-->

MELURUSKAN MISPERSEPSI KERACUNAN MASSAL MBG

Telur dan daging ayam broiler memiliki kandungan gizi yang menyehatkan tubuh. (Foto: Gemini)

Di tengah banyaknya kasus keracunan massal dalam Makan Bergizi Gratis (MBG), telur dan daging ayam broiler masih dianggap sebagai salah satu penyebab. Padahal, hasil pemeriksaan uji laboratorium membuktikan ada pemicu lain dalam kasus ini. Apa itu?

Kasus keracunan massal yang menimpa 411 pelajar dan santri akibat konsumsi telur dalam Makan Bergizi Gratis (MBG) di Mojokerto, Jawa timur, beberapa waktu lalu cukup heboh. Dalam kasus yang terulang terjadi ini, telur dianggap sebagai salah satu penyebab para pelajar keracunan. Dalam kasus di tempat lain juga daging ayam pernah dianggap menjadi penyebab.

Dalam kasus keracunan yang terjadi selama ini, seoalah-olah dua makanan sumber protein hewani tersebut menjadi “tersangka”. Namun apa sebenarnya yang terjadi? Hasil pemeriksaan laboratorium menyebutkan ternyata penyebab utamanya adalah cara mengolah dan penyajian telur ayam dari pihak Dapur MBG yang menjadi penyebab para pelajar keracunan.

Telur rebus yang sudah basi karena terlalu lama jeda dalam menyajikan MBG menjadi pemicu pelajar keracunan. Artinya, bukan telurnya yang menjadi penyebab. Telur ayam tetap menyehatkan, meskipun pakan ayam yang digunakan adalah pakan pabrikan. Pakan pabrikan ayam, bukan sumber racun pada telur dan daging ayam yang dihasilkan.

“Pakan untuk ayam yang akhirnya jadi telur dan daging berasal dari bahan baku pakan yang aman untuk dikonsumsi. Semua bahan yang ada dicampur sehingga memenuhi kebutuhan gizi yang dibutuhkan oleh ayam baik petelur maupun pedaging,” ujar Yahya Munirudin, ahli pakan ternak kepada Infovet.

Memang aroma pakan pabrikan untuk ayam menyengat dan khas. Seperti ada aroma obat-obatan yang kurang nyaman saat tercium hidung. Aroma inilah yang dianggap sebagian orang bahwa pakan ayam pabrikan mengandung obat-obatan. Artinya, daging ayam broiler dan telur yang dihasilkan juga dianggap mengandung obat.

Kalau tak ada edukasi yang baik dan tepat, bisa jadi isu ini bakal membuat orang makin khawatir makan daging dan telur ayam. Orang yang semula sedikit mengonsumsi telur akan berhenti total. Ini yang perlu diluruskan.

Menurut Yahya, secara umum bahan baku pakan ayam berasal dari dua sumber, yaitu hewan dan tumbuhan. Untuk bahan pakan yang bersumber dari hewan antara lain tepung ikan, tepung tulang, dan lainnya. Sedangkan untuk bahan pakan ayam yang bersumber dari tumbuhan seperti kedelai, jagung, umbi-umbian, bekatul, dan lainnya. Sebagai pelengkap, pakan ayam juga ditambahkan vitamin dan zat pengawet pakan, yang semuanya aman.

“Untuk menghasilkan kualitas pakan yang baik, bahan pakan di pabrikan diseleksi dengan ketat. Bahan baku yang mengalami kerusakan, misalnya jagung yang sudah berjamur, sudah pasti ditolak masuk ke pabrik pakan,” ujarnya.

Ketatnya seleksi bahan pakan untuk ayam menjadi jaminan keamanan bagi produk daging dan telur ayam yang akan dikonsumsi oleh manusia. Ahli pakan ternak ini juga memastikan bahwa industri pakan ayam memiliki alat pendeteksi berteknologi tinggi untuk menjamin bahan pakan yang akan diolah memiliki kualitas yang baik atau sebaliknya.

Melalui Proses Roasting
Dalam proses pengolahan, menurut Yahya, industri pakan juga melakukan perlakuan khusus terhadap bahan-bahan yang akan digunakan sebagai pakan olahan. Ia memberi contoh, sebelum diolah menjadi pakan jadi, kedelai dimatangkan terlebih dahulu, seperti melalui proses roasting. Proses ini bertujuan untuk menonaktifkan zat anti nutrisi yang ada di kedelai.

Dari sisi bahan pembuatan pakan sudah aman. Namun bagaimana dengan obat-obatan dalam proses pembuatan pakan? Pertanyaan ini juga masih bersarang di benak sebagian orang. Terjaminnya kualitas bahan pembuatan pakan ayam pabrikan, sebanding dengan harga produknya yang dianggap mahal oleh para peternak.

“Dari sisi proses pembuatan pakan, pabrik pakan tidak menggunakan obat-obatan sebagai bahan campuran. Tentang hal ini sudah diatur larangannya oleh pemerintah dalam penggunaan obat-obatan yang bisa berdampak pada kesehatan manusia yang mengonsumsiya. Permentan No. 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan, sejak 1 Januari 2018 Pemerintah melarang penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) dalam pakan,” jelasnya.

Ia menambahkan, bahan pakan diawasi dengan ketat sebelum diproses menjadi pakan. Quality control pakan pada industri dilakukan sejak pemasukan bahan pakan sampai menjadi produk akhir pakan. Untuk penggunaan obat-obatan hanya diberikan kepada ayam jika sakit. Tentu saja harus seusai aturan pakai. Makanya di kemasan obat-obatan biasanya disertakan peringatan “Harus dengan resep dokter hewan”.

“Penggunaan obat-obatan pengawasannya sudah ketat, tidak bisa sembarangan. Dan setiap pabrik obat hewan pasti ada dokter hewannya, sebagai penanggung jawab produk obatnya,” katanya.

Lupakan Mitos Buruk
Dari pemaparan proses dan sumber bahan pakan unggas yang disampaikan ahli pakan ternak tersebut, dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi hasil akhir ternak unggas berupa daging dan telur ayam yang menggunakan pakan pabrikan tetap menyehatkan. Tak perlu ada yang dikhawatirkan tentang kandungan nutrisinya.

Sudah saatnya masyarakat mengabaikan berbagai mitos buruk yang berkembang tentang makan telur dan daging ayam. Di era digital sekarang ini, bisa dengan mudah untuk mendapatkan informasi yang tepat tentang kandungan nutrisi pada telur dan daging ayam. Carilah informasi dari sumber yang dipercaya dan lupakan hasutan orang-orang yang mengatakan bahwa telur dan daging ayam broiler itu berbahaya bagi kesehatan.

Perlu dipahami bahwa satu butir telur atau sepotong daging ayam, memiliki kandungan gizi luar biasa yang sangat dibutuhkan tubuh. U.S. Soybean Export Council, dua tahun lalu pernah merilis data yang menarik untuk disimak. Satu porsi telur (100 g) memiliki kandungan Vitamin D, memenuhi sekitar 10-60% dari nilai Recommended Dietary Allowances (RDA) negara-negara di Asia Tenggara. Mirip dengan telur, daging ayam adalah kaya juga akan vitamin D, dengan setiap 100 g dada ayam diperkirakan memiliki 0,29 g vitamin D.

Vitamin D mempromosikan pengaturan jumlah kalsium dan fosfat yang diserap tubuh, dan mendukung perkembangan tulang yang sehat. Selain itu, vitamin D mendukung fungsi normal sistem kekebalan tubuh, yang merupakan garis pertahanan pertama tubuh terhadap infeksi. Oleh karena itu, individu didorong untuk mengeksplorasi kemungkinan peningkatan asupan vitamin D melalui konsumsi daging dan telur.

Sementara itu, 100 g dada ayam mengandung 13,3 mg vitamin B3 dan 0,6 mg vitamin B6. Di sisi lain, satu porsi telur (100 g) memiliki 0,01 mg vitamin B3 dan 0,2 mg vitamin B6. Direkomendasikan Nilai Nutrient Intake (RNI) untuk vitamin B3 adalah 16 mg untuk sebagian besar negara Asia Tenggara, sedangkan nilai untuk vitamin B6 berkisar 1,2-1,7 mg.

Oleh karena itu, kandungan vitamin B3 dan B6 yang tinggi terdapat pada telur dan daging unggas dapat dengan mudah memenuhi nilai RDA/RNI sebagian besar negara di kawasan ini. Vitamin B3 berfungsi dalam berbagai sistem enzim intraseluler, termasuk yang terlibat dalam energi produksi. Sedangkan vitamin B6 memainkan peran penting dalam fungsi sekitar 100 enzim yang mengkatalisis reaksi kimia penting dalam tubuh manusia. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

KANDUNGAN PURIN HATI AYAM TERTINGGI, MITOS ATAU FAKTA?

Jangan konsumsi berlebihan, karena kandungan purin yang tinggi dalam hati ayam dapat menyebabkan gejala asam urat. (Foto: Shutterstock/istetiana)

Sarapan bubur ayam terasa lebih nikmat jika dipadukan dengan sate hati ayam. Namun di balik rasanya yang nikmat, olahan organ ini menjadi pemicu penyakit yang membuat persendian sangat nyeri. Benarkah hati ayam mengandung purin kadar paling tinggi?

Setiap Minggu pagi, di kawasan perumahan elit Shila Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, selalu dipenuhi warga yang berolahraga. Di antara kerumunan orang-orang di kawasan tersebut, tampak seorang pria paruh baya yang juga mengenakan kaos, celana pendek, dan bersepatu olahraga. Hanya saja, dia menggunakan kursi roda yang didorong oleh seorang perempuan yang lebih muda.

Sesekali pria tersebut turun dari kursi roda, lalu jalan berjingkat beberapa langkah, lalu duduk lagi di kursi roda sambil merintih. “Asam urat saya lagi kambuh, tapi saya coba paksa tetep olahraga sebisanya,” tutur Marzuki, nama pria paruh baya itu kepada Infovet.

Pensiunan karyawan sebuah bank swasta ini mengaku sudah tiga bulan lebih terserang asam urat. Kadang sembuh, kadang kumat lagi. Di saat kambuh, pergelangan kaki terasa nyeri tiada tara, begitu keluhnya. Hanya obat generik yang rutin diminum setiap hari jadi peredanya.

Apa gerangan penyebabnya? “Asam urat saya sudah melewati ambang batas. Dokter bilang sih, saya terlalu banyak konsumsi makanan yang banyak mengandung purin. Mungkin yang dimaksud ati ayam, karena saya hobi banget makan ati ayam,” ujarnya.

Sejak pensiun setahun lalu, hampir setiap pagi ia mengaku sarapan bubur ayam. Sate hati dan ampela ayam pasti menjadi pendamping menu sarapannya. Sekali makan bisa habis lima tusuk, makan bubur ayam tanpa sate hati-ampela kurang nikmat, begitu ceritanya.

Sebelum konsumsi rutin hati ayam, Marzuki mengaku hampir tak pernah terkena sakit asam urat. “Makanya, kalau dulu olahraga bisa lari atau jalan cepat. Sekarang harus pakai kursi roda, asam uratnya sering kambuh. Tapi tetap saya paksakan olahraga pagi sebisanya,” tuturnya.

Apa yang dialami Marzuki bisa jadi dialami juga oleh banyak orang. Meski tiap orang memiliki daya tahan tak sama terhadap kadar purin dalam tubuh, namun makanan yang menjadi sumber penyakit ini sebaiknya dihindari. Sekali terserang, rasa nyeri di persendian tak berkesudahan.

Literatur kesehatan yang dimuat situs Rumah Sakit Tirta Medica Centre, di Jakarta, menyebutkan asam urat atau gout merupakan salah satu bentuk radang sendi yang dapat menyebabkan nyeri hebat dan bengkak pada persendian. Kondisi ini terjadi ketika kadar asam urat dalam darah meningkat di atas batas normal, yaitu 3,4-7,0 mg/dL pada laki-laki dan 2,4-6,0 mg/dL pada perempuan.

Asam urat terbentuk ketika tubuh memecah senyawa purin yang berasal dari makanan atau diproduksi secara alami oleh tubuh. Indonesia menempati posisi keempat dunia dengan prevalensi penyakit asam urat tertinggi. Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hiperurisemia di Indonesia mencapai 81%, dengan lebih dari 355 juta penderita di seluruh dunia.

Literatur kesehatan lainnya, tulisan dr Alvin Nursalim, ahli nutrisi di Jakarta, yang dimuat sebuah di media online nasional menyebutkan hati ayam termasuk kelompok jeroan. Hati ayam, dalam 100 gram mengandung 116 kkal kalori, 345 mg kolesterol, serta 4,83 gram lemak. Jeroan dapat menjadi penyebab utama terjadinya peradangan pada sendi.

Orang yang mengalami radang sendi disarankan tidak mengonsumsi jeroan karena dapat memperparah keluhan. Kandungan purin yang tinggi dalam hati ayam juga dapat menyebabkan gejala asam urat. Di sisi lain, hati ayam memang kaya akan vitamin B, seperti vitamin B12 dan folat. Makanan ini juga tinggi mineral, termasuk zat besi, magnesium, dan selenium, serta vitamin-vitamin penting yang larut dalam lemak, seperti vitamin A, D, E, dan K.

Tak hanya hati ayam, sumber purin penyebab asam urat juga ada pada hasil laut. Beberapa jenis makanan laut, seperti kerang, udang, dan teri diyakini menjadi pemicu asam urat karena memiliki kadar tinggi purin. Dari literatur tadi disebutkan, dari semua jenis tersebut, ikan teri kering mengandung purin paling tinggi, mencapai 1.108,6 mg per 100 gram.

Tetap Bernutrisi 
Kehati-hatian mengonsumsi hati ayam juga sudah sering disampaikan oleh para ahli gizi melalui artikel atau berita di berbagai media. Ahli nutrisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Budi Setiawan MS, juga membenarkan bahwa hati ayam memiliki kandungan purin yang tinggi. Menurutnya, hati ayam per 100 gram mengandung 312,2 mg purin dan dikategorikan sebagai makanan dengan kadar purin sangat tinggi. Dengan demikian, kandungan tinggi purin dalam hati ayam bukanlah mitos.

Menurut dosen dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University, olahan hati ayam paling sering dikonsumsi masyarakat Indonesia karena rasanya nikmat. Akan tetapi, menurutnya, mengingat hati ayam juga berfungsi sebagai penyaring berbagai racun tubuh, organ ini termasuk dalam bahan makanan yang tidak sehat.

Namun demikian, hati ayam tetap memiliki kandungan nutrisi baik. Dalam hati ayam terdapat beberapa nutrisi yang menyehatkan seperti vitamin A, B12, D, E, dan K. Yang penting, pakar gizi ini menyarankan agar tidak mengonsumsi terlalu sering.

Ia menjelaskan, hati ayam mengandung kandungan lemak dan kolesterol yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering, bisa membuat kadar asam urat di dalam darah bisa meningkat. Hal ini tentu akan membuat risiko terkena penyakit asam urat ikut meningkat, mengingat zat purin semakin menumpuk di persendian. Karena alasan ini pulalah penderita asam urat tidak disarankan mengonsumsi hati ayam.

Tak hanya menyebabkan asam urat, jika dikonsumsi berlebihan, hati ayam bisa meningkatkan risiko terkena tekanan darah tinggi. Hal ini disebabkan kadar kolesterol di dalam hati yang bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat di dalam darah.

“Ini tentu akan memicu penumpukan plak pada pembuluh darah dan bisa menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Yang menjadi masalah adalah hipertensi bisa berimbas pada meningkatnya masalah penyakit jantung yang mematikan. Melihat adanya fakta ini, ada baiknya memang kita tidak sering-sering mengonsumsi hati ayam,” ujarnya.

Jangan Berlebihan
Budi tak menampik tentang anggapan bahwa konumsi daging juga menyebabkan seseorang terserang kolesterol. Akan tetapi jika membandingkan secara langsung antara daging dan hati, tentu saja akan ada perbedaannya.

Dari sisi kandungan gizi, hati sebagai jeroan memiliki kandungan kolesterol dan lemak lebih tinggi ketimbang daging. Selain itu, jeroan juga memiliki purin yang tinggi atau yang lebih dikenal dengan asam urat.

“Tapi lagi-lagi, kalau kita hanya mengonsumsi dalam batas wajar, misalnya hanya makan satu porsi, maka tidak perlu terlalu khawatir. Intinya, untuk makan apapun baik daging maupun jeroan tidak boleh berlebihan karena juga akan berdampak kepada kesehatan,” ujar Budi.

Termasuk dalam kebutuhan seperti vitamin dan mineral itu harus dengan ukuran yang pas. Maka itu, ada istilah angka kecukupan gizi yang harus dipatuhi. Angka kecukupan gizi merupakan batasan wajar yang perlu dikonsumsi untuk ukuran orang dewasa, anak-anak, dan ibu hamil.

“Bagi masyarakat umum, angka kecukupan gizi ini tidak mudah untuk diterapkan karena ada kebiasaan bahwa yang namanya makan harus kenyang,” kata Budi.

Menurutnya, selain hati ayam dan jeroan, masih banyak jenis makanan yang sebaiknya dikurangi jumlah konsumsinya, jika sedang menderita asam urat. Sumber makanan berupa daging merah (sapi, kambing, domba), serta daging putih tertentu (daging entok, kalkun, angsa, burung puyuh, dan kelinci) dapat menjadi penyebab asam urat. Jenis makanan ini tergolong memiliki kandungan purin sedang atau berada di atas 100 mg per 100 gram daging mentah.

Budi memberikan tips agar tetap sehat dan aman mengonsumsi olahan jeroan dan hati ayam. Pertama, jangan berlebihan. Yang jadi masalah sering kali jeroan dimasak dengan menggunakan santan, ini yang mengundang risiko, karena semakin bertambahnya kandungan lemak dan kolesterol di dalamnya, termasuk kandungan purin yang tinggi.

Kedua, cara mengolah jeroan, termasuk hati ayam akan lebih aman jika direbus, bukan digoreng. Hati ayam dan jeroan lainnya yang dioleh dengan cara digoreng akan berbahaya karena minyaknya juga sudah mengandung lemak. (AK)

MENGUBAH KEBIASAAN “JAHAT” DENGAN KONSUMSI PANGAN SEHAT

Mengalihkan gaya hidup yang lebih sehat dengan mengonsumsi protein hewani. (Foto: Istimewa)

“Omelan” istri terhadap suami untuk berhenti merokok cukup kuat pengaruhnya. Lebih kuat lagi apabila ada kejadian orang terdekat yang terserang penyakit kronis gara-gara “rajin” merokok sejak usia muda. Kisah ini buktinya.

Ini kisah nyata. Sepekan sebelum Lebaran Idul Fitri 1447 H lalu, tersiar berita duka di lingkungan Perumahan Bumi Sawangan Indah, Kota Depok, Jawa Barat. Alexandri, salah satu tokoh masyarakat di perumahan tersebut meninggal dunia, akibat kanker paru-paru akut. Diagnosis dokter yang menanganinya, penyebab terberat dari penyakit yang diderita disebabkan akibat konsumsi rokok.

Mendengar cerita sakit yang diderita orang tersebut sungguh memilukan. Sebelum berpulang, istri Alexandri sempat menyampaikan kepada dokter jika suaminya sudah merokok sejak masih sekolah menengah pertama (SMP). Jika dihitung sudah lebih dari 30 tahun merokok. Berbagai merek dan jenis rokok sudah dicobanya. Kendati ajal memang sudah jadi takdir, namun hadirnya penyakit kronis umumnya disebabkan oleh kebiasaan gaya hidup seseorang.

Gegara kejadian ini, rupanya sebagian tetangga terdekat mulai sadar dan pelan-pelan meninggalkan kebiasaan merokoknya. Setidaknya, mulai mengurangi. Para istri mereka tampaknya punya peran kuat mengingatkan suami.

“Ini memang jadi peringatan buat bapak-bapak di sini, biar bisa ngurangin rokok, termasuk suami saya. Hampir tiap hari saya ingetin suami, biar berhenti merokok. Saya bilang ke suami, itu udah ada contohnya,” tutur Hanifah, warga setempat.

Ibu rumah tangga ini mengaku tak bosan mengingatkan sang suami untuk pelan-pelan mengurangi rokok. Ia khawatir dengan kesehatan suami, setelah mengetahui kejadian memilukan tersebut.

“Sampai-sampai saya kadang bilang ke suami, Ayah kapan mau berhenti merokok. Ganti rokokmu dengan ayam goreng, itu lebih sehat,” lanjut Hanifah yang sehari-hari jualan ayam goreng.

Desakan ringan Hanifah kepada suaminya memang terlihat sederhana. Mengganti kebiasaan merokok dengan konsumsi ayam goreng, atau mungkin dengan camilan lain. Tetapi kalau dicerna ucapannya, ini pesan yang penting. Mengalihkan gaya hidup beracun ke gaya hidup yang lebih sehat.

Fenomena publik Indonesia dalam urusan rokok tiap tahun makin meningkat tingkat konsumsinya. Mengutip rilis yang dikeluarkan Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT), akhir Mei 2026 lalu, jumlah perokok dewasa di Indonesia terus bertambah dalam satu dekade terakhir. Data Komnas PT menyebutkan jumlah pengguna produk tembakau di Indonesia meningkat sekitar 8,8 juta orang dalam kurun 10 tahun terakhir.

Data tersebut merujuk pada Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021, yang dirilis kembali oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan pada 2024. Hasil survei menunjukkan sebanyak 34,5% penduduk dewasa Indonesia atau sekitar 70,2 juta orang menggunakan produk tembakau. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan prevalensi merokok tertinggi di dunia.

Komnas PT menyebut Indonesia bahkan diproyeksikan menjadi salah satu dari sedikit negara yang masih mengalami peningkatan jumlah perokok dalam dekade mendatang, ketika banyak negara lain justru menunjukkan tren penurunan.

Hasil “Omelan”
Hanifah yang mengaku tak pernah bosan mengingatkan suaminya untuk berhenti merokok, mungkin satu di antara sekian banyak istri yang bijak. Peran istri cukup besar dalam menjaga dan menyadarkan suami agar hidup sehat.

“Bukan apa ya, kalau suami sakit gara-gara rokok kan yang repot semua keluarga. Bukan cuma saya, tapi anak-anak juga bisa jadi korban, bisa ketularan penyakitnya. Pengeluaran uang juga jadi lebih boros,” ungkapnya.

Hanifah bercerita, meski baru beberapa bulan, “omelannya” kepada suami lumayan membuahkan hasil. Sang suami yang karyawan perusahaan swasta di Jakarta, perlahan mengurangi rokok. Sejak itu, Hanifah pun kerap membuatkan menu ayam goreng lebih banyak sebagai pengganti rokok. Tak ada hubungannya memang antara rokok dan ayam goreng, tapi kebetulan suaminya suka dengan ayam goreng.

“Yes, alhamdulillah sudah mulai berubah, suami jarang ngerokok kalau di rumah. Tapi enggak tahu ya kalau di luar rumah, soalnya saya enggak bisa ngawasi terus,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Langkah kecil yang dilakukan ibu rumah tangga ini sebenaranya cukup efektif untuk mencegah keburukan merokok di lingkungan keluarga. Mengalihkan anggota keluarga ke jalan yang benar dan menggantinya dengan ayam goreng, telur, atau bisa dengan olahan menu lain yang menyehatkan.

Andai saja yang dilakukan Hanifah juga dilakukan oleh sebagian besar ibu rumah tangga di negeri ini, niscaya tingkat konsumsi sumber protein hewani di Indonesia bakal meningkat. Tentu saja dengan syarat, para suami mau berubah. Hingga saat ini, jika menyimak data tingkat konsumsi daging dan telur ayam di dalam negeri masih belum naik secara signifikan.

Data Kementerian Pertanian (Kementan) kuartal I 2026, menyebutkan konsumsi daging ayam di Indonesia pada 2025 tercatat mengalami tren peningkatan, mencapai rata-rata sekitar 13,21 kg/kapita/tahun. Angka ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan protein hewani masyarakat serta didukung oleh program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kementan mengklaim, rata-rata konsumsi per kapita meningkat sekitar 3% dari tahun sebelumnya, menempatkan daging ayam sebagai sumber protein hewani yang paling mendominasi di Tanah Air.

Total estimasi kebutuhan konsumsi daging ayam ras nasional mencapai sekitar 3,87 juta ton. Kebutuhan ini dapat terpenuhi dengan baik melalui produksi dalam negeri yang diperkirakan mencapai 4,25 juta ton, menjadikan pasokan daging ayam nasional surplus.

Kalau Sudah Kronis
Penyandingan antara tingkat konsumsi daging dan telur ayam dengan konsumsi rokok masyarakat Indonesia setiap tahun sering menjadi trending topik. Dua kutub yang saling berseberangan, kutub satu menyehatkan dan kutub lainnya jadi sumber penyakit. Trending topik sering terjadi di tiap pertengahan tahun, saat peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, setiap 31 Mei.

Fenomena tahunan ini juga kerap mendapat perhatian dari para pakar gizi dari berbagai perguruan tinggi. “Fenomena semacam ini memang sulit diterima akal sehat. Kebutuhan asupan gizi untuk keluarga kadang harus dikalahkan sama kebutuhan rokok yang hanya jadi candu dan sumber penyakit,” ungkap Pakar gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Erwanto kepada Infovet.

Dosen ini tak habis pikir, jika dalam sehari orang menghabiskan Rp 20.000 lebih untuk membeli rokok setiap hari. Artinya, dalam sebulan Rp 600.000 dibakar begitu saja. Ia mengamsusikan jika dibelikan telur, dengan aumsi Rp 30.000, maka sebulan dia bisa beli 20 kg telur. Keluarga sehat, gizi terpenuhi, rumah juga bersih tanpa asap rokok.

Erwanto berpendapat, masalah rendahnya tingkat konsumsi daging dan telur ayam di Indonesia bukan semata-mata karena daya beli masyarakat masih rendah. Tetapi ini terkait erat dengan gaya hidup masing-masing orang. Gaya hidup tak melulu berkaitan dengan pergi ke club malam, karaoke, minum minuman keras, membeli barang-barang mewah, atau plesiran ke tempat wisata. Tapi, merokok pun jadi bagian dari gaya hidup seseorang.

Pakar gizi ini berargumen, kalangan perokok sangat sulit untuk mengurangi jatah rokoknya. Bahkan, ketika tidak memiliki uang sekalipun, para perokok berat akan mencari cara lain untuk bisa mendapatkan rokok, entah dengan meminta atau utang ke warung tetangga.

“Artinya pokok persoalan utama adalah pemahaman masyarakat dan kebiasan sebagian masyarakat kita yang memang lebih untuk tetap merokok, bagaimana pun kondisinya,” katanya.

Sebab itu, Erwanto sependapat dengan anggapan sebagian orang bahwa merokok yang tiada henti merupakan salah satu gaya hidup buruk yang paling sulit dihentikan. Gaya hidup ini bukan hanya dilakukan orang-orang yang memiliki duit lebih, tapi juga orang-orang yang hidup pas-pasan. Orang akan berhenti merokok, biasanya kalau sudah terserang penyakit kronis. (AK)

OLAHAN BABAT YANG NIKMAT DAN MITOS MASYARAKAT

Olahan babat yang terlihat nikmat. (Foto: Istimewa)

Tak semua orang suka makan olahan babat, meskipun nikmat. Tak semua orang juga bisa mengolah babat karena butuh kesabaran dan waktu tak singkat. Jika Anda termasuk di dua-duanya, cobalah simak informasi ini.

Jarum jam tangan sudah menujuk angka 12 lewat 10 menit. Saatnya jam makan siang. Sekitaran Pasar Kawak Madiun, Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur, tampak berderet beberapa warung makan, mulai dari warung pecel, warung bakso, hingga warung soto.

Hampir semua warung ramai pembeli. Namun di antara warung-warung tersebut, satu warung terlihat dipadati pembeli. Meja makan yang tersedia hampir semua terisi pembeli. Warung Soto Jeroan Mbak Iis, nama tempat makan ini.

Berbeda dengan warung soto lainnya, warung ini memiliki menu spesial olahan jeroan sapi untuk bahan baku sotonya. Mulai dari iso, paru, limpa, hingga babat sapi semua tersedia di sini. Dengan kuah santan dan jeroan goreng sungguh mengundang selera para pelanggannya.

“Kami buka dari jam tujuh pagi sampai siang, sehabisnya dagangan saja,” tutur Iswati pemilik warung soto ini.

Menurut perempuan yang akrab disapa Mbak Iis ini, harga seporsi mulai Rp 11.000 untuk soto paru, limpa, babat, iso. Selain soto, warung ini juga menyediakan aneka gorengan sebagai pelangkap.

Olahan jeroan sapi di warung ini memang terasa empuk dan tak ada aroma amisnya. Membuktikan teknik mengolahnya sempurna. Mengolah jeroan, terutama bagian babat tak semua orang bisa. Jika tak menguasai tekniknya, babat masih terasa alot seperti handuk. Maka itu, tak semua orang doyan mengonsumsi jeroan babat, selain pertimbangan kandungan kolesterol.

Iis memberikan sekilas tips agar jeroan sapi bisa diolah menjadi menu yang nikmat. Terlebih saat ini, umat Islam baru saja merayakan Hari Raya Kurban, sisa daging dan jeroan mungkin masih tersimpan di dalam kulkas. Bisa diolah menjadi menu istimewa.

Teknik Bijak Mengolah
Dalam literatur tentang anatomi sapi disebutkan, babat memiliki struktur yang cukup kompleks. Retikulum atau perut jala memiliki permukaan yang menyerupai sarang lebah. Omasum atau perut buku memiliki lipatan-lipatan yang menyerupai lembaran buku. Sedangkan abomasum atau perut sejati memiliki permukaan yang lebih halus.

Tekstur babat yang alami cenderung alot dan memiliki aroma khas yang cukup kuat. Oleh karena itu, diperlukan teknik pengolahan khusus agar babat menjadi empuk dan tidak berbau amis saat disajikan. Proses pengolahan yang tepat akan menghasilkan babat yang lezat dengan tekstur yang kenyal namun tidak alot.

Sebelum diolah, babat perlu dibersihkan dengan baik untuk menghilangkan kotoran dan mengurangi bau amis. Pertama, cuci babat di bawah air mengalir hingga bersih. Gosok permukaan babat menggunakan tangan atau sikat halus untuk menghilangkan kotoran yang menempel.

Kedua, rendam babat dalam air garam selama 15-30 menit. Garam akan membantu menghilangkan lendir dan bau amis. Setelah direndam, bilas kembali babat dengan air bersih hingga tidak ada sisa garam. Selanjutnya, potong babat menjadi ukuran yang lebih kecil agar lebih mudah dibersihkan dan diolah.

Ketiga, rebus sebentar babat dalam air mendidih selama 5 menit, lalu buang air rebusannya. Ini akan membantu menghilangkan kotoran dan bau yang tersisa. Gosok permukaan babat dengan irisan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis yang tersisa. Lalu, rendam kembali babat dalam air dingin yang dicampur cuka atau air asam jawa selama 30 menit untuk menetralkan bau.

Proses pembersihan yang teliti, menurut Iis, akan membantu mengurangi bau tidak sedap dan membuat babat lebih higienis untuk diolah. Pastikan untuk membersihkan babat dengan seksama sebelum mulai merebus atau mengolahnya lebih lanjut.

Agar Tak Bau Amis 
Salah satu tantangan dalam mengolah babat adalah menghilangkan bau amisnya yang khas. Meski sudah dilakukan pencucian beberapa kali, terkadang bau amis masih ada. Tips yang bisa dilakukan adalah dengan merendam babat dalam air jeruk nipis atau lemon selama 15-30 menit.

Asam sitrat dalam jeruk akan membantu menetralkan bau amis. Atau gunakan daun salam, serai, dan jahe saat merebus babat. Rempah-rempah ini akan memberikan aroma harum yang menutupi bau amis.

Agar serat babat menjadi empuk, rebus babat dengan menambahkan kulit nanas. Enzim dalam nanas membantu melunakkan daging dan sekaligus mengurangi bau. Ada juga yang menggunakan teknik merebus beberapa tahap, agar tekstur babat benar-benar empuk, sebelum diolah sesuai selera.

Nutrisi dalam Babat
Dengan memilih babat yang berkualitas dan teknik mengolahnya yang tepat, akan mendapatkan hasil olahan yang lebih lezat dan aman dikonsumsi. Memang, tak semua orang menyukai olahan babat dan jeroan lainnya karena berbagai alasan.

Tetapi, meski tergolong sebagai jeroan, babat ternyata memiliki beberapa manfaat nutrisi jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Dalam beberapa literatur yang mengulas tentang nutrisi hewan, dijelaskan bahwa babat dan jeroan sapi juga merupakan sumber protein.

Babat kaya akan protein yang penting untuk pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh. Jeroan ini juga mengandung vitamin B12, penting untuk pembentukan sel darah merah dan fungsi saraf.

Babat juga merupakan sumber zat besi yang dapat membantu dalam produksi hemoglobin dan mencegah anemia. Selain itu, mengandung selenium, berperan sebagai antioksidan dan mendukung sistem kekebalan tubuh.

Jeroan ini juga merupakan sumber fosfor, yang penting untuk kesehatan tulang dan gigi. Bahkan, babat dipercaya mengandung zink yang mendukung sistem kekebalan tubuh dan penyembuhan luka.

Meski nikmat saat disantap, namun perlu diingat bahwa babat juga mengandung kolesterol yang cukup tinggi. Oleh karena itu, konsumsi babat sebaiknya dibatasi, terutama bagi mereka yang memiliki risiko penyakit jantung atau kolesterol tinggi.

Mitos Seputar Babat
Seperti halnya telur ayam, ternyata jeroan babat juga memiliki sejumlah mitos yang sudah lazim di telinga masyarakat. Ada beberapa mitos dan fakta seputar babat yang perlu diketahui.

Pertama, mitos bahwa babat sulit dicerna. Namun faktanya, jika diolah dengan benar, babat dapat dicerna dengan baik oleh tubuh. Proses perebusan yang tepat membantu melunakkan serat-serat babat.

Kedua, mitos bahwa babat selalu berbau amis. Namun, dengan teknik pembersihan dan pengolahan yang tepat, bau amis pada babat dapat dihilangkan atau diminimalkan.
Ketiga, mitos bahwa babat tidak memiliki nilai gizi. Faktanya, babat mengandung protein, vitamin B12, zat besi, dan mineral lainnya yang bermanfaat bagi tubuh.

Keempat, mitos bahwa mengonsumsi babat menyebabkan kolesterol tinggi. Namun dalam faktanya, meskipun mengandung kolesterol, konsumsi babat dalam jumlah wajar sebagai bagian dari diet seimbang tidak selalu menyebabkan kolesterol tinggi.

Kelima, mitos bahwa babat hanya bisa diolah dengan cara direbus. Tetapi dalam kenyataannya, selain direbus, babat bisa diolah dengan berbagai cara seperti digoreng garing, ditumis, atau dipanggang.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa merebus babat agar cepat empuk dan tidak berbau memang memerlukan teknik dan kesabaran. Dengan mempelajari teknik mengolah yang tepat, dapat menghasilkan olahan babat yang lezat dan berkualitas.

Yang pasti, menurut Iis, kombinasi beberapa metode dalam mengolah akan memberikan hasil yang optimal dalam menghilangkan bau amis babat. Nah, bagi yang masih belum pernah mengolah babat atau doyan makan babat, cobalah dengan teknik di atas. (AK)

PROTEIN TINGGI DI BALIK OLAHAN KAKI SAPI

Gulai tunjang, salah satu olahan dari kaki sapi. (Foto: Shutterstock/Sassi Photoworks)

Tidak semua orang mau mengonsumsi olahan kulit dan kaki sapi. Padahal, jika diolah dengan sempurna, nikmatnya luar biasa. Kandungan nutrisinya juga menyehatkan, asal tak berlebihan.

Lebaran Idul Adha tak lama lagi tiba. Aroma hewan kurban sudah tercium hampir di setiap sudut pinggiran jalan. Tak hanya kambing dan domba, sapi dari berbagai varian pun sudah mulai menghuni di kandang-kandang dadakan. Aroma kotoran kambing dan sapi memang cukup menyengat saat melintas di jalanan, namun fenomena ini menjadi hal biasa setahun sekali.

Saat hari penyembelihan hewan kurban tiba adalah saat yang paling ditunggu. Kegembiraan umat Islam menikmati pembagian daging kurban menjadi keberkahan tersendiri. Aneka olahan daging menjadi sajian istimewa di Hari Raya ini.

Di tengah melimpahnya stok daging, tak semua orang memilih untuk dijadikan olahan. Ada yang justru lebih memilih kaki sapi untuk diolah menjadi menu istimewa, seperti gulai tunjang atau olahan lainnya.

Faiz Ramadhan adalah salah satunya. Karyawan perusahaan provider seluler di Jakarta ini punya hobi masak. Sejak masih kuliah, pemilik skill IT (Information Technology) ini gemar memasak gulai kaki sapi. “Masak tunjang memang butuh waktu lama, biar tekstur kikilnya lembut. Dari dulu saya suka,” tuturnya kepada Infovet.

Selain kaki sapi, Faiz juga mengaku sering memasak kulit sapi yang ia beli di pasar. Olahannya tak beda jauh dengan gulai. Selain nikmat, menurutnya kikil sapi memiliki kandungan nutrisi cukup baik bagi tubuh. Salah satunya kandungan protein dan kolagen. “Saya sering baca artikel yang mengulas soal kandungan gizi pada kulit sapi, ternyata kandungan proteinnya cukup tinggi,” ujarnya.

Dalam sebulan, paling tidak satu kali ia memasak gulai kikil. Bahannya ia beli di pasar tak jauh dari rumahnya, di kawasan Parung, Bogor. Saat Idul Adha, biasanya ia mendapat kiriman satu kaki sapi dari panitia kurban di masjid dekat rumahnya. Ia meminta bantuan temannya untuk membersihkan bulu dan kukunya, jika sudah bersih, Faiz siap mengolahnya.

Cek Kandungan Nutrisinya
Tak semua orang mau makan olahan kaki sapi. Ada sebagian orang yang enggan dengan alasan geli ketika terpikirkan kaki sapi yang belum diolah. Apalagi jika proses mengolahnya kurang bersih, masih ada bulu dan aroma perengus yang membuat nafsu makan hilang seketika. Ada juga yang memercayai kandungan kolesterol yang tinggi, apalagi diolah dengan kuah santan.

Merujuk pada laman Fastsecret Indonesia yang mengulas seputar gizi menyebutkan, dalam 100 gram olahan kulit sapi terdapat 100 kalori, dengan rincian 40% lemak, 16% karbohidrat, dan 43% protein. Kandungan gizi yang lumayan jika diabaikan.

Menurut salah satu Dietisien di Rumah Sakit Umum Pemerintah Fatmawati, Akromah SGz RD, mengungkapkan bahwa kulit sapi merupakan sumber protein hewani yang cukup tinggi kandungannya. Dalam 100 gram kulit sapi, memiliki kandungan protein 10 gram. Ini termasuk tinggi. Sementara kandungan lemaknya tak terlalu tinggi, masih di bawah protein.

Menurut ahli gizi ini, kandungan kolesterol pada kulit sapi juga tidak terlalu tinggi. Masih aman untuk dikonsumsi dalam porsi yang wajar. “Tapi prinsipnya semua sumber pangan hewani itu mengandung kolesterol. Namun pada kulit sapi tidak terlalu tinggi dan tetap harus dijaga porsinya” ujarnya kepada Infovet.

Akromah menyebut, wajar-wajar saja apabila ada orang yang takut mengonsumsi olahan kikil, karena ketidaktahuan mereka akan kandungan gizinya. Yang terbayang hanya kandungan kolesterol yang menghantui. Bahkan ada pula yang takut terserang asam urat dan penyakit “menyeramkan” lainnya.

Namun demikian, hal tersebut hanya persepsi yang kurang tepat. “Selama porsinya wajar, tidak berlebihan, tidak masalah. Baik-baik saja konsumsi olahan kulit sapi,” tambahnya.
Banyak literatur yang menyebutkan bahwa olahan kulit sapi, baik dibuat menjadi kerupuk, gulai, maupun sop kikil memiliki kandungan protein hewani. Kerupuk kulit meskipun sudah kering dan digoreng, di dalamnya masih terkandung protein.

Protein hewani ini merupakan kandungan gizi yang baik untuk tubuh. Beberapa manfaat dari protein hewani di antaranya untuk pertumbuhan dan regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan pembentukan energi tubuh, meningkatkan ketahanan tubuh, dan meningkatkan massa otot.

Ini Dia Khasiatnya
Dalam banyak literatur tentang kesehatan, ada beberapa manfaat mengonsumsi olahan kulit sapi. Pertama, manfaat untuk elastisitas kulit. Kikil sapi punya kandungan protein berbentuk kolagen. Kolagen berguna untuk melindungi organ dalam tubuh dan membantu elastisitas kulit.

Kedua, manfaat antioksidan. Dalam kikil sapi ini juga mengandung mineral selenium yang diperlukan tubuh untuk membuat enzim selenoprotein, di antaranya enzim glutation peroksidase yang berfungsi sebagai antioksidan alami untuk membantu mencegah risiko terjadinya penyakit degeneratif yang muncul seiring dengan bertambahnya usia.

Ketiga, manfaat membantu regenerasi sel dalam tubuh. Selain kolagen, kandungan kalsium dari kikil sapi ini juga cukup besar. Nah, dengan mengonsumsi kikil sapi secara baik dan benar, maka asupan mineral seperti kalsium kalogen untuk tubuh akan tercukupi. Sehingga membuat tulang dan gigi kuat, tidak mudah kropos karena asupan kalsiumnya seimbang. Kalsium dan fosfor sangat bagus untuk perkembangan tulang. Nutrisi ini lebih tepat untuk remaja yang sedang dalam masa tumbuh kembang.

Keempat, membantu menjaga stamina. Dengan penambahan rempah seperti jahe merah pada olahan kikil sapi, dipercaya bisa membantu meningkatkan stamina yang mudah lelah. Tentunya selain jahe ada sejumlah rempah lainnya yang bisa dikreasikan seperti cabai jawa atau cabai puyang.

Bagi sebagian orang yang masih merasa geli dengan olahan kulit atau kaki sapi, bisa mencobanya dengan varian olahan yang lain. Jika tak suka dimasak berkuah, bisa diolah dengan cara ditumis atau mengonsumsinya dalam bentuk kerupuk kulit. Kerupuk tersebut terbuat dari kulit sapi dengan tambahan bumbu sehingga memiliki cita rasa yang gurih dan renyah. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

MINIMNYA KONSUMSI TELUR DAN DAGING AYAM DI TENGAH STOK BERLIMPAH, APA PENYEBABNYA?

Mengonsumsi telur dan daging ayam baik untuk gizi harian dan pertumbuhan. (Foto: Gemini)

Kajian mengenai banyak mana konsumsi telur, kerupuk, dan rokok, masih terus menjadi bahasan, sebab tiga komoditas ini memiliki harga setara. Namun dari sisi manfaat kesehatan, sangat berbeda.

Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap produksi telur dan daging ayam di 2025 naik dibandingkan 2024. Angka produksi tersebut diklaim di atas kebutuhan konsumsi nasional. Dalam sebuah kesempatan, I Gusti Ketut Astawa, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pangan dari Bapanas, menyampaikan kepada wartawan bahwa swasembada perunggasan yang produksinya relatif melebihi kebutuhan, baik telur maupun daging ayam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi telur ayam pada 2024 mencapai 6,34 juta ton. Dan, dalam Proyeksi Neraca Pangan Bapanas per 22 April 2025, produksi telur ayam di 2025 disebutkan naik 2,78% menjadi 6,52 juta ton. Angka ini melebihi kebutuhan konsumsi nasional yang sebesar 6,22 juta ton.

Lalu, berapa konsumsi telur dan ayam masyarakat Indonesia? Mengutip platform Instagram milik Bambang Suharno, digital creator, PT Gallus Indonesia Utama-Strategi & Insight Industri Peternakan, Veteriner, Akuakultur, menyebutkan bahwa konsumsi per orang Indonesia per tahun sekitar 150-200 butir telur dan 15 kg daging ayam. Masih jauh dibandingkan dengan konsumsi di negara-negara ASEAN lainnya.

Minimnya tingkat konsumsi dua makanan sumber protein tinggi ini karena alasan yang masih klasik, karena daya beli masyarakat rendah. Tapi mirisnya, konsumsi rokok di Indonesia tembus lebih dari 1.300 batang/orang/tahun, tertinggi di ASEAN, bahkan termasuk yang tertinggi di dunia. Padahal harga satu batang rokok setara dengan sebutir telur.

Informasi lainnya, berasal dari GoodStats, sebuah platform media di bawah naungan Good News From Indonesia, menyebutkan persentase pria perokok aktif di Indonesia sebanyak 73,2% per 2025, tertinggi di dunia. Artinya, saat ini hanya ada sekitar 26,8% pria Indonesia yang tidak merokok.

Tingginya angka perokok bisa membawa masalah serius dalam jangka panjang. Laporan Tobacco Atlas menyebut 268 ribu orang Indonesia meninggal tiap tahunnya akibat merokok. Beban biaya ekonomi yang ditimbulkan akibat merokok juga cukup signifikan, mencapai Rp 288 triliun/tahun.

Sebulan, Rp 750.000 Dibakar
Pola asupan gizi di masyarakat Indonesia masih memprihatinkan. Meyimak data di atas, tergambar jelas masih banyak penduduk Indonesia yang lebih memilih rokok sebagai kebutuhan dalam pengeluaran keuangan keluarga. Rokok kerap dianggap sebagai simbol keren, termasuk oleh kelompok masyarakat miskin. 

Data BPS per Maret 2025 menunjukkan rokok filter-kretek menyumbang sekitar 9,99-10,72% terhadap garis kemiskinan, baik di perdesaan maupun perkotaan. Angka ini menggambarkan pengeluaran untuk membeli rokok lebih besar dari pangan bergizi. Pengeluaran untuk rokok konsisten menempati posisi kedua setelah beras, mengalahkan belanja telur, ayam, dan sumber protein lainnya.

Data Direktorat Jenderal Kementerian Kesehatan menyebut, rata-rata perokok di Indonesia mengonsumsi 4.190 batang rokok/tahun, yang menimbulkan beban ekonomi dan kesehatan yang signifikan. Itu baru data di 2023. Bisa jadi saat ini jumlahnya lebih besar.

Selain itu, tingginya prevalensi merokok di perdesaan (30,8%) dibandingkan perkotaan (18,99%) membuat rumah tangga di desa lebih rentan miskin, karena pengeluaran tembakau. Ini menjadi lingkaran setan yang tak berkesudahan. Kenaikan belanja rokok meningkatkan peluang kemiskinan, karena dana yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga justru terpakai.

“Kondisi ini benar-benar memprihatinkan,” ujar ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yuny Erwanto PhD, kepada Infovet. Ia menyebut, fenomena semacam ini sungguh sulit diterima akal sehat. Kebutuhan asupan gizi untuk keluarga dikalahkan dengan kebutuhan rokok.

Ia pun memberikan gambaran kalkulasi kalau dalam sehari orang menghabiskan Rp 25.000 untuk membeli rokok, maka dalam sebulan Rp 750.000 dibakar begitu saja. “Tapi coba kalau dibelikan telur, dengan asmusi Rp 30.000, maka sebulan dia bisa beli 25 kg telur. Gizi keluarga bisa terpenuhi dan sehat,” ujarnya.

Guru Besar Pangan Hasil Ternak Fakultas Peternakan UGM ini menyebut, perputaran uang untuk membeli rokok hanya akan berputar pada pabrik rokok dan cukai ke negara saja. Sementara jika uang dialihkan untuk konsumsi telur atau daging ayam, perputaran uangnya sangat luas. Mulai dari petani jagung, peternak, perusahaan pakan ternak, perusahaan pembibitan, usaha pemotongan hewan, hingga jalur pasar yang melibatkan pelaku usaha.

“Artinya, semakin tinggi biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi telur atau daging ayam secara tidak langsung akan membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Kerupuk juga Masih Dominan
Pola asupan gizi lainnya sebagian masyarakat yang masih kurang tepat adalah konsumsi kerupuk. Tingkat konsumsi kerupuk di Indonesia sangat tinggi dan merata di seluruh lapisan masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan, menjadikannya makanan pendamping sehari-hari.

Merujuk data BPS pada 2022, konsumsi kerupuk di seluruh Indonesia mencapai 0,03 kg/orang/minggu. Angka tersebut lebih tinggi dari konsumsi makanan ringan lainnya. Untuk 2025, sangat memungkinkan makin tinggi jumlah konsumsinya.

Berdasarkan proyeksi dari Politeknik Kesehatan Jakarta, rata-rata konsumsi kerupuk atau keripik/kapita/minggu diperkirakan meningkat sebesar 6,56%. Data spesifik angka final per tahun untuk 2025 belum dirilis resmi BPS, namun tren menunjukkan peningkatan konsumsi bahan pangan olahan (kerupuk) secara berkelanjutan.

Ternyata, kerupuk bukan hanya digemari di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. BPS mencatat, ekspor kerupuk, keripik, peyek, dan sejenisnya dari Indonesia mencapai US$37,77 juta pada 2023. Nilainya naik 1,35% dibandingkan setahun sebelumnya. Sementara ekspor kerupuk Indonesia pada 2022 mencapai 15.925,1 ton dengan nilai US$37,36 juta. Korea Selatan menjadi negara tujuan utama ekspor kerupuk Indonesia pada 2023. Disusul negara Belanda sebesar US$8,18 juta, lalu ada Tiongkok sebesar US$5,13 juta.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, kerupuk digemari karena ragam jenisnya, harganya terjangkau, dan menjadi pelengkap wajib bagi banyak hidangan utama sebagai lauk. Kurang afdol makan tanpa kerupuk, begitu ucapan sebagian orang.

Nah, jika membandingkan kandungan nutrisi di dalam kerupuk dengan telur dan daging ayam sudah pasti selisih jauh. Telur adalah sumber nutrisi lengkap (protein tinggi, vitamin, mineral) dengan kalori terukur, sementara kerupuk didominasi karbohidrat dan lemak jenuh/trans, serta minim nutrisi penting. Sebanyak 100 g telur (sekitar dua butir) mengandung ~154 kkal dan 12,4 g protein, sedangkan 100 g kerupuk mencapai ~500 kkal dan tinggi garam.

Dari sisi kandungan lemak dan kalori, telur mengandung lemak sehat dan kolesterol. Sebaliknya, kerupuk tinggi kalori dan lemak (terutama lemak gorengan) yang berisiko menyebabkan penumpukan lemak. Telur kaya akan kolin, selenium, yodium, fosfor, besi, serta vitamin A, B, D, dan K. Kerupuk umumnya minim vitamin dan mineral, justru sering tinggi kandungan garam (natrium) yang kurang baik jika berlebihan.

Mengonsumsi telur baik untuk gizi harian dan pertumbuhan. Konsumsi kerupuk berlebih berisiko tinggi terhadap penumpukan kolori, lemak, dan gangguan ginjal. Dengan demikian, konsumsi telur jauh lebih sehat dan padat gizi dibandingkan dengan kerupuk. Kerupuk sebaiknya dikonsumsi hanya sebagai camilan sesekali, bukan sebagai makanan harian.

Dari pengeluaran atau belanja, bisa disimak dari angka sebagai berikut: Harga sebutir telur setara dengan harga satu keping kerupuk untuk sekali makan, dan setara dengan satu batang rokok. Namun dari manfaatnya, telur tentu lebih bergizi dan menyehatkan. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

PUASA, MAKAN TELUR AGAR TAK GAMPANG LELAH

Konsumsi telur saat makan sahur dan berbuka puasa sangat bermanfaat untuk menjaga kekuatan tubuh. (Foto: Istimewa)

Selama berpuasa, asupan protein dari telur sangat dianjurkan agar tubuh tak mudah lelah. Cukup dua butir saat sahur, dan dua butir saat berbuka. Kuat beraktivitas seharian. Tak percaya? Silakan dicoba.

Menjalankan ibadah puasa selain sebagai bentuk ketaatan spiritual bagi umat muslim, juga memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan tubuh, terutama terkait dengan manajemen nutrisi. Selama berpuasa, tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 14 jam.

Untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, penting untuk memperhatikan asupan gizi saat sahur dan berbuka. Makanan yang dikonsumsi sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, kentang, jagung, atau ubi, dicerna lebih lambat oleh tubuh sehingga memberikan efek kenyang lebih lama.

Meski harga kebutuhan pokok dikabarkan masih mahal, namun asupan nutrisi dalam tubuh harus tetap terpenuhi. Maka, pilihlah makanan sumber protein tinggi tapi harga murah. Selama berpuasa, asupan protein yang cukup sangat dianjurkan agar tubuh tak mudah lelah.

Salah satu sumber protein yang murah dan mudah dijangkau adalah telur. Konsumsi telur saat makan sahur dan berbuka puasa sangat bermanfaat untuk menjaga kekuatan tubuh. Menurut ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Ali Khomsan, konsumsi telur ayam dianjurkan saat berbuka dan sahur untuk semua kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa.

“Kandungan asam amino yang ada di dalam telur dan daging ayam juga cukup bagus untuk kesehatan tubuh. Asam amino berperan penting karena membantu pembentukan protein sebagai bahan dasar pembentuk sel, otot, serta sistem kekebalan tubuh,” ujar pakar gizi ini.

Kebutuhan protein harian setiap orang berbeda-beda bergantung pada usia, jenis kelamin, serta berat badan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan Peratuan Menteri Kesehatan (Permenkes) mengenai anjuran Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang bisa dijadikan acuan dalam memenuhi kebutuhan protein harian tubuh.

Dalam Permenkes tersebut dijelaskan, protein merupakan salah satu zat gizi makro yang memiliki peran penting dalam proses pembentukan jaringan tubuh. Protein turut membantu pembentukan enzim yang dapat mengoptimalkan fungsi setiap organ di dalam tubuh. Inilah yang menjadi alasan pentingnya mencukupi kebutuhan protein harian tubuh.

Sebagai salah satu zat gizi makro, protein memiliki fungsi yang cukup signifikan di dalam tubuh. Protein ini nantinya akan dicerna menjadi asam amino yang digunakan untuk berbagai macam proses di dalam tubuh. Ada sejumlah fungsi protein pada tubuh di antaranya membantu proses pembentukan sel dan jaringan tubuh yang baru, memperbaiki sel dan jaringan tubuh yang rusak, sebagai sumber asam amino, menjaga kesehatan tulang dan otot, serta mengoptimalkan sistem kekebalan tubuh.

Cara mengetahui kebutuhan protein harian dapat mengikuti anjuran AKG dari Menkes. Menurut AKG di 2019, kebutuhan protein harian setiap individu dibagi berdasarkan usia dan jenis kelamin. Berikut penjelasannya, bagi laki-laki yang sudah memasuki masa pubertas, kebutuhan protein harian cenderung bertambah dan menyesuaikan aktivitas sehari-hari. Untuk usia 10-12 tahun membutuhkan 50 gram/hari, usia 13-15 tahun 70 gram/hari, usia 16-18 tahun 75 gram/hari, usia 19-64 tahun 65 gram/hari, dan usia 65 tahun ke atas 64 gram/hari.

Sementara untuk perempuan cenderung memerlukan lebih banyak protein saat sedang dalam masa pubertas. Namun, kebutuhan protein ini akan berangsur menurun seiring pertambahan usia. Adapun kebutuhan protein perempuan per hari sesuai AKG dari Menkes yaitu usia 10-12 tahun membutuhkan 55 gram/hari, usia 13-18 tahun 65 gram/hari, usia 19-64 tahun 60 gram/hari, dan usia 65 tahun ke atas 58 gram/hari.

Dengan memperhatikan khasiat yang begitu banyak, makan telur dua butir setiap sahur dan dua butir saat berbuka, sudah mencukupi setengah kebutuhan protein harian bagi orang dewasa. Setengah kebutuhan lagi dapat dipenuhi dari sumber protein lainnya seperti kacang-kacangan, ikan, dan lainnya.

Jangan "Balas Dendam"
Pada dasarnya, kebutuhan protein harian tubuh dapat dipenuhi dengan mengonsumsi makanan tinggi protein dalam jumlah yang cukup, baik sumber protein hewani maupun nabati. Perolehan protein hewani tak harus dari telur ayam, tetapi bisa digantikan dengan telur puyuh, bebek, atau daging ayam.

Jika bosan konsumsi bahan makanan yang mengandung protein hewani, juga bisa dialihkan ke protein nabati seperti biji-bijian, kacang-kacangan, gandum, tempe, dan tahu.

Dapat disimpulkan bahwa selama menjalankan ibadah puasa, kebutuhan protein harian penting untuk dicukupi guna menyokong proses metabolisme dan pembentukan jaringan di dalam tubuh. Namun diingat, konsumsi makanan selama berpuasa juga sangat dianjurkan tidak berlebihan.

Jangan momen makan sahur dan berbuka puasa menjadi ajang "balas dendam" untuk makan sebanyak-banyaknya. Tubuh memiliki takaran dan dari sisi kesehatan berpuasa sangat menyehatkan badan.

Menurut pakar gizi, Ali Khomsan, mengonsumsi satu jenis menu secara terus-menerus memang bisa membosankan. Karena itu, variasi dalam mengolah telur sangatlah penting. Salah satunya dengan diolah dadar atau diolah menjadi menu kesukaan keluarga.

Manajemen Asupan Nutrisi 
Selama bulan puasa, dalam banyak literatur kesehatan cukup banyak anjuran pola makan saat sahur dan berbuka. Pada saat sahur, disarankan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, termasuk karbohidrat kompleks, protein hewani dan nabati, sayuran, buah-buahan, dan air putih. Selain itu, tubuh juga perlu menghindari makanan yang terlalu asin atau berminyak karena dapat menyebabkan rasa haus berlebih.

Pada saat berbuka sebaiknya minum dengan air putih untuk merehidrasi tubuh, diikuti dengan makanan manis alami seperti kurma yang kaya akan serat dan gula alami. Setelah itu, konsumsi makanan utama dengan porsi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, sayuran, dan buah.

Selain itu, untuk mencegah dehidrasi, kebutuhan cairan harian tubuh juga patut diperhatikan, yakni sekitar dua liter atau delapan gelas per hari. Pembagian waktu minum air putih dapat diatur, yakni dua gelas saat berbuka puasa, satu gelas sebelum sholat tarawih, satu gelas setelah sholat tarawih, dua gelas sebelum tidur, dan dua gelas saat sahur.

Melakukan olahraga ringan, seperti jalan kaki atau bersepeda statis, tetap dianjurkan saat berpuasa untuk menjaga kebugaran. Waktu yang tepat untuk berolahraga adalah menjelang berbuka puasa atau setelahnya, dengan intensitas yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Dengan demikian, manajemen nutrisi yang tepat selama berpuasa sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Dengan memperhatikan asupan gizi seimbang, pemenuhan kebutuhan cairan, serta aktivitas fisik yang sesuai, puasa dapat dijalani dengan optimal tanpa mengorbankan kesehatan. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

CARA “MENCURIGAI” AYAM TIREN & DAGING OPLOSAN

Ciri daging ayam bangkai, berformalin, dan/atau disuntik air. (Sumber: Buku Cara Pintar Pilih Pangan Asal Hewan)

Para pedagang nakal ini muncul memanfaatkan menipisnya stok daging ayam di pasaran. Begitu harga naik, mereka mengemas ayam tiren jadi ayam “segar” dan dijual dengan harga murah. Para pedagang nakal ini memanfaatkan ketidaktahuan konsumen.

Meluasnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah untuk anak sekolah, kaum lansia, dan balita melalui Posyandu, berdampak pada menipisnya stok daging dan telur ayam di pasar. Hasil penelusuran Infovet pada liputan edisi akhir tahun 2025 menyebutkan, menipisnya stok telur ayam di pasar-pasar tradisional, salah satunya, disebabkan para peternak mengalihkan supply daging dan telurnya ke pemilik dapur MBG.

Masyarakat tentu merasa terbantu dengan adanya program MBG bisa mengurangi pengeluaran belanja urusan dapur, meski sedikit. Namun menipisnya stok daging dan telur ayam di pasar juga berkibat naiknya harga komoditi ini.

Akhir tahun kemarin, harga telur ayam mencapai Rp 33.000/kg, padahal harga sebelumnya hanya berkisar Rp 25.000/kg. Harga daging ayam mencapai Rp 45.000/kg, padahal sebelumnya hanya berkisar Rp 33.000/kg.

Melambungnya harga kedua komoditas tersebut rupanya menimbulkan permasalahan di pasar-pasar tradisional. Tak sedikit para pedagang nakal muncul menjual daging ayam yang tak layak konsumsi. Lagi-lagi yang menjadi korban adalah pembeli. Kondisi macam ini seolah menjadi siklus yang terus terjadi.

Ada saja pedagang yang sengaja melakukan tipu-tipu dalam usahanya. Tak sedikit pedagang yang nakal dengan menyuntikkan air ke dalam daging ayam, sehingga berat melebihi dari seharusnya. Ada juga yang menjual karkas ayam yang menggunakan formalin.

Ada pula yang memanfaatkan ayam yang sudah mati sebelum dipotong (tiren, ayam mati kemarin-red), menjadi menu olahan atau dijual dalam bentuk karkas. Karkas ayam tiren biasanya diolesi dengan bahan kimia tertentu, sehingga kelihatan seperti ayam baru dipotong. Tipu-tipu kualitas daging semacam ini hampir setiap waktu terjadi.

“Saya juga pernah mengalami kejadian seperti ini. Beli ayam di pasar kelihatannya dari luar bagus. Begitu sampai di rumah, waktu di masak baru keluar bau busuknya,” tutur Lilik Utami, warga Komplek Bumi Sawangan Indah, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, kepada Infovet.

Ketidaktahuan Wartini akan kualitas daging ayam menyebabkan ia percaya saja dengan pedagang di pasar. Ia mengaku, sebenarnya ia sudah agak curiga dengan ayam yang akan dibeli, warnanya agak gelap dan kemerahan, tidak seperti biasanya. Bau busuknya juga sedikit tercium.

Tapi, karena lingkungan di pasar tradisional memang bau menyengat, ibu rumah tangga ini tidak ingin buruk sangka. Apalagi harga daging ayam tersebut lebih murah dibanding di bakul lainnya, Lilik pun tergoda untuk membelinya.

“Dalam masalah seperti ini memang dibutuhkan kejujuran para pedagangnya. Jangan menipu pembeli,” ujar Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Ir Edi Suryanto MSc PhD IPU.

Upaya tipu-tipu menjaul daging unggas maupun daging sapi, menurutnya, sudah berlangsung lama, bahkan berulang-ulang terjadi. Ada sekelompok orang yang secara sengaja memaksakan kehendak dalam mencari rezeki secara tidak halal. Karena itum dibutuhkan kepintaran dari konsumen untuk lebih teliti dan hati-hti dalam membeli produk protein hewani.

Agar Tidak Tertipu
Menurut Buku Cara Pintar Pilih Pangan Asal Hewan yang diterbitkan Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH), Kementerian Pertanian, ada beberapa yang perlu dikenali untuk memastikan daging ayam aman dan tidak ada tipu-tipu.

Ciri-ciri daging ayam yang baik menurut para peneliti yang menyusun buku ini adalah warna daging ayam putih kemerahan dan cerah. Bau tidak menyimpang (tidak berbau amis, menyengat, dan asam). Permukaan daging terlihat lembap (tidak kering dan tidak basah).

Selain itu, permukaan daging ayam juga tampak bersih dan tidak ada darah. Serabut daging relatif halus. Kadang daging menyatu dengan kulit. Untuk karkas dalam bentuk beku (frozen), daging ayam disimpan dalam kondisi dingin (1-10 °C). Sementara untuk daging ayam yang sudah tergolong bangkai (mati tanpa disembelih), pada bagian permukaan karkas terlihat warna kemerahan (seperti memar).

Ciri lainnya, cobalah perhatikan pada bagian pangkal sayapnya. Pembuluh darah pada pangkal sayap berwarna biru kehitaman karena berisi darah. Konsumen juga perlu perhatikan pada pembuluh darah di balik kulitnya. Pembuluh darah kapiler terlihat jelas (merah kehitaman). Perhatikan juga pada daging di balik kulitnya, terdapat warna kemerahan pada daging (seperti memar).

Daging Ayam Berformalin
Bagaimana dengan daging ayam berformalin? Ayam berformalin adalah karkas/daging ayam yang mengandung formalin yang diberikan melalui suntikan ke dalam daging atau pencelupan daging ke dalam larutan formalin.

Konsumen bisa memperhatikan pada bagian leher, ada pembuluh darah yang tidak terpotong. Permukaan potongan saluran napas (trakea), saluran makan (esofagus), dan pembuluh darah rata, pembuluh darah terisi darah dan berwarna kehitaman (gelap).

Masih dalam Buku Cara Pintar Pilih Pangan Asal Hewan, pada ayam yang berformalin jika dicubit bagian kulitnya (dianjurkan menggunakan sarung tangan atau menggunakan pinset) maka kulit tidak kembali ke semula dan kulit terlihat kaku.

Adapun kasus lain yang sering dijumpai adalah ayam disuntik dengan air, seperti yang dialami oleh Krishandini. Ayam suntik adalah ayam yang diberikan air melalui suntikan ke dalam daging dengan tujuan menambah berat daging.

Konsumen bisa memperhatikan bagian kulit karkas ayam tampak meregang, karena daging terisi air. Perhatikan juga pada bagian paha, biasanya ada bekas jarum suntikan. Lubang-lubang kecil itu merupakan bekas suntikan untuk memasukan air.

Waspadai Daging Celeng
Kewaspadaan konsumen juga tak kalah penting saat membeli daging sapi, baik daging sapi mentah maupun yang sudah dalam bentuk olahan. Sejak lama, kasus yang sering terjadi adalah adanya daging oplosan antara daging sapi dan daging babi hutan (celeng).

Di saat harga daging melonjak, para pedagang yang curang kerap memanfaatkan momen ini. Para pedagang ini mencampur daging sapi dengan daging babi hutan dalam satu timbangan. Bagi yang jeli dan sudah tahu perbedaan antara daging sapi dengan daging babi hutan, pasti akan menolak. Namun bagi masyarakat lain yang masih awam dengan perbedaan tersebut, tentu sangat dirugikan. Terlebih bagi konsumen yang muslim.

Yang lebih sulit lagi untuk membedakan keduanya adalah saat sudah menjadi makanan olahan seperti bakso, sosis, dan lainnya. Harga memang jadi lebih murah dibanding dengan bakso yang hanya menggunakan bahan daging sapi saja.

Menurut Edi Suryanto, dari sisi Islam pencampuran atau pengoplosan akan menimbulkan kerugian besar. Kerugian juga datang dari sisi jasmani atau tubuh orang yang mengonsumsi barang haram tersebut. “Kotoran yang ada dalam barang haram antara lain seperti racun-racun, mikrobia perusak, mikrobia penyebab penyakit, parasit, dan berbagai macam virus,” ujarnya.

Untuk menghindari keraguan masyarakat dalam membeli daging, Edi menyampaikan tips penting untuk membedakan antara daging sapi dan daging babi hutan mentah. Menurutnya, tidak terlalu sulit untuk membedakannya secara kasat mata.

Daging mempunyai ciri atau karakteristiknya sendiri. Misalnya, daging sapi berbeda dengan daging babi, daging unggas berbeda dengan daging sapi ataupun daging babi. Perbedaan disebabkan antara lain oleh genetik, pakan, umur, dan manajemen.


Bagaimana jika sudah jadi olahan? Ini juga masalah yang sering kali dihadapi konsumen. Menurut Edi, daging sapi dan daging babi hutan yang sudah matang juga masih dapat dibedakan. “Warna daging sapi matang cokelat gelap, sedangkan warna daging babi matang cokelat pucat,” ujarnya. 

Jika olahan berkuah, maka kuah daging sapi memberikan aroma yang khas daging sapi, sedangkan kuah daging celeng aromanya berbeda. Lemak daging sapi akan menggumpal saat dingin, sedangkan lemak daging babi tetap cair saat dingin. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer