-->

UNGGAS TETAP SEPOPULER SEBELUMNYA DI MEKSIKO

Dengan pengeluaran rumah tangga Meksiko sekitar US$ 1,4 miliar untuk unggas pada tahun 2020, daging ayam, telur, dan produk telur tetap menjadi protein hewani yang paling populer dan terjangkau.

Sektor unggas Meksiko memproduksi berbagai jenis ayam pedaging untuk produksi daging, termasuk ayam pedaging kecil untuk restoran rotisserie, ayam untuk diproses menjadi daging olahan atau produk siap masak, dan ayam utuh. Siklus produksi untuk setiap jenis bervariasi antara 8 sampai 12 minggu tergantung pada berat pasar.

Produksi ayam diproyeksikan meningkat menjadi 875.000 mt pada tahun 2022, naik 1,7% dari tahun 2021, karena meningkatnya permintaan domestik. Diperkirakan konsumsi ayam akan mencapai 4.767 mmt pada tahun 2022, naik sekitar 2% dari tahun 2021. Meskipun rata-rata konsumen Meksiko mengkonsumsi lebih sedikit protein hewani, di antara konsumen berpenghasilan tinggi dan menengah, termasuk wisatawan, permintaan konsumen secara keseluruhan untuk ayam tumbuh, dan tetap menjadi daging yang paling banyak dikonsumsi di Meksiko, mewakili hampir 60% dari total konsumsi daging. (via Poultryworld.net)

HARI PANGAN SEDUNIA 2021: AKSI BERSAMA MENDESAK UNTUK SISTEM PERTANIAN-PANGAN YANG LEBIH BAIK DI INDONESIA

Memperingati Hari Pangan Sedunia

Hari Pangan Sedunia (#WorldFoodDay) diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Untuk kedua kalinya Hari Pangan Sedunia diperingati saat pandemi COVID-19. Pandemi telah memicu resesi ekonomi yang hebat, menghambat akses pangan, dan mempengaruhi seluruh sistem pertanian - pangan. Namun bahkan sebelum pandemi, kelaparan terus berlangsung; Gizi buruk dan jumlah orang kelaparan meningkat di seluruh dunia.

Situasi ini mendorong Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada Hari Pangan Sedunia tahun ini mengangkat tema: Tindakan kita, masa depan kita, untuk produksi, gizi, lingkungan dan kehidupan yang lebih baik (four betters). Tema ini menyoroti pentingnya sistem pertanian-pangan berkelanjutan untuk membangun dunia yang lebih tangguh dalam menghadapi masa depan.


Dunia mengalami kemunduran besar dalam perang melawan kelaparan. Saat ini, lebih dari tiga miliar orang (hampir 40% populasi dunia) tidak mempunyai akses terhadap makanan sehat. Sebanyak 811 juta orang kekurangan gizi di dunia dan sebaliknya, 2 miliar orang dewasa kelebihan berat badan atau obesitas karena pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat.


Di Indonesia, jumlah orang dewasa yang obesitas meningkat dua kali lipat selama dua dekade terakhir. Seiring dengan itu, obesitas pada anak juga meningkat. Di sisi lain, 27,67% anak di Indonesia di bawah usia 5 tahun mengalami stunting, atau terlalu pendek untuk usia mereka. Angka stunting ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan angka rata-rata di kawasan Asia. 


Statistik yang kontras ini menunjukkan sistem pertanian pangan saat ini tidak setara dan tidak adil. Sistem yang mencakup perjalanan makanan dari lahan pertanian ke meja makan – termasuk saat ditanam, dipanen, diproses, dikemas, diangkut, didistribusikan, diperdagangkan, dibeli, disiapkan, dimakan, dan dibuang – mendesak untuk berubah menjadi sistem yang lebih berkelanjutan.


“Hidup kita bergantung pada sistem pertanian pangan. Setiap kali kita makan, kita berpartisipasi dalam sistem. Makanan yang kita pilih dan cara kita memproduksi, menyiapkan, memasak, dan menyimpannya menjadikan kita bagian yang tak terlepas dari sistem pertanian pangan", kata Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia.


Sistem pertanian pangan berkelanjutan adalah sebuah sistem di mana berbagai makanan yang  bergizi, seimbang, dan aman tersedia dengan harga yang terjangkau untuk semua orang.  Pada situasi itu tidak ada yang kelaparan atau menderita kekurangan gizi atau obesitas dalam bentuk apa pun.


Sistem yang berkelanjutan di semua sektor pangan


Sistem pertanian pangan mempekerjakan 1 miliar orang di seluruh dunia, lebih banyak dari sektor ekonomi lainnya. Namun sayangnya, cara kita memproduksi, mengonsumsi, dan membuang makanan  mengorbankan banyak hal dalam planet kita. Sistem produksi pangan yang tidak berkelanjutan  menghancurkan habitat alami dan berkontribusi pada kepunahan spesies.


FAO telah bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dan berkontribusi untuk memastikan pembangunan pertanian pangan berkelanjutan di Indonesia. Sejak 2019, FAO bekerja sama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) untuk menganalisis sistem pertanian pangan nasional dan memberikan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan kapasitas sistem pertanian pangan nasional yang berkelanjutan. 


Dukungan terhadap berdirinya Badan Pangan Nasional yang mengoordinasikan masalah terkait sistem pertanian pangan serta peningkatan kapasitas terkait perencanaan sistem pertanian pangan merupakan bagian dari dukungan FAO kepada BAPPENAS.


Pada sektor peternakan dan kesehatan hewan, FAO telah bekerja sama dengan Kementerian Pertanian (Kementan) sejak tahun 2006 dengan dukungan USAID dan mitra internasional lainnya untuk mencegah, mendeteksi dan mengendalikan berbagai ancaman kesehatan global.  Ancaman kesehatan rseperti flu burung, rabies dan resistansi antimikroba dapat menular dari hewan kepada manusia melalui sistem pertanian pangan. Pertanian keluarga, desa organik, pertanian konservasi dan pertanian digital juga merupakan kerjasama FAO dengan Kementrian Pertanian yang menjadi sorotan beberapa tahun belakangan ini.


Pada produksi ikan di ekosistem laut dan perairan darat, FAO bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendorong konservasi dan praktik perikanan berkelanjutan.


Terobosan dari upaya kolektif tersebut adalah IIFGIS (Integrated Inland Fisheries Geographic Information System) berbasis wilayah pengelolaan perikanan perairan darat (WPP-PD) Indonesia. Sistem ini mengintegrasikan sistem informasi geospasial dan data statistik untuk mendukung sistem pemantauan danpenilaian data perikanan darat, serta ketertelusuran.


Ketertelusuran selalu menjadi isu utama dalam sektor perikanan. FAO berkomitmen untuk bekerja sama dengan KKP dan memberikan dukungan teknis untuk meningkatkan ketertelusuran di sektor perikanan. Hal ini berkontribusi pada fourbetter yang merupakan tema Hari Pangan Sedunia tahun ini.


FAO juga mendukung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk melestarikan hutan dan lahan gambut untuk mengatasi dampak perubahan iklim.


“Kita membutuhkan tindakan kolektif untuk mengubah sistem pertanian pangan kita. Setiap orang harus memahami bahwa perlakuan mereka terhadap makanan mempengaruhi sistem pangan. Transformasi global hanya bisa terjadi jika dimulai dari individu. Cara Anda memilih, memproduksi, mengonsumsi, dan membuang makanan Anda memengaruhi orang lain. Kita perlu bertindak, dan sekarang, Mari kita bersama-sama berusaha dalam kapasitas apa pun yang kita bisa”, tambah Rajendra. (INF)



PROBLEM CORYZA PADA AYAM MODERN

Gejala khas ayam yang menderita infeksi Coryza adalah gangguan sistem pernapasan atas berupa peradangan yang bersifat kataral sampai mukoid pada rongga hidung dan sinus-sinus hidung, terutama sinus supra-orbitalis dan infra-orbitalis. (Sumber: Tony)

Ditulis oleh:
Tony Unandar (Private Poultry Farm Consultant-Jakarta)

Fenomena kasus penyakit Snot alias pilek ayam menular atau Coryza pada peternakan ayam modern ibarat bermain “petak umpet”. Menjengkelkan, bahkan kadang kala dapat membuat peternak kalap, sehingga dalam mengatasinya penggunaan vaksin dan preparat antibiotik kerap tidak rasional lagi. Beberapa informasi dalam tulisan berikut mungkin perlu disimak, agar kasus tidak merupakan langganan yang seolah sulit ditampik.

Sebenarnya ada beberapa faktor penting yang menjadi penyebab berulangnya kasus Coryza di lapangan, yaitu:

• Kelembapan relatif dalam kandang cukup tinggi, biasanya jika itu rata-rata di atas 80%, insiden terjadinya Coryza menjadi sangat besar. Kesalahan setting pada sistem kandang tertutup (closed house), misalnya merupakan suatu fenomena umum terkait kejadian Coryza di lapangan.

• Fluktuasi temperatur di dalam kandang sangat tinggi. Perbedaan temperatur rata-rata antara siang dan malam hari lebih dari 8° C, khususnya pada musim kemarau, akan menjadi faktor pencetus terjadinya Coryza.

• Tingginya kadar amonia, debu dan tantangan virus (ND, IB) atau kuman (Mikoplasma) yang ada di dalam kandang sangat mendukung terjadinya kasus Coryza. Infeksi Mikoplasma yang kronis jelas akan membuat peluang kasus Coryza lebih besar.

• Frekuensi program vaksinasi yang menggunakan vaksin aktif dengan target organ di saluran pernapasan atas yang tinggi, misalnya ND atau IB aktif juga dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya ledakan kasus Coryza.

• Tingginya faktor stres, misalnya kepadatan yang terlalu tinggi.

Untuk mengurangi ledakan kasus Coryza di lapangan, sangat dianjurkan untuk... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2021. (TOE)

TROUW NUTRITION INDONESIA PEDULI STUNTING BENTUK PERAYAAN HARI AYAM DAN TELUR NASIONAL 2021

Trouw Nutrition Indonesia, manufaktur premiks dan perusahaan penyedia solusi nutrisi untuk industri ternak sejak tahun 2007, dalam rangka peringatan Hari Ayam dan Telur Nasional 2021 mendistribusikan 5.232 butir telur kepada warga sekitar dan mengedukasi pentingnya mengkonsumsi protein, serta mengingatkan dampak dari defisit protein yaitu masalah gizi kronis – stunting.

Disaat yang sama, Trouw Nutrition Indonesia juga memproduksi video edukasi yang disebarkan kepada masyarakat melalui media sosial dan aplikasi komunikasi gawai dengan tema cara memilih telur yang baik, cara memilih ayam potong segar, dan video mengenai stunting. Selain itu, pada tanggal 15 Oktober 2021 pukul 15.00 WIB Trouw Nutrition Indonesia akan membahas lebih jauh mengenai stunting dalam bentuk Instagram Live yang bekerja sama dengan RS Omni Hospitals Cikarang.

Hal ini dilakukan karena perusahaan yang memiliki tujuan “feeding the future” prihatin dengan jumlah konsumsi protein rata-rata perkapita dengan rasio kasus stunting di Indonesia.

Data Konsumsi Daging Perkapita dan Estimasi Rasio Stunting di Beberapa Negara (disadur dari OECD 2018 dan UNICEF-WHO-World Bank 2017). Sumber: https://bit.ly/2YItFpl

Distribusi telur disalurkan oleh karyawan relawan Trouw Nutrition Indonesia pada 6-12 Oktober yang diberikan kepada guru-guru Sekolah, ibu-ibu PKK, dan Balai Desa di Mekarwangi-Bekasi, Kudus, Cilacap-Jawa Tengah, Desa Jenggolo dan Pandan-Jawa Timur, juga kepada karyawan Trouw Nutrition Indonesia yang rutin bekerja ke kantor selama masa pandemi.

Wully Wahyuni, Presiden Direktur PT Trouw Nutrition Indonesia mengatakan, “Menurut data dari Kementerian Kesehatan Indonesia 1 dari 3 anak dibawah 5 tahun menderita mstunting yang akan berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik dan otak. Mendengar hal ini, kami sebagai perusahaan yang bergerak di industri nutrisi hewani merasa terpanggil untuk ikut berkontribusi dalam upaya mengurangi kasus stunting di Indonesia. Kami berharap hal kecil yang kami lakukan ini dapat membantu meningkatkan “awareness” mengenai stunting dan meningkatkan konsumsi protein sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki asupan gizi terutama anak-anak.” (INF/Rilis)

PENINGKATAN PRODUKSI AYAM KAMPUNG MELALUI PERSILANGAN

Tingginya permintaan dan rendahnya penawaran merupakan permasalahan yang terjadi pada bisnis ayam kampung. Untuk itu, perlu dilakukan peningkatan produksi ayam kampung agar dapat memenuhi permintaan pasar tersebut.

Hal tersebut diungkapkan oleh dosen Fakultas Peternakan UGM, Dr Ir Sri Sudaryati, MS dalam Seminar Purna Tugas pada Rabu (13/10/2021) di Fakultas Peternakan UGM. Menurutnya, ada beberapa perkiraan yang dapat dijadikan patokan dalam meningkatkan produksi ayam kampung.

Performans tubuh merupakan faktor pertama yang dapat digunakan untuk memperkirakan produksi ayam kampung. Pendugaan performans poduksi bobot badan dapat dilakukan melalui warna bulu, panjang shank, lebar dada, panjang badan, dan bentuk jengger. Pentingnya catatan hasil perkawinan ayam untuk mendapatkan calon tetua yang benar-benar unggul juga harus diperhatikan. Menurut penelitian Sudaryati, ayam dengan warna bulu putih kurang bagus daripada hitam. Ayam berbulu hitam berbobot lebih berat dan penampilannya lebih tinggi. Ayam berbulu putih memiliki bentuk badan yang lebih kecil. Biomolekuler juga dapat digunakan untuk menentukan genetik ayam. Kombinasi penampilan tubuh dan hasil penentuan genotip dari biomolekuler dapat digunakan untuk pendugaan hasil produksi bobot badan yang lebih akurat dan lebih cepat.

Sudaryati mengatakan, persilangan antara ayam jantan kampung dan betina ras petelur dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produksi ayam kampung. Persilangan ini menghasilkan ayam super/joper/kamper/ayam kampus. 

Dalam usaha mendapatkan ayam super tersebut harus diingat adanya male line dan female line. Garis keturunan jantan harus memiliki daya hidup yang tinggi, telur besar, dan berat badan bagus karena akan menurunkan sifat-sifat ini pada anaknya. 

Sementara itu, garis keturunan betina harus memproduksi telur dengan baik, cangkang telur yang bagus, dan kualitas telur yang bagus. Garis keturunan jantan dan betina dengan sifat-sifat tersebut akan menghasilkan ayam dengan daya hidup yang tinggi, badan besar, telur besar, produksi telur bagus, dan cangkang telur yang bagus. Ayam ini akan menjadi final stock sehingga tidak boleh dikembangkan. 

Peningkatan kualitas pejantan ayam kampung harus dilakukan secara berkesinambungan oleh peternak. Sementara peningkatan kualitas betina petelur sudah pasti dilakukan oleh pembibit ayam petelur.

Harus diingat bahwa dewasa kelamin ayam jantan lebih lambat dari betina, tetapi kemampuan reproduksi ayam jantan lebih cepat turun drastis. Untuk itu, pejantan sebaiknya digunakan hanya sampai umur 44-50 minggu. Hasil telur betina untuk ditetaskan bisa digunakan sampai umur 64-68 minggu. Produksi telur selanjutnya sudah kurang layak untuk ditetaskan tetapi masih layak sebagai telur konsumsi. (INF/Rilis)

PRODUKSI TELUR BRASIL MELAMPAUI 54 MILIAR

Produksi telur Brasil diperkirakan akan mencapai 54,503 miliar telur tahun 2021 ini. 2% lebih banyak dari 53,533 miliar yang terdaftar pada tahun 2020.

Ini adalah rekor baru. Konsumsi telur dalam negeri Brasil akan mencapai 255 per kapita, meningkat 1,5% dibandingkan indeks yang tercatat pada tahun 2020, sebanyak 251 butir telur. (via Poultryworld.net)

PUNCAK ACARA HARI AYAM DAN TELUR NASIONAL (HATN) DAN WORLD EGG DAY (WED) 2021

Puncak acara HATN dan WED 2021 tahun ini diadakan di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Acara yang diadakan secara daring dan luring pada 15 Oktober 2021 ini mengambil tempat di gedung Sasando kantor Gubernur NTT, dan mengusung tema ‘Ayam & Telur Tingkatkan Imunitas & Kesehatan’.

Acara dibuka oleh sambutan Ketua Bidang Usaha Promosi dan Sosial Perhimpunan Perunggasan Rakyat Indonesia Pusat, yang sekaligus Ketua Panitia HATN, Ricky Bangsaratoe SH. Dalam sambutannya Ricky mengatakan masih rendahnya konsumsi protein hewani masyarakat, “Konsumsi protein hewani rakyat Indonesia adalah 25,53% dari total konsumsi protein. Konsumsi protein yang masih rendah ini menjadi salah satu penyebab masih buruknya gizi rakyat Indonesia. Asupan protein khususnya masa balita diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.”

Namun Ricky percaya bahwa pola konsumsi akan berubah dari waktu ke waktu, yang dipengaruhi perkembangan jaman serta timbulnya kesadaran masyarakat akan pangan dan gizi.

Sambutan kedua oleh Deputi Tiga Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kementrian Koordinator PMK Republik Indonesia, Drg Agus Suprapto Mkes.

“Fokus kita adalah pembangunan kualitas SDM. SDA yang berlimpah tanpa SDM berkualitas nanti pastinya akan habis, jadi penting membangun kualitas SDM dari segi gizinya itu yang utama,” kata Agus.

Makan daging ayam dan telur bersama

Kemudian acara dilanjutkan dengan makan daging ayam dan telur bersama, untuk menandai momen HATN dan WED 2021. Selain Ricky Bangsaratoe, Agus Suprapto, turut makan bersama adalah Kepala Dinas Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Timur Johanna E Lisapaly SH MSi, Ahli Gizi Siti Romlah SKM Mkes, National Technical Advisor FAO ECTAD Indonesia Alfred Kompudu SPt MM, Duta Ayam dan Telur NTT, serta peserta acara lainnya. Makan ayam dan telur bersama ini adalah sebagai bentuk sosialisasi kampanye pentingnya konsumsi ayam telur untuk perbaikan gizi.

Setelah penyerahan bantuan telur dan daging ayam pada perwakilan masyarakat oleh Johanna E Lisapaly, acara pun dilanjutkan dengan berdoa bersama.

Talsk show bersama para narasumber

Talk show yang dipandu oleh Alfred Kompudu menjadi acara terakhir. Dimana Rikcy menjelaskan bahwa tujuan diadakannya HATN adalah karena di Indonesia masih jauh tertinggal dari negara tetangga untuk konsumsi ayam dan telur. HATN berfungsi diantaranya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya makan ayam dan telur yang bergizi dan murah.

HATN tiap tahunnya diadakan dari propinsi ke propinsi. Tahun ini NTT dipilih sebagai tempat diselenggarakannya HATN karena angka kejadian stunting di NTT cukup tinggi. “Jadi lebih tepat biar lebih mengedukasi masyarakat setempat untuk lebih meningkatkan gizinya dari ayam dan telur,” kata Ricky.

Sementara itu Johanna E Lisapaly menyambut baik HATN di NTT karena promosinya selaras dengan upaya-upaya pemerintah untuk menurunkan stunting.

Siti Romlah menjelaskan dalam talk show bahwa, “Ayam dan telur adalah sumber protein hewani yang mudah didapat dan disukai semua kalangan. Lebih murah, bisa memenuhi kebutuhan protein hewani, dan baik untuk menjaga imunitas.”

Pada akhir acara Ricky menyampaikan pesan, “NTT stunting-nya termasuk yang paling tinggi, jadi konsumsilah terus protein hewani dari ayam dan telur. Dua butir telur sehari dan sepotong ayam Anda pasti sehat dan cerdas.” (NDV)

BRASIL MEMPERKIRAKAN REKOR BARU PRODUKSI UNGGAS

Sektor unggas Brasil memperkirakan satu tahun lagi rekor produksi unggas pada tahun 2021. Meskipun banyak tantangan dalam ekonomi internal dan luar negeri, prospek produksi terlihat cerah untuk unggas, telur dan daging babi.

Asosiasi Protein Hewan Brasil (ABPA) menyatakan bahwa sektor unggas akan menghasilkan 3,5% lebih banyak dan melihat peningkatan 7,5% dalam perdagangan internasional tahun ini dibandingkan dengan 2020.

Survei ABPA menunjukkan produksi dalam negeri akan mencapai antara 14,1 dan 14,3 juta ton. Dalam skenario terbaik, ini berarti pertumbuhan 3,2% dibandingkan total produksi tahun lalu yang mencapai 13.845 juta ton. Jika ini terwujud, ini adalah volume produksi terbesar yang pernah dicatat oleh industri unggas Brasil. (via Poultryworld.net)

PENYAKIT PERNAPASAN YANG SELALU KERASAN

Kualitas sekam buruk dapat memicu penyakit pernapasan. (Foto: Dok. Infovet)

Dua tahun belakangan, masyarakat sangat familiar dengan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh COVID-19. Jangan salah, nyatanya penyakit pernapasan pada ayam juga memiliki daya bunuh luar biasa dan merugikan peternak.

Bernapas merupakan kebutuhan utama mahluk hidup. Prinsipnya yakni menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida dari dalam tubuh. Terkadang, saluran pernapasan tidak selamanya prima. Beberapa penyakit siap mengintai dan menurunkan performa bahkan menyebabkan kematian.

Dari bernapas, oksigen yang dihirup digunakan dalam proses pembentukan energi atau oksidasi biologis. Tanpa adanya oksigen, energi yang berasal dari pakan tidak akan bisa terbentuk dan mustahil pertumbuhan dan performa akan tercapai.

Pahami Sistem Pernapasan Ayam
Tidak seperti hewan lainnya, unggas memiliki sistem pernapasan yang berbeda dan unik. Karena pada unggas terdapat kantung udara. Sistem pernapasan ayam terdiri dari saluran pernapasan (hidung, sinus hidung/sinus infraorbitalis, laring, trakea, bronkus), paru-paru dan kantung udara. Laring dan trakea tersusun atas otot dan tulang rawan. Pada permukaan dalam (epitel) terdapat silia, sebagai alat pertahanan terhadap benda asing. Di dalam paru-paru terjadi pertukaran udara bersih dan kotor.

Udara yang kaya akan oksigen akan diedarkan ke seluruh tubuh. Kantung udara merupakan selaput tipis berbentuk seperti balon yang berfungsi membantu pernapasan. Kantung udara memiliki sel fagosit dalam jumlah sedikit, sedangkan proses pertukaran udara juga terjadi di kantung udara tersebut. Padahal setiap udara yang masuk mengandung berbagai berbagai macam mikroba, termasuk yang sifatnya patogen.

Selain itu, kantung udara tersusun atas sel tipis dan sedikit pembuluh darah. Sehingga mudah dirusak oleh bibit penyakit. Hal inilah yang menjadi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2021. (CR)

WEBINAR PENGENDALIAN PENYAKIT BERSAMA NOVINDO DAN IMA

Webinar “Launching Sangrovit WS: Research for Intestinal Integrity” yang diselenggarkan PT Novindo Agritech Hutama bersama PT Indovetraco Makmur Abadi (IMA). (Foto: Infovet/Ridwan)

Faktor kesehatan ternak menjadi hal utama dalam peningkatan produktivitas dan pengendalian patogen. Hal itu dibahas dalam webinar “Launching Sangrovit WS: Research for Intestinal Integrity” yang diselenggarkan PT Novindo Agritech Hutama bersama PT Indovetraco Makmur Abadi (IMA), Selasa (10/12/2021).

Researcher of Prof Nidom Foundation, Prof Dr Drh C. A. Nidom MS, selaku pembicara langsung membahas kontrol sitokin melalui penggunaan fitogenik. Dijelaskan, sitokin menjadi perhatian penting khususnya pada infeksi penyakit. Sitokin sendiri merangsang terbentuknya antibodi, namun perubahan sitokin yang berlebihan (banjir sitokin) menjadi sulit dikendalikan dan menyebabkan terjadinya inflamasi.

“Peradangan suatu patogen jelas merugikan, saat merusak sel untuk memperbanyak diri secara tidak sengaja patogen memengaruhi kesehatan host-nya. Adanya infeksi ini akan memicu rilisnya sitokin. Kinerja sitokin untuk memengaruhi organ lain bisa memberatkan gejala yang dialami hospes, sehingga memberikan efek penurunan performa,” ujar Nidom.

Untuk menghambat inflamasi, ia mengemukakan penggunaan fitogenik bisa memberikan efek pada ayam. Dijelaskan Nidom, senyawa aktif fitogenik bisa bekerja sebagai anti-inflamasi yang dapat menekan produksi sitokin dan menghindari terjadinya banjir sitokin.

“Juga sebagai antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba patogen dan merangsang pertumbuhan bakteri komensal pada usus. Kemudian juga sebagai antioksidan yang menghambat produksi Oksida Nitrat (NO) dan aktivitas NFKB,” jelasnya. Lebih lanjut, apabila sistem imun terjaga dengan baik pada saluran tubuh dan saluran pencernaan, tentu akan meningkatkan performa dan kualitas protein untuk dikonsumsi.

Hal tersebut juga diamini oleh Dr Tobias Steiner yang merupakan expert gut health, phytogenics and natural growth promoter, yang menjadi pembicara kedua. Tobias secara mendalam membahas mengenai penggunaan produk alami dari isoquinoline alkaloids (IQs) untuk mengatasi inflamasi pada saluran pencernaan.

Dijelaskan pula oleh Tobias, bahwa pemberian IQs tersebut pada ternak ayam mampu menstabilkan integritas usus, memberikan maintenance pada feed intake, meningkatkan performa ternak dan mereduksi stres yang dapat memengaruhi kesehatan ternak. (RBS)

MANUAL IEF MENDUKUNG PRODUKSI TELUR DI NEGARA BERKEMBANG

Manual produksi yang diluncurkan oleh International Egg Foundation (IEF) memberikan panduan praktis tentang area dasar produksi telur dan bertujuan untuk mendukung produsen telur komersial yang baru terjun untuk mengadopsi praktik terbaik dan mencapai kesuksesan bisnis jangka panjang dalam produksi telur.

“Melalui program Global Egg Schools, kami telah mengidentifikasi area mendasar di mana pengetahuan umumnya terbatas, seperti biosekuriti dan manajemen layer. Menurut pengalaman kami, begitu praktik terbaik di bidang ini dibagikan, para peternak dapat meningkatkan hasil dan keuntungan mereka secara signifikan,” kata Ketua International Egg Foundation, Tim Lambert.

Topik yang tercakup dalam manual ini mencakup pentingnya biosekuriti, pengaturan peternakan, manajemen peternakan dan manajemen telur, dan ditujukan untuk peternakan ayam petelur berukuran sedang yang terdiri dari 100 hingga 5.000 ekor. (via Poultryworld.net)

SAMBANGI CPI DI ANCOL, PETERNAK CURHAT

Peternak layer sambangi PT Charoen Pokphand Indonesia. (Foto: Istimewa)

Sebanyak sekitar 200 orang peternak layer yang bergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN), berkunjung ke kantor pusat PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) di daerah Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, Senin (11/10/2021). Dalam kunjungan tersebut para peternak yang berasal dari Jawa Timur (Jatim) mengeluh atas harga telur yang tak kunjung membaik.

Disambut baik oleh jajaran Direksi dan Manajemen PT Charoen Pokphand Indonesia, pertemuan tersebut merupakan rangkaian dari diterimanya para peternak layer oleh Presiden di Istana Negara, Rabu (15/9/2021) kemarin. Dimana peternak layer mengeluhkan tingginya harga jagung dan rendahnya harga telur di tingkat peternak.

Seperti diketahui bersama tingginya harga jagung di pasaran membuat peternak layer, yang sebagian besar peternak self-mixing membutuhkan jagung sebagai bahan campuran pakan lebih besar dibanding peternak ayam pedaging, sehingga dengan kenaikan harga jagung membuat biaya produksi meroket.

Sebenarnya PT Charoen Pokphand Indonesia sendiri sebagai salah satu perusahaan di industri perunggasan turut merasakan dampak tingginya harga jagung, dimana jagung merupakan 50% bahan baku utama dari pakan, kenaikan ini turut menyebabkan harga pakan melambung.

Suryono salah satu peternak layer dalam aksi tersebut meminta agar budi daya layer bisa sepenuhnya diserahkan peternak rakyat. “Kami berharap budi daya layer ini 100% bisa diserahkan kepada kami para peternak rakyat. Para perusahaan besar tidak perlu ikut berbudidaya,” kata Suryono melalui keterangan tertulis PPRN.

Sejalan dengan hal tersebut, Sugeng, peternak layer lain juga meminta bahwa telur HE (Hatching Egg) tidak beredar dijual ke pasar. “Kami meminta jangan sampai telur HE ini dijual ke pasar, karena bisa merusak harga pasar dan menyebabkan harga telur merosot. Dan ini membuat mental kami semakin jatuh,” kata Sugeng. 

Selain itu, keinginan peternak lainnya juga disampaikan Kholil, peternak asal Blitar. Ia meminta bahwa jangan sampai harga telur terus menurun yang tentu menambah kerugian peternak.

“Diharapkan harga telur ini bisa terus stabil dalam kondisi yang baik, bukan hanya naik satu atau dua minggu saja dan setelahnya turun lagi. Peternak berharap dapat solusi dari permasalahan ini,” sebut Kholil.

Kejadian serupapun pernah terjadi pada 2017, dimana peternak layer merasakan jatuhnya harga telur di pasaran hingga Rp 13.800/kg. Pada saat itu Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) mencoba memediasi pertemuan antara peternak ayam layer, produsen pakan ternak, pemerintah dan universitas di Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut PT CPI memberikan solusi menurunkan harga pakan komplit dan konsentrat, serta membeli sebanyak 20 ton telur dari peternak Blitar dengan harga Rp 1.700/kg lebih tinggi dari pasaran dan pembelian telur sampai saat ini masih berlanjut.

Dalam diskusi dengan Manajemen PT CPI yang diwakili General Manager Marketing PT CPI, Agoes Haryoko, menyampaikan beberapa solusi, antara lain membeli telur langsung dari peternak di Jawa Timur dan Jawa Tengah Rp 2.000/kg di atas harga pasar di kandang peternak dan akan melanjutkan pemberian subsidi pakan sebesar Rp 100/kg, seperti yang dilakukan sebelumnya.

“PT CPI berharap solusi yang diberikan dapat memberikan dampak nyata kepada peternak, walaupun tidak sebanyak yang diharapkan. Namun dengan begitu bisa terjalin hubungan yang baik dengan para peternak yang merupakan mitra kerja PT CPI untuk melewati masa krisis ini bersama-sama,” katanya. (INF)

MEMPERINGATI HARI TELUR SEDUNIA ALA PHIBRO

Satu ton telur disalurkan oleh Phibro ke Dinas Sosial Kabupaten Bogor

Hari telur sedunia (World Egg Day) diproklamirkan pertama kali oleh Komisi Telur Dunia (International Egg Commission) pada tahun 1996 di Wina, Austria. Sejak itu tiap tahunnya pada Jumat kedua di bulan Oktober diperingati sebagai hari telur sedunia. Tujuannya tentu saja untuk meningkatkan konsumsi protein hewani (telur) masyarakat dunia.

Hari telur sedunia tahun 2021 juga diperingati oleh salah satu stakeholder peternakan Indonesia yakni PT Phibro Animal Health Indonesia. Perusahaan yang bergerak di bidang obat hewan tersebut memperingati World Egg Day 2021 dengan membagikan seribu kilogram telur kepada masyarakat di Kabupaten Bogor pada Jumat 8 Oktober 2021 yang lalu.

Ditemui oleh Infovet pada acara penyerahan telur di Dinas Sosial Kabupaten Bogor, Arik Farzeli selaku Country Director Phibro Animal Health Indonesia menyatakan bahwa kegiatan tersebut bukan hanya dilakukan oleh Phibro di Indonesia saja, melainkan seluruh dunia.

"Dalam kondisi Covid-19 ini masyarakat tentunya butuh asupan protein hewani untuk menjaga imunitas, itulah tujuan kami melakukan kegiatan ini, selain itu momen ini juga kami harapkan dapat membantu peternak layer agar usahanya kembali menggeliat ditengah ketidakpastian harga bebera waktu belakangan," tutur Arik.

Dalam Kesempatan yang sama, Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Bogor, Supriyadi menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh Phibro dan mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi - tingginya atas kontribusi Phibro terhadap masyarakat Kabupaten Bogor. 

"Terima kasih kepada Phibro, telur - telur ini akan kami distribusikan kepada yayasan dan pesantren di sekitar Kabupaten Bogor. Dengan ini semoga masyarakat semakin menyadari akan pentingnya konsumsi protein hewani, terutama dimasa pandemi seperti ini," kata Supriyadi.

Rasa terima kasih juga disampaikan langsung oleh Romli Eko Wahyudi salah satu perwakilan pesantren yang juga hadir dan menerima bantuan telur tersebut. 

"Ini merupakan kegiatan yang sangat positif, kami mendoakan agar Phibro selalu sukses dan tidak hentinya memberi kontribusi untuk negeri ini. Santri juga pasti senang, biasanya seorang makan telur separuh, beberapa hari kedepan mereka bisa makan sebutir utuh," kelakar Romli. (CR)



KAFAPET UNSOED DIJ BERBAGI 40 RIBU TELUR DAN DAGING AYAM DI TUJUH WILAYAH

Dalam rangka memperingati Hari Ayam dan Telur Nasional yang diperingati setiap tanggal 15 Oktober, Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Daerah Istimewa Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang, Sukabumi dan Cianjur (Kafapet Unsoed DIJ) akan menggelar Gerakan Berbagi Telur di tujuh wilayah yaitu Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Sukabumi dan Cianjur (Jabodetabeksuci) dengan tema 'Tingkatkan Imunitas dan Kesehatan.' 

Kegiatan Sunatan Massal di Yayasan Sekolah Alam Tunas Mulia Bantar Gebang Bekasi dipilih sebagai titik awal dimulainya Gerakan Berbagi Telur dan Ayam, Sabtu (9/10). Pada kesempatan tersebut, dibagikan karkas ayam dan telur kepada 50 anak-anak peserta sunatan massal.

Selanjutnya gerakan ini akan diselenggarakan secara serentak di tujuh wilayah Jabodetabeksuci pada tanggal 15-22 Oktober 2021 dengan pelaksana kegiatan para alumni di masing-masing wilayah tersebut dan dilaksanakan di berbagai sekolah TK dan SD.

Pentingnya meningkatkan imunitas dan kesehatan masyarakat khususnya anak-anak TK dan SD di wilayah Jabodetabeksuci menjadi latar belakang penyelenggaraan kegiatan ini. Selain itu, kepedulian terhadap perkembangan usaha peternakan terutama adalah usaha ternak telur ayam juga menjadi perhatian utama untuk menyelenggarakan kegiatan ini. 

"Dengan menyelenggaraan Gerakan ini, maka Kafapet DIJ ikut serta berpartisipasi menyerap over produksi telur,” kata Yudhi Akhmadi, Ketua Kafapet DIJ.

Menurut Yudhi, antusiasme para alumni sangat luar biasa dalam memberikan donasi untuk penyelenggaraan kegiatan ini, baik alumni yang berdomisili di wilayah Jabodetabeksuci maupun alumni Fakultas Peternakan Unsoed yang berdomisili di luar wilayah tersebut. Bahkan beberapa alumni yang berdomisili di luar negeri ikut serta berpartisipasi memberikan donasi yang dikampanyekan dengan ajakan Satu Alumni Minimal Satu Paket.

Paket donasi yang ditawarkan adalah Rp25.000 per paket. Donasi yang telah terkumpul sampai dengan saat ini adalah 2078 paket. Kegiatan pengumpulan donasi ini akan berlangsung hingga tanggal 12 Oktober 2021 dan ditargetkan mencapai 2.500 paket. 

“Kami ikut serta membantu peternak ayam petelur dengan menyerap sekitar 2,5 ton atau sekitar 40.000 butir telur yang kemudian dibagikan kepada anak-anak TK dan SD," ujar Yudhi.

Sementara itu menurut Puji Astuti selaku Ketua penyelenggara kegiatan, alumni baik secara individu maupun secara angkatan perkuliahan sangat luar biasa tergerak berdonasi dalam kegiatan ini sehingga jumlah paket donasi yang awalnya ditargetkan terkumpul 1.000 paket kemudian bergerak menuju 2.500 paket. 

Oleh karena antusiasme yang luar biasa ini, panitia penyelenggara kegiatan ini memutuskan untuk memperluas sasaran penyerahan donasi ke Panti Asuhan dan Panti Jompo di tujuh wilayah. 

“Untuk penyerahan donasi telur kepada siswa TK dan SD akan kami lakukan dalam kemasan plastik mika sedangkan untuk penyerahan ke panti jompo akan dilakukan dalam bentuk peti telur. Khusus untuk guru sekolah dan penyerahan ke panti asuhan maupun panti jompo akan kami sertakan karkas ayam," kaat Puji.

Telur yang didonasikan dalam kegiatan ini merupakan produksi dari para peternak layer yang merupakan alumni dari Fakultas Peternakan Unsoed, sehingga gerakan ini juga turut serta mendorong perkembangan usaha ternak layer para alumni selain juga mengembangkan rasa kepedulian alumni terhadap masalah sosial masyarakat di era pandemi dalam hal imunitas dan kesehatan. (INF/Rilis)

AGRI VISION 2021 : MEMBAHAS KEBERLANJUTAN SEKTOR PERTANIAN SECARA LUAS

Agro Vision 2021 : Fokus Kepada Keberlanjutan Sektor Pertanian

Sektor pertanian secara luas termasuk peternakan merupakan sektor penting karena berkaitan langsung dengan pangan. Namun sayangnya topik yang dibahas dalam sektor tersebut kebanyakan berfokus pada peningkatan produksi, padahal selain itu keberlanjutan (sustainability) dari sektor ini sangat penting untuk dijaga.

Beberapa tahun belakangan, stakeholders pertanian di penjuru belahan dunia sedang hangat - hangatnya membahas sustainability in farming. Seperti yang tadi disebutkan bahwa pangan akan berkaitan pula dengan kehidupan manusia. Atas dasar tersebut Trouw Nutrition (Nutreco Group) mengangkat isu ini pada konferensi dua tahunan mereka yakni Agri Vision. Karena pandemi Covid-19 yang masih melanda, event ini dihelat secara daring pada tanggal 7 Oktober 2021. 

Menjawab Berbagai Tantangan

Bicara masalah keberlanjutan, tentunya sektor pertanian juga tidak luput dari berbagai tantangan. Hal ini diutarakan oleh Fulco Van Lede yang merupakan CEO dari Nutreco dalam pidato pembukaan Agri Vision 2021.

"Tantangan utama kita adalah memberi makan penduduk dunia yang pada tahun 2050 diproyeksikan mencapai 50 Milyar jiwa.Selain itu, bisnis ini masih dicap sebagai bisnis yang kurang ramah lingkungan, jangan juga lupakan isu naiknya harga pangan yang di sebagian belahan dunia bisa dibilang tidak terjangkau, ini adalah problem kita bersama dan saya percaya bahwa dalam masalah terbesar tentunya ada kesempatan terbesar," tutur Fulco.

Hal senada juga diutarakan oleh Saskia Korink CEO Trouw Nutrition. Menurutnya permasalahan ini terlalu berat jika harus ditanggung oleh satu stakeholder saja, oleh karenanya kolaborasi apik antar stakeholder  dibutuhkan untuk menghadapi persoalan tersebut.

"Oleh karenanya event ini diadakan untuk menghubungkan para stakeholders agar dapat bertemu, mendiskusikan peluang, kerjasama, bahkan bisnis dengan catatan tetap berfokus pada isu sustainability ini," tutur Saskia.

Industri Protein Semakin Dinamis

Dalam Agri Vision 2021 dibahas pula mengenai industri protein, Justin Sherrard, ahli strategi protein hewani global di Rabobank memberi gambaran dunia dengan berbagai sumber protein hewani seperti daging yang dikembangkan di laboratorium atau sumber protein non-hewani. Dia menunjukkan bahwa pasar daging relatif matang ketimbang sumber protein lainnya.

"Ya, protein hewani akan terus tumbuh, tetapi sebagian besar pertumbuhan terjadi di negara berkembang. Bukan hanya karena tingkat kemakmurannya lebih tinggi, tetapi juga karena urbanisasi. Harapannya ini akan terus berkembang," tutur Justin.

Berbeda dengan pertumbuhan yang stabil dan tenang, Justin menunjuk situasi di pasar protein alternatif  yang lebih dinamis. 

"Gambarannya berbeda dan menarik ketika kita melihat pada pasar protein alternatif. Ada pertumbuhan dramatis. Industri ini sedang menarik orang-orang dan sumber daya manusia untuk berkecimpung di dalamnya. Ini sangat menarik karena pertumbuhannya," kata Justin.

Ketika dia ditanya tentang arti munculnya protein alternatif untuk produksi hewani, Justin mengatakan bahwa sebagian besar produk protein alternatif sekarang harganya lebih tinggi dan menawarkan margin yang lebih baik.

"Salah satu pilihan adalah membuat produk tersedia dalam skala besar dan membuatnya lebih terjangkau. Saya pikir protein tradisional akan menjadi salah satu yang dicari ketimbang protein alternatif, ” tukas Justin

Dalam forum yang sama, Marcel Sacco yang berpartisipasi atas nama Brasil Foods ikut berkomentar.

"Ini bukan tentang mengganti daging dengan sesuatu yang lain. Ini lebih kepada menawarkan lebih banyak pilihan kepada konsumen. Kami sesungguhnya dapat menggabungkan penawaran protein hewani yang ada dengan hal-hal baru," tutur dia.

Konsep "Petani Mercusuar"

Presentasi yang paling menginsipirasi dan menggugah pikiran dalam event tersebut datang dari Dr Rogier Schulte, profesor sistem pertanian dan ekologi di Wageningen University, Belanda. Dia mengatakan bahwa umat manusia kini berada di persimpangan jalan akan keberlanjutan, ia menggambarkan bahwa itu terjadi di mana-mana di seluruh dunia.

Dia melukiskan gambaran produksi pertanian yang inovatif, berorientasi masa depan, inklusif alam dan memperkenalkan konsep “petani mercusuar.” Yang dimaksud oleh Dr Rogier yakni sekelompok petani dengan tanaman dan hewan ternak yang berbeda, dari latar belakang dan budaya yang berbeda, bersama-sama mereka membentuk kelompok yang penuh dengan ide-ide inovatif. Dengan melakukan sesuatu bersama - sama mereka bukan hanya dapat melampaui solusi berpikir, tetapi juga sampai ke tahap di mana segala masalah dapat diselesaikan.

Diantara berbagai contoh peternakan yang ia soroti, Dr Rogier menyebutkan peternakan As Ziedi di Latvia, yang memiliki 2.000 sapi perah dengan 3.000 ha lahan subur dengan berbagai tanaman. 

“Susu adalah produk sampingan di peternakan tersebut. Produk utamanya adalah pupuk kandang. kotoran ternak yang dimasukkan ke dalam digester anaerobik (biogas) yang menyediakan listrik adalah produk juga merupakan produk sampingan. Produk utamanya adalah panas, karena itu memungkinkan ikan sturgeon dan belut tumbuh dan berkembang. Dalam waktu 2 tahun mereka bisa memanen ikan tersebut. Di sana kaviar adalah produk utamanya. Ini adalah peternakan kaviar yang didukung oleh sapi perah," tutur Dr Rogier.

Contoh lainnya yang ia sebutkan adalah sistem pertanian padi yang inklusif alam di Indonesia, dimana selain padi juga ikan dan bebek dipelihara pada waktu yang bersamaan. Kompleksitas ekologis tersebut bersifat saling menguatkan. Contoh lain datang dari Brasil, dimana agroforestri yang cerdas dapat mengembalikan struktur hutan hujan asli yang meningkatkan keanekaragaman hayati.

“Tidak ada solusi yang mudah. Tetapi itulah salah satu pelajaran yang kami petik. Itu sebabnya kita tidak bisa meninggalkannya di tingkat petani saja. Kita harus bekerja sama. Para petani mercusuar menawarkan inspirasi,” kada Rogier. (CR)



SEKTOR UNGGAS KOREA SELATAN PULIH DARI FLU BURUNG

Produksi dan konsumsi ayam di Korea diperkirakan akan meningkat pada tahun 2021 dan 2022. Sementara itu, persediaan ayam broiler negara tersebut pulih dari depopulasi terkait flu burung, dan ekspor diperkirakan akan meningkat sebesar 57%.

Wabah flu burung (HPAI) Korea yang sangat patogenik terbaru dimulai pada November 2020, menyebar luas, dan menyebabkan depopulasi besar-besaran dengan pemusnahan 26 juta ayam (15% dari populasi ayam). HPAI terdeteksi pada 109 peternakan unggas komersial (termasuk itik), dan terdapat 234 kasus burung liar. Akibatnya, pada tahun 2021, produksi ayam di Korea diperkirakan turun 2,8% menjadi 935.000 mt. Kasus terbaru dilaporkan pada April 2021, meskipun wabah saat ini tampaknya terkendali. (via Poultryworld.net)

PENDEKATAN NEW NORMAL BETERNAK BABI PASCA ASF

Webinar pendekatan new normal beternak babi pasca ASF di Indonesia pada rangkaian FLEXcitement yang diinisiasi PT Boehringer Ingelheim. (Foto: Infovet/Ridwan)

African Swine Fever (ASF) merupakan penyakit infeksius pada babi bersifat hemoragik yang disebabkan oleh virus DNA beruntai ganda, dalam famili Asfarviridae dan genus Asfivirus. Virus ini menyebabkan demam berdarah dengan tingkat kematian tinggi pada babi domestik dan babi liar.

Virus yang sudah masuk ke Indonesia ini memiliki penyebaran yang cepat melalui lalu lintas ternak dan produk babi yang tercemar melalui swill feeding yang digunakan untuk pakan. “ASF bisa menyebar melalui pakan. Oleh karena itu, apabila peternak tidak yakin dengan pakan, khususnya pakan sisa restoran itu wajib di masak terlebih dahulu,” jelas Sauland Sinaga yang menjadi pemateri acara FLEXcitement “Pendekatan New Normal Beternak Babi Pasca ASF di Indonesia” yang diinisiasi PT Boehringer Ingelheim, Kamis (7/10/2021).

FLEXcitement merupakan kegiatan berskala global yang digelar PT Boehringer Ingelheim. Selama 6-7 Oktober 2021, FLEXcitement dilaksanakan secara virtual, dimana peserta bisa mengaksesnya melalui internet dan menikmati ragam informasi, presentasi dari para pembicara internasional mengenai peternakan babi.

Pada kesempatan tersebut Sauland yang juga Ketua Asosiasi Mogastrik Indonesia (AMI), menjelaskan proses pemasakan pakan sisa untuk ternak babi bisa dilakukan selama 2 menit dengan suhu 70 derajat untuk mengeliminasi ASF. “Karena bila tidak itu sangat berisiko tinggi. Karena itu harus kita ubah pengelolaan pakan untuk ternak babi ini,” jelasnya.

Sauland mengemukakan, perbaikan pakan bisa dilakukan dengan pemberian enzim, toxin binder, mineral, oil, maupun probiotik. Teknologi tersebut, kata dia, wajib digunakan peternak babi skala rakyat saat ini.

“Atau bisa dengan fermentasi pakan maupun perlakuan sanitasi pakan sebelum diberikan pada ternak. Bisa juga peternak memanfaatkan pakan dari singkong, palm kernel meal dan palm kernel cake. Ini bisa menjadi alternatif dan dalam beberapa penelitian hasilnya baik. Jadi janganlah terkendala dengan pakan yang bisa membuat harga babi menjadi mahal,” ucap dia.

Selain pakan, lanjut Sauland, untuk meminimalisir masuknya ASF ke farm adalah dengan memperbaiki manajamen budi daya, dengan fokus utama pembatasan pergerakan manusia, disinfeksi dan penerapan biosekuriti ketat.

“Buat zona merah, kuning dan hijau. Batasi keluar masuknya orang dan barang. Lakukan pula disinfeksi pada kendaraan. Juga penerapan all in all out, khususnya pada pembesaran ternak babi,” terang Sauland.

“Beri pelatihan pula pada anak kandang untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mereka dalam budi daya ternak babi. Karena SDM menjadi kunci pencegahan ASF. Saya yakin dengan begitu kita bisa mencegah ASF di new normal ini.”

Sementara Feliks Adi Nugroho, technical swine dari Boehringer Ingelheim Indonesia yang membawakan materi Porcine Reproductive and Respiratory Syndrome (PRRS) virus menekankan hal serupa.

“Virus akan menjadi lebih buruk apabila peternak tidak menerapkan sistem all in all out. Buatlah kandang terpisah sesuai fasenya untuk meminimalisir risiko penyebaran penyakit,” kata Feliks.

Feliks pun memberikan saran pencegahan dan kontrol penyakit pada ternak babi. Pertama, melakukan indentifikasi tujuan (mengontrol atau mengeliminasi penyakit). Kedua, menetapkan status (shedding atau exposure status) penyakit melalui pengecekan di laboratorium.

Ketiga, memahami kekurangan manajemen (biosekuriti, lokasi, produksi dan lain sebagainya). Keempat, membangun solusi sesuai tujuan awal (pencegahan infeksi, peningkatan kekebalan dan lain-lain) atau dengan melaukan vaksinasi.

“Walau vaksinasi bukan menjadi solusi tunggal, namun bisa memberikan proteksi terhadap ternak. Pemberian vaksinasi pada semua fase umur babi berpengaruh pada peningkatan kekebalan dan menurunkan kasus penyakit, memperbaiki FCR, mortalitas, morbiditas dan culling rate rendah,” jelas Feliks.

Adapun langkah kelima, lanjut dia, dengan implementasi dan monitoring solusi yang telah ditetapkan. “Dari langkah-langkah yang sudah kita buat, bisa kita lakukan monitoring dengan checking biosekuritinya, hasil vaksinasi atau manajemen untuk mengetahui hasilnya,” pungkasnya. (RBS)

MENGENAL BERMACAM PENYAKIT AYAM BROILER

Penyakit ayam broiler

Drh Magdalyna Srihendrawati, Animal Health Service Outer Island Sreeya Sewu Indonesia, memperkenalkan penyakit-penyakit ayam broiler, pada webinar Manajemen Terbaik Broiler Modern Untuk Performance Yang Optimal, yang diadakan oleh Sreeya pada Jumat 17 September 2021.

Drh Magdalyna Srihendrawati
Drh Magdalyna Srihendrawati

Dengan mengenal secara singkat penyakit ayam broiler terpenting, diharapkan peternak mempunyai dasar pengetahuan. Sehingga tidak terlalu bingung jika ada penyakit yang menyerang farm dan juga mampu mengambil langkah pencegahan.

Dehidrasi 

Sebenarnya bukan penyakit tapi suatu keadaan dimana jika DOC datang waktu ditebar di brooding tidak aktif. Hail itu biasanya karena dehidrasi penyebabnya bisa karena terlalu lama di transportasi, bisa juga karena manajemen misal brooding terlalu tinggi suhunya. Ciri fisik ayam di persendian kaki berwarna merah (redhock), kaki kering.

Segera beri vitamin elektrolit, atau air gula/sorbitol. Juga biasanya dehidrasi menyebabkan kerusakan hati dan ginjal jadi bisa ditambahkan hexamin, fungsinya untuk mengeluarkan asam urat dan mengurangi kebengkakan ginjal.

CRD (Chronic Respiratory Disease)

Disebabkan oleh bakteri mycoplasma gallinarum. Faktor resiko diantaranya karena pergantian musim dan ventilasi buruk. Gejala klinis: trachea berlendir. Pengobatan diberi antibiotik selama 5 hari dan vitamin asam amino.

ND (Newcastle Disease)

Disebabkan oleh paramyxovirus. Gejala klinis ayam lehernya melintir (telo) atau spot merah di usus (pencernaan). Tidak ada obatnya, terapi sifatnya suportif berupa vitamin. Bisa dicegah dengan vaksinasi ND di hatchery.

IBD (Gumboro/Infectious Bursal Disease)

Disebabkan oleh birnavirus. Faktor resikonya antara lain pemanas yang kurang optimal, terpaan angin kencang, dan kutu franky. Terapi sifatnya suportif berupa vitamin, pencegahan dengan vaksinasi IBD di hatchery.

IBH (Inclusion Body Hepatitis)

Disebabkan oleh adenovirus, merupakan penyakit akut yang menyerang ayam muda umur 4-6 minggu. Ditandai dengan kematian tinggi sekitar 10% dengan patologi anatomis hati bercak-bercak hitam, pada kantung jantung ada cairan (hydropericard). Terapi suportif dengan memberikan preparat hepato protektor, multi vitamin. Pencegahannya dengan vaksinasi IBH, sedangkan vektornya adalah kutu franky atau tikus.

Avian Influenza (AI)

Disebabkan oleh virus H5N1, ada 2 jenis low patogenic (kematian rendah) dan high patogenic (kematian tinggi). Patologi anatomi ditemukan ptechiae di lemak jantung dan lemak abdomen/perut. Terapi suportif dengan pemberian vitamin, penanggunalangan dengan vaksinasi AI, dan vektornya kutu franky.

Omphalitis

Penyakit yang berhubugan dengan infeksi kuning telur melalui pusar (umbilicus), menyebabkan kematian tinggi pada minggu pertama. Gejala klinis anak ayam lemas karena nafsu makan turun. Terapi berikan antibiotik 3-5 hari setelah pemberian vitamin. Penyebabnya bisa suhu brooding yang tidak stabil.

Colibasillois/Coliseptichaemia

Infeksi yang disebabkan oleh kuman E coli. Gejala klinis DOC yang omphalitis bisa disebabkan oleh E coli, menyebabkan selaput seperti lemak membungkus organ hati, jantung, dan kantung udara. Gejala klinis tidak terlihat namun menyebabkan pertumbuhan berat badan lambat, kematian, dan penyakit komplikasi pada saluran cerna, pernafasan, yang sulit ditanggulangi. Pengobatan dengan antibiotik 3-5 hari.

Brooding Pneumonia/Aspergillosis

Infeksi yang disebabkan oleh spora jamur Aspergillus spp. Gejala klinis DOC susah bernafas, biasanya menyerang anak ayam yang masih dalam masa brooding (1-3 minggu), karena itu disebut brooding pneumonia. Tidak ada pengobatan, DOC yang terinfeksi diafkir, kandang disanitasi dengan desinfektan. Pencegahan lakukan sanitasi hygiene yang ketat sebelum DOC masuk.

Chicken Anemia Virus (CAV)

Disebabkan oleh virus circoviridae, menyebabkan kematian tinggi pada anak ayam umur 1-2 minggu. Patologi anatomi ada bercak/ptechiae di otot dada dan paha, warna kebiruan pada sayap dan ptechiae pada kelenjar thymus. Tidak ada pengobatan spesifik, anak ayam akan berangsur membaik di umur lebih dari 2 minggu. Bisa ditanggulangi dengan vaksin CAV, biasanya dilakukan di breeding.

Coccidiosis/Diare Berdarah

Disebabkan Parasit emeria spp, menyebabkan diare berdarah dan kematian tinggi. Terapi dengan preparat anti cocci selama 2-3 hari. Pencegahan dengan menjaga kualitas litter agar selalu kering. (NDV)

MANAJEMEN PEMELIHARAAN AYAM BROILER MODERN DARI SREEYA SEWU INDONESIA

Manajemen pemeliharaan ayam broiler

Ayam broiler mengalami perbaikan genetik dari tahun ke tahun. Pada 1950-an butuh sekitar 6 kg pakan untuk menghasilkan ayam broiler dengan bobot hidup sekitar 2 kg. Sedangkan sekarang untuk mencapai bobot yang sama hanya butuh pakan sekitar setengahnya. Selain itu, pada 1950-an ayam broiler bertubuh ramping, kini broiler modern karkasnya jauh lebih besar.

Umur untuk mencapai bobot hidup 2,3 kg mengalami percepatan 0,79 hari/tahun. FCR (Feed Conversion Ratio) untuk meraih bobot hidup 2 kg pada lima tahun lalu diperlukan 1,6-1,7. Pada 2020 FCR turun sekitar 1,4 dan diperkirakan pada 2025 hanya butuh FCR 1,2 untuk bobot hidup 2 kg.

“Perbaikan genetik dari tahun ke tahun terus terjadi. Kalau kita tidak mau berubah menyiapkan potensi terbaik dari broiler modern maka sayang sekali. Kita harus mengenali broiler modern, kebutuhan-kebutuhan dasarnya sehingga kita bisa membantu mencapai potensi terbaiknya,” kata Animal Health Service Central & East Java Sreeya Sewu Indonesia, Drh Sumarno, sebagai pemateri webinar “Manajemen Terbaik Broiler Modern untuk Performance yang Optimal”, yang diadakan Sreeya, Jumat (17/9/2021).

Webinar tersebut juga menghadirkan Head of Sales Outer Island, Amin Zarkasie sebagai keynote speaker dan Managing Director Ali-Baba Poultry Group, Herri Komala sebagai moderator.

Drh Sumarno
Drh Sumarno

Untuk memaksimalkan potensi broiler modern yang harus dilakukan adalah membuat ayam nyaman dan sehat. Selain pakan dan minum, dibutuhkan protokol kesehatan yang khusus. Sumarno menyebut, “Mulai saat DOC datang idealnya diberikan antibiotik untuk pencegahan penyakit, mengurangi kontaminasi misal dari hatchery. Hari 1-3 diberi antibiotik yang targetnya lebih ke pernapasan, sehingga potensi kontaminasi bakteri berkurang.”

Tempat tinggal ideal broiler modern adalah kandang closed house. Ke depannya closed house bukan lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan. Kelebihan closed house bisa memanipulasi suhu sesuai kebutuhan ayam, karena ayam mempunyai kebutuhan standar suhu efektif yang berbeda-beda. Apalagi ayam tidak memiliki kelenjar keringat, sehingga kandang harus mempunyai ventilasi yang baik.

Langkah Persiapan Kandang

Sekitar 70% keberhasilan pemeliharaan broiler modern ditentukan oleh persiapan kandang. Bakteri, virus, jamur dan patogen tidak bisa dihindari. Karena itu dibutuhkan persiapan kandang sesuai kebutuhan broiler modern, adapun langkah-langkahnya:

  1. Hari -31: Tebar racun tikus di sekitar kandang, bahan: racumin, target: tikus terkendali, dilakukan saat panen atau pertengahan panen.
  2. Hari -26: Spray insektisida di luar kandang dalam radius 3 m dari kandang, bahan: kel. biochlor metyl, target: mencegah penyebaran kutu franky keluar kandang, dilakukan 5-7 hari sebelum ayam habis.
  3. Hari -15: Spray insektisida di permukaan kotoran ayam saat ayam habis, bahan: kel. biochlor metyl, target: membunuh semua kutu franky, dilakukan kipas dalam keadaan off dan inlet tertutup, setelah spray biarkan semalam.
  4. Hari -15: Angkut kotoran ayam, alat: karung bekas, target: kandang bersih dari sisa-sisa litter dan kotoran ayam segera dikeluarkan dari kandang.
  5. Hari -13: Spray insektisida di semua bagian ruang kandang, bahan: kel. biochlor metyl, target: bunuh semua kutu franky, biarkan selama 3-6 jam.
  6. Hari -13: Semprot/tuangkan soda api ke semua permukaan lantai, bahan: soda api, target: kontrol jamur, telur cacing, virus dan ookista (koksi). Hindarkan terkena logam karena soda api bersifat korosif, biarkan 15-30 menit.
  7. Hari -12: Cuci semua bagian kandang dan peralatan kandang, gunakan air bersih, target: bersih dari sisa-sisa kotoran dan debu.
  8. Hari -11: Disinfeksi pertama menggunakan golongan aldehid, target: membunuh semua mikroorganisme patogen.
  9. Hari -10: Mengapur lantai menggunakan kapur (bisa dilakukan/tidak).
  10. Hari -9: Tabur sekam dengan tebal minimal 5 cm, gunakan sekam yang telah di-treatment.
  11. Hari -9: Disinfeksi kedua menggunakan golongan aldehid, target: membunuh semua mikroorganisme patogen.
  12. Hari -8: Pasang brooding dan baby chick feeder. Density 40 ekor/m2, rasio 1:40, pasang alas koran.
  13. Hari -8: Setting pemanas, rasio 1:10.000 ekor, sensor dibersihkan dari debu.
  14. Hari -7: Fumigasi menggunakan bio PK dan formalin, target: membunuh semua mikroorganisme patogen, berhati-hati (mudah terbakar).
  15. Hari -7: Pasang racun tikus di tempat tertentu jauh dari ayam, gunakan racumin, target: tikus terkendali.
  16. Hari -6: Swab test di lab, target: bebas kontaminasi bakteri dan jamur minimal 90%.
  17. Hari -6: Istirahat kandang, tak ada kegiatan dalam kandang, semua pintu kandang dikunci.

Evaluasi keberhasilan persiapan kandang dilihat dari hasil pemeriksaan swab dengan tingkat bebas kontaminasi bakteri dan atau jamur >90%, tidak ditemukan kutu franky di kandang dan tidak ditemukan tikus di kandang.

Tips DOC Chick-In

Saat DOC datang ukur suhu internal tubuh, dimana suhu ideal berkisar 39,5-40,6° C. Pengukuran suhu dilakukan melalui kloaka/rektal atau pusar dan dilakukan setelah bulu fluff kering. Jika suhu di bawah standar bisa jadi ayam dehidrasi, maka air minum bisa ditambahkan elektrolit.

Kemudian hitung keseragaman dan body weight (BW) rata-rata DOC, caranya ambil 10% jumlah boks dari per pengiriman lalu ambil 25 ekor per boks untuk ditimbang BW tiap ekornya (satu per satu). Dapatkan BW rata-rata lalu tambahkan 10% sebagai batas atas dan kurangi 10% sebagai batas bawah.

Misal BW rata-rata 40 gram, berarti batas bawah 36 gram dan batas atas 44 gram. Hitung DOC yang beratnya 36-44 gram lalu dibagi jumlah total sampling, maka didapat % keseragaman. Targetnya BW DOC rata-rata >35 gram dan keseragaman >72%.

Jika minggu pertama nanti turunnya keseragaman tidak lebih dari 4% berarti menjadi awal yang bagus, namun apabila turun lebih dari 4% manajemen perlu ditingkatkan.

Rekomendasi: produk DOC Sreeya

Tips Masa Brooding (Umur 1-14 Hari)

Lakukan pengecekan selama 24 jam pertama dan satu minggu pertama untuk mengetahui tingkat kenyamanan dan perkembangan ayam. Untuk 24 jam pertama cek suhu apakah memenuhi standar.

Cek juga feed intake dengan meraba tembolok, di atas 12 jam idealnya 60-70% full dan 24 jam idealnya 100% full, dengan tekstur makanan seperti bubur tidak keras.

Target yang harus dicapai suhu tubuh (kloaka) 39,5-40,6° C. Feed intake 24 jam pertama >25% dari BW DOC dan water intake 2x Fl. Total deplesi tujuh hari pertama <0,9%. Pencapaian BW hari ketujuh >4,5 x BW DOC dan turunnya keseragaman <4%. RG hari ketujuh >350. Pencapaian BW hari ke-14 >11 x BW DOC dan deplesi <1,6%.

Setting-an brooding sebaiknya chick guard berbentuk bulat/melingkar, karena jika berbentuk kotak ayam berpotensi berkumpul di sudut-sudut. Sedangkan suhu sekam ideal 32° C.

Dibutuhkan suhu tubuh tertentu dan stabil untuk performa dan kenyamanan ayam. Suhu terlalu rendah maka ayam akan mengumpul (tidak makan dan minum, tidak tumbuh), ayam mengeluarkan energi untuk memanaskan tubuh (FCR boros). Jika suhu terlalu tinggi maka ayam panting (FCR boros) dan ayam tidak mau makan (pertumbuhan terganggu).

Suhu tubuh yang tidak optimal dan tidak stabil dapat memengaruhi daya tahan tubuh ayam. Suhu berhubungan dengan penyerapan kuning telur. Dari induknya ayam mewarisi kekebalan via kuning telur yang harus diserap sempurna agar terjadi kekebalan yang baik. Salah satu yang membantu penyerapan dengan baik adalah ayam terpenuhi kebutuhan suhunya. Penyerapan kuning telur maksimal dalam 14 hari harus 100%.

Pakan ayam broiler Sreeya Sewu Indonesia
Pakan ayam broiler Sreeya Sewu Indonesia

Suhu Efektif

Ayam harus terpenuhi suhu efektifnya, suhu efektif adalah suhu yang dirasakan ayam. Standar umur dan suhu:

  • 0 hari: 30-33° C.
  • 1-2 hari: 30-32° C.
  • 3-4 hari: 30-31° C.
  • 5-7 hari: 30° C.
  • 8-11 hari: 29° C.
  • 12-16 hari: 28° C.
  • 17-20 hari: 27° C.
  • 21-25 hari: 26° C.
  • 26-30 hari: 25° C.
  • 31 hari-panen: 24° C.

Kunci mengoptimalkan potensi broiler modern adalah ayam nyaman dan sehat, salah satu ukurannya adalah ayam mendapatkan kebutuhan suhu efektifnya.

Tips Manajemen Air

Suhu ideal air minum untuk broiler modern adalah 13° C dan standar debit air minum untuk nipple:

  • 0-7 hari: 40 ml/menit.
  • 8-14 hari: 50 ml/menit.
  • 15-21 hari: 60 ml/menit.
  • 22-28 hari: 70 ml/menit.
  • 29 hari ke atas: 90 ml/menit.

Manajemen Saat Kondisi Panas (Heat Stress)

Salah satu akibat heat stress, organ utama yang mengatur kekebalan tubuh seperti limpa, thymus dan bursa mengalami penyusutan. Panas dan stres memicu hormon corticosterone yang tinggi yang dapat mengganggu fungsi kekebalan tubuh dan jaringan limfoid. Akibat heat stress, duodenum dan jejunum mengalami kerusakan villi usus yang sangat signifikan.

Dari aspek pakan yang bisa dilakukan adalah menurunkan protein kasar dan menaikkan asam amino pakan, yang mana bisa membantu penyerapan nutrisi pada ayam.

Dari aspek farm, peternak bisa merubah electrolyte balance (keseimbangan elektrolit):

  • Cek suplai air minum (ad libitum), pemberian air minum dengan suhu yang lebih dingin bisa membantu mengurangi heat stress dan improve ADG (Average Daily Gain).
  • Penambahan elektrolit pada air minum (penambahan sodium bicarbonate/soda kue) sekitar 0,25% atau 1 gram/liter air, akan menurunkan suhu. Juga kotoran menjadi lebih kering sehingga amonia lebih rendah.
  • Tambahkan vitamin C (ascorbic acid) pada air minum 150 mg/liter atau 200-400 mg/kg di pakan.
  • Hindari pemberian pakan saat kondisi panas, pakan lebih baik diberikan saat kondisi udara dingin.
  • Pemberian kipas untuk mengalirkan udara.

Tips Agar Kotoran Ayam Lebih Kering

Sumarno kembali menjelaskan jika kotoran ayam kering, maka amonia akan berkurang. Hal itu bagus karena amonia yang terlalu tinggi akan berdampak negatif pada ayam.

Tips agar kotoran ayam lebih kering adalah dengan memberikan probiotik (bakteri baik). Namun sebaiknya probiotik dipilih dari golongan chicken origin bacteria, bakteri baik yang diambil dari usus ayam.

“Bakteri baik dari tanaman waktu adaptasinya lebih lama. Konsep di usus ayam antara bakteri baik dan bakteri jahat itu terjadi kompetisi, dengan cara mengeluarkan toksin agar bakteri lain tidak tumbuh optimal. Bakteri yang berasal dari tanaman kalah start di adaptasinya,” kata Sumarno mengakhiri presentasinya. “Semuanya baik, tapi yang membedakan adalah proses adaptasinya.” (ADV/NDV)

JANGAN SAMPAI LAYER KEKURANGAN NUTRISI

Penuhi Kebutuhan Nutrisi Agar Performa Optimal


Memenuhi kecukupan nutrisi ayam layer merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh peternak agar performa ternaknya maksimal. Namun sayangnya tidak semua peternak paham dan dapat memenuhi nutrisi ternaknya, ancaman penyakit dan performa yang anjlok pun kerap menghantui peternak akibat tidak terpenuhinya nutrisi.

Dengan tujuan untuk mengedukasi dan menambah wawasan di bidang tersebut, PT Medion melangsungkan technical education melalui daring instagram secara livestreaming pada Rabu (6/10). bertindak sebagai narasumber yakni Hindro Setiawan dan dimoderatori oleh Drh Amir Muhammad.

Dalam presentasinya Hindro Setiawan dari dvisi technical education & consultation PT Medion memaparkan beberapa hal penting terkait komponen nutrisi yang mutlak harus dipenuhi oleh peternak agar ternaknya sehat dan produksinya maksimal.

Ia juga menyinggung beberapa unsur esensial yang luput dipenuhi kebutuhannya dalam pakan seperti Ca, Mg, dan vitamin D. Akibatnya ayam yang mengalami defisiensi akan menunjukkan kelainan pada kualitas telur.

"Kadang kalau kualitas telur menurun, kerabang tidak sempurna, kita sudah curiga duluan dengan penyakit EDS, AI, dll. Padahal yang sering luput adalah kurangnya nutrisi terutama mineral dan vitamin D, ini sering kita temui di lapangan," tutur Hindro.

Ia juga menyinggung terkait kualitas bahan baku pakan yang bisa saja tercemar toksin. Untuk itu dirinya menghimbau kepada peternak agar tidak segan mengujikan sampel pakan maupun bahan bakunya ke laboratorium Medion agar lebih terjamin kualitasnya.

Sesi tanya jawab pun berjalan sangat interaktif dimana para peserta dapat lebih memahamai permasalahnnay dengan mudah dan solutif. Selain itu Medion juga membagikan doorprize menarik bagi para peserta yang beruntung. (CR)


ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer