| Foto bersama Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026. (Foto: Infovet/Ridwan) |
Industri peternakan unggas saat ini tengah menghadapi badai tantangan yang tidak main-main. Dari fenomena perubahan iklim global yang ekstrem, ancaman penyakit menular berbahaya, hingga fluktuasi kualitas bahan baku pakan lokal. Dampaknya sangat nyata bagi peternak, angka mortalitas melonjak, efisiensi pakan memburuk, pertumbuhan terhambat, dan ujung-ujungnya keuntungan merosot tajam.
Di tengah situasi pelik ini, Drh H. Baskoro Tri Caroko (BTC), seorang National Poultry Technical Consultant, membawa sebuah angin segar melalui pendekatan holistik dalam pemeliharaan unggas. Pendekatan ini menawarkan satu prinsip, “Keberhasilan peternak menekan mortalitas menempatkan mereka pada peluang profit terbaik. Ketika harga mahal, mendapat laba maksimal, pada waktu harga murah, kerugian minimal,” ujar BTC saat mengisi Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026 Expo & Forum, Kamis (18/6/2026).
Bagaimana konsep holistik ini mampu mengubah nasib peternakan dari jurang kerugian, BTC pun membedah formulanya. Pertama, fondasi utama (revolusi mindset dan upgrade operator kandang). Kegagalan sebuah peternakan sering kali secara instan ditimpakan kepada para pekerja lapangan. Namun, konsep holistik ini menegaskan bahwa kegagalan tidak selalu salah operator. Kuncinya ada pada revolusi mindset dan peningkatan kompetensi (upgrade) para penjaga kandang. Operator kandang harus menyadari bahwa tugas mereka bukan sekadar memberi pakan, melainkan memenuhi kesejahteraan unggas secara menyeluruh. Unggas harus dipastikan mendapat pakan berkualitas, air minum bersih, udara segar, serta perlindungan total (tidak keujanan, kepanasan, terhindar dari stres, dan aman dari predator).
Kedua, menjaga kualitas di lingkungan. Satu paradoks terbesar dalam peternakan konvensional adalah membiarkan unggas makan, minum, tidur, dan buang kotoran di tempat yang sama setiap hari. Jika kualitas lingkungan ini tidak dijaga, kandang akan berubah menjadi bom waktu penyakit bagi ternak. Pola holistik mewajibkan peternak secara aktif mengatasi dampak buruk dari siklus biologis ini. Tata kelola limbah dan manajemen kotoran ayam harus diatur sedemikian rupa agar mudah diamankan kapan saja, sehingga amonia tidak meracuni pernapasan unggas.
Ketiga, strategi upgrade total secara holistik. Untuk memanen ayam yang tumbuh cepat, sehat, dan produktif sesuai potensi genetiknya, peternak harus melakukan upgrade kapasitas kandang secara ketat berdasarkan bobot hidup, dengan standar ideal 12 kg live bird (LB) per meter persegi. Kemudian menerapkan program sanitasi, disinfeksi, dan drainase lingkungan kandang yang prima (biosecurity protection). Lakukan pemberian nutrisi dan perawatan intensif dengan menyediakan pakan berkualitas tinggi yang komposisinya seimbang sesuai kebutuhan setiap fase umur unggas. Hingga dukungan suplemen dan bijak antibiotik.
Pada kesempatan tersebut, BTC juga menceritakan kisah sukses para peternak broiler dan layer yang sudah ia bimbing. Dalam membantu melatih para peternak tersebut, ia mengaransemen dan menciptakan potensi team work di kandang.
“Sehingga sukses yang dicapai hakekatnya adalah keberhasilan yang dicapai peternak sendiri, peternak sebagai bintangnya, pemain utama pentas di panggung pertunjukan yang berhasil dan sukses karena bersedia melakukan upgrade manajemen, mau bersungguh-sungguh, dan kerja keras atas arahan yang diberikan, sehingga mortalitas turun, profit naik,” ungkapnya.
Menurutnya, pendekatan holistik membuktikan bahwa kesuksesan peternakan unggas tidak bisa dicapai dengan cara-cara instan atau parsial. Melalui payung konstelasi One Health (kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan yang saling terkait), peternakan dipandang sebagai sebuah ekosistem yang utuh.
“Ketika manusia berkomitmen untuk menjaga semesta, mulai dari menjaga kesehatan pekerja, merawat hewan ternak dengan penuh empati, hingga melestarikan lingkungan kandang, maka alam akan membalasnya dengan produktivitas yang melimpah. Komitmen mulia inilah yang tidak hanya akan menurunkan mortalitas dan menaikkan profit peternak, tetapi juga membawa berkah bagi ketahanan pangan bangsa,” tukasnya. (RBS)

0 Comments:
Posting Komentar