-->

REGULASI KESRAWAN DITERBITKAN, ARAH PENGEMBANGAN TELUR BEBAS SANGKAR KIAN TERBUKA

Budi daya ayam petelur sistem cage-free memungkinkan ayam mengekspresikan perilaku alamiahnya. (Foto: Istimewa)

Pemerintah resmi menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 32/2025  tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Kewan (kesrawan). Regulasi ini menjadi landasan hukum penting untuk memastikan praktik pengelolaan ternak sejalan dengan prinsip kesrawan, termasuk mendukung sistem produksi unggas yang memenuhi standar kesrawan, termasuk sistem produksi telur bebas sangkar (cage-free).

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Dirkesmavet) Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Wiratha, menegaskan bahwa meningkatnya kebutuhan pangan menuntut sistem produksi ternak, yang tidak hanya mengedepankan efisiensi, tetapi juga prinsip etika. Menurutnya, kesrawan berkaitan erat dengan produktivitas ternak, keamanan pangan, dan kepercayaan publik.

Ia juga menekankan bahwa kesrawan bukan sekadar isu moral, melainkan bagian penting dalam menjaga mutu pangan dan keberlanjutan sektor peternakan, selain juga bagian dari komitmen global Indonesia dalam kerangka One Health dan Sustainable Development Goals (SDGs).

“Kesadaran publik terhadap perlakuan etis terhadap hewan terus meningkat. Konsumen kini semakin kritis terhadap cara hewan dipelihara dan disembelih. Oleh karena itu, edukasi serta pengawasan berkelanjutan di sepanjang rantai produksi pangan menjadi sangat penting guna mendorong perubahan sikap dan perilaku menuju praktik yang lebih menjunjung kesrawan,” ujarnya dalam sebuah acara daring pada Rabu (31/12/2025).

Seiring terbitnya regulasi tersebut, pemerintah akan melanjutkan langkah dengan menyusun petunjuk teknis pelaksanaan sertifikasi kesrawan dan mempersiapkan SDM yang dibutuhkan untuk mendukung implementasinya. Sertifikasi kesrawan nantinya akan dilaksanakan pemerintah daerah melalui dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan.

“Salah satu fokus pemerintah ke depan adalah menyiapkan dan mencetak auditor di berbagai daerah, agar proses sosialisasi dan sertifikasi penerapan kesrawan dapat berjalan lebih masif, efektif, dan implementatif. Sertifikasi ini diharapkan dapat membuka peluang pasar baru serta meningkatkan daya saing produk peternakan Indonesia, khususnya telur bebas sangkar, baik di pasar domestik maupun global,” tambahnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Kepala Tim Pelaksana Kesrawan Ditkesmavet Kementan, Septa Walyani, menjelaskan bahwa penerapan sistem cage-free menjadi penting karena memungkinkan ayam petelur mengekspresikan perilaku alaminya, yang merupakan salah satu indikator utama kesrawan.

“Berbagai studi menunjukkan bahwa lingkungan pemeliharaan ayam petelur dengan sistem bebas sangkar dapat menurunkan tingkat stres dan risiko penyakit. Dengan demikian, penggunaan antibiotik dapat ditekan dan berkontribusi pada upaya global dalam pencegahan resistansi antimikroba,” jelas Septa di Jakarta, Kamis (11/12/2025).

Pandangan tersebut diperkuat temuan European Food Safety Authority (EFSA) yang menyatakan bahwa risiko salmonella lebih tinggi pada sistem kandang baterai dibandingkan dengan cage-free. Berdasarkan analisis data dari 5.000 peternakan di 24 negara, EFSA mencatat bahwa peternakan ayam petelur bebas sangkar memiliki tingkat kontaminasi salmonella yang jauh lebih rendah bahkan hingga 25 kali lebih rendah untuk beberapa jenis strain.

Menanggapi terbitnya regulasi tersebut, selaku Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, menyampaikan apresiasinya terhadap langkah pemerintah yang dinilai sejalan dengan dinamika global. Menurutnya, regulasi ini menjadi sinyal kuat bagi pelaku usaha bahwa isu kesrawan kini semakin terintegrasi dengan tuntutan pasar dan komitmen perusahaan global, khususnya dalam penyediaan telur bebas sangkar.

“Dalam beberapa tahun terakhir, komitmen perusahaan pangan global terhadap penggunaan telur cage-free meningkat signifikan. Regulasi ini memberikan arah dan kepastian bagi transisi yang lebih terstruktur di Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan perubahan preferensi konsumen yang mendorong kebutuhan akan sistem produksi yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Dengan regulasi ini, Indonesia memiliki fondasi yang lebih kuat untuk memenuhi ekspektasi pasar global,” ujarnya. 

Tren tersebut semakin diperkuat survei konsumen yang dilakukan Lever Foundation bekerja sama dengan GMO Research pada Juli 2025. Survei menunjukkan bahwa mayoritas responden (72%) berpendapat hotel, restoran, supermarket, perusahaan makanan kemasan, serta pelaku usaha sejenis seharusnya hanya menggunakan telur bebas sangkar dalam rantai pasok mereka. Dari aspek harga, sebanyak 71% responden bersedia membayar lebih mahal, dengan kisaran 10-40% untuk telur cage-free. Dan dalam konteks restoran, 72% responden bersedia membayar lebih untuk menu yang menggunakan telur cage-free, dengan mayoritas masih dapat menerima kenaikan harga sebesar 5-20% per porsi.

Hak ini sejalan dengan semakin banyaknya perusahaan makanan besar, supermarket, hingga jaringaan hotel global di Indonesia yang juga telah membuat komitmen atau sedang dalam proses menerapkan kebijakan telur cage-free. (INF)

TANIN: DARI ANTINUTRISI MENJADI PRIMADONA BARU DUNIA PETERNAKAN

Zat tanin dalam bentuk serbuk. (Foto: Istimewa)

Di dunia peternakan, istilah antinutrisi terdengar seperti vonis. Ia seolah menjadi kambing hitam di balik rendahnya performa ternak dan menurunnya efisiensi pakan. Di antara sederet zat yang masuk kategori ini, tanin menempati posisi “paling tersangka.”

Tanin dikenal karena kemampuannya mengikat protein dan menurunkan kecernaan. Para peternak dulu mengeluh ternaknya enggan makan daun ber-tanin tinggi seperti Calliandra atau Acacia. Para peneliti pun memberi label “tanin itu racun nutrisi.”

Namun, dunia berubah. Ilmu pengetahuan berkembang, yang dulu dianggap racun, kini justru menjadi primadona baru, bukan hanya di laboratorium, tapi juga di ladang dan kandang.

Senyawa Kecil dengan Peran Besar
Tanin adalah senyawa polifenol alami yang banyak ditemukan pada daun, kulit kayu, biji, dan buah berbagai tanaman tropis. Ia terbentuk sebagai bentuk “senjata pertahanan” tanaman terhadap serangan serangga, jamur, atau herbivora.

Sifat khas tanin adalah kemampuannya mengikat protein dan logam. Dalam konteks pakan, sifat ini yang dulu dianggap negatif, karena menghambat kecernaan protein di rumen, tetapi seperti dua sisi mata uang, kemampuan itu pula yang kini justru dimanfaatkan untuk kebaikan.

Tanin terbagi dua jenis utama, yakni tanin terkondensasi (condensed tannin/CT) banyak terdapat di leguminosa seperti Indigofera zollingeriana dan Leucaena leucocephala, umumnya aman dan bermanfaat dalam kadar moderat. Serta tanin terhidrolisis (hydrolyzable tannin/HT) terdapat pada Acacia nilotica atau Chestnut, bersifat lebih reaktif dan berisiko jika berlebih.

Dari Penghambat Menjadi Pengatur
Sebuah lompatan besar dalam riset nutrisi ternak terjadi ketika para ilmuwan menemukan bahwa efek tanin sangat bergantung pada dosisnya.

Dalam kadar tinggi (>5% bahan kering), tanin memang bisa menurunkan konsumsi dan kecernaan pakan. Namun dalam dosis rendah hingga sedang (2-4%), tanin justru bekerja cerdas, ia mengatur pelepasan protein agar tidak terdegradasi di rumen, melainkan langsung diserap di usus halus. Inilah konsep protein bypass, salah satu tonggak penting dalam efisiensi pakan ruminansia.

Penelitian Min et al. (2003), menunjukkan bahwa tanin terkondensasi membentuk kompleks protein-tanin yang stabil di rumen, namun terurai pada pH asam usus. Artinya, protein tidak “terbuang” untuk bakteri rumen, tapi “diselamatkan” untuk tubuh ternak.

Hasilnya? Efisiensi nitrogen meningkat, pertumbuhan ternak lebih optimal, dan limbah nitrogen yang mencemari lingkungan berkurang. Dari sini, tanin mulai dikenal bukan lagi sebagai penghambat, tetapi pengatur alami metabolisme.

Potensi yang Terlupakan
Indonesia sejatinya memiliki kekayaan tanaman pakan leguminosa yang mengandung tanin dalam kadar ideal. Sebut saja Indigofera zollingeriana, Calliandra calothyrsus, Gliricidia sepium, dan Acacia mangium.

Sayangnya, selama puluhan tahun potensi ini tidak tergarap maksimal. Padahal menurut penelitian Wina et al. (2015), Indigofera zollingeriana mengandung protein kasar 25-31% dan tanin terkondensasi sekitar 2-3%, kadar yang justru ideal untuk meningkatkan efisiensi protein tanpa menurunkan konsumsi.

Bahkan penelitian lanjutan oleh Setyaningsih et al. (2019), pada kambing perah menunjukkan bahwa ekstrak tanin dari Acacia mangium mampu menurunkan kadar amonia rumen dan memperbaiki profil fermentasi. Produksi susu meningkat, sementara bau akibat gas metana menurun signifikan.

Artinya, tanin bukan sekadar zat kimia di daun, tetapi bagian dari solusi nyata menuju peternakan tropis yang efisien dan ramah lingkungan.

Temuan ini menegaskan bahwa senyawa tanin dari tanaman tropis memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pakan sekaligus menjaga kesehatan ternak. Dengan kemampuan menghambat degradasi berlebih dan menekan aktivitas mikroba penghasil gas, tanin dinilai sebagai solusi alami menuju sistem peternakan rendah emisi dan berkelanjutan di masa depan.

Tanin untuk Langit yang Lebih Biru
Isu perubahan iklim kini menuntut dunia peternakan untuk berbenah. Ruminansia seperti domba, kambing, kerbau, dan sapi menghasilkan gas metana (CH₄) dari fermentasi di rumen. Gas ini memiliki potensi pemanasan global 28 kali lebih besar dibanding karbon dioksida.

Setiap kali sapi mengunyah, sesungguhnya bumi sedikit memanas, namun tanin membawa harapan. Berbagai penelitian termasuk Jayanegara et al. (2020), menunjukkan bahwa suplementasi tanin terkondensasi sebesar 3% dari bahan kering pakan dapat menurunkan produksi metana hingga 25% tanpa menurunkan kecernaan total.

Bagaimana caranya? Tanin menekan populasi methanogen, mikroba penghasil metana; tanin menggeser fermentasi dari jalur asetat ke propionat, menghasilkan lebih banyak energi dan lebih sedikit gas; serta tanin mengurangi hidrogen bebas di rumen, bahan baku utama pembentukan metana.

Inovasi yang Terus Berkembang
Teknologi pakan modern kini membawa tanin melangkah lebih jauh. Dari sekadar daun pahit di kebun, kini tanin hadir dalam bentuk ekstrak murni dan suplemen pakan.

Ekstrak tanin dari Quebracho, Chestnut, dan Acacia sudah lama digunakan di Eropa dan Amerika sebagai natural methane inhibitor dan rumen modifier. Di Indonesia, penelitian sedang gencar dilakukan untuk mengekstraksi tanin dari bahan lokal seperti kulit jengkol, daun mangga, hingga kulit buah kakao.

Lebih dari itu, tanin juga berperan sebagai antioksidan dan antiparasit alami. Hoste et al. (2015), melaporkan bahwa tanin dapat menurunkan infeksi cacing Haemonchus contortus pada kambing tanpa menggunakan obat kimia sintetis. Artinya tanin tidak hanya menyehatkan ternak, tapi juga menyehatkan sistem produksi, menjadikannya bagian penting dari konsep pakan fungsional (functional feed).

Aditif Potensial dalam Pembuatan Silase
Dalam dunia peternakan modern, silase sudah menjadi bagian penting dari sistem pakan, terutama saat musim kemarau ketika hijauan sulit didapat. Namun, tidak semua silase memiliki kualitas yang baik. Banyak peternak masih menghadapi masalah seperti silase cepat rusak, aroma menyengat, tekstur berlendir, hingga pertumbuhan jamur. Masalah ini umumnya terjadi karena proses fermentasi yang tidak sempurna dan aktivitas mikroba yang berlebihan.

Untuk mengatasi hal tersebut, para peneliti mulai melirik tanin sebagai bahan aditif alami dalam pembuatan silase. Tanin dikenal sebagai senyawa polifenol yang terdapat pada banyak tanaman tropis seperti Indigofera zollingeriana, Acacia mangium, dan Chestnut (Castanea spp.). Dahulu, tanin dianggap antinutrisi karena bisa mengikat protein dan menurunkan daya cerna. Namun kini, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa tanin dalam dosis rendah mampu memperbaiki proses fermentasi silase.

Bagaimana Tanin Bekerja dalam Silase?
Tanin memiliki kemampuan mengikat protein dan karbohidrat larut, membentuk kompleks yang lebih stabil selama proses ensilase. Ikatan ini bersifat reversibel, artinya nutrien tersebut akan terlepas kembali di saluran pencernaan bagian bawah, bukan di rumen. Dengan begitu, protein kasar lebih terlindungi dari degradasi berlebihan dan ternak bisa memanfaatkannya lebih efisien.

Selain itu, tanin juga memiliki sifat antimikroba alami. Senyawa ini dapat menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri pembusuk, sehingga silase menjadi lebih awet dan aromanya tetap segar. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa tanin membantu menurunkan kadar amonia dan pH silase, dua indikator penting dari fermentasi yang sehat.

Bukti dari Penelitian di Lapangan
Penelitian menunjukkan bahwa penambahan tanin dari Acacia dan Chestnut pada silase ampas kecap dapat membuat silase lebih stabil karena pH-nya turun dan pembusukan protein berkurang. Protein dalam silase lebih terjaga dan tidak banyak hilang selama penyimpanan. Tanin juga membantu menekan gas metana dari ternak tanpa mengganggu proses pencernaan di rumen. Jadi, penggunaan 2% tanin Acacia bisa menjadi pilihan aditif alami yang menjaga kualitas silase sekaligus ramah lingkungan (Sadarman et al., 2020).

Penambahan tanin pada silase ampas kecap dapat membuat silase lebih stabil karena pH-nya turun dan pembusukan protein berkurang. (Foto: Istimewa)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tanin terkondensasi (CT) maupun tanin terhidrolisis (HT) pada ampas kecap tidak memengaruhi kecepatan degradasi, yang dilihat dari fraksi larut (a), laju degradasi (c), dan nilai kecernaan efektif (ED). Namun, terdapat penurunan nyata (p<0,05) pada fraksi yang berpotensi terdegradasi (b) dan total potensi degradasi (a+b) bahan kering (BK) serta bahan organik (BO), baik pada ampas kecap yang difermentasi maupun yang tidak. Dengan demikian, ekstrak CT dan HT dari Acacia dan Chestnut memiliki efek pelindung terhadap nutrien yang mudah terdegradasi dari ampas kecap. Menariknya, efek perlindungan tersebut serupa pada silase maupun bahan yang tidak diensilase (Sadarman et al., 2021).

Hasil penelitian Sadarman et al. (2022), membuktikan bahwa penambahan 0,50% tanin Chestnut mampu meningkatkan kualitas fisik silase kelobot jagung (Zea mays). Silase yang dihasilkan memiliki warna lebih cerah, tekstur padat namun tidak keras, suhu stabil, dan pertumbuhan jamur minimal. Kondisi ini membuat silase lebih tahan disimpan dan lebih disukai ternak.

Studi lain yang dilaporkan Sadarman et al. (2024), menunjukkan bahwa penambahan 2% tanin Chestnut pada pakan komplit berbasis limbah kelapa sawit yang diensilase dapat menghasilkan silase dengan protein kasar lebih tinggi dibandingkan tanpa tanin, sementara kadar lemak dan serat kasar tetap sama. Kandungan abu menurun, menandakan fermentasi berlangsung lebih efisien. Bahkan, tanin memberikan pengaruh nyata terhadap kadar air, aroma, amonia, dan total asam lemak volatil (VFA), parameter utama yang menentukan mutu silase.

Bagi peternak, penggunaan tanin sebagai aditif silase menawarkan berbagai keuntungan nyata, antara lain menekan kehilangan bahan kering (BK) selama proses fermentasi; melindungi protein kasar agar tidak cepat terurai oleh mikroba rumen; menjaga aroma, warna, dan tekstur silase agar tetap segar dan disukai ternak; menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri pembusuk, memperpanjang umur simpan; menstabilkan suhu silase, mencegah panas berlebih yang dapat merusak nutrien; menurunkan emisi amonia dan metana, membantu peternakan menjadi lebih ramah lingkungan.

Dengan hasil tersebut, tanin kini dianggap sebagai aditif potensial yang murah, alami, dan ramah lingkungan untuk meningkatkan mutu silase, terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman sumber tanin seperti Indigofera dan Akasia mudah tumbuh di lahan kering, sehingga berpotensi besar dikembangkan sebagai bahan lokal untuk pembuatan pakan fermentasi.

Pemanfaatan tanin sebagai aditif silase tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas pakan, tetapi juga menjadi langkah strategis menuju peternakan hijau dan berkelanjutan. Dengan kualitas silase yang lebih baik, ternak tumbuh optimal, efisiensi pakan meningkat, dan gas metana yang dihasilkan dari pencernaan dapat ditekan.

Artinya, dengan langkah sederhana menambahkan tanin dalam proses pembuatan silase, peternak turut berkontribusi menjaga bumi dari dampak perubahan iklim. Tanin tidak lagi menjadi “musuh” dalam pakan, melainkan sekutu baru peternak cerdas dalam menghadirkan produksi ternak yang efisien, sehat, dan ramah lingkungan.

Rahasia Keberhasilan Tanin
Namun, seperti segala hal di dunia nutrisi, keseimbangan adalah kunci. Tanin yang berlebihan bisa menurunkan palatabilitas (selera makan), menekan mikroba rumen, dan mengganggu penyerapan mineral. Kadar ideal tanin dalam pakan sebaiknya tidak melebihi 5% bahan kering.

Oleh karena itu, peternak dan formulator pakan perlu memahami kadar tanin dalam bahan pakan dan menyesuaikan dosisnya secara ilmiah. Teknik analisis seperti in vitro gas production kini banyak digunakan untuk menentukan batas optimal penggunaan tanin. Dengan pendekatan ilmiah, “si pahit” bisa menjadi “si penyelamat” atmosfir bumi.

Peternak Mulai Menyadari
Di berbagai daerah Indonesia, peternak mulai membuka mata. Di Riau dan Jawa Barat, banyak kelompok peternak menanam Indigofera zollingeriana sebagai hijauan unggulan. Produksinya tinggi, taninnya moderat, dan ternak tampak lebih sehat.

“Dulu kami takut memberikan daun Indigofera karena katanya ada tanin. Tapi setelah diuji di laboratorium kampus, ternyata malah bikin kambing cepat gemuk,” ujar seorang peternak di Kampar.

Cerita serupa datang dari Nusa Tenggara Timur, daun Calliandra yang dulu dibuang kini difermentasi atau diensilase dengan molases menjadi pakan bernilai tinggi. Dari pengalaman lapangan ini, menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya soal laboratorium, tapi soal keberanian mengubah cara pandang.

Tanin dan Masa Depan Peternakan Hijau
Ketika dunia berbicara tentang sustainable livestock, kerap dibayangkan teknologi mahal atau alat canggih. Padahal, sebagian jawabannya bisa ditemukan di daun-daun hijau yang tumbuh di sekitar manusia.

Tanin mengajarkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang baru, kadang cukup dengan memahami ulang apa yang sudah ada di alam. Kini, berbagai lembaga penelitian mulai mempromosikan konsep “livestock low carbon”, pakan berbasis tanin menjadi bagian dari strategi global menekan emisi metana.

Peternakan tidak lagi hanya soal produksi daging dan susu, tapi juga tentang tanggung jawab ekologis. Dalam konteks ini, tanin hadir sebagai jembatan antara produktivitas dan keberlanjutan.

Dari Musuh Menjadi Mitra
Transformasi tanin dari “antinutrisi berbahaya” menjadi “nutrisi cerdas” adalah kisah luar biasa tentang perubahan paradigma. Ia menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan bisa mengubah cara dalam melihat alam.

Tanin bukan lagi antagonis dalam pencernaan, melainkan mitra dalam efisiensi dan keberlanjutan. Ia bukan penghalang produktivitas, tapi penjaga keseimbangan antara ternak, manusia, dan bumi.

Peternakan masa depan bukan hanya tentang teknologi tinggi, tetapi tentang kearifan memanfaatkan sumber daya alami dengan ilmu pengetahuan yang benar. Tanin adalah simbol dari gagasan itu, dari yang dulu ditolak karena ketidaktahuan, kini diterima karena pemahaman.

Karena sesungguhnya, sebagaimana ungkapan para ahli nutrisi, “Tidak ada zat yang benar-benar berbahaya, yang berbahaya adalah ketidaktahuan menggunakannya.” Tanin mengajarkan bahwa alam selalu menyediakan solusi. ***

Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak Prodi Peternakan UIN Suska Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau

STATUS KESEHATAN TERNAK, PILAR UTAMA PETERNAKAN DAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN

Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan asal hewan untuk pemenuhan gizi nasional (seperti program Makan Bergizi Gratis – MBG) dan tuntutan global terhadap praktik usaha yang ramah lingkungan, sektor peternakan dihadapkan pada tantangan besar. Selain produktivitas yang tinggi, peternakan juga dituntut berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Dalam konteks ini, satu aspek kunci yang sering luput dari perhatian adalah status kesehatan ternak. Padahal, yang merupakan pilar utama untuk mewujudkan sustainable livestock farming atau peternakan berkelanjutan.

Status kesehatan ternak mencerminkan kondisi fisik, fisiologis, dan bebas penyakit pada hewan ternak. Ternak yang sehat tidak hanya menghasilkan produk yang aman dan berkualitas, tetapi juga lebih efisien dalam memanfaatkan pakan, memiliki fungsi reproduksi yang baik, serta berkontribusi nyata pada kondisi ekonomi dan kesejahteraan peternak. Sebaliknya, ternak yang sakit dapat menjadi sumber kerugian ekonomi signifikan, ancaman kesehatan masyarakat, dan tekanan terhadap lingkungan.

Efisiensi Produksi sebagai Kunci Keberlanjutan

Di dalam sistem peternakan berkelanjutan, efisiensi menjadi kata kunci. Ternak yang sehat mampu mengonversi pakan menjadi daging, susu, atau telur secara optimal. Hal ini berarti penggunaan sumber daya/ biomassa seperti pakan, air, dan lahan menjadi lebih hemat dan ekonomis. Dengan efisiensi yang tinggi, emisi gas rumah kaca per satuan produk pun dapat ditekan, sejalan dengan upaya mitigasi perubahan iklim. Sebagai contoh solusi, adalah dengan dimulainya penerapan Smart/Precision Farming untuk peningkatan produksi dan efisiensi usaha peternakan.

Sebaliknya, ternak sakit sering kali mengalami penurunkan nafsu makan, perlambatan pertumbuhan, pengurangan produk hasil ternak dan peningkatkan risiko kematian. Kondisi ini mendorong peternak untuk mengafkir ternak secara dini (early culling), mengganti (replacement/restocking) ternak, menambah populasi atau memperpanjang masa pemeliharaan, yang pada akhirnya meningkatkan jejak lingkungan atau jejak karbon (carbon footprint). Dengan kata lain, menjaga ternak tetap sehat sama artinya dengan menjaga keseimbangan antara produksi dan kelestarian lingkungan.

Pengelolaan Pencemaran dan Limbah Peternakan

Peternakan berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari upaya pengendalian pencemaran dan limbah. Aktivitas peternakan menghasilkan limbah kotoran ternak, sisa pakan, air limbah, serta emisi gas yang berpotensi mencemari tanah, air, dan udara di sekitarnya. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menurunkan kualitas lingkungan, mengganggu kesehatan masyarakat, dan mempercepat penyebaran penyakit di antara ternak itu sendiri. Oleh karenanya, pengelolaan limbah menjadi bagian penting dari sistem kesehatan dan manajemen peternakan.

Pengelolaan limbah dapat dilakukan melalui penerapan kebersihan kandang, sistem drainase yang baik, serta pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk organik atau sumber energi biogas. Ternak yang sehat cenderung menghasilkan limbah yang lebih mudah dikelola, sehingga membantu mengurangi pencemaran lingkungan dan jejak karbon peternakan. Dengan pengelolaan limbah yang tepat dan efektif, aktivitas peternakan tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan sekitar, tetapi juga menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar dan mendukung keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.

Pengecekan Status Kesehatan dan Dokumen di Check Point Dilakukan Untuk Mencegah Penyebaran Penyakit
(Foto : Istimewa)


Kesehatan Masyarakat, Kesejahteraan Hewan dan Tanggung Jawab Sosial

Peran kesehatan ternak tidak berhenti di kandang. Penyakit hewan, terutama yang bersifat zoonosis, dapat menular ke manusia melalui produk ternak atau kontak langsung. Kasus flu burung, antraks, hingga bruselosis menjadi pengingat bahwa kesehatan ternak berkaitan erat dengan kesehatan manusia.

Pendekatan One Health yang menekankan integrasi antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan menjadi semakin relevan dalam pembangunan peternakan berkelanjutan. Ternak yang sehat menghasilkan produk yang aman dikonsumsi, mengurangi risiko penularan penyakit kepada masyarakat, serta meningkatkan kepercayaan dan rasa aman bagi konsumen. Dalam jangka panjang, hal ini memperkuat posisi dan daya saing produk peternakan baik di pasar domestik maupun global.

Peternakan berkelanjutan juga memposisikan kesejahteraan hewan sebagai prinsip utama. Kesehatan ternak menjadi indikator langsung dari tingkat kesejahteraan tersebut. Ternak yang dipelihara dengan manajemen kesehatan yang baik, melalui pencegahan penyakit, sanitasi kandang, dan praktik-praktik beternak yang baik (good farming practices), menunjukkan bahwa aktivitas usaha peternakan dikelola dengan bertanggung jawab dengan mengedepankan prinsip kesejahteraan hewan.

Dewasa ini, masyarakat pun semakin kritis terhadap asal-usul produk pangan. Praktik peternakan yang memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan ternak dinilai lebih dapat diterima secara sosial. Hal ini membuka peluang nilai tambah bagi peternak, terutama dalam menghadapi pasar yang mengutamakan aspek keberlanjutan dan etika produksi.

Menatap Masa Depan Peternakan melalui Manajemen Kesehatan dan Kebijakan

Menjaga status kesehatan ternak tidak bisa dilakukan secara sporadis. Diperlukan manajemen kesehatan yang terencana, mulai dari biosekuriti, vaksinasi, monitoring penyakit (deteksi dini), hingga penggunaan obat hewan yang bijak. Peran tenaga kesehatan hewan (dokter hewan dan paramedik veteriner), penyuluh pertanian, dan dukungan kebijakan pemerintah menjadi sangat penting dalam sistem ini.

Pemerintah dan pemangku kepentingan diharapkan terus mendorong program pengendalian penyakit, penguatan sistem surveilans, serta edukasi peternak. Disamping itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi dan pusat penelitian menjadi penting dalam upaya kebaruan metode, inovasi dan analisis program pengendalian. Investasi pada kesehatan ternak sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan sektor peternakan nasional.

Di era pembangunan berkelanjutan, kesehatan ternak bukan lagi isu teknis semata, melainkan strategi utama. Dengan ternak yang sehat, peternakan dapat berjalan lebih produktif, ramah lingkungan, dan bertanggung jawab secara sosial. Status kesehatan ternak adalah jembatan yang menghubungkan kepentingan peternak, konsumen, dan lingkungan.

Peternakan berkelanjutan tidak akan terwujud tanpa perhatian serius terhadap kesehatan ternak. Menjaga ternak tetap sehat berarti menjaga masa depan pangan nasional, gizi dan kesehatan masyarakat, kesejahteraan peternak, dan keberlanjutan bumi. 

 Oleh: Dr. Drh. Ardilasunu Wicaksono, MSi

1.     Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University

2.     Sekretaris Program Studi Doktor Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB University

DAFTARKAN SEGERA DALAM PELATIHAN PJTOH ANGKATAN XXVIII


Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) akan kembali menyelenggarakan Pelatihan PJTOH Angkatan XXVIII dengan topik menarik, termasuk peraturan terbaru terkait perizinan dan KBLI 2025.
- PP No. 28/2025
- Permentan No. 34/2025
- Peraturan BPS No. 7/2025

Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi dokter hewan, dokter hewan praktisi, apoteker, akademisi kedokteran hewan & farmasi, regulatory officer, production manager obat hewan, dan lain sebagainya.

Dengan menghadirkan narasumber di antaranya dari Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Pakan, BBPMSOH, Tim CPOHB, BKPM, ASOHI, PDHI, dan IAI.

Diselenggarakan pada:
Tanggal: 10-12 Februari 2026
Tempat: Luminor Hotel Bogor & BBPMSOH
Waktu: 07:30-17:00 WIB

Link pendaftaran: https://bit.ly/PPJTOH_28

Investasi:
- Rp 3.000.000 (ANGGOTA ASOHI)
- Rp 3.500.000 (NON ANGGOTA ASOHI)

Info rek a.n ASOHI Bank Mandiri Cab. Pasar Minggu Pejaten 126.009.8041.451
Bukti transfer kirim ke email: asohipusat@gmail.com

CP: Aida (0818-0659-7525)

PELUNCURAN KARKAS AYAM PEDAGING UNGGUL IPB-D1, TONGGAK PENTING PENGUATAN KEMANDIRIAN PANGAN NASIONAL

Tim peneliti ayam IPB-D1

“Rasanya seperti mimpi. Karena tadinya kan hanya penelitian biasa saja bersama teman-teman. Waktu itu fasilitas juga tidak ada, tapi ya sambil jalan saja,” kata Prof Dr Ir Cece Sumantri M Agr Sc saat diwawancara Infovet, di acara peluncuran Produk Karkas Ayam Lokal Pedaging Unggul Premium IPB-D1, yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan (Fapet) IPB University pada Senin (15/12), bertempat di Fakultas Peternakan IPB University.

Peluncuran ini menjadi tonggak penting dalam upaya penguatan ketahanan dan kemandirian pangan nasional, khususnya penyediaan protein hewani berbasis sumber daya genetik lokal.

Acara dibuka dengan sambutan dari Wakil Rektor Bidang Riset Inovasi Pengembangan Agromaritim , Prof Dr Ir Ernan Rustiadi MAgr, dan Direktur Riset dan Inovasi IPB University, Prof Dr Sugeng Heri Suseno SPi MSi.

Menjawab Tantangan Ketergantungan Indonesia Terhadap Impor

Ayam IPB-D1 merupakan hasil riset jangka panjang Tim Fakultas Peternakan IPB University yang telah dikembangkan sejak tahun 2010. Ayam ini dirancang untuk menjawab tantangan ketergantungan Indonesia terhadap ayam ras pedaging yang masih berbasis impor, baik dari sisi bibit maupun pakan.

Dengan pengembangan ayam lokal unggul yang adaptif, efisien, dan bernilai gizi tinggi, IPB-D1 diharapkan mampu mendorong pertumbuhan agribisnis peternakan ayam lokal, terutama di wilayah pedesaan, sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Dikasih nama IPB-D1, jadi D itu kan lambang Fakultas Peternakan. Jadi artinya ayam IPB milik Fakultas Peternakan kode satu,” jelas Cece.

Secara genetik, ayam IPB-D1 merupakan hasil persilangan jantan F1 (Pelung × Sentul) dengan betina F1 (Kampung × Parent Stock Cobb pedaging), dengan komposisi gen masing-masing sebesar 25 persen. Ayam ini kemudian disilangkan sesamanya, hingga generasi kelima dan diseleksi menggunakan pendekatan genetika molekuler.

Secara resmi, ayam IPB-D1 telah ditetapkan sebagai rumpun ayam lokal pedaging unggul oleh Kementerian Pertanian sejak tahun 2019. Ayam ini memiliki keunggulan pertumbuhan yang relatif cepat, kualitas daging yang baik, serta ketahanan terhadap penyakit Newcastle Disease (ND) dan Salmonella.

Daging Ayam Fungsional

Produk ayam IPB-D1: ayam karkas, ayam bacem, ayam kremes.

Pengembangan IPB-D1 terus dilanjutkan sejak tahun 2020 untuk menghasilkan galur unggul lanjutan, upaya ini ditujukan untuk menghasilkan IPB-D1 upgrade yang semakin unggul dari sisi ketahanan penyakit, performa produksi, dan kualitas daging. Pada aspek produk, karkas ayam IPB-D1 Premium dikembangkan sebagai ayam fungsional dengan kandungan gizi unggul.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa daging IPB-D1 memiliki proporsi bagian dada dan paha yang lebih tinggi dibandingkan ayam lokal lainnya. Selain itu, daging ayam IPB D-1 juga mengandung mineral penting seperti zat besi dan zinc, yang bermanfaat untuk mendukung kesehatan masyarakat, termasuk pencegahan anemia dan stunting.

Cece menambahkan, “Sebetulnya ayam IPB D1 itu secara ketahanan penyakit sudah cukup bagus. Kita seleksi lagi ke ketahanan yang lebih tinggi lagi, tapi nanti tidak terlalu maksimal. Karena kalau terlalu tinggi nanti produksi telurnya turun, ayamnya pertumbuhan tidak bagus. Energi-energi untuk pertumbuhan dipakai untuk ketahanan penyakit.”

Dalam pengembangannya, IPB University juga melakukan berbagai tahapan untuk menjamin mutu dan keamanan produk, mulai dari uji kualitas daging, pengembangan pakan berbahan lokal, penggunaan pengawet alami, hingga uji pasar untuk melihat minat dan penerimaan konsumen. Proses sertifikasi halal serta pengajuan standar mutu nasional juga sedang dan terus dilakukan sebagai bagian dari komitmen terhadap kualitas produk.

Pengembangan ayam IPB-D1 merupakan hasil kerja sama tim peneliti lintas bidang di Fakultas Peternakan IPB University. Penelitian dan pengembangan ayam IPB-D1 melibatkan tim multidisiplin yang mencakup aspek pemuliaan, budidaya, nutrisi pakan, kesehatan ternak, kualitas daging, hingga pemasaran dan komersialisasi produk.

Tim yang terlibat dalam penelitian ini yaitu dalam bidang Pemuliaan dan Genetika Ternak oleh Prof Cece Sumantri dan Dr Sri Darwati; Teknik Budidaya oleh Prof Niken Ulupi dan Dr Rudi Afnan; Nutrisi Pakan oleh Prof Sumiati; Ketahanan Penyakit oleh Dr drh Sri Murtini; Pemasaran dan Komersialisasi oleh Dr Lucia Cyrillia; serta Kualitas Fisiko-Kimia Daging oleh Prof Irma Isnafia Arif, Dr Zakiah Wulandari, dan Dr Wulan.

Melalui peluncuran karkas ayam lokal pedaging unggul premium IPB-D1 ini, Fakultas Peternakan IPB University menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi berbasis riset untuk mendukung ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan pembangunan peternakan nasional yang berkelanjutan.

Bisnis Berorientasi Kerakyatan

Ayam IPB-D1 sudah dikembangkan di pedesaan Sukabumi, tepatnya di Jampang Tengah. Dalam bentuk kemitraan dengan masyarakat kecil, dengan Sinar Harapan sebagai inti. Dengan pakan yang bagus, usia 10 minggu ayam ini bisa mencapai bobot 1,3 kg. Bahkan jika hanya menggunakan pakan yang kualitasnya di bawahnya masih bisa mencapai bobot 1,1 kg.

Warga yang tergabung dalam kemitraan umumnya untuk satu rumah memelihara satu jantan dan beberapa betina. Hasil panen dijual ke Sinar Harapan.

“Saya bilang jangan seperti tengkulak. Kita bisnisnya bisnis sosial, semua sama-sama senang. IPB minta misalnya royalti sekian itu kan hanya di atas kertas. Dengan gonjang-ganjing ayam ini dengan tidak bangkrut saja sudah bersyukur. Yang penting mahasiswa bisa penelitian dan ayamnya terus berkembang,” jeas Cece.

“Karena pengembangannya berbasis peternakan rakyat maka targetnya ke ketahanan penyakit. Pokoknya kita berpihak ke peternak kecil. Mudah-mudahan paling tidak kalau tidak dijual bisa dikonsumsi sendiri. Dan kenapa basisnya di Sukabumi di sana masih banyak stunting. Jadi kita tidak melihat berapa sih dapat uangnya.”

Prospek Pasar ke Depan

Ayam IPB D-1 dengan kandungan mineralnya akan diarahkan sebagai daging ayam fungsional. Saat ini sudah dijajaki untuk menggaet rumah sakit dan orang-orang berkebutuhan nutrisi khusus sebagai market.

Namun hotel, restoran, supermarket dan masyarakat pada umumnya juga menjadi market yang baik. Karena dagingnya yang mempunyai karakteristik daging ayam kampung. Selain itu harganya pun bersaing, untuk karkas dengan berat sekitar 900 gram bisa dijual seharga Rp 60.000,-. Sedangkan ayam kampung di supermarket biasa dijual antara Rp 75.000 hingga 80.000,-.

“Kalau menurut saya sih ini ada marketnya sendiri. Apalagi kalau nanti berani ekspor,” pungkas Cecep. (NDV)

PREDIKSI PENYAKIT UNGGAS 2026

Penyakit bakterial dan viral dapat mengancam produktivitas dan kesehatan unggas serta stabilitas ekonomi peternak. (Foto: Istimewa)

Penyakit merupakan bentuk penyimpangan berbahaya dari fungsi organ atau struktur normal organ yang disertai gejala klinis spesifik. Penyakit dapat disebabkan berbagai macam faktor, seperti organisme patogen, toksin, kekurangan nutrisi, kelainan metabolik, neoplasia, hingga kelainan genetik.

Penyakit bakterial dan viral dapat mengancam produktivitas dan kesehatan unggas serta stabilitas ekonomi peternak. Berdasarkan data PT Sanbio Laboratories, kasus penyakit pada unggas di 2025 sangat bervariasi. Penyakit viral maupun bakterial yang terkonfirmasi positif uji PCR mulai dari avian influenza (AI), infectious bronchitis (IB), newcastle disease (ND), infectious bursal disease (IBD), coryza (snot), dan yang lainnya, tercatat sebagai tantangan yang perlu dihadapi peternak.

Berdasarkan data PT Sanbio Laboratories, kasus AI subtipe H5 menduduki peringkat teratas yang kerap dilaporkan, yaitu sebanyak 17%.  Kejadian AI H5 yang dilaporkan menyerang pada ayam layer dan menyebabkan mortalitas yang cukup tinggi teridentifikasi termasuk dalam clade 2.3.2 pada semua sampel yang diuji.

Selain AI H5, penyakit IB juga menjadi tantangan teratas tahun ini. Berdasarkan hasil sekuensing diketahui kasus IB yang dilaporkan menunjukkan sekuensing IB varian seperti QX-like dan 793B. Kejadian IB yang tercatat dilaporkan menyerang unggas layer dengan mayoritas hasil sekuensing IB QX-like dan sisanya menyerang pada broiler dengan hasil sekuensing IB 793B.

Kasus penyakit selanjutnya dengan presentase kasus sebanyak 15% adalah ND. Untuk kasus ND di 2025 berdasarkan catatan PT Sanbio Labs mayoritas sampel terkonfirmasi hasil sekuensing termasuk dalam strain velogenik yaitu ND G7. Selanjutnya penyakit yang juga tercatat cukup banyak adalah IBD, dimana kasusnya terkonfirmasi positif PCR dilaporkan hasil sekuensingnya termasuk dalam very virulent (vv) IBD.

Adapun kasus penyakit di 2025 dengan presentase lebih dari 10% berikutnya adalah coryza. Coryza atau snot biasanya menjadi infeksi ikutan dari agen penyakit seperti AI, ND atau yang lainnya. Kemudian menyusul penyakit-penyakit unggas lain seperti Marek’s, pox, AI subtipe H9, ILT, EDS, dan SHS juga dilaporkan masih menjadi tantangan bagi peternak.

Tantangan di Tahun Depan
Melihat tren kasus penyakit serta mempertimbangkan berbagai aspek seperti perubahan cuaca, manajemen peternakan, dan mobilisasi unggas, berikut merupakan prediksi penyakit unggas di Indonesia di 2026 mendatang: Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2025.

Ditulis oleh:
(Drh Novita Lajuba & Drh Aprilia Kusumastuti)

WASPADAI RISIKO KONSUMSI TELUR TETAS

Perlu dicermati keamanan dan risiko dalam mengonsumsi telur ayam. (Foto: Istimewa)

Sebagian orang memercayai, telur ayam kampung “asli” hasil pembuahan pejantan dianggap memiliki khasiat tersendiri dan umumnya digunakan untuk campuran jamu. Ada juga orang yang sengaja berburu telur ayam kampung untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat mitos.

Rustinah, penghuni rumah kontrakan di Kampung Plered, Kelurahan Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Depok, Jawa Barat, mendatangi salah satu warung sembako tak jauh dari tempat tinggalnya. Langkahnya agak tergesa-gesa, seperti sedang ada dibutuhkan.

Setelah yang dibutuhkan sudah didapat, ibu rumah tangga ini segera kembali ke kontrakannya. Lima butir telur ayam kampung dalam plastik kresek ia tenteng. “Ini ayam kampung asli, emang saya sering beli buat campuran minum jamu suami saya yang lagi sakit,” tutur Rustinah.

Telur ayam kampung asli yang dimaksud emak-emak ini adalah telur ayam fertil atau telur dari indukan ayam kampung yang dibuahi pejantan. Bukan dari ayam petelur untuk konsumsi seperti ayam Elba, ayam Arab, atau sejenisnya.

Membahas telur ayam fertil, dia awal November lalu, sempat viral pemberitaan tentang tidak layaknya mengonsumsi telur fertil. Tak hanya berita di media online, informasi ini juga ramai di lini media sosial.

Sumber berita ini ternyata berasal dari pernyataan Guru Besar Ilmu Ternak Unggas IPB University, Prof Niken Ulupi. Dikutip dari laman resmi ipb.ac.id, dosen Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University ini mengungkapkan, telur ayam pedaging bibit (fertil) tidak layak dikonsumsi dan diperjualbelikan karena sifatnya yang mudah rusak.

“Telur fertil yang tidak memenuhi syarat untuk ditetaskan tidak boleh dijual di pasar. Kualitasnya rendah, masa simpannya pendek, dan mudah membusuk,” ujarnya dalam laman resmi IPB University.

Menurutnya, telur ayam pedaging bibit berbeda dengan telur konsumsi pada umumnya. Telur konsumsi yang beredar di pasaran berasal dari industri ayam petelur komersial, yang seluruh ayamnya adalah betina dan menghasilkan telur infertil tanpa pembuahan.

Sedangkan telur fertil dihasilkan dari ayam betina yang dibuahi pejantan, sehingga di dalamnya terdapat embrio. “Telur jenis ini membutuhkan penyimpanan bersuhu rendah. Jika dibiarkan pada suhu ruang, embrio dapat berkembang sebagian dan membuat telur cepat busuk,” terangnya.

Gizinya Tak Jauh Beda
Apa yang diungkapkan Prof Niken tak ada yang keliru. Penjelasan ilmiahnya dapat diterima akal sehat. Pasalnya, di dunia peternakan unggas, tujuan pemeliharaan ayam memang berbeda. Ada yang untuk menghasilkan telur, ada pula yang khusus menghasilkan daging. Karena itu berkembang beragam galur ayam, baik ras maupun lokal.

Ayam petelur komersial dipelihara untuk menghasilkan telur konsumsi, sedangkan ayam pedaging komersial seperti broiler khusus untuk daging yang dipelihara sekitar lima minggu, lalu dipotong.

Adapun ayam pedaging bibit (breeder broiler) dipelihara khusus untuk menghasilkan telur tertunas (fertil) yang ditetaskan menjadi bibit broiler komersial. Telur-telur inilah yang disebut telur fertil, karena dihasilkan dari induk betina yang dibuahi pejantan.

Di masyarakat, khususnya di pedesaan, konsumsi telur fertil umumnya berlaku pada telur ayam kampung yang dipelihara skala rumahan. Warung-warung di perkampungan lazim menjual telur ayam kampung fertil. Peredaran telur ayam kampung infertil dari jenis ayam Elba atau ayam Arab belum begitu banyak.

Sebagian orang memercayai, telur ayam kampung asli dianggap memiliki khasiat tersendiri dan umumnya digunakan untuk campuran jamu. Ada juga orang yang sengaja berburu telur ayam kampung untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat mitos, tak ada kaitannya dengan kebutuhan nutrisi.

Meski kandungan gizinya (terutama protein dan asam amino esensial) tidak jauh berbeda, risiko kerusakan telur fertil lebih tinggi dibanding telur konsumsi. Karena itu, telur jenis ini tidak diperuntukkan konsumsi masyarakat umum.

Penjelasan guru besar IPB ini mempertegas bahwa produsen pembibitan ayam (broiler) skala industri dilarang menjual telur fertil. Larangan ini diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 32/2017 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan  Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Pemerintah secara tegas melarang industri pembibitan ayam ras menjual telur fertil. Jika dilanggar, dipastikan penjualan telur dari industri pembibitan dapat mengganggu stabilitas harga telur konsumsi di pasaran.

Permentan No. 32/2017 hanya bersentuhan dengan ayam ras. Artinya, peraturan ini tidak mengatur secara lugas terkait telur fertil ayam kampung yang diperjualbelikan di pasaran. Namun demikian, ulasan yang disampaikan Prof Niken cukup memberikan pencerahan yang baik bagi masyarakat.

Sudah saatnya, masyarakat bisa mencermati keamanan dan risiko dalam mengonsumsi telur ayam. Bagi masyarakat yang masih “tersandera” dengan mitos khasiat telur ayam kampung, sebaiknya beralih ke telur ayam kampung infertil, seperti telur ayam Arab, ayam Elba, atau sejenisnya. Toh kandungan gizinya tak jauh beda.

Mulai Tumbuh
Diakui, jual-beli telur fertil ayam kampung banyak dilakukan peternak di berbagai daerah. Hanya saja, penjualan telur fetil yang mereka lakukan bukan untuk konsumsi, melainkan untuk ditetaskan para pembelinya.

Harganya pun jauh lebih mahal dibandingkan telur ayam kampung infertil dan telur ayam ras untuk konsumsi. Para pelaku usaha peternakannya juga belum skala industri, tapi masih skala kecil.

Varian usaha ini belakangan mulai tumbuh, lantaran dari sisi keuntungan jauh lebih besar dibandingkan dengan usaha pembesaran ayam kampung pedaging. Peternak tak perlu mengeluarkan biaya untuk pakan dan obat-obatan, selain untuk indukan. Peternak hanya bermodal ayam indukan dan mesin tetas kapasitas besar.

Salah satu peternak yang menekuni varian usaha telur tetas ayam kampung ini adalah Zulkarnain Nasution, pemilik Kuba Farm Asahan, Kota Asahan, Sumatra Utara. “Selain jual telur tetas atau fertil, sebagai peternak mandiri saya juga menyediakan DOC dan ayam kampung pedaging,” tutur Zulkarnain kepada Infovet.

Menurut peternak ini, prospek usaha telur fertil saat ini masih terbuka lebar. Ia mengaku masih belum mampu memenuhi kebutuhan pasar yang ada saat ini di kotanya. Untuk membeli telur fertil di peternakannya sering kali pembeli harus inden atau pesan terlebih dahulu, menunggu jumlah telur terkumpul dan memenuhi jumlah yang dipesan.

“Indukan saya baru 100 ekor lebih, baru mampu memenuhi sebagian kecil permintaan pasar,” ujarnya. Indukan ayam KUB milik Zulkarnain merupakan hasil seleksi sendiri dari yang ia pelihara sejak masih DOC. Dari jumlah 900 DOC yang ia miliki sebelumnya, terpilih 100 ekor indukan (85 betina dan 15 pejantan). Kini, indukan ayam KUB miliknya menjadi “mesin” produksi telur tetas. Selebihnya, ayam-ayam yang sudah berukuran dewasa dijual sebagai ayam pedaging.

Zulkarnain memang belum lama menjadi peternak, namun ia termasuk orang yang cepat belajar. Hanya dalam tiga tahun usahanya makin berkembang, setelah melalui jatuh bangun dalam usahanya. Selain telur fertil, ia juga menjual DOC ayam KUB.

Seiring berjalannya waktu, peternak pemula ini mulai paham teknik beternak yang baik dan benar. Zulkarnain mulai menguasai teknik beternak ayam KUB yang menguntungkan. “Kita memang harus terus belajar agar bisa benar-benar menguasai teknik beternak yang baik. Bisa belajar langsung ke peternak, lewat tayangan YouTube, buku, dan lainnya,” imbuh dia.

Jaminan Menetas 
Dengan jumlah indukan 100 ekor dalam sehari produksi telur fertil antara 50-60 butir. Sebagai peternak yang tak mau merugikan pelanggan atau mitranya, Zulkarnain memberikan garansi 85% telur menetas. Artinya, jika telur yang diserahkan menetas 75%, maka selisihnya yang 10% akan diganti.

“Jadi misalnya orang beli 100 butir, maka yang digaransi adalah 85 butir benar-benar dibuahi oleh pejantan. Tentu saja dengan catatan, mesin tetasnya bagus dan tidak bermasalah,” ungkapnya.

Yang unik dari manajemen usaha Zulkarnain adalah telur-telur yang tidak bisa menetas, karena tidak dibuahi oleh pejantan, diolah menjadi puding telur lalu dijadikan pakan ayam pejantan sebagai tambahan protein. “Sebenarnya kalau dimasak dan dimakan kita juga tidak masalah, karena itu telur tidak dibuahi oleh pejantan,” katanya.

Pola pemasaran yang diilakukan juga cukup simpel. Di awal-awal produksi telur, ia cukup bergabung dengan beberapa grup WhatsApp (WA). Lalu membuat konten video usaha ternaknya, sekaligus menawarkan telur-telur fertil. Dari sini gayung bersambut, banyak peternak yang ada di dalam grup WA tersebut yang merespons dan memesan talur.

Selanjutnya, para pelanggan yang rutin memesan telur akan dikirimkan info ketersediaan telur fertil setiap kali panen. Setelah punya pelanggan, biasanya mereka langsung menghubungi ketika membutuhkan telur. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

STRATEGI MENGHADAPI ANCAMAN DAN MENJAGA BISNIS PETERNAKAN


Tahun 2025 yang Menguji Daya Tahan
Sepanjang 2025, menjadi babak ujian tersendiri bagi industri perunggasan Indonesia. Catatan lapangan, laporan laboratorium, hingga pengakuan para peternak menunjukkan bahwa tantangan kesehatan unggas di tahun tersebut datang bertubi-tubi.

Musim pancaroba yang berkepanjangan, pola curah hujan tidak menentu, serta fluktuasi suhu ekstrem memicu stres pada ayam, menurunkan sistem kekebalan tubuh, dan membuka pintu bagi berbagai penyakit untuk berkembang.

Kasus penyakit saluran pernapasan mendominasi laporan kesehatan unggas tahun ini. Varian baru infectious bronchitis virus (IBV) yang bersifat nefropatogenik ditemukan di beberapa wilayah produksi besar, menginfeksi ayam dengan gejala yang tidak selalu khas, sehingga menyulitkan diagnosis dini. 

Kemudian avian influenza (AI) clade 2.3.4.4b juga menjadi ancaman serius, terutama pada peternakan yang berada di jalur migrasi burung liar dan memiliki biosekuriti yang lemah. Serta newcastle disease (ND) “tetap setia” menjadi musuh lama yang tak pernah benar-benar hilang.

Tidak berhenti di saluran pernapasan, gangguan pencernaan seperti necrotic enteritis (NE) dan koksidiosis melonjak di banyak farm, terutama yang mulai meninggalkan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP). Penurunan efisiensi pakan, penambahan beban kerja usus, dan peningkatan beban patogen membuat performa broiler tertekan.

Pada sektor layer komersial, penyakit metabolik seperti fatty liver syndrome dan gout meningkat tajam, sering kali dipicu oleh kualitas bahan baku pakan yang tidak stabil dan manajemen nutrisi yang tidak tepat sasaran.


Analisis Akar Masalah: Mengapa Penyakit Marak?
Jika ditelusuri lebih dalam, penyebab maraknya penyakit di 2025 bukan hanya soal virus yang lebih ganas atau bakteri yang resistan. Ada kombinasi faktor yang saling memperkuat. Perubahan iklim yang memengaruhi suhu dan kelembapan kandang adalah faktor utama. Lalu, mobilitas tinggi DOC, pakan, dan pekerja antar wilayah membuat jalur penularan penyakit semakin terbuka lebar.

Di sisi lain, kebijakan pembatasan penggunaan antibiotik tanpa diiringi penerapan alternatif yang konsisten memperlemah pertahanan biologis ayam. Tidak sedikit peternak yang mencoba beralih ke herbal, probiotik, atau feed additive, namun penggunaannya tidak terstandar, sehingga hasilnya tidak maksimal. Dan yang tak kalah penting, munculnya varian virus baru yang lolos dari perlindungan vaksin konvensional menjadi tantangan teknis yang nyata.

Ramalan 2026: Tiga Ancaman Besar yang Mengintai
Berdasarkan data epidemiologi dan pola historis, ada beberapa penyakit yang diprediksi menjadi ancaman utama di 2026, yaitu... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2025.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo, drh MVet 
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

JANGAN BERI RUANG PENYAKIT UNTUK MENYEBAR

Vaksinasi memastikan ayam tetap sehat. (Foto: Istimewa)

Menghadapi tahun depan, pelaku budi daya perunggasan lebih harus lebih aware dengan apa yang akan datang, utamanya terkait penyakit yang pasti menjadi tantangan agar tak menyebabkan kerugian.

Jangan Lengah dengan Penyakit Residivis
Walaupun prediksi belum 100% benar terjadi, tak ada salahnya mempersiapkan “amunisi” sejak dini. Tony Unandar selaku konsultan senior perunggasan, melihat selama ini penyakit unggas yang terjadi di lapangan masih cenderung sama, berbeda musim memang penyakitnya juga berbeda, tetapi penyakit yang muncul hanya itu-itu saja.

“Kalau bisa dibilang kita masih berkutat dengan yang lama dan monoton. Faktor yang sangat urgen untuk diperbaiki adalah pola pemeliharaan dari peternak-peternak kita,” tutur Tony.

Apabila tidak ada upaya perbaikan sesegera mungkin, bukan hanya kasus penyakit yang terus berulang, tetapi tingkat keparahan maupun jenis penyakit baru akan bertambah di masa depan.

Seperti contoh ketika ada peternak yang tidak mengakut semua unggasnya ketika panen, padahal sistem all in all out sangat penting diterapkan untuk memutus siklus rantai penyakit. Kemudian yang juga tak kalah penting adalah penerapan biosekuriti yang baik di peternakan.

Sebab Tony menyebut, sebaik-baiknya obat baru yang ditemukan, maupun riset di bidang penyakit hewan, atau bahkan kecanggihan teknologi yang berkembang, jika tak dibarengi dengan manajemen yang baik dan benar, penyakit akan mudah menyerang dan cenderung berulang.

Ungkapan “lebih baik mencegah daripada mengobati” harus dipegang teguh oleh peternak, salah satunya melalui program biosekuriti di peternakan. Bukti konkret dari penerapan program tersebut telah membuka mata bagi Kusno Waluyo, salah satu peternak di wilayah Lampung.

Ia merasakan banyak keuntungan dari penerapan biosekuriti yang baik dan benar di peternakannya, salah satunya ternak yang dipelihara Kusno menjadi jarang terserang penyakit. “Yang paling terasa Saya tidur menjadi lebih nyenyak, karena jarang ada laporan masalah penyakit di kandang,” ucapnya dalam sebuah seminar.

Bersinergi dan Kolaborasi
Fakta di lapangan berbicara, tidak semua peternak mengerti masalah penyakit, penanganan, obat-obatan, dan beberapa hal lainnya. Hal itupun terus menjadi perhatian bagi para stakeholder di bidang obat hewan, salah satunya Ceva Animal Health Indonesia yang terus melakukan kolaborasi dengan peternak.

“Khususnya dalam upaya preventif dengan menawarkan program vaksinasi yang komprehensif dan inovatif. Di sektor broiler, Ceva menawarkan paket vaksinasi hatchery lengkap dengan produk dan sumber daya yang kami miliki,” ujar Vet Service Coordinator Ceva, Drh Ismail Kurnia Rambe.

Sementara itu, di sektor layer dan breeder, pihaknya memiliki... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2025. (CR)

PEMERINTAH BATASI IMPOR BUNGKIL KEDELAI, KENDALI DIALIHKAN KE BUMN

Soybean meal. (Foto: Istimewa)

Selasa (23/12/2025). Pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan kebijakan strategis baru terkait tata niaga bahan baku pakan ternak. Mulai awal 2026, pemerintah melakukan intervensi penuh terhadap impor bungkil kedelai (soybean meal/SBM) dengan membatasi izin impor langsung oleh pelaku usaha swasta dan mengalihkan mandat impor kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Langkah ini diambil sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan nasional dan menciptakan stabilitas harga pakan di tingkat peternak yang selama ini rentan terhadap fluktuasi pasar global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartanto, menyatakan bahwa ketergantungan industri pakan dalam negeri terhadap SBM impor telah mencapai titik yang memerlukan pengawasan ketat.

“Selama ini, fluktuasi harga bungkil kedelai di pasar internasional langsung memukul peternak kecil kita. Dengan menyerahkan mandat impor kepada BUMN, pemerintah memiliki instrumen untuk melakukan penyangga stok (buffer stock) dan intervensi harga saat terjadi lonjakan,” ujarnya dalam konferensi pers beberapa waktu lalu di Jakarta.

Adapun beberapa poin utama dari rencana kebijakan baru ini adalah sebagai sentralisasi impor. Perusahaan swasta tidak lagi diperkenankan melakukan impor langsung secara bebas. Seluruh kuota impor akan dikelola melalui penugasan kepada BUMN sektor pangan (seperti ID FOOD atau Bulog).

Kemudian supaya sistem distribusi terpusat. BUMN akan mendistribusikan SBM kepada pabrik pakan (feedmill) berdasarkan kontrak yang diawasi pemerintah untuk memastikan transparansi harga.

Serta penguatan cadangan nasional. Pemerintah menargetkan ketersediaan cadangan SBM nasional untuk durasi minimal tiga bulan guna mengantisipasi gangguan rantai pasok global.
Kendati demikian, kebijakan ini menuai reaksi beragam. Dari sisi peternak rakyat, kebijakan ini disambut baik karena menjanjikan harga pakan yang lebih stabil. Namun, asosiasi pengusaha pakan ternak meminta pemerintah menjamin bahwa birokrasi di tangan BUMN tidak akan menghambat kecepatan distribusi.

“Kami berharap BUMN yang ditunjuk memiliki infrastruktur logistik yang mumpuni agar tidak terjadi kekosongan stok di gudang-gudang daerah,” ungkap salah seorang perwakilan asosiasi pengusaha.

Selain stabilitas harga, kebijakan ini juga bertujuan mendorong hilirisasi industri kedelai dalam negeri dan mencari alternatif bahan baku pakan lokal agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara bertahap hingga 2030.

Pemerintah menegaskan bahwa masa transisi akan diberlakukan selama enam bulan pertama di 2026 agar pelaku usaha dapat menyesuaikan kontrak pengadaan mereka yang sedang berjalan.

Dampak Terhadap Harga
Bungkil kedelai menyumbang sekitar 20-25% dari total biaya produksi pakan, sedangkan pakan sendiri mencakup 70% dari total biaya pemeliharaan ayam. Adanya rencana kebijakan baru tersebut memang dinilai berdampak positif bagi stabilitas harga di tingkat konsumen.

Jika BUMN berhasil menjalankan fungsinya sebagai buffer stock, harga daging ayam dan telur tidak akan lagi mengalami lonjakan ekstrem saat harga komoditas global naik. Ini akan menjaga daya beli masyarakat terhadap sumber protein.

Namun begitu, beberapa sumber menyebut risiko juga bisa terjadi apabila proses pengadaan BUMN lebih lambat atau lebih mahal karena beban administrasi, biaya tambahan tersebut bisa dibebankan kepada peternak, yang ujungnya malah menaikkan harga eceran di pasar.

Tanggapan Pelaku Usaha
Menanggapi kebijakan baru tersebut, Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) turut menyurati Menteri Perdagangan maupun Menteri Pertanian terkait tanggapan dan masukan kebijakan sentralisasi impor SBM 2026.

Dalam suratnya, GPMT menyatakan sikap turut mendukung upaya stabilitas tersebut demi melindungi peternak rakyat dan konsumen nasional.

Namun ada kekhawatiran dari sisi efisiensi logistik. GPMT memohon jaminan bahwa BUMN yang ditunjuk memiliki kemampuan logistik dan pendanaan yang setara atau lebih baik dari sektor swasta untuk menjamin just-in-time delivery. Karena keterlambatan distribusi SBM dalam hitungan hari dapat mengancam keberlangsungan hidup jutaan ternak.

Kemudian terkait transparansi Harga. GPMT juga mengusulkan adanya mekanisme penetapan harga yang transparan dan melibatkan asosiasi dalam pengawasan, guna memastikan biaya layanan (service fee) BUMN tidak membebani harga akhir pakan.

Selain itu, GPMT juga meminta perpanjangan masa transisi bagi kontrak-kontrak impor yang sudah ditandatangani sebelum kebijakan ini berlaku, guna menghindari sengketa hukum internasional dengan pemasok global. (INF)

BAGAIMANA TANTANGAN PENYAKIT AYAM DI 2026?

HPAI masih akan menjadi gangguan penyakit pada ayam di 2026. (Foto: Istimewa)

Hampir di semua wilayah peternakan, permasalahan yang timbul dari tidak tercapainya performa yang diinginkan selalu berakar kepada masalah yang hampir sama, yakni akibat kegagalan penerapan tata laksana pemeliharaan yang baku, atau karena ayam terjangkit penyakit tertentu. Anehnya akar permasalahan yang terinvertarisir dari tahun ke tahun kurang lebih sama.

Mustahil untuk memprediksi penyakit unggas baru yang spesifik di 2026 dengan pasti, karena penyakit pada dasarnya tidak dapat diprediksi dan muncul sebagai galur baru atau infeksi baru.

Namun, untuk tetap mendapatkan informasi tentang potensi risiko, bisa dipantau melalui Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) dan Layanan Inspeksi Kesehatan Hewan dan Tanaman (APHIS) Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), yang melacak penyakit seperti avian influenza (AI) dan newcastle disease (ND), serta melaporkan ancaman yang muncul dan perubahan patogen yang dapat memengaruhi kesehatan unggas di 2026.

Terbesit pertanyaan, apa bisa diharapkan dari penyakit unggas di tahun-tahun mendatang? Evolusi berkelanjutan dari penyakit-penyakit yang sudah dikenal seperti penyakit AI dan ND akan terus berevolusi, dengan disertai munculnya galur atau variasi baru yang dapat menimbulkan risiko baru bagi unggas.

Dalam laporan disease surveillance terbaru dari beberapa tim veterinary service perusahaan produsen obat dan vaksin unggas di Indonesia melaporkan lima penyakit paling banyak di 2025, di antaranya infectious bronchitis/IB (9%), complex chronic respiratory disease/CCRD (9%), AI H5 (8%), necrotic enteritis/NE (8%), dan avian metapneumovirus/aMPV (8%). Beberapa penyakit lain yang juga dilaporkan yakni ND, coryza, coccidiosis, infectious bursal disease (IBD), infectious body hepatitis (IBH), heat stress, mycotoxin, helminthiasis, infectious laryngotracheitis (ILT), mismanagement, dengan masing-masing berkisar 3-5%. Adapun reo virus, aspergilosis, dan penyakit akibat kualitas pakan berkisar sekitar 1%. (Data berasal dari wilayah Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur).

Hasil pengamatan dan analisis sederhana penyakit-penyakit tersebut hadir karena kondisi cuaca yang sampai saat ini masih sulit diprediksi, yang menyebabkan proses cuci kandang dan disinfeksi tidak bisa sempurna karena kondisi keadaan kandang yang tidak ideal.

Kelembapan yang tinggi menyebabkan patogen-patogen pernapasan menjadi lebih dominan. Kasus-kasus pernapasan bisa terjadi bersamaan atau didahului dan bahkan bisa diikuti oleh infeksi pernapasan lainnya, sehingga terjadi ko-infeksi. Baru-baru ini ada laporan bahwa ko-infeksi pernapasan di Indonesia menunjukkan kasus ILT, IB, CRD, AI H9, AI H5, dan aMPV. Patogen pernapasan lainnya bisa menyerang secara bersamaan dalam satu kasus.

Penyakit seperti AI, ND, dan berbagai infeksi bakteri seperti yang disebabkan Salmonella dan E. coli (colibacillosis) akan terus menjadi ancaman di 2026. Penelitian dan pengawasan berkelanjutan sangat penting untuk mengatasi penyakit-penyakit ini, termasuk pengembangan vaksin baru untuk aMPV, serta peningkatan strategi untuk mencegah dan mengendalikan penyakit NE, sesuai dengan prioritas penelitian industri dan studi yang sedang berlangsung.

Pada 2025, penyakit yang menyerang broiler di dominasi penyakit pernapasan seperti IB, CCRD, ND, HPAI, dan IBD. Tidak jauh berbeda pada ternak layer dengan serangan infeksi pernapasan seperti aMPV, AI H5, IB, coryza, dan mycotoxin.

Berdasarkan data BMKG, kelembapan relatif (RH) rata-rata pada 2025 berkisar antara 65-72%, dengan suhu permukaan 24-27 °C. Analisis curah hujan pada tahun tersebut bervariasi, mulai dari kriteria rendah (18%), sedang (74%), dan tinggi-sangat tinggi (8%).  Kondisi ini membuat tantangan berat di tengah perubahan musim yang ekstrem.  Kegagalan manajemen pemeliharaan dalam mengantisipasi perubahan cuaca dapat menyebabkan munculnya berbagai penyakit tersebut di atas.

Adapun faktor dan tren penyakit di tahun mendatang adalah:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2025.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer