-->

WASPADA ANCAMAN ZOONOSIS SAAT BENCANA ALAM

Peternakan ayam diterjang banjir lumpur. (Sumber: balipost.com)

Penghujung akhir 2025, Indonesia gencar dilanda bencana alam. Faktor alam dan non-alam menjadi pemicu meningkatnya potensi bencana alam tersebut. Sebut saja bencana longsor dan banjir yang melanda tiga provinsi paling barat Indonesia, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Menurut BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sekitar 3,2-3,3 juta warga terdampak akibat bencana tersebut dan dianjurkan untuk mengungsi karena terbatasnya akses logistik dan bahan pangan, (5/12). Bencana ini tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga berdampak pada hewan dan lingkungan.

Dampak Bencana pada Hewan
Rusaknya habitat dan ekosistem membuat mereka kehilangan tempat untuk bernaung. Bencana tersebut juga memberikan pukulan yang berat saat seekor Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati pasca banjir di Pidie Jaya, Aceh, (29/11). Gajah yang hanyut tersebut mati terjepit di antara material kayu gelondongan. Hal ini menandakan besarnya banjir yang terjadi.

Beda halnya dengan di Sumatra Barat, menurut Kepala DPKH (Dinas Pertenakan dan Kesehatan Hewan) Sumatra Barat, terdapat 591 ekor sapi, 32 ekor kerbau, 187 ekor kambing, 4420 ekor unggas yang terdampak bencana banjir dan longsor (30/11).

Pemerintah sudah melakukan distribusi bantuan obat-obatan dan vitamin untuk hewan lewat Direktorat Jendral Pertenakan dan Kesehatan Hewan, Kementrian Pertanian, tetapi bantuan tersebut tidak cukup, dikarenakan selain obat-obatan dan vitamin, ternak juga memerlukan pakan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Terbatasnya ketersediaan pakan disaat bencana ini akan menjadi dampak pada penurunan kualitas kesehatan ternak. Jika hal ini tidak ditangani dengan tepat maka ancaman yang lain akan mengintai.

Ancaman Zoonosis
Zoonosis merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia atau sebaliknya. Di tengah bencana longsor dan banjir yang mengakibatkan hewan juga terdampak seperti mati (hanyut), sakit terlantar, dan sehat terlantar. Penanganan yang tidak tepat akan meningkatkan ancaman zoonosis.

Menurut Kepmentan No. 121/2023 tentang Penetapan Jenis Penyakit Hewan Menular Strategis, ada lima penyakit yang dikategorikan sebagai zoonosis prioritas, yaitu avian influenza, rabies, anthrax, leptospirosis, dan brucellosis. Kejadian bencana ini membuat pemerintah lewat BNPB, Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Lingkungan Hidup harus segera mengidentifikasi bahaya ancaman untuk meminimalkan risiko. Pendekatan melaui One Health bisa menjadi tools untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif.

Adapun menurut Kepmentan No. 708/2024 tentang Status Situasi Penyakit Hewan, Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat tidak semuanya bebas dari lima zoonosis prioritas. Detail status situasi penyakit di ketiga provinsi terdampak bencana dapat dilihat pada tabel berikut:


Berdasarkan sudut pandang kesehatan hewan terhadap tabel di atas, cukup memberikan gambaran langkah strategis yang akan diambil. Dari tiga provinsi terdampak bencana, masih terdapat dua zoonosis prioritas yang masih menjadi ancaman. Pengendalian risiko wabah avian influenza dan leptospirosis di dalam situasi kebencanaan menjadi tantanggan tersendiri bagi pemerintah.

Penularan tidak Terkontrol
Situasi berbahaya adalah ketika penyakit dapat menular tanpa adanya kontrol. Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat secara status situasi penyakit tidak bebas dari avian influenza dan leptospirosis. Tidak terhitung jumlahnya kombinasi variabel penularan jika unggas (risiko penularan avian influenza tertinggi) mati (hanyut), sakit terlantar, dan sehat terlantar tidak segera dilakukan surveillance.

Begitu halnya dengan rodensia, vektor leptospirosis ini memiliki kemampuan bertahan hidup di tempat-tempat kumuh. Seiring lambatnya proses evakuasi wilayah pasca bencana akan meningkatkan populasi rodensia dalam wilayah tersebut. Bangkai dari hewan ternak ataupun satwa menjadi presdiposisi penularan zoonosis.

Regulasi Pemerintah dalam Penanganan Hewan Pascabencana
Kementerian Pertanian sudah memberikan regulasi terkait penanganan hewan pascabencana dalam Permentan No. 14/2024 tentang Penanganan Hewan pada Bencana Alam. Di dalam regulasi tersebut dijelaskan adanya Sistem Komando Penanganan Hewan Darurat Bencana Alam. Adapun hal ini seharusnya menjadi fokus utama Kementerian Pertanian dalam melaksanakannya. Dalam Pasal 30  dijelaskan mengenai kegiatan pascabencana:

1. Kajian kebutuhan penanganan hewan akibat bencana alam.
2. Pengisian kembali ternak (restocking).
3. Pengembalian ternak terdampak.
4. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekontruksi penanganan hewan.

Regulasi ini penting untuk mengembalikan hulu dari rantai pasok pangan asal hewan. Efek domino regulasi yang tidak dijalankan akan melumpuhkan sektor pangan asal hewan di daerah tersebut. Sebagai concern pemerintah melalui regulasi ini harus menjadikan masyarakat pemilik ternak didukung dalam tahap pemulihan pasokan pangan asal hewan. ***

Ditulis oleh:
Drh Mochamad Alfinanda Santriagung
PT Global Dairi Alami

ISMAPETI PEDULI: SOLIDARITAS MAHASISWA PETERNAKAN UNTUK KEMANUSIAAN INDONESIA

Donasi yang diinisiasi PB ISMAPETI disalurkan ke warga terdampak bencana. (Foto: Istimewa)

Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (ISMAPETI) melalui Pengurus Besar (PB) ISMAPETI menginisiasi gerakan kemanusiaan nasional sebagai respons atas bencana alam yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Aksi ini menjadi momentum konsolidasi kepedulian mahasiswa peternakan se-Indonesia untuk hadir dan bergerak bersama membantu masyarakat terdampak.

Gerakan kemanusiaan ini diawali dengan dibukanya Open Donasi Nasional yang ditujukan kepada seluruh BEM dan Himpunan Mahasiswa Peternakan di bawah naungan ISMAPETI. Melalui surat instruksi resmi, PB ISMAPETI mendorong para ketua BEM/Kahim untuk menjadi ujung tombak di kampus masing-masing, menggerakkan mahasiswa, dan merumuskan konsep aksi kemanusiaan sesuai kondisi daerah.

“Urusan kemanusiaan adalah tanggung jawab kita bersama. Kita harap surat instruksi ini menjadi pengingat bahwa solidaritas mahasiswa peternakan harus hidup kapan pun masyarakat membutuhkan,” demikian pesan yang disampaikan PB ISMAPETI dalam seruan aksi tersebut.

Hasil kerja kolektif ini membuahkan capaian besar. Total donasi yang terkumpul dari seluruh wilayah sebesar Rp 15.036.765. Donasi ini merupakan hasil gotong royong PB, pengurus wilayah, serta seluruh mahasiswa peternakan Indonesia.

Tak berhenti pada penggalangan, ISMAPETI juga turun langsung ke lapangan. Aksi kemanusiaan dilaksanakan secara serentak di delapan kota, yakni Medan, Lampung, Bogor, Magelang, Solo, Yogyakarta, Semarang, dan Malang.

Bantuan kemudian disalurkan kepada masyarakat yang terdampak bencana di lima wilayah, di antaranya Tanjung Pura-Langkat dan Pinangsori-Sibolga (Sumatra Utara), Aceh Tamiang (Provinsi Aceh), Solok (Sumatra Barat), dan Malang (Jawa Timur).

Kepala Bidang Sosial Masyarakat PB ISMAPETI, Feri Andrian, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang telah terlibat. “Terima kasih kepada seluruh BEM, himpunan, mahasiswa peternakan, dan masyarakat umum yang telah berdonasi dan turun langsung di lapangan. Ini bukti bahwa solidaritas kita masih hidup dan kuat,” ujarnya dalam siaran resmi ISMAPETI yang diterima Infovet, Rabu (10/12/2025).

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum PB ISMAPETI, M. Syarkhul Muin, bahwa kegiatan ini bukan sekadar aksi sesaat, melainkan komitmen jangka panjang organisasi terhadap nilai kemanusiaan.

“Kami harap aksi kemanusiaan ini dapat menjadi contoh bahwa mahasiswa peternakan tidak hanya berkarya dalam ruang akademik, tetapi juga hadir di tengah masyarakat. Semoga semangat ini terus berlanjut dan memperkuat kontribusi kita bagi Indonesia,” tegasnya.

Melalui aksi kemanusiaan yang terstruktur, kolaboratif, dan menyeluruh, ISMAPETI menunjukkan bahwa peran mahasiswa peternakan melampaui batas kampus, hadir untuk bangsa, bekerja untuk kemanusiaan, dan bergerak bersama demi pemulihan masyarakat Indonesia. (INF)

BANJIR DI BLITAR TEWASKAN RATUSAN EKOR TERNAK

Kambing Milik Warga yang Mati Akibat Banjir


Banjir besar melanda Kabupaten Blitar beberapa waktu yang lalu. Tidak hanya manusia, dilaporkan bahwa banjir yang melanda Kabupaten Blitar juga memakan korban berupa hewan ternak milik warga. Hewan-hewan ternak yang turut menjadi korban yakni kambing dan ayam. BPBD Kabupaten Blitar mencatat 33 ekor kambing milik warga hanyut saat banjir. Selain itu ayam dan kandang pun turut terdampak banjir.

"Ada 33 ekor kambing milik warga hanyut saat banjir," kata Kepala BPBD Kabupaten Blitar Ivong Berttyanto.

Dia merinci, 2.500 ekor ayam petelur terdampak dan 7 kandang ternak rusak. Ribuan ayam dan kandang itu tersebar dari beberapa wilayah terdampak. Seperti Kecamatan Panggungrejo, Binangun, dan Sutojayan.

"Kalau kambing itu terdata yang 25 milik peternak di Kecamatan Panggungrejo. Sisanya dari wilayah lain," jelasnya

vong mengaku untuk ternak sapi belum ada laporan yang masuk. Namun dari laporan berbagai wilayah warga masih bisa menyelamatkan ternak sapinya meski ketinggian air di atas 1 meter.

"Data ternak yang masuk ke laporan kami untuk sementara itu. Besok mungkin ada update data terbaru akan saya sampaikan segera," pungkasnya. (INF)



SEKTOR PETERNAKAN DI GARUT MERUGI AKIBAT BANJIR BANDANG

Ribuan ayam milik warga mati dihantam banjir bandang (Sumber : Liputan6.com)


Kabar duka datang dari Kabupaten Garut, dimana beberapa waktu yang lalu daerah tersebut dihantam oleh banjir bandang tepatnya di Karangtengah - Sukaweing. Kerugian akibat musibah alam banjir bandang tersebut juga berdampak pada sektor peternakan dan perikanan warga yang mencapai ratusan juta.

“Yang paling banyak sektor unggas karena ribuan ayam petelur ludes, kemudian perikanan warga di dua kecamatan,” ujar Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Kadiskanak) Kabupaten Garut, Sofyan Yani.

Menurut Sofyan, sapuan air bah akibat banjir bandang di dua kecamatan wilayah Garut bagian utara itu cukup parah. Beberapa kandang unggas terutama ayam petelur, kandang sapi hingga domba menjadi korban.

“Selain kandang, korban lainnya adalah kolam perikanan milik warga,” kata dia.

Setelah melakukan pendataan, puluhan kolam warga di dua kecamatan terdampak bencana alam mengalami krusakan. Rinciannya seluas 120 tumbak atau 1.680 meter persegi kolam warga di Desa Cinta dan Cinta Manik, Kecamatan karangtengah rusak.

“Sementara di Kecamatan Sukawening lebih luas lagi ada sekitar 3,6 hektar dari 25 kolam warga yang tersebar di Desa Sukawening, Sukamukti, Sukaluyu dan Desa Mekarwangi yang menjadi korban,” papar dia.

Khusus sektor unggas, kerugian terbilang besar akibat banyaknya ayam petelur yang hanyut tersapu banjir bandang. “Tinggal dikalikan saja Rp 150 ribu per ekor ayam, kali 5000 ekor ayam yang hilang,” ujar dia.

Namun meskipun demikian, Sofyan memastikan bantuan pemerintah daerah (pemda) Garut yang dikeluarkan melalui Belanja Tak Terduga (BTT) bencana alam, hanya dikhususkan untuk pembangunan infrastruktur kandang.

“Mohon maaf untuk seluruh ternak yang menjadi korban, Pemda Sulit sulit untuk memberikan bantuan,” kata dia.

Untuk meringankan beban warga terdampak banjir bandang khususnya peternak, pemda Garut melalui BTT segera memberikan bantuan stimulan pembangunan kandang.

“Angkanya tidak terlalu besar hanya belasan juga, itu pun buat kandang sapi dan domba,” kata dia.

Sementara untuk kandang unggas yang mayoritas merupakan mitra perusahaan, Pemda Garut tidak memberikan bantuan. “Biasanya perusahaan sudah memberikan asuransi bagi mereka,” kata dia. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer