-->

MUNAS II GAPUSPINDO: PENANDATANGANAN MOU DENGAN KELOMPOK PETERNAK GADING MANDIRI

Rangkaian Munas II Gapuspindo dilanjutkan pelantikan Dewan Pengurus periode 2019-2023 (Foto: Istimewa)


Musyawarah Nasional (Munas) ke-II Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Kamis, 7 November 2019 lalu menetapkan Ketua Dewan Gapuspindo definitif, yaitu Ir Didiek Purwanto. Sebelumnya, Didiek juga sudah sempat menjabat sebagai Plt Ketua Dewan Gapuspindo menggantikan Ketua terpilih sebelumnya.

Didiek akan menjabat dalam kurun periode empat tahun sejak 2019 hingga 2023. Beragam elemen terkait dengan keberlangsungan peternakan sapi, turut hadir dalam Munas II Gapuspindo di Hotel Atria Malang. Mulai dari para peternak, pengambil kebijakan, hingga para akademisi, khususnya dari Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB).

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita turut menghadiri Munas ini.

"Melalui Munas ini saya ditetapkan sebagai Ketua Dewan secara definitif, setelah sebelumnya menjadi pelaksana tugas Ketua Dewan Gapuspindo periode lalu," ungkap Didiek.

Dalam penyelenggaran Munas tahun ini, Gapuspindo menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan kelompok peternak Gading Mandiri. Secara simbolis mereka mendapat bantuan sapi langsung dari Gapuspindo, yang disaksikan langsung oleh Dirjen PKH.

Rangkaian Munas II Gapuspindo ini dilanjutkan dengan Pelantikan Dewan Pengurus Gapuspindo periode 2019-2023. Ketut berharap agar Gapuspindo bisa berjuang bersama Pemerintah dalam meningkatkan populasi sapi potong di Indonesia, serta untuk menyerap tenaga kerja di sektor peternakan.

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Dewan Pengurus Gapuspindo terpilih, Didiek Purwanto mengatakan bahwa Gapuspindo mendukung usaha peningkatan populasi sapi di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan penandatanganan MoU antara Gapuspindo dengan Kelompok Peternak Gading Mandiri.

Mereka mendapat bantuan sapi langsung dari Gapuspindo. "Arahan dari Pak Dirjen membuat kami bersemangat kembali, berpikir positif bahwa matahari akan terbit untuk Gapuspindo dan untuk kita semua dalam rangka kedaulatan pangan Indonesia," tegasnya. (Rilis/NDV)

BANGKAI BABI CEMARI SUNGAI DI SUMATERA UTARA


Bangkai babi yang dibuang ke sungai oleh masyarakat (sumber : okezone.com)


Penyakit hog cholera mewabah di sejumlah daerah di Sumatera Utara (Sumut). Sampai saat ini 4.682 ekor babi menjadi hog cholera, dari jumlah populasi babi di Sumut sebanyak 1,2 juta ekor.Ada 11 kabupaten/kota yang ditemukan ternak babi mati karena hog cholera, yakni di Karo, Dairi, Humbang Hasundutan, Deliserdang, Medan,Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Samosir.
 
Bahkan ratusan bangkai babi beberapa hari terakhir ditemukan di sejumlah sungai di Kota Medan misalnya saja di Sungai Bedera. Bangkai babi yang dibuang ke sungai telah menimbulkan bau busuk.Gubernur Sumut Edy Rahmayadi mengimbau para bupati/wali kota untuk cepat tanggap mengantisipasi penyebaran virus hog cholera tersebut serta melaporkan temuan kasus ke Posko Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut.
 
"Para bupati/wali kota kami mengimbau untuk cepat tanggap menyikapi kasus ini, dan segera melaporkannya jika ditemukan kasus hog cholera di daerahnya masing-masing," ujar Edy. Dirinya mengingatkan warga agar tidak membuang ternak babi yang mati ke aliran sungai, karena itu melanggar Undang-Undang No 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH).
 
"Dilarang membuang ternak babi yang mati ke sungai atau ke hutan dan segera menguburnya. PPNS kita akan bekerja sama dengan kepolisian siap menindak siapa saja yang melanggarnya," ujar Gubernur.Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut M Azhar Harahap mengatakan Tim Unit Reaksi Cepat Pencegahan dan Penanganan Peredaran Virus Hog Cholera Babi telah turun ke lapangan dan melakukan sejumlah pengujian.

"Kesimpulannya, virus ini hanya menyerang babi, dan belum ditemukan menginfeksi manusia. Namun, ternak yang terinfeksi virus hog cholera tidak bisa diobati. Kita hanya bisa melakukan upaya pencegahan virus dengan melakukan sanitasi terhadap kandang, dan pemberian vitamin, serta vaksin pada ternak yang sehat," paparnya.
 
Azhar menjelaskan, bahwa virus ini pertama kali ditemukan 25 September 2019, lewat surat yang disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Dairi. "Kami pun langsung menyikapi serius laporan tersebut dengan melakukan pengambilan sampel darah babi, di beberapa kabupaten seperti Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Deliserdang, dan hasil dari laboratorium mengatakan itu positif hog cholera," paparnya.

Untuk penanganan bangkai babi yang terinfeksi virus hog cholera, Azhar mengimbau jangan menunda untuk menguburkan. "Untuk ternak yang telah mati, harus segera dilakukan pemusnahan ternak babi yang telah mati, lakukan penguburan dan pemusnahan dengan dibakar, jangan dibuang ke sungai atau pun di buang ke hutan," tambahnya.

Kepala Dinas Kesehatan Sumut Alwi Mujahid juga menegaskan bahwa virus hog cholera hanya menular dari babi ke babi, tidak ada kasus virus tersebut menular pada ternak lain ataupun manusia."Sampai saat ini virus tersebut hanya dari babi ke babi, belum ada laporan bisa menginfeksi ternak lain, namun dengan adanya pembuangan bangkai babi ke sungai maka akan terjadi pencemaran air, yang bisa menimbulkan penyakit diare, namun saat ini juga belum ditemukan kasus karena pencemaran air tersebut," tambahnya.

Ia juga mengharapkan agar bangkai yang telah dibuang ke sungai atau pun hutan agar segera dievakuasi."Kami pun berharap agar bangkai babi ini segera dievakuasi dari sungai sehingga air aliran sungai tidak tercemari lagi, dan kemudian mengubur bangkai tersebut, sehingga wabahnya tidak menimbulkan penyakit lain," tambahnya.(CNN/CR)


DETEKSI MUTASI PADA GEN bFXI, PENYEBAB PENYAKIT HEMOFILIA PADA SAPI

Untuk mencegah penyakit hemofilia pada sapi penting melakukan deteksi mutasi gen bFXI pada sapi calon pejantan dan calon induk. (Foto: Dok. Infovet)

Hemofilia merupakan salah satu penyakit kelainan genetik yang dapat diderita oleh manusia dan beberapa spesies hewan. Kelainan genetik ini menyebabkan defisiensi gen faktor tertentu yang dapat menentukan jenis hemofilia.

Hemofilia tipe A disebabkan oleh defisiensi faktor VIII (antihemophilic factor) yang menjadi penyebab paling umum hemofilia pada anjing, kucing, serta beberapa spesies kuda dan sapi. Hemofilia tipe A muncul dari mutasi spontan pada gen faktor VIII yang terletak pada kromosom X.

Sedangkan hemofilia tipe B disebabkan oleh defisiensi faktor IX (chrismast factor) yaitu kelainan hemoragik yang berhubungan dengan kromosom X, mirip dengan hemofilia tipe A. Kelainan ini menyerang terutama pada hewan dengan jenis kelamin jantan. Hemofilia tipe B bukan penyebab umum seperti hemofilia tipe A, namun pada kasus yang parah dapat menyebabkan kematian pada anak anjing dan kucing.

Kemudian hemofilia tipe C terjadi akibat defisiensi faktor XI (plasma thromboplastin antecedent). Kasus ini jarang terjadi dan hanya terekspresi pada spesies hewan tertentu, seperti jenis anjing Springer Spaniel, Great Pyrenees, Weimaraner dan Kerry Blue, kemudian sapi dengan jenis Friesian Holstein (FH). Cara pewarisan penyakit ini bersifat autosomal, sehingga dapat berpengaruh pada semua jenis kelamin, namun belum diketahui secara pasti apakah gen tersebut bersifat dominan atau resesif (Eclinpath 2013).

Kasus hemofilia pada sapi pertama kali dilaporkan pada tahun 1969 menyerang sapi FH di Amerika Serikat. Saat ini diketahui bahwa penyakit hemofilia pada sapi disebabkan karena terjadi kelainan genetik terutama pada gen bovine Deficiency Factor XI (bFXI). Gen bFXI berfungsi untuk menghasilkan protein serine protease factor XI (thromboplastin) yang penting untuk proses pembekuan darah. Gen bFXI pada sapi terletak di kromosom 27 dengan panjang 19.150 pasang basa (pb), serta terdiri dari 14 intron dan 15 ekson.

Beberapa penelitian melaporkan bahwa terjadi mutasi insersi sepanjang 76 pb di bagian ekson 12 dari gen bFXI (Marron et al, 2004; Meydan et al, 2009; Eydivandi et al, 2011) seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Insersi basa sepanjang 76 pb diposisi antara basa ke 9401 dan 9402 pada intron 12 gen bFXI. Terdapat sekuen insersi spesifik (tanda garis bawah) yang sama seperti sekuen normal  (Sumber: GenBank: AH013749.2).

Mutasi tersebut dapat menyebabkan terjadinya beberapa penyakit pada sapi, antara lain hemofilia dan gangguan reproduksi (Ghanem et al, 2005). Sapi yang normal bergenotip DD dan sapi yang carrier bergenotip DI. Sedangkan sapi yang bergenotip II merupakan sapi dengan kelainan genetik (mutan). Ketiga tipe genotip tersebut dapat diidentifikasi dengan mudah menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Hasil PCR pada gen bFXI menunjukkan tiga tipe genotip DD (normal), DI (carrier) dan II (mutant). M: marker DNA 100 bp. (Sumber: Dr. P.A. Gentry dalam Marron et al, 2004).

Menurut Meydan et al. (2009), hewan penderita hemofilia tipe C masih dapat bertahan hidup hingga bertahun-tahun tanpa gejala klinis yang jelas, sedangkan pada sapi carrier terlihat gejala hemofilia ringan (Khade et al. 2016). Gejala klinis hemofilia tipe C pada sapi berupa perdarahan yang timbul karena trauma atau pembedahan, terkadang terjadi perdarahan spontan. Pada beberapa kasus, perdarahan terjadi hingga empat hari sejak prosedur pembedahan.

Pada kondisi faktor XI yang mengalami defisiensi, koagulasi darah tidak disertai dengan thrombin cukup. Thrombin berfungsi memperkuat jalur aktivasi faktor XI, namun dalam jumlah kecil tidak cukup untuk mengaktifkan inhibitor fibrinolitik atau tissue factor pathway inhibitor (TAFI). Hal ini mengakibatkan fibrinolisis dari koagulan yang awalnya terbentuk, sehingga menyebabkan perdarahan terjadi selama beberapa hari (Eclinpath 2013).

Selain itu, pada sapi carrier yang sedang bunting gejala klinis dapat berupa abortus dan mumifikasi fetus. Sapi mutan dapat bertahan hidup sampai beberapa tahun namun disertai dengan perdarahan pada tali pusar, mudah sakit (morbiditas) dan hidung berdarah atau epistaxis (Gambar 3 A). Pada sapi mutan dan carrier dapat terjadi anemia, prevalensi kawin berulang yang tinggi, pneumonia, mastitis, metritis, folikel ovarium mengecil, proses luteolisis lambat dan kadar estradiol saat ovulasi rendah (Liptrap et al, 1995; Kumar et al, 2011, Meydan et al. 2009). Penelitian Moritomo et al. (2008) melaporkan kajian patologi-anatomi sapi mutan bergenotipe heterozigot berupa kebengkakan pada rahang bawah, leher dan dada (Gambar 3 B). Setelah dilakukan pembedahan, didapatkan pendarahan yang masif di daerah periesofageal yang meluas ke rongga dada (Gambar 3 C). Selain itu, organ parenkim seperti hati dan ginjal juga berubah warna yang menunjukkan bahwa hewan menderita anemia.

Gambar 3. Gejala klinis sapi yang mengalami hemophilia tipe C: A. Epistaxis akibat penyakit hemofilia pada sapi (Sumber: Areshkumar, 2019). B. Adanya kebengkakan di rahang bawah, leher dan dada pada sapi mutant. C. Perdarahan subkutan (hematoma) pada sapi mutant di daerah periesofageal setelah dilakukan pembedahan (Sumber: Moritomo et al. 2008).

Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit hemofilia pada sapi adalah dengan deteksi mutasi gen bFXI pada sapi calon pejantan (stud) dan calon induk (heifer). Selain itu, penerapan manajemen recording yang baik juga penting dilakukan untuk mencegah terjadinya mutasi pada gen bFXI akibat perkawinan inbreeding dalam waktu yang lama.

Hasil penelitian Siswanti et al. (2014), melaporkan bahwa tidak ditemukan adanya mutasi pada gen bFXI sapi Bali yang berasal dari sejumlah pusat pembibitan di Indonesia. Hal itu dapat disebabkan karena pusat pembibitan tersebut sudah melakukan proses seleksi ternak dan manajemen recording yang baik. Pemberian plasma segar, plasma segar-beku, atau cryosupernatant dengan infus secara intravena juga dapat dilakukan terhadap sapi penderita hemofilia tipe C sebagai salah satu upaya perawatan pada sapi hemofilia (Eclinpath 2013). ***

Widya Pintaka Bayu Putra MSc & Drh Mukh. Fajar Nasrulloh
Pusat Penelitian Bioteknologi,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

DIRJEN PKH HADIRI MUNAS II GAPUSPINDO

Munas II Gapuspindo diselenggarakan di Hotel Atria Malang, Kamis 7 November 2019. (Foto: Istimewa)


Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita menghadiri Musyarawah Nasional (Munas) II Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) di Hotel Atria Malang, Kamis (7/11/2019).

Pemerintah terus berusaha untuk menyediakan regulasi yang mendukung iklim usaha termasuk di sektor peternakan sapi potong. Para pelaku usaha berperan menjadi ujung tombak pembangunan peternakan sapi potong terutama untuk pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional, meningkatkan pendapatan, pemberdayaan masyarakat dan peternak serta menciptakan lapangan kerja.

Pada kesempatan tersebut, Ketut mensosialisasikan Permentan Nomor 41 tahun 2019 sekaligus menyaksikan Pelantikan Dewan Pengurus Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (GAPUSPINDO) periode 2019-2023 di Malang, 6-7 November 2019.

”Kita sangat mendorong upaya seluruh stakeholder pelaku usaha peternakan untuk ikut berpartisipasi aktif dalam pembangunan peternakan. Tanpa mereka, peran pemerintah tidak akan berjalan optimal,” ucapnya dalam acara yang diinisiasi oleh Gapuspindo sebagai rangkaian dari Musyawarah Nasional II Gapuspindo.

Ketut menjelaskan bahwa Peraturan Menteri Pertanian nomor 41 tahun 2019 ini merupakan regulasi untuk menjaga stabilisasi ketersediaan dan peningkatan populasi ternak ruminansia besar, serta percepatan pelayanan perijinan berusaha. Peraturan ini adalah penyempurnaan dari Permentan Nomor 49 tahun 2016 tentang Pemasukan Ternak Ruminansia Besar ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Permentan nomor 2 tahun 2017 tentang perubahan atas Permentan nomor 49 tahun 2016.

"Substansi dari Permetan 41 tahun 2019 ini tidak mengalami banyak perubahan signifikan. Adapun salah satu perubahan yang perlu dicermati adalah terkait dengan ketentuan bahwa pelaku usaha peternakan, koperasi dan kelompok peternak yang melakukan pemasukan bakalan wajib memasukkan indukan sebanyak lima persen dari setiap rekomendasi," jelas Ketut seperti dalam siaran persnya.

Menurutnya, ketentuan ini berubah dari yang sebelumnya 1:5 menjadi 1:20. Hal ini diharapkan dapat mendongkrak percepatan peningkatan populasi sapi di dalam negeri. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pelaku usaha masih tetap dapat melakukan joint shipment dengan persetujuan Ditjen PKH.

Pengawasan terkait implementasi ketentuan dan juga realisasi rekomendasi akan dilakukan oleh pemerintah sehingga dapat meminimalisir kemungkinan pelanggaran yang terjadi.

Ketut juga menjelaskan sanksi yang diberlakukan jika terjadi pelanggaran yakni berupa sanksi administrative tidak diterbitkannya surat rekomendasi selama satu tahun.

"Perubahan peraturan ini diharapkan dapat mempermudah dan dapat menjamin tertib administrasi yang lebih baik lagi," tambahnya. (NDV)

SEBANYAK 44.500 EKOR BEBEK PETELUR DISALURKAN KE ACEH TENGGARA


 
Ilustrasi (Foto: infobaru.id)


Dinas Pertanian Aceh Tenggara menyalurkan sekitar 44.500 ekor bebek petelur kepada kelompok ternak di Aceh Tenggara.

Penyaluran ternak bebek petelur itu di bawah pengawasan pihak Tim Pengawal, Pengaman Pemerintah dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Tenggara.

"Kita telah salurkan bantuan bebek petelur kepada kelompok ternak. Ini bertujuan agar mereka kembangkan hingga Aceh Tenggara sebagai penghasil telur bebek sesuai visi dan misi bupati/wagub,” ujar Kepala Dinas Pertanian Aceh Tenggara, Asbi SE, Kamis (7/11/2019).

Asbi menyebutkan, ternak bebek petelur seluruhnya disalurkan mencapai 84.459 ekor lebih dengan menghabiskan anggaran Rp 8,7 Miliar.

Ternak bebek petelur itu dibagikan kepada 194 kelompok ternak dan masing masing-masing diberikan 500 ekor.

"Alhamdulillah, kita sudah salurkan 44.500 ekor. Rencananya, pada 20 November 2019, sekitar 40.000 ekor lagi akan disalurkan kepada kelompok ternak bebek,” lanjutnya. (Sumber: serambinews.com)

PERINGATI HUT KE-56, FAPET UNDANA GELAR SEMINAR DAN KONGRES HITPI

Acara seminar dan kongres HITPI berlangsung di Hotel Neo Aston, Kupang. (Foto: gardaindonesia.id)



Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-56 Fakultas Peternakan (Fapet)  Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang sekaligus memperingati HUT ke-9 Himpunan Ilmuwan Tumbuhan Pakan Indonesia (HITPI), dihelat kegiatan Seminar Nasional dan Kongres Nasional HITPI ke-3.

Berlangsung di Hotel Neo Aston Kupang pada Selasa dan Rabu (5-6/11/2019), Kongres Nasional HIPTI ke-3 mengusung tema “Peningkatan Produktivitas Sistem Peternakan Berbasis Tumbuhan Pakan”. Seminar dipandu oleh moderator Dr Ir Ludji Michael Riwukaho MP.

Sebanyak 91 artikel yang diplenokan secara paralel dalam rangkaian Seminar Nasional HIPTI ke-8 berasal dari ilmuwan Universitas Udayana (Unud) Bali, Universitas Sam Ratulangi Manado, Universitas Mataram, Universitas Jambi, Universitas Andalas, Universitas Papua, Politani, BPTP Naibonat, dan Fapet Undana.

Prof Dr Luki Abdullah, Ketua HITPI Pusat didapuk sebagai keynote speaker. Acara ini juga dihadiri Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat yang diwakili Kadis Peternakan, serta Ir Sri Widayati MMA Direktur Pakan Ditjen PKH Kementan.

“Kami berharap dari pleno dan keynote speaker menghasilkan rekomendasi yang dapat dikirimkan ke Pemda dan Kementerian Pertanian bagaimana kolaborasi bersama Perguruan Tinggi untuk menyejahterakan masyarakat,” beber Dr Ir Twen Dami Dato MP selaku Ketua HIPTI.

Rabu, 6 November 2019 diadakan field trip ke lokasi kelompok tani/ternak Kaifo Ingu di Babau yang sedang melaksanakan Program Kemitraan Wilayah (PKW) dengan tema “Membangun Model Agroeduwisata di Kabupaten Kupang” yang didanai DPRM DIKTI dan PEMDA Kabupaten Kupang. (Sumber: gardaindonesia.id)

MUNAS II GAPUSPINDO SIAP DIGELAR DI MALANG

(Sumber: Istimewa)


Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) bersiap menggelar Musyarawah Nasional (Munas) II pada Kamis, 7 November 2019 di Malang, Jawa Timur.

Rencananya dalam Munas II Gapuspindo akan hadir Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo yang diagendakan melantik Dewan Gapuspindo Periode 2019-2022.

Selain itu, sesuai jadwal acara dilanjutkan penandatanganan MoU Gapuspindo dengan Kelompok Peternak Gading Mandiri yang disaksikan oleh Mentan.

Acara berikutnya adalah sosialisasi Indonesia Australia Red Meat Cattle Partnership (I-ARMCP) "Commersial Prospect of BX Cattle Breeding in Indonesia - The IACCB Exprience".

Gapuspindo merupakan organisasi pelaku usaha peternakan sapi potong atas dasar kesamaan usaha, kegiatan dan profesi di bidang industri usaha sapi potong berbentuk kesatuan dengan ruang lingkup kegiatan nasional.

Bersumber dari laman website https://gapuspindo.org/, Gapuspindo merupakan nama baru dari Apfindo (Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia) yang berdiri sejak tahun 1992. Perubahan ini berdasarkan keputuskan Munaslub (Munas Luar Biasa) Apfindo yang dilaksanakan di Hotel Santika Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (5/11/2015) lalu. (INF)




LANGKAH WUJUDKAN (MASIH) SWASEMBADA DAGING SAPI

Dirjen PKH I Ketut Diarmita (kiri) dan Mentan Syahrul Yasin Limpo (kanan), saat mendiskusikan bidang peternakan dan kesehatan hewan. (Foto: Humas Pertanian)

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL), menargetkan swasembada daging sapi harus cepat tercapai. Ia meminta Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) untuk melakukan terobosan baru dan bekerja keras mewujudkan itu.

“Perlu dilakukan terobosan-terobosan dan kerja lebih keras  guna secepatnya mencapai target swasembada tersebut,” kata Mentan Syahrul melalui siaran persnya, Senin (4/11/2019).

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri, menjelaskan bahwa mengingat saat ini populasi sapi dalam negeri masih kurang,  ada beberapa langkah nyata mempercepat swasembada. Pertama, Kementan terus menggenjot populasi sapi lokal dengan program inseminasi buatan secara massal, untuk mengejar kekurangan sekitar 1,4 juta ekor populasi sapi. Jika masih kurang, perlu pengadaan sapi indukan untuk mendongkrak populasi sapi.

“Namun harus dipahami bahwa memperbanyak sapi indukan banyak caranya, bisa dengan pencegahan pemotongan betina produktif, maupun mendatangkan sapi indukan dari luar. Kita perlu memikirkan peningkatan produksi dalam negeri dan membuat neraca perdagangan kita positif. Kita selalu menomor satukan produk kita untuk ekspor, dan impor adalah pilihan terakhir bila terpaksa dan sangat dibutuhkan untuk menutupi kekurangan,” ujar Kuntoro.

Langkah kedua, lanjut dia, Kementan terus mendorong semua elemen terutama pemerintah daerah dan BUMN, untuk terus mengembangkan peternakan sapi. Berfokus sentra produksi agar upaya peningkatannya cepat.

“Jika pengembangan sapi dilakukan di 34 provinsi, itu menjadi tidak fokus. Karena itu, strateginya dengan fokus misal pada 10 provinsi pusat pengembangan sapi. Tetapi memang itu menjadi kekuatan real dan menjadi percontohan pengembangan sapi di Indonesia,” ungkapnya menirukan arahan dari Mentan.

Ketiga, pengupayaan sistem integrasi dengan sawit. Sebab, lahan sawit untuk integrasi dengan pengembangan sapi baru difungsikan sekitar 0,9%, padahal potensi lahan sawit di Indonesia cukup tinggi.

“Jika kita bisa isi 20% dari lahan sawit yang ada, maka akan selesai semua masalah daging sapi kita. Dalam waktu singkat Kementan akan melakukan kontak dengan para pimpinan daerah, bupati, gubernur dan mantan-mantan gubernurnya, untuk dijadikan advisor dalam mensukseskan program integrasi sawit-sapi,” ucap dia.

Adapun langkah keempat, papar Kuntoro, bersinergi melakukan pembangunan pertanian khususnya dalam mewujudkan swasembada daging sapi yang menjadi tanggung jawab bersama (gubernur, bupati, pemerintah daerah dan pelaku usaha).

“Oleh karena itu, diplomasi pertanian sangat penting dengan eksternal Kementan. Koordinasi dengan swasta, pemerintah daerah dan stakeholder lain. Untuk kepentingan rakyat harus bisa bekerjasama dan berkoordinasi di lapangan. Karena diingatkan juga oleh Pak Menteri swasembada pangan khususnya daging dapat diwujudkan juga dengan berorientasi bisnis dan harus memikirkan pasar. Selama ini swasembada sulit dicapai karena tidak memikirkan pasar. Kita sering hanya memikirkan budidaya atau on farm-nya saja tanpa memikirkan bisnisnya,” tandasnya. (INF)

FESTIVAL PETERNAKAN PONTIANAK DIGELAR ISPI KALBAR DAN UNTAN


Kegiatan jalan sehat sebagai salah satu agenda acara Festival Peternakan Pontianak (Foto: Dok. ISPI)


Festival Peternakan Pontianak memperingati “Bulan Bakti Peternakan 2019” digelar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) Kalimantan Barat (Kalbar) bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Peternakan Universitas Tanjungpura (Untan). Acara diisi dengan kegiatan gerak jalan sehat, pada Minggu (3/11/2019).

"Tentu tujuan acara ini untuk lebih memperkenalkan potensi yang ada di Kalbar,” kata Rektor Universitas Tanjungpura, Prof Garuda Wiko.  

Rangkaian kegiatan festival ini berlangsung di halaman UKM Center Universitas Tanjungpura sejak 1 November hingga puncak acaranya pada Minggu, 3 November 2019.

Gubernur Kalimantan Barat, H Sutarmidji hadir di hari Minggu sekaligus untuk membuka kegiatan jalan sehat.

Festival Peternakan Pontianak dihadiri Rektor Untan dan Gubernur Kalbar

Dalam sambutannya, Midji mengatakan memperingati hari Bulan Bakti Peternakan 2019 khususnya di provinsi Kalbar, dia berharap untuk kebutuhan konsumsi daging hewan Kalbar dapat mandiri.

Kontees Ayam Pelung dan Ayam Serama

Selain jalan sehat, terdapat juga acara “Kontes Ayam Pelung dan Ayam Serama” serta pameran ayam hias. (pontianak.tribunnews.com/ISPI)




PERINGATI HARI AYAM & TELUR NASIONAL, PINSAR GELAR KAMPANYE GIZI

Makan telur bersama, membuka acara kampanye gizi di Jakarta (31/10) (Foto : CR)

Memperingati Hari Ayam dan Telur Nasional serta World Egg Day yang jatuh pada 15 Oktober 2019 lalu, PINSAR Indonesia kembali mengadakan kampanye gizi di Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta 31 Oktober 2019 yang lalu.

Acara tersebut rutin dilaksanakan oleh PINSAR sebagai salah satu stakeholder perunggasan di Indonesia. PINSAR juga menggandeng stakeholder lain seperti ASOHI, FAO ECTAD, dan PD Dharmajaya. Ricky Bangsaratoe selaku ketua panitia acara tersebut mengatakan bahwa kali ini sasaran dari kampanye gizi adalah Ibu - Ibu PKK dari berbagai Kota Madya dan Kecamatan di DKI Jakarta. "Sasarannya adalah Ibu - Ibu PKK karena mereka ini kan seperti agent of change, minimal satu orang ibu dapat mempengaruhi keluarganya, lagian kan kalau sasarannya ibu - ibu akan lebih efektif, karena mudah viral dari mulut ke mulut, maklum deh ibu-ibu," tutur Ricky. Ia juga menerangkan bahwa acara serupa kembali akan dilaksanakan di Kalimantan Timur dan DKI Jakarta tahun depan.

Kampanye Gizi dibuka secara simbolis dengan memakan telur rebus bersama - sama oleh semua yang hadir. Peserta diberikan pengetahuan mengenai pentingnya peran protein hewani bagi pertumbuhan. Hal itu disampaikan oleh Mantan Ketua Umum ASOHI Rakhmat Nuryanto. "Disini saya mencoba menjelaskan dan mengkalrifikasi beberapa mitos yang enggak bener terhadap ayam, telur, daging dan protein hewani lainnya. Ini penting karena banyak masyarakat yang enggan makan ayam dan telur misalnya hanya karena termakan mitos tadi, padahal secara ekonomi mampu," tutur Rakhmat.

Selain mengenai pentingnya konsumsi protein hewani, peserta juga diberikan bekal mengenai tatacara handling atau penanganan daging yang baik dan benar oleh  Pusat Pelayanan Kesehatan Hewan dan Peternakan DKI Jakarta. Peserta juga dimanjakan dengan adanya bazar murah protein hewani yang digelar oleh PD Dharmajaya dan PT Sumber Unggas Indonesia. Dalam bazar tersebut peserta dapat membeli daging ayam kampung asli dengan harga Rp 40.000/ekor dan telur ayam kampung asli seharga Rp 50.000 / 40 butir. 

Yanti seorang peserta dari PKK Kecamatan Gambir mengatakan bahwa ia banyak mendapatkan manfaat dari acara ini. "Saya jadi tahu kalau beberapa mitos tentang telur dan ayam yang ada horonnya itu enggak betul, dan jadi semakin yakin dalam memakan ayam dan telur. Terima kasih untuk panitia juga karena seru juga ada pasar murahnya," pungkas Yanti. (CR)


TIGA DESA DI KABUPATEN BARITO JADI PILOT PROJECT PETERNAKAN AYAM PETELUR



Peternakan ayam petelur (Foto: Dok. Infovet)

Tiga Desa di Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah akan menjadi pilot project peternakan ayam petelur bersumber dari bantuan tanggung jawab sosial perusahaan atau yang lebih dikenal dengan sebutan SCR (Corporate Social Responsibility).

"Pada triwulan keempat ini kita ingin mempercepat pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam hal ini dinas pertanian, kita memanfaatkan dana CSR yang ada di perkebunan besar swasta (PBS) kelapa sawit," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Barito Timur, Riza Rahmadi, Kamis (31/10/2019).

Riza menjelaskan bahwa ada tiga perkebunan besar swasta yang bernaung di bawah satu grup perusahaan yang akan memberikan bantuan CSR ke tiga desa.

"Masing-masing yaitu Desa Siong dan Desa Murutuwu Kecamatan Paju Epat serta Desa Bambulung Kecamatan Pematang Karau. Jadi kita harapkan ada sinergi antara PBS ini dengan perintah desa tersebut," imbuhnya.

Pemerintah desa juga akan bersinergi dengan BUMDes dan kelompok peternak untukmu mengelola bantuan CSR dalam bentuk bibit ayam petelur tersebut.

"Dari manajemen PBS akan membantu bibit ayam petelur yang berumur 4 bulan dan pakan ayam selama 60 hari," kata Riza.

Diharapkan pada bulan ke tujuh ayam-ayam itu sudah menghasilkan telur, sehingga hasil dari penjualan telur bisa dipakai untuk membeli pakan dan mengembangkan peternakan tersebut.

Dalam proyek ini, PBS mendistribusikan langsung bantuannya ke desa-desa yang menjadi target, Dinas Pertanian hanya memfasilitasi secara teknis untuk melakukan pembinaan. (Sumber: borneonews.co.id)


TEKAD DITJEN PKH DALAM UPAYA SWASEMBADA PROTEIN HEWANI

Foto: Istimewa

Protein hewani merupakan pilar penting ketahanan pangan nasional. Konsumsi protein hewani saat ini jumlahnya sebesar 8,44 gram/kap/hari. "Angka ini masih di bawah batas konsumsi yang ideal sesuai target Pola Pangan Harapan (PPH)," kata Iqbal Alim dari Sub Direktorat Ruminansia Potong, Ditjen PKH, Kementan dalam sebuah seminar nasional yang diselenggarakan di Kampus UNDIP Tembalang, Semarang, Jawa Tengah. Acara diselenggarakan oleh ISMAPETI bekerjasama dengan BEM Fapet UNDIP, dalam satu paket acara Temu Ilmiah Nasional ISMAPETI 2019.

Ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata & terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Amanat Undang-Undang tahun 18/2012 tentang pangan yakni perlunnya mengukur nilai pencapaian komposisi pola pangan dan gizi seimbang.

Untuk itu sangat diperlukan adanya langkah-langkah penting yang harus dilakukan. Ia memaparkan, pemerintah melalui Ditjen PKH telah mencanangkan target pencapaian demi mewujudkan peningkatan konsumsi protein hewani. Target-target pencapaian itu yakni upaya produksi dan penambahan populasi, penguatan kelembagaan dan pengembangan kawasan, penguatan infrastruktur, penguatan sistem logistik ternak dan produk, pengembangan investasi, regulasi dan deregulasi, serta penambahan indukan sapi, baik oleh pemerintah maupun swasta.

Iqbal juga menjelaskan, pihaknya juga telah melakukan program terboosan, antara lain program upaya khusus sapi betina wajib bunting (upsus siwab), penambahan indukan sapi potong, peningkatan status kesehatan hewan, dan penjaminan keamanan pangan asal ternak. Adapun program pendukungnya adalah dengan adanya skim pembiayaan, investasi dan asuransi ternak, penjaminan suplai bibit unggas, serta peningkatan kualitas bibit ternak sapi, yakni melalui sapi belgian blue dan sapi wagyu. (AS)

KERJA SAMA LINTAS SEKTORAL TANGANI STUNTING

Cegah stunting itu penting. (Foto: ANTARA FOTO)

Presiden Joko Widodo mengatakan salah satu program prioritas di periode kedua pemerintahannya adalah pembangunan sumber daya manusia. Komitmen pemerintah untuk mencetak generasi emas yang sehat dan kuat salah satunya adalah dengan menekan angka stunting di Indonesia.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta Lembaga Ketahanan Nasional, melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama mendukung program pengentasan daerah rentan rawan pangan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam penurunan prevalensi stunting atau angka kekurangan gizi.

Dalam arahannya, Mentan Syahrul menegaskan bawah kerjasama ini merupakan bentuk kehadiran negara untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. “Ini merupakan keterpanggilan tanggung jawab moralitas kebangsaan, saya berharap negara tidak salah memilih kita untuk mengurus bangsa ini,” kata Syahrul di Hotel Bidakara, Jakarta (30/10/2019). 

Syahrul mengungkapkan, banyak penyebab kerawanan pangan yang terjadi di Indonesia, karena itu penyelesaiannya harus dilakukan secara multisektor, “Indonesia adalah negara besar ke empat dunia yang terdiri dari 17 ribu lebih pulau dengan jumlah penduduk mencapai 267 juta jiwa, tidak mudah menajaga negara ini dengan baik. Cara satu-satunya adalah bagaimana kita sama-sama bertanggung jawab terhadap pangan rakyat,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas/FSVA) pada 2018, masih terdapat 88 kabupaten/kota atau 17,1% di Indonesia yang masih masuk katergori daerah rentan rawan pangan. Isu pangan, kata dia, bersifat sangat kompleks dan multidimensi. Namun dengan sinergi lintas sektor dan target waktu yang tepat, permasalahan kerawanan pangan didaerah akan lebih mudah diurai.

“Misalnya begini, terdapat 34 provinsi, 582 kabupaten/kota itu yang rawan berapa, kita sama-sama konsentrasi dan bersatu, kita maping data yang benar, kita fokus pada data daerah rawan yang kita miliki, saya yakin bisa,” tegas dia.

Sementara, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementan, Agung Hendriadi, mengatakan situasi ketahanan pangan di Indonesia mengalami peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan data FSVA 2015. Terdapat 177 kabupaten mengalami peningkatanan status ketahanan pangan.

“Berdasarkan hasil FSVA 2018, ada 426 kabupaten dan kota atau 82,9 % di Indonesia, yang sudah masuk katergori daerah tahan pangan, jika dibanding 2015, ada peningkatan status ketahanan pangan di 177 kabupaten” ujar Agung.

Lebih lanjut disampaikan Agung, pengentasan rawan pangan juga kemiskinan termasuk stunting harus diupayakan bersama sesuai kebutuhan di lapangan. Intervensi program diarahkan untuk menyelesaikan permasalahan yang menjadi faktor penyebab kerentanan pangan.

“Sinergitas lintas sektor telah dilakukan, kita sepakat untuk bekerja bersama. Sebelum penandatanganan, proses memperkuat sinergitas telah kita lakukan dalam bentuk FGD mensinergikan program tersebut” tukasnya. (INF)

KEMENTAN JAMIN KETERSEDIAAN STOK PANGAN ASAL HEWAN JELANG HBKN

Ilustrasi

Dua bulan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yakni Natal 2019 dan juga tahun baru 2020, Kementan melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) memastikan bahwa stok pangan asal hewan yang terdiri dari daging ayam dan telur ayam ras serta daging sapi, dalam kondisi aman. Hal ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita di ruang kerjanya, Rabu, 30 Oktober 2019.

Menurutnya, berdasarkan laporan realisasi produksi secara online dari para pelaku usaha perunggasan periode Januari-Oktober 2019, potensi produksi November-Desember 2019, serta data konsumsi daging ayam ras sesuai hasil Survei Bapok (Bahan Pokok) BPS 2017 sebesar 12,13 kg/kapita/tahun, maka dapat diperkirakan bahwa kebutuhan daging ayam tahun 2019 adalah sebesar 3.251.745 Ton, sedangkan ketersediaan daging ayam adalah 3.526.991 Ton. Dalam tahun 2019 ini diperkirakan terdapat surplus produksi daging ayam sebesar 275.246 Ton, atau rata-rata surplus sebesar 22,937 Ton/bulan.

I Ketut Diarmita

“Surplus ini merupakan potensi yang bisa dikelola lebih lanjut menjadi sumber devisa melalui ekspor ataupun diolah menjadi produk olahan untuk menambah nilai jualnya”, ucapnya.

Terkait kondisi stok telur ayam ras, Ketut menjelaskan bahwa berdasarkan hasil kajian Tim Analisa dan Asistensi Supply-Demand Ditjen PKH tahun 2019 serta data konsumsi telur sesuai dengan hasil survei Bapok BPS 2017 sebesar 17,69 kg/kapita/tahun, diperkirakan ketersediaan telur ayam ras di Indonesia sebesar 4.753.382 Ton, dan angka kebutuhan sebessar 4.742.240 Ton. Hal ini berarti masih ada neraca surplus sebesar 11.143 Ton atau 929 Ton per bulan.

“Ini salah satu contoh lain, dimana surplus telur ini seharusnya kita kelola untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan industri olahan telur dalam negeri”ungkapnya.

Lanjut Ketut memaparkan bahwa berdasarkan perhitungan kebutuhan dan ketersediaan untuk daging sapi, pada tahun 2019 ini kebutuhan nasional untuk daging sapi diperkirakan sekitar 686.271 Ton dengan asumsi konsumsi sebesar 2,56 kg/kapita/tahun. Adapun ketersediaan daging sapi berdasarkan produksi dalam negeri sebesar 404.590 Ton yang dihasilkan dari 2.25 juta ekor sapi yang dipotong. Berdasarkan data tersebut, masih diperlukan tambahan sebanyak 281.681 Ton yang dipenuhi melalui impor daging sapi (92 ribu Ton), daging kerbau (100 ribu Ton), dan sapi bakalan (500 ribu ekor setara 99.980 Ton daging).

Secara khusus, Ketut menjelaskan bahwa untuk bulan Oktober-Desember 2019 diperkirakan kebutuhan daging sapi adalah 168.870 Ton, sedangkan ketersediaan daging sapi lokal sebesar 99.558 Ton. Stok sisa akan dipenuhi dari stok sapi bakalan di feedlotter per 28 oktober 2019 sebanyak 216.544 ekor, stok daging sapi impor, stok daging kerbau impor, dan stok jeroan dengan total keseluruhan sebanyak 77.060,51 Ton. Hal ini berarti pada bulan Oktober-Desember 2019, terdapat surplus persediaan daging sebesar 7.748,51 Ton.

“Dengan data tersebut, saya yakin sampai akhir tahun 2019 ini, stok daging sapi kita mencukupi” tegas Ketut.

Menurut Ketut, secara umum, Indonesia sudah mandiri dalam penyediaan protein hewani dalam negeri, dimana untuk kebututuhan daging ayam dan telur ayam ras sepenuhnya merupakan produksi dalam negeri, bahkan masih ada surplus. Namun demikian, khusus untuk daging sapi, ketersediaannya masih memerlukan dukungan impor. Ketut meyakini bahwa dengan program pengembangan sapi yang dikerjakan pemerintah saat ini, swasembada daging sapi dapat tercapai pada tahun 2026.

"Kami harapkan dengan ketersediaan stok pangan asal hewan yang cukup ini, harga semestinya tetap stabil sampai akhir tahun nanti, dan konsumen bisa tenang” pungkasnya. (Rilis)

MENGAMANKAN SALURAN PENCERNAAN

Pentingnya menjaga kualitas pakan. (Sumber: Istimewa)

Ada sebuah pepatah yang berbunyi “Perut merupakan sumber segala penyakit”. Mungkin pepatah tersebut ada benarnya, bukan hanya pada manusia tetapi juga hewan.

Mengapa saluran pencernaan memegang peran yang penting? Karena hakikatnya makhluk hidup memang butuh makan. Bahkan jika diingat kembali ke masa sekolah dulu, salah satu ciri dari makhluk hidup adalah butuh makan dan minum. Makan dan minum tentunya dilakukan dalam rangka memperoleh nutrisi untuk menunjang keberlangsungan hidup.

Mempengaruhi Efisiensi
Dalam dunia perunggasan sudah dipahami bahwa pakan memegang peranan penting dalam keberlangsungan hidup, baik ayam maupun peternaknya. Seringkali didengar dalam seminar, kolokium dan lain sebagainya, bahwa persentase terbesar dalam bisnis perunggasan berasal dari pakan, yakni sekitar 60-70%. 

Kembali penulis mengingatkan bahwa siapa yang paling efisien dalam biaya pakan maka dialah yang akan mendapat margin terbesar. Hal tersebut juga sering ditemui dalam program-program kemitraan bisnis unggas, plasma berusaha seefisien mungkin untuk menghasilkan performa terbaik dengan pakan. 

Dari kacamata lain, juga tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan genetik ayam di masa kini sangat pesat. Jika pada masa awal perkembangannya, ayam broiler baru bisa dipanen dalam kurun waktu dua bulan, kini mereka sudah bisa dipanen dalam waktu separuhnya. Hal yang hampir serupa juga terjadi pada ayam petelur yang genetiknya sudah berkembang sedemikian rupa hingga dapat menghasilkan telur yang sangat banyak dalam kurun waktu tertentu.

Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Prof Nahrowi, ketika ditemui oleh Infovet dalam suatu acara mengamini pernyataan di atas. Menurutnya, kini ayam memiliki pertumbuhan yang lebih cepat, namun begitu ayam modern memiliki kekurangan.

“Perkembangan ternak ayam terutama pedaging ini sangat luar biasa, mereka boleh saja kita sebut monster, sebab pada waktu berumur sehari bobotnya masih 40-an gram lalu dalam waktu kurang dari sebulan bobotnya bisa mencapai lebih dari 1 kilogram, itu artinya naik lebih dari 20 kali lipat,” ujarnya. 

Pun begitu, Nahrowi mengakui bahwa walaupun pertumbuhannya cepat, keluhan-keluhan peternak terutama masalah penyakit kerap kali datang menyerang. “Ayam modern bisa dibilang mudah stres kalau tidak dipelihara dengan baik pasti sakit, pakannya tidak cocok juga sakit, begitupun jika kandang kondisi kurang layak ayam juga sakit, lalu mati berjamaah,” jelasnya.

Oleh karenanya perlu diterapkan manajemen yang baik dalam pemeliharannya terutama pakan. “Karena makhluk hidup itu nutrisinya dari situ, kualitas pakan juga harus terjaga, coba lihat kalau nutrisinya tidak mendukung, pasti stres ayam, gampang terkena penyakit karena itu. Belum lagi kalau pakannya terkontaminasi oleh zat yang bahaya seperti mikotoksin, tentunya akan makin parah,” ucap dia.

Nahrowi juga tidak memungkiri bahwa... (CR) Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2019.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer