-->

MEMANFAATKAN HAY UNTUK PAKAN RUMINANSIA

Tujuan pembuatan hay adalah untuk memanen hijauan pada umur optimum, yakni pada saat hijauan menjelang berbunga agar dapat diperoleh nutrisi optimal. (Sumbe: Istimewa)

Hijauan kering atau hay merupakan hijauan pakan yang pada umumnya berasal dari rerumputan atau kekacangan yang sengaja dikeringkan untuk cadangan pakan ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing dan domba. Hijauan yang akan dijadikan hay dipotong pada saat sebelum berbunga, sehingga kandungan nutrisinya masih tinggi.

Hijauan yang telah dipotong segera dikeringkan hingga kadar airnya turun 10-20%. Semakin rendah kadar air, semakin baik pula kualitas hay yang dihasilkan, karena dengan kadar air yang rendah, tidak terjadi lagi respirasi, fermentasi dan tumbuhnya jamur, sehingga hijauan kering menjadi tahan lama dan dapat disimpan dengan tanpa perubahan nyata nilai nutrisinya.

Hijauan segar yang dapat digunakan untuk bahan hay antara lain rumput, tanaman bebijian (serealia), biji-bijian (kekacangan), hasil sisa tanaman pertanian maupun perkebunan. Syarat hijauan yang dapat dibuat hay yakni berasal dari tanaman yang belum terlalu tua, karena kandungan karbohidrat mudah larutnya masih tinggi dan kandungan protein sedang sampai tinggi, serta tidak banyak tercampur dengan hijuan yang tidak dikehendaki.

Tujuan pembuatan hay adalah untuk memanen hijauan pada umur optimum, yakni pada saat hijauan menjelang berbunga agar dapat diperoleh nutrisi optimal, memanen hijauan pakan yang melimpah untuk persediaan pakan pada saat musim paceklik pakan dan mengawetkan hijauan dengan cara menurunkan kadar airnya. Pada ternak ruminansia, hay digunakan sebagai pakan penting untuk sumber energi (jika hay berasal dari rerumputan) dan sumber protein (jika hay berasal dari tanaman bebijian).

Hay berkualitas baik rata-rata mengandung serat kasar antara 25-35% dan total digestible nutrients (TDN) antara 45-55%. Berdasarkan kualitasnya, hay secara umum dibagi menjadi tiga kategori, yakni hay kelas I dengan kandungan protein tidak kurang dari 19% dan serat kasarnya tidak lebih dari 22%, kemudian hay kelas II dengan kandungan protein tidak kurang dari 17% dan serat kasar tidak lebih dari 25%, serta hay kelas III yang kandungan proteinnya 15% dengan kandungan serat kasar tidak lebih dari 28%.

Menurut Ristianto (2015), kualitas hay ditentukan antara lain oleh umur pemotongan hijauan, keadaan daun (rasio antara batang dan daun), warna hay, tingkat kelembutan hay dan banyak atau sedikitnya kotoran atau gulma maupun benda asing dalam hay. Kotoran yang dimaksud adalah benda lain yang tidak dikehendaki, seperti tanaman gulma, bonggol, batang atau benda lain yang berpotensi menurunkan kualitas hay.

Adapun warna hay yang pucat menunjukkan penurunan kualitas hay karena hal itu menunjukkan terjadinya kerusakan provitamin A, yang disebabkan oleh paparan sinar matahari yang terlalu lama. Oleh karena itu, sebaiknya segera setelah cukup masa pengeringan, segera dimasukkan ke gudang untuk menghindari kerusakan. Hay yang berkualitas baik adalah yang beraroma khas menyegarkan, tidak berbau apek atau menyengat. Jika hay berbau apek, berarti telah terjadi penjamuran akibat kadar air bahan hijauan yang masih tinggi pada saat penyimpananan.

Pengaruh Panas Berlebihan Terhadap Warna dan Kehilangan Nutrisi
Parameter
Suhu (°C)
Warna
Bau
Kehilangan MP
Kehilangan DP
Normal
50
Normal
Normal
-
-
Fermentasi>
50-60
Gelap
Menusuk
5-10
10-30
Fermentasi>>
60-70
Cokelat
Sangat menusuk
10-30
30-80
Over heating
>75
Hitam
Terbakar
30-60
80-100
Sumber: Watson (2009) dalam Utomo (2015).
Ket: MP (Martabat Pati), DP (Digestible Protein)

Bahan Tambahan Hay
Salah satu tantangan pembuatan hay di daerah tropis seperti di Indonesia adalah kadar airnya yang sering kali tidak dapat dicapai sesuai standar penyimpanan. Solusi untuk mengatasinya adalah perlu digunakan bahan pengawet untuk mencegah terjadinya pembusukan sekaligus mempersingkat waktu pengeringan di lahan akibat cuaca yang tidak menentu. Bahan pengawet hay yang umum digunakan antara lain bahan pengering, asam organik, garam asam, garam, anhydrous ammonia, urea, produk fermentasi, inokulan bakteri anaerob dan inokulan bakteri aerob.

Untuk pengawet dengan menggunakan garam, umum dipakai terutama pada hay berkadar air tinggi untuk meningkatkan palatabilitasnya. Penggunaan garam lebih berfungsi sebagai penghambat berkembang biaknya mikroorganisme yang tidak diinginkan, menghambat pertumbuhan jamur, sekaligus meningkatkan aroma, mempertahankan warna dan menaikkan palatabilitas hay berkualitas rendah. Perlakuannya yakni dengan penambahan garam atau sodium klorida sebanyak 10 kg/1 ton hay baru, dengan tujuan agar tidak berjamur dan menghindari heating atau pemanasan (Utomo, 2015).

Adapun penambahan bahan urea pada hay dimaksudkan untuk sumber amonia yang dihasilkan dari aktivitas urease di dalam hay. Urea yang ditambahkan umumnya 3% dosis yang kemudian di dalam hay akan diubah menjadi amonia oleh bakteri. Dosis yang lebih besar 5-7% bisa dilakukan selama proses pencetakan atau pengempesan hay dalam kadar air hingga 30%. Pemberian urea pada hay harus ditutup rapat dengan terpal plastik atau bahan lain yang kedap udara, sesegera mungkin setelah perlakuan.

Penyimpanan
Hay dapat bertahan hingga tiga tahun jika penyimpanannya dilakukan dengan baik dan benar. Adapun cara yang tepat dalam menyimpan hay adalah dalam kondisi kadar air 18-22%. Namun jika ingin hay tidak mengalami banyak perubahan selama proses penyimpanan dalam beberapa tahun, simpanlah hay pada kadar air 12-15%.

Terdapat beberapa metode penyimpanan hay, yakni disimpan dengan kondisi terurai dengan kadar air 25%, disimpan dalam bentuk gulungan dengan anjuran kadar air 20-22% dan penyimpanan dengan kondisi tercincang dengan kadar air 18-22%. Selain itu, hay bisa juga disimpan dalam bentuk balok atau kubus dengan kadar air antara 16-17%, namun bisa juga dalam kondisi kadar air 25% asal balok dibuat dalam ukuran besar.

Rekomendasi Kadar Air (%) untuk Penyimpanan Hay yang Digulung
Jenis Gulungan
Kadar Air
Balok segi empat kecil
16-18
Hay gulung (pusat lunak)
14-16
Hay gulung (pusat keras)
13-15
Balok besar persegi panjang
12-14
Hay untuk ekspor
<12
Sumber: Mickan (2009) dalam Utomo (2015).

Pemberian pakan hay pada ternak tergantung dari cara hay disimpan. Untuk hay berbentuk kubus dan tercincang misalnya, diberikan di kandang secara manual dengan cara disajikan dalam tempat pakan yang telah tersedia di kandang. Untuk hay berbentuk gulungan, perlu diurai terlebih dahulu di tempat terbuka sebelum diberikan pada ternak. Pemberian pakan dari hay sebaiknya dilakukan secara bertahap, sedikit-demi-sedikit agar ternak bisa menyesuaikan diri dan terbiasa dengan pakan tersebut. ***

Andang S. Indartono,
Pengurus Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI)

JANGAN REMEHKAN BIOSEKURITI

Desinfeksi sebelum masuk dan keluar kandang. (Foto: Infovet/CR)

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi, manajemen pemeliharaan ayam juga ikut berkembang. Apalagi sejak diberlakukannya larangan AGP (Antibiotic Growth Promoter) dalam pakan, semua yang berkecimpung di sektor budidaya berlomba-lomba mengakali manajemen pemeliharaan agar performa ayam tetap terjaga.

Budidaya ayam layer maupun broiler di zaman now bisa dibilang susah-susah gampang. Peternak kini dihadapkan pada pesatnya pertumbuhan ayam, namun lebih rentan terhadap faktor eksternal, seperti iklim, penyakit dan lain sebagainya. Ditambah lagi AGP yang selama ini menjadi andalan untuk memacu pertumbuhan telah dilarang pemerintah. Tentunya hal ini semakin menjadi tantangan bagi para peternak dan stakeholder di sektor perunggasan.

Padahal, sejak dulu sudah ada “obat” alami agar usaha budidaya lancar tanpa adanya gangguan penyakit. Namun begitu tidak semua peternak mau dan mampu mengaplikasikannya, yakni program biosekuriti.

Dipandang Sebelah Mata
Sering didapati bahwa peternak tidak mengindahkan biosekuriti, misalnya saja masih bebasnya lalu lintas keluar-masuk suatu peternakan tanpa adanya treatment khusus. Padahal, treatment khusus semacam dipping atau semprot desinfektan merupakan salah satu aspek biosekuriti, dalam hal ini menjaga lalu lintas manusia.

Mengingatkan kembali bahwa ada beberapa aspek dasar dalam biosekuriti misalnya kontrol lalu lintas, vaksinasi, recording flok, menjaga kebersihan kandang, kontrol kualitas pakan, kontrol air dan kontrol limbah peternakan.

Dengan semakin berkembangnya zaman, ada juga peternak yang semakin sadar bahwa biosekuriti ini penting diaplikasikan. Misalnya saja yang dilakukan oleh Jenny Soelistiyani, peternak layer asal Lampung. Wanita yang juga merupakan Ketua Pinsar Petelur Nasional (PPN) ini sedang giat-giatnya menggalakkan penerapan biosekuriti di peternakan layer.

“Penerapan biosekuriti yang baik mutlak harus dimiliki, enggak bisa disepelkan. Peternak harus mau berubah, lah wong zaman berubah masa tata cara beternak gitu-gitu aja?,” tutur Jenny. 

Apa yang diutarakan Jenny bukannya tanpa alasan, terlebih lagi ketika AGP dilarang, otomatis untuk mencegah meledaknya wabah penyakit yang tak terkendali dibutuhkan upaya lain, menurut Jenny yang paling masuk akal adalah penerapan biosekuriti.

Jenny dan para peternak di Lampung kini sedang getol-getolnya mengajak para peternak layer di Lampung untuk mengaplikasikan biosekuriti tiga zona. Ia dibantu oleh FAO ECTAD, akademisi dari UNILA, pemerintah dan juga perusahaan yang bergerak di bidang obat hewan.

“Semua turun tangan, FAO memberi penyuluhan dan teknis aplikasi, UNILA juga mendampingi peternak, dinas juga aktif, perusahaan obat hewan juga jadi auditor internal kami, peternaknya jadi semangat dan rata-rata di sini peternak sudah mau mengaplikasikan biosekuriti tiga zona,” jelasnya.

Menuai Hasil Manis
Ketika biosekuriti diterapkan dengan baik, hasil manis dituai oleh peternak. Misalnya saja yang dirasakan oleh Subadio, peternak layer asal Kecamatan Purbolinggo, Lampung, yang sudah menerapkan biosekuriti tiga zona di peternakannya.

Subadio mengaku tertarik mengaplikasikan biosekuriti tiga zona karena dinilai menguntungkan. “Di Lampung ada pendampingan dan penyuluhan bagi peternak yang ingin mengaplikasikan sistem ini, kami dibimbing langsung oleh dinas peternakan setempat, FAO ECTAD, UNILA, technical service produsen pakan dan PPN Lampung,” tutur Subadio.

Tanpa pikir panjang Subadio membangun fasilitas seperti yang disarankan oleh para mentornya. Walhasil, kandang layer-nya yang baru setahun enam bulan berdiri mengalami banyak kemajuan. Tidak lupa ia mengajak para karyawannya untuk berkomitmen menjalankan SOP yang berlaku di peternakannya untuk dipatuhi. Subadio menerapkan sistem reward and punishment agar karyawan lebih berkomitmen dalam menerapkan SOP di peternakannya.

“Kandang saya awalnya kacau mas, sampai saya mulai tertarik ikut menjajal biosekuriti tiga zona, baru deh kandang ini produksi dan performanya benar. Sudah gitu ternyata nilai rupiah yang didapat Alhamdulillah bertambah,” tukas Subadio kepada Infovet. Pernyataan Subadio tadi didukung oleh data yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan.

Misalnya saja kini disaat ayam di kandangnya menginjak usia sekitar 29 minggu produksinya stabil di angka 90% lebih. Selain itu, dalam data juga disebutkan bahwa tingkat kematian ayam di peternakannya sangat rendah, hanya 1% dari 30.000 ekor populasi. “Di farm sini per hari enggak melulu ada yang mati mas, enggak kaya di farm saya yang satunya yang belum saya bangun biosekuriti tiga zona,” ucap dia.

Ketika ditanya mengenai penyakit dan wabah AI, Subadio juga mengatakan bahwa belum pernah kandang tersebut terjangkit wabah mematikan seperti AI. “Paling penyakit cuma nyekrek-nyekrek (CRD) saja mas, kalau AI enggak pernah, kalau bisa jangan sampai kena AI deh,” kata Subadio.

Ia juga mengaku bahwa ketika terjadi penyakit, petugas kesehatan di farm-nya hanya memberikan terapi suportif berupa pemberian vitamin beserta suplemen pemacu sistem imun. “Kasus yang agak parah kemarin sih ada beberapa ekor yang kena fowl pox, sudah dibakar yang mati, terus sisanya kita pisahkan, isolasi dan kita vaksin ulang sambil diberikan terapi suportif,” kata Subadio.

Perihal dana yang dikeluarkan, Subadio enggan menyebut nominal angka yang ia gelontorkan untuk membangun sistem tersebut. “Yang jelas enggak sampai seratus juta untuk sistemnya saja, kurang dari itu. Tapi hasil yang saya dapatkan Alhamdulillah sudah balik modal itu biaya pembuatan sistemnya dalam dua bulanan,” tukasnya.

Hal serupa juga dirasakan Bambang Sutrisno, peternak layer asal Ungaran, Kabupaten Semarang. Bambang mengaku telah menerapkan biosekuriti tiga zona secara menyeluruh sejak 2015. Kini, Bambang merasakan hasilnya berupa keuntungan yang lebih baik ketimbang sebelum penerapan biosekuriti.

“Saya setelah mengadopsi sistem ini enggak nyangka bisa naik pendapatannya. Darimana? Pertama dari produksi yang bagus mas, per seribu ekor kini produksi telurnya stabil di 55-60 kg, padahal tadinya enggak segitu,” tutur Bambang berapi-api.

Selain itu dengan diterapkannya biosekuriti tiga zona, ia juga dapat menghemat penggunaan antibiotik di kandang sekitar 40%, begitu pula penggunaan obat-obatan lain yang dikurangi sampai 30% karena ayam jarang terserang penyakit.

“Dari penghematan itu kira-kira saya bisa kantongi 10 juta rupiah, yang tadinya buat beli antibiotik, obat-obatan dan lainnya, sekarang jadi masuk ke kantong saya. Lumayan banget,” ucap Bambang.

Menurutnya, menerapkan biosekuriti dengan baik itu mudah, modalnya hanya satu yakni niat. Jika niat sudah bulat otomatis komitmen akan terbangun, dengan terbangunnya komitmen akan timbul kebiasaan baik yang konsisten dan mengakar.

Efek Samping
Penerapan biosekuriti yang baik dan konsisten juga akan menghasilkan efek samping. Bukan efek samping yang negatif melainkan sebaliknya. Jenny Soelistiyani menerangkan, kini di Lampung animo peternak dalam menjalankan biosekuriti tiga zona meningkat pesat. Hal ini karena peternak yang menerapkan biosekuriti tiga zona dapat memperoleh Nomor Kontrol Veteriner (NKV) dari Dinas Peternakan Provinsi.

“Ini juga jadi kerjasama kami dengan pemerintah, kemajuannya juga luar biasa. Tahu sendiri lah kalau sudah dapat NKV otomatis nilai produk yang dihasilkan juga meningkat. Tentu saja ini akan meningkatkan pendapatan peternak,” kata Jenny.

Yang lebih luar biasa, beberapa waktu lalu di Lampung, sekitar 14 peternak layer memperoleh sertifikat NKV dalam kurun waktu sembilan bulan. Ini merupakan salah satu capaian luar biasa bagi peternak di Lampung. Atas pencapaian itu, Provinsi Lampung mendapat ganjaran rekor MURI sebagai Pemprov yang menerima sertifikat NKV terbanyak dalam kurun waktu setahun. Selain menguntungkan peternak, tentunya ini juga dapat mengharumkan nama daerah.

Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung, Drh Anwar Fuadi, sangat bangga dengan pencapaian ini. Menurutnya, ini adalah hasil kerja nyata dari semua stakeholder peternakan layer yang ada di Lampung.
“Kami bangga, ini menunjukkan bahwa peternak rakyat juga mampu bersaing, selain menguntungkan peternak. Saya harap nantinya kedepan makin banyak peternak yang sadar akan hal ini,” tukas Anwar.

Tidak lupa Anwar juga mengingatkan bahwa penghargaan ini bukanlah titik akhir. Lampung memiliki program menjadi zona bebas AI di 2021 mendatang. Melalui penerapan biosekuriti yang baik, konsisten dan berkelanjutan, ia berharap bahwa program itu dapat tercapai. (CR)

SYUKURAN 1 TAHUN KERJA KEPENGURUSAN PDHI MASA BAKTI 2018-2022

Foto bersama tamu undangan (Foto: Infovet)

Sejak dilantik di Gedung MPR, yang merupakan pertama kalinya dalam sejarah Pengurus PBDHI. Kini Kepengurusan PDHI masa bakti 2018-2022 telah melalui 1 tahun masa kerja. Syukuran untuk memperingatinya diadakan di Hotel Santika Taman Mini Indonesia Indah pada 15 Desember 2019.

Menghadiri acara tersebut diantaranya adalah Dr. Drh. Prabowo Respatio Caturroso (Mantan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan), pengurus Lansia Veteriner Drh. Bachtiar Moerad,  para ketua Organisasi Non Teritorial (ONT) PDHI, , tim BPHP, perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup, dan perwakilan dari Kementerian Perikanan dan sejumlah mitra termasuk Majalah Infovet.

Ketua Umum PB PDHI Drh Muhammad Munawaroh, MM, dalam pidatonya memaparkan pencapaian-pencapaian PB PDHI dalam 1 tahun masa kepengurusan. Diantaranya adalah terbentuknya Badan Perlindungan Hukum Perhimpunan (BPHP), sebagai lembaga untuk memberikan konsultasi dan pembelaan hukum bagi para anggota PDHI di seluruh Indonesia.

Kunjungan ke 45 cabang untuk melakukan koordinasi dengan PDHI Cabang juga telah dilakukan oleh Ketua Umum PB PDHI. Selan itu PB PDHI berhasil melakukan audiensi dengan para pejabat seperti Ketua MPR RI, Dirjen OTDA, Kementerian Dalam Negeri, Kapolri, Dirjen PKH Kementerian Pertanian, Direktur Keswan Ditjen PKH, Direktur Kesmavet Ditjen PKH, Kepala Balitvet, Bupati Enrekang, Bupati Pandeglang, Bupati Magetan, Ketua Komisi 4 Fraksi PAN DPR RI, serta memenuhi udangan Fraksi PKS dan Fraksi Nasdem.

Merambah dunia digital dibuatlah channel Youtube DRHTV yang bekerjasama dengan PT Dreamlight World Media. DRHTV akan memberitakan aktivitas kegiatan cabang dan memberikan informasi penanganan berbagai penyakit hewan.

Setelah paparan Ketua Umum, para hadirin memberikan tanggapan dan saran untuk kemajuan PDHI. Ikut memberi tanggapan antara lain Pemimpin Umum Majalah Infovet Bambang Suharno dan Pengurus Lansia Veteriner Drh Bachtiar Moerad yang mengapresiasi pencapaian luar biasa PDHI di bawah pimpinan Drh Munawaroh.

Adapun Dr Prabowo yang memberi sambutan di awal acara , selain memberikan pujian terhadap padatnya kegiatan PB PDHI saat ini, juga memberikan masukan pentingnya pengembangan struktur dan sistem dalam sebuah organisasi. Hal senada juga disampaikan oleh Bambang Suharno, bahwa ada 3 ciri kepemimpinan organisasi yang hebat yaitu berwibawa (di dalam pergaulan dengan pemerintah dan pihak lainnya), bermanfaat bagi anggota dan masyarakat dan berkelanjutan dalam membangun kesuksesan (kaderisasi). "tiga hal ini tampaknya sudah dilakukan dengan baik oleh pengurus PDHI sekarang ini," ujar Bambang.

Terhadap semua masukan tersebut, Ketua Umum PB PDHI menyampaikan terima kasih dan ia yakin dengan suasana yang kompak, PDHI akan terus berkembang.

Acara diakhiri dengan pemotongan tumpeng dan makan bersama seluruh tamu undangan. Namun sebelumnya Munawaroh memberikan penghargaan ke Drh Shinta Rizanti dan tim redaksi Vetnesia atas kiprahnya menggiatkan majalah digital Vetnesia. (NDV)

PT GALLUS INDONESIA UTAMA BUKA LOWONGAN KERJA SEBAGAI STAF MARKETING




PT Gallus Indonesia Utama adalah perusahaan yang didirikan oleh Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI). Bergerak di bidang penerbitan majalah dan buku-buku peternakan, event organizer dan konsultan peternakan dan kesehatan hewan. Memiliki 4 divisi yakni divisi penerbit majalah Infovet (majalah.infovet.com), divisi penerbit buku Gita Pustaka (jurnalpeternakan.com), divisi Gita Organizer dan divisi Gita Consultant).


STAFF MARKETING

Responsibilities :

·         Penjualan iklan dan majalah
·         Promosi dan distribusi

Requirements :

  • Minimal D3 semua Jurusan, atau S1 Peternakan, perikanan atau Dokter Hewan.
  • Mencitai dunia peternakan, perikanan  dan kesehatan hewan
  • Diutamakan punya kemampuan menulis artikel dan memahami layout majalah.
  • Tinggal di wilayah Jakarta Selatan atau tidak jauh dari kawasan Pasar Minggu.

      
     Kirim lamaran beserta pas foto email ke :
(Paling lambat 30 Desember 2019)

SUMBER UNGGAS INDONESIA BERBAGI ILMU DI BALI

Prof. Sofjan (Baju Putih) menjelaskan materi kepada peserta pelatihan (Foto : Roni)


Perusahaan penghasil bibit Ayam Lokal unggul, PT Sumber Unggas Indonesia (PT SUI) kembali menggelar pelatihan bisnis peternakan ayam kampung unggulan di Bali, Kamis, (12/12).  Pelatihan tersebut dihadiri sebanyak 25 peserta yang terdiri dari peternak, pengusaha kuliner, karyawan seasta, dan mahasiswa.

Materi yang diberikan PT SUI kepada peserta meliputi Pengenalan Ayam Lokal, Manajemen Pemeliharaan dan Kandang yang Ideal, Pakan Ayam Lokal dan Pemberiannya, Biosecurity dan penerapannya, dan Keuntungan Berbisnis dengan Sumber Unggas Indonesia. Masing-masing materi tersebut dibawakan oleh Prof. Dr. Sofjan Iskandar (mantan Peneliti Balitnak), Carlim (Direktur Operasional PT SUI), PT Medion (perusahaan obat hewan), dan Febroni Purba (Manager Marketing & Sales PT SUI).

Carlim memaparkan bahwa pemeliharaan Ayam kampung perlu dikerjakan dengan maksimal mulai dari penanganan anak ayam saat masuk kandang, suhu kandang yang optimal setiap minggu, vaksin dan obat, kebersihan kandang dan penanganan pada saat panen, tak ubahnya seperti ayam ras.

Sofjan Iskandar yang juga penemu atau peneliti ayam Sentul Seleksi mengenalkan jenis-jenis ayam asli Indonesia dan potensinya. Sofjan menenegaskan bahwa ayam lokal kita tidak kalah dalam produksi dengan ayam-ayam joper atau super yang banyak beredar di masyarakat. Untuk itu, kata dia, peternak tidak perlu khawatir menggunakan ayam lokal Indonesia sepeti Ayam KUB, Ayam Sentul, Ayam Gaok, Ayam Merawang, dll.

Bali dipilih sebagai lokasi pelatihan dinilai karena potensi kebutuhan ayam kampung cukup besar. Manager Marketing & Sales PT Sumber Unggas Indonesia dalam paprannya mengatakan Bali memiliki potensi kuliner yang menjanjikan. “Jumlah penduduk Bali 4,3 juta, jumlah wisatawan mancanegara sekitar 400-500 ribu per bulan, ditambah lagi katakanlah 1 juta wisatawan dalam negeri per tahun. Bali adalah salah satu destinasi wisata andalan Indonesia yang memiliki potensi kuliner yang membutuhkan pasokan ayam kampung, salah satunya produk ayam Betutu. Ini peluang yang bagus bagi usaha kuliner,” katanya. (Roni)


PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN KANDANG

Masalah paling serius yang dihadapi ayam pada umur awal adalah keterbatasan lingkungan dan manajemen pemeliharaan. (Foto: Infovet/Ridwan)

Mengendalikan lingkungan ayam merupakan salah satu parameter produksi yang vital, diantaranya berasal dari pengumpulan data dan hasil pemantauan di kandang. Sebagaimana dikutip dari artikel DR Dhia Alchalabi, Poultry International (2001), informasi yang baik dan bisa diandalkan adalah penting untuk pengambilan keputusan, sedangkan pengumpulan data yang tidak akurat akan menyebabkan kesalahan dalam mengambil keputusan.

Pada tahap awal perlu diidentifikasi apa saja kebutuhan ayam dan kendala yang terdapat di peternakan. sebab, ayam modern saat ini berbeda dibandingkan 10 tahun lalu. Oleh karena itu, dibutuhkan kondisi lingkungan yang lebih baik untuk hasil yang lebih apik.

Hal yang sama juga diterapkan pada cara pemberian pakan. Menggunakan pakan jenis apapun, hasilnya tetap akan tergantung pada kondisi lingkungan. Karena pakan tidak berubah setiap hari sedangkan lingkungan selalu berubah-ubah.

Ayam yang menderita gangguan kesehatan atau kerusakan paru-paru pada minggu pertama pertumbuhan sudah pasti tidak akan berpenampilan baik selanjutnya, namun bisa dibantu apabila lingkungannya mendukung. Oleh sebab itu, sangat penting menyediakan lingkungan yang baik dan sehat sejak hari pertama pemeliharaan (DOC/day old chick). Meskipun membutuhkan investasi cukup mahal untuk pengumpulan data dan sistem pemantauannya.

Pasalnya, masalah paling serius yang dihadapi ayam di umur awal adalah keterbatasan lingkungan dan manajemen pemeliharaan. DOC seringkali menderita akibat suhu tinggi, kelembaban rendah dan naiknya konsentrasi karbon dioksida, ditambah sistem ventilasi yang buruk. Situasi seperti itu tercipta karena banyak peternak berupaya menghemat biaya bahan bakar dengan membatasi ventilasi dan meresirkulasi udara dalam kandang dengan pemanasan ulang.

Tindakan ini menjadi lebih parah pada malam hari karena kandungan gas berbahaya, suhu dan kelembaban bisa melewati kisaran yang direkomendasikan. Jika cuaca buruk sepanjang hari, maka situasi sulit seperti ini akan terus berulang pada siang dan malam. Menyebabkan penurunan kesehatan ayam dan produksi sepanjang siklus pemeliharaan.

Pengendalian parameter lingkungan yang bisa dipantau secara ilmiah menjadi hal penting. Sistem ini dapat digunakan membantu manajer untuk mendidik peternak dengan cara memberikan demonstrasi praktis atas teknik pengendalian parameter lingkungan yang penting. Peternak harus menyadari bahwa lingkungan yang lebih baik bagi ayam berarti memberikan keuntungan baginya.

Mengukur Parameter
Banyak faktor lingkungan mempengaruhi pertumbuhan ayam, serta biaya kesehatan konsumen, peternak dan ayam itu sendiri. Adalah penting untuk memantau, mengukur dan mengendalikan parameter-parameter yang bisa mempengaruhi produksi dan menyadari bahwa parameter tersebut saling berkaitan. Parameter-parameter penting tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor lingkungan dan manajemen.

Faktor- faktor lingkungan mempunyai pengaruh besar terhadap tingkat produksi daging dan telur ayam. Termasuk di dalamnya adalah suhu, kelembaban, cahaya (lama hari siang dan intensitasnya), kadar amonia, karbon dioksida, oksigen, serta kondisi ventilasi udara (pergerakan udara), energi surya dan kualitas udara.


Penempatan Sensor
Lokasi penempatan sensor suhu juga penting diperhatikan untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai penyebaran suhu dalam kandang. Beberapa patokannya sebagai berikut:

• Tempatkan alat (probe) pada area lingkungan ayam yang efektif (lingkungan mikro).
• Selalu menempatkan alat pada posisi masuk (inlet) untuk memperoleh data suhu dan kelembaban relatif dari udara luar dan pada posisi keluar (exhaust fan) untuk mengetahui rata-rata parameter dalam kandang.
• Tempatkan alat pada sisa daerah lainnya seperti dekat tempat minum dan jalur tempat makan (feeder), sehingga bisa diketahui apakah sistem ventilasi sudah cukup dan bekerja dengan baik untuk daerah yang seharusnya.
• Bagi area kandang menjadi dua atau tiga blok memanjang sisi kandang. Tempatkan alat diagonal mulai dari dekat tempat minum di posisi inlet dan berakhir di dekat tempat makan (fan). Tempatkan beberapa alat pada aliran udara untuk memperoleh gambaran mengenai perubahan suhu pada sistem ventilasi yang sedang bekerja. Tempatkan beberapa alat antara fan untuk memperoleh gambaran mengenai peningkatan suhu pada saat sistem ventilasi sedang berjalan atau dimatikan. 
• Periksa alat sesering mungkin untuk memastikan tidak terjadi pergeseran, kotor atau rusak dan bersihkan setiap minggu. Apabila periode pemrograman tidak bisa meliput sepanjang periode pemeliharaan, buat catatan di bawah alat untuk melakukan program ulang sebelum kehilangan data. Baca data seminggu sekali untuk menghindari kehilangan data apabila terjadi kerusakan alat. 
• Alat tidak boleh bersentuhan dengan dinding maupun permukaan lainnya.
• Lindungi alat dari ayam dan gangguan luar (sinar matahari dan hujan). Jika ditempatkan di luar lindungi dengan gelas plastik yang dilubangi untuk mempertahankan ventilasi yang cukup di sekeliling alat.

Pemahaman Data dari Alat
Adanya perbedaan antara suhu di luar, sisi keluar/pinggir (fan) dan di dalam kandang akan memberikan informasi berguna tentang apa yang terjadi di dalam kandang. Apabila perbedaan antara suhu luar dan dekat/pinggir fan berkisar 4°C, maka berarti suhu udara luar menyedot panas di dalam tetapi tidak cukup untuk menurunkan suhu ke tingkat yang diinginkan, ataupun pergerakan udara rendah, hingga suhu di dalam akan meningkat sejalan dengan perubahan waktu.

Apabila perbedaan suhu luar dan dekat/pinggir fan kurang dari 2°C, maka bisa berarti udara luar tidak menyedot panas di dalam dan tidak menurunkan suhu di dalam kandang. Situasi ini dapat terjadi pada musim dingin atau malam hari, biasanya udara mengarah langsung ke atap kandang, atau juga karena pergerakan udara tinggi, maupun suhu dan kelembaban relatif di dalam bisa meningkat.

Kemudian apabila terdapat perbedaan yang tinggi antara suhu di dalam dan dekat/pinggir fan maka berarti bagian sisi kandang (pinggir) ini tidak memperoleh udara yang cukup atau ada kemungkinan terjadi peningkatan kadar karbon dioksida, amonia dan suhu.

Lalu, apabila suhu dari salah satu alat yang diletakkan di dalam kandang berubah secara mendadak, ini berarti terjadi suatu perubahan arah udara, juga bisa karena sistem ventilasi pada tahapan yang lebih tinggi/cepat sedang diaktifkan, atau alat menyentuh bagian permukaan yang lebih dingin atau lebih panas.

Daftar Parameter Lingkungan
Selama masa pertumbuhan ayam broiler akan menghasilkan gas dan produk limbah. Produk ini akan berakumulasi sepanjang waktu dan menyebabkan perubahan substansial terhadap kualitas udara dalam kandang. Cemaran utama yang biasa terjadi dalam udara adalah debu, amonia, karbon dioksida, oksigen dan uap air yang dapat menimbulkan efek merugikan.

Pengaruh langsung dari debu dan amonia meliputi kerusakan fisik permukaan lambung, yang menyebabkan menurunnya resistensi terhadap penyakit, berkurangnya konsumsi makan dan pada kondisi yang parah menyebabkan buruknya pertumbuhan.

Kehadiran gas berbahaya akan menekan pengambilan oksigen, mengingat adanya kompetisi antara unsur-unsur kimia secara langsung. Ini penting diperhatikan sebab ascites cenderung terjadi pada tingkat oksigen yang rendah. Kandungan tinggi dari karbon dioksida dan karbon monoksida juga membatasi pengambilan oksigen. Pada kadar konsentrasi yang lebih tinggi, kehadiran kedua gas tersebut bisa berakibat fatal.

Kelembaban Relatif
Tingkat kelembaban lingkungan berpengaruh langsung terhadap kehilangan panas laten tubuh ternak. Tingkat kelembaban juga secara tidak langsung mempengaruhi penampilan ternak akibat konsentrasi debu dan bakteri patogen meskipun masih sedikit dokumentasi ilmiah yang mendukung keterkaitan ini. Meningkatnya kelembaban akan merugikan produksi ternak pada suhu tinggi.

Pada umumnya perubahan kelembaban tidak menimbulkan respon terhadap pertumbuhan ternak pada suhu lingkungan di bawah 24°C. Alat pengukur kelembaban harus diletakkan berdekatan dengan alat suhu. Beberapa sensor suhu mempunyai sensor kelembaban sehingga memungkinkan untuk mengukur kelembaban relatif. (INF)

Cemaran Udara Paling Penting dan Pengaruhnya
Amonia (NH3)
Dapat dideteksi dengan penciuman pada konsentrasi di atas 20 ppm. >10 ppm menyebabkan kerusakan permukaan paru-paru, >20 ppm meningkatkan kepekaan terhadap penyakit pernapasan dan >50 ppm menurunkan laju pertumbuhan. Rekomendasi batas atas adalah 10 ppm
Karbon dioksida (CO2)
>0,35% (3500 ppm) menimbulkan nodul-nodul kartilaginus pada paru-paru yang berkaitan dengan ascites. Fatal pada konsentrasi tinggi. Rekomendasi batas atas 2500 ppm
Debu
Menyebabkan kerusakan permukaan paru-paru. Meningkatkan kepekaaan terhadap serangan penyakit. Gunakan ventilasi untuk mengurangi debu.
Kelembaban
Pengaruhnya bervariasi menurut suhu. Pada 29°C Rh 70% menghambat pertumbuhan karena ayam tidak mampu mendinginkan dirinya sendiri. Kualitas litter memburuk pada kelembaban tinggi menyebabkan poenurunan kualitas produk pada saat prosesing. Rekomendasi dalam kisaran 65-75%.
DR Dhia Alchalabi, Poultry International, 2001.

FGD ISPI ; PERLU KONSORSIUM PEMERINTAH, PENELITI DAN PELAKU USAHA UNTUK KEMBANGKAN GENETIK AYAM LOKAL

Mark Cooper, Muladno, Cece Sumantri, Didiek Purwanto, Sugiono, Asep Anang, Dominic
Untuk mengembangkan dan melanjutkan pengembangan sumberdaya genetik ayam lokal secara berkelanjutan, perlu segera dibentuk konsorsium yang terdiri dari akademisi, peneliti, pelaku usaha/praktisi, dan pemerintah yang secara profesional, terencana, dan terarah. Pemerintah dalam hal ini direktorat perbibitan sebagai leading sector dan regulator harus memulai gerakan bersama membangun pembibitan sumber daya genetik ayam lokal sebagai pelengkap dalam pemenuhan protein hewani unggas. Demikian catatan penting yang dibacakan oleh Prof Muladno di acara Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI) yang berlangsung di Swiss-Bellhotel, Intermark BSD City, Kamis 12 Desember 2019.

Para peserta FGD
FGD diselenggarakan ISPI antara lain untuk menyikapi berita di Bisnis Indonesia (18 November 2019 dan 2 Desember 2019) dan beberapa berita di media sosial tentang keberadaan GGPS broiler produksi lokal di Indonesia yang akan memproduksi GPS. Dalam berita tersebut disampaikan bahwa  Kementerian Pertanian tengah mempersiapkan program produksi bibit ayam Grand Parent Stock/GPS) broiler guna menekan importasi induk ayam potong. Program pengembangan ini telah berjalan di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Jika dapat beroperasi secara konvensional, Kementan mengklaim ada efisiensi biaya mencapai Rp415 miliar.

FGD dihadiri oleh sekitar 70an orang dari kalangan pakar genetika dan pemuliaan ternak dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian, pelaku industri pembibitan unggas, pimpinan asosiasi perunggasan dan sejumlah tamu undangan. Tampak hadir Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Sugiono mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, mantan Ketua Umum GPPU Drh. Paulus Setiabudi dan Krissantono, Ketua Umum GPPU Achmad Dawami, Penasehat GPMT Drh.Sudirman, Ketua Umum Pinsar Indonesia yang juga anggota DPR Singgih Januratmoko, Senior ISPI Dr Rakhmat Pambudy serta sejumlah tokoh perunggasan lainnya

FGD dengan tema "Siapkah Indonesia Mandiri dalam Pembibitan Ayam Broiler?" dipandu oleh Prof Dr Muladno sebagai moderator dengan narasumber Prof Cece Sumantri (IPB), Prof Asep Anang (Fapet Unpad), serta Dominic Elfick dari Aviagen dan Mark Cooper dari Cobb Vantress USA.

Prof Cece menyampaikan materi tentang Teknologi Molekuler dalam Mendukung Pembibitan Ayam Broiler, Prof Asep Anang tentang Merancang Pembibitan Ayam Broiler di Indonesia, sedangkan Dominic dan Mark Cooper menyampaikan tentang modern broiler breeding berdasarkan pengalaman di perusahaan masing-masing.

Ketua Umum PB ISPI Didek Purwanto mengatakan acara FGD ini dimaksudkan untuk mendiskusikan secara terbuka tentang pembibitan ayam broiler. "Kami sengaja mengundang pakar-pakar genetika dan pemuliaan ternak untuk membahas tema ini yang selanjutnya akan menjadi masukan untuk pemerintah," ujar Didiek.

Adapun Direktur Perbibitan dan produksi Ternak Sugiono menyampaikan terima kasih atas inisiatif PB ISPI untuk mengadakan FGD ini. Ia menampaikan usaha perunggasan menghadapi berbagai masalah dan sering terjadi polemik. "Kita ambil positifnya, bahwa situasi ini membuat kita bisa berkumpul dan berdiskusi untuk mencari solusi," ujar  Sugiono yang mengikuti acara FGD ini hingga selesai.

Setelah 4 narasumber menyampaikan materinya, moderator memberikan kesempatan semua pakar untuk memberi tanggapan, dilanjutkan tanggapan dari kalangan pelaku usaha.

Resume FGD
Menurut Sekjen PB ISPI Joko Susilo, PB ISPI telah membentuk Tim Perumus yang saat ini sedang menyusun naskah resmi hasil FGD untuk disampaikan ke pihak terkait.  Adapun resume FGD yang dibacakan oleh moderator menurut catatan Infovet ada 9 poin yaitu sebagai berikut:
  1. Upaya penggunaan sumberdaya ayam lokal Indonesia sebagai sumber bibit yang diciptakan melalui cara-cara pemuliaan berdasarkah kaidah ilmiah yang benar, yang sudah dilakukan agar terus dilanjutkan dengan monitoring dan pengawasan yang sangat ketat serta berkelanjutan.  
  2. Indonesia telah memiliki sumberdaya genetik ayam lokal sebanyak 33 rumpun, agar dioptimalkan potensinya sebagai fondasi pembentukan bibit galur murni untuk ayam pedaging. Saat ini  baru menghasilkan 9 rumpun yang dilakukan oleh perguruan tinggi, lembaga penelitian dan perusahaan swasta yang selama ini dilakukan secara sendiri-sendiri, harus lebih dioptimalkan melalui sinergi kolaborasi yang lebih baik antara akademisi, peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha/praktisi.
  3. Semua pilar harus konsisten/istiqomah dengan profesionalitas masing-masing untuk memberikan yang terbaik bagi pengembangan sumberdaya genetik ayam lokal di Indonesia. Akademisi, peneliti berkontribusi dalam IPTEK dan penelitian; pelaku usaha berbisnis secara produktif dan efisien; dan pemerintah berkontribusi melahirkan regulasi yang kondusif bagi pengembangan bisnis perbibitan ayam lokal.
  4. Pengembangan sumberdaya genetik ayam lokal sebagai sumber bibit perlu diarahkan ke arah yang lebih spesifik, segmented, dan khas Indonesia dengan target pasar khusus, tanpa harus bersaing dengan sumber bibit komersial yang selama ini sudah ada, dan telah dikembangkan oleh principle selama berpuluh-puluh tahun melalui dukungan teknologi, seleksi genetik dan finansial yang sangat kuat, sehingga hampir tidak mungkin pengembangan ayam GGPS melalui ayam broiler yang telah beredar di Indonesia. 
  5. Upaya peningkatan konsumsi protein unggas yang masih rendah, maka perlu pengembangan pembentukan galur ayam lokal (merujuk poin no 2) dilakukan secara berdampingan dengan industri broiler yang saat ini sudah berjalan untuk melengkapi kebutuhan protein hewani masyarakat.  
  6. Akademisi, peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha/praktisi perlu memperkuat sinergisitas untuk meningkatkan efisiensi produktivitas dalam menghasilkan inovasi berbasis sumberdaya genetik ayam lokal dan lingkungan spesifiknya.
  7. Informasi dan sampel sumberdaya genetik ayam lokal dalam berbagai bentuknya perlu dihimpun dan dikonsolidasikan secara nasional dalam database yang kuat untuk digunakan sebagai landasan dalam pengembangan iptek yang langsung dapat dimanfaatkan para akademisi, peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha/praktisi
  8. Perlu segera dibentuk konsorsium yang terdiri dari akademisi, peneliti, pelaku usaha/praktisi, dan pemerintah yang secara profesional, terencana, dan terarah untuk mengembangkan dan melanjutkan pengembangan sumberdaya genetik ayam lokal secara berkelanjutan.
  9. Pemerintah dalam hal ini direktorat perbibitan sebagai leading sector dan regulator harus memulai gerakan bersama membangun pembibitan sumber daya genetik ayam lokal sebagai pelengkap dalam pemenuhan protein hewani unggas. ***
Materi FGD dapat diunduh di website resmi ISPI, www.pb-ispi.org





SEMANGAT PETERNAK ERA MILENIAL DALAM BERINOVASI

Para pembicara Seminar Atap Peternakan di Hotel Sapphire, Rabu (11/9). (Foto: Infovet) 


Kunci dalam bisnis peternakan ayam adalah menguntungkan. Pada era milenial saat ini, para peternak diharuskan siap dengan perubahan dan bersemangat mencari inovasi dalam upaya meningkatkan performa ayam broiler maupun petelur.

Hal tersebut dikemukakan Ketua Harian Gopan, Sigit Prabowo saat membuka seminar atap peternakan yang mengusung topik “Meningkatkan Produktivitas Ayam dengan Atap yang Kuat dan Menguntungkan”.

Menurut Sigit, aspek pembangunan kandang yang nyaman sangat penting termasuk menempuh langkah melakukan pembaharuan atau meng-upgrade kandang lawas. “Ayam berhak menempati kandang yang layak dan nyaman sebagai tempat tinggalnya,” kata Sigit di hadapan peserta seminar yang diadakan di Hotel Sapphire, Tangerang, Rabu (11/12).

Lebih lanjut dijelaskan Sigit, pembuatan kandang yang nyaman menjadi poin utama lagi karena organ tubuh ayam yang sangat bekerja keras dalam mencapai produksi maksimal ada pada jantung, hati, paru, kemudian ginjal membutuhkan oksigen yang cukup dan berkualitas.

“Memacu produksi atau bobot badan ayam broiler modern saat ini sudah semakin singkat pencapaiannya, oleh karenanya dibutuhkan kandang-kandang yang nyaman untuk ditempati ayam,” tutupnya.

Seminar yang digelar PT Djabesmen ini menghadirkan pembicara handal seperti Setya Winarno (praktisi perunggasan), Ramadhana Dwi Putra Mandiri (peternak milenial/pengembang mini closed house system), dan Eko Yunianto (Sales Manager PT Djabesmen). (NDV)  


MEWASPADAI AVIAN ENCEPHALOMYELITIS

Serangan AE kerap memiliki kemiripan dengan ND, karena ayam mengalami kelumpuhan. (Sumber: Istimewa)

Penyakit Avian Encephalomyelitis (AE) atau biasa disebut dengan epidemic tremor mungkin masih terasa asing di telinga. Penyakit AE jelas kalah populer jika dibandingkan dengan penyakit viral lainnya, seperti ND, IBD, maupun IB yang lebih populer di Indonesia.  Ketidakpopuleran AE ini membuatnya masih dipandang sebelah mata oleh para pelaku usaha perunggasan Indonesia, padahal AE merupakan salah satu penyakit viral yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi cukup besar bagi peternakan ayam petelur dan breeding.

Masih Asing di Telinga
AE disebabkan oleh virus RNA dari genus enterovirus dan termasuk ke dalam famili Picornaviridae. Virus AE dapat menyerang ayam (buras dan ras), kalkun, burung dara dan burung puyuh. Strain virus lapangan yang pernah dikoleksi menunjukkan bahwa virus ini bersifat enterotropik (berkembang biak di dalam tubuh inang) dan memperbanyak diri di saluran pencernaan. Unggas yang terinfeksi menyebarkan virus melalui feses selama beberapa hari sampai beberapa minggu. AE biasanya dicirikan dengan adanya gejala kelainan syaraf seperti tremor, sebagai akibat adanya infeksi di Sistem Syaraf Pusat (SSP).

Transmisi penularan AE terjadi secara vertikal dan horizontal. Transmisi vertikal merupakan penularan infeksi yang terjadi dari induk ayam kepada anak ayam (transovarial).  Transmisi vertikal terjadi jika induk unggas terinfeksi AE pada masa produksi telur, sehingga virus menular pada anak ayam. Transmisi horizontal adalah penularan infeksi yang terjadi dari ayam yang terinfeksi ke ayam yang belum terinfeksi melalui lingkungan, makanan dan air minum yang terkontaminasi feses.  

Gejala Klinis
Masa inkubasi AE bervariasi, mulai dari 5-14 hari tergantung dari rute infeksi. Masa inkubasi melalui rute infeksi transovari berkisar antara 1-7 hari, sedangkan masa inkubasi melalui rute oral mencapai lebih dari 10 hari.

Gejala klinis pada anak ayam yang terinfeksi secara vertikal biasanya muncul pada minggu pertama setelah menetas, sedangkan gejala klinis pada anak ayam yang terinfeksi secara horizontal muncul setelah anak ayam berumur 2-4 minggu. Gejala klinis utama yang muncul pada anak ayam yang terinfeksi secara horizontal maupun vertikal adalah ataksia dan kelemahan kaki. Kelemahan kaki ini bervariasi, mulai dari duduk di atas persendian tarsus, sampai paresis yang mengarah pada kelumpuhan total maupun parsial, dengan gejala klinis berupa berbaring di salah satu sisi tubuh (recumbency). Tremor (gemetaran) di kepala dan leher juga merupakan gejala klinis yang sering muncul pada kasus AE, sehingga penyakit AE sering disebut dengan epidemic tremor. Tremor di kepala dan leher terlihat jelas pada saat anak ayam terkejut atau pada saat anak ayam ditaruh secara terbalik di atas tangan. Gejala klinis AE ini hanya muncul pada saat ayam berumur kurang dari empat minggu.

Gejala klinis lain yang biasanya muncul antara lain, bobot badan kurang dari standar, sebagian DOC mengalami leher yang terpuntir ke bawah (tortikolis), lemah dan lama-kelamaan ambruk diakhiri dengan kematian. Dari hasil bedah anak ayam yang sakit, ditemukan perdarahan pada otak, peradangan pada laring dan trakea, serta bursa fabricius membengkak. Diagnosis terhadap kasus ini pun akhirnya beragam, antara lain dugaan akibat kualitas DOC yang buruk, serta dugaan serangan penyakit Gumboro, ND , AI, Marek's, serta AE.

Pada ayam dewasa infeksi AE biasanya bersifat subklinis (tidak terlihat secara kasat mata). Infeksi AE pada ayam dewasa menyebabkan penurunan produksi telur serta penurunan daya tetas telur. Penurunan produksi telur akibat infeksi AE terjadi secara mendadak sebesar 5-10%, tetapi setelah dua minggu produksi telur akan kembali normal, serta tidak ditemukan adanya kelainan pada kerabang telur.

Pada ayam breeder, penurunan daya tetas telur dapat mencapai angka 5% sebagai akibat kematian embrio ayam. Pada beberapa kasus, beberapa minggu setelah infeksi, kekeruhan dari lensa mata (katarak) dapat terjadi pada ayam yang bertahan atau selamat dari infeksi. Tingkat kesakitan dan tingkat kematian akan bervariasi tergantung dari jumlah telur yang terinfeksi dan status kekebalan tubuh dari ayam. Pada beberapa kasus outbreak yang pernah terjadi di sebuah breeding farm, tingkat morbiditas dan mortalitas mencapai lebih dari 50%. Artinya, penyakit ini sangat merugikan peternak secara ekonomi. Belum lagi apabila datang penyakit lain yang bersifat oportunistik, tentunya dengan berkurangnya kinerja sistem pertahanan tubuh ayam pada saat terserang AE, ayam akan sangat rentan terserang oleh agen penyakit lain.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Prof I Wayan Teguh Wibawan, mengatakan bahwa secara praktis, gejala klinis AE pada ayam telah banyak dicurigai dan mirip dengan ND. Namun pada AE ada penekanan respon imun, hal ini terlihat dari penurunan titer antibodi ND, IB atau AI secara cepat dibandingkan biasanya.

“Secara ilmiah, diperlukan peneguhan diagnosa yang kompleks agar benar-benar jelas titik permasalahannya. Karena gejala klinis AE dan ND sangat mirip, sehingga keduanya kerap dikelirukan,” kata Wayan kepada Infovet. Yang paling sering ia soroti yakni adanya gejala klinis berupa gangguan koordinasi, sangat mirip dengan gejala ND tipe syaraf. Perbedaannya adalah derajat kematian pada ayam tidak setinggi pada serangan ND.

Jika titer antibodi ND pada kelompok ayam secara umum masih protektif (nilai HI di atas 64), tetapi ada peningkatan kematian yang signifikan dengan gejala tortikolis, maka penyakit AE perlu dipertimbangkan. Kerugian yang ditimbulkan juga bisa sangat besar, tidak hanya berupa kematian, tetapi juga mengganggu performa produksi dan meningkatkan kepekaan ayam terhadap berbagai macam penyakit.

Teknik Diagnosis
Pada pemeriksaan patologi anatomi ayam yang terinfeksi AE tidak ditemukan adanya kelainan anatomi mencolok yang menjurus kepada penyakit AE. Kelainan anatomi yang mungkin ditemukan adalah titik berwarna abu-abu atau putih pada permukaan otot gizzard (ampela). Pada pemeriksaan histologi, lesio mikroskopik pada SSP ditemukan di otak (cerebellum dan batang otak) dan spinal cord (sumsum tulang belakang). Lesio ini berupa degenerasi dan nekrosis sel syaraf (neuron), serta gliosis.

Diagnosa pada kasus AE dilakukan berdasarkan sejarah, gejala klinis, serta pemeriksaan histopatologis otak dan batang otak. Cara terbaik dalam melakukan diagnosa AE adalah dengan melakukan isolasi dan indentifikasi virus. Virus diisolasi dari otak dan duodenum beserta pankreas. Pada ayam dewasa atau ayam produksi, diagnosa AE dapat dibantu dengan melakukan pemeriksaan titer antibodi terhadap virus AE. Selain itu, dapat pula digunakan uji serologis berupa uji ELISA dalam mendeteksi “tamu tak diundang” ini.

Diferensial diagnosa dari gejala syaraf yang muncul pada kasus AE di anak ayam adalah encephalitis yang disebabkan oleh bakteri dan jamur. Infectious Bronchitis (IB), lentogenik Newcastle Disease (ND) dan Egg Drop Syndrome 76 (EDS 76), serta defisiensi vitamin A, E dan Riboflavin juga dapat dijadikan diferensial diagnosa dari kasus AE.
  
Oleh karenanya dibutuhkan pengujian lebih lanjut dalam meneguhkan diagnosis AE. Uji yang dapat mendukung peneguhan diagnosis diantaranya Isolasi dan identifikasi virus dengan PCR (Polymerase Chain Reaction), uji serologis (untuk mengukur titer antibodi AE) berupa ELISA, Virus Neutralization Test, maupun Flourescent Antibody Test.

Pencegahan
Tidak ada tindakan pengobatan yang terbukti efektif untuk mengobati infeksi AE. Apabila ada ayam yang dicurigai terinfeksi AE, ayam segera diisolasi atau dimusnahkan. Ayam yang diisolasi dapat diberikan berupa terapi suportif, seperti pemberian vitamin dan antibiotik tetapi pemberian antibiotik tidak terlalu direkomendasikan, kecuali apabila ditemukan penyakit bakterial lainnya yang juga menginfeksi ayam secara bersamaan.

Namun begitu, AE dapat dicegah dengan melakukan vaksinasi. Program vaksinasi dilakukan pada saat pullet breeder atau pullet layer berumur 9-15 minggu tergantung kondisi ayam dengan menggunakan vaksin aktif komersial. Vaksin yang seringkali penulis temukan di lapangan adalah kombinasi vaksin fowl pox dan AE. Selain itu, perlu juga diterapkan biosekuriti yang ketat dan konsisten agar tidak menulari ternak yang sehat.

Pemberian immunostimulan seperti vitamin E juga dapat dilakukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh ayam, sehingga dihasilkan titer antibodi yang maksimal setelah vaksinasi dilakukan. Program vaksinansi AE di breeding sangat penting untuk mencegah terjadinya transmisi vertikal dan memastikan anak ayam memiliki maternal antibodi. ***


Drh Cholillurrahman
Redaksi Majalah Infovet

KEMENTAN MINTA PELAKU USAHA PERUNGGASAN CIPTAKAN IKLIM USAHA YANG KONDUSIF



Dirjen PKH menerima kedatangan peternak. (Foto: Humas Kementan)

Menyikapi situasi perunggasan saat ini, khususnya terkait tuntutan dari perwakilan peternak unggas, Kementerian Pertanian melalui Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita meminta agar semua pelaku usaha menjaga iklim usaha yang kondusif. “Kita kapan majunya kalau saat ini sedikit-sedikit demo, peternak juga harus berpikir maju dan modern, sehingga hasil usahanya akan lebih efisien,” ucap I Ketut Diarmita hari ini Rabu (11/12) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian Jakarta.

Ketut menegaskan bahwa Pemerintah selama ini selalu berupaya menjaga kestabilan dan peningkatan produksi dalam pemenuhan kebutuhan daging ayam nasional. "Kita jaga agar produksi daging ayam dapat memenuhi kebutuhan dan masyarakat bisa punya akses ke protein hewani yang terjangkau" ungkap Ketut. “Selebihnya kita juga mendorong para pelaku usaha untuk ekspor,” tandasnya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa masalah pengaturan harga sebenarnya bukan kewenangan Kementerian Pertanian. Namun demikian, sebagai pembina peternak di Indonesia, dirinya selalu ada di garda terdepan dalam membela kepentingan peternak, oleh karena itu Ditjen PKH yang dipimpinnya telah mengeluarkan berbagai kebijakan dalam rangka menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan daging ayam nasional.

Menegaskan komitmennya dalam membela kepentingan peternak Indonesia, Ketut menerima masukan dari perwakilan peternak dalam mengkaji ulang susunan Tim Ahli Analisa Ketersediaan dan Kebutuhan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Lanjut Ketut menjelaskan bahwa dalam rangka stabilisasi produksi DOC FS, Pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Dirjen PKH No. 12859/SE/PK.230/F/11/2019 tanggal 29 November 2019 tentang Pengurangan/Cutting Telur Tertunas (HE) umur 19 hari. Pengurangan akan dilakukan sebanyak 5 juta per minggu atau 21 juta selama bulan Desember 2019, khususnya di Pulau Jawa.

Hal ini dilakukan berdasarkan perkiraan realisasi produksi pada bulan Desember 2019 sebanyak 280.890.348 ekor, sedangkan kebutuhan DOC FS bulan Desember sebanyak 259.619.227 ekor atau ada surplus sebanyak 21.271.120, sehingga jika DOC dikurangi sebanyak 21 juta selama bulan Desember 2019 maka prediksi realisasi produksi menjadi imbang antara produksi dengan kebutuhan.

"Langkah ini diambil untuk mempercepat berkurangnya produksi DOC FS dengan harapan peternak mandiri menikmati harga HPP yang stabil sesuai Permendag No 96 Tahun 2018", tegas Ketut.

Untuk memperkuat langkah tersebut, Pemerintah juga telah memerintahkan afkir dini PS umur 60 minggu sampai 31 Desember 2019. Afkir dini PS ini akan mengurangi produksi DOC FS sekitar 2 juta per minggu.

Terkait harga, Ketut membeberkan data harga ayam hidup (live bird) dan daging ayam yang secara rutin dipantau oleh timnya. Menurutnya harga live bird secara nasional pada awal Desember ini cukup baik. Sebagai contoh, Ketut menyebutkan rerata harga live bird di regional Sumatera ada diangka Rp. 20.862 di tingkat produsen, dan Rp. 32.328 di tingkat konsumen. Sementara di Jawa, harga rerata live bird adalah Rp. 18.318, dengan harga di tingkat konsumen sebesar Rp. 33.626, dengan harga terendah Rp. 16,000,- di Kabupaten Tuban Jawa Timur, sedangkan harga tertinggi tercatat sebesar Rp.19.500 di Kabupaten Bogor Jawa Barat.

"Artinya bahwa harga di tingkat produsen dan konsumen berimbang dan ada dikisaran yang cukup baik. Hal ini menunjukkan supply dan demand ada pada titik keseimbangan" pungkasnya. (Sumber: Rilis Kementan)


SEMPAT KECEWA, PETERNAK AKHIRNYA BISA CURHAT KE DIRJEN PKH

Peternak "menggerebek" Dirjen PKH (Foto : Jefri)

Sekitar dua puluh orang perwakilan peternak ayam yang melakukan demonstrasi di Kementerian Pertanian Rabu (11/12) diterima oleh Kasubdit Unggas dan Aneka Ternak, Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, Drh Makmun M.Sc. Pertemuan tersebut dalam rangka mendengarkan keluhan peternak agar ditindaklanjuti oleh pemerintah. Dalam pertemuan yang berlangsung di Gedung C Kementan tersebut, Makmun meminta maaf sebesar - besarnya kepada para perwakilan peternak.

"Saya sebagai tuan rumah memohon maaf kepada bapak - bapak sekalian apabila penyambutan dari kami kurang berkenan. Saya juga meminta maaf karena Pak Dirjen tidak dapat menemui bapak sekalian karena sedang ada pekerjaan lain," tukas Makmun.

Mendadak tensi berubah ketika perwakilan peternak mendengar pernyataan Makmun tadi. Kekecewaan pun juga terlihat jelas dari semua perwakilan peternak. Salah satu perwakilan peternak yang bersuara mengungkapkan kekecewaannya yakni peternak asal Bogor, Kadma Wijaya.

"Saya sangat kecewa hari ini, Pak Dirjen tidak ada di sini, padahal kami sudah sebanyak ini. Mohon maaf, bukan bermaksud mengecilkan, kalau Pak Makmun saja yang menerima, kami kan bisa bertemu dengan Pak Makmun kapan saja, kalau ketemu sama Pak Dirjen kan jarang - jarang," ungkap Kadma.

Selain Kadma, seorang perwakilan peternak dari Magelang juga mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, penerimaan yang dilakukan oleh Kementan hari itu sangat tidak manusiawi. Mulai dari ketika tidak dibolehkannya peternak memasuki kawasan Kementan, hingga ketidakhadiran Dirjen dalam pertemuan tersebut.

Dengan semakin memanasnya tensi dan untuk mencegah hal - hal yang tidak diinginkan Sugeng Wahyudi yang juga salah satu koordinator aksi mengambil inisiatif agar peternak segera angkat kaki dari kawasan Kementan. Mereka pun memutuskan untuk memberikan rapor merah sekaligus tuntutan mereka kepada Makmun dan hendak melipir ke gedung A untuk menemui perwakilan Menteri Pertanian dan melakukan hal yang sama.

Dalam perjalanan menuju gedung A, seorang peternak mendapatkan info bahwa Dirjen PKH sedang berada di gedung Pusat Informasi Agribisnis Kementan. Syahdan mereka pun langsung menggerebek tempat tersebut dan bertemu dengan Dirjen PKH I Ketut Diarmita beserta Pejabat sekelas Direktur lainnya.

Dalam pertemuan yang berlangsung alot, beberapa kesepakatan dihasilkan oleh mereka. Salah satunya mengenai akan dilibatkannya perwakilan peternak untuk mengetuai tim ahli yang dibuat oleh Ditjen PKH dalam menghitung supply - demand DOC.

Ketika dikonfirmasi oleh Infovet, Dirjen PKH hanya menjawab secara normatif dan terkesan adem ayem atas hal tersebut. "Ya biasalah peternak, wajar kalau mereka cari saya, pokoknya nanti ini akan kita godok kembali, yang jelas ini butuh waktu dan butuh koordinasi lebih lanjut secara hukum, terima kasih," tutur Ketut. (CR)


SEMINAR ATAP PETERNAKAN DIGELAR PT DJABESMEN

Seminar PT Djabesmen (Foto: Infovet)


PT Djabesmen menggelar seminar atap peternakan dengan tema “Meningkatkan Produktivitas Ayam dengan Atap yang Kuat dan Menguntungkan”. Seminar yang digelar di Hotel Sapphire, Tangerang, Rabu (11/12) ini dihadiri para peternak dan pelaku bisnis perunggasan.

Sejak tahun 1971 PT Djabesmen telah memproduksi berbagai bentuk dan ukuran atap fiber semen dengan mutu sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia). Terlihat di banyak provinsi Tanah Air, kandang-kandang peternakan ayam menggunakan atap Djabesmen.

“Dari pantauan tim Djabesmen yang mengunjungi kandang-kandang ayam di daerah, terlihat banyak bangunan yang menggunakan atap Djabesmen. Hal ini membawa kami untuk lebih dekat lagi dengan kawan-kawan peternak,” ungkap Pepy Alamsjah selaku Chief of Marketing PT Djabesmen saat memberikan kata sambutan.

Lanjut Pepy, Djabesmen menilai menggerakkan usaha/bisnis peternakan ayam tidak mudah. Karenanya, Djabesmen membuktikan komitmennya untuk membantu para peternak dalam meningkatkan efisiensi melalui inovasi.

“Mudah-mudahan melalui acara seminar-seminar seperti ini, Djabesmen dapat memberikan sumbangsih serta membantu meningkatkan efisiensi peternakan. Semoga makin sukses,” pungkasnya. (NDV)  


BENTUK KEKECEWAAN, PETERNAK BAGIKAN AYAM GRATIS

Peternak membagikan ayam gratis kepada masyarakat di depan kantor Kementan sebagai bentuk kekecewaan. (Foto: Infovet/Ridwan)

Rabu (11/12), peternak yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) kembali menggelar aksi damai di depan kantor Kementerian Pertanian (Kementan).

Dalam aksinya, sebagai bentuk protes terhadap gejolak perunggasan, peternak rakyat membagikan 1.000 ekor ayam gratis kepada masyarakat sebelum membubarkan diri.

"Kita bagikan ayam gratis sebagai bentuk protes kami. Tolong masyarakat doakan perjuangan kami," kata perwakilan peternak Jawa Barat saat membagikan ayam gratis.

Ratusan peternak yang mengenakan ikat kepala berwarna merah berkumpul sejak pagi di depan kantor Kementan. Aksi damai dilakukan untuk menuntut perbaikan industri perunggasan yang terus bergejolak secara berulang-ulang.

"Kami akan terus sampaikan tuntutan kami sampai semua diperbaiki," kata peternak perwakilan Solo, Alam.

Tuntutan peternak diantaranya meminta perbaikan harga ayam di tingkat peternak, perbaikan harga DOC dan pakan, ketegasan peraturan, pengendalian keseimbangan supply-demand, keadilan pasar, pembubaran tim ahli perunggasan Kementan, hingga pencopotan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, yang dinilai tidak mampu memperbaiki kondisi perunggasan Indonesia.

"Pemerintah enggak bisa mengurus industri ini. Oversupply terus terjadi, bubarkan tim ahli perunggasan, tim ini sangat ahli membohongi rakyat," kata salah satu perwakilan peternak Lamongan, Jawa Timur.

Dalam aksinya ratusan peternak hadir dari berbagai wilayah di Indonesia, diantaranya peternak daerah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera, hingga Kalimantan. (RBS)

DEMO PETERNAK: RAPOR MERAH INDUSTRI PERUNGGASAN

Aksi damai di depan kantor Kementerian Pertanian, Rabu (11/12). (Foto: Infovet/Ridwan)

Rabu (11/12), peternak yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) kembali menggelar aksi damai di depan kantor Kementerian Pertanian (Kementan).

Dari pantauan Infovet, ratusan peternak yang mengenakan ikat kepala berwarna merah menuntut perbaikan industri perunggasan yang terus bergejolak secara berulang-ulang.

"Kami akan terus menyampaikan tuntutan kami sampai semua diperbaiki," kata salah satu peternak dalam orasinya.

Tuntutan peternak diantaranya meminta perbaikan harga ayam di tingkat peternak, perbaikan harga DOC dan pakan, ketegasan peraturan, pengendalian keseimbangan supply-demand, keadilan pasar, pembubaran tim ahli perunggasan Kementan, hingga pencopotan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan.

"Sudah 10 bulan belakangan kami terus merugi hingga triliunan rupiah. Ini merupakan rapor merah perunggasan nasional. Pemerintah enggak becus mengurus industri ini," timpal peternak lain yang juga melakukan orasi.

Sampai berita ini diturunkan, aksi damai peternak rakyat di depan kantor Kementan masih berlangsung. (RBS)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer