-->

ULTAH PT GITA KE-18: JAGA SPIRIT DAN GALI KREATIVITAS

Suasana perayaan ultah PT GITA, sederhana namun khidmat (Foto: Adit)

 

Pemandangan berbeda di hari ulang tahun PT Gallus Indonesia Utama (GITA) ke-18 yang diadakan di Gedung Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Jakarta Selatan, (9/9/2020). Ruangan di lantai 3 yang biasanya dipenuhi seluruh staf dan karyawan, kali ini hanya dihadiri perwakilan dari beberapa divisi saja, itu karena penerapan protokol kesehatan COVID-19.

Acara yang digelar sederhana namun penuh hikmat ini dibuka dengan sambutan dari Direktur Keuangan dan SDM, Drh Rakhmat Nuriyanto. Ia membuka dengan rasa syukur yang besar atas segala nikmat dan pencapaian serta kesehatan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Ia menambahkan, di usia ke-18 ini sudah seharusnya menjadi moment evaluasi atas segala pencapaian dan apa saja yang belum tercapai dari sebuah target. “Semoga PT GITA menjadi lebih baik lagi ke depan dengan tetap menjaga kekompakan tim, serta tentunya selalu menjaga kesehatan,” tuturnya.

Direktur Utama PT GITA, Ir Bambang Suharno mengatakan, tahun ini merupakan tahun yang penuh tantangan karena yang terjadi saat ini adalah di luar prediksi semua orang termasuk PT. GITA yang memang sudah memiliki rencana tersusun yang buat setiap annual meeting.

Menurutnya, pada saat ini segenap karyawan perlu menggali kreativitas lebih dalam lagi untuk menemukan peluang baru dalam berbisnis, baik di sektor peternakan maupun perikanan. Ia berharap bahwa acara-acara seminar yang sudah terjadwal dari tahun sebelumnya dapat tetap terlaksana, meski di tengah pembatasan sosial seperti sekarang ini.

“Kita harus tetap menjaga asa serta jangan sampai lengah dengan tetap menaati protokol kesehatan COVID-19,” pungkasnya.

Setelah sambutan, kemudian acara dilanjut dengan doa penutup dari Manager Info Akuakultur dan Infovet, Ir Darmanung Siswantoro. Rangkaian acara yang singkat namun hikmat lancar terlaksana, hingga acara puncak yakni potong kue sebagai bentuk rasa syukur. (ADIT)

 

KEHIDUPAN SETELAH PANDEMI BERAKHIR

Ilustrasi belajar secara daring. (Sumber: Detikcom)

Oleh: M. Chairul Arifin

Tidak ada seorangpun yang bisa meramalkan kapan pandemi COVID-19 ini akan berakhir, entah bulan depan, tahun ini, atau bahkan tahun berikutnya. Bahkan para ahli epidemiologi sekalipun belum dapat meramalkan kapan pandemi ini akan berhenti agar kembali bisa menjalani kehidupan normal. Mereka hanya mampu membuat berbagai skenario berdasarkan tindakan mitigasi dan penanggulangan yang dilakukan, yaitu bila tidak ada tindakan, tindakan sedang dan tindakan sesuai aturan.

Kurva penularan COVID-19 masih terus meroket dan upaya flatten the curve terus dilakukan secara bersamaan dengan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah dalam bentuk Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), social distancing, physical distancing, bekerja dari rumah (work from home/WFH), hingga larangan mudik. Tindakan inipun masih terkendala sifat masyarakat yang belum memenuhi aturan, dan di sisi lain para tenaga medis kerap kekurangan alat pelindung diri (APD) yang sesuai standar.

Apakah Kembali Normal?

Dengan segala bentuk pembatasan tersebut apakah kehidupan manusia akan kembali normal jikalau pandemi ini berakhir? Apakah seseorang, karyawan, aparatur sipil negara (ASN), siswa dan mahasiswa, cara bertani dan beternak kita akan kembali seperti sediakala? Normal yang dimaksud adalah kembali pada kebiasaan lama, mengerjakan pekerjaan kantoran yang sudah engage itu. Membentuk tim kerja  yang sudah solid bertahun-tahun sambil menunggu disposisi dari "sang bos", melaporkan, menghadiri rapat atau sesekali dinas luar (DL) seperti yang telah disampaikan oleh kawan penulis, Djajadi Gunawan, dalam artikelnya berjudul “Kapan DL Lagi”.

Dari pengalaman bekerja dari rumah yang sekian lama dialami hampir lima bulanan, kemungkinan cara kerja kita dikantor akan  berubah  secara bertahap. Dari pengalaman WFH telah memberi pelajaran suatu best practice bahwa sebagian besar pekerjaan kantoran dapat dikerjakan dirumah. Analoginya adalah pekerjaan kantor dapat dikerjakan di luaran, entah di hotel, kafe atau tempat lainnya yang memungkinkan bekerja secara daring dan luring. 

Bahkan berbagai rapat atau meeting juga tidak perlu dihadiri secara fisik. Dengan teknologi telekonferensi kita dapat hadir secara virtual dan moderator maupun pimpinan sidang sudah dapat menyimpulkan hasil rapat virtual tersebut. Jadi di luar ruangan kantorpun ternyata dapat diambil keputusan strategis dan tepat waktu. Pekerjaan macam jurnalis yang selalu dikejar deadline dapat dikerjakan secara daring dimanapun kita suka.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menjadi pelopor untuk “merumahkan” para ASN-nya jauh sebelum terjadinya pandemi. Diberitakan bahwa 1.000-an ASN Bappenas diujicobakan kerja di lain tempat mulai Januari 2020, jauh sebelum pandemi melanda Indonesia pertengahan Maret 2020.

Untuk industri pertanian contoh yang sangat baik seperti peternakan ayam ras. Mereka ini telah sepenuhnya menggunakan sistem digital dari sejak di hulu, on farm sampai pengolahan dan pemasarannya. Didukung oleh kelembagaan dan sumber daya manusia yang kuat menjadikan bisnis ayam ras suatu contoh atau model sistem agribisnis modern.

Dalam dunia pendidikan apalagi (di luar pendidikan profesi yang menuntut praktik laboratorium dan pasien), maka sistem online dapat diperlakukan termasuk pembelajaran jarak jauh, ujian tengah semester maupun akhir semester. Sudah banyak aplikasi online semisal Ruang Guru yang memungkinkan siswa belajar mandiri serta mampu mengerjakan soal-soal yang diberikan. Perhatian khusus penekanan pada pendidikan karakter yang perlu dikemas menjadi hal yang lebih menarik.

Dalam tata niaga pun sudah lama dipraktikkan belanja online. Bukan itu saja, mata rantai pasok dari produsen sampai kepada konsumen sudah semakin efisien dengan aplikasi perdagangan elektronik (e-commerce) sehingga konsumen atau produsen dimudahkan dalam memilih dan membeli barang.

Jadi, baik dikalangan pemerintahan maupun dunia swasta dan yang lainnya, sebenarnya sudah dapat terhubung satu sama lain menjadi sistem terpadu sebagai embrio big data.

Akhir Pandemi

Diakhir pandemi kelak akan terlihat beberapa perubahan mendasar dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat dan bernegara. Pemakaian gawai dan internet akan menjadi bagian dari kehidupan kita tanpa kita sadari. Membangun perkantoran yang megah sudah bukan zamannya lagi, akan tergantikan dengan ruang kerja baru yang berwujud coworking space, tempat orang bekerja sharing entah darimana orang itu.

Tapi satu hal yang perlu diingat yaitu turunnya pertumbuhan ekonomi yang diramalkan menurun sampai 3% bahkan skenario terburuk pertumbuhannya minus 0,4%. Keadaan ini membutuhkan waktu pemulihan yang cukup lama. Menurut para analis sekitar 1-2 tahun. Ingatan kita masih segar bahwa pada krisis multi dimensi tahun 1997/1998 sesuatu yang berbasiskan sumber daya lokal menjadi kunci dari cepat atau tidaknya kita pulih dari suatu bencana.

Kendati demikian pandemi ini sedikit banyak memberikan pelajaran berharga, lesson learned bagi kita semua bahwa sesuatu kehidupan itu dapat berubah, bahkan diubah oleh makhluk mikroorganisme kecil yaitu COVID-19. ***


Penulis adalah:

Pegawai Kementan (1979-2006),

Staf Perencanaan (1983-2005),

Tenaga Ahli PSDS (2005-2009)

HIMPITAN PETERNAK UNGGAS DAN FEED ADDITIVE SEBAGAI SOLUSI PENGGANTI AGP

Webinar Obrolan Peternakan (Opera)


Pesatnya teknologi di bidang perunggasan, perlindungan terhadap peternakan unggas rakyat masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Kebijakan pemerintah adalah salah satu faktor yang membuat peternak unggas makin terhimpit.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ir Adi Widiatmoko, Konsultan Marketing PT Cheil Jedang Super Feed dalam acara Obrolan Peternakan (Opera) Rabu, 2 September 2020 melalui Zoom. Adi mengatakan, kebijakan pemerintah berupa penyetopan impor jagung, pelarangan Antibiotic Growth Promoter (AGP), dan izin budidaya unggas komersial oleh pabrikan hingga 2% dinilai memberatkan peternak unggas.

Pada 2015, pemerintah menghentikan impor jagung yang menyebabkan harga jagung naik. Hal ini menjadi lebih parah karena penghentian impor dilakukan pada Oktober ketika tidak ada panen. 

Hasilnya, harga jagung naik secara drastis. Kemudian, pada 2018 pemerintah melarang penggunaan AGP yang menyebabkan risiko kematian tinggi dan turunnya performan, adanya necrotic enteristis dan dysbacteriosis (penyakit yang disebabkan oleh bakteri), wet litter, dan menaikkan biaya produksi. Sementara itu, pengganti AGP sangat mahal dan akan menyulitkan peternak.

Menurut Adi, pemerintah perlu berhati-hati dalam membuat kebijakan karena selama ini lebih berpihak ke konsumen. Pemerintah hendaknya membuat kebijakan yang juga menguntungkan untuk peternak.

Faktor lain yang menyulitkan peternak adalah perubahan strategi supplier berupa perubahan raw material yang diformulasikan oleh feedmill akan berefek cukup besar ke peternak. Selain itu,  frozen shop yang kini marak menjual produk dibawah harga normal juga akan menekan peternak.

Adi menambahkan, pengurusan registrasi NPP yang lama dan adanya SNI juga memberatkan peternak. Hal ini menyebabkan inovasi pakan menjadi sulit dan biaya produksi menjadi mahal karena tidak dapat memanfaatkan sumber lokal.

Kendati demikian, Adi mengungkapkan bahwa ada perbaikan signifikan yang dapat mendukung investasi bisnis selama 5 tahun mendatang yaitu stabilitas ekonomi yang terkontrol, kondisi politik yang kondusif, inflasi yang terjaga, dan pertumbuhan populasi.

Prof Dr Ir Zuprizal DEA IPU ASEAN Eng, dosen Fapet UGM yang juga menjadi narasumber dalam acara tersebut mengatakan, penggunaan AGP yang dilarang dapat digantikan dengan feed additive yang menggunakan teknologi nano yang dikembangkannya di laboratorium.

Menurut Zuprizal, permasalahan pakan unggas lebih rumit bila dibandingkan dengan permasalahan pakan ternak lain. Hal ini disebabkan beberapa faktor, yaitu proses pencernaan berjalan lebih cepat, waktu pernafasan dan sirkulasi darah lebih cepat, suhu tubuh 4-50C lebih tinggi (410C), bergerak lebih aktif, lebih sensitif terhadap pengaruh lingkungan, pertumbuhan lebih cepat, lebih cepat dewasa, dan produksi telur tinggi. Biaya pakan mencapai 70% dari variable cost produksi. Oleh karena itu, unggas membutuhkan nutrien yang cukup agar pertumbuhan dan pemeliharaan tubuh dan produksinya tetap baik.

Teknologi nano yang digunakan Zuprizal dalam penelitiannya adalah memperkecil ukuran partikel dari feed additive yang akan diberikan. Nano teknologi adalah teknologi yang mempelajari objek yang berukuran 10-9 atau 1/1 miliar.

Zuprizal mengembangkan nano enkapsulasi untuk bahan yang sifatnya padatan, misalnya kunyit. Kunyit dipotong, dijemur, dan digiling sampai halus kemudian diberikan ke ayam. Pada tahap ini, bermacam-macam zat dalam kunyit jika diekstrak ada kurkumin. Kurkumin bisa dimanfaatkan sebagai antibiotik tapi jika diberikan begitu saja dapat merusak pencernaan sehingga dibuat nano enkapsulasi. Feed additive ini nantinya dimasukkan ke dalam air minum ternak unggas. Dengan ukuran partikel yang kecil, akan terserap dan berinteraksi dengan cepat di dalam tubuh.

Narasumber lain yaitu Dr Muhsin Al Anas SPt, dosen muda Fapet UGM mengatakan bahwa kinerja saluran cerna menentukan produktivitas ternak unggas. Gangguan yang menyebabkan kinerja usus atau saluran cerna tidak optimal karena senyawa racun seperti mikotoksin dan peningkatan bakteri patogen.

Bakteri patogen menghasilkan senyawa beracun seperti Lipopolisakarida (LPS) yang berbahaya bagi ternak. Adanya senyawa mikotoksin dan LPS menyebabkan pertumbuhan vili-vili usus tidak optimal, bahkan menyebabkan peradangan usus. Akhirnya pemanfaatan nutrien tidak optimal dan terjadi penurunan produksi ternak

Penambahan feed additive menjadi penting untuk meningkatkan kinerja saluran cerna sehingga absorbsi nutrien dapat maksimal. Feed additive yang ditambahkan dapat berupa essential oil, acidifier, toxin binder, enzim, dan anti-mikrobial peptide. (INF/NDV)

 

 

 

 

 

WORLD DAIRY EXPO 2020 DIBATALKAN!

Sumber: worlddairyexpo.com

World Dairy Expo dibatalkan untuk pertama kalinya dalam 53 tahun sejarahnya, karena virus corona. Pameran tersebut rencananya akan berlangsung di Alliant Energy Center di Madison, Wisconsin, 29 September hingga 3 Oktober 2020.

Komite Eksekutif World Dairy Expo mencapai keputusan ini berdasarkan perintah dan pembatasan kesehatan masyarakat terkait COVID-19, yang diberlakukan dan dikeluarkan oleh Kesehatan Masyarakat Madison & Dane County.

“Dengan berat hati kami mengumumkan pada Anda bahwa World Dairy Expo 2020 telah dibatalkan,” kata Scott Bentley, manajer umum WDE.

Alliant Energy Center adalah fasilitas milik daerah yang berada di bawah yurisdiksi Emergency Order #3 dan Forward Dane. Pejabat kesehatan masyarakat mengatakan saat ini ada batas 250 orang di acara luar ruangan, menghilangkan kemungkinan World Dairy Expo dapat berlangsung.

Acara tahunan ini dihadiri lebih dari 62.000 peserta dari hampir 100 negara pada tahun 2019. Sebagai tempat pertemuan industri susu global, World Dairy Expo menyatukan inovasi produk susu terbaru dan sapi terbaik di Amerika Utara. (Dari dairyglobal.net)

AYAM KERDIL KEUNTUNGAN NIHIL

Segera lakukan afkir ayam yang bobotnya tidak sesuai target. (Foto: Istimewa)

Di zaman now ayam broiler memiliki performa yang sangat pesat dan cepat. Dalam waktu sebulan, broiler dapat dipanen dengan berat dua kilogram bahkan lebih. Namun ada kalanya broiler mengalami kekerdilan, jika sudah begini harus berhati-hati.

Secara genetik ayam ras pedaging maupun petelur memang didesain sedemikian rupa agar menghasilkan pertumbuhan dan performa produksi yang cepat. Hal ini tentunya dalam rangka memenuhi kebutuhan protein hewani manusia yang kian hari populasinya kian meningkat.

Namun begitu di lapangan banyak terjadi abnormalitas pertumbuhan ayam khususnya broiler, meskipun memang banyak faktor yang melatarbelakanginya. Sudah begitu masalah pertumbuhan pada ayam broiler akan terkait erat dengan profit yang didapat, semakin cepat ayam tumbuh besar semakin cepat dipanen, maka akan semakin irit konsumsi pakannya dan semakin kecil nilai konversi pakannya, idealnya begitu.

Masalah Klasik Nan-Multifaktor

Kembali ke sumber masalah, terkait kekerdilan hal ini sangat sering terjadi di lapangan dan masih menjadi musuh klasik yang sering peternak temui di lapangan. Dijelaskan oleh Prof I Wayan Teguh Wibawan, konsultan peternakan unggas sekaligus guru besar FKH IPB, bahwa sindroma kekerdilan atau Runting-Stunting Syndrome (RSS) sering terjadi pada ayam, kebanyakan broiler.

“Pertumbuhannya melambat, yang seharusnya usia sekian target bobotnya sekian malah jadi menurun dan enggak sampai. Ini sering terjadi di farm, kausanya juga multi-kausa, walaupun ada beberapa hal yang sifatnya infeksius,” tutur Wayan.

Infeksius yang dimaksud Wayan yakni keberadaan infeksi dari Reovirus. Menurutnya Reovirus merupakan salah satu virus yang umumnya diisolasi pada kejadian RSS, namun begitu selain dari Reovirus faktor lain juga dapat mendukung jalannya penyakit.

Gejala klinis yang nampak dari penyakit ini secara umum tentu saja terhambatnya pertumbuhan, lebih spesifik lagi menurut Wayan ada abnormalitas pada pertumbuhan bulu sayap.

“Namanya helicopter disease kalau Reovirus sudah menyerang, bulu sayap premires (primer) biasanya tumbuh tidak normal, kadang patah, kadang bengkok, seperti baling-baling helikopter, makanya dinamakan penyakit helikopter,” jelas dia.

Sementara kasus kekerdilan yang terjadi di lapangan menurut Technical Service PT Japfa Comfeed Indonesia, Imam Mahmudin, sering terjadi pada broiler dan sulit dibedakan. Peternak sendiri pun cenderung... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2020) (CR)

HATCHCARE FOR TURKEYS: KERJASAMA HATCHTECH DAN WILLMAR POULTRY INNOVATIONS

From l to r: Jonathan Huisinga, R&D Director of Willmar and Rick Huisinga, CEO of Willmar. Joost ter Heerdt, Commercial Director at HatchTech and Tjitze Meter, Founder and CEO of HatchTech.

HatchTech, produsen terkemuka peralatan inkubasi, dan Willmar Poultry Innovations (Willmar), inovator terkemuka dunia untuk produk terkait kalkun, berkolaborasi dalam upaya penelitian dan pengembangan substansial untuk mengaplikasikan produk HatchCare pada day old turkey (poults/kalkun umur sehari).

Investasi bertahun-tahun dan pengujian untuk kalkun telah membuahkan hasil yang positif. Willmar sekarang dalam proses memperluas fasilitas penelitian dan pengembangan mereka, menambahkan sistem HatchCare ke dalam prosesnya, untuk meningkatkan kapasitas pengujian dan memungkinkan uji coba lapangan skala besar.

Willmar dan HatchTech akan bekerja dalam kemitraan untuk memantau hasil, mengumpulkan data, dan mengukur kinerja dan dampak kesehatan terhadap unggas dari sistem ini. Karena ekspektasi hasil yang positif dari upaya ini, Willmar telah menjadi distributor eksklusif untuk penjualan HatchCare for Turkeys di Amerika Serikat dan Kanada.

Joost ter Heerdt, Direktur Komersial HatchTech, melihat kemitraan ini sebagai langkah positif bagi kedua perusahaan, “Kami sangat senang dengan prospek HatchCare memasuki pasar kalkun melalui perjanjian dengan Willmar ini. Pengetahuan kalkun mereka dan keahlian kami dengan air dan pakan akan menjadikan ini kemitraan yang hebat. Kami yakin semua pihak yang terlibat akan mendapatkan keuntungan dari ini, terutama calon pelanggan kami."

Rick Huisinga, CEO Willmar memiliki pandangan yang sama positifnya, “Tes skala kecil kami pada kalkun sangat positif. Sekarang saatnya untuk langkah besar berikutnya dalam siklus pengembangan produk kami, mengumpulkan data skala penuh. HatchTech telah mengembangkan solusi terbaik di dunia untuk memberikan pakan, air bersih, dan lingkungan yang ideal untuk anak ayam yang baru menetas, dan kami yakin potensi yang sama ada pada anak kalkun. Masa depan HatchCare for Turkeys cerah!”

KURBAN SECARA DARING

 



Oleh : Rochadi Tawaf

Dewan Pakar PB ISPI dan Penasehat PP PERSEPSI

 

Beberapa hari lalu hari raya kurban dengan tiga hari tasrik, telah dilakukan pemotongan hewan yang dilakukan oleh orang-orang muslim yang mampu. Tahun ini, pemotongan hewan kurban berbeda dengan tahun-tahun lalu. Situasi saat ini, orang menyebutnya sebagai era baru pandemic covid-19 (C-19).

Di era ini, semua sector tanpa kecuali mulai menyesuaikan diri dengan protocol C-19. Demikian halnya dengan ritual pemotongan ternak pada saat idul kurban tahun ini. Sesuai dengan Surat Edaran kementrian Agama No. 18 Tahun 2020 dan Surat Edaran Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, No. 00008/SE/PK.320/F/06/2020 Tentang Pelaksanaan Kegiatan Kurban dalam Situasi Wabah Bencana Non Alam C-19. Keputusan Gubernur Jabar No. 443/Kep.376-Hukham/2020 tentang Protokol Pemeriksaan Penjualan dan Penyembelihan Hewan Kurban serta Distribusi Hewan Kurban selama Pandemi C-19. Semua kebijakan tersebut utamanya ditujukan untuk mengendalikan perkembangan virus C-19.

Beberapa fenomena yang terjadi saat ini berkaitan dengan ritual idul kurban, telah menjadi kendala namun sekaligus merupakan peluang adalah sebagai berikut:

Pertama, bagi masyarakat yang biasa menyelenggarakan dan menerima titipan hewan Kurban, khususnya Masjid-masjid yang tidak mememiliki kemampuan melaksanakan syarat ketentuan potokol C-19 sesuai kebijakan pemerintah, memilih untuk tidak menerima titipan hewan kurban, karena mereka menyadari akan resiko yang mungkin terjadi.

Kedua, bahwa dampak pandemic C-19 ternyata telah menurunkan daya beli Mudhohi (pekurban). Hal ini ditunjukan dengan menurunnya transaksi jual beli ternak kurban, pada tahun ini dibandingkan tahun lalu. Selain hal tersebut, menurut informasi dari beberapa pedagang ternak kurban, bahwa omzet penjualannya tahun ini menurun sekitar 30-50%. Selain itu, telah terjadi pula fenomena pergeseran pembelian hewan kurban dari yang berukuran besar (mahal) ke yang lebih kecil (murah). Sesungguhnya,  kebijakan pemerintah mengenai tidak adanya pemberangkatan ibadah haji, disertai himbauan melakukan ibadah kurban di dalam negeri, merupakan peluang peningkatan permintaan akan hewan kurban.

Ketiga, bertepatan hari raya kurban jatuh pada hari Jumat. Selain  itu pemerintah menghimbau bahwa pemotong ternak sebaiknya dilakukan di RPH. Kondisi ini menimbulkan jumlah ternak yang disembelih akan bertumpuk pada hari sabtu dan minggu. kondisi ini, ternyata dilapangan tidak didukung oleh infra struktur RPH yang memadai, sehingga lagi-lagi  menyulitkan para mudhohi yang berkeinginan untuk berkurban.

Berdasarkan berbagai fenomena yang terjadi tersebut, kini bermunculan sistem perdagangan, maupun pelaksanaan dan distribusi hewan Kurban yang dilakukan secara daring. Sebut saja beberapa perusahaan yang berbasis daring seperti marketplace nya di Tokopedia, Bukalapak, Bli-Bli dsb, yang hanya menjual ternak milik orang lain. Selain itu ada juga perusahaan peternakan yang memiliki budi daya ternak, menyelenggarakan pemotongan dan juga mendistribusikannya. Kegiatan ini dilakukan secara daring, oleh perusahaan tersebut.

Era Disruption

Di era pandemic C-19 saat ini, yang bertepatan dengan era revolusi industry 4.0, disebut juga sebagai era disrupsi. Di era ini, dicirikan dengan berkembangnya teknologi robotic, dimana berbagai teknologi yang dihubungkan dengan jaringan internet yang dikenal konsep IoT (semuanya serba internet atau internet untuk semua). Era ini, sesungguhnya merupakan momentum strategis bagi setiap sector untuk berinovasi dan berubah guna menyongsong masa depan. Jika saja kegiatan usaha di sector peternakan tidak berubah atau tidak mengubah dirinya atau tidak mampu menyesuaikan diri dengan teknologi yang tengah berkembang, maka dengan sendirinya sector tersebut akan tertinggal.

Konsep dasar yang digunakan dalam teknologi daring pada bisnis daging sapi adalah transparansi. Dengan konsep transparansi maka akan muncul “kepercayaan” baik bagi konsumen maupun produsen. Tingkat kepercayaan inilah sebagai titik awal pertumbuhan dan perkembangan usaha bisnis daging sapi secara digital di era ini.

Dalam perkembangannya, bisnis peternakan sapi potong telah terjadi disrupsi pada susbsistem hilir. Perkembangan bisnis  daring di subsistem hilir tumbuh sangat cepat di bandingkan di hulunya. Di era pandemic C-19, beberapa bulan lalu (Bulan maret sd Juli), telah terjadi pertumbuhan positif bisnis daring daging sapi di sub sistem hilir yang cukup signifikan. Bahkan, omzetnya ada yang tumbuh mencapai 600%. Kecepatan pertumbuhan ini, tidak mampu diimbangi oleh pertumbuhan subsistem hulu dan budidaya. Sehingga telah terjadi disrupsi inovasi terhadap bisnis budidaya sapi potong di dalam negeri.

Ketidak mampuan produksi domestik untuk memenuhi kebutuhan konsumen telah di manfaatkan dan di intervensi oleh daging impor  yang  mendistorsi pasar daging domestik. Fakta ini merupakan bukti bahwa negeri ini sudah berada di posisi kondisi keterperangkapan pangan daging sapi. Yaitu, kondisi dimana ketergantungan terhadap daging impor untuk memenuhi kebutuhan konsumen di dalam negeri semakin membesar.

Tebar Kurban

Tebar Kurban (istilah dari PT Agro Investama), merupakan konsep bisnis pemasaran hewan kurban secar daring, yang terintegrasi dari subsistem hulu ke hilir secara kaptif (closed loop business). Dimana fungsi subsistem hilir sebagai lokomotif akan mampu menarik dan menggerakan gerbong budidaya untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang sangat transparan. Setiap pelaku bisnis sebagai aktor dalam system rantai pasok nya telah mampu menjalankan fungsi dan perannya, sehingga melahirkan efisiensi produksi, dan produk yang dihasilkan memiliki daya saing tinggi.

Konsep tebar kurban, mampu meyakinkan mudhohi (dimana saja mereka berada tanpa batas ruang dan waktu) untuk membeli hewan kurban dengan spesifikasi harga, kualitas dan kuantitasnya yang transparan. Pemotongan ternak dapat disaksikan pula melalui jaringan internet dalam waktu yang ditentukan atas kesepakatan. Demikian pula, pengelolaan pasca potong dan distribusi tepat sasaran (sampai ke mustahik) dapat diketahui dengan sangat jelas melalui pemberdayaan pola distribusi yang ada. Misalnya, memanfaat jaringan Go Send pada aplikasi ojek online. Kesemua program ini menggunakan sistem aplikasi yang dirancang dan mampu meyakinkan mudhohi untuk mengetahui proses ritual kurban, sejak membeli ternak,  penyembelihan hingga distribusinya sampai ke mustahik. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya jumlah mudhohi dalam mengikuti program tebar kurban secara daring dari tahun ke tahun.

Kiranya konsep tebar kurban secara daring dapat dijadikan inspirasi pengembangan sistem bisnis masa depan di sector peternakan yang mampu menggerakkan subsistem budidaya. Sehingga konsep ini merupakan salah satu solusi pengendalian disrupsi inovasi seperti yang tengah terjadi pada kasus bisnis daging sapi saat ini…. Semoga.

BINCANG BIOKIMIA SERI 1: FERMENTASI TINGKATKAN KUALITAS PAKAN

Webinar bertajuk BINCANG BIOKIMIA Seri 1 dengan topik “The Prospect of Microbes in Feed Fermentation”. (Foto: Istimewa)

Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM), Prof Dr Zaenal Bachruddin, mengatakan bahwa proses fermentasi akan membuat kualitas pakan meningkat, serta berpengaruh terhadap produktivitas ternak dan kualitas produknya. 

Hal itu ia sampaikan dalam webinar bertajuk BINCANG BIOKIMIA Seri 1 dengan topik “The Prospect of Microbes in Feed Fermentation”, Kamis (27/8/2020). 

“Proses fermentasi menjadikan kualitas pakan meningkat dan berpengaruh terhadap produktivitas ternak serta kualitas produk. Penambahan bakteri asam laktat sebagai starter fermentasi tidak hanya berupaya menurunkan pH lebih cepat, akan tetapi juga dapat mencegah bakteri patogen yang berbahaya bagi ternak seperti E. coli,” ujar Prof Zaenal.

Ia yang memiliki banyak pengalaman dalam pengembangan pakan fermentasi dan aplikasinya pada ternak, telah mendapatkan bakteri Bacillus subtilis 11A yang diketahui memiliki kemampuan dalam proses fermentasi yang baik.

“Pemanfaatan bakteri tersebut dalam pakan fermentasi dapat menghasilkan domba dengan tingkat produktivitas yang lebih tinggi,” ucapnya.

Sementara pembicara lain yang juga memiliki pengalaman sama yakni Japan International Research Center for Agriculture Science, Yimin Cai, menambahkan bahwa pemanfaatan hijauan untuk membuat pakan fermentasi dapat dilakukan dengan penambahanan bakteri asam laktat.

“Pemanfaatan teknologi pakan fermentasi tidak hanya untuk menyediakan pakan bagi ternak, akan tetapi berkaitan dengan mendukung peternakan yang berkelanjutan (sustainable livestock production),” kata Cai.

Berdasarkan hasil penelitian yang ia lakukan, pakan fermentasi dapat menurunkan produksi metan pada ternak ruminansia. Tentu hal tersebut akan menguntungkan karena dapat menurunkan emisi gas rumah kaca yang berdampak terhadap global warming, selain itu meningkatkan optimalisasi nutrien pakan untuk produktivitas ternak. (IN)

DIRJEN PKH URAIKAN 4 TEROBOSAN ; DOWNLOAD DI SINI MATERI PRESENTASINYA

Prof Ali Agus (kiri) dan Dirjen PKH Dr Nasrullah
Dirjen PKH Dr Ir Nasrullah MSc menjelaskan empat program terobosan di webinar Forum Diskusi Publik  bertajuk Menghadapi Resesi Ekonomi yang diselenggarakan oleh PATAKA (Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi), Jumat (4/9/20) .

Webinar diikuti sekitar 40an peserta dari kalangan pemerintah dan pelaku usaha peternakan, dipandu oleh pimpinan Pataka Yeka Hendra Fatika, menghadirkan Dirjen PKH Nasrullah dan Dekan Fapet UGM Prof Ali Agus.

Dalam makalah berjudul Terobosan Kementerian Pertanian dalam Melindungi Peternak , Dirjen menguraikan 4 program terobosan Kementan di bidang peternakan yaitu program super prioritas 1.000 desa sapi, pengembangan korporasi/kawasan komoditas, program Sikomandan (Sapi Kerbau Komoditas Andalan), dan pengembangan produk ekspor.

Klik Gambar di atas untuk down materi webinar
Dirjen menjelaskan, program 1.000 desa sapi dijalankan dengan prinsip pengelolaan korporasi dimana satu korporasi terdiri dari 5-10 desa dengan aset indukan minimal 500 ekor dan Bakalan penggemukan 500 ekor. Satu Desa memiliki 1 Kandang Komunal dalam satu manajemen berorientasi Bisnis, menjalankan sistem agribisnis hulu-hilir dan mengembangkan pola kemitraan.

Program 1.000 Desa sapi meliputi 4 kegiatan utama yaotu Pembiakan :

  1. Indukan penghasil Bakalan dan Calon Induk
  2. Pengemukan : Bakalan penghasil Daging
  3. Hilirisasi Produk : Olahan Daging (Pangan) dan Olahan Non Pangan
  4. Usaha Pakan

Materi lengkap presentasi Dirjen download dengan klik bagian gambar/ilustrasi judul materi "Terobosan Kementerian Pertanian dalam Melindungi Peternak"

Sementara itu Prof Ali Agus dalam presentasinya yang berjudul Urgensi Perlindungan bagi Peternak Ruminansia menjelaskan lima langkah yang diberi nama Panca Krida Jihad Kedaulatan Pangan, yang meliputi :

  1. Komitmen Politik dan Sinergitas Kebijakan
  2. Optimalisasi pemantaan lahan untuk ruminansia
  3. Kemandirian proses produksi ternak bibit , pakan , alsintan
  4. Promosi konsumsi pangan hasil ternak lokal (daging , susu)
  5. Penguatan sinergitas kelembagaan (peternak , perbankan , akademisi , birokrasi)
"Lima aspek ini harus menjadi perjuangan kita dalam mengembangkan peternakan dan melindungi peternak," ujar Ali.

KERJA SAMA KEMENTAN-TNI AD DALAM SP3 1.000 DESA SAPI

Pertemuan penyusunan perjanjian kerjasama Kementan dengan TNI AD di IPB International Convention Center. (Foto: Humas PKH)


Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peterakan dan Kesehatan Hewan bersama TNI AD melakukan penyusunan perjanjian kerja sama terkait dukungan pendampingan Super Prioritas Program Peternakan (SP3) 1.000 desa sapi.

Menurut Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Nasrullah, bahwa pelaksanaan program peternakan ini sebagai instruksi presiden. Sebagai tindaklanjut Menteri Pertanian dan Panglima TNI telah menandatangani dengan Nota Kesepahaman No. 10/MOU/HK.220/M/4/2020 pada 1 April 2020 tentang Dukungan Pelaksanaan Program Pembangunan Pertanian.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian, kita perlu bersinergi dalam mengoptimalisasikan program untuk mencapai keberhasilan pelaksanaan program 1.000 desa sapi,“ ujar Nasrullah saat membuka pertemuan penyusunan perjanjian kerjasama Kementan dengan TNI AD di IPB International Convention Center.

Nasrullah menyampaikan dalam situasi pandemi COVID-19 ini, pemerintah terus berupaya memenuhi kecukupan pangan khususnya protein hewani, untuk itu diperlukan akselerasi peningkatan populasi sapi dan produksi daging sapi melalui program 1.000 desa sapi yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan peternak.

“Program ini telah bersinergi dengan grand design, Rencana Pembangungan Jangka Menengah Nasional dan Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2020-2024” ucap dia.

Lebih lanjut disampaikan bahwa SP3 1.000 desa sapi tahun anggaran 2020 merupakan kegiatan pengembangan sapi indukan dan sapi bakalan dengan berbasis korporasi petani/peternak. Sebagai pilot project akan diimplementasikan di lima provinsi pada 2020 ini, diantaranya Lampung, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. 

“Kedepannya berdasarkan evaluasi pilot project, diharapkan pada tahun mendatang program ini dapat direplikasi ke seluruh provinsi di Indonesia atau 1.000 desa sesuai potensi dan kriteria, sehingga target penambahan populasi dan pemenuhan protein hewani bagi seluruh masyarakat di Indonesia dapat tercapai,” jelas Nasrullah.

Perjanjian kerja sama tersebut melingkupi pembinaan dan pendampingan program, penyelesaian permasalahan sesuai tupoksi para pihak dan memberikan motivasi dan mobilisasi penerima manfaat dalam pelaksanaan kegiatan program, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

“Dukungan TNI AD melalui Babinsa diharapkan mampu meminimalisir risiko permasalahan yang mungkin akan terjadi di lapangan sesuai dinamika masyarakat desa agar dapat berjalan lebih baik” imbuhnya.

Seiring dengan penegasan Dirjen PKH, Asisten Teritorial Kepala Staf TNI AD, Nurchahyanto memberikan apresiasi dan dukungannya. “Sebagai program super prioritas tentunya nilainya sangat strategis, begitu PKS (Perjanjian Kerja Sama) ditanda tangani, kami segera bersinergi dengan melakukan sosialisasi ke semua lini TNI AD terkait kerjasama ini,” katanya. (INF)

DISKUSI MEJA MAKAN DEMI STABILKAN PERUNGGASAN

Diskusi dan ramah tamah stakeholder perunggaan

Selasa (1/9) yang lalu Kementerian Pertanian mengundang para perwakilan perusahaan integrator untuk melangsungkan rapat bertajuk rapat evaluasi stabilisasi supply dan harga live bird di tingkat peternak. Ini merupakan tindak lanjut dari rapat koordinasi tanggal 28 Agustus 2020 yang lalu. 

Rencananya rapat akan membahas dan mengevaluasi SE Dirjen No. 09246/SE/PK.230/F/08/2020 tentang pengurangan DOC FS ayam ras pedaging melalui Cutting HE, penyesuaian setting HE dan afkir dini PS tahun 2020.

Restoran Omah Pawon di yang berlokasi di Jalan Ampera menjadi tempat digelarnya rapat tersebut. Sejumlah perwakilan perusahaan integrator, organisasi peternak (GOPAN) hadir memenuhi undangan tersebut, namun tidak terlihat perwakilan kementan sekelas pejabat eselon di tempat tersebut. 

Pada dasarnya perusahaan integrator menyetujui usulan yang diberikan pada rapat sebelumnya seperti kebijakan on - off berjualan live bird. Beberapa diantara mereka juga mengatakan bahwa telah memaksimalkan penggunaan fasilitas cold storage-nya dalam penerapan kebijakan ini.

Bisa dibilang harga live bird sendiri pun minggu ini sudah naik ketimbang minggu lalu, terutama di daerah Sukabumi, Jabodetabek, dan Banten. Namun begitu harga yang berlaku memang masih belum harga yang diidamkan atau diinginkan oleh peternak.

Ketua Dewan Pembina GOPAN, Tri Hardiyanto dalam acara tersebut mengatakan dengan diberlakukannya sistem on-off (sehari menjual sehari tidak), para perusahaan besar otomatis merelakan lapaknya digeser untuk sementara.

"Untuk peternak, sehingga kalau ini dipatuhi live bird milik peternak dapat terserap oleh pasar, untuk para integrator memang harus masuk cold storage dulu, minimal 40% lah, kalau bisa lebih. Ini akan membantu mendongkrak harga," tutur Tri.

Ketika ditanya perihal afkir dini PS dan pengurangan HE, Tri menjawab bahwa masih terus dikaji ulang. Pasalnya, ia juga tidak mau kesalahan yang dilakukan pada 2019 lalu terulang dan malah menjadi bumerang bagi peternak.

"2019 kita memang setelah cutting, afkir dan lain - lain harga bagus. Tapi dominonya apa?, harga DOC naik gila-gilaan, semua kesulitan DOC. Repot lagi setting ulang. Setelah kandang isi penuh barenga -bareng, harga jual enggak masuk. Bangkrut lagi, makanya ini harus diperhatikan, dan benar - benar diperhitungkan matang - matang," pungkas Tri.

Selain itu dalam pertemuan tersebut juga dibahas mengenai kelihaian broker dalam mencari celah. Seorang perwakilan PT Ciomas Adisatwa mengatakan bahwa di daerah Jawa Barat, khususnya Bogor, ada dua broker besar yang dapat mengontrol harga, oleh karenanya baik peternak mandiri, kemitraan dan lainnya harus bisa menahan diri dan tidak kalah oleh broker. (CR)


MENTERI PERTANIAN MELEPAS EKSPOR PERDANA SUNNYGOLD KE JEPANG

Menteri Pertanian RI Dr H Syahrul Yasin Limpo SH MSi MA melepas ekspor perdana produk olahan ayam SunnyGold produksi PT Malindo Food Dellight, anak usaha PT Malindo Feedmill Tbk.

Berlangsung di Cikarang, Kabupaten Bekasi pada Selasa (1/9/2020), pelepasan tersebut turut dihadiri oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Dr Ir Nasrullah MSc, Kepala Badan Karantina Pertanian Ir Ali Jamil MP PhD, Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Ir Abdul Rochim Msi, Dirjen Perkebunan Dr Ir Kasdi Subagyono MSc, dan Dirjen Tanaman Pangan Dr Ir Suwandi MSc.

Acara dibuka dengan sambutan Direktur PT Malindo Food Delight Ir Rewin Hanrahan yang menjelaskan bahwa setelah ekspor ke Jepang ini, dalam waktu dekat juga akan melakukan ekspor ke Papua Nugini dan Timor Leste.

Saat pelepasan Menteri Pertanian mengatakan di masa pandemi COVID-19 justru ekspor pertanian menunjukkan tren positif. Pada bulan Juli 2020 tumbuh 24,1% dibanding dengan bulan sebelumnya. Menurutnya produk olahan peternakan berpoptensi dikembangkan menjadi komoditas ekspor unggulan.

"Ekspor ini adalah sebuah prestasi, mengingat Jepang termasuk negara yang paling ketat dalam hal keamanan pangan, dan semua produk yang kita ekspor ini telah disertai sertifikat VHC (Veterinary Health Certificate) sebagai jaminan keamanan pangan dari Indonesia kepada Jepang," kata Menteri Pertanian.

Setelah pemotongan pita dan kunjungan ke tempat produksi oleh Menteri Pertanian dan jajaran direksi Malindo Food Delight, satu kontainer berisi 6 ton makanan olahan ayam resmi dilepas ke Jepang. (NDV)

LAGI, PETERNAK SERBU KEMENTAN TUNTUT STABILKAN HARGA AYAM

Ratusan peternak kembali geruduk kementan, selasa (1/9) menuntut penstabilan harga 


Untuk kesekian kalinya peternak ayam broiler yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) kembali melancarkan demonstrasi ke Kementerian Pertanian Selasa (1/9) terkait kondisi harga panen livebird yang tidak kunjung mentas dari keterpurukan.

Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi yang juga ikut serta dalam aksi demonstrasi tersebut mengatakan anjloknya harga ayam berefek kepada para peternak di seluruh Indonesia. 

“Harga jual rendah jika dibandingkan dengan biaya pokok produksi, sehingga semua ini berefek pada para peternak,” kata Sugeng saat ditemui di lokasi.

Oleh karena itu, peternak menggelar aksi di Kementan. Dalam aksi tersebut, mereka menuntut terkait harga ayam yang harganya di atas biaya produksi, juga menuntut diterbitkan Keputusan Presiden (Keppres). 

“Dengan adanya Keppres ada kemungkinan bahwa peternak mandiri akan terlindungi," ujar Sugeng.

Dia menjelaskan, sejauh ini Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) belum mampu melindungi para peternak ayam mandiri. Terutama para peternak kecil. 

"Ini bentuk keprihatinan para peternak yang pemerintah mesti respon. Carikan jalan keluarnya atau mereka akan gulung tikar," kata Sugeng.

Dalam kesempatan yang sama koordinator aksi, Alvino Antonio juga menyampaikan bahwasanya aksi ini merupakan bentuk keprihatinan bagi peternak ayam mandiri.

"Ini bentuk keprihatinan, karena realisasi kehidupan kami peternak ayam boiler semenjak tahun 2018 terulang dan terulang terus dengan harga dibawah HPP," kata dia.

Dia mengatakan, selama bertahun-tahun mereka sudah menjadi korban dan sudah tidak memiliki apapun. Sehingga, menurutnya wajar jika mereka menuntut di Kementan karena Kementan merupakan rumah bagi para peternak.

“Di luar sana banyak peternak yang hutangnya menggunung karena harga anjlok, mau ditunggu sampai mereka bubar dan gulung tikar?," tutur Alvino.

Seusai melakukan aksi unjuk rasa, massa menutup aksi di Kementan dengan membagikan ayam broiler hidup sebanyak enam box ke para pengguna jalan. Massa membagikan ayam tersebut sambil berteriak “ayam gratis, ayam gratis”, sambil memasukkan ayam tersebut ke dalam mobil dan motor yang melintas. (CR)

BERKOPERASI ALA PINSAR INDONESIA


Teten Masduki menyerahkan seritifkat badan hukum koperasi milik Pinsar Indonesia

Salah satu Badan Usaha yang diklaim menjadi identitas bangsa adalah koperasi. Sebuah unit usaha yang bergerak dalam bidang apapun jika diintegrasikan dalam bentuk koperasi yang solid maka dapat dipastikan usaha tersebut akan maju.

Hal ini terlontar dari mulut Ketua Umum PINSAR Indonesia Singgih Januratmoko di Parung 31 Agustus 2020 yang lalu dalam acara penyerahan sertifikat badan hukum koperasi milik Pinsar Indonesia. Singgih mengatakan bahwa koperasi ini dibentuk sebagai bentuk perjuangan peternak mandiri dari ketergantungan akan DOC dari integraror.

"Ini koperasi pertama yang bergerak di bidang indukan (GPS). Harapannya kita bisa mulai mengurangi ketergantungan bibit dan peternak bisa mendapatkan bibit yang berkualitas dengan harga terjangkau," tutur Singgih.

Menteri Koperasi & UKM Teten Masduki yang hadir menyerahkan sertifikat badan hukum koperasi milik PINSAR mengatakan bahwa sudah menjadi keniscayaan bagi para peternak mandiri yang skala usahanya tergolong UMKM untuk membentuk koperasi, ia bahkan menganjurkan peternak ayam di Indonesia agar mengikuti langkah yang dilakukan Singgih.

"Pemerintah berkomitmen melindungi dan tentunya membantu orang - orang untuk bisa tumbuh melalui koperasi, karena saat ini peternak mandiri berskala kecil sulit bersaing dan mendapatkan pasar," kata Teten. 


Dalam waktu dan kesempatan yang sama, Teten juga meresmikan fasilitas produksi ayam kampung olahan milik PT Sumber Unggas Indonesia. (CR)

 


MENTERI KOPERASI & UKM RESMIKAN FASILITAS PRODUKSI OLAHAN AYAM KAMPUNG

 

Teten Masduki meresmikan fasilitas produksi milik PT SUI


Senin 31 Agustus 2020 menjadi hari bersejarah bagi PT Sumber Unggas Indonesia. Pasalnya fasilitas produksi ayam olahan teranyar mereka yang berlokasi di Parung diresmikan oleh Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki.

Direktur Utama PT Sumber Unggas Indonesia Naryanto dalam sambutannya mengatakan seyogianya Indonesia berbangga pasalnya Indonesia dianugerahi keanegaraman hayati yang melimpah oleh Tuhan. Oleh karenanya PT SUI sebagai perusahaan yang concern dan bergerak di bidang ayam asli Indonesia berupaya ikut melestarikan, membangun, dan mengintroduksi ayam asli Indonesia kepada masyarakat.

“SUI bergerak di hulu dan hilir, yang teranyar adalah fasilitas produksi ini yang menghasilkan produk ayam olahan siap masak. Ayam kampung nyatanya memiliki prospek yang meyakinkan dan diminati kalangan menengah ke atas. Kami juga berusaha menghasilkan produk ayam olahan yang diproses sesuai standar higien dan sanitasi tidak lupa juga aspek legalitas berupa NKV, sertifikat halal MUI, dan ISO,” tutur Naryanto.

SUI juga sedang gencar membuka program reseller, dimana hingga kini 150 reseller produk ayam olahan dengan merk NatChick telah tersebar di seluruh Indonesia. Hingga akhir tahun 2021 Naryanto memasang target untuk menggaet sekitar 1500 reseller di seluruh Indonesia. 

Sementara itu Menteri Koperasi & UKM Teten Masduki mengatakan bahwa pemerintah akan mendukung sepenuhnya pengembangan UMKM. Terutama dalam hal akses permodalan melalui perbankan dengan fasilitas pinjaman dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). 

"Kami juga menyarankan Pak Naryanto untuk ikut tender dan lelang untuk belanja keperluan BUMN dan lembaga Negara, karena ini kita di masa pandemi memprioritaskan belanja pemerintah kepada UKM. Dana yang digelontorkan untuk program ini kurang lebih 374 M dan 70%-nya dialokasikan untuk UMKM," tutur Teten.

Teten berujar bahwa memang dalam hal peternakan merupakan ranah dari kementerian teknis yakni menteri pertanian, namun apabila masih ada kaitannya dengan UMKM, maka juga merupakan domain dari Kemenkop & UMKM untuk membantu.

Selain meninjau fasilitas produksi, Teten juga menyempatkan diri membuat vlog di kandang pembiakan milik PT SUI dan mempromosikan produk PT SUI utamanya produk ayam olahan NatChick sebagai produk unggulan UMKM di bidang peternakan, khususnya unggas. (CR)

INDO LIVESTOCK VIRTUAL FORUM SERIES 1: BELAJAR DARI PETERNAK SUKSES


PT Napindo Media Ashatama dan Yayasan Pengembangan Peternakan Indonesia (YAPPI) menggandeng Majalah Infovet, Gita Organizer serta media peternakan lainnya, menyelenggarakan Indo Livestock Virtual Forum Series 1 pada Senin (31/8/2020). Webinar ini mengusung tema “Indo Livestock Award Winner Experiences dan Pandemi COVID-19 Sebagai Momentum Perbaikan Usaha Peternakan di Indonesia”.

Acara dibuka dengan sambutan dari jajaran manajemen PT Napindo Media Ashatama yaitu oleh Agung Wicaksono (Project Director), Devi Ardiatne (Project Manager Indo Livestock, Indo Feed, indo Dairy, Indo Fisheries  ), dan Lisa Rusli (Senior Project Manager Indo Agritech dan Indo Vet).


Agung Wicaksono


Devi Ardiatne


Lisa Rusli

Turut menyambut adalah Dr Desianto Budi Utomo MSc PhD, Ketua Umum YAPPI dan Dr Ir Nasrullah MSc, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI.

Dirjen PKH Dr. Ir. Nasrullah MSc

Dalam opening speech nya Nasrullah diantaranya mengatakan di masa pandemi ini masyarakat lebih memilih makanan yang ready to eat dan ready to cook. Hal itu adalah momentum yang semestinya dibuat langkah strategi bagaimana komoditas peternakan bisa menjawab kebutuhan masyarakat.  Webinar ini dipandu dengan apik oleh Agnes Nilam Sunardi sebagai host, dan Ir Setya Winarno, Pengurus YAPPI, sebagai moderator.

Pembicara pertama Prof Dr Ir Muladno MSA, membawakan tema “Pandemi COVID-19 Sebagai Momentum Perbaikan Usaha Peternakan di Indonesia”. Muladno membahas gambaran peternakan sapi dan unggas sebelum pandemi, dampak pandemi terhadap peternakan, prediksi peternakan Indonesia pascapandemi COVID-19, dan langkah-langkah usaha perbaikan yang perlu dilakukan.

Kedua pembicara selanjutnya adalah pemenang Indo Livestock Award Nastiti Adiguna Satwa Nugraha.

Hidayatur Rahman pemilik PT Jatinom Indah, membawakan tema “Upaya Diversifikasi Usaha Untuk Business Sustainability”. Hidayatur memaparkan diversifikasi usaha diperlukan agar usaha bisa berkelanjutan. Diversifikasi yang dipilih bisa yang sejalan atau berbeda dengan usaha yang sekarang digeluti. Asal benar-benar dipersiapkan SDM yang capable, manajemen yang diatur oleh sistem, membangun pasar, dan tidak kalah pentingnya punya energi untuk mengembangkan usaha.

Pembicara selanjutnya, Slamet Wuryadi dari Slamet Quail Farm membawakan tema “Mengembangkan Ekonomi Kerakyatan: Peluang Usaha Ternak Puyuh”. Slamet menjelaskan apa dan bagaimana peternak puyuh, serta bagaimana memulai beternak puyuh. Dia juga mengungkap data omset penjualan telur puyuh yang ternyata cukup besar yaitu sekitar 400-500 ribu rupiah per hari untuk tiap peternak.
Menurutnya keunggulan beternak puyuh adalah:
  • Telur puyuh belum pernah dijual di bawah BEP.
  • Demand akan telur puyuh masih lebih tinggi dari supply.
  • Puyuh tidak memerlukan tempat yang luas.
  • Tahan terhadap faktor penyakit.
  • Feses puyuh bisa digunakan untuk biogas, perikanan, dan pertanian.
Drh Dedy Kusmanagandi MBA, Wakil Ketua YAPPI menutup webinar dengan pembahasan tambahan terhadap materi-materi yang disampaikan sebelumnya. (NDV)


\

DOSEN FAPET UGM KEMBANGKAN PROTOTIPE PEREBAH SAPI PORTABEL

Untuk meningkatkan kesejahteraan hewan pada saat disembelih dan keamanan petugas, tim dosen Fakultas Peternakan (Fapet) UGM yang diketuai oleh Ir Panjono SPt MP PhD IPM ASEAN Eng mengembangkan prototipe portable restraining box (alat perebah sapi portabel) yang diberi nama Gama Abilawa. Alat yang terbuat dari besi/baja pipa ini berupa kandang jepit berbentuk persegi panjang dilengkapi dengan roda sehingga dapat dipindah-pindahkan dengan mudah.

Selama ini, restraining box hanya digunakan di RPH. Belum banyak penyelenggara penyembelihan hewan kurban yang mempunyai restraining box karena tidak melakukan pemotongan sepanjang tahun sehingga penggunaannya menjadi tidak efisien. Tanpa restraining box, perebahan sapi sering dilakukan tanpa metode yang benar dan bahkan cenderung kasar sehingga menyebabkan sapi mengamuk. Sapi yang mengamuk akan sulit dikendalikan dan dapat melukai petugas maupun orang-orang yang berada di sekitar area penyembelihan.

Panjono mengatakan pada Jumat (28/8), portable restraining box diharapkan menjadi terobosan inovatif dan produktif untuk membantu pihak-pihak yang tidak menyelenggarakan penyembelihan sepanjang tahun, misalnya panitia kurban. Alat ini dapat mengurangi perlakuan kurang manusiawi terhadap sapi sebelum disembelih. Sapi yang akan disembelih digiring masuk dengan tenang ke dalam kotak tanpa menyebabkan stres. Ketika sapi telah masuk ke dalam kotak, pintu ditutup kemudian kotak diputar secara manual sehingga posisi sapi sesuai dengan posisi penyembelihan. Selanjutnya, sapi siap disembelih. Dengan alat ini, proses perebahan sapi dapat dilakukan dengan cepat, yaitu tidak lebih dari 3 menit. 

Panjono optimis alat ini akan mampu menjadi solusi bagi masjid-masjid atau lembaga lain yang menyelenggarakan penyembelihan hewan kurban. Diharapkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan restraining box juga meningkat sehingga kesejahteraan hewan kurban  dan keamanan petugas terjaga dengan baik.

Pada hari raya Idul Adha tahun ini, portable restraining box telah diperkenalkan penggunaannya di Masjid Al Islaah dan warga masyarakat di Kampung Nitikan, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta. Penerimaan petugas dan takmir masjid terhadap alat ini pada umumnya sudah baik. 

Dari hasil uji coba tersebut, Panjono beserta timnya akan terus melakukan penyempurnaan terhadap Gama Abilawa, mengajukan hak paten, dan menyosialisasikan penggunaannya kepada penyelenggara penyembelihan hewan kurban lainnya. (Rilis UGM)

MEMPERSIAPKAN MASA DEPAN BISNIS ITIK PASCA PANDEMI

Webinar ILC #edisi10 yang membahas mengenai industri itik Indonesia. (Foto: Istimewa)

Indonesia merupakan salah satu negara dengan populasi penduduk terbesar di dunia yang sangat membutuhkan asupan protein hewani. Saat ini pemenuhannya masih didominasi oleh ayam ras. Namun dalam beberapa tahun ini, permintaan pasar terhadap produk unggas air yakni itik (daging dan telur) kian meningkat. Hal itu tak lepas dari tren kuliner berbahan daging itik yang sedang melanda masyarakat Indonesia, sehingga kini banyak tersaji berbagai kuliner berbahan dasar itik.

Hal itu dibahas dalam Indonesia Livestock Club (ILC) #Edisi10, Sabtu (29/8/2020), yang diselenggarakan Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI), Indonesia Livestock Alliance (ILA) dan Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) dengan mengangkat tema “Masa Depan Bisnis Itik Pasca Pandemi COVID-19”.

Tren tinggi permintaan produk itik seharusnya bisa dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis itik di Indonesia, sehingga peternak itik dapat terus mengembangkan usahanya dalam rangka memenuhi permintaan pasar.

Fakta tersebut sekaligus memberi tantangan dan peluang bagi pemangku kepentingan di industri itik untuk dapat mengembangkan itik baik dari segi penelitian dan pengembangannya, pembibitan, pembudidayaan, hingga ke pasca panen itik, sehingga dapat memanfaatkan peluang pasar peternakan itik.  

Pembudidayaan itik di Indonesia sebenarnya sudah dilakukan masyarakat sejak berabad-abad yang lalu, baik untuk memproduksi telur maupun produksi daging. Namun tren yang terjadi saat ini adalah masyarakat cenderung menggemari daging itik daripada telurnya. Hal itu seperti dikemukakan Ketua Waterfowl Working Group, WPSA Asia Pasifik, Dr L. Hardi Prasetyo dalam presentasinya berjudul “Pembibitan dan Produksi Itik dalam Memenuhi Permintaan Pasar”.

“Permintaan tinggi daging itik yang tidak diimbangi dengan sistem pembibitan yang baik, akan berisiko terjadinya kesenjangan antara permintaan dan kebutuhan, bahkan lebih riskan lagi terjadi pengurasan sumber daya genetik ternak itik Indonesia,” kata Hardi.

Hal senada juga disampaikan oleh Duck Farm Manager PT Satwa Primaindo, Agus Prayitno, melalui materi “Prospek Budi Daya dan Bisnis Itik Pasca Pandemi COVID-19”.

“Tidak hanya sistem pembibitan yang perlu dibenahi, sistem budi daya, tata niaga dan pasca panen itik dari hulu hingga ke hilir juga harus dibenahi. Terlebih pada masa pandemi COVID-19 ini, tidak hanya terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat akan produk hasil unggas air ini, namun juga perubahan dalam pola pembelian daging, tata niaga, serta sistem rantai pasokan bahan bakunya,” ucap Agus.

Para pelaku usaha, terutama dalam hal tata niaga dan pasca panen sangat diperlukan dalam hal ini, terlebih daging itik adalah termasuk bahan baku pangan yang bersifat mudah rusak, sehingga cara penanganannya harus menggunakan sistem rantai dingin yang disiplin dan tertata. Pemerintah dalam hal ini sangat dibutuhkan untuk mengharmonisasikannya sejak dari hingga hilir, sehingga pasca pandemi COVID-19 prospek bisnis itik makin cerah. (IN)

IKUTI WEBINAR PERKEMBANGAN PENYAKIT UNGGAS DI MASA PANDEMI COVID-19


Pandemi covid-19 telah banyak mengubah pola kerja masyarakat Indonesia. Salah satu dampaknya kunjungan technical service ke peternakan menjadi lebih terbatas.  

Dengan keterbatasan kunjungan , monitoring kesehatan unggas kemungkinan juga menjadi terbatas. Kasus-kasus penyakit unggas kurang terpantau dengan optimal.

Minimnya laporan kasus penyakit unggas tidaklah berarti kasus penyakit unggas menurun. Sehubungan dengan hal tersebut ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) bekerjasama dengan GITA Organizer dan Majalah Infovet akan menyelenggarakan Webinar Nasional Kesehatan Unggas yang akan mengulas situasi penyakit unggas di masa pandemi covid-19.

Seminar Nasional Kesehatan Unggas merupakan seminar tahunan yang diselenggarakan ASOHI untuk membahas perkembangan terkini tentang kesehatan unggas. Mengingat saat ini masih dalam situasi pandemi covid-19 maka acara seminar nasional diselenggarakan dalam bentuk webinar (seminar online).

Webinar Nasional Kesehatan Unggas akan dilaksanakan pada :

Hari / Tanggal            : Rabu, 9 September 2020
Waktu                         : 13.00 – 15.30 WIB
Platform                      : Zoom Online

Tema : “Perkembangan Penyakit Unggas di Masa Pandemi Covid-19” 

NARASUMBER:

1. Dr. drh.NLP.Indi Dharmayanti, MSi (Kepala BBalitvet)
“Perkembangan penyakit viral pada unggas di masa pandemi covid-19” 

2. Prof. Dr. drh. Michael Haryadi Wibowo, M.P. (Guru besar FKH UGM)
“Pengendalian Penyakit Unggas di masa Pandemi Covid 19”

Moderator:  Drh Andi Wijanarko

BIAYA PENDAFTARAN :
Umum                  : Rp, 150.000/orang
Mahasiswa/dosen : Rp. 50.000/orang

REGISTRASI ONLINE : klik bit.ly/SKU2020

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
- Aidah Hp. 62 818 0659 7525 
- Mariyam Hp. 62 8777 829 6375 



RUPS MALINDO: TAHUN 2020 INI KAMI TIDAK MEMBAGI DIVIDEN

Direktur Malindo, Rewin Hanrahan dan Rudy Hartono Husin

Dalam public expose setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa yang diadakan di Hotel Kristal Jakarta, Jumat (28/8/2020), PT Malindo Feedmill Tbk menyatakan mereka tahun ini tidak membagi dividen.

Hal itu dilakukan mengingat saat ini seluruh dunia dan Indonesia sedang mengalami pandemi COVID-19 yang membuat pertumbuhan ekonomi sangat melambat dan bahkan negatif. Seluruh laba yang diperoleh di tahun 2019 akan digunakan untuk operasional perusahaan dan mempertahankan kinerja perusahaan serta untuk pembangunan ke depan.

Sementara itu untuk proyeksi pendapatan di tahun 2020 Malindo memperkirakan akan mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Pertumbuhan ekonomi yang negatif mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat secara keseluruhan, yang imbasnya perusahaan juga mengalami penurunan terutama karena melemahnya harga jual dari produk-produk. Diperkirakan bahwa pendapatan akan mengalami penurunan sebesar sekitar 10-20% di 2020 tergantung keadaan pasar.

Mengingat pasar selama pandemi COVID-19 terutama pasar tradisional terdampak, Malindo mencoba untuk mencari pasar-pasar lain terutama pasar makanan olahan yang selama pandemi ini cukup baik perkembangannya. Hal itu akan dapat membantu kinerja perusahaan di samping juga akan mencari pasar-pasar di luar negeri.

Rencana ekspor akan dilakukan di Q3 dan Q4 tahun ini. Negara tujuan yang sudah ada progress adalah Jepang, Timor leste, dan Papua Nugini. Saat ini fokus ekspor adalah produk makanan olahan hasil produksi anak perusahaan, PT Malindo Food Delight.

Malindo melihat bahwa dengan kondisi COVID ini ada pergeseran demand dari produk poultry yang fresh ke produk frozen. Pasar online juga digali untuk memperluas pemasaran produk olahan tersebut. (NDV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer