-->

KETIKA RUMPUT HIJAU MENYIMPAN ANCAMAN PENYAKIT

Ternak sapi rentan memindahkan antraks ke seluruh provinsi khususnya pada momen kurban. (Foto: Unsplash)

Idul Adha memang sudah lewat, namun setiap menjelang momen tersebut, perhatian terhadap antraks biasanya meningkat. Hal ini bukan tanpa alasan, perayaan Idul Adha melibatkan pergerakan jutaan ekor hewan kurban dari berbagai daerah menuju lokasi penjualan dan pemotongan. Mobilitas ternak yang tinggi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit hewan menular.

Penyakit Kuno, Ancaman Bagi Dunia Modern
Indonesia mungkin adalah negeri yang memiliki ingatan pendek terhadap banyak hal. Bahkan untuk penyakit hewan yang sudah dikenal lebih dari satu abad pun, pola yang sama masih berulang. Antraks adalah salah satu contohnya.

Penyakit ini bukan penyakit baru, bukan pula penyakit misterius yang baru ditemukan para ilmuwan minggu lalu. Bahkan, antraks merupakan salah satu penyakit infeksi tertua yang pernah dipelajari manusia.

Penyebabnya pun sudah diketahui dengan sangat jelas, yaitu bakteri Bacillus anthracis. Cara penularannya dipahami. Metode pencegahannya tersedia. Vaksinnya ada. Prosedur pengendaliannya juga telah ditulis berulang kali dalam buku, jurnal, pedoman kesehatan hewan, hingga peraturan pemerintah.

Celakanya antraks bersifat zoonosis, karena sifatnya tersebut, antraks tidak hanya menjadi persoalan kesehatan hewan, tetapi juga kesehatan masyarakat, keamanan pangan, hingga stabilitas ekonomi peternakan.

Antraks memiliki sejarah panjang di Indonesia. Meskipun berbagai program pengendalian telah dilakukan selama puluhan tahun, penyakit ini belum berhasil dieliminasi sepenuhnya. Salah satu penyebabnya adalah kemampuan luar biasa bakteri penyebab antraks untuk membentuk spora yang mampu bertahan puluhan tahun di lingkungan. Spora tersebut dapat “tertidur” di dalam tanah dalam waktu sangat lama, lalu kembali aktif ketika kondisi lingkungan mendukung. Karena itulah antraks sering disebut sebagai penyakit yang sulit diberantas dan hanya dapat dikendalikan.

Meskipun Indonesia merupakan negara endemis antraks, masih terdapat delapan provinsi di Indonesia yang dinyatakan bebas dari antraks, yakni Aceh, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Sabar Menanti Puluhan Tahun
Jika bakteri lain dapat diibaratkan seperti pencuri yang harus terus bergerak untuk bertahan hidup, maka Bacillus anthracis lebih mirip seperti penagih utang yang sangat sabar. Ia bisa menunggu, bahkan dalam waktu yang sangat lama.

Analogi tersebut dikemukakan oleh Drh Nusdianto Triakoso, salah satu dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Menurutnya, keunggulan terbesar bakteri antraks adalah kemampuannya membentuk spora. Dalam bentuk ini, bakteri seakan berubah menjadi kapsul kehidupan yang nyaris tidak bisa dihancurkan oleh alam.

“Spora antraks mampu bertahan di dalam tanah selama puluhan tahun. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa spora dapat tetap infektif setelah beberapa dekade berada di lingkungan. Bayangkan saja, seekor sapi mati akibat infeksi bakteri antraks pada masa ketika presiden masih berganti melalui sidang MPR, lalu puluhan tahun kemudian seekor sapi lain merumput di lokasi yang sama dan kembali terinfeksi,” tuturnya.

Begitulah cara penyakit ini bekerja, ia tidak terburu-buru, tidak membutuhkan strategi rumit, hanya menunggu kesempatan. Karena itulah daerah yang pernah mengalami wabah antraks sering kali tetap berstatus daerah endemis selama berpuluh tahun. Tanah yang terlihat subur dan hijau bisa saja menyimpan jutaan spora yang tidak terlihat mata. Rumputnya tampak segar, sapinya tampak sehat. Tetapi di bawah permukaan tanah terdapat “warisan biologis” yang belum selesai.

Pagi Masih Makan, Sore Jadi Bangkai
Salah satu alasan antraks begitu ditakuti adalah karena sifatnya yang brutal. Banyak penyakit hewan memberi peringatan terlebih dahulu. Hewan kehilangan nafsu makan, batuk, diare, atau mengalami penurunan bobot badan secara perlahan.

Antraks sering kali tidak seramah itu. Pada kasus akut, peternak bisa melihat sapinya masih makan dengan lahap pada pagi hari. Beberapa jam kemudian hewan tersebut terbaring mati. Tidak ada drama panjang, tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada waktu untuk mencari pengobatan alternatif dari grup WhatsApp peternak.

Kematian bisa terjadi begitu cepat, kadang-kadang muncul gejala seperti demam tinggi, sesak napas, gelisah, atau pembengkakan di beberapa bagian tubuh. Namun sering kali gejala tersebut berlangsung sangat singkat bahkan telat disadari peternak.

Setelah hewan mati, tanda yang paling mencolok adalah keluarnya darah gelap dari lubang hidung, mulut, anus, atau alat kelamin. Darah tersebut biasanya tidak mudah membeku. Bangkai hewan yang terinfeksi juga membusuk lebih cepat dibandingkan kematian akibat penyebab lain. Bagi dokter hewan, tanda-tanda ini sudah cukup untuk menyalakan alarm bahaya.

“Daripada Mubazir”
Di lapangan, cerita tentang antraks berubah dari masalah kesehatan hewan menjadi ironi sosial. Dalam banyak kasus, tantangan terbesar bukanlah bakterinya, tetapi justru manusianya.

Ketika seekor sapi sekarat atau mati mendadak di kandang, reaksi ideal adalah melaporkan kejadian tersebut kepada petugas kesehatan hewan. Namun realitas di lapangan sering kali berbeda. Karena harga sapi mahal, kerugian ekonomi terbayang dan terasa berat. Rasa sayang jika daging dibuang atau sekedar kalimat “daripada mubazir”.

Hal itu mungkin menjadi salah satu kalimat paling berbahaya dalam sejarah penyakit zoonosis. Tidak sedikit kasus antraks di Indonesia berawal dari keputusan sederhana, menyembelih ternak yang sakit atau sudah mati lalu membagikan dagingnya kepada warga sekitar.

Logikanya terlihat masuk akal bagi sebagian orang. Kadang mereka mengatakan, “Dagingnya masih bagus,” Dimasak juga mati kumannya,” “Keluarga saya makan tidak apa-apa.” Padahal antraks tidak peduli pada logika tersebut. Bakteri tidak bisa diyakinkan dengan alasan ekonomi, dan spora tidak akan menghilang hanya karena seseorang merasa sayang membuang daging.

Hasilnya adalah pola yang berulang. Hewan terinfeksi disembelih, daging dibagikan, warga terpapar, petugas datang, masyarakat panik, berita muncul, lalu semua orang bertanya mengapa hal itu bisa terjadi.

Kasus antraks di Gunungkidul beberapa tahun lalu menjadi contoh yang sangat jelas. Wabah tersebut tidak hanya menyebabkan kematian ternak, tetapi juga berdampak pada manusia. Sejumlah warga terpapar setelah kontak dengan hewan yang terinfeksi atau mengonsumsi produk ternak yang berasal dari hewan sakit.

Peristiwa tersebut seharusnya menjadi pengingat keras bahwa antraks bukan sekadar urusan peternak. Ini adalah tanggung jawab semua pihak, mulai dari pedagang ternak, pengangkut hewan, jagal, panitia kurban, hingga konsumen. Karena satu keputusan yang salah dapat menghasilkan konsekuensi kesehatan bagi masyarakat luas.

Seharusnya Tak Terulang
Antraks sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penyakit ternak. Ia menunjukkan bahwa hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan tidak bisa dipisahkan. Seekor sapi yang terinfeksi bukan hanya masalah peternak, ia dapat menjadi masalah desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Antraks bukan hanya masalah kesehatan hewan saja, tetapi juga kesehatan masyarakat, dan juga lingkungan.

Di era ketika dunia berbicara tentang teknologi peternakan presisi, kecerdasan buatan, dan genomik, antraks justru mengingatkan bahwa tantangan terbesar sering kali bukan kurangnya teknologi. Tantangan terbesar adalah memastikan pengetahuan yang sudah ada benar-benar diterapkan.

Karena antraks merupakan penyakit yang dapat bertahan lama dan manusia kerap percaya bahwa masalah lama sudah selesai. Padahal di banyak padang rumput Indonesia, bisa saja jutaan spora antraks masih bersembunyi di dalam tanah, menunggu musim hujan berikutnya, menunggu ternak berikutnya, dan menunggu kelalaian berikutnya. ***

Dirangkum oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

TURUNKAN TIM KE LAPANGAN, KEMENTAN RESPONS CEPAT LAPORAN ANTRAKS DI YOGYAKARTA

Tim saat mengambil sampel di peternakan warga karena adanya laporan kasus antraks. (Foto: Istimewa)

Merespons laporan kasus antraks di Kabupaten Sleman dan Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada 8 Maret 2024, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), langsung menurunkan tim ke lapangan.

“Tim kami dari Balai Besar Veteriner Wates telah melakukan investigasi dan pengujian laboratorium dengan hasil positif antraks dari sampel darah sapi dan tanah yang berasal dari Desa Serut, Kecamatan Gedangsari, Gunung Kidul dan sampel tanah dari Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman,” ujar Dirjen PKH, Kementan, Nasrullah, dalam siaran resminya di Jakarta, Selasa (12/3/2024).

Untuk mencegah tambahan kasus, ia sampaikan bahwa Kementan segera mengirimkan bantuan berupa vaksin sebanyak 1.000 dosis, 100 botol antibiotik, dan 1.000 botol vitamin untuk diberikan ke ternak di wilayah terdampak di DIY.

"Bantuan tersebut akan disalurkan untuk penanganan kejadian antraks yang dilaporkan dari Sleman, Gunung Kidul, dan wilayah terancam lainnya," ucapnya.

Sementara terkait adanya kasus antraks, Direktur Kesehatan Hewan, Kementan, Nuryani Zainuddin, menerangkan bahwa penyakit tersebut merupakan salah satu penyakit hewan yang dapat menular ke manusia (zoonosis).

"Saya minta masyarakat tetap waspada dan tidak menjual atau memotong hewan sakit, apalagi mengonsumsinya," imbuhnya. Sebab, adanya kasus pada masyarakat disebabkan karena mereka mengonsumsi ternak yang sakit dan dicurigai antraks.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa timnya bersama dinas setempat telah melakukan dekontaminasi dan disinfeksi pada lingkungan yang tercemar, yaitu lokasi penyembelihan, kandang dan area penguburan ternak, pengobatan antibiotik dan roboransia, serta KIE bersama dengan UPT Puskesmas. Sedangkan vaksinasi akan segera dilakukan setelah pengobatan.

“Tim kami akan terus melakukan penanganan di lapang dan dalam waktu dekat kita akan adakan pertemuan lintas sektor termasuk kesehatan yang dikoordinir oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi DIY,” pungkasnya. (INF)

GORONTALO DIGUNCANG ANTHRAX, KEMENTAN BERTINDAK

Tim gabungan yang turun ke lapang untuk melakukan reaksi cepat terhadap anthrax 

Berita mengejutkan datang dari Kabupaten Gorontalo dimana sejumlah sapi milik warga di Desa Daenaa, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, mengalami kematian mendadak dan diduga terinfeksi anthrax. Kasus tersebut ditindaklanjuti Kementerian Pertanian dengan berkoordinasi bersama Pemerintah Provinsi Gorontalo, melakukan investigasi, mengambil sampel untuk diteliti di laboratorium, serta memastikan ketersediaan stok obat dan vaksin.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita di Jakarta, Senin (8/6).

"Petugas kesehatan hewan sudah turun ke lapang melakukan investigasi kasus dan pengambilan sampel untuk konfirmasi laboratorium di BBVet Maros," katanya.

Ia juga memastikan bahwa pengobatan untuk hewan yang sakit sudah dilakukan, disertai dengan sosialisasi tentang penyakit Anthrax bagi masyarakat sekitar kasus.

"Dua minggu setelah pengobatan selesai, akan dilakukan vaksinasi di wilayah tersebut," tambahnya.

Ia juga memastikan bahwa stok obat berupa antibiotik dan vitamin, serta vaksin di Gorontalo masih mencukupi untuk memastikan penanganan kasus di wilayah tertular dan sekitarnya.

"Tahun ini kita siapkan stok vaksin sebanyak 15.000 dosis dan operasionalnya untuk Gorontalo," tutur Ketut.

Sebelumnya diinformasikan bahwa ada kasus suspek Anthrax di Desa Daenaa, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo. Dugaan kasus Anthrax ini diketahui setelah ada laporan kasus Anthrax jenis kulit pada delapan orang penduduk yang diduga memotong paksa sapi sakit dan kemudian mengonsumsi dagingnya. Anthrax merupakan salah satu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia (zoonosis).

"Kami sudah koordinasikan juga dengan Kemenkes, untuk memastikan penanganan terintegrasi kasus ini dengan pendekatan one health," ungkap Ketut.

Di tempat terpisah, saat diminta keterangan terkait kasus, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi membenarkan adanya laporan dugaan kasus Anthrax kulit tersebut. Menurutnya pihaknya telah berkoordinasi dengan Pemda untuk melakukan penyelidikan epidemiologi dan penanganan kasus secara terpadu antara unsur kesehatan dan kesehatan hewan.

Ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat tentang bahaya Anthrax ini, serta menghimbau agar masyarakat tidak memotong hewan yang sakit dan kemudian mengkonsumsi dagingnya. Nadia menyebutkan bahwa penduduk yang menunjukan gejala Anthrax kulit telah ditangani oleh Puskesmas.

Hal senada disampaikan oleh Direktur Kesehatan Hewan, Kementan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa. Menurutnya risiko terbesar penularan Anthrax di Indonesia adalah melalui pergerakan dan pemindahan hewan tertular serta ketika ada hewan sakit yang dipotong dan kemudian dagingnya dijual atau dibagikan untuk konsumsi.

"Kita selalu sampaikan kepada masyarakat agar segera melaporkan setiap kasus hewan sakit kepada petugas untuk ditangani, dan meminta mereka agar tidak memotong hewan sakit dan tidak mengkonsumsi dagingnya bahkan tdk melukai hewan yang mati akibat anthrax tegas Fadjar.

Sementara itu, berdasarkan informasi dari salah satu petugas Dinas Peternakan Provinsi Gorontalo, diketahui bahwa lokasi kasus, yakni di Desa Daenaa sebelumnya tidak pernah dilaporkan ada kasus Anthrax sehingga tidak ada pelaksanaan vaksinasi di wilayah tersebut sebelumnya.

Diduga kasus Anthrax yang terjadi karena adanya pemasukan ternak baru dari luar wilayah. Hal ini diperkuat dengan informasi bahwa pada tanggal 9 Mei 2020, salah satu peternak ada yang membeli sapi indukan dan anakan sebanyak dua ekor di Pasar Bongomeme Kabupaten Gorontalo, yang merupakan daerah endemis Anthrax. (CR)

OUTBREAK ANTRAKS DI YOGYAKARTA, PPSKI BERI MASUKAN

Outbreak Antraks di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa oleh pemerintah. (Foto: Infovet/Ridwan)

Berkaitan dengan outbreak penyakit Antraks di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, yang telah menimbulkan kematian beberapa ekor ternak sapi dan kambing, serta menyerang manusia. Kini telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Dirjen Penanggulangan Penyakit, Kementrian Kesehatan.

Hal tersebut turut menjadi perhatian bagi Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau (DPP PPSKI). Melalui surat resminya, Senin (20/1/2020), PPSKI menyampaikan beberapa poin penting bagi pemerintah terhadap penanganan kasus Antraks yang selalu muncul setiap tahun.

Pertama, keprihatinan terhadap munculnya wabah Antraks yang mematikan ternak dan manusia di Kabupaten Gunung Kidul. Hal ini mengindikasi bahwa kurang cermatnya pemerintah (daerah/provinsi/kota) dalam menangani (preventif dan kuratif) tentang Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) di sentra-sentra peternakan rakyat yang telah diidentifikasi sejak lama.

Kedua, belajar dari kasus Anthraks di Gunung Kidul, pemerintah harus lebih mewaspdai kemungkinan merebaknya 25 jenis penyakit yang masuk katagori PHMS lainnya seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Rabies, BSE (mad cow) dan lain sebagainya, termasuk Antraks.

“Saat ini pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan terhadap lalu lintas ternak, baik yang ada di dalam negeri maupun impor dari wilayah-wilayah tertular agar tidak merebak. Misalnya, mengatur dan mengawasi dengan ketat lalu lintas dari Gunung Kidul ke wilayah lainnya. Demikian pula dengan importasi daging kerbau dari India, yang tidak memiliki status zona bebas PMK, melanggar UU No. 41 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan,” kata Ketua Umum PPSKI, Teguh Boediyana, dalam surat tersebut.

Adapun poin ketiga, yakni pemerintah perlu menganggarkan dana tanggap darurat, biaya untuk vaksinasi massal, melakukan penyuluhan kepada masyarakat melalui sekolah dan media tentang tata cara penanggulangan penyakit Antraks jika tertular dengan melibatkan organisasi kemasyarakatan.

“Hal ini agar setiap muncul wabah PHMS yang sangat berbahaya dapat segera diatasi. Semoga seluruh komponen bangsa yang terlibat dalam pengembangan peternakan sapi dan kerbau dapat bekerjasama mengatasi hal ini,” pungkasnya. (INF)

27 ORANG DI GUNUNG KIDUL POSITIF ANTHRAX

Kenali cara penularan anthrax, agar tidak mudah terinfeksi

Puluhan orang diduga tertular penyakit antraks di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sejak Desember 2019 lalu. Namun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan tidak semua terduga kasus antraks pada manusia tersebut dinyatakan positif.

Berdasarkan data Kemenkes, terdapat 96 warga Gunungkidul yang sempat diduga tertular antraks. Dari jumlah itu, 27 orang dinyatakan positif tertular antraks. Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, data tersebut berdasarkan laporan hingga akhir Desember 2019.

Nadia mengatakan, satu di antara 27 warga itu meninggal dunia. Namun, kematian tersebut bukan karena antraks melainkan meningitis. Dia juga mengklaim tidak ada laporan warga Gunungkidul meninggal karena antraks.

"Jadi 27 orang total semuanya, satu meninggal tapi bukan karena antraks, karena meningitis," kata Nadia pada Kamis (16/1/2020), seperti dilansir Antara. Kata Nadia, sejak kasus Antraks dilaporkan muncul di Gunugkidul pada Desember 2019, sempat ada 607 warga di kabupaten itu yang diduga terpapar atau punya riwayat kontak dan memakan daging hewan yang terinfeksi antraks.

Namun, dari 607 warga itu, hanya sekitar 96 orang yang kemudian diduga terjangkit antraks karena mengalami gejala diare, penyakit kulit, dan batuk pilek. Ternyata, tidak semua dari 96 warga itu positif tertular Sejauh ini, Nadia mencatat, kematian yang diakibatkan oleh antraks di Gunungkidul hanya terjadi pada hewan ternak, yaitu tiga ekor sapi dan enam ekor kambing.

Mengingat kejadian yang dilaporkan sudah sejak Desember 2019, Kementerian Kesehatan bersama dengan dinas kesehatan dan dinas peternakan daerah setempat telah melakukan beberapa penanganan.

"Sejak 6 Desember sudah dilakukan penyelidikan epidemologi terkait antraks, diberikan pengobatan profilaksis yaitu dengan antibiotik kepada 607 orang yang terpapar di dua dusun di Kabupaten Gunung Kidul," ujar dia.

Penyakit antraks pada manusia terjadi karena tertular oleh hewan ternak sapi atau kambing yang sebelumnya memang sudah terjangkit penyakit antraks. Penularan antraks dari hewan ternak ke manusia bisa melalui cairan pada tubuh hewan dengan kontak tubuh, memakan daging hewan yang berpenyakit antraks, melakukan kontak dengan hewan ternak yang mati karena antraks, atau menghirup spora antraks.


Manusia yang terjangkit penyakit antraks sukar diketahui karena tidak memiliki gejala khas. Gejala umum yang terjadi jika tertular antraks ialah mengalami diare dan gatal-gatal yang hebat. (CR)


CEGAH PENYEBARAN ANTHRAX, DITJEN PKH KEMENTAN GERAK CEPAT TURUNKAN TIM KE LAPANGAN

JAKARTA, Dalam rangka membantu upaya pencegahan dan pengendalian kasus penyakit Anthrax di Kabupaten Kulon Progo Daerah Istemewa Yogyakarta, terutama terkait adanya kematian ternak akibat Anthrax dan kejadian pada manusia meninggal dan tertular Anthrax, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) telah mengirimkan Tim ke lokasi untuk melakukan investigasi dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium, serta menyampaikan langsung bantuan vaksin dan obat-obatan.
Ditjen PKH menyampaikan bahwa kasus kematian pada ternak sapi 1 (satu) ekor dan 17 (tujuh belas) ekor ternak kambing, sebelumnya tidak pernah dilaporkan baik oleh peternak maupun masyarakat ke Dinas yang menangani fungsi peternakan dan kesehatan hewan setempat. Setelah ada kasus pada manusia, maka Dinas Kesehatan melaporkan kepada Pemda Kulon Progo dan Dinas Peternakan, yang selanjutnya diinfokan ke Balai Besar Veteriner Wates (BBVet Wates).
Begitu mendapat laporan tentang kasus dugaan anthrax tipe kulit pada beberapa orang di Dusun Penggung, Dusun Ngroto, Dusun Ngaglik dan Dusun Wonosari, Desa Purwosari Kecamatan Girimulyo Kabupaten Kulon Progo  pada tanggal 10 Januari 2017,  BBVet Wates yang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis dibawah Ditjen PKH langsung menurunkan Tim untuk melakukan investigasi, serta pengambilan sampel uji laboratorium bersama Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan di lokasi kejadian pada tanggal tersebut.
Dari hasil investigasi di lapangan diperoleh informasi bahwa telah terjadi dugaan Anthrax tipe kulit pada 16 orang dan mengakibatkan kematian pada satu (1) ekor  sapi dan 14 (empat belas)  ekor kambing. Kematian ternak tersebut terjadi sejak bulan Nopember dan tidak pernah dilaporkan.
Berdasarkan hasil pengujian laboratorium di BBVet Wates pada tanggal 12 Januari 2017 dapat disimpulkan bahwa penyebab kematian ternak adalah akibat terinfeksi kuman Anthrax, yaitu Bacillus Anthracis yang merupakan  penyebab penyakit Anthrax.
Sampai saat ini jumlah kambing yang mati atau dipotong paksa oleh masyarakat berjumlah 17 (tujuh belas) ekor dan sapi 1 (satu) ekor. Berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo bahwa dari 16 (enam belas) orang yang menderita Anthrax tipe kulit, lima belas (15) orang  diantaranya  telah dinyatakan  sembuh dan satu (1) orang meninggal dunia.  Namun demikian, penyebab kematian tersebut belum dapat dipastikan mengingat pasien juga menderita komplikasi diabetes dan penyakit jantung, serta berusia lanjut (78 th).
Selanjutnya, untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit Anthrax tersebut telah dilakukan beberapa tindakan, diantaranya:
  1. Pembentukan Tim Penanggulangan Wabah Anthrax di Kabupaten Kulon Progo yang diketuai oleh Sekretaris Daerah dengan melibatkan Dinas Peternakan, Dinas Kesehatan, BBVet Wates dan instansi terkait lainnya; 
  2. Pembentukan Posko Pengendalian Penyakit Anthrax di Pusat Kesehatan Hewan  (Puskeswan) Girimulyo dengan melibatkan seluruh tenaga Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner  Dinas Peternakan Kabupaten Kulon Progo dan BBVet Wates yang terus mengawasi setiap perkembangan kasus; 
  3. Melakukan pembatasan lalu lintas ternak; 
  4. Melakukan pengobatan antibiotika terhadap ternak-ternak di lokasi penderita Anthrax kulit dan juga terhadap ternak yang sekandang dengan hewan yang mati/potong paksa; 
  5. Melakukan penyemprotan desinfektan di lokasi hewan mati atau potong paksa, tempat pemotongan, serta tempat penguburan ternak/kotoran untuk mematikan kuman yang ada di tanah dan di lokasi; 
  6. Vaksinasi pada hewan terancam di desa tertular dan daerah sekitarnya; 
  7. Pemusnahan sisa daging yang berasal dari hewan tertular yang masih disimpan oleh Masyarakat, serta; 
  8. Penyuluhan dan sosialisasi melalui Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) kepada semua perangkat desa tertular dan masyarakat tentang penyakit Anthrax dan cara pencegahan, pengendalian, serta pengamanannya.


Ditjen PKH juga langsung melakukan gerak cepat dengan telah memberikan bantuan berupa:          1). Vaksin Anthrax sebanyak 17.500 dosis; 2). Antibiotika sebanyak  48 botol @ 100 ml; 3).Vitamin sebanyak  48 botol @ 100 ml; 4). Desinfektan sejumlah 4 botol @ 2,5 liter dan; 5). Satu (1) unit Sprayer .
Surveilans dan monitoring secara terus menerus dilakukan oleh BBVet Wates bersama dengan Dinas Peternakan Kabupaten Kulon Progo, terutama dengan meningkatkan  pengawasan lalu lintas ternak dari dan ke lokasi kejadian, serta sekitarnya mulai dari penutupan lalu lintas sampai pembatasan dan pemeriksaan ternak yang akan keluar dan masuk wilayah. Selain itu, pengambilan dan pengujian sampel oleh laboratorium BBVet Wates juga terus dilakukan secara intensif untuk memonitor cemaran kuman di lokasi dan kondisi ternak yang ada di sekitar kejadian.
Koordinasi dengan Pemda Kabupaten Kulonprogo juga terus dilakukan dengan melibatkan lintas instansi antara lain Dinas Peternakan, Dinas Kesehatan dan instansi terkait lainnya, terutama untuk menyusun langkah-langkah pengendalian kasus Anthrax, baik untuk pengamanan terhadap masyarakat, juga pengamanan pada hewan.
Selanjutnya berdasarkan laporan perkembangan sejak tanggal 18 Januari 2017 dan sampai saat ini tidak dilaporkan adanya kasus baru. Situasi terakhir dilaporkan sudah terkendali dan tidak ada kasus lagi.
Terkait dengan kasus kejadian kematian anak usia 9 tahun di Kabupaten Sleman sampai dengan saat ini dari hasil penyidikan lapangan tidak ditemukan keterkaitan dengan kasus Anthrax pada hewan. Hal ini dikarenakan di lokasi kejadian tidak ada kasus Anthrax pada hewan. Demikian pula dari pelacakan konsumsi pangan anak tersebut tidak ditemukan konsumsi pangan asal hewan, sehingga jika diguga ada infeksi kuman Anthrax pada hasil uji lab anak tersebut, kemungkinan diperoleh dari spora di tanah atau lingkungan bukan berasal dari hewan ternak atau produk ternak.
Kondisi kematian anak tersebut karena meningitis, akan tetapi dari sampel cairan cerebrospinal yang diuji di laboratorium Dinas Kesehatan (dan sampel yang sama dikonfirmasi di BBVet Wates) ditemukan adanya kuman Anthrax. Sebagai informasi bahwa secara teori memang pernah ditemukan adanya infeksi Anthrax yang menyebabkan radang meningitis akan tetapi sangat langka kasusnya.
Tim investigasi telah melacak bahwa anak tersebut sebelum sakit dan demam pernah berenang disalahsatu kolam renang dekat tempat tinggal akan tetapi dari hasil uji lab terhadap sampel dari lokasi kolam renang tidak ditemukan adanya kuman Anthrax. (wan)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer