-->

ESSENTIAL OILS: ALBUM KEARIFAN KUNO

EO diperoleh dari tanaman, apakah dari akar, batang, bunga, kulit pohon atau kulit buah, dedaunan, biji, bahkan buah. (Foto: Istimewa)

Oleh:
Tony Unandar (Anggota Dewan Pakar ASOHI - Jakarta)

Minyak atsiri (minyak terbang) alias Essential Oils (EO) merupakan “the missing link” dalam dunia kedokteran modern, tidak hanya pada kedokteran manusia tetapi juga pada hewan. Seiring dengan munculnya kesadaran baru kemungkinan adanya sisi abu-abu penggunaan “Antibiotic Growth Promoter” (AGP) pada pakan ternak pasca publikasi Schwann (1969) dalam “food producing animals”, maka penggunaan EO dalam bentuk sediaan tunggal dan/atau kombinasi dengan preparat non-antibiotika lainnya seolah-olah menemukan cakrawala baru.

Kerajaan Tumbuhan (Plant Kingdom)
Sepanjang sejarah manusia dan hewan, tumbuhan (tanaman) adekuat terbukti memegang peranan yang sangat vital bagi kelangsungan hidupnya, terutama jika mencermati siklus energi atau rantai makanan di alam. Tegasnya, sebenarnya peranan tumbuhan tidak hanya penting bagi menjaga keseimbangan ekologis dalam planet, dimana manusia/hewan itu berada, tetapi juga adanya hubungan yang intim dalam dimensi fisik, emosi dan spiritual dengan umat manusia sejak semula keberadaannya.

Sampai hari ini tumbuhan masih menjadi primadona sebagai subjek pelbagai penelitian atau penemuan baru, terutama dalam dunia teknologi nutrisi dan kedokteran modern. Bagian-bagian tanaman seperti akar, kulit kayu, bunga, biji dan dedaunan yang tersebar menutupi hutan belantara, dasar sungai atau laut, perbukitan, atau bahkan pada area yang belum terjamah di bumi inipun mulai dieksplorasi.

EO dan ekstrak tumbuhan (plant extracts/herbal) lainnya yang pada awal mula sudah teranyam erat dalam kebijaksanaan (kearifan) kehidupan manusia kuno sehari-hari, yang seolah sekumpulan “mutiara” yang pernah hilang dalam ilmu kedokteran modern, kini mulai digali kembali. Sejarah telah mencatat, manusia kuno menggunakan EO dan herbal untuk membunuh bakteria, jamur dan virus, kemudian perang mengatasi gigitan serangga, kumbang, bahkan ular dan mengobati beberapa penyakit yang “misterius”. Juga digunakan untuk stimulasi pertumbuhan jaringan tubuh atau bahkan regenerasi jaringan syaraf (Alagawany et al., 2015; Akbarian et al., 2016; Dhifi et al., 2016).

Penelitian modern pada kehidupan manusia, EO juga terbukti dapat memperbaiki keseimbangan emosi, meningkatkan semangat, mengurangi emosi negatif dan memberikan atmosfer yang romantis bagi kehidupan manusia itu sendiri (Ali et al., 2015).

Sekilas Sejarah EO
Sebenarnya penggunaan EO sebagai bahan anti infeksi, kosmetik, agen suportif, aroma terapi atau sebagai pengawet (misalnya pengawetan mayat atau mummi) sudah tercatat sejak... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2021. (toe)

MAKAN TELUR, SIAPA TAKUT?

Tony Unandar. (Foto: Infovet/Ridwan)

Oleh:
Tony Unandar
Sekretaris Dewan Pakar Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI)

Tidak ada korelasi positif antara kegemaran mengonsumsi telur ayam dengan peluang mendapatkan serangan jantung. Penelitian ilmiah secara intensif yang berakhir tahun 1996 oleh Harvard School of Public Health Amerika telah membuktikan hal tersebut. Apakah hal ini merupakan secercah harapan baru untuk para penggemar telur?

Hewan ovipar, termasuk ayam umumnya meletakkan telur untuk kelangsungan keturunannya. Agar embrio yang terdapat di dalamnya dapat berkembang dengan baik, maka telur tersebut tentu saja harus mengandung komponen nutrisi lengkap dan seimbang sesuai yang dibutuhkan embrio selama perkembangan di dalamnya. Namun dengan adanya intensifikasi dan efisiensi peternakan ayam modern selama tiga dekade terakhir, telur konsumsi umumnya berasal dari ayam petelur modern yang tidak dibuahi.

Telur Ayam dan Nilai Nutrisi
Andai kata telur tidak mengandung kolesterol, tentu saja tidak akan ada kontroversi antara konsumsi telur dengan kesehatan manusia. Yang jelas menurut National Academy of Sciences (NAS) Amerika, sebutir telur ayam ras yang besar mengandung kira-kira 215 miligram (mg) kolesterol atau sama dengan duapertiga dari total kebutuhan kolesterol manusia dewasa perhari, yaitu sekitar 300 mg.

Tiap butir telur mengandung kira-kira 6 gram protein dan 5 gram senyawa lemak. Kira-kira 50% dari total protein telur terdapat dalam bentuk albumin (putih telur), sedangkan senyawa lemak umumnya terdapat dalam kuning telur dengan komposisi lemak tidak jenuh lebih dari 50%. Protein telur merupakan protein yang ideal bagi manusia, karena terdiri atas asam-asam amino esensial yang seimbang. Selain itu, telur juga mengandung zat besi (Fe), riboflavin, asam folat, vitamin B12, D dan E. Hampir serupa dengan daging, zat besi yang terkandung dalam kuning telur terbukti mempunyai bioaviabilitas tinggi, dengan demikian merupakan asupan penting bagi anak yang sedang bertumbuh. Walaupun tidak mengandung vitamin C, telur merupakan sedikit jenis makanan yang mengandung vitamin D cukup tinggi.

Telur mata sapi tiga-per-empat matang. (Foto: Istimewa)

Kolin merupakan suatu substansi nutrisi yang sangat penting bagi perkembangan fungsi kognitif (kesadaran dan pengertian) dari jaringan otak (Hasler, 2000). Kolin juga ditemukan dalam susu, hati dan kacang-kacangan. Secara alamiah, tubuh manusia mampu membentuk kolin sendiri, namun jumlahnya tidak mencukupi. Menurut NAS, seorang laki-laki dewasa membutuhkan asupan kolin sebanyak 550 mg/hari, sedangkan wanita dewasa sebanyak 425 mg/hari. Padahal, sebutir telur ayam mengandung paling tidak 280 mg kolin/butir. Ini berarti memenuhi lebih dari separuh kebutuhan kolin baik pada laki-laki maupun wanita dewasa.

Kandungan Nutrisi Perbutir Telur Ayam Ras (ACSH*, 2002)

Komponen

Kandungan/Butir Telur

Kalori

75 kal

Total lemak (fat)

5 gr

Lemak jenuh

1,5 gr

Kolesterol

213 mg

Protein

6,25 gr

Vitamin A

317 IU

Vitamin D

24 IU

Vitamin E

0,7 mg

Vitamin B12

0,5 mcg

Vitamin B6

0,07 mg

Asam folat

23 mcg

Thiamin

0,031 mg

Riboflavin

0,254 mg

Fosfor

89 mg

Zink

0,5 mg

Zat Besi

0,72 mg

Kolin

280 mg

Lutein

150-250 mcg

Zeaxanthin

200 mcg

Sumber: ACSH/American Council on Science and Health (2002).


Telur Ayam dan Konsep Kepadatan Nutrisi
Seorang ahli nutrisi umumnya selalu mencermati komposisi dan kepadatan nutrisi dari masing-masing bahan pangan. Bahan pangan yang mengandung kepadatan nutrisi tinggi adalah bahan pangan yang secara relatif mengandung komponen nutrisi penting dalam porsi tinggi seperti yang dibutuhkan manusia setiap harinya. Itulah sebabnya untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, setiap orang sebaiknya mengonsumsi bahan pangan yang mempunyai kepadatan nutrisi tinggi.

Telur ayam adalah salah satu contoh bahan pangan yang mengandung kepadatan nutrisi tinggi. Secara substansial telur ayam juga mengandung komponen nutrisi yang sangat bervariasi (lihat juga pada tabel di atas). Tiap butir telur ayam yang relatif besar (+ 60 gram/butir) mengandung 4% dari total kebutuhan kalori yang dibutuhkan oleh seseorang yang mengonsumsi 2.000 kalori perhari. Sebutir telur ayam juga paling tidak memberi kontribusi sedikitnya 4% dari kebutuhan manusia dewasa perharinya dalam hal protein, riboflavin, vitamin A, vitamin B6, vitamin B12, asam folat, zat besi, fosfor dan seng (zinc).

Hasil survei yang dilakukan Departemen Kesehatan Amerika pada 2002, ternyata orang yang mengonsumsi telur ayam rata-rata mempunyai tingkat kecukupan dan kelengkapan nutrisi yang lebih tinggi dibanding dengan orang yang tidak mengonsumsi telur ayam. Karena telur ayam tidak mengandung vitamin C, maka sangat dianjurkan selain mengonsumsi telur ayam juga mengonsumsi jus buah atau buah-buahan segar secara bersamaan.

Telur Ayam dan Isu Kolesterol
Pandangan mengenai peranan telur ayam dalam diet ternyata terus mengalami pergeseran nyata. Dalam masyarakat tradisional misalnya, telur ayam dianggap suatu bahan makanan yang terbaik, murah dan mempunyai cita rasa lezat. Itulah sebabnya, setiap anggota masyarakat dianjurkan mengonsumsi telur setiap hari. Akan tetapi, pada sejak dekade 1970-an, ketakutan akan mengonsumsi telur mengalami peningkatan. Adanya isu keterkaitan kandungan kolesterol yang ada dalam telur ayam dengan insiden serangan jantung pada masyarakat modern telah mengakibatkan suatu ketakutan untuk makan telur ayam. Walaupun ternyata keliru, kondisi ini kadang kala dimanifestasikan dalam tindakan yang berlebihan.

Dari banyak penelitian ilmiah telah dibuktikan bahwa kadar kolesterol darah yang tinggi, khususnya low-density cholesterol (LDL) biasanya selalu berasosiasi dengan tingginya risiko kejadian aterosklerosis (suatu kondisi dimana pembuluh darah mengalami penebalan dan pengerasan). Kondisi terakhir inilah yang merupakan faktor pencetus tingginya insiden serangan jantung (strokes) pada manusia.

Patut diketahui bahwa kolesterol dalam sistem sirkulasi darah manusia sebenarnya berasal dari dua sumber, yaitu yang dibentuk di dalam tubuh dan sebagian berasal dari bahan makanan. Dalam kondisi normal, tubuh selalu menjaga agar kadar kolesterol darah selalu berada dalam kondisi stabil. Ini berarti jika konsumsi kolesterol dari bahan makanan meningkat, maka tubuh secara otomatis akan mengurangi sintesa (pembentukan) kolesterol dalam tubuh, demikian juga sebaliknya. Mekanisme inilah sebenarnya merupakan argumentasi awal yang dapat menjelaskan mengapa mengonsumsi kolesterol dari bahan makanan hanya akan memberi efek yang tidak terlalu besar terhadap peningkatan kadar kolesterol dalam darah.

Majalah Circulation yang diterbitkan oleh American Heart Association dalam edisi ketiga volume 102 tahun 2000 mempublikasikan bahwa kolesterol dalam diet (makanan) bukanlah suatu faktor utama yang menentukan kadar kolesterol darah. Laporan penelitian ini sebenarnya memperkuat hasil penelitian ilmiah intensif yang dilakukan oleh ACSH pada 1996 yang membuktikan bahwa jenis dan jumlah lemak yang ada dalam diet adalah lebih penting dalam mempengaruhi kadar kolesterol darah, bukan kadar kolesterol dalam diet. Padahal, kadar LDL dalam darah sudah terbukti disebabkan karena konsumsi lemak jenuh yang berlebihan. Sebutir telur, walaupun mengandung kolesterol, namun hanya memenuhi 1,7% kebutuhan lemak jenuh pada manusia dewasa (J Am Coll Nutr 2000; 19: 495S-498S).

Jadi, dengan adanya penelitian yang intensif terkait dengan diet dan penyakit metabolik secara umum, pandangan mengenai peranan telur ayam dalam frekuensi kejadian serangan jantung pada manusia mengalami pergeseran. Sekarang, telur ayam justru dianjurkan untuk dikonsumsi pada batas-batas yang wajar, bukan dianggap suatu yang sangat menakutkan.

Telur Ayam dan Isu Alergi
Reaksi alergi terhadap beberapa bahan makanan dapat saja terjadi pada beberapa individu yang peka terhadap bahan tertentu. Kondisi ini dapat terjadi pada anak-anak atau orang dewasa, hanya saja kejadian pada anak bisanya relatif lebih tinggi. Sebagai contoh, di Amerika kira-kira 1,5% orang dewasa dan 6% anak-anak dilaporkan mengalami alergi terhadap satu atau beberapa jenis bahan makanan. Reaksi alergi yang tampak bisa mulai dari yang paling ringan misalnya gatal-gatal sampai ke yang paling parah yaitu kematian.

Berdasarkan laporan Food Allergy and Anaphylaxis Network pada 2001, ternyata ada kira-kira 175 jenis bahan makanan yang mengandung senyawa kimia yang dapat menjadi pencetus reaksi alergi pada orang tertentu yang mengonsumsinya. Sebanyak 90% dari bahan makanan tersebut tergolong dalam kacang tanah, kenari, kacang almond, buah kemiri, susu, ikan, telur, kacang kedelai, tepung terigu dan bangsa kerang. Walaupun reaksi alergi terhadap telur ayam pada beberapa individu memang ada, akan tetapi insiden kejadiannya di lapangan relatif sangat kecil. Sebagai pembanding, berdasarkan laporan Food Allergy Basics pada 2001, reaksi alergi hebat terhadap bahan makanan di Amerika hanya berkisar 30.000 kasus/tahun.

Jadi, telur memang sangat dibutuhkan bagi anak yang sedang berkembang, selain mencegah stunting (kekerdilan) pada balita, juga perlu untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap mendapat nutrisi yang cukup dan lengkap, terutama dimasa pandemi COVID-19 yang masih berkecamuk. (toe)

AYO IKUTI LOMBA TIKTOK DAN POSTER EDUKASI GIZI TOTAL HADIAH RP 5 JUTA



 
KOMPETISI KREATIVITAS TIKTOK

“Ayo Makan Ayam dan Telur untuk Tingkatkan Imunitas dan Kesehatan”

Link pendaftaran: http://bit.ly/lombatiktokgiziayamdantelur

Batas upload video: 28 Juni 2021

Syarat dan Ketentuan :

1. Peserta

• Siswa TK/SD bersama orang tua murid

• Siswa SMP/SMA-sederajat (sendiri/kelompok)

• Umum (sendiri/group- missal Ibu PKK/Group Senam/Mahasiswa)

2. Peserta memiliki akun Instagram dan Tik Tok yang aktif serta tidak dikunci (private)

3. Follow Instagram dan mention 3 temanmu untuk follow ig @majalahinfovet_official

4. Peserta wajib mengunggah video dance Tik Tok ke akun Tik Tok dan Instagram dengan mengambil potongan jingle lagu ayam dan telur dan teks yang tersedia di https://pinsarindonesia.com/materi-lomba-tiktok-dan-poster-gizi/

5. Penilaian berdasarkan kreativitas yang disesuaikan dengan tema, jingle dan bahan materi eduk

6. Panitia lomba berhak mempublikasikan atau menayangkan hasil lomba baik sebagian maupun utuh

7. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat


LOMBA POSTER GIZI

“Ayam dan Telur Tingkatkan Imunitas dan Kesehatan”


Kategori Umum


Syarat dan Ketentuan:
1. Karya poster dibuat secara individu
2. Teks poster bisa mengacu pada artikel manfaat ayam dan telur yang ada di website https://pinsarindonesia.com/materi-lomba-tiktok-dan-poster-gizi/
3. Ukuran berkas maksimal 10 MB dengan jenis berkas JPG (ukuran persegi resolusi 1080×1080 piksel atau minimal 600×600 piksel)
4. Untuk karya yang dibuat secara manual dikirimkan dalam bentuk digital dengan format sesuai dengan poin di atas
5. Peserta mengunggah poster di media sosial Facebook atau Instagram, dengan tagar #ayamdantelurtingkatkanimunitasdankesehatan dan menyebut (mention) akun ig @majalahinfovet_official
6. Akun Instagram peserta tidak terkunci (tidak boleh akun Private)
7. Mengikuti (follow) akun @majalahinfovet_official dan mention 3 temanmu
8. Peserta wajib mengumpulkan naskah hasil karya poster paling lambat 28 Juni 2021 melalui email: marketinggita2018@gmail.com

Informasi dan konfirmasi:
087778286375 (Mariyam)

ANGGARKAN RP 200 MILIAR, MALINDO OPTIMIS BANGUN FARM & RPHU

Direktur PT Malindo Feedmill Tbk. Rewin Hanrahan (kanan) dan Rudy Hartono Husin. (Foto: Infovet/Ridwan)

PT Malindo Feedmill Tbk. menyiapkan anggaran belanja modal sebesar Rp 200 miliar yang dialokasikan untuk pembangunan farm dan RPHU. Mengingat kondisi pandemi COVID-19 yang belum usai, pihaknya tetap optimis walau ada beberapa hal yang tertunda.

Direktur Malindo Feedmill, Rudy Hartono Husin, dalam Public Expose PT Malindo Feedmill Tbk, Kamis (24/6/2021), mengatakan bahwa penundaan pembelanjaan modal untuk pabrik feedmill di Lampung dan beberapa farm. Namun, pihaknya terus mencermati situasi dalam melakukan ekspansi agar memberikan hasil maksimal.

“Normalnya Malindo tiap tahun anggaran belanja modal sebesar Rp 500-600 miliar, namun kami masih mencermati keadaan, begitu situasi membaik, kondisi stabil, pasti ekspansi akan terus berjalan," kata Rudy.

"Tahun ini kami anggarkan berkisar Rp 200 miliar, jadi kami bangun yang esensial dulu. Nanti kita alokasikan untuk beberapa farm broiler dan rumah pemotongan hewan unggas (RPHU)."

Kepercayaan diri itu terlihat dari kinerja perusahaan yang semakin membaik. Dijelaskan Rudy, pada kuartal I 2021, penjualan bersih Malindo meningkat sebesar Rp 453 miliar dari kuartal I 2020.

“Kinerja kami sangat bagus di kuartal I tahun ini. Penjualan meningkat 27% dibandingkan kuartal I 2020 dan kita punya laba bersih yang juga meningkat signifikan menjadi Rp 112 miliar, meningkat Rp 94 miliar atau naik 522% dari kuartal I sebelumnya,” jelas Rudy.

Peningkatan dikarenakan penjualan pakan ternak naik Rp 245 miliar atau meningkat 22% , diikuti segmen DOC sebesar Rp 148 miliar atau setara 55%. Demikian pula pada penjualan ayam pedaging yang meningkat masing-masing 34%.

“Ini menunjukkan performa luar biasa dari seluruh tim. Kuartal I menjadi start luar biasa, kami harapkan sampai akhir tahun kondisi bisa jauh lebih kondusif, sehingga kita punya hasil yang lebih baik,” harapnya.

Sementara ditambahkan oleh Direktur Malindo Feedmill, Rewin Hanrahan, strategi peningkatan kinerja juga dilakukan dengan menambah produk-produk baru.

“Tahun ini ada produk baru dan sudah launching sekitar dua bulan lalu, diantaranya produk karage jahe merah, nugget vegetable dan nugget pedas. Diharapkan tahun ini kita juga rilis produk-produk baru lainnya,” katanya.

Upaya lain yang juga digenjot perseroan, lanjut Rewin, adalah ekspor produk-produk olahan. Malindo pun sukses masuk ke pasar Jepang yang dikenal ketat dalam melakukan importasi.

“Tahun ini kita sudah satu kali ekspor ke Jepang dan akan terus-menerus ekspor produk-produk olahan kita. Disamping itu kita juga sudah ada permintaan dari Timor Leste dan memperkenalkan produk kita ke Timur Tengah dan Papua Nugini. Kita harapkan respon mereka baik, karena kita sudah berhasil ekspor ke Jepang, sehingga tidak diragukan lagi mengenai kualitas dan keamanan produk kita,” pungkasnya. (RBS)

LIMBAH MAKANAN SEBAGAI PAKAN SAPI DI INDIA



Di India, menurut Dr Kumarasamy Murugesan dari Departemen Ilmu Lingkungan di Universitas Periyar, sebagian besar limbah makanan yang dihasilkan di daerah pedesaan sudah dikonsumsi oleh sapi perah dan ternak lainnya. Peternakan sapi perah tetap menjadi kegiatan ekonomi yang sangat penting di seluruh negeri.

Pemanfaatan sisa makanan diatur secara informal dan berskala kecil. Sapi juga diberi makan limbah pengolahan makanan seperti dedak padi, bungkil dari kacang-kacangan dan pati sagu, dan beberapa perusahaan pakan juga menggunakan bahan-bahan ini.

Karena harga tinggi dan terbatasnya pasokan bahan baku pakan konvensional di India, saat ini ada minat besar di kalangan petani terhadap alternatif bahan pakan, termasuk lebih banyak penggunaan limbah makanan dan produk sampingan.

Kumarasamy menunjuk sebuah perusahaan start-up di India yang memperluas penjualan pakan ternak berbasis limbah makanan untuk sapi perah. Perusahaan mengeringkan limbah makanan di lingkungan yang terkendali. Selain itu, para ilmuwan di Guru Angad Dev Veterinary and Animal Sciences University juga telah mengembangkan cara untuk mendaur ulang sisa makanan menjadi pakan ternak.

Seperti di negara lain, pemborosan makanan di India, kata Kumarasamy terjadi di setiap tingkatan. Untuk kemajuan penggunaan limbah makanan sebagai pakan ternak, dia mengatakan studi survei rinci dan analisis diperlukan, pada ketersediaan, variasi musiman, sifat, jenis, kuantitas dan kualitas limbah makanan, biaya pengumpulan, pemisahan dan transportasi. (via dairyglobal.net)

KERATOKONJUNGTIVITIS PADA KAMBING DAN DOMBA

Keratokonjungtivitis pada ternak kambing dan domba. (Foto: Istimewa)

Keratokonjungtivitis merupakan penyakit mata yang menular cepat pada ternak kambing dan domba yang disebabkan oleh infeksi bakterial yaitu Moraxella bovis, Mycoplasma conjuctivae dan Chlamydia sp. Pada sapi, penyakit ini umum dikenal dengan nama Pink Eye.

Pada kambing dan domba, selain bakteri tersebut sebagai penyebab utama, Moraxella ovis, infeksi virus Herpes I, bisa menjadi penyebab. Infeksi menyebabkan hiperlakrimasi, keluarnya leleran dari sudut mata yang kental putih-kekuningan dan pada tahap akhir menimbulkan kekeruhan pada kornea mata dan kebutaan.

Mata yang terserang bisa unilateral atau bilateral. Infeksi menular cepat pada ruminansia kecil karena kontak dengan ternak tertular, kontak dengan peralatan atau pakan terkontaminasi bakteri dan ditularkan oleh vektor lalat (Musca autumnalis).

Selain itu, stres pada kambing dan domba karena perubahan cuaca, perpindahan tempat dengan manajemen baru, pengangkutan, perlakuan yang kurang memperhatikan kesejahteraan hewan dapat menurunkan daya tahan dan menyebabkan kambing dan domba mudah terinfeksi berbagai penyakit termasuk infeksi bakteri penyebab keratokonjungtivitis.

Angeles J.A. (2020), menyampaikan adanya beberapa faktor risiko pemicu timbulnya keratokonjungtivitis, yaitu iradiasi sinar ultraviolet, debu, iritasi pakan pada mata, kekurangan mineral seperti Cu dan Se, transportasi, penyelenggaraan kontes ternak dan perdagangan.

Gejala Klinis
Gejala klinis yang dapat diamati adalah munculnya air mata berlebih, hiperlakrimasi, makan yang tidak tenang, sering memiringkan kepala, keluar lendir atau leleran kental dari sudut mata dan mata tampak memerah. Pada tahap berikutnya, mata kambing/domba terlihat memutih, timbul kebutaan pada sebelah mata atau keduanya. Gejala mata memutih terjadi begitu cepat, 48-72 jam setelah gejala klinis pertama muncul. Akibat kekeruhan, kerusakan kornea yang menyebabkan kebutaan, biasanya kambing/domba berjalan tertinggal dan berbeda arah dari kawanannya.

Epidemiologis
Umur ternak mempengaruhi kepekaan terhadap infeksi. Aguilar XF et al. (2017), dalam studi cross sectional dan kasus kontrol menemukan, infeksi keratokonjungtivitis pada ternak domba daripada kambing dan infeksi lebih banyak ditemukan pada umur muda (0-1 tahun).

Yadav SK (2018), menemukan bahwa infeksi keratokonjungtivitis pada kambing lebih sering ditemukan… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2021.

Ditulis oleh: 
Sulaxono Hadi (Medik Veteriner Ahli Madya) &
Ratna Loventa Sulaxono (Medik Veteriner Pertama)

PASAR EKSPOR BRASIL 2021



Di antara pasar ekspor utama Brasil tahun ini, Filipina khususnya mengimpor lebih banyak, naik menjadi 61.900 ton (+65,3%), seperti halnya Rusia dengan 42.800 ton (+33,6%), Inggris dengan 41.700 ton (+41,4%) dan Chili dengan 39.700 ton (+152,9%).

Paraná, wilayah Brasil pengekspor terbesar, mengirimkan 737.100 ton dalam 5 bulan pertama tahun ini, volume yang 6,5% lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu.

Santa Catarina, wilayah Brasil lain pengekspor terbesar kedua, mengekspor 399.900 ton (-5,47%). Rio Grande do Sul mengirimkan 287.800 ton (+2,31%).

Selain daging unggas, penjualan telur Brasil di luar negeri 162,3% lebih tinggi, termasuk telur alami dan telur olahan. Antara Januari 2021 dan April 2021, ekspor telur mencapai 4.638 ton, atau 2.870 ton lebih banyak dari periode yang sama tahun lalu. Pendapatan naik menjadi 173,1%, setara dengan US$ 6.211 juta pada tahun 2021 dibandingkan US$ 2.269 juta pada tahun 2021.

Uni Emirat Arab mengimpor 3.461 ton, Jepang 133,6 ton (+18,5%) dan Oman, dengan 270 ton (tidak ada pengiriman yang tercatat pada tahun sebelumnya).

Selain itu, Chili dan Argentina telah mengizinkan Brasil untuk mengekspor telur ke pasar mereka. Argentina sekarang menerima impor dari semua negara bagian Brasil, dan Chili menerima impor dari semua pabrik di Rio Grande do Sul, Mato Grosso do Sul, Minas Gerais, Paraná, Santa Catarina, dan São Paulo. (via poultryworld.net)

EKSPOR BRASIL MEMBAIK 4,6% LEBIH TINGGI HINGGA MEI



Antara Januari dan Mei, ekspor unggas Brasil 4,6% lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa sektor ini telah mengembalikan penurunan 4,7% yang terjadi dalam dua bulan pertama tahun 2021. Asosiasi Protein Hewan Brasil (ABPA) menginformasikan bahwa negara tersebut mengekspor 1,846 juta ton dalam 5 bulan pertama tahun 2021, 82.000 ton lebih banyak dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Akumulasi pendapatan naik 4,8%, US$ 2,826 miliar pada 2021 dibandingkan US$ 2,697 miliar pada 2021. Angka-angka ini mencakup semua produk, termasuk daging unggas alami dan olahan.

“Laju penjualan daging ayam yang stabil ke pasar internasional telah membantu menyeimbangkan tekanan yang ditimbulkan oleh biaya produksi pada perusahaan-perusahaan yang memiliki akses ke ekspor, yang setara dengan sekitar 70% dari pabrik di bawah pengawasan federal,” analisis presiden ABPA Ricardo Santin.

Menurut Santin, negara-negara pengimpor menjaga tingkat permintaan tetap stabil dan produk Brasil tetap kompetitif di luar negeri meskipun harga biji-bijian tinggi. Brasil mengekspor ke lebih dari 143 negara di seluruh dunia. (via poultryworld.net)

LIMBAH MAKANAN SEBAGAI PAKAN SAPI PERAH DI EROPA



Di Eropa saat ini, pembaruan peraturan tentang penggunaan limbah makanan sebagai pakan sangat diharapkan oleh European Dairy Association (EDA).

Direktur Pangan, Lingkungan & Kesehatan EDA Helene Simonin Rosenheimer mencatat bahwa hambatan penggunaan limbah makanan dalam pakan sapi perah saat ini tinggi, karena masalah keamanan makanan dan pakan yang serius di masa lalu dengan penggunaan limbah makanan sebagai pakan. Namun, katanya saat ini, banyak bahan sisa makanan yang dapat digunakan untuk pakan sapi perah (dan produk sampingan pengolahan susu yang dapat digunakan untuk pakan ternak lainnya) yang telah dibuang di masa lalu sekarang dapat digunakan kembali.

“Undang-undang saat ini sering menghalangi pendekatan praktis,” kata Helene. “Kami menyarankan agar semua pihak berwenang yang terlibat bekerja pada ‘total chain approach’ yang bertujuan untuk memenuhi keamanan pangan dan pakan dan dengan mempertimbangkan persyaratan ekonomi sirkular.”

Helene mengamati bahwa kerangka legislatif yang ada perlu diperbarui untuk menanggapi meningkatnya ambisi lembaga, industri, warga, dan pemangku kepentingan lainnya terhadap pencegahan dan pengurangan limbah makanan lebih lanjut. “Dalam konteks ini,” jelasnya, “jika dan ketika legislator akan merevisi kerangka legislatif saat ini, memastikan koherensi dengan Green Deal dan tujuan dari Circular Economy Action Plan akan menjadi yang paling penting.” (via dairyglobal.net)

LIMBAH MAKANAN SEBAGAI PAKAN TERNAK DI KANADA



Di Kanada, program bernama Loop yang menghubungkan peternak dengan toko kelontong untuk memanfaatkan sisa makanan sebagai pakan semakin besar setiap tahunnya. Sekarang mencakup 207 toko dan 1650 peternakan dan pendiri Loop Jaime White mengatakan program tersebut dapat menjangkau sampai ke pantai timur pada akhir 2021 ini.

Program ini memiliki banyak bagian, mulai dari mengedukasi peternak, menindaklanjuti masalah, dan berkomunikasi dengan Badan Inspeksi Makanan Kanada (CFIA) untuk memastikan program tersebut sesuai dengan regulasi pakan. Edukasi pekerja toko kelontong juga penting untuk memastikan sampah dari berbagai departemen toko hanya ditempatkan di tempat sampah khusus untuk memisahkan berbagai jenis sampah.

"Kami memiliki kasus kontaminasi yang sangat rendah," kata Jaime. “Di beberapa tempat lain di dunia itu menjadi masalah, tetapi kami telah sangat berhasil mengembangkan pelatihan dan mengelola operasi yang sedang berlangsung untuk menguranginya. Legalitas telah menjadi tantangan terbesar yang paling penting, mitigasi risiko hukum bagi produsen dan penyedia barang telah menjadi tantangan terbesar. Produsen perlu memastikan bahwa mereka mematuhi pedoman CFIA. Program yang dijalankan dengan baik memastikan hal ini mungkin terjadi.”

Selain itu, para ilmuwan dari University of Manitoba, University of Lethbridge (di Alberta) dan Agriculture & Agri-food Canada telah mempelajari bagaimana ternak (terutama sapi potong) dapat menggunakan sisa makanan. Pemerintah federal juga telah meluncurkan ‘Food Waste Reduction Challenge’ yang akan memberikan hadiah lebih dari CAN$10 juta untuk solusi inovatif dalam mengurangi limbah makanan, bagian dari komitmen Kanada terhadap tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengurangi limbah makanan 50% pada tahun 2030. (via dairyglobal.net)

TANTANGAN PRODUKSI DAGING BIAKAN (CULTURED MEAT)

Prof Budi Tangendjaja. (Foto: Infovet/Ridwan)

Tantangan untuk menghasilkan daging biakan (Cultured Meat) atau daging tiruan adalah cita rasa yang harus dibuat agar sesuai dengan aslinya. Banyak komponen flavor daging yang masih harus diperoleh melalui proses metabolisme langsung dalam tubuh. Kandungan nutrisi daging biakan mungkin masih dapat dibuat serupa aslinya untuk menghasilkan produk seperti nugget ayam, namun membuat daging biakan seperti steak menjadi tantangan tersendiri.

Daging biakan dapat dibuat untuk berbagai jenis hewan seperti tikus, babi, ayam, sapi bahkan daging manusia. Daging biakan adalah daging yang ditumbuhkan di laboratorium (daging in vitro) menjadi topik perbincangan di berbagai media karena merupakan hal baru dan juga menjadi jalan keluar kebutuhan daging untuk manusia di masa mendatang, terutama bagi mereka yang masih mau makan daging atau tidak merubah pola makannya tetapi merasa lebih bertanggung jawab terhadap dunia.

Data produksi dan konsumsi daging di berbagai negara di dunia akan terus meningkat sejalan dengan naiknya pendapatan penduduk. Peningkatan konsumsi daging berkorelasi dengan pendapatan per kapita, dimana makin tinggi pendapatan penduduk maka terjadi perubahan pola makanan dengan meningkatkan konsumsi protein hewani. Hal ini nampak tidak hanya di negara miskin dan pendapatan menengah, tetapi juga dijumpai di negara maju meskipun lebih melandai.

Daging Biakan. (Sumber: Sauthey (2020) Food Navigator).

Untuk memenuhi kebutuhan daging yang terus meningkat, maka diperlukan peningkatan produksi ternak yang umumnya diperoleh dari tiga jenis daging utama, yaitu daging ayam, babi dan sapi. Akan tetapi peningkatan produksi ternak di dunia mengalami berbagai tantangan, tidak hanya dari teknik produksinya, tetapi ketersediaan sumber daya seperti lahan untuk pakan, air, manusia, termasuk lingkungan dan keberlanjutannya (sustainability).

Pertimbangan Manghasilkan Daging Biakan
Berbagai argumentasi mengenai keinginan mengembangkan daging biakan dikemukakan berbagai pihak. Pertama, bahwa… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2021.

Ditulis oleh:
Prof (Riset) Dr Ir Budi Tangendjaja MSc MAppl
Peneliti Utama Bidang Pakan dan Nutrisi Ternak,
Balai Penelitian Ternak (Balitnak),
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Bogor

FAPET UGM SELENGGARAKAN INTERNATIONAL JOINT GRADUATE SEMINAR ON ANIMAL SCIENCE 2021

Kegiatan International Joint Graduate Seminar secara daring (Foto: Humas UGM)

Fakultas Peternakan (Fapet) UGM menyelenggarakan The 2nd International Joint Graduate Seminar on Animal Science pada Sabtu, 12 Juni 2021 secara daring. Seminar yang digerakkan oleh Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Peternakan UGM ini mengambil tema Exploring Links Among Livestock, Agricultural, Education And Tourism In Sustainable Development.

Dalam seminar ini, Fakultas Peternakan bekerja sama dengan Departement of Animal Science- Faculty of Agriculture - Universiti Putra Malaysia (Malaysia) , International College and Faculty of Animal Science and Technology Maejo University (Thailand), College of Agriculture and Food Science University of the Philippines Los Banos (Filipina), dan Institute of Agriculture Camiguin Polytechnic State College (Filipina).

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Dr Ir Ali Agus DAA DEA IPU ASEAN Eng ketika memberikan sambutan dalam acara tersebut mengatakan, seminar tersebut merupakan bukti kesungguhan Fakultas Peternakan UGM untuk mencapai tujuan South-East Asia Network of Animal Science (SEANAS), yaitu konsorsium yang digagas oleh Fakultas Peternakan UGM pada 2009.

SEANAS berperan sebagai jejaring Fakultas Peternakan UGM dan beberapa pendidikan tinggi bidang peternakan di kawasan ASEAN untuk mendukung pelaksanaan ASEAN single community. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh antara lain peluang berkolaborasi akademik dan penelitian yang lebih baik, peluang pertukaran mahasiswa dan staf diantara anggota SEANAS, peningkatan manajemen mutu, dan peningkatan kompetensi mahasiswa bidang peternakan.

Seminar ini menghadirkan 2 pembicara, yaitu Prof Dr Abdul Razak Alimon selaku dosen luar biasa di Fakultas Peternakan UGM and Prof Dr Henning Otte Hansen dari University of Copenhagen, Denmark.

Prof Dr Abdul Razak Alimon dalam presentasinya yang berjudul Future Trends in Livestock Feeding for Sustainable Production mengatakan, pakan memiliki andil besar dalam upaya meningkatkan peternakan berkelanjutan. Daerah tropis di negara-negara ASEAN memiliki potensi besar untuk penyediaan pakan yang efisien. Optimalisasi potensi tersebut dapat dilakukan dengan peningkatan penguasaan pengetahuan dan teknologi. Inovasi dan teknologi pakan harus berdasarkan kebutuhan ternak, sehingga produktivitas dapat tercapai secara maksimal. Di era industry 4.0, industri peternakan salah satunya harus memanfaatkan teknologi internet of things dan sensor untuk memudahkan pemantauan ternak, serta dapat memberikan lingkungan (pakan) berdasarkan kebutuhan ternak, sehingga didapatkan peternakan yang berkelanjutan (sustainable livestock farming).

Prof Dr Henning Otte Hansen dalam presentasinya yang berjudul Value Chains In Animal Production mengungkapkan bahwa value chain memiliki peran besar dalam peningkatan efisiensi dalam industri peternakan. Value chain membahas secara detail hubungan (link) antara proses dari produksi (on farm) hingga konsumen (to fork). Permasalahan yang membuat value chain dalam industri peternakan lemah adalah minimnya kolaborasi antara satu input dengan input lainnya. Oleh sebab itu, kunci mendasar dalam pembangunan value chain yang supaya kuat adalah kolaborasi antara masing-masing input. Hal ini dapat dilakukan dengan peningkatan inovasi dan teknologi serta proses transfer teknologi kepada peternak melalui pendampingan berkelanjutan (sustainable farmer advisory).

Ir Nafiatul Umami SPt MP PhD IPM ASEAN selaku ketua panitia seminar mengatakan, seminar yang terutama diikuti oleh 141 mahasiswa Magister dan Doktor tersebut bertujuan sebagai ajang untuk berbagi pengetahuan diantara para peneliti mahasiswa pascasarjana di Asia Tenggara, memperoleh wawasan dalam perspektif internasional, dan membangun jejaring diantara mahasiswa pascasarjana.  Terdapat 53 abstrak dari Iran, Filipina, Thailand, Malaysia, Taiwan, China, Kamboja, dan Indonesia.

 Ada 4 (empat) topik dalam seminar ini, yaitu: 1. Peternakan dengan subtopik: Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak, Pemuliaan dan Reproduksi Ternak, Teknologi Hasil Hewan, Produksi Hewan, dan Sosial Ekonomi Peternakan; 2. Pariwisata dengan subtopik: Wisata Hewan, Agrowisata, Tour Wisata Pedesaan dan Wisata Alternatif lainnya, 3. Pendidikan pertanian dengan subtopik: Inovasi Pertanian/Pedesaan, Intervensi Penyuluhan Pertanian, Pertanian Digital, dan Mata Pencaharian dan Keberlanjutan Pedesaan, 4. Pertanian dan Bisnis Peternakan.

Prof Budi Guntoro PhD selaku koordinator jejaring institusi Universitas di Southeast Asia, yang juga President of Asia Tourism Management Academic Association (ATMA), mengatakan bahwa seminar ini akan dilanjutkan tahun depan di The 3rd International Joint Graduate Seminar on Animal Science tahun 2022, dengan memperluas jaringannya ke luar Asia Tenggara. (Rilis/INF)

 

 

WPF MERILIS SERI VIDEO UNTUK PETERNAK UNGGAS AFRIKA



World Poultry Foundation di AS telah mengembangkan serangkaian video pelatihan online yang bertujuan membantu peternak unggas pedesaan Afrika untuk meningkatkan dan memperluas usaha mereka.

Seri video pelatihan mencakup pengelolaan pakan, air, brooding, vaksinasi, pencatatan, biosekuriti, dan kandang unggas. CEO World Poultry Foundation, Randall Ennis, mengatakan, “Kami menemukan bahwa peternak mampu meningkatkan hasil dan keuntungan mereka secara signifikan setelah mereka memiliki akses ke informasi tentang praktik terbaik.”

Video tersebut dikelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu:

  • Produksi : pakan, air, litter, brooding.
  • Manajemen: vaksinasi, pengelolaan (pencatatan).
  • Kandang: kandang unggas, persiapan kandang, dan biosekuriti.
  • Produsen skala kecil: nutrisi rumah tangga, dan pengelolaan pemeliharaan ayam rumahan.

MENKO PEREKONOMIAN DORONG KONSUMSI AYAM DAN TELUR

Menko Perekonomian, Airlangga Hartanto (tengah), saat simbolis mengonsumsi ayam dan telur dalam kunjungan kerja di Jatinom, Klaten. (Foto: Dok. Pinsar)

Klaten, Sabtu 19/6/2021. Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Airlangga Hartarto, menggelar kunjungan kerja di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Ia mendorong masyarakat mengonsumsi protein hewani untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Menurut politisi Golkar yang juga anggota Komisi VI DPR, Singgih Januratmoko, mengatakan kunjungan kerja tersebut sekaligus membagikan bantuan sosial berupa paket ayam dan telur. Bansos tersebut merupakan kerja sama Menko Aialangga Hartarto,  DPP Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Indonesia dan BNI.

“Acara ini sekaligus pemecahan rekor MURI, pembagian 50.000 telur. Penyerahan simbolik paket ayam dan telor diserahkan kepada 500 warga Jatinom,” ujar Singgih yang juga Ketua Pinsar Indonesia dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (19/6).

Singgih menambahkan, pemecahan rekor Muri tersebut merupakan salah satu upaya Menko Perekonomian mendorong konsumsi protein hewani dalam kondisi pandemi COVID-19. Hal tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan daya serap produksi unggas nasional.

“Pemecahan rekor MURI tersebut menunjukkan kepedulian Menko Airlangga Hartarto terhadap masalah perunggasan dengan kampanye konsumsi ayam dan telur,” ucap dia.

DPP Pinsar yang menaungi peternak mandiri UMKM berharap, kepedulian dan dukungan Menko Perekonomian mampu menggerakkan ekonomi, sehingga rakyat sehat dan ekonomi bangkit.

“Menko Airlangga Hartarto menjadi ikon bagi masyarakat perunggasan dan bagi keluarga Indonesia pada umumnya, dalam kepedulian terhadap pemenuhan gizi keluarga melalui protein ayam dan telur,” ungkap Singgih.

Ia pun turut menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan BNI dan masyarakat Jatinom yang membantu kesuksesan acara penyaluran bantuan sosial sekaligus pemecahan rekor MURI. Selain itu, juga dilakukan penandatangan kerja sama antara BNI dan DPC Pinsar Klaten untuk penguatan modal usaha bagi peternak. (INF)

ASOSIASI UNGGAS ARAB BARU TERBENTUK

Sebuah asosiasi baru, Union of Arab Poultry Producers, telah dibentuk dan terdiri dari perwakilan dari berbagai asosiasi produsen unggas di Arab Saudi, Kuwait, Oman, Yordania, Mesir, Sudan, Tunisia, Bahrain, Aljazair, Maroko dan UEA.

Berkantor pusat di Abu Dhabi di UEA, Union of Arab Poultry Producers, sebuah organisasi nirlaba, bertujuan untuk membantu para peternak unggas di negara-negara Arab meningkatkan produksi unggas dan telur melalui lokakarya, acara pelatihan, dan konferensi. Keanggotaan terbuka untuk peternak unggas, asosiasi unggas, dan pusat penelitian terkait di seluruh dunia Arab.

Union of Arab Poultry Producers akan diluncurkan secara resmi pada EuroTier Middle East edisi kedua pada Maret 2022 di Abu Dhabi UEA, di mana diharapkan lebih dari 1.000 produsen unggas dari berbagai negara Arab hadir. Perwakilan dari berbagai asosiasi dan serikat produsen unggas akan berkumpul untuk mengadakan sidang umum pertama dan memilih Dewan dan Presiden. (via poultryworld.net)

PENGARUH WARNA PAKAN PADA PERFORMA BROILER



Unggas, termasuk ayam, dapat melihat dalam rentang spektrum warna yang luas, dan beberapa warna dapat menjadi rangsangan bagi mereka. Sebuah studi dilakukan oleh Joseph P Gulizia dan Kevin M Downs di School of Agriculture di Middle Tennessee State University di AS, untuk menentukan apakah pakan berwarna dapat merangsang ayam broiler untuk mengkonsumsi lebih banyak pakan.

Ayam memiliki penglihatan trikromatik yang berkembang dengan baik, memungkinkan mereka untuk melihat semua bagian dari spektrum cahaya yang tampak dan beberapa ultraviolet. Telah dilaporkan bahwa aktivitas ayam seperti mematuk, dapat dipengaruhi oleh warna dan dapat digunakan untuk meningkatkan minatnya pada makanan tertentu.

Meskipun agak tidak konsisten, penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa warna pakan berpotensi meningkatkan atau menurunkan konsumsi pakan pada ayam broiler, sehingga mempengaruhi pertambahan bobot badan selama masa pertumbuhan. H Khosravinia mengamati bahwa ayam broiler mengkonsumsi pakan secara signifikan lebih banyak dengan pencahayaan hijau dan pakan hijau dibandingkan kombinasi cahaya dan pakan lainnya.

Selain itu, JB Cooper mengeksplorasi warna pakan pada kalkun dan melaporkan bahwa unggas lebih menyukai warna hijau, seperti yang ditunjukkan oleh penerimaan mereka yang kuat terhadap pakan hijau. White Leghorn diuji responnya terhadap warna pakan merah, kuning, hijau, dan biru, hasilnya paling menyukai pakan biru dan kurang menyukai pakan merah yang secara signifikan mengurangi konsumsi pakan. Sebaliknya, Leslie menemukan bahwa ketika anak ayam broiler diberi pilihan antara pakan yang tidak berwarna dan berwarna, mereka lebih memilih pakan yang tidak berwarna.

Untuk memperluas pengetahuan dasar terkait dengan pewarnaan pakan unggas, penelitian dilakukan untuk menilai bagaimana perubahan warna pakan dapat mempengaruhi kinerja ayam broiler yang tumbuh hingga usia 21 hari. Warna yang dipilih untuk penelitian mewakili warna primer dan sekunder, dan mewakili panjang gelombang yang lebih panjang (merah, oranye, kuning, hijau) dan lebih pendek (biru dan ungu).

2 percobaan dilakukan di School of Agriculture di Middle Tennessee State University untuk menentukan efek warna pakan pada kinerja ayam pedaging:

  • Percobaan 1 meliputi 4 treatment yaitu kontrol (diet starter ayam pedaging lengkap), merah, hijau, dan biru.
  • Percobaan 2 meliputi 4 treatment, yaitu kontrol, oranye, kuning, dan ungu.

Perlakuan warna makanan terdiri dari pewarna bubuk human food grade non nutrisi. Diet kontrol tidak memiliki inklusi pewarna. Setiap tratment (60 ekor/treatment) diberikan kepada 240 ekor ayam broiler Cobb 500 jantan selama 21 hari pembesaran, dan data dianalisis.

Untuk Percobaan 1, ditemukan sedikit efek warna pakan pada performa ayam. Pakan merah dan hijau menekan AFCR hari 1 sampai 21 masing-masing sebesar 3,2 dan 2,4%, dibandingkan dengan pakan kontrol. Efek serupa dari pakan merah terlihat untuk AFCR antara hari 1 dan 14, dengan peningkatan 2,6% dibandingkan dengan pakan kontrol.

Ayam yang mengonsumsi pakan biru memiliki AFCR yang sama dengan ayam kontrol pada setiap periode waktu. Namun, tidak ada parameter kinerja lain yang berbeda di seluruh treatment dalam percobaan ini. Seperti hasil Percobaan 1, Percobaan 2 menunjukkan sedikit pengaruh pakan oranye, kuning, atau ungu pada performa ayam secara keseluruhan dibandingkan dengan pakan kontrol.

Namun, beberapa efek menarik terdeteksi. BWG antara hari ke 1 dan ke 14 unggas yang diberi pakan ungu 6,4% lebih tinggi dibandingkan unggas yang diberi pakan kuning.

Hasil kinerja ayam pedaging dari penelitian ini menunjukkan bahwa efek warna pakan tidak konsisten, tetapi tidak menunjukkan keengganan terhadap warna tertentu. (via poultryworld.net)

TYSON MELUNCURKAN DAGING BERBASIS NABATI DI ASIA-PASIFIK



Pengolah dan pemasar ayam, sapi, dan babi terbesar kedua di dunia, Tyson Foods, meluncurkan makanan pengganti daging berbasis nabati di pasar Asia-Pasifik tertentu.

Peluncuran awal di bawah merek First Pride akan memperkenalkan Bite, Nugget, dan Strip beku yang dibuat dari tanaman kepada konsumen di Malaysia, dan akan meluncurkannya ke pasar lain di negara tersebut dalam beberapa bulan mendatang.

Protein berbasis tanaman telah mengalami peningkatan popularitas di Malaysia dalam beberapa tahun terakhir dan semakin meningkat selama pandemi.

Tercatat penjualan eceran makanan pengganti daging di Asia-Pasifik mencapai US$16,3 miliar pada tahun 2020 dan diperkirakan akan melebihi US$20 miliar pada tahun 2025. Protein alternatif diperkirakan dapat mencapai 11% dari pasar protein global pada tahun 2035.

“Pasar Asia secara alami cocok untuk kategori ini dengan produk nabati tradisional seperti tahu yang sudah mengakar dalam budaya,” kata Tan Sun, presiden Tyson Foods Asia-Pasifik. (via poultryworld.net)

MHP BERINVESTASI DALAM PROYEK-PROYEK BARU DI EROPA DAN ARAB SAUDI

Produsen unggas Ukraina, MHP, akan menginvestasikan €35 juta untuk memperluas kapasitas produksi di Serbia. MHP sedang membangun fasilitas produksi baru di dalam negeri, dimana yang pertama sudah selesai.

Proyek Serbia diharapkan menjadi bagian dari dorongan perusahaan yang bertujuan untuk memperluas bisnisnya di Eropa. MHP juga memutuskan untuk menginvestasikan tambahan €10 juta untuk memperluas kapasitas produksi PerutninaPtuj di Kroasia.

MHP mengakuisisi integrator unggas yang berbasis di Slovenia, PerutninaPtuj pada Februari 2019 seharga €273 juta. Pada tahun 2020 lalu MHP mengatakan berencana untuk berinvestasi dalam modernisasi, optimalisasi biaya, dan perluasan aset produksi di PerutninaPtuj selama 3-4 tahun ke depan.

Sebagian dari investasi MHP di negara-negara Eropa disediakan oleh subsidi dari pemerintah daerah. Selain itu, MHP saat ini sedang menjalankan tender dan negosiasi untuk meluncurkan proyek pertamanya di Arab Saudi. MHP mempertimbangkan lebih banyak investasi di pasar yang dinilai paling menjanjikan, yaitu Eropa dan Timur Tengah.

SIAPA PRODUSEN DAGING BABI TERBESAR DUNIA?



Peran China terhadap produksi dan permintaan daging babi global tidak dapat disangkal. 2021 World Mega Producer List menunjukkan kebangkitan China, dengan peningkatan hampir 5 juta induk babi.

6 perusahaan China termasuk di antara 10 produsen teratas dalam daftar produsen mega dunia. Perusahaan-perusahaan ini memiliki lebih dari 100.000 induk babi.

Investasi besar-besaran ($60 miliar AS) digelontorkan untuk membangun kembali industri babi China yang dihancurkan oleh Demam Babi Afrika (ASF).

Sementara itu ada 40 mega produsen dunia tahun ini yang bersama-sama mengelola 16,5 juta babi. Di luar China, hampir tidak ada perubahan jumlah induk babi megaprodusen dunia.

Sejak tahun 1960-an, produsen daging babi telah melihat pertumbuhan berkelanjutan dalam produksi daging babi global. Populasi dunia yang terus bertambah dan tingkat pendapatan yang meningkat di berbagai negara telah memicu produksi dan konsumsi daging babi tambahan.

The annual list of mega pork producers around the world:

(via pigprogress.net)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer