-->

SEKTOR PETERNAKAN DI GARUT MERUGI AKIBAT BANJIR BANDANG

Ribuan ayam milik warga mati dihantam banjir bandang (Sumber : Liputan6.com)


Kabar duka datang dari Kabupaten Garut, dimana beberapa waktu yang lalu daerah tersebut dihantam oleh banjir bandang tepatnya di Karangtengah - Sukaweing. Kerugian akibat musibah alam banjir bandang tersebut juga berdampak pada sektor peternakan dan perikanan warga yang mencapai ratusan juta.

“Yang paling banyak sektor unggas karena ribuan ayam petelur ludes, kemudian perikanan warga di dua kecamatan,” ujar Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Kadiskanak) Kabupaten Garut, Sofyan Yani.

Menurut Sofyan, sapuan air bah akibat banjir bandang di dua kecamatan wilayah Garut bagian utara itu cukup parah. Beberapa kandang unggas terutama ayam petelur, kandang sapi hingga domba menjadi korban.

“Selain kandang, korban lainnya adalah kolam perikanan milik warga,” kata dia.

Setelah melakukan pendataan, puluhan kolam warga di dua kecamatan terdampak bencana alam mengalami krusakan. Rinciannya seluas 120 tumbak atau 1.680 meter persegi kolam warga di Desa Cinta dan Cinta Manik, Kecamatan karangtengah rusak.

“Sementara di Kecamatan Sukawening lebih luas lagi ada sekitar 3,6 hektar dari 25 kolam warga yang tersebar di Desa Sukawening, Sukamukti, Sukaluyu dan Desa Mekarwangi yang menjadi korban,” papar dia.

Khusus sektor unggas, kerugian terbilang besar akibat banyaknya ayam petelur yang hanyut tersapu banjir bandang. “Tinggal dikalikan saja Rp 150 ribu per ekor ayam, kali 5000 ekor ayam yang hilang,” ujar dia.

Namun meskipun demikian, Sofyan memastikan bantuan pemerintah daerah (pemda) Garut yang dikeluarkan melalui Belanja Tak Terduga (BTT) bencana alam, hanya dikhususkan untuk pembangunan infrastruktur kandang.

“Mohon maaf untuk seluruh ternak yang menjadi korban, Pemda Sulit sulit untuk memberikan bantuan,” kata dia.

Untuk meringankan beban warga terdampak banjir bandang khususnya peternak, pemda Garut melalui BTT segera memberikan bantuan stimulan pembangunan kandang.

“Angkanya tidak terlalu besar hanya belasan juga, itu pun buat kandang sapi dan domba,” kata dia.

Sementara untuk kandang unggas yang mayoritas merupakan mitra perusahaan, Pemda Garut tidak memberikan bantuan. “Biasanya perusahaan sudah memberikan asuransi bagi mereka,” kata dia. (INF)

RUSIA MEMBUTUHKAN PEMASOK ADITIF PAKAN BARU

Sergei Mikhnyuk, ketua Serikat Pakan Nasional Rusia, mengatakan bahwa untuk mengatasi masalah kekurangan aditif pakan Rusia yang terjadi saat ini dalam jangka panjang, perlu untuk melokalisasi produksi sebagian besar aditif pakan di Rusia. Namun, Yushin berpendapat bahwa ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan cepat, terutama karena industri daging Rusia telah melampaui industri aditif pakan selama beberapa tahun terakhir.

Yushin menyatakan keyakinannya bahwa masalah tersebut dapat dikurangi melalui perluasan daftar pemasok asing yang berwenang untuk mengirimkan aditif pakan ke Rusia. Menurut dia, hal itu akan meredakan ketegangan harga di pasar imbuhan pakan domestik.

Sejak Juni 2020, Rosselhoznadzor telah membatasi impor aditif pakan dari sebagian besar negara bagian Eropa, AS dan Kanada, dengan alasan kontrol sanitasi negara yang buruk atas proses produksi di negara-negara ini dan kekhawatiran transgenik. (via poultryworld.net)

INDUSTRI UNGGAS RUSIA BERJUANG MENGATASI KEKURANGAN ADITIF PAKAN

Terkait kekurangan aditif pakan di Rusia, Andrei Kovalev, presiden Rusia National Association of Turkey Breeders, menekankan bahwa pelaku pasar besar memiliki cadangan lisin yang cukup untuk bertahan selama 2-3 hari saja. Tindakan sementara untuk memerangi krisis saat ini dapat dikaitkan dengan pengurangan kandungan vitamin dalam premix sehingga cadangan yang tersedia saat ini akan bertahan lebih lama, kata perusahaan Rusia Prodo Group.

Namun, tidak adanya vitamin sama sekali dapat menyebabkan penurunan kinerja produksi dan bahkan kematian unggas yang lebih tinggi, Prodo Group memperingatkan.

Andrey Grigoraschenko, wakil presiden produsen kalkun terkemuka Rusia, Damate Group, mengatakan bahwa perusahaan berharap dapat memecahkan masalah dengan mencari pemasok baru, serta menggunakan sumber asam amino alternatif. (via poultryworld.net)

PABRIK PAKAN RUSIA MENGALAMI KEKURANGAN ADITIF

Kekurangan aditif pakan yang berkembang di Rusia dapat memaksa pabrik pakan kecil dan menengah untuk sementara berhenti beroperasi, mendatangkan malapetaka pada unggas domestik dan bisnis daging, surat kabar Rusia Kommersant melaporkan.

Kementerian Pertanian Rusia telah membenarkan masalah dengan pasokan aditif pakan di pasar, berjanji untuk bekerja menuju solusi bersama dengan pengawas veteriner Rusia Rosselhoznadzor.

Pelaku pasar Rusia menyuarakan keprihatinan bahwa krisis saat ini mendorong peternak ke arah tindakan yang tidak konvensional, termasuk mengubah komposisi pakan. Sergey Laktykhov, direktur umum Persatuan Produsen Unggas Rusia, menegaskan bahwa perusahaan unggas terpaksa mencari beberapa alternatif untuk asam amino yang langka dan mahal dalam upaya untuk mempertahankan kinerja produksi. (via poultryworld.net)

WEBINAR SAGAVET KUPAS TUNTAS DROP PRODUKSI AYAM PETELUR

Merayakan Dies Natalis 50 tahun Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair), Satria Airlangga Veterinarian (Sagavet) menggelar webinar mengusung topik “Kupas Tuntas Drop Produksi Ayam Petelur” yang dilaksanakan secara daring via Zoom, Senin (20/12).

Webinar Sagavet dibuka oleh Drh Desianto Budi Utomo PhD selaku Ketua Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA-UA), sekaligus menyampaikan kata sambutan.

Acara inti webinar dimulai dengan pemaparan Guru Besar FKH Unair, Prof Dr Drh Suwarno MSi yang dipandu oleh moderator, Drh Agung Prasetya Budi yang juga alumni FKH Unair.

“Penyebab penurunan produksi telur sebab virus, bakteri dan lain-lain. Pada kesempatan ini, kita akan membahas dari yang disebabkan oleh virus. Seperti Infectious Bronchitis (IB), Egg Drop Syndrome, Swolen Head Syndrome, AI, Newcastle Disease, Infectious Laryngotracheitis dan Mareks disease,” papar Prof Suwarno.

Upaya pencegahan, Prof Suwarno menerangkan materi terkait program vaksinasi dan tujuan vaksinasi yang salah satunya sebagai kontrol terhadap penyakit menekan mortalitas dan penyebaran penyakit. Vaksinasi juga menyiapkan maternal antibody, khususnya pada breeder supaya anak ayam memiliki maternal antibody yang tinggi dan mempercepat berakhirnya shedding virus.

“Penanggulangan pada infeksi virus penyebab penurunan produksi telur, kita perketat biosekuriti pada semua aspek manajemen serta vaksinasi yang tepat dan teratur,” imbuhnya.

Beranjak pada pembicara kedua yakni Drh Didit Prigastono selaku Deputy Head of Poultry Health Service&Quality Control, PT Japfa Comfeed Indonesia.

Berdasarkan fakta di lapangan, Didit mengemukakan. “Misalnya penyakit IB, Bronchitisnya gak ada masalah akan tetapi gejala klinis di lapangan telah berubah.”

Didit mengatakan bahwa kebanyakan peternak tidak siap atau kaget mendapati peternakannya terkena wabah penyakit yang menyebabkan penurunan produksi telur.

“Selama ini kita amati tidak ada yang duduk bersama membicarakan satu konsep. Langkah apa yang harus kita lakukan apabila terjadi gelombang penurunan produksi. Perlu dibuat satu konsep yang disana dituliskan SOP-nya,” katanya.

Lebih lanjut, Didit menjelaskan mitigasi penurunan produksi telur di farm dari sisi yang pertama adalah conceptual (location). “Lokasi penting menyumbang potensi yang akan kita terima,” ujarnya.

Kedua adalah structural (lay out bangunan). Mitigasi struktural merupakan upaya dalam meminimalkan atau memperlambat penyebaran apabila terjadi suatu outbreak penyakit dan utk melindungi flok/farm yang masih blm tertular dengan membangun berbagai prasarana fisik. Misalnya tempat sanitasi barang antar atau tempat transit farm, baik untuk karyawan maupun barang.

Berikutnya adalah operational yang berhubungan dengan routine procedures. Sementara mitigasi operasional (non structural) merupakan upaya dalam mengurangi ancaman wabah penyakit melalui kebijakan dan peraturan, baik oleh pemerintah maupun pelaku usaha peternakan. Contohnya UU Kekarantinaan, Peraturan Kompartementalisasi AI, Biosecurity, Cleaning&Disinfection, dan sebagainya.

Acara webinar berlangsung dengan lancar serta diikuti lebih dari 200 partisipan dan ditutup dengan sesi Q&A sekaligus diskusi. (NDV)

WEBINAR SERUM KONVALESEN UNTUK MENCEGAH ASF

Webinar AMI bicara mengenai serum konvalesen untuk mencegah ASF. (Foto: Infovet/Sadarman)

Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) menyelenggarakan webinar mengenai Serum Konvalesen untuk mencegah African Swine Fever (ASF), Jumat (10/12/2021), yang diikuti peserta dari berbagai wilayah Indonesia khususnya peternak babi, akademisi dan praktisi.

Ketua AMI, Dr Sauland Sinaga, mengatakan bahwa ASF harus dicarikan solusi untuk membantu para peternak babi. “Demam babi ini sangat meresahkan peternak, produknya berupa daging yang menjadi pangan bagi non-muslim, penyumbang devisa bagi negara, sehingga perlu dicarikan solusinya untuk meminimalkan ASF ini,” kata Sauland.

Lebih lanjut dikatakan, jika terapi plasma konvalesen dapat digunakan untuk imunisasi pasif dan dapat meminimalisir orang meninggal akibat COVID-19 sehingga memiliki harapan baru penyembuhan pasien, maka pada babi pun diharapkan demikian, serum konvalesen dapat digunakan sebagai vaksinasi pasif mencegah ASF.

Penggunaan serum konvalesen ASF dinilai memungkinkan, mengingat metode plasma konvalesen telah diadopsi dalam penurunan kasus COVID-19, menggunakan bagian plasma darah penyintas yang ditransfusikan ke tubuh pasien positif COVID-19 dengan golongan darah yang sama oleh pendonor.

Menurut Ahli Virologi dari Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Drh I Wayan Teguh Wibawan, yang menjadi narasumber menyebutkan, plasma darah merupakan bagian dari darah yang bewarna kekuningan yang mengandung albumin, antibodi (imunoglobulin) dan protein fibrinogen (zat pengatur pembekuan darah).

“Antibodi yang terbentuk akibat infeksi alam bersifat poliklonal, artinya di dalam serum terdapat berbagai jenis antibodi yang bereaksi spesifik terhadap berbagai epitope virus ASF, lalu antibodi tersebut bisa bekerja selama virus belum masuk ke dalam sel, sehingga penggunaan serum konvalesen ASF dapat mencegah ASF pada babi yang dipelihara peternak,” kata Wayan.

Wayan yang juga Guru Besar FKH IPB ini, menegaskan bahwa plasma darah bukanlah serum, karena keduanya mempunyai kandungan berbeda, yaitu serum juga mengandung zat protein, hormon, glukosa, elektrolit dan antibodi, namun tidak mengandung zat pembekuan darah. Secara sederhana dapat dikatakan serum adalah plasma minus faktor pembeku darah.

Mengkaji pada tren pengembangan ASF, ditambahkan narasumber lain yakni Komisi Ahli Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Karantina Hewan, Kementerian Pertanian, Dr Drh Anak Agung Gde Putra, bahwa ASF sangat menular dengan case fatality rate sangat tinggi, sehingga perlu dilakukan pencegahan dan pengendalian dengan upaya serum konvalesen yang diambil dari babi yang pernah menderita ASF dan dinyatakan sembuh.

Angin segar tersebut hadir melalui serum SCoVet ASF. Kepala Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya, Drh Agung Suganda, memaparkan bahwa SCoVet ASF merupakan produk biologis berupa serum dari babi yang sembuh ASF dan mengandung antibodi terhadap ASF.
“ASF merupakan penyakit viral, artinya tidak tersedia obat yang dapat menyebuhkan, hal yang sama dengan vaksin, sehingga SCoVet ASF dapat dijadikan alternatif imuno-profilaksis yang dapat membantu meningkatkan imunitas, sehingga kasus ASF dapat diminimalkan,” kata Agung.

Terkait dosis yang sudah diujicobakan, ia mengungkapkan sejauh ini telah dilakukan berdasarkan periode pemeliharaan babi, yaitu babi pada periode starter dapat diinjeksikan secara intramuskuler 1 ml/ekor, grower 2 ml/ekor, babi dara 3 ml/ekor dan babi dewasa 4 ml/ekor. Injeksi SCoVet ASF masing-masing dilakukan tiga kali dengan interval per-injeksi dalam 10 hari.

Sejauh ini, lanjut dia, pemberian SCoVet ASF telah dilakukan hampir di seluruh Indonesia, terutama di pusat usaha peternakan babi. “Kita telah mendistribusikan SCoVet ASF di tujuh provinsi yang disebarkan ke 12 kabupaten dan kota, termasuk alokasi pusat dan Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang, dengan total 7.525 vial setara dengan 120.400 ml,” jelas Agung.

Hasil monitoring pelaksanaan pemberian serum konvalesen veteriner ASF pada babi menunjukkan capaian positif. Hal ini terlihat dari data yang dilaporkan para dokter hewan dari tujuh provinsi sebagai kantong ternak babi di Indonesia, yaitu total babi disuntik SCoVet ASF yang diamati sebanyak 3.850 ekor, jumlah babi hidup setelah penyuntikan SCoVet ASF sebanyak 2.743 ekor (71,2%), jumlah babi mati setelah penyuntikan SCoVet ASF sebanyak 1.107 ekor (28,8%).

Penggunaan SCoVet ASF juga dinyatakan Agung aman diberikan pada babi (termasuk babi bunting, menyusui dan anak babi) sesuai dosis yang disarankan. "Perlu diperhatikan efikasi SCoVet ASF sangat tergantung pada status kesehatan dan tingkat stres babi, ketepatan dosis, pelaksanaan penyuntikan dan penerapan biosekuriti yang baik, sehingga hasil yang didapat bisa optimal,” ucapnya.

Bicara soal bisekuriti, dikatakan Dr Drh Anak Agung Gde Putra, tidak serta merta berhasil meminimalisir penyakit apabila sisi lainnya tidak diperhatikan. “Kebanyakan penyakit juga datang dari pakan yang dikonsumsi babi, misalnya pemberian pakan sisa manusia, perlu dimasak dulu sebelum diberikan pada babi,” kata Anak Agung. Hal ini diperkuat temuan yang dirilis EFSA Journal 2014, babi yang mengonsumsi pakan sisa manusia berisiko 35% terpapar ASF.

Oleh karena itu disimpulkan dalam webinar untuk mengantisipasi masuk dan menyebarnya ASF ke daerah bebas ASF dapat dilakukan melalui surveilans terstruktur, sistematis dan massif. Kemudian perlunya pemberian SCoVet ASF secara tuntas dengan dosis yang disarankan, juga memperkuat manajemen budi daya dan penerapan biosekuriti dengan baik dan benar. (Sadarman)

PRODUKSI UNGGAS TURUN DI VENEZUELA

Produksi unggas Venezuela telah menurun secara dramatis selama dekade terakhir karena krisis ekonomi dan hiperinflasi. Menurut Central University of Venezuela, negara ini masing-masing menggunakan hampir 28% dan 38% dari kapasitas produksi maksimumnya, untuk daging unggas dan telur.

Tahun ini, negara itu mencapai rata-rata produksi bulanan 36.615 ton daging dan 700.000 karton telur dibandingkan 120.000 ton dan 1,8 juta karton pada 2012 ketika daya beli Venezuela stabil.

Simón Leal, kepala Fakultas Ilmu Kedokteran Hewan memperkirakan bahwa sektor unggas Venezuela membutuhkan investasi US$ 150 juta per bulan untuk membawa kapasitas terpasang hingga 100% berfungsi. Saat ini, tidak ada sumber daya dari pemerintah maupun produsen.

Untuk tahun 2021, angka produksi menunjukkan konsumsi per kapita 17,3 kg ayam dan 125 butir telur per orang per tahun. Leal juga menyoroti bahwa 2012 adalah tahun dengan produksi unggas terbesar di negara itu dengan konsumsi per kapita 46,61 kg ayam dan 251 butir telur. Dengan kata lain, pasokan telah turun 63% untuk daging dan lebih dari setengahnya untuk telur untuk Venezuela. (via poultryworld.net)

HUNGARIA MENDUKUNG SEKTOR UNGGAS GHANA

Pengiriman ribuan parent stock layer dari Hungaria telah tiba di Ghana dan dilaporkan merupakan transaksi terbesar antara 2 negara tersebut sejak keberadaan kedutaan Hungaria di Ghana.

Pengiriman tersebut sebagai bagian dari kemitraan jangka panjang yang telah dimulai antara kedua negara. Duta Besar Hungaria untuk Ghana menyoroti bahwa sekitar 6 juta ayam petelur dipasok dari perusahaan Hongaria setiap tahun dan mencatat pengiriman ini sebagai salah satu yang akan membuka pintu baru untuk kemitraan dan dukungan yang lebih besar bagi perkembangan peternakan di negara Afrika. (via poultryworld.net)

AVIAGEN MELUNCURKAN LITERATUR TEKNIS BERBAHASA INDONESIA


Webinar Aviagen Sekaligus Peluncuran Literatur Berbahasa Indonesia

Rabu 15 Desember 2021 yang lalu Aviagen menggelar peluncuran literatur teknis berbahasa Indonesia. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting.

Hadirnya literasi teknis berbahasa Indonesia tersebut diharapkan dapat memudahkan para customer/user dari aviagen, hal tersebut diungkapkan oleh Rafael Monleon Manajer Bisnis Aviagen Asia-Pasifik dalam sambutannya. Menurutnya Indonesia merupakan salah satu negara penting di kawasan Asia yang banyak memiliki potensi namun belum dapat memaksimalkan potensi tersebut.

"Kami sudah banyak menerjemahkan literatur dan guideline kami ke berbagai bahasa, lalu kami sadar bahwa Indonesia memiliki bahasa tersendiri dan kami rasa kami butuh untuk menerjemahkan yang kami miliki ke dalam bahasa Indonesia. Semoga ini dapat membantu para user kami di sana," tutur Rafael.

Ketua Umum GPPU Achmad Dawami dalam kesempatan yang sama juga mengatakan bahwasanya ini merupakan suatu inisatif yang baik dari Aviagen kepada para stakeholder di Indonesia. Pasalnya menurut Dawami strain ayam miliki Aviagen merupakan salah satu strain yang dominan digunakan dalam budidaya baik komersil maupun Indukan (PS, GPS).

"Ini tentu akan mempermudah kita para user, semua guideline, literatur ilmiah, dan lain sebagainya yang berkaitan dengan teknis yang tersedia dalam bahasa Indonesia jelas sangat berguna dan praktis, ya mari kita manfaatkan dengan sebaik - baiknya," tutur Achmad Dawami.

Literatur Teknis Berbahasa Indonesia

Penjelasan lebih lanjut mengenai literatur yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia disampaikan oleh Manajer Transfer Teknis Global Aviagen, Dr Ting Lu. Dalam presentasinya ia menjelaskan maksud dan tujuan dari aviagen melakukan translasi bahasa berbagai literatur tersebut, dokumen apa saja yang sudah beralih bahasa, bagaimana cara mendapatkan dokumen tersebut, serta menjelaskan mengenai aplikasi Aviagen.

"Untuk mendapatkannya pengguna bisa langsung mengakses laman website kami kemudian setelah masuk dalam landing page silakan pilih wilayah dan bahasa, disitu sudah tersedia berbagai artikel dalam bahasa Indonesia," kata Dr Ting Lu.

Infovet sendiri mencoba mengakses laman website Aviagen tersebut, dimana benar di dalamnya terdapat berbagai macam literatur dan artikel teknis berbahasa Indonesia dengan berbagai macam tema dari mulai tips dan trick beternak, manajemen pakan, hingga manajemen pengendalian penyakit. Semuanya dapat diakses melalui link ini.

Berbagi Tips & Trik Meningkatkan Feed Intake

Selanjutnya sesi dilanjutkan dengan presentasi teknis terkait cara memperbaiki asupan pakan pada broiler yang dibawakan oleh Mike Block selaku Manajer layanan Teknis Aviagen. Dalam presentasi tersebut Mike menjelaskan banyak mengenai bagaimana mendorong agar ayam banyak memperoleh asupan pakan.

Menurutnya meningkatkan asupan pakan merupakan kunci keberhasilan dalam memaksimalkan potensi genetik yang dimiliki oleh ayam. Masalahnya terdapat berbagai faktor yang dapat menentukan keberhasilan dalam meningkatkan asupan pakan tersebut seperti ventilasi udara, pencahayaan, suhu, kelembapan, kualitas air, fase brooding, jenis dan kualitas pakan, serta tantangan penyakit.

"Di masa kini perkembangan genetik broiler sudah sangat maju berbeda dengan puluhan tahun lalu, apalagi kami Aviagen sangat concern dengan perbaikan genetik ini. Nah untuk itu dalam memaksimalkan potensi genetik, ayam harus makan, selain pakan yang berkualitas, asupan pakan dan nutrisinya pun harus cukup," tukas Mike.

Menurut Mike salah satu kunci keberhasilan dalam meningkatkan asupan pakan yakni bagaimana membuat ayam nyaman dengan lingkungannya, oleh karenanya dibutuhkan pengaturan dan setting yang tepat di dalam kandang agar memenuhi standar kenyamanan ayam dimana ayam bisa makan dan hidup dengan tenang, karena dengan begitu ayam mau makan dan potensi genetiknya termaksimalkan.

"Terutama pada saat brooding, anak ayam tidak dapat mengatur suhu tubuhnya sendiri, oleh karena itu fase ini sangat penting, kalau kita gagal memanfaatkan kesempatan di fase ini, maka kedepannya akan sulit mengejar target performa bobot standar dari broiler, makanya setting lingkungan kandang sebaik mungkin agar di fase ini semua berjalan mulus," kata Mike.

Mike juga bilang bahwasanya peternak juga harus memperhatikan tiap detail kecil di kandang dengan melakukan monitoring yang berkala pada ayam. Karena menurutnya kerap kali hal tersebut luput dilakukan sehingga performa menjadi sedikit kendor.

Diakhir sesi Mike dan Dr Ting Lu menjawab berbagai pertanyaan yang masuk kepada mereka baik terkait aspek teknis maupun non-teknis. Sesi tersebut berjalan sangat interaktif dan menyenangkan puluhan pertanyaan yang masuk dijawab dengan memuaskan. (CR)


OUTLOOK BISNIS PETERNAKAN ASOHI: HADAPI DINAMIKA DAN PERCEPATAN PEMULIHAN

Webinar Nasional ASOHI Outlook Bisnis Peternakan 2021. (Foto: Infovet/Ridwan)

“Bersama Menghadapi Dinamika dan Percepatan Pemulihan” menjadi tema Webinar Nasional Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Outlook Bisnis Peternakan 2021, Kamis (16/12), yang dihadiri sekitar 170 orang peserta. Acara tahunan ini kembali menghadirkan para ketua asosiasi bidang peternakan dan kesehatan hewan dalam membahas potret dan peluang bisnis di masa mendatang.

Terkait tema webinar, Ketua Panitia, Drh Harris Priyadi, mengatakan pihaknya bermaksud mengembalikan esensi kebersamaan para stakeholder peternakan, mengingat disrupsi dan tantangan yang sedang terjadi.

“Kita semua ingin dan harus  mengusahakan lalu mendapati situasi lebih baik di depan kita semua. Ada quotes yang mengatakan ‘Our better future is not something we just to wait, but it is something for us together to create’, artinya kita tidak bisa berdiam diri saja untuk melakukan perubahan, tapi kita harus menciptakannya secara bersama-sama,” ucapnya.

Sementara Ketua ASOHI, Drh Irawati Fari, menambahkan bahwa di 2022 mendatang terdapat titik cerah untuk bisa melakukan pemulihan dalam bisnis peternakan dan kesehatan hewan.

“Dengan melihat situasi saat ini yang semakin membaik, mudah-mudahan memasuki tahun 2022 kita masuk dalam masa pemulihan. Untuk itu tema webinar yang dipilih tahun ini sangat bagus dan memotivasi kita, serta ini mengandung makna bahwa semua stakeholder peternakan harus bersama-sama dalam menghadapi berbagai dinamika dan berupaya melakukan percepatan pemulihan,” ujar Irawati.

Ia juga menambahkan, “Melalui webinar ini kita dapat merekam opini masyarakat yang diwakili asosiasi untuk menjadi masukan kepada pemerintah dan diharapkan ada tindak lanjutnya.”

(Dari atas kiri): Ketua Panitia Harris Priyadi, Ketua Umum ASOHI Irawati Fari, Kasatgas Pangan Polri Irjen Pol. Helmy Santika dan Dirkeswan Nuryani Zainuddin. (Foto: Infovet/Ridwan)

Hal senada juga disampaikan Kasatgas Pangan Polri, Irjen Pol. Helmy Santika dan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diwakili Direktur Kesehatan Hewan, Drh Nuryani Zainuddin, yang berharap webinar ini menjadi bekal dalam menghadapi dinamika sektor peternakan di masa sekarang dan yang akan datang, serta memberikan manfaat dalam membangun sektor peternakan dan kesehatan hewan.

(Dari atas kiri): Narasumber Ketua GPPU Achmad Dawami, Wakil Ketua Pinsar Eddy Wahyudin, Ketua HPDKI Yudi Guntara, Ketua GPMT Desianto B. Utomo, Ketua PPSKI Nanang P. Subendro dan Ketua AMI Sauland Sinaga.

Webinar yang dimulai sejak pukul 08:00 WIB menghadirkan pembicara tamu Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, serta pembicara dari Ketua GPPU Achmad Dawami, Ketua GPMT Desianto B. Utomo, Wakil Ketua Pinsar Eddy Wahyudin, Ketua PPSKI Nanang Purus Subendro, Ketua HPDKI Yudi Guntara Noor, Ketua AMI Sauland Sinaga dan Ketua ASOHI Irawati Fari. (RBS)

CULLING DI PETERNAKAN ITIK IRLANDIA

Baru-baru ini, 27.000 itik, termasuk indukan, dimusnahkan di peternakan komersial Irlandia setelah menunjukkan gejala virus. Peternakan yang terletak di Aughnacloy di County Tyrone, adalah produsen utama bebek di Irlandia Utara.

Pejabat berwenang pertama kali diberitahu tentang masalah virus setelah operator melihat penurunan yang signifikan dalam jumlah telur yang dihasilkan oleh itik. Kemudian, sekitar 70 mil jauhnya, diketahui bahwa kawanan kecil yang terdiri dari 30 ekor juga diduga terjangkit virus flu burung dan juga dimusnahkan. (via poultryworld.net)

PETERNAKAN UNGGAS DI IRLANDIA UTARA DALAM SIAGA TINGGI

Peternakan unggas komersial di Irlandia Utara saat ini sangat waspada terhadap gejala flu burung pada unggas mereka menyusul sejumlah kasus dugaan virus tersebut.

Perintah pengandangan sudah berlaku setelah kehadiran flu burung H5N1 yang sangat patogen terdeteksi pada burung liar di Irlandia Utara.

Setelah 2 dugaan wabah baru-baru ini, Departemen Pertanian di Irlandia Utara (Daera) telah menetapkan Zona Kontrol Sementara di 2 lokasi wabah terpisah. Sejumlah wabah lain telah dikonfirmasi melintasi perbatasan di Republik Irlandia. (via poultryworld.net)

UZBEKISTAN MEMBATALKAN PPN ATAS UNGGAS DAN DAGING

Presiden Uzbekistan, Shavkat Mirziyoyev, telah membebaskan impor dan penjualan unggas dan daging di pasar domestik dari pembayaran PPN hingga akhir 2021 dalam upaya untuk menahan kenaikan harga yang berkelanjutan.

Keputusan itu diperlukan untuk mendinginkan pasar domestik, dimana kenaikan harga telah terlihat selama beberapa bulan terakhir.

Kurangnya pasokan menaikkan harga domestik, yang coba dibatasi oleh pihak berwenang. Sampai batas tertentu, ketidakseimbangan yang ada di pasar dikaitkan dengan peningkatan daya beli penduduk setempat, yang mendorong konsumsi unggas dan daging di dalam negeri. (via poultryworld.net)

INGGRIS DILANDA REKOR WABAH FLU BURUNG

Sekretaris lingkungan Inggris, George Eustice, mengumumkan bahwa Inggris telah mengalami wabah flu burung terbesar yang pernah ada, dengan jumlah sekarang melampaui 40 kasus yang dikonfirmasi.

Eustice mengatakan virus itu telah memukul peternak dengan sangat buruk musim gugur ini, “Setiap tahun, Inggris menghadapi risiko musiman dalam serangan flu burung yang terkait dengan burung liar yang bermigrasi. Meskipun kami memilikinya setiap tahun, saya harus mengatakan tahun ini kami sekarang melihat wabah terbesar yang pernah ada di Inggris.”

Kepala petugas veteriner negara itu, Christine Middlemiss, mengatakan dia sangat prihatin dengan situasi ini, menambahkan bahwa jumlah tempat yang terinfeksi sangat tinggi untuk tahun ini dan lebih besar dari yang pernah terlihat sebelumnya. Ini karena tingginya tingkat infeksi pada populasi burung liar yang bermigrasi, yang dia tambahkan, “Sangat mengkhawatirkan karena burung-burung itu akan tinggal di Inggris selama musim dingin sampai musim semi dan risiko infeksi tetap ada.” (via poultryworld.net)

INNOVATIONS IN DAIRY WEBINAR DARI PT LUNAR CHEMPLAST

Masing-masing materi yang disampaikan narasumber dalam webinar Innovations in Dairy yang digelar PT Lunar Chemplast. (Foto: Infovet/Ridwan)

Selasa (14/12), PT Lunar Chemplast menggelar webinar “Innovations in Dairy”, dengan fokus pada pengembangan, tren dan peluang produk terbaru di industri susu. Dalam forum tersebut dibahas bagaimana cara dan menetapkan prioritas untuk pertumbuhan industri dan kesuksesan pasar yang berkelanjutan.

Dipandu oleh Anisa Odang dan Renny Chan, webinar menghadirkan narasumber yang merupakan mitra dan expert di bidang peternakan sapi perah. International Sales Manager Semex Alliance, Michael Haambuckers, mengawali presentasi pertama dengan membahas mengenai solusi genetik dalam penyediaan sapi perah unggul.

Ia memaparkan bahwasanya Semex berkomitmen memberikan kualitas terbaik melalui genetik ternak sekaligus solusi dan pelatihan genetik, pelayanan peralatan untuk meninjau dan menganalisis data peternakan, pelacakan untuk peningkatan dan kemajuan peternakan serta pelatihan berkelanjutan, konsultasi dan pembinaan pelanggan.

Sementara pemaparan selanjutnya dibawakan oleh Senior Dairy Specialist VES-Artex, Sue Hagenson, yang membahas mengenai manajemen perkandangan, ventilasi, manajemen air dan teknologi berbasis data.

Dilanjutkan pemaparan materi oleh Adam Pretty dari Dairy Livestock Export/DLE-GVC dan General Manager Daviesway, Nikk Taylor yang memaparkan mengenai teknologi pemerahan susu dan penggunan produk berbasis probiotik, vitamin dan mineral, serta suplemen untuk menunjang pemeliharaan ternak sapi perah. (RBS)

DISKUSI VIRTUAL BIOMIN : FOKUS PADA REDUKSI PENGGUNAAN ANTIMIKROBIAL PADA PAKAN


Biomin menggelar diskusi daring secara interaktif untuk menyelesaikan permasalahan terkait

Jumat (10/12) yang lalu Biomin menggelar diskusi virtual yang bertajuk "Antimicrobial Reduction in Feed, Your Question Answered". Sebelumnya, dalam diskusi tersebut peserta undangan diminta mengirimkan pertanyaan terkait masalah peternakan terutama yang berkaitan dengan penggunaan antimikroba dalam pakan, yang kemudian dijawab oleh para expert dari Biomin.

Hadir sebagai narasumber nama - nama seperti Neil Gannon Regional Product Manager Gut Health, Maia Segura Wang dari divisi R&D Biomin, dan Lorran Gabrado selaku Global Product Manager Mycotoxin Risk Management. Acara tersebut dimoderatori oleh Michele Muccio Regional Product Manager Mycotoxin Management dari Biomin.

Dalam presentasinya yang singkat, Neil Gannon mengatakan bahwa dunia menghadapi permasalahan terkait penggunaan antimikroba yang berlebihan, khususnya di bidang peternakan. Ia menjelaskan bahwasanya residu antimikroba pada produk hewan merupakan masalah yang serius. Hal tersebut berkaitan dengan kualitas produk. Selain itu masalah lain yang ditimbulkan adalah menyebarnya bakteri yang resisten terhadap antimikroba yang menyebar melalui produk hewani yang dikonsumsi oleh manusia, 

"Dengan begitu apabila ada mikroba yang menginfeksi manusia tentunya akan menjadi sulit disembuhkan karena mikroba tersebut resisten terhadap antimikroba, ini masalah yang serius bagi peternakan kita," tutur Neil.

Meneruskan pendapat Neil, Maia Segura mengatakan bahwasanya masalah diperparah dengan performa dan produksi hewan. Menurutnya di era dimana antimikroba sudah tak lagi digunakan, tentunya performa dan produksi dari ternak harus "diakali" sedemikian rupa dan peternak maupun stakeholder yang berkecimpung harus pandai - pandai dalam meracik formulasi pakan baik secara komposisi hingga feed additive yang digunakan.

"Banyak sekali hal yang harus diganti, tadinya kita bisa menggunakan antikoksidia seperti diclazuril, atau Zinc Basitrasin untuk menjaga performa, sekarang mereka tidak dapat lagi digunakan, karenanya dibutuhkan alternatif lain pengganti sediaan tersebut agar performa tetap terjaga," tuturnya.

Sementara itu, Lorran Gabardo memaparkan akan bahaya mikotoksin ditengah isu penggunaan antimikroba tersebut. Menurutnya stakeholder banyak yang "lalai" dan terkesan mengesampingkan keberadaan mikotoksin, padahal mikotoksin dalam pakan juga dapat mempengaruhi performa ternak, bahkan mengganggu program kesehatan yang diterapkan di farm.

"Contohnya DON (Dioxynivalenol) alias vomitoksin yang dihasilkan kapang Fusarium sp. mereka terbukti dapat menghambat efektivitas program vaksinasi pada ternak unggas. Ini juga merupakan masalah yang cukup serius," tutur Lorran.

Dalam sesi tanya jawab secara live, baik Lorran, Neil, dan Maia menjawab berbagai pertanyaan dari para audience terkait mikotoksin, kesehatan saluran pencernaan, serta tips dan trik terkait pemilihan dan penggunaan feed additive pada pakan agar performa lebih maksimal (CR)


TELUR REBUS NABATI PERTAMA DI DUNIA

Telur rebus nabati pertama di dunia telah diluncurkan di Swiss. Dikembangkan selama bertahun-tahun dan diproduksi oleh ELSA, anak perusahaan Migros, alternatif telur rebus ini didasarkan pada protein kedelai dan dikenal sebagai V-Love The Boiled.

Telur nabati ini terlihat seperti telur rebus biasa dan dapat dipotong. V-Love The Boiled akan tersedia dalam kemasan isi 4 di Migros seharga CHF 4.40 (US$ 4.78).

V-Love, merek nabati dan vegetarian dari Migros, diluncurkan pada tahun 2020. Rangkaian produk ini mencakup lebih dari 100 produk, termasuk alternatif yoghurt berbasis buncis. Migros adalah telur rebus alternatif pertama yang mencapai pasar. (via poultryworld.net)

PETERNAK UNGGAS NIGERIA MEMINTA LARANGAN EKSPOR JAGUNG DAN KEDELAI

Asosiasi Unggas Nigeria telah meminta pemerintah untuk melarang ekspor jagung dan kedelai agar komoditas tersebut tersedia bagi pabrik pakan unggas di Nigeria. Hal itu, kata asosiasi, akan membantu menyelamatkan sektor unggas.

Permintaan itu disuarakan di Nigeria Poultry Show 2021, di Negara Bagian Ogun, produsen ayam pedaging dan telur terbesar di Nigeria. Show tersebut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan sektor pertanian publik dan swasta.

Saat ini sekitar 85 juta warga Nigeria terlibat dalam bisnis unggas, membuat intervensi di sektor unggas penting untuk penciptaan lapangan kerja. (via poultryworld.net)

MENTAN SYAHRUL YASIN LIMPO PANEN PEDET DAN LUNCURKAN PROGRAM KELAHIRAN 100.000 EKOR BELGIAN BLUE DI LAMPUNG

Foto: Humas Kementerian Pertanian

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) bersama peternak melakukan panen pedet (anak sapi) hasil inseminasi buatan (IB) sekaligus meluncurkan Program Kelahiran 100.000 Ekor Belgian Blue di Lampung.

Syahrul menilai kegiatan panen pedet sebagai momentum untuk menggerakkan seluruh potensi yang dimiliki dalam mendorong pembangunan peternakan nasional, yang berdampak langsung pada kesejahteraan serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kegiatan panen pedet sebagai bentuk apresiasi dan motivasi bagi seluruh insan peternak yang telah berupaya keras bagi pembangunan peternakan yang terus bertumbuh meskipun di tengah situasi yang sulit masa pendemi COVID-19,” terang Syahrul pada acara Panen Pedet dan Luncurkan Program Kelahiran 100.000 Ekor Belgian Blue di Lapangan Merdeka, Lampung Tengah pada Rabu (8/12).

Ia menjelaskan panen pedet merupakan hasil IB program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (SIKOMANDAN), sebagai wujud langkah nyata pemerintah bersama masyarakat untuk mengakselerasi pertumbuhan populasi dan peningkatan produksi daging sapi dan kerbau di dalam negeri.

“Tentunya ini sesuai arahan Bapak Presiden Jokowi bahwa kita harus bisa cukupi kebutuhan pangan dari produksi sendiri,” tuturnya.

Capaian kinerja SIKOMANDAN sampai dengan 5 Desember 2021 yang telah dilaporkan melalui ISIKHNAS, dengan angka kebuntingan 2,24 juta ekor dan angka kelahiran pedet sebanyak 2,17 juta ekor. Tercatat sejak tahun 2017 sampai dengan 2020 melalui kegiatan Optimalisasi Reproduksi tercatat kelahiran pedet telah menghasilkan 8,3 juta ekor.

Selain SIKOMANDAN, upaya mendongkrak peningkatan produksi daging sapi di dalam negeri juga dilakukan pengembangan jenis sapi unggul baru seperti Belgian Blue, Wagyu, Galacian Blonde di beberapa wilayah terpilih.

“Pengembangan Belgian Blue harus didukung bersama dan dikoordinasikan dengan baik sampai tingkat pelaksanaan di lapangan,” kata Syahrul.

Kementan mencatat, telah mendistribusikan semen beku untuk pengembangan Belgian Blue sebanyak 32.760 dosis dengan kelahiran sebanyak 1.092 ekor, dari hasil transfer embrio (TE) dan Inseminasi Buatan di 9 (sembilan) provinsi yaitu Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tenggara dan Papua.

“Kami menargetkan kelahiran Belgian Blue melalui IB sebanyak 100.000 ekor di tahun 2024,” kata Syahrul.

Sementara itu, Gubernur Provinsi Lampung Arinal Djunaidi menyampaikan subsektor peternakan berperan penting dalam penyediaan protein hewani dan permintaan produk peternakan meningkat dari tahun ke tahun seiring semakin membaiknya kesadaran gizi masyarakat.

Ia menyebutkan Provinsi Lampung pada Tahun 2021 mendapatkan alokasi target akseptor ternak sapi/kerbau sebanyak 151.218 ekor sebanyak 287.799 ekor atau 190,32%. Realisasi kebuntingan sebanyak 175.472 ekor atau 206,9% dari target 84.812 ekor. Sedangkan realisasi kelahiran sebanyak 128 774 ekor atau mencapai 155,56% dari target 82.780 ekor.

"Kami terus mengoptimalkan kinerja peternakan untuk menciptakan kekuatan ekonomi masyarakat berbasis peternakan,” kata Arinal.

Sedangkan dalam pengembangan Belgian Blue sampai akhir November 2021, Provinsi Lampung telah berkontribusi sebagai salah satu provinsi dengan kelahiran Belgian Blue terbanyak, yaitu sebanyak 460 ekor, dan jenis wagyu sebanyak 592 ekor yang tersebar di 7 Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung.

Ketua Komisi IV DPR, Sudin mengapresiasi kegiatan panen pedet sebagai capaian Kementan dibawah komando Mentri SYL. “Selama program kegiatan Kementan berkomitmen memberikan manfaat bagi petani dan peternak, pastinya selalu kami dukung,”ujarnya.

Pada panen pedet, Syahrul menyaksikan penyerahan Mock Up Kredit Usaha Rakyat (KUR) Sub Sektor Peternakan dari Perbankan kepada 5 (lima) Peternak dengan total nilai 1,3 Milyar dan Penandatangan MoU antara BRI dengan Pinsar Petelur Nasional (PPN) Wilayah Lampung. Selain itu Syahrul juga memberikan penghargaan kepada provinsi yang sudah memberikan kontribusi bagi peningkatan populasi melalui kelahiran pedet terbanyak, yaitu Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Barat.

“Kami optimis dengan menggeliatnya usaha pertanian termasuk di dalamnya peternakan akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di Indonesia yang sebagian besar tinggal di pedesaan," pungkasnya.

Pada kesempatan itu, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah menyampaikan kegiatan panen pedet sebagai bukti nyata komitmen Kementan dalam mewujudkan kemandirian pangan asal ternak dan meningkatkan kesejahteraan peternak. "Kami terus berupaya melakukan kegiatan SIKOMANDAN secara berkelanjutkan untuk peningkatan populasi sapi dan kerbau dalam negeri," harapnya. (INF/Rilis)

WABAH FLU BURUNG BARU MELANDA POLANDIA

Polandia telah melaporkan beberapa wabah baru flu burung H5N1 yang sangat patogen di beberapa peternakan unggas.

Wabah pertama ditemukan di sebuah peternakan yang terletak di desa Strusy di Provinsi Masovian pada 2 November 2021. Peternakan itu menjadi rumah bagi 80.812 kalkun. Secara total, 15 wabah flu burung tercatat di Polandia dalam 2 minggu, di Lubuskie, Lodzkie dan Slaskie, dan wilayah Greater Poland. Virus ini terutama mempengaruhi peternakan kalkun dan bebek, dengan sebanyak 550.000 unggas diperkirakan akan terpengaruh hingga saat ini.

Wabah baru ini merupakan kekecewaan besar bagi sektor unggas Polandia. Pada akhir September, Polandia mengajukan deklarasi kepada Organisasi Kesehatan Hewan Dunia untuk mencari status negara bebas flu burung. Polandia kemungkinan besar akan kehilangan hak untuk menjual unggas ke AS, negara yang sulit dijangkau oleh Polandia selama 15 tahun.

USDA memberi lampu hijau ekspor unggas Polandia pada Oktober 2021 setelah meninjau undang-undang, peraturan, dan sistem inspeksi unggas negara tersebut. Peternak Polandia menganggap ini pencapaian yang signifikan. Tak lama setelah keputusan ini, 24 peternakan unggas menandatangani kontrak untuk menjual 31.600 ton unggas ke AS. Pembukaan pasar baru akan membantu Polandia mempertahankan statusnya sebagai eksportir unggas terbesar di Eropa. (via poultryworld.net)

MUKERNAS PDHI : FOKUSKAN UU KEDOKTERAN HEWAN

MUKERNAS PDHI : Menuju Organisasi Yang Lebih Profesional


Sabtu (4/12) yang lalu bertempat di Grand Whiz Hotel Poins Square Jakarta Selatan, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) melangsungkan Musyawarah Kerja Nasional (MUKERNAS) dengan tema  “Menuju Organisasi dengan Manajemen Profesional”. Selain digelar secara luring, acara tersebut juga digelar secara daring melalui aplikasi Zoom meeting.

Ketua Umum PB PDHI Drh Muhammad Munawaroh dalam sambutannya berterima kasih dan mengapresiasi para sponsor dan PDHI cabang yang telah menyuskeskan keberlangsungan acara tersebut. Menurutnya, kini PDHI semakin profesional dan semakin dipercaya oleh para stakeholder oleh karena itu meskipun bukan beroirentasi pada profit PDHI harus semakin solid dan profesional.

"Laporan keuangan kita surplus dan MUKERNAS kali ini kita akan membahas AD/ART agar lembaga ini semakin profesional kedepannya. Ini penting, karena dengan adanya AD/ART yang disusun rapi, kedepannya siapapun yang meneruskan tongkat estafer kepemimpinan organisasi ini punya pegangan akan dibawa kemana organisasi ini," tutur Munawaroh.

Selain itu disampaikan juga olehnya, bahwa MUKERNAS kali ini juga akan membahas dan memfokuskan pada UU Kedokteran hewan dan mendengarkan visi dan misi dari berbagai PDHI cabang. 

Munawaroh mengatakan bahwa nantinya UU kedokteran hewan akan memfokuskan pada perlindungan pada profesi dokter hewan dan juga akan banyak membahas terkait hewan piara alias pet and companion animal.

"Selama ini UU Peternakan yang kita miliki sudah cukup baik, namun masih hanya berfokus pada dokter hewan yang ada di Kementan, nah disitu juga banyak fokus pada hewan ternak. Sementara dalam UU Kedokteran Hewan yang baru ini, kita bukan hanya banyak membahas itu, kita juga akan membahas hewan dalam arti keseluruhan hewan dan dokter hewan yang juga bekerja di luar Kementan," tuturnya.

Ia juga menyampaikan bahwa saat ini perkembangan terakhir dari draft UU tersebut sudah sampai ke telinga DPR dan sudah ditanggapi. Ia sendiri menargetkan minimal pada tahun 2025 nanti UU Kedokteran tersebut sudah dapat diterbitkan.

"Kita punya wakil di salah satu komisi di DPR yang juga dokter hewan, mudah - mudahan ini bisa cepat rampung. Bila perlu nantinya harus banyak juga dokter hewan menghuni gedung DPR untuk memperjuangkan aspirasi dokter hewan Indonesia," tutupnya. (CR)


DAFTARKAN SEGERA WEBINAR NASIONAL OUTLOOK BISNIS PETERNAKAN ASOHI 2022


Tema: Bersama menghadapi dinamika dan percepatan pemulihan

Biaya pendaftaran (Rp): 200.000 (umum), 100.000 (peternak), 50.000 (dosen/mahasiswa), gratis (undangan khusus/sponsor/pengurus ASOHI)

Link pendaftaran: https://bit.ly/daftaroutlook2021

Informasi transfer: Bank Mandiri Cabang Pasar Minggu Pejaten 1260098041451 (ASOHI)

Contact person: Ayunil dera 081212272678 / Mariyam 087778296375 / marketinggita2018@gmail.com

CERMAT MEMBACA IKLIM DAN CUACA AGAR PERFORMA PRIMA

Pakan dan air minum harus dijaga kualitasnya. (Foto: Infovet/Ridwan)

Sudah jadi suatu kepastian bahwa iklim dan cuaca merupakan faktor berpengaruh pada budi daya peternakan terutama unggas. Peternak dituntut bisa membaca situasi iklim dan cuaca agar performa tetap prima.

Siapa tak kenal Napoleon Bonaparte, seorang pemimpin militer Perancis yang terkenal di seluruh dunia karena sepak terjangnya dalam revolusi Perancis dan Amerika. Nyatanya Napoleon bukanlah seorang panglima tanpa tanding yang tidak pernah kalah dalam setiap peperangan.

Yang paling terkenal adalah ketika dirinya harus kalah pada peperangan Waterloo dan dipukul mundur pasukan koalisi Inggris, Belanda dan Jerman. Mengapa Napoleon bisa kalah? Sejarah mengatakan bahwa Napoleon sesungguhnya kalah oleh cuaca ekstrem bukan oleh pasukan koalisi. Karena hal tersebut ketelitian dan kecermatan membaca iklim dan cuaca amatlah penting.

Dari cerita tersebut, tentunya dapat menjadi inspirasi bagi bahwasanya siapa yang dapat memprediksi, mengatasi, atau bersahabat dengan iklim dan cuaca akan mendapatkan hasil yang baik, begitu pula dengan beternak. Sudah menjadi bagian dari takdir bahwa Indonesia beriklim tropis dengan dua musim dan peternak harus bisa hidup bersahabat dengan hal tersebut.

Musim Panas yang Panjang
Beberapa tahun belakangan, Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa Indonesia mengalami musim kemarau panjang selama 2019-2020, hal ini terjadi karena rendahnya suhu permukaan laut dari pada suhu normalnya yang berkisar 26-27° C di wilayah perairan Indonesia bagian selatan dan barat. Imbasnya pembentukan awan berkurang di beberapa wilayah Indonesia. Hal itu mengakibatkan kekeringan yang berdampak pada ketersediaan air bersih dan suhu panas.

Namun begitu, pada penghujung tahun 2020 menuju 2021 cuaca berubah, hujan mulai turun dengan curah hujan tinggi dan terjadi perubahan suhu ekstrem. Tentunya ini menjadi tantangan bagi peternak, karena ternak terutama unggas modern mudah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi November 2021. (CR)

GITA STUDIO, FASILITAS BARU UNTUK MENDUKUNG STAKEHOLDER LEBIH BERKEMBANG

Talkshow Duta Ayam & Telur dengan Mr Timothy (USSEC Singapore) menggunakan fasilitas GITA Studio

Untuk meningkatkan pelayanan kepada dunia usaha, asosiasi serta  lembaga pemerintah khususnya bidang agribisnis peternakan, kesehatan hewan dan perikanan, PT Gallus Indonesia Utama (Gallus) sejak pertengahan 2021 mulai membangun studio di Jakarta dengan nama GITA Studio 

Melalui GITA studio ini, pelaksanaan webinar, talkshow, training online (daring) menjadi lebih profesional.  Direktur Utama PT Gallus Bambang Suharno mengungkapkan, sejak pandemi PT Gallus melalui divisi GITA Organizer, divisi majalah Infovet, Majalah Info akuakultur, majalah Cat & Dog, dan GITA Pustaka telah merintis penyelenggaraan seminar virtual yang banyak diminati masyarakat.

Bambang Suharno

“Kami mulai merintis seminar virtual tentang Biosekuriti di awal pandemi tahun 2020 dengan kemampuan yang ada dan alhamdulillah mendapat respon yang sangat baik,” ujar Bambang.

Ditambahkan, saat ini kegiatan webinar dilakukan minimal seminggu sekali dengan berbagai ragam topik. Seiring waktu, kebutuhan webinar melalui zoom semakin meningkat dengan berbagai variasi tuntutan klien. Melalui GITA Studio penyelenggaraan webinar menjadi lebih profesional  (webinar pro) baik dari segi tampilan maupun kekuatan sinyal, sehingga peserta dapat mengikuti paparan materi narasumber dengan lancar dan menarik.

GITA Studio memiliki jaringan internet berkekuatan tinggi serta akun zoom kapasitas 100, 500 dan bisa bertambah sesuai kebutuhan klien. Selain itu GITA Studio menyediakan jasa livestreaming Youtube dan medsos lainnya. Untuk Webinar Pro, GITA Studio menyediakan disain stage/panggung acara, disain bumper, video transisi, video opening dan closing dan aneka layanan lainnya, sehingga acara lebih menarik dan sasaran promosi -edukasi dapat tercapai secara efektif.

Tampilan stage acara Training Formulasi pakan

Bukan hanya fasilitas studio, GITA Studio juga memiliki sejumlah keunggulan pelayanan kepada stakeholder antara lain memiliki kelengkapan data base lembaga dan pelaku usaha (peserta menjadi lebih banyak), memiliki akses kepada narasumber terkemuka baik pakar nasional dan internasional, pejabat, pimpinan asosiasi dan  tokoh peternakan, kesehatan hewan dan perikanan, serta akses ke pakar-pakar ekonomi ,bisnis serta motivator nasional. 

Dengan pengalaman puluhan tahun menyelenggarakan event, GITA EO makin banyak dipercaya oleh lembaga dan perusahaan nasional namun juga multinasional. Beberapa perusahaan dan lembaga yang sudah menggunakan GITA Studio untuk webinar pro dan pembuatan rekaman video antara lain USSEC (United State Soybean Export Council), MLA (Meat Livestock Australia), MSD Animal Health, Signify, Pinsar Indonesia, ASOHI dan sebagainya.

Bambang menjelaskan GITA Studio juga melayani:

  • Pembuatan content Youtube, Podcast, Tiktok (rekaman dan livestreaming)
  • Pembuatan Flyer, video promosi
  • Video company profile
  • Kegiatan kombinasi online-offline (Hybrid event)

Keterangan lebih lanjut hubungi Mariyam  (0877 7829 6375), Ayunil (0812 1227 2678)

Email : marketinggita2018@gmail.com,  gallusindonesiautama@gmail.com

(INF)

YUDI GUNTARA NOOR, KETUA UMUM HPDKI PERIODE 2021-2026

Yudi Guntara Noor

Yudi Guntara Noor terpilih kembali menjadi Ketua Umum Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) periode 2021-2026 melalui Musyawarah Nasional (Munas) ke-4 HPDKI yang digelar pada Kamis-Jumat, 2-3 Desember 2021 di kawasan Banten.

Dalam pemungutan suara/voting yang dilakukan secara online dan offline, Yudi memperoleh total 72 kertas suara. Calon ketua lainnya yakni Aprila Respati Adi (Didi) mendapatkan 22 suara.

Pemungutan suara

Sesuai dengan tema yang diusung dalam Munas yaitu ‘Revitalisasi Peran HPDKI Menuju Visi Indonesia Maju’, Yudi memaparkan visinya mempersiapkan organisasi HPDKI menjelang visi Indonesia 2045 yang merupakan fase turning point di mana pertumbuhan penduduk yang pesat kemudian kemampuan ekonomi dibarengi dengan permintaan kebutuhan yang luar biasa tinggi.

Menyoroti fakta saat ini, Yudi mengatakan bahwa komoditas yang Indonesia miliki tidak menjadi tuan rumah di negeri sendiri. “Saya sedih, tukang bakso tidak meminta daging dari peternak kita, tetapi minta dari peternak luar,” ungkap pria kelahiran Bandung tahun 1970 ini.

Lanjut dia, pentingnya kita siapkan industri yang terintegrasi. “Saya membawa visi, mengajak bersama-sama peternak domba dan kambing untuk bisa menyongsong visi Indonesia Maju 2045 dengan menyiapkan pondasinya terlebih dulu dalam lima tahun ke depan,” jelas Yudi.

Sementara misinya adalah menjadikan peternak dombang kambing Indonesia yang produktif dan berdaya saing. Serta berkelanjutan dan terintegrasi dengan agribisnis domba kambing, efisien, dan sustain.

Industri hilir harus terintegrasi dengan industri hulu, sehingga kebutuhan kita di industri hilir akan menarik budidaya di hulu.

“Ini yang harus kita ciptakan. Kalau tidak produktif, kita bisa kehilangan daya saing,” tandas alumni Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran ini.

Selain itu, Yudi juga akan terus mendorong daging domba dan kambing menjadi alternatif protein daging bagi asupan masyarakat, di samping daging ayam dan sapi.

Mengakhiri sesi pemaparan visi misinya, Yudi menegaskan HPDKI akan tetap menjadi mitra strategis dari pemerintah dan stakeholder seperti perguruan tinggi.

Lancar

Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia Munas ke-4 HPDKI, Drh Ajat Sudarjat dihubungi Infovet Jumat (3/12) mengemukakan pelaksanaan munas berjalan lancar dengan beberapa penyesuaian terutama dalam menjalankan protokol kesehatan.

“Dalam proses kita memastikan peserta memenuhi persyaratan protokol kesehatan karena sebagian besar berasal dari daerah. Panitia menyiapkan tim yang bertugas melakukan pemeriksaan swab antigen bekerja sama dengan Klinik Muhammadiyah Serang dan menempatkan petugas pemeriksa suhu tubuh di depan pintu masuk ruangan bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang,” terang Ajat.

Ajat menambahkan, harapan HPDKI dengan terpilihnya ketua umum yang baru adalah bisa meningkatkan peran serta peternak domba dan kambing dalam membantu pemerintah menjadikan daging ternak domba dan kambing menjadi alternatif pemenuhan daging nasional.

“Dari aspek peternak, diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan peternak melalui peningkatan produktivitas ternak dan penguatan kelembagaan peternak domba dan kambing Indonesia,” pungkasnya. (NDV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer