-->

MENYIASATI BAU PADA PETERNAKAN UNGGAS

Penumpukan feses akibat tidak adanya saluran pembuangan (Foto: Istimewa)

Bau merupakan salah satu masalah umum di peternakan unggas yang utamanya berasal dari kotoran unggas. Selain menimbulkan ketidaknyamanan akibat polusi udara yang ditimbulkan, bau juga menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada unggas, terutama gangguan pernapasan.

Mengurangi bahkan menghilangkan bau di peternakan sangat penting untuk kesehatan lingkungan maupun unggas yang dipelihara. Sebelum memulai upaya menghilangkan bau pada peternakan, baik untuk mengetahui penyebab bau tersebut.

Menurut Chastin (2004), bau pada peternakan unggas merupakan campuran gas yang kompleks. Dekomposisi anaerob dari kotoran adalah penyebab yang paling sering menimbulkan bau tidak sedap. Bau yang tercium berasal dari kombinasi 60-150 senyawa berbeda. Beberapa senyawa penting yang menyebabkan bau antara lain volatile fatty acid (VFA), ester, karbonil, aldehid, alkohol, amina dan amonia.

Amonia merupakan gas yang menjadi perhatian utama dalam industri peternakan. Gas ini sangat volatil, dalam artian sangat mudah menguap terutama pada suhu dan kelembapan tinggi. Amonia pada peternakan utamanya berasal dari feses. Peningkatan jumlah amonia dapat disebabkan oleh penumpukan feses dan litter yang basah.

Penumpukan Feses
Feses yang terlalu banyak menumpuk akan meningkatkan kelembapan terutama tumpukan feses bagian dasar. Feses yang menumpuk pada kandang postal broiler harus sesegera mungkin diangkat. Jika diperlukan taburlah sekam yang baru. Perhatikan sekam yang digunakan untuk litter. Sekam tersebut harus kering dan tidak hancur agar dapat menyerap air dengan optimal. Untuk kandang layer diperlukan saluran pembuangan kotoran yang baik agar mempermudah pengeluaran feses dari kandang.

Pemberian beberapa senyawa kimia, herbal, ataupun effective microorganism yang ditemukan dipasaran dapat disebar pada litter untuk membantu mengurangi bau. Senyawa tersebut menghambat penguraian anaerob pada litter ataupun bereaksi dengan senyawa penyebabnya untuk menekan bau.

Litter yang basah disebabkan oleh banyak faktor, antara lain kualitas feses, konstruksi kandang, lingkungan dan manajemen peternakan. Dekomposisi anaerob akan semakin cepat terjadi pada litter basah. Hal ini akan diperburuk dengan suhu dan kelembapan lingkungan yang tinggi.

Masalah penumpukan feses dan keadaan litter yang basah merupakan hal klasik yang selalu terjadi di kandang. Menurut penuturan Jarwadi seorang manajer kandang di salah satu farm kemitraan di Bogor, faktor human error dalam kondisi ini masih besar... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2020) (CR)

PANDEMI COVID-19 BUKAN PENGHALANG BAGI HATN DAN WORLD EGG DAY 2020

Hari telur dan ayam nasional 2020 siap digelar


Konferensi pers menuju peringatan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) serta World Egg Day 2020 digelar via daring Senin (12/10). Kedua acara tersebut sudah menjadi kalender rutin di kalender peternakan Indonesia sejak 2011. Pada tahun tersebut beberapa wilayah di Indonesia banyak terjadi kasus stunting sehingga dibutuhkan asupan gizi protein agar dapat mengentaskan masalah tersebut.

Pemimpin Redaksi Majalah Infovet sekaligus panitia acara Bambang Suharno menjabarkan bahwa acara tersebut dilatarbelakangi oleh rendahnya konsumsi ayam dan telur di Indonesia yang bahkan konsumsinya lebih rendah daripada rokok.

“Konsumsi rokok masyarakat Indonesia tertinggi di ASEAN, yakni 1300 batang / kapita / tahun atau 3,5 batang perhari. Padahal jika dikalkulasikan 3,5 batang itu bisa membeli 2 butir telur,” tutur Bambang.

Ia juga menyebut sekarang ini banyak beredar berita hoax mengenai ayam dan telur, sehingga masyarakat enggan mengonsumsi ayam dan telur. Selain itu pesaing bagi telur dan ayam dalam konsumsi rumah tangga juga bertambah, pesaing tersebut bernama pulsa atau paket data.

“Oleh karena itu ini merupakan tantangan bagi sektor peternakan Indonesia dimana produksinya berkembang terus, tetapi konsumsinya tidak meningkat secara signifikan,” lanjut Bambang.

Acara ini tentu saja bertujuan untuk meningkatkan konsumsi ayam dan telur di Indonesia. Dimana telur dan daging ayam merupakan sumber protein hewani termurah ketimbang sumber lainnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa protein merupakan zat pembangun yang juga menjadi komponen utama dalam membentuk sistem imunitas tubuh. Harapannya, konsumsi protein hewani yang seimbang membuat imunitas tubuh bekerja dengan prima dan dapat mencegah agen infeksi  baik bakteri maupun virus masuk ke dalam tubuh.

Secara garis besar acara peringatan HATN dan WED 2020 akan berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya karena wabah Covid-19 yang masih melanda. Tahun ini tidak ada acara pengumpulan massa serta lebih mengedepankan daring melalui webinar, live streaming media sosial, dan publikasi media massa baik radio, media cetak, dan elektronik.

Acara terdekat yakni Webinar bertajuk “Ayam dan Telur Meningkatkan Imunitas” yang akan digelar pada 15 Oktober 2020. Webinar tanggal 15 Oktober ini juga spesial karena juga akan diadakan demo masak oleh chef Eddrian Tjhia. Lalu pada tanggal 27 Oktober acara HATN juga akan dilaksanakan di Samarinda, Kalimantan Timur melalui Talkshow di radio dan Televisi lokal dan kunjungan duta ayam dan telur ke peternak di Kalimantan Timur. Acara seremonial juga akan diadakan pada 28 Oktober yang juga dibarengi dengan webinar dengan tema “Prospek Bisnis dan Upaya Meningkatkan Daya Saing Perunggasan Nasional”.

Panitia berharap agar acara kampanye gizi serupa dapat digelar tidak hanya sekali dalam setahun, tetapi beberapa kali. Selain itu dengan adanya kampanye gizi, masyarakat dapat lebih sadar akan pentingnya konsumsi protein hewani bagi imunitas tubuh dan perkembangan kecerdasan. (CR)


GELOMBANG PANAS MEMBUNUH LEBIH DARI 1 JUTA LAYER DI BRAZIL

Gelombang panas dengan suhu di atas 41ºC telah membunuh satu juta layer di kota Bastos, Sao Paulo. Menurut Rural Syndicate of Bastos, sekitar 3% dari seluruh populasi unggas di wilayah tersebut diperkirakan mati.

Bahkan ayam yang selamat, akan menghasilkan telur yang lebih sedikit dan lebih kecil karena stres yang disebabkan oleh panas.

Di satu peternakan saja, sekitar 50.000 layer mati karena suhu tinggi selama periode 5 hari. Bastos adalah daerah penghasil telur terbesar di Brazil dengan 34 juta populasi di banyak peternakan.

Kematian kemungkinan akan memangkas produksi bulanan sebesar 6%, dengan dampak langsung pada pasar telur. Harga konsumen bahkan sudah jauh lebih tinggi. Kenaikan harga telur putih sebesar 6,3% hanya dalam beberapa hari sementara harga telur coklat melonjak 7,2%. (Sumber poultryworld.net)

SOLUSI EFISIENSI BUDI DAYA UNGGAS DENGAN CLOSED HOUSE MINI

Ramadhana Dwi Putra ketika menjelaskan prototype 3 closed house mini yang dikembangkannya. (Foto: Dok. Infovet)

Perkembangan kandang closed house atau kandang tertutup dalam budi daya ayam broiler di Indonesia semakin berkembang pesat. Tantangan cuaca ekstrem hingga peningkatan produksi menjadi alasan peternak beralih ke kandang tersebut. Kendati biaya yang cukup tinggi, kini peternak ditawarkan dengan solusi kandang closed house mini.

“Saat ini banyak peternak beralih ke closed house untuk meningkatkan produktivitas dan menekan potensi kerugian. Banyak faktor dari potensi ternak broiler yang kini mengalami perbaikan genetik yang signifikan tidak mampu keluar akibat faktor iklim yang kerap menggerus kesehatan ternak,” ujar Ramadhana Dwi Putra dalam Seminar Virtual Poultry Indonesia Forum bertajuk “Solusi Efisiensi dengan Closed House Mini” Sabtu (10/10/2020).

Rama-sapaannya, yang menjadi narasumber dalam acara tersebut menjelaskan, banyak perbedaan dalam penggunaan kandang tertutup dibanding kandang terbuka (open house), misal dari kapasitas kandang, mortalitas hingga body weight.

“Kalau di kandang open house di berat antara 1,2-1,3 kg apabila terjadi cuaca ekstrem bisa membuat ayam panting yang tentunya mempengaruhi FCR dan lain sebagainya. Sementara pada kandang closed house memiliki keunggulan temperatur yang bisa dikendalikan dan minim faktor stres lingkungan,” jelas Rama yang kini menjabat Direktur PT Tri Satya Mandiri.

Perbedaan kandang open house, tunnel house dan closed house. (Foto: Dok. Infovet)

Ia menyatakan, penggunaan kandang closed house mini ini menjadi tepat guna bagi peternak unggas. “Karena mampu meningkatkan produktivitas, lahan yang dibutuhkan tidak begitu luas, bisa mencapai 7-8 periode bila tidak ada challenge yang tinggi. Namun perlu diperhatikan peralihan ke kandang closed house, adaptasi operator menjadi faktor utama dalam kualitas produksi,” paparnya.

Rama juga menjabarkan bagi peternak yang ingin beralih ke kandang closed house mini, idealnya dengan populasi 7.500-8.000 ekor per kandang.

“Investasi tergantung dari berapa populasi ternak yang dipelihara, pembuatan kandang ukuran 20 x 7 meter sudah cukup ideal. Yang terpenting perhatikan ventilasi udaranya. Karena kita menggunakan tunnel sistem, aliran udara yang masuk dan keluar, kecepatan angin, juga suhu untuk mengondisikan mileu ayam ini yang menjadi faktor kritis,” ungkap Rama.

Selain itu ia juga menyebut bahwa faktor DOC, pakan, manajemen (brooding, grading, biosekuriti) hingga market, turut menjadi penentu dalam keberhasilan budi daya unggas.

Seminar virtual yang dimulai pukul 10:00 WIB ini juga turut menghadirkan narasumber lain yakni dosen sekaligus Ketua Experimental Farm Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman, Drh Sufiriyanto dan dihadiri sebanyak 260 orang peserta termasuk Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ir Sugiono yang mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian. (RBS)

COVID-19 MELANDA, USAHA “MINI LAYER URBAN FARMING” BOLEH DICOBA

Mini Layer Urban Farming, budi daya ayam petelur yang bisa dilakukan oleh semua lapisan masyarakat. (Foto: Dok. Handris)

Awal 2020 ini dunia sedang dilanda pandemi COVID-19 yang melanda hampir seluruh negara-negara di dunia. Roda perekonomian pun turun drastis pada titik terendah, yang mengakibatkan banyak sekali perusahaan dan usaha kecil menengah tidak bisa bertahan oleh terpaan krisis ekonomi yang kencang ini.

Banyak cara dilakukan berbagai perusahaan agar tetap bisa bertahan menghadapi gelombang krisis ini. Mulai dari mengurangi skala produksi serta mengatur jadwal masuk kerja dari karyawan aktifnya. Dampak ini sungguh terasa pada perusahaan yang bergerak dalam bidang transportasi, hiburan, perhotelan, wisata kuliner dan terutama pariwisata.

Dalam kondisi sulit dan kritis seperti ini perlu mengasah insting bisnis dan mengembangkan ide-ide kreatif dalam rangka menghadapi badai krisis yang belum diketahui sampai kapan akan berakhir dan seberapa parah dampaknya.

Salah satu ide kreatif dan imajinatif adalah diciptakannya model beternak ayam petelur mini atau skala kecil yang dinamakan “Mini Layer Urban Farming” oleh Koperasi Makmur Sidoarjo,  Jawa Timur. Selama ini masyarakat hanya tahu bahwa telur ayam ras yang dikonsumsi setiap hari adalah dari hasil produksi peternakan ayam petelur (layer) intensif berskala besar. Padahal model, bentuk dan cara beternak ayam petelur itu sendiri masyarakat awam masih banyak yang belum tahu.

Kendati demikian, dengan adanya Mini Layer Urban Farming ini masyarakat jadi bisa mengetahui bagaimana model, bentuk dan cara melakukan budi daya ayam petelur dalam skala kecil. Masyarakat bisa mempraktikkan sendiri bagaimana cara beternak ayam petelur yang baik dan benar. Hal yang dulu mungkin hanya sebuah impian, sekarang bisa direalisasikan menjadi kenyataan yang bisa setiap hari mereka kerjakan di rumah atau disela-sela waktu luang sebelum dan setelah jam kerja utama.

Seperti namanya, Mini Layer Urban Farming adalah kegiatan beternak ayam petelur skala kecil yang bisa dilakukan oleh masyarakat urban, yaitu masyarakat perkotaan yang tidak mempunyai lahan yang luas. Kegiatan usaha ini termasuk kategori kegiatan yang multi-purpose, yang mempunyai banyak fungsi sebagai kegiatan usaha beternak, sekaligus mengisi waktu luang, refreshing, maupun edukasi dan pelatihan bisnis pada anak-anak maupun lembaga pendidikan.

Mini Layer Urban Farming adalah konsep beternak ayam petelur dalam kandang baterai yang hanya berjumlah delapan ekor. Paket ternak ini terdiri dari kandang dan ayam dara siap bertelur. Namun, paket kandang dan ayam baru bisa direalisasi untuk wilayah Jawa Timur saja, untuk wilayah di luar Jawa timur hanya berlaku penjualan kandang saja karena terkendala pengiriman ayamnya. Kendati begitu, kandang bisa diisi tak hanya untuk ayam petelur, melainkan ayam kampung ataupun ayam arab.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada budi daya Mini Layer Urban Farming ini adalah sebagai berikut: 
• Siapkan tempat dengan luas tanah 2 x 3 meter.
• Pastikan tempat tersebut mendapat sirkulasi udara yang baik dan cukup, serta teduh.
• Buatlah lantai semen di bawahnya agar tidak becek dan mudah dibersihkan.
• Tempatkan kandang mini di atas lantai semen tersebut.
• Bersihkan tempat minum dan isi penuh dengan air bersih setiap pagi (air minum harus selalu tersedia).
• Pemberian pakan layer komplit (pakan jadi) bisa dilakukan dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore. Pakan bisa dibeli di poultry shop wilayah masing-masing atau dengan mencampur sendiri (konsentrat layer : jagung : katul = 35% : 50% : 15%).
• Jatah pakan adalah 120 gram/ekor/hari. Pagi hari diberikan 60 gram dikalikan jumlah ayam, begitu juga pada pemberian pakan sore harinya. 
• Bersihkan kotoran setiap hari agar tidak menumpuk dan menimbulkan bau. Hal ini juga sebagai pencegah penyebaran penyakit pada ayam.
• Lakukan penyemprotan dengan disinfektan sesuai dosis pada label setiap hari untuk membunuh bakteri dan virus yang ada di kandang.
• Berikan penerangan lampu mulai pada pukul 18:00-22:00, setelah itu lampu dimatikan sampai pagi hari.
• Setelah itu baru bisa dilakukan pemungutan telur.
• Untuk mencegah bau kotoran, bisa diberikan probiotik melalui pakan.

Melihat aktivitas kegiatan dan cara budi daya Mini Layer Urban Farming, sangat memungkinkan usaha ini bisa dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, baik di perdesaan maupun perkotaan dengan lahan terbatas. Lahan yang sempit serta modal yang besar sudah bukan manjadi masalah lagi. Dari memulai berbisnis mini layer ini, nantinya bisa dikembangkan menjadi usaha peternakan ayam petelur yang lebih besar lagi. Untuk itu perlu belajar, praktek, mendalami, mencermati, serta mengevaluasi agar usaha budi daya bisa menjadi berkembang dan membawa manfaat bagi banyak orang, khususnya di era pandemi COVID-19 ini.

Konseptor Mini Layer Urban Farming, Drh Handris Nugraha (kiri) dan Drh Andy Siswanto. (Foto: Dok. Handris)

Diharapkan dengan hadirnya budi daya mini layer ini masyarakat masih bisa beraktivitas serta melakukan kegiatan usaha dengan konsep urban farming yang tentunya sangat bermanfaat. Konsep Mini Layer Urban Farming juga sangat cocok sebagai salah satu pilihan program bina lingkungan, desa dan kampung tangguh, kemandirian gizi dan ekonomi, serta program CSR (Corporate Social Responsibility) oleh perusahaan-perusahaan yang mudah dilakukan dengan biaya yang murah, serta mudah dikontrol dan dievaluasi keberhasilan maupun kendalanya.

Untuk masyarakat yang kurang beruntung, dengan mendapatkan project mini layer farm ini, mereka bisa mempunyai tambahan lapangan kerja baru, kemandirian gizi dan ekonominya.  Hasil produksi telur selain bisa dikonsumsi sendiri, juga bisa untuk dijual kepada masyarakat.

Analisis usaha Mini Layer Urban Farming

 

Investasi

Biaya

Pendapatan

Perbulan

Kandang

1.200.000

5.000

Ayam pullet

800.000

18.333

Pakan

158.400

Penjualan telur (Rp/bulan)

278.400

Total

2.000.000

181.733

278.400

 

 

 

 

Keuntungan bersih (Rp/bulan)

95.000

ROI (bulan)

21


Catatan:
• Jumlah ayam/pullet (ekor) : 8 (delapan)
• Asumsi produksi (80-90%) : 0.80
• Memproduksi telur         : 7 (tujuh) butir/hari (90% x 8 ekor)
• Produksi satu bulan (butir) : 192
• Harga pakan (Rp/kg)         : 5.500
Feed konsumsi (120 gram/ekor/hari) : 0.12
• Biaya pakan (Rp/bulan) : 158.400
Life time kandang (tahun) : 20
• Beban biaya kandang (Rp/perbulan) : 5.000 
• Beban biaya pullet (Rp/perbulan) : 18.333
• Asumsi pemeliharaan         : s/d 24 bulan
• Asumsi harga telur (Rp/butir) : 1.450
• Asumsi harga ayam afkir 8 ekor (Rp) : 360.000 
• Harga sapronak tergantung wilayah dan bisa berubah setiap saat. ***

Ditulis oleh:
Drh Handris Nugraha (Praktisi perunggasan)

IKUTI WEBINAR NASIONAL “GIZI AYAM & TELUR TINGKATKAN IMUNITAS”

Chef Eddrian Tjhia

Dalam rangka Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) sekaligus World Egg Day (WED), Pinsar Indonesia bekerjasama dengan GITA EO, didukung oleh ASOHI, GPMT, GOPAN dan asosiasi perunggasan lainnya, menyelenggarakan serangkaian acara di Jakarta dan Samarinda-Kaltim.

Acara tersebut salah satunya adalah webinar dengan tema:

Webinar  Nasional “Gizi Ayam & Telur Tingkatkan Imunitas”

Dalam rangka Hari Ayam dan Telur Nasional  (HATN) & World Egg Day (WED) 2020

Diselenggarakan pada Kamis, 15 Oktober 2020, Pukul 09.30 - 12.00 WIB.

Akan hadir dalam webinar Celebrity Chef Eddrian Tjhia yang akan melakukan Demo Masak Menu Ayam dan Telur, live dari dapurnya.

Narasumber:

  1. Ir. Suharini Eliawati (Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Prov. DKI Jakarta) membawakan tema “Kebijakan Penyediaan Ayam ASUH (Aman Sehat Utuh Halal) di Provinsi DKI Jakarta”.
  2. Drh. Gunawan Budi Utomo (FAO ECTAD Indonesia) membawakan tema “Meningkatkan Daya Tahan Tubuh dengan Konsumsi Makanan yang Sehat dan Aman di Masa Pandemi COVID-19”.
  3. Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA (ASOHI/Asosiasi Obat Hewan Indonesia) membawakan tema “Ayam dan Telur Menguatkan dan Mencerdaskan”.

Moderator : Offie Dwi Natalia (Duta Ayam dan Telur, 2018-2021)  

Dapatkan Doorprize menarik untuk peserta yang beruntung!

Pendaftaran klik: bit.ly/HATN_WED2020 atau WA Mariyam 087778296375 dengan format: NamaLengkap_nama Organisasi/Instansi/_Email


BINCANG PETERNAKAN (BP): MENJADI JURNALIS MUDA PETERNAKAN

Webinar jurnalistik dalam rangkaian kegiatan @munasismapeti_xvi ini akan dilaksanakan pada Minggu, 18 Oktober 2020, jam 09.00-11.30 WIB (waktu Jakarta) secara langsung melalui aplikasi zoom.

Topik & Narasumber:

  • Jurnalisme Peternakan: Prinsip dan Etikanya (Pemimpin Redaksi Majalah INFOVET Bambang Suharno)
  • Manfaat Ketrampilan Menulis bagi Pengembangan Karier di Masa Depan (Pemimpin Redaksi Majalah AGRINA Windi Listianingsih)
  • Kiat Menulis Sains Populer Peternakan (Pemimpin Redaksi Majalah POULTRY INDONESIA Farid Dimyati)
  • Kiat Menembus Pemuatan Artikel di Media Massa (Pemimpin Redaksi Majalah TROBOS LIVESTOCK Yopi Safari)

Moderator:

  • Zhahidah (Majelis Pekerja Wilayah II ISMAPETI)
  • Fatiha Az'zikrie Hartan (Koordinator Wilayah II ISMAPETI)

Unduh Poster Acara:

https://www.agropustaka.id/poster/posterjurnalismuda/

Registrasi:

Semua peserta wajib registrasi di: https://www.agropustaka.id/jurnalismuda/

Link akses zoom dikirim ke email yang telah Anda registrasikan, pada 1 hari sebelum acara berlangsung. Pastikan untuk selalu mengecek email yang didaftarkan termasuk yang ada di spam.

Free E-Sertifikat:

Tersedia 500 buah free e-sertifikat, syarat dan ketentuan berlaku

Group Telegram:

https://www.agropustaka.id/telegram

Kontak Panitia:

  • Alexander (wa.me/6288291655193) 
  • Lathifa (wa.me/6282115160086)

Media Partner:

@majalahinfovet_official @majalah_agrina @poultryindonesia @trobos_livestock @agropustaka @livestockreview @indonesialivestock


NUTRICELL BUKA KERAN EKSPOR KE BENUA BIRU


Pelepasan kontainer ekspor PT Nutricell Pacific 


Pandemi Covid-19 nyatanya tidak serta merta menutup kesempatan PT Nutricell Pasific untuk tetap membuka peluang. Nyatanya pada Kamis (8/10) PT Nutricell Pacific meresmikan ekspor mereka ke benua biru, lebih tepatnya Negara Jerman. Acara launching eskpor tersebut dilaksanakan di pabrik Nutricell yang berlokasi di Taman Tekno, Tangerang Selatan. 

Dalam sambutannya, CEO PT Nutricell Pasific Suaedi Sunanto menyatakan kebanggaan dan kegembiraannya terkait kegiatan ekspor tersebut. Pasalnya setelah berhasil menembus pasar Asia pada 2019 yang lalu, kini Nutricell berhasil naik ke level yang lebih tinggi.

"2019 lalu kita tembus pasar Asia, kini Eropa. Dengan begini kita punya portofolio yang lebih baik lagi. Kita semua tahu bahwa pasar Internasional ini terutama Jerman dan Jepang memang sangat sulit ditembus, ini karena mereka menerapkan standar tinggi baik secara regulasi dan kualitas. Oleh karena itu saya juga berterima kasih kepada seluruh tim yang sudah bekerja keras mewujudkan hal ini," tukasnya.

Dalam kesempatan yang sama mewakili Menteri Pertanian yang berhalangan hadir, Direktur Kesehatan Hewan Fadjar Sumping Tjaturrasa juga memberi apresiasi kepada Nutricell atas pencapaiannya. Menurut dia apa yang dilakukan Nutricell menunjukkan bahwa produk dalam negeri dapat bersaing di kancah dunia.

"Ini sangat luar biasa, kami sangat bangga dengan pencapaian ini. Saya juga berharap apa yang dilakukan oleh Nutricell juga bisa banyak ditiru oleh perusahaan obat hewan lain, dan industri obat hewan hingga kini memang merupakan salah satu komoditas andalan Indonesia di kancah ekspor," tutur Fadjar.

Pada hari itu, sebanyak 5 ton bahan baku obat hewan berupa ekstrak jambu mete diekspor ke negeri Bavaria. Nilainya mencapai 917 juta rupiah atau sekitar 53.000 euro. Semoga saja setelah ini Indonesia kembali dapat membuka pasar di luar negeri, bukan hanya bahan baku tetapi juga produk obat hewan. (CR)

PENGEMBANGBIAKAN SAPI BX BUKAN DARI HARTA “GHANIMAH”

(Foto: pataka.or.id)

Oleh: Rochadi Tawaf (Dewan Pakar PB ISPI)

Program pembiakan sapi BX yang selama ini dintroduksikan adalah sebagai berikut, 1) Pembiakan dengan pola integrasi sapi sawit. 2) Pembiakan dengan pola penggembalaan di padang rumput. 3) Pembiakan dengan pola pemeliharaan intensif dikandangkan. 4) Pola pengembangan semi breedlot, yaitu pembiakan yang dilakukan oleh para pengusaha feedlot. Program ini dilakukan oleh Indonesia Australia Comercial Cattle Breeding (IACCB) sejak 2016 silam.

Pola pembiakan sapi BX yang dilakukan bersama dengan peternakan rakyat, telah dilaksanakan di Koperasi Petani Ternak Maju Sejahtera (Lampung Selatan), Koperasi Karya Baru Mandiri (Kotawaringin Barat Kalimantan Selatan) dan Sentra Peternakan Rakyat Mega Jaya (Bojonegoro). Program ini telah menghasilkan efisiensi teknis sosial dan ekonomis usaha ternak pembiakan di wilayah tersebut.

Pada 2015, 2016 dan 2018, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), memiliki program untuk meningkatkan populasi ternak dan produksi daging sapi melalui importasi sapi potong betina produktif dari Australia. Data dari Ditjen PKH menyatakan bahwa impor sapi potong betina produktif pada 2018 sebanyak 2.652 ekor sapi Brahman Cross dan telah didistribusikan ke kelompok ternak dan UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah).
 
Pada akhir Juni 2019, Konsultan PT Mitra Asia Lestari (MAL) melakukan pemantauan perkembangan ternak sapi BX betina produktif yang telah didistribusikan ke beberapa kelompok dan UPTD di sembilan provinsi. Pemantauan difokuskan pada kondisi ternak, seperti tingkat kematian, nilai Body Condition Score (BCS), serta kondisi ketersediaan pakan di 41 kelompok dan empat UPTD (Aceh, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur).

Laporan hasil pemantauan menyatakan bahwa dari jumlah tersebut ditemukan sebanyak 54 ekor ternak mati, 252 ekor ternak dalam kondisi yang sangat kurus dengan BCS 1 dan 352 ekor dengan BCS 2. Kesimpulan kajian tersebut, bahwa permasalahan utama adalah karena kurangnya ketersediaan pakan dan air bersih.

Berdasarkan data dan informasi di atas, PB ISPI (Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia) terpanggil untuk berkontribusi membantu kelompok peternak mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut, sehingga tujuan pengembangbiakan sapi BX dapat terealisasi dengan baik. PB ISPI bekerjasama dengan Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) mengusulkan kegiatan yang dinamakan “Program Perbaikan Sapi Betina Produktif” atau “Improvement Program for Productive Female Cattle” yaitu program untuk memperbaiki kondisi sapi BX betina produktif yang sangat kurus atau kurus dengan cara meningkatkan BCS, sehingga diharapkan dapat mengurangi tingkat kematian ternak di kelompok.

Peradaban Baru Sapi BX
Di Jawa Barat, program ini diawali dengan melakukan rapid appraisal terhadap 24 kelompok peternak penerima sapi indukan. Hasilnya, ternyata sebagian peternak menyatakan bahwa selama setahun sejak sapi tersebut diterima, terdapat sapi yang bunting bawaan hanya 12,47% dan bunting hasil IB hanya 8,03%. Hal ini terutama disebabkan defisiensi pakan. Dampak selanjutnya sapi-sapi tersebut menjadi sulit bunting dan BCS di bawah angka dua sekitar 23%.

Berdasarkan hasil rapid appraisal, tim pendamping menargetkan bahwa sapi-sapi pada tiga kelompok fokus yang ditetapkan sebagai KPI-nya untuk angka kebuntingan minimal 70%, kematian maksimum 4% dan BCS di atas nilai 2,5.

Selanjutnya tim pembina melakukan pembinaan terhadap peternak dengan melakukan bimbingan teknis, melalui kerja sama dengan Balai Latihan Ketahanan Pangan dan Peternakan. Materi bimbingan merupakan pengetahuan praktis dalam mengatasi tiga permasalahan tersebut, yaitu kebuntingan, kematian dan BCS. Materi yang diberikan adalah bioteknologi pakan, reproduksi, manajemen kelompok dan analisis ekonomi bisnis usaha pembiakan.

Dari hasil pembinaan intensif yang dilakukan terhadap tiga kelompok fokus tersebut selama enam bulan, diakhir kegiatan kelompok binaan mampu melampaui target KPI yang ditetapkan, yaitu kebuntingan mencapai 66,6-73,3 %, kematian 0% dan BCS di atas nilai tiga (evaluasi 15 Juni 2020). Sesungguhnya, pada kasus ini telah terjadi “peradaban baru” bagi sapi-sapi BX yang semula dipelihara secara ekstensif di padang gembala, kini dipelihara secara intensif di kandang peternak rakyat yang ternyata mampu berproduksi seperti di tempat asalnya.

Breedlot pada Kelompok Peternak
Secara teknis kelompok peternak sejatinya telah mampu menunjukan keterampilannya melakukan kegiatan usaha pemeliharaan sapi indukan BX. Keberhasilan teknis yang dilakukan kelompok peternak rakyat tersebut sangat bermanfaat bagi Jawa Barat sebagai sentra konsumen yang berpotensi untuk melakukan pengembangbiakan sapi BX dengan pola “breedlot kelompok”.

Konsep breedlot kelompok adalah pola usaha pembiakan sapi BX yang diintegrasikan antara usaha pembiakan dengan usaha penggemukan. Namun, seberapa besar rasio antara kedua usaha tersebut yang ideal untuk direkomendasikan, ternyata belum terungkap dari hasil program ini. Untuk itu perlu dilakukan kajian lebih lanjut dan mendalam mengenai itu.

Keberhasilan kelompok fokus melampaui target yang ditetapkan sebelumnya, terutama disebabkan oleh tiga fakyor utama. Pertama, motivasi integritas peternak yang ditetapkan melalui pernyataan sikap untuk merealisasikan target yang dibuatnya. Kedua, intensifnya tim pembina lapangan (insemintor, tenaga penyuluh dan tenaga kesehatan hewan) dalam membimbing peternak kelompok. Ketiga, sikap pemerintah dalam hal ini adalah pimpinan dinas peternakan di tingkat kabupaten. Kekompakan tiga lembaga ini turut memberikan andil besar dalam proses inovasi teknologi pemeliharaan sapi indukan BX.

Bukan Harta “Ghanimah”
Keberhasilan kelompok dalam meraih target yang ditetapkan adalah akibat terjadinya hubungan yang harmonis antara tenaga lapangan (inseminator, penyuluh dan petugas kesehatan hewan) dan dinas peternakan dalam memainkan perannya dengan peternak rakyat. Pada dasarnya bagaimana agar intervensi teknologi beternak dapat diadopsi peternak dengan baik.

Pada kasus ini, peran pendamping peternak menjadi strategis dalam penyampaian inovasi. Di sinilah pentingnya peran tenaga pendamping dalam menyukseskan program-program besar seperti peningkatan populasi ternak dan lainnya. Namun demikian, peran ini menjadi tidak ada artinya tatkala sarana pendukungya tidak tersedia. Seperti sarana IB (semen beku) dan kesehatan hewan (obat-obatan dan vitamin/hormon).

Satu hal yang juga sebagai pendukung keberhasilan program perbantuan adalah, bahwa peternak harus punya “rasa memiliki” dari program tersebut. Bahwa ternak bantuan pemerintah bertujuan untuk pengembangan usaha, bukannya sebagai bantuan yang habis pakai. Hal ini terjadi karena di masyarakat telah berkembang sikap bahwa bantuan pemerintah adalah ibarat “harta pampasan perang (ghanimah)”. Jadi boleh dihabiskan tanpa pertanggung jawaban, karena tanpa pengawasan dan pembinaan.

Oleh karena itu, sebagai langkah awal yang perlu ditanamkan dalam pengembangan ternak bantuan pemerintah adalah dana yang digunakan berasal dari pajak rakyat yang dititipkan kepada mereka untuk dikembangkan dengan tujuan kesejahteraan masyarakat. Semoga tulisan ini menginspirasi para penyuluh dan pembina peternak di lapangan. ***

PERTIMBANGAN MEMILIH TEMPAT MINUM AYAM

Tempat minum DOC “Baby Drinker”. (Foto: Dok. Darmawan)

Pilihan tempat minum ayam yang berkualitas, membantu meningkatkan kualitas hidup ayam-ayam yang dipelihara. Aspek apa saja yang menjadi pertimbangan dalam memilih tempat minum?

Technical LE, PT Agrinusa Jaya Santosa, Darmawan S. R., menyebutkan lima pertimbangan dalam memilih tempat minum bagi ayam sebagai berikut:
 
1. Kemudahan ayam untuk minum
2. Tempat minum ayam hendaknya terbuat dari bahan yang tidak beracun, tidak bereaksi dengan bahan kimia dan tidak mudah pecah
3. Kemudahan instalasi pemasangan, perawatan dan pembersihan
4. Warna yang menarik untuk ayam
5. Biaya investasi 

Ketika datang ke toko peternakan, bisa ditemui berbagai jenis dan bentuk tempat minum ayam. Mulai dari bentuk bell drinker, PVC atau talang air, galon dan nipple. Dari berbagai bentuk tersebut ada yang sistem manual, semi-otomatis dan otomatis.

Menurut Darmawan, penggolongan tempat minum ayam terbagi menjadi dua sistem, yaitu terbuka dan tertutup.

“Sistem air minum terbuka adalah air minum tersedia di tempat/wadah terbuka, sedangkan sistem air minum tertutup adalah air berada di dalam pipa dan hanya mengalir jika dibutuhkan,” terang Darmawan kepada Infovet, Kamis (10/9).

Adapun kelebihan dan kekurangan dari sistem air minum terbuka dan sistem air minum tertutup, berikut uraiannya:

A. Sistem Terbuka
• Tempat Minum Manual
- Kelebihan: Biaya investasi murah. Kemudian instalasi, perawatan dan pembersihan sangat mudah. Jika terjadi biofilm mudah dibersihkan dengan hanya mencucinya.
- Kekurangan: Ketersediaan air terbatas, peternak harus mengisi ulang secara manual. Mudah terpapar kotoran (misal sekam, feses), serta air mudah tumpah jika tertabrak ayam.

• Semi otomatis (Tempat minum otomatis-bell drinker)
- Kelebihan: Ketersediaan air minum selalu ada. Air tidak mudah tumpah jika tertabrak ayam, karena ada pemberat berupa air di dalam ballast bottle.
- Kekurangan: Mudah terpapar kotoran (sekam, feses). Instalasi membutuhkan pipa PVC. Mudah terbentuk biofilm di PVC, butuh tekanan air besar untuk membersihkan. Kemudian perawatan automatic mechanism harus berkala dan jika terlewat akan terjadi sumbatan yang menyebabkan kebocoran.

B. Sistem Tertutup
Nipple drinker
- Kelebihan: Ketersediaan air minum selalu ada, serta tidak mudah kotor. Perawatan dan pembersihan mudah.
- Kekurangan: Biaya investasi paling mahal. Instalasi membutuhkan keahlian khusus. Lalu, setting ketinggian nipple harus diperhatikan, tidak boleh terlambat dinaikkan. Selain itu kelurusan pipa nipple merupakan hal mutlak, jika tidak lurus akan mudah terjadi jebakan udara di dalam pipa.

Penyumbatan (Biofilm)
Lebih lanjut dijelaskan Darmawan, penggunaan sistem air minum nipple drinker perlu diperhatikan perawatan saluran pipa agar tidak mengalami penyumbatan (biofilm). Langkah pencegahan penyumbatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan filter air.

Upaya berikutnya, saat pemberian obat/vitamin menggunakan medicator (watering systems) jalur pipa minum dengan memperhitungkan dosis dan kebutuhan air minum, diharapkan tidak ada sisa obat maupun vitamin sebagai penyebab utama timbulnya biofilm.

Selesai pemberian obat/vitamin segera dilakukan flushing (pencucian) dengan air bertekanan tinggi. Selama flushing wajib memposisikan “flush” di regulator air.

Instalasi
Mengikuti perkembangan kondisi peternakan saat ini, terjadi pergeseran penggunaan sistem air minum terbuka ke sistem air minum tertutup. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam instalasi tempat minum, diantaranya:

• Ketinggian minimal water torn ke line nipple/regulator air minimal 3 meter
• Ketinggian nipple disesuaikan ketinggian ayam, diposisikan ayam mendongak
• Atur tekanan air dari regulator (lihat ketinggian bola di dalam end line di ujung pipa nipple):
- Hari 0-minggu pertama setinggi 5 cm
- Minggu kedua setinggi 9 cm
- Minggu keempat setinggi 14 cm
- Minggu keenam setinggi 20 cm

Instalasi tempat minum ayam sesuai umurnya. (Foto: Dok. Darmawan)

• Untuk DOC di masa brooding biasanya selain menggunakan nipple juga dibantu penggunaan tempat minum manual, dikarenakan luasan brooding area lebih sempit menyebabkan jumlah nipple tidak sepadan dengan ratio kebutuhan minum ayam. Selain itu bisa juga dengan menggunakan “Baby Drinker” sebagai pengganti tempat minum manual. Jika tempat minum manual ada kerepotan dalam penyediaan air minum dan pembersihan Baby Drinker jauh lebih mudah. Dimana penyediaan air minum menggunakan nipple dengan kombinasi talang.
• Saat masa brooding juga penting diperhatikan suhu air minum yang ada di dalam pipa. Karena pipa terpapar panas dari heater dan menyebabkan air minum menjadi hangat. Air yang hangat akan menurunkan tingkat konsumsi minum. Jaga suhu air minum di 24 °C dengan cara flushing secara berkala. (NDV)

TARGET INDONESIA BEBAS RABIES 2030

Webinar Hari Rabies Se-dunia : 2030 Indonesia harus bisa bebas dari rabies


Target Indonesia untuk terbebas dari rabies pada tahun 2030 dalam pelaksanaannya harus didukung perencanaan yang baik. Target per wilayah dan upaya pengendaliannya juga harus dibuat lebih jelas, sehingga dukungan anggaran untuk pengendalian dapat direncanakan dengan tepat.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementan, Nasrullah pada saat membuka acara Webinar Hari Rabies Sedunia dengan tema Vaksin Rabies Oral: Inovasi dalam Pemberantasan Rabies.

Rabies atau penyakit anjing gila masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan di Indonesia. Tercatat delapan provinsi dan beberapa kabupaten serta pulau di Indonesia bebas penyakit ini, sedangkan sisanya masih merupakan wilayah tertular.

"Saya berharap, webinar ini dapat memberikan masukan untuk upaya yang lebih baik dalam pemberantasan rabies di Indonesia ke depan," ucapnya.

Dalam webinar yang dihadir sekitar 400 orang peserta melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting dan disiarkan langsung melalui YouTube tersebut juga hadir Allaster Cox, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Allaster menyampaikan dukungannya untuk berbagai upaya pemberantasan rabies di Indonesia. Ia berharap bahwa dengan program Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP), kerjasama di bidang ketahanan kesehatan di antara kedua negara makin kuat.

Webinar yang diselenggarakan selama hampir tiga jam tersebut menghadirkan berbagai ahli di bidang rabies dan penggunaan vaksin oral rabies baik di tingkat nasional maupun internasional.

Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH, Kementan dalam paparannya menyampaikan program dan strategi pengendalian rabies di Indonesia. Ia mengakui bahwa pengendalian rabies di Indonesia masih berhadapan dengan berbagai macam tantangan, namun ia mencatat juga bahwa ada banyak pembelajaran dan kisah sukses pelaksanaan program ini.

"Beberapa wilayah berhasil kita nyatakan bebas dari rabies dengan implementasi program pengendalian dan surveilans intensif. Kita optimistis bahwa dengan dukungan berbagai pihak, khususnya partisipasi masyarakat, target bebas rabies 2030 dapat kita capai" ungkapnya.

Potensi Penggunaan Vaksin Rabies Oral

Sementara itu, Katinka de Balogh, Senior Animal Health and Production Officer, FAO Regional Office for Asia Pacific di Bangkok, Thailand yang mewakili Tripartite FAO/OIE/WHO, menjelaskan tentang situasi rabies dan tantangan yang dihadapi di kawasan Asia. Tidak jauh berbeda dengan Indonesia, kawasan regional juga menghadapi permasalahan yang sama, seperti anjing sebagai penyebab utama penyebaran rabies yang masih dilepasliarkan, keterbatasan sumberdaya, dan masih rendahnya tingkat vaksinasi.

"Ada potensi penggunaan vaksin oral rabies untuk meningkatkan tingkat vaksinasi pada anjing," tambahnya.

Karoon Chanachai, Development Assistance Specialist, Regional Animal Health Advisor, USAID Regional Development Mission Asia, menyampaikan pengalamannya saat masih bekerja di Pemerintah Thailand dalam proyek percontohan pemanfaatan vaksin oral rabies untuk meningkatkan jumlah dan cakupan vaksinasi pada anjing di beberapa wilayah di Thailand.

Karoon memastikan bahwa pelaksanaan vaksinasi rabies dengan vaksin oral menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Hal serupa disampaikan oleh Ad Vos, Scientific Expert Rabies, Department of Veterinary Public Health, Ceva Sante Animale, yang memiliki pengalaman puluhan tahun di bidang ini. Ia mencontohkan beberapa percobaan lapangan yang telah dilakukan di beberapa negara selain Thailand, yang menunjukkan bahwa dengan penanganan sesuai standar vaksin oral ini aman dan dapat menimbulkan kekebalan yang diharapkan.

Catatan terkait kemanan vaksin oral rabies juga disampaikan Gyanendra Gongal, Regional Advisor WHO Regional Office for South East Asia (SEARO), yang menekankan pentingnya pemenuhan standar internasional dalam penggunaan vaksin rabies oral.

Dalam ucapan penutupan, Fadjar yang mewakili Dirjen PKH menegaskan komitmen Kementan dalam mendukung target bebas rabies di Indonesia dan global pada tahun 2030, dan menekankan pentingnya mempertahankan daerah bebas serta secara bertahap membebaskan daerah tertular. Ia yakin bahwa masih banyak yang peduli dan mendukung pengendalian rabies, terbukti dengan lebih dari 100 pertanyaan/tanggapan pada dua platform yang digunakan.

"Kita akan gaungkan PReSTaSIndonesia 2030, yakni pemberantasan rabies secara bertahap di seluruh Indonesia dengan target bebas pada tahun 2030," pungkasnya. (INF/CR)

 

EPIDEMI AI YANG TERUS BERLANJUT MERUGIKAN EKSPOR UNGGAS RUSIA

Wabah baru flu burung (AI) yang sangat patogen di Siberia berdampak negatif pada ekspor unggas Rusia. Wabah AI telah dilaporkan di 4 wilayah Rusia, kata Albert Davleyev, presiden badan konsultasi Rusia Agrifood Strategies.

Peternak unggas di Chelyabinsk Oblast dan Omsk Oblast tidak diizinkan mengekspor unggas di dalam Customs Union, dan Chelyabinsk Oblast juga kehilangan izin untuk menjual produk unggas ke Cina, kata Davleyev.

Epidemi telah berdampak negatif pada beberapa perusahaan. Perusahaan agrikultur Ravis dan Zdorvaya Ferma, keduanya terletak di Chelyabinsk Oblast, menjual daging ayam broiler ke Cina tetapi terkena pemberlakuan pembatasan ekspor.

Badan kedokteran hewan Rusia Rosselhoznador telah bernegosiasi dengan layanan bea cukai Cina, membahas kemungkinan mengizinkan peternakan unggas Rusia dengan tingkat perlindungan sanitasi tertinggi untuk melanjutkan ekspor. Davleyev menambahkan bahwa bahkan tanpa izin ini, pembatasan ekspor tidak akan terlalu merugikan peternakan yang terkena dampak, karena penjualan mereka ke pelanggan non-Rusia dibatasi hingga 10% dari keseluruhan penjualan.

Pada tahun 2020, peternak unggas Rusia berencana untuk menjual 280.000 ton daging unggas kepada pelanggan non-Rusia, naik 33% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, kata Sergey Lakhtykhov, direktur umum serikat produsen unggas Rusia.

Rusia berencana untuk meningkatkan ekspor unggasnya dalam beberapa tahun mendatang, kata Lakhtykhov. Fokus utamanya adalah pada produk unggas halal. Pada 2019, keseluruhan penjualan di pasar unggas halal global bernilai sekitar US $ 1,17 triliun. Rusia hanya menyumbang Rub 34 miliar (US $ 500 juta) dari pasar ini. Rusia memproduksi sekitar 650.000 ton unggas halal per tahun. (sumber poultryworld.net)

DAGING UNGGAS DISITA DI LITHUANIA KARENA SALMONELLA

Lebih dari 40 ton daging unggas yang diimpor dari Polandia, Hongaria, dan Rumania telah disita dalam waktu 3 bulan oleh State Food and Veterinary Service negara Lithuania karena kemungkinan kontaminasi Salmonella.

Semua produk unggas yang mencapai Lithuania dan mengandung Salmonella telah ditarik dari pasar dan perusahaan yang terlibat menerima sanksi dari inspektur State Food and Veterinary Service karena menempatkan produk unggas yang tidak aman ke pasar.

Baru-baru ini, 3 peringatan publik telah dibuat oleh otoritas Polandia tentang Salmonella dalam produk unggas dan telur. Sebelumnya pada bulan September 2020, Chief Sanitary Inspectorate Polandia mengumumkan penarikan kembali merek fillet ayam beku setelah pihak berwenang Italia menemukan Salmonella Enteritidis, Salmonella Newport, dan Salmonella Virchow pada produk tersebut. Penarikan lain dipicu oleh dugaan Salmonella Enteritidis yang ditemukan di kulit telur dan pada akhir Agustus, Salmonella Enteritidis dalam sekumpulan daging ayam memunculkan peringatan lain. (sumber poultryworld.net)

BOSCHVELD, RAS AYAM KARYA MIKE BOSCH DARI AFRIKA SELATAN

Via https://web.facebook.com/Boschveld-Ranching-Pty-Ltd-170103130380581/

Berasal dari Zimbabwe, Mike Bosch menjalankan bisnis breeding di Bela-Bela, sebuah kota di Provinsi Limpopo, Afrika Selatan. Lebih dari 20 tahun lalu ia membiakkan sendiri jenis ayam free range yang disebut Boschveld. Ayam ini merupakan persilangan 3 ras asli Afrika yaitu Venda, Matabele, dan Ovambo, dengan rasio masing-masing 50%, 25%, dan 25%.

Ras karya Mike ini menjadi sangat populer di benua Afrika. Mempunyai warna bulu merah, coklat, dan putih. Mike pun menangguk sukses besar dengan memasarkan ayamnya ke seluruh Afrika.

Sekarang ada lebih dari 2 juta ayam Boschveld. Karakteristiknya tangguh meskipun menghadapi kondisi terberat.

Mike mengembangkan paket berisi 10 ayam dan sebuah kandang ayam kecil. Ia menjualnya pada peternak kecil dan siapa saja yang ingin memproduksi telur dan daging ayam sendiri. Peminatnya banyak sekali hingga diekspor ke 17 negara-negara Afrika.

Namun sejak Covid-19 melanda, pasar ekspor hilang. Mike kini fokus ke pasar dalam negeri khususnya mixed DOC.

“Ayam Boschveld dibesarkan murni untuk tahan banting dan sehat. Mereka bertahan hidup dan berproduksi berdasarkan apa yang dapat disediakan alam, dengan hanya sejumlah kecil pemberian pakan tambahan untuk meningkatkan produksi. Afrika bisa menjadi tempat yang sulit untuk hidup, terutama dengan kondisi iklim yang bervariasi, jadi kami membutuhkan ras yang dapat beradaptasi dengan perubahan cuaca.” Demikian Mike menjelaskan. “Ayam di Afrika dipelihara dalam kondisi free range dan harus terus berproduksi dalam kondisi ini.”

Ayam di peternakan milik Mike diuji setiap 3 bulan untuk flu burung dan salmonella dan divaksinasi untuk penyakit seperti Newcastle, Gumboro, dan koksidiosis. Mike saat ini memiliki 27.000 populasi dalam beberapa tahap. Penjualannya selama pandemi secara keseluruhan cukup baik.

Mixed DOC dijual masing-masing seharga R12 (US $ 0,69), fertile egg seharga R8 (US $ 0,46), ayam petelur seharga R115 (US $ 6,63), dan ayam berumur 4 minggu seharga R49 (US $ 2,82). “Lockdown telah menyebabkan semua ekspor terhenti karena perbatasan tertutup dan tidak ada transportasi udara," kata Mike. “Namun, di sisi positifnya, permintaan telur dan ayam lokal meningkat.”

Dalam hal pengendalian penyakit dan flu burung yang ditakuti, Mike mengatakan areanya memiliki status biosekuriti yang baik. “Tidak ada flu burung di provinsi kami,” katanya. “Baru-baru ini saya diperkenalkan dengan produk disinfektan baru yang disebut ADI dan sangat bermanfaat bagi kesehatan ayam saya. Tingkat mortalitas turun 90% yang merupakan hasil yang sangat bagus untuk peternakan saya." (Sumber poultryworld.net)

FAO INDONESIA ADAKAN “FOOD HEROES FESTIVAL” SEPANJANG OKTOBER

FOOD HEROES FESTIVAL penghargaan bagi pahlawan pangan


Pandemi global COVID-19 membuat kita menghargai berbagai hal penting dalam kehidupan terutama: Pangan. Pangan merupakan inti dari kehidupan, budaya dan komunitas kita. Mempertahankan akses pada pangan yang aman dan bergizi merupakan respons yang tak terpisahkan saat menghadapi pandemi COVID-19.

Di saat seperti ini kita sadar bahwa kita tidak bisa menikmati makanan yang tersedia meja maka tanpa para pahlawan pangan. Mereka ada di sekitar kita – petani, nelayan, peternak dan pekerja di seluruh sistem pangan termasuk penggerak pangan dan pertanian masyarakat di perkotaan. Mereka mendorong ketangguhan masyarakat dalam memroduksi, mendistribusikan dan mengonsumsi pangan yang sejalan dengan kelestarian lingkungan.

Tindakan kepahlawanan dalam pangan termasuk tindakan sederhana yang dapat dilakukan oleh semua orang. Misalnya dengan melakukan yang sederhana seperti menghargai makanan, membeli produk lokal, bertani di halaman belakang rumah dan menghindari pemborosan makanan.

Dalam rangka Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober, FAO Indonesia mengadakan rangkaian kampanye digital, antara lain 

Social Media GiveawayYou can be a food hero too! ( 3 - 24 Oktober)

Netizen diminta untuk mempublikasikan foto dan cerita mereka dengan hastagh: #WorldFoodDay #HariPanganSedunia #FoodHeroes.

Pameran Virtual: Pameran virtual untuk menampilkan #pahlawanpangan dalam proyek FAO di Indonesia  (16 Oktober)

Kontes Poster Global: Kontes poster tradisional yang diadakan setiap tahun untuk merayakan Hari Pangan Sedunia. Anak-anak Indonesia termasuk di antara pemenang kompetisi poster global FAO sejak tahun 2015

Food Hero Day: Workshop virtual dan talkshow tentang  #Pahlawanpangan di Indonesia (31 Oktober)

Media dipersilahkan meliput semua kampanye digital melalui media sosial FAO twitter dan IG @FAOIndonesia.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer