-->

PERAN BIOSEKURITI DALAM MENGENDALIKAN PENYAKIT UNGGAS

Bilik disinfeksi untuk kendaraan yang akan masuk ke peternakan. (Foto: Dok. AKI)

Penyakit merupakan salah satu tantangan besar dalam industri perunggasan. Adanya kontak antara agen penyakit dengan unggas adalah kunci terjadinya suatu infeksi. Apabila infeksi penyakit terjadi, efek kerugian ekonomi yang dirasakan peternak akibat adanya kematian dan penurunan produksi bisa sangat tinggi. Oleh karena itu, untuk membantu mengurangi intensitas kontak tersebut, biosekuriti merupakan salah satu langkah yang penting dilakukan.

OIE (2009) menyebutkan bahwa biosekuriti adalah implementasi tindakan untuk menurunkan risiko pemaparan dan penyebaran agen penyakit. Terdapat tiga elemen utama dari biosekuriti, yaitu segregasi, cleaning dan disinfeksi. Jeffrey (1997) menyatakan bahwa ada tiga komponen dalam biosekuriti yang membatasi masuknya agen penyakit dalam suatu peternakan, yaitu isolasi, kontrol lalu lintas dan sanitasi.

Dalam pemeliharaan ayam, ada berbagai titik yang memiliki pengaruh dalam resiko terjadinya penyakit. Siahaan (2007) mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap risiko terjadinya penyakit Avian influenza (AI) adalah keberadaan burung liar yang masuk ke dalam area peternakan, perlakuan terhadap unggas yang sakit dan mati, jarak peternakan dengan rumah penduduk, pembersihan kandang secara berkala, serta penanganan limbah feses.

Selain itu, lalu lintas keluar-masuk peternakan oleh kendaraan maupun personal juga memiliki andil dalam kontak agen infeksi dengan ayam sebagai hospes targetnya. Sebagai makhluk hidup yang sangat kecil, virus dan bakteri memiliki peluang besar untuk terbawa dari satu tempat ke tempat lain. Agen infeksi ini dapat menempel pada pakaian dan alas kaki personal, maupun pada roda kendaraan yang digunakan saat masuk ke dalam suatu peternakan. Saswiyanti (2012) menyebutkan beberapa variabel kontrol lalu lintas yang memiliki pengaruh terhadap paparan penyakit AI adalah kontak unggas dengan pengunjung dan karantina terhadap unggas baru.

Melihat berbagai titik resiko tersebut, pelaksanaan biosekuriti perlu dilakukan secara konsisten untuk menghindari terjadinya penyakit. Pembagian area peternakan menjadi tiga zona (merah, kuning dan hijau) sangat penting agar kontak agen penyakit dengan ayam dapat diminimalisir. Peralatan dari luar, personel yang kontak dengan lingkungan luar peternakan dan kendaraan sebisa mungkin dibatasi hanya pada zona merah. Sementara itu disinfeksi dan pembersihan personel maupun peralatan dapat dilakukan ke zona kuning. Sedangkan zona hijau merupakan area peternakan ayam yang tidak boleh dimasuki tanpa adanya pembersihan di zona kuning terlebih dahulu. Pembatasan akses personel di zona hijau ini juga sangat diperlukan. Seirama dengan pembagian zona biosekuriti ini, pelaksanaan manajemen biosekuriti harus mendapat perhatian khusus. Beberapa contoh pelaksanaan manajemen biosekuriti bisa dilihat... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2020) (ADV SANBIO)

KOLABORASI AMI, USSEC, DAN GITA ORGANIZER GELAR WEBINAR ASF VIA DARING

Kupas tuntas masalah ASF bersama para ahli dalam webinar
 

Rabu 12 Agustus 2020 Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI), United State Soybean Export Council (USSEC) bekerkolaborasi dengan GITA organizer melaksanakan seminar mengenai penyakit African Swine Fever (ASF) via daring.

Sebanyak lebih dari 150 orang peserta hadir dalam pertemuan tersebut. Selain seminar juga diadakan Musyawarah Nasional AMI.

Membuka sambutan perwakilan USSEC Ibnu Eddy Wiyono mengatakan bahwa ada 3 hal yang difokuskan oleh USSEC di Indonesia yakni utilisasi soybean pada sektor peternakan, manusia dan akuatik. Ia juga meminta maaf jika USSEC jarang terlibat dalam peternakan babi di Indonesia, hal ini karena memang di Indonesia populasi babinya tidak sebanyak Vietnam dan Negara lainnya di Asia Tenggara.  Tetapi bukan berarti USSEC tidak peduli dengan sektor peternakan babi di Indonesia.

Di waktu yang sama Ketua Umum AMI Sauland Sinaga dalam sambutannya merasa senang dapat mengadakan acara ini. Menurut dia, sektor peternakan babi Indonesia harus bisa mengcover ASF dan mencegah penularannya lebih jauh lagi.

“Oleh karena restocking dan mencegah ASF lebih jauh itu penting, maka harus segera diupayakan,” tuturnya. Ia juga menyoroti kecukupan protein Indonesia yang masih rendah, dan babi bagi konsumennya tentu dapat menjadi solusi permasalahan stunting akibat rendahnya konsumsi protein hewani di Indonesia.

Presentasi pertama yakni dari Dr Angel Manabat yang berasal dari Filipina yang juga merupakan ahli babi. Dalam presentasinya Dr Angel memaparkan mengenai tips dan trik dalam mencegah ASF melalui biosekuriti. Beliau juga menganjurkan agar setiap peternakan yang terjangkit ASF agar melakukan istirahat kandang yang cukup dan mengaplikasikan biosekuriti yang sangat ketat, karena ASF ini sangat cepat menyebar dan mematikan. Selain itu Angel juga banyak menjabarkan mengenai cara – cara restocking yang tepat apabila hendak memulai kembali beternak.

Presentasi kedua yakni dari Drh Paulus Mbolo Maranata dari PT Indotirta Suaka tentang penerapan biosekuriti yang baik dan benar di peternakan babi dalam mencegah ASF. Ia berbagi pengalamannya dalam mencegah penyakit – penyakit pada babi seperti Hog Cholera.

“Penyakit babi seperti Hog cholera saja misalnya ini sangat mematikan, jika tidak segera dilakukan pencegahan bisa tutup Pulau Bulan itu. Oleh karenanya biosekrutii dan vaksinasi diiringi manajemen pemeliharaan harus baik,” tutur Paulus.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa timing dan ketepatan vaksinasi sangat berguna dalam program kesehatan. Dan menurutnya data keberadaan penyakit harus tepat, ini tentunya dibutuhkan kerjasama yang kompak dengan dinas dinas terkait dan stakeholder lain.

Paulus juga menerangkan masalah swell feeding, menurutnya swell feeding ini juga menjadi kunci masuknya penyakit ke dalam peternakan utamanya peternakan rakyat. Selain itu biosekuriti di peternakan rakyat juga harus dapat membatasi mobilisasi manusia, terutama pembeli babi dimana mereka biasanya masuk dan berpindah dari kandang satu ke kandang lain, dari peternakan satu ke peternakan lain, tentunya mereka berisiko tinggi dalam penyebaran penyakit pada babi.

“memberi makanan sisa ini bahaya, makanya harus diperhatikan. Kalau tidak bisa berhenti swell feeding minimal harus treatment makanan sisanya ini, entah direbus, atau diapakan. Orang – orang juga harus bisa mengontrol diri agar tidak keluar masuk sembarangan. Bahkan dokter hewannya aja bisa lho membawa penyakit ke peternakan babi,” tutur Paulus.

Sesi diskusi dan tanya jawab juga berlangsung sangat interaktif, selain dapat bertanya langsung para peserta seminar juga dapat bertanya melalui gawai secara tertulis yang nantinya dibacakan oleh moderator. Bertindak sebagai moderator dalam acara tersebut yakni Prof Budi Tangendjaja. Setelah seminar berakhir, sesi dilanjutkan dengan diskusi internal oleh para anggota AMI. (CR)

PELATIHAN ONLINE SAPI PERAH



Pelatihan online sapi perah dikemas dalam sesi webinar digelar Rabu, (12/8/2020). Acara ini merupakan hasil kerjasama Yayasan CBC Indonesia dengan BRI Microfinance Center dan didukung oleh Gabungan Koperasi Susu Indonesia.

Webinar ini yang dipandu oleh Robi Agustiar ini, bertujuan meningkatkan kemampuan dan pengetahuan peternak sapi perah bersama para stakeholder, dan untuk mendukung kesejahteraan peternak.

Dibuka dengan sambutan darin Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia, Dedi Setiadi, webinar menampilkan 3 pemateri.

Dr Ir Rd Hery Supratman MS IPM memaparkan materi Manajemen Pakan Sapi Perah. Hery adalah dosen Ilmu Nutrisi Makanan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.

Dia menjelaskan pemberian pakan sapi perah harus sesuai kebutuhan. Hijauan saja tidak mampu menghasilkan produksi susu yang tinggi karena hijauan umumnya kualitasnya rendah. Idealnya pakan sapi terdiri dari hijauan (50-60%) dan konsentrat (50-40%) untuk melengkapi kekurangan nutrisi.

Produktivitas susu tergantung pada beberapa hal antara lain jumlah dan kualitas pakan yang masuk, daya cerna pakan, dan kelengkapan nutrisi ransum.

Sesi kedua diisi oleh Drh Fathul Bari, dokter hewan senior di Koperasi Peternak Susu Bandung Utara (KPSBU) Lembang. Dia memaparkan bagaimana manajemen perkandangan sapi perah yang baik.

Menurutnya sapi yang dipelihara harus bebas dari haus dan lapar, dari rasa tidak nyaman, rasa sakit dan penyakit, rasa takut dan tertekan, dan bebas mengekspresikan tingkah laku alami mereka. 

Agar sapi sejahtera maka perlu diperhatikan bagaimana penyediaan pakan, sarana dan prasarana yang sesuai tingkah laku alami sapi, pemberian enrichment (agar sapi tidak jenuh), pengawasan dan pengontrolan kesehatan, pengontrolan populasi.

Idealnya kandang semestinya aman dan nyaman bagi ternak, pemelihara, juga pengunjung.

Lebih lanjut ia menjelaskan ada sinyal lingkungan kenyamanan sapi dan kebersihan kandang yang terbagi dalam lima skor.

  1. Skor 5: kotoran sapi dibuang secara teratur, alas kering, tempat istirahat bersih dan kering, sapi bersih, bak pakan mudah dibersihkan, tempat minum bersih.
  2. Skor 4: kotoran sapi tidak dibuang secara teratur, tempat istirahat tidak bersih, area bak pakan tidak bersih.
  3. Skor 3: kotoran  sapi tidak dibuang secara teratur, sapi tampak kotor, tempat istirahat tidak kering dan kotor, area bak pakan tidak bersih (sisa pakan tidak dibuang secara teratur), bak minum tidak bersih.
  4. Skor 2: banyak kotoran sapi di lantai dan tempat istirahat, area bak pakan tidak bersih (ada sisa pakan di bak pakan), tempat minum kotor.
  5. Skor 1: lantai sangat kotor, banyak pakan sisa, sapi sangat kotor.

Sesi terakhir dibwakan oleh Nilam Nirmala dari BRI Microfinance Center. Ia menjelaskan tentang literasi keuangan, bagaimana mengatur keuangan peternak di usahanya masing-masing.

Nilam mengajak peternak untuk mulai berkomitmen dan mengelola keuangan dengan lebih baik. Dimulai dari kebiasaan sederhana, disiplin mencatat setiap transaksi meski hanya di lembaran kertas. Selanjutnya setelah terbiasa peternak diajarkan untuk mengelola keuangan secara lebih profesional. (NDV)

POTENSI DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN KERBAU KALIMANTAN SELATAN

Pengembangan dan pelestarian kerbau rawa Kalsel tidak semata bertujuan meningkatkan populasi dan produksi daging, tapi juga menjaga aspek pelestarian budaya dan ekosistem rawa. (Foto: FLICKR.COM)

Kerbau Kalimantan Selatan merupakan rumpun kerbau rawa yang tersebar di beberapa kabupaten di Kalimantan Selatan (Kalsesl). Kerbau ini telah dikukuhkan keberadaannya sebagai plasma nutfah melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 2844/Kpts/LB.430/8/2012.

Plasma nutfah Kalsel ini telah dibudidayakan secara turun-temurun dengan sistem kalang. Budi daya kerbau rawa dengan sistem kalang merupakan kearifan lokal masyarakat yang hidup di daerah rawa di Kalimantan Selatan, Timur dan Tengah.

Oleh karena itu, pengembangan dan pelestarian kerbau rawa Kalsel tidak semata bertujuan meningkatkan populasi ternak dan produksi daging, namun juga menyentuh aspek pelestarian budaya dan ekosistem rawa. 

Berdasarkan kondisi tersebut, Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PC ISPI) Kalimantan Selatan, menyelenggarakan webinar pada Selasa (11/8/2020), dengan topik “Peluang dan Pengembangan Kerbau Kalimantan Selatan” yang didukung Kementerian Pertanian (Kementan), Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari dan Pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan. 

Ketua PC ISPI Kalsel, Sabrie Madani, menyebut bahwa kerbau rawa yang akrab disebut dengan kerbau kalang merupakan kekayaan daerah yang perlu dilestarikan. Pelestariannya membutuhkan kontribusi banyak pihak, baik terkait mutu genetiknya maupun nutrisi dan pakannya.

“Masalah yang sering dihadapi peternak adalah kecenderungan penurunan populasi, diduga karena minimnya sentuhan teknologi dalam pengembangannya, misalnya perkawinan sedarah yang marak sehingga bermunculan gen resesif yang dapat berdampak pada tingginya angka kematian. Di samping itu, penyempitan lahan penggembalaan juga perlu diperhatikan,” kata Sabrie.

Sementara Ketua Umum ISPI, Ir Didiek Purwanto, mengemukakan, upaya pelestarian plasma nutfah secara prinsip memang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, namun ia berharap ada keterlibatan banyak pihak seperti Kementan ataupun pihak swasta yang intens dengan budi daya dan pengembangan ternak di wilayahnya.

 “Ke depannya kita berharap bukan hanya sapi namun kerbau juga harus menjadi prioritas pengembangan untuk basis penghasil protein hewani masyarakat,” ujar Didiek.

Hal itu langsung ditanggapi Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Dr Ir Nasrullah, yang menyatakan bahwa pengembagan kerbau memang menjadi prioritas pihaknya. Namun masih terdapat beberapa kendala salah satunya sistem reproduksi. Kerbau memiliki banyak perbedaan dengan sapi, sehingga upaya peningkatan populasinya melalui teknologi inseminasi buatan tidak mudah dilakukan.

“Masalah bagi kita dalam pengembangannya, namun ke depannya kita akan melibatkan banyak pihak untuk mendapatkan alternatif solusi terkait pengembangbiakan kerbau ini,” kata Nasrullah.

Webinar inipun diharapkan menjadi langkah awal untuk mengangkat potensi kerbau rawa sebagai plasma nutfah unggul melalui perumusan kebijakan pengembangan, riset dan sinergisme antara lembaga serta dukungan pihak peternak dan perusahaan peternakan dalam budidayanya. (Sadarman)

WEBINAR PROSEDUR IZIN USAHA OBAT HEWAN DI JAWA TIMUR

Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Pengda Jawa Timur mengadakan webinar bertajuk “Prosedur Izin Usaha Obat Hewan di Jawa Timur”, pada tanggal 11 Agustus 2020. Acara ini juga didukung oleh Majalah Infovet sebagai media partner.

Salah satu pemateri adalah Drh Diana Devi Mkes yang membahas beberapa hal penting terkait izin usaha obat hewan terutama di Jawa Timur.

Diana menjelaskan sistem perizinan obat hewan bertujuan untuk mengendalikan usaha obat hewan. Dampak negatif berupa kerugian ekonomi terhadap petani/peternak/konsumen obat hewan yang diproduksi dari usaha obat hewan ilegal yang tidak memenuhi persyaratan khasiat, mutu dan keamanannya dapat dikurangi.

Selain itu untuk menjamin agar obat hewan yang beredar di masyarakat terjamin khasiat, mutu dan keamanannya.

Dengan adanya sistem perizinan ini, adanya usaha obat hewan ilegal yang beroperasi di sekitar masyarakat bisa ditekan sekecil mungkin. Pada akhirnya akan terciptanya tertib administrasi dan tertib usaha di bidang usaha obat hewan.

Ketua Umum ASOHI Drh Irawati Fari menyambut baik dan sangat mendukung webinar ini. Irawati juga berkenan mengajak peserta webinar yang belum menjadi anggota, untuk bergabung dengan ASOHI. “Baik pet shop, poultry shop, distributor, dan lainnya itu bisa menjadi anggota ASOHI. Sehingga akan mendapatkan manfaat sebagai anggota ASOHI, diantaranya ASOHI akan menjembatani antara anggotanya dengan pemerintah,” ajak Irawati.

Dalam webinar juga membahas tata cara bagaimana izin usaha obat hewan diberikan kepada pemohon. Berikut ini rinciannya. 

(1) Melengkapi semua persyaratan administratif dan teknis, antara lain:

  • Rekomendasi ASOHI Pengda Jawa Timur. (a) Membuat surat permohonan kepada Ketua ASOHI Pengda Jawa Timur dengan hal Rekomendasi Permohonan Izin Usaha Obat Hewan. (b) Penerbitan rekomendasi.
  • Rekomendasi Dinas Kabupaten/Kota. (a) Membuat surat permohonan sesuai format formulir model -1* ditujukan kepada Kepala Dinas Kabupaten/Kota. (b) Kajian persyaratan administratif dan teknis dengan cara peninjauan lapangan. (c) Penerbitan rekomendasi.
  • Rekomendasi Dinas Provinsi. (a) Membuat surat permohonan sesuai format formulir model -1* ditujukan kepada Kepala Dinas Provinsi Jawa Timur. (b) Kajian persyaratan administratif dan teknis dengan cara peninjauan lapangan. (c) Penerbitan rekomendasi.

(2) Membuat surat permohonan ditujukan kepada Kepala Pusat Perizinan Terpadu (P2T) Provinsi Jawa Timur.

(3) Kajian persyaratan administratif dan teknis tanpa peninjauan lapangan oleh Administrator P2T, maksimal 1 (satu) hari:

  • Menolak apabila ada persyaratan tidak lengkap.
  • Menerima apabila semua persyaratan lengkap.

(4) Surat Izin Usaha Distributor Obat Hewan.

(NDV)

HKTI YOGYAKARTA RINTIS KONSEP PELIHARA AYAM BAHAGIA

Pemberian bantuan ayam petelur kepada Pondok Pesantren Is Aswaja Lintang Songo. (Foto: Istimewa)

Ayam bahagia merupakan konsep budi daya ayam petelur yang mengedepankan kesejahteraan hewan (Kesrawan/animal welfare) dengan cara beternak umbaran untuk menghasilkan telur berkualitas. Hal ini juga didukung dengan teknologi pakan sesuai kebutuhan ternak.

Konsep budi daya ayam bahagia tersebut dirintis PT Widodo Makmur Unggas (WMU) dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) cabang Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan memberikan bantuan 100 ayam petelur kepada Pondok Pesantren Is Aswaja Lintang Songo di Dusun Pagergunung I, Jl. Pagergunung No. 1, Sitimulyo, Piyungan, Bantul pada Kamis (6/8/2020).

Ayam petelur yang dibudidayakan dengan konsep ayam bahagia tersebut menurut Ketua HKTI Cabang DIY, Prof Ali Agus, yang juga Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM), dapat menurunkan stres pada ayam dan meningkatkan kualitas telur. Sebab ayam petelur menghasilkan protein hewani untuk masyarakat dengan harga terjangkau.

Sementara Drs H. Heri Kuswanto, selaku pengurus pondok memberikan apresiasi terhadap program ayam bahagia tersebut. Pertanian dan peternakan menjadi program utama pengembangan pondok, selain ilmu agama yang diberikan kepada para santri.

“Peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola peternakan diharapkan dapat membekali para santri apabila nantinya sudah mulai hidup di masyarakat,” kata Heri.

Dalam hal teknis pendampingan budi daya ayam petelur di Pondok Pesantren Is Aswaja Lintang Songo, dilakukan oleh Laboratorium Biokimia Nutrisi, Fapet UGM. Pendampingan antara lain terdiri dari pembuatan pakan secara mandiri, manajemen budi daya ayam petelur, hingga penjualan. 

Ketua Laboratorium Biokimia Nutrisi Fapet UGM, Prof Lies Mira, yang turut serta dalam penyerahan bantuan memaparkan bahwa peternakan ayam petelur tentunya harus dapat dikelola dengan memperhatikan kaidah Kesrawan.

“Lebih dari itu, peternak perlu memperhatikan lingkungan, pengelolaan yang baik dari sisi pakan dan limbah dapat mengurangi cemaran lingkungan. Selain itu, peternakan juga dapat dijalankan secara efisien sehingga meningkatkan keuntungan,” ujar Lies.

Program pemberdayaan pondok pesantren dan kelompok masyarakat melalui pemberian ayam petelur dan pendampingan budi daya dengan konsep ayam bahagia tersebut juga direncanakan akan dilakukan di beberapa tempat, seperti Pondok Pesantren Irsyadul Anam, di Kalasan Prambangan dan Paguyuban Ibu-ibu Dasawisma Dewi Sari, di daerah Buyutan, Gadingsari, Sanden, Bantul, Yogyakarta. (IN)

TEPUNG JANGKRIK ALTERNATIF BAHAN BAKU PAKAN TERNAK

Online training satwa harapan, harapan satwa jangkrik oleh FLPI dan Fapet IPB. (Foto: Istimewa)

Ketergantungan bahan baku pakan impor di Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Bahan baku pakan sumber protein seperti tepung ikan dan bungkil kedelai misalnya tercatat impornya berturut-turut mencapai 4,1 ton dan 4.450.000 ton.

Oleh karenanya diperlukan alternatif bahan baku lokal sebagai sumber protein, salah satunya yang berpotensi adalah jangkrik yang dapat dibuat tepung dan memiliki kelebihan berprotein tinggi, mudah dipelihara, murah dan bisa dilakukan pada lahan sempit.

Hal itu diuraikan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, Prof Dewi Apri Astuti dalam Online Training Satwa Harapan, Harapan Satwa Jangkrik, yang diselenggarakan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB melalui aplikasi daring, Sabtu (8/8/2020).

Dipaparkan Dewi bahwa protein kasar jangkrik adalah sebesar 58.3%, lemak 10.3%, dengan asam lemak palmitat (16:0) 50.32%, stearate (18:0) 32.06%, oleat 9.77% linoleat 2.34%.

“Adapun asam amino yang terkandung yakni arginin 3.68%, histidin 1.94%, isoleusin 3.09%, leusin 5.52%, lisin 4.79%, methionine 1.93%, sistin 1.01%, phenilalanin 2.86%, valin 4.42%, alanine 5.55%, glisin 3.62% dan hitin 8%,” jelas Dewi.

Oleh karena itu ia menyebut bahwa tepung jangkrik berpotensi menjadi sumber bahan baku pakan untuk ayam broiler dan layer, puyuh petelur, burung kicau, maupun ikan hias.

“Dapat juga dimanfaatkan untuk ternak ruminansia, yakni pada domba sebagai susu pengganti dan pada masa pertumbuhan dan pada kambing bisa diberikan pada masa pertumbuhan, bunting dan laktasi,” katanya.

Dari serangkain penelitian yang dilakukannya, ia menyimpulkan bahwa tepung jangkrik ternyata juga mengandung nutrien berkualitas tinggi. Selain untuk unggas kicau, tepung jangkrik dapat juga diberikan pada hewan model tikus untuk meningkatkan imunitasnya, anak kambing atau domba sebagai susu pengganti, anak kambing atau domba sebagai pakan pertumbuhan, induk kambing pada saat menjelang bunting (flushing diet), serta pada kambing pejantan untuk memperbaiki kualitas spermanya. (IN)

MEWASPADAI RE-EMERGING DISEASE AKIBAT GIGITAN EKTOPARASIT

Caplak Rhipicephalus microplus menjadi vektor penyakut SFTS


Beberapa waktu belakangan dunia kembali dihebohkan dengan wabah baru. Kembali lagi ke negeri tirai bambu sana, sejauh ini di Provinsi Jiangsu Tiongkok, sebanyak 7 orang dinyatakan meninggal dunia dan 64 orang positif terinfeksi penyakit yang bernama Severe Fever Trombocytopenia Syndrome (SFTS). 

Memang penyakit ini bukan penyakit baru, Menurut Dicky Budiman seorang epidemiolog Universitas Griffith Australia penyakit ini sudah ditemukan sejak tahun 2009 yang lalu. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus dari famili bunyaviridae yang menular akibat gigitan caplak (tick) atau sejenis arthropoda seperti kutu.

Salah satu caplak yang bisa menjadi vektor penyakit ini adalah Rhipichepalus microplus alias caplak sapi. Caplak ini biasanya menjadi ektoparasit pada tubuh sapi dan pernah dilaporkan ada pada sapi - sapi asal Australia.

"Kasus pertama penyakit ini ditemukan pada 2009 dan virusnya sudah diisolasi pada 2011. Kasus serupa juga pernah terjadi pada 2013 di Jepang, dan Korea Selatan," kata Dicky.

Dicky juga mengatakan, yang harus diwaspadai dari penyakit ini adalah potensi penularan dari manusia ke manusia, artinya memiliki potensi untuk menyebar ke wilayah lain.

"Namun, dari sisi mekanisme penularannya, maka potensi adanya wabah berskala besar relatif kecil. Termasuk potensi masuk ke Indonesia relatif masih kecil," kata Dicky. 

Ia menjelaskan, virus ini menular lewat paparan darah dan mukosa penderita. Penularan juga hanya dapat terjadi lewat adanya paparan terhadap luka dan saluran pernafasan.

"Gejala yang terjadi berupa demam, batuk, dan gejala mirip flu," jelas Dicky. "Bila melihat gejala klinis yang terlihat maka penyakit ini lebih mirip demam berdarah. Seperti demam trombocytopenia dan perdarahan, bisa berupa gusi berdarah dan bercak di kulit," imbuhnya.

Sementara itu dilansir oleh Detik.com yang mengutip pernyataan Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, Msc. 

Dirinyaa mengatakan agar perlu pengecekan lebih dahulu mengenai caplak pembawa virus tadi apakah keberadaan spesiesnya ada atau tidak di Indonesia. 

“Kalau itu memang zoonosis, kita lihat si caplaknya itu ada nggak di Indonesia? Kalau nggak ada ya kita nggak perlu khawatir,” ujar Tri. 

“Kecuali kalau vektor (caplaknya) ada ya baru kita perlu khawatir dan waspada,” lanjutnya. 

Tidak lupa pula Tri mengajak masyarakat agar tidak panik dan tetap menjaga kesehatan dan kebersihan diri maupun lingkungan dalam rangka mencegah penyakit infeksius apapun jenis penyakitnya (INF).


DUA PENELITI FAPET UGM MEMPEROLEH PENGHARGAAN DARI MURI

Pendiri MURI, Jaya Suprana saat memberikan penghargaan kepada peneliti Fapet UGM secara daring

Dua peneliti Fakultas Peternakan (Fapet) UGM yaitu Prof Dr Ir Ali Agus DAA DEA IPU ASEAN Eng dan Ir Dyah Maharani SPt MP PhD IPM memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) berkat penelitiannya dalam membuat teknologi fermentasi pakan komplet “burger pakan” dan alat penanda DNA. Penghargaan diserahkan secara daring pada Kamis (6/8/2020).

Ali Agus menjelaskan pada Kamis (6/8) bahwa teknologi fermentasi pakan komplet “burger pakan” telah dikembangkan sejak 15 tahun terakhir. Pengembangan teknologi pakan tersebut didasarkan pada fakta bahwa umumnya peternak sapi potong memberi pakan beru/pa jerami, tebon jagung, dan pakan konsentrat yang berasal dari limbah pertanian dan industri seperti dedak padi, kulit kopi, kakao, dan sebagainya yang memiliki kualitas nutrisi relatif rendah.

Untuk meningkatkan kualitas nutrisi pakan, Ali Agus mengembangkan burger pakan ditambah dengan multi mikrobia yang dinamai saos burger pakan untuk meningkatkan kualitas nutrisinya. Dengan demikian, ketika sapi mengonsumsi pakan dengan adanya penambahan/perlakuan saos burger pakan, maka nutrisi dan kecernaannya meningkat sehingga dapat lebih meningkatkan produktivitas ternak. Untuk sapi potong dapat mempercepat pertumbuhan ternak.

Ali mengatakan, burger pakan merupakan teknologi yang mudah, murah, aman dan baik. Burger pakan terbuat dari jerami, padi, dedak gandum, molase, dan larutan mikrobia. Jerami merupakan bahan yang mudah didapat dan murah. Proses fermentasi juga hanya berlangsung selama 24 jam.

Fapet UGM telah mengimplementasikan pembuatan burger pakan ketika terjadi erupsi Merapi pada 2010. Burger pakan ternak menjadi solusi penyediaan pakan ternak berkualitas untuk puluhan ribu sapi milik peternak terdampak erupsi.

Peneliti lain, Ir Dyah Maharani SPt MP PhD IPM mengungkapkan bahwa  pola makan modern cenderung mengonsumsi makanan yang memicu peningkatan kolesterol di dalam darah, dimana jika tidak berimbang dapat memicu penyakit degeneratif seperti jantung koroner, diabetes, dan darah tinggi.

Daging ayam diyakini memiliki kandungan asam lemak tidak jenuh yang berperan dalam menurunkan low-density lipoprotein (LDL) atau sering disebut sebagai kolesterol jahat. Oleh karena itu, Dyah Maharani melakukan penelitian yang menemukan suatu alat untuk menyeleksi ayam-ayam yang akan memproduksi daging dengan kandungan asam lemak tidak jenuh, yaitu dengan menggunakan marker DNA yang ada pada gen Stearoyl-CoA Desaturase (SCD) dimana gen ini berperan sebagai metabolisme asam lemak.

Marker DNA ini sudah dipatenkan di lembaga paten Korea dan bermanfaat untuk mempermudah para peternak ayam dalam memilih ayam-ayam yang akan dibudidayakan.  Dengan dilakukan seleksi, ayam-ayam tersebut akan memproduksi daging yang memiliki kandungan asam lemak tidak jenuh yang baik untuk kesehatan manusia. (Rilis)  

SEGERA DAFTAR INDONESIA ASF WEBINAR, DIGELAR 12 AGUSTUS 2020

 

PENUTUPAN PROGRAM WBA BATCH #1: MENYIAPKAN SDM UNGGUL PERUNGGASAN

Webinar penutupan program WBA batch #1, Senin (10/8/2020). (Foto: Dok. Infovet)

Sehubungan berakhirnya program “Work Based Academy” (WBA) batch #1 atas kerja sama Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) dan PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI), dilaksanakan webinar penutup sekaligus presentasi dari beberapa peserta pada Senin (10/8/2020).

“Program ini menjadi terobosan dalam membangun sumber daya manusia (SDM) unggul untuk mengelola closed house di industri perunggasan. Program ini merupakan kolaborasi yang apik, karena tantangan ke depan adalah menyiapkan industri perunggasan secara efisien dan peran SDM sangat penting untuk menjawab tantangan itu,” ujar Koordinator WBA, Muhsin Al Anas dalam webinar penutupan WBA batch #1.

Pada kesempatan yang sama Presiden Direktur CPI, Dr Thomas Effendy, mengapresiasi suksesnya program WBA tersebut. “Program ini sangat luar biasa, karena industri perunggasan kalau ingin maju, arahnya sudah harus ke closed house untuk bersaing. Namun SDM kita masih sangat minim mengenai closed house, untuk itu dengan adanya program ini kita harap peserta mendapat pengalaman, serta menjadi SDM peternakan unggul dan bisa berkarya di bidang perunggasan khususnya closed house,” ujar Thomas.

Hal senada juga disampaikan Dekan Fapet UGM, Prof Ali Agus, yang turut hadir. Menurutnya program WBA ini merupakan sumbangsih insan peternakan untuk menyiapkan SDM perunggasan yang profesional.

“Di sini peserta mendapat banyak pengalaman untuk meningkatkan keterampilan, kompetensi dan kesiapan mereka mengenai budi daya ayam broiler pada kandang closed house. Dengan program ini kita turut membantu menyiapkan SDM unggul perunggasan dengan harapan mampu menghadapi persaingan global,” kata Prof Ali.

Adapun tiga peserta dari 20 peserta WBA terpilih turut memberikan presentasi mini project hasil dari program tersebut, diantaranya M. Tanifal alumni Fapet Andalas mengenai “Simulasi Analisa Hasil Produksi Peternakan,” kemudian Aryo Pujo Sakti alumni Fapet UGM soal “Manajemen Sexing dan Penjarangan Sesuai Kapasitas Kandang dan Planning Panen” dan Muhammad Yaser dari Institut Pertanian Bogor mengenai “Penggunaan Air Deflector untuk Meningkatkan Kecepatan Angin di Kandang.”

Program WBA sendiri memiliki tujuan mengisi kesenjangan kebutuhan industri peternakan ayam broiler terhadap profesional/tenaga kerja yang siap pakai, khususnya terkait budi daya closed house. Program juga memberikan pembekalan kepada peserta yang tidak didapatkan dalam bangku perguruan tinggi terkait praktik lapangan guna meningkatkan potensi alumni peternakan untuk tumbuh berkarir di industri yang terus berkembang ini.

Adapun materi pelatihan in class training WBA batch #1 mengenai manajemen closed house overview, bisnis broiler dan kemitraan, MKE (mekanik, kelistrikan dan energi), SHE (safety, health and environment), animal welfare, nutrisi dan manajemen pakan, pengenalan teknis dan sistem closed house, manajemen produksi, ventilasi, manajemen kasus, technical service, kepemimpinan, continues improvement dan lain sebagainya. Kemudian kegiatan on the job training dilakukan ke beberapa farm perusahaan, mitra maupun cabang.

Kesuksesan program kerja sama WBA ini akan terus dilanjutkan. Program WBA batch #2 masih akan digodok lebih lanjut dengan tetap fokus pada peningkatan SDM bidang peternakan.

“Kita akan godok lagi bersama Prof Ali Agus dan masukan dari peserta. Kita tetap fokuskan kepada peningkatan SDM unggul perunggasan. Semoga bisa ditingkatkan lagi khususnya jumlah peserta atau yang lainnya,” pungkas Thomas. (RBS)

MENGOPTIMALKAN POTENSI LAMTORO SEBAGAI BAHAN PAKAN SAPI

Lamtoro bisa menjadi pakan utama ataupun pakan pelengkap pada ternak sapi. (Foto: Istimewa)

Kamis, 6 Agustus 2020, Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) kembali menyelenggarakan seminar online bertajuk “Pengelolaan dan Optimalisasi Pemakaian Lamtoro pada Sapi.”

Dalam kegiatan tersebut dihadirkan narasumber peneliti BPTP Balitbangtan NTB, Dr Tanda S. Panjaitan. Dalam paparannya ia mengingatkan tentang penggunaan lamtoro pada pakan ruminansia yang harus dilakukan dengan hati-hati karena terdapat zat antinutrisi pada lamtoro, yakni mimosin.

“Di dalam rumen sapi senyawa mimosin akan dikonversi menjadi 3,4 dan 2,3 dihydroxy-pyridine (DHP). Keracunan mimosin atau DHP tersebut dapat menyebabkan ternak mengalami pembesaran kelenjar tiroid, dengan gejala terjadinya penurunan nafsu makan, bulu kusam, berdiri dan rontok. DHP juga menyebabkan terjadinya defisiensi mineral, khusus besi, tembaga, dan magnesium,” ujar Tanda.

Lamtoro sendiri merupakan sejenis perdu dari suku Fabaceae dan termasuk salah satu jenis polong-polongan serbaguna yang paling banyak ditanam dalam pola tanam campuran. Sejak lama lamtoro telah dimanfaatkan sebagai pohon peneduh, pencegah erosi, sumber kayu bakar dan pakan ternak. Daun dan ranting muda lamtoro dapat menjadi pakan ternak dan sumber protein yang baik, khususnya bagi ruminansia. Daun lamtoro memiliki tingkat ketercernaan 60-70% pada ruminansia, tertinggi diantara jenis-jenis polong-polongan dan hijauan pakan ternak tropis lainnya. 

Oleh karenanya, Tanda menyarankan untuk pemberian lamtoro pada sapi dilakukan dengan cara bertahap. “Pemberian lamtoro sebagai pakan pada ternak yang belum terekspos harus dilakukan secara bertahap,” katanya.

Ia juga menambahkan, adaptasi terhadap pakan lamtoro normalnya 2-3 minggu, dengan pemberian pertama biasanya sekitar 20% dari total pakan atau 0,5% dari berat badan. Namun kadangkala ada ternak yang butuh waktu adaptasi lebih lama sampai 6 minggu baru normal.

“Pemberian 40-60% dari total pakan dan sisanya rumput atau tebon jagung, hasilnya sama dengan yang diberikan 100%. Sehingga untuk pemberian pakan dari lamtoro cukup 40-60% saja, untuk menghemat lamtoro,” ucap dia.

Ternak yang sudah beradaptasi dengan pakan dari lamtoro dapat mengonsumsinya hingga 100%, namun disarankan untuk dilakukan pemberian mineral pada ternak yang diberi pakan lamtoro pada komposisi 70% atau lebih. 

Dalam pemberian pakan, lamtoro bisa menjadi pakan utama ataupun pakan pelengkap. Pada peternak yang memiliki kebun lamtoro sendiri, maka lamtoro bisa menjadi pakan utama dengan pemberian 100% sebagai pakan tunggal, terutama di musim kemarau atau pada musim hujan.

“Pemberian 70% atau lebih bisa dicampur dengan rumput atau jerami jagung. Adapun peternak yang tidak memiliki kebun lamtoro sendiri maka komposisi lamtoro adalah 40-60%, dan selebihnya ditambahkan rumput (30-50%), serta dedak (10-30%),” jelasnya. 

Pada pemberian pakan lengkap, formulasi umum yang dilakukan adalah lamtoro sebanyak 40-60%, rumput atau jerami jagung sebanyak 5-15% dan dedak atau jagung maupun ubi kayu sebanyak 40-60%. Pada formulasi tersebut, protein kasarnya 12-14% dan metabolisme energi sebesar 10-12 MJ/kg. Dengan pola pemberian pakan seperti itu, Tanda menandaskan, pertambahan berat badan harian ternak bisa mencapai 0,4-0,7 kg. (IN)

PENCAPAIAN TROUW MELEWATI 1,000,000 JAM KERJA

Karyawan produksi Trouw di Cibitung (Foto: Istimewa)


Karyawan operasional PT Trouw Nutrition Indonesia di Cibitung dan Pasuruan telah melewatil 1,000,000 jam kerja tanpa insiden yang dapat mengakibatkan kehilangan jam kerja (Lost Time Injury), pada bulan Juni 2020 lalu. Pencapaian ini menambahkan catatan sejarah perusahaan dalam usahanya meningkatkan dan menguatkan budaya keselamatan dalam bisnis Trouw Nutrition.

Dalam rangka pencapaian ini, Presiden Direktur PT Trouw Nutrition Indonesia Ivan Kupin mengemukakan “Sebagai perwakilan dari Manajemen Trouw Nutrition Indonesia kami ingin mengucapkan terima kasih kepada karyawan dan pakar HSE di Trouw Nutrition dan Nutreco atas komitmen dan dukungan mereka secara terus-menerus dalam mengembangkan dan mempertahankan budaya keselamatan. Terima kasih karena telah membuat Trouw Nutrition Indonesia tempat yang lebih baik dan aman untuk bekerja,” papar Presiden Direktur PT Trouw Nutrition Indonesia Ivan Kupin

Rekor keselamatan ini menunjukan komitmen kuat Trouw Nutrition Indonesia akan kebijakan Kesehatan, Keselamatan, Lingkungan, dan Kualitas (HSEQ). Sebagai divisi nutrisi hewan dari Nutreco, Trouw Nutrition percaya akan kesehatan, keselamatan, lingkungan, dan kualitas untuk menjadi bagian yang terintegrasi dari manajemen bisnis yang bertanggung jawab, efisien, dan menguntungkan.

Trouw berkomitmen dengan kebijakan-kebijakan, pertama memastikan lingkungan kerja aman dan sesuai untuk karyawan, pemasok, dan pihak ketiga.

Kedua, menyediakan pakan dan makanan berkualitas tinggi, memenuhi ekspektasi pelanggan dan masyarakat tanpa kompromi. Ketiga, Menerapkan prinsip keberlanjutan sebagai pendorong untuk terus-menerus melakukan perbaikan pada performa lingkungan hidup. Keempat, waspada dan memperhatikan dampak dari setiap aktivitas terhadap tetangga dan komunitas lokal serta kepentingan masyarakat secara umum. (Rilis /INF)


NASRULLAH, SANG NAHKODA BARU DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan yang baru Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc


Kamis pada tanggal 6 Agustus 2020, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melantik pejabat pimpinan tinggi madya dan pratama di lingkungan kementerian pertanian. Sebanyak 9  pejabat pimpinan tinggi yang terdiri dari 1 orang Eselon I, 7 orang Eselon IIa, dan Eselon IIb dilantik pada hari itu. Acara pelantikan dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

Yang menjadi pusat perhatian yakni dilantiknya Nasrullah sebagai Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang ke-17 menggantikan I Ketut Diarmita. Sebelumnya Nasrullah juga pernah menjabat sebagai Direktur Pakan dan Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Dalam sambutannya Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengingatkan kepada para pejabat yang baru dilantik bahwa jabatan adalah amanah dari Tuhan. 

"Mudah - mudahan pejabat yang baru dilantik bisa bekerja dengan baik dan memberikan yang terbaik bagi Kementan, juga bangsa kita. Perlu diingat ini adalah amanah dari Tuhan YME, oleh karenanya nanti tentu juga akan dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan," tutur Syahrul. 

Sementara itu Nasrullah yang baru saja dilantik belum banyak berkata - kata, ketika ditanyai oleh awak Infovet mengenai apa saja yang hendak ia lakukan dalam jangka pendek dalam menghadapi problem di sektor peternakan, dirinya tidak menjawab sembari melempar senyuman.

Nasrullah adalah lulusan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Jurusan Nutrisi dan Makanan ternak (1985-1989) . Pendidikan S2 (Jurusan Grassland and Animal Production) ditempuh di The University Miyazaki Jepang pada tahun 2000 dengan mendapatkan gelar Master of Agriculture (M.Agr.). Sedangkan pendidikan S3 (doktoral) Jurusan Produksi Ternak ditempuh di United Graduate School of Agricultural Sciences, Kagoshima University Jepang dan diselesaikan pada tahun 2003 dengan gelar Ph.D.

Pernah menjabat sebagai Pj. Kepala BPTP Sulawesi Selatan, Balai Besar Pengkajian dan Pegembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) 2008-2011, serta menjabat sebagai Kepala Balai Penelitian Ternak 2012.  Setelah itu dipercaya di Ditjen PKH antara lain sebagai Direktur Pakan dan kemudian Sekretaris Ditjen PKH.

Dalam kesempatan tersebut juga dilantik Drh Maidaswar sebagai Kepala Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan yang baru menggantikan Drh Sri Mukartini. Turut pula dilantik Drh Agus Susanto sebagai Penanggung Jawab Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.  (CR/Bams)

WASPADA ANCAMAN “TERBANG” VIRUS ASF

Memperketat biosekuriti, salah satu upaya mencegah penularan virus ASF. (Foto: Istimewa)

Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF) yang merongrong peternakan babi di Indonesia beberapa waktu lalu, dirasa masih meresahkan peternak. Hal ini dikarenakan sampai saat ini belum ditemukannya vaksin yang tepat untuk mengatasinya.
 
Sehingga perlu dipelajari bagaimana mencegah ASF dan meresponnya agar lebih sigap dalam menghadapinya. Pembelajaran mengenai mekanisme penularan penyakit merupakan salah satu upaya dalam menyusun strategi pengendalian suatu penyakit.

Potensi Serangga sebagai Vektor ASF 
Serangga dan beberapa jenis artropoda berpotensi sebagai vektor dalam penyebaran ASF. Misalnya caplak dari genus Ornithodoros merupakan vektor yang berperan penting dalam penularan ASF.

Oleh karena itu, salah satu tindakan pencegahan ASF selain melakukan pengawasan biosekuriti yang ketat dan menerapkan regulasi transportasi lalu lintas babi/produk babi, juga penting melakukan pengontrolan vektor.

Mengingat penyakit demam babi ini merupakan penyakit yang baru masuk di Indonesia pada 2019 lalu, maka belum dilakukan studi lanjut mengenai potensi keterlibatan vektor dalam penularan ASF di Indonesia.

Tulisan ini akan mengulas mengenai tingkat risiko vektor yang memiliki kontribusi besar dalam penularan ASF, sehingga dapat mengarahkan strategi kontrol vektor yang efektif dan antisipasi penyebaran ASF secara signifikan dengan memahami kompetensi keterlibatan vektor di Indonesia.

Mengenal Vektor pada Penularan ASF
Penularan penyakit oleh vektor terjadi ketika seekor vektor memperoleh penyakit dari satu hewan dan menularkannya ke hewan lain. Penyakit ditularkan oleh vektor baik secara mekanis maupun biologis. Transmisi mekanis berarti… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2020)

Ditulis oleh:
Drh Pebi P. Suseno (Medik Veteriner, Ditjen PKH)
Drh Fitrine Ekawasti MSc (Peneliti Parasitologi, BBLitvet)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer