Meningkatnya populasi dan urbanisasi di seluruh Afrika mendorong permintaan akan protein yang terjangkau. Dalam hal ini, industri unggas muncul sebagai sektor penting yang berkontribusi pada ketahanan pangan, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi di seluruh benua.
Permintaan akan daging ayam broiler, telur, dan produk unggas terkait di Ghana tumbuh pesat, tetapi industri lokal masih jauh tertinggal, hanya memenuhi sebagian kecil dari konsumsi nasional. Produksi daging ayam domestik Ghana pada tahun 2023 sekitar 50.482 metrik ton, dengan produksi telur sebesar 74.374 metrik ton, menandai peningkatan 15% dari tahun ke tahun dalam produksi telur, tetapi menunjukkan bahwa produksi daging saat ini masih jauh di bawah permintaan.
Diperkirakan warga Ghana mengonsumsi antara 300.000 dan 400.000 metrik ton unggas setiap tahunnya, menjadikan Ghana sebagai konsumen terbesar kedua di Afrika Barat setelah Nigeria.
Untuk membantu menutup kesenjangan tersebut, pemerintah Ghana meluncurkan berbagai program pada tahun 2024/2025 untuk menghidupkan kembali dan memodernisasi industri ini. Yang utama di antaranya adalah Skema Intensifikasi Unggas di bawah Program Ketahanan Sistem Pangan Afrika Barat (FSRP), yang sebagian didanai oleh Bank Dunia. Di bawah skema ini hingga saat ini, sekitar 360.500 DOC, 911.000 dosis vaksin, dan lebih dari 1,17 juta kg pakan telah dikirim, menghasilkan produksi 400.000 ekor ayam broiler dalam beberapa bulan pertama implementasi.
Ghana juga telah menetapkan target khusus yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungannya pada impor. Pada pertengahan tahun 2025, para pembuat kebijakan berjanji untuk mengganti setidaknya 25% impor ayam beku (setara dengan sekitar 100.000 metrik ton daging unggas setiap tahun) melalui peningkatan produksi lokal. Untuk mencapai hal ini, diperlukan pemeliharaan sekitar 67 juta ekor ayam broiler per tahun, atau sekitar 1,28 juta ekor per minggu, yang masing-masing menghasilkan sekitar 1,5 kg daging setelah diproses.
Namun, tantangan di Ghana tetap ada, seperti halnya di negara-negara tetangga, termasuk biaya pakan dan input yang tinggi, infrastruktur penetasan dan rantai dingin yang sudah ketinggalan zaman, dan persaingan ketat dari impor beku yang lebih murah dari AS, Brasil, dan Eropa.
Keberhasilan revitalisasi industri unggas lokal di Ghana akan berdampak lebih dari sekadar ketahanan pangan nasional, hal itu akan menghasilkan penciptaan lapangan kerja dan peningkatan taraf hidup. Selain itu, pengurangan impor akan menghemat cadangan devisa, meningkatkan neraca perdagangan, dan mendorong nilai tambah di industri pendukung seperti feedmill dan cold storage.


0 Comments:
Posting Komentar