-->

MENGHINDARI DAMPAK IMUNOSUPRESI, KUNCI MENUJU AYAM SEHAT DAN PRODUKTIF

Heat stress pada ayam petelur. (Sumber: layinghens.hendrix-genetics)

Industri peternakan ayam memiliki peran penting dalam menyediakan protein hewani bagi masyarakat. Keberhasilan budi daya ayam sangat ditentukan oleh kondisi kesehatan dan sistem imun ayam. Salah satu tantangan utama yang sering dihadapi peternak adalah imunosupresi, yaitu kondisi menurunnya sistem kekebalan tubuh ayam sehingga rentan terhadap berbagai penyakit.

Penyebab Imunosupresi pada Unggas
Heat Stress
Heat stress merupakan tantangan yang signifikan dalam industri unggas, memberikan dampak besar terhadap kesehatan dan kinerja reproduksi unggas. Heat stress didefinisikan sebagai ketidakmampuan ayam untuk mempertahankan keseimbangan termal di tengah-tengah beban panas lingkungan.

Stres panas muncul dari interaksi yang kompleks dari berbagai faktor termasuk suhu lingkungan, kelembapan, radiasi panas, dan kecepatan udara, dengan suhu lingkungan yang tinggi memainkan peran penting.

Ayam menunjukkan pertumbuhan optimal dalam kisaran suhu termoneutral 18-21°C, dengan suhu lingkungan yang melebihi 25°C dapat menyebabkan stres panas. Selain mengganggu fungsi kekebalan tubuh, stres panas juga mengganggu berbagai proses fisiologis, bermanifestasi dalam peningkatan asupan pakan yang dibarengi dengan penurunan tingkat pertumbuhan dan produksi telur.

Selain itu, stres panas memicu aktivasi aksis hipofisis-adrenal simpatis, yang mengakibatkan peningkatan kadar kortikosteron plasma melalui aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA).

Penekanan kekebalan tubuh akibat tekanan panas terutama bermanifestasi sebagai regresi pada organ-organ kekebalan tubuh seperti limpa, timus, dan jaringan limfatik. Penurunan ini terlihat dari berkurangnya jumlah sel darah putih/white blood cell (WBC) dan tingkat antibodi, serta peningkatan rasio heterofil terhadap limfosit (H/L) pada unggas yang mengalami gangguan kekebalan tubuh (Bakker & Garza, 2024).

Stres panas memberikan berbagai efek pada hewan dan sumbu neuroendokrin-hipotalamus-hipofisis-adrenal, sumbu hipotalamus-hipofisis-tiroid, hipotalamus-hipofisis-gonad, dan sumsum tulang simpatis-adrenal, memiliki peran regulasi yang penting dalam mediasi efek ini. Penemuan utama mengenai neuroendokrinologi unggas yang mengalami stres panas dalam beberapa tahun terakhir diuraikan dalam gambar (Huang et al., 2024).

• Mikotoksikosis
Mikotoksikosis merupakan faktor penting dalam menyebabkan imunosupresi. Mikotoksikosis terjadi akibat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2025.

Ditulis oleh:
Drh Dzaki Muh. Iffanda & Drh Bayu Sulistya
Technical Support, PT Mensana Aneka Satwa

FENOMENA KONSUMSI ASUPAN GIZI VS ROKOK, MENANG MANA?

Konsumsi asupan makanan begizi sangat penting untuk kesehatan. (Foto: Istimewa)

Selama rokok masih menjadi candu, maka untuk menurunkan jumlah konsumennya sangat sulit. Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, orang (termasuk kalangan miskin) rela mengurangi kebutuhan pokok demi menikmati rokok. Sampai kapan begini?

Akhir Juli 2025 lalu, BPS kembali merilis soal konsumsi rokok menjadi salah satu penyebab kronis kemiskinan di Indonesia. Seakan tak dapat dicegah, penyebab ini masih mendominasi, di urutan kedua setelah kebutuhan beras, bahkan terjadi di kalangan masyarakat ekonomi lemah. Rilis terbaru ini merupakan hasil laporan survei hingga Maret 2025.

Sejak satu dekade BPS sudah berulang kali merilis masalah ini, namun persentasenya tak pernah turun. Meski di dalam bungkus rokok sudah tercantum peringatan keras soal bahayanya, namun masyarakat masih saja menikmatinya.

“Beras, rokok, dan kopi sachet masih menjadi penyumbang utama garis kemiskinan per Maret 2025,” begitu tertulis dalam siaran pers BPS, akhir Juli 2025.

Data BPS menunjukkan beras menyumbang sebesar 21,06% terhadap garis kemiskinan (GK). Sementara itu, rokok filter menyumbang 10,72% terhadap GK untuk perkotaan. Sedangkan di perdesaan, beras menyumbang sebesar 24,91% dan rokok kretek filter sebesar 9,99%.

Pada periode sebelumnya juga dijumpai hal serupa. Komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada kemiskinan baik di perkotaan maupun di perdesaan masih berupa beras dengan sumbangan terbesar, yakni 21,01 % di perkotaan dan 24,93% di perdesaan.

Sedangkan rokok kretek filter juga menempati posisi kedua pada GK September 2024, memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK (10,67% di perkotaan dan 9,76% di perdesaan).

Besaran sumbangan rokok bahkan lebih besar dibandingkan bahan makanan pokok seperti telur maupun daging ayam. Bumbu-bumbu dapur krusial seperti bawang merah, gula pasir, dan cabe rawit juga menempati posisi yang lebih rendah pada daftar.

Telur ayam menempati posisi ketiga dengan proporsi 4,50% untuk GK perkotaan dan 3,62% untuk GK perdesaan, dan daging ayam ras menempati posisi berikutnya dengan proporsi 4,22% dan 2,98% untuk perkotaan dan perdesaan secara berurutan.

“Kondisi ini benar-benar memprihatinkan,” ujar ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yuny Erwanto PhD kepada Infovet.

Erwanto menyebut, fenomena semacam ini sungguh sulit diterima akal sehat. Kebutuhan asupan gizi untuk keluarga dikalahkan kebutuhan rokok yang hanya jadi candu. Ia memberikan gambaran kalkulasi kalau dalam sehari orang menghabiskan Rp 20.000 untuk membeli rokok, maka dalam sebulan Rp 600.000 dibakar begitu saja.

“Tapi coba kalau dibelikan telur, dengan asmusi Rp 30.000, maka sebulan dia bisa beli 20 kg telur. Gizi keluarga bisa terpenuhi,” ungkapnya.

Menurut dosen Pangan Hasil Ternak Fakultas Peternakan UGM ini, perputaran uang untuk membeli rokok hanya akan berputar pada pabrik rokok dan cukai ke negara saja. Mereka yang menikmati keuntungan sangat besar, sementara para perokok mendapat titipan zat berbahaya yang bersarang di dalam tubuhnya.

Sementara untuk konsumsi telur atau daging ayam, perputaran uangnya sangat luas. Mulai dari petani jagung, peternak, perusahaan pakan ternak, perusahaan pembibitan, usaha pemotongan hewan, hingga jalur pasar yang melibatkan pelaku usaha.

Artinya semakin tinggi biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi telur atau daging ayam secara tidak langsung akan membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat.

Jebakan Kemiskinan
Dalam rilis BPS di atas, menunjukkan bahwa rokok terutama kretek filter, merupakan salah satu komoditas paling banyak dikonsumsi masyarakat miskin dan berkontribusi besar terhadap garis kemiskinan. BPS menggunakan data konsumsi rokok dalam menghitung garis kemiskinan karena rokok adalah salah satu komoditas yang banyak dikonsumsi, termasuk oleh masyarakat miskin.

Meskipun rokok memberikan pemasukan besar bagi pemerintah, konsumsi rokok yang tinggi di kalangan masyarakat miskin, yang seharusnya memprioritaskan kebutuhan dasar seperti makanan, menjadi fenomena yang miris. Bagi mereka konsumsi rokok dapat menjadi semacam “jebakan kemiskinan” karena uang yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar digantikan untuk rokok.

Kalangan perokok sangat sulit untuk mengurangi jatah rokoknya, apalagi untuk berhenti total. Karena candu rokok sudah bersemayam dalam tubuh, maka ada orang yang berpinsip “tidak apa tidak sarapan, asal tiap pagi bisa merokok.”

“Artinya pokok persoalan utama adalah pemahaman masyarakat dan kebiasan sebagian masyarakat kita yang memang lebih untuk tetap merokok, bagaimana pun kondisinya,” ujar Erwanto.

Karena Rokok “Dimakan”
Sekadar untuk melengkapi informasi tulisan ini, ada ulasan menarik yang disampaikan seorang Petugas Survei BPS, Dwi Ardian, yang ia tulis di platform Kompasiana.com, 24 Juli 2025.

Petugas survei ini mengamati di lapangan, banyak rumah tangga miskin yang lebih memilih mengurangi konsumsi makanan bergizi daripada berhenti merokok. Padahal, menurut standar garis kemiskinan makanan, setiap anggota rumah tangga minimal membutuhkan asupan 2.100 kilokalori (kkal) per hari untuk memenuhi kebutuhan dasar gizi, begitu pengakuan Dwi Ardian.

Padahal, rokok yang harganya mahal tidak memberikan kalori sama sekali (nol kalori). Artinya, uang yang seharusnya digunakan untuk membeli makanan bergizi justru dihabiskan untuk bakar-bakar rokok, suatu kebiasaan yang kontraproduktif bagi kesehatan dan ekonomi keluarga.

Dalam penghitungan garis kemiskinan, BPS menggunakan paket komoditas kebutuhan dasar yang terdiri dari 52 jenis komoditas, termasuk padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur, susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak, dan lemak. Uniknya, rokok juga termasuk dalam daftar ini. Mengapa? Karena rokok “dimakan”, meskipun bukan dalam arti harfiah sebagai makanan bergizi.

Data Susenas menunjukkan bahwa lebih dari 73% pengeluaran rumah tangga miskin dialokasikan untuk membeli 52 komoditas tersebut, termasuk rokok. Sisanya sekitar 26%, digunakan untuk kebutuhan non-makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan.

Artinya, jika rumah tangga miskin mengurangi atau berhenti merokok, mereka dapat mengalihkan pengeluaran tersebut untuk memenuhi kebutuhan pokok yang lebih penting, seperti makanan bergizi atau biaya pendidikan anak.

Rokok dalam “Pelukan” Budaya
Data dari Kemenkes, data BPS, dan data Komnas Pengendalian Tambakau, menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dari waktu ke waktu perokok pemula usia 10-18 tahun beberapa tahun terakhir. Perokok remaja mencapai sekitar 11-12% pada 2024, dari 9% pada 2018. Sedangkan, perokok usia di atas  telah mencapai sekitar 33% pada 2024.

Dalam kebudayaan masyarakat Indonesia, terutama di daerah pedesaan dan komunitas tradisional, kenduri atau selamatan menjadi salah satu ritual yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial. Acara-acara seperti syukuran kelahiran, pernikahan, kematian, atau bahkan peresmian rumah kerap dijadikan momentum untuk berkumpul.

Namun, di balik nilai kebersamaan yang dijunjung tinggi, tradisi semacam ini turut berkontribusi terhadap meningkatnya akses dan konsumsi rokok di masyarakat. Rokok sering kali menjadi bagian tak terpisahkan dalam penyelenggaraan kenduri, baik sebagai pelengkap sajian bagi tamu maupun sebagai sarana penghormatan kepada sesama. Dalam banyak kasus, rokok bahkan dianggap sebagai “tanda terima kasih” bagi para undangan yang hadir, sehingga menciptakan persepsi bahwa menolak rokok bisa dianggap “tidak sopan”.

Budaya memberikan rokok kepada tamu atau sesama peserta kenduri juga memperkuat normalisasi konsumsi rokok dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dalam acara-acara adat di Jawa, rokok kerap disediakan dalam nampan atau gelas bersama hidangan lainnya, seolah-olah menjadi kebutuhan pokok yang setara dengan makanan dan minuman.

Hal ini mengakibatkan rokok tidak lagi dipandang sebagai barang berbahaya, melainkan sebagai bagian dari adat istiadat yang harus dihormati. Akibatnya, anak-anak dan remaja yang turut serta dalam acara semacam ini sejak dini terpapar kebiasaan merokok dan menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah.

Menurut Yuny Erwanto, kalau saja anggaran rokok tersebut dialihkan, misalnya untuk bikin ayam bakar atau ikan bakar yang bisa dinikmati bersama, tentu jauh lebih sehat. Tapi apa daya, tradisi memang sulit untuk “ditaklukkan”. ***


Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

SEMINAR NASIONAL MENYONGSONG HATN 2025 DIGELAR DI USU

Foto bersama Seminar Nasional dalam rangka menyongsong HATN 2025 di USU. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Selasa (19/8/2025), bertempat di Aula Fakultas Peternakan Universitas Sumatra Utara (USU), diselenggarakan Seminar Nasional dalam rangka menyongsong Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2025.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Bidang Promosi Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia, Ricky Bangsaratoe, yang juga Ketua Panitia Pusat HATN, menyampaikan apresiasinya kepada USU yang telah mendukung kegiatan HATN.

“Terima kasih kepada USU yang telah berkenan memfasilitasi dan mendukung seminar ini. Diharapkan ini menjadi inspirasi dan bekal bagi para mahasiswa bidang peternakan untuk bisa berkontribusi secara nyata dalam membangun sektor perunggasan agar lebih maju dan berdaya saing,” kata Ricky.

Salah satu bentuknya adalah dengan terus menggencarkan edukasi terkait pentingnya konsumsi protein hewani sebagai sumber makanan bergizi, sekaligus menangkal isu-isu hoaks seputar daging ayam dan telur yang berdampak pada melambannya tingkat konsumsi dua protein hewani tersebut.

Selain itu juga dapat mengubah mindset di masyarakat untuk lebih memerhatikan asupan makanan bergizi ketimbang konsumsi rokok dan pulsa. “Konsumsi daging ayam dan telur saat ini masih kalah dengan konsumsi rokok, dan Indonesia menjadi salah satu negara dengan konsumsi rokok tertinggi di ASEAN,” ujar Bambang Suharno selaku Pemimpin Redaksi Majalah Infovet sebagai Official Media Partner HATN, yang didapuk menjadi narasumber dengan topik peningkatan konsumsi ayam dan telur, serta dampaknya bagi lulusan peternakan.

Pemred Infovet Bambang Suharno saat menyampaikan presentasinya.

Oleh karena itu, ia pun mengimbau kepada para mahasiswa dan dosen yang hadir untuk terus mengupayakan kampanye pentingnya makan daging ayam dan telur sebagai penunjang kesehatan bagi masyarakat.

Karena dengan semakin tingginya konsumsi, tentunya industri perunggasan akan semakin tumbuh dan membuka peluang besar bagi masyarakat khususnya para lulusan bidang peternakan. Saat ini produksi unggas pun semakin tinggi dan teknologinya semakin berkembang.

“Bisnis perunggasan makin berkembang dan besar, peluang karir dan usaha bagi lulusan peternakan juga makin terbuka. Karena itu diperlukan upgrade skill, keterampilan digital, networking, dan juga mindset enterpreneur bagi para mahasiswa,” ucapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Technical Consultant Animal Protein USSEC Indonesia, Alfred Kompudu. Menurutnya, unggas modern yang terus berkembang dan semakin terdepan dapat membuka peluang usaha yang besar bagi para lulusan peternakan, baik dari bisnis pakan, budi daya, peralatan, kesehatan hewan, pengolahan hasil peternakan, hingga retail.

Ia pun secara mendalam turut menjelaskan perkembangan budi daya unggas dulu vs modern, bagaimana mencapai target performa unggas, hingga manajemen pemeliharaan mulai dari pemberian pakan dan air minum, program pencahayaan, kebutuhan udara, serta kepadatan dan sanitasi kandang, yang menjadi kunci sukses dalam manajemen pemeliharaan unggas.

Foto bersama usai penandatangan kerja sama antara Pinsar Sumatra Utara dan USU.

Momentum seminar ini pun menjadi pembuka rangkaian gelaran HATN 2025 yang akan berlangsung di Sumatra Utara. Puncak acaranya direncanakan akan dilaksanakan pada Oktober mendatang, sekaligus bertepatan dengan peringatan World Egg Day (WED) 2025. (RBS)

GEA SETUJU MEMBANGUN PROYEK PETERNAKAN SAPI PERAH TERBESAR DI DUNIA DI ALJAZAIR

CEO GEA, Stefan Klebert, dan perwakilan Baladna, produsen susu dan makanan terkemuka Qatar, bersama dengan pemerintah Aljazair, menandatangani perjanjian untuk membangun peternakan sapi perah dan fasilitas susu bubuk terpadu terbesar di dunia di Aljazair.

Menurut siaran pers terbaru perusahaan, GEA akan menyediakan rangkaian lengkap solusi peternakan dan pengolahan susu, yang merupakan salah satu pesanan tunggal terbesar bagi GEA hingga saat ini. Produksi susu bubuk direncanakan akan dimulai pada akhir tahun 2027, dengan skala bertahap.

Aljazair saat ini merupakan importir susu bubuk terbesar ketiga di dunia. Untuk memperkuat otonomi dan ketahanan pangan di masa depan dalam produk susu, pemerintah Aljazair melalui Dana Investasi Nasionalnya dan Baladna Q.P.S.C. dari Qatar menjalin kemitraan strategis melalui anak perusahaan yang baru dibentuk, Baladna Algeria S.P.A. Kemitraan ini bertujuan untuk membiayai dan mengelola pembangunan fasilitas peternakan sapi perah dan produksi susu bubuk terpadu yang canggih di Provinsi Adrar, Aljazair. Susu bubuk produksi lokal ini direncanakan akan memenuhi sekitar 50% kebutuhan susu bubuk nasional Aljazair, sebuah langkah signifikan menuju swasembada. Selain itu, proyek ini akan menciptakan sekitar 5.000 lapangan kerja.

Fasilitas ini akan menjadi yang terbesar di jenisnya, terletak sekitar 90 km dari ibu kota provinsi. Konstruksi akan dimulai pada awal tahun 2026, dengan produksi susu bubuk pertama dijadwalkan dimulai pada akhir tahun 2027. Volume produksi akan ditingkatkan secara bertahap. Setelah selesai dan pasokannya terpenuhi, kapasitas akhir fasilitas ini akan mencapai sekitar 100.000 ton susu bubuk per tahun.

“Kami bangga bahwa Baladna dan pemerintah Aljazair mempercayakan GEA untuk memainkan peran kunci dalam proyek penting ini,” ujar Stefan Klebert, CEO GEA. "Kami tidak hanya membangun fasilitas terbesar di dunia, kami juga membantu memperkuat ketahanan pangan dan pembangunan ekonomi regional."

"Kemitraan dengan GEA ini menandai tonggak penting dalam percepatan proyek ini," ujar Mohamed Moutaz Al-Khayyat, ketua Baladna.

GEA akan mencakup seluruh rantai nilai produksi susu bubuk, mulai dari peternakan sapi perah hingga pemrosesan dan pengemasan produk akhir.

SUJA KEMBALI EKSPOR AYAM BEKU KE TIMOR LESTE


Seremonial Pelepasan Ekspor Suja Ke Timor Leste
(Foto : CR)


PT Sumber Unggas Jaya (Suja) selaku salah satu pemain utama di bisnis perunggasan kembali melakukan perilisan ekspor ke Timor Leste. Acara tersebut digelar di Fasilitas Rumah Pemotongan Hewan Unggas mereka di Kawasan Mandirancan, Kabupaten Kuningan 14 Agustus 2025 yang lalu. Sejumlah 9,7 ton ayam beku senilai 22.200 USD atau sekitar 360 juta rupiah berhasil diberangkatkan oleh Suja ke Timor Leste pada hari itu. 

Direktur PT Suja Min Dong Sun dalam sambutannya mengatakan bahwa pengiriman ini merupakan bagian kesepakatan Suja dengan buyer di Timor Leste. Transaksi totalnya sendiri bernilai 114.000 USD atau sekitar 114.000 USD atau senilai 1,85 Miliar Rupiah dengan volume total mencapai 50 ton.

"Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan bekerja keras untuk mewujudkan hal ini. Kami membuktikan bahwa produk perunggasan Indonesia masih punya nilai dan daya saing di regio Asia Tenggara, semoga kedepannya ini dapat dilanjutkan," tutur Min Dong Sun. 

Ia juga menyatakan komitmen Suja untuk membuka pasar baru di berbagai negara dan meminta kepada pemerintah untuk terus mendukung kegiatan mereka membuka pasa ekspor.

Dalam kesempatan yang sama, Kementerian Pertanian yang diwakili oleh Direktorat Hilirisasi Peternakan yang diwakili oleh Andri Handindyo Wibowo selaku Kasubdit Hilirisasi peternak juga hadir dalam acara tersebut. Andri menyatakan bahwa pemerintah sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Suja. 

"Kegigihan Suja dalam membuka pasar ekspor adalah suatu hal yang sangat luar biasa, semangat ini yang harus dimiliki oleh para pelaku indsutri perunggasan di Indonesia. Ini juga bukti bahwa produk perunggasan kita memiliki daya saing dengan produk luar," tutur Andri. 

Meskipun saat ini market share produk Indonesia di Timor Leste baru 3,76%, Andri optimis bahwa angka tersebut bisa lebih besar. Apalagi ia mendapatkan info bahwa buyer dari Timor Leste juga sangat antusias dengan produk - produk suja yang kemungkinan ditargetkan sejumlah 60 ton ekspor tercapai di tahun 2025 ini. 

Tetap Optimis 

Suja sendiri tetap optimis menggarap pasar Timor Leste, hal tersebut disampaikan oleh Dewa Putu Sumerta selaku Komisaris Suja. Dirinya mengatakan Timor Leste adalah salah satu pasar yang menjanjikan meskipun ada beberapa hambatan. 

"Kita bersaing dengan produk dari Brazil dan negara lain di sana, tapi kita tak gentar. Antusiasme buyer tinggi, dalam satu bulan kebutuhan di sana juga sudah bisa kami forecast dengan baik. Bahkan mungkin target 60 ton itu bisa tercapai," tutur Dewa. 

Yang menjadi nilai plus, kata Dewa adalah produk - produk yang dikirimkan oleh Suja merupakan produk yang terjamin kesegaran dan rantai dinginnya, sehingga pembeli di Timor Leste merasa puas dengan kualitas produk yang didapat. 

"Kita dapat info dari sana, harga produk Brazil bahkan diturunkan supaya banyak peminat, tapi tetap saja masyarakat di sana mencari produk kita yang mereka rasa kalau ayamnya lebih fresh dan rasanya juga berbeda. Ini yang membuat kita optimis, makanya kita selalu komit untuk mengirimkan produk terbaik ke sana," tutur Dewa. (CR)  


PRANCIS MENGINTENSIFKAN UPAYA MELAWAN LUMPY SKIN DISEASE

Kementerian Pertanian Prancis berupaya semaksimal mungkin untuk menghentikan penyebaran lumpy skin disease (LSD) yang cepat. Sejak kasus pertama muncul pada bulan Juni, 32 infeksi telah terkonfirmasi.

Segera setelah laporan pertama, Kementerian membeli sejumlah besar vaksin dari stok Eropa, memerintahkan pemusnahan peternakan yang terinfeksi sesegera mungkin, dan kini juga telah memulai vaksinasi wajib di area yang luas di sekitar peternakan yang terinfeksi.

Meskipun Prancis telah berjuang melawan wabah besar penyakit bluetongue dan epizootic hemorrhagic selama beberapa waktu, Menteri Pertanian dan Kedaulatan Pangan, Annie Genevard, meyakini penyakit sapi baru ini di negara tersebut lebih serius, baik dari segi tingkat infeksi maupun dampaknya. Oleh karena itu, ia mengadakan rapat darurat komite khusus pengendalian penyakit hewan.

“Kita berpacu dengan waktu untuk memberantas virus dan mencegah seluruh populasi ternak Prancis terinfeksi. Langkah-langkah ketat ini tak terelakkan untuk melindungi ternak kita. Saya berkomitmen penuh untuk mendukung para peternak dalam menghadapi penyakit serius yang sedang berkembang ini,” jelasnya.


INFOVET TERIMA KUNJUNGAN FATERNA UNAND

Foto bersama, dari kiri: Yan Heryandi, Nurhayati, Mardiati Zain, dan Bambang Suharno. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Selasa (12/8/2025), Redaksi Infovet menerima kehadiran Pimpinan Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Faterna Unand) Padang.

Dalam kunjungannya, Dekan Faterna Unand Prof Dr Ir Mardiati Zain, bersama Wakil Dekan II Dr Nurhayati SPt MM, dan dosen senior sekaligus kontributor Infovet daerah Sumatra Barat Dr Yan Heryandi, bertemu langsung dengan Pemimpin Redaksi Majalah Infovet Bambang Suharno.

Dalam diskusi tersebut, Prof Mardianti menyampaikan agar bisa menjalin kolaborasi dengan Infovet yang telah menjadi media peternakan dan kesehatan hewan yang terpercaya dan berpengalaman. Agar hasil-hasil riset dari para dosen pengajar bisa lebih merambah masyarakat melalui komunikasi yang informatif dan mudah dipahami.

Langkah tersebut disambut baik oleh Pemred Infovet Bambang, yang memperkenalkan sekaligus menjelaskan secara detail mengenai PT Gallus Indonesia Utama, termasuk Infovet, Infoakuakultur, Cat&Dog, serta beberapa divisi lainnya seperti GITAPustaka, GITA Consultant, dan GITA EO.

Diskusi Infovet bersama Faterna Unand.

Melalui Infovet, lanjut Bambang, sinergi yang terjalin ini diharapkan bisa semakin berkembang dengan penyebaran informasi yang bermanfaat bagi masyarakat. “Salah satu bentuknya bisa melalui seminar atau webinar mengenai pelatihan menulis bagi para dosen yang memiliki karya ilmiah, supaya informasinya bisa mudah dimengerti dan dipahami masyarakat sehingga memiliki manfaat yang lebih besar,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Prof Mardianti turut mengapresiasi dan menyampaikan rasa terima kasihnya. “Kami berharap bisa terjalin sinergi yang lebih baik lagi, kita saling bertukar pikiran yang tentunya bisa menambah wawasan,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Yan Heryandi. Ia berharap kerja sama ini bisa berjalan dengan baik sehingga sharing ilmu yang didapat bisa bermanfaat.

Yan Heryandi merupakan salah satu senior di Infovet dan kini menjembatani dan mendampingi Dekan Faterna Unand ke berbagai lembaga, asosiasi, ataupun pelaku usaha bidang peternakan, termasuk diskusi dengan pimpinan Infovet. Infovet juga menjembatani komunikasi pihak Unand dengan beberapa pihak di Jakarta. (INF)

PERANG TELUR DI PRANCIS KEMBALI MEMANAS

Hubungan antara peritel Prancis dan produsen telur yang mereka jual kembali memanas.

Dua supermarket besar, Carrefour dan Leclerc, baru-baru ini mulai menjual telur dari Polandia dan Ukraina. Mereka mengatakan tidak dapat menemukan cukup produk Prancis untuk memenuhi rak dan memenuhi permintaan yang terus meningkat. Organisasi untuk industri telur – ‘Interprofession’ CNPO – mengatakan telur-telur tersebut berasal dari sistem kandang, sementara peritel yang sama telah memaksa banyak pemasok telur mereka di Prancis untuk beralih ke sistem bebas kandang.

Baru-baru ini, kedua pihak juga berselisih pendapat tentang pembiayaan bersama oleh sektor ritel untuk ovo-sexing wajib guna menghindari pemusnahan massal anak ayam jantan. Kesepakatan baru tercapai setelah negosiasi panjang, intervensi mediator, dan ancaman dari asosiasi produsen telur CFA untuk menghentikan pasokan telur.

Kini, kedua organisasi ritel, FCA dan FCD, telah memutuskan untuk segera meninggalkan CNPO karena merasa tidak dapat menyuarakan pendapat mereka. Mereka menuduh CNPO memiliki suara yang riuh, terutama karena organisasi tersebut menyambut beberapa serikat petani dan serikat produsen ayam berlabel berkualitas sebagai anggota baru.

“CNPO memiliki struktur tata kelola yang tidak memungkinkan dialog yang konstruktif dan seimbang dengan semua pihak yang terlibat. Terlalu banyak orang yang terlibat. Mereka baru-baru ini membuat sejumlah keputusan tanpa mempertimbangkan kepentingan sektor ritel,” kata ketua FCD, Layla Rahnou.

CNPO terkejut dengan keputusan mendadak ini. “Ini bertentangan dengan fungsi seluruh sektor telur di negara kami, di saat permintaan telur yang terus meningkat mengharuskan kita untuk bekerja sama meningkatkan pasokan telur Prancis,” kata CNPO.

Tahun lalu, rata-rata konsumsi telur per orang di Prancis adalah 226 butir, yang meningkat 4,2% dari tahun ke tahun, sementara rata-rata global adalah 182 butir. Produksi nasional tidak dapat memenuhi permintaan, sehingga impor telur meningkat pesat, yang membuat para produsen Prancis kesal. Selama ini telur-telur luar negeri tersebut sebagian besar diperuntukkan bagi industri pengolahan atau sektor perhotelan, namun kini telur-telur untuk pasar konsumen juga datang dari luar negeri.

PRODUKSI HEWAN GLOBAL TUMBUH 14% DALAM DEKADE MENDATANG

Produksi pertanian hewan global, termasuk makanan laut, akan tumbuh sebesar 14% selama 10 tahun ke depan karena penduduk dunia diperkirakan akan mengonsumsi lebih banyak produk hewani, dengan pertumbuhan yang diantisipasi sebesar 6% per kapita.

Proyeksi ini telah dibuat oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) dan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam sebuah laporan tentang produksi dan permintaan pangan di masa mendatang hingga tahun 2034.

Konsumsi produk hewani akan meningkat, terutama di negara-negara berkembang dengan tingkat kemakmuran yang semakin meningkat. Namun, konsumsi ini akan tetap tertinggi di negara-negara berpenghasilan tinggi. Di wilayah termiskin, konsumsi produk hewani akan tetap rendah.

Diperkirakan bahwa selama 10 tahun ke depan, konsumsi daging, ikan, dan susu akan meningkat sebesar 14%. Sebagaimana konsumsi per kapita, pertumbuhan diperkirakan terutama terjadi di negara-negara berpenghasilan menengah, di mana populasi dan kemakmuran meningkat tajam. Di negara-negara ini, separuh pertumbuhan disebabkan oleh pertumbuhan penduduk, dan separuhnya lagi disebabkan oleh peningkatan konsumsi per kapita. Di negara-negara miskin, konsumsi per kapita tidak akan meningkat, tetapi konsumsi total akan meningkat akibat pertumbuhan penduduk.

Aspek lain yang mencolok dari analisis ini adalah meningkatnya transportasi pangan. Dalam 10 tahun, 22% dari seluruh kalori yang dikonsumsi akan diimpor dari luar negeri. Oleh karena itu, kebutuhan akan transportasi meningkat karena produksi semakin banyak dilakukan jauh dari tempat konsumsi. Para penulis laporan menekankan bahwa hal ini justru meningkatkan pentingnya kerja sama internasional.

Peningkatan produksi sebagian dicapai melalui peningkatan produktivitas per hewan dan per hektar. Teknologi baru, serta investasi modal dan penggunaan pupuk serta pakan tambahan yang lebih intensif, terutama di negara-negara menengah, dipandang sebagai pendorong utama. Namun, perluasan lahan pertanian juga diperkirakan akan terjadi, terutama di Afrika dan Asia Selatan, di mana akses terhadap teknologi modern masih terbatas.

Emisi gas rumah kaca dari pertanian primer diperkirakan akan meningkat sebesar 6%. Angka ini lebih rendah daripada pertumbuhan produksi. Emisi per kilogram produk akan menurun. Sementara itu, para ahli yakin masih ada ruang untuk perbaikan. Jika metode rendah emisi yang tersedia diterapkan, peningkatan produktivitas sebesar 15% dimungkinkan, dikombinasikan dengan pengurangan emisi sebesar 7%.

RUSIA: KERUGIAN FINANSIAL MEMICU KEMATIAN MASSAL DAN MEMICU KEKHAWATIRAN KESEJAHTERAAN UNGGAS

Peternak unggas di Rusia melakukan pemusnahan massal ayam petelur, terkadang menggunakan metode yang tidak konvensional dan tidak manusiawi. Krisis profitabilitas dalam industri telur dilaporkan telah mencapai titik didih, dengan sebagian besar peternakan telur beroperasi dengan kerugian.

Beberapa insiden kematian massal ayam petelur yang disebabkan oleh manusia telah mengejutkan masyarakat Rusia selama sebulan terakhir. Kasus pertama terjadi di sebuah peternakan di Krasnodar Krai, di bagian selatan Rusia bagian Eropa, di mana lebih dari 150.000 ayam petelur dibiarkan tanpa pakan karena perusahaan tidak lagi mampu mempertahankan operasi akibat utang yang sangat besar. Petugas veteriner menemukan bahwa, setelah dibiarkan tanpa pakan selama beberapa hari, ayam-ayam yang putus asa itu mulai menunjukkan perilaku kanibal.

Dalam kasus lain, seorang peternak tak dikenal di Republik Udmurtia telah meninggalkan sekitar 3.000 ayam di lahan terbuka, kemungkinan juga dalam upaya untuk menyingkirkan kawanan tersebut.

Kedua kasus tersebut menggambarkan krisis mendalam yang dialami industri telur Rusia selama beberapa tahun terakhir. Sebagian besar peternakan saat ini beroperasi dengan kerugian, karena harga grosir telur mencapai Rub 2 ($0,025) per unit pada bulan Juni, lebih dari dua kali lipat biaya produksi, menurut Ksenia Sumkova, wakil ketua asosiasi petani Rusia, People's Farmer. Meskipun harga sedikit pulih pada bulan Juli, harganya masih di bawah batas profitabilitas.

Sejak awal tahun, produksi telur Rusia melonjak hampir 1 miliar unit, yang telah mendorong pasar ke kondisi kelebihan pasokan, ujar Galina Bobyleva, direktur umum Persatuan Peternak Unggas Rusia.

Untuk mencegah situasi seperti ini terulang kembali, ia menyarankan agar pemerintah merestrukturisasi rantai pasokan dengan mendorong pedagang grosir untuk menandatangani perjanjian jangka panjang dengan peternak telur skala menengah dan kecil. Salah satu faktor kelebihan pasokan adalah peternakan telur yang gulung tikar akibat wabah flu burung yang sangat patogen tahun ini telah beroperasi secara bertahap, ujar Elena Lazareva, direktur umum Tavros, produsen telur terkemuka.

Sementara itu, komunitas perlindungan lingkungan Rusia telah mengintensifkan upayanya untuk meyakinkan pihak berwenang agar mengadopsi aturan kesejahteraan hewan yang ketat guna mencegah kasus-kasus yang baru-baru ini terjadi di industri telur.

Sebagaimana diungkapkan oleh Kirill Goryachev, seorang aktivis kesejahteraan hewan setempat, hewan ternak adalah "yang paling tidak terlindungi" di antara semua hewan di Rusia, dan para peternak bebas "memperlakukan mereka seperti sampah". Namun, sebuah rancangan undang-undang baru yang saat ini sedang disusun bekerja sama dengan Kamar Dagang Publik, sebuah badan konsultan di bawah pemerintah Rusia, dikatakan akan mengubah situasi ini.

MCDONALD AKAN MEMFASILITASI PRODUKSI AYAM BROILER BESAR DI ARAB SAUDI

McDonald telah menandatangani perjanjian kemitraan dengan Otoritas Pembangunan Saudi dan Al Tanmiah Food Company yang bertujuan untuk mendukung kualitas produksi unggas lokal dan memajukan sektor perunggasan di Kerajaan Saudi.

Sebagai bagian dari perjanjian tersebut, McDonald dan Tanmiah Food Company telah bersatu untuk memperluas produksi ayam pedaging besar di Arab Saudi. Tanmiah, sebagai satu-satunya perusahaan unggas yang mampu memproduksi ayam pedaging besar di wilayah tersebut, berada di posisi yang tepat untuk tugas ini, sebagaimana dinyatakan dalam siaran pers mereka pada 24 Juli.

Berdasarkan perjanjian tersebut, Tanmiah akan meningkatkan pasokan unggasnya ke restoran McDonald di Arab Saudi. Dengan sekitar 412 restoran di seluruh negeri, McDonald merupakan salah satu jaringan restoran cepat saji terbesar di Arab Saudi.

Membesarkan ayam pedaging besar merupakan tantangan yang umum dihadapi karena iklim yang keras dan kondisi pertanian yang sulit di Arab Saudi, perusahaan Saudi tersebut mengakui. Peternak unggas Saudi biasanya memelihara ayam pedaging yang relatif kecil, dengan bobot hidup rata-rata sekitar 1,4 kg dan bobot karkas rata-rata sekitar 1 kg. Siklus pertumbuhan ayam pedaging ini biasanya berkisar antara 28 hingga 35 hari. Ayam pedaging di Arab Saudi mengalami kenaikan berat badan rata-rata 48-54 gram per hari.

Beberapa faktor secara historis menyebabkan peternak unggas Saudi lebih memilih memelihara unggas yang lebih kecil. Misalnya, ayam pedaging yang lebih kecil membutuhkan ruang yang lebih sedikit per ekor, sehingga memungkinkan kepadatan ternak yang lebih tinggi dan memaksimalkan produksi di fasilitas yang tersedia. Selain itu, konsumen di Arab Saudi cenderung memilih unggas yang lebih kecil.

Untuk memelihara ayam pedaging besar, Tanmiah mengatakan pihaknya mengandalkan keahliannya di bidang peternakan unggas, pakan, kesehatan hewan, dan nutrisi.

Kemitraan baru ini ditandatangani sebagai bagian dari Visi Saudi 2030, sebuah program pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk memperkuat swasembada pangan kerajaan.

"Kemitraan kami dengan Tanmiah mencerminkan visi bersama kami untuk melokalisasi produksi unggas sejalan dengan tujuan Visi Saudi 2030, dan komitmen berkelanjutan kami untuk memastikan standar kualitas, keamanan, dan keberlanjutan tertinggi di setiap tahap rantai pasokan," ujar Pangeran Majed Fahad Al Saud, Asisten CEO McDonald Arab Saudi.

PAKAN BEBEK PEDAGING AGAR CEPAT BESAR

pakan bebek pedaging agar cepat besar

Agar bebek pedaging cepat besar jenis pakan yang diberikan memang mempengaruhi. Namun juga diperlukan strategi formulasi pakan sehingga kebutuhan nutrisi bebek terpenuhi dengan baik.

Berikut jenis pakan bebek pedaging agar cepat besar:

Ampas tahu: Harganya murah dan mudah ditemukan terutama di daerah yang terdapat produsen tahu. Kandungan proteinnya cukup tinggi juga mengandung lemak dan nutrisi lainnya.

Bekatul: Mengandung karbohidrat sekaligus protein. Seperti diketahui pemenuhan kebutuhan protein harian penting untuk pertumbuhan bebek pedaging.

Dedak: Banyak digunakan peternak profesional maupun ternak skala rumah tangga. Mengandung protein, serat, dan lemak. Bagus sebagai sumber energi.

Jagung: Tinggi karbohidrat, bagus untuk sumber energi utama bebek.

Onggok: Merupakan limbah dari pembuatan tepung tapioka. Karena berasal dari singkong maka kandungan karbohidratnya tinggi.

Sorgum: Tinggi karbohidrat dan juga mengandung protein, lemak, serat, vitamin. Namun sayangnya harganya cukup tinggi.

Demikian beberapa jenis dari bahan-bahan yang bisa digunakan sebagai pakan bebek agar cepat tumbuh besar. Tiap bahan mungkin diperlukan pengolahan lebih lanjut, dan masa simpannya juga berbeda-beda.

Namun sekali lagi, pakan bebek yang baik tidak hanya bergantung dari satu bahan namun memerlukan formulasi agar kebutuhan nutrisi bebek terpenuhi.

Untuk yang ingin praktis bisa menggunakan pakan komersial yang biasanya berbentuk curmble, pellet atau mash. Pakan komersial sudah diformulasikan oleh pabrikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian bebek.

Untuk yang kesulitan mendapatkan pakan komersial, atau karena alasan lain, bisa melakukan self mixing. Yaitu mencampur bahan-bahan pakan sendiri. Namun hal ini diperlukan pengetahuan tersendiri dan tidak bagus jika asal campur tanpa tahu ilmunya.

SUKSES GELAR MUNAS KE-V, HERRY DERMAWAN KEMBALI PIMPIN GOPAN

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, saat mengukuhkan kepengurusan GOPAN periode 2025-2030. (Foto: Dok. Infovet)

Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) resmi menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) ke-V di Bogor pada Rabu (6/8/2025). Kegiatan ini menjadi momen strategis untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merumuskan arah perjuangan lima tahun ke depan.

Beberapa agenda utama pun dibahas dalam forum tersebut, antara lain Laporan pertanggungjawaban Dewan Pengurus Pusat (DPP); pembahasan dan pengesahan AD/ART; penyusunan dan pengesahan program kerja dan rekomendasi nasional, serta pemilihan Ketua Umum GOPAN periode 2025-2030.

Dalam Munas tersebut, Herry Dermawan kembali dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum GOPAN untuk masa bakti 2025-2030. Dirinya terpilih secara aklamasi dan dipercaya penuh oleh para anggota untuk meneruskan perjuangan organisasi dalam meningkatkan kesejahteraan peternak.

"Saya sampaikan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya atas kepercayaan yang kembali diberikan kepada saya untuk memimpin GOPAN lima tahun ke depan. Kita harus kembali kepada tujuan awal berdirinya organisasi ini, yaitu meningkatkan kesejahteraan peternak ayam, yang dalam lima tahun terakhir justru mengalami degradasi," ujar Herry dalam sambutannya saat Munas dan Rembuk Peternakan Nasional, Kamis (7/8/2025).

Herry Dermawan. (Foto: Dok. Infovet)

Dalam keterangannya, Herry juga menegaskan bahwa tim formatur yang telah terbentuk akan segera merumuskan strategi dan rekomendasi konkret guna menghadapi tantangan industri perunggasan ke depan.

Ia juga optimis terhadap masa depan peternak nasional, terlebih dengan adanya program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis yang diprediksi bisa meningkatkan permintaan ayam secara signifikan.

“Indonesia ke depan bukan gelap, justru sangat cerah bagi para peternak ayam. Kami berharap pemerintah bisa menggandeng peternak rakyat dalam program-program tersebut, dan GOPAN siap menjadi jembatannya,” ucapnya.

Terkait program kerja, Herry menyampaikan bahwa prioritas jangka pendek GOPAN adalah memperkuat konsolidasi internal dan sistem administrasi organisasi. Selain itu, pihaknya juga akan memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, industri, dan akademisi, untuk memastikan kesejahteraan peternak dapat terwujud secara berkelanjutan.

"GOPAN akan berperan aktif dalam menangkal masuknya ayam impor ke pasar domestik demi melindungi kepentingan peternak lokal," tegasnya.

Dengan terselenggaranya Munas ke-V, GOPAN meneguhkan komitmennya sebagai garda terdepan dalam memperjuangkan aspirasi dan kepentingan peternak ayam nasional. Kepemimpinan Herry Dermawan diharapkan dapat membawa semangat baru dan memperkuat konsolidasi organisasi dalam menghadapi dinamika industri perunggasan yang semakin kompleks, serta optimistis bahwa melalui kerja sama yang kuat dan berkelanjutan, cita-cita untuk menjadikan peternak sebagai pilar ketahanan pangan nasional dapat terwujud secara nyata.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, yang turut hadir memberikan apresiasinya kepada GOPAN. Ia menanggapi terpilihnya kembali Herry Dermawan menjadi ketua umum adalah hal yang tepat.

"Sudah sangat tepat Pak Herry menjadi Ketua GOPAN. Kami sangat apresiasi kepada GOPAN yang telah menyelenggarakan Munas dan Rembuk Peternakan Nasional. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk menyatukan visi dan menyusun rencana bersama dalam menghadapi dinamika industri perunggasan saat ini," katanya. (RBS)

FAKTOR PENURUNAN PRODUKSI TELUR

(Foto: Dok. Sanbio)

Produksi telur merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam usaha peternakan ayam petelur. Namun, tidak jarang peternak menghadapi masalah turunnya produksi telur yang dapat berdampak signifikan terhadap keuntungan usaha.

Penurunan produksi ini bisa bersifat sementara atau berkepanjangan, tergantung dari penyebabnya. Penurunan produksi telur terjadi akibat banyak sebab, mulai dari faktor infeksius ataupun non-infeksius.

Penyebab infeksius dapat terjadi karena virus dan bakteri. Penurunan produksi telur yang diakibatkan oleh faktor infeksius mengganggu keberlangsungan usaha bagi peternak ayam petelur. Penyebaran virus yang cepat tidak jarang dapat menyebabkan kematian tinggi, membuat peternak harus berpikir keras dalam melindungi kesehatan ternak unggasnya.

Beberapa faktor infeksius yang dapat menyebabkan penurunan produksi adalah:

Newcastle disease (ND)
Disebabkan oleh Avian paramyxovirus tipe-1 (APMV-1). Jika sudah terinfeksi akan berpengaruh pada produksi telur, terutama penurunan produksi, kualitas telur jelek, warna abnormal, serta bentuk dan permukaan kerabangnya abnormal.

Infectious bronchitis (IB)
Disebabkan oleh Coronavirus. Ayam  petelur dewasa yang terinfeksi akan mengalami penurunan produksi hingga mencapai 60% dalam kurun waktu 6-7 minggu dan selalu disertai dengan penurunan mutu telur berupa bentuk telur tak teratur, kerabang telur lunak, dan albumin (putih telur) cair.

Avian influenza (AI)
Terutama AI subtipe H9N2 dapat menyebabkan penurunan produksi. Virus AI subtipe H9N2 masuk kedalam low pathogenic avian influenza (LPAI) yang menyebabkan rusaknya saluran reproduksi ayam ditandai dengan ovarium dan oviduk kemerahan, kuning telur tampak seperti brokoli, dan yang sangat nampak terlihat adalah penurunan produksi yang sangat tajam (dapat mencapai 5-10% per hari).

Egg drop syndrome (EDS)
EDS disebabkan oleh Adenovirus tipe I. Ayam yang terinfeksi produksi telur akan memiliki kerabang tipis hingga tanpa kerabang. Pada umumnya terjadi pada awal periode bertelur, sehingga puncak produksi tidak tercapai.

Infectious coryza
Disebabkan oleh bakteri Avibacterium paragallinarum. Ayam yang terinfeksi mengalami gangguan pernapasan atas. Terlihat bengkak pada area wajah ayam dengan keluar eksudat dari hidung, anoreksia. Serta dapat terjadi pada semua umur dan dapat menyebabkan penurunan produksi hingga 40%.

Selain penyakit infeksius di atas, penurunan produksi telur dapat terjadi akibat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2025. (Muchammad Wildan Firdaus & Aprilia Kusumastuti)

MENCEGAH PENURUNAN PRODUKSI TELUR: STRATEGI CERDAS UNTUK PETERNAK

Ayam petelur modern. (Foto: Istimewa)

Produksi telur yang menurun adalah salah satu tantangan utama dalam peternakan ayam petelur. Penurunan ini dapat berdampak pada keuntungan peternak dan efisiensi produksi. Perlu dipelajari bagaimana profil ayam petelur modern saat ini dengan memahami peforma, berat badan, kebutuhan nutrisi, manajemen, dan standar produksi telur di setiap umurnya.

V. Arantes dari Hy-Line International USA pada Australian Poultry Science Symposium memaparkan tentang “Optimizing Nutrition and Management to Enhance Productivity in Modern Laying Hens: From Rearing to Peak Production” bahwa kemajuan genetika ayam petelur modern telah meningkatkan efisiensi produksi mereka secara signifikan, ditandai dengan peningkatan konversi pakan, produksi telur yang lebih tinggi, dan persistensi bertelur yang lebih lama.

Namun terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, terutama dalam komposisi manajemen dan nutrisi di lima minggu pertama. Hal ini dikarenakan tren penurunan berat badan pada layer modern, yang membutuhkan manajemen tepat untuk menghindari pertambahan berat badan yang berlebihan, terutama selama fase perkembangan utama. Menetapkan profil berat badan yang optimal, terutama pada minggu kelima sangat penting untuk membuka potensi produktivitas ayam petelur.

Faktor Nutrisi: Fondasi Produksi Telur
Nutrisi yang tidak seimbang adalah penyebab utama turunnya produksi telur. Kalsium dan fosfor pada ayam petelur merupakan nutrisi yang penting untuk pembentukan cangkang telur. Jika pasokan kalsium kurang atau rasio Ca : P tidak seimbang, produksi telur akan mengalami penurunan.

Defisiensi atau kelebihan energi, protein, dan asam amino esensial seperti metionin dan lisin sangat penting untuk produksi telur yang optimal. Kekurangan salah satu dari nutrisi ini dapat menurunkan jumlah produksi telur yang dihasilkan.

Selain itu proses pemilihan bahan baku yang baik dan analisis antinutrisi yang presisi akan mempermudah dalam melakukan pemberian aditif, contohnya penggunaan enzim untuk membantu kecernaan substrat pada bahan baku alternatif, toxin binder untuk mengikat mikotoksin (aflatoksin, DON, fumonisin) pada bahan baku yang menyebabkan stres fisiologi, menurunkan daya tahan tubuh, dan berdampak terhadap produksi telur. Manajemen waktu dan metode pemberian pakan yang tidak tepat bisa menyebabkan fluktuasi konsumsi nutrisi.

Kenyamanan Ayam Jadi Kunci
Manajemen kandang yang kurang optimal dapat menyebabkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2025.

Ditulis oleh:
Drh Henri E. Prasetyo MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

AGAR PRODUKSI TELUR TAK MENGENDUR

Peternakan ayam petelur modern. (Foto: Istimewa)

Telur ayam merupakan sumber protein hewani termurah yang terjangkau bagi masyarakat. Patut dibanggakan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara penghasil telur ayam terbanyak, namun hal tersebut jangan sampai membuat peternak lengah.

Mesin Biologis Canggih
Sejak dikembangkan kurang lebih 100 tahun lalu, kini ayam petelur/layer modern menjelma menjadi mesin biologis penghasil telur yang mumpuni. Bisa dibilang ayam petelur modern merupakan hasil seleksi tradisional dan teknologi genomik canggih, sehingga menghasilkan strain dengan produksi tinggi (300-500 telur/tahun), umur bertelur lebih panjang, dan adaptasi iklim yang baik.

Hal tersebut disampaikan oleh Technical Service Specialist, Southeast Asia, Hyline-Internasional, Drh Dewa Made Santana, dalam sebuah webinar. Menurut data yang diperoleh, ada perbedaan cukup menonjol antara ayam layer old fashion (sekitar 1992), dengan layer modern dengan data di 2021.

Berdasarkan data yang ada layer “versi lama” hingga umur 80 minggu menghasilkan sebanyak 321 butir telur, sedangkan layer modern sudah bisa memproduksi sebanyak 374 butir. Ada selisih 53 butir atau peningkatan sebanyak 16%. Jika dihitung dari segi berat, ayam petelur lama hanya mampu memproduksi telur sebesar 20,39 kg, sedangkan untuk ayam petelur modern sudah bisa memproduksi sebanyak 23,06 kg.

“Dari data itu saja terdapat selisih 2,67 kg atau ada peningkatan sebesar 13,09%. Belum lagi untuk FCR, kalau ayam lama rata-rata FCR-nya sebesar 2,37, ayam modern sebesar 2,07 terdapat selisih 0,30 atau ada penurunan 12,66%. Ini artinya konsumsi pakannya semakin irit, namun menampilkan produksi yang cukup tinggi,” kata Santana.

Kendati demikian, keunggulan genetik yang luar biasa itu tidak bisa berdiri sendiri, agar produksinya bisa optimal perlu dukungan menyeluruh dari tiap aspek pemeliharaan, seperti ketersediaan nutrisi yang baik dan cukup, manajemen pemeliharaan mumpuni, adanya pelayanan veteriner, serta penerapan biosekuriti yang baik.

“Kalau saya lihat di negara kita, mungkin tidak semua peternak bisa memaksimalkan potensi ini, mungkin hanya beberapa saja. Oleh karena itu, bila termanfaatkan 100%, produksi telur kita bisa lebih baik lagi pastinya,” ucapnya.

Nutrisi Baik, Performa Apik
Berbagai literatur mengatakan bahwa berhasilnya suatu usaha peternakan ditentukan oleh empat faktor, yaitu... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2025. (CR)

TAMPILKAN INOVASI PRODUK PETERNAKAN, STAND DISNAKKESWAN PROVINSI SUMBAR TARIK PERHATIAN

Tim Disnakkeswan Sumbar bersama Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Dr Ir Audy Joinaldy. (Foto­foto: Istimewa)

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) kembali hadir pada pameran Indo Livestock 2025 Expo & Forum yang berlangsung di Grand City Convex, Surabaya, 2-4 Juli 2025.

Menempati stand No. 10, Disnakkeswan Sumbar menampilkan berbagai produk UMKM olahan dari peternakan, seperti dadiah, rendang 3 in 1, rendang susu, hingga minuman sarang burung walet. Produk-produk unggulan dan inovasi di bidang peternakan yang dipamerkan ini menarik minat pengunjung Indo Livestock 2025.

“Inovasi terbaru yaitu rendang susu yang merupakan produk khas Sumbar,” ungkap Kepala Disnakkeswan Sumbar, Sukarli SPt MSi.

Sejak hari pertama penyelenggaran pameran, tim Disnakkeswan Sumbar banyak menerima pertanyaan seputar produk yang ditampilkan. Kepala Bidang Bina Usaha Disnakkeswan Sumbar, Nirmala SPt MSi, mengungkapkan banyak pengunjung yang tertarik untuk bekerja sama.

“Banyak sekali tamu atau pengunjung, baik dari perorangan maupun perusahaan ingin berkolaborasi. Mereka ingin mengetahui lebih banyak sekaligus membantu memasarkan produk terutama dadiah dan minuman sarang burung walet,” tutur Nirmala.

Produk unggulan seperti dadiah merupakan yogurt tradisional khas Minangkabau. Dadiah memiliki berbagai manfaat, antara lain meningkatkan kesehatan pencernaan, membantu menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol dalam darah. Selain itu, dadiah juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh karena mengandung probiotik alami.

Lebih lanjut Nirmala mengemukakan, inovasi lainnya yang juga banyak ditanyakan oleh pengunjung adalah rendang 3 in 1.

“Rendang 3 in 1 ini di dalamnya terdapat rendang daging sapi, rendang suir daging sapi, rendang ubi singkong. Produk yang sangat ekonomis dan banyak pengunjung pameran yang mencicipi dan responsnya positif,” ujar Nirmala.

Bersertifikasi dan Berdaya Saing

Kepala Disnakkeswan Sumbar (dua dari kiri) dan tim.

Produk-produk dari UMKM dan para pelaku usaha dari Sumatra Barat terjamin halal dan berkualitas baik karena telah memiliki sertifikasi halal dan PIRT.

Sertifikasi ini penting untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperluas jangkauan pasar.

“Kita memang menampilkan produk di pameran Indo Livestock masih dalam jumlah yang terbatas. Setelah melihat antuasias pengunjung, kami bergerak cepat untuk nantinya berkoordinasi dengan para pelaku usaha jadi akan kami follow up untuk menetapkan langkah promosi berikutnya,” tandas Nirmala.

Sementara itu, Sukarli menambahkan, Indo Livestock 2025 merupakan pameran internasional terkemuka di industri peternakan, pengolahan hasil ternak, dan kesehatan hewan yang selalu sukses digelar dan tentu memberikan dampak positif untuk Sumbar.

Melalui Indo Livestock 2025, produk peternakan Sumbar hingga hilirisasinya bisa semakin dikenal dan memiliki pasar lebih luas. Tak hanya lokal, namun nasional hingga internasional. Selain itu juga berdampak pada kemajuan UMKM.

Ikon Bukittinggi

Stand Disnakkeswan Sumbar dipadati pengunjung pameran.

Selain aneka ragam produk olahan hasil peternakan khas Provinsi Sumbar, booth Disnakkeswan Sumbar juga menampilkan hiasan ikon Kota Bukittinggi yaitu Jam Gadang dan Rumah Gonjong.

Tim Disnakkeswan Sumbar sekaligus turut serta mempopulerkan Kota/Kabupaten Provinsi Sumbar, serta dengan senang hati menyambut kedatangan perusahaan dan instansi-instansi lain untuk berkolaborasi.

Untuk berinteraksi maupun menjalin kerjasama, dapat mengunjungi https://disnak.sumbarprov.go.id/ dan Instagram @disnakkeswan_sumbar. (ADV)

BEBERAPA FAKTOR PENYEBAB MENURUNNYA PRODUKSI TELUR

Penurunan produksi bisa disebabkan secara tunggal atau kolektif dari beberapa faktor. (Foto: Istimewa)

Sudah merupakan kebiasaan di komunitas peternak ayam petelur jika ada masalah dengan penurunan produksi telur yang tidak biasa, hampir selalu dikaitkan dengan gangguan kesehatan akibat serangan penyakit. Padahal penurunan produksi bisa merupakan penyebab tunggal atau kolektif dari beberapa faktor.

Adapun faktor-faktor yang memengaruhi selain infeksi penyakit, adalah karena nutrisi, cahaya, usia, stres, dan kondisi lingkungan. Nutrisi yang tepat, terutama kalsium, protein, dan energi, sangat penting untuk pemeliharaan produksi telur yang konsisten. Kemudian juga pencahayaan, terutama paparan cahaya siang hari yang berperan dalam merangsang siklus reproduksi dan hari yang pendek dapat mengurangi produksi telur.

Selain itu, faktor usia turut memengaruhi produksi telur, dengan penurunan alami seiring bertambahnya usia induk ayam. Serta kondisi stres dan faktor lingkungan seperti suhu dan ventilasi juga berperan serta dalam produksi dan kualitas telur yang dihasilkan.

Pemberian Nutrisi
Ayam betina membutuhkan diet seimbang dengan cukup protein, kalsium, dan energi untuk bertelur. Jangan juga abaikan kebutuhan air minum, karena kebanyakan dari peternak lupa bahwa air juga termasuk nutrisi yang utama. Hampir 80% telur terdiri dari air, bila kebutuhan air minum tidak tercukupi otomatis produksi berjalan tidak tidak optimal. Oleh karena itu, hindari pemberian nutrisi yang tidak memadai.

Kalsium sangat penting untuk pembentukan kerabang telur, bisa dikatakan kalsium merupakan nutrisi spesifik, bila terjadi kekurangan dalam pakan dapat menyebabkan kerabang telur menjadi tipis. Menggunakan pakan layer yang lengkap berarti menyediakan nutrisi yang diperlukan untuk produksi telur yang optimal. Standar nutrisi untuk ayam petelur adalah ME 2.750-2.800 Kcal dengan protein 17.5-18.00%, kalsium 3.50% dengan feed intake/hari/ekor 115-120 gram (Lohmann Brown Classic Manual Guide).

Pencahayaan
Meningkatnya pemberian intensitas cahaya harian, cenderung meningkatkan produksi telur. Pencahayaan tambahan dapat membantu mempertahankan atau meningkatkan produksi telur ayam pada saat ayam hanya mendapat periode cahaya harian normal yang pendek. Memastikan intensitas dan durasi cahaya yang cukup dapat berdampak positif pada produksi telur.

Pada masa usia produksi ayam petelur secara umum mendapatkan cahaya sebanyak maksimal... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2025.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

AKAR GANGGUAN PRODUKSI TELUR

Peternak layer kini tengah berhadapan dengan ayam yang terus berpenampilan “gaya baru”. (Foto: Istimewa)

Oleh:
Tony Unandar (Private Poultry Farm Consultant - Jakarta)

Slogan 
more eggs less feed tampaknya sudah melekat dengan karakteristik umum ayam petelur/layer modern. Sadar atau tidak, sekarang para peternak layer tengah berhadapan dengan ayam yang terus berpenampilan “gaya baru”.

Keengganan mengikuti perubahan tata laksana pemeliharaan seiring dengan perkembangan genetik layer modern tersebut tentu akan memengaruhi penampilan (performance) akhir ayam yang dipelihara. Ujungnya, tak hanya menyebabkan keuntungan melayang, tetapi juga dapat menjadi faktor pencetus masalah baru yang kompleks dan terkesan misterius.

Gangguan produksi telur layer modern pada sindroma obesitas yang diikuti “yolk peritonitis” misalnya, adalah contoh paling representatif dan sering terjadi di lapangan.

Latar Belakang
Perkembangan genetik ayam petelur modern dalam lima dekade terakhir memang sangat spektakuler. Jika diikuti perbaikan tata laksana pemeliharaan yang sesuai, maka layer modern mampu menghasilkan paling tidak 220 butir telur pada era 1960, menjadi 500 butir telur selama 700 hari pada 2019 (Martin, 1960; Anderson, 2019).

Itu saja tidak cukup, bobot telurnya pun lebih besar, yang tadinya berkisar 56-62 gram/butir menjadi 60-68 gram/butir. Perbaikan penampilan fenotipe ini tentu menuntut kualitas pullet yang baik, dimana perkembangan bobot badan (pertumbuhan seimbang antara fleshing dan framing) serta keseragaman ayam selama masa pullet harus seiiring berkembang (Bain et al., 2016; Wang et al., 2017; Underwood et al., 2021).

Dasar Produksi Prima
Salah satu sifat ayam petelur modern yang sangat menonjol adalah progres pembentukan dasar konformasi tubuh yang seimbang (antara kerangka/framing dan perototan/fleshing) yang sangat dominan paling telat sampai ayam berumur enam minggu.

Itulah sebabnya pada saat layer modern berumur empat minggu, maka bobot badan harus mencapai bobot minimal berdasarkan standar strain yang ada dan dengan keseragaman yang harus di atas 80%. Melalui timbang bobot badan dan “grading” seratus persen pada umur empat minggu tersebut, maka peternak hanya mempunyai kurun waktu dua minggu untuk memperbaikinya, karena puncak pertumbuhan hiperplasia untuk organ-organ visceral terjadi antara 4-6 minggu.

Gangguan pertumbuhan pada fase ini berarti menghambat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2025. (toe)

MEMBERANTAS GANGGUAN HAMA YANG MENGURAS KEUNTUNGAN

Peternakan layer rentan terhadap hama tikus. (Foto: Pixabay)

Hewan pengerat kecil yang satu ini sudah sangat familiar dalam aspek kehidupan manusia. Karena sifat alami dan potensinya dalam menyebabkan gangguan, hewan ini selalu menjadi musuh bagi manusia termasuk dalam peternakan unggas.

Tikus merupakan hewan yang kerap dijumpai di berbagai tempat, termasuk di peternakan ayam. Secara alamiah hewan pengerat ini memakan apa saja, seperti tumbuhan, hewan kecil, bahkan sesama tikus (kanibal).

Celakanya, tikus dapat mengonsumsi dan mengontaminasi pakan ternak dan hewan lain, bahkan pangan manusia. Keberadaan tikus di suatu peternakan akan memakan, merusak, dan menimbulkan kerugian mencapai sekitar $25 padi-padian tiap tahun (USDA 2012). Kemampuan beradaptasi dan ketangkasannya membuat hewan ini sulit dibasmi. Tikus mampu berjalan pada permukaan vertikal, berjalan di kabel, berenang, bahkan dengan mudah melompat dengan ketinggian hingga 30 cm dari suatu permukaan yang datar.

Unggul Hampir dalam Segala Hal
Tikus, celurut, maupun mencit sangat potensial dalam berkembang biak. Di bawah kondisi ideal, sepasang tikus bisa menghasilkan 20 juta ekor keturunan dalam waktu tiga tahun. Begitu juga dengan mencit dan celurut yang dapat bereproduksi lebih cepat. Satu ekor mencit atau celurut betina dewasa dapat melahirkan 5-10 kali dalam setahun, yang menghasilkan 5-6 ekor tiap kelahirannya. Masa buntingnya 19-21 hari. Tikus akan dewasa kelamin pada umur 6-10 minggu dan rata-rata tikus betina mampu hidup hingga sembilan bulan. Satu tikus betina bisa memproduksi 22 betina dalam satu tahun (berdasarkan perbandingan jantan dan betina = 50 : 50 keturunan) dimana akan dewasa pada tiga bulan setelah proses kelahiran.

Para perusak kecil ini memiliki penglihatan lemah namun tajam pada indra penciuman, indra perasa, dan indra pendengarannya. Tikus tidak menyukai area terbuka, mereka lebih menyukai kontak terhadap dinding atau objek lain. Tikus juga tidak akan pergi jauh dari sarangnya, maksimal jaraknya 45 m (tikus) dan 9 m (mencit dan celurut).

Selain itu, tikus juga sangat peka terhadap objek yang baru dan akan menghindarinya untuk beberapa hari. Sebaliknya, mencit dan celurut akan lebih cepat menerima objek baru. Hal ini menjadi penting saat akan mendesain perangkap atau umpan.

Mengapa Tikus Harus Dibasmi?
Layaknya hama seperti kutu, benalu, dan lainnya, tikus perlu dikendalikan. Selain menyebabkan gangguan secara ekonomis, juga mengganggu manusia secara psikologis. Menurut Sofwah (2007), beberapa kerugian yang dapat disebabkan oleh tikus di antaranya:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2025. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer