-->

OLAHAN BABAT YANG NIKMAT DAN MITOS MASYARAKAT

Olahan babat yang terlihat nikmat. (Foto: Istimewa)

Tak semua orang suka makan olahan babat, meskipun nikmat. Tak semua orang juga bisa mengolah babat karena butuh kesabaran dan waktu tak singkat. Jika Anda termasuk di dua-duanya, cobalah simak informasi ini.

Jarum jam tangan sudah menujuk angka 12 lewat 10 menit. Saatnya jam makan siang. Sekitaran Pasar Kawak Madiun, Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur, tampak berderet beberapa warung makan, mulai dari warung pecel, warung bakso, hingga warung soto.

Hampir semua warung ramai pembeli. Namun di antara warung-warung tersebut, satu warung terlihat dipadati pembeli. Meja makan yang tersedia hampir semua terisi pembeli. Warung Soto Jeroan Mbak Iis, nama tempat makan ini.

Berbeda dengan warung soto lainnya, warung ini memiliki menu spesial olahan jeroan sapi untuk bahan baku sotonya. Mulai dari iso, paru, limpa, hingga babat sapi semua tersedia di sini. Dengan kuah santan dan jeroan goreng sungguh mengundang selera para pelanggannya.

“Kami buka dari jam tujuh pagi sampai siang, sehabisnya dagangan saja,” tutur Iswati pemilik warung soto ini.

Menurut perempuan yang akrab disapa Mbak Iis ini, harga seporsi mulai Rp 11.000 untuk soto paru, limpa, babat, iso. Selain soto, warung ini juga menyediakan aneka gorengan sebagai pelangkap.

Olahan jeroan sapi di warung ini memang terasa empuk dan tak ada aroma amisnya. Membuktikan teknik mengolahnya sempurna. Mengolah jeroan, terutama bagian babat tak semua orang bisa. Jika tak menguasai tekniknya, babat masih terasa alot seperti handuk. Maka itu, tak semua orang doyan mengonsumsi jeroan babat, selain pertimbangan kandungan kolesterol.

Iis memberikan sekilas tips agar jeroan sapi bisa diolah menjadi menu yang nikmat. Terlebih saat ini, umat Islam baru saja merayakan Hari Raya Kurban, sisa daging dan jeroan mungkin masih tersimpan di dalam kulkas. Bisa diolah menjadi menu istimewa.

Teknik Bijak Mengolah
Dalam literatur tentang anatomi sapi disebutkan, babat memiliki struktur yang cukup kompleks. Retikulum atau perut jala memiliki permukaan yang menyerupai sarang lebah. Omasum atau perut buku memiliki lipatan-lipatan yang menyerupai lembaran buku. Sedangkan abomasum atau perut sejati memiliki permukaan yang lebih halus.

Tekstur babat yang alami cenderung alot dan memiliki aroma khas yang cukup kuat. Oleh karena itu, diperlukan teknik pengolahan khusus agar babat menjadi empuk dan tidak berbau amis saat disajikan. Proses pengolahan yang tepat akan menghasilkan babat yang lezat dengan tekstur yang kenyal namun tidak alot.

Sebelum diolah, babat perlu dibersihkan dengan baik untuk menghilangkan kotoran dan mengurangi bau amis. Pertama, cuci babat di bawah air mengalir hingga bersih. Gosok permukaan babat menggunakan tangan atau sikat halus untuk menghilangkan kotoran yang menempel.

Kedua, rendam babat dalam air garam selama 15-30 menit. Garam akan membantu menghilangkan lendir dan bau amis. Setelah direndam, bilas kembali babat dengan air bersih hingga tidak ada sisa garam. Selanjutnya, potong babat menjadi ukuran yang lebih kecil agar lebih mudah dibersihkan dan diolah.

Ketiga, rebus sebentar babat dalam air mendidih selama 5 menit, lalu buang air rebusannya. Ini akan membantu menghilangkan kotoran dan bau yang tersisa. Gosok permukaan babat dengan irisan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis yang tersisa. Lalu, rendam kembali babat dalam air dingin yang dicampur cuka atau air asam jawa selama 30 menit untuk menetralkan bau.

Proses pembersihan yang teliti, menurut Iis, akan membantu mengurangi bau tidak sedap dan membuat babat lebih higienis untuk diolah. Pastikan untuk membersihkan babat dengan seksama sebelum mulai merebus atau mengolahnya lebih lanjut.

Agar Tak Bau Amis 
Salah satu tantangan dalam mengolah babat adalah menghilangkan bau amisnya yang khas. Meski sudah dilakukan pencucian beberapa kali, terkadang bau amis masih ada. Tips yang bisa dilakukan adalah dengan merendam babat dalam air jeruk nipis atau lemon selama 15-30 menit.

Asam sitrat dalam jeruk akan membantu menetralkan bau amis. Atau gunakan daun salam, serai, dan jahe saat merebus babat. Rempah-rempah ini akan memberikan aroma harum yang menutupi bau amis.

Agar serat babat menjadi empuk, rebus babat dengan menambahkan kulit nanas. Enzim dalam nanas membantu melunakkan daging dan sekaligus mengurangi bau. Ada juga yang menggunakan teknik merebus beberapa tahap, agar tekstur babat benar-benar empuk, sebelum diolah sesuai selera.

Nutrisi dalam Babat
Dengan memilih babat yang berkualitas dan teknik mengolahnya yang tepat, akan mendapatkan hasil olahan yang lebih lezat dan aman dikonsumsi. Memang, tak semua orang menyukai olahan babat dan jeroan lainnya karena berbagai alasan.

Tetapi, meski tergolong sebagai jeroan, babat ternyata memiliki beberapa manfaat nutrisi jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Dalam beberapa literatur yang mengulas tentang nutrisi hewan, dijelaskan bahwa babat dan jeroan sapi juga merupakan sumber protein.

Babat kaya akan protein yang penting untuk pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh. Jeroan ini juga mengandung vitamin B12, penting untuk pembentukan sel darah merah dan fungsi saraf.

Babat juga merupakan sumber zat besi yang dapat membantu dalam produksi hemoglobin dan mencegah anemia. Selain itu, mengandung selenium, berperan sebagai antioksidan dan mendukung sistem kekebalan tubuh.

Jeroan ini juga merupakan sumber fosfor, yang penting untuk kesehatan tulang dan gigi. Bahkan, babat dipercaya mengandung zink yang mendukung sistem kekebalan tubuh dan penyembuhan luka.

Meski nikmat saat disantap, namun perlu diingat bahwa babat juga mengandung kolesterol yang cukup tinggi. Oleh karena itu, konsumsi babat sebaiknya dibatasi, terutama bagi mereka yang memiliki risiko penyakit jantung atau kolesterol tinggi.

Mitos Seputar Babat
Seperti halnya telur ayam, ternyata jeroan babat juga memiliki sejumlah mitos yang sudah lazim di telinga masyarakat. Ada beberapa mitos dan fakta seputar babat yang perlu diketahui.

Pertama, mitos bahwa babat sulit dicerna. Namun faktanya, jika diolah dengan benar, babat dapat dicerna dengan baik oleh tubuh. Proses perebusan yang tepat membantu melunakkan serat-serat babat.

Kedua, mitos bahwa babat selalu berbau amis. Namun, dengan teknik pembersihan dan pengolahan yang tepat, bau amis pada babat dapat dihilangkan atau diminimalkan.
Ketiga, mitos bahwa babat tidak memiliki nilai gizi. Faktanya, babat mengandung protein, vitamin B12, zat besi, dan mineral lainnya yang bermanfaat bagi tubuh.

Keempat, mitos bahwa mengonsumsi babat menyebabkan kolesterol tinggi. Namun dalam faktanya, meskipun mengandung kolesterol, konsumsi babat dalam jumlah wajar sebagai bagian dari diet seimbang tidak selalu menyebabkan kolesterol tinggi.

Kelima, mitos bahwa babat hanya bisa diolah dengan cara direbus. Tetapi dalam kenyataannya, selain direbus, babat bisa diolah dengan berbagai cara seperti digoreng garing, ditumis, atau dipanggang.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa merebus babat agar cepat empuk dan tidak berbau memang memerlukan teknik dan kesabaran. Dengan mempelajari teknik mengolah yang tepat, dapat menghasilkan olahan babat yang lezat dan berkualitas.

Yang pasti, menurut Iis, kombinasi beberapa metode dalam mengolah akan memberikan hasil yang optimal dalam menghilangkan bau amis babat. Nah, bagi yang masih belum pernah mengolah babat atau doyan makan babat, cobalah dengan teknik di atas. (AK)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer