-->

STRATEGI CERDAS KENDALIKAN STRES OKSIDATIF, MENJAGA KESEHATAN DAN PERFORMA UNGGAS MODERN


Di banyak kandang modern, ayam terlihat aktif, bulu rapi, dan nafsu makan normal. Namun ketika ditimbang atau dievaluasi, performa justru tidak sesuai harapan. Bobot badan tertinggal, FCR memburuk, atau produksi telur mulai menurun tanpa sebab yang jelas. Kondisi seperti ini sering membuat peternak bingung. Salah satu penyebab yang kerap luput dari perhatian adalah stres oksidatif.

Stres oksidatif bukan penyakit menular dan tidak selalu menimbulkan gejala klinis yang mencolok. Justru karena sifatnya yang “diam-diam”, kondisi ini sering menjadi penyebab turunnya performa secara perlahan namun konsisten.

Apa Sebenarnya Stres Oksidatif Itu?
Stres oksidatif terjadi ketika tubuh ayam mengalami ketidakseimbangan antara zat perusak yang disebut radikal bebas dengan kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Dalam kondisi normal, radikal bebas selalu terbentuk sebagai bagian dari proses metabolisme. Masalah muncul ketika jumlahnya terlalu banyak, sementara sistem pertahanan tubuh tidak mampu mengimbanginya.

Ketika hal ini terjadi, sel-sel tubuh ayam mulai mengalami kerusakan. Dinding sel menjadi rapuh, jaringan usus terganggu, fungsi hati menurun, dan sistem kekebalan melemah. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh dan berproduksi justru habis untuk memperbaiki kerusakan di dalam tubuh.

Dari Mana Stres Oksidatif Berasal di Kandang?
Salah satu pemicu utama stres oksidatif adalah stres lingkungan, terutama suhu tinggi. Heat stress membuat ayam bekerja ekstra keras untuk menurunkan suhu tubuhnya. Proses ini meningkatkan pembentukan radikal bebas secara signifikan. Semakin lama ayam terpapar panas, semakin besar risiko kerusakan sel yang terjadi.

Selain suhu, kepadatan kandang yang tinggi, ventilasi kurang optimal, litter basah, dan kadar amonia yang tinggi juga memperparah kondisi stres. Ayam yang hidup dalam lingkungan seperti ini berada dalam tekanan terus-menerus, meskipun tidak terlihat sakit.

Dari sisi nutrisi, penggunaan bahan baku berkualitas rendah, lemak yang sudah teroksidasi, serta pakan yang tidak seimbang juga dapat menjadi sumber stres oksidatif. Bahkan proses vaksinasi dan infeksi ringan yang tidak terdeteksi pun dapat meningkatkan beban oksidatif tubuh ayam.

Mengapa Stres Oksidatif Merugikan?
Dampak stres oksidatif jarang bersifat langsung dan drastis. Namun dalam jangka menengah hingga panjang, kerugiannya sangat terasa. Ayam menjadi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC 

PETERNAK UNGGAS PRANCIS MENILAI DAMPAK GELOMBANG PANAS SAMBIL MEMANTAU RISIKO CUACA DI MASA DEPAN

Menghadapi gelombang panas dengan durasi dan intensitas bersejarah, dengan suhu melebihi 40°C di beberapa wilayah, peternak unggas Prancis sepenuhnya dimobilisasi di lapangan untuk melindungi hewan mereka. Mereka melakukan segala yang mungkin untuk menyediakan kondisi terbaik bagi unggas mereka, kata organisasi produsen ayam broiler Anvol, sambil terus mengawasi kemungkinan gelombang panas berikutnya.

“Pertama-tama, penting untuk diketahui bahwa unggas adalah hewan yang tidak memiliki sistem keringat, yang berarti mereka tidak berkeringat. Oleh karena itu, mereka mengeluarkan panas dengan terengah-engah melalui paruh mereka. Inilah sebabnya mengapa mereka sangat sensitif terhadap kenaikan suhu: semakin panas, semakin cepat laju pernapasan mereka meningkat,” kata dokter hewan Dominique Balloy dalam publikasi Anvol.

Meskipun peternakan dibangun secara berbeda, tujuannya selalu untuk membatasi stres panas pada unggas sebanyak mungkin dalam menghadapi gelombang panas yang sangat intens. Di peternakan unggas yang dikontrol iklimnya, fasilitas sekarang sebagian besar dilengkapi dengan sistem ventilasi, penyemprotan kabut, dan pendinginan untuk membantu hewan mengatur suhu tubuh mereka. Di peternakan bebas kandang di mana hewan-hewan berkeliaran di luar, para peternak membuka kandang mereka sepenuhnya dan menambahkan kipas angin. “Selama sepuluh tahun terakhir, para profesional telah berinvestasi besar-besaran untuk memodernisasi peternakan mereka atau membangun peternakan baru yang dilengkapi dengan sistem ini,” tegas Anvol.

Selain itu, para peternak menyesuaikan pakan unggas dengan memberi makan di pagi dan sore hari untuk menghindari jam-jam terpanas, sehingga membatasi panas tubuh tambahan yang terkait dengan pencernaan. Pada saat yang sama, unggas terus mendapatkan pasokan air yang tidak terbatas, ditambah dengan vitamin, tumbuhan, dan mineral.

“Para peternak sangat waspada, mereka sering mengunjungi kandang unggas mereka. Mereka datang beberapa kali sehari dan malam untuk melihat langsung kondisi kesehatan hewan mereka dan untuk memeriksa apakah peralatan berfungsi dengan baik. Membatasi angka kematian di kandang unggas mereka adalah prioritas utama mereka,” tegas organisasi tersebut.

INDUSTRI UNGGAS EROPA MENDERITA KERUGIAN BESAR AKIBAT GELOMBANG PANAS BARU-BARU INI

Para peternak di seluruh Eropa Barat melaporkan dampak buruk gelombang panas 'omega' yang mematikan terhadap operasi mereka, dengan industri unggas di Prancis tampaknya menjadi yang paling terpukul.

Negara-negara Eropa baru-baru ini berjuang melawan gelombang panas 'omega' yang intens, fenomena cuaca langka di mana sistem tekanan tinggi yang kuat memerangkap udara panas di sebagian besar benua, mencegah udara Atlantik yang lebih dingin masuk.

Di seluruh Eropa, gelombang panas tersebut menghasilkan beberapa rekor suhu nasional dan tingkat stasiun, dengan suhu melebihi 40°C di Eropa Tengah dan mendekati pertengahan 40-an di beberapa bagian Prancis.

Para peternak menghitung kerugian akibat panas ekstrem, yang mendorong kenaikan biaya energi dan mengancam peningkatan kematian unggas di peternakan.

Gelombang panas tersebut dapat merugikan pertanian Italia lebih dari €1,5 miliar melalui penurunan produksi dan pengurangan jam kerja, menurut Cia-Agricoltori Italiani, organisasi perdagangan pertanian terbesar di Italia. Suhu yang luar biasa tersebut berdampak "menghancurkan" pada tanaman dan ternak, organisasi tersebut memperingatkan.

Boerenbond, asosiasi pertanian Flandria di Belgia, juga memperingatkan bahwa gelombang panas akan mengurangi produksi susu dan daging. Namun, organisasi tersebut menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk memberikan perkiraan yang tepat.

Di beberapa negara, gelombang panas telah menyebabkan kerugian besar di kalangan peternak unggas. Yann Nedelec, kepala kelompok industri unggas Prancis ANVOL, baru-baru ini mengatakan kepada Reuters bahwa setidaknya beberapa ratus ribu unggas telah mati di peternakan dalam ruangan maupun luar ruangan, meskipun masih terlalu dini untuk memberikan angka yang tepat.

PERSILANGAN ANTARA RAS AYAM LAMA DENGAN HIBRIDA MODERN MENAWARKAN POTENSI

Ramelsloher (Wikipedia)

Persilangan antara ras ayam lama dengan hibrida modern menawarkan potensi untuk breeding dan ayam petelur atau ayam broiler, demikian laporan Kantor Federal Pertanian dan Pangan Jerman (BLE).

Para peneliti Jerman dari sejumlah lembaga menyelidiki bagaimana persilangan antara ras ayam lama, native dan dalam beberapa kasus terancam punah, dengan galur modern memengaruhi kinerja hewan, kesehatan hewan, ketahanan, perilaku, atau kemampuan beradaptasi. Kombinasi ini dapat bermanfaat, baik dalam peternakan organik maupun peternakan konvensional. Pada saat yang sama, hal ini berkontribusi pada pelestarian keanekaragaman hayati, kata BLE.

Persyaratan untuk peternakan unggas yang berkelanjutan dan ramah hewan telah meningkat secara signifikan. Pada saat yang sama, permintaan akan produk unggas terus meningkat. Para ahli melihat persilangan antara ras ayam lama, native dengan induk dari peternakan unggas komersial sebagai solusi yang memungkinkan.

Ras ayam lama, native, seperti Ramelsloher dan Bielefeld Kennhuhn, secara khusus dikombinasikan dengan induk dari peternakan unggas komersial. Selanjutnya, para peneliti mengamati karakteristik seperti performa, kesehatan hewan, ketahanan, perilaku, dan kemampuan beradaptasi. Mereka menemukan bahwa persilangan dengan induk berkinerja tinggi memperoleh skor tinggi dalam hal performa bertelur tanpa perubahan negatif pada keseimbangan kalsium.

Namun, terdapat sedikit peningkatan risiko terjadinya fraktur sternum. Meskipun hal itu juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti kondisi pemeliharaan, awal bertelur, atau pemberian pakan.

MHP BERENCANA BERINVESTASI DI SEKTOR UNGGAS ARGENTINA

Setelah serangkaian akuisisi aset produksi unggas di seluruh Eropa, MHP mempertimbangkan untuk memasuki pasar Argentina, ungkap Yuri Kosyuk, CEO dan pendiri MHP, selama konferensi bisnis di Ukraina.

Kosyuk menyatakan bahwa industri unggas Argentina mungkin memiliki potensi yang belum dimanfaatkan secara signifikan, membandingkan kondisinya saat ini dengan pasar yang memiliki tekanan kompetitif terbatas dan ruang pengembangan yang cukup besar. CEO MHP juga menyambut baik reformasi ekonomi yang diperkenalkan oleh Presiden Argentina Javier Milei, termasuk langkah-langkah untuk meliberalisasi ekonomi, mereformasi peraturan ketenagakerjaan, dan mengurangi pengaruh serikat pekerja.

Pasar unggas Argentina dilindungi oleh hambatan impor. Impor unggas dari negara-negara tanpa perjanjian perdagangan preferensial, termasuk Ukraina, dikenakan Tarif Eksternal Umum Mercosur, dengan bea masuk sekitar 12% yang diterapkan pada kategori utama seperti unggas utuh beku dan potongan unggas.

Selama konferensi tersebut, Kosyuk membandingkan potensi investasi di Argentina dengan strategi MHP di Eropa. Di Eropa, katanya, MHP menghadapi pembatasan ekspor unggas Ukraina melalui kuota dan menanggapinya dengan mengakuisisi aset Eropa dan mempercepat pertumbuhannya di wilayah tersebut.

MENJAGA PRODUKTIVITAS AYAM SAAT STRES MENGANCAM

Ayam yang dipelihara dalam sistem open house. (Foto: Gemini)

Ketika stres oksidatif menyerang, berbagai solusi diupayakan agar ayam nyaman dan produksi tetap aman.

Pada hakikatnya stres panas adalah efek gabungan dari suhu dan kelembapan relatif udara pada ayam yang dikenal sebagai suhu efektif. Meningkatkan kelembapan udara pada suhu berapapun akan meningkatkan ketidaknyamanan ayam dan stres panas.

Peternak harus hati-hati memantau suhu dan kelembapan di lokasi mereka. Umumnya, pada siang hari, suhu meningkat dan kelembapan relatif menurun. Metode pendinginan terbaik selama periode kelembapan rendah adalah pendinginan evaporatif (fogger, mister-pembuat kabut atau cool pad).

Sedangkan pada malam hari ketika suhu turun dan kelembapan biasanya meningkat, kelembapan tambahan yang disediakan oleh pengabut dapat meningkatkan tekanan panas. Saat kelembapan tinggi, peningkatan pergerakan udara dengan menggunakan kipas saja akan mengurangi tekanan panas di kandang terbuka.

Pergerakan udara menghasilkan efek wind chill yaitu penurunan suhu udara yang dirasakan oleh tubuh akibat adanya aliran udara. Tabel indeks tekanan panas untuk ayam petelur komersial telah dikembangkan.

Mengetahui Aspek yang Wajib Dibenahi
Regional Technical Manager Cobb-Vantress, Amin Suyono, menyatakan bahwa penyebab heat stress memang ada pengaruh dari lingkungan, namun demikian kualitas aspek manajemen pemeliharaan juga dapat mengurangi maupun menambah risiko keparahan kasus.

Sebagai contoh manajemen perkandangan yang kurang baik. Mulai dari konstruksi, jenis kandang, kepadatan kandang, manajemen ventilasi, bahkan bahan baku konstruksi kandang juga akan memengaruhi aspek tersebut.

“Terlebih lagi di negara kita masih banyak sistem open, di mana ini akan meningkatkan risiko cekaman heat stress baik di musim panas, maupun musim dingin terlebih ketika salah dalam mengatur ventilasi (menutup rapat ventilasi, dan lain-lain). Oleh karenanya closed house jadi solusi instan,” tutur dia.

Meskipun begitu, dibutuhkan modal yang besar dalam membangun closed house yang juga disertai oleh daya listrik yang menunjang, serta tenaga kerja yang terampil. Jadi menurut Amin, hanya tinggal memilih saja yang penting sudah tau titik kritis dan cara mengakalinya. 
Selain kandang, Amin juga menyinggung mengenai nutrisi. Pemberian ransum dengan kandungan nutrisi, terutama protein kasar yang berlebih bisa memperparah kasus heat stress.

Kelebihan protein kasar akan diuraikan oleh tubuh ayam untuk dibuang bersama feses. Penguraian protein kasar ini akan menghasilkan panas tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pencernaan karbohidrat ataupun lemak. Selain itu, protein kasar yang terbuang bersama feses akan diuraikan oleh bakteri yang ada di dalam feses menjadi amonia dan panas.

Kesadaran untuk Mencegah dan Bersahabat dengan Cuaca
Di musim panas, nantinya kasus... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

SUPERMARKET TERBESAR DI INGGRIS MENYELESAIKAN PERALIHAN KE TELUR BEBAS KANDANG

Tesco telah menyelesaikan transisinya ke telur utuh dan telur bahan baku bebas kandang untuk produk merek sendiri di Inggris dan Irlandia, memenuhi janji yang dibuatnya 10 tahun lalu untuk berhenti menjual telur kandang pada tahun 2025.

Mengikuti jejak Lidl dan Asda, yang telah mencapai target mereka awal tahun ini, perusahaan tersebut mengatakan dalam Laporan Keberlanjutan 2026 yang baru dirilis bahwa mereka telah menyelesaikan perubahan di seluruh rantai pasokan Inggris dan Irlandia.

Namun, karena flu burung di Eropa Tengah dan tantangan pasar lainnya, masih ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan.

Laporan tersebut menyatakan, “Desember 2025 menjadi batas waktu untuk sejumlah komitmen kesejahteraan hewan dan pengadaan berkelanjutan kami. 100% telur utuh dan telur bahan baku kami untuk Tesco UK dan ROI sekarang berasal dari ayam yang dipelihara tanpa kandang. Komitmen ini sekarang akan dimasukkan ke dalam kebijakan pengadaan telur kami. Karena tantangan pasar di Hongaria dan Slovakia, dan tantangan flu burung di rantai pasokan katering Booker, kami gagal mencapai komitmen telur utuh kami di Eropa Tengah dan Booker.”

Laporan tersebut menambahkan bahwa 97% pemasok utama perusahaan sekarang melaporkan ukuran hasil kesejahteraan hewan di seluruh Inggris dan ROI, yang membantu wawasan Tesco tentang kesejahteraan hewan dan di mana perbaikan dapat dilakukan.

CARA MEMBEDAKAN KELINCI JANTAN DAN BETINA

Cara membedakan kelinci jantan dan betina bisa dilihat dari ciri fisik dan perilakunya.

Untuk kelinci yang sudah besar, usia 3 minggu ke atas, perbedaan kelamin bisa dilihat dari bentuk kepalanya. Kelinci jantan memiliki kepala yang lebih lonjong. Sedangkan kelinci betina kepalanya lebih bulat dan memiliki lipatan pada lehernya.

Untuk lebih memasikan cek kelaminnya. Namun lakukan hati-hati karena saat mengecek perlu menekan bagian kelamin kelinci, yang bisa berbahaya bagi kelinci.

Kelamin kelinci betina memiliki belahan, bentuknya seperti gundukan, jarak anus dan kelamin berdekatan. Kelamin kelinci jantan seperti tabung dengan belahan sangat kecil, jarak anus dan kelamin berjauhan, memiliki testikel di samping kelamin.

Perbedaan kelinci jantan dan betina juga terletak pada puting susunya. Meskipun jumlah putingnya sama, ukuran puting kelinci jantan lebih kecil dan lebih susah ditemukan.

Ukuran dan berat badan juga menjadi pembeda antara kelinci jantan dan betina, dengan catatan jenis atau rasnya sama. Kelinci jantan ukuran dan berat badannya lebih kecil dari kelinci betina.

Dari segi perilaku kelinci jantan lebih agresif. Dan kelinci betina kurang agresif dibandingkan dengan kelinci jantan.

PEMAIN BARU DI SEKTOR UNGGAS ESTONIA DI TENGAH TEKANAN HARGA

Setelah beberapa tahun yang sulit, pasar unggas Estonia menyambut merek daging ayam broiler baru yang dirancang untuk mengurangi volatilitas harga dan membantu mencegah penurunan lebih lanjut dalam swasembada.

Pasar unggas Estonia sedang mengalami masa sulit, lapor Delfi, sebuah media berita lokal, mengutip para pelaku pasar. Menurut data resmi dari Departemen Statistik Estonia, swasembada daging unggas negara itu turun menjadi sekitar 50% tahun lalu, dari sekitar 60%. Pada saat yang sama, konsumen telah melihat inflasi harga yang signifikan, dengan harga unggas naik hampir seperempatnya.

Dengan latar belakang ini, distributor makanan laut Kapten Grant telah memasuki segmen unggas dengan merek daging ayam broiler baru yang bertujuan untuk memperkuat pasokan dan mengurangi tekanan harga, kata Delfi. Diluncurkan oleh distributor makanan laut lokal, Kapten Grant, merek ini memposisikan dirinya sebagai “respons terhadap kesenjangan struktural dalam rantai pasokan daging lokal”.

Menurut Martin Puusepp, CEO Kapten Grant, pasar unggas Estonia sangat membutuhkan pembaruan dan persaingan baru, “Kita melihat situasi di mana harga unggas Estonia telah meningkat sebesar 15-25%, sementara di negara-negara tetangga, harga turun atau tetap lebih rendah.”

Di tengah pasokan daging unggas yang tidak stabil, beberapa pabrik pengolahan daging Estonia telah menghentikan operasinya dalam beberapa tahun terakhir. Persaingan tambahan di pasar seharusnya membantu konsumen dan pengecer, kata Puusepp.

PROBLEMATIKA PORCINE RESPIRATORY DISEASE COMPLEX PADA BABI

PRDC menyebabkan penyakit parah pada peternakan babi, namun beberapa kasus terkadang ringan dan bersifat sementara. (Foto: Dok. Joko)

Penyakit pernapasan kompleks pada babi (Porcine respiratory disease complex/PRDC) adalah satu penyebab utama kerugian ekonomi pada industri peternakan babi secara global. PRDC merupakan penyakit multifaktor yang disebabkan interaksi patogen viral dan bakterial, yang dipengaruhi stresor dari lingkungan, manajemen, dan faktor spesifik pada babinya.

Pada PRDC, beberapa agen viral dan bakterial dapat dideteksi dengan bermacam kombinsai yang dikenal sebagai infeksi polimikrobial. Agen-agen tersebut berperan sebagai patogen primer dan sekunder. Patogenenesis PRDC pada peternakan babi secara umum disebabkan oleh infeksi primer virus yang memicu infeksi sekunder bakteria. Penyakit pernapasan pada babi secara umum mencakup rhinitis, pneumonia, dan pleuritis, yang terkait satu sama lain ataupun tidak terkait.

Beberapa patogen viral yang terlibat dalam PRDC meliputi Porcine reproductive and respiratory syndrome virus (PRRSV), Porcine circovirus type 2 (PCV2), Swine influenza virus (SIV), Pseudorabies virus (PRV), dan Porcine respiratory coronavirus (PRCV) yang merupakan penyakit endemik pada peternakan babi.

Patogen viral tersebut menimbulkan dampak signifikan yang berbeda antar peternakan, dari sisi produktivitas, regional, antar negara, dan menimbulkan kesulitan dalam pengendalian serta penanganan. Walaupun PRDC menyebabkan penyakit parah pada peternakan babi, namun beberapa kasus tersebut terkadang ringan dan bersifat sementara.

Walaupun beberapa patogen bakterial potensial yang berkoloni di rongga hidung atau tonsil babi, mekanisme pertahanan tubuh normal pada saluran dan organ pernapasan mencegah terjadinya kerusakan dan penyebaran pada paru. Patogen primer dari viral memiliki kemampuan merusak epitel organ pernapasan atas, menyebabkan infeksi pada parenkim paru, dan memicu terjadinya infeksi sekunder bakteri, serta memperparah perkembangan PRDC.

Beberapa agen bakterial tersebut adalah Mycoplasma hyopneumoniae dan Pasteurella multocida, Streptococcus suis dan Actinobacillus pleuropneumoniae dapat berperan sebagai agen infeksi primer ataupun sekunder tergantung pada beberapa situasi. Jika infeksi primer melanjut sebagai infeksi kompleks dengan infeksi sekunder bakteri menyebabkan penyakit yang lebih parah dan penyakit pernapasan kronis serta menimbulkan kerugian ekonomi peternakan.

PRDC menyebabkan morbiditas 40% dan mortalitas lebih dari 50% pada piglet dan babi lepas sapih, serta 60% pada fase grower/finisher. Angka kejadian tertinggi terjadi pada peternakan skala kecil-menengah, tingkat kepadatan populasi, manajemen pemeliharaan, pembesaran, penularan penyakit, serta persistensi agen penyebabnya.

PRDC juga menyebabkan kerugian ekonomi peternakan hingga... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

DUKUNG KETAHANAN PANGAN BERKELANJUTAN, JAPFA TAMPILKAN INOVASI DAUR ULANG AIR DAN EKONOMI SIRKULAR DI INVIROTECH 2026

Booth JAPFA di INVIROTECH diminati oleh murid-murid dari berbagai Sekolah Menengah. (Foto-foto: JAPFA)

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) berpartisipasi dalam Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference 2026 (INVIROTECH) yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.

Pada pameran yang berlangsung pada 11–13 Juni 2026 tersebut, JAPFA menampilkan berbagai inisiatif keberlanjutan yang menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, penerapan ekonomi sirkular, serta transisi menuju energi yang lebih bersih. Salah satu pencapaian yang ditampilkan adalah peningkatan volume daur ulang air sebesar 94% pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2023. Capaian ini mencerminkan komitmen JAPFA untuk menjadikan keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi dalam mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan, terukur, dan transparan.

Tim JAPFA menjelaskan daur ulang air pada anak-anak Sekolah Dasar.

Bagi JAPFA, efisiensi air tidak hanya menjadi upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk membangun operasional yang tangguh. Sebagai perusahaan agrifood, JAPFA menyadari pentingnya ketersediaan air bersih dalam mendukung seluruh rantai bisnis, mulai dari peternak hingga konsumen. Karena itu, perusahaan terus berinvestasi dalam pengembangan fasilitas daur ulang air, peningkatan efisiensi penggunaan air, serta penerapan praktik konservasi air di berbagai unit operasionalnya antara lain melalui pemanenan air hujan (rainwater harvesting).

Rachmat Indrajaya, Direktur JAPFA, mengatakan, “Setiap tetes air yang berhasil didaur ulang merupakan langkah nyata untuk memperkuat ketahanan operasional di tengah meningkatnya risiko kelangkaan air. Kami tidak memandang keberlanjutan sebagai trade-off bagi bisnis, melainkan sebagai cara untuk memastikan nilai ‘Berkembang Menuju Kesejahteraan Bersama’ dapat terus diwujudkan di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin dinamis.”

Booth JAPFA tak pernah sepi dari pengunjung.

Selain pengelolaan air, JAPFA juga memaparkan capaian dalam pengelolaan limbah. Sepanjang tahun 2025, perusahaan berhasil mengalihkan lebih dari 90% limbah non-B3 atau sekitar 137.000 ton limbah dari tempat pemrosesan akhir (TPA) melalui berbagai pendekatan seperti efisiensi operasional, penggunaan kembali (reuse), dan daur ulang. JAPFA juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengolah bagian unggas dan ikan yang tidak digunakan untuk konsumsi menjadi produk bernilai tambah, serta memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk. Berbagai pendekatan pengelolaan limbah ini dilakukan baik secara internal maupun kolaborasi dengan masyarakat atau kelompok masyarakat untuk memperluas nilai tambah dan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Di sektor energi dan pengendalian emisi, JAPFA terus mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Sejak 2025, perusahaan secara bertahap menghentikan penggunaan batu bara di seluruh fasilitas operasionalnya dan beralih ke sumber energi yang lebih berkelanjutan, seperti gas alam serta biomassa berbahan bakar cangkang kemiri dan cangkang sawit. Saat ini, energi biomassa telah berkontribusi sekitar 35% terhadap total kebutuhan energi perusahaan. Upaya tersebut turut diperkuat melalui pemasangan panel surya dengan total kapasitas terpasang 1,8 MWp di berbagai unit produksi.

Komitmen JAPFA terhadap praktik bisnis berkelanjutan juga mendapat pengakuan dari sektor keuangan. Pada tahun 2021, perusahaan memperoleh pendanaan melalui Sustainability-Linked Bond (SLB) senilai US$350 juta, yang kemudian dilanjutkan dengan Sustainability-Linked Loan (SLL) dari BNI sebesar Rp1,42 triliun (US$ 95 juta) pada tahun berikutnya. Kedua instrumen tersebut mengaitkan kinerja finansial dengan pencapaian target-target keberlanjutan yang dievaluasi secara berkala oleh pihak independen.

LEBIH JAUH TENTANG STRES OKSIDATIF

Keterangan: PSE MEAT (Pale, Soft, Exudative). DFD MEAT: (Dark, Firm and Dry).

Peternakan unggas merupakan sektor penting dalam industri ternak dengan laju pertumbuhan tercepat, yang secara signifikan meningkatkan gizi dan keamanan pangan, dengan produknya yaitu telur dan daging, yang dikonsumsi di seluruh dunia (Surai, 2016). Salah satu faktor utama yang berdampak negatif terhadap produksi ternak adalah stres oksidatif, yang diperburuk oleh perubahan iklim (Vandana dan Sejian, 2018; Oke et al., 2022, 2024).

Chen et al. (2021), menunjukkan bahwa jika pemanasan global semakin memburuk, dampak merugikan dari stres oksidatif akan menjadi lebih nyata. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1, berbagai studi telah menemukan hubungan antara kerusakan oksidan dan penurunan kinerja pertumbuhan pada unggas di bawah stres panas (Kikusato et al., 2021; Oni et al., 2023; Oni et al., 2024).

Tabel 1. Kinerja Pertumbuhan akibat Stres Oksidatif pada Unggas

Referensi/Sumber

Pengaruh Stres Oksidatif pada Kinerja

Surai et al. (2019)

Tingkat pertumbuhan rendah

Mashkoor et al. (2023)

 FCR lebih tinggi

Agrawal et al. (2023)

Pemborosan otot dan penurunan sintesis protein

Zhang et al. (2018)

 Berat badan berkurang


Daging ayam telah menjadi salah satu sumber protein hewani yang paling terkenal karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan relatif terjangkau (Petracci et al., 2015; Oke et al., 2021a; Kpomasse et al., 2023a; Akosile et al., 2023a). Untuk memenuhi permintaan daging yang semakin meningkat, ayam broiler yang tumbuh cepat diperlukan dalam produksi unggas. Oleh karena itu, untuk menjembatani kesenjangan dalam permintaan daging, gen unggas selalu berkembang. Seleksi ayam broiler untuk pertumbuhan cepat membuat mereka lebih rentan terhadap kenaikan suhu dibandingkan spesies unggas lainnya, terutama di daerah tropis (Oke et al., 2016).

Kekurangan kelenjar keringat, bulu yang menghangatkan, dan rasio massa terhadap luas permukaan tubuh yang jauh lebih tinggi juga membuat mereka terpapar berbagai stres lingkungan (Bernabucci, 2019). Suhu tubuh ayam dewasa biasanya berkisar 40,6-41,7 °C (Ranjan et al., 2019). Suhu tubuh internal ayam meningkat ketika suhu luar naik di atas 24 °C, yang menyebabkan beberapa perubahan signifikan pada fisiologi dan metabolisme ayam (Cassuce et al., 2013). Ayam dewasa merasa nyaman ketika ditempatkan di lingkungan dengan suhu sekitar 18-24 °C, sedangkan anak ayam membutuhkan suhu yang lebih tinggi selama minggu pertama kehidupannya sekitar 32 °C, yang secara bertahap menurun seiring pertumbuhan mereka (Scanes, 2015).

Faktor manajemen, mikrobiologi, nutrisi, dan lingkungan berkontribusi terhadap stres dalam produksi unggas komersial, yang berdampak buruk pada produktivitas dan kesehatan keseluruhan ayam (Estévez, 2015; Alo et al., 2024). Spesies unggas menjadi lebih rentan terhadap stres oksidatif karena kondisi lingkungan yang keras akibat perubahan iklim (Gonzalez-Rivas et al., 2020).

Sistem termoregulasi ayam menjadi lebih rentan terhadap kondisi lingkungan yang keras, yang dapat menjadi penghambat bagi produksinya (Zaboli et al., 2019). Kondisi stres membuat spesies unggas lebih rentan menghasilkan radikal bebas sementara aktivitas enzim antioksidan dan kemampuan untuk menangkal radikal bebas menurun (Miao et al., 2020). Hal ini dapat meningkatkan biaya produksi dan menurunkan kualitas daging mereka.

Tingkat stres memengaruhi tingkat produksi ayam serta efektivitasnya. Selain itu, kondisi stres terutama dikaitkan dengan penurunan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

RUPS GALLUS DIHADIRI KETUA ASOHI & TETAPKAN KOMISARIS BARU

Foto bersama dalam acara RUPS Gallus. (Foto: Dok. Infovet)

Bertempat di Kantor Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Kamis (4/6), PT Gallus Indonesia Utama (Gallus) yang merupakan Badan Usaha Milik ASOHI menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). RUPS dihadiri Direktur Utama Gallus Ir Bambang Suharno, bersama Direktur Keuangan-HRD Gallus Drh Rakhmat Nuriyanto, Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi, Komisaris Gallus Gani Harijanto, dan segenap pemegang saham atau perwakilannya.

RUPS kali ini membahas beberapa poin krusial mengenai performa dan arah kebijakan perusahaan. Diawali dengan pembukaan oleh Direktur Utama Gallus dan dilanjutkan dengan Pemaparan Laporan Keuangan Hasil Audit Tahun Buku 2025 oleh Direktur Keuangan-HRD Gallus. 

Dalam pertemuan itu, Bambang menyampaikan presentasi tentang peran Gallus dalam mendukung berbagai kegiatan ASOHI melalui kegiatan penulisan artikel di bulletin Info ASOHI, Majalah Infovet, penerbitan buku, event organizer, serta perkembangan Gallus yang dipercaya oleh berbagai lembaga swasta dan pemerintah baik nasional dan internasional.

Setelah Laporan Kegiatan Tahun 2025 serta Rencana Kerja untuk Tahun 2026 dipresentasikan, acara dilanjutkan dengan pandangan dari Dewan Komisaris dan pembahasan hal-hal lain, diakhiri dengan penutup.

Pertemuan diakhiri dengan diskusi mengenai ide-ide pengembangan Gallus ke depan seiring dengan dinamika yang terjadi dalam dunia bisnis peternakan dan perikanan. Ketua Umum ASOHI mendukung berbagai inovasi yang telah dan akan dilakukan Gallus.

Salah satu keputusan dalam RUPS itu juga adalah pengangkatan Drh Gowinda Sibit sebagai Komisaris Gallus yang baru menggantikan Gani Harijanto. Gani menyampaikan sudah cukup lama menjadi komisaris, sehingga perlu adanya penerus. Ia juga menegaskan, dengan adanya pergantian ini, pihaknya akan terus mendukung suksesnya Gallus sebagai Badan Usaha Milik ASOHI. (WK)

OLAHAN BABAT YANG NIKMAT DAN MITOS MASYARAKAT

Olahan babat yang terlihat nikmat. (Foto: Istimewa)

Tak semua orang suka makan olahan babat, meskipun nikmat. Tak semua orang juga bisa mengolah babat karena butuh kesabaran dan waktu tak singkat. Jika Anda termasuk di dua-duanya, cobalah simak informasi ini.

Jarum jam tangan sudah menujuk angka 12 lewat 10 menit. Saatnya jam makan siang. Sekitaran Pasar Kawak Madiun, Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur, tampak berderet beberapa warung makan, mulai dari warung pecel, warung bakso, hingga warung soto.

Hampir semua warung ramai pembeli. Namun di antara warung-warung tersebut, satu warung terlihat dipadati pembeli. Meja makan yang tersedia hampir semua terisi pembeli. Warung Soto Jeroan Mbak Iis, nama tempat makan ini.

Berbeda dengan warung soto lainnya, warung ini memiliki menu spesial olahan jeroan sapi untuk bahan baku sotonya. Mulai dari iso, paru, limpa, hingga babat sapi semua tersedia di sini. Dengan kuah santan dan jeroan goreng sungguh mengundang selera para pelanggannya.

“Kami buka dari jam tujuh pagi sampai siang, sehabisnya dagangan saja,” tutur Iswati pemilik warung soto ini.

Menurut perempuan yang akrab disapa Mbak Iis ini, harga seporsi mulai Rp 11.000 untuk soto paru, limpa, babat, iso. Selain soto, warung ini juga menyediakan aneka gorengan sebagai pelangkap.

Olahan jeroan sapi di warung ini memang terasa empuk dan tak ada aroma amisnya. Membuktikan teknik mengolahnya sempurna. Mengolah jeroan, terutama bagian babat tak semua orang bisa. Jika tak menguasai tekniknya, babat masih terasa alot seperti handuk. Maka itu, tak semua orang doyan mengonsumsi jeroan babat, selain pertimbangan kandungan kolesterol.

Iis memberikan sekilas tips agar jeroan sapi bisa diolah menjadi menu yang nikmat. Terlebih saat ini, umat Islam baru saja merayakan Hari Raya Kurban, sisa daging dan jeroan mungkin masih tersimpan di dalam kulkas. Bisa diolah menjadi menu istimewa.

Teknik Bijak Mengolah
Dalam literatur tentang anatomi sapi disebutkan, babat memiliki struktur yang cukup kompleks. Retikulum atau perut jala memiliki permukaan yang menyerupai sarang lebah. Omasum atau perut buku memiliki lipatan-lipatan yang menyerupai lembaran buku. Sedangkan abomasum atau perut sejati memiliki permukaan yang lebih halus.

Tekstur babat yang alami cenderung alot dan memiliki aroma khas yang cukup kuat. Oleh karena itu, diperlukan teknik pengolahan khusus agar babat menjadi empuk dan tidak berbau amis saat disajikan. Proses pengolahan yang tepat akan menghasilkan babat yang lezat dengan tekstur yang kenyal namun tidak alot.

Sebelum diolah, babat perlu dibersihkan dengan baik untuk menghilangkan kotoran dan mengurangi bau amis. Pertama, cuci babat di bawah air mengalir hingga bersih. Gosok permukaan babat menggunakan tangan atau sikat halus untuk menghilangkan kotoran yang menempel.

Kedua, rendam babat dalam air garam selama 15-30 menit. Garam akan membantu menghilangkan lendir dan bau amis. Setelah direndam, bilas kembali babat dengan air bersih hingga tidak ada sisa garam. Selanjutnya, potong babat menjadi ukuran yang lebih kecil agar lebih mudah dibersihkan dan diolah.

Ketiga, rebus sebentar babat dalam air mendidih selama 5 menit, lalu buang air rebusannya. Ini akan membantu menghilangkan kotoran dan bau yang tersisa. Gosok permukaan babat dengan irisan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis yang tersisa. Lalu, rendam kembali babat dalam air dingin yang dicampur cuka atau air asam jawa selama 30 menit untuk menetralkan bau.

Proses pembersihan yang teliti, menurut Iis, akan membantu mengurangi bau tidak sedap dan membuat babat lebih higienis untuk diolah. Pastikan untuk membersihkan babat dengan seksama sebelum mulai merebus atau mengolahnya lebih lanjut.

Agar Tak Bau Amis 
Salah satu tantangan dalam mengolah babat adalah menghilangkan bau amisnya yang khas. Meski sudah dilakukan pencucian beberapa kali, terkadang bau amis masih ada. Tips yang bisa dilakukan adalah dengan merendam babat dalam air jeruk nipis atau lemon selama 15-30 menit.

Asam sitrat dalam jeruk akan membantu menetralkan bau amis. Atau gunakan daun salam, serai, dan jahe saat merebus babat. Rempah-rempah ini akan memberikan aroma harum yang menutupi bau amis.

Agar serat babat menjadi empuk, rebus babat dengan menambahkan kulit nanas. Enzim dalam nanas membantu melunakkan daging dan sekaligus mengurangi bau. Ada juga yang menggunakan teknik merebus beberapa tahap, agar tekstur babat benar-benar empuk, sebelum diolah sesuai selera.

Nutrisi dalam Babat
Dengan memilih babat yang berkualitas dan teknik mengolahnya yang tepat, akan mendapatkan hasil olahan yang lebih lezat dan aman dikonsumsi. Memang, tak semua orang menyukai olahan babat dan jeroan lainnya karena berbagai alasan.

Tetapi, meski tergolong sebagai jeroan, babat ternyata memiliki beberapa manfaat nutrisi jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Dalam beberapa literatur yang mengulas tentang nutrisi hewan, dijelaskan bahwa babat dan jeroan sapi juga merupakan sumber protein.

Babat kaya akan protein yang penting untuk pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh. Jeroan ini juga mengandung vitamin B12, penting untuk pembentukan sel darah merah dan fungsi saraf.

Babat juga merupakan sumber zat besi yang dapat membantu dalam produksi hemoglobin dan mencegah anemia. Selain itu, mengandung selenium, berperan sebagai antioksidan dan mendukung sistem kekebalan tubuh.

Jeroan ini juga merupakan sumber fosfor, yang penting untuk kesehatan tulang dan gigi. Bahkan, babat dipercaya mengandung zink yang mendukung sistem kekebalan tubuh dan penyembuhan luka.

Meski nikmat saat disantap, namun perlu diingat bahwa babat juga mengandung kolesterol yang cukup tinggi. Oleh karena itu, konsumsi babat sebaiknya dibatasi, terutama bagi mereka yang memiliki risiko penyakit jantung atau kolesterol tinggi.

Mitos Seputar Babat
Seperti halnya telur ayam, ternyata jeroan babat juga memiliki sejumlah mitos yang sudah lazim di telinga masyarakat. Ada beberapa mitos dan fakta seputar babat yang perlu diketahui.

Pertama, mitos bahwa babat sulit dicerna. Namun faktanya, jika diolah dengan benar, babat dapat dicerna dengan baik oleh tubuh. Proses perebusan yang tepat membantu melunakkan serat-serat babat.

Kedua, mitos bahwa babat selalu berbau amis. Namun, dengan teknik pembersihan dan pengolahan yang tepat, bau amis pada babat dapat dihilangkan atau diminimalkan.
Ketiga, mitos bahwa babat tidak memiliki nilai gizi. Faktanya, babat mengandung protein, vitamin B12, zat besi, dan mineral lainnya yang bermanfaat bagi tubuh.

Keempat, mitos bahwa mengonsumsi babat menyebabkan kolesterol tinggi. Namun dalam faktanya, meskipun mengandung kolesterol, konsumsi babat dalam jumlah wajar sebagai bagian dari diet seimbang tidak selalu menyebabkan kolesterol tinggi.

Kelima, mitos bahwa babat hanya bisa diolah dengan cara direbus. Tetapi dalam kenyataannya, selain direbus, babat bisa diolah dengan berbagai cara seperti digoreng garing, ditumis, atau dipanggang.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa merebus babat agar cepat empuk dan tidak berbau memang memerlukan teknik dan kesabaran. Dengan mempelajari teknik mengolah yang tepat, dapat menghasilkan olahan babat yang lezat dan berkualitas.

Yang pasti, menurut Iis, kombinasi beberapa metode dalam mengolah akan memberikan hasil yang optimal dalam menghilangkan bau amis babat. Nah, bagi yang masih belum pernah mengolah babat atau doyan makan babat, cobalah dengan teknik di atas. (AK)

INDUSTRI UNGGAS AFRIKA SELATAN MELAPORKAN PERTUMBUHAN YANG KUAT DI BAWAH MASTEPLAN

Sektor unggas Afrika Selatan telah melaporkan pertumbuhan investasi dan peningkatan produksi yang signifikan di bawah Poultry Masterplan setelah pertemuan Komite Pengawasan Ekonomi (EOC) pertama antara Departemen Perdagangan, Industri dan Persaingan (DTIC), Departemen Pertanian, dan pemangku kepentingan industri.

Pertemuan tersebut menyoroti kemajuan yang telah dicapai sejak Masterplan diluncurkan pada tahun 2019, termasuk perluasan kapasitas produksi, aktivitas investasi, dan transformasi di dalam sektor tersebut.

Sebanyak 32 pemimpin proyek diakui karena telah membangun operasi unggas skala besar, masing-masing dengan investasi rata-rata sekitar R45 juta. Salah satu investasi individu terbesar adalah KC Hatchery, yang bernilai lebih dari R135 juta. Selain itu, 20 peternak kontrak ayam broiler diakui, bersamaan dengan pengembangan 3 tempat penetasan baru dan sekitar 8 fasilitas peternakan ayam petelur.

Menurut angka industri yang dipresentasikan pada pertemuan tersebut, proyek-proyek ini telah mencapai tingkat keberhasilan yang dilaporkan sebesar 100%, dengan total investasi melebihi R1 miliar (sekitar US$60 juta).

Sektor ini mencatat pertumbuhan yang lebih luas sejak peluncuran Poultry Masterplan, dengan lebih dari R2,1 miliar diinvestasikan di seluruh industri antara tahun 2019 dan 2025.

Selama periode yang sama, produksi unggas meningkat sebesar 26%, naik dari 19,7 juta menjadi 23 juta ekor unggas yang disembelih per minggu. Para pemangku kepentingan industri mengatakan ini mencerminkan peningkatan efisiensi dan perluasan kapasitas di seluruh rantai nilai.

TMC RAYAKAN HARI JADI KE-27 DENGAN AKSI DONOR DARAH

Ultah TMC ke 27
Direktur Utama PT Tekad Mandiri Citra (TMC), drh Gowinda Sibit bersama Jajaran Manajemen merayakan ulang tahun PT Tekad Mandiri Citra yang ke-27 di Bandung, Jawa Barat

Menandai perjalanan panjang selama 27 tahun mendedikasikan diri di industri obat hewan Tanah Air, PT Tekad Mandiri Citra (TMC) memilih cara yang menyentuh hati untuk merayakan hari jadinya. Melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) bertajuk “TMC Peduli – Setetes Darah Untuk Negeri”, TMC menggelar aksi donor darah serta pemeriksaan kesehatan dan mata secara gratis di Pabrik TMC, Bandung, Jumat (3/7).

TMC adalah produsen obat hewan terkemuka dalam negeri yang didukung oleh pengalaman selama 27 tahun di industri obat hewan Tanah Air. Berbekal inovasi yang matang serta portofolio solusi kesehatan hewan yang komprehensif dengan membawa semangat dalam tagline “Tumbuh Kembang dan Sehat Bersama TMC”, menjadi landasan komitmen dan tekad TMC untuk menjadi korporasi profesional dan terkemuka berskala internasional yang berorientasi pada pasar melalui penyediaan berbagai produk berkualitas.

Dengan penuh kehangatan dan suka cita, gerakan kemanusiaan ini disambut antusias oleh para karyawan dari berbagai Departemen di TMC, PT Anugerah Panji Mandiri (APM), PT Biomol Nusantara Mandiri (BIOMOL), serta PT Ganesa KALPATARU Satya (KALPATARU).

Kegiatan hasil kolaborasi dengan PMI (Palang Merah Indonesia) Kota Bandung ini berhasil terkumpul sebanyak 95 kantong darah segar untuk kebutuhan masyarakat di Indonesia. Dari total kantong darah segar yang terkumpul ini akan disalurkan oleh PMI Kota Bandung.

Selain itu, jangkauan CSR kali ini diperluas dengan menggandeng PT Biotek Farmasi Indonesia untuk penyediaan pemeriksaan kesehatan gratis, serta Optical Noor untuk fasilitas pemeriksaan mata cuma-cuma bagi para peserta.

HUT Tekad Mandiri Cita ke 27
Jajaran Manajemen PT Tekad Mandiri Citra (TMC) mengikuti aksi donor darah yang bertajuk “TMC Peduli – Setetes Darah Untuk Negeri” dalam rangka ulang tahun PT Tekad Mandiri Citra yang ke-27 di Bandung, Jawa Barat

Menurut drh Gowinda Sibit, Direktur Utama PT Tekad Mandiri Citra, kegiatan ini sebagai wujud kebanggaan dalam memaknai TMC yang terus bertumbuh dan berkiprah selama 27 tahun di industri obat hewan Tanah Air. “Kegiatan donor darah ini sebagai bentuk berbagi dan kepedulian sosial TMC kepada masyarakat. Juga sekaligus untuk membantu ketersediaan stok darah khususnya di Kota Bandung,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Pak Erwin ini melanjutkan, melalui aksi donor darah ini mengajarkan kesetaraan dan kebersamaan yang tidak ada tandingannya sekaligus beramal dan melatih keikhlasan. “Setelah donor, kita lepas, serahkan kepada yang berwenang dan tidak tahu siapa yang akan mempergunakan darahnya,” ungkapnya.

Pria yang juga aktif melakukan donor darah lebih dari 50 kali ini mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme para pendonor mengikuti kegiatan ini, “Kegiatan ini akan diagendakan secara berkesinambungan sebagai wujud nyata TMC dalam berkontribusi untuk kesehatan masyarakat.”<’/p>

Ia berharap, TMC akan terus meningkatkan kualitas dan potensi diri agar memiliki daya kompetitif dan komparatif yang baik. “Mari bekerja dan terus belajar dalam membangun TMC agar terus bertumbuh, berkembang, dan sehat,” ajak Pak Erwin.

STRES OKSIDATIF, MUSUH TAK KASATMATA DI BALIK TURUNNYA PERFORMA

Mekanisme Penghilangan panas pada ayam. (Sumber: Hy-Line 2016)

Dalam industri perunggasan modern, peternak sering kali berhadapan dengan situasi yang membingungkan. Ayam tampak sehat, konsumsi pakan relatif normal, tidak ada gejala penyakit yang mencolok, namun performa produksi perlahan menurun. Bobot badan tidak mencapai target, konversi pakan memburuk, produksi telur menurun, kualitas karkas berkurang, dan respons vaksinasi tidak optimal. Di balik berbagai gejala yang tampak samar tersebut, sering kali terdapat satufaktor yang luput dari perhatian, yaitu stres oksidatif.

Stres oksidatif atau di Indonesia biasa dikaitkan dan disebut dengan stres panas/heat stress bukanlah penyakit. Ia merupakan kondisi fisiologis ketika tubuh unggas mengalami ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya.

Kondisi ini dapat terjadi pada broiler, layer, breeder, itik, puyuh, hingga unggas lainnya. Bahkan pada peternakan dengan manajemen yang baik sekalipun, stres oksidatif tetap dapat muncul apabila faktor pemicunya tidak terkendali.

Memahami Radikal Bebas
Untuk memahami stres oksidatif, pertama-tama perlu memahami apa yang disebut radikal bebas. Tony Unandar selaku konsultan perunggasan dan Anggota Dewan Pakar ASOHI, mengatakan bahwa radikal bebas adalah molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan sehingga sangat reaktif.

Dalam tubuh unggas, radikal bebas sebenarnya terbentuk secara alami sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Setiap kali sel menghasilkan energi melalui respirasi di mitokondria, sebagian kecil oksigen akan berubah menjadi senyawa reaktif yang dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS). Beberapa contoh ROS yakni superoksida (SO2-), radikal hidroksil (OH), dan lain sebagainya.

Selain ROS, terdapat pula reactive nitrogen species (RNS) yang berasal dari metabolisme nitrogen. Dalam jumlah terkendali, molekul-molekul ini justru memiliki fungsi penting. Mereka membantu sistem imun membunuh patogen, berperan dalam komunikasi antar sel, serta mengatur berbagai proses biologis. Masalah baru muncul ketika jumlah radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya. Pada saat itulah stres oksidatif mulai berkembang.

Mengapa Unggas Rentan Mengalami Stres Oksidatif?
Unggas modern memiliki karakteristik biologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap stres oksidatif dibandingkan nenek moyangnya. Broiler modern tumbuh sangat cepat. Dalam waktu sekitar 35 hari, berat badannya dapat mencapai lebih dari 2 kg. Pertumbuhan luar biasa ini membutuhkan aktivitas metabolisme yang sangat tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, sekaligus konsultan perunggasan. “Semakin tinggi metabolisme, semakin banyak... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK) SIPRUS: VIRUS SUDAH BEREDAR DI BAGIAN UTARA SEJAK DESEMBER 2025

Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di pulau Siprus telah beredar sejak pertengahan Desember 2025. Laporan wabah menunjukkan bahwa virus tersebut muncul pada saat itu di bagian utara pulau yang berbahasa Turki.

Secara resmi, Republik Siprus melaporkan wabah pertamanya pada 19 Februari kepada Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH). Itu adalah pertama kalinya virus tersebut muncul di pulau itu sejak 2008. Namun, itu bukanlah wabah pertama di pulau itu.

Sejak 1974, Siprus telah terbagi menjadi 2 wilayah: bagian selatan yang berbahasa Yunani, yang sekarang secara resmi dikenal sebagai negara Republik Siprus, mencakup sekitar 60% dari pulau itu dan merupakan anggota Uni Eropa. Wilayah utara yang berbahasa Turki bukanlah wilayah yang diakui secara internasional, yang disebut Siprus Utara.

Karena WOAH hanya dapat menerbitkan data yang disediakan oleh negara-negara yang diakui, informasi terperinci, terkini, dan tersedia untuk umum dari wilayah utara lebih sulit didapatkan.

Namun, Uni Praktisi Kedokteran Hewan Eropa melaporkan adanya PMK di Siprus Utara pada pertengahan Desember 2025. Uni tersebut mengutip laporan tentang virus yang ditemukan di dekat kota-kota utara Ayios Sergios (distrik Famagusta) dan Lapithos (distrik Kyrenia). Laboratorium kedokteran hewan di Ankara, Turki, pada saat itu mengkonfirmasi bahwa itu adalah strain SAT-1 dari PMK. Program vaksinasi akan dimulai, kata artikel tersebut.

FRIESLANDCAMPINA INVESTASIKAN JUTAAN EURO DALAM PRODUKSI PROTEIN BERKUALITAS TINGGI

FrieslandCampina menginvestasikan lebih dari €90 juta dalam produksi protein whey berkualitas tinggi. Perusahaan susu ini telah fokus pada sektor ini selama beberapa tahun. Dengan program investasi ini, perusahaan semakin memperluas kapasitasnya untuk memproses whey sendiri, produk sampingan alami dari produksi keju, menjadi bahan whey berkualitas tinggi.

Perusahaan memasok bahan-bahan ini untuk produksi nutrisi olahraga, nutrisi bayi, dan nutrisi medis.

FrieslandCampina berbicara tentang penerapan berbagai peningkatan teknologi dan perluasan kapasitas. Persentase peningkatan kapasitas perusahaan tetap dirahasiakan. FrieslandCampina merujuk pada perluasan substansial jaringan produksi bahan baku, dengan manfaat operasional penuh hingga tahun 2028.

Seorang juru bicara menjelaskan bahwa program investasi ini berfokus pada modernisasi proses dan peralatan. “Fokusnya adalah pada pemrosesan whey menjadi bahan berkualitas tinggi secara lebih efisien dan fleksibel dalam jaringan yang ada,” menurut juru bicara tersebut. Ini berarti fokus yang lebih sedikit pada produksi produk massal dengan nilai tambah yang lebih rendah.

FrieslandCampina tidak bersedia mengungkapkan berapa hasil investasi tersebut secara langsung dalam bentuk uang susu untuk peternak sapi perah anggotanya. Namun, jelas bahwa investasi tersebut meningkatkan nilai yang dapat diekstrak perusahaan dari susu peternak sapi perah anggotanya.

Anne Peter Lindeboom, yang bertanggung jawab atas divisi bahan baku di FrieslandCampina, menunjukkan bahwa permintaan akan protein berkualitas tinggi terus meningkat pesat. Dengan program investasi baru ini, perusahaan membangun investasi multi-juta dolar baru-baru ini, seperti di Borculo dan Amerika Serikat melalui akuisisi Wisconsin Whey Protein.

PAKAN ALA CORN FLAKE DAPAT MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS SAPI PERAH

Pakan flake berbahan dasar jagung yang diproduksi melalui pengolahan uap dapat secara signifikan meningkatkan hasil susu dan meningkatkan efisiensi pakan pada sapi perah. Praktik pemberian pakan ini semakin populer di kalangan petani di beberapa wilayah Rusia.

Sekelompok petani Rusia melaporkan hasil yang menggembirakan dari penggunaan corn flake olahan uap yang menurut mereka "menyerupai sereal sarapan tetapi dirancang untuk nutrisi hewan". Pakan ini diproduksi dengan mengolah jagung dengan suhu dan kelembapan tinggi, meningkatkan daya cerna dan ketersediaan pati dalam pakan sapi.

Para produsen mengatakan teknologi ini memberikan penyerapan nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan jagung giling konvensional, bersamaan dengan peningkatan kebersihan karena tahap pengolahan termal.

"Kami melihat daya cerna sekitar dua kali lipat dibandingkan dengan pakan yang digiling, kerugian minimal selama penyortiran, dan tidak ada mikroorganisme berbahaya setelah pengolahan uap yang lama," kata seorang pemasok seperti dikutip oleh pers lokal Rusia.

Menurut hasil beberapa uji coba lapangan, pakan ini dapat menghasilkan peningkatan produktivitas yang terukur.

“Jika seekor sapi menghasilkan 38 liter per hari, dengan corn flake Anda dapat mencapai 42 liter,” kata Vitaly Yakubchik, CEO dari pemasok yang berbasis di Belarus. “Empat liter per sapi merupakan peningkatan yang sangat signifikan.

Pada skala peternakan, katanya, bahkan peningkatan hasil yang sederhana pun dapat secara signifikan meningkatkan profitabilitas, terutama untuk operasi peternakan sapi perah besar dengan ribuan sapi, yang berpotensi menghasilkan pendapatan tahunan tambahan yang substansial.

RUSIA MENJAJAKI PAKAN YANG DIIRADIASI UNTUK MENDUKUNG PRODUKSI UNGGAS DI ARKTIK

Sekelompok ilmuwan Rusia, termasuk peneliti dari Institut Fisika Nuklir, telah mengusulkan penggunaan radiasi untuk memperpanjang masa simpan pakan hingga setidaknya 1 tahun. Teknologi ini dapat memungkinkan perusahaan unggas Rusia untuk membiakkan ayam broiler di wilayah Arktik, di mana kondisi permafrost mencegah penanaman tanaman pakan.

Para ilmuwan menyarankan penggunaan elektron, atau pasteurisasi dingin, yang merupakan metode pengawetan makanan dan pakan non-termal yang menggunakan berkas elektron berenergi tinggi untuk menonaktifkan mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan parasit. Proses ini melibatkan pengarahan elektron yang dipercepat, yang dihasilkan oleh akselerator partikel, ke produk saat melewati ruang iradiasi terkontrol.

Secara teori, elektron-elektron ini menembus material dan mengganggu DNA mikroba, sementara karena elektron tidak tetap berada di dalam produk dan tidak menimbulkan radioaktivitas pada tingkat energi tersebut, pakan atau makanan yang diolah tidak menjadi radioaktif.

Dengan perkembangan baru ini, para ilmuwan Rusia berharap dapat menyelesaikan masalah yang sudah lama ada: memungkinkan peternakan unggas di Arktik.

Produk pakan hanya dapat dikirim ke bagian utara Rusia selama periode musim panas yang singkat. Sepanjang tahun, peternakan unggas di daerah permafrost perlu menggunakan stok gudang mereka. Faktor ini secara tradisional telah menghambat perkembangan industri unggas di Arktik.

Ini bukan pertama kalinya radiasi diusulkan untuk mengolah produk pertanian di Rusia. Inisiatif serupa untuk menggunakan radiasi dosis rendah untuk memperpanjang umur simpan komoditas pertanian sebelumnya diusulkan oleh perusahaan nuklir Rusia Rosatom.

Namun, dalam praktiknya, elektron dan bentuk iradiasi lainnya hanya diadopsi secara terbatas dalam pertanian dan pengolahan makanan arus utama di banyak pasar, termasuk Rusia, terutama karena kekhawatiran keselamatan yang masih ada.

PARTISIPASI INFOVET DI INDO LIVESTOCK 2026, GELAR SEMINAR PERUNGGASAN

Foto bersama Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Industri peternakan unggas saat ini tengah menghadapi badai tantangan yang tidak main-main. Dari fenomena perubahan iklim global yang ekstrem, ancaman penyakit menular berbahaya, hingga fluktuasi kualitas bahan baku pakan lokal. Dampaknya sangat nyata bagi peternak, angka mortalitas melonjak, efisiensi pakan memburuk, pertumbuhan terhambat, dan ujung-ujungnya keuntungan merosot tajam.

Di tengah situasi pelik ini, Drh H. Baskoro Tri Caroko (BTC), seorang National Poultry Technical Consultant, membawa sebuah angin segar melalui pendekatan holistik dalam pemeliharaan unggas. Pendekatan ini menawarkan satu prinsip, “Keberhasilan peternak menekan mortalitas menempatkan mereka pada peluang profit terbaik. Ketika harga mahal, mendapat laba maksimal, pada waktu harga murah, kerugian minimal,” ujar BTC saat mengisi Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026 Expo & Forum, Kamis (18/6/2026).

Bagaimana konsep holistik ini mampu mengubah nasib peternakan dari jurang kerugian, BTC pun membedah formulanya. Pertama, fondasi utama (revolusi mindset dan upgrade operator kandang). Kegagalan sebuah peternakan sering kali secara instan ditimpakan kepada para pekerja lapangan. Namun, konsep holistik ini menegaskan bahwa kegagalan tidak selalu salah operator. Kuncinya ada pada revolusi mindset dan peningkatan kompetensi (upgrade) para penjaga kandang. Operator kandang harus menyadari bahwa tugas mereka bukan sekadar memberi pakan, melainkan memenuhi kesejahteraan unggas secara menyeluruh. Unggas harus dipastikan mendapat pakan berkualitas, air minum bersih, udara segar, serta perlindungan total (tidak keujanan, kepanasan, terhindar dari stres, dan aman dari predator).

Kedua, menjaga kualitas di lingkungan. Satu paradoks terbesar dalam peternakan konvensional adalah membiarkan unggas makan, minum, tidur, dan buang kotoran di tempat yang sama setiap hari. Jika kualitas lingkungan ini tidak dijaga, kandang akan berubah menjadi bom waktu penyakit bagi ternak. Pola holistik mewajibkan peternak secara aktif mengatasi dampak buruk dari siklus biologis ini. Tata kelola limbah dan manajemen kotoran ayam harus diatur sedemikian rupa agar mudah diamankan kapan saja, sehingga amonia tidak meracuni pernapasan unggas.

Ketiga, strategi upgrade total secara holistik. Untuk memanen ayam yang tumbuh cepat, sehat, dan produktif sesuai potensi genetiknya, peternak harus melakukan upgrade kapasitas kandang secara ketat berdasarkan bobot hidup, dengan standar ideal 12 kg live bird (LB) per meter persegi. Kemudian menerapkan program sanitasi, disinfeksi, dan drainase lingkungan kandang yang prima (biosecurity protection). Lakukan pemberian nutrisi dan perawatan intensif dengan menyediakan pakan berkualitas tinggi yang komposisinya seimbang sesuai kebutuhan setiap fase umur unggas. Hingga dukungan suplemen dan bijak antibiotik.

Pada kesempatan tersebut, BTC juga menceritakan kisah sukses para peternak broiler dan layer yang sudah ia bimbing. Dalam membantu melatih para peternak tersebut, ia mengaransemen dan menciptakan potensi team work di kandang.

“Sehingga sukses yang dicapai hakekatnya adalah keberhasilan yang dicapai peternak sendiri, peternak sebagai bintangnya, pemain utama pentas di panggung pertunjukan yang berhasil dan sukses karena bersedia melakukan upgrade manajemen, mau bersungguh-sungguh, dan kerja keras atas arahan yang diberikan, sehingga mortalitas turun, profit naik,” ungkapnya.

Menurutnya, pendekatan holistik membuktikan bahwa kesuksesan peternakan unggas tidak bisa dicapai dengan cara-cara instan atau parsial. Melalui payung konstelasi One Health (kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan yang saling terkait), peternakan dipandang sebagai sebuah ekosistem yang utuh.

“Ketika manusia berkomitmen untuk menjaga semesta, mulai dari menjaga kesehatan pekerja, merawat hewan ternak dengan penuh empati, hingga melestarikan lingkungan kandang, maka alam akan membalasnya dengan produktivitas yang melimpah. Komitmen mulia inilah yang tidak hanya akan menurunkan mortalitas dan menaikkan profit peternak, tetapi juga membawa berkah bagi ketahanan pangan bangsa,” tukasnya. (RBS)

EW GROUP MEMULAI PEMBICARAAN UNTUK MENGAKUISISI OLMIX GROUP

EW Group yang berbasis di Jerman telah memulai pembicaraan eksklusif untuk mengakuisisi Olmix Group, penyedia solusi perawatan hewan dan tanaman alami.

EW Group dikenal sebagai perusahaan induk dari EW Nutrition, serta perusahaan seperti Aviagen, Hy-Line, Lohmann Breeders, Hubbard, dan Vaxxinova. Merupakan perusahaan induk keluarga global dengan lebih dari 300 anak perusahaan yang beroperasi di sektor  hayati.

Olmix berkantor pusat di Brehan, Brittany, Prancis, dan mengkhususkan diri dalam mengembangkan, memproduksi, dan mendistribusikan solusi berbasis hayati bernilai tinggi untuk peternakan dan pertanian tanaman. Perusahaan ini terkenal dengan rangkaian produk turunan alga. Saat ini, Olmix Group dimiliki oleh Amadéite and Motion Equity Partners.

Dalam siaran pers, Hervé Balusson, pendiri Olmix dan pemilik Amadéite, berkomentar, “Kami sangat senang bahwa Olmix Group telah memasuki negosiasi eksklusif dengan EW Group, yang memiliki nilai-nilai yang sama. Proyek ini akan memastikan masa depan jangka panjang yang positif bagi tim Olmix dan meletakkan dasar untuk prospek yang sangat baik bagi pengembangan bisnis di masa depan.”

Jan Wesjohann, direktur pelaksana EW Group, menambahkan, “Kami sangat gembira dengan prospek menyambut karyawan Olmix ke EW Group. Selama bertahun-tahun, perusahaan telah mengembangkan solusi yang unik dan inovatif dan telah menjadi pemimpin. Kami bermaksud untuk mempercepat dan mendukung jalur pertumbuhan positif Olmix sebagai perusahaan independen dalam grup di samping EW Nutrition.”

Sebagai bagian dari kemitraan yang direncanakan, EW Group dan Olmix akan berkomitmen, berdasarkan prinsip-prinsip EW Group, untuk berinvestasi dalam teknologi baru, R&D, dan perluasan struktur internasionalnya. Syarat-syarat transaksi yang direncanakan belum diungkapkan.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer