-->

CARA “MENCURIGAI” AYAM TIREN & DAGING OPLOSAN

Ciri daging ayam bangkai, berformalin, dan/atau disuntik air. (Sumber: Buku Cara Pintar Pilih Pangan Asal Hewan)

Para pedagang nakal ini muncul memanfaatkan menipisnya stok daging ayam di pasaran. Begitu harga naik, mereka mengemas ayam tiren jadi ayam “segar” dan dijual dengan harga murah. Para pedagang nakal ini memanfaatkan ketidaktahuan konsumen.

Meluasnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah untuk anak sekolah, kaum lansia, dan balita melalui Posyandu, berdampak pada menipisnya stok daging dan telur ayam di pasar. Hasil penelusuran Infovet pada liputan edisi akhir tahun 2025 menyebutkan, menipisnya stok telur ayam di pasar-pasar tradisional, salah satunya, disebabkan para peternak mengalihkan supply daging dan telurnya ke pemilik dapur MBG.

Masyarakat tentu merasa terbantu dengan adanya program MBG bisa mengurangi pengeluaran belanja urusan dapur, meski sedikit. Namun menipisnya stok daging dan telur ayam di pasar juga berkibat naiknya harga komoditi ini.

Akhir tahun kemarin, harga telur ayam mencapai Rp 33.000/kg, padahal harga sebelumnya hanya berkisar Rp 25.000/kg. Harga daging ayam mencapai Rp 45.000/kg, padahal sebelumnya hanya berkisar Rp 33.000/kg.

Melambungnya harga kedua komoditas tersebut rupanya menimbulkan permasalahan di pasar-pasar tradisional. Tak sedikit para pedagang nakal muncul menjual daging ayam yang tak layak konsumsi. Lagi-lagi yang menjadi korban adalah pembeli. Kondisi macam ini seolah menjadi siklus yang terus terjadi.

Ada saja pedagang yang sengaja melakukan tipu-tipu dalam usahanya. Tak sedikit pedagang yang nakal dengan menyuntikkan air ke dalam daging ayam, sehingga berat melebihi dari seharusnya. Ada juga yang menjual karkas ayam yang menggunakan formalin.

Ada pula yang memanfaatkan ayam yang sudah mati sebelum dipotong (tiren, ayam mati kemarin-red), menjadi menu olahan atau dijual dalam bentuk karkas. Karkas ayam tiren biasanya diolesi dengan bahan kimia tertentu, sehingga kelihatan seperti ayam baru dipotong. Tipu-tipu kualitas daging semacam ini hampir setiap waktu terjadi.

“Saya juga pernah mengalami kejadian seperti ini. Beli ayam di pasar kelihatannya dari luar bagus. Begitu sampai di rumah, waktu di masak baru keluar bau busuknya,” tutur Lilik Utami, warga Komplek Bumi Sawangan Indah, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, kepada Infovet.

Ketidaktahuan Wartini akan kualitas daging ayam menyebabkan ia percaya saja dengan pedagang di pasar. Ia mengaku, sebenarnya ia sudah agak curiga dengan ayam yang akan dibeli, warnanya agak gelap dan kemerahan, tidak seperti biasanya. Bau busuknya juga sedikit tercium.

Tapi, karena lingkungan di pasar tradisional memang bau menyengat, ibu rumah tangga ini tidak ingin buruk sangka. Apalagi harga daging ayam tersebut lebih murah dibanding di bakul lainnya, Lilik pun tergoda untuk membelinya.

“Dalam masalah seperti ini memang dibutuhkan kejujuran para pedagangnya. Jangan menipu pembeli,” ujar Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Ir Edi Suryanto MSc PhD IPU.

Upaya tipu-tipu menjaul daging unggas maupun daging sapi, menurutnya, sudah berlangsung lama, bahkan berulang-ulang terjadi. Ada sekelompok orang yang secara sengaja memaksakan kehendak dalam mencari rezeki secara tidak halal. Karena itum dibutuhkan kepintaran dari konsumen untuk lebih teliti dan hati-hti dalam membeli produk protein hewani.

Agar Tidak Tertipu
Menurut Buku Cara Pintar Pilih Pangan Asal Hewan yang diterbitkan Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH), Kementerian Pertanian, ada beberapa yang perlu dikenali untuk memastikan daging ayam aman dan tidak ada tipu-tipu.

Ciri-ciri daging ayam yang baik menurut para peneliti yang menyusun buku ini adalah warna daging ayam putih kemerahan dan cerah. Bau tidak menyimpang (tidak berbau amis, menyengat, dan asam). Permukaan daging terlihat lembap (tidak kering dan tidak basah).

Selain itu, permukaan daging ayam juga tampak bersih dan tidak ada darah. Serabut daging relatif halus. Kadang daging menyatu dengan kulit. Untuk karkas dalam bentuk beku (frozen), daging ayam disimpan dalam kondisi dingin (1-10 °C). Sementara untuk daging ayam yang sudah tergolong bangkai (mati tanpa disembelih), pada bagian permukaan karkas terlihat warna kemerahan (seperti memar).

Ciri lainnya, cobalah perhatikan pada bagian pangkal sayapnya. Pembuluh darah pada pangkal sayap berwarna biru kehitaman karena berisi darah. Konsumen juga perlu perhatikan pada pembuluh darah di balik kulitnya. Pembuluh darah kapiler terlihat jelas (merah kehitaman). Perhatikan juga pada daging di balik kulitnya, terdapat warna kemerahan pada daging (seperti memar).

Daging Ayam Berformalin
Bagaimana dengan daging ayam berformalin? Ayam berformalin adalah karkas/daging ayam yang mengandung formalin yang diberikan melalui suntikan ke dalam daging atau pencelupan daging ke dalam larutan formalin.

Konsumen bisa memperhatikan pada bagian leher, ada pembuluh darah yang tidak terpotong. Permukaan potongan saluran napas (trakea), saluran makan (esofagus), dan pembuluh darah rata, pembuluh darah terisi darah dan berwarna kehitaman (gelap).

Masih dalam Buku Cara Pintar Pilih Pangan Asal Hewan, pada ayam yang berformalin jika dicubit bagian kulitnya (dianjurkan menggunakan sarung tangan atau menggunakan pinset) maka kulit tidak kembali ke semula dan kulit terlihat kaku.

Adapun kasus lain yang sering dijumpai adalah ayam disuntik dengan air, seperti yang dialami oleh Krishandini. Ayam suntik adalah ayam yang diberikan air melalui suntikan ke dalam daging dengan tujuan menambah berat daging.

Konsumen bisa memperhatikan bagian kulit karkas ayam tampak meregang, karena daging terisi air. Perhatikan juga pada bagian paha, biasanya ada bekas jarum suntikan. Lubang-lubang kecil itu merupakan bekas suntikan untuk memasukan air.

Waspadai Daging Celeng
Kewaspadaan konsumen juga tak kalah penting saat membeli daging sapi, baik daging sapi mentah maupun yang sudah dalam bentuk olahan. Sejak lama, kasus yang sering terjadi adalah adanya daging oplosan antara daging sapi dan daging babi hutan (celeng).

Di saat harga daging melonjak, para pedagang yang curang kerap memanfaatkan momen ini. Para pedagang ini mencampur daging sapi dengan daging babi hutan dalam satu timbangan. Bagi yang jeli dan sudah tahu perbedaan antara daging sapi dengan daging babi hutan, pasti akan menolak. Namun bagi masyarakat lain yang masih awam dengan perbedaan tersebut, tentu sangat dirugikan. Terlebih bagi konsumen yang muslim.

Yang lebih sulit lagi untuk membedakan keduanya adalah saat sudah menjadi makanan olahan seperti bakso, sosis, dan lainnya. Harga memang jadi lebih murah dibanding dengan bakso yang hanya menggunakan bahan daging sapi saja.

Menurut Edi Suryanto, dari sisi Islam pencampuran atau pengoplosan akan menimbulkan kerugian besar. Kerugian juga datang dari sisi jasmani atau tubuh orang yang mengonsumsi barang haram tersebut. “Kotoran yang ada dalam barang haram antara lain seperti racun-racun, mikrobia perusak, mikrobia penyebab penyakit, parasit, dan berbagai macam virus,” ujarnya.

Untuk menghindari keraguan masyarakat dalam membeli daging, Edi menyampaikan tips penting untuk membedakan antara daging sapi dan daging babi hutan mentah. Menurutnya, tidak terlalu sulit untuk membedakannya secara kasat mata.

Daging mempunyai ciri atau karakteristiknya sendiri. Misalnya, daging sapi berbeda dengan daging babi, daging unggas berbeda dengan daging sapi ataupun daging babi. Perbedaan disebabkan antara lain oleh genetik, pakan, umur, dan manajemen.


Bagaimana jika sudah jadi olahan? Ini juga masalah yang sering kali dihadapi konsumen. Menurut Edi, daging sapi dan daging babi hutan yang sudah matang juga masih dapat dibedakan. “Warna daging sapi matang cokelat gelap, sedangkan warna daging babi matang cokelat pucat,” ujarnya. 

Jika olahan berkuah, maka kuah daging sapi memberikan aroma yang khas daging sapi, sedangkan kuah daging celeng aromanya berbeda. Lemak daging sapi akan menggumpal saat dingin, sedangkan lemak daging babi tetap cair saat dingin. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

Related Posts

0 Comments:

Posting Komentar

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer