-->

TEKNOLOGI MESIN TETAS TELUR, EFEKTIF DAN EFISIEN

Mesin tetas telur semi otomatis. (Foto: Istimewa)

Mesin tetas atau inkubator merupakan alat yang sangat berperan dalam usaha peternakan dan pembibitan unggas, baik unggas produksi maupun unggas hobi, dimana dengan berbagai keunggulannya dibanding penetasan secara alami menjadikan mesin tetas kian banyak dipakai.

Teknologi mesin tetas pun terus mengalami perkembangan pesat, walau asalnya dibuat secara sederhana, baik bahan maupun sistem kerjanya, dimana mesin tetas semula hanya berupa mesin manual, kemudian berkembang menjadi semi otomatis hingga full otomatis yang mampu membantu mempercepat perkembangbiakan unggas lebih efektif dan efisien. Adapun manfaatnya sebagai berikut:

• Meningkatkan prosentase tetas, yaitu meningkatkan jumlah telur yang menetas hingga dapat mencapai 80-90% (sedang pada penetasan alami dengan induk unggas hanya 50 -60%). Hal ini bisa tercapai karena gangguan dari induk dan hewan lain dapat dihindari, disamping pemakaiannya mampu mengatur suhu dan kelembapan sesuai kebutuhan telur tetas.

• Meningkatkan produksi telur, dimana induk unggas tidak perlu kehilangan waktu selama 21 hari untuk mengerami telurnya dan bisa langsung melanjutkan produksi telur setelah kondisi fisiknya pulih. Dengan penggunaan mesin tetas, telur dapat langsung ditetaskan tanpa harus dierami induk.

• Tidak terkendala kemampuan dan karakter induk, dimana pada penetasan alami, seringkali dijumpai induk unggas tidak mampu mengerami seluruh telur yang dihasilkannya, terutama pada ayam yang berproduksi tinggi. Juga anak ayam yang baru menetas secara alami sering mati akibat terinjak induknya. Pemakaian mesin tetas juga diperlukan pada unggas yang dikawinkan secara inseminasi buatan pada usaha pembibitan/breeder ayam broiler dan layer.

Penggunaan Mesin Tetas
• Persiapan telur, pastikan telur yang akan ditetaskan masuk kategori telur fertil yang dibuahi pejantan, baik melalui perkawinan alami maupun kawin suntik (IB). Pilih telur yang berukuran standar untuk telur ayam ras 55-65 gram, ayam kampung 35-45 gram, itik 60-74 gram dan puyuh 9-11 gram. Kemudian pilih telur yang cangkangnya bertekstur halus dan licin, tidak retak dan tidak berlubang, hindari telur yang cangkangnya terlalu tebal (warnanya gelap), yang cangkangnya tipis (warna terang). Telur berumur tidak lebih dari tujuh hari sejak dikeluarkan dari tubuh ayam. Telur sebelum ditetaskan disimpan di tempat sejuk (suhu 16-17° C) karena bila disimpan pada suhu 31-32° C embrio akan berkembang dan setelah dimasukkan ke mesin tetas embrio akan mati. Telur cukup dibersihkan dengan lap kering karena bila dicuci dikhawatirkan zat antibakteri pada cangkang rusak/hilang dan untuk telur yang kotor atau tidak bagus segara lakukan afkir.

• Persiapan mesin tetas, antara lain letakkan mesin tetas di lantai datar, tidak sering dilewati orang, terhindar dari sorotan cahaya matahari langsung, terhindar dari tetesan air hujan, jauh dari sumber suara yang menghasilkan getaran dan pastikan semua displai menyala. Masukkan air ke dalam nampan, lalu masukkan ke bagian terbawah rak telur. Biarkan mesin tetas menyala selama 3 jam, lalu buka pintu mesin tetas selama 15 menit dan telur tetas siap dimasukkan.

• Proses penetasan, dimana lama proses penetasan dengan mesin tetas sama waktu dibutuhkan dengan lama induk unggas mengerami telurnya, lihat tabel:

Periode Pengeraman Telur

Jenis Unggas

Lama Pengeraman (Hari)

Ayam

21

Itik

28

Puyuh

16

Entok (Itik Manila)

35

Angsa

40

Burung

18

Sumber: Sukses Menetaskan Telur Unggas Hingga 90% oleh Supri (2019).

Untuk tahapan pengoperasiaan penetasan telur, sebagai berikut:
• Memasukkan telur ke dalam mesin tetas, dimana langkah pertama ialah memasukkan telur yang terseleksi ke dalam rak dengan posisi tidur atau berdiri. Bila diposisikan berdiri pastikan bagian yang tumpul (berongga udara) berada di bagian atas.

• Peneropongan telur (candling), yang dilakukan di ruang gelap sebanyak tiga kali selama proses penetasan telur ayam dan itik, yaitu pada hari ke-3, ke-7 dan ke-14. Peneropongan pada hari ke-3 bertujuan untuk menyeleksi telur yang infertil (tidak dibuahi pejantan) dengan menggunakan alat candler. Bila telur saat peneropongan terlihat terang/jernih dan tidak ada gumpalan hitam, berarti telur termasuk infertil dan segera diafkir untuk dimanfaatkan sebagai telur konsumsi. Bila telur terlihat ada gumpalan darah berbentuk cincin berarti telur termasuk fertil tetapi embrionya telah mati dan segera afkir. Peneropongan pada hari ke-7 bertujuan untuk seleksi embrio. Pada telur dengan embrio yang hidup dan berkembang, memperlihatkan adanya saluran syaraf darah dan denyut jantung, sedangkan telur dengan embrio yang mati menampakkan tidak terbentuknya saluran syaraf darah dan hanya terihat bercak darah tidak beraturan. Peneropongan hari ke-14 bertujuan juga mencari telur berembrio mati yang ditandai adanya bercak putih di sekitar ruang udara dan tidak dapat menjadi telur konsumsi lagi karena embrio sudah terbentuk dan membusuk, namun masih bisa dimanfaatkan untuk pakan ikan.

• Pemutaran rak telur (turning), dilakukan mulai hari ke-4 setelah telur masuk ke mesin pengeraman (setter) dan tidak ada standar harus diputar berapa kali perhari, namun untuk telur ayam dan itik umumnya diputar 1,5 jam sekali, sedang untuk telur puyuh dan telur burung tiap 1 jam sekali. Menjelang telur menetas pemutaran rak telur dihentikan, pada telur ayam dihentikan pada hari ke-18, pada telur itik dihentikan pada hari ke-26,  telur puyuh petelur pada hari ke-21, telur puyuh pedaging pada hari ke-15 dan telur merpati pada hari ke-16. Selanjutnya telur dipindahkan ke mesin/kotak penetasan (hatcher).

• Pengaturan sirkulasi udara (ventilasi), saat pertama kali telur dimasukkan ke dalam mesin tetas, lubang udara di bagian atas mesin tidak dibuka agar kelembapan dalam ruangan mesin tetas tidak menurun karena dapat mengakibatkan telur mengering (kehilangan kelembapan sebelum waktunya). Penutup lubang udara boleh dibuka pada hari ke-3 setelah telur masuk mesin tetas.

• Penambahan air pada nampan, dimana selama proses penetasan berlangsung air dalam nampan jangan sampai habis, oleh karena itu perhatian/kontrol terhadap air dalam nampan perlu dilakukan berkala. Sebagai patokan, nampan wajib terisi air minimal 3/4 dari ketinggian nampan (75% dari kapasitas nampan. Hindari terjadinya tumpahan air saat penambahan air karena dapat menyebabkan tingkat kelembapan berlebih.

• Pemeliharaan setelah menetas, yaitu setelah menetas unggas dibiarkan dalam hatcher sampai seluruh bulunya kering, kemudian segera dikeluarkan agar tidak mengalami dehidrasi. Pindahkan ke dalam kandang brooding yang dilengkapi lampu/bohlam penghangat dan semua dinding tertutup kecuali bagian atas dilengkapi kawat untuk ventilasi. ***

Ditulis oleh:
Ir Sjamsirul Alam
Praktisi perunggasan, alumni Fapet Unpad

LANJUTAN PELATIHAN DARING GENETIK SAPI LOKAL

Pelatihan genetik sapi lokal sesi II. (Foto: Infovet/Sjamsirul)

Jumat, 23 Juli 2021. Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen PKH, Kementerian Pertanian bersama University of New England dan Meat & Livetocks Australia (MLA) yang difasilitasi GITA Organizer dan Majalah Infovet, kembali melanjutkan Online Traning on Indonesian Local Cattle Genetics bagi peternak/pengusaha sapi lokal di Tanah Air.

Prof Julius van der Werf mengawali training-nya dengan meminta home work session I yang diajukan pada webinar sebelumnya untuk mengetahui situasi, kondisi, serta permasalahan pemuliaan sapi lokal di Indonesia dan bersama-sama mencari solusinya.

Paparan diberikan oleh Argi Argiris yang mewakili grup III peternak sapi perah lokal. Ia mempresentasikan kondisi dan permasalahan pemuliaan sapi perah di Indonesia secara singkat dengan topik “Improvement of Local Dairy Cattle Production”, antara lain dengan menampilkan breeding sceme to increase production berlandaskan recording (identification, measure performance, reproduction and economic trait), serta permasalahan pada recording yaitu microchips for identification, measure mobility of cattle, recording production, body composition score and predicted EBV/Estimated Breeding Value).

Sedangkan tantangan yang sering dihadapi antara lain menyangkut production/reproduction/mobility recording, foundation for project dan geografical or cultural bariers, disamping permasalahan dengan pemerintah menyangkut breeding, feeding, healty, kemudian dengan pemerintah daerah, organisasi peternak, peternak/perusahaan pribadi, teknisi AI dan perekam data, serta kemampuan menyerap ilmu pengetahuan.

Adapun presentasi lain disampaikan oleh Koko dari BBIB (Balai Besar Inseminasi Buatan) Singosari, Malang, mewakili grup I peternak sapi lokal pedaging. Ia memaparkan masalah pemuliaan sapi pedaging lokal yang ditujukan untuk memenuhi SNI (Standar Nasional Indonesia). Sebagai contoh persyaratan minimum kuantitatif bibit sapi Bali pejantan dan betina menyangkut umur (bulan), parameter (tinggi pundak, panjang badan, lingkar dada, lingkar skrotum) dan kelas (I, II, III) yang telah digariskan pemerintah sebagai “Breeding Objectives for Indonesian Cattle”.

Sapi pedaging lokal di Indonesia digunakan untuk dua tujuan. Pertama, untuk usaha komersial sapi pedaging milik pribadi (peternak kecil) mendapatkan sertifikat SNI yang memungkinkan mereka mempermudah penjualan sapi bibit pejantan/induk betina dengan harga terbaik. Kedua, untuk kepentingan pembibitan di pusat dan provinsi, dimana EBV digunakan untuk menentukan sapi-sapi pejantan/betina hasil seleksi terbaik untuk menggantikan stok bibit saat ini. Juga SNI memberikan patokan bahwa penentuan umur sapi berdasarkan gigi seri permanen, misalnya bila tumbuh satu pasang gigi seri permanen, maka taksiran umur adalah 18-24 bulan. Sedang bila tumbuh dua pasang gigi seri permanen, maka taksiran umur di atas 18-24 bulan.

Prof Julius pada pelatihan kali ini membahas secara mendetail permasalahan sapi perah maupun sapi pedaging lokal, mulai dari Selection Index Concept sampai didapatkan Bio Economic Model, yang pada akhirnya harus diperoleh keuntungan dari tiap ekor sapi setelah dilakukannya seleksi dan pemuliaan sapi jantan/betina terbaik yang ada.

Diakhir seminarnya, Julius memberikan home work session III yang akan dibahas pada pelatihan berikutnya Jumat, 30 Juli 2021. (SA)

SEARA MELUNCURKAN PLATFORM DIGITAL UNTUK 9.000 PETERNAK TERINTEGRASI

Seara Brazil mengumumkan akan mengimplementasikan platform SuperAgroTech yang akan menyertakan 9.000 produsen terintegrasinya ke dalam digital farming.

Sistem ini terdiri dari perangkat operasi untuk manajemen ayam broiler dan program benefit untuk menghargai efisiensi peternak.

Platform ini akan memungkinkan manajemen digital 100%. Semua rutinitas, laporan, dan dokumentasi akan beroperasi di cloud digital, menghasilkan peningkatan proses dan penghematan waktu. Peternak terintegrasi juga dapat memanfaatkan e-commerce eksklusif untuk persediaan dan peralatan, saluran komunikasi, kondisi kredit khusus, dan pemantauan peternakan secara real-time. (via poultryworld.net)

ASOHI DAN PDHI SURATI HARIAN KOMPAS

ASOHI dan PDHI surati Harian Kompas.

Melalui surat resmi tertulisnya, Selasa (20/7/2021), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) bersama Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), menyampaikan imbauan kepada Harian Kompas terkait pemberitaan berjudul “Penyalahgunaan Antibiotik di Peternakan Ayam Broiler” dan berita soal “Target Omzet bikin Lupa Dokter Hewan” pada 16 Juli 2021.

Menurut kedua asosiasi tersebut, pemberitaan itu berpotensi menimbulkan interpretasi negatif dan berdampak buruk bagi masyarakat.

“Hal ini juga berdampak terhadap kekhawatiran masyarakat di dalam mengonsumsi daging ayam broiler, terlebih dimasa pandemi COVID-19, dimana kebutuhan protein hewani sangat penting untuk memenuhi standar gizi dan imunitas tubuh. Daging ayam merupakan sumber protein hewani yang sangat dibutuhkan, terjangkau dan digemari masyarakan Indonesia,” katanya dalam surat tersebut.

Untuk itu, ASOHI dan PDHI mengklarifikasi beberapa hal terkait pemberitaan sebagai berikut:

  • Investigasi yang dilakukan harian Kompas, World Animal Protection, YLKI dan CIVAS dengan jumlah sampel yang sedikit tidak mewakili kondisi di lapangan, mengingat populasi ayam broiler di Indonesia lebih dari 3 miliar ekor. Untuk itu perlu klarifikasi dari pihak Kompas terkait waktu pengambilan sampel dan kapan uji dilakukan. Tata cara pengambilan sampel, jumlah dan metode pengujian yang dilakukan harus jelas agar hasil pengujian bisa mewakili kondisi di lapangan dan dapat dipertanggungjawabkan, agar masyarakat mendapat informasi yang jelas dan tidak menimbulkan persepsi yang keliru.
  • Sebagaimana yang tertulis dalam liputan investigasi tersebut, pengujian yang dilakukan pada sampel sekum dan karkas ayam broiler ditemukan adanya bakteri E. coli yang resisten terhadap antibiotika: meropenem, chloramphenicol dan colistin. Hal ini menimbulkan pertanyaan karena antibiotika meropenem dan chloramphenicol tidak digunakan dalam industri peternakan ayam broiler di Indonesia. Chloramphenicol dan colistin sudah dilarang penggunaannya secara oral, parenteral dan topikal sebagaimana diatur “Kepmentan No. 9736/2020 tentang perubahan atas lampiran III Permentan 14/2017 pada No. c poin a No. 15” kelompok obat hewan tertentu yang dilarang. Dengan demikian perlu klarifikasi terkait hal ini.
  • Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, secara terus menerus melakukan berbagai upaya mencegah terjadinya resistensi antimikrobial di Indonesia. Dengan terbitnya Permentan No. 14/2017 tentang “Klasifikasi Obat Hewan” merupakan langkah tegas pemerintah menghambat laju resistensi dan Pemerintah Pusat berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah melakukan monitoring dan sidak langsung kepada pabrik pakan maupun peternak agar mentaati aturan yang berlaku.
  • Setiap obat hewan yang dimasukkan ke Indonesia, diproduksi maupun diedarkan oleh perusahaan obat hewan harus memiliki “Nomor Pendaftaran atau Registrasi” yang dikeluarkan Kementerian Pertanian untuk menjamin mutu, khasiat dan keamanan obat hewan.
  • Antibiotik termasuk dalam kategori obat keras yang dalam penggunaannya harus dengan resep dokter hewan berwenang dan digunakan untuk tujuan terapi (pengobatan) sesuai dengan petunjuk label kemasan obat dan mengikuti waktu henti obat (widthdrawal time) sesuai masing-masing obat.
  • Penggunaan antibiotik terus di kurangi dari waktu ke waktu seiring dengan makin ketatnya peraturan yang ada dalam importasi antibiotik dan sudah banyak peternakan ayam yang tidak lagi menggunakan antibiotik karena berbagai produk pengganti antibiotik sebagai imbuhan pakan maupun air minum sudah banyak di daftarkan oleh perusahaan obat hewan seperti herbal, probiotik, acidifier, enzim dan lain sebagainya.
  • Technical Service (TS) yang bekerja pada industri obat hewan berperan membantu peternak dalam menjaga kesehatan hewan ternaknya. Tenaga TS tidak semua berprofesi dokter hewan, ada juga yang TS yang bukan dokter hewan. Dokter hewan yang bekerja sebagai TS berperan aktif sebagai tenaga profesi medik veteriner dari perusahaan obat hewan untuk membantu mendiagnosis penyakit, memberikan solusi medis sesuai keahlian dan sumpahnya. Perusahaan obatnya terhimpun dalam ASOHI, sedangkan dokter hewan berhimpun di bawah PDHI.
    Tajuk Kompas sangat menggeneralisir keadaan, tentu dalam situasi apapun ada oknum atau satu-dua penyimpangan yang perlu diluruskan. Bila Harian Kompas membuat statement umum seperti itu yang dapat diartikan bahwa hal ini melibatkan semua (sebagian besar) dokter hewan di lapangan (padahal TS tidak semuanya dokter hewan), kami menuntut agar data wawancara di-share ke kami untuk ditindaklanjuti secara profesional dan legal karena ada aturan/regulasi teknis yang berlaku dan Kode Etik Profesi Dokter Hewan yang wajib dipatuhi seluruh dokter hewan.
    Oleh karena itu kalimat: “.............berbagai cara untuk mengejar target penjualan.....” yang tertulis pada liputan di Harian Kompas, berpotensi merendahkan profesi seorang dokter hewan. ASOHI dan PDHI memiliki kode etik yang harus diterapkan anggotanya, dengan demikian perusahaan obat hewan yang memiliki tenaga dokter hewan bekerja sebagai TS akan memastikan bahwa para TS-nya mematuhi kode etik yang berlaku dalam menjalankan tugas.
  • Di dalam melakukan promosi pengenalan produk obat hewan, perusahaan obat hewan melakukan seminar, lokakarya atau workshop di berbagai tempat sesuai target sasaran dari kegiatan tersebut. Hal ini dilakukan dengan mengikuti tata cara promosi yang wajar dan sesuai kode etik ASOHI yang berlaku. Peserta yang diundang dalam acara-acaran promosi dan pengenalan produk adalah para peternak, perusahaan peternakan, dokter hewan, tenaga kesehatan hewan bahkan pemerintah. Materi yang diberikan dalam acara tersebut tidak sekadar promosi atau pengenalan produk semata, namun lebih mengedepankan edukasi perkembangan manajemen peternakan dan kesehatan hewan. (INF)

LAWAN COVID-19, GERAKAN NASIONAL PETERNAK PETELUR BERBAGI TELUR

Aksi Peduli PPN berbagi telur untuk nakes di RSUD Sleman, Yogyakarta

Berbagai pihak saling bahu membahu melawan COVID-19. Aksi kepedulian kepada sesama ini diwujudkan dalam kegiatan Gerakan Nasional Peternak Petelur. Gerakan ini dengan membawa jargon “Ayo Jaga Sedulur, Jangan Lupa Makan Telur”.

Gerakan Nasional Peternak Petelur ini telah berlangsung dalam satu pekan, sejak 17 Juli hingga 26 Juli 2021. Aksi kepedulian dengan menyerahkan sumbangan telur ke tenaga kesehataan maupun unit kesehatan setempat, yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Aksi kepedulian ini dilaksanakan Fakultas Peternakan UGM bekerjasama dengan beberapa asosiasi mitra seperti Pinsar Petelur Nasional (PPN), Keluarga Alumni Fakultas Peternakan UGM (KAPGAMA) dan beberapa koperasi peternak petelur di berbagai wilayah/provinsi.

PPN Lampung berkolaborasi dengan Polres berbagi telur dan sembako

Dalam satu pekan ini sudah disalurkan telur dengan sasaran para tenaga kesehatan (nakes), relawan, dan warga yang tengah menjalankan isolasi mandiri. Penyaluran dilakukan serempak di 6 provinsi, 22 kabupaten kota, kemudian lebih dari 46 rumah sakit, dinas daerah, Satgas COVID-19, komunitas relawan, dan Polres,” urai Dekan Fapet UGM, Prof Dr Ali Agus DAA DEA IPU ASEAN Eng, pada Konferensi Pers yang berlangsung Senin (26/7).

Gerakan ini merupakan murni kesadaran para pelaku peternakan khususnya peternak ayam petelur untuk mendukung perjuangan para nakes dan masyarakat yang sedang terpapar untuk meningkatkan imunitas tubuh dengan mengonsumsi telur sebagai sumber protein.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi PPN Yudianto Yosgiarso sangat mengapresiasi teman-teman peternak ayam petelur yang turut serta dalam bertanggung jawab atas bangsa dan masyarakat di situasi pandemi seperti sekarang

“Harapan kami bantuan telur ini dapat menambah semangat sekaligus imunitas para nakes, relawan, dan masyarakat. Di tengah isu maupun informasi tidak benar yang menyebutkan telur adalah sumber kolesterol. Semoga dengan kegiatan ini kami turut berkiprah dalam membuktikan bahwa telur merupakan salah satu sumber makanan sarat gizi dan protein, mudah diperoleh, harganya murah,” terang Yudi.

PPN Malang membagikan telur untuk nakes di RSUD Lawang

Gerakan ini telah berhasil mengumpulkan telur sejumlah 10 ton lebih dan sudah disalurkan ke berbagai target nakes dan faskes setempat. Berikut data lengkapnya:

  1. PPN Lampung bersama Keluarga Alumni UGM (KAGAMA) Bandar Lampung menyampaikan ke nakes secara langsung di Puskesmas Rawat Inap Tanjung Sari, Natar, maupun tidak langsung karena melalui Polres Lampung Timur dan Polres Lampung Tengah. Aksi ini sangat di apresiasi oleh Wali Kota Metro Wahdi Sirajuddin, demikian disampaikan Ketua PPN Lampung sekaligus pengurus KAGAMA Lampung Ir Jenny Soelistiani.
  2. Informasi dari Solo Raya, telah menyampaikan sumbangan telur kepada para tenaga kesehatan di RSGM Soelastri Solo, Puskesmas Mojosongo, RSJD Solo, RS Bung Karno Semanggi. Demikian informasi disampaikan oleh Ketua PPN Soloraya, Joko Surono dan Ketua Penasehat PPN, Robby Susanto.
  3. PPN Kendal bersama dengan Koperasi Unggas Sejahtera Kendal menyumbang telur untuk empat Puskesmas di Kendal yaitu Sukorejo, Patean, Plantungan dan Pageruyung. Aksi ini mengundang haru dan sangat di apresiasi oleh para nakes yang diwakili oleh masing-masing kepala puskesmas. Demikian disampaikan oleh Ketua Koperasi Unggas Sejahtera Kenda, H Suwardi.
  4. Temanggung Jawa Tengah, Bantuan telur disampaikan ke Dinas Kesehatan, RSUD Temanggung, PMI Temanggung, RSK Ngesti Waluyo Temanggung, PKU Muhammadiyah Temanggung, RS Gunung Sawo Temanggung.
  5. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, bantuan di sampaikan ke RS Margono, Dapur Umum Bp Sodik, Rusunawa UNSOED, Pengemudi ambulan RS.
  6. Kota Semarang, Jawa Tengah disampaikan ke Dinas Kesehatan Kota Semarang.
  7. Jawa Timur ke RSUD Srengat Blitar, Puskesmas Pakis dan RSUD Lawang Kabupaten Malang.
  8. Sulawesi Tengah, disampaikan ke UPT RSUD Madani, RS Wirabuana Palu, RS se kota Palu.
  9. Sulawesi Selatan, RS di Sindenreng Rappang, Pinrang, Pare-pare, dan beberapa RS Rujukan di Kota Makasar.
  10. Propinsi DIY ada beberapa lokasi. Kabupaten Gunung Kidul (RSUD Wonosari, RS Saptosari, RS Pantirahayu), Sleman (Relawan Perum Jambusari Indah, RSA UGM, RSUD Sleman), Bantul (PKU Muhammadiyah Bantul, Kecamatan Triwidadi, Puskesmas Pajangan).

*(NDV)

JANGAN SAMPAI ANAK BOSAN MAKAN TELUR

Olahan telur pindang atau yang sering disebut telur bumbu coklat. (Foto: Istimewa)

Jika anak bosan mengonsumsi telur ceplok, dadar, atau sambal balado, cobalah berganti dengan aneka olahan yang berbeda dari biasanya. Beda olahan, asupan gizi telur tetap didapat.

Masa pandemi COVID-19 yang masih terus terjadi, membuat siapapun merasa bosan. Bosan berdiam di rumah, tak bisa wisata kuliner atau sekadar menikmati suasana rekreasi lainnya. Kebosanan juga dirasakan oleh anak-anak yang terbiasa menikmati aneka santapan di luar rumah.

Namun bagi kaum ibu, memiliki kepiawaian tersendiri untuk menghilangkan kebosanan buah hatinya untuk urusan menu makanan. Untuk anak-anak mereka yang gemar memakan telur, banyak cara yang dilakukan para ibu rumah tangga yang “menyulap” sebutir telur menjadi menu yang menarik.

Siapapun tahu bahwa telur memiliki kandungan protein tinggi. Telur juga menjadi menu favorit bagi masyarakat untuk memenuhi asupan gizi setiap hari. Selain praktis dalam mengolahnya, protein hewani ini juga tak sulit untuk didapatkan. Di warung, minimarket, hingga supermarket menyediakan.

Kepintaran seorang ibu dalam menyajikan menu yang bervariasi menjadi kunci anak-anaknya tak mudah bosan mengonsumsi telur. Olahan telur yang monoton bukan hanya membuat anak bosan, namun juga memicu anak enggan menyantap dan mulai beralih ke menu makanan lain yang bisa jadi kandungan gizinya di bawah telur.

“Kalau anak sudah bosan dengan olahan telur dadar atau ceplok, saya biasanya cari resep lain yang anak belum pernah coba, tapi tetep pakai bahan telur,” tutur Rina Nurkhikmah, ibu rumah tangga di Depok, Jawa Barat.

Menurut wanita yang pintar masak ini, banyak varian makanan yang bisa diolah dengan menggunakan telur sebagai bahannya. Dalam seminggu, setidaknya tiga hari ia menyiapkan menu telur untuk keluarganya. Olahnya berganti-ganti, mulai dari telur bulat sambal balado, dadar Jawa, kadang dibuat gulai telur.

“Sebisa mungkin saya resep olahan telur, biar anak saya enggak bosan, karena memang anak-anak suka makan telur,” tambahnya.

Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Jawa Barat, Prof Dr Ir Ali Khomsan, juga berpendapat sama. Variasi dalam mengolah telur penting dilakukan agar anak-anak tak mudah bosan mengonsumsi, seperti dibuat omelet, dicampur dengan bahan makanan lain, sehingga lebih nikmat dan tidak membosankan. Dengan cara membuat variasi sajian, maka asupan protein dari telur juga bisa menjadi lebih baik.

“Sesuatu yang dimakan secara rutin setiap hari memang membosankan, kecuali makan nasi. Tapi kalau makan telur setiap hari bisa bosan,” ujarnya.

Menurut Ali Khomsan, kebosanan konsumsi telur bisa dihindari jika diselingi dengan sumber protein lainnya. Misal, dalam seminggu divariasi dengan ikan, daging, atau sumber protein lainnya. Kuliner Indonesia cukup bagus dalam mengolah telur dengan variasi penyajiannya, sehingga tidak membosankan.

Banyak Varian 
Di zaman serba digital saat ini mencari informasi teknik membuat varian menu berbahan telur ayam tidaklah sulit. Cukup banyak portal wisata kuliner, bahkan media sosial, yang menyuguhkan tutorial lengkap memasak makanan berbahan baku telur. Kadang, dilengkapi dengan foto hasil olahan yang menggoda selera.

Misalnya, olahan telur pindang atau yang sering disebut telur bumbu coklat. Olahan ini memiliki kekhasan dalam rasa. Selain ada rasa gurih dari telurnya, juga ada rasa manis dari bumbu kecap dan aroma rempahnya.

Jika keluarga bosan dengan sajian telur yang itu-itu saja, tak ada salahnya jika mencoba berganti olahan ala menu negara luar. Misalnya, menu Masala asal India, Huevos Rancheroz dari Meksiko, atau Oeoufs Au Plat Bressane ala Perancis semacam roti yang dipanggang dengan krim dan telur.

Panduan teknik mengolahnya bisa didapatkan di internet. Cukup ketik “varian menu telur”, dijamin akan muncul puluhan resep pilihan. Dengan tutorial yang lengkap dan mudah, para ibu rumah tangga pasti mampu membuatnya.

Varian olahan telur semacam ini sudah barang tentu akan menarik perhatian anak untuk menyantapnya. Bentuk olahannya beda, namun kandungan gizi dalam telur tetap didapat.
Bagi anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, asupan gizi dari protein hewani dalam telur sangat dibutuhkan. Kandungan asam amino yang ada di dalam telur juga cukup bagus untuk kesehatan tubuh. Asam amino berperan penting karena membantu pembentukan protein sebagai bahan dasar pembentuk sel, otot, serta sistem kekebalan tubuh.

Bagaimana dengan orang dewasa, benarkah sebaiknya dibatasi mengonsumsi telur setiap hari? Bagi sebagian orang, mengonsumsi telur setiap hari tidak masalah. Namun ada juga yang khawatir terkena kolesterol. Menurut Ali Khomsan, meskipun nikmat, namun menikmati telur juga harus diperhatikan jumlahnya. “Kita mesti bijak dalam mengonsumsi,” katanya.

Menurut dia,  untuk orang Indonesia mengonsumsi telur lebih dari satu butir sehari tidak masalah, karena konsumsi pangan hewan lainnya seperti daging dan susu masih rendah. Oleh karena itu, konsumsi telur menjadi alternatif karena harganya lebih murah.

Kampanye Harus Gencar
Rendahnya tingkat konsumsi telur masyarakat Indonesia selama ini menjadi pemberitaan dari tahun ke tahun. Data Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian pada 2016, menunjukkan rata-rata konsumsi telur ayam ras/kapita/tahun  99.796 butir.

Data lain menyebutkan pada 2017, konsumsi telur di Indonesia mencapai 18,44 kg/kapita/tahun. Tahun 2018 mencapai 17,73 kg/kapita/tahun, pada 2019 mencapai 17,77 kg/kapita/tahun. Namun terjadi peningkatan cukup signifikan pada 2020, yakni mencapai 28,16 kg/kapita/tahun.

Menurut Ali Khomasan, upaya peningkatan konsumsi telur ayam (termasuk daging ayam) harus jadi upaya semua pihak secara massif, terstruktur dan terpadu. Sebab itu, kampanye konsumsi telur perlu ditingkatkan lagi.

“Di level masyarakat kampanye ini bisa dilakukan melalui posyandu (pos pelayanan terpadu), di level nasional paling tidak Dirjen Peternakan atau Menteri Pertanian yang menyuarakan,” ujarnya.

Kampanye gizi dan edukasi kepada masyarakat harus digencarkan. Publik perlu terus diedukasi bahwa telur dan daging ayam merupakan sumber protein hewani yang ekonomis. Jika dilihat perbandingan harga per gram protein antara daging ayam dan telur ayam terhadap daging sapi, susu, domba, kambing, ikan dan lainnya, maka telur dan daging ayam lebih murah harganya. (AK)

INDIA LAPORKAN KEMATIAN PERTAMA AKIBAT FLU BURUNG

Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun telah meninggal di India karena virus flu burung jenis H5N1, kematian pertama di negara itu.

Anak itu dirawat di Institut Ilmu Kedokteran All India di New Delhi pada 2 Juli dan meninggal pada Selasa 20 Juli setelah kegagalan multi-organ.

Petugas kesehatan yang merawat pasien dan keluarga bocah itu telah diisolasi, dan pihak berwenang telah meluncurkan pelacakan kontak.

Di Haryana, negara bagian asal anak itu di utara India, Departemen Peternakan belum menemukan kasus dugaan flu burung dan telah meningkatkan pengawasan.

India telah menyaksikan lebih dari setengah lusin wabah flu burung pada unggas dalam dua dekade terakhir, yang semuanya dikendalikan, tanpa ada kasus manusia yang dilaporkan di negara itu sebelumnya. (thepoultrysite.com)

KONSUMSI PROTEIN HEWANI DAN NABATI HINDARI ANCAMAN STUNTING

Webinar nasional asupan protein hewani dan nabati kurangi kasus stunting yang dipandu oleh Alfred Kompudu (kiri), bersama narasumber Muhammad Yani (kanan) dan Ali Khomsan (bawah). (Foto: Infovet/Ridwan)

Asupan pangan bergizi merupakan kebutuhan esensial bagi tiap individu, khususnya bagi ibu hamil dan balita. Kekurangan pangan bergizi dari protein hewani dan nabati menjadi salah satu penyebab tingginya kasus stunting.

“Balita yang stunting kecerdasannya akan kurang maksimal, dampak lainnya turut meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan. Situasi ini dapat memengaruhi pertumbuhan Indonesia,” ujar Ricky Bangsaratoe, selaku panitia penyelenggara Webinar Nasional “Gizi Seimbang Protein Hewani dan Nabati untuk Mengurangi Kasus Stunting di Indonesia”, Kamis (22/7/2021).

Saat ini prevalensi kasus stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Dari data yang ada pada 2020, kasus stunting berada diangka 24,1% dan menjadikan Indonesia urutan ketiga kasus stunting tertinggi di Asia. Ini juga berkaitan erat dengan tingkat kemiskinan masyarakat. Karena itu, upaya pemerintah hingga 2024 mendatang, menargetkan penurunan stunting 2,5% per tahun, sesuai arahan Presiden Joko Widodo yang mengharapkan prevalensi stunting turun 14% pada 2024.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan, Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Agus Suprapto, yang hadir sebagai keynote speech, menyebut untuk mengupayakan penurunan kasus stunting yang termasuk kronis ini dibutuhkan intervensi secara spesifik, terpadu dan konsisten, salah satunya melalui konsumsi protein hewani dan nabati.

Hal senada juga disampaikan Guru Besar Pangan dan Gizi IPB, Prof Dr Ir Ali Khomsan, yang menjadi narasumber. Menurutnya, intervensi gizi harus memprioritaskan pada keluarga yang memiliki anak stunting, juga pada keluarga miskin. Adapun tiga hal yang dapat dilakukan yakni subsidi pangan, perbaikan sanitasi dan pengentasan kemiskinan.

“Dari penelitian saya, keluarga miskin memiliki balita stunting 40%, sedangkan keluarga tidak miskin jumlah balita stunting-nya hanya 14,3%. Oleh karena itu, pemberian telur setiap hari sebagai makanan tambahan dapat mengentaskan stunting pada anak hingga 47% dan kasus anak kurus turun 74%,” ungkap dia.

Kendati demikian, realitas yang terjadi kebanyakan masyarakat Indonesia lebih gemar membeli rokok ketimbang sumber pangan bergizi bagi keluarga. Data dari BPS 2020, menyebutkan konsumsi rokok per tahun mencapai 1.300 batang dengan nilai mencapai Rp 2 juta/tahun. Sementara konsumsi daging ayam 15 kg dengan nilai Rp 525 ribu/tahun dan konsumsi telur hanya 9,5 kg dengan nilai Rp 235 ribu/tahun.

Hal itu salah satunya menjadi pemantik strategi nasional penurunan percepatan stunting di Indonesia. Beberapa strategi itu disebutkan Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN, Dr dr Muhammad Yani MKes PKK, diantaranya menurunkan prevalensi kasus stunting, meningkatkan kualitas penyiapan kehidupan berkeluarga, menjamin pemenuhan asupan gizi, memperbaiki pola asuh, meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan, serta meningkatkan akses air minum dan sanitasi.

“Dampak stunting ini sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan gangguan perkembangan otak, kecerdasan, pertumbuhan dan gangguan metabolisme. Stunting juga menjadi penyakit penyebab kemiskinan, selain berpotensi menjadi ancaman bagi indeks pembangunan manusia di Indonesia,” pungkasnya. (RBS)

AS UNTUNG BESAR EKSPOR CAKAR AYAM KE CHINA

Menurut Dewan Ekspor Unggas & Telur AS (USAPEEC), cakar ayam yang tidak populer di AS justru populer di China. Permintaan China akan cakar ayam menjadi keuntungan bagi produsen ayam AS yang telah mengirimkan cakar ayam dalam jumlah besar sejak pasar China dibuka kembali untuk ekspor unggas AS pada November 2019.

Untuk produsen ayam AS, permintaan Cina untuk cakar ayam telah membawa rejeki nomplok. Tanpa itu, mereka tidak punya pilihan selain menjualnya dengan harga murah.

Lebih dari 201.000 metrik ton cakar ayam diekspor ke China tahun lalu, menghasilkan pendapatan sebesar $460 juta. Popularitas cakar ayam telah menghasilkan manfaat lain bagi produsen AS, karena telah mendorong permintaan untuk bagian lain dari ayam, terutama daging paha.

Ekspor cakar ayam ke China mulai melambat pada 2020 akibat dampak pandemi COVID-19 termasuk masalah pengiriman dan pelabuhan di China. Tetapi kemudian meningkat pesat dan permintaan cakar AS terus berlanjut pada tahun 2021, dengan AS menjadi pemasok dominan dengan pangsa pasar 44,8% sepanjang tahun ini. Cakar ayam AS sangat diinginkan di Cina karena ukurannya yang besar. (via thepoultrysite.com)

KANDANG CAGE FREE PERTAMA DIBUKA DI VIETNAM

Vietnam bergabung dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya dalam gerakan untuk mempromosikan telur cage free dengan pembukaan kandang komersial pertama di negara tersebut.

Dengan ribuan produsen telur di negara itu, 77,07 juta ayam Vietnam bertelur 8,2 miliar telur pada 2019, menurut FAO. Dengan meningkatnya permintaan konsumen, direktur Nam Huong, produsen telur skala menengah, Le Van Hoa melihat masa depan cage free. Kapasitas Nam Huong saat ini adalah 700.000 ayam petelur, yang menghasilkan sekitar 200 juta telur kandang baterai per tahun.

Menurut Hoa, Vietnam adalah salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat di kawasannya. “Saya melihat pergerakan telur cage free berkembang di negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Kekhawatiran konsumen tentang kesejahteraan hewan meningkat dan saya berharap Nam Huong akan menjadi salah satu produsen pertama di Vietnam yang beralih ke kandang cage free.” (via poultryworld.net)

KEMENTAN TINGKATKAN PENGAWASAN OBAT HEWAN TERKAIT BAKTERI RESISTEN ANTIBIOTIK PADA UNGGAS

Resistensi Antimikroba, sudah menjadu isu global di seluruh dunia

Menyikapi pemberitaan tentang adanya temuan bakteri resisten antibiotik tertentu pada sampel produk ayam di beberapa lokasi, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian, Nasrullah menegaskan bahwa langkah-langkah pencegahan dan pengendalian resistensi antimikroba terus dilakukan oleh pihaknya.

"Pemerintah Indonesia telah menyusun dan melaksanakan Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba (AMR) lintas sektor sejak tahun 2017," ungkap Nasrullah (17/07/2021).

Menurutnya, ancaman AMR tidak bisa dihindari dan dapat terjadi secara alamiah. Saat ini semua negara, termasuk Indonesia terus berupaya untuk dapat memperlambat laju perkembangan resistensi antimikroba yang sedang terjadi akibat dari penggunaan yang tidak bijak, berlebihan, dan tidak mengikuti aturan.

"Langkah penting yang telah kita lakukan adalah dengan membuat Peraturan Menteri Pertanian No. 14 Tahun 2017 yang secara tegas melarang penggunaan antibiotik untuk tujuan pemacu pertumbuhan (antibiotic growth promoter/AGP)," tambah Nasrullah.  

Hal tersebut dilakukan Kementan untuk mencegah adanya residu dan gangguan kesehatan bagi manusia, serta mencegah timbulnya bakteri resisten antibiotik.

"Baru-baru ini, pengawasan itu kita perkuat lagi dengan menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian No. 16 Tahun 2021 tentang Kajian Lapang dan Pengawasan Obat Hewan," imbuhnya.

Aturan baru tersebut menurut Nasrullah sangat tegas mengatur bahwa antibiotik sebagai obat keras hanya bisa dipakai dengan resep dokter hewan, dan digunakan di bawah pengawasan dokter hewan, bahkan melarang penggunaan obat hewan tertentu pada ternak yang produknya dikonsumsi manusia.

Lanjut dijelaskannya, antibiotik yang beredar di Indonesia telah terdaftar di Kementerian Pertanian, sehingga dapat dipastikan keamanan, khasiat, dan mutunya.

"Semua aturan tersebut telah kita sosialisasikan, diskusikan, bahkan kita latihkan ke semua pemangku kepentingan terkait. Ini dilakukan untuk memastikan pemahaman juga pelaksanaan di lapang," jelas Nasrullah.

Dalam implementasinya sendiri, Kementan bersama petugas dari dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan serta pemangku kepentingan terjun langsung melakukan pengawasan di lapang.

"Apabila ada penyimpangan dan pelanggaran, selain dibina, kita bisa juga secara tegas menerapkan sanksi sesuai  peraturan perundangan. Jadi jangan ragu, segera laporkan saja ke kami ke WA 082288887076 dan email keswan@pertanian.go.id," tegas Nasrullah. (INF)

WARGA MUSLIM SINGAPURA PERCAYAKAN HEWAN QURBANNYA KEPADA INDONESIA



Drh Adil Harahap (baju putih), menyerahkan hewan qurban secara simbolis

Qurban merupakan sebuah kegiatan besar dalam agama Islam yang rutin dilakukan setiap tahun. Setiap tanggal 10 Dzulhijjah pada perhitungan tahun Hijriyah, umat muslim merayakan Hari Raya Idul Adha dan melakukan penyembelihan hewan qurban seperti sapi, kambing, dan domba. 

Tak ubahnya umat muslim di Indonesia, umat muslim di Singapura juga merayakan Hari Raya Idul Adha dengan suka cita. Beberapa warga muslim yang tinggal di Singapura melaksanakan ibadah qurban di Indonesia, salah satunya di Kabupaten Asahan Sumatera Utara. Mereka mempercayakan pelaksanaan hewan qurban di Asahan kepada Dokadil Institute. Program Kolaborasi Qurban Asahan dan Singapura ini merupakan hasil kerjasama dari program Community Share yang digagas oleh Dokadil Institute dengan program qurban yang dicetus oleh Aliyah Rizq Farm di Singapura pada (20/7) di Kisaran.

"Ini adalah pertama kalinya di Asahan merayakan Hari Raya Idul Adha dan melakukan penyembelihan hewan qurban yang berasal dari saudara-saudara muslim kita di Singapura. Ada 114 ekor domba dan 2 ekor kambing yang kita sembelih di Desa Tanah Rakyat, Kecamatan Pulo Bandring, Asahan pada Idul Adha tahun ini. Dari 116 ekor tersebut, ada 99 ekor yang disembelih dengan tujuan qurban dan ada 17 ekor, yang disembelih dengan tujuan aqiqah,"ungkap drh Adil Harahap yang merupakan Pimpinan Dokadil Institute. 

"Sebelum disembelih, kita memastikan langsung bahwa hewan qurban tersebut berada dalam keadaan sehat, tidak mengalami kecacatan, dan tidak menunjukkan gejala penyakit menular. Hal ini sebagai upaya dalam menciptakan daging yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH)," tambah dokter hewan yang juga pengamat perkembangan domba dan kambing di Sumatera Utara tersebut. 

Pada proses pelaksanaannya, penyembelihan hewan qurban dilakukan dengan sangat mempertimbangkan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan dengan sabun/hand sanitizer, memakai masker, menjaga jarak, mencegah kerumunan, dan membatasi kontak langsung satu sama lain. Hal ini merupakan upaya bersama agar pelaksanaan penyembelihan berjalan dengan lancar dan membantu pemerintah dalam mencegah penyebaran Covid-19 yang saat ini menjadi pandemi. 

Daging qurban nantinya dibagikan kepada masyarakat sekitar Kabupaten Asahan melalui perwakilan-perwakilan yang sudah ditunjuk terlebih dahulu. Hal ini merupakan salah satu upaya dalam mencegah terjadinya kerumunan. Beberapa pihak yang membantu pendistribusian daging hewan qurban antara lain pengurus mesjid di Desa Tanah Rakyat dan masyarakat desa sekitarnya, Puskesmas Simpang Empat, Polsek Simpang Empat, dan beberapa rekan-rekan peternak domba dan kambing. 

"Ucapan terima kasih kepada saudara-saudara muslim kita yang dikoordinasi oleh Aliyah Rizk Farm di Singapura yang sudah melaksanakan ibadah qurbannya di Asahan, Sumatera Utara. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat kepada masyarakat Asahan dan menjadi pahala bagi saudara-saudara kita yang melaksanakan ibadah qurban," tutup drh. Adil Harahap (CR)

PELATIHAN DARING TENTANG GENETIK SAPI PEDAGING LOKAL

Online Training on Indonesia Local Cattle Gernetics. (Foto: Dok. Infovet)

Jumat, 16 Juli 2021. “Online Training on Indonesia Local Cattle Gernetics” menjadi tema webinar yang diselenggarakan atas kerja sama Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian dengan University of New England (UNE) dan Meat and Livestock Australia (MLA) yang difasilitasi oleh GITA Organizer dan Majalah Infovet.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Sugiono, mengapresiasi pelatihan genetik sapi pedaging lokal dan mengharapkan pelatihan ini dapat diaplikasikan di lingkungan peternakan sapi pedaging di Tanah Air untuk kemajuan penyediaan daging sapi di masa mendatang.

Pada kesempatan tersebut, pelatihan diikuti 127 peserta dari berbagai kalangan pengusaha/peternak sapi pedaging lokal, cendikiawan peternakan, pengurus organisasi  peternakan sapi pedaging dan pemerintah, serta menampilkan narasumber Pakar Genetika Perbibitan UNE, Prof Julius van der Werf dan Lektor School of Environment and Rural Science UNE-Australia, Dr Samuel Clark.

Prof Julius mengemukakan tentang Indonesia Genetics Project dan Training and Implementation yang menyangkut susunan program pelatihan, yaitu prinsip dan teori program perbibitan serta konsepnya tanpa formula, penerapan teori di lingkungan lokal (studi kasus terkecil dan diskusi), studi kasus lengkap untuk pengembangan yang memungkinkan bagi sapi potong lokal, serta pembuatan blueprint-nya.

“Pentingnya perubahan genetik untuk mendapatkan sapi pedaging unggul lokal baru, yaitu mencari sapi pejantan terbaik. Ada satu tingkatan program pembibitan yaitu lakukan seleksi terhadap beberapa keturunan pejantan lokal (200 ekor), maka akan didapat keturunan pejantan lokal unggul baru (10 ekor), demikian pula lakukan seleksi terhadap keturunan induk betina lokal (200 ekor), maka akan didapat keturunan induk betina lokal unggul baru (500 ekor), sehingga percepatan pengembangan sapi pedaging lokal diharapkan mudah tercapai,” tegasnya.

Ia menyebut, pelatihan direncanakan secara bertahap mulai pertengahan Juli 2021 sampai Mei 2022 mendatang, akan dibagi paket pelatihan genetik sapi pedaging lokal dalam beberapa sesi, yaitu intro and breeding objective menyangkut bagaimana sifat biologi dan nilainya (selama 3 minggu), kemudian genetics evaluation menyangkut estimasi/perkiraan calon sapi pedaging bibit unggul (selama 5 minggu, termasuk multiple trait selection), lalu design and optimization of breeding programs menyangkut sapi pedaging mana yang lolos seleksi jadi bibit unggul dan yang pantas dikawinkan serta memperhitungkan invest/modal yang dibutuhkan dan genomik/repro-teknologi (selama 3 minggu). Kemudian akan dibuatkan lectures dan excersices dari berbagai studi kasus yang diperoleh.

Sebagai kesimpulan, Prof Julius merinci beberapa segi yang perlu disadari, yaitu bahwa pembibitan ternak adalah campuran antara teknik dan isu pengetahuan terkait ternak saat itu (ekonomi, statistik, genetik, biologi). Bersumber dari matriks/kerangka masalah yang dialami farm/peternakan pada periode tersebut. (SA)

PROFITABILITAS PERUSAHAAN TELUR KAZAKHSTAN BERKURANG

Peternakan telur besar di Kazakhstan berjuang untuk mendapatkan keuntungan dimana sekarang mereka harus menjual telur di bawah biaya produksi. Hal itu disebabkan melimpahnya pasokan karena pertumbuhan produksi musiman dan peningkatan penyelundupan telur dari negara tetangga Rusia.

Fluktuasi harga musiman sering terjadi di industri telur Kazakhstan. Secara tradisional, ribuan peternakan rumahan mulai menjual telur kepada pelanggan selama periode ini. Harga telur melonjak pada musim dingin ketika produksi di segmen rumahan menyempit. Untuk mengatasi masalah kejenuhan pasar selama musim panas, Asosiasi Produsen Telur meminta untuk membuka pasar ekspor, termasuk China. Industri mengalami kelebihan pasokan sementara ketika semua pasar ekspor utama ditutup menyusul beberapa wabah flu burung.

Meskipun kelebihan pasokan, harga eceran telur meningkat 30,4% selama setahun terakhir, yang merupakan kenaikan terkuat selama dekade terakhir. Kenaikan tajam pada tahun 2020 terutama terkait dengan gangguan produksi yang disebabkan oleh flu burung di Kazakhstan. Diperkirakan bahwa Kazakhstan memusnahkan hampir 1,5 juta burung antara Oktober dan November.

Maxim Bozhko, presiden Uni Produsen Unggas Kazakhstan, memperkirakan bahwa biaya produksi per telur naik menjadi 30 tenge ($ 0,07). Namun, sebagian besar peternakan memiliki harga jual yang disepakati sebesar 17 tenge ($ 0,04) per telur. “Penurunan permintaan domestik musim panas diperburuk oleh masuknya impor abu-abu dari Rusia ketika telur dipasok dengan harga dumping. Telur dijual melalui pengusaha kecil, grosir di pasar, dan diangkut melintasi perbatasan tanpa membayar pajak,” kata badan tersebut. (via poultryworld.net)

GHANA MENGAMBIL TINDAKAN SETELAH WABAH FLU BURUNG

Ghana telah memusnahkan ribuan ayam dan melarang pergerakan unggas di tengah wabah flu burung H5N1.

Ghana telah memusnahkan 4.500 ayam dan membatasi pergerakan unggas setelah hampir 6.000 unggas ditemukan mati karena flu burung H5N1 yang sangat patogen.

Unggas itu berasal dari tujuh peternakan di wilayah Accra, Central dan Volta di Ghana, dan pergerakan unggas dari wilayah itu telah dilarang.

Ghana juga telah menangguhkan impor unggas dari Togo, Niger, Burkina Faso, Nigeria, Mauritania dan Senegal sebagai tindakan pencegahan. Togo bulan lalu memusnahkan ribuan burung sebagai tanggapan terhadap wabah H5N1-nya sendiri.

Kasus-kasus tersebut menandai wabah flu burung keempat di Ghana sejak 2015. (via thepoultrysite.com)

YLKI ADAKAN KONFERENSI PERS TERKAIT PRODUK UNGGAS

Konferensi Pers Online bersama YLKI via daring Zoom meeting


Jumat (16/7) yang lalu Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bersama  World Animal Protection (WAP), dan CIVAS mengadakan ‘Press Conference Final Report: Penemuan Bakteri Kebal Antibiotik Pada Produk Pangan Ayam Broiler.’ Acara ini diselenggarakan secara daring via Zoom.

Hal tersebut adalah tindaklanjut dari hasil investigasi YLKI bersama CIVAS dan WAP terkait isu resistensi antimikroba yang menjadi isu global. Tulus Abadi selaku ketua YLKI berukar bahwa isu tersebut sudah menjadi isu yang sering diperbincangkan di lembaga konsumen dunia. Oleh karenanya YLKI sebagai lembaga perlindungan konsumen di Indonesia merasa harus melakukan sesuatu sebagai bentuk kontribusinya di masyarakat.

"Kami berusaha mengedukasi konsumen agar lebih cerdas dan paham mengenai apa itu food safety dan security. Daging ayam sudah menjadi bagian hidup sehari - hari di meja makan masyarakat, oleh karenanya ini harus diamankan agar tidak membahayakan," tuturnya.

Ia juga menuturkan bahwa dengan adanya temuan ini diharapkan dapat menjadi pemacu bagi konsumen, pemerintah, maupun pelaku usaha untuk semakin concern dan berusaha menghasilkan produk perunggasan yang aman bagi masayarakat dan tidak meminimalisir cemaran residu antibiotik maupun bakteri yang kebal antibiotik agar tidak membahayakan kesehatan pemakannya.

Dalam kesempatan yang sama, Rully Prayoga dari WAP menjabarkan hasil temuannya. Setidaknya dari sampel karkas dan sekum yang diambil dari retail dan RPHU ditemukan adanya bakteri E.coli yang resisten terhadap beberapa jenis antimikroba seperti Ciprofloxacin, Kolistin, Meropenem, Sulfomethoxazole, dan Kloramfenikol.

"Ini cukup membahayakan, jika bakteri ini mengontaminasi dan termakan oleh konsumen tentunya akan menyebabkan risiko bagi konsumen. Oleh karenanya kami perlu mengklarifikasi hal ini," tutur Rully.

Dirinya juga memberikan beberapa rekomendasi kepada pemerintah dan pelaku usaha untuk mencegah terjadinya hal ini. Diantaranya meningkatkan manajemen pemeliharaan ternak terutama dalam aspek biosekuriti dan meminimalisir penggunaan antibiotik pada ternak. Pemerintah juga dihimbau agar lebih menjalankan fungsi pengawasan kepada peternak dalam hal penggunaan antibiotik.

Ketua Umum PDHI yang juga hadir dalam pertemuan online tersebut Drh Muhammad Munawaroh mengapresiasi hasil investigasi tersebut. Dirinya pun mengakui bahwa fungsi pengawasan yang dilakukan juga belum maksimal karena terbatasnya sumber daya dari pemerintah. Oleh karenanya dia menghimbau kepada seluruh stakeholder yang berkecimpung agar bersinergi dan berkolaborasi menjalankan fungsi pengawasan tersebut.

Terkait temuan tersebut, Munawaroh menghimbau utamanya kepada YLKI agar tidak terlebih dahulu "kebakaran jenggot" menanggapi temuannya. Hal tersebut tentunya akan berdampak besar pada aspek sosio-ekonomi dimana nantinya masyarakat akan takut mengonsumsi daging ayam karena mengandung bakteri berbahaya.

"Temuan ini sebaiknya ditanggapi dengan bijak, toh yang ditemukan adalah bakteri kebal antibiotik pada karkas. Sebenarnya jika masyarakat dihimbau agar memasak ayamnya sampai benar - benar matang, bakterinya otomatis akan mati karena suhu panas tadi. Berbeda kalau yang ditemukan adalah residu antibiotik, ini lebih berbahaya karena residu antibiotik tidak mudah hancur dalam suhu panas sekalipun," tutur Munawaroh.

Ia juga mengatakan kepada audiens terutama pewarta agar lebih bijak dalam menanggapi hal ini, karena seperti yang ia bilang tadi, dampak sosio-ekonominya akan sangat terasa terutama bagi peternak dan pelaku usaha. Terlebih lagi kini peternak dan pelaku usaha tengah dipusingkan dengan anjloknya harga ayam yang tentunya merugikan bagi mereka. (CR)

PELATIHAN DAN PABRIKASI BAHAN PAKAN BERKELANJUTAN

Teknologi biofermentasi untuk mengawetkan bahan pakan berkadar air tinggi dengan memanfaatkan bakteri asam laktat. (Foto: Istimewa)

Dosen Fakultas Peternakan IPB, Dr M. Ridla dalam pelatihan dan pabrikasi bahan pakan berkelanjutan di pesantren Darul Fallah, melalui daring, Sabtu (10/7), mengatakan untuk dapat memperpanjang umur simpan bahan pakan ruminansia, terdapat dua cara utama yakni dengan teknologi hay dan silase, yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.

Hay memerlukan energi panas untuk mengeringkan, tergantung pada cuaca dan kecerahan di siang hari, diolah di ruang terbuka dan disimpan di gudang, serta mudah diangkut dan diperjualbelikan. Adapun silase, dapat diawetkan langsung tanpa perlu adanya energi panas, tidak tergantung cuaca, diolah di ruang tertutup atau silo, serta sulit diangkut dan diperjualbelikan.

“Bahan baku pakan dari hasil ikutan banyak yang berkadar air tinggi seperti ampas, daun, kulit, buah, limbah pasar, limbah restoran dan lain-lain. Selain berisiko mencemari lingkungan, bahan baku pakan tinggi air juga sulit disimpan dan mudah busuk,” kata Ridla.

Lebih lanjut dijelaskan, untuk pemanfaatan bahan baku pakan tersebut, perlu dilakukan langkah pengeringan hingga kandungan bahan keringnya mencapai 85%. Pengeringan perlu waktu, alat dan biaya, serta tidak efisien untuk jumlah yang banyak. “Perlu teknologi alternatif yang bisa mengolah limbah dalam waktu dan jumlah yang tak terbatas,” jelas dia. 

Untuk itu, lanjut dia, adanya teknologi biofermentasi untuk mengawetkan bahan berkadar air tinggi tersebut dengan memanfaatkan bakteri asam laktat. Dengan teknologi itu, bahan pakan dapat awet dan aman, asal telah mencapai tingkat keasaman pada pH 4-5. Dengan cara seperti itu, bahan campuran dengan kadar air tinggi dapat disimpan dalam waktu yang lama.

Campuran bahan pakan yang berkadar air tinggi seperti ampas tahu, ampas kecap, ampas tempe, kulit nanas, kulit jagung, buah apkir, urea, molases, dedak dan lain-lain, disimpan dalam silo hampa udara atau anaerob. Melalui proses fermentasi oleh bakteri asam laktat tersebut, bahan pakan akan dapat tersimpan lama, dengan bahan kering berkisar 30-50%, protein kasar 12-17% dan total digestibel nutrien mencapai 60-70%. (IN)

SUPPORT PEMERINTAH KAMBOJA UNTUK PETERNAKAN UNGGAS


Sebagai bagian dari “proyek unggas kebanggaan nasional di Kamboja” untuk tahun 2021 hingga 2026, 21 kendaraan transportasi dan infrastruktur senilai hampir setengah juta dolar telah diserahkan kepada 21 koperasi pertanian di negara tersebut.

Untuk mendukung petani dan masyarakat setempat, serah terima LSM Heifer International Kamboja termasuk 7 truk, 14 sepeda motor, serta 5 pasar dan pusat perkumpulan masyarakat, 3 kantor koperasi pertanian, dan 2 gudang penyimpanan.

Menurut Direktur HIC Kamboja, Nhem Sareth, proyek perunggasan untuk kebanggaan nasional Kamboja terdiri dari 4 komponen, yaitu:

  1. Peningkatan kapasitas kelembagaan koperasi pertanian
  2. Peningkatan akses ke modal berdampak untuk skala agribisnis petani kecil
  3. Peningkatan produksi dan pasokan produk pertanian (daging ayam pekarangan) berkualitas tinggi di pasar
  4. Sistem dan distribusi pasar besar yang ditingkatkan

Tujuan dari proyek ini adalah untuk meningkatkan pengembangan sektor ayam pekarangan Kamboja, katanya, dan untuk meningkatkan akses ke modal bagi petani kecil untuk meningkatkan agribisnis, meningkatkan produksi dan pasokan daging ayam pekarangan, dan meningkatkan efisiensi distribusi.

Sareth mencatat bahwa proyek tersebut akan secara langsung menguntungkan lebih dari 53.000 rumah tangga di 11 provinsi. (via poultryworld.net)

BUDIDAYA KAMBING BOERKA GALAKSI

Pejantan boerka bobot 55-85 kg (Foto: Istimewa)

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mengembangkan Kambing Boerka Galaksi, kambing potong unggul dengan produktivitas tinggi dan bobot optimum.

Peneliti dari Loka Penelitian Kambing Potong (Lolitkambing) Balitbangtan, Simon Eliser Sinulingga menjelaskan Kambing Boerka merupakan persilangan Kambing Boer dengan Kambing Kacang. Kehadiran Kambing Boerka Galaksi diharapkan sesuai dengan sesuai permintaan dan preferensi konsumen.

“Berubahnya preferensi konsumen untuk mendapatkan daging yang empuk dan perlemakan yang rendah, menuntut peternak harus menghasilkan produk yang sesuai dengan permintaan konsumen. Untuk itu perlu dihasilkan ternak yang cepat tumbuh,” jelas Simon dalam Bimbingan Teknis Budidaya Ternak Unggul yang digelar secara daring oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak), Rabu (14/7).

Keunggulan Kambing Boerka antara lain memiliki daya adaptasi tinggi pada lingkungan tropis. Pada umur 1 tahun, bobot badannya mencapai 365 kg dengan karkas sebesar 49-51%. Jumlah anak sekelahiran 1,6-1,7 ekor/induk.

Sejak tahun 2009 kambing Boerka tersebar sampai dengan tahun 2020 di 15 Provinsi yaitu Aceh, Riau, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Timur, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, Bali, Jawa Barat, dan Maluku Utara.

Suksesnya budidaya Kambing Boerka Galaksi perlu didukung oleh lima faktor yaitu sistem pembibitan, perkawinan dan seleksi, pemeliharaan intensif semi intensif exstensif, produk bibit dan pasar.

Faktor lain yang harus diperhatikan adalah kandang dan pakan. Kandang selain untuk tempat ternak beristirahat adalah juga agar ternak lebih nyaman, memudahkan tata laksana pemeliharaan serta lebih efisien dalam pengawasan.

Sementara pakan ternak terdiri dari hijauan dan konsentrat dengan jumlah pemberian 10 hingga 20 % dari bobot badan untuk hijauan dan 1 sampai 2 % dari bobot badan untuk konsentrat.

Salah satu hijauan pakan ternak adalah rumput unggul Stenotaprum Secundatum. Keunggulannya adalah toleran terhadap naungan 75%, cocok untuk tanaman integrasi. Produksinya 48 ton/ha/tahun.

Hijauan lain yang juga unggul dan disukai ternak adalah Indigofera Gozol Agribun. Keunggulannya adalah produksi 90 – 120 ton/ha/ tahun. Umur pemotongan pertama 6 bulan dan Interval pemotongan 40 – 60 hari. Kandungan protein 25 – 27%. (NDV) 


ASOHI JAWA BARAT GELAR SEMINAR NASIONAL MELALUI DARING

Seminar Nasional ASOHI, kupas tuntas mutasi virus patogen pada ungas


Rabu (14/7) ASOHI Jawa Barat mengadakan Seminar Nasional melalui daring Zoom meeting. Topik yang dibahas yakni mutasi virus infeksius pada unggas seperti ND, AI, dan IB beserta permasalahan yang dihadapi oleh peternak khususnya pada masa pandemi Covid-19 dua tahun belakangan. Hadir sebagai pembicara yakni Guru Besar sekaligus pengajar FKH UNAIR, Prof. Suwarno.

Dalam sambutannya Ketua Umum ASOHI Jawa Barat yang juga baru terpilih hari itu drh Nurvidia Machdum berterima kasih kepada para panitia penyelenggara yang sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menggelar acara tersebut. Dirinya juga mengatakan bahwa seminar nasional ini juga bertujuan untuk menambah informasi dan ilmu khususnya dibidang kesehatan hewan dan informasi terkini terkait virus patogen yang ada pada unggas seperti ND, IB, dan AI.

Terkait keterpilihannya sebagai Ketua ASOHI Jawa Barat ia berharap agar bisa bekerja semaksimal mungkin sesuai dengan visi dan misi ASOHI. Nurvidia juga memohon dukungan dari para stakeholder lainnya yang berkepentingan agar dirinya dan segenap pengurus ASOHI Jawa Barat dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. 

Setelahnya Prof. Suwarno memulai presentasinya mengenai mutasi beberapa jenis virus patogen pada unggas. Dalam presentasinya yang berdurasi kurang lebih satu jam, Prof. Suwarno menjabarkan mengenai faktor - faktor yang menyebabkan mutasi, jenis mutasi, cara virus bermutasi, serta dampak dari mutasi virus baik terhadap inang maupun virus itu sendiri. 

Tidak hanya mutasi virus pada unggas, Prof. Suwarno juga menyinggung mutasi virus pada manusia misalnya Covid-19. Menurut beliau virus Covid-19 memiliki beberapa persamaan dan perbedaan dengan virus patogen pada unggas yakni Infectious Bronchitis (IB).

"Persamaannya yakni sama - sama dari Coronaviridae, target organ sama (paru - paru), dan memiliki karakteristik genom yang mirip. Namun bedanya adalah inang dan reseptornya, namun begitu keduanya memiliki karakteristik yang hampir serupa," tutur Prof. Suwarno.

Dirinya juga menjabarkan mengenai data - data kekinian terkait mutasi virus patogen pada unggas. Misalnya saja AI yang dalam beberapa tahun ini kurang hits ketimbang kompatriot virus lainnya dimana ND dan IB sedang "galak-galaknya" menginfeksi ayam baik layer maupun broiler.

Pada sesi diskusi, pernyataan menarik terlontar dari Prof. Suwarno, hal ini juga berkaitan dengan wabah Covid-19. Secara teori menurut Prof. Suwarno manusia dapat memanen plasma covalesens Covid-19 melalui ayam petelur. 

Caranya adalah dengan menyuntikkan antigen S milik Covid-19 ke dalam tubuh ayam. Karena perbedaan reseptor, ayam tidak akan menunjukkan gejala klinis dan terinfeksi, tetapi antibodi terhadap Covid-19 akan tetap dibuat dan dapat terkandung pada telur ayam dalam bentuk IgY yang apabila dikonsumsi bisa menjadi semacam produk "telur anti Covid-19".

"Ini baru sebatas teori saja, masih perlu kajian dan penelitian lebih lanjut, tapi tidak menutup kemungkinan ini bisa dilakukan. Namanya juga peneliti, teori tentunya harus diaplikasikan toh?," tutur Prof. Suwarno. (CR) 


REFLEKSI HARI KOPERASI NASIONAL Ke-74: KOPERASI PERUNGGASAN YANG DIHARAPKAN

ILC "Koperasi Perunggasan yang Diharapkan." (Foto: Istimewa)

Koperasi merupakan badan usaha yang sifatnya kolektif, bermisi sosial dengan memperjuangkan nasib secara bersama-sama agar anggotanya sejahtera. Koperasi juga sebagai salah satu bentuk badan usaha yang dimiliki dan dijalankan oleh para anggota untuk kepentingan bersama dapat menjadi solusi terhadap persoalan perunggasan nasional saat ini.

Untuk dapat bertahan bahkan memiliki daya saing tinggi di era global dan digital, peternak unggas di Indonesia didorong untuk berkiprah dalam wadah koperasi yang modern, maju dan profesional. Hal itu mengemuka dalam Indonesia Livestock Club (ILC) edisi 22 bertajuk "Koperasi Perunggasan yang Diharapkan" yang dilaksanakan pada puncak hari Koperasi Nasional ke-74, Senin (12/7/2021).

Dalam kesempatan itu, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, yang menjadi narasumber mengajak semua insan perunggasan untuk merefleksikan peran koperasi dalam memajukan sektor strategis ekonomi rakyat, termasuk pangan dan perunggasan di tanah air.

"Kementerian Koperasi dan UKM terus mengembangkan koperasi dan UMKM sektor peternakan agar dapat berbisnis dalam skala ekonomi dan lebih efisien, diantaranya melalui korporatisasi peternak melalui koperasi, dimana koperasi berperan mengurus hulu-hilir usaha peternakan rakyat. Hal ini juga dilakukan beberapa negara maju yang memiliki koperasi peternakan besar seperti di Belanda dan New Zealand," kata Teten.

Sementara Guru Besar Fapet IPB, Prof Muladno, turut menambahkan bahwa aktor terpenting di koperasi perunggasan yakni semua tingkatan diantaranya peternak dan organisasi dalam koperasi harus minim struktur, namun kaya fungsi.

Ia menandaskan, pendampingan dari pemerintah dan perguruan tinggi adalah hal mutlak. "Inilah makna kehadiran negara bagi rakyat yang berusaha di bidang perunggasan," kata Muladno.

Dengan berkoperasi, maka akan dapat memperpendek mata rantai distribusi, menjaga keseimbangan harga pasar, menjaga kecukupan stok kebutuhan bahan pakan dan untuk anggota peternak, penyedia DOC/pullet dengan harga terjangkau, serta penyedia jasa angkutan pakan.

Salah satu indikator sejahteranya anggota koperasi perunggasan adalah bagaimana mereka mendapatkan harga input produksi lebih murah dan pada saat menjual produk dengan harga lebih baik dibanding jika tidak berkoperasi. (IN)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer