-->

PINSAR INDONESIA BAGI-BAGI AYAM DAN TELUR


Semarak kegiatan Pinsar Peduli Gizi di Solo (Foto: Istimewa) 

Warga Solo menyambut antusias kegiatan bagi-bagi ayam goreng dan telur rebus yang digelar Pinsar Indonesia, Minggu (17/2) di kawasan jalan Slamet Riyadi, Surakarta. Acara Pinsar Peduli Gizi ini digelar bekerjasama dengan Asosiasi Obat Hewan Indonesia  (ASOHI) Jawa Tengah dan didukung oleh FORMAT (Forum Media Peternakan).

Mengambil tema “Sebutir Telur Sehari dan Sepotong Ayam, Anda Pasti Sehat dan Cerdas”, selain di Solo, Pinsar Indonesia juga membagikan 2.000 paket berupa karkas daging ayam dan telur (isi 10 butir) di dua kecamatan di Kabupaten Sukoharjo.

Hadir pada acara tersebut Ketua Umum Pinsar Indonesia (Singgih Januratmoko), Ketua Pinsar Indonesia Wilayah Solo (Agus Sulistyo), Koordinator Pinsar Indonesia Wilayah Jawa Tengah (Pardjuni), Rektor Universitas Veteran Bangun Nusantara (Ali Mursyid).

“Kegiatan kampanye ayam dan telur menjadi kegiatan rutin Pinsar Indonesia setiap tahun. Kali ini kami adakan di Surakarta, dan akan bergulir ke daerah-daerah lainnya,” ujar Singgih dalam sambutannya.

Ia mengungkapkan, sebanyak 2.000 potong paha ayam goreng dan 2.000 butir telur rebus disiapkan dan dibagikan ke masyarakat sekitar yang hadir di car free day. Kegiatan ini juga didukung akademisi Universitas Veteran Bangun Nusantara. Harapannya, hubungan antara organisasi dan akademisi berjalan lebih baik.

“Mahasiswa menjadi harapan kita bersama untuk membantu meningkatkan konsumsi protein hewani, dan salah satu protein hewani yang termurah itu adalah ayam dan telur,” tandasnya. Oleh karenanya, mahasiswa tidak hanya belajar namun juga terjun ke dunia peternakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Lebih lanjut Pardjuni menjelaskan, konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Daging ayam 12 kg per kapita per tahun, sedangkan telur 6 kg per kapita per tahun. “Sehingga perlu dilakukan promosi untuk meningkatkan konsumsi tersebut. Salah satunya dengan acara seperti ini,” ucapnya.

Selain berbagi ayam dan telur, juga dilakukan senam bersama, parade becak dan talk show bersama Duta Ayam dan Telur (Offie Dwi Natalia dan Andi Ricki Rosali).

Menurut Andi, masalah yang paling mendasar generasi milenial adalah belum adanya kesadaran untuk terjun ke dunia peternakan khususnya perunggasan. Terlebih dengan masih rendahnya konsumsi protein hewani, peran generasi muda sangat dibutuhkan. “Hadirnya kami Duta Ayam, mengajak masyarakat luas untuk lebih peduli akan pentingnya mengonsumsi ayam dan telur,” katanya.

Isu negatif yang beredar di masyarakat bahwa makan daging ayam dan telur kolesterol, bisulan dan bahkan ayam yang disuntik hormon, ditambahkan Offie, harus ditangani dengan baik. “Tugas kami di sini, mensosialisasikan bahwa daging ayam dan telur bernilai gizi tinggi. Tidak menimbulkan hal-hal negatif yang seperti yang beredar. Justru dengan mengonsumsi daging ayam dan telur, dapat meningkatkan kesehatan dan kecerdasan,” terangnya. (INF)

BANGKAI ANJING TERINDIKASI RABIES DIBUANG KE LAUT, WARGA ENGGAN MAKAN IKAN


Anjing yang diduga terinfeksi virus rabies dimusnahkan oleh masyarakat dan bangkainya dibuang di laut sekitar Dompu, NTB. Sebagian warga yang mengetahui itu enggan mengkonsumsi ikan laut karena menganggap ikan tak lagi steril.

Pembuangan bangkai anjing ke laut itu dilakukan di pesisir laut Desa Soro, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu, NTB, pada Kamis (14/2/2019). Tiga ekor anjing dimusnahkan oleh warga dan bangkainya dibuang begitu saja ke laut.

"Kami tahunya itu lewat media sosial, ada anjing yang dibuang di laut, tepatnya di Soro. Sejak mengetahui itu, saya enggan makan ikan," ungkap warga Dompu, Andiman, kepada detik.com, Jumat (15/2/2019).

(Ilustrasi gambar : derryjournal.com)

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Dompu, Zainal Arifin, membenarkan kejadian itu. Namun dia memastikan bangkai anjing itu tidak sempat dimakan oleh ikan karena cepat dievakuasi oleh tim pengendali penyakit rabies.

"Kita langsung cek info itu dan tim langsung turun tangan. Sebenarnya itu tidak dibuang ke laut, melainkan dibuang di selokan oleh warga yang terbawa oleh arus banjir hingga ke laut. Saat itu juga dievakuasi dan dikubur oleh warga," ungkap Zainal terpisah.

Sementara itu, Kepala Dinas kelautan dan Perikanan Dompu, Wahidin, menepis soal adanya ikan yang terjangkit virus rabies karena sudah memakan bangkai anjing sehingga warga Dompu enggan mengkonsumsi ikan.

Dia menyebut memang daerah tempat ditemukan bangkai anjing di laut merupakan salah satu daerah penghasil ikan terbesar di Dompu. Namun hal itu tidak masuk akal jika bangkai anjing dimakan oleh ikan sehingga ikan bisa langsung terjangkit rabies, sementara jenis virus rabies ini menyerang hewan atau binatang berliur, seperti, anjing, kucing, dan hewan berkaki lainnya."Ikan yang ditangkap oleh para nelayan itu sangat jauh, sementara bangkai yang ditemukan di pinggir sungai berdekatan dengan laut," tutur Wahidin. (sumber : Detik.com)

KLB RABIES, 264 EKOR ANJING DI SUMBAWA DIMUSNAHKAN

Warga di 9 kecamatan di Kabupaten Sumbawa melaporkan adanya korban yang digigit anjing. Pemerintah Kabupaten Sumbawa tengah berkoordinasi untuk membentuk tim penanggulangan rabies dan upaya eliminasi terhadap anjing liar.

"Ada 9 kecamatan yang melaporkan adanya kasus gigitan hewan penular rabies," ucap Kabag Humas Setda Sumbawa Tajuddin saat dimintai konfirmasi, Senin (18/2/2019). Sembilan kecamatan yang disebut Tajuddin adalah Tarano, Sumbawa, Labangka, Lenangguar, Utan, Plampang, Labuan Badas, Empang dan Rhee.


Rabies, zoonosis yang masih menjadi momok di Indonesia (ilustrasi : medicaltoday.com)

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumbawa menyebut hingga Sabtu (16/2) tidak kurang dari 18 orang yang dilaporkan digigit anjing dan 4 orang dinyatakan positif terjangkit rabies. Pemkab juga telah menyatakan kejadian luar biasa (KLB) atas kasus rabies tersebut sejak 8 Februari lalu dan diumumkan satu minggu setelahnya.

Salah satu upaya untuk memutus mata rantai persebaran virus rabies, Pemkab Sumbawa telah mengeliminasi sekitar 264 ekor anjing di Kecamatan Tarano dan Empang. Eliminasi anjing-anjing liar itu dilakukan dengan cara diracun. "Eliminasi anjing liar yang selama ini dilakukan dengan racun," ungkap Tajuddin.

Koordinasi Pemkab Sumbawa sementara menyatakan eliminasi berikutnya akan dilakukan juga dengan melibatkan Perbakin. "Ada keinginan untuk melibatkan Perbakin Sumbawa untuk membantu eliminasi," ujarnya.

Penanggulangan hewan pembawa rabies (HPR) juga dilakukan dengan upaya vaksinasi hewan peliharaan. Setidaknya ada 3200 vial stok vaksin bantuan yang diterima Disnakeswan. Pemkab Sumbawa juga telah membentuk tim reaksi cepat untuk penanggulangan rabies. (Sumber : Detik.com)

FKH IPB MEMBIDIK AKREDITASI EROPA

Dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitasnya agar setara di tingkat internasional, Faklutas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor kini menjajaki akreditasi pendidikan kedokteran hewan dari badan akreditasi kedokteran hewan Eropa. Sebelumnya FKH IPB juga telah terakreditasi oleh ASEAN University Network Quality Asurance (AUN-QA).

Pada tanggal 11-13 Februari lalu, Prof. Stéphane Martinot, selaku Presiden of the European Association of Establishments for Veterinary Education (EAEVE) berkunjung ke FKH IPB dalam rangka kunjungan informatif terkait EAEVE dan sistem akreditasi European System of Evaluation of Veterinary Training (ESEVT). 

Dalam kesempatan tersebut Prof. Martinot mendapatkan penjelasan mengenai FKH IPB serta proses pembelajaran yang disampaikan oleh Dekan FKH IPB, Prof Srihadi Agungpriyono, Wakil Dekan bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Agus Setiyono, serta Direktur Eksekutif Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) FKH IPB Prof. Deni Noviana. 

Prof Martinot juga meninjau beberapa aktivitas belajar mengajar, baik perkuliahan maupun praktikum yang sedang berlangsung, sekaligus meninjau aktivitas dan fasilitas penunjang di RSHP FKH IPB dan di Unit Rehabilitasi Reproduksi (URR) FKH IPB.

Prof. Martinot bersama staff pengajar dan Dekan FKH IPB (Sumber : fkh.ipb.ac.id)

Tidak berhenti sampai disitu,  Prof. Martinot juga melakukan kunjungan ke salah satu mitra akademik kegiatan ekstramural dalam Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH), yakni Direktorat Polisi Satwa Baharkam Polri di Kelapa Dua, Depok. Prof. Martinot juga berkunjung ke Jakarta Aquarium, salah satu lembaga konservasi eksitu yang menjadi tempat berkiprah para alumni dalam bidang medik konservasi satwa aquatik.

Secara umum, Prof. Martinot terkesan dengan aktivitas dan fasilitas di FKH IPB yang dianggap sudah memadai. Sambil memberikan masukan dan beberapa catatan untuk perbaikan dan peningkatan aktivitas, sarana dan proses pembelajaran, beliau menyarankan FKH IPB melanjutkan proses ini ke tahap penyusunan Self Evaluation Report (SER) agar segera dapat mengajukan usulan kunjungan konsultatif pada tahun 2020.

Langkah yang ditempuh oleh FKH IPB ini juga mendapat suara positif dan dukungan dari stakeholder. Dalam salah satu agenda kunjungan, Prof. Martinot bertemu dan berdiskusi dengan Ketua Ikatan Alumni FKH IPB, Drh. Fitri Nursanti Poernomo Ketua PDHI Cabang Jawa Barat II, Drh. Soenarti Daroendio, dan Kepala Subdirektorat Pengamatan Penyakit Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Drh. Boedhy Angkasa.

Prof. Srihadi Agungpriyono, Dekan FKH IPB, berharap FKH IPB dapat segera menyiapkan dan menyempurnakan serta melakukan berbagai upaya yang diperlukan untuk persiapan proses akreditasi sesuai dengan saran yang diberikan oleh Prof. Martinot. Tekad dan dukungan semua sivitas akademika dan tenaga kependidikan maupun para stakeholder sangat diharapkan untuk mewujudkan harapan ini.

Tidak lupa juga Prof. Martinot mengundang Dekan dan perwakilan IPB untuk menghadiri General Assembly meeting EAEVE di Zagreb, Kroasia pada 30-31 Mei yang akan datang sebagai langkah berikutnya untuk menjadi associate member di EAEVE. (Sumber : fkh.ipb.ac.id)

DUET MAUT AI & IBH PENGHANCUR MASA DEPAN PETERNAK

Ayam layer dengan gejala jengger kebiruan yang  terinfeksi virus H5N1 clade 2.3.2.1. (Istimewa)

Avian influenza (AI) dan Inclusion body hepatitis (IBH) merupakan penyakit fenomenal di tahun 2018 dan diperkirakan masih menjadi momok di tahun-tahun berikutnya. Bagaimana tidak, peternak zaman now dibuat frustrasi dengan kehadiran penyakit tersebut dan seolah-olah peternak justru semakin “teledor” dalam mengelola ayam karena sifat penyakit yang sulit dikendalikan dan menyerang semua tipe kandang, baik kandang terbuka (open house) maupun tertutup (closed house).

Perkembangan penyakit AI sejak ditemukan pertama kali di Indonesia pada 2002 sangat pesat, dan baru-baru ini ditemukan jenis terbaru Low Pathogenic Avian Influenza (H9N2) yang menjadi menjadi ancaman terbesar peternak layer dengan penurunan produksi 90% menjadi 40%. Demikian juga dengan IBH, sejak ditemukan di Indonesia pada 2017 penyakit ini kini telah tersebar ke seluruh Indonesia dengan tingkat mortalitas rata-rata 10-80%.

Avian Influenza
Penyakit ini masih menjadi primadona dan banyak diperbincangkan, tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Agustus 2017 lalu, pemberitaan tentang teridentifikasinya virus AI H5N1 di Filipina juga tidak luput menjadi perbincangan, sedangkan di Indonesia H9N2 lebih banyak dibicarakan porsinya dibandingkan H5N1 karena ada beberapa laporan baru mengenai teridentifikasinya virus ini di lapangan.

Penyakit AI secara garis besar dikategorikan menjadi dua, yaitu Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI), misal H5N1 dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI), misal H9N2. 

• HPAI
Sudah lama diketahui bahwa ayam petelur yang mendapatkan serangan virus H5N1 akan mengalami gangguan produksi telur dengan atau tanpa kematian. Variasi gejala dan tingkat kematian yang muncul pada ayam masa produksi sangat tergantung kekebalan ayam, kepadatan virus yang menantang dan kondisi umum ayam.

Virus H5N1 yang akhir ini didominasi clade 2.3.2.1 juga masih menjadi ancaman bagi ayam petelur. Tidak jarang gejala yang muncul hanya penurunan produksi telur tanpa ada kematian, hal ini salah-satunya diakibatkan perlindungan dari program vaksinasi hanya melindungi dari kematian tetapi tidak terhadap penurunan produksi.

Untuk mendapatkan perlindungan yang bagus terhadap tantangan H5N1 di masa produksi, tingkat dan keseragaman kekebalan juga penting. Penggunaan vaksin kill AI H5N1 sangat membantu perlindungannya dan tentu saja didukung dengan antigenic matching dari bibit vaksin yang digunakan.

• LPAI
Salah-satu virus AI yang digolongkan LPAI antara lain H9N2, virus ini pertama kali dilaporkan di kalkun yang mengalami gangguan pernafasan ringan tahun 1966 silam. Di dunia, virus H9N2 dibagi menjadi dua garis keturunan utama, yaitu North America dan Eurasian, sedangkan Eurasian dibagi menjadi tiga, yaitu G1-like, Y280-like dan Y439-like.

Sifat virus ini mayoritas bereplikasi di sel epitel pernafasan dan pencernaan yang bersifat lokal dikarenakan cleveage site yang monobasic. Hal ini yang menyebabkan penyebaran virus... 

Drh Sumarno
Head of AHS Central & Outer Island PT Sierad Produce, Tbk


Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi Februari 2019.

PETERNAK: JAGUNG IMPOR SIMPAN SEBAGAI CADANGAN

Ilustrasi jagung (Foto: Pixabay)

Peternak ayam meminta kepada pemerintah, agar jagung impor untuk pakan disimpan ketika panen raya. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), Leopold Halim mengatakan saat ini panen jagung sudah mulai berlangsung di beberapa lokasi. Ia memperkirakan panen akan berlangsung hingga akhir April nanti.

"Sudah mulai panen sedikit-sedikit ini. Jadi panen raya itu April dan kemungkinan akhir April sudah mulai sedikit," jelas pria yang akrab disapa Atung ini, Kamis (14/2/2019).

Lebih lanjut, ia menyarankan agar pemerintah bisa jagung yang diimpor sebagai cadangan. Langkah itu agar tidak menyinggung sekaligus merugikan petani jagung lokal.

"Kita sagai peternak pasti menyerap (jagung) lokal, apapun. Tapi lihat situasi, sebaiknya pemerintah tahan (jagung impor), nggak jual dulu. Jadi disimpan untuk buffer stock saat bulan Juli-Agustus kosong," ungkap dia.

Sebagai informasi, saat ini Perum Bulog sedang mengimpor jagung sebanyak 30 ribu ton dan 150 ribu ton yang ditargetkan masuk pada Februari dan Maret ini. (Sumber: finance.detik.com)

UPAYA MENCEGAH AI DAN PIB, SUDAH SEJAUHMANA?

Vaksinasi harus tepat guna dan protektif. (Sumber: Istimewa)

Sebagai negara dengan iklim tropis, pastilah mikroorganisme patogen kerasan tinggal di Indonesia. Bukannya tanpa daya dan upaya, berbagai cara telah dilakukan oleh seluruh stakeholder dalam mengendalikan AI dan “konco-konconya”. Lalu seberapa efektifkah upaya tersebut?

Memang jika dilihat lebih lanjut persoalan wabah AI di Indonesia kini tidak hits seperti pada masa awal AI mewabah. Namun hal tersebut bukan berarti peternak bisa nyantai, terutama dalam unsur pemeliharaan. Semakin zaman berubah, bibit-bibit penyakit juga akan berubah menyesuaikan dirinya dalam upaya survival layaknya manusia. Oleh karenanya upaya pencegahan perlu dilakukan secara maksimal, berkesinambungan dan konsisten.

Upaya Pencegahan AI 
Dalam mengendalikan AI, idealnya memang harus dilakukan secara menyeluruh. Stamping out dan depopulasi selektif seharusnya dilakukan, namun risikonya akan ada kerugian ekonomi dari peternak akibat depopulasi tadi akan sangat besar, pemerintah juga pasti tidak akan mampu memberikan kompensasi bagi peternak. Pada saat AI mewabah 2003 lalu, pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 96/Kpts/PD.620/2/2004 telah menetapkan sembilan langkah strategis dalam mengendalikan AI, diantaranya:

1. Meningkatkan biosekuriti pada semua aspek manajemen
2. Depopulasi secara selektif kelompok ayam/unggas yang terinfeksi virus AI
3. Stamping out kelompok ayam/unggas pada daerah infeksi baru
4. Vaksinasi terhadap AI
5. Kontrol lalu lintas unggas, produk asal unggas dan produk sampingannya.
6. Surveilans dan penelusuran kembali
7. Mengembangkan penyadaran masyarakat
8. Restocking
9. Monitoring dan evaluasi

Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa, mengatakan bahwa pada dasarnya pemerintah juga menerapkan konsep pendekatan One Health dalam penanggulangan AI.

“Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak utamanya dari kalangan medis, baik hewan maupun manusia, semua kami libatkan, bahkan sampai tingkat RT. Memang kenyataannya ini yang sulit, koordinasi,” kata Fadjar.

Data Kementerian Pertanian mencatat hingga saat ini sebanyak tiga provinsi telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pertanian sebagai... (CR)


Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi Februari 2019.

BERAS BUSUK BULOG TAK LAYAK DIJADIKAN PAKAN AYAM

Ilustrasi ayam dan pakan (Foto: Google)

Kabar ditemukannya beras busuk di Ogan Komering Ulu Timur (OKU), Provinsi Sumatera Selatan, Ketua Presidium Peternak Layer (petelur) Nasional Ki Musbar Mesdi berkomentar.

Komentar Musbar membantah pernyataan Bulog yang menyebut beras busuk yang ditemukan di OKU Sumatera Selatan tidak akan digunakan untuk konsumsi masyarakat, melainkan akan dialihkan untuk pakan ternak.

Para peternak unggas menganggap, beras busuk bukan pakan yang tepat bagi ayam maupun unggas lainnya.

"Kami tidak mengenal beras busuk dipakai di ayam. Yang kami kenal adalah bekatul dan menir," kata Musbar dalam pernyataannya, seperti dikutip dari antaranews.com, (Rabu, 13/2).

Dia menambahkan, bekatul dan menir mengandung energi bagi unggas yang berasal dari minyaknya. Sementara itu, beras busuk sendiri dianggap tidak akan berguna apabila diberikan kepada ternak.

“Beras rusak itu enggak ada artinya bagi ayam. Vitamin sama karbohidratnya sendiri sudah rusak. Untuk ternak unggas, tidak direkomendasikan kalau beras busuk,” kata dia lagi.

Musbar menegaskan beras bukan merupakan bagian utama dari komponen pakan ternak unggas, apalagi komposisinya hanya sekitar 3-5 persen dari pakan yang ada.

Ia memastikan tidak ada peternak yang mau menampung beras busuk yang telah berkutu maupun terkena jamur untuk pakan ternak, karena sangat berisiko.

Oleh karena itu, Ki Musbar mempertanyakan wacana pemberian beras busuk sebanyak 6.000 ton yang ditemukan di salah satu gudang Bulog sebagai bahan makanan ternak.

Beras itu busuk karena berkutu atau berjamur juga menjadi teka-teki. Kalaupun karena hanya berkutu, Musbar meyakini tidak ada peternak yang mau mengambilnya dikarenakan bisa berisiko jika dimakan oleh unggas.

Jika berkutu, peternak mesti memberikan desinfektan atau obat antijamur guna bisa menghilangkannya. Apabila beras tersebut sudah bersih dan dikonsumsi oleh ternak, hal tersebut tetap saja sangat berisiko.

Menurut Musbar, pernyataan Bulog yang mengalihkan penggunaan beras busuk kepada ternak semata untuk mengurangi kerugian dan kesalahan manajemen gudang hingga menyebabkan busuknya beras. (Inf)


LAUNCHING PERDANA BUKU "KUDA PACU INDONESIA"

Dr Suswono, Drh Wirasmono, Ibu Soehadji, Chaidir Saddak, Don P Utoyo, Prof Sri Bandiati, Oetari Soehardjono. (Foto: Infovet/Bams)

Bertempat di Cozyfield Cafe,  Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, Selasa (12/2), Guru Besar Genetika IPB Prof Muladno beserta sejawatnya resmi me-launching buku berjudul “Sejarah Pembentukan Kuda Pacu Indonesia”. Buku tersebut merupakan dokumentasi dan rangkuman pemikiran dari penciptaan rumpun kuda pacu Indonesia yang memakan waktu lima dasawarsa.

Hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya, mantan Menteri Pertanian Dr Suswono, ahli kuda Drh Wirasmono Soekotjo, Ketua Pordasi (Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia) HM. Chaidir Saddak, Prof Sri Bandiati, Ketua FMPI (Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia) Don P. Utoyo, mantan Dirjen PKH Dr Sofyan Sudarjat, Letjen TNI purn. Maciano Norman, istri dari alm. Dr Drh Soehadji, Ketua Umum PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia) Ir. Teguh Boediyana dan sejumlah aktivis perkudaan.

Buku setebal 336 halaman itu diterbitkan oleh PT Berkah Maju Sejahtera, yang disusun oleh sebuah tim, yang terdiri dari Ketua Kehormatan alm. Dr Drh Soehadji, Ketua Tim Penyusun Prof Muladno dan anggota yang terdiri dari Prof Sri Bandiati, Drh Wirasmono Soekotjo dan Oetari Soehardjono.


Cover buku KPI
Peluncuran buku ini sekaligus menjadi hadiah bagi Oetari Soehadjono yang tengah berulang tahun di usia ke-91. Oetari sendiri merupakan salah satu tokoh penting bagi pembibitan kuda di Indonesia. Dia telah melakukan breeding kuda selama 40 tahun lebih, dan pada era Menteri Pertanian Dr Suswono, strain kuda yang dikembangkan Oetari secara resmi diakui pemerintah. Sejak saat itu Indonesia memiliki bibit yang disebut Kuda Pacu Indonesia (KPI).

Ketua Tim Penyusun Prof Muladno, mengakui kehebatan Oetari yang sangat tekun dalam melakukan pemuliaan kuda. ”Melakukan pemuliaan itu mudah di atas kertas, tapi dalam pelaksanaannya sangat rumit. Butuh kedisiplinan dan ketekunan yang luar biasa selama bertahun-tahun,” kata Muladno yang juga mantan Dirjen PKH.

Menurutnya, untuk melakukan pembibitan kuda dibutuhkan beberapa syarat, diantaranya Obsesi yang kuat, Edukasi terus-menerus, Totalitas dalam berkarya, Ambisius yang positif untuk meraih prestasi, kemampuan melakukan Riset berkesinambungan dan Inovatif, yaitu menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi ada. “Syarat-syarat tersebut saya singkat menjadi OETARI,” ucap dia, memuji kehebatan Oetari yang dalam usianya yang ke 91 tetap sehat dan terus berkarya .


Prof Muladno, Ketua Tim Penyusun buku Kuda Pacu Indonesia. (Foto: Infovet/Bams)

Pada kesempatan yang sama, mantan Mentan Suswono juga mengaku kagum kepada Oetari. “Indonesia membutuhkan Oetari-oetari lain dalam bidang peternakan ataupun bidang lainnya,” tukasnya.

Sebagai informasi, buku KPI yang terdiri dari 7 bab ini banyak mengupas mengenai sektor perkudaan di Indonesia, meliputi sejarah perkudaan, identitas kuda pacu Indonesia, genetika pemuliaan serta peran pemerintah dalam pengembangan kuda pacu Indonesia. Selain itu, ada hal menarik dari buku ini, yakni terdapat sambutan dari Presiden RI kedua, alm. Soeharto, yang merupakan pelindung Pordasi sejak 1966 dan didaulat sebagai “Bapak Kuda Pacu Indonesia”. (Bams/RBS)

HARGA JAGUNG PERTENGAHAN FEBRUARI 2019

Foto: Pixabay


Jagung, hingga pertengahan Februari 2019 masih menjadi persoalan bagi peternak ayam di Indonesia. Para peternak mengeluhkan harga jagung yang cukup tinggi yaitu sekitar Rp 6.200 per kilogram (kg). Wajarnya harga jagung hanya berkisar Rp 3.500 - Rp 4.000 per kg.

Padahal pemerintah telah melakukan intervensi pasar dengan impor jagung sebanyak 100 ribu ton pada Januari 2019. Impor jagung tersebut merupakan jatah yang diberikan pemerintah kepada Perum Bulog di akhir 2018 lalu.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal Dewan Jagung Nasional, Maxdeyul Sola, berpendapat masih tingginya harga jagung disebabkan karena panen raya jagung belum merata. Sehingga kebutuhan yang besar belum sepenuhnya bisa dipenuhi dari jagung lokal.

"Baru mulai panen sedikit-sedikit (di) Banten udah panen, Lampung udah panen, Jawa Tengah Rembang panen, Lamongan ya sedikit-sedikit jadi artinya baru memulai panen belum panen raya," katanya, Selasa (12/2/2019).

Menurutnya panen raya baru akan terjadi pada awal April. Hal ini disebabkan masa tanam yang dilakukan pada bulan Desember lalu. Sebab untuk komoditi jagung membutuhkan waktu 3-4 bulan dari masa tanam sampai masa panen.

Maxdeyul menegaskan selama ini pihaknya menggunakan data dari Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menghitung proyeksi hasil panen setiap tahunnya. Berdasarkan data yang ia sebut pada tahun ini Kementan memproyeksikan produksi sebesar 33 juta ton.

Selain dari persoalan data, ia menambahkan jika selama ini peternak tidak memberikan informasi utuh terkait berapa jumlah seluruh ayam yang dipelihara. Hal tersebut turut membuat polemik terkait kebutuhan jagung.

Sementara itu dikonfirmasi secara terpisah, Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Sri Widayati, menjelaskan kebutuhan jagung untuk pakan ternak sekitar 10,28 juta ton. Angka tersebut masing-masing 7,76 juta ton untuk pakan pabrik dan peternak mandiri 2,52 juta ton. Sri pun menyatakan jika saat ini telah memasuki musim panen jagung di sebagian daerah seperti di Jawa Timur. 

"Besok tanggal 15 Februari ada panen di Tuban," timpalnya.

Sedangkan pengusaha sekaligus petani jagung, Dean Novel, menyebut saat ini harga jagung di Pulau Jawa mencapai Rp 5.600-Rp 5.800 per kg. Sementara di luar Jawa harga fluktuatif dari Rp 5.700-Rp 6.100 per kg. (Sumber: kumparan.com)


GANGGUAN REPRODUKSI MERECOKI PRODUKTIVITAS SAPI PERAH

Peternakan sapi perah. (Istimewa)

Akhir tahun 2018 kemarin, penulis berkesempatan kembali berkunjung ke salah satu peternak sapi perah binaan yang berada di Situ Udik, Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Setelah lebih dari dua tahun tidak ke sana, perjalanan menuju Kavling 43 menurut penulis banyak mengalami perubahan. Kavling-kavling yang semula penuh dengan sapi perah, kini terlihat lengang dan kosong. Lalu-lalang truk pengangkut rumput dan pengangkut susu ke koperasi juga terlihat kian sepi. Sebagian kandang dibiarkan kosong dan ditumbuhi rumput-rumput liar yang terlihat bersemak semak. Selain itu, kavling rumah anak kandang juga terlihat kosong. Terbesit pertanyaan di benak penulis, apa benar beternak sapi perah di sana sudah tidak menjanjikan lagi?

Melihat fenomena tersebut penulis berbincang dengan H. Burhan pemilik Kavling 43 yang kini masih bertahan dengan populasi 50 ekor sapi perah. Dari populasi tersebut 21 ekor laktasi fase medium dan late dengan days in milk lebih dari 150 hari, sebanyak tujuh ekor calon dara umur kurang dari 15 bulan serta populasi lainnya periode kering, pedet dan sapi jantan.

Burhan bercerita bahwa pada puncak laktasi sapinya dapat mencapai produksi 20 liter per hari. Beberapa sapi mengalami kendala reproduksi yaitu susah terjadi kebuntingan, sehingga produksi susu akan turun terus-menerus secara alami. Ia mengatakan, selain karena faktor pelayanan petugas reproduksi dari koperasi yang masih harus dioptimalkan, banyaknya fenomena pendarahan 1-2 hari setelah inseminasi buatan atau yang dikenal sebagai metestrus bleeding kerap ditemukan.

Produksi susu akan berada pada puncak laktasi pada days in milk 30-120 hari yaitu pada fase peak. Produksi dapat bertahan pada puncak 1-2 bulan kemudian dengan manajemen pemeliharaan dan nutrisi yang bagus. Secara umum pada fase medium atau late dengan days in milk lebih dari 150 hari akan terjadi penurunan secara alami. Sapi dengan perfoma reproduksi baik akan terjadi perkawinan dan kebuntingan pada days in milk 90 -120 hari, sehingga masa kering kandang akan dilakukan pada days in milk 300-330 hari (fase late).

Pada days in milk ini kering kandang dapat berjalan dengan baik dan produksi susu selama tujuh bulan proses kebuntingan juga masih menguntungkan. Sebaliknya, jika kebuntingan terjadi pada fase late (days in milk lebih dari 210 hari), maka pengeringan terjadi pada days in milk 420 hari. Jika hal ini terjadi maka peternak akan mengalami kerugian, karena pada fase late produksi susu sudah tidak mampu menutupi biaya produksi. Kondisi yang lebih parah lagi, jika hingga fase late induk tidak bunting produksi susu akan berhenti atau diberhentikan dalam kondisi tidak bunting (dry off).

Kesempatan berikutnya penulis melakukan observasi ke kandang sapi perah milik Burhan. Desain kandang yang digunakan sangat minim cahaya matahari yang menyebabkan deteksi birahi dengan melihat faktor eksternal tanda birahi menjadi sulit (abang, abuh, anget, dinaiki, menaiki dan keluranya lendir bening). Masalah lainya yang ditimbulkan karena minimnya cahaya matahari adalah kurangnya asupan...

Drh Joko Susilo, M.Sc.
Medik Veteriner Muda
Balai Veteriner Lampung

Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi Februari 2019.

KAKI KAPUR, APAKAH BERBAHAYA?

Ayam yang terserang scaly leg. (Sumber: Istimewa)

Berak kapur atau infeksi Salmonella pullorum nampaknya masih lebih “tenar” ketimbang penyakit kaki kapur. Namun begitu, kaki kapur walaupun dianggap remeh tetap mengancam produktivitas ternak.

Penyakit kaki kapur bisa jadi tidak terlalu populer dikalangan peternak ayam komersil. Namun bukan berarti penyakit ini harus diabaikan keberadaannya. Pada kenyataannya, kurangnya perhatian dari peternak juga menjadi penyebab utama mengapa penyakit ini kurang populer.

Sebab-musabab
Jika memelihara kambing, domba, anjing, kucing dan kelinci, mungkin pernah berurusan dengan penyakit skabies. Penyakit kaki kapur (scaly leg) kurang lebih mirip dengan skabies, penyebabnya pun sama, yakni infestasi tungau.

Prof Upik Kesumawati, guru besar FKH IPB bidang ektoparasit, mengatakan bahwa tungau yang menyebabkan kaki kapur pada ungags yakni dari spesies Knemidokoptes mutans dan Megninia sp.

“Mungkin jarang ditemukan dan bisa jadi karena peternak enggak memperhatikan ayamnya satu-per-satu, jadi jarang ada laporan kasus ini dari peternak,” tutur Upik.

Lebih lanjut ia menuturkan, bahwa yang harus waspada terhadap penyakit ini yakni peternak-peternak backyard farming atau yang memelihara ayam secara individual, bukan dalam skala komersil.

“Kalau pelihara ayam buat iseng-iseng biasanya akan ada tuh, kandangnya pun enggak diperhatikan, pokoknya hanya kasih pakan aja selesai, kandang kotor, lembab, bau, biasanya yang seperti itu prevalensi kejadiannya tinggi,” kata dia.

Bukan hanya ayam, unggas lainnya ternyata juga bisa diserang oleh tungau ini, seperti kalkun, itik, burung dara, bahkan angsa pernah dilaporkan terinfeksi kaki kapur. “Umumnya serangan terjadi pada ayam yang berusia tua, hal ini karena ayam tua sudah turun tingkat imunitasnya,” jelas Prof Upik. Oleh karenanya ayam broiler jarang sekali dilaporkan terinfeksi penyakit ini karena usianya yang singkat.

Awal infeksi terjadi ketika ayam melakukan kontak langsung dengan tungau, celakanya tungau merupakan sejenis arthropoda yang kasat mata dan terdapat secara alami di lingkungan. Ketika tungau hinggap di tubuh ayam, tungau akan... (CR)


Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi Februari 2019.

YUK, DAFTAR WORKSHOP SELLING SKILL VERSI EMERGENETICS


One Day Workshop“Modern Selling Skill with Emergenetics Model”

Membedah rahasia penjualan sukses dengan model psikometri terkini

Profesi dibidang penjualan adalah satu-satunya profesi yang surga dan neraka-nya jelas. Mengapa \? karena indikator keberhasilannya dalam bentuk angka, yaitu angka penjualan.

Menguasai knowledge dan skill mengenai proses penjualan bagi praktisi penjualan adalah keharusan. Wajib hukumnya. Kondisi persaingan saat ini yang sangat ketat membuat kemampuan dasar mengenai proses penjualan saja, tidaklah cukup.

Model emergenetics dapat membantu meningkatkan kemampuan dan  keberhasilan dari proses penjualan. Dalam workshop ini, Anda akan mempelajari bagaimana melakukan penjualan dengan memahami dan mengenali tipe berpikir setiap pelanggan.


Rabu, 6 Maret 2019
Amaris Hotel Pancoran – Jakarta Selatan
Jl. Raya Pasar Minggu No. 15A, Pancoran, Jakarta Selatan – Indonesia
Phone : (62-21) 7949 777


Bonus :
·  Coaching/Mentoring seumur hidup penggunaan konsep emergenetics. Faciitator bisa dihubungi via WA atau email.

·Enam bulan berturut-turut mendapatkan soal-soal/tugas sebagai bagian memudahkan mengingat dan mengaplikasikan konsep yang telah dibahas dalam pertemuan kelas (one-day workshop).



Informasi dan Pendaftaran Hubungi : 
HP/WA Mariyam 08777 829  6375 atau email: marketinggita2018@gmail.com



Penyerahan KUR Peternakan Serentak di 5 Daerah Ini

Ilustrasi sektor peternakan (Foto: www.newsfirst.lk)

Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus peternakan rakyat serentak diberikan pada Sabtu (9/2/2019). Penyerahan dilakukan di lima daerah yang dipusatkan di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan, KUR peternakan rakyat merupakan perluasan jenis KUR. "Ini dimaksudkan untuk menggerakkan sektor ekonomi tradisional di pedesaan yang dikelola rakyat dan menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)," ujarnya melalui siaran pers, Minggu (10/2/2109).

Lebih lanjut, ia mengatakan, Kecamatan Pujon Kabupaten Malang dipilih sebagai lokasi penyerahan KUR peternakan karena memiliki jumlah peternak yang besar. Didukung pula oleh lahan peternakan subur serta luas.

KUR peternakan disalurkan juga ke Kota Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kota Magelang Provinsi Jawa Tengah, Kota Lampung Tengah Provinsi Lampung, Kota Sinjai Provinsi Sulawesi Selatan, serta Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat.

"Penyerahan serentak ini bertujuan menyosialisasikan KUR peternakan rakyat kepada seluruh masyarakat di seluruh Indonesia," tegas Darmin.

Sebagai informasi, sejak 2015 hingga 2018, KUR peternakan sudah dinikmati oleh 687.897 debitur. Dengan total plafon sebesar Rp 14,4 triliun.

Darmin menuturkan, program KUR telah menjadi perhatian Presiden Joko Widodo sejak lama. Pada awal 2015, Presiden meminta bunga KUR diturunkan hingga tujuh persen.

Maka, ia mengimbau kepada para santri di Kabupaten Malang supaya tidak takut memulai usaha sendiri.

"Mau berwirausaha di sektor peternakan, perkebunan, silahkan. Hal itu karena, hanya dengan berusaha kita akan menjadi bangsa maju," katanya.

Darmin pun mengimbau kepada masyarakat di sana agar mulai beternak secara, berkelompok. Pasalnya dengan berkelompok, perencanaan usaha akan lebih terstruktur dan disiplin terjaga, sebab masing-masing anggota bisa saling mengingat sekaligus membantu bila ada yang kesulitan. (Sumber: republika.co.id)

Harga Khusus Daging Ayam dan Telur Januari-Maret 2019

Foto: Pixabay

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memutuskan menaikkan harga eceran tertinggi (HET) telur dan daging ayam. Salinan Surat Menteri Perdagangan No. 82/M-DAG/SD/1/2019 tertanggal 29 Januari 2019 yang diperoleh Infovet, dijelaskan keputusan tersebut dilakukan berlaku untuk periode Januari hingga Maret 2019.

“Mengingat kenaikan harga jagung dan pakan di tingkat perternak yang berdampak pada kenaikan harga daging ayam dan telur di tingkat peternak dan konsumen berada di Harga Acuan, sehingga keputusan ini diambil untuk kondisi yang tidak normal," bunyi aturan tersebut seperti dikutip Infovet, Jumat (8/2/2019)

Terdapat juga harga acuan pembelian daging dan telur ayam di tingkat peternak serta harga acuan penjualan di tingkat konsumen, sebagaimana diatur dalam Permendag No. 96/2018 berlaku untuk kondisi normal.

Dalam permendag tersebut, harga acuan pembelian daging dan telur ayam ras di tingkat farmgate dipatok Rp 18.000/kg (harga batas bawah) hingga Rp 20.000/kg (harga batas atas).

Mendag menetapkan harga khusus pembelian daging dan telur ayam ras di tingkat farmgate seharga Rp 20.000/kg (harga batas bawah) hingga Rp 22.000/kg (harga batas atas). Sementara itu, harga khusus penjualan daging ayam ras kepada konsumen ditetapkan seharga Rp 36.000/kg dan telur ayam ras seharga Rp 25.000/kg.

Harga ini berlaku sejak surat tersebut ditandatangani tertanggal 29 Januari 2019 sampai dengan 31 Maret 2019. Selanjutnya, harga kembali mengacu pada Permendag 96/2018. (NDV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer