-->

ANTIBODI FLU BURUNG TERDETEKSI DI PETERNAKAN SAPI PERAH BELANDA, YANG PERTAMA DI EROPA

Antibodi flu burung telah terdeteksi pada seekor sapi perah di sebuah peternakan sapi perah di Friesland, Belanda, menandai temuan pertama semacam itu pada sapi di Eropa. Tidak ditemukan bukti adanya sirkulasi virus influenza unggas aktif di antara sapi perah di peternakan tersebut.

Menurut Rijksoverheid, Kementerian Dalam Negeri Belanda, pada tanggal 15 Januari, sapi perah di peternakan Friesland diuji dengan sampel acak, yang menunjukkan bahwa tidak ada hewan yang sakit pada saat itu. Analisis sampel susu oleh Wageningen Bioveterinary Research mengungkapkan bahwa tidak ada virus aktif yang hadir. Antibodi juga diuji pada sampel susu seekor sapi, yang menunjukkan bahwa sapi tersebut sebelumnya telah terinfeksi virus.

Otoritas Keamanan Pangan dan Produk Konsumen Belanda (NVWA) mengunjungi peternakan tersebut lagi pada tanggal 22 Januari dan sampel darah dan susu diambil dari semua sapi yang ada. Ini menunjukkan bahwa tidak ada virus influenza unggas di peternakan tersebut.

Hasil tes antibodi diharapkan minggu ini. Ini akan memberikan informasi lebih lanjut tentang apakah hewan-hewan tersebut telah melakukan kontak dengan virus. Mamalia lain di peternakan, seperti anjing, kucing, dan kuda, belum menunjukkan gejala apa pun. Karyawan peternakan, mereka yang berada di peternakan, dan dokter hewan peternakan sedang diuji oleh Dinas Kesehatan Kota.

Pengujian di peternakan khusus ini pada tanggal 15 Januari disebabkan oleh temuan yang terjadi beberapa minggu sebelumnya, pada tanggal 24 Desember 2025, di mana NVWA menerima laporan tentang 2 kucing yang sakit. Salah satu kucing ini dinyatakan positif terkena flu burung dan mati 2 hari kemudian. Setelah laporan ini, NVWA melakukan penelusuran sumber dan kontak. Investigasi mengungkapkan bahwa kucing tersebut berasal dari peternakan sapi perah.

FGD PDHI JABAR 1: SINERGI PROFESI DAN REGULASI KEFARMASIAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN HEWAN

Moderator dan para pembicara FGD 'Sinergi Profesi dan Regulasi Kefarmasian dalam Pelayanan Kesehatan Hewan'. (Foto-foto: Istimewa)

Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat 1 mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bertema 'Sinergi Profesi dan Regulasi Kefarmasian dalam Pelayanan Kesehatan Hewan'. Kegiatan yang dihadiri 105 peserta ini berlangsung di Aula Bos Sondaicus Kantor DKPP Jabar, Bandung, Rabu (28/1/2026). 

Turut hadir Ketua Kelompok Kerja Pengawasan Obat Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan), Drh Arif Wicaksono MSi. Dalam paparannya, Arif menyampaikan kondisi sarana pelayanan kesehatan hewan khususnya untuk hewan peliharaan dan satwa liar yang dalam presentase sekitar 80% masih menggunakan sediaan farmasi/obat-obatan untuk manusia. 

"Ketersediaan apotek veteriner di Indonesia sangat terbatas, baru ada 3 unit," ungkap Arif. Lebih lanjut Arif menyebutkan, jumlah klinik dokter hewan praktik yang terdaftar sebanyak 1.700 klinik/vet care. Sementara jumlah petshop 8.000 unit, yang sebagian besar menggunakan obat-obatan untuk manusia. 

Arif menuturkan belum lama ini telah diselenggarakan pertemuan antara PDHI, Kementan dan BBPOM yang membahas penerbitan aturan baik berupa SE atau SKB terkait penggunaan obat manusia untuk pelayanan kesehatan hewan, baik khususnya untuk pet animal dan satwa liar yang berbasis keilmuan. 

Peningkatan kerjasama pengawasan distribusi obat melalui inspeksi bersama (joint inspection), operasi pengawasan terpadu, serta pertukaran informasi intelijen terkait obat ilegal, palsu, dan penyalahgunaan antibiotik, serta obat keras (ketamin).

Kementan juga telah melakukan audiensi dengan Kemenkes pada 10 dan 20 Januari 2026. Salah satu hasil pertemuan yaitu dalam Peraturan Menteri Pertanian, perlu tercantum bahwa Dokter Hewan dapat mengakses atau mendapatkan obat di fasilitas sarana layanan kefarmasian (apotek).

Sesi foto bersama undangan dari Kementan, ASOHI, seluruh peserta.

Drh Andi Wijanarko MM selaku Sekjen PB PDHI yang juga menjadi narasumber mengatakan topik yang diangkat dalam FGD ini sangat penting. 

Dalam presentasinya, Andi mencontohkan salah satu studi kasus satwa gajah dalam evakuasi banjir. Penggunaan antibiotik, analgesic dan antiinflamasi (obat manusia) dalam situasi darurat dipergunakan. 

"Dalam diskusi ini diharapkan akan menyamakan pemahaman lintas profesi, mengurai batas kewenangan dan tanggung jawab sekaligus menyusun kerangka rekomendasi kebijakan," tandas Andi. 

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran Prof Dr apt Sriwidodo MSi menjelaskan materi "Transformasi Peran Pendidikan Apoteker dalam Ekosistem Obat Hewan". Prof Sriwidodo menuturkan apoteker dapat berperan sebagai PJTOH di berbagai unit usaha. 

Secara keseluruhan mata kuliah farmasi veteriner ini berisi materi salah satunya penjabaran pengembangan sediaan veteriner, registrasi, dan pengawasan sediaan veteriner.

Hadir dalam seminar ini diantaranya Direktur Pengawasan dan Distribusi Pelayanan ONPP dari BPOM RI, Ketua Umum IAI, Ketua ADHPHKI, IDHSI, Kabid Keswan Kesmavet DKPP Jabar, Perwakilan Dinkes Jabar, Direktorat Pengelolaan dan Pelayanan Farmasi Ditjen Farmasi dan Alkes – Kemenkes RI, dan Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi. (NDV)

JANGAN SIA-SIAKAN CANGKANG TELUR, ADA MANFAATNYA

Kandungan kalsium pada cangkang telur dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi. (Foto: Istimewa)

Cangkang telur mengandung kalsium yang berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan dinding sel tanaman. Tanpa asupan tersebut, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik dan cepat.

Pagi itu, pukul 05:30, suasana dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Cinangka, Kota Depok, tampak ramai. Para pekerja dapur tampak sibuk menyiapkan ratusan paket makanan yang akan dikirim ke sekolah tak jauh dari lokasi dapur MBG. Di bagian luar belakang dapur, tampak seorang pria paruh baya sedang memilah sampah sisa dapur.

Sutarno, pemilah sampah tersebut memisahkan cangkang telur dari sampah basah lainnya. Pecahan cangkang telur ayam yang cukup banyak itu ia masukkan ke dalam plastik. Sementara, sampah sisa sayuran dan lainnya dimasukan ke dalam plastik lain.

Aktivitas mengepul sampah dari dapur MBG dilakukan Sutarno selepas waktu subuh. Menurutnya, kepingan cangkang telur tersebut sengaja dipisah, karena sudah dipesan oleh tetangganya. “Katanya sih buat campuran pupuk organik. Saya juga enggak tahu persis, yang penting dibayar. Sekilo bisa Rp 10 ribu, lumayan,” tuturnya.

Memanfaatkan sampah cangkang telur untuk pupuk tanaman sudah diketahui banyak orang, terutama para pecinta tanaman hias.

Dalam banyak literatur disebutkan, cangkang telur mengandung garam yang tinggi serta senyawa organik dalam telur dikhawatirkan dapat mencemari lingkungan akibat aktivitas mikroba di dalamnya. Namun, kandungan kalsium pada cangkang telur cukup tinggi dan dapat bermanfaat sebagai sumber nutrisi pada tanaman.

Cangkang telur juga memiliki kandungan fosfor yang cukup yang dapat bermanfaat untuk tanaman. Salah satu pemanfaatan cangkang telur yaitu dengan mengolah cangkang telur menjadi pupuk organik cair.

Dalam artikel berjudul Potensi Cangkang Telur Sebagai Pupuk Pada Tanaman Cabai Di Desa Sayang Kabupaten Jatinangor, karya Engela Evy Ernawati, Atiek Rostika Noviyanti, Yati B. Yuliyati, dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran, disebutkan kandungan cangkang telur terdiri atas 97% kalsium karbonat, sisanya fosfor, magnesium, natrium, kalium, seng, mangan, besi, dan tembaga. Cangkang telur mengandung hampir 95,1% adalah garam-garam organik, 3,3% bahan organik (terutama protein), dan 1,6% air.

Kandungan kalsium pada cangkang telur yang cukup besar dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman. Kalsium merupakan suatu zat yang berperan penting dalam pembentukan struktur tubuh, tulang, dan gigi pada manusia dan hewan, serta dinding sel pada tanaman.

Peran kalsium lain khususnya pada tanaman antara lain, menebalkan dinding sel, meningkatkan pemanjangan sel akar, kofaktor proses enzimatis dan hormonal, pelindung dari cekaman panas, hama, dan penyakit.

Sudah Diteliti Profesor
Keabsahan informasi tentang kandungan cangkang telur juga disampaikan oleh Prof Ambar Pertiwiningrum PhD dari Departemen Teknologi Hasil Ternak, Fapet UGM, yang melakukan penelitian ini. “Kami sudah lama melakukan penelitian tentang pengolahan lain dari limbah untuk dapat menghasilkan nilai tambah bagi para petani, khusunya petani jamu,” ujarnya kepada Infovet.

Limbah cangkang telur tak hanya bermanfaat untuk pupuk tanaman hias, tetapi juga baik untuk tanaman sayuran seperti jamur tiram. Guru besar ini bukan hanya meneliti cangkang telur, namun juga pemanfaatan limbah kotoran unggas untuk meningkatkan produksi jamur tiram. Tentu saja setelah melalui proses pengolahan.

Selain membuat media jamur sebagai substitusi dedak oleh limbah biogas kotoran ayam, Prof Ambar juga menggunakan limbah cangkang telur yang dapat digunakan sebagai pengganti kapur yang lebih ramah lingkungan.

Master Gardeners dari Hamilton County, Tenn, melalui laman SF Gate menyebutkan, cangkang telur terbuat dari kalsium karbonat. Ini merupakan bahan utama yang digunakan dalam kapur pertanian. Dari penelitian yang dilakukan oleh Jeff Gilman, seorang penulis buku berjudul The Truth About Garden Remedies, menunjukkan bahwa air rendaman cangkang telur mengandung 4 miligram kalsium dan kalium.

Selain kandungan tersebut, manfaat cangkang telur juga berasal dari fosfor, magnesium, dan natrium di dalamnya. Beberapa nutrisi tersebut berperan penting dalam pertumbuhan hingga kesuburan tanaman.

Untuk memanfaatkan limbah ternak unggas, termasuk cangkang telur, menjadi media tanam jamur tiram putih, tidak serta merta digunakan layaknya para petani menggunakannya sebagai pupuk kandang selama ini. Ada perlakuan khusus atau proses yang dilalui agar menghasilkan media tanam dan hasil panen jamur yang bagus.

Jamur tiram putih menjadi pilihan dalam penelitian Prof Ambar, mengingat tingkat konsumsi jamur di dalam negeri jumlahnya cukup besar. Hasil olahan jamur tiram putih tergolong jenis sayuran yang digemari masyarakat. Kini hasil olahannya pun makin bervariasi, bukan hanya dijadikan sayur untuk lauk, tetapi juga diolah jadi olahan kering sebagai camilan.

Menurut Prof Ambar, kandungan gizi jamur tiram putih cukup tinggi. Berdasar penelitian sebelumnya, protein pada jamur tiram setiap 100 gram kandungan sebesar 27%, atau lebih tinggi dibanding protein pada kedelai tempe sebesar 18,3% setiap 100 gram. “Serat jamur sangat baik untuk pencernaan, kandungan seratnya mencapai 7,4-24,6%, sehingga cocok untuk tubuh,” ungkapnya.

Tujuh Manfaat
Ada tujuh hal penting tentang manfaat cangkang telur bagi tanaman. Pertama, sebagai pupuk kompos. Cangkang telur mengandung kalsium yang berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan dinding sel tanaman. Tanpa asupan tersebut, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik dan cepat. Caranya, cuci bersih cangkang telur dan keringkan. Kemudian hancurkan dan campurkan dengan kompos.

Kedua, mencegah pembusukan tanaman. Manfaat ini berasal dari kandungan kalsium yang terdapat dalam cangkang telur. Asupan tersebut dapat diserap oleh tanaman sehingga membuatnya tidak mudah busuk. Caranya, cuci dan keringkan cangkang telur. Kemudian haluskan dan masukkan ke dalam lubang tanah sebelum menanam tumbuhan.

Ketiga, penangkal hama. Caranya, cuci dan keringkan cangkang telur terlebih dulu. Kemudian hancurkan jadi bagian-bagian besar, lalu tebarkan di sekitar halaman. Cara ini dapat mencegah siput dan cacing merusak tanaman.

Keempat, wadah menyimpan benih. Manfaat cangkang telur ini dapat diperoleh dengan cara mencuci cangkang telur terlebih dulu, kemudian keringkan. Lalu isi setengah bagian dari cangkang telur dengan tanah dan masukkan benih. Siram dengan sedikit air dan simpan sampai benih siap ditanam di tanah.

Kelima, penutup lubang pot. Pertama-tama, cuci bersih cangkang telur dan pecahkan menjadi bagian-bagian besar. Selanjutnya, gunakan pecahan tersebut untuk menutup lubang atau pot yang rusak. Cangkang ini juga berperan dalam memberikan nutrisi pada tanah di dalam pot guna meningkatkan kesehatan tanaman.

Keenam, sebagai pupuk alami. Menurut American Society of Plant Biologists, kalsium yang terdapat di dalam cangkang telur memberikan efek pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman. Caranya, masukkan bubuk cangkang telur ke dalam wadah air dan diamkan selama beberapa hari. Gunakan air tersebut untuk menyiram tanaman.

Ketujuh, penyubur tanah. Manfaat cangkang telur ini berkat kandungan kalsium di dalamnya. Kegunaannya bisa dirasakan dengan baik pada tanah dengan tingkat keasaman yang tinggi. Caranya, haluskan cangkang telur yang telah dicuci dan dikeringkan. Kemudian campurkan dengan tanah yang digunakan untuk menanam tanaman.

Jika ingin membuat pupuk organik dari cangkang telur, caranya tak terlalu sulit. Bersihkan cangkang telur yang akan dibuat pupuk. Sterilkan cangkang telur dengan memasukkan ke dalam air panas. Keringkan cangkang telur dengan cara dijemur. Tumbuk cangkang telur hingga menjadi serpihan halus.

Untuk hasil yang lebih baik, campurkan cangkang telur dengan air ke dalam botol bekas. Tambahkan gula jawa dan EM4 dengan perbandingan 1 : 1 ke dalam botol. Tutup botol bekas dan campurkan pupuk dengan cara mengocok botol. Diamkan selama 10-14 hari untuk memaksimalkan proses fermentasi. Bila perlu, sesekali buka tutup botol bekas supaya gas yang ditimbulkan selama proses fermentasi dapat keluar.

Itu tujuh manfaat dan cara membuat pupuk organik dari cangkang telur, semoga bisa menginspirasi, dan mulai sekarang jangan lagi sia-siakan limbah cangkang telur. Ibarat pohon kelapa, semua bagian telur memiliki manfaat luar biasa. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

KOLABORASI HULU-HILIR PERTEMUKAN KOPERASI PETERNAK DAN PELAKU KULINER

Kerja sama mempertemukan koperasi peternak sebagai penggerak sektor hulu dengan pelaku usaha kuliner nasional sebagai penguat sektor hilir. (Foto: Istimewa)

Koperasi Produsen Usaha Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER) bersama Ayam Gepuk Pak Gembus resmi menjalin kerja sama untuk memperkuat integrasi hulu-hilir sektor pangan. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada Jumat (23/1/2026), di Kementerian Pertanian.

Kerja sama ini mempertemukan koperasi peternak sebagai penggerak sektor hulu dengan pelaku usaha kuliner nasional sebagai penguat sektor hilir. Pemerintah menilai model kemitraan ini berpotensi memberi kepastian pasar bagi peternak ayam rakyat sekaligus memperkuat rantai pasok unggas nasional.

Penandatanganan PKS dilakukan oleh Founder Ayam Gepuk Pak Gembus, Rido Nurul Adityawan dan Ketua Umum Koperasi Produsen Usaha LPER, H. Mulyadi Atma. Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), Hary Suhada, yang turut menyaksikan kegiatan tersebut mengatakan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong penguatan ekosistem peternakan berbasis kemitraan.

Menurutnya, pemerintah berupaya memastikan peternak tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga memperoleh kepastian usaha. “Ditjen PKH terus memperkuat peran peternak sebagai pelaku utama. Salah satunya melalui fasilitasi kemitraan hulu-hilir agar peternak memperoleh kepastian usaha, akses pasar, dan nilai tambah yang lebih adil,” kata Hary.

Sementara pada kesempatan lain, Direktur Jenderal PKH, Agung Suganda, mengatakan pemerintah terus mendorong kemitraan berkeadilan antara peternak dan pelaku usaha sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional.

“Kementerian Pertanian mendorong kemitraan yang saling menguntungkan dan berkeadilan. Peternak harus mendapat kepastian pasar dan harga yang wajar, sementara pelaku usaha memperoleh pasokan yang berkelanjutan. Kolaborasi seperti ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertanian dalam memperkuat ekosistem perunggasan nasional,” kata Agung.

Lebih lanjut dikatakan, integrasi hulu-hilir menjadi kunci menjaga keberlanjutan usaha peternak di tengah volatilitas pasar. Ia menegaskan peran pemerintah sebagai fasilitator agar kemitraan berjalan transparan dan tidak merugikan peternak.

“Kami memastikan negara hadir melindungi peternak. Kemitraan hulu-hilir bukan hanya soal bisnis, tetapi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan peternak secara berkelanjutan,” ujar Agung.

Dengan dukungan dari usaha kuliner tersebut yang memiliki 850 outlet dan sekitar 14.000 tenaga kerja, serta menjalin kemitraan dengan lebih dari 200 pondok pesantren di berbagai daerah, kerja sama dengan koperasi peternak dinilai dapat menciptakan permintaan pasar yang relatif stabil bagi produksi unggas rakyat.

Sementara itu, Koperasi Produsen Usaha LPER menaungi ribuan peternak ayam petelur dan ayam pedaging mandiri di berbagai provinsi. Koperasi ini berfokus pada penguatan kelembagaan peternak, peningkatan kapasitas produksi, serta pengembangan ekosistem usaha yang berorientasi pada kesejahteraan anggota.

Kementan menilai kolaborasi antara tersebut sebagai contoh konkret implementasi kebijakan penguatan kemitraan usaha peternakan. Pemerintah berharap integrasi hulu-hilir yang berkelanjutan dapat memperkuat rantai pasok pangan nasional sekaligus memberi kepastian usaha bagi peternak. (INF)

DRH AKHMAD HARRIS PRIYADI: MENJADI PEMIMPIN ITU AKAN LEBIH MUDAH BILA DICALONKAN, BUKAN MENCALONKAN DIRI

Bagi Harris terpilih sebagai Ketua ASOHI bukan sesuatu yang perlu diselebrasi, melainkan sebuah tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin sesuai kemampuan. Dia menganggap jabatan ketua tidak seperti kedudukan politis yang harus distrategikan bagaimana supaya mengalahkan saingan.

“Berjalan mengalir saja,” katanya. “Kandidatnya juga sama-sama baik, semua orang-orang yang sudah ada pengalaman dengan track record yang baik, karena memang kriteria menjadi Ketua ASOHI harus minimal jadi pengurus satu periode dulu.”

Meneruskan Agenda Pengurus Sebelumnya

Sebagian besar kegiatan ASOHI di akhir tahun ini adalah meneruskan agenda pengurus sebelumnya. Misalnya agenda rutin outlook dan PJOTH yang sempat tertunda karena adanya Munas.

Untuk ke depannya ASOHI akan lebih memanfaatkan media sosial, dalam memberikan update maupun edukasi juga sharing awareness pada industri maupun masyarakat.

“Misi ASOHI juga sebagai mitra dari pemerintah dan salah satu fokus kita bersama saat ini adalah pengendalian AMR. Dalam waktu dekat sebagai bagian dari itu adalah membatasi penggunaan antibiotika golongan quinolone untuk hewan dan ternak,” terang Harris yang juga menjadi Business Development di PT Cita Indonesia.

Menurutnya masyarakat perlu diedukasi karena sekarang ini ada blind spot, yaitu masalah marketplace dan online shop, yang belum ada perangkat untuk menyelesaikannya. Di online shop masyarakat hampir bisa mendapatkan apa saja termasuk obat keras. Kementan sendiri bisa memberikan sanksi administratif, namun karena entitas di marketplace tidak jelas keberadaannya sehingga mengalami kesulitan, jika ditutup dengan mudahnya mereka bisa membuat yang baru lagi.

Drh Akhmad Harris Priyadi (kemeja biru-tengah) bersama Direktur Utama Cita Indonesia Group Virnanda Aprila Hapsara (kemeja putih-tengah), dan tim.

ASOHI Berada di Tengah

“Uniknya di kita harus berkoordinasi dengan semua pihak. Kementan adalah policy maker. Tapi Pemda sebagai otoritas dan pelaksana di daerah, bukanlah dibawah rantai komando Kementan, dengan adanya otonomi daerah. Jadi bisa jadi Kementan/Ditjen PKH punya program A, Pemda bisa punya prioritas program B,” jelas Harris.

ASOHI yang sekarang sudah ada di 17 provinsi dapat bersinergi antara Kementan dengan pemda. Contohnya ketika wabah PMK banyak peternak tidak mau sapinya divaksin karena takut sapinya mati atau menjadi sakit. ASOHI pun bekerjasama dengan pemda untuk mengedukasi, bahwa vaksin aktif apapun akan menimbulkan reaksi dimana sapi membentuk antibodi.

ASOHI juga menjadi mediator antara pemerintah dengan perusahaan dan pelanggan. Harris mencontohkan, jika misalnya oleh pemerintah akan melarang obat tertentu, dan tidak diperbolehkan beredar dalam waktu beberapa bulan ke depan. Tentu perusahaan yang memiliki produk tersebut dan penggunanya akan keberatan. Pelanggan bingung apa pengganti produk tersebut, perusahaan bingung karena stok produk mungkin masih banyak.

“Di sinilah kita harus bisa melihat semua itu sebagai partner. Jangan prejudis dulu,” kata Harris. “Kita harus pandai-pandai menjelaskan dan memberikan informasi. Pemerintah sendiri sudah cukup terbuka karena ASOHI track record-nya selalu menjadi mitra.”

Leadership Style

Berpengalaman di berbagai perusahaan dan organisasi menempa kemampuan leadership Harris hingga terbentuk seperti saat ini.

“Leadership itu luas tergantung suasananya. Kadang-kadang ada leadership yang diperlukan otoriter, misalnya di dalam kemiliteran,” kata bapak dari dua putra ini. “Leadership style saya adalah memfasilitasi dan memperkuat. Ada orang yang misalnya rajin, tapi malas belajar. Tapi ada juga yang dia senang belajar tapi kurang rajin. Orang yang rajin ruang untuk tumbuhnya adalah dia harus saya tugaskan baca buku lebih banyak supaya menutupi kekurangannya. Dan bagi orang yang ilmunya banyak tapi kurang rajin, kita latih dia supaya lebih mobile, lebih sering public speaking supaya ilmunya menular ke yang lain.”

Namun menurut Harris juga ada pandangan kedua, yaitu fokus pada kekuatan orang tersebut. Orang yang rajin, senang berinteraksi, sering mobile, diberi penugasan sesuai dengan kelebihannya.

“Ada hal-hal yang kita bisa perbaiki dari orang itu kekurangan dia. Tapi ada juga memang kita fokus ke kekuatan dia apa kita fokuskan di sana. Nah, dengan begitu dia akan merasa tidak terbebani,” tambahnya. “Kita fokus memfasilitasi kekuatan seseorang dimana itu juga bisa kita tingkatkan. Di samping bisa juga kita tutupi dengan memperbaiki kelemahan dia.”

Pesan untuk Infovet

Pada akhir wawancara Harris sempat menitipkan pesan-pesan untuk Infovet. “Infovet harus dare to be different. Harus berani untuk menjadi berbeda,” katanya.(NDV)

PARA ILMUWAN IRAN MENGEMBANGKAN TEKNOLOGI UNTUK MENGUBAH BULU MENJADI PAKAN TERNAK

Sekelompok ilmuwan Iran dari Institut Nasional Rekayasa Genetika dan Bioteknologi mengklaim telah mengembangkan teknologi yang memungkinkan pemrosesan bulu unggas secara efektif menjadi tepung menggunakan strain Bacillus.

Bulu, yang menyumbang sekitar 5% dari total berat unggas, merupakan salah satu aliran limbah paling signifikan dalam industri unggas, kata Amir Maimandipour, salah satu ilmuwan di balik proyek tersebut.

“Ekspansi industri unggas [di Iran] berarti bahwa lebih banyak volume limbah ini dihasilkan, yang membutuhkan pengelolaan dan konversinya menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” kata Maimandipour.

Terlepas dari tantangan yang terus berlanjut dengan pasokan pakan, industri unggas Iran mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2024 setelah beberapa tahun mengalami gejolak. Produksi bulanan mencapai 223.000 ton, memungkinkan Iran untuk kembali menjadi pengekspor bersih, terutama ke Irak.

Saat ini, bulu unggas kadang-kadang digunakan sebagai sumber protein pakan dengan nilai gizi rendah dalam industri peternakan, meskipun umumnya diperlakukan sebagai limbah rumah potong hewan. Teknologi baru menjanjikan peningkatan yang signifikan dalam praktik pemberian pakan yang ada.

Hambatan utama dalam penggunaan bulu sebagai pakan ternak adalah sebagian besar protein bulu adalah keratin, protein struktural berserat yang juga membentuk lapisan luar pelindung kulit, rambut, kuku, bulu, tanduk, dan cakar pada hewan.

Terdapat banyak ikatan disulfida dalam struktur keratin, yang membuat protein ini tidak larut dan sulit dicerna, kata Maimandipour.

Meskipun demikian, keratin berpotensi digunakan di luar pakan ternak. Keratinase sebelumnya telah diisolasi dari mikroorganisme seperti jamur, sejumlah bakteri, dan Streptomyces. Enzim-enzim ini telah banyak digunakan tidak hanya dalam sistem air limbah tetapi juga dalam beberapa tahun terakhir di industri seperti makanan, pakaian, obat-obatan, dan kosmetik, kata Maimandipour.

Para peneliti mengisolasi gen yang mengkode keratinase dari strain bakteri asli dan mengekspresikannya dalam inang laboratorium untuk mempelajari sifat enzimatiknya. Menurut Maimandipour, strain tersebut dapat diterapkan langsung untuk produksi enzim atau digunakan bersamaan dengan limbah bulu yang dikumpulkan dari rumah potong hewan untuk memfasilitasi proses konversi.

Para ilmuwan mengantisipasi bahwa tepung bulu dapat meningkatkan diet hewan, tetapi penelitian lebih lanjut sangat penting untuk mengkonfirmasi efektivitasnya.

HPAI DIPERKIRAKAN AKAN BERLANJUT DI EROPA HINGGA AKHIR MUSIM DINGIN

Pada bulan-bulan terakhir tahun 2025, Eropa telah menyaksikan peningkatan yang signifikan dalam kasus flu burung patogenik tinggi (HPAI) di antara burung liar, yang menyebabkan wabah yang meluas di peternakan unggas dan peningkatan deteksi di antara mamalia karnivora.

Terlepas dari penyebaran yang terus berlanjut di dalam populasi hewan, risiko bagi masyarakat umum tetap rendah.

Antara 6 September dan 28 November 2025, 442 wabah HPAI dilaporkan pada burung domestik dan 2.454 wabah pada burung liar di 29 negara Eropa, menurut laporan triwulanan terbaru dari Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA), Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), dan laboratorium referensi Uni Eropa (EURL).

Wabah HPAI yang meluas di peternakan di seluruh Eropa terutama disebabkan oleh penularan oleh burung liar, terutama melalui kontak tidak langsung. Secara khusus, kalkun telah terpengaruh, dan telah terjadi peningkatan deteksi di antara bebek yang divaksinasi. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus meliputi penularan dari burung liar, tekanan infeksi dari lingkungan yang sangat terkontaminasi di dekat tempat peternakan unggas, dan kondisi cuaca tertentu seperti kelembapan.

Para ahli sangat menyarankan untuk menempatkan unggas domestik di daerah di mana virus HPAI beredar di burung liar atau di mana peristiwa kematian massal burung liar telah dilaporkan. Biosekuriti yang ketat dan pengawasan yang ditingkatkan sangat penting untuk mendeteksi wabah baru sejak dini dan mengurangi risiko terhadap kesehatan hewan.

INDUSTRI UNGGAS MOZAMBIK, TERMASUK PALING CEPAT TUMBUH DI AFRIKA

Mozambik telah muncul sebagai salah satu produsen unggas dengan pertumbuhan tercepat di Afrika dalam hal persentase, menunjukkan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan yang kuat sebesar 8,9% dari tahun 2013 hingga 2024 di antara produsen utama.

Data pasar IndexBox tahun 2024 menempatkan Mozambik di antara negara-negara yang produksi unggasnya meningkat lebih tajam daripada produsen yang lebih besar, meskipun volume absolutnya masih tertinggal di belakang produsen teratas seperti Mesir, Afrika Selatan, dan Maroko.

Pada tahun 2023/2024, Mozambik memproduksi sekitar 152.784 metrik ton daging ayam, naik sekitar 4% dari tahun 2022, bersamaan dengan produksi telur yang mencapai rekor sebanyak 28.667.207 lusin telur. Peningkatan ini menyoroti baik meningkatnya permintaan domestik maupun peningkatan kapasitas dalam peternakan dan pengolahan unggas.

Sebagian besar pertumbuhan produksi unggas di Mozambik disebabkan oleh investasi publik-swasta, dukungan kebijakan yang tepat sasaran, dan perluasan operasi unggas komersial. Perkembangan penting baru-baru ini adalah investasi sebesar US$33 juta dari Bank Pembangunan Afrika melalui program PROCAVA, yang bertujuan untuk meningkatkan rantai nilai agribisnis termasuk unggas.

Pendanaan ini dimaksudkan untuk membantu meningkatkan infrastruktur, termasuk pabrik pakan, tempat penetasan, dan fasilitas penyembelihan/pengolahan, dan untuk mendukung produsen skala kecil saat mereka digabungkan ke dalam rantai nilai yang lebih efisien.

UZBEKISTAN MELIHAT KEMAJUAN LAMBAT DALAM MEMPERLUAS PRODUKSI UNGGAS

Selama 9 bulan pertama tahun 2025, Uzbekistan melihat pertumbuhan yang kuat dalam impor unggas, kemungkinan masih jauh dari target ambisiusnya untuk meningkatkan produksi unggas menjadi 1 juta ton tahun ini dan menjadi pengekspor daging ayam broiler bersih.

Uzbekistan mengimpor 54.600 ton daging unggas, naik 14,2% dibandingkan tahun sebelumnya, seperti yang diungkapkan Komite Statistik Nasional baru-baru ini. Sebagian besar unggas diimpor dari Rusia, Turki, dan Belarus, dan volume yang relatif kecil juga berasal dari Belgia dan Belanda.

Uzbekistan melihat lonjakan impor unggas meskipun pemerintah berencana untuk meningkatkan produksi unggas menjadi 1 juta ton pada tahun 2025, naik dari 800.000 ton pada tahun sebelumnya, seperti yang diuraikan oleh Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev pada bulan Januari.

Meskipun upaya besar telah dilakukan untuk meningkatkan produksi unggas, Uzbekistan belum mencapai target yang telah ditetapkan. Per tanggal 1 Oktober, populasi unggas di negara itu diperkirakan mencapai 110 juta ekor, naik 8,7% dari tahun sebelumnya. Produksi daging dan unggas sedikit meningkat sebesar 2,7% menjadi 2,17 juta ton, menurut informasi resmi pemerintah.

Produksi telur naik sebesar 6,2% menjadi 6,7 juta butir. Target untuk meningkatkan produksi telur menjadi 10,5 miliar butir, yang ditetapkan pada awal tahun, tampaknya sulit dicapai.

Uzbekistan belum secara publik mengungkapkan informasi apa pun tentang ekspor unggas. Selama pertemuan Januari, Mirziyoyev menugaskan pemerintah untuk menghasilkan pendapatan sebesar US$180 juta dari ekspor unggas pada tahun 2025.

JAGA HARGA DAN PASOKAN, PEMERINTAH BERSAMA ASOSIASI SEPAKAT HARGA TIMBANG HIDUP SAPI 55 RIBU PER KG

Menteri Pertanian saat jumpa pers dalam rapat koordinasi jelang HBKN di kantornya. (Foto: Istimewa)

Pemerintah bersama asosiasi pedagang dan pelaku usaha sepakat menjaga stabilitas harga dan pasokan daging sapi menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, dengan harga timbang hidup sapi di tingkat feedlot sebesar Rp55.000/kg dan berlaku mulai 22 Januari 2026 hingga menjelang Idulfitri, tanpa kenaikan harga.

Kesepakatan itu dicapai dalam rapat koordinasi yang digelar di Kementerian Pertanian (Kementan), Kamis (22/1/2026), yang dihadiri Badan Pangan Nasional (Bapanas), Satgas Pangan, asosiasi pedagang, asosiasi pemotong, feedlotter, hingga pelaku usaha impor sapi bakalan.

Kementan menegaskan tidak akan membiarkan gangguan distribusi maupun praktik spekulasi yang merugikan masyarakat, khususnya menjelang hari besar keagamaan nasional (HKBN). Pemerintah terus melakukan pemantauan harga, pasokan, dan distribusi secara ketat untuk memastikan kebijakan pangan tetap berpihak pada rakyat, peternak, dan pelaku usaha yang taat aturan.

Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), Wahyu Purnama, memastikan seluruh pedagang di bawah naungan APDI kembali berjualan. “Mulai malam Jumat, 23 Januari 2026, pedagang daging kembali beraktivitas dan RPH siap memotong sapi,” kata Wahyu.

Ia menegaskan, jika ditemukan harga di atas kesepakatan tersebut, pedagang diminta segera melapor. “Kalau ada yang melanggar, laporkan ke saya dan akan langsung kami teruskan ke pemerintah,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI), H Asnawi. “Kalau ada pengusaha feedlot menjual di atas Rp55 ribu per kilogram, silakan laporkan dengan bukti untuk diteruskan ke Menteri Pertanian,” tegasnya.

Pemerintah juga memastikan pasokan sapi aman. Kuota impor sapi bakalan sekitar 700 ribu ekor per tahun telah disiapkan dan dialokasikan kepada sekitar 80 perusahaan penggemukan sapi. Selain itu, BUMN Pangan ditugaskan sebagai stabilisator untuk menjaga keseimbangan harga dan pasokan di tingkat konsumen.

Pemerintah juga akan terus mengawal agar distribusi berjalan lancar dan masyarakat tidak terbebani lonjakan harga daging sapi menjelang Ramadan dan Lebaran. (INF)

KELOMPOK AHLI SANGAT PRIHATIN DENGAN WABAH FLU BURUNG DI BELANDA

Kelompok ahli penyakit hewan Belanda, yang memberi nasihat kepada Kementerian Pertanian tentang flu burung, sangat prihatin tentang keadaan flu burung saat ini di Belanda. Hal itu menurut Arjan Stegeman, profesor Kesehatan Hewan Ternak di Universitas Utrecht dan ketua kelompok ahli tersebut. Ia juga memperingatkan bahwa metode yang digunakan saat ini untuk memerangi flu burung sudah ketinggalan zaman.

Stegeman menggambarkan situasi saat ini sebagai "serius". Penelitian terbaru oleh Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menunjukkan bahwa antara September dan pertengahan November lebih dari 1.400 kasus virus terdeteksi di antara burung liar di 26 negara Uni Eropa. Itu 4 kali lebih tinggi daripada periode yang sama tahun lalu dan jumlah tertinggi yang tercatat untuk periode tersebut sejak 2016. Sejak pertengahan Oktober, perintah karantina telah diberlakukan di Belanda untuk peternakan dan peternak hobi.

Kepatuhan ketat terhadap langkah-langkah biosekuriti di peternakan unggas sangat penting untuk mengatasi flu burung, menurut EFSA. Deteksi dini infeksi dan pemusnahan cepat peternakan yang terinfeksi juga diperlukan.

Namun, menurut Stegeman, justru di situlah letak kelemahan utamanya. “Metode ini berasal dari masa ketika flu burung masih jarang dan pemusnahan peternakan unggas memastikan virus tersebut hilang. Tetapi sekarang flu burung terus-menerus terjadi di antara burung liar, bukan di peternakan unggas.”

Stegeman menganjurkan langkah-langkah pencegahan, termasuk vaksinasi. Uji coba sudah berlangsung. “Kita tidak bisa dengan mudah memvaksinasi semua ayam sekaligus. Perlu ada jadwal pencegahan di mana anak ayam muda menerima vaksin, dan mungkin lagi nanti. Dalam setahun, sebagian besar peternakan ayam petelur akan divaksinasi,” kata profesor tersebut. Hasil pertama uji coba vaksinasi diharapkan awal tahun depan.

“Saya pikir semua orang prihatin, termasuk Kementerian Pertanian,” kata Stegeman. “Dalam skenario yang menguntungkan, virus tersebut dapat mati karena sebagian besar populasi menjadi kebal akibat tingginya jumlah infeksi, tetapi kita telah melihat sebelumnya bahwa hal ini tidak selalu terjadi. Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan sekarang adalah menerapkan langkah-langkah keamanan di peternakan unggas. Vaksin adalah sesuatu untuk jangka panjang.”

APAKAH INDUSTRI UNGGAS RUSIA DALAM BAHAYA?

Meskipun ada sedikit pertumbuhan produksi pada tahun 2025, industri unggas Rusia menghadapi tantangan serius yang dapat memberikan tekanan berat pada operasi yang ada tahun depan, kata Sergey Yushin, direktur eksekutif Asosiasi Daging Nasional Rusia, kepada media berita negara setempat, Interfax.

Harga grosir telah mengalami penurunan yang stabil sejak musim panas 2024, dan selama 12 bulan terakhir, harga tersebut telah turun 5-10%. Penurunan ini, kata Yushin, terjadi di tengah kenaikan inflasi pangan sebesar 40% selama 5 tahun terakhir, yang melampaui pertumbuhan biaya produksi untuk sebagian besar produk makanan.

Cukup banyak inisiatif pemerintah di bidang pelabelan, perpajakan, dan perlindungan lingkungan diperkirakan akan semakin mendorong kenaikan biaya produksi.

“Kita sering membaca pernyataan dari regulator yang dihormati bahwa keputusan ini dan itu akan meningkatkan biaya produksi sebesar setengah persen atau satu persen. Mungkin. Tetapi apakah ada yang menghitung efek kumulatif pada ekonomi produksi dari lusinan inisiatif baru-baru ini?” tanya Yushin.

Menurut Yushin, peternakan ayam broiler membunyikan alarm dalam iklim ekonomi saat ini, bahkan operasi yang berteknologi maju pun sekarang beroperasi dengan kerugian.

Yang sangat berbahaya adalah para peternak kehilangan uang karena industri ini menghadapi ancaman yang semakin besar dari penyakit hewan.

“Investasi perlu dilakukan tidak hanya dalam modernisasi dan pengembangan, tetapi juga dalam biosekuriti, karena penghematan di bidang penting ini dapat menyebabkan hasil yang buruk,” kata Yushin.

Selain itu, Rusia menghadapi masuknya produk ayam broiler, terutama daging putih, dari China, kata Yushin.

“Daging putih tidak diminati di China, dan harga daging babi yang rendah serta pertumbuhan produksi ayam broiler di negara itu semakin menekan harga,” jelasnya.

Ia menambahkan, “Kita sudah terdesak keluar dari pasar negara-negara tetangga, termasuk beberapa negara Uni Eurasia [pasca-Soviet], tempat ayam China diimpor, menurut beberapa data, dengan nilai pabean yang jauh lebih rendah untuk menghemat bea masuk, karena dada ayam tidak mungkin berharga US$0,89 per kilogram.”

EMBARGO CHINA ATAS IMPOR UNGGAS BRASIL BERAKHIR

China mengumumkan pada bulan November penangguhan embargo impor unggas Brasil, sebuah tindakan yang diberlakukan setelah wabah flu burung pada bulan Mei. China adalah tujuan utama ekspor daging ayam dari Brasil, eksportir terbesar di dunia.

Larangan tersebut diberlakukan setelah konfirmasi pada 15 Mei tentang kasus flu burung patogenik tinggi di sebuah peternakan unggas komersial di Montenegro di Rio Grande do Sul. Bahkan setelah Brasil menyatakan diri bebas dari penyakit tersebut pada awal Juni, pembatasan China tetap berlaku.

Menurut pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Administrasi Umum Bea Cukai China (CGAC), pencabutan larangan tersebut berlaku segera dan diputuskan "berdasarkan analisis risiko" yang dilakukan oleh otoritas sanitasi China. Pada bulan September, sebuah misi teknis China mengunjungi Brasil untuk mengaudit sistem inspeksi federal dan memverifikasi langkah-langkah sanitasi yang diadopsi.

SEKTOR UNGGAS IRLANDIA MENGHADAPI TANTANGAN BESAR

Sektor unggas Irlandia menghadapi tantangan besar. Flu Burung menimbulkan risiko di seluruh pulau, sementara preferensi pengecer untuk mendapatkan telur dari sistem selain kandang yang diperkaya semakin meningkat. Tekanan tambahan dari LSM kesejahteraan hewan membuat investasi signifikan diperlukan untuk menggeser metode produksi.

Investasi modal untuk sistem produksi baru juga merupakan tantangan besar, karena biaya telah meningkat secara substansial selama 5 tahun terakhir. Kesulitan lain adalah mengamankan kontrak jangka panjang dari pengecer, yang dibutuhkan agar produsen dapat memperoleh pengembalian investasi yang memadai dari waktu ke waktu.

Demikianlah Departemen Pertanian, Pangan, dan Kelautan (DAFM) menggambarkan situasi saat ini di sektor unggas nasional dalam Tinjauan dan Prospek Tahunan mereka.

Dalam catatan yang lebih positif, departemen tersebut menambahkan, “Unggas akan terus mendapat manfaat dari citra yang lebih sehat dan harga yang relatif lebih murah, dan merupakan satu-satunya daging yang diperkirakan akan mengalami peningkatan, tumbuh sebesar 1,6 kg per kapita. Namun, tingkat pertumbuhan tahunan diperkirakan akan lebih lambat daripada yang terlihat dalam dekade terakhir. Ekspor unggas diperkirakan akan kembali meningkat, meskipun kesenjangan harga relatif terhadap harga dunia masih berlanjut.”

EKSPOR UNGGAS MALAWI BERTUMBUH

Sektor unggas Malawi, meskipun secara keseluruhan produksinya relatif kecil dibandingkan dengan produsen teratas di Afrika, dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan keunggulannya melalui pertumbuhan ekspor yang tajam dan peningkatan visibilitas pasar.

Dalam hal ini, dilaporkan bahwa ekspor unggas melonjak dari sekitar US$2 juta pada tahun 2021 menjadi US$10 juta pada tahun 2024, yang mencerminkan peningkatan kapasitas dan partisipasi yang lebih kuat dalam rantai nilai regional. Pendorong utama di balik pertumbuhan ekspor ini adalah meningkatnya peran produsen unggas khusus yang telah berhasil meningkatkan skala operasinya.

Seperti di wilayah lain, biaya pakan tetap menjadi kendala utama dan kekurangan input utama seperti kedelai telah mendorong kenaikan biaya secara signifikan. Misalnya, pada tahun 2024, Malawi mengalami kenaikan harga kedelai hampir 48% antara Mei dan November, sebagian karena kondisi cuaca buruk dan distorsi pasar. Hal ini telah memberi tekanan pada produsen skala kecil dan komersial.

Meskipun demikian, sektor unggas menjadi semakin penting bagi pola makan masyarakat Malawi serta perekonomian lokal. Menteri Perdagangan negara tersebut, Sosten Gwengwe, mengomentari pertumbuhan ekspor, mencatat, “Industri unggas sedang meningkat… tetapi kita harus memastikan pertumbuhan yang lebih inklusif sehingga peternak kecil tidak tertinggal.”

Keberhasilan Malawi menawarkan pelajaran bagi negara-negara lain dengan sumber daya serupa: peningkatan produksi unggas berorientasi ekspor dimungkinkan bahkan tanpa menjadi produsen volume teratas, asalkan produsen dapat memenuhi standar kualitas dan peraturan serta mengelola biaya input dan risiko.

RAKERNAS PINSAR INDONESIA: MERAJUT INTEGRASI INDUSTRI UNGGAS DEMI AMANKAN PASOKAN PROTEIN NASIONAL

Foto bersama dalam Rakernas Pinsar Indonesia. (Foto: Infovet/Sadarman)

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) resmi menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026, pada 19-21 Januari 2026 di Yogyakarta. Perhelatan strategis ini menjadi momentum krusial bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan ulang arah industri perunggasan nasional di tengah dinamika pasar yang kian menantang.

Pertemuan ini menjadi krusial mengingat sektor perunggasan nasional tengah berada di persimpangan jalan antara modernisasi teknologi dan perlindungan hak-hak peternak mandiri.

Di tengah ancaman efisiensi global, Rakernas ini berfungsi sebagai wadah konsolidasi untuk memastikan bahwa transformasi industri menuju sistem terintegrasi tidak menggerus peran peternak rakyat, melainkan memperkuat daya saing mereka dalam rantai pasok nasional yang lebih transparan dan berkeadilan.

Respons Cepat Terhadap Tantangan Sektor Perunggasan
Ketua Pelaksana Rakernas PINSAR Indonesia 2026, Parjuni, menegaskan bahwa kegiatan tahun ini bukan sekadar seremoni rutin. Mengangkat tema “Pengembangan Industri Ayam Terintegrasi”, Rakernas ini merupakan jawaban atas berbagai persoalan fundamental yang menghimpit peternak rakyat.

“Kami ingin merumuskan arah dan langkah bersama. Saat ini, kita menghadapi tantangan nyata mulai dari ketimpangan struktur pasar hingga fluktuasi harga yang kerap merugikan peternak maupun konsumen,” kata Parjuni.

Ia juga menyoroti pentingnya stabilitas pasokan protein hewani, terutama dalam mendukung program strategis pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, industri harus bertransformasi agar mampu menyediakan pasokan yang stabil, terjangkau, dan berkelanjutan.

Ekspansi Organisasi: Pelantikan 12 Wilayah Baru
Dalam rangkaian acara Rakernas, PINSAR Indonesia menunjukkan penguatan basis massanya dengan melantik pengurus dari 12 wilayah baru. Dipandu oleh Ir Eddi Wahyudin, prosesi pelantikan dan penyerahan Pataka dilakukan langsung oleh Ketua Umum PINSAR Indonesia Singgih Januratmoko, kepada perwakilan wilayah mulai dari Aceh, Banten, DKI Jakarta, hingga Papua Barat dan Maluku Utara. Kehadiran pimpinan wilayah baru ini diharapkan memperkuat posisi tawar peternak rakyat dalam mengawal kebijakan perunggasan di tingkat daerah hingga pusat.

Ke depannya, PINSAR Indonesia berkomitmen menjadi benteng perlindungan bagi peternak rakyat melalui penguatan akses permodalan, penyediaan bibit dan pakan yang berkualitas, serta pendampingan teknologi.

Dengan organisasi yang semakin solid, PINSAR Indonesia bertujuan menciptakan ekosistem usaha agar peternak kecil tidak lagi berjalan sendiri dalam menghadapi gempuran korporasi, melainkan memiliki daya tawar kolektif dalam menentukan harga pasar yang adil serta menjadi mitra utama pemerintah dalam menjaga kedaulatan pangan nasional.

Harapan Baru Melalui Program MBG
Membuka acara secara resmi, Singgih memberikan angin segar bagi para peternak. Ia menyatakan bahwa kebijakan pemerintah terkait program MBG adalah “oase” bagi keberlangsungan usaha peternak rakyat.

“Peternak rakyat kini boleh bernapas lega. Program MBG diproyeksikan mampu menyerap produk unggas, baik daging maupun telur secara maksimal. Ini adalah kepastian pasar yang selama ini dinantikan agar peternak bisa menikmati hasil nyata dari usaha yang mereka tekuni,” kata Singgih.

Dengan integrasi industri yang lebih solid dan dukungan pasar dari program pemerintah, Rakernas PINSAR Indonesia 2026 diharapkan menjadi titik balik bagi kejayaan perunggasan nasional yang lebih berkeadilan. (Sadarman)

PINSAR INDONESIA SAMBUT ERA BARU: PROGRAM MBG JADI “CAHAYA” BAGI PETERNAK RAKYAT

Suasana Rakernas PINSAR Indonesia di Yogyakarta. (Foto-foto: Infovet/Sadarman)

Suasana hangat menyelimuti Candhari Heaven, Yogyakarta, pada Senin (19/1/2026) malam. Di tengah udara kota yang syahdu karena diguyur hujan, puluhan pemimpin wilayah Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) dari seluruh penjuru Tanah Air berkumpul, menandai dimulainya rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PINSAR Indonesia 2026.

Acara jamuan makan malam ini bukan sekadar seremoni pembuka. Bagi para peternak rakyat yang tergabung dalam PINSAR Indonesia, momentum ini menjadi titik balik emosional setelah sekian lama bergelut dengan ketidakpastian industri perunggasan nasional.

Ketua Umum PINSAR Indonesia, H. Singgih Januratmoko SKH MM dalam sambutannya di hadapan para pengurus wilayah, tak mampu menyembunyikan rasa bangganya atas daya tahan organisasi yang dipimpinnya. Ia menganalogikan perjalanan peternak mandiri, khususnya di sektor budi daya broiler selama lebih dari 10 tahun terakhir sebagai masa-masa “berjalan di kegelapan”.

“Lebih dari satu dekade kita berjalan di kegelapan yang bisa kita analogikan tanpa cahaya sama sekali. Terutama peternak broiler yang didera masalah over supply yang seakan tiada ujungnya hingga banyak yang gulung tikar,” ujar Singgih dengan nada emosional di tengah riuh rendah suasana makan malam.

Namun, optimisme baru kini terpancar seiring dengan transisi pemerintahan dan kebijakan strategis yang mulai digulirkan. Singgih menyebut program unggulan pemerintah berupa pemberian susu dan Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa sekolah sebagai “oksigen” baru bagi industri peternakan rakyat.

Menurutnya, program MBG adalah jawaban konkret atas permasalahan hilirisasi yang selama ini menghimpit peternak kecil. Dengan kebutuhan protein hewani yang masif untuk anak sekolah di seluruh Indonesia, PINSAR Indonesia memandang diri mereka sebagai aktor kunci yang memegang kendali produksi.

“Kini kita sudah bisa bernapas lega karena adanya program MBG tersebut. Kita terlibat secara langsung karena kita memiliki produknya, daging ayam dan telur, yang kandungan gizi hewaninya melampaui gizi nabati,” tegasnya.

Ketua Umum PINSAR Indonesia, Singgih Januratmoko, saat memberikan sambutannya.

Rangkaian Rakernas ini dijadwalkan akan berlangsung hingga Rabu (21/1/2026). Agenda utama yang akan dibahas pada hari-hari berikutnya mencakup diskusi mengenai pengembangan ekosistem industri ayam terintegrasi serta pemantapan peran PINSAR Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui usaha peternakan rakyat.

Selain dihadiri para pemimpin wilayah, acara ini juga menjadi wadah konsolidasi internal untuk mengevaluasi program kerja tahun sebelumnya dan merumuskan langkah strategis menghadapi tantangan global 2026.

Semangat yang dibawa dari meja makan malam ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi PINSAR Indonesia untuk keluar dari “kegelapan” masa lalu dan menyongsong kedaulatan pangan yang lebih berpihak pada peternak rakyat. (Sadarman)

INDUSTRI UNGGAS SURIAH MENGKHAWATIRKAN KERUGIAN YANG TERUS MENINGKAT

Industri unggas Suriah berada di ambang kehancuran setelah, pada September 2025, pemerintah baru meninggalkan kampanye substitusi impor dan mencabut larangan impor ayam beku yang diberlakukan awal tahun ini.

Menurut Nizar Saad El-Din, kepala Komite Unggas Pusat di Federasi Kamar Pertanian, peternakan Suriah mengalami lonjakan biaya operasional sebesar 300% tahun ini. Hal ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk kenaikan harga energi dan pakan. Akibatnya, unggas yang diproduksi di peternakan Suriah tetap tidak kompetitif dibandingkan dengan impor.

Perhitungan terbaru menunjukkan bahwa biaya produksi 1.000 ekor ayam dengan berat rata-rata 2,5 ton adalah sekitar US$4.275, setara dengan US$1,71 per kg, kata Saad El-Din.

Menanggapi kekhawatiran atas kenaikan harga pangan, pemerintah Suriah, pada 23 September, mengizinkan pengolah daging untuk mengimpor unggas. Sumber-sumber lokal meyakini bahwa keputusan tersebut dipengaruhi oleh lobi dari sekelompok pengolah daging, lapor Syrian Days, sebuah surat kabar lokal.

Sekitar 15.000 peternak unggas menghadapi risiko kebangkrutan karena pasar dibanjiri impor, demikian peringatan publikasi tersebut. Syrian Days mengutip beberapa peternak unggas, yang ingin tetap anonim, mengkritik apa yang mereka gambarkan sebagai kebijakan ekonomi yang tidak menentu dari pemerintah Suriah yang baru.

Secara teknis, impor unggas hanya diperbolehkan untuk beberapa perusahaan industri, dan unggas beku mentah seharusnya tidak sampai ke rak-rak toko bahan makanan di negara tersebut. Namun, kurangnya kontrol mengakibatkan sejumlah besar ayam impor bocor ke pasar, memicu penurunan harga.

Namun, pengamat independen berpendapat bahwa kebijakan pemerintah adalah langkah yang tepat untuk mengekang kenaikan harga pangan.

Selain itu, mantan penasihat Menteri Ekonomi dan Industri, Mazen Deirwan, mengatakan kepada Syrian Days bahwa pabrik pengolahan daging tidak mengimpor ayam beku utuh, melainkan potongan-potongan yang ditujukan semata-mata untuk penggunaan industri. Ia berasumsi bahwa ayam non-Suriah yang tersedia di pasar sebagian besar diselundupkan ke negara itu.

Pemerintah Suriah menghadapi pilihan sulit: melindungi konsumen atau mempertahankan industri unggas yang sedang terpuruk.

Deirwan menganjurkan liberalisasi pasar dan pencabutan total pembatasan impor, dengan alasan bahwa melindungi produksi lokal melalui berbagai larangan telah terbukti tidak berhasil dan bahwa solusinya terletak pada penanganan penyebab tingginya biaya lokal, bukan pada penerapan pembatasan di pasar.

GHANA, SALAH SATU NEGARA PENGHASIL UNGGAS TERBESAR DI AFRIKA

Meningkatnya populasi dan urbanisasi di seluruh Afrika mendorong permintaan akan protein yang terjangkau. Dalam hal ini, industri unggas muncul sebagai sektor penting yang berkontribusi pada ketahanan pangan, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi di seluruh benua.

Permintaan akan daging ayam broiler, telur, dan produk unggas terkait di Ghana tumbuh pesat, tetapi industri lokal masih jauh tertinggal, hanya memenuhi sebagian kecil dari konsumsi nasional. Produksi daging ayam domestik Ghana pada tahun 2023 sekitar 50.482 metrik ton, dengan produksi telur sebesar 74.374 metrik ton, menandai peningkatan 15% dari tahun ke tahun dalam produksi telur, tetapi menunjukkan bahwa produksi daging saat ini masih jauh di bawah permintaan.

Diperkirakan warga Ghana mengonsumsi antara 300.000 dan 400.000 metrik ton unggas setiap tahunnya, menjadikan Ghana sebagai konsumen terbesar kedua di Afrika Barat setelah Nigeria.

Untuk membantu menutup kesenjangan tersebut, pemerintah Ghana meluncurkan berbagai program pada tahun 2024/2025 untuk menghidupkan kembali dan memodernisasi industri ini. Yang utama di antaranya adalah Skema Intensifikasi Unggas di bawah Program Ketahanan Sistem Pangan Afrika Barat (FSRP), yang sebagian didanai oleh Bank Dunia. Di bawah skema ini hingga saat ini, sekitar 360.500 DOC, 911.000 dosis vaksin, dan lebih dari 1,17 juta kg pakan telah dikirim, menghasilkan produksi 400.000 ekor ayam broiler dalam beberapa bulan pertama implementasi.

Ghana juga telah menetapkan target khusus yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungannya pada impor. Pada pertengahan tahun 2025, para pembuat kebijakan berjanji untuk mengganti setidaknya 25% impor ayam beku (setara dengan sekitar 100.000 metrik ton daging unggas setiap tahun) melalui peningkatan produksi lokal. Untuk mencapai hal ini, diperlukan pemeliharaan sekitar 67 juta ekor ayam broiler per tahun, atau sekitar 1,28 juta ekor per minggu, yang masing-masing menghasilkan sekitar 1,5 kg daging setelah diproses.

Namun, tantangan di Ghana tetap ada, seperti halnya di negara-negara tetangga, termasuk biaya pakan dan input yang tinggi, infrastruktur penetasan dan rantai dingin yang sudah ketinggalan zaman, dan persaingan ketat dari impor beku yang lebih murah dari AS, Brasil, dan Eropa.

Keberhasilan revitalisasi industri unggas lokal di Ghana akan berdampak lebih dari sekadar ketahanan pangan nasional, hal itu akan menghasilkan penciptaan lapangan kerja dan peningkatan taraf hidup. Selain itu, pengurangan impor akan menghemat cadangan devisa, meningkatkan neraca perdagangan, dan mendorong nilai tambah di industri pendukung seperti feedmill dan cold storage.

SEBANYAK 400 DOSIS VAKSIN DARURAT UNTUK LSD DISALURKAN KE JEMBRANA

Penyerahan bantuan vaksin darurat untuk LSD serta obat hewan, multivitamin, disinfektan, dan alat kesehatan untuk membantu peternak sapi di Jembrana. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) menyalurkan 400 dosis vaksin darurat untuk penyakit lumpy skin disease (LSD) yang dilengkapi obat hewan, multivitamin, disinfektan, dan alat kesehatan untuk memberikan perlindungan ternak sapi milik peternak di Kabupaten Jembrana, Bali. Langkah ini dilakukan untuk memutus penularan LSD yang sempat menjangkiti puluhan sapi dan berpotensi mengganggu ekonomi peternak.

Bantuan diserahkan Direktur Kesehatan Hewan Kementan Hendra Wibawa, kepada Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, di Desa Manistutu, Kecamatan Melaya, Sabtu (17/1/2026). Ini merupakan tahap pertama bantuan Kementan sebagai respons darurat atas terdeteksinya LSD di Kabupaten Jembrana.

“Hari ini kami menerima peralatan lengkap untuk mencegah penyakit LSD. Ada vaksin, obat-obatan, multivitamin, dan juga disinfektan,” ungkap Kembang.

“Ini upaya kita mempercepat penanganan penyebaran LSD pada sapi. Kolaborasi yang luar biasa hari ini, pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan masyarakat peternak. Semoga segera bisa kita selesaikan.”

Pada kesempatan yang sama, Hendra Wibawa turut mengimbau peternak agar segera melapor jika menemukan gejala benjolan pada kulit sapi, tidak memasukkan dan mengeluarkan ternak dari kandang di zona tertular, serta menjaga kebersihan kandang untuk mengurangi habitat vektor pembawa penyakit.

“Petugas akan langsung memeriksa dan mendiagnosis apakah itu suspek LSD atau penyakit kulit biasa. Jika ditemukan indikasi sakit, segera lakukan isolasi mandiri dengan memisahkan ternak tersebut dari kawanan yang sehat dan laporkan ke petugas agar segera mendapatkan penanganan,” ujar Hendra.

Sementara itu di tempat terpisah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, menegaskan bahwa pengendalian penyakit hewan menular merupakan bagian dari tanggung jawab negara dalam melindungi keberlanjutan usaha peternak rakyat. Hal tersebut disampaikannya saat mendampingi Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat meninjau kesiapan hilirisasi ayam di Bone, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

“Negara tidak boleh membiarkan peternak menanggung risiko sendiri. Ketika ada ancaman penyakit, negara harus hadir lebih dulu untuk melindungi ternak dan memastikan usaha peternak tetap berjalan,” kata Agung.

Ia menegaskan bahwa langkah cepat seperti vaksinasi darurat, pembatasan lalu lintas ternak, dan pendampingan teknis di lapangan menjadi instrumen penting agar peternak tidak mengalami kerugian berkepanjangan akibat wabah penyakit hewan. (INF)

TEMU KANGEN KLVI, WUJUD AKTUALISASI DIRI PARA DOKTER HEWAN SENIOR

Momen foto bersama Ketua Umum KLVI, Dirkeswan, pihak Vaksindo (Foto-foto: Infovet/NDV)

Para dokter hewan senior yang tergabung dalam Paguyuban Keluarga Lansia Veteriner Indonesia (KLVI) menyelenggarakan acara temu kangen dan berkumpul di Cafetaria PT Vaksindo Satwa Nusantara Plant 1, Bogor, Selasa (13/1/2026).

Pertemuan rutin ini sebagai perwujudan untuk mempererat tali silaturahmi, meningkatkan kesehatan mental, serta aktualisasi diri pada lansia tangguh (sehat, aktif, mandiri, produktif). Ketua Umum Paguyuban KLVI, Prof Dr Drh Fachryan Hasmi Pasaribu, mengatakan pertemuan ini rutin terlaksana setiap tiga bulan sekali.

"KLVI kami bagi menjadi lima sektor yaitu Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan Bogor. Tahun lalu, pertemuan diadakan di Bandung. Mengawali 2026 ini, kebagian di Jakarta,” tutur Prof Fachryan sembari menambahkan bahwa paguyuban ini dalam proses transformasi sebagai organisasi. Program-program untuk jangka panjang juga tengah dirapikan.

Koordinator Paguyuban Keluarga Lansia Veteriner Sektor Jakarta, Drh Didi Aswadi MM, menyebutkan saat ini anggota paguyuban di sektor Jakarta sekitar 300 orang. Sementara jumlah anggota keseluruhan dari lima sektor mencapai 1.000 orang lebih yang aktif.  

Keanggotaan KLVI awalnya bersifat eksklusif dokter hewan, bertujuan sebagai media bersilaturahmi dan bertukar pikiran para dokter hewan senior Indonesia. Dilandasi semangat kekeluargaan dan persatuan, keanggotaan KLVI tidak terbatas hanya pada dokter hewan saja, akan tetapi juga anggota keluarganya.

KLVI digagas pertama kali oleh 13 orang dokter hewan senior dan secara resmi dibentuk pada 6 Juli 1996, di kediaman Drh Soetopo, di Jakarta. Para senior yang terlibat di antaranya 1) Drh Soetopo, 2) Drh Soekobagyo, 3) Drh Soetikno, 4) Drh Suwadi Sindurejo, 5) Drh Hutabarat, 6) Drh ZB Tafal, 7) Drh Markoen, 8) Drh Tamyis, 9) Drh Ishak, 10) Drh Dharmojono, 11) Drh Sugiri, 12) Drh IGN Teken Temadja, dan 13) Drh Martono. Di antara para pendiri tersebut, saat ini Drh Dharmojono menjadi satu-satunya pendiri awal yang masih mendampingi KLVI.

Layanan Konsultan

Dari kanan ke kiri: Dirkeswan Drh Hendra Wibawa MSi PhD, Dr Teguh Prajitno, Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa PhD bercengkrama sembari mengunjungi perkantoran PT Vaksindo Satwa Nusantara

Saat ini KLVI tengah mencanangkan program layanan profesional yang memberikan saran, bimbingan, analisis manajemen maupun memberikan pendampingan teknis guna meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta kesehatan hewan ternak.

“Nantinya tim konsultan dari KLVI memiliki tugas mulai dari merencanakan metode budi daya, merumuskan pakan, mengelola kandang, dan mengatasi masalah penyakit untuk memaksimalkan hasil dan keuntungan bisnis peternakan,” jelas Didi. 

Sementara ditambahkan juga oleh Fachryan, KLVI juga akan bekerja sama dengan perbankan dalam pembuatan kartu anggota (KTA) yang multifungsi.

“Melalui program ini, sinergi antara bank dengan KLVI diwujudkan dalam bentuk nyata yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh anggota. Selain itu, kartu ini juga berfungsi sebagai identitas resmi anggota KLVI,” lanjut Fachryan.

Saran Dokter Hewan Senior Dibutuhkan 

Kegiatan temu kangen diisi dengan keseruan bernyanyi bersama

Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH, Drh Hendra Wibawa MSi PhD, yang hadir di dalam acara KLVI menyampaikan, “Menurut saya kegiatan seperti ini tidak hanya sekadar temu kangen maupun silaturahmi. Bagi kami yang berada dalam jajaran Ditjen PKH, keberadaan acara ini merupakan wadah bagi kami menimba ilmu dari para dokter hewan senior yang telah membangun fondasi sistem peternakan dan kesehatan hewan.”

Bukti dari kepemimpinan dan kebijakan-kebijakan yang telah dibuat para senior ini adalah dimana tantangan yang dihadapi pada masa itu dengan keterbatasan sumber daya, mereka mampu buat konklusi yang signifikan untuk pembangunanan peternakan Tanah Air. 

“Salah satu monumental peristiwa yang patut kita contoh yaitu para dokter hewan senior ini sangat berperan dalam membebaskan Indonesia dari wabah PMK dan diakui Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau WOAH pada tahun 1990,” lanjut Hendra. 

Senada dengan Hendra, Head of Animal Health and Livestock Equipment Japfa (Vaksindo), Dr Teguh Yodiantara Prajitno, menuturkan para dokter hewan senior dalam KLVI ini telah merumuskan pilar, sekaligus pengalaman yang mereka lalui dapat menjadi pembelajaran bagi generasi saat ini..   

“Kami yang berada di sini saat ini, sudah diberikan rambu-rambu dan tinggal dikembangkan. Ketika terjadi outbreak penyakit, input-input para senior ini sangat penting,” tutur Teguh. 

Hubungan antargenerasi memegang peran penting dalam mentransfer pengetahuan dan keterampilan dari generasi ke generasi.

“Ketika kita bicara mengenai swasembada pangan, dibutuhkan suplai protein yang konsisten serta sustain. Kontrol keamanan pangan asal hewan di Indonesia terutama yang berkaitan dengan higienitas dan sanitasi, ujung tombaknya ada pada dokter hewan,” tandasnya.  

Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa PhD dari Kementan menambahkan pada momen tertentu, para dokter hewan senior dilibatkan dalam kegiatan edukasi masyarakat mengenai gizi, dalam tata kelola program investasi sapi hingga saat terjadi outbreak PMK yang kembali melanda Indonesia.  

“Kami mengajak para senior untuk turut merespon kehawatiran masyarakat perihal kebijakan pemerintah, kemudian manfaat bagi stakeholder. Pesan atau perspektif yang mereka sampaikan, berbasis pengalaman dan jam terbang dalam menghadapi tantangan di industri peternakan dan kesehatan hewan,” pungkasnya. (NDV) 

PEMERINTAH BERENCANA ALOKASIKAN DANA TRILIUNAN KE SEKTOR PETERNAKAN SAPI

Sarasehan soal 4,8 T untuk peternakan sapi yang digelar di Unpad. (Foto: Istimewa)

Kini industri peternakan menjadi atensi pemerintah, terutama untuk pemenuhan gizi masyarakat melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), ketahanan, dan swasembada pangan sesuai dengan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden. Beberapa produk peternakan yang harganya mudah dijangkau dan menjadi menu andalan program MBG adalah daging ayam dan telur. Namun memungkinkan pula jika daging sapi bisa menjadi variasi menu MBG satu kali dalam sepekan.

Setelah menggulirkan anggaran Rp 20 triliun untuk perunggasan, kini pemerintah juga berencana mengucurkan dana Rp 4,8 triliun untuk peternakan sapi sebagai dukungan atas program MBG untuk pasokan daging dan susu yang berkelanjutan. Strategi yang dibangun adalah pengembangan peternakan besar yang tersentralisasi di wilayah Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur.

Oleh karena itu, Badan Kejuruan Teknik Peternakan Persatuan Insinyur Indonesia (BKT PII) mengadakan sarasehan bertajuk “4,8 T Alokasi Anggaran Pemerintah di Sektor Peternakan Sapi, Mewujudkan Pasokan Daging dan Susu untuk Program MBG yang Berkelanjutan” di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/1/2026).

Kegiatan yang menghadirkan para stakeholder peternakan ini menjadi sangat penting untuk membahas arah penggunaan anggaran tersebut, potensi dampak terhadap rantai pasokan, kesejahteraan peternak rakyat, inovasi industri, pemerataan pembangunan antar wilayah, hingga mitigasi berbagai risiko teknis dan pasar.

Sarasehan dihadiri pemerintah pusat, pemerintah daerah dari luar Jawa, industri swasta, organisasi peternak, dan pelaku inovasi digital, untuk memperoleh pandangan komprehensif dan rekomendasi strategis. Dengan menghadirkan narasumber dari Kementerian Pertanian, BUMN, asosiasi industri susu, asosiasi koperasi persusuan, serta KADIN Indonesia.

Ketua BKT Peternakan PII, Prof Ir Budi Guntoro SPt MSc PhD IPU ASEAN Eng APEC Eng, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dari rencana integrasi peternakan sapi berbasis anggaran Rp 4,8 triliun, serta mengurai tantangan struktural yang perlu diantisipasi pemerintah dan industri, sekaligus merumuskan rekomendasi yang membangun untuk kebijakan, investasi, dan penguatan kelembagaan peternak.

"Kemudian yang cukup penting mendorong kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan peternak,” ujarnya.

Pihaknya berjanji akan terus bersinergi dengan asosiasi peternakan untuk mengawal setiap anggaran dari pemerintah agar dapat memberikan dampak yang nyata bagi kesejahteraan peternak.

“Selain itu memastikan generasi muda ke depan mudah mendapatkan akses dalam mengonsumsi protein hewani. Karena mereka merupakan generasi bangsa yang akan membangun Indonesia berikutnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan Unpad, Prof Dr Ir Rahmat Hidayat SPt MSi IPM, mengemukakan bahwa saat ini industri peternakan diibaratkan berada pada dua kaki. Kaki pertama di antaranya ketimpangan populasi antara jumlah ternak dan masyarakat Indonesia, produksi belum optimal, umur peternak umumnya sudah senior, dan tingkat pendidikan peternak dan partisipasi kelembagaan yang masih rendah.

Sedangkan, salah satu kaki lagi terkait kebijakan program MBG yang memacu permintaan produk peternakan. “Maka dengan kondisi ini tantangan sekaligus kesempatan bagi stakeholder peternakan,” katanya. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer