerian Pertanian dan Urusan Luar Negeri Brasil pada awal September 2020 mengeluarkan sebuah catatan yang menyerukan penghentian segera embargo yang diberlakukan oleh Filipina atas daging ayam Brasil.

Pada Agustus 2020, Filipina berhenti mengimpor daging dari Brasil setelah Cina melaporkan dugaan hasil positif untuk Covid-19 dalam tes yang dilakukan pada sayap ayam yang diekspor oleh fasilitas Aurora di kota Xaxim, negara bagian Santa Catarina.

Kementerian menyoroti bahwa Filipina saat ini satu-satunya negara yang memberlakukan pembatasan daging ayam dari Brasil. “Embargo pemerintah Filipina atas impor daging ayam Brasil tidak mengikuti prinsip dan ritus wajib yang ditetapkan dalam Pasal 5 Perjanjian Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) tentang Tindakan Sanitasi dan Fitosanitasi (Perjanjian SPS), yang jelas merupakan pelanggaran Pasal dari Perjanjian tersebut.”

Pemerintah Brasil mengatakan bahwa protokol Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Codex Alimentarius menunjukkan bahwa makanan dan kemasannya bukan merupakan vektor penularan Covid-19. Ia berencana untuk membawa kasus ini ke WTO jika tidak ada justifikasi ilmiah untuk atau diakhirinya penangguhan impor. (Dari poultryworld.net)

INDUSTRI AYAM UKRAINA DIPREDIKSI STABIL

Ayam tetap menjadi protein hewani utama yang dikonsumsi di Ukraina. Konsumsi unggas di negara tersebut kemungkinan akan tumbuh sebesar 2,5% pada tahun 2020 dan diperkirakan akan meningkat lebih lanjut pada tahun 2021.

Produsen-produsen industri besar ayam pedaging mendominasi sektor produksi ayam Ukraina, tumbuh 1% pada tahun 2020. Produksi daging ayam industri di negara ini terkonsentrasi dengan 1 produsen besar mendominasi lebih dari 60% pasar dan 6 produsen menengah mendominasi 30% pasar. Kurang dari 9% terbagi di sejumlah besar peternakan kecil.

Sebagian besar produsen besar dan menengah adalah perusahaan yang terintegrasi secara vertikal, dan dalam banyak yang menanam tanaman pakan sendiri, dan mengoperasikan pabrik pakan, pembibitan, fasilitas produksi, pemotongan, dan distribusi.

Di Ukraina, produsen daging ayam menghabiskan lebih dari 60% konsumsi pakan. Meskipun cuaca musim gugur kering dan hasil panen yang lebih rendah, industri unggas Ukraina tidak akan mengalami kekurangan pakan pada musim 2020/21. Ukraina akan tetap menjadi eksportir tanaman pakan utama dan produsen daging ayam akan terus menikmati keuntungan harga pakan mereka.

Pada tahun 2020/21, Ukraina akan tetap menjadi eksportir besar daging ayam potong dan utuh, sedangkan jeroan ayam masih diimpor. Ekspansi produksi jeroan dalam negeri belakangan ini diperkirakan berdampak pada penurunan impor. Ekspor kemungkinan akan tumbuh pada tahun 2020 dan 2021 dengan mengorbankan pertumbuhan produsen kecil dan menengah serta pemanfaatan fasilitas yang lebih baik oleh produsen terbesar. Ekspor akan terus melebihi impor baik dari segi volume maupun nilai.

Setelah penerapan kuota tarif baru (TRQ) pada 2019, negara UEA terus kehilangan perannya sebagai tujuan utama ekspor daging ayam bagi produsen Ukraina. Pangsanya turun dari 35% pada 2018 menjadi 16% pada 2020. Negara-negara Timur Tengah dengan cepat menjadi tujuan utama untuk daging ayam premium Ukraina, terutama ayam utuh. UEA menjadi konsumen terbesar ayam Ukraina pada paruh pertama tahun 2020. Ekspor ke Arab Saudi, Oman, dan pasar yang baru dibuka di Qatar melambat akibat larangan impor HPAI. Namun ekspor ke Kuwait dan Irak tetap kuat. (Sumber poultryworld.net)

MAHASISWA INDONESIA RAIH BEASISWA WVA VETERINARY SCHOLARSHIP PROGRAM

Suwatibul Annisa, peraih beasiswa WVA Veterinary Student Scholarship 2020


Suwaibatul Annisa atau yang akrab disapa Ica, mahasiswa Pendidikan Dokter Hewan Unair angkatan 2017 menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia yang berhasil mendapatkan beasiswa dari MSD Animal Health/WVA Veterinary Student Scholarship Program 2020.Dari program tersebut, Ica mendapatkan bantuan dana pendidikan sebesar 5.000 dolar AS.

“Rencananya biaya tersebut akan digunakan untuk upgrade karir saya di dunia kedokteran hewan dan untuk meningkatkan pengalaman akademik saya dengan magang atau mengikuti konferensi,” ucap Ica.

Dalam proses mengajukan beasiswa tersebut, selain menyiapkan transkrip nilai dan surat keterangan aktif, Ica juga perlu meminta surat rekomendasi dari dosen dan dekan dan membuat personal statement. Pada tahap pembuatan personal statement Ica harus menceritakan kelebihannya, aktivitas studi, keadaan finansial, dan potensi di masa depan. Untuk itu, ia perlu mengetahui passionnya. Salah satu cara untuk menemukan passion dan tujuan karir dilakukannya dengan mencoba-coba.

“Lakukan sekarang mumpung masih muda. Coba semua hal agar tahu mana yang membuat enjoy atau tidak, mana yang bisa diusahakan atau tidak,” terang Ica.

Dalam mempersiapkan persyaratan untuk mengajukan beasiswa. Ica juga sempat mengalami hambatan. Yaitu ketika meminta surat rekomendasi dekan dari kemahasiswaan. Menurutnya, beberapa beasiswa taraf internasional dan nasional memiliki perbedaan format dalam penulisan recommendation letter. Program beasiswa yang diikuti dIca tersebut mempersyaratkan agar recommendation letter ditulis dalam bentuk esai, namun format dari kemahasiswaan fakultasnya adalah hanya dengan menyertakan nama dan nomor induk mahasiswa (NIM) mahasiswa.

“Karena recommendation letter memerlukan KOP, maka butuh waktu untuk berdiskusi dengan pihak kemahasiswaan agar mau mengubah format tersebut menjadi bentuk esai,” terang Ica. Tantangan lain adalah dalam hal bahasa. Program beasiswa internasional mengharuskan beberapa dokumen dalam bentuk bahasa inggris.

“Persiapan berkas dan persyaratan pengajuan beasiswa juga jangan sampai mendekati tenggat waktu deadline karena hal tersebut bisa membuat kehilangan kesempatan ketika melewati tenggat waktu,” pesannya pada mahsiswa yang ingin mengajukan beasiswa, “ tutupnya. (INF)







MEMPERKUAT PEREKONOMIAN RAKYAT DENGAN KORPORASI PETERNAKAN

Korporasi peternakan sangat diperlukan untuk kemajuan peternakan. (Foto: Istimewa)

Pembentukan korporasi peternakan rakyat bisa menjadi kunci penting dalam pemberdayaan sumber daya lokal dalam menjamin keberlanjutan produksi peternakan. Korporasi peternakan adalah kelembagaan ekonomi peternak, berbentuk badan hukum seperti koperasi atau badan hukum lainnya, dengan sebagian besar kepemilikan modal dimiliki oleh peternak.

Dalam sejarahnya hingga yang terjadi saat ini, korporasi rakyat seperti koperasi bahkan telah mejadi lembaga penyelamat perokonomian rakyat di berbagai negara di belahan dunia. Kemajuan perekonomian rakyat telah ditunjukkan oleh peran penting koperasi-koperasi di banyak negara, seperti yang terjadi saat adanya resesi dunia pada 1930 dan pasca Perang Dunia II.

Kala itu di wilayah perdesaan di banyak negara di dunia, koperasi-koperasi pertanian mampu membantu para petani bertahan dari depresi ekonomi. Di sisi lain, yang terjadi di perkotaan, koperasi berperan penting dalam membangun kembali perumahan rakyat yang hancur semasa perang.

Korporasi milik rakyat kian menunjukkan peran nyata seperti yang terjadi di Kanada yang melahirkan Credit Union, sebuah koperasi kredit terbesar di dunia saat ini, sementara di Belanda muncul Frisian Flag yang tampil sebagai salah satu produsen susu terbesar di dunia yang berbasis pada koperasi peternakan. Produsen susu tersebut kini merupakan koperasi peternak sapi perah terbesar dunia yang berpusat di Belanda dan beranggotakan sebanyak 17.413 peternak sapi perah di Belanda dan Jerman. Di Belanda pula, telah lahir sebuah koperasi petani bernama Rabobank, yang bahkan sanggup mendirikan cabang-cabangnya di banyak negara.

Adapun di New Zealand, koperasi peternakan telah melahirkan produsen susu terkemuka yang produknya banyak diekspor ke Indonesia, yakni koperasi susu multinasional yang dimiliki oleh 10.600 peternak Selandia Baru. Perusahaan ini bahkan tercatat menguasai 30% ekspor produk susu dunia. Demikian juga di Jepang dan beberapa negara-negara Skandinavia, tidak ada usaha di sektor pertanian yang tidak dikelola koperasi.

Korporasi Peternakan

Pengembangan sebuah korporasi peternakan pernah dibahas secara mendalam dalam Indonesia Livestock Club (ILC) #Edisi06, oleh Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), Dr Soeharson, beberapa waktu lalu.

Soeharsono mengemukakan bahwa korporasi peternakan sangat diperlukan untuk kemajuan peternakan ke depan dan hal itu mesti didukung dengan adanya kawasan peternakan yang merupakan gabungan dari sentra-sentra peternakan dan komponen pendukungnya yang harus memenuhi syarat batas minimal skala ekonomi pengusahaan. Kawasan peternakan itu harus dilakukan dengan efektivitas manajemen pembangunan wilayah secara berkelanjutan, serta terkait secara fungsional dalam hal potensi sumber daya alam, kondisi sosial budaya, faktor produksi dan adanya infrastruktur penunjang.

Pengembangan kawasan peternakan berbasis pada korporasi peternak tersebut merupakan strategi penting dalam pemberdayaan ekonomi rakyat, dengan tujuan dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing suatu wilayah.

Pengembangan kawasan peternakan juga dapat memperkuat sistem usaha peternakan secara utuh dalam satu manajemen kawasan, sekaligus dapat memperkuat kelembagaan peternak dalam mengakses informasi, teknologi, prasarana dan sarana publik, permodalan, hingga dalam hal pengolahan dan pemasarannya. 

Jika hal itu dapat diwujudkan, maka rantai pasok suatu produk hasil peternakan dapat terkoordinasi dalam keseluruhan proses sejak dari penyiapan awal proses produksi, serta penyaluran produk hingga ke konsumen, sejak dari proses penyediaan input, proses produksi, transportasi, pergudangan, distribusi, hingga penjualan dan pengirimannya ke masyarakat sebagai konsumen.

Pergerakan produk peternakan tersebut harus difasilitasi oleh unit usaha logistik dan transportasi khusus untuk dapat menjamin bahwa produk hasil peternakan dapat sampai kepada konsumen dengan baik, tepat waktu dan dalam kondisi kualitas terbaik. ***

Andang S. Indartono

Koordinator Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI)

ADVANCING ANIMAL PRODUCTION SYSTEM FOR RURAL DEVELOPMENT AND ENVIROMENTAL SUSTAINABILITY

The 2nd Animal Science and Food Technoloy Conference (AnSTC) 2020

Konferensi Ilmu Hewan dan Teknologi Pangan ke-2 (AnSTC) 2020

The 2nd Animal Science and Food Technology Conference (AnSTC) 2020 adalah Seminar Internasional tentang kenyataan bahwa hingga saat ini industri peternakan masih memainkan peran penting di banyak negara di kawasan tropis seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan lainnya.

Salah satu pertanyaan yang menarik adalah apa saja tantangan dan peluang bagi industri peternakan di daerah tropis dengan datangnya revolusi industri keempat (Industri 4.0). Juga, penting untuk menemukan perspektif yang tepat tentang bagaimana industri peternakan agar dapat mendukung peningkatan produksi ternak untuk mengatasi kemiskinan dan ketahanan pangan dinegara tropis.

The 2nd AnSTC ini menawarkan forum yang menarik bagi para peneliti, akademisi, profesional, pegawai pemerintah, dan mahasiswa pascasarjana untuk berinteraksi dan berbagi pengetahuan mereka di berbagai bidang ilmu dan industri peternakan. Penelitian yang berkualitas dalam semua aspek ilmu peternakandan kerja sama internasional antara peneliti, pembuat kebijakan dan industri perlu diikat bersama untuk membangun perspektif yang tepat dalam peningkatan produksi ternak guna mengatasi kemiskinan dan ketahanan pangan di negara tropis.

Pelaksanaan The 2nd AnSTC disinergikan bersamaan dengan perhelatan Dies Nastalis Fakultas Peternakan Unsoed (Universitas Jenderal Soedirman) Purwokerto yang ke 54 tahun 2020. Para peneliti, pembuat kebijakan, industri, dan mahasiswa pascasarjana yang terlibat dalam bidang peternakan diundang dalam konferensi internasional ini untuk membahas perkembangan terbaru dan inovasi di bidang Ilmu Peternakan serta untuk menciptakan peluang baru, termasuk membangun kolaborasi baru.

Output dari buah pemikiran peneliti dan ahli/pakar dalam Seminar Internasional ini diharapkan mampu menjadi refrensi bagi pengembangan industri dan bisnis peternakan di wilayah tropis.

The 2nd AnSTC akan dilaksanakan secara daring. Para akademisi, pengusaha, serta pemangku kebijakan terkait industri peternakan akan berbagi ilmu dan memperluas jejaring dalam sebuah forum daring. Meski demikian, panitia berpegang teguh untuk menyelenggarakan forum daring secara profesional sehingga tidak mengurangi kualitas The 2ndAnSTC.

Tujuan:
1. Menyediakan forum untuk sharing atau berbagi pengetahuan tentang perkembangan terbaru dan isu-isu dalam ilmu dan industripeternakan, khususnya yang di daerah tropis.
2. Membahas dan menemukan perspektif tentang bagaimana industri peternakandapat mendukung peningkatan produksi ternak untuk mengatasi kemiskinan dan ketahanan pangan di negara tropis.
3. Mengembangkan jaringan di antara akademisi, profesional, dan pemerintah.

Manfaat:

1.Meningkatkan paradigma berpikir sesuai kepakaran.
2.Terjalinnya komunikasi antar pakar keilmuan.
3.Diperolehsolusi atas permasalahan pada pengembangan industri peternakanditinjau dari produksi, nutrisi, sosial-ekonomi,danteknologi.
4.Diperoleh solusi pada peningkatan produksi ternak untuk mengatasi kemiskinan dan ketahanan pangan di negara tropis.

BENTUK KEGIATAN

 Tema: Fakultas Peternakan sebagai lembaga pendidikan tinggi berkontribusi dalam pembangunan peternakandi daerah tropis. Oleh karena itu tema Seminar Internasional pada Dies Natalis ke 54 tahun 2020 ini adalah “Advancing Animal Production System for Rural Development and Environmental Sustainability”.

Kegiatan: Pelaksanaan The 2nd Animal Science and food Technology Conference (AnSTC) 2020 merupakan serangkaian kegiatan seminar yang akan dilaksanakan pada hari Rabu-Kamis, Tanggal 4-5 November 2020 secara daring.

Peserta: Target total peserta adalah 200 orang yang terdiri atas dosen, peneliti, mahasiswa S1, S2, S3, pakar/professional, pebisnis dan pemerintahan.

Narasumber pada Plenary Session adalah:
a. Prof. Todor Vasiljevic (Victoria University, Australia)
b. Prof. Dr. Vu Dinh Ton (Vietnam National University of Agriculture, Vietnam)
c. Assoc. Prof. Dr. Yanin Opatpatanakit (Maejo University,Thailand).
d. Assoc. Prof. Henny Akit, Ph.D (Universiti Putra Malaysia, Malaysia).
e. Prof. Dr. Budi Guntoro (Universitas Gadjah Mada, Indonesia).
f. Prof. Dr. Edy Kurnianto (Universitas Diponegoro, Indonesia).
g. Prof. Dr. Suyadi (Universitas Brawijaya, Indonesia).
h. Assoc. Prof. Juni Sumarmono, Ph.D (Universitas Jenderal Soedirman, Indonesia).
i. Assoc. Prof. Dr. Triana Setyawardani (Universitas Jenderal Soedirman, Indonesia)

Output Kegiatan
Output kegiatan berupa terbitnya prosiding IOP (terindeks SCOPUS).

Narahubung: Dr. Ir. Elly Tugiyanti, M.P.(08154881 8474)

****(DARMA)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer