-->

FLUOROQUINOLONES EXIT, INDUSTRI OBAT HEWAN DIMINTA SIAP BERTRANSFORMASI

Kiri: Hendra Wibawa dan Sugiyono (Foto: Dok. Infovet)

Kebijakan penghentian penggunaan fluoroquinolone tertentu pada hewan produksi (Fluoroquinolones Exit) menjadi sorotan utama. Dibuka Sambutan Ketum ASOHI, Drh A. Harris Priyadi, Program Temu Anggota ASOHI (PROTAS) 2026 digelar pada Rabu (3/6/2026), di Avenzel Hotel and Convention, Cibubur.

Dalam forum yang menjadi ajang silaturahmi sekaligus pelayanan organisasi kepada anggota tersebut, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan sekadar pembatasan antibiotik, tetapi langkah strategis menjaga keberlanjutan industri peternakan nasional di tengah ancaman resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR).

Direktur Kesehatan Hewan, Drh Hendra Wibawa MSi PhD, dalam paparannya bertajuk “Kebijakan Fluorouinolones Exit pada Hewan Produksi" menjelaskan bahwa fluoroquinolone menjadi perhatian global karena tergolong antimikroba kritis yang sangat penting bagi kesehatan manusia dan banyak digunakan untuk pengobatan infeksi serius. Peningkatan resistansi yang terus terjadi di berbagai negara membuat penggunaannya pada hewan produksi kini menjadi perhatian serius organisasi dunia seperti WHO, FAO, WOAH, hingga Codex Alimentarius.

Menurut Hendra, resistensi antimikroba kini bukan lagi isu masa depan, melainkan tantangan nyata yang sedang dihadapi dunia, termasuk Indonesia. Dampaknya tidak hanya menyangkut kesehatan manusia dan hewan, tetapi juga keamanan pangan serta daya saing perdagangan internasional. Ia mengingatkan bahwa semakin tinggi penggunaan antibiotik tertentu, semakin besar pula risiko hilangnya efektivitas antibiotik tersebut di masa mendatang. Resistensi bahkan berpotensi memicu Multi Drug Resistance (MDR), ketika pengobatan menjadi semakin sulit dilakukan.

“Kita harus menjaga efektivitas antibiotik yang masih dibutuhkan untuk menyelamatkan kehidupan manusia,” tegas Hendra dalam presentasinya.

Ia menjelaskan bahwa kebijakan global telah bergerak ke arah pengendalian penggunaan fluoroquinolone di sektor peternakan. WHO menempatkannya sebagai Critically Important Antimicrobials, sementara WOAH mendorong penggunaan antibiotik secara bijak (prudent use). Di sisi lain, Codex Alimentarius dan FAO juga telah memasukkan isu resistensi antimikroba sebagai bagian penting dalam tata kelola keamanan pangan dunia.

Sebagai tindak lanjut, Indonesia mengambil langkah melalui pendekatan One Health, yakni integrasi kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan. Komitmen ini diperkuat melalui Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistansi Antimikroba (RAN-AMR), penguatan keamanan pangan, serta peningkatan daya saing ekspor produk peternakan.

Dalam kesempatan tersebut, Hendra memaparkan bahwa pemerintah telah menerbitkan Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No. 63/2026 yang mengatur penghentian penggunaan fluoroquinolone tertentu pada hewan produksi. Namun demikian, ia menekankan bahwa kebijakan ini tidak boleh dipahami sebagai sekadar pelarangan antibiotik.

“Filosofi exit policy adalah transformasi penggunaan antibiotik menuju sistem kesehatan hewan yang lebih preventif dan bertanggung jawab,” jelasnya. Prinsip yang diusung adalah prevention is better than treatment, dengan penguatan biosekuriti, vaksinasi, manajemen kesehatan ternak, serta penguatan stewardship antibiotik sebagai fondasi utama.

Pemerintah, lanjutnya, akan melakukan berbagai langkah implementasi, mulai dari sosialisasi nasional, penyusunan pedoman teknis, pengawasan distribusi dan penggunaan, hingga surveilans resistensi antimikroba serta monitoring residu. Langkah tersebut diharapkan mampu memastikan transisi berjalan tanpa mengganggu produktivitas peternakan nasional.

Dalam diskusi yang dipandu Wakil Kabid Organisasi Drh Sugiyono, Hendra juga menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Industri obat hewan didorong mengembangkan alternatif seperti produk biologik, probiotik, dan fitobiotik. Dokter hewan diminta memperkuat diagnosis yang tepat serta penggunaan antibiotik secara bijak, sementara peternak perlu meningkatkan biosekuriti, vaksinasi, manajemen kandang, dan praktik budi daya yang baik (Good Farming Practices).

Meski demikian, pemerintah mengakui terdapat sejumlah tantangan dalam implementasi kebijakan ini, mulai dari perubahan perilaku penggunaan antibiotik, ketersediaan alternatif, kepatuhan di lapangan, hingga pengawasan distribusi. Untuk itu, pemerintah akan memperkuat edukasi, pendampingan teknis, kapasitas laboratorium, dan surveilans sebagai bentuk antisipasi.

Selain materi utama mengenai Fluoroquinolones Exit, PROTAS ASOHI 2026 juga menghadirkan sejumlah topik strategis lain, di antaranya pembahasan pencabutan Surat Keputusan registrasi obat hewan, implementasi Surat Izin Praktik Terintegrasi (SIPT), serta penyesuaian terhadap implementasi KBLI baru bagi pelaku usaha obat hewan. Ragam isu tersebut memperlihatkan bahwa industri kesehatan hewan tengah memasuki fase adaptasi regulasi yang semakin dinamis.

PROTAS sendiri merupakan agenda tahunan ASOHI yang dirancang sebagai wadah pertemuan anggota sekaligus sarana memperkuat komunikasi antara pelaku industri dengan regulator. Tahun ini, forum tersebut terasa semakin penting karena industri obat hewan dituntut tidak hanya adaptif terhadap perubahan regulasi, tetapi juga mampu merespons tuntutan global terkait keamanan pangan dan resistensi antimikroba.

Menutup paparannya, Hendra mengingatkan bahwa kebijakan Fluoroquinolones Exit harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan ancaman bagi industri. “Antibiotik yang kita jaga hari ini adalah harapan terapi yang kita wariskan untuk generasi mendatang,” ujarnya. (DS)

AUDIENSI ASOHI DENGAN MENTERI PPN

Foto bersama usai audiensi ASOHI bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Jakarta, Selasa (5/5/2026). Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) melakukan audiensi strategis dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Prof Rachmat Pambudy. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi antara pelaku industri obat hewan dengan pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan dan kesehatan hewan nasional.

Dalam pertemuan tersebut, delegasi ASOHI dipimpin langsung oleh jajaran pengurus inti, di antaranya Ketua Umum Akhmad Harris Priyadi, Sekretaris Jenderal Rivo Ayudi Kurnia, Ketua Dewan Pakar Prof Budi Tangendjaja, Ketua Badan Pengawas ASOHI (BPA) Gowinda Sibit, bersama anggota Rakhmat Nuriyanto, serta Sekretaris BPA Bambang Suharno sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Infovet.

Kepada Menteri PPN, ASOHI turut melaporkan gambaran usaha bisnis obat hewan hingga nilai ekspor yang mencapai triliunan rupiah dalam setahun. Harris juga memperkenalkan struktur kepengurusan baru hasil Munas, serta memaparkan kontribusi nyata asosiasi terhadap sektor peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia. Fokus utama yang disampaikan meliputi peningkatan volume ekspor dan upaya asosiasi dalam menjaga standar kualitas obat hewan di pasar domestik maupun internasional.

Diskusi juga berkembang pada isu-isu krusial seperti implementasi One Health. ASOHI juga menegaskan komitmennya terhadap penanganan antimicrobial resistance (AMR) atau resistansi antimikroba yang terus menjadi perhatian utama dalam industri kesehatan hewan global.

Selain itu, ASOHI juga meminta arahan dari menteri mengenai langkah strategis agar industri obat hewan dapat lebih berperan aktif dalam pembangunan nasional di masa mendatang.

Suasana audiensi.

Adapun Menteri Prof Rachmat Pambudy didampingi oleh Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Jarot Indarto, Perencana Ahli Utama Anang Nugroho, Tim Ahli Suaedi Sunanto, serta jajaran pejabat lainnya.

Prof Rachmat pun menekankan beberapa poin penting bagi ASOHI, di antaranya terkait peningkatan daya saing. Menekankan pentingnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di industri peternakan Indonesia. Kemudian mendorong peningkatan performa ekspor obat hewan. Hingga kontribusi pembangunan dengan mengharapkan peran aktif asosiasi dalam mendukung kebijakan pangan nasional.

Pertemuan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi yang telah lama terjalin. Hubungan antara Prof Rachmat Pambudy dengan media industri peternakan, khususnya Infovet, sudah terbangun sejak lama melalui berbagai kolaborasi, antara lain penerbitan buku “70 Tahun Agribisnis Ayam Ras di Indonesia”, buku “40 Tahun ISPI (Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia)”, serta keterlibatan beliau sebagai narasumber ahli bagi Infovet.

Pemred Infovet Bambang (paling kiri) saat memberikan Majalah Infovet dan Info Akuakultur kepada Menteri PPN Prof Rachmat Pambudy (tiga kanan).

Melalui audiensi ini, diharapkan tercipta keselarasan kebijakan antara pemerintah dan pelaku usaha demi kemajuan industri peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia. (INF)

KOLABORASI SEMINAR AKSELERASI SISKA GUNA PERKUAT KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Foto bersama dalam seminar percepatan SISKA yang digelar di BRIN Cibinong. (Foto-foto: Infovet/Ridwan)

Dalam upaya memperkuat kemandirian pangan, khususnya di sektor persapian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT WAKENI menyelenggarakan seminar bertajuk "Percepatan SISKA (Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit) untuk Ketahanan Pangan Nasional", yang berlangsung pada Selasa (14/4/2026), di Gedung Kelas Baru (Edelweis), Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BRIN Cibinong.

Kegiatan strategis ini mendapat dukungan penuh dari Gabungan Pelaku dan Pemerhati Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit (GAPENSISKA), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), serta Majalah Infovet sebagai mitra media. Seminar ini juga merupakan bagian dari rencana penyelenggaraan pameran Agrimat dan Agrilivestock 2026.

Dalam sambutannya, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Susanto, menegaskan bahwa seminar ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan langkah nyata implementasi SISKA di tingkat nasional.

"BRIN berkomitmen untuk tidak hanya fokus pada penelitian saja. Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci. SISKA merupakan salah satu strategi utama yang harus diimplementasikan secara cepat demi pembangunan peternakan nasional," ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, saat membuka acara secara resmi menyampaikan bahwa tema integrasi ini sangat relevan dengan program nasional yang telah lama berjalan dan terus ditingkatkan.

"Program SISKA ini tidak hanya berdampak bagi petani atau peternak saja, tetapi juga peningkatan ekonomi masyarakat luas melalui simbiosis mutualisme yang mendukung keberlanjutan usaha pertanian dan peternakan. Kami sangat mendukung penuh komitmen tersebut," ujarnya.

Sesi seminar. Dari kiri: Windu Negara (moderator), Prof Budi Tangendjaja, Bess Tiesnamurti, Tri Melasari, dan Jarot Indarto.

Dalam sesi seminar yang dimoderatori oleh Windu Negara, salah satu perekayasa BRIN, menghadirkan beberapa narasumber yang ahli di bidangnya. Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot Indarto, menekankan pentingnya kolaborasi dan pengembangan skema bagi peternak skala kecil agar program SISKA memiliki signifikansi nyata.

Sementara dari sisi regulasi dan populasi, Direktur Pakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Tri Melasari, memaparkan strategi percepatan populasi sapi nasional melalui integrasi sapi di lahan sawit. Di sisi lain, Direktur PT SISKA Ranch, Wahyu Darsono, yang hadir secara daring, mengusulkan model ko-investasi Business to Business (B2B) serta transformasi kebijakan FPKMS-NOP (Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar) sebagai pilar pendukung ketahanan pangan.

Adapun Peneliti Ahli Utama Kelompok Riset Sistem Integrasi Ternak Berbasis Lahan BRIN, Bess Tiesnamurti, menggarisbawahi peran krusial riset dan inovasi teknologi dalam mempercepat implementasi program SISKA.

Menutup sesi pemaparan, Ketua Dewan Pakar ASOHI sekaligus konsultan pakan, Prof Budi Tangendjaja, memberikan catatan teknis mendalam mengenai kebutuhan nutrisi ternak dalam program sapi kelapa sawit. Menurutnya, keberhasilan SISKA sangat bergantung pada ketersediaan hijauan dan manajemen lahan.

Ia juga menilai bahwa produksi sapi tidak akan maksimal jika hanya mengandalkan limbah sawit dan rumput di sekitar lahan. Diperlukan nutrisi presisi dengan keseimbangan gizi yang baik, sehingga membutuhkan bahan tambahan dari luar seperti onggok, premiks mineral, dan vitamin agar kebutuhan ransum harian terpenuhi secara seimbang.

"Intinya harus bisa membuat ransum sapi ini dengan seimbang, tidak bisa hanya mengandalkan apa yang ada di lahan sawit saja (limbah sawit dan rumput). Oleh karena itu, harus kita gali lebih dalam lagi kebutuhan ransum pakan untuk sapi di lahan sawit ini," tukasnya.

Namun demikian, diharapkan melalui seminar ini terjadi sinkronisasi antara pemerintah, peneliti, dan pelaku usaha dalam mewujudkan akselerasi integrasi sapi-sawit yang berkelanjutan di Indonesia. (RBS)

MANFAATKAN MOMEN RAMADAN, ASOHI GELAR BAKTI SOSIAL DAN PEMBERIAN SANTUNAN

Foto bersama dalam kegiatan bakti sosial dan santunan yang dilaksanakan ASOHI. (Foto-foto: Dok. ASOHI)

Mengisi momentum kemuliaan bulan suci Ramadan, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) menyelenggarakan aksi kemanusiaan berupa bakti sosial dan pemberian santunan. Acara tersebut dilaksanakan di Panti Asuhan Mizan Amanah, Jagakarsa, Jumat (6/3/2026).

Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian sosial organisasi terhadap sesama, khususnya anak-anak yatim dan dhuafa, guna mempererat tali silaturahmi serta berbagi kebahagiaan di bulan yang penuh keberkahan.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum ASOHI, Drh Akhmad Harris Priyadi, menyampaikan rasa syukurnya atas terlaksananya kegiatan ini. Menurutnya, Ramadan menjadi waktu yang paling tepat untuk memperbanyak amal kebajikan dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

"Alhamdulillah, di bulan yang mulia ini kita dapat mengadakan kegiatan bakti sosial ASOHI untuk memberikan santunan kepada anak-anak di Panti Asuhan Mizan Amanah Jagakarsa," ujar Harris di sela-sela acara.

Pemberian bingkisan dari Ketua Umum ASOHI Akhmad Harris Priyadi (kanan) kepada Ustaz Saiful Baihaki (kiri).

Kehadiran pengurus ASOHI disambut hangat oleh keluarga besar Panti Asuhan Mizan Amanah. Ustaz Saiful Baihaki, selaku pengurus panti cabang Jagakarsa, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam atas konsistensi ASOHI dalam menjalankan program sosial tersebut.

"Kami dari Panti Asuhan Mizan Amanah, khususnya cabang Jagakarsa, menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ASOHI yang rutin berbagi di bulan yang penuh keberkahan ini," ucapnya.

Anak-anak yatim dan dhuafa pun turut menyampaikan doa dan terima kasihnya atas santunan yang diberikan, "Semoga Allah membalas kebaikan yang telah diberikan oleh ASOHI beserta keluarganya dan selalu dipanjangkan umurnya."

Melalui kegiatan rutin ini, ASOHI berharap dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menginspirasi pihak lain untuk turut serta dalam menebar kebaikan, khususnya selama bulan Ramadan. (RBS)

ASOHI KEMBALI GELAR PELATIHAN PJTOH, KINI MASUK ANGKATAN KE-28

Ketua Umum ASOHI, Akhmad Harris Priyadi, saat memberikan sambutannya. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan profesionalisme tenaga teknis di industri obat hewan melalui penyelenggaraan Pelatihan Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PJTOH) Angkatan XXVIII.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 10-12 Februari 2026, bertempat di Hotel Luminor dan Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) Gunung Sindur, Bogor, serta melalui daring.

Hari pertama pelatihan, Selasa (10/2/2026), dibuka dengan pendalaman regulasi dan tata cara perizinan obat hewan, dengan serangkaian sambutan dari Ketua Panitia PPJTOH Rezki Eko Nugroho, Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi, serta pembukaan resmi melalui daring oleh Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan) Kementerian Pertanian Drh Hendra Wibawa MSi PhD.

Sambutan melalui daring oleh Dirkeswan, Hendra Wibawa.

Para peserta juga mendapat pembekalan materi mengenai aspek legalitas dan tugas pokok PJTOH, antara lain penjelasan mengenai peraturan obat hewan, pengenalan klasifikasi, serta pengawasan dan peresepan obat hewan yang disampaikan oleh Ketua Koordinator Substansi Pengawas Obat Hewan, Drh Arief Wicaksono MSi.

Kemudian diskusi mengenai peran dokter hewan dalam industri obat hewan oleh perwakilan PDHI, Drh Mirjawal MM, dan sosialisasi mengenai alur registrasi obat hewan, tata cara ekspor-impor, serta pembaruan sistem perizinan melalui OSS RBA dan update KBLI 2025 yang dipaparkan oleh tim POH dan tim dari Kementerian Investasi/BKPM.

Sementara pada hari kedua, yang akan dilaksanakan pada Rabu (11/2/2026), peserta dibekali materi yang lebih teknis terkait standar operasional di lapangan, meliputi prosedur CPOHB dan manajemen apotek veteriner, penjelasan mengenai peraturan terkait pakan (CPPB & NPP) dan peran apoteker dalam industri obat hewan, pengenalan struktur organisasi serta penegasan Kode Etik ASOHI bagi seluruh anggota, hingga soal manajemen cold chain yang sangat krusial dalam menjaga kualitas obat hewan.

Sedangkan pada Kamis (12/2/2026), kunjungan lapangan ke BBPMSOH Gunung Sindur menjadi puncak acara rangkaian Pelatihan PJTOH Angkatan XXVIII. Peserta dibagi menjadi dua kloter untuk melihat langsung proses di laboratorium BBPMSOH. Kunjungan ini bertujuan memberikan gambaran riil mengenai proses pengujian mutu obat hewan di Indonesia sebelum rangkaian acara resmi ditutup.

Melalui pelatihan ini, ASOHI berharap para penanggung jawab teknis dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan lebih optimal, memastikan distribusi dan penggunaan obat hewan di Indonesia tetap memenuhi standar keamanan dan kualitas yang ditetapkan pemerintah. (RBS)

ANNUAL MEETING GALLUS: INOVASI DAN ADAPTASI KUNCI DI ERA PERUBAHAN

Foto bersama Annual Meeting 2026 Gallus. (foto-foto: Infovet/Ridwan)

Kamis (29/1/2026), PT Gallus Indonesia Utama (Gallus) resmi melaksanakan kegiatan tahunan Annual Meeting dengan tema “Inovasi dan Adaptasi: Kunci Sukses Gallus di Era Perubahan”.

Kegiatan dihadiri oleh Jajaran Direksi Gallus Bambang Suharno dan Rakhmat Nuriyanto, bersama Komisaris Gallus Gani Haryanto, dan Ketua Umum (Ketum) Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Akhmad Harris Priyadi, serta seluruh manager divisi dan staf Gallus.

Setelah melihat paparan kinerja perusahaan tahun kemarin, Gani turut memberikan apresiasi kepada Gallus yang telah sukses menerapkan inovasi dan adaptasi terhadap perubahan bisnis media maupun peternakan dan perikanan, di tengah gejolak industri dalam negeri dan global.

“Pencapaian Gallus tahun kemarin sudah sangat baik, mampu bertahan dan berkembang dengan perubahan yang cepat. Semoga ke depan kita bisa bekerja lebih inovatif dan adaptif lagi di tahun ini,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketum ASOHI, Akhmad Harris Priyadi, turut menyampaikan beberapa pandangan terkait tantangan dan situasi bisnis obat hewan, serta visi-misi ASOHI.

Dengan visi mewujudkan ASOHI yang lebih inovatif, fasilitatif, dan lebih kuat dengan seluruh pemangku kepentingan untuk kemajuan industri peternakan dan kesehatan hewan Indonesia.

Serta dengan membawa misi (Catur Krida) bersama ASOHI mendorong keterbukaan, edukasi, sosialisasi, teknologi informasi, serta bersinergi dan berkolaborasi, menguatkan profesionalitas, ketaatan, skill, kemandirian, hingga ASOHI yang proaktif meningkatkan industri, akselarasi, serta kontribusi peternakan dan kesehatan hewan.

Harris pun berharap Gallus dapat memberikan dukungan yang terbaik untuk menyukseskan visi-misi dan kegiatan-kegiatan ASOHI ke depannya.

Penandatanganan budgeting 2026 disaksikan langsung oleh Komisaris Gallus dan Ketum ASOHI.

Usai pemaparan dan arahan, kegiatan berlanjut dengan penandatanganan budgeting 2026 yang disaksikan langsung oleh Komisaris Gallus dan Ketum ASOHI. Annual Meeting kemudian ditutup dengan makan bersama dan pelatihan bagi karyawan. (RBS)

ASOHI SUMUT SELENGGARAKAN SEMINAR REGULASI OBAT HEWAN & OUTLOOK PETERNAKAN

Seminar Outlook Peternakan 2026 ASOHI Sumut. (Foto-foto: Dok. ASOHI Sumut)

Bertempat di Hotel Grand Mercure-Medan, Selasa (6/1/2026), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Daerah Sumatra Utara (Sumut) menyelenggarakan kegiatan seminar mengenai Update Regulasi Obat Hewan dan Outlook Peternakan 2026.

Seminar outlook peternakan merupakan yang pertama kalinya digelar ASOHI Sumut di bawah kepengurusan baru, Ir Taviv Ritonga, dengan dukungan ASOHI Pusat. Seminar dihadiri oleh Drh Tesra mewakili Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan tingkat I; Drh Christina Sianturi mewakili Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan tingkat II; Kepala Bvet Medan Drh Arif Hukmi; Ketua PDHI Sumut; anggota ASOHI Sumut; peternak; pabrik pakan; asosiasi perunggasan; dan beberapa peserta yang hadir dari Pekanbaru.

Pada kesempatan tersebut, ASOHI Sumut menghadirkan tiga pembicara utama di antaranya Drh Arief Wicaksono MSi (Ketua Kelompok Substansi Pengawas Obat Hewan Kementan), Drh Bambang Sutrasno (Regional Head Sumatra PT CPI), dan Drh Akhmad Harris Priyadi (Ketua Umum ASOHI).

Seminar antara lain memaparkan dan membahas topik-topik terkait adanya aturan-aturan baru izin berusaha obat hewan, perubahan kebijakan penunjukan PT Berdikari BUMN sebagai pengimpor jagung-SBM untuk pakan ternak, dinamika sektor kesehatan hewan dengan munculnya kebutuhan segera akan apotek veteriner di setiap provinsi, serta peluang usaha penyediaan obat hewan kesayangan, obat hewan kuda, dan obat hewan satwa liar, hingga imbas penerapan Permenkes No. 14/2021 kepada para kolega dokter hewan.

Terlebih lagi pasca kejadian bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumatra Barat, tentunya bagi pelaku industri obat hewan dan peternakan perlu mengetahui bagaimana tren dinamika bisnis di 2026 ini. Secara nasional, Sumut sendiri berkontribusi 20-25% dari produksi hasil unggas (daging dan telur). Dampak yang segera dirasakan bagi peternakan Sumut di antaranya adalah terkomprominya suplai jagung, mengingat Aceh juga sebagai salah satu penyedia jagung bagi daerah sekitarnya, terutama Sumut. Di sisi lain, terputusnya sarana logistik seperti jalan-jalan utama yang masih tertimbun lumpur, jembatan penghubung yang terputus sangat berdampak pada pengiriman rutin hasil produksi unggas dari Sumut ke Aceh.

Selain itu, terkait program MBG dan rencana pemerintah di 2026 juga dibahas dalam seminar ini, khususnya dampaknya bagi peluang pertumbuhan demand daging maupun telur ayam yang sudah dipastikan porsinya dalam menu MBG. Kemudian persoalan menarik lainnya yakni seputar AMR, juga menjadi momen edukasi bagi pelaku usaha kesehatan hewan (ternak & non-ternak).

Bantuan kemanusiaan oleh ASOHI Sumut.

Selain menggelar seminar, sebelumnya ASOHI Sumut juga melaksanakan kegiatan Bantuan Kemanusiaan Bencana Alam Sumatra Utara dan Aceh pada Jumat (2/1/2026). Dalam kegiatan tersebut ASOHI Sumut membagikan makanan, perlengkapan kesehatan, dan perlengkapan lain seperti kain dan sarung kepada para korban bencana banjir dan longsor di Desa Tanjung Jati, Kecamatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. (INF)

DAFTARKAN SEGERA DALAM PELATIHAN PJTOH ANGKATAN XXVIII


Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) akan kembali menyelenggarakan Pelatihan PJTOH Angkatan XXVIII dengan topik menarik, termasuk peraturan terbaru terkait perizinan dan KBLI 2025.
- PP No. 28/2025
- Permentan No. 34/2025
- Peraturan BPS No. 7/2025

Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi dokter hewan, dokter hewan praktisi, apoteker, akademisi kedokteran hewan & farmasi, regulatory officer, production manager obat hewan, dan lain sebagainya.

Dengan menghadirkan narasumber di antaranya dari Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Pakan, BBPMSOH, Tim CPOHB, BKPM, ASOHI, PDHI, dan IAI.

Diselenggarakan pada:
Tanggal: 10-12 Februari 2026
Tempat: Luminor Hotel Bogor & BBPMSOH
Waktu: 07:30-17:00 WIB

Link pendaftaran: https://bit.ly/PPJTOH_28

Investasi:
- Rp 3.000.000 (ANGGOTA ASOHI)
- Rp 3.500.000 (NON ANGGOTA ASOHI)

Info rek a.n ASOHI Bank Mandiri Cab. Pasar Minggu Pejaten 126.009.8041.451
Bukti transfer kirim ke email: asohipusat@gmail.com

CP: Aida (0818-0659-7525)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer