Bagi Harris terpilih sebagai Ketua ASOHI bukan sesuatu yang perlu diselebrasi, melainkan sebuah tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin sesuai kemampuan. Dia menganggap jabatan ketua tidak seperti kedudukan politis yang harus distrategikan bagaimana supaya mengalahkan saingan.
“Berjalan mengalir saja,” katanya. “Kandidatnya juga sama-sama baik, semua orang-orang yang sudah ada pengalaman dengan track record yang baik, karena memang kriteria menjadi Ketua ASOHI harus minimal jadi pengurus satu periode dulu.”
Meneruskan Agenda Pengurus Sebelumnya
Sebagian besar kegiatan ASOHI di akhir tahun ini adalah meneruskan agenda pengurus sebelumnya. Misalnya agenda rutin outlook dan PJOTH yang sempat tertunda karena adanya Munas.
Untuk ke depannya ASOHI akan lebih memanfaatkan media sosial, dalam memberikan update maupun edukasi juga sharing awareness pada industri maupun masyarakat.
“Misi ASOHI juga sebagai mitra dari pemerintah dan salah satu fokus kita bersama saat ini adalah pengendalian AMR. Dalam waktu dekat sebagai bagian dari itu adalah membatasi penggunaan antibiotika golongan quinolone untuk hewan dan ternak,” terang Harris yang juga menjadi Business Development di PT Cita Indonesia.
Menurutnya masyarakat perlu diedukasi karena sekarang ini ada blind spot, yaitu masalah marketplace dan online shop, yang belum ada perangkat untuk menyelesaikannya. Di online shop masyarakat hampir bisa mendapatkan apa saja termasuk obat keras. Kementan sendiri bisa memberikan sanksi administratif, namun karena entitas di marketplace tidak jelas keberadaannya sehingga mengalami kesulitan, jika ditutup dengan mudahnya mereka bisa membuat yang baru lagi.
![]() |
| Drh Akhmad Harris Priyadi (kemeja biru-tengah) bersama Direktur Utama Cita Indonesia Group Virnanda Aprila Hapsara (kemeja putih-tengah), dan tim. |
ASOHI Berada di Tengah
“Uniknya di kita harus berkoordinasi dengan semua pihak. Kementan adalah policy maker. Tapi Pemda sebagai otoritas dan pelaksana di daerah, bukanlah dibawah rantai komando Kementan, dengan adanya otonomi daerah. Jadi bisa jadi Kementan/Ditjen PKH punya program A, Pemda bisa punya prioritas program B,” jelas Harris.
ASOHI yang sekarang sudah ada di 17 provinsi dapat bersinergi antara Kementan dengan pemda. Contohnya ketika wabah PMK banyak peternak tidak mau sapinya divaksin karena takut sapinya mati atau menjadi sakit. ASOHI pun bekerjasama dengan pemda untuk mengedukasi, bahwa vaksin aktif apapun akan menimbulkan reaksi dimana sapi membentuk antibodi.
ASOHI juga menjadi mediator antara pemerintah dengan perusahaan dan pelanggan. Harris mencontohkan, jika misalnya oleh pemerintah akan melarang obat tertentu, dan tidak diperbolehkan beredar dalam waktu beberapa bulan ke depan. Tentu perusahaan yang memiliki produk tersebut dan penggunanya akan keberatan. Pelanggan bingung apa pengganti produk tersebut, perusahaan bingung karena stok produk mungkin masih banyak.
“Di sinilah kita harus bisa melihat semua itu sebagai partner. Jangan prejudis dulu,” kata Harris. “Kita harus pandai-pandai menjelaskan dan memberikan informasi. Pemerintah sendiri sudah cukup terbuka karena ASOHI track record-nya selalu menjadi mitra.”
Leadership Style
Berpengalaman di berbagai perusahaan dan organisasi menempa kemampuan leadership Harris hingga terbentuk seperti saat ini.
“Leadership itu luas tergantung suasananya. Kadang-kadang ada leadership yang diperlukan otoriter, misalnya di dalam kemiliteran,” kata bapak dari dua putra ini. “Leadership style saya adalah memfasilitasi dan memperkuat. Ada orang yang misalnya rajin, tapi malas belajar. Tapi ada juga yang dia senang belajar tapi kurang rajin. Orang yang rajin ruang untuk tumbuhnya adalah dia harus saya tugaskan baca buku lebih banyak supaya menutupi kekurangannya. Dan bagi orang yang ilmunya banyak tapi kurang rajin, kita latih dia supaya lebih mobile, lebih sering public speaking supaya ilmunya menular ke yang lain.”
Namun menurut Harris juga ada pandangan kedua, yaitu fokus pada kekuatan orang tersebut. Orang yang rajin, senang berinteraksi, sering mobile, diberi penugasan sesuai dengan kelebihannya.
“Ada hal-hal yang kita bisa perbaiki dari orang itu kekurangan dia. Tapi ada juga memang kita fokus ke kekuatan dia apa kita fokuskan di sana. Nah, dengan begitu dia akan merasa tidak terbebani,” tambahnya. “Kita fokus memfasilitasi kekuatan seseorang dimana itu juga bisa kita tingkatkan. Di samping bisa juga kita tutupi dengan memperbaiki kelemahan dia.”
Pesan untuk Infovet
Pada akhir wawancara Harris sempat menitipkan pesan-pesan untuk Infovet. “Infovet harus dare to be different. Harus berani untuk menjadi berbeda,” katanya.(NDV)



0 Comments:
Posting Komentar