-->

INI ATURAN KEMENTAN TENTANG PELAKSANAAN KURBAN SAAT PANDEMI

Kementan terbitkan SE pelaksanaan kurban di tengah pandemi COVID-19. (Foto: Infovet/Ridwan)

Sehubungan dengan pelaksanaan pemotongan kurban pada Hari Raya Idul Adha 1441 H yang jatuh pada Juli 2020, pemerintah berupaya menyesuaikan pelaksanaan kurban karena Indonesia masih dilanda pandemi COVID-19.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang Pelaksanaan Kegiatan Kurban dalam Situasi Wabah Bencana Nonalam COVID-19. Kegiatan kurban meliputi penjualan dan pemotongan hewan perlu dilakukan penyesuaian terhadap prosedur kenormalan baru. 

“SE ini sebagai petunjuk pelaksanaan kegiatan kurban menyesuaikan penerapan kenormalan baru. Diharapkan kegiatan pelaksanaan kurban di tengah pandemi COVID-19 tetap berjalan optimal dengan mempertimbangkan aspek pencegahan dari penyebaran COVID-19,” ujar Dirjen PKH, Drh I Ketut Diarmita, di Jakarta, Jumat (12/6/2020).

Surat yang ditujukan kepada gubernur, bupati dan wali kota ini menegaskan langkah-langkah pencegahan potensi penularan COVID-19 di tempat penjualan dan pemotongan hewan kurban, diantaranya menjaga jarak dan menghindari perpindahan orang antar wilayah pada saat kegiatan kurban.

“Memperhatikan juga status wilayah tempat kegiatan kurban serta edukasi soal bahayanya COVID-19 dan bagaimana cara penularannya,” ucapnya.

Sementara Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Drh Syamsul Ma`arif, menyebutkan bahwa surat ini akan memberikan rekomendasi dalam kegiatan penjualan dan pemotongan hewan kurban.

Dalam kegiatan penjualan hewan kurban, Syamsul menegaskan harus memenuhi syarat seperti jaga jarak fisik, penerapan kebersihan personal, kebersihan tempat dan pemeriksaan kesehatan.

“Penjualan hewan kurban juga harus dilakukan di tempat yang telah mendapat izin dari kepala daerah setempat,” tegas Syamsul.

Selain itu, penjualan hewan kurban juga harus melibatkan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), atau organisasi dan lembaga amil zakat.

"Hal ini untuk membantu pengaturan tata cara penjualan yang meliputi pembatasan waktu, tempat penjualan dan penempatan fasilitas alat kebersihan," ucap dia.

Kemudian, penjual hewan kurban juga harus dilengkapi alat pelindung diri (APD) minimal masker, lengan panjang dan sarung tangan sekali pakai. Dan setiap orang yang masuk ke tempat penjualan harus mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer. Bagi penjual yang berasal dari luar wilayah harus dalam kondisi sehat dengan melampirkan surat keterangan sehat dari puskesmas atau rumah sakit.

“Setiap tempat penjualan juga wajib dilengkapi dengan pengukur suhu tubuh, tempat cuci tangan dengan air mengalir dan tempat pembuangan limbah kotoran hewan yang aman,” kata Syamsul.

Ia juga menambahkan bahwa setiap orang diimbau untuk menghindari jabat tangan atau bersentuhan langsung, menggunakan atau membawa barang pribadi seperti perlengkapan salat maupun perlengkapan makan.

"Adapun setelah pulang dari tempat kurban, juga diwajibkan mandi dan membersihkan diri," tambahnya.

Sementara untuk kegiatan pemotongan hewan kurban yaitu tetap menerapkan protokol kesehatan berupa jaga jarak, jaga kebersihan dan menggunakan masker atau face shield.

“Para petugas pemotongan hewan perlu diedukasi tentang cara penyebaran COVID-19, seperti hindari memegang muka, mulut, hidung dan mata. Jumlah petugas dalam satu ruangan juga perlu diatur agar bisa menerapkan jaga jarak,” terang Syamsul.

Petugas pemotongan hewan kurban juga diimbau tidak merokok, meludah dan memperhatikan etika bersin serta batuk selama pemotongan kurban.

“Petugas pemotongan hewan kurban juga diharuskan berasal dari lingkungan atau satu wilayah dengan tempat pemotongan hewan dan tidak sedang masa karantina mandiri,” pungkasnya. (INF)

HARI KEAMANAN PANGAN SEDUNIA: SETIAP ORANG HARUS PASTIKAN TERSEDIANYA MAKANAN YANG AMAN

Susu, pangan asal hewan yang harus terjamin keamanannya
Tepat pada tanggal 7 Juni yang lalu, dunia memperingati Hari Keamanan Pangan Sedunia bersamaan dengan pandemi COVID-19, saat orang harus memberikan perhatian ekstra pada keamanan pangan mereka.  Pandemi telah meningkatkan kesadaran tentang perlunya kebersihan diri, seperti sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir untuk menghindari penularan virus, juga mengingatkan semua orang bahwa praktik kebersihan yang baik selalu diperlukan dalam mempersiapkan makanan.

Selain itu, Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menghimbau semua negara untuk bersungguh-sungguh melanjutkan upaya meningkatkan keamanan pangan di sepanjang sistem rantai pertanian dan pangan.

"Perayaan tahun ini didedikasikan untuk semua orang yang telah memastikan bahwa pandemi tidak mengganggu rantai pasokan pangan, sehingga pangan yang aman tetap tersedia. Untuk itu diperlukan partisipasi dari para pekerja atau petani di lahan pertanian hingga mereka yang ada di supermarket dan semua orang yang menyiapkan makanan untuk orang lain dan diri mereka sendiri.  Setiap orang memiliki peran besar untuk memastikan makanan yang kita konsumsi aman di sepanjang rantai pangan, dari lahan  sampai ke meja makan "kata Stephen Rudgard, Kepala Perwakilan FAO di Indonesia.

Dengan tema "Keamanan Pangan, Tanggung Jawab Semua Orang", FAO dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) mempromosikan kesadaran keamanan pangan global dan menyerukan kepada negara dan para pembuat keputusan, sektor swasta , masyarakat sipil, organisasi PBB, dan masyarakat umum untuk meningkatkan peran dalam memastikan keamanan pangan.

FAO akan bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan keamanan pangan melalui  koordinasi yang lebih baik dengan otoritas yang bertanggung jawab atas keamanan pangan, mengembangkan kerangka kerja peraturan yang kuat, dan membantu dalam penerapan praktik yang baik di dalam rantai pangan, dari produsen hingga konsumen.

FAO bekerja dengan pemerintah, industri, petani, pelaku rantai pangan, dan LSM untuk memastikan makanan yang aman tersedia bagi konsumen dan meningkatkan perdagangan pada komoditas pertanian. (INF)

RUSIA INGIN MENGURANGI KETERGANTUNGAN IMPOR BREEDING STOCK

Foto: ilustrasi

Rusia harus secara bertahap mulai mengurangi ketergantungannya pada impor breeding stock, kata wakil Perdana Menteri Rusia Victoria Abramchenko baru-baru ini. Untuk mewujudkannya, sebuah program baru yang berjudul ' Establishing a national competitive meat chicken crossbreed for growing broilers ', dicanangkan.

“Prioritas utama kami adalah menjamin ketahanan pangan di sektor pertanian utama. Memenuhi permintaan produsen kami dengan benih dan bibit adalah bagian penting dari pekerjaan itu, ”jelas Abramchenko.

“Sayangnya kami melihat ketergantungan impor yang kuat di bidang ini. Sebagai contoh, dalam industri ayam pedaging, kami mengimpor sekitar 98% dari breeding stock, sementara swasembada negara ini pada daging broiler adalah 100%, ”tambah Abramchenko.

Pemerintah Rusia juga telah menetapkan target untuk meningkatkan basis teknologi di industri. Perusahaan-perusahaan yang mengerjakan new crossbreeds memenuhi syarat menerima subsidi untuk modernisasi inkubasi, membesarkan dan memelihara unggas seperti memberi makan, mendiagnosis, dan mencegah penyakit.

Dalam anggaran federal, sekitar Rub 4,4 miliar ($ 80 juta) diperuntukkan untuk mengembangkan breeding stock selama periode 5 tahun.

Sampai tahun 2025 tujuannya adalah untuk mendapatkan setidaknya 15% swasembada pada crossbreeds. Dalam beberapa tahun mendatang, breed yang digunakan akan menjadi crossbreed baru Rusia, Smena 9.

Breeding farm Smena mengumumkan bahwa mereka telah mulai menguji Smena 9 di 2 breeding farm di Chelyabinsk  Oblast pada bulan April 2020. Perusahaan berencana untuk mendaftarkan crossbreed baru pada paruh kedua tahun 2020 untuk mendapatkan persetujuan pemerintah untuk komersialisasi.

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah Rusia telah berulang kali mengangkat kekhawatiran tentang ketergantungan impor industri unggas Rusia pada croosbreed. Menurut pemerintah, bahkan dengan tingkat swasembada yang tinggi pada daging dan telur broiler, negara ini tidak memiliki keamanan pangan yang nyata.

Pemerintah khawatir bahwa kemungkinan sanksi yang mempengaruhi impor crossbreed dapat mendorong industri unggas Rusia ke ujung kehancuran. (Sumber: poultryworld.net)

KEPEDULIAN BPTUHPT SIBORONGBORONG TERHADAP DAMPAK COVID-19

Penyerahan bantuan berupa logistik oleh Kepala BPTUHPT Siborongborong

Senin (08/06) yang lalu Balai Penelitian Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) Siborongborong kembali menyerahkan bantuan solidaritas KORPRI dalam rangka membantu meringankan beban masyarakat menghadapi Pandemi Covid-19. Pada kesempatan kali ini bantuan diserahkan kepada Panti Karya Hephata yang berlokasi di Kec. Laguboti, Kab. Toba Samosir, Prov. Sumatera Utara. Bantuan yang diserahkan yakni berupa bahan makanan sehari - hari seperti beras, mie instan, dan keperluan Sembako lainnya. 

Panti Karya Hephata merupakan Panti yang berdiri sejak tahun 1923 yang khusus melayani para difabel dengan segala jenis difabilitasnya (tuna netra, tuna rungu-wicara, tuna grahita, tuna daksa dan tunaganda) dari usia anak sampai usia tua. Mereka diberikan pembinaan, pendidikan dan keterampilan sehingga siap berkarya di tengah masyarakat.

Kepala BPTUHPT Siborongborong Drh I.GN.A Wisnu Adi Saputra mengatakan bahwa ditengah Pandemi Covid-19, bantuan solidaritas ini sangat terasa manfaatnya untuk Panti Karya Hephata, karena berkurangnya bantuan dari para donatur untuk menunjang operasional panti.

"Kita juga harus mengingat saudara - saudara kita yang difabel, mereka juga membutuhkan uluran tangan kita, oleh karenanya kami kesini dengan maksud dan tujuan yang baik mudah - mudahan ini bisa sedikit meringkankan beban mereka," kata Wisnu.

Menariknya, salah satu keterampilan yang diajarkan di panti adalah tentang pertainan dan peternakan. Walapun memiliki difabilitas dari segi fisik, para penghuni panti masih tetap bersemangat dalam berkarya, baik di bidang keterampilan kerajinan, bahkan pertanian maupun peternakan yang di kembangkan di dalam area panti. (INF)

ATUR VENTILASI AGAR TERHINDAR DARI PENYAKIT

Tirai dalam kandang ternak broiler. (Foto: Ist)

Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil akhir produksi ayam broiler adalah beban panas yang tinggi (heat stress). Hal ini terjadi karena ayam broiler merupakan tipe ayam pedaging yang pada prinsipnya adalah penumpuk lemak di dalam tubuh dalam jumlah besar pada masa produksi akhir (panen). Salah satu penyakit akibat iklim yang ekstrem yakni heat stress. Pada umumnya heat stress terjadi karena penumpukan lemak menjadi penghambat pembuangan panas yang dibentuk oleh tubuh, sedangkan ayam broiler juga mendapat panas tubuh dari hasil metabolisme dan aktivitas lingkungan sekitar.

Aktivitas yang menyebabkan terjadinya panas lingkungan dipengaruhi oleh temperatur, kelembapan dan sirkulasi udara. Ketiga faktor tersebut merupakan elemen penting yang mempengaruhi produksi ayam broiler. Karena ketiga faktor tersebut berperan dalam proses terbentuknya kenyaman pada ayam, dimana akan meghasilkan produksi yang maksimal atau bahkan sebagai predisposisi timbulnya suatu penyakit pencernaan (Colibacillosis) dan pernapasan (CRD/Chronic Respiratory Disease) atau bahkan keduanya (CRD kompleks).

Atur Ventilasi  
Salah satu bentuk upaya yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi heat stress yang muncul akibat ketiga faktor tersebut adalah manajemen ventilasi. Ventilasi merupakan pergerakan udara yang memungkinkan terjadinya pertukaran antara udara di dalam dan di luar kandang. Dengan manajemen ventilasi yang baik, maka angka temperatur, kelembapan dan sirkulasi udara dapat diatur agar kondisi nyaman ayam dapat dicapai. Dalam sistem kandang terbuka, cara meciptakan pergerakan udara di dalam kandang dapat dilakukan dengan pemberian kipas angin, penerapan sistem buka-tutup tirai kandang, serta pembuatan model kandang monitor.

Manajemen brooding pada sistem pemeliharaan ayam broiler merupakan langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan pemeliharaan hingga satu periode ke depan. Karena di masa ini, DOC akan mengalami pertambahan jumlah sel (hiperplasia) terutama otot. Oleh karena itu, kondisi di dalam kandang harus sangat mendukung. Dimulai dari suhu ideal, kelembapan yang tepat, serta kualitas oksigen yang memadai untuk proses perkembangan.
 Kebanyakan peternak melupakan faktor terakhir tersebut, peternak cenderung lebih memperhatikan suhu dan kelembapan saja. Sehingga tidak jarang pada umur 7-10 hari tirai masih tertutup. Hal ini diperkuat oleh fakta yang didapat dari Technical Support PT Gold Coin Indonesia, Drh Rizqy Arief Ginanjar.

“Kenyataan yang terjadi ketika tirai masih ditutup, akan mengakibatkan sirkulasi udara di dalam kandang minimal, bahkan tidak terjadi. Sehingga kelembapan dan amonia di dalam kandang tidak bisa terkontrol. Dengan angka kelembapan dan amonia yang tinggi di dalam kandang akan memicu terjadinya penyakit,” ujar Rizqy. 

Lebih lanjut, manajemen tirai yang baik harus mulai diperhatikan ketika masa brooding. Tirai yang digunakan harus menggunakan metode double screen guard (tirai luar-dalam). Aplikasinya adalah dengan menggunakan dua buah tirai, satu untuk di dalam kandang dan satu lagi untuk di luar kandang. Pada saat DOC chick-in hingga umur tiga hari, tirai dalam masih dapat ditutup rapat agar panas di dalam brooder tercapai.

Ketika memasuki umur empat hingga tujuh hari, tirai luar pada siang hari sudah harus mulai dibuka disertai dengan pelebaran dari sekat (chick guard). Tirai dibuka ±10-20cm yang bertujuan agar terjadi pertukaran udara oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2). Sedangkan untuk tirai dalam masih dipertimbangkan untuk ditutup, namun juga melihat kondisi ayam.

Ketika malam, tirai masih harus ditutup agar ayam tidak terkena cold shock. Pada umur 7-10 hari dengan asumsi pertumbuhan bobot badan yang makin berkembang, maka tirai dan pelebaran sekat juga harus mengikuti. Tirai luar pada siang hari diturunkan ¼ dari tinggi kandang (±40-50 cm), sedangkan untuk tirai dalam sudah bisa mulai dilepas. Pada malam hari tirai dapat ditutup kembali.

Pada umur 10-14 hari, tirai luar pada siang hari sudah dapat dibuka ½ tiang kandang dan pada malam hari tirai dapat dibuka ¼ tiang kandang. Pada umur 15-20 hari, tirai luar pada siang hari sudah dapat dibuka seluruhnya, namun pada malam hari tirai masih ditutup untuk antisipasi stres akibat cuaca dingin. Pada umur 21 hari hngga panen tirai sudah dapat dibuka seluruhnya baik pada siang hari maupun malam hari. Namun masih dengan pertimbangan kondisi cuaca, adakalanya dinaikan (ketika hujan atau angin besar).


Pengaturan Tirai Kandang

Umur
Kondisi Tirai
Keterangan
Luar
Dalam
Siang
Malam
Siang
Malam
1-2
Tutup
Tutup
Tutup
Tutup
* lihat kondisi cuaca
3-6
Buka ¼
Tutup
Buka ½ 
Tutup
7-10
Buka ¼
Tutup
Buka
Buka ½
11-14
Buka ½
Buka ¼ *
Buka
Buka
15-20
Buka*
Buka ½ *
Buka
Buka
21-panen
Buka
Buka *
Buka
Buka

Disamping manajemen tirai, faktor sirkulsi udara juga dapat dibantu dengan penambahan kipas angin dan pembuatan kandang monitor. Pemberian kipas angin sering dipasang di dalam kandang yang memiliki alas litter. Tujuan pemberian kipas angin adalah untuk mempercepat perpindahan udara di dalam kandang. Jenis kipas angin yang digunakan adalah kipas angin pendorong (blower fan) dengan berbagai ukuran 24”, 36” dan 42”. Kipas angin dapat ditempatkan pada ketinggian 50-100 cm dari lantai.

Di daerah tropis jenis kandang tipe terbuka yang memiliki konstruksi panggung diharapkan memiliki atap yang berbentuk monitor. Karena cuaca pada wilayah tropis sangat mempengaruhi dalam tata laksana manajemen ventilasi. Selain dengan manajemen buka-tutup tirai, pembuatan kandang jenis panggung dan atap monitor pada kandang terbuka sangat membantu dalam proses pertukaran oksigen dan karbondioksida atau bahkan pembuangan senyawa berbahya H2S serta NH3. 

Salah satu peternak yang sudah mengaplikasikan manajemen ventilasi adalah Suhardi. Menurutnya, ditengah iklim dan cuaca ekstrem seperti saat ini manajemen ventilasi yang baik akan menunjang performa apalagi jika dibarengi dengan pemeliharaan yang baik.
“Saya selalu rutin dalam mengatur ventilasi, karena saya kurang biaya untuk bikin closed house jadi mau tidak mau saya harus bisa mengatur ventilasi. Paling sebagai tambahan saya sedikit rajin semprot desinfektan, sama memisahkan ayam yang mati. Biar enggak nular penyakitnya,” kata Suhardi.

Pengaturan ventilasi ini, lanjut dia, sangatlah penting. Hal buruk pernah menimpa Suhardi dikala anak kandangnya lupa melakukan maintenance buka-tutup tirai. “Pernah cuaca lagi panas-panasnya lupa buka tirai, ayam malah mati kepanasan semua, mana baru chick-in. Peristiwa seperti ini sudah jadi makanan sehari-hari, makanya saya rutin mengatur ventilasi, supaya ayam tetap oke performanya,” tandasnya. (CR)

PRODUSEN UNGGAS TERKEMUKA DENMARK BERALIH KE AYAM SLOWER GROWING DEMI ANIMAL WELFARE

Foto: ilustrasi

Danpo, salah satu produsen unggas terkemuka di Denmark beralih ke peternakan ayam broiler yang tumbuh lebih lambat (slower growing).

Mereka akan menghentikan penggunaan jenis ayam fast growing Ross 308 dan menggantinya dengan ayam slower growing Ranger Gold.

Danpo, yang merupakan bagian dari Scandi Standard yang terdaftar di Bursa Efek Stockholm, memiliki 85 peternak di Funen dan Jutland yang memproduksi hampir 50 juta unggas per tahun. Mereka bangga dengan produksi dagingnya yang bebas salmonella. Perusahaan ini mengatakan akan menghapus Ross 308 pada akhir 2021.

CEO Mark Juel Hemmingsen mengatakan, “Danpo ingin membuat dampak positif pada kesejahteraan hewan di industri ini. Danpo harus kompetitif di masa depan. Karena itu, saya sangat senang bahwa beberapa perusahaan dan konsumen bergabung dalam perjalanan kami untuk kesejahteraan hewan yang lebih baik.”

Langkah itu mengikuti pengumuman Lidl Denmark pada bulan Februari bahwa mereka akan menjadi pengecer pertama di Denmark yang menghapus Ross 308 dari rantai pasokannya. Produksi bibit broiler yang tumbuh lebih lambat adalah salah satu masalah utama yang disoroti dalam Komitmen Ayam Eropa, yang telah memenangkan dukungan dari berbagai perusahaan seperti Marks and Spencer dan KFC.

Retailer Belanda mulai beralih ke breed yang slower growing pada 2014 dan sekarang sekitar 40% unggas yang dijual berasal dari sektor ini. Ada juga pasar yang berkembang di Perancis dan Inggris.

Connor Jackson, CEO Open Cages UK, mengatakan memindahkan pasar broiler dari ayam fast growing ke ayam slower growing adalah kunci untuk meningkatkan kesejahteraan ayam. “Beberapa tahun yang lalu berbagai perusahaan mulai menghapuskan cage eggs. Sekarang kita melihat perkembangan yang sama dengan ras ayam fast growing. Ini adalah bukti terobosan yang sangat unik untuk kesejahteraan hewan di Eropa. "

Juru kampanye kesejahteraan hewan mengatakan sifat berkembang biak yang cepat seperti Ross 308 dapat menyebabkan ketimpangan, masalah pernapasan, dan kegagalan organ. Ross 308 masih merupakan breed paling populer di dunia dan, menurut perusahaan breeding Aviagen, disukai oleh pelanggannya karena tingkat pertumbuhan yang cepat, efisiensi pakan, dan performa yang konsisten. (Sumber: poultryworld.net)

GITA ORGANIZER AKAN KEMBALI GELAR SEMINAR ONLINE PANDEMI VS BIOSEKURITI PADA PETERNAKAN UNGGAS


GITA ORGANIZER kembali mengadakan Seminar Biosekuriti angkatan ke 2: PANDEMI VS BIOSEKURITI (PADA PETERNAKAN UNGGAS).

Pembicara: Alfred Kompudu, S.Pt, MM (Implementasi biosekuriti 3 zona di peternakan unggas). Drh. Baskoro Tri Caroko (Desinfeksi yang tepat untuk peternakan).

Waktu: Kamis 18 Juni 2020, pukul 10.00 hingga 12.00.

Pendaftaran: Mariyam 087778296375, Aida 081806597525. Format: Nma#Perusahaan/Instansi/Kampus/Umum#No HP#Email atau email ke marketinggita2018@gmail.com.

Biaya Rp 100.000/orang (umum), atau Rp 50.000/orang (mahasiswa/dosen). Transfer ke rek PT Gallus Indonesia Utama BCA 7330301681 KCP Cilandak KKO 1. Bukti transfer mohon di WA ke 081806597525 (Aida).

Peserta mendapat softcopy materi dan E Certificate.

COVID-19 MEMAKSA KANADA MENGURANGI PRODUKSI UNGGAS


Produsen ayam Kanada memangkas produksi lebih dari 50.000 metrik ton untuk menyeimbangkan pasar akibat permintaan turun setelah Covid-19. Selanjutnya, kurva impor daging ayam diperkirakan relatif datar pada tahun 2020.

Harga grosir telah menurun setelah anjloknya permintaan daging ayam akibat dari penutupan sektor jasa makanan.

Sementara permintaan di sektor ritel hanya meningkat dalam jumlah kecil. Harga grosir pada akhir April 2020 untuk ayam utuh turun 20%, sayap dan dada ayam 30%, dan paha 45%.

Pertumbuhan moderat diharapkan terjadi pada industri ayam Kanada tahun 2020 ini, meskipun mengingat situasi saat ini, FAS/Ottawa memperkirakan produksi daging ayam tahunan sebesar 1,315 juta metrik ton, yang merupakan penurunan 1% dari 2019.

Pengurangan volume target produksi daging ayam untuk siklus mulai Mei 2020 dicapai terutama dengan menempatkan lebih sedikit telur ayam broiler di hatchery. Selama pandemi, beberapa pabrik unggas terkena dampak kasus Covid-19 dan beberapa pabrik mengalami penutupan sementara.

Harga grosir telah membaik meskipun belum sepenuhnya pulih ke tingkat pra-pandemi. Permintaan daging ayam telah meningkat, sebagian, dengan dimulainya musim barbekyu di musim panas. (Sumber: poultryworld.net)

GORONTALO DIGUNCANG ANTHRAX, KEMENTAN BERTINDAK

Tim gabungan yang turun ke lapang untuk melakukan reaksi cepat terhadap anthrax 

Berita mengejutkan datang dari Kabupaten Gorontalo dimana sejumlah sapi milik warga di Desa Daenaa, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, mengalami kematian mendadak dan diduga terinfeksi anthrax. Kasus tersebut ditindaklanjuti Kementerian Pertanian dengan berkoordinasi bersama Pemerintah Provinsi Gorontalo, melakukan investigasi, mengambil sampel untuk diteliti di laboratorium, serta memastikan ketersediaan stok obat dan vaksin.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita di Jakarta, Senin (8/6).

"Petugas kesehatan hewan sudah turun ke lapang melakukan investigasi kasus dan pengambilan sampel untuk konfirmasi laboratorium di BBVet Maros," katanya.

Ia juga memastikan bahwa pengobatan untuk hewan yang sakit sudah dilakukan, disertai dengan sosialisasi tentang penyakit Anthrax bagi masyarakat sekitar kasus.

"Dua minggu setelah pengobatan selesai, akan dilakukan vaksinasi di wilayah tersebut," tambahnya.

Ia juga memastikan bahwa stok obat berupa antibiotik dan vitamin, serta vaksin di Gorontalo masih mencukupi untuk memastikan penanganan kasus di wilayah tertular dan sekitarnya.

"Tahun ini kita siapkan stok vaksin sebanyak 15.000 dosis dan operasionalnya untuk Gorontalo," tutur Ketut.

Sebelumnya diinformasikan bahwa ada kasus suspek Anthrax di Desa Daenaa, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo. Dugaan kasus Anthrax ini diketahui setelah ada laporan kasus Anthrax jenis kulit pada delapan orang penduduk yang diduga memotong paksa sapi sakit dan kemudian mengonsumsi dagingnya. Anthrax merupakan salah satu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia (zoonosis).

"Kami sudah koordinasikan juga dengan Kemenkes, untuk memastikan penanganan terintegrasi kasus ini dengan pendekatan one health," ungkap Ketut.

Di tempat terpisah, saat diminta keterangan terkait kasus, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi membenarkan adanya laporan dugaan kasus Anthrax kulit tersebut. Menurutnya pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemda untuk melakukan penyelidikan epidemiologi dan penanganan kasus secara terpadu antara unsur kesehatan dan kesehatan hewan.

Ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat tentang bahaya Anthrax ini, serta menghimbau agar masyarakat tidak memotong hewan yang sakit dan kemudian mengkonsumsi dagingnya. Nadia menyebutkan bahwa penduduk yang menunjukan gejala Anthrax kulit telah ditangani oleh Puskesmas.

Hal senada disampaikan oleh Direktur Kesehatan Hewan, Kementan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa. Menurutnya risiko terbesar penularan Anthrax di Indonesia adalah melalui pergerakan dan pemindahan hewan tertular serta ketika ada hewan sakit yang dipotong dan kemudian dagingnya dijual atau dibagikan untuk konsumsi.

"Kita selalu sampaikan kepada masyarakat agar segera melaporkan setiap kasus hewan sakit kepada petugas untuk ditangani, dan meminta mereka agar tidak memotong hewan sakit dan tidak mengkonsumsi dagingnya bahkan tdk melukai hewan yang mati akibat anthrax tegas Fadjar.

Sementara itu, berdasarkan informasi dari salah satu petugas Dinas Peternakan Provinsi Gorontalo, diketahui bahwa lokasi kasus, yakni di Desa Daenaa sebelumnya tidak pernah dilaporkan ada kasus Anthrax sehingga tidak ada pelaksanaan vaksinasi di wilayah tersebut sebelumnya.

Diduga kasus Anthrax yang terjadi karena adanya pemasukan ternak baru dari luar wilayah. Hal ini diperkuat dengan informasi bahwa pada tanggal 9 Mei 2020, salah satu peternak ada yang membeli sapi indukan dan anakan sebanyak dua ekor di Pasar Bongomeme Kabupaten Gorontalo, yang merupakan daerah endemis Anthrax. (CR)

KEMENTAN: KONTRIBUSI MASYARAKAT DALAM KEAMANAN PANGAN PERLU

Pangan segar khususnya pangan asal hewan memiliki nilai dan kualitas yang tinggi bagi kemaslahatan manusia. (Foto: Ist)

Menyambut perayaan Hari Keamanan Pangan Dunia (World Food Safety Day) kedua yang jatuh pada 7 Juni 2020, pemerintah mengajak semua pihak termasuk masyarakat luas untuk berkontribusi dan mengambil sikap dalam menjamin ketersediaan pangan yang aman, sehat dan bergizi.

“Saat ini kita sedang dihadapkan pada upaya pemulihan pasca pandemi COVID-19 dan potensi kerawanan ketersediaan pangan yang sangat mungkin terjadi, seiring dengan kondisi yang menekan penurunan produktivitas usaha penyediaan pangan. Oleh karena itu, kami mengajak agar semua pihak dapat ikut bertindak, karena urusan pangan adalah urusan bersama dan semua bisa berkontribusi,” ujar Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita dalam siaran persnya, Minggu (7/6).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pangan segar khususnya pangan asal hewan memiliki nilai dan kualitas yang tinggi bagi kemaslahatan manusia, karena mengandung protein hewani dibutuhkan dan bermanfaat bagi tubuh, serta berperan mencerdaskan anak bangsa.

Akan tetapi, disisi lain pangan segar asal hewan memiliki karakteristik mudah rusak (perishable food) dan berpotensi membahayakan (potentially hazardous). Untuk itu, Undang-undang mengatur aspek mulai dari pengawasan, pemeriksaan, pengujian, standardisasi, sertifikasi dan registrasi produk dan unit usaha sejak produk pangan asal hewan diproduksi sampai siap dikonsumsi. Selain itu, juga memastikan produk pangan asal hewan memenuhi kriteria aman, sehat, utuh dan Halal (ASUH).

Dalam kesempatan ini, Ketut menghimbau agar masyarakat lebih cerdas dan bijak dalam memilih pangan asal hewan, tidak tergiur dengan produk murah dan membeli ditempat resmi dan terdaftar sesuai aturan, serta tidak mudah percaya dan meyakini informasi hoaks.

Sementara Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, turut menyampaikan, “Pemerintah berperan memastikan pangan yang aman dan berkualitas. Petani dan peternak memastikan penerapan cara bertani/beternak yang baik, pelaku usaha pengolahan pangan menjamin proses secara aman dan masyarakat memastikan terpenuhi haknya dalam memperoleh pangan yang aman, sehat dan bergizi, dengan perannya dalam memilih, menangani dan mengolah pangan dengan benar.”

Sedangkan Direktur Kesmavet, Ditjen PKH, Syamsul Maarif, menjelaskan bahwa pihaknya bersama pemerintah daerah telah mensertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) terhadap unit usaha produk hewan sebanyak 2.634 unit, serta melakukan monitoring dan pengawasan. Hasilnya memperlihatkan tren penurunan tingkat produk hewan yang sub-standar dalam lima tahun terakhir (angka rata-rata di 2019 sekitar 20% produk hewan yang sub-standar masih beredar).

“Laporan tingkat keamanan produk hewan tersebut sejalan dengan target yang ditetapkan secara Nasional yang tertuang dalam Rencana Kerja Jangka Menengah Presiden yang menetapkan angka pemenuhan persyaratan pangan segar tidak boleh kurang dari 85%,” jelas Syamsul. (INF)

STRATEGI INDUSTRI PAKAN TINGKATKAN EFISIENSI OPERASIONAL DI TENGAH PANDEMI

Jagung sebagai sumber bahan pakan ternak unggas. (Foto: Istimewa)

Menghadapi situasi pandemi COVID-19, industri pakan harus bisa menyesuaikan diri akibat adanya gangguan sistem rantai pasok bahan baku pakan, sementara di sisi lain telah terjadi penurunan permintaan pakan dari peternak sebanyak 30% dibandingkan pada kondisi normal. 

Menurut General Manager PT Charoen Pokphand Indonesia, Istiadi SPt MM, dalam sebuah acara pelatihan tentang sistem logistik pakan pada 4-5 Juni 2020, mengatakan bahwa di tengah situasi pandemi COVID-19, sangat diperlukan strategi operasional yang efisien, antara lain dengan melakukan langkah awal berupa menganalisis kembali jenis-jenis pakan yang terganggu penjualannya, apakah pakan broiler, layer, ayam bibit, babi dan sebagainya.

“Kemudian juga dilakukan analisis pada sistem logistik pengiriman produk pakan ke peternak jika terjadi gangguan dalam perjalanannya. Dan yang tidak kalah penting adalah penjagaan kualitas produk pakan yang dihasilkan. Hal ini perlu penekanan khusus demi menjaga kepuasan pelanggan,” ujar Istiadi.

Dalam kaitannya dengan logistik pakan ini, Istiadi menegaskan lima prinsip utama yang harus diperhatikan, yakni kualitas pakan tetap terjaga, jumlah barang tidak berkurang, tepat waktu pengiriman, kemasan tidak rusak, serta ongkos kirim yang kompetitif.

Selain itu, lanjut dia, efektivitas logistik pakan juga harus dikedepankan, misalnya dengan melakukan efisiensi pengurangan penggunaan bahan pakan tambahan untuk perlindungan pakan dari jamur, bakteri dan lain sebagainya.

“Misalnya formulasi tanpa harus menambahkan antimold, antibakteria dan sebagainya. Ini biasa dilakukan jika jangka waktu sebelum pemakaian relatif singkat dan risiko kontaminan rendah,” jelasnya. 

“Untuk bisa mengurangi jangka waktu biasanya forecast dan aktual pengiriman harus sesuai. Efisiensi logistik pakan lain yang bisa dilakukan yakni dari pemilihan kemasan yang dipakai. Biaya kemasan seiring dengan harga biji plastik, terlebih jika kemasan plastik nanti akan dikenai cukai plastik.”

Langkah efisiensi strategis ini perlu dilakukan, terlebih sumber bahan pakan di Indonesia berasal dari dua sumber, yakni dari impor dan lokal. Kecenderungan yang terjadi saat ini memang terdapat peningkatan pemakaian bahan baku lokal dari tahun ke tahun. Namun dengan adanya pandemi, maka terjadi berbagai kendala sistem rantai pasok, sehingga berbagai langkah antisipasi para pelaku industri harus dilakukan demi keberlangsungan industri pakan yang efisien. (IN)

RESTRUKTURISASI KUR UNTUK PETERNAK TERDAMPAK COVID-19


Ilustrasi peternakan sapi (Foto: INF)

Melalui Siaran Pers Nomor HM.4.6/44/SET.M.EKON.2.3/04/2020 tanggal 8 April 2020, Pemerintah memutuskan membebaskan pembayaran bunga dan penundaan pokok angsuran kredit usaha rakyat (KUR) untuk usaha yang terkena dampak COVID-19, paling lama 6 (enam) bulan.

Selain itu dilakukan juga relaksasi ketentuan KUR dengan memberikan perpanjangan jangka waktu dan tambahan plafon. Hal ini diharapkan mampu membantu petani dan peternak yang modal usahanya berasal dari KUR, sehingga mereka dapat terus menjalankan usaha mereka.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, I Ketut Diarmita membenarkan hal ini dan berharap agar kebijakan Pemerintah ini dapat membantu para peternak di daerah terdampak COVID-19.

“Kita berharap restrukturisasi kredit ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh debitur KUR bidang peternakan yang terimbas langsung maupun tidak langsung, sehingga usahanya dapat terus berjalan dan tidak mengakibatkan risiko kredit. Tentu saja tetap harus memperhatikan peraturan yang berlaku”, ucapnya.

Lebih lanjut Ketut menjelaskan bahwa kebijakan ini mulai berlaku pada 1 April 2020, dengan catatan bahwa debitur KUR yang mendapat pembebasan bunga dan penundaan pembayaran angsuran pokok KUR paling lama 6 bulan, harus memenuhi penilaian penyalur KUR masing-masing.

“Kami juga meminta bantuan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di daerah untuk dapat memonitor dan membantu UMKM pelaku usaha binaannya yang telah mengakses KUR,” tambahnya.

Sementara Fini Murfiani, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen PKH menuturkan bahwa untuk keamanan dalam pelaksanaannya, debitur KUR diminta agar selalu mengikuti informasi yang diberikan oleh Penyalur Kredit langsung atau melalui call centre/website resmi Penyalur Kredit.

Ia berharap peternak tidak mempercayai informasi yang bersifat hoax dan tidak menanggapi pihak-pihak yang tidak berkepentingan untuk melakukan koleksi pembayaran kredit.

“Lebih baik dapatkan informasinya langsung dari bank, koperasi atau penyalur KUR lainnya yang memberi pinjaman,” imbuhnya.

Relaksasi Restrukturisasi KUR 

Lanjut Fini menjelaskan beberapa stimulus yang diberikan terkait relaksasi ketentuan restrukturisasi KUR, yakni kebijakan perpanjangan jangka waktu KUR; dan/atau kebijakan penambahan limit plafon KUR (khususnya bagi debitur KUR Kecil dan KUR Mikro non Produksi).

"Bagi calon debitur KUR yang baru, diberikan relaksasi pemenuhan persyaratan administratif pengajuan KUR, seperti Izin Usaha, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan dokumen agunan tambahan," jelas Fini.

Menurutnya semua dokumen tersebut ditangguhkan sementara sampai kondisi memungkinkan. Calon debitur KUR yang baru dapat mengakses KUR secara online.

Terkait kriteria penerima KUR yang mendapatkan perlakuan khusus, Fini memaparkan bahwa terdapat syarat umum dan syarat khusus. Untuk syarat umum, mencakup kualitas kredit per 29 Februari 2020 serta sikap kooperatif dan itikad baik penerima KUR.

Adapun syarat khusus adalah penerima KUR mengalami penurunan usaha dikarenakan minimal salah satu kondisi, yakni lokasi usahanya berada daerah terdampak Covid-19 yang diumumkan pemerintah setempat, terjadi penurunan pendapatan atau omzet karena mengalami gangguan terkait COVID-19; dan terjadi gangguan terhadap proses produksi karena dampak COVIDa-19.

Perkembangan Realisasi KUR Tahun 2020

Fini menambahkan, Pemerintah telah meluncurkan program KUR dimana sumber dananya berasal dari penyalur KUR dan pemerintah memberikan subsidi bunga, tahun 2020 kita targetkan KUR untuk sub sektor peternakan dapat diakses oleh UMKM (usaha mikto, kecil, dan menengah) peternakan sebesar 9,01 Trilyun. Bunga KUR tahun ini sudah turun menjadi 6% dan peternak dapat membayar setelah panen (yarnen) sehingga dapat dimanfaatkan pelaku usaha peternakan yang hasil usahanya diperoleh setalah akhir siklus usaha.

Realisasi akad kredit KUR Sub Sektor Peternakan sampai dengan 28 Mei 2020 tercatat di Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) Kementerian Keuangan sebesar  Rp. 4,54 triliun atau telah mencapai 50,39% dari target Ditjen PKH Rp.9,01 T untuk 164.652 debitur pelaku usaha peternakan.

Dari data tersebut memberikan gambaran bahwa tingkat kepercayaan lembaga pembiayaan terhadap usaha peternakan masih positif. (Rilis/INF)


FKH UGM SELENGGARAKAN WEBINAR BERTEMA DESINFEKTAN DAN BIOSEKURITI


Dua narasumber vet-webinar FKH UGM (Foto: Ist)

Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM dan GAMAVET menyelenggarakan webinar bertema “Desinfektan yang Aman bagi Manusia, Hewan dan Lingkungan: Belajar dari Penerapan Biosecurity Farm Unggas”, Rabu (3/6/2020). Menghadirkan narasumber Drh Heri Setiawan (Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia) dan Dr Drh Agustina DW, MP (Ketua Departemen Farmakologi FKH UGM) dan dipandu oleh moderator Drh Aria Ika Septana. 

Webinar diikuti lebih dari 300 orang dari berbagai daerah di Indonesia. Tingginya antusiasme peserta dalam sesi diskusi, moderator memutuskan untuk menambah waktu acara ini.

Dalam paparannya, Drh Heri menyebutkan tiga elemen dalam biosekuriti adalah isolasi, kontrol lalu-lintas dan sanitasi.

“Isolasi bertujuan menciptakan lingkungan agar ayam terlindungi dari penyebaran bibit penyakit atau mikroorganisme patogen. Elemen kontrol lalu-lintas guna mengendalikan lalu-lintas manusia, peralatan, kendaraan masuk/keluar area peternakan dan sanitasi berupa penerapan pelaksanaan pembersihan dan desinfeksi secara teratur dan menjaga kebersihan para pekerja di area farm,” terang Heri.

Dijelaskan Heri lebih lanjut, persyaratan desinfektan antara lain memiliki spektrum aktivitas luas, berdaya penetrasi kuat hingga efektivitas tinggi pada berbagai kondisi. Selain itu pemilihan produk desinfektan harus memperhatikan amankah bagi manusia, hewan dan lingkungan serta tidak memicu resistensi. (NDV)

FAPET UNSOED SIAP GELAR WEBINAR PROSPEK PETERNAKAN PASCA PANDEMI

Webinar Fakultas Peternakan Unsoed (Foto: Ist)


Pandemi COVID-19 merupakan isu kontemporer yang sedang memengaruhi berbagai sektor kehidupan manusia. Peternakan merupakan salah satu sektor yang paling terdampak oleh pandemi ini. Hal ini berkaitan dengan perubahan pola hidup masyarakat termasuk pola konsumsi terhadap produk-produk peternakan.

Pola ini sebagian besar diduga akan bertahan sebagai kebiasaan baru masyarakat pasca pandemi atau masa normal baru. Penyesuaian pada pola baru di masyarakat perlu di kembangkan pada sektor peternakan baik dalam hal budidaya, teknologi, nutrisi, dan pemasaran produk peternakan.

Masa normal baru merupakan sebuah tantangan sekaligus peluang yang dapat dimanfaatkan oleh sektor peternakan.

Menindaklanjuti potensi ini, Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memprakarsai sebuah acara bertajuk “Prospek Peternakan di Era Normal Baru Pasca Pandemi COVID-19”. Acara ini merupakan Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan yang diselenggarakan setiap tahun dan telah memasuki seri yang ke 7 (STAP VII). Seminar yang rencananya akan diselenggarakan pada Sabtu 27 Juni 2020 ini berbeda dibandingkan dengan biasanya, karena akan dilaksanakan secara online atau webinar.

Dekan Fakultas Peternakan Unsoed, Prof  Dr Ismoyowati  SPt MP menjelaskan bahwa seminar ini merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis Fakultas Peternakan Unsoed yang ke 54. Tujuan diadakanya seminar ini yaitu menggali dan mengumpulkan gagasan yang dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan pendidikan, riset, dan industri peternakan dalam memasuki Era Normal Baru pasca Pandemi COVID-19.

Selain itu juga ditujukan untuk menyediakan forum ilmiah yang aksesable selama masa work from home untuk bertukar pikiran tentang hasil penelitian dan pengembangan teknologi agribisnis peternakan.

Dr Ir Agustinah Setyaningrum MP  selaku ketua panitia menerangkan seminar akan diikuti oleh peneliti, dinas terkait, dosen, dan mahasiswa.

Acara utama akan diisi oleh berbagai pakar yang antara lain Prof Dr Budi Santoso MP (Guru Besar Bidang Nutrisi Ruminansia Universitas Papua), Prof Dr Ismoyowati SPt MP (Guru Besar Bidang Bioteknologi Peternakan Unsoed), Ir Bambang Suharno (Pimpinan Redaksi Majalah Infovet) dan Dr Ir Bess Tiesnamurti MSc (Peneliti Senior Bidang Genetika Ternak Puslitbangnak).

Selanjutnya acara akan diisi oleh paparan artikel ilmiah dari berbagai bidang kajian. Hasil paparan akan dipublikasi pada prosiding seminar ber e-ISBN dan atau Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (JIPVET).

Artikel ilmiah juga akan terpublish yang diharapkan dapat dijadikan informasi dan masukan yang berarti bagi pengembangan peternakan mendatang. (Rilis/INF)       

EKSPOR UNGGAS BRASIL TUMBUH 5,1% DI MASA COVID-19

Ekspor ayam Brasil meningkat di masa pandemi (Foto: Ist)


Ekspor ayam Brasil telah meningkat sebesar 5,1% menjadi 1,365 juta ton, selama 4 bulan pertama tahun 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal itu disimpulkan dalam laporan ABPA (Asosiasi Protein Hewan Brasil).

Penjualan internasional Brasil dari sektor unggas ini menghasilkan pendapatan 0,5% lebih tinggi menjadi US $ 2,151 juta antara Januari dan April, dibandingkan dengan US $ 2,141 pada periode 4 bulan pertama tahun 2019.

“Sektor ini berkomitmen untuk menjaga ekspor tetap mengalir selama pandemi, memperkuat ketahanan pangan di antara negara-negara mitra. Kami memang mengharapkan peningkatan perdagangan kami dengan Cina, tetapi kami juga melihat pertumbuhan di Afrika, Asia dan Timur Tengah,” ungkap Francisco Turra, presiden ABPA.

Namun ada beberapa kekhawatiran tentang data bulan April. Khusus pada bulan April 2020, ada pengurangan 4,7% dalam ekspor, dengan total 343.300 ton tahun ini terhadap 360.100 ton pada bulan yang sama di tahun 2019. Sedangkan nilai penjualan turun menjadi US $ 515,9 juta terhadap US $ 599,1 juta tahun lalu, atau 13,9% lebih rendah, menggunakan parameter yang sama.

Laporan ABPA terbaru, Brazilian Animal Protein Report 2020, memberikan gambaran lengkap tentang produksi unggas (ayam, kalkun, telur dan genetika) dan babi. Menurut dokumen itu, negara ini telah memproduksi 13,245 juta ton selama tahun lalu, yang menjadi sebuah rekor baru (0,7% lebih tinggi dari 13,140 juta ton pada 2015).

Angka-angka itu menjadikan Brasil produsen terbesar ke-3 pada 2019, di belakang AS (19,941 juta ton) dan China (13,750 juta ton), di atas EU-28 (12,460 juta ton) dan Rusia (4,671 juta ton).

Tetapi untuk ekspor unggas saja, Brasil telah mengkonsolidasikan posisi teratasnya dengan 4,214 juta ton, di atas AS (3,261 juta ton), UE-28 (1,548 juta) dan Thailand (881,000 ton). Produsen ayam Brasil memperoleh US $ 6.994 miliar (6,4% lebih tinggi dari AS $ 6.571 pada tahun 2018) tahun lalu dari seluruh dunia. Persentase impor ke Asia 37,53%; Timur Tengah 34,39% dan Afrika 12,84%.

Dari total di tahun 2019, sektor unggas menghasilkan 68% untuk konsumen nasional dan 32% untuk pasar luar negeri. Konsumsi per kapita sedikit meningkat dari 41,99 kg menjadi 42,84 kg. Daerah produsen utama adalah Parana (34,69%), Santa Catarina (15,40%) dan Rio Grande do Sul (14,32%). (Sumber: poultryworld.net)

DRH MAKMUN JUNAIDDIN JABAT DIREKTUR PAKAN

Drh Makmun Junaiddin usai dilantik Direktur Pakan. (Foto: Humas Pertanian)

"Segenap keluarga besar Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, mengucapkan selamat kepada Drh Makmun Junaiddin MSc atas dilantiknya sebagai Direktur Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan."

Begitulah ucapan yang disematkan dalam laman Facebook Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian, atas dilantiknya Makmun sebagai Direktur Pakan.

Dari pantauan Infovet, segenap doa dipanjatkan mengiringi terpilihnya Makmun. "Mari kita doakan bersama agar beliau amanah, serta dapat melaksanakan tugasnya dengan lancar dan baik, Amin." Selain itu, ucapan selamat pun juga mengalir dari para kolega dan kerabat.

Makmun terpilih menjadi Direktur Pakan dan resmi dilantik menggantikan Sri Widayati pada Rabu (3/6/2020) di Auditorium Kementerian Pertanian.


Pelantikan pejabat setingkat eselon II, Rabu (3/6). (Foto: Humas Pertanian)

Pelantikan dilakukan langsung oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, bersama 15 pejabat setingkat eselon II lingkup Kementerian Pertanian. (RBS)

GOPAN IMBAU STAKEHOLDER PERUNGGASAN TURUNKAN HARGA DOC FS


GOPAN berharap harga DOC FS tak lebih dari Rp 5.000 (Foto: poultryscience.in)

Naiknya harga DOC (Day Old Chick) pada level tertinggi Rp. 6.000 – Rp. 6.500 ditengah ketidakpastian harga ayam hidup pada saat periode panen berikutnya, Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) mengimbau kepada stakeholder perunggasan untuk mengambil sikap.

GOPAN melayangkan surat permohonan penurunan harga DOC FS (final stock) kepada perusahaan perunggasan dan Gabungan Perusahaan Perbibitan Unggas (GPPU).

Dalam surat resmi bertanda tangan Ketua GOPAN Herry Dermawan, Selasa (2/6/2020), GOPAN berharap GPPU mengimbau kepada anggotanya agar harga DOC FS tidak lebih dari Rp 5.000 sebagai bentuk empati dan mendukung keberlangsungan usaha peternak mandiri.

“Empati penuruan harga DOC FS ini kami harapkan juga selalu diikuti dengan kualitas DOC FS yang berkualitas dan ketersedian yang cukup bagi peternak mandiri sesuai dengan kebijakan pemerintah yang berlaku,” sebut isi surat resminya.

Sekretaris Jenderal GOPAN, Sugeng Wahyudi dihubungi Infovet, Rabu (3/6/2020) menyatakan pihaknya berharap surat permohonan tersebut segera mendapat feed back positif dari para stakeholder.

Sugeng Wahyudi

Sugeng mengemukakan harga DOC naik bersamaan dengan harga ayam, sangatlah memberatkan. Jika harga DOC mahal, bukan saja rasa was-was peternak yang belum terjamin bagus atau tidaknya di situasi pandemi saat ini.

Imbuh Sugeng selain was-was, apabila kondisi ini masih berlangsung tentunya menjadi pukulan kerugian yang besar karena terjadi sedari Januari hingga April 2020.

“Mohon turunkan harga DOC agar kandang-kandang rakyat bisa terisi dan kelangsungan budidaya ayam tidak terhenti,” pungkasnya. (NDV)



ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer