-->

PT DEWI SHRI FARMINDO SIAP BANGUN PETERNAKAN DI CIANJUR

Salah Satu Kandang Ayam Milik PT Dewi Shri Farmindo
(Sumber : Dewishrifamindo.com)


PT Dewi Shri Farmindo Tbk telah mempersiapkan pembangunan peternakan kedua di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pembangunan bertujuan untuk meningkatkan produksi dan hasil panen serta efisiensi lahan yang ada.

"Kami memulai membangun peternakan yang baru dengan harapan akan mendongkrak penjualan. ," ujar Direktur Utama PT Dewi Shri Farmindo Tbk, Aditiya Fajar Junus dalam keterangan resminya, Rabu (22/2).

Dia bilang, proses peirijinan untuk lokasi kedua sudah selesai, sehingga proses pembangunan kandang segera dimulai yang akan diawali dengan persiapan lahan. Perusahaan berharap pembangunan kandang bisa selesai beberapa bulan kedepan

Dalam kesempatan berbeda, emiten berkode saham DEWI itu melakukan kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan pada renovasi bangunan di lingkungan kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Diantaranya penambahan kamar kecil, pelatihan produktivitas dan transmigrasi, dan renovasi gedung Disnaker Kabupaten Cianjur 

Per September 2022, DEWI mencatatkan laba bersih sebesar Rp 5,98 miliar atau tumbuh 19,4% secara year on year (yoy). Itu sejalan dengan kenaikan penjualan sebesar 91,57% menjadi Rp 106,65 miliar. (INF)

FRISIAN FLAG BANGUN PABRIK BARU DENGAN NILAI INVESTASI 3,8 T

Frisian flag, produsen susu asal Belanda semakin tunjukkan eksistensinya di Indonesia

PT Frisian Flag Indonesia membangun pabrik baru di Cikarang, Jawa Barat, dengan investasi tahap awal senilai 225 juta euro atau setara Rp 3,8 triliun untuk produk susu cair dan krimer kental manis. Pabrik ini memiliki kapasitas 244 juta liter per tahun untuk susu cair serta 476.000 ton per tahun untuk produk krimer kental manis.

Presiden Direktur Frisian Flag Indonesia Maurits Klavert menyampaikan bahwa setelah hampir 100 tahun hadir di Indonesia, pabrik itu menjadi simbol kebanggaan bagi perusahaan. Seiring investasi tersebut, perusahaan akan meningkatkan pula penyerapan susu segar dalam negeri yang dipasok oleh belasan ribu peternak sapi perah rakyat di Tanah Air.

“Pabrik baru ini akan mencakup fasilitas produksi atau pengolahan produk susu cair siap minum dan susu kental manis, sentra logistik dan distribusi serta perkantoran dengan menggunakan teknologi modern dan ramah lingkungan,” katanya, Selasa, 9 Maret 2021.

Sebanyak 90 persen hasil produksi akan menyasar pasar ekspor dan 10 persen sisanya untuk pasar dalam negeri. Pabrik baru seluas 25 hektare tersebut diperkirakan mampu menyerap tenaga kerja akan sebanyak 848 orang.

Adapun pabrik Cikarang ini akan melengkapi dua fasilitas produksi perseroan yang sudah ada saat ini di Pasar Rebo dan Ciracas, Jakarta Timur. Terakhir perseroan mencatat omzet tahunan berjumlah 11,6 miliar euro atau Rp 197,7 triliun pada 2018.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang yang ikut hadir dalam seremoni pembangunan pabrik mengapresiasi Frisian Flag yang turut berupaya mendorong pertumbuhan produksi susu segar.

Industri pengolahan susu merupakan salah satu sektor manufaktur pangan yang mendapat prioritas pengembangan dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035.

“Industri ini masih dihadapkan pada tantangan pemenuhan bahan baku, karena sampai saat ini hanya 22 persen bahan baku susu yang dipasok dari dalam negeri,” katanya saat peresmian pembangunan pabrik Frisian Flag. (INF)

Dirjen PKH: Investasi Sektor Perunggasan Paling Diminati

Dirjen PKH, I Ketut Diarmita. (Foto: Infovet/Ridwan)

Komoditas sektor perunggasan menjadi salah satu incaran bagi para investor, baik di dalam maupun luar negeri. Hal itu seperti disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita.

“Periode 2015-2018 sampai dengan triwulan kedua, komoditas unggas merupakan komoditas paling menarik investor, baik PMA maupun PMDN. Realisasi investasi PMA selama periode tersebut untuk komoditas unggas sebesar 82,14% dan PDMN sebesar 86,78%,” ujar Ketut saat pertemuan dengan awak media di Jakarta, Senin (12/11).

Ia menambahkan, pada 2018 sampai dengan triwulan II investasi PMA sub sektor peternakan mencapai US$ 54,3 ribu dan PMDN sebanyak Rp 405,1 juta. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, peningkatan investasi PMDN di sub sektor peternakan 2018 masih didominasi komoditas unggas, yaitu sebesar 85,1% dan komoditas sapi 14,9%.

“Sedangkan untuk investasi PMA kontribusi komoditas unggas sebesar 46,9%, komoditas sapi 50,1% dan komoditas lain serta jasa peternakan lainnya sebanyak 3,0%,” jelas Ketut.

Adapaun kebijakan pemerintah dalam mendukung peningkatan investasi sub sektor peternakan, kata Ketut, diantaranya difokuskan untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), kemudian memfasilitasi subsidi bunga Kredit Usaha rakyat (KUR) dengan bunga KUR sebesar 7%, fasilitas peningkatan akses pembiayaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan BUMN, fasilitas pengurangan pajak penghasilan (tax allowance) bagi usaha pembibitan sapi potong dan budidaya penggemukan sapi lokal berdasarkan PP No. 18/2015, mitigasi resiko melalui Asuransi Usaha Ternak Sapi dan Kerbau (AUTS/K) dengan fasilitas bantuan premi untuk 120.000 ekor per tahun sejak 2016 dan peningkatan pemanfaatan kemitraan antara pelaku usaha menengah besar dengan peternak mikro kecil. (RBS)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

ARTIKEL POPULER BULAN INI

ARTIKEL POPULER TAHUN INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer