-->

INFOVET DALAM ULTAH FORUM MEDIA PETERNAKAN

Bertempat di Resto Gubug Udang Cibubur, 29 Agustus  2019 siang ini Forum Media Peternakan (FORMAT) memperingati miladnya yang ke 9.

Dihadiri semua perwakilan anggota dari media-media peternakan seperti: Infovet, Poultry Indonesia, Trobos, Swadaya dan Sinar Tani, ngariung pada wadah para awak media ini dibuka Suhadi Purnomo, Ketum Format dengan menyampaikan, bahwa harlah Format yang tepatnya 27 Agustus 2010 silam itu sebagai ekspresi rasa syukur kepada Allah SWT dan jalinan komunikasi antar media yang berkonten berita peternakan.

Sebagai salah satu pendiri Format, Bambang Suharno, Pemred Infovet yang didaulat memberikan Sambutan menyampaikan pesan, pentingnya Format sebagai forum media peternakan yang harus terus diperkuat dan berpengaruh di jagad _stakeholder_ peternakan.

Agenda bahasan dalam meeting FORMAT kali ini antara lain: Format Award, Poling kandidat pejabat, dan Munas III FORMAT.

Berdasarkan kronologi berdirinya, Infovet  menjadi salah satu pendiri FORMAT dan selalu bersama dalam dinamika stakeholder peternakan.

Bambang Suharno, Pemred Infovet adalah Ketum Format 2010-2016 diteruskan Suhadi Purnomo (Pemimpin Usaha Majalah Trobos) periode 2016-2019.***

FAPET UGM KENALKAN PETERNAKAN SEBAGAI INDUSTRI BERTEKNOLOGI TINGGI

Siswa-siswi saat mengikuti open house Fapet UGM. (Foto: Dok. Fapet UGM)

Open house Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM), memperkenalkan industri peternakan modern sebagai industri biologis yang sarat teknologi tinggi pada kegiatan Lustrum X Fapet UGM, 26-28 Agustus 2019, yang diikuti oleh siswa SMA, SMK dan mahasiswa baru Fapet UGM angkatan 2019. 

Diawal kegiatan, peserta diberi suguhan video profil Fakultas Peternakan UGM dipandu oleh Sekretaris Prodi S1 Fapet UGM, Ir Ahmad Romadhoni Suryaputra dan materi peternakan dan kedaulatan bangsa yang dibawakan Panitia Lustrum X, Muhsin Al Anas SPt. Hadir pula sebagai narasumber dosen Fapet UGM, Dr Ir EndyTriannanto dan Dr Ir Siti Andarwati. Setelah mendengar materi, peserta diajak mengunjungi laboratorium dan kandang-kandang riset Fapet UGM. 

Dijelaskan Ahmad Romadhoni, bahwa peternakan merupakan industri biologis yang dijalankan menggunakan rakayasa bioteknologi. “Dari sudut pandang engineering, ternak adalah mesin biologis yang menghasilkan pangan berkualitas tinggi berupa daging, telur dan susu dari bahan baku berupa pakan biji-bijian dan hijauan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Infovet, Kamis (29/8/2019).

Ia menambahkan, struktur industri peternakan juga lengkap, meliputi upstream berupa industri pembibitan, pakan, obat hewan dan peralatan tenak, serta downstream yang meliputi industri pengolahan dan distribusi hasil ternak.

Lebih lanjut dijelaskan, selain kuliah dan mengurus ternak di kandang, mahasiswa Fapet UGM juga mempelajari ilmu nutrisi dan pakan ternak, produksi ternak, pemuliaan dan reproduksi ternak, teknologi (pengolahan) hasil ternak dan sosial ekonomi peternakan.

“Untuk mata kuliah dasar, semua mahasiswa harus masuk ke kandang. Selanjutnya, mahasiswa bisa memilih mata kuliah sesuai konsentrasi yang dipilih. Banyak mata kuliah yang aktivitasnya di laboratorium, tidak selalu harus masuk kandang,” ucap dia.

Ahmad melanjutkan, bahwa teknologi pengolahan daging dan susu hanya dipelajari secara mendalam di Fapet UGM. Di sisi lain, ilmu ekonomi dan kewirausahaan juga dipelajari di Departemen Sosial dan Ekonomi Peternakan. “Di situ disediakan pula fasilitas laboratorium komputer dan audio visual,” tandasnya. (INF)

TIMOR LESTE KEMBALI TERTARIK IMPOR PRODUK PETERNAKAN INDONESIA

Day old duck. (Sumber: Istimewa)

Indonesia berpeluang menambah ekspor komoditas peternakan, kali ini untuk Day Old Duck (DOD) Final Stock (FS) Itik Gunsi dan pakan ternak ke Timor Leste. Hal ini disampaikan oleh pemerintah Timor Leste yang menilai produk peternakan Indonesia berkualitas baik dan memenuhi syarat.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Timor Leste, Domingos Gusmao, mengemukakan, Indonesia telah menerapkan kompartementalisasi sesuai peraturan Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE), sehingga komoditas yang dihasilkan terjamin sehat dan aman dari penyakit. Hal itu disampaikan Gusmao pada Exit Meeting dalam rangkaian kegiatan Impor Risk Analysis (IRA), Rabu (28/8/2019).

“Kami selaku Tim Audit Timor Leste telah melakukan audit untuk produk DOD FS Itik Gunsi - Peking Khaki Champbell (PKC) di PT Putra Perkasa Genetika, Gunung Sindur, Bogor, kemudian melakukan audit pakan ternak di PT Sinar Indo Chem, Sidoarjo,” kata Gusmao.

Pihaknya pun menyatakan bahwa berdasarkan hasil IRA, maka tim merekomendasikan produk peternakan DOD dan pakan ternak Indonesia dapat masuk ke Timor Leste. “Untuk waktu pelaksanaan ekspor kami akan segera memberikan informasi secara G to G,” katanya. Selain DOD dan pakan ternak, Tim IRA Timor Leste juga menyatakan ketertarikannya untuk mengimpor kambing PE dan Etawa, Babi dan obat hewan milik Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita, menyambut baik hal tersebut dan berharap bahwa Timor Leste telah mendapatkan gambaran lengkap dari seluruh proses bisnis yang dilakukan pada setiap unit usaha di Indonesia yang telah menerapkan sistem dalam menjami mutu produk peternakan yang dihasilkan sesuai persyaratan Internasional.

“Jaminan mutu antara lain dengan adanya implementasi Sistem Kompartementalisasi bebas AI serta sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner, telah mengikuti standar nasional maupun internasional dari OIE maupun CODEX Alimentarius, sehingga produk yang dihasilkan aman dikonsumsi. Indonesia berkomitmen membantu pemerintah Timor Leste dalam penyediaan bahan pangan asal ternak yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH),” ujar Ketut.

Pada kesempatan exit meeting, Ketut juga menyampaikan apresiasi atas kerjasama teknis kedua negara telah diwujudkan secara nyata melalui kerjasama perdagangan ekonomi yang saling menguntungkan. Hal ini tentunya didasari atas kepercayaan dan keyakinan Timor Leste terhadap komoditas peternakan Indonesia.

Berdasarkan data BPS, Pusdatin Kementan 2018, volume ekspor komoditas peternakan ke Timor Leste mencapai 10.094 ton dengan nilai USD 9.525.928, 55. Komoditas produk yang diekspor terbanyak yakni pakan ternak sebesar 4.329 ton dan susu sebanyak 2.958 ton. (INF)

DELEGASI MYANMAR PELAJARI PROGRAM PENGENDALIAN AI DI INDONESIA, DITJEN PKH SAMBUT BAIK

Dirjen PKH menerima delegasi Livestock Breeding and Veterinary Department, Myanmar (Foto: Humas Kementan)


Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menerima kunjungan empat delegasi dari Livestock Breeding and Veterinary Department, Myanmar untuk belajar lebih mendalam program pengendalian Avian Influenza (AI) atau Flu Burung, khususnya terkait pelaksanaan kompartemen bebas AI.

Kedatangan delegasi yang dipimpin oleh Deputy Director General, Than Naing Tun, didampingi para pejabat lainnya yakni Deputy Director, Zin Mar Aung; Assistant Director Sein Maung Maung, dan Htay Htay Wi (Research) ini disambut langsung oleh Dirjen PKH, I Ketut Diarmita di Ruang Rapat Utama II Ditjen PKH, Selasa (27/8/2019).

“Kami telah jadwalkan untuk datang ke Indonesia untuk mempelajari program pengendalian penyakit sebagai bahan masukan untuk pemerintah Myanmar, dalam upaya peningkatan status kesehatan unggas agar dapat kami aplikasikan,” ungkap Than Naing Tun menyampaikan apresiasi pemerintah Myanmar terhadap langkah-langkah Ditjen PKH terkait keberhasilan Infonesia dalam pengendalian AI pada unggas.

Menanggapi hal tersebut Ketut menjelaskan, AI merupakan salah satu dari 15 penyakit hewan yang dapat ditularkan ke manusia (Zoonosis) prioritas untuk dikendalikan pemerintah. Penyakit AI menyerang semua jenis unggas domestik termasuk ayam, bebek, dan burung puyuh. Ketut juga menjelaskan Indonesia tertular virus AI sejak tahun 2003 dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah di Indonesia.

"Dalam upaya melindungi kesehatan manusia dan produksi ternak unggas di Indonesia, pemerintah gencar melakukan program pengandalian dan penanggulangan flu burung melalui strategi utama dan strategi penunjang," ungkap Ketut yang juga menjelaskan bahwa salah satu strategi utama yaitu pelaksanaan Kompartemen Bebas AI dalam rangka peningkatan status kesehatan unggas nasional.

“Kami berhasil menekan kasus AI di peternakan rakyat dan memberikan sertifikasi kompartemen bebas AI bagi peternakan komersial, sehingga sertifikasi ini membuat produk unggas Indonesia dapat diekspor ke beberapa negara, salah satunya Jepang yang memiliki persyaratan kesehatan hewannya sangat ketat,” ujar Ketut. 

Lebih lanjut Ketut memaparkan bahwa kompartemen bebas AI di Indonesia telah ada sebanyak 177 unit di 10 provinsi, yaitu: Jawa Barat (75), Lampung (14), Jawa Timur (32), Banten (14), Jawa Tengah (6), Bali (13), NTT (6), DI Yogyakarta (4), dan Kalimantan Barat (5), dan Sulawesi Selatan (8).

Selain telah mengekspor Daging Wagyu ke Myanmar, dengan adanya penerapan sistem kompartementalisasi bebas AI di Indonesia ini, Indonesia berhasil mengekspor Hatching Egg (telur tetas) ke Myanmar. Sejak Tahun 2015- 2018. Berdasarkan data rekomendasi pengeluaran, ekspor Hatching Egg ke Myanmar mencapai 10.508.712 butir telur HE dengan nilai sekitar Rp. 109,8 miliar.

Selain implementasi sertifikasi kompartemen bebas AI, Indonesia juga bekerjasama dengan FAO dalam program pengendalian AI di Indonesia melalui peningkatan biosekuriti peternakan dan penguatan kapasitas petugas dalam merespon kasus dan kapasitas laboratorium.

Ketut juga menambahkan bahwa pemerintah terus mendorong peternakan unggas untuk meningkatkan daya saing dengan implementasi manajemen pemeliharaan melalui penerapan Good Animal Husbandry Practices (GAHP) dan juga menerapkan sistem kompartemen bebas penyakit AI. (Rilis/NDV)

PENERAPAN HALAL PADA MANAJEMEN RANTAI PASOK DAGING



Pelatihan Logistik Rantai Dingin pada Produk Daging di IPB (Foto: Istimewa)

Paradigma masyarakat Indonesia akan sertifikasi halal saat ini adalah hanya mengandalkan kepercayaan dan label Halal dalam produk walaupun masyarakat tidak tahu apakah proses pembuatan produk penyimpanan transportasi serta distribusinya Halal atau tidak. Oleh karenanya, harus ada suatu cara untuk menjamin sertifikasi halal yang berlaku dari end to end dan dilakukan secara pararel untuk produk proses dan Logistik.

"Untuk itu yang perlu dipikirkan adalah najis removal yang sesuai dengan keperluan di bisnis cold chain," kata Pengajar Institut Transportasi dan Logistik Trisakti, Raden Didiet Rachmat Hidayat dalam Pelatihan Logistik Rantai Dingin pada Produk Daging di Kampus Fakultas Peternakan IPB Darmaga Bogor (27/8).

Pelatihan diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI), berlangsung selama dua hari pada 27-28 Agustus 2019. Ia menambahkan, saat ini sudah berkembang jasa layanan untuk industri di seluruh dunia, yang bertujuan menyediakan solusi pembersihan dan konsultasi yang profesional karena kurangnya kesadaran akan pembersihan najis di kalangan industri halal, konsumen muslim dan non muslim.

Didiet menjelaskan, makanan halal dan layanan halal harus mematuhi keagamaan dan ketaatan terhadap hukum Syariah. Halal mencakup dan menunjuk tidak hanya untuk makanan dan minuman tetapi juga semua urusan kehidupan sehari hari.

Halal dan haram membedakan yang sah dari yang tidak sah, masing masing mengacu pada hal hal yang dinyatakan dalam hukum Islam yang dikenal sebagai Shariah (Al Shariah), yang merupakan sistem kehidupan moral yang mengatur setiap aspek kehidupan muslim.

"Manajemen rantai pasokan halal bertujuan untuk memproses mengelola pengadaan pergerakan penyimpanan dan penanganan bahan bagian ternak dan inventaris setengah jadi makanan, serta non pangan. Selain itu informasi terkait bersama dengan arus dokumentasi melalui organisasi yang mematuhi prinsip-prinsip umum Hukum Syariah," tandas Didiet. (AS)

WORKSHOP BIOSEKURITI UNTUK TINGKATKAN DAYA SAING PERUNGGASAN

Foto bersama workshop biosekuriti di Jakarta, Rabu (28/8/2019). (Foto: Infovet/Ridwan)

Dalam rangka Hari Lahir dan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan, yang ditetapkan setiap 26 Agustus sampai 26 September tiap tahunnya, PT Gallus Indonesia Utama (GITA), berkontribusi dengan menyelenggarakan
workshop biosekuriti bertajuk “Meningkatkan Daya Saing Perunggasan dengan Menerapkan Biosekuriti Tiga Zona”, Rabu (28/8/2019).

“Kami berniat untuk ikut berkontribusi dalam rangka Hari lahir dan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia,” ujar Direktur Utama PT Gallus, Bambang Suharno, dalam sambutannya.

Workshop dihadiri oleh Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Kementerian Pertanian, Fadjar Sumping Tjatur Rasa. Dalam pidatonya Fadjar mengatakan, saat ini tren global sudah mengarah pada upaya pencegahan penyakit ternak, khususnya unggas. 

“Bukan lagi untuk pengobatan, tapi bagaimana upaya dalam mencegah penyakit. Biosekuriti ini satu hal yang sangat penting dan utama dalam menjaga terjadinya penyakit atau menyebarnya penyakit, jadi mengupayakan agar agen penyakit ini tidak masuk ke unggas,” katanya.

Menurutnya, ada banyak cara yang bisa dilakukan peternak dalam menghalau penyakit, diantaranya dengan membuat pembatas di peternakan atau mengontrol barang yang bisa menjadi media pembawa penyakit.

“Saat ini biosekuriti bisa diatur dan disesuaikan dengan kebutuhan agar tidak menjadi mahal. Contoh, mencuci tangan itu merupakan tindakan biosekuriti. Sederhana saja, seperti biosekuriti tiga zona ini, bagaimana peternak bisa memilah antara zona kotor dan bersih untuk menghindari terjadinya penyakit,” ucap Fadjar.

Pada kesempatan tersebut, turut mengundang pembicara dari National Technical Advisor FAO ECTAD Indonesia, Alfred Kompudu, yang memberikan materi mengenai meningkatkan daya saing perunggasan dengan penerapan biosekuriti tiga zona, serta Sekretaris Umum ADHPI (Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia), Muhammad Azhar, yang memaparkan mengenai penerapan biosekuriti tiga zona guna menambah keuntungan peternak. Sesi presentasi dimoderatori oleh Direktur HRD PT Gallus, Rakhmat Nuriyanto.

Penyerahan buku panduan biosekuriti secara simbolis kepada Dirkeswan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa (ketiga kanan). (Foto: Infovet/Ridwan)

Dalam
workshop tersebut, seluruh peserta juga mendapat buku “Panduan Biosekuriti Peternakan Unggas Pasca Pelarangan AGP” yang ditulis oleh Alfred Kompudu. Selain itu, juga dilakukan penyerahan buku secara simbolis kepada Dirkeswan. (RBS)

PERESMIAN ANIMAL CENTER HINGGA HADIRNYA DRH TV

Peluncuran DRH TV. (Foto: Infovet/Septiyan)

Peresmian animal center Drh Nugroho di Kota Semarang menjadi harapan baik bagi pecinta hewan, sebab ini akan menjadi pusat layanan kesehatan hewan satu-satunya di Indonesia. Harapannya, animal center ini akan mudah diakses bagi seluruh pecinta hewan yang ada di Semarang maupun di kota-kota lainnya. Animal center diresmikan di Jalan Imam Bonjol 184, Kota Semarang, rabu (21/8). 

Peresmian ini dihadiri oleh LansiaVet (doter hewan senior) yang berasal dari beberapa wilayah seperti Semarang, Makasar, Lampung, Surabaya, Bandung, Jabodetabek dan Jogjakarta. Peresmian animal center ditandai dengan adanya penandatanganan MoU antara pihak animal center, Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) dan Semarang Zoo.

Ditemui tim Infovet di sela-sela acara, Eko Nugroho selaku putra dari Drh Nugroho, menyatakan bahwa pendirian animal center ini diinisiasi atas cita-cita mulia sang ayah yang pada tahun 1970-an pernah membuka klinik kesehatan hewan di Semarang. “Sehingga adanya animal center ini melanjutkan apa yang sudah pernah dilakukan oleh ayah sejak dulu,” kata Eko. Pendirian animal center ini merupakan bukti kuatnya persahabatan antar dokter hewan yang ada di Indonesia.

Sementara, Ketua PB PDHI, Drh Muhammad Munawaroh, menyambut baik adanya pendirian animal center yang memiliki fasilitas cukup lengkap, seperti adanya laboratorium diagnosis, tempat rawat inap hewan, ruang operasi, serta bisa dijadikan sebagai sarana belajar bagi dokter hewan muda maupun mahasiswa kedokteran hewan di Indonesia.

Usai peresmian animal center, malam harinya dilanjutkan dengan peluncuran DRH TV. Sebuah channel yang berisi informasi seputar dunia kedokteran hewan dan kesehatan  hewan. Ketua PB PDHI, Munawaroh, mengatakan bahwa martabat kedokteran hewan di Indonesia harus semakin naik, salah satunya dengan upaya memberikan informasi kepada masyarakat yang membutuhkan pengetahuan seputar dunia kesehatan hewan, sehingga dapat dicapai kondisi sehat bagi hewan dan juga pemiliknya. 

“Segala sesuatu yang akan menang di dunia ini adalah mereka yang menguasai media informasi, oleh karena itu adanya DRH TV diharapkan mampu menjadi portal berita yang aktual mengupas informasi seputar kesehatan hewan. Adapun progam rutin yang akan diadakan dalam DRH TV diantaranya Diary DRH, VETPEDIA, VetNews, VetTips dan VetTalk.

DRH TV diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah (Jateng). Melalui sambutan tertulisnya, Gubernur Jateng berharap agar DRH TV dapat dioptimalkan untuk promosi potensi hewan agar bisa dikenal lebih masif. Selain itu, diharapkan juga dengan adanya DRH TV bisa menjadi kanal dalam mempromosikan potensi hewan di Jateng. Sambutan tertulis tersebut dibacakan oleh Kabid e-Goverment Dinas Kominfo Prov Jateng, Drs Muhammad Agung. (SNE)

MEMAKSIMALKAN POTENSI PRODUKSI DENGAN CLOSED HOUSE

Kandang closed house terbukti meningkatkan performa produksi ternak. (Sumber: Istimewa)

Semakin hari konsumsi daging dan telur ayam per kapita masyarakat Indonesia semakin meningkat. Berbagai hal pula dilakukan stakeholder di sektor perunggasan untuk terus memacu dan mengefisienkan produksinya, salah satunya dengan membangun kandang closed house.

Kenaikan konsumsi masyarakat tentunya harus pula dibarengi oleh peningkatan produksi, bila keadaan tidak berimbang, maka akan terjadi kelangkaan. Disaat yang bersamaan, keterbatasan lahan juga menjadi kendala dalam tumbuhnya bisnis perunggasan di Indonesia. Oleh karenanya, upaya yang dilakukan integrator maupun peternak dalam meningkatkan kapasitas produksi dan meningkatkan efisiensi mereka yakni dengan melakukan instalasi kandang closed house. Namun sistem ini juga punya kekurangan dan kelebihan. 

Ayam Nyaman, Produksi Aman
Nyatanya perkembangan teknologi dibidang pemuliaan unggas sangat berimbas pada performa unggas. Misalnya saja 20 tahun lalu ayam broiler baru bisa dipanen pada usia 40-45 hari dengan bobot 1 kg lebih sedikit, namun kini peternak sudah bisa memanen broiler zaman now pada usia 35-an hari dengan bobot 2 kg bahkan lebih.

Peningkatan performa seperti ini tentunya memiliki kompensasi yang harus dibayar, salah satunya pada aspek kesehatan ternak. Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar FKH IPB, Prof drh I Wayan Teguh Wibawan, yang juga konsultan kesehatan unggas. Kepada Infovet, Wayan mengungkapkan ayam di zaman sekarang sangat rentan terhadap penyakit karena kompensasi dari peningkatan gen pertumbuhannya.

“Karena gen pertumbuhannya dipercepat, gen-gen lainnya kan pasti di-suppress, sehingga ayam jadi mudah stres (tertekan) terutama oleh keadaan lingkungan. Nah, ketika ayam berada dalam keadaan stres oleh cekaman lingkungan, sistem imunnya otomatis menurun karena hormon glukokortikoid banyak disekresikan, sehingga memengaruhi kinerja timus dan menghambat produksi sitokin dan interleukin yang merangsang dan mengkoordinasikan aktivitas sel darah putih,” tuturnya.

Wayan menambahkan, hal tersebut juga dapat diperparah oleh kondisi nutrisi yang kurang bergizi dan keadaan di kandang yang kurang baik. Bila tingkat amonia di kandang tinggi dan selaput mukosa teriritasi olehnya, maka infeksi bakteri yang seharusnya bersifat komensal dapat terjadi maupun patogen, di sinilah penyakit pernafasan bermula. Melalui penjabaran itu, Prof Wayan menegaskan, karakteristik broiler di era ini sebenarnya tidak cocok dengan... (CR)


Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2019.

ALFRED KOMPUDU (FAO) DAN M AZHAR (ADHPI) SIAP MENJADI NARASUMBER WORKSHOP BIOSEKURITI




Alfred Kompudu dari FAO ECTAD Indonesia dan Drh. M Azhar dari Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) yang juga mantan Direktur Kesmawet (Kesehatan Masyarakat Veteriner) siap menjadi narasumber Workshop Biosekuriti yang diselenggarakan Gita Organizer bekerjasama dengan GITA Pustaka dan Majalah Infovet.

Workshop akan berlangsung Rabu, 28 Agustus 2019 di Hotel Sahati yang berlokasi tidak jauh dari kantor pusat Kementerian Pertanian Jakarta, diselenggarakan dalam rangka Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan. Adapun tema workshop adalah “Meningkatkan Daya Saing Perunggasan dengan Menerapkan Biosekuriti Tiga Zona”.

Menurut kedua narasumber, Indonesia perlu terus meningkatkan daya saing perunggasan karena ancaman masuknya impor daging ayam dari Brazil kian nyata. Terlebih dengan kekalahan Indonesia di sidang WTO atas gugatan Brazil yang sejak lama mengincar pasar Indonesia dan merasa dihambat oleh Pemerintah Indonesia dengan berbagai regulasi. Salah satu cara untuk meningkatkan daya saing adalah dengan menerapkan biosekurit dengan baik.

Biosekuriti tiga zona merupakan konsep penerapan biosekuriti yang kini paling populer, karena mudah diterapkan dan terbukti efektif serta mampu menurunkan biaya pengobatan, mengurangi angka kematian serta otomatis meningkatkan laba peternak.

Dalam pelatihan ini , Alfred Kompudu yang juga dikenal sebagai Master Trainer Biosekuriti pada ACIAR juga akan menjabarkan "Analisa Ekonomi Implementasi Bio-3 Zona" hasil monitoring Oktober 2015 hingga Maret 2017.

Diantaranya keuntungan biosekuriti adalah penurunan penggunaan antibiotik 40% dan desinfektan 30%. Selain itu, penghematan biaya OVK (obat, vitamin, vaksin) hingga 10 Juta Rupiah (USD. 770. – Kurs $ awal tahun 2017).

Hari Lahir dan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan

Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan berlangsung setiap tahun antara tanggal 26 Agustus sampai 26 September. Adapun tanggal 26 Agustus adalah Hari Lahir Peternakan dan Kesehatan Hewan. Acara workshop diselenggarakan sebagai salah satu bentuk upaya meningkatkan kinerja peternakan dan kesehatan hewan, sehingga workshop ini sebagai bentuk kontribusi memeriahkan kegiatan dalam rangka Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Dr. Drh. I Ketut Diarmita menyambut baik dan mendukung acara ini .

Adapun mengenai Hari Lahir Peternakan dan Kesehatan Hewan, sebagaimana disebut dalam Buku berjudul Hari Lahir Peternakan dan Kesehatan Hewan terbitan GITAPustaka, penetapan tanggal 26 Agustus merukan hasil kajian Tim Ditjen Peternakan tahun 2004. Dari berbagai tanggal bersejarah, disimpulkan tanggal 26 Agustus tahun 1836 merupakan momen penting  karena pertama kalinya pemerintah (Hindia Belanda) secara resmi menerbitkan ketetapan melalui “plakat” yaitu suatu bentuk hukum atau dokumen berupa “Maklumat Pemerintah” yang menetapkan tentang “Larangan pemotongan sapi betina produktif.

Maklumat tersebut diumumkan dan disebar-luaskan dengan sifat “pemberlakuan segera/langsung” tanpa tenggang waktu sebagaimana Undang-Undang pada umumnya,  Atas dasar itulah maka tanggal 26 Agustus ditetapkan sebagai Hari Lahir Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Ayo, jangan lewatkan kesempatan mengikuti workshop menarik ini untuk meningkatkan daya saing perunggasan sekaligus ikut berkontribusi dalam Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pendaftaran hubungi: 0818-0659-7525 (Aida).
***

BIOSEKURITI DAN VAKSINASI WAJIB HUKUMNYA

Mencuci kandang merupakan bagian dari biosekuriti. (Sumber: Istimewa)

Memiliki kandang closed house dengan segala peralatannya yang canggih tentunya menjadi idaman semua peternak. Namun semua akan terasa percuma apabila tidak didukung oleh manajemen biosekuriti dan vaksinasi yang baik dan benar.

Kandang closed house masih menjadi barang mahal bagi peternak Indonesia. Nilai rupiah yang diinvestasikan untuk closed house meskipun “worth it” tetap saja dibutuhkan pertimbangan matang dalam membangunnya. Akan sangat sempurna bila closed house juga dibarengi dengan manajemen pemeliharaan, biosekuriti dan vaksinasi yang baik. Di luar sana, tidak jarang peternak yang menerapkan biosekuriti yang baik dan tetap mendapatkan performa yang baik.

Selalu Ingat Biosekuriti
Di era non-AGP yang sudah berlangsung selama setahun lebih ini, peternak sudah pasti tahu dan mengerti bahwa performa di lapangan berkurang. Berbagai upaya dijajaki untuk mendapatkan performa yang baik, yang mampu membangun dan berinvestasi pada closed house, bagaimana dengan yang tidak? 

Jangan buru-buru berkecil hati jika tidak dapat membangun closed house, ingat selalu bahwa penerapan biosekuriti yang baik juga akan mendongkrak performa. Fokus beternak adalah membuat hewan senyaman mungkin dan sesehat mungkin, sehingga performa mereka meningkat, baik layer maupun broiler.

Yang sering peternak lupakan yakni manajemen biosekuriti yang baik dan benar. Padahal dalam usaha budidaya unggas manajemen biosekuriti sudah seperti mengucap dua kalimat Syahadat dalam ajaran Islam. Wajib dilaksanakan dan sangat diutamakan karena merupakan benteng pertahanan utama dalam menghalau berbagai penyakit infeksius. Perlu diingat pula bahwa prinsip biosekuriti adalah langkah-langkah pengamanan biologik yang dilakukan untuk pencegahan menyebarnya agen infeksi patogen pada ternak.

Menurut dosen FKH UGM dan konsultan kesehatan unggas, Prof Charles Rangga Tabbu, biasanya kendala dari penerapan biosekuriti di lapangan adalah... (CR)


Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2019.

USAID PREDICT-INDONESIA REKOMENDASIKAN KEWASPADAAN TERHADAP RISIKO TERJANGKITNYA ZOONOSIS PADA MASYARAKAT

USAID PREDICT Indonesia, yang diwakili oleh Pusat Studi Satwa Prima (PSSP) IPB University dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) menyampaikan hasil temuan kegiatan surveilans lapangan pada satwa liar dan kesehatan manusia yang telah dilakukan sejak dua tahun terakhir di wilayah Minahasa, Sulawesi Utara.
   
Dalam temuan surveilans yang dibagi menjadi dua bagian, yaitu potensi zoonosis yang dibawa dari satwa liar ke manusia, didapati beberapa hal sebagai berikut.  Pertama, pola konsumsi bushmeat atau daging satwa liar menunjukkan tren yang terus meningkat di seluruh lapisan sosial ekonomi masyarakat dari tahun ke tahun (dengan variasi kenaikan dan penurunan permintaan jenis daging satwa liar tertentu).  Kedua, potensi terjangkitnya zoonosis pada manusia perlu tetap diwaspadai, mengingat budaya konsumsi makanan daging satwa liar, kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan kurangnya pengetahuan tentang bahaya zoonosis itu sendiri.

Dr. drh. Joko Pamungkas, MSc., Koordinator USAID PREDICT-Indonesia mengatakan: “Kegiatan lapangan dimaksudkan untuk mengantisipasi timbulnya potensi zoonosis yang dibawa oleh satwa liar ke manusia berupa virus yang bersifat patogenik atau menimbulkan penyakit melalui berbagai interaksi yang mungkin timbul sebagai dampak perilaku manusia.”
“Adalah sebuah fakta yang tidak dapat dibantah bahwa 75% penyakit infeksius baru/berulang pada manusia ditularkan oleh hewan (zoonosis) dan 60% dari penyakit zoonotik tersebut ditularkan melalui satwa liar.”

Dr. drh Joko Pamungkas, MSc. Koordinator USAID-PREDICT Indonesia (kanan berdiri) memberikan paparan tentang temuan hasil surveilans lapangan (Foto : USAID)


Sementara itu, Dr. Ir. Yohannis R. L. Tulung, MSi, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi,  yang turut memberi dukungan kegiatan USAID PREDICT-Indonesia di lapangan mengatakan: “Kesehatan manusia sangat erat kaitannya dengan kontak, interaksi, dan konsumsi (daging) satwa liar – artinya satwa liar yang biasa dikonsumsi oleh manusia seperti ular, kelelawar, dan tikus sangat berpotensi menularkan penyakit zoonotik, seperti nipah, ebola, dan zika yang mematikan.

dr. Merry Mawardi, SpA, Kepala RSUD Noongan, menyambut positif kerjasama dengan USAID PREDICT-Indonesia: “Kerjasama ini berhasil meningkatkan kapasitas dalam melaksanakan kegiatan penelitian di pusat layanan kesehatan masyarakat, selain itu, juga terjadi peningkatan dalam penerapan biosafety secara komprehensif yang dapat meningkatkan praktik-praktik laboratorium yang baik.”


Peran Kelelawar dalam Keseimbangan Ekosistem
Sebagaimana diketahui, kelelawar memiliki fungsi sebagai polinator (pembantu penyerbukan tanaman) di alam.  Hilangnya kelelawar di alam, dapat mengakibatkan berkurangnya keanekaragaman seluruh tanaman buah dan bunga (lebih dari 300 jenis).  Selain itu, kelelawar juga memiliki fungsi sebagai penyebar benih tanaman keras yang tumbuh di hutan atau sebagai agen reboisasi alamiah.

Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan oleh tim USAID PREDICT-Indonesia dari tahun 2017-2019, diketahui bahwa sebanyak 1 juta lebih kelelawar diburu per tahunnya untuk memenuhi permintaan pasar di pulau Sulawesi saja. Hal tersebut tentu sangat mengkhawatirkan dalam perspektif keseimbangan ekosistem di alam, karena hilangnya rantai polinator alami. Dalam kaitannya dengan konservasi kelelawar, Prof. Dr. HI Syamsu Qamar Badu, M.Pd Rektor Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Negeri Gorontalo mengatakan: “Salah satu hal yang kami sedang jalankan adalah konservasi kelelawar di desa Olibu, Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo dan di Pulau Ponelo, Kecamatan Ponelo Gorontalo Utara sebagai upaya mempertahankan ekosistem alam yang berimbang.”

Di bagian lain, hasil surveilans terhadap sampel biologi manusia kelompok masyarakat berisiko tinggi di Sulawesi, didapati bahwa belum ditemukan virus patogenik zoonosis, tetapi tetap memiliki risiko tinggi berdasarkan hasil karakterisasi perilaku pada kelompok masyarakat tersebut. 

Dodi Safari, PhD. peneliti dari EIMB mengatakan: “Walaupun belum ditemukan virus zoonosis pada kelompok masyarakat berisiko tinggi di wilayah Sulawesi, tetapi tetap harus diwaspadai adanya risiko terpapar zoonosis yang lebih tinggi karena kegiatan berinteraksi dengan satwa liar yang tidak aman, misalnya perburuan kelelawar di alam liar.”

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa, dr. Maya Rambitan, mengatakan: “Masukan dan rekomendasi dari kegiatan USAID PREDICT-Indonesia akan kami jadikan bahan kebijakan di bidang kesehatan masyarakat, khususnya mengenai bahaya paparan zoonosis akibat adanya kontak dengan satwa liar, baik dalam bentuk konsumsi maupun kegiatan berburu.”

“Terdapat hal penting lainnya selain fakta tersebut di atas, yaitu pentingnya mempraktekkan kegiatan hygienitas di tingkat kelompok masyarakat dan pemburu satwa liar agar tidak menjadi agen penyebar penyakit zoonosis di masyarakat.”

Dalam kesempatan diseminasi hasil surveilans ini, juga turut dibagikan dan dipopulerkan sebuah buku adaptasi dengan judul “Hidup Aman Berdampingan Dengan Kelelawar” dari tim USAID PREDICT-Indonesia sebagai salah satu jawaban menghindari penyakit zoonosis yang dibawa oleh kelelawar. Buku tersebut dapat di download di : 

INDONESIA SIAP PERBESAR PANGSA EKSPOR BABI



Meluasnya persebaran virus flu babi Afrika, Indonesia jajaki peluang perbesar ekspor babi. (Foto: Pixabay)


Seiring meluasnya persebaran virus African Swine Fever (ASF) atau flu babi Afrika di sejumlah negara produsen, Indonesia tengah giat menjajaki peluang untuk memperbesar pangsa pasar ekspor babi. Sejauh ini, kasus kematian akibat virus tersebut belum ditemukan di Indonesia meski telah ditemukan di negara Asia Tenggara lain seperti Vietnam, Laos, dan Kamboja.

"Peluang untuk memperluas ekspor sangat besar. Kami sedang dalam upaya ke arah itu," kata Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Fini Murfiani, Kamis (22/8).

Fini tak merinci negara mana saja yang masuk dalam daftar penjajakan ekspor. Namun, tak memungkiri terdapat peluang ke negara-negara yang tengah menghadapi koreksi produksi akibat wabah virus flu babi Afrika.

"Produksi babi sendiri tentunya surplus. Negara tujuan ekspor mana pun, selama ada peluang kami akan kejar," sambung Fini.

Pasar utama ekspor babi baik dalam bentuk hidup maupun daging sendiri masih dipegang Singapura. Kementerian Pertanian mencatat nilai ekspor babi ke negara tersebut sejak 2014 sampai semester I/2019 mencapai nilai Rp3,04 triliun.

Sementara nilai total ekspor babi hidup yang telah dicatat Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai Rp4,31 triliun (kurs Rp14.000/US$) sepanjang sepanjang 2013-2017.

Berdasarkan dat BPS, rata-rata konsumsi daging babi di Indonesia berkisar di angka 0,22 kg per kapita per tahun selama periode 2013-2017 dengan konsumsi tertinggi pada 2017 di angka 0,26 kg per kapita per tahun.

Terlepas dari statistik tersebut, konsumsi daging babi tak bisa dibilang sedikit. Ketua Gabungan 
Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali Ketut Hari Suyasa menyebutkan konsumsi daging babi juga merupakan bagian dari budaya yang tak terpisah dari masyarakat Bali.

Hal ini terlihat pula pada tren konsumsi di sejumlah provinsi sentra produksi daging babi seperti Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Rencana untuk memperluas pasar ekspor pun disambut baik oleh Hari selaku peternak. Kendati demikian, dia mengharapkan pemerintah dapat memberi bimbingan lebih kepada peternak rakyat agar manfaat perluasan pangsa ekspor tersebut tak hanya dirasakan segelintir pelaku usaha. (Sumber: bisnis.com)


PRESIDEN JOKOWI TINJAU KAPAL TERNAK

Presiden Jokowi saat meninjau Kapal Ternak Camara Nusantara. (Foto: Humas Kementan) 

Presiden Jokowi melakukan kunjungan ke Kapal Ternak Camara Nusantara (CN) 3, Rabu (21/8). Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita mengemukakan, Presiden Jokowi tidak hanya melihat proses loading masuknya ternak sapi ke kapal ternak, namun juga ikut menaiki kapal untuk melihat langsung sapi yang telah memasuki kandang dalam kapal ternak CN 3.

“Kunjungan Bapak Presiden Joko Widodo melihat kapal ternak, merupakan bukti dukungan dan perhatian beliau yang besar kepada pembangunan peternakan”, ujar Ketut dalam keterangan resmi yang diterima Infovet, Jumat (23/8). 

Pada kunjungan tersebut, Presiden menyampaikan rasa syukurnya bahwa telah tersedia kapal ternak yang melayani pengangkutan ternak sapi dari Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk tujuan pulau Jawa terutama Jakarta dan sekitarnya dalam kondisi muatan penuh. 

Lebih lanjut Presiden Jokowi menyampaikan harapannya, bahwa ke depan ternak-ternak sapi NTT juga ada yang dikirim dalam bentuk daging beku ke wilayah konsumen.

“Oleh karena itu, kita harus terus bersinergi dan bahu-membahu antara pemerintah dan stakeholder, untuk dapat mewujudkan harapan Bapak Presiden,”ujar Ketut.

Menurut Ketut, sejak diresmikan penggunaan Kapal Khusus Ternak oleh Pemerintah, pada 10 November 2015 hingga pertengahan 2019, jumlah ternak yang telah diangkut menggunakan dengan moda transportasi ini dari wilayah produsen mencapai 147.164 ekor.

“Melalui kapal ternak ini, kita berharap keberadaan ternak dan dinamika ketersediaan ternak di Indonesia dapat terpantau dengan baik, sehingga kebijakan yang diambil pemerintah dalam penyediaan daging sapi menjadi lebih optimal,” ungkapnya.

Lanjut Ketut, pemanfaatan kapal ternak ini dapat dioptimalkan untuk mengisi muatan balik kapal dengan produk yang dibutuhkan di daerah produsen sehingga terjadi peningkatan hubungan perdagangan yang lebih baik antar-daerah. “Hal ini perlu dukungan pemerintah daerah dalam memaksimalkan efektifitas pemanfaatan kapal ternak ini yang pada akhirnya mendukung pembangunan peternakan kedepan yang lebih baik,” ungkap Ketut.

Kualitas Ternak Terjaga

Anis salah satu pengirim ternak sapi pengguna kapal ternak, yang juga berada di lokasi tersebut menyampaikan kebahagiaannya dapat bertemu Presiden Jokowi pada saat proses loading ternak sapinya ke CN 3. Anis merasakan manfaat dengan adanya kapal ternak, yang dapat mengangkut ternak sapi dari Provinsi NTT ke Jakarta, Samarinda dan Banjarmasin.

“Senang pakai kapal ternak karena susut bobot badan sapi sampai tempat tujuan lebih kecil dibanding pakai kargo dan sapinya lebih terjamin selama perjalanan," ungkap Anis.

Menurutnya penurunan bobot badan sapi yang diangkut dengan kapal ternak, berdasarkan pengalamannya selama ini kurang dari 10%, sedangkan kapal kargo lebih dari 10%.“Pengadaan kapal ternak merupakan progam pemerintah yang sangat bagus, solusi bagi kami peternak di NTT,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Benny, pengirim ternak sapi pengguna kapal ternak, saat ditemui di Pasar Ternak Lili Kabupaten Kupang. Benny lebih suka mengirimkan ternak-ternak sapinya menggunakan kapal ternak, karena penurunan bobot badan sapinya lebih rendah dibanding menggunakan kapal kargo. Berdasarkan pengalaman Benny, penurunan bobot badan ternak sapi yang dikirim dengan kapal ternak lebih rendah berkisar 6-8%, dibandingkan dengan kapal kargo yang mencapai 12-15%.

Mendengar lansung apresiasi dari peternak terkait Kapal Ternak, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian Pertanian Fini Murfiani mengatakan pengiriman sapi melalui fasilitasi kapal khusus ternak membuat kualitas ternak dapat terjaga dari tempat asal hingga ke wilayah tujuan konsumsi. Karena memperhatikan prinsip kesejahteraan hewan untuk menciptakan kondisi nyaman bagi hewan ternak dalam masa pengangkutan dan pengiriman.

“Dampak kapal ternak ini juga dapat meminimalisasi penyusutan bobot ternak karena sering terjadi kasus kematian karena penanganan hewan ternak yang kurang layak di atas kapal,” kata Fini.

Kepala Dinas Peternakan Propinsi NTT, Danny Suhadi mengungkapkan bahwa pihaknya sangat berterima kasih atas fasilitasi kapal ternak dari pemerintah pusat untuk mengangkut sapi dari NTT menuju wilayah produsen. Lebih lanjut Danny menjelaskan bahwa 5 kapal ternak yang mengangkut ternak sapi dari NTT adalah kapal CN 1, CN 2, CN 3, CN 4 dan CN6.

”Kelima kapal tersebut utk distribusi ternak sapi NTT ke pulau Jawa terutama Jakarta dan pulau Kalimantan melalui Samarinda dan Banjarmasin dengan muatan atau loading faktor rata-rata mencapai 100% dari kapasitas muatan angkut kapal sebesar 500 ekor per kapal," jelas Danny.(Rilis/INF)

KOLABORASI TERBAIK KANDANG CH-VAKSINASI-BIOSEKURITI

Pemeliharaan ayam dengan kandang sistem closed house. (Sumber: dailymail.co.uk)

Kemunculan kasus penyakit dalam suatu lingkungan peternakan unggas secara alamiah tidaklah terjadi secara tiba-tiba, akan tetapi secara step by step, sesuai dengan interaksi antara agen penyakit yang ada dengan ayam di kandang. Lingkungan kandang closed house (CH) sekalipun berpotensi adanya agen penyakit yang juga cukup tinggi jika sanitasi persiapan kandang yang dilakukan tidak sesuai dengan target agen penyakit. Pemahaman atas tulisan ini akan mempermudah peternak melakukan tindakan pencegahan penyakit secara efektif dan strategis, baik melalui biosekuriti dan vaksinasi yang tepat.

Kelebihan Sistem Ventilasi Kandang Closed House
Konsep kandang “sehat” adalah berventilasi, yaitu adanya proses penggantian udara dalam ruang oleh udara segar dari luar, baik secara alami maupun dengan bantuan alat mekanis (kipas angin) yang diperlukan untuk:

1. Memenuhi kebutuhan oksigen ayam dalam kandang.
2. Membuang gas-gas beracun di dalam ruangan kandang.
3. Membatasi naiknya suhu panas dan kelembaban di dalam kandang.
4. Menciptakan temperatur efektif sesuai kebutuhan ayam/fasenya.

Kelebihan ventilasi kandang CH di atas akan tidak optimal jika manajemen pengendalian agen penyakit tidak dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, karena kemampuan agen penyakit  melakukan invasi  dari suatu agen penyakit dapat mengalami perubahan, tergantung kondisi lingkungannya.

Di lapangan, jika suatu agen penyakit tidak mendapatkan induk semang atau lingkungan yang sesuai, maka lama-kelamaan agen penyakit tersebut...

Drh Sumarno
(Head of AHS Central & Outer Island
PT Sierad Produce, Tbk)


Selengkapnya baca di Majalah infovet edisi Agustus 2019.

VETVAGANZA 2019 : BUKAN SEKEDAR REUNI


Bertemu dengan kawan lama alias reuni tentunya akan menjadi sesuatu yang menenangkan. Hal inilah yang terjadi di acara Vet Vaganza 2019 lalu di Lapangan IPB Baranang Siang, Bogor (18/8) yang lalu. Acara tersebut merupakan ajang silaturahmi alumni FKH IPB lintas angkatan yang rutin digelar setiap 2 – 3 tahun sekali.

Ketua Panitia drh Dodi Irawan Suparno menghaturkan rasa terimakasihnya kepada semua pihak yang membantu menyukseskan acara ini, ia juga mengapresiasi kepada seluruh angkatan yang telah hadir dalam acara tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni (IKA) FKH IPB drh Fitri Nursanti Poernomo juga mengatakan bahwa Vet Vaganza sedianya bukan hanya ajang silaturahmi tetapi juga ajang penggalangan dana beasiswa untuk mahasiswa FKH IPB yang tidak mampu.“ Tradisi ini sudah ada sejak dulu, kami hanya meneruskannya. Nantinya harapan kami tradisi ini harus dilanjutkan,” tutur Fitri. Dalam acara tersebut, diserahkan bantuan beasiswa yang terkumpul dari alumni sebesar 120 juta rupiah.

Donasi Beasiswa IKA FKH IPB untuk Mahasiswa FKH IPB

Turut pula hadir Ketua Umum Himpunan Alumni IPB Ir R. Fathan Kamil, menurutnya ajang seperti ini, selain bermanfaat dan menjalin silaturahmi juga menunjukkan bahwa alumni IPB memiliki ikatan yang solid. Hal senada juga dituturkan oleh Dekan FKH IPB drh Srihadi Agung Priyono.

Selain itu acara juga diramaikan oleh penampilan dari klinik musik FKH IPB. Klinik musik merupakan grup musik yang beranggotakan mahasiswa FKH IPB dan cukup populer pada tahun 80-an. Lagu yang dibawakan oleh klinik musik sangat bernuansa kampus, riang, jenaka dan sesekali bernada mengkritik pemerintahan pada masa itu.

Turut memeriahkan acara juga hadir Rektor IPB University, Dr. Arif Satria. Bukan cuma sekedar hadir, orang no.1 di IPB tersebut juga menyumbang lagu dalam Vet Vaganza 2019. Semua yang hadir pun turut mengapresiasi penampilan “Mr. Rektor”. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer