-->

CARA KERJA FITOBIOTIK MENGOPTIMALKAN PRODUKSI UNGGAS

Dampak keseluruhan berbagai komponen bioaktif dari fitobiotik terhadap kesehatan usus ayam. (Sumber: BioRender.com)

Penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (AGP) dan peningkat kesehatan saluran pencernaan dalam produksi ayam pedaging telah lama dipraktikkan karena efektivitasnya dalam meningkatkan laju pertumbuhan dan efisiensi pakan, serta memberikan pengaruh positif terhadap mikrobiota usus dan imunitas bawaan, manfaat-manfaat ini secara keseluruhan berkontribusi pada kesehatan dan performa unggas yang lebih baik (Gadde U, Kim WH, Oh ST, Lillehoj HS, 2017).

Namun, manfaat penggunaan antibiotik kini semakin dibayangi risiko terkait dengan residu obat dalam produk hewani (Ronquillo MG, Hernandez JCA. 2017). Sebagai contoh, antibiotik seperti tetrasiklin dan amfenikol telah terdeteksi dalam produk pangan, sehingga menimbulkan risiko bagi kesehatan konsumen (Diarra MS, Malouin F. 2014). Selain itu, penelitian oleh Hur dkk,  menemukan isolat Salmonella enterica yang berasal dari telur dan karkas ayam menunjukkan resistansi terhadap berbagai jenis antibiotik, termasuk penisilin, sulfisoksazol, streptomisin, tetrasiklin, dan kuinolon.

Resistansi ini tidak hanya mengganggu kesehatan unggas, tetapi juga meningkatkan risiko kontaminasi sekunder pada produk hewani, sehingga mengancam kesehatan masyarakat. Mengingat meningkatnya kekhawatiran terkait resistansi antibiotik dan masalah residu, terjadi pergeseran dalam produksi broiler menuju penghapusan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dan peningkat kesehatan saluran pencernaan.

Baru-baru ini, sebuah studi oleh Iwinski dkk. (Iwinski H, Wódz K, et al., 2022), menunjukkan campuran fitogenik dapat secara efektif menghambat galur Salmonella enterica subsp. yang resistan terhadap antibiotik, termasuk serovar Enteritidis, Typhimurium, yang mengindikasikan efektivitas aktivitas antimikrobanya. Pergeseran ini menegaskan perlunya strategi alami alternatif yang mampu menjaga kesehatan dan performa hewan tanpa berkontribusi terhadap resistansi antibiotik.

Dalam produksi unggas modern, broiler dibiakkan secara selektif untuk pertumbuhan yang cepat dan peningkatan massa daging dada, yang pada gilirannya menyebabkan laju metabolisme tinggi (Maharjan P, Martinez D, et al., 2021). Proses seleksi ditambah sistem produksi yang intensif ini, memaparkan ayam-ayam tersebut pada berbagai faktor pemicu stres, termasuk periode pencahayaan yang panjang, kadar debu, amonia yang tinggi, hingga beban patogen, faktor-faktor ini secara bersama-sama memicu stres oksidatif (Mishra B, Jha R, 2019).

Akibatnya, produksi reactive oxygen species (ROS) meningkat pesat, sehingga mengganggu keseimbangan antioksidan, merusak kesehatan saluran pencernaan, dan pada akhirnya memengaruhi performa secara keseluruhan, yang berujung pada kerugian ekonomi yang signifikan (Surai PF, Kochish II, Fisinin VI, Kidd MT, 2019).

Oleh karena itu, pengelolaan kesehatan saluran pencernaan yang... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

MENYOAL SEDIAAN HERBAL UNTUK KESEHATAN TERNAK YANG OPTIMAL

Berbagai jenis herbal yang dapat dimanfaatkan tersedia di Indonesia. (Foto: Gemini)

Ada sekitar 40 ribu spesies tanaman di dunia dan sekitar 30 ribu di antaranya ada di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 9.600 spesies tanaman tadi telah terbukti memiliki khasiat sebagai obat. Sedangkan lebih dari 1.000 di antaranya dimanfaatkan sebagai obat herbal tradisional oleh masyarakat Indonesia.

Di Indonesia obat herbal lebih akrab dengan sebutan jamu. Sejak zaman dulu, masyarakat Indonesia telah lama memanfaatkan sediaan herbal sebagai obat. Dari pengertiannya, obat herbal adalah obat yang zat aktifnya berasal dari tanaman (daun, batang, akar, kayu, buah, ataupun kulit kayu).

Di masa kini tren gaya hidup manusia semakin berubah, termasuk dalam hal kesehatan. Manusia di masa kini menganut tren kembali ke alam, sehingga banyak di antaranya yang mengonsumsi obat-obatan herbal dan jamu demi menunjang kesehatannya. Begitupun dengan ternak, kenyataannya sediaan herbal juga dapat digunakan sebagai terapi dalam kesehatan hewan ternak.

Herbal bukan hanya Jamu
Jamu memang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Penggunaannya tidak terbatas hanya pada manusia saja, tetapi juga pada hewan.

Sering kali ketika ada kontes ternak, karapan sapi, atau event sejenis, pemilik hewan kerap memberikan jamu untuk ternaknya agar kondisinya lebih prima pada saat kontes.

Nah, sebenarnya sediaan herbal tradisional bukan hanya jamu, ada beberapa kategori sediaan berdasarkan pengelompokkannya. Seperti diutarakan oleh Guru Besar SKHB IPB University, Prof Drh Min Rahiminawati. Menurut penuturannya, obat herbal di Indonesia terdiri atas tiga golongan yakni jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.

Jamu merupakan obat bahan alam yang sediaannya masih berupa bentuk asli (daun, rimpang, batang, dan lainnya). Setelah lolos uji pra-klinik, jamu dikategorikan menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT). Tingkat paling tinggi disebut sebagai fitofarmaka, di mana keamanan dan khasiat obat bahan alam sudah lolos uji pra-klinik dan uji klinik, serta bahan baku dan produk jadinya sudah terstandarisasi. Namun, kategorisasi tersebut hanya ada pada sediaan obat manusia.

“Untuk hewan mungkin sepertinya belum, tetapi saya lihat semakin kemari kayaknya makin banyak sediaan herbal, apalagi untuk ternak unggas. Tentunya ini indikasi positif untuk sediaan herbal, semoga semakin bergairah juga untuk industrinya menggunakan sediaan herbal,” ujar Prof Min.

Selain jamu, beberapa jenis tanaman dapat menghasilkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2026. (CR)

PAHAMI PENGGUNAAN PROBIOTIK, PREBIOTIK, DAN POSTBIOTIK UNTUK KESEHATAN USUS DAN PERFORMA OPTIMAL

Data market sediaan probiotik di dunia. 

Probiotik, prebiotik, maupun postbiotik kini bukan lagi barang asing. Hampir di seluruh toko ternak, poultry shop, bahkan lewat online sediaan tersebut dapat diakses. Produsen penyedianya pun mulai banyak di Indonesia.

Maksimalkan Fungsi Probiotik: Kenali Cara Penggunaan
Probiotik dan prebiotik biasanya diberikan pada ternak melalui pakan dan air minum. Pastinya perbedaan rute pemberian juga akan berbeda pula trik penanganannya. Misalnya pada pakan, selama ini pakan ayam diberikan dalam bentuk mash, crumble, maupun pelet. Artinya probiotik dan prebiotik yang harus ada di dalam pakan akan sedikit merepotkan apabila melewati proses pelleting dengan suhu tinggi.

Suhu tinggi merupakan ancaman bagi bakteri, karena beberapa jenis bakteri rata-rata akan mati. Jika harus melewati proses pelleting (suhu 80-90 °C), setidaknya harus ada perlakuan khusus pada probiotik maupun prebiotiknya di dalam formulasi pakan tersebut.

Peneliti sekaligus staf pengajar mikrobiologi SKHB IPB University, Drh Agustin Indrawati, mengatakan bahwa hal tersebut perlu diperhitungkan. Berdasarkan beberapa literatur yang ia baca, beberapa jenis bakteri asam laktat sangat peka dengan suhu tinggi.

“Betul, harus dipertimbangkan. Jangan sampai menggunakan probiotik tetapi malah kehilangan bahan aktifnya, yaitu bakteri baik itu sendiri. Soalnya bakteri kurang suka suhu tinggi, saya beri contoh kalau kita bikin yoghurt, susu yang digunakan setelah dipanaskan harus ditunggu dulu sampai suhunya pas, kalau tidak bakteri starter si yoghurt itu juga mati kepanasan,” kata Agustin.

Ia menyarankan, apabila dirasa sulit menggunakan pakan dan harus melewati suhu pelleting, maka sediaan probiotik dan prebiotik harus dimodifikasi agar dapat melewati suhu tinggi tanpa banyak merusak bahan aktifnya.

Ditanyai pertanyaan yang sama, Prof Lenny van Erp dari HAS University Belanda, mengatakan bahwa para produsen di Eropa kebanyakan sudah memiliki teknologi untuk mengatasi masalah tersebut. Menurutnya adalah betul bahwa bakteri probiotik rentan terhadap suhu tinggi, namun dengan adanya perkembangan teknologi semua hal bisa dilakukan.

“Ada beberapa produsen yang sudah melakukan kapsulasi pada bakteri probiotiknya, jadi dilapisi pelindung (enkapsulasi) dari zat yang tahan suhu tinggi, sehingga bakteri di dalamnya dapat melewati suhu pelleting tanpa harus mati, sehingga khasiatsi bahan aktif masih ada. Begitu juga sama dengan prebiotik, sudah dilakukan proses enkapsulasi,” ujar Lenny.

Contoh lain yang ia sampaikan yakni dengan menggunakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. (CR)

OPTIMALISASI PERFORMA UNGGAS DENGAN ALTERNATIF ALAMI

Ilustrasi klasifikasi probiotik. (Sumber: Vektor Stock.com)

Pemberian probiotik, prebiotik, sinbiotik, dan postbiotik pada pakan ayam memberikan manfaat signifikan, terutama dalam meningkatkan kesehatan pencernaan, performa pertumbuhan, dan sistem kekebalan tubuh. Senyawa-senyawa ini juga berfungsi sebagai alternatif alami pengganti antibiotik pemacu pertumbuhan (antibiotic growth promoter/AGP).

1. Probiotik
Mikroorganisme hidup (bakteri baik, seperti Lactobacillus dan Bacillus) yang memberikan manfaat kesehatan saat dikonsumsi. Probiotik bermanfaat untuk kesehatan ayam dengan memperkuat pencernaan, meningkatkan penyerapan nutrisi, dan menekan bakteri jahat seperti Salmonella dan E. coli, yang menghasilkan ayam lebih sehat, pertumbuhan lebih optimal, dan daging atau telur berkualitas lebih baik dengan kandungan lemak lebih rendah serta minim residu antibiotik.

Pemberian senyawa tersebut juga membantu memperkuat sistem imun, mengurangi stres, dan memperbaiki kualitas lingkungan kandang dengan mengurangi bau amonia dari feses.

Manfaat utama probiotik untuk ayam di antaranya:
• Kesehatan pencernaan: Bakteri baik (seperti Lactobacillus) menyeimbangkan mikroflora usus, membantu pencernaan lebih lancar, dan meningkatkan penyerapan nutrisi.

• Peningkatan produktivitas: Penyerapan nutrisi lebih maksimal mendorong pertumbuhan berat badan lebih cepat dan meningkatkan konversi pakan (rasio pakan vs pertambahan bobot), meningkatkan efisiensi produksi.

• Sistem imun lebih kuat: Probiotik membantu melawan patogen dan meningkatkan daya tahan tubuh ayam serta mengurangi risiko penyakit.

• Kualitas daging dan telur: Daging ayam yang pada pakannya mengandung probiotik cenderung lebih rendah lemak dan lebih tinggi protein, sementara hasil produksi telur memiliki kerabang yang lebih kuat dan kualitas kandungan telur lebih baik.

• Pengurangan limbah dan bau: Feses lebih mudah terurai, mengurangi amonia dan bau, menjadikan lingkungan kandang lebih higienis dan tidak menarik lalat.

• Pengurangan residu antibiotik: Menjadi alternatif alami antibiotik, sehingga produk ayam lebih aman dikonsumsi.

Adapun cara probiotik bekerja sebagai berikut:
• Ekslusif kompetitif/prinsip Gause adalah konsep ekologi yang menyatakan bahwa dua spesies dengan kebutuhan sumber daya (ceruk/niche) yang sama persis tidak dapat hidup berdampingan secara stabil dalam satu habitat. Spesies yang lebih kompetitif akan menyingkirkan atau menyebabkan kepunahan lokal spesies lainnya. Bakteri menguntungkan bersaing dengan bakteri patogen untuk tempat melekat di dinding usus dan nutrisi menghambat pertumbuhan patogen.

• Membantu produksi enzim pencernaan seperti protease, lipase, dan amilase untuk memecah nutrisi.

• Modulasi imun membantu meningkatkan aktivitas sel imun seperti makrofag saat ayam mengalami stres.

Pemberian probiotik bisa dimulai sejak ayam menetas dan sangat bermanfaat saat ayam mengalami stres (vaksinasi, cuaca ekstrem) untuk membantu pemulihan kesehatan usus. Beberapa probiotik yang telah dikenal di antaranya Lactobacillus, Propionibacterium, Bulgaricus, Lactococcus, Streptococcus thermophilus, dan Bifido bacterium.

2. Prebiotik
Merupakan bahan makanan yang tidak dapat dicerna ayam, berfungsi sebagai... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Paktisi perunggasan

KOMBINASI PROBIOTIK, PREBIOTIK, SINBIOTIK, DAN POSBIOTIK AGAR PERFORMA APIK

Beberapa macam bakteri probiotik yang dapat digunakan. (Foto: Shutterstock)

Larangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) di Indonesia sudah hampir 10 tahun lalu diberlakukan, tepatnya sejak 2018. Sejak saat itu seluruh insan yang berkecimpung di dunia peternakan Indonesia berlomba-lomba mencari alternatifnya, di antaranya adalah probiotik, prebiotik, sinbiotik, dan postbiotik.

Mungkin masyarakat sudah sangat familiar dengan minuman ringan berasa asam yang mengklaim sebagai minuman yang mengandung probiotik. Lalu kemudian populer pula minuman sehat yang berasal dari susu yang rasanya juga sedikit asam bernama yoghurt. Seiring berjalannya waktu, produk-produk serupa beredar di pasaran.

Lalu apa itu probiotik? Terminologi probiotik berasal dari bahasa Yunani. Kata “pro” artinya mempromosikan dan “biotik” artinya kehidupan. Probiotik muncul pada awal abad ke-20 silam dan diperkenalkan oleh Elie Metchnikoff, yang kemudian dikenal sebagai sosok “Bapak probiotik”.

Dari situ kemudian muncul asosiasi perkumpulan para ahli probiotik yakni International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics (ISAPP) pada 2013. Mereka kemudian mendefinisikan probiotik sebagai mikroorganisme hidup yang dalam jumlah memadai dapat memberikan manfaat bagi kesehatan pada tubuh pada inangnya. Lalu kemudian orang awam mendefinisikannya sebagai bakteri baik dan jahat.

Sedangkan prebiotik didefinisikan sebagai senyawa natural dalam makanan yang tidak dapat dicerna usus, berfungsi sebagai suplemen untuk mendorong pertumbuhan mikroorganisme menguntungkan dalam sistem pencernaan. Kombinasi dari probiotik dan prebiotik disebut sinbiotik (eubiotik).

Andalan Utama Pengganti AGP
Pelarangan penggunaan AGP dalam pakan ternak memicu para produsen pakan mencari imbuhan pakan alternatif. Probiotik dan prebiotik merupakan satu di antaranya, mengapa? Hal ini dikarenakan probiotik dan prebiotik sudah lama digunakan dalam kehidupan manusia dan terbukti aman. Oleh karena itu, dengan analogi yang sama seharusnya juga dapat digunakan pada ternak.

Peneliti nutrisi pakan ternak dari Balitnak Ciawi, Prof Arnold Sinurat, mengatakan bahwa sejatinya memang AGP perlu digantikan. Hal ini merujuk pada… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. (CR)

MANAJEMEN KESEHATAN UNGGAS BERKEMAJUAN PASCA PELARANGAN AGP

Ayam dan telur bukan sekadar komoditas pangan. Mereka adalah bagian dari sistem kehidupan yang saling berhubungan. (Foto: Gemini)

Telur, Ayam, dan Rasa Syukur yang Terlupakan
Pada seminar Infovet yang digelar dalam ajang ILDEX Indonesia 2025 di ICE BSD, Tangerang Selatan, September kemarin, Saya membuka sesi dengan pertanyaan sederhana kepada para peserta. “Siapa yang pernah makan telur?” Seluruh tangan langsung terangkat. Pertanyaan kedua pun Saya lontarkan, “Siapa yang pernah makan daging ayam?” Lagi-lagi, semua menjawab “pernah”.

Namun ketika ditanya, “Siapa yang pernah bersyukur kepada Allah SWT atas terciptanya telur dan ayam?” Ruang seminar mendadak hening. Tak ada satu tangan pun yang terangkat. Momen hening itulah yang menjadi titik awal refleksi kita semua, betapa sering manusia menikmati hasil unggas, namun lupa bersyukur atas nikmat besar yang dikaruniakan Sang Pencipta.

Ayam dan telur bukan sekadar komoditas pangan. Mereka adalah bagian dari sistem kehidupan yang saling berhubungan, manusia diberi rezeki dari unggas dan manusia pula yang bertanggung jawab atas kesejahteraan mereka. Di sinilah dasar filosofi animal welfare sejati, rasa syukur yang diwujudkan dalam tanggung jawab manusia menjaga kesejahteraan makhluk yang dipeliharanya.

Dari Antibiotik ke Holistik: Perubahan Paradigma Besar
Sejak pemerintah melarang penggunaan antibiotic growth promoter (AGP), sektor perunggasan Indonesia menghadapi tantangan baru. AGP sebelumnya menjadi penopang performa pertumbuhan unggas, menjaga kesehatan usus, dan menekan penyakit.

Namun pelarangan itu bukan akhir segalanya, justru ini momentum untuk bertransformasi menuju manajemen kesehatan unggas yang lebih berkemajuan, berbasis pendekatan holistik.

Pendekatan holistik berarti memandang kesehatan unggas bukan semata dari aspek medis, tetapi dari tiga faktor besar yang saling berinteraksi, yakni perlakuan manusia, perilaku unggas, dan perubahan lingkungan. Ketiganya berperan besar dalam memicu atau mencegah penyakit di peternakan komersial.

Perlakuan Manusia
Manusia memegang peran sentral. Peternak dan operator kandang adalah khalifah fil-ardh, wakil Tuhan di bumi, yang diberi amanah menjaga makhluk hidup lainnya. Maka, revolusi manajemen kesehatan unggas dimulai dari revolusi mindset bahwa setiap tindakan manusia di farm harus mencerminkan rasa syukur dan tanggung jawab terhadap kesejahteraan unggas.

Langkah nyata dimulai dengan standarisasi kemampuan perawatan: Operator layer idealnya mampu mengelola minimal 3.000 ekor dan operator broiler minimal 7.000 ekor dalam sistem open house. Angka yang rasional untuk menyesuaikan beban kerja dengan UMR serta efisiensi kerja.

Kemampuan operator bukan sekadar teknis, tetapi juga mental, berempati terhadap unggas yang mereka rawat. Karena ayam yang diperlakukan dengan baik akan tumbuh optimal, sehat, dan produktif. Maka, kesejahteraan unggas harus diimbangi dengan kesejahteraan operator kandang. Operator yang lelah, tidak cukup istirahat, atau tidak dihargai, sulit memberikan perawatan optimal.

Perilaku Unggas
Unggas modern, baik broiler maupun layer, telah beradaptasi jauh dari perilaku alaminya. Mereka tinggal dalam kandang tertutup dengan ruang gerak terbatas, sirkulasi udara minim, dan aktivitas makan, minum, hingga buang kotoran dilakukan di tempat yang sama.

Akibatnya, udara kandang cepat tercemar amonia, suhu dan kelembapan meningkat, serta kualitas oksigen menurun. Kondisi ini jika dibiarkan menciptakan apa yang disebut zoonotic pools, sumber penularan penyakit yang terus berulang.

Solusinya bukan sekadar disinfektan atau antibiotik, tetapi rehabilitasi lingkungan kandang. Beberapa langkah sederhana namun efektif antara lain mempercepat pelebaran area brooding agar sirkulasi udara lancar; menjaga litter agar tetap kering dan gembur, tidak menggumpal atau jenuh; membuat selokan di sekeliling kandang agar air hujan tidak masuk ke kolong; hingga mengatur ventilasi sehingga udara tetap kaya oksigen dan bebas amonia.

Dengan manajemen mikroklimat yang baik, unggas bisa tumbuh sesuai potensi genetiknya tanpa harus bergantung pada antibiotik.

Perubahan Lingkungan Global
Perubahan iklim ekstrem (climate change) kini menjadi tantangan nyata. Gagal panen di berbagai negara menyebabkan kelangkaan bahan baku pakan, yang berdampak langsung pada penurunan kualitas ransum unggas.

Dampaknya nyata di lapangan pertumbuhan broiler tidak sesuai target, FCR membengkak, DOC layer tidak seragam, daya tahan tubuh menurun, sampai produksi telur tidak stabil.

Solusi rehabilitasi dilakukan melalui upgrade formulasi dan manajemen pakan dengan menambahkan acidifier, toxin binder, prebiotik, probiotik, simbiotik, dan hepatoprotektor dalam bentuk matriks tepung agar tercampur merata, serta meninjau ulang program vaksinasi, memilih vaksin yang tepat, dan menerapkan teknik vaksinasi tanpa stres.

Manajemen Holistik: Integrasi Ilmu dan Empati
Pendekatan holistik dalam manajemen kesehatan unggas bukan hanya konsep ideal. Ini adalah strategi praktis, efektif, dan efisien yang bisa diterapkan di farm komersial. Prinsip utamanya “Perbaiki manusia dan lingkungannya, maka unggas akan sehat dengan sendirinya.”

Holistik berarti memperhatikan semua faktor, yakni manusia, hewan, dan lingkungan, serta menghilangkan pengaruh negatif di antara ketiganya. Hasilnya adalah program mitigasi dan rehabilitasi yang menyentuh akar masalah, bukan sekadar gejala permukaan.

Ciri khas manajemen holistik adalah sebagai berikut: Adaptif terhadap kemampuan operator kandang. Praktis dan mudah diterapkan. Efektif mengurai sumber penyakit. Efisien karena menjadi bagian dari rutinitas kerja harian, bukan tambahan beban.

Menuju Produksi ASUH dalam Konstelasi One Health
Tujuan akhir dari semua penerapan manajemen holistik ini adalah terwujudnya produksi telur dan daging unggas yang ASUH (aman, sehat, utuh, halal). Kesehatan unggas tidak bisa dipisahkan dari kesehatan manusia dan lingkungan. Inilah esensi konsep One Health, sinergi antara manusia, hewan, dan ekosistem untuk menciptakan keberlanjutan pangan yang sehat.

Dengan revolusi mindset, disiplin manajemen, dan empati terhadap makhluk hidup lain, sektor perunggasan Indonesia bukan hanya bertahan pasca pelarangan AGP, tetapi juga bertransformasi menjadi lebih modern, beradab, dan berkemajuan.

Manajemen kesehatan unggas yang berkemajuan bukanlah soal seberapa canggih teknologi kandang atau mahalnya suplemen pakan, tetapi seberapa dalam rasa syukur dan tanggung jawab kita terhadap kehidupan. Dengan empati, ilmu, dan keteladanan, manusia dapat menjadi penentu kesejahteraan unggas, yang pada akhirnya ikut menyejahterakan manusia itu sendiri. ***

Strategi Holistik Mitigasi dan Rehabilitasi

Faktor

Masalah Umum

Strategi Mitigasi dan Rehabilitasi

Perlakuan Manusia

Kurangnya empati dan standar kerja operator kandang

Revolusi mindset, pelatihan empati, standarisasi perawatan, dan peningkatan kesejahteraan operator.

Perilaku Unggas

Kepadatan tinggi, kualitas udara buruk, litter basah

Pelebaran brooding, ventilasi baik, pengaturan litter kering, dan sanitasi rutin.

Perubahan Lingkungan

Perubahan iklim, kelangkaan bahan baku pakan, stres panas

Formulasi pakan dengan acidifier, toxin binder, probiotik, dan upgrade program vaksinasi tanpa stres.


Ditulis oleh:
Drh H. Baskoro Tri Caroko
The 1st Winner Veterinary Poultry Technical Consultant - Inpova Award 2019
Koordinator ADHPI Wilayah Jabodetabek & Banten

SEMINAR INFOVET-ILDEX: BAHAS MANAJEMEN HOLISTIK PASCA PELARANGAN AGP

Foto bersama usai seminar. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Majalah Infovet kembali menjadi saksi pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan industri perunggasan nasional. Pada Rabu (17/9/2025), berlangsung Seminar Nasional bertajuk “Perkembangan Obat Hewan Pasca Pelarangan AGP” di Ruang Garuda 5A, ICE BSD. Acara ini dihadiri peternak, perusahaan obat hewan, breeding farm, perusahaan pakan, serta perwakilan berbagai asosiasi peternakan.

Seminar menghadirkan dua narasumber kompeten di bidangnya. Drh Rakhmat Nuriyanto MBA (Ketua Umum ASOHI periode 2010-2015), membahas perubahan signifikan di industri obat hewan sejak pelarangan antibiotic growth promoter (AGP) efektif diberlakukan pada 2018.

“Pasca pelarangan AGP, jenis obat alami dan suplemen penunjang kesehatan hewan cenderung meningkat. Industri beradaptasi dengan inovasi berbasis bahan alami dan teknologi biologis,” ujar Rakhmat.

Sementara itu, Drh Baskoro Tri Caroko (National Poultry Technical Consultant), memaparkan materi bertema “Manajemen Holistik: Solusi Efektif untuk Mitigasi dan Rehabilitasi Broiler & Layer.” Ia menekankan bahwa pelarangan AGP bukan akhir dari produktivitas peternakan, melainkan momentum untuk bertransformasi.

Dua narasumber, Rakhmat Nuriyanto (kiri) dan Baskoro Tri Caroko (kanan).

“Kuncinya ada di manajemen holistik. Pendekatan ini mencakup aspek pakan, lingkungan, kesehatan, hingga mental pekerja kandang. Ini sudah terbukti berhasil di lapangan,” ungkapnya.

Beberapa peternak binaan Baskoro dari Pandeglang, Banten, turut hadir dan berbagi pengalaman keberhasilan menerapkan konsep manajemen holistik dalam menghadapi tantangan pasca AGP. Antusiasme peserta juga tampak tinggi, terutama ketika sesi tanya jawab dibuka dan banyak peternak ingin mengetahui cara praktis penerapan di lapangan.

Menutup paparannya, Baskoro menyampaikan ajakan terbuka, “Saya siap membantu peternak yang ingin memahami dan mempraktikkan manajemen holistik. Silakan hubungi Infovet untuk informasi lebih lanjut.”

Suasana seminar Infovet di ILDEX Indonesia 2025.

Seminar ini menjadi bukti bahwa sinergi antara praktisi, akademisi, dan pelaku industri menjadi kunci dalam menciptakan sistem peternakan yang sehat, produktif, dan berkelanjutan pasca pelarangan AGP. (INF)

SEGERA DAFTAR & HADIRI SEMINAR NASIONAL INFOVET DI ILDEX 2025


Hadiri Seminar Nasional "Perkembangan Obat Hewan Pasca Pelarangan AGP" yang akan diselenggarakan pada:


Hari/Tanggal: Rabu, 17 September 2025
Waktu: 15:00-16:45 WIB
Tempat: Ruang Garuda 5A, ICE BSD
GRATIS - kapasitas terbatas hanya untuk 50 peserta


Kegiatan akan diisi oleh narasumber yang kompeten di bidangnya:
• Drh. Rakhmat Nuriyanto, MBA (Ketua Umum ASOHI 2010-2015)
“Perkembangan Obat Hewan di Indonesia Pasca Pelarangan AGP”

• Drh. Baskoro Tri Caroko (National Poultry Technical Consultant)
“Manajemen Holistik: Solusi Efektif untuk Mitigasi dan Rehabilitasi Broiler & Layer”


Informasi lebih lanjut bisa menghubungi:
Panitia: 0877-7829-6375 (Mariyam)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer