-->

PABRIK UNGGAS NOVA SCOTIA DITUTUP KARENA WABAH COVID-19

Via edenvalleypoultry.com

Pabrik pengolahan unggas Eden Valley di Berwick, Nova Scotia, Kanada telah ditutup selama dua minggu setelah kasus COVID-19 baru dilaporkan, yang berpotensi membatasi pasokan kalkun untuk masyarakat menjelang Natal.

Otoritas kesehatan publik memerintahkan penutupan pabrik Eden Valley minggu lalu setelah mengonfirmasi dua kasus COVID-19 di antara pekerja pabrik. Pengujian yang diperpanjang mengidentifikasi empat kasus tambahan.

Penutupan pabrik tersebut menjadi pukulan telak bagi masyarakat. Eden Valley adalah perusahaan terbesar Berwick, dan Walikota Don Clarke mengatakan bahwa dampak ekonomi dari penutupan selama dua minggu itu akan sulit dihitung.

Namun, Clarke dan banyak penduduk Berwick mengatakan bahwa penutupan pabrik selama dua minggu mungkin sepadan dengan biaya ekonominya.

Clarke berkata, “Memiliki COVID-19 di pabrik sebesar itu dengan banyak orang di ruang terbatas dan sebagainya, adalah situasi yang serius. Apa yang mereka lakukan adalah hal yang perlu dilakukan.”

FLU BURUNG HADIR DI 25% PREFEKTUR JEPANG

Wabah flu burung di Jepang telah menyebar ke peternakan baru minggu ini dan sekarang terjadi di sekitar seperempat dari 47 prefektur di negara itu. Penyebaran flu burung di Jepang telah menyebabkan pemusnahan unggas massal.

Sekitar 32.000 unggas akan dimusnahkan dan dikubur di kota Sukumo di prefektur Kochi setelah flu burung ditemukan di sebuah peternakan layer. Banyak unggas yang terinfeksi ditemukan di dua peternakan di prefektur Kagawa, tempat wabah muncul bulan lalu, dengan hampir 30.000 unggas dimusnahkan di sana.

Wabah telah melanda 12 prefektur di seluruh Jepang dan 3 juta unggas telah dimusnahkan hingga saat ini. Wabah di Jepang dan negara tetangganya Korea Selatan adalah salah satu dari dua epidemi flu burung yang sangat patogen yang menyerang unggas di seluruh dunia, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB dan pejabat Jepang. Baik strain yang beredar di Asia maupun yang menyebar dengan cepat di Eropa berasal dari burung liar, kata mereka.

Jepang memiliki ayam petelur sekitar 185 juta ekor dan populasi ayam pedaging 138 juta ekor, menurut kementerian pertanian. Peternakan di Jepang sebelumnya diperintahkan untuk mendesinfeksi fasilitas dan memeriksa aturan kebersihan, serta memastikan bahwa jaring untuk mencegah burung liar dipasang dengan benar.

PUSLIT BIOTEKNOLOGI LIPI: PERLU RISET BIOTEKNOLOGI UNTUK PETERNAKAN BERKELANJUTAN

Webinar Nasional Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Cibinong. (Foto: Dok. Infovet)

Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Cibinong pada Selasa (15/12/2020) menyelenggarakan Webinar Nasional secara daring dalam rangka mengkaji pentingnya riset bioteknologi untuk pengembangan usaha peternakan yang berkelanjutan.

Seperti diketahui, produk-produk peternakan (daging, susu dan telur) merupakan bahan pangan kaya gizi yang dibutuhkan manusia untuk proses tumbuh dan kembang. Sehingga tidak mengherankan bila produk peternakan disebut sebagai bahan “pembangun” kehidupan manusia.

Ketua Pelaksana kegiatan, Paskah Partogi Agung, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan dari pelaksanaan webinar ini adalah untuk berbagi informasi dan meningkatkan kapasitas keilmuan para peneliti, akademisi, maupun praktisi peternakan tentang pemanfaatan bioteknologi untuk sektor peternakan di Indonesia.

“Dari tujuan dan sasaran yang kita tetapkan, maka luaran yang diinginkan adalah terjadinya transfer informasi dari para narasumber, hingga dapat menambah pengetahuan dan keterampilan dari para peserta,” kata Paskah.

Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Dr Puspita Lisdiyanti, mengemukakan bahwa sub sektor peternakan memiliki peranan penting dalam kehidupan dan pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, sebagai salah satu penyedia protein hewani penting bagi pertumbuhan dan kecerdasan manusia, sub sektor peternakan harus dikedepankan.

“Kita di LIPI memiliki komitmen tinggi dalam melakukan riset dan inovasi di bidang bioteknologi ternak, menyangkut segala hal yang berhubungan dengan ternak itu sendiri, mulai dari bibit unggul, pakan berkualitas, produksi dan reproduksinya, hingga bagaimana mengupayakan agar ternak tetap sehat selama pemeliharaan,” kata Puspita.

Ia menambahkan, sebagai bukti kepedulian Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI pada usaha peternakan berkelanjutan yang didukung riset-riset unggul, pihaknya ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek (PUI) Bioteknologi Peternakan pada 2019 lalu.

“Banyak riset yang telah dihasilkan oleh PUI Bioteknologi Peternakan, diantaranya reproduksi ternak, genetika, nutrigenomik pakan ternak, pengembangan vaksin ternak khususnya sapi lokal Indonesia secara massif, itu semua telah dilakukan oleh para peneliti di pusat penelitian ini,” pungkasnya.

Webinar tersebut dihadiri oleh Dr Ir Nasrullah (Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan), Prof Dr Ir Ali Agus (mantan Ketua ISPI), Prof Dr Ir Muladno (Ketua Dewan Penasehat Himpunan Ilmuwan Peternakan Indonesia), Prof Dr Ir Syahruddin Said (Peneliti Utama Bioteknologi Reproduksi Hewan, Puslit Bioteknologi LIPI) dan Prof Dr Ir Endang Tri Margawati (Peneliti Utama Genetika Molekuler Hewan dan Rekombinan Protein, Puslit Bioteknologi LIPI Cibinong). (Sadarman)

TAJIKISTAN MENINGKATKAN PRODUKSI DAGING DAN TELUR UNGGAS

Tajikistan telah meningkatkan produksi daging ayam dan telurnya pada tahun 2020. Negara itu telah berhasil meningkatkan swasembada produk unggas dan hampir mampu mengekspor telur untuk pertama kalinya dalam sejarahnya.

Dari Januari-Oktober 2020, Tajikistan menghasilkan 22.800 ton daging unggas, 90% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Harga eceran rata-rata daging ayam sebesar TJS25 (US $ 2,2) per kg, lebih tinggi 20% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan harga dipicu tingginya biaya pakan.

Produksi telur naik menjadi 761 juta butir, naik 33% dari tahun lalu. Beberapa perusahaan dari Kyrgyzstan dan Uzbekistan telah mengajukan kepada otoritas Tajik untuk ijin mengimpor telur. Beberapa peternakan layer yang saat ini sedang dibangun di berbagai bagian negara itu dapat mendorong produksi lebih tinggi.

Pertumbuhan produksi di industri perunggasan dimungkinkan dengan dukungan pemerintah yang luar biasa. Tajikistan menawarkan kondisi investasi yang paling menguntungkan bagi peternak unggas di antara semua negara Asia Tengah. Pada 2013, pemerintah Tajik telah membebaskan sepenuhnya peternakan unggas lokal dan perusahaan yang bergerak dalam produksi pakan dari pajak selama 12 tahun.

PEMILIHAN DOC YANG BAIK UNTUK PERFORMANCE OPTIMAL

Pada e-learning Farmsco part 1, 25 November 2020, salah satu pemateri Allan Pratama, Manager Sales & Marketing DOC Cahaya Teknologi Unggas membawakan tema Pemilihan DOC yang Baik Untuk Performance Optimal.

Allan menjelaskan beberapa persyaratan DOC yang sifatnya kualitatif meliputi DOC yang baik/ideal, DOC yang acceptable, dan DOC yang afkir.

Pusar

  • Baik: bersih dan sembuh sempurna.
  • Dapat diterima: pusar tertutup namun sedikit kasar.
  • Afkir: pusar tidak tertutup, berubah warna.

Kaki

  • Baik: bersih, terasa seperti lilin.
  • Dapat diterima: terdapat kekeringan, kaki sedikit pucat.
  • Afkir: dehidrasi parah, nadi di kaki sangat menonjol.

Sendi

  • Baik: bersih, tanpa cacat, tidak ada luka.
  • Dapat diterima: sedikit kemerahan.
  • Afkir: berwarna merah, sangat merah, terdapat luka.

Cacat

  • Baik: bersih, tanpa cacat.
  • Dapat diterima: cacat kecil, misalnya ada bekas yolk yang masih menempel, warna bulu berbeda.
  • Afkir: kaki pincang, paruh silang, leher miring.

Refleks

  • Baik: bangkit dari posisi terbalik maksimal 3 detik.
  • Dapat diterima: bangkit dari posisi terbalik 5-6 detik.
  • Afkir: lebih dari 10 detik, gagal bangkit.

Persyaratan kualitatif lain dari DOC yang baik adalah berasal dari induk sehat, aktif, mata cerah, lincah, gesit, tidak megap-megap, jalan normal, paruh normal, dan tidak kembung.

KETAHANAN PANGAN & GIZI BERBASIS KONSUMSI DAN KELUARGA

Webinar ketahanan pangan dan gizi, berlangsung interaktif


Pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir sepanjang tahun 2020 menimbulkan dampak serius pada banyak sektor, termasuk pada kemampuan masyarakat dalam menyediakan, menjangkau, dan memanfaatkan bahan pangan bagi keluarga.

Dengan kondisi ini, yang harus dikedepankan untuk dicapai adalah ketahanan pangan dan gizi berbasis konsumsi pangan keluarga. Demikian disampaikan Ketua IPB SDGs (Sustainable Development Goals) Network, Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi, dalam acara Bincang-Bincang Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (BBA) Volume 3 dengan topik “Ketahanan Pangan di Masa Pandemi” hari Sabtu, 12 Desember 2020. 

“Dua pertiga urusan kelaparan berhubungan dengan cukup konsumsi pangan dan gizi, terutama pada seribu hari pertama kehidupan,” ujar pria yang pernah menjabat Wakil Menteri Perdagangan (2011-2014) ini. Berbeda dengan aspek produksi, permasalahan konsumsi pangan --khususnya kecukupan gizi seperti ancaman stuting (kekurangan gizi kronis pada anak)-- berada di tingkat keluarga. Pembicaraan soal pemenuhan gizi keluarga tidak sebatas membahas aspek sosial-budaya dan selera makan, melainkan juga terkait pengetahuan dan kesadaran akan gizi.

Dalam hal ini, peran ibu menjadi sangat penting. Pendapatan keluarga juga menjadi hal kritikal untuk memastikan agar makanan sehat dapat tersaji setiap hari. Di luar itu, pemahaman soal sistem pangan (food system), memegang peran penting, mengingat ketahanan pangan bukan hanya masalah produksi, melainkan juga distribusi, pengolahan, penyimpanan, hingga konsumsi.“

Ketahanan pangan, menurut UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Ketahanan pangan sendiri dipengaruhi setidaknya lima faktor, yakni kondisi ekonomi, politik, sosial, dan keamanan. 

Adanya pandemi ini memaksa pemerintah menerapkan pembatasan dalam berbagai bidang. Kebijakan tersebut ikut mempengaruhi ketahanan pangan, khususnya ketersediaan dan kemudahan akses terhadap pangan oleh masyarakat. 

Pembicara lainnya, sosiolog Dr. Imam Prasodjo, menjelaskan adanya dikotomi para developmentalist yang mengagungkan pertumbuhan versus para konservasionis yang mendesak perlunya melestarikan sumber daya alam, mengurangi pemanasan global, dan pemulihan layanan ekosistem. “Yang adil adalah dengan menerapkan pembangunan berkelanjutan (sustainable development),” kata Imam. Ia juga menekankan bahwa paradigma pembangunan tidak semata-mata hanya soal pertumbuhan (growth) melainkan juga soal kebahagiaan (human-eco happiness) atau ecosystem well-being.  Dalam hal ini, Imam melihat IPB University seharusnya menjadi tulang punggung dalam konteks eco-happiness.  

Imam Prasodjo, yang merupakan direktur Yayasan Nurani Dunia, melihat bahwa anak-anak muda masa kini, khususnya generasi milenial, lebih pro pencegahan perubahan iklim, sehingga mereka perlu dirangkul dan diberdayakan agar menjadi penggerak pembangunan berkelanjutan. Ia berpendapat, kebangkitan ketahanan pahan dapat dilakukan melalui pertanian rumah tangga (home farming) dan pertanian komunitas (communities farming).  Petani yang termarjinalkan harus didampingi oleh orang kota yang terdidik karena pertumbuhan pertanian tidak produktif tak lain disebabkan tenaga kerja yang tidak terdidik. 

Ia memaparkan inisiatif yang digagas Yayasan Nurani Dunia yaitu Kampung Ilmu, yang membangkitkan keluarga dan komunitas berusaha di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan.  “Pendidikan harus di hubungkan dengan usaha kecil dan kepada para champion.  Harus ada pendekatan praktisi dan ilmuwan secara multidisiplin,” ujarnya.  

Di sisi lain, Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ibnu Khajar, mengungkapkan pandemi Covid-19 tidak hanya bicara soal kesehatan melainkan juga soal ketersediaan pangan. “Yang mengagetkan, banyak rumah sakit menelepon kami bahwa tenaga medis tidak punya suplai makanan,” ujarnya. Call Center ACT yang sebelumnya masyarakat hubungi untuk konfirmasi donasi, kini 70 persen lebih menanyakan bantuan pangan. Termasuk pula mesjid-mesjid mitra ACT, mayoritas menghubungi untuk menginformasikan bahwa jamaah mereka amat membutuhkan bantuan pangan karena persediaan menipis. 

ACT mendistribusikan bantuan pangan menggunakan armada rice truck dan water truck.  Operasi Makan Gratis dilakukan menyasar pekerja informal, ojek online, dan buruh yang di-PHK. Mereka meneruskan program Lumbung Beras Wakaf di Blora yang membina pengelolaan 1.000 hektare sawah, dan ditingkatkan menjadi 5.000 hektare. Mereka berkolaborasi dengan YP3I (Yayasan Penguatan Pesantren Indonesia) dalam aktivasi lahan pertanian di 28.000 pesantren di Indonesia untuk program ketahanan pangan. 

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) juga melakukan hal mirip melalui pendekatan mengembalikan daya beli, melalui Bantuan Tunai Mustahik (BTM) untuk 20.000 keluarga dan dukungan paket logistik keluarga. Ada pula Program Bank Makanan yang bekerja sama dengan pengelola hotel-hotel untuk membantu masyarakat sekitar yang terancam kebutuhan pangannya. Di saat sama, Kepala Lembaga Pemberdayaan Peternak Mustahik (LPPM) BAZNAS, Ajat Sudarjat, memaparkan program pendayagunaan pangan, mulai dari Lumbung Pangan, Kebun Keluarga Indonesia, Pertanian Terpadu, hingga Balai Ternak buat masyarakat di berbagai daerah. 

Beberapa alumni IPB juga berbagi pengalaman terkait perjuangan usaha mereka terdampak pandemi Covid-19. Anni Nuraini, pengusaha travel di Bogor, mengakui dunia pariwisata amat terpengaruh, hampir semua sektor pariwisata mati dan bangkrut. Usaha Anni sendiri akhirnya banting setir ke agribisnis berupa budidaya organik ubi jepang demi karyawannya tetap bertahan. 

Deddy Fakhruddin, pengusaha sapi perah dan potong domisili Malang, yang belakangan terjun di bisnis edu-wisata. Ia mengaku sedikit beruntung karena bisnisnya tidak satu jenis. “Don’t put your money in one basket,” katanya memberi tips. Saat pandemi melanda, ia memutuskan segera banting setir ke sektor konsultasi dan edukasi digital, dan kini menjadi penopang utama. Ia beruntung tidak mengurangi gaji ataupun memberhentikan karyawannya.  

Sementara Purwo Hadi Subroto, petani dan pengusaha agribisnis di Pekanbaru, Riau, mengelola bisnisnya secara terpadu. Awalnya, produksi buah dan sayuran, termasuk ikan dan ayam, masih melimpah saat pandemi mulai melanda, namun daya beli menurun. Mereka melakukan efisiensi dan penurunan harga modal, termasuk memasak di rumah menggunakan tungku, 60 persen lebih hemat daripada menggunakan gas, untuk menyiasati biaya sehari-hari. Strategi menambah jenis tanaman juga dilakukan karena permintaan produk tertentu terdampak. Contohnya pepaya, yang biasanya satu supermarket menyerap hingga 200 kilogram, saat awal pandemi turun menjadi hanya 30 -  100 kilogram. Purwo dan para petani lokal juga berusaha memperluas pasar produk pertanian tersebut. (CR)

MUSYAWARAH NASIONAL PPSKI KE-IX 2020

Munas PPSKI XI 2020 melalui daring. (Foto: Istimewa)

Sabtu, 12 Desember 2020, Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) resmi melaksanakan Musyawarah Nasional yang ke-IX.

Dihadiri sebanyak 128 orang terdiri dari Pengurus Pleno DPP PPSKI, 20 DPD PPSKI dari 22 Anggota PPSKI se-Indonesia dan peternak sapi/kerbau, pelaku usaha/asosiasi peternakan sapi dan kerbau, pemerintah bidang peternakan, lembaga penelitian/perguruan tinggi/mahasiswa peternakan dan tamu undangan.

Melalui keterangan tertulis dari PPSKI, Munas kali ini mengangkat tema “Reposisi dan Reaktualisasi PPSKI dalam Meningkatkan Daya Saing Peternak Rakyat di Era Digital”. Sebagai organisasi profesi peternak sapi dan kerbau tertua di Indonesia, PPSKI akan mereposisi dan mereaktualisasi organisasi baik secara internal dan eksternal dalam pengembangan sapi dan kerbau di Indonesia.

Adapun hasil yang dicapai dalam Munas IX tersebut:
1. Penetapan Ketua Umum PPSKI 2020-2025. Telah dipilih secara aklamasi Ketua Umum DPP PPSKI adalah Drh Nanang Purus Sumbendro, seorang peternak/pengurus DPD PPSKI Provinsi Lampung.

2. Menetapkan AD/ART PPSKI. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga diterima dengan beberapa catatan kecil untuk diperbaiki, yaitu penambahan struktur organisasi ketua bidang advokasi/penyuluhan, serta domisili organisasi.

3. Menetapkan program kerja PPSKI 2020-2025. Menetapkan garis besar program kerja dalam ruang lingkup kerja komoditi ternak sapi perah, sapi daging, kerbau dan advokasi kepada peternak. Dalam program kerja ini, kegiatan kerja PPSKI akan disetarakan aktivitas masing-masing komoditi ternak.

4. Resolusi peternak sapi dan kerbau 2020. Resolusi peternak sapi dan kerbau merupakan sikap PPSKI yang merespon perkembangan teknologi dan zaman.

Resolusi peternak sapi dan kerbau Indonesia 2020, berdasar kepada eksisting kondisi, potensi yang dimiliki negeri ini dan dalam rangka membangun peternakan sapi dan kerbau nasional melalui ketahanan pangan, menuju kedaulatan pangan protein hewani, maka para peternak sapi dan kerbau Indonesia mengajukan resolusi sebagai berikut:

• Bidang Peternakan Sapi Pedaging dan Kerbau
1. Penyelamatan sapi/kerbau betina produktif (SBP) dilakukan secara konsisten. Sebagian SBP dari kawasan padat ternak dapat direlokasikan ke wilayah pengembangan di perkebunan kelapa sawit atau lahan bekas tambang. Untuk hal ini, diperlukan instrumen kebijakan pemerintah dan inisiatif untuk daerah, peternak dan pelaku usaha.

2. Revitalisasi Village Breeding Centre, melalui pola klaster sapi/kerbau di kawasan-kawasan prudusen sapi/kerbau. Program pengembangan klaster ini dilakukan dengan kemitraan antara peterna rakyat dengan perusahaan. Pelaksanaan IB dapat dibarengi dengan InKA untuk meningkatkan calving rate dan dukungan pembangunan feed bank berbasis sumber daya lokal.

3. Mempercepat pengembangan sistem integrasi tanaman-ternak, terutama sawit-sapi dan/kerbau dengan mendorong PTPN, swasta dan masyarakat, dengan memanfaatkan sapi lokal/kerbau maupun bibit komersial dengan dukungan insentif bagi pelaku usaha.

4. Revitalisasi RPH berlandaskan “kesejahteraan ternak” menuju terciptanya rantai dingin dalam ketersediaan daging sapi nasional, secara bertahap menghentikan pemotongan ternak sapi/kerbau di luar RPH (kecuali untuk keperluan keagamaan/sosial budaya).

5. Dalam upaya meningkatkan populasi ternak sapi/kerbau, diharapkan pemerintah menerbitkan kebijakan kemitraan pengembangan betina produktif maupun penggemukan, bagi industri penggemukan dan importir daging dalam kegiatan pembiakan/penggemukan bersama peternak rakyat.

6. Pemberdayaan infrastruktur penunjang bagi pembangunan peternakan sapi/kerbau seperti pasar hewan, karantina, transportasi darat dan laut, sistem logistik dan kebijakan pendukungnya.

7. Perlu adanya penetapan data populasi ternak sapi/kerbau yang akuntabel, sehingga mampu memprediksi pembangunan peternakan sapi dan kerbau secara nasional.

8. Penurunan populasi ternak kerbau merupakan keniscayaan, faktor utamanya disebabkan oleh ketiadaan perhatian pemerintah terhadap upaya pengembangan ternak ini secara nasional. Oleh karenanya diperlukan upaya peningkatkan produksi dan produktivitas kerbau asli indonesia yang tertera dalam rancangan program nasional maupun regional dengan cara memberikan kesetaraan perlakukan antara ternak sapi dan kerbau.

9. Peningkatan populasi kerbau lokal seperti kerbau di wilayah Pampangan Sumatra Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sumbawa, Sulawesi Selatan dan lainnya perlu diukung oleh teknologi dan dukungan dana yang memadai, kebijakan yang berpihak kepada komoditi ternak kerbau, serta melibatkan masyarakat dan dukungan teknologi maupun kearifan lokal.

10. Pemerintah segera meninjau ulang pengembangan ternak sapi-sapi Double Muscle (BB dan GB) yang telah dirilis penyebarannya bagi peternak rakyat, mengingat dampak negatifnya di masa mendatang dan akan merugikan pembangunan peternakan nasional.

• Bidang Peternakan Sapi Perah
1. Menurunya produksi susu sapi nasional sebagai akibat depopulasi sapi perah sebagai dampak dari mahalnya harga daging sapi. Untuk itu, perlu kebijakan perlindungan populasi melalui penyesuaian harga jual susu segar ke Industri Pengolahan Susu, ataupun melalui pengembangan Industri Menengah Persusuan Nasional dan merealisasikan secara konsisten program minum susu segar bagi anak usia sekolah.

2. Dalam rangka meningkatkan produktivitas peternakan sapi perah rakyat, perlu dilakukan pemberdayaan penyebaran sapi-sapi pejantan FH hasil progeny melalui pemberdayaan kelembagaan Asosiasi Holstein Indonesia yang mapan.

3. Pemerintah perlu memberikan dukungan dan fasilitas finansial, peralatan, serta kelembagaan koperasi guna percepatan pengembangan peternakan sapi perah di dalam negeri. Hal ini disebabkan karena sampai saat ini usaha peternakan sapi perah rakyat belum mampu memberikan peningkatan kesejahteraannya. Untuk itu, kiranya pemerintah dapat melakukan revitalisasi asosiasi dan kelembagaan koperasi peternak sapi perah rakyat. (INF)

RESMI MILIKI "GRHA DOKTER HEWAN", PB PDHI LAKUKAN DOA BERSAMA


 Hari ini, Minggu, 13 Desember 2020, para dokter hewan di seluruh Indonesia boleh bangga, karena cita-cita memiliki Grha Dokter hewan terwujud lebih cepat dari yang ditargetkan.

Menurut Ketua Umum PB PDHI (Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia) Drh M Munawaroh MM, target terkumpulnya dana kantor adalah bulan Januari 2021, namun berkat dukungan para anggota PDHI dan atas izin Allah SWT, bulan Oktober 2020 PB PDHI sudah bisa membeli dan  resmi memiliki gedung kantor milik sendiri yang lokasinya cukup strategis di Jl Joe kebagusan pasar ninggu Jakarta selatan, kurang lebih 3 km dari Gedung Kementerian Pertanian Jakarta, 2 km dari pintu Tol Pasar Minggu.

Untuk mensyukuri kepemilikan kantor tersebut, PB PDHI mengadakan syukuran dan doa bersama yang dipimpin oleh Ustazd Ahmad Rosyidin Mawardi dan dihadiri oleh pengurus inti PBPDHI dan undangan terbatas. Mengingat masih dalam situasi pandemi covid-19. acara ini hanya mengundang 20 Orang termasuk Pimpinan Redaksi majalah Infovet. Hadir diantaranya perwakilan dari Pembina PB PDHI Drh Sujarwanto, Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Kesehatan Hewan Drh. Mulyanto MM dan  Direktur PT Veteriner Indonesia Sejahtera (VIS) Drh Baskoro Tri Caroko, Ketua Persatuan Istri Dokter Hewan Indonesia (PIDHI) Drh Thri Isyani Tunggadewi, Ketua Yayasan Keluarga Dokter Hewan Drh Ani Juwita Handayani, dan perwakilan dari Lansiavet serta beberapa dokter hewan senior.

Pada saat sambutan mereka semuanya mengaku terharu dan bersyukur bahwa PDHI kini semakin percaya diri dan bangga telah memiliki kantor pusat yang representatif. Demikian pula Ketua Umum PB PDHI Drh M. Munawaroh MM. sangat bersyukur telah terwujudnya kepemilikan Grha Dokter Hewan yang merupakan kontribusi para anggota di seluruh Indonesia.

"Mengenai kepemilikan kantor ini merupakan target saya yang saya sampaikan di Kongres. Dan syukur alhamdulillah impian ini didukung oleh seluruh anggota di seluruh Indonesia. Adanya kantor ini merupakan lambang persatuan para dokter hewan, karena ini murni dari sumbangan anggota yang jumlahnya sangat bervariasi. Untuk itu kepada semua yang telah berkontrubusi, saya sampaikan terima kasih sebanyak banyaknya, semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala berlipat," ujar Munawaroh.

Grha Dokter Hewan terdiri dari 2 lantai dimana didalamnya terdapat beberapa ruang kerja untuk Ketua Umum PB PDHI dan Bendahara Umum beserta dan Sekretariat PBPDHI dan lembaga pendukung di antaranya ruang PT VIS, LSP Kesehatan Hewan, dan PP PIDHI.*


CHAROEN POKPHAND HIBAHKAN KANDANG CANGGIH UNTUK UNIBRAW

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk menghibahkan kandang canggih Teaching Farm Closed House dan Entrepreneurship Teaching Center pada Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang. Kandang yang dihibahkan adalah kandang ayam petelur.

Sebelumnya Charoen Pokphand juga menghibahkan kandang pada Universitas Diponegoro Semarang dan Institut Pertanian Bogor. Jadi hibah pada Unibraw ini adalah yang ketiga.

Penghibahan tersebut dihadiri dan diresmikan secara virtual oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa pada 10/12/2020.

Hibah yang menjadi salah satu program CSR Charoen Pokphand ini akan digunakan sebagai sarana penelitian dosen dan mahasiswa sebagai syarat tugas akhir.

Khofifah mengatakan kegiatan ini adalah titik awal dari sinergi antara kampus, industri, dan pemerintah. Diharapkannya agar bisa menjadi bagian dari penguatan Indonesia untuk menjadi eksportir halal food.

BINCANG BISNIS PERTANIAN ALA BANK MANDIRI


Bincang Bisnis Pertanian Bersama Bank Mandiri via Daring Zoom Meeting

Selama pandemi Covid-19 melanda Indonesia hampir semua sektor pendukung ekonomi Indonesia bisa dibilang lesu. Namun begitu sektor pertanian dinilai sebagai sektor yang resisten terhadap wabah Covid-19. Hal ini terlihat dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik dimana PDB dari sektor pertanian tumbuh 16,24% pada triwulan-II 2020 (q to q) dan bahkan secara yoy, sektor pertanian tetap berkontribusi positif yakni tumbuh 2,19%. 

Melihat peluang tersebut, Bank Mandiri menggandeng Prisma mengadakan webinar bertajuk "bincang bisnis pertanian bersama bank mandiri" dengan tujuan memberikan informasi mengenai potensi bisnis pertanian kepada masyarakat.

Acara webinar tersebut berlangsung selama 4 hari berturut - turut pada 7 - 11 Desember 2020 melalui daring zoom meeting. Peluang bisnis sektor pertanian yang dibahas meliputi potensi penggilingan padi, irigasi pertanian, kios tani, dan peternakan sapi perah.

Infovet berkesempatan mengikuti webinar pada tanggal (11/12) yang lalu. Sebagai narasumber yakni Drh Totok Setyarto Direktur PT Nufeed Indonesia dan Aryawan Kepala bagian kredit mikro Kanwil 7 Bank Mandiri Jawa Tengah.

Dalam kesempatan tersebut Totok menuturkan bahwa peluang bisnis sapi perah masih menjanjikan. Hal ini dikarenakan Indonesia masih mengimpor sekitar 70-80% susu dari negara lain (Selandia Baru dan Australia). Ia juga menjabarkan mengenai 3 sektor yang dapat digarap oleh peternak atau calon pengusaha baru dalam sektor tersebut.

"Di usaha ini bisa bermain di pedet lepas sapih, dara bunting, dan sapi perah alias produsen susunya sendiri. Menurut saya ini masih berpeluang besar di Indonesia," tutur Totok.

Namun begitu menurut Totok, sektor sapi perah cukup terbebani dengan kendala berupa permodalan. Sulitnya akses permodalan menjadi kendala utama bagi para calon peternak baru untuk menjalankan bisnis ini.

Sementara itu, Aryawan mengatakan bahwa Bank Mandiri selaku salah satu program BUMN turut mendukung program pemerintah dalam membangun sektor usaha mikro khususnya yang bergerak di bidang pertanian.

"Kami mendukung program pemerintah di sektor pertanian, disini kami bertindak sebagai fasilitator bagi masyarakat yang ingin memulai usaha, khususnya yang bergerak di bidang pertanian," tutur Aryawan.

Ia juga menerangkan beberapa produk pembiayaan yang bisa digunakan oleh masyarakat. Salah satunya yakni Kredit Usaha Mikro (KUM) dan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Mengenai limit yang dapat dibiayai untuk peternakan sapi perah, Aryawan mengatakan bahwa limit maksimal 500 Juta rupiah.

"Tergantung mau pakai produk yang mana. Ada banyak jenis, misalnya KUR Mikro, kita bisa memberi pembiayaan maksimal 50 juta tanpa jaminan, tetapi syaratnya usaha tersebut sudah mulai berjalan selama setahun," kata Aryawan.

Diskusi interaktif pun berjalan dengan dinamis dimana para peserta terlihat sangat antusias dengan banyaknya pertanyaan terkait produk pembiayaan oleh Bank Mandiri di bidang peternakan sapi perah. (CR)


SELAMAT KEPADA PROF ELLY, GURU BESAR ILMU TERNAK UNGGAS UNSOED

Dosen Ilmu Ternak Unggas Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Prof Dr Ir Elly Tugiyanti MP dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Ternak Unggas di Purwokerto, Jawa Tengah, Selasa (8/12).

Dalam kondisi masih pandemi, pengukuhan tersebut juga disiarkan secara langsung melalui kanal Zoom dan YouTube sehingga dapat disaksikan oleh masyarakat umum.

Dalam orasi ilmiah yang berjudul “Manajemen Pemberian Pakan Fitogenik untuk Meningkatkan Produktivitas dan Pengembangan Itik secara Berkelanjutan”, Elly menyebutkan bahwa daging dan telur, merupakan salah satu menu utama guna pemenuhan gizi keluarga, dikarenakan harganya terjangkau dan kandungan gizinya tinggi serta seimbang.

Selain berasal dari ayam, daging dan telur juga dihasilkan dari ternak itik. Indonesia mempunyai jenis itik lokal yang sangat tinggi keragaman dan produktivitasnya, namun secara umum itik betina ditujukan sebagai penghasil telur, sedangkan itik jantan dimanfaatkan sebagai penghasil daging.

Dalam Orasinya, Elly memaparkan tentang potensi ternak Itik di Indonesia. "Indonesia ini merupakan negara ke tiga terbesar populasi Itiknya setelah China dan India, oleh karena itu ternak Itik sangat berpotensi untuk dikembangkan secara berkelanjutan di Indonesia,” ujarnya.  

Berdasarkan kajiannya, permasalahan utama yang dihadapi dalam pengembangan ternak itik di Indonesia antara lain adalah suhu lingkungan yang tinggi, pakan, dan kualitas produknya.

Melihat permasalahan tersebut, Elly telah melakukan penelitian tentang pemanfaatan fitogenik yang sejauh ini banyak diaplikasikan oleh peternak itik tradisional terutama untuk mengurangi stres akibat itik berjalan jauh dan saat menghadapi musim yang fluktuatif. 

Dalam prakteknya fitogenik itu dibuat peternak dalam bentuk jamu. Mengutip peneliti sebelumnya, Elly menjelaskan bahwa fitogenik bersifat antioksidan, tidak beracun, bebas residu, memacu pertumbuhan, menjaga ketahanan tubuh, meningkatkan produktivitas ternak serta meningkatkan keamanan produk pangan asal ternak.

Berdasarkan penelitiannya Elly menyimpulkan bahwa manajemen pemberian pakan imbuhan fitogenik dapat digunakan sebagai alternatif untuk mempertahankan kesehatan ternak dan meningkatkan imunitas sehingga ternak itik lebih adaptif terhadap iklim tropis di Indonesia.

Selain itu, manajemen pemberian pakan imbuhan fitogenik yang tepat mampu meningkatkan produktivitas dan menghasilkan kualitas daging ternak itik yang aman dan menyehatkan.

“Saya juga menyimpulkan bahwa pengembangan ternak itik dapat dilakukan di berbagai wilayah dengan memanfaatkan pakan imbuhan fitogenik yang tersedia dan mudah ditemukan di wilayah pengembangan,” tutupnya. (Sumber: https://www.kafapet-unsoed.com/)

SEMINAR VIRTUAL AMI BAHAS AFRICAN SWINE FEVER

Seminar virtual AMI yang membahas mengenai wabah ASF. (Foto: Dok. Infovet)

Kamis, 10 Desember 2020. Bekerja sama dengan Ceva Animal Health Indonesia dan Better Pharma, Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) sukses menggelar seminar secara virtual membahas mengenai African Swine Fever (ASF) yang merebak di Indonesia.

Seperti diketahui ASF mulai menyebar di Tanah Air beberapa tahun lalu dan langsung menyebar ke peternakan babi di Indonesia dan memusnahkan jutaan ekor ternak babi. “Sekitar 3 juta kurang lebih populasi babi kita sudah habis. ASF ini sudah banyak menyerang peternak babi di Indonesia,” ujar Ketua AMI, Dr Sauland Sinaga dalam opening speech-nya.

Sementara ditambahkan Country Manager Ceva Indonesia, Drh Eddy Purwoko, untuk melawan ASF pihaknya bekerja sama dengan Better Pharma turut membantu meningkatkan kepercayaan diri peternak dalam melawan ASF agar terjadi peningkatan populasi babi di Indonesia.

“Sejak awal tahun kita bekerja sama dengan Better Pharma untuk melengkapi kebutuhan peternak mengenai produk disinfektan, agar peternak confident meningkatkan populasi ternak babinya di tengah wabah ASF,” ungkap Eddy.

ASF sendiri menyerang segala jenis umur babi dan virusnya mampu bertahan dalam produk/daging babi. Oleh karena itu, biosekuriti dan disinfeksi menjadi fokus utama yang harus diperkuat para peternak babi di Indonesia untuk mengurangi wabah.

Kontrol transportasi dan hewan carrier seperti tikus menjadi beberapa cara yang bisa dilakukan peternak untuk menekan penyebaran ASF dari satu farm ke farm lain. Hal itu seperti disampaikan Technical Specialist Better Pharma International Bussines, Dr Waranee, sebagai pembicara yang membahas “Penggunaan Disinfektan yang Tepat sebagai Kunci Penanganan ASF.”

Waranee juga menjelaskan beberapa penggunaan disinfektan yang efektif dalam meminimalisir ASF di peternakan, mulai dari yang digunakan secara semprot maupun melalui air minum.

Selain dia, dihadirkan pula pembicara selaku pemerhati kesehatan dan nutrisi peternakan babi yang juga anggota AMI, Drh Michael Indra, yang mengupas soal “Meningkatkan Jumlah Produksi Anak Babi di Masa Pandemi ASF.”

Webinar yang dihadiri sekitar 165 peserta ini dimulai sejak pukul 09:00 WIB dan dipandu oleh praktisi kesehatan hewan yang juga anggota ADHMI, Drh Antonia Agnes. Seminar diakhiri dengan sesi tanya-jawab dan beberapa peserta yang mengajukan pertanyaan mendapat cinderamata dari panitia penyelenggara. (RBS)

ECO ASIA POULTRY HEALTH CONFERENCE DIGELAR

ECO Asia Poultry Conference memperkaya wawasan peternakan global


Sebuah webinar internasional interaktif melalui daring bertajuk Eco Asia Poultry Health Conference dihelat pada 8 Desember 2020. Webinar tersebut berfokus  membahas tentang perunggasan dari segi market, kesehatan hewan, dan teknologi terkini dunia perunggasan. Webinar yang rencananya berlangsung dua hari tersebut digagas Eco Animal Health, salah satu perusahaan ternama di dunia asal Inggris. Narasumber yang menjadi pembicara dalam acara tersebut pun merupakan para ahli di bidang perunggasan dari seluruh dunia yang tentunya bukan kaleng - kaleng.

Piotr Postepski selaku Global Sales Director dari Eco Animal Health dalam sambutannya mengatakan bahwa wabah Covid-19 yang melanda dunia beberapa bulan belakangan mengubah cara manusia dalam bekerja, termasuk di sektor peternakan. Namun begitu menurutnya wabah tidak boleh menyurutkan semangat para insan perunggasan, utamanya praktisi perunggasan untuk tetap bergerak maju. Bahkan menurutnya ini adalah suatu tantangan yang harus dihadapi bersama.

"Ini juga tidak menjadi halangan bagi kita untuk terus maju, dan acara ini kami dedikasikan agar kita tetap up to date mengenai sektor perunggasan global. Semoga acara ini dapat bermanfaat bagi kita semua," tutur dia.

Hari pertama tema webinar meliputi pasar, breed, dan tren penggunaan antibiotik. Masing - masing tema dibawakan oleh satu narasumber yang ahli dalam bidangnya. 

Topik pertama mengenai dampak wabah Covid-19 dan ASF terhadap sektor perunggasan dan perbabian dunia di tahun 2021 dibawakan oleh Nan-Dirk Mulder Senior Animal Protein Specialist Rabobank. Dalam presentasinya ia banyak membahas kerugian dan penurunan produksi pada babi akibat wabah ASF, selain itu ia juga membahas wabah AI yang melanda Uni Eropa dimana berpengaruh cukup siginifikan pada produksi perunggasan Eropa utamanya Negeri Belanda.

Dalam kesempatan yang sama Bart Stokvis Technical Service Manager Hendrix Genetics menyampaikan presentasinya mengenai layer dan Indukan (PS & GPS) modern. Brat mengatakan kedepannya tantangan akan semakin berat dalam menghasilkan bibit, oleh karenanya efisiensi harus ditingkatkan.

Presentasi akhir pada hari itu ditutup oleh pemaparan Esther Schonewille Global Poultry Technical Manager Eco Animal Health. Esther banyak membahas bagaimana beternak dengan prinsip less antibiotic use. Hal ini dikarenakan semakin mengkhawatirkannya resistensi antimikroba yang terjadi di dunia. Esther banyak menekankan pada manajemen pemeliharaan dan housing yang moderdn serta pemanfaatan teknologi terbaru dan mutakhir dalam menjaga kesehatan ayam. (CR)


BISNIS BIJI-BIJIAN DAN EKSPOR MENINGKATKAN PROFIT CHERKIZOVO

Pada kuartal ketiga tahun 2020, Cherkizovo, produsen unggas terbesar Rusia, berhasil meraih laba bersih hampir tiga kali lipat. Cherkizovo memperoleh keuntungan dari bisnis produksi biji-bijian yang kuat dan penjualan ekspor yang meningkat. Laba sebesar Rub3,7 miliar (US $ 50 juta) diraup pada kuartal ketiga tahun 2020, dibandingkan dengan Rub1,2 miliar (US $ 18 juta) pada kuartal ketiga tahun sebelumnya.

Laba bersih perusahaan naik 93,3% menjadi Rub12,8 miliar (US $ 180 juta) selama 9 bulan pertama tahun 2020. Pada tahun 2020, Cherkizovo melihat pertumbuhan pendapatan dan keuntungan meskipun banyak tantangan, termasuk resesi ekonomi Rusia, volatilitas Rubel, kenaikan biaya, kekurangan staf, tekanan pada pendapatan konsumen dan pergeseran preferensi konsumen.

Cherkizovo berhasil melewati krisis yang disebabkan oleh COVID-19 dengan mengandalkan produksi biji-bijiannya sendiri. Sebagian besar pertumbuhan laba berasal dari bisnis biji-bijian, dimana pertumbuhan volume didorong oleh peningkatan hasil-hasil investasi dalam praktek agronomi modern.

Tahun ini Cherkizovo juga memanfaatkan pertumbuhan penjualan ekspor. Pertumbuhan ekspor menyumbang 8% dari penjualan dan akan terus ditingkatkan. Pada tahun 2020, Rusia diperkirakan mengekspor 215.000 ton daging unggas. Rusia mengekspor 111.439 ton daging ayam pada Januari-Juni 2020, lebih tinggi 58,8% dari bulan yang sama tahun 2019.

POLEMIK SEKTORAL PERUNGGASAN, MASIHKAH DAPAT DISELAMATKAN?

BEM Peternakan UGM dalam acara rutin Husbandry Week's 2020 pada Senin (30/11/2020) mengadakan webinar dengan tema yang menarik. "Polemik Sektoral Perunggasan, Masih Dapatkah Diselamatkan?".

Webinar menghadirkan 6 pembicara yaitu Prof Dr Ir Ali Agus DAA, DEA, IPU, ASEAN Eng (Dekan Fapet UGM); Ir Sugiono MP (Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen PKH Kementan); H Ir Achmad Dawami (Ketua GPPU); Ir Didiek Purwanto (Ketua PB ISPI); H Sugeng Wahyudi (Sekjen GOPAN); dan Prof Dr Sc Agr Ir Suyadi MS, IPU, ASEAN Eng. 

Sugiono memaparkan bahwa potensi perunggasan Indonesia sebenarnya luar biasa, mengingat penduduknya yang 260 juta jiwa merupakan konsumen yang sangat potensial.

Menurutnya bisnis unggas harus bisa menghidupi banyak orang dari peternak hingga integrator, dan seterusnya. Dia juga menyinggung adanya jarak lebar antara harga ayam di kandang dan di pasaran.

Hal itu disikapi Ditjen PKH dengan mengatur kesesuaian supply dan demand. Di antaranya sampai saat ini dengan menerbitkan 5 surat edaran dalam rangka mengatur supply dan demand tersebut.

Sementara itu Suyadi dalam presentasinya menyimpulkan:

  • Untuk menjamin kestabilan usaha peternakan yang profit dan sustainable perlu dihitung secara cermat kebutuhan riil konsumsi dalam negeri – trend peningkatan dari waktu ke waktu.
  • Ekspor ternak dan produk ternak merupakan alternatif penstabil sistem peternakan (unggas) dalam negeri.
  • Pembangunan depo produk unggas (cold storge) di pusat-pusat produksi merupakan alternatif temporer untuk menstabilkan produksi dan harga.
  • UU no 11 / 2020 yang memungkinkan untuk melindungi peternak perlu dirinci dalam peraturan turunan untuk diimplementasikan secara konsisten.
  • Perlu penguatan promosi konsumsi dalam negeri termasuk bidang peternakan “bangga produk dan konsumsi dalam negeri”.

Kemudian Sugeng Wahyudi menutup materinya dengan beberapa saran berikut:

  1. Regulasi yang berkeadilan untuk perlindungan peternak mandiri.
  2. Perubahan paradigama dalam berbudidaya sehingga menghasilkan produk yang berdaya saing (upgrade perkandangan, penjualan produk melalui modern marketplace).
  3. Pengelompokan peternak dalam wadah koperasi untuk menciptakan koneksitas antara penyedia input (sapronak) dengan pelaku pembudidaya.
  4. Pengembangan dan segementasi pasar sehingga ada pembedaan pasar antara perusahaan integrasi yang mengerjakan pasar modern/pengolahan/ekspor yang massif, dan peternak mandiri menggarap pasar lokal.

COVID-19: EUROTIER MENJADI DIGITAL PADA FEBRUARI 2021

Via bewital-agri.de

Acara peternakan dua tahunan EuroTier akan diadakan hanya secara digital karena COVID-19. Acara online tersebut akan berlangsung pada 9-12 Februari 2021.

Kabar tersebut disampaikan oleh German Agricultural Society (DLG), yang menyelenggarakan acara tersebut. Event ini biasanya diadakan setiap November di Hanover, Jerman, tetapi 2020 ini telah ditunda hingga Februari 2021 karena alasan COVID-19.

EnergyDecentral, elemen acara untuk pasokan energi inovatif, yang selalu diadakan di lokasi yang sama dengan EuroTier, juga akan diadakan secara digital.

Pengunjung EuroTier versi online dapat masuk di "EuroTier Digital" mulai 1 Februari, untuk melihat perusahaan yang berpartisipasi dan program teknis. Membuat janji meeting audio-video juga dimungkinkan, serta untuk menghubungi peserta lain.

Peserta pameran akan menampilkan diri mereka di kartu nama interaktif. Kartu nama tersebut akan mengarah ke profil peserta pameran, menawarkan kontak langsung ke karyawan perusahaan dengan rapat audio-video serta ke ruang pamer.

SELAMAT JALAN PROF SOERIPTO



In Memoriam

Prof Drh Soeripto MVsc PhD dikenal sebagai Peneliti Utama di lembaga penelitian Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLITVET UI) Bogor telah wafat meninggalkan para teman sejawatnya para dokter hewan, yang tak habis pikir dan sangat terkejut di pagi hari tanggal 30 November 2020.

Soeripto sejatinya adalah dokter hewan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1974. Meniti karier pertama sebenarnya di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kemudian melanjutkan studi S2-nya di Melbourne University Australia dalam bidang Patologi Veteriner selesai pada 1977.

Setelah menyelesaikan studi S2, Soeripto dikembalikan ke Balai Penelitian Ternak Bogor sebagai Veterinary Services. Bekerja beberapa saat di tempat itu, akhirnya ia memutuskan untuk meneruskan studi S3-nya di universitas yang sama. Kali ini dipilih bidang Bacteriology. Praktis beliau sesudah 5 tahun (masuk program PhD tahun 1982 dan selesai tahun 1987) menyelesaikan studi S3. Bidang yang ditekuninya adalah Bacteriology khususnya Mycoplasma.

Prestasi yang sangat luar biasa dari Soeripto menurut catatan dari lembar SDM Badan Litbang adalah menjadi penerima royalty dari Melbourne University sampai saat ini untuk pengembangan vaksin TS11 pencegahan CRD pada ayam yang beredar di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Hampir seluruh hidupnya didekasikan untuk penelitian. Terbukti ia telah menghasilkan 91 karya tulis, 47 dalam bentuk buku, 3 buah artikel makalah berbahasa inggris, 10 buah artikel berbahasa inggris, 16 buah makalah berbahasa Indonesia dan 15 artikel ilmiah populer majalah peternakan.

Per 1 Desember 2004, Soeripto meraih jabatan Jenjang Fungsional sebagai APU, Ahli Peneliti Utama bidang penyakit unggas.

Berkat segala prestasi dan ketekunannya sebagai peneliti, maka pada 11 Agustus 2009 lalu pemerintah memberikan Profesor Riset kepada Soeripto. Ini juga sebenarnya sebagai hadiah ulang tahunnya yang jatuh sehari sesudahnya. Soeripto lahir pada 12 Agustus 1946. Judul orasi guru besarnya adalah “Teknologi Vaksin Mutan MTGS 11: Solusi Tepat Program Penyakit Menahun pada Ayam.”

Soeripto adalah sosok yang selalu gembira, optimis dan selalu siap membantu. Dari pengalaman Penulis yang pernah meneliti di Balai Penelitian Veteriner di tahun 1988, beliau sempat memberikan arahan bagaimana mengambil sampel penelitian ayam kampung secara proporsional untuk penyusunan tesis nantinya.

Pria berputra tiga orang dan dianugerahi enam orang cucu ini bersaudara 12 orang sebagai anak keempat warisan orang tua yang tergolong generasi baby boomers, banyak anak. Lulusan SMA Teladan 1 Yogyakarta, sebagai dokter hewan tak lupa menyenangi majalah peternakan dan kesehatan hewan semisal Infovet, Poultry Indonesia, Trobos, Cat&Dog seperti yang Soeripto tulis dalam akun Facebook-nya.

Soeripto resmi purna tugas pada 1 September 2011. Ia dianggap sebagai contoh seorang peneliti yang tekun sampai akhir hayatnya. Tidak menyangka secepat itu dan mendadak sakit di seputar perutnya. Sakit sebentar, dibawa ke RS Senior di Tajur dan langsung menghembuskan napas terakhirnya tanpa meninggalkan pesan apapun. Tentu keluarga terdekat paling merasakan kehilangan sosok seorang ayah, suami dan eyang bagi anak, isteri dan cucunya.

Tapi kita semua dokter hewan, khususnya para peneliti merasa kehilangan seorang tokoh inovatif di bidang vaksin unggas. Semoga akan terus bermunculan sosok Soeripto muda di kalangan veteriner yang terus berinovasi membangun sektor peternakan dan kesehatan hewan Indonesia. Selamat jalan prof, Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. ***

Depok, 30 November 2020
M. Chairul Arifin

MEMANFAATKAN HERBAL SEBAGAI TERAPI MEDIS PADA HEWAN

Indonesia memiliki potensi herbal yang dapat dimanfaatkan dalam terapi medis veteriner


Di masa kini tren gaya hidup manusia semakin berubah, termasuk dalam hal kesehatan. Manusia di masa kini banyak mengonsumsi obat - obatan herbal dan jejamuan dalam menunjang kesehatannya. Pada kenyataannya sediaan herbal juga dapat digunakan sebagai terapi dalam kesehatan hewan.

Hal ini dibahas secara mendalap pada webinar Dr. B The Vet show pada Minggu (29/11) melalui daring Zoom Meeting. Bertindak sebagai narasumber dalam webinar tersebut adalah Drh Slamet Raharjo, praktisi dokter hewan sekaligus peneliti dan staff pengajar dari FKH UGM. 

Menurut beliau, Indonesia sebagai salah satu negara mega biodiversity memiliki potensi yang besar karena keanekaragaman tanaman obatnya. 

"Ada ratusan bahkan ribuan jenis tanaman obat yang tersedia di negara ini dan banyak belum termanfaatkan dengan maksimal dalam hal ini pada sektor medis veteriner," tutur Slamet.

Pria kelahiran Kebumen tersebut kemudian menjelaskan beberapa penelitiannya yang bisa dibilang sederhana tapi mind blowing. Seperti misalnya ketika ia meneliti tentang potensi daun sambiloto pada luka iris pada beberapa jenis hewan seperti domba dan anjing.

"Ini berawal dari pengalaman pribadi saya, ketika mengalami kecelakaan, saya mencoba pada diri saya. Lalu berpikir bahwa seharusnya pada hewan juga memiliki efek yang sama, dan saya mencobanya, ternyata bisa," tutur dia.

Selain daun binahong, Slamet juga menyebut beberapa jenis tumbuhan obat lain yang telah banyak digunakan sebagai obat pada hewan. Misalnya kunyit dan meniran yang dikombinasikan sebagai imunomodulator pada ayam petelur yang telah terbukti dapat meningkatkan ketahanan tubuh aya terhadap serangan AI.

Namun begitu Slamet juga menjelaskan hal - hal yang harus diperhatikan terkait penggunaan herbal sebagai media terapi pada hewan. Menurut dia, herbal digunakan sebagai terapi suportif, untuk itu penggunaan herbal akan lebih baik jika dikombinasikan dengan sediaan konvensional. 

Ia juga mengingatkan agar para dokter hewan untuk memahami jenis herbal yang digunakan serta spesies pasien yang akan diterapi dengan herbal, karena hal ini juga berkaitan dengan efek fisiologis dari pasien tersebut. Cara pemberian sediaan herbal juga harus diperhatikan, karena terkait dengan jenis herbal dan spesies yang diobati tadi.

Terakhir ia juga mengingatkan bahwa agar sediaan herbal memiliki khasiat obat, volume, konsentrasi, dan aplikasinya harus tepat dan digunakan sesuai kaidah medis.

"Jika volume kurang tidak berefek, jika berlebih bisa jadi toksik, oleh karena itu harus tepat. Lebih penting lagi, gunakan herbal yang memang sudah diteliti memiliki efek dan khasiat, jadi jangan serampangan juga menggunakan tumbuhan yang belum pernag diteliti di laboratorium," pungkasnya.

Dr. B The Vetshow sendiri merupakan sebuah media edukasi dan diskusi bagi para dokter hewan dari berbagai sektor yang digagas oleh Drh Ridzki Muhammad Firdaus Binol, seorang alumnus FKH IPB. Webinar tersebut merupakan seri ke-2 dari acara Dr. B The Vetshow. Untuk webinar, podcast , dan acara lainnya, lebih lengkap dapat dilihat pada instagram @Dr.b_thevetshow. (CR)


FLU BURUNG KEMBALI ANCAM PERUNGGASAN BENUA BIRU

Migrasi unggas liar ditengarai sebagai biang keladi outbreak AI di Eropa


Beberapa pekan terakhir kasus flu burung ditemukan di beberapa negara benua biru seperti Prancis, Belanda, Jerman, Inggris, Belgia, Denmark, Irlandia, Swedia, dan untuk pertama kalinya pada pekan ini ditemukan di Kroasia, Slovenia dan Polandia, setelah melanda Rusia, Kazakhstan, dan Israel.

Sebagian besar kasus terjadi pada unggas liar yang bermigrasi tetapi kini wabah telah dilaporkan sampai ke peternakan, yang menyebabkan kematian atau pemusnahan setidaknya 1,6 juta ayam dan bebek sejauh ini di seluruh wilayah, menurut laporan Reuters, 27 November 2020.

Di Belanda sendiri, sebagai pengekspor daging dan telur ayam terbesar di Eropa, terhitung hampir 500.000 ayam mati atau dimusnahkan karena virus pada musim gugur ini, dan lebih dari 900.000 ayam mati di satu peternakan tunggal di Polandia minggu ini, kata kementerian kedua negara tersebut.

"Risiko penularan di peternakan unggas dan lebih banyak kasus di antara unggas liar lebih tinggi daripada dua tahun terakhir karena kemunculan masif berbagai virus flu burung di Eropa," kata juru bicara Institut Friedrich-Loeffler, sebuah badan penelitian penyakit hewan federal Jerman.

Unggas yang mati di Rusia mencapai 1,8 juta ekor pada akhir Oktober, dengan hampir 1,6 juta di antaranya terjadi di satu peternakan dekat Kazakhstan, menurut data Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan (OIE).

Strain utama virus flu burung yang ditemukan tahun ini di Eropa adalah H5N8, yang memusnahkan ternak pada 2016/17 ketika wilayah tersebut mencatat wabah terbesar pada unggas dan burung liar, tetapi ada juga laporan H5N5 dan H5N1.

Meskipun risiko terhadap manusia rendah, Badan Keamanan Pangan Eropa (EFSA) mengatakan minggu ini bahwa evolusi virus perlu dipantau secara ketat. Suatu strain H5N1 telah diketahui bisa menyebar ke manusia.

Pelaku industri unggas Uni Eropa mengatakan mereka sangat prihatin dengan wabah terbaru tetapi mereka yakin sekarang lebih berpengalaman dalam menangani wabah.

"Kami telah bekerja sangat keras untuk meningkatkan keamanan, untuk melatih peternak dan meningkatkan keterlacakan sehingga kami berharap jika ada kasus, kami dapat mengatasinya," kata Anne Richard, kepala lobi industri unggas ANVOL di Perancis.

Sebagian besar kabupaten telah menaikkan status kewaspadaan mereka ke level "tinggi", yang menyiratkan bahwa unggas dan burung dari semua jenis dipelihara di dalam ruangan atau dilindungi untuk menghindari kontak dengan burung liar.

Wabah flu burung seperti penyakit hewan lainnya seringkali mendorong negara pengimpor untuk memberlakukan pembatasan perdagangan.

Tindakan ini akan menambah beban akibat lockdown virus corona yang sudah diberlakukan, dan mengancam penjualan selama liburan akhir tahun.

"Sudah sulit untuk mengekspor dengan adanya COVID, itu akan membuatnya lebih buruk," kata Denis Lambert, kepala eksekutif grup unggas terbesar Prancis LDC, mengatakan pada Rabu.

Namun, pendekatan negara pengimpor unggas untuk membatasi pembatasan ke wilayah yang terkena virus akan membantu meringankan dampaknya.

Cina, misalnya, telah menghentikan impor produk unggas dari empat wilayah di Rusia karena flu burung, kantor berita TASS melaporkan pada hari Rabu. (INF/Reuters)

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS JAMBI: KAWASAN TERINTEGRASI DIPERLUKAN UNTUK MEMACU PERTUMBUHAN POPULASI TERNAK

Upaya pemerintah untuk mewujudkan kawasan industri yang terintegrasi sebagai salah satu langkah strategis untuk mendukung implementasi revolusi industri generasi ke-4 perlu diapresiasi dengan baik. Pasalnya, kawasan industri dapat berperan penting dalam memacu pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional melalui industrialisasi, khususnya di bidang peternakan. 

Program Pascasarjana Universitas Jambi bekerjasama dengan Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Perguruan Tinggi Sustainable Integrated Farming System (PUI-PT SIFAS), telah menyelenggarakan Webinar Nasional Peternakan secara online melalui Zoom Meeting. Kegiatan dengan topik Akselerasi Pengembangan Kawasan Terintegrasi ini dilaksanakan pada Selasa (24/11/2020), dengan peserta dari kalangan dosen, peneliti, mahasiswa dan peternak.

Ketua LPPM Universitas Jambi Dr Ade Octavia menyambut baik atas terselenggaranya Webinar Nasional Peternakan. “Webinar Nasional Peternakan ini merupakan suatu pencapaian besar kita di tengah kondisi pandemi Covid19. Sejatinya kita harus tetatp bergerak ke depan mengerjakan sesuatu yang dapat memberikan manfaat untuk dunia kampus kita, utamanya adalah dunia peternakan, melaluinya dapat dihasilkan pangan yang mengandung protein tinggi,” kata Dr Ade.

Panitia Webinar Nasional Peternakan menghadirkan pembicara handal seperti Ir Sugiono (Direktur Pembibitan dan Produksi Ternak) menyampaikan materi tentang Kebijakan Percepatan Produksi Ternak Nasional, Dr Andre R Daud (Dosen dan Peneliti Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran) dengan materi Lahan Bekas Tambang untuk Pengembangan Peternakan, Wayan Supadno (Pengusaha Kelapa Sawit, Pelaku Integrasi) dengan materi Nilai Tambah Sistem Integrasi Sawit dan Sapi, dan Ir H Yusrizal (Peneliti Senior PUI-PT SIFAS Universitas Jambi) yang berbicara tentang Sumberdaya Pakan Unggas Potensial Asal Bungkil Inti Sawit. Keempat narasumber ini dimoderatori oleh Dr Ir Mairizal, Peneliti PUI-PT SIFAS Universitas Jambi.

Direktur Pascasarjana Universitas Jambi Prof Dr Hj Anis Tatik Maryani memberikan apresiasi positif atas terlaksananya Webinar Nasional Peternakan ini. “Kita harus bangga dan bersyukur bahwa kita masih diberi kesempatan oleh Nya untuk tetap bisa aktif di tengah pandemi Covid 19,” kata Prof Anis. Ditambahkannya, berbicara terkait pengembangan kawasan terintegrasi, Jambi adalah tempatnya. “Kita mempunyai areal perkebunan kelapa sawit nan luas, darinya dapat diambil biomassa yang bisa didaulat sebagai bahan pakan ternak, baik untuk ternak ruminansia maupun non ruminansia,” papar Prof Anis.

Rektor Universitas Jambi, Prof Drs H Sutrisno menyebut bahwa usaha di bidang peternakan harus tetap digalakkan, hal ini mengingat bahwa pangan bergizi dan menyehatkan itu asalnya dari ternak yang dipelihara, untuk itu upaya menyediakan kawasan yang terintegrasi, misalnya sawit dengan sapi, sawah dengan sapi dan lainnya perlu menjadi kajian yang intens dan terus menerus. “Negeri ini perlu menyediakan kawasan khusus yang terintergrasi, artinya semua hal yang ada di dalam kawasan tersebut dapat bersinergi dengan mutualisme yang terus menerus, hingga didapatkan manfaat besar darinya,” kata Prof Sutrisno. Prof Sutrisno pun menyebut, Provinsi Jambi sampai saat ini masih tercatat sebagai wilayah dengan perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia, artinya beberapa kawasannya dapat dijadikan sebagai kawasan pengembangan ternak. “Kita terus melakukan kajian pada kesesuaian lahan dengan kondisi fisik lahan serta flora yang ada untuk dijadikan sebagai bahan pakan ternak, disamping adanya produk samping dari perkebunan kelapa sawit serta biomassanya,” tutur Prof Sutrisno sebelum membuka kegiatan tersebut. 

Dari ke-4 narasumber yang tampil di Webinar Nasional Peternakan ini, dapat disimpulkan bahwa percepatan peningkatan produksi ternak nasional harus diikuti dengan penyediaan lahan yang luas dengan ketersediaan pakan yang mumpuni untuk ternak, baik untuk aktivitas hariannya maupun untuk berproduksi dan bereproduksi. Terkait dengan penyediaan lahan tersebut, kawasan tambang sejatinya bisa dialihfungsikan untuk kawasan pemeliharaan ternak, namun sebelumnya perlu dilakukan perbaikan terutama yang menyangkut pada pengembalian hara tanah agar flora dapat tumbuh subur kembali. Disamping itu, lahan perkebunan kelapa sawit juga dapat dijadikan sebagai kawasan yang terintegrasi, sapi dan sawit yang disebut dapat saling menguntungkan, baik dari produk biomassanya maupun dari produk sampingnya berupa bungkil inti sawit yang kaya dengan beragam nutrien yang dibutuhkan oleh ternak. Namun demikian, peran teknologi terkait dengan perpakanan diperlukan untuk meminimalkan konstrain yang dikandung oleh berbagai produk samping dari industri kelapa sawit dimaksud. (Sadarman).

MASA BROODING ITU PENTING

Cukupi kebutuhan tempat pakan dan air minum saat periode brooding. (Sumber: Istimewa)

Kualitas periode brooding sangat diperlukan untuk mendapat performa produksi yang maksimal, karena periode brooding sangat mempengaruhi perkembangan pertumbuhan dan potensi genetik ayam untuk mencapai target produksi. Periode brooding sangat krusial terutama pada minggu pertama karena pada masa ini merupakan awal perkembangan sistem rangka tubuh, sistem pencernaan dan sistem kekebalan.

Tujuan utama brooding yaitu menyediakan lingkungan yang nyaman, sehat untuk pertumbuhan ayam secara efisien dan ekonomis. Suhu, kualitas udara, kelembapan dan penerangan merupakan faktor kritis yang harus diperhitungkan. Kegagalan untuk menyediakan lingkungan yang cukup selama masa brooding akan mengurangi keuntungan, yang dapat dibuktikan dengan penurunan pertumbuhan dan perkembangan, konversi pakan yang buruk dan peningkatan kejadian penyakit, afkir dan kematian.

Indikator Keberhasilan Brooding
Pencapaian target berat badan dan tingkat keseragaman berat badan ayam pada umur tujuh hari merupakan indikator keberhasilan tata laksana brooding. Pencapaian bobot ayam tersebut dapat digunakan peternak sebagai indikator apakah tata laksana brooding telah dilakukan sebaik-baiknya atau tidak. Bila pencapaian target berat badan dan tingkat keseragaman berat badan ayam tidak tercapai, persiapan dan pelaksanaan brooding harus dievaluasi peternak.

Keberhasilan pencapaian target berat badan pada umur tujuh hari ditentukan oleh manajemen udara, air dan pakan. Manajemen udara dilakukan dengan mengelola temperatur brooding dan ruangan kandang, mengelola kualitas udara, ventilasi dan litter.

Persiapan Brooding
Keberhasilan periode brooding sangat ditentukan oleh persiapannya. Persiapan brooding yang minimal berarti peternak akan mendapatkan performa yang minimal. Untuk meningkatkan efektivitas periode brooding, penerapan biosekuriti harus dilaksanakan secara ketat, dimulai dari proses sanitasi dan disinfeksi. Lakukan proses sanitasi dengan pembersihan sebaik mungkin. Gunakan disinfektan yang efektif dan tepat untuk membunuh berbagai mikroorganisme patogen, antara lain PRIMADIN yang spesifik untuk virus Gumboro. Kegagalan proses disinfeksi atau salah memilih disinfektan mengakibatkan anak ayam sangat rentan terhadap paparan penyakit sejak dini. Setelah proses disinfeksi dan sanitasi, lakukan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi November 2020.

Drh Yuni
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264, JAKARTA
Telp: 021-8300300

KONSUMSI DAGING AYAM AS MENINGKAT SELAMA PANDEMI

Konsumen AS telah beralih ke daging ayam selama pandemi COVID-19. Selama 9 bulan terakhir penjualan ayam eceran telah meningkat sebesar $ 1,3 miliar, naik 19,5% dari periode yang sama tahun lalu.

Menurut survei, separuh orang Amerika yang disurvei mengatakan bahwa mereka lebih suka ayam daripada ham (52%) atau kalkun (49%), dan lebih dari separuh makan sayap ayam sebagai bagian dari Thanksgiving (57%) atau makan malam Natal ( 61%).

Sejak pandemi di AS ayam telah menjadi sumber protein bergizi yang andal, mudah disiapkan, terjangkau, dan sehat.

USDA-ERS memperkirakan bahwa konsumsi per kapita ayam pedaging pada tahun 2020 diproyeksikan 1,6% lebih tinggi dari tahun lalu menjadi 43,8 kg. Kenaikan akan berlanjut pada tahun 2021, meskipun pada tingkat yang sedikit lebih lambat, dengan konsumsi yang diproyeksikan tumbuh sebesar 0,7% menjadi 44,1kg.

AGAR BROODING TIDAK PONTANG-PANTING

Setting pemanas harus tepat. (Foto: Istimewa)

Oleh karena brooding disebut juga dengan masa kritis dan vital, maka saat brooding selain memenuhi kebutuhan DOC seperti yang telah dijabarkan sebelumnya perlu juga perhatian lebih, bahkan khusus.

Hal ini tentu saja dilakukan agar meminimalisir terjadinya stres pada ayam. Ayam yang stres ketika dimasukkan ke area brooding akan cenderung lebih banyak diam, tidak aktif makan dan minum.

Imbasnya, masa-masa awal pertumbuhan yang optimal bisa hilang. Untuk menghindari hal ini dan bisa memenuhi semua kebutuhan anak ayam, tentu peternak perlu melakukan beberapa persiapan. Apa saja persiapan yang dimaksud? Berikut penjelasannya.

Kandang Harus Siap
Pada saat chick-in dan ayam masuk ke brooder, peternak harus memastikan bahwa kandang telah siap secara “lahir dan batin”. Maksudnya adalah secara kualitas dan kuantitas infrastruktur harus memadai, kesiapan alat pemanas, pembatas, tempat pakan dan minum harus memadai. Selain itu perlu juga dipastikan bahwa semua peralatan yang dipakai sudah terdisinfeksi dengan baik. Tentunya sebelum masa chick-in datang, istirahat kandang juga harus cukup.

Seperti yang acap kali dilakukan Dadang, peternak asal Cikembar, Sukabumi. Ia memaparkan hal-hal yang dia lakukan dalam membersihkan kandangnya. Dadang menguras habis semua kotoran sisa periode sebelumnya sampai tak tersisa, setelah itu ia melakukan pembersihan dengan menggunakan campuran air dan detergen yang dimasukkan ke dalam pompa bertekanan tinggi dan mencuci seluruh bagian kandangnya tanpa lupa menyikatnya. Setelah dibilas dan kering, ia menyemprotkan disinfektan ke kandangnya. Disinfektan yang digunakan bukan produk mahal, melainkan pemutih pakaian dengan perbandingan 1:10 bagian.

“Diajarinnya begitu dan menurut saya sampai saat ini efektif. Saya enggak pernah pakai obat mahal karena enggak sanggup. Yang penting seluruh bagian ter-cover, sikat yang bersih dan kalau perlu istirahat kandangnya dilebihin beberapa hari,” tutur Dadang.

Sebelum DOC datang kira-kira 2-3 hari, tidak lupa Dadang menyemprotkan kembali campuran pemutih pakaian dan air ke sekam yang hendak digunakan sebagai litter. Tujuannya tentu saja untuk mengurangi mikroba terutama patogen yang berada di dalam litter. Jangan lupa pula siapkan seluruh peralatan baik pemanas, tempat pakan dan air minum yang jumlahnya sesuai dengan jumlah ayam. Bila perlu tambahkan kertas koran di atas sekam untuk memudahkan DOC beraktivitas.

Jika menggunakan baby feeder, beberapa praktisi menganjurkan perbandingan ideal sebesar… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi November 2020 (CR)

PEKAN KESADARAN ANTIMIKROBA SEDUNIA, MERIAH DENGAN PEMECAHAN REKOR MURI PEROLEHAN NKV

Seremoni penyerahan sertifikasi NKV kepada peternak layer 

Menutup Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia 2020, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal PKH bersama dengan FAO ECTAD, didukung oleh USAID, mengadakan acara bertema “Bersatu Perkuat Sistem Pangan dan Sejahterakan Peternak” di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (24/12/2020).

Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR) khususnya di sektor peternakan. Selama ini antibiotik disalahgunakan untuk pencegahan penyakit dan memacu pertumbuhan  ternak. Padahal penggunaan antibiotik yang sembarangan dan tidak sesuai anjuran dokter hewan dapat membuat bakteri yang resistan terhadap antimikroba.

“Resistensi antimikroba terjadi di sini dan saat ini. Dalam pengendaliannya, AMR bukan hanya permasalahan mandiri sektor kesehatan hewan, karena penanganan  antimikroba yang digunakan untuk mengobati berbagai penyakit menular pada hewan mungkin sama dengan yang digunakan untuk manusia. Bakteri resisten yang timbul pada hewan, manusia, atau yang tersebar di lingkungan dapat menyebar dari satu ke yang lain, tanpa mengenal batasan hewan-manusia. AMR juga tidak mengenal batasan geografis mengingat laju perdagangan internasional yang pesat. Oleh karena itu, diperlukan  pendekatan ‘One Health’ yang melibatkan multisektor, ” ujar Team Leader FAO ECTAD Indonesia, Luuk Schoonman, dikutip dari siaran pers.

Direktur Kantor Kesehatan USAID Indonesia Pamela Foster mengatakan, “Pemerintah Amerika Serikat, melalui Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), telah bermitra selama lebih dari 14 tahun untuk memajukan kemandirian Indonesia dalam pengendalian dan pencegahan penyakit, dan, baru-baru ini, untuk mengendalikan resistensi antimikroba (AMR). USAID bekerja bersama Pemerintah dan rakyat Indonesia untuk memperkuat kapasitas Indonesia dalam mengatasi muncul dan menyebarnya AMR, membangun ketangguhan kesehatan, serta meningkatkan stabilitas dan kemakmuran.”

Pemecahan Rekor MURI Perolehan NKV dan Keterlibatan Pelaku Usaha

Salah satu cara  untuk pemutusan  resistensi antimikroba dalam produk pangan asal ternak, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan mengeluarkan Permentan No. 11/2020 tentang Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV) Unit Usaha Produk Hewan, sebagai pengganti Permentan No. 381/2005 tentang Pedoman Sertifikasi Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan.

Beberapa perubahan di Permentan 11 tahun 2020 antara lain penandatangan NKV dilakukan oleh Pejabat Otoritas Veteriner, penambahan jenis unit usaha produk hewan baik pangan maupun non pangan menjadi 21 jenis, persyaratan dan pengangkatan auditor NKV oleh Gubernur, serta adanya pengaturan sanksi terhadap pelaku unit usaha produk hewan yang tidak mengajukan permohonan NKV dan yang tidak memenuhi persyaratan. 

Tahun ini Jawa Tengah mendapatkan penghargaan MURI sebagai propinsi dengan perolehan Sertifikat NKV terbanyak untuk Budidaya Unggas Petelur  sebanyak 20, menyalip rekor tahun lalu yang dipegang oleh Lampung sebanyak 14 sertifikasi NKV.

NKV (Nomor Kontrol Veteriner) adalah sertifikat jaminan keamanan pangan asal ternak  yang  telah memenuhi persyaratan higiene-sanitasi dan implementasi biosekuriti di peternakan.

“Sertifikasi NKV adalah bukti komitmen kita bersama dalam menjamin keamanan pangan yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal) untuk masyarakat. Dengan adanya sertifikasi NKV ini Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jawa Tengah memberikan jaminan pangan yang baik untuk dikonsumsi masyarakat.  Harapannya akan semakin banyak produk pangan asal ternak yang mempunyai sertifikat NKV,” kata Ir Lalu Muhamad Syafriadi MM, Kadis Peternak dan Kesehatan Hewan Propinsi Jawa Tengah saat menerima penghargaan MURI.

Sebanyak 20 sertifikasi NKV diberikan kepada peternak layer yang telah menerapkan biosekuriti 3 zona di peternakannya.

“Daripada menyalahgunakan antimikroba yang menghabiskan waktu, tenaga dan biaya, lebih baik mempraktekkan biosekuriti 3-zona dari FAO dan Kementerian Pertanian yang dapat memutus rantai resistensi antimikroba dan menguntungkan bagi peternak. Penerapan biosekuriti 3-zona  yang benar dan konsisten mengurangi penyebaran penyakit sehingga pertumbuhan ternak optimal, meningkatkan produksi, dan mengurangi pengeluaran untuk pengobatan dan desinfeksi. Ini akan memberikan lebih banyak manfaat,” bagi Robby Susanto, Dewan Pengawas Pinsar Petelur Nasional.

Selama Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia berlangsung, diadakan beberapa kegiatan seperti kompetisi debat resistensi antimikroba yang melibatkan mahasiswa, kampanye peningkatan kesadaran pengunaan antimikroba bagi peternak, praktisi kesehatan hewan, dan kepada publik melalui webinar, siaran TV, dan radio. (NDV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer