-->

RENCANA PEMKAB SIGI BANGUN RPH

Rumah Pemotongan Hewan, Sarana Pemenuhan Daging yang ASUH
(Foto : Istimewa) 


Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), meningkatkan nilai produksi peternak di wilayah itu dengan menjual daging beku keluar daerah atau kabupaten/kota di Sulteng.

"Alhamdulillah tahun ini kami melalui proyeksi Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Sigi mendapatkan pembangunan dua rumah potong hewan (RPH) untuk sapi, sehingga kedepannya pemerintah daerah tidak lagi menjual ternak hidup lagi melainkan dalam bentuk daging beku," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sigi Ihsan, Selasa.

Ia menuturkan saat ini pihaknya sedang melakukan proses lelang untuk pembangunan rumah potong hewan di wilayah itu.

"Kami lagi berusaha untuk melengkapi fasilitas di rumah potong hewan di Kabupaten Sigi, Insya Allah setelah terbangun maka akan segera dilengkapi fasilitas untuk ruang pendinginnya guna mencetak daging beku," ujarnya.

Dia menambahkan, dengan menjual daging beku maka dapat meningkatkan nilai produk ternak di Kabupaten Sigi.

"Kedepannya kita berharap tidak lagi mengirim ternak hidup entah itu daging sapi maupun daging babi, jadi yang dikirim adalah daging beku sehingga lama penyimpanannya itu lebih awet," sebutnya.

Adapun daging beku itu nantinya perlahan akan masuk ke swalayan dan mini market di Kota Palu dan kabupaten sekitarnya. 

"Bisa jadi daging-daging beku ini akan masuk ke swalayan yang ada di Kota Palu dan kabupaten lainnya di Sulteng, karena memang saat ini pasokan daging beku di Sulteng masih dari luar daerah, " tuturnya. 

Menurutnya, dana alokasi khusus untuk perbaikan dan pembangunan rumah potong hewan di Sigi sebesar Rp2 miliar.

"Pasca bencana 2018 silam mengakibatkan rumah potong hewan yang ada rusak dan tahun ini ada alokasi DAK untuk rehabilitasi RPH itu masing-masing rumah potong hewan sebesar Rp2 miliar, sehingga totalnya Rp4 miliar dan dana itu fokus memperbaiki sarana prasarana tempat pemotongan tersebut, " ujarnya.

Ia berharap akhir tahun 2024 rumah potong hewan di Sigi sudah dapat kembali beroperasi.

"Untuk pembelian mesin pembeku daging masih terus diusahakan apakah menggunakan dana APDB atau dilengkapi pada tahun 2025, pada dasarnya untuk kelengkapan rumah potong hewan ini sudah final tahun ini," kata Ihsan. 

Sebelumnya diketahui rumah potong hewan sapi itu berada di Desa Beka, Kecamatan Marawola dan pemotongan hewan jenis babi di Desa Jono Oge, Kecamatan Sigi Biromaru. (INF)

CIRI-CIRI DAGING AYAM KAMPUNG

Daging ayam kampung mempunyai beberapa ciri khas tersendiri. Untuk lebih memudahkan mengenali ciri-ciri daging ayam kampung, berikut ini adalah perbandingan ciri daging ayam kampung dengan daging ayam broiler.

Tekstur

Daging ayam kampung mempunyai tekstur yang lebih liat, lebih keras, apalagi jika ayamnya berusia tua. Sedangkan daging ayam broiler lebih lunak. Perbedaannya terasa sekali jika daging kedua jenis ayam tersebut dipegang dan ditekan.

Tekstur kulit ayam kampung juga lebih liat dan lebih tidak mudah sobek, juga rendah lemak. Sedangkan kulit ayam broiler lebih lembek dan lebih mudah sobek, lemaknya juga lebih tinggi.

Warna

Warna daging ayam kampung lebih gelap dibanding daging ayam broiler yang lebih terang. Karena hemoglobin pada ayam kampung lebih tinggi, yaitu protein yang mengandung zat besi yang memberi warna merah pada darah.

Bentuk dan Ukuran Tubuh

Dibanding ayam broiler ukuran tubuh ayam kampung lebih langsing. Tulangnya lebih panjang sehingga tubuhnya juga lebih panjang. Bentuk atau posturnya juga lebih tegap atau lebih gagah.

Sedangkan tubuh ayam broiler lebih gemuk, tampak lebih besar. Juga lebih pendek karena tulangnya lebih pendek. Karena itu posturnya juga terkesan pendek gemuk.

Dada dan Ceker

Ciri daging ayam kampung juga bisa dilihat cukup jelas dari daging dadanya. Ayam kampung bagian dadanya lebih kurus karena daging dadanya lebih tipis. Sedangkan ayam broiler daging dadanya lebih tebal sehingga terlihat lebih penuh.

Sedangkan ceker ayam kampung lebih panjang dari ceker broiler.

MEMILIH SUKSES: NABUNG CEMPE ATAU MEMULAI DARI 10 INDUKAN

Usaha peternakan kambing. (Foto: Istimewa)

Ladang usaha di bidang peternakan dari dulu hingga ke depan masih tetap menjanjikan keuntungan. Selama orang masih mau konsumsi daging dan telur, usaha peternakan akan tetap ada. Asal mau bekerja keras, ulet, dan pantang menyerah, usaha sektor ini bisa dijadikan ladang rezeki yang berlimpah.

Bagi yang masih takut membuka usaha ternak ayam petelur atau pedaging broiler, karena harga sering jatuh-bangun, maka usaha ternak kambing dan domba bisa jadi pilihan.

Untuk pemula, banyak peternak yang sudah berhasil menyarankan memulainya dari ternak penggemukan. Menjadi breeder atau penyedia bibit sebaiknya dilakukan pada tahap berikutnya, karena banyak seluk-beluk dan risiko yang menghadang.

Di media sosial saat ini muncul tren istilah “Nabung Cempe”, artinya menabung anak kambing. Di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur, sudah banyak masyarakat yang menjalani nabung cempe. Dengan memelihara anak kambing umur sekitar lima bulan, lalu dijual kembali setelah ternak berumur satu tahun, hasilnya cukup besar. Dengan modal 10 ekor cempe harga Rp 500 ribu/ekor, dalam waktu tiga tahun bisa jadi jutawan. Bagaimana bisa?

“Hitungan sederhananya begini. Modal saya Rp 5 juta untuk 10 ekor cempe, cari harga cempe yang rata-rata Rp 500 ribu. Dibesarkan selama enam bulan, bisa dijual Rp 1 juta per ekor dan hasilnya Rp 10 juta. Uang ini saya belikan lagi 20 ekor cempe, setelah enam bulan bisa dijual semua Rp 20 juta. Begitu seterusnya, asal uangnya terus diputar dan jangan diambil dulu, insyaallah hasilnya besar,” ujar Mardani, warga Banyuwangi yang kini sudah membuktikan nabung cempe, kepada Infovet.

Sekilas terlihat sepele, namun hitungan nabung cempe ini sangat masuk akal. Tentu saja untuk bisa mencapai hasil ratusan juta, peternak harus memiliki lahan yang cukup untuk kebutuhan kandang dan ladang rumput. Akan lebih baik jika di sekitar lokasi kandang banyak tersedia rumput liar.

Menurut Mardani, di kotanya nabung cempe sudah mulai banyak dijalani. Butuh kesabaran, keuletan, dan kerja keras untuk bisa nabung cempe yang sukses. Kedisiplinan untuk tidak menggunakan uang hasil penjualan kambing juga harus ditanamkan, agar perputaran uang tidak terganggu.

“Makanya ini akan berhasil kalau dijadikan usaha sampingan dulu. Kita harus punya penghasilan utama, biar nabung cempenya berhasil. Hambatan yang paling berat biasanya peternak tidak bisa mengelola uang, karena ada kebutuhan uang lalu dipakai,” tambahnya.

Mulai dari 10 Ekor
Untuk menjadi peternak kambing yang berhasil, tidak harus dengan modal besar. Asal ada niat untuk sukses, memulia dari 10 ekor kambing pun bisa menjadi peternak besar. Dengan memulai dari jumlah sedikit, jika terjadi kegagalan tidak akan terasa berat menanggung kerugiannya.

Secara bertahap, sembari mempelajari seluk-beluk kesehatan dan teknik beternak yang baik, maka proses berkembangnya bisa menjanjikan. Seperti yang dilakoni oleh Sudarmaji, warga Kelurahan Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Yogyakarta. Pria yang dikenal ulet dan pekerja keras ini tergolong sukses menjadi peternak kambing dan domba.

Ia memulai usaha ternaknya dari 10 ekor kambing pada 2017 silam. Kini jumlah kambing dan domba di el Farm miliknya sudah mencapai ratusan ekor. Jiwa kreatif pria yang akrab disapa Gojis ini terus mencuat, ketika peternakan miliknya sudah berkembang dan dikenal, ia menjadikan eL Farm bukan sekadar peternakan biasa, tapi juga sebagai wahana wisata edukasi.

Ada yang unik dari perjalanan usaha ternak yang ditekuni Gojis. Meski latar belakangnya ilmu teknik sipil, ia tertarik dengan dunia peternakan. Lingkungan sekitar kampungnya menginspirasi pria alumnus FNT Jurusaan Teknik Sipil UGM angkatan 1992 ini.

Ia baru memulai bisnisnya beternak kambing secara serius beberapa tahun lalu. Dengan perjuangannya yang gigih dan pantang menyerah, usahanya berbuah manis. “Intinya, beternak kambing itu harus ulet dan pantang menyerah, karena banyak seluk-beluk yang harus dipelajari,” ujarnya.

Prinsip Hidup Mandiri
Sebenarnya dunia Gojis tidak jauh dari dunia konstruksi. Sejak di bangku kuliah ia sangat menyukai ilmu yang dipelajarinya. Bahkan begitu diwisuda pada 1996, ia langsung merantau ke Jakarta dan diterima bekerja di Grup Ciputra.

Pada 2012, ia memutuskan balik ke kampung halaman, karena sejak awal merantau ia sudah merencanakan sebelum usia 40 tahun sudah harus balik dan hidup mandiri. Untuk menyambung hidupnya ia memulai usaha kontraktor kecil-kecilan, dengan modal tabungannya selama bekerja di Jakarta.

Beberapa tahun kemudian Gojis mulai terlibat dengan kelompok warga di desanya yang beternak kambing. Lama-lama ia sendiri ingin juga memelihara kambing secara serius, namun kendalanya saat itu ia belum punya kandang sendiri.

“Waktu itu saya juga berpikir mengenai kebutuhan pakan basah berupa rumput segar yang tidak gampang diperoleh di sini,” katanya.

Gojis kemudian sering main dan banyak belajar kepada para peternak kambing di seputaran Yogyakarta. Kesimpulannya, memelihara kambing itu tidak sulit. Ia juga jadi tahu ada solusi pakan kering untuk substitusi pakan basah yang susah diperoleh, yaitu kangkung kering bisa dibeli dari wilayah Jawa Timur dan kulit kacang ijo kering dari Grobogan.

Setelah ilmunya dirasa cukup, pada Oktober 2017 pembangunan tahap pertama kandang dimulai, di lahan 1.000 m2 milik kakak Gojis tepat di depan rumahnya yang disewanya.

“Kapasitas kandang sebenarnya cukup untuk 100 kambing, tapi karena modal terbatas saya isi 10 kambing dulu,” kenangnya.

Sejak awal Gojis memang ingin beternak kambing secara non-konvensional, sehingga kandangnya dibikin modern. Listriknya menggunakan tenaga surya. Instalasinya menggunakan 8 panel dan 6 accu, menghasilkan daya listrik 1.500 watt yang mampu mencukupi kebutuhan listrik sehari-sehari. Suatu terobosan yang sangat menghemat pengeluaran biaya operasional kandang.

Pelan-pelan Gojis mengembangkan usaha peternakannya yang diberi nama eL Farm. Dari hanya 10 kambing berkembang menjadi ratusan. Dengan kandang yang tak mampu lagi menampung jumlah kambing yang ada, perluasan kandang dilakukan secara vertikal atau dibuat bertingkat.

“Nah, karena tetap tidak mencukupi juga, saya menyewa tanah saudara seluas 400 meter persegi. Lokasinya tidak jauh dari tempat kandang pertama ke arah utara. Sekarang ada dua lokasi peternakan dengan kandang kapasitas 600 kambing dan berisi sekitar 400-an kambing dewasa dan anakan,” ungkapnya.

Dari 400-an kambing yang dimiliki Gojis tersebut terdiri dari bermacam jenis. Untuk jenis kambing ada Jawa Randu, PE (Peranakan Etawa), dan Sapera (persilangan antara kambing Saanen dan PE). Ada juga jenis domba Garut dan Merino.

Menurut Gojis, merawat kambing itu gampang termasuk merawat kesehatannya. Ia dan anak buahnya mampu menyuntik sendiri untuk mengobati cacing, anti-parasit, dan kadang-kadang antibiotik. Untuk faktor kendalanya nyaris tidak ada, kecuali untuk pengadaan anakan kambing yang sementara ini belum mencukupi dan harus mendatangkan dari daerah Jawa Barat.

Breeding & Milking 
Bisnis Gojis lewat eL Farm saat ini meliputi penggemukan kambing untuk diambil dagingnya. Pelanggannya yang rutin adalah rumah jagal dan warung-warung sate. Kalau yang sifatnya insidentil konsumen membeli kambingnya untuk akikah dan kurban.

Selain usaha penggemukan, peternak ini juga melakukan breeding dan milking. Untuk pembibitan ia menjual cempe atau anakan kambing, sedangkan untuk milking adalah menjual susu kambing yang sudah diperah. Ada juga produk sampingan yang sanggup mendulang pundi-pundi uang, yaitu menjual limbah kotoran kambing yang diolah jadi pupuk kandang.

Lelaki ini termsuk peternak cerdas, suka berpikir out of the box. Melihat kondisi kandangnya yang bagus dan bersih, serta lingkungannya dikelilingi pertanian yang subur, ia menemukan ide baru yang inovatif. Ia membuka wisata edukasi untuk anak-anak PAUD dan SD.

Anak-anak kecil tersebut diajari pengenalan pertanian dan peternakan, seperti bagaimana memberi makan ternak, memberi susu untuk bayi kambing, melihat pemerahan susu, serta pencukuran bulu domba dan lainnya. Ternyata banyak lembaga pendidikan yang tertarik untuk membawa anak didiknya ke peternakan eL Farm.

Peternak ini tampaknya memiliki hati mulia. Ia mengaku ilmu yang didapatnya saat awal memulai usahanya dulu prosesnya nyaris tanpa mengeluarkan biaya. Karena itu setelah suksespun ia juga murah hati untuk berbagi ilmu.

“Kalau ada yang ingin belajar beternak kambing dengan senang hati saya dan tim siap berbagi ilmu dan pengalaman,” pungkasnya.

Peternak ini berpesan, untuk siapapun yang ingin memulai usaha ternak, jangan takut untuk memulai dan jangan takut gagal. Kuncinya ada pada mau bekerja keras, tekun, dan pantang menyerah. ***


Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

KOLABORASI PERTAMINA DAN PEMKAB BANYUWANGI BERDAYAKAN PETERNAK KAMBING

Pertamina dan Pemkab Banyuwangi Berkolaborasi Berdayakan Peternakan Kambing
(Foto : Istimewa) 


Dusun Pancoran, Desa Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, telah menjadi pusat perhatian berkat program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) yang dijalankan oleh PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus. Melalui kolaborasi dengan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Banyuwangi, Pertamina telah mengubah lanskap ekonomi lokal dengan fokus pada pengembangan kelompok ternak.

Kelompok Ternak Sinar Abadi, yang awalnya hanya memiliki 22 ekor kambing, kini berhasil meningkatkan jumlahnya menjadi lebih dari 100 ekor. Program ini, yang dikenal dengan nama PELITA (Pemberdayaan Ekonomi Lingkungan Lingkar Ketapang), tidak hanya berusaha untuk memperluas jumlah ternak, tetapi juga mendorong inovasi dalam pemanfaatan limbah kotoran hewan sebagai pupuk organik.

"Kami bangga dapat memberdayakan Kelompok Ternak Sinar Abadi melalui program ini," kata Alia Anggraini dari Pertamina Integrated Tanjung Wangi. "Kolaborasi ini tidak hanya tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membangun masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan." katanya. 

Program ini tidak hanya memberikan bantuan dalam bentuk ternak dan infrastruktur, tetapi juga melatih masyarakat dalam pengelolaan bisnis dan pemasaran. 

Produk pupuk organik yang dihasilkan dari kotoran hewan telah menjadi sukses dalam pasaran lokal, bahkan sampai ke Pulau Bali.

Suparman, Ketua Kelompok Ternak Sinar Abadi, mengungkapkan rasa terima kasihnya terhadap Pertamina dan pemerintah setempat. 

"Kami tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kami berkomitmen untuk menjaga dan mengembangkan program ini sebagai contoh bagi desa-desa lain." ucapnya 

Program ini juga mencerminkan komitmen Pertamina terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) dan prinsip Environmental, Social, & Governance (ESG). Dengan fokus pada SDG ke-8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi) dan ke-17 (kemitraan untuk mencapai tujuan), Pertamina menjalankan tanggung jawabnya dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar. (INF)

UPAYA DISNAK JATIM MEMASTIKAN KESEHATAN HEWAN KURBAN

Petugas Dinas Peternakan Melakukan Pemeriksaan Hewan Kurban
(Sumber : Istimewa)


Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur Indyah Aryani memastikan hewan kurban untuk Idul Adha 2024 di Jatim dalam kondisi yang sehat. Pihaknya telah melakukan sejumlah upaya sebelum hewan ternak disembelih untuk kurban.

"Kami melakukan pemeriksaan lalu lintas khusus ternak bagi perangkat daerah di kabupaten dan kota. Kami sudah mengaluarkan surat edaran Kepala Dinas dan juga standar operasional prosedur (SOP) terkait dengan lalu lintas dan pemeriksaan hewan ternak," kata Indy, sapaan karibnya, Senin (17/6).

Indy menambahkan pihaknya juga menerjunkan ribuan petugas untuk memastikan hewan kurban Jatim bebas penyakit.

"Kami sudah melakukan sosialisasi kepada perangkat daerah mengenai pergerakan hewan ternak ke kabupaten satu ke kabupaten lainnya melalui beberapa prosedur. Salah satunya surat rekomendasi penerimaan baik dari kabupaten pengirim dan penerima. Kemudian selanjutnya diikuti dengan sertifikat veteriner yang dikeluarkan oleh petugas terkait, serta dilengkapi dengan vaksin hewan ternak minimal satu kali,” terangnya,

Lebih lanjut Indy mengatakan pihaknya juga memastikan bahwa hewan kurban yang ada di Jatim terbebas dari penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kulit (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD).

Menurutnya seluruh hewan ternak yang dikurbankan dipastikan harus sehat dan bebas dari penyakit.

“Untuk menjamin keamanan dan kesehatan hewan kurban, dikerahkan sebanyak 153 petugas pemeriksa hewan kurban. Jadi hewan kurban ini menjalani pemeriksaan ante mortem dan post mortem,” tegasnya.

Dinas Peternakan Jatim mencatat ada sebanyak 30.229 lokasi pemotongan hewan yang tersebar di 38 kabupaten/kota.

Rinciannya tempat pemotongan hewan tersebut, sebanyak 131 Rumah Potong Hewan (RPH) dan 30.168 tempat di luar RPH yang telah mendapatkan izin dari pejabat berwenang di kabupaten/kota setempat untuk melakukan penyembelihan hewan.

Karena selain RPH, pemotongan hewan kurban juga biasanya dilakukan di sejumlah pesantren dan masjid. (INF)

ORKESTRA BAGI KOKSIDIA

Bentukan koksidia seperti sporozoit atau merozoit sebelum berhasil menginfeksi dinding usus, maka bentukan koksidia tersebut harus berjuang mengatasi suatu orkestra sistem pertahanan lokal pada jaringan usus (mucosal immunity) yang sangat kompleks, yaitu: 1) Microbiological barrier pada lapisan lendir yang encer atau thin mucus layer. 2) Chemical barrier pada lapisan lendir yang kental alias thick mucus layer. 3) Mechanical barrier berupa deretan sel-sel epitelium mukosa usus plus TJ proteins. 4) Immunological barrier berupa innate immunity dan adaptive immunity.

Perjalanan patogen seperti koksidia dalam mencapai sel atau jaringan target di dalam tubuh induk semang faktanya tidaklah berjalan mulus, harus menghadapi satu orkestra sistem pertahanan tubuh inang yang penuh dengan onak dan duri alias rintangan. Tulisan kali ini tidak saja menjadi pelengkap tulisan sebelumnya (Seni Perang Koksidia) dan membahas tentang orkestra tersebut, tetapi juga meneropong jenis beserta interaksi sejumlah kompartemen atau barier yang membentuk orkestra tersebut, yang harus dilalui oleh bentukan koksidia sebelum dapat menginfeksi dan memperbanyak diri di dalam sel epitelium usus ayam modern.

Orkestra Saluran Cerna
Situasi pada permukaan saluran cerna ayam modern, khususnya usus, ibarat sebuah orkestra yang menghasilkan suatu simfoni yang sangat dinamis dari waktu ke waktu. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan terkait kehidupan suatu makhluk, terutama pada tataran molekuler, baik biologi molekuler (induk semang = ayam) atau mikrobiologi molekuler (patogen ataupun komensal), maka wawasan terkait pola-pola interaksi antara sistem imunitas tubuh ayam dengan sistem mikrobiota komensal saluran cerna ayam (mikrobiom) dan aktivitas patogen tertentu termasuk koksidia telah menjadi lebih terang benderang (Mc Cracken dan Lorenz, 2001; Lu et al., 2021).

Dalam menghadapi ancaman dari eksternal alias terpaan bibit penyakit, sistem pertahanan mukosa (mucosal immunity) saluran cerna memang sangat unik dan sangat kompleks. Sebanyak lebih dari 70% sel-sel imun ditemukan berlokasi di sekitar saluran cerna ayam (Casteleyn et al., 2010; Abbas et al., 2017). Terdiri atas empat buah kompartemen atau barier (Lu et al., 2021) yang saling terkait satu dengan yang lainnya, yaitu:

• Barier mikrobiologis (microbiota barrier)
• Barier kimiawi (chemical barrier)
• Barier fisik (physical atau mechanical barrier)
• Barier sistem imunitas (immunity barrier)

Barier Mikrobiologis (Microbiota Barrier)
Barier mikrobiologis merupakan barier bagian terluar dari permukaan mukosa saluran cerna ayam modern. Mikrobiota tersebut mendapatkan habitat dan berkolonisasi pada lapisan mukus yang encer (thin mucus layer), menggunakan nutrisi dari dalam lumen usus, serta berinteraksi antar sesama mikrobiota, patogen, dan sel-sel mukosa usus via mekanisme quorum sensing (efek aktivasi atau stimulasi) atau quorum quenching (efek penghambatan atau inhibisi). Interaksi kompleks ini sangatlah dinamis dari waktu ke waktu yang juga dipengaruhi oleh status nutrisi, faktor stres, dan komponen pakan (Hooper et al., 1998; Moncada et al., 2003; Collier et al., 2008; Rajput et al., 2013; Memon et al., 2020).

Pada beberapa penelitian ilmiah mengindikasikan bahwa infeksi koksidia pada ayam selain sangat dipengaruhi oleh infektivitas koksidia yang ada, juga dipengaruhi oleh komposisi mikrobiota secara langsung ataupun tidak, terutama jika terjadi disbiosis, dimana terganggunya homeostasis atau ekuilibrium permukaan usus ayam (Choi dan Kim, 2022).

Di lain pihak, infeksi koksidia secara signifikan dapat mereduksi… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2024

Ditulis oleh:
Tony Unandar (Anggota Dewan Pakar ASOHI)

KAZAKHSTAN MENUNTASKAN RENCANA UNTUK MENGHENTIKAN IMPOR AYAM BROILER DARI AS

Pemerintah Kazakhstan telah menyetujui rencana untuk meningkatkan produksi unggas dalam negeri sebesar 200.000 ton hingga tahun 2026 berkat perluasan 4 peternakan ayam broiler besar. Langkah ini akan mengakhiri ketergantungan selama satu dekade terhadap pasokan unggas asing, terutama dari Amerika.

Berdasarkan rencana tersebut, Bank Pembangunan Kazakhstan akan memberikan pinjaman lunak kepada peternakan unggas terkemuka Canadian Chicken Limited, Alel Agro, Prima Kus, dan Aitas KZ untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka pada tahun 2025 dan 2026.

“Produksi unggas di Kazakhstan mencapai 328.000 ton per tahun. Tambahan 200.000 ton ini akan membantu menyelesaikan masalah ketergantungan impor dan memulai ekspor,” kata kantor perdana menteri Kazakhstan dalam sebuah pernyataan, seraya menambahkan bahwa Bank Pembangunan Kazakhstan akan mendanai 14 proyek di sektor pertanian senilai hampir 285 miliar tenge (US$640 juta) secara total.

Selama beberapa tahun terakhir, Kazakhstan telah menunjukkan komitmen teguh terhadap industri unggasnya, secara konsisten meningkatkan bantuan kepada peternak unggas dan mendorong dunia usaha untuk memperluas produksinya.

Pada tahun 2023, misalnya, 21,7 miliar tenge (US$49 juta) dibelanjakan dari anggaran nasional untuk mendukung industri unggas, termasuk 21,4 miliar tenge (US$48 juta) untuk mengganti sebagian biaya sepanjang rantai nilai dan 336,8 juta tenge (AS $1 juta) untuk pembelian day old breeding.

Tujuan pemerintah Kazakhstan untuk menjadikan negaranya swasembada daging unggas didorong oleh kebutuhan untuk menjamin keamanan pangan dan menstabilkan harga dalam menghadapi gejolak harga di negara-negara tetangga. Di Rusia, yang memiliki pasar yang sama dengan Kazakhstan dalam Uni Ekonomi Eurasia, pasar unggas telah mengalami gejolak sejak tahun 2023, kata ekonom lokal Tulegen Askarov. Meskipun unggas Rusia hanya menguasai sebagian kecil impor Kazakh, pasar Kazakhstan sangat bergantung pada dinamika harga mitra dagangnya di wilayah utara.

2 VAKSIN FLU BURUNG EFEKTIF, UJI COBA DILANJUTKAN DENGAN VAKSIN KETIGA

2 vaksin flu burung efektif melawan flu burung pada ayam. Demikian kesimpulan setelah mengolah hasil uji lapangan pertama di 2 peternakan unggas Belanda. Sementara itu, pemerintah Belanda sedang mempertimbangkan untuk mengambil langkah selanjutnya dengan vaksin lain.

Vaksin ketiga belum diuji dalam uji lapangan saat ini, namun diperkirakan akan disetujui untuk pasar Eropa dalam jangka pendek.

Menteri Pertanian Belanda Pieter Adema mengatakan persetujuan Eropa merupakan syarat penting untuk melaksanakan uji coba setelah uji coba lapangan. Vaksin ketiga merupakan vaksin vektor, sama seperti 2 vaksin yang berhasil diuji coba di lapangan. Belum ada kesepakatan bahwa proses pengujian akan dilanjutkan dengan 2 vaksin pertama. Adema mengatakan, akan dikaji apakah nantinya akan digunakan pada uji coba.

Hasil uji coba lapangan pertama yang dimulai pada 15 September 2023 menunjukkan bahwa anak ayam umur sehari yang divaksinasi dengan salah satu dari 2 vaksin tersebut tidak menunjukkan gejala penyakit setelah 8 minggu. Selain itu, tidak mengeluarkan virus apa pun dan tidak mengembangkan respons kekebalan terhadap virus tersebut. Pada kelompok kontrol yang tidak divaksinasi, virus menyebar setelah adanya infeksi tantangan.

Selama 18 bulan ke depan, 3 tes transmisi lagi akan dilakukan. Dengan cara ini, efektivitas vaksin dapat diperiksa sepanjang siklus bertelur. Wageningen UR, Royal GD, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Utrecht dan organisasi unggas Avined terlibat dalam uji coba lapangan. Efektivitas kedua vaksin tersebut sebelumnya telah dibuktikan dalam penelitian laboratorium di Wageningen Bioveterinary Research.

Belanda memilih pendekatan langkah demi langkah. Namun, langkah-langkah tersebut mungkin tumpang tindih. Uji coba di beberapa peternakan ayam petelur diperkirakan akan dimulai segera setelah musim panas, jauh sebelum uji coba lapangan selesai. Tujuan dari uji coba ini adalah untuk mendapatkan pengalaman vaksinasi dalam kondisi praktis. Banyak perhatian juga diberikan pada penerapan program surveilans untuk mendeteksi kontaminasi secepat mungkin di perusahaan tempat vaksinasi dilakukan.

Selain itu, upaya juga dilakukan untuk menghilangkan hambatan perdagangan produk dari hewan yang divaksinasi. Adema menulis bahwa diskusi telah dilakukan antara lain dengan pemerintah di Jepang, AS, dan Inggris. Diskusi ini akan berlanjut pada pertemuan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia.

Hasil pertama dari uji coba ini diharapkan dapat diperoleh pada paruh pertama tahun 2025, setelah itu langkah-langkah lebih lanjut menuju vaksinasi skala besar akan dipertimbangkan.

PRANCIS KHAWATIR DENGAN PETERNAKAN UNGGAS RAKSASA UKRAINA DI KROASIA

Organisasi industri unggas Perancis, Anvol, telah ‘memberikan peringatan’ atas rencana 2 perusahaan Ukraina untuk membangun peternakan unggas raksasa di Kroasia. Proyek ini akan menambah produksi tahunan sebesar 45 juta unggas dari produksi Kroasia saat ini sebesar 235 juta ekor.

Di bawah tekanan dari para peternak unggas, khususnya di Perancis, UE baru-baru ini memberlakukan kembali pembatasan jumlah ayam yang dapat diimpor bebas bea dari Ukraina. Namun batasan tersebut tidak berlaku untuk unggas yang diproduksi oleh perusahaan Ukraina di negara UE. Dengan kata lain, dengan membangun peternakan unggas skala besar di Kroasia, mereka dapat memperoleh keuntungan penuh dari pasar internal yang bebas.

“Proyek-proyek di Kroasia tidak diragukan lagi akan mengarah pada gelombang ayam yang bertentangan dengan harapan konsumen dan semua prinsip Uni Eropa. Unggas-unggas ini, yang berasal dari jenis peternakan unggas yang tidak ada di Eropa, merupakan ancaman bagi produksi Perancis dan model peternakan keluarga di Eropa. Selain itu, persaingan biaya rendah di pasar nasional Prancis akan menjadi kendala lebih lanjut terhadap kedaulatan pangan negara kita,” kata Anvol.

Rencana tersebut dikembangkan oleh 2 perusahaan agro besar Ukraina, MHP dan PCC. MHP ingin membangun 200 kandang yang menampung 8 juta ekor ayam. Lokasi yang terintegrasi penuh ini juga memiliki tempat penetasan, pabrik pakan, rumah potong hewan, akomodasi pekerja dan fasilitas lainnya. Organisasi Perancis tidak memberikan rincian tentang proyek lainnya.

Menjelang pemilu Eropa, Anvol meminta otoritas UE serta calon parlemennya untuk tidak mengalokasikan dana Eropa untuk proyek-proyek ini. Organisasi Perancis tersebut menyatakan bahwa sejak tahun 2008, MHP telah menerima total €400 juta dari Bank Pembangunan Eropa untuk pembangunan di Ukraina sendiri.

INISIATIF UNTUK MENGATASI KEKURANGAN PAKAN DI AFRIKA

Pasokan pakan ternak dan makanan ternak terbatas di banyak wilayah di Afrika. Kenya dan Uganda, misalnya, saat ini masing-masing bergulat dengan defisit pakan tahunan sekitar 60%. Krisis ini, seperti diberitakan oleh banyak media di Afrika, disebabkan oleh kekeringan, dampak Covid-19, dan konflik Rusia-Ukraina.

Akibat kekeringan, hilangnya ternak di kawasan Tanduk Afrika dalam setahun terakhir ini sangatlah parah, dengan hampir 9 juta hewan hilang (lebih dari 2 juta hewan saja di Kenya). Tingkat kematian hewan ini tidak hanya membahayakan mata pencaharian dan kehidupan manusia, namun juga mencerminkan hilangnya genetika berharga yang dikembangkan selama beberapa dekade oleh peternak kecil yang memproduksi sebagian besar daging dan susu untuk masyarakat Afrika.

Namun, program percontohan kini sedang dilakukan untuk mengatasi kekurangan pakan ternak dan pakan ternak. Proyek Resilient African Feed and Fodder Systems (RAFFS), yang didanai oleh Komisi Uni Afrika dan Yayasan Bill dan Melinda Gates, kini dimulai di Kenya, Uganda, Somalia, Zimbabwe, Nigeria, dan Kamerun. RAFFS “menekankan perlunya pendekatan yang terkoordinasi, inklusif dan strategis untuk memberikan dampak jangka panjang pada sektor ini dan kehidupan jutaan orang yang bergantung padanya.”

Selain itu, African Union-InterAfrican Bureau for Animal Resources mendukung ‘Perempuan Afrika dalam Jaringan Peternakan dan Agribisnis Sumber Daya Hewan’, yang bertujuan untuk memastikan partisipasi signifikan perempuan dalam sub-sektor pakan dan pakan ternak.

Ada juga perubahan legislatif yang diharapkan akan mendukung pengembangan industri pakan. Pada bulan Februari 2024 misalnya, pemerintah Uganda mengesahkan RUU Pakan dengan komponen yang dirancang untuk memastikan standar minimum produksi pakan. Setiap entitas yang ingin terlibat dalam produksi, penyimpanan dan penjualan pakan ternak harus mengajukan izin. Undang-undang baru ini melarang adanya kontaminan dalam pakan dan juga menguraikan langkah-langkah keamanan untuk pengangkutan pakan. Di antara item tambahan lainnya, kini juga terdapat persyaratan pengujian yang diperlukan untuk ekspor pakan dengan daftar laboratorium pengontrol pakan ternak yang disetujui akan segera tersedia.

Dr Wamalwa Kinyanjui, Pakar Kesehatan Hewan di 'Pusat Kawasan Pastoral dan Pengembangan Peternakan' (ICPALD) Otoritas Antarpemerintah untuk Pembangunan di Nairobi Kenya, mencatat bahwa peraturan penting untuk pengendalian kualitas. “Meskipun pada awalnya mungkin memperlambat segalanya, RUU Feed ini akan menyederhanakan operasional dan melindungi investor yang beretika dari investor yang tidak bermoral (produk palsu) serta melindungi konsumen,” katanya. “Jika hal ini terjadi, maka hal ini akan menguntungkan semua pihak.”

Sementara itu, Koordinator Proyek RAFFS Dr Sarah Ashanut Ossiya mencatat bahwa, meskipun RAFFS masih dalam tahap awal, implikasi dari reformasi kebijakan dan peraturan baru-baru ini, serta memetakan solusi potensial dan mengkaji peluang bisnis dan investasi “adalah arah dari pergerakan proyek ini."

Ossiya juga menunjukkan bahwa rekomendasi mendesak untuk menangani krisis kekurangan pakan di benua baru baru-baru ini dipresentasikan pada KTT Uni Afrika. Hal ini termasuk rencana untuk meningkatkan tanggap darurat dalam sektor pakan dan pakan ternak, pembentukan 'Aliansi Afrika dari Asosiasi Multi-Pemangku Kepentingan Pakan dan Makanan Ternak' untuk memandu pertumbuhan sistem pakan dan pakan ternak di Afrika yang lebih kuat, dan pembentukan sistem pemantauan dan kerangka akuntabilitas timbal balik yang menghasilkan laporan status tahunan. Pada KTT tersebut, juga direkomendasikan agar pedoman dibuat untuk membantu mendukung pengembangan sektor pakan dan pakan ternak.

KAJIAN LIMBAH TUNGGUL JAMUR SEBAGAI SUPLEMEN PAKAN AYAM PEDAGING

Lebih dari 90.000 mt limbah tunggul jamur dihasilkan setiap tahun dari produksi jamur kancing. Limbah tunggul mencakup hampir 30% dari total berat jamur. Bisakah produk sampingan pertanian ini mengurangi limbah dan menurunkan biaya pakan bagi produsen ayam pedaging?

Pennsylvania adalah pemimpin dalam produksi ayam broiler dan jamur kancing di Amerika Serikat, sehingga tampaknya tepat jika tim peneliti Penn State melakukan penelitian untuk lebih memahami bagaimana penambahan pakan broiler dengan limbah tunggul jamur mempengaruhi kesehatan dan pertumbuhan ayam.

Pada saat panen, kepala jamur kancing dipisahkan dan digunakan untuk konsumsi manusia, sedangkan tunggulnya dijadikan kompos sebagai hasil samping pertanian. “Sekitar 93.264 metrik ton tunggul jamur kancing dibuat kompos setiap tahunnya,” kata ketua tim peneliti John Boney, Anggota Fakultas Nutrisi Unggas Vernon E. Norris di Fakultas Ilmu Pertanian.

Boney menambahkan, “Tunggulnya berserat dan mengandung senyawa bioaktif terapeutik dengan aktivitas antimikroba dan antioksidan. Karena kandungan nutrisi dan obatnya, limbah tunggul jamur dapat menjadi bahan pakan yang layak.”

Sebanyak 480 ekor ayam broiler dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberi 6 perlakuan pakan. Kelompok kontrol tidak mendapat suplementasi jamur sedangkan kelompok lainnya diberi pakan dengan limbah tunggul jamur 1%, 2%, 3%, 4% dan 5%. Tunggul jamur dikeringkan dalam pengering butiran kecil dan digiling untuk dimasukkan ke dalam pakan unggas.

Tim peneliti menguji kemampuan ayam dalam mencerna 17 asam amino dalam penelitian tersebut. Pertumbuhan dan kesehatan ayam dilacak.

Setelah uji coba selama 21 hari, para peneliti Penn State melaporkan bahwa ayam broiler yang diberi hingga 3% limbah tunggul jamur tumbuh dengan kecepatan yang sama dengan ayam dalam penelitian yang tidak menerima suplementasi jamur, dan pencernaan mereka tidak terpengaruh. Mereka mencatat bahwa tingkat suplementasi yang lebih tinggi, yaitu 4% dan 5%, mengakibatkan pertumbuhan melambat dan mengganggu pencernaan asam amino, atau senyawa organik yang digunakan untuk membuat protein pada ayam.

SENI PERANG KOKSIDIA

Koksidiosis tergolong dalam “man-made disease” karena pola pemeliharaan ayam modern dengan densitas ayam yang sangat tinggi mengakibatkan total inoculum-nya sangat besar. Secara alamiah infeksi koksidia biasanya merupakan “self-limiting disease”, karena total inoculum yang rendah tidak akan membuat ayam sakit dan menunjukkan gejala klinis yang jelas, akan tetapi justru membentuk imunitas yang baik.

Koksidiosis adalah penyakit parasiter yang secara subtansial dapat terjadi secara subklinis maupun klinis, serta mampu mereduksi status kesehatan dan performa ayam modern secara signifikan.

Dalam suatu lokasi farm kejadiannya bisa berulang, dengan derajat keparahan yang variatif, serta bisa terjadi secara sporadis ataupun dengan mortalitas tinggi jika diinisiasi oleh faktor imunosupresi.

Berbasis pada sejumlah penelitian ilmiah dalam satu dekade terakhir, tulisan ini mencoba menelisik dinamika interaksi host-parasit (ayam-koksidia) dan parasit-mikrobiom (koksidia-mikroflora) dalam usus ayam modern. Hal ini tentu sangat menarik untuk dicermati dan dapat menjadi pertimbangan adekuat oleh kolega praktisi di lapangan, agar strategi jitu untuk pencegahan dan kontrol koksidiosis lebih presisi.

Sekilas Tentang Koksidia
Koksidiosis adalah penyakit protozoa yang disebabkan oleh suatu koksidia dari genus Eimeria yang secara alamiah bisa sembuh sendiri alias self-limiting disease (Kemp et al., 2013; Lu et al., 2021).

Spesies Eimeria umumnya dapat menyebabkan gangguan pada saluran cerna yang dengan berbagai derajat keparahan dapat mengakibatkan enteritis, diare, dehidrasi, dan tereduksinya bobot badan ayam. Eimeria adalah genus yang sangat besar, dengan lebih dari 1.800 spesies yang sudah diidentifikasi sampai saat ini (Duszynski, 2001).

Dibandingkan dengan genus dan spesies lain yang terkait dengan koksidia, siklus hidup Eimeria bisa diselesaikan dalam tunggal induk semang (Bangoura dan Bardsley, 2000; Dubey et al., 2020). Dengan kata lain, Eimeria mempunyai spesifisitas yang tinggi terhadap induk semang tertentu atau high host-specificity (Lu et al., 2021).

Semua anggota koksidia melakukan replikasi dan membentuk ookista dalam usus induk semang yang selanjutnya masuk ke dalam lingkungan ayam via feses. Jika ayam yang suseptibel termakan ookista yang sudah bersporulasi dari lingkungan, maka dalam hitungan menit akan ditransportasi ke dalam usus dan melepaskan bentukan sporozoit (Long dan Johnson, 1972; Chapman, 1978).

Setiap sporozoit akan melakukan invasi pada sel-sel epitelium mukosa usus dan akan tetap tinggal dalam suatu vakuola selama adaptasi dan menjadi bentukan tropozoit. Selanjutnya tropozoit akan bertumbuh dan memperbanyak diri via melakukan replikasi secara aseksual dan progresif yang kemudian berkembang menjadi bentukan merozoit dalam suatu vakuola yang disebut skizon (proses skizogoni). Tiap skizon akan mengandung ribuan bentukan generasi pertama dari suatu merozoit. Jika proses skizogoni telah selesai, maka sel-sel epitelium usus induk semang akan lisis dan ribuan bentukan merozoit akan masuk ke dalam lumen usus serta menginfeksi sel-sel epitelium usus yang baru (proses merogoni).

Setelah mengalami beberapa generasi proses merogoni maka parasit melakukan replikasi seksual dengan membentuk makrogamet dan mikrogamet. Selanjutnya mikrogamet melakukan invasi ke dalam sel epitelium yang baru dan melakukan fertilisasi terhadap makrogamet untuk menghasilkan zigot (Long dan Johnson, 1972; Ferguson et al., 2003). Sesudah zigot berkembang menjadi suatu bentukan ookista, keluar dari sel epitelium yang lisis dan selanjutnya dikeluarkan dari lumen usus induk semang bersama feses (Shirley et al., 2005; Dubey et al., 2020).

Jadi sangatlah jelas bahwa siklus hidup koksidia dalam tubuh induk semang (masa prepaten) yang terdiri dari fase kolonisasi awal (fase skizogoni), fase bertumbuh, dan replikasi (fase merogoni), serta fase pertumbuhan seksual (fase gametogoni) pada sel-sel epitelium mukosa usus induk semang tentu saja dapat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2024.

Ditulis oleh:
Tony Unandar
Anggota Dewan Pakar ASOHI

RATUSAN HEWAN KURBAN DI DEPOK DIAWASI JELANG IDUL ADHA


Petugas DKP3 Kota Depok melakukan pemeriksaan hewan kurban. (Foto: Diskominfo Depok)


Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Depok bersama mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) - Institut Pertanian Bogor (IPB) dan dokter hewan dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI melakukan pengawasan hewan kurban. 

Sejak Jumat (07/06) lalu, pemeriksaan dilakukan di lapak, peternakan dan tempat penjualan hewan kurban. 

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) pada DKP3 Kota Depok, Dede Zuraida menjelaskan pengawasan yang dilakukan mencakup persyaratan hewan kurban seperti kepemilikan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dan pengawasan lalu lintas hewan kurban.

Selain itu, DKP3 Kota Depok juga memperkuat koordinasi dengan kelurahan dan kecamatan terkait rekomendasi dan persetujuan tempat berjualan, serta tempat pemotongan hewan kurban.

"Data 7 Juni 2024, terdapat 21 lapak dengan total hewan kurban sebanyak 1.501. Dengan rincian 659 sapi, 620 kambing dan 222 ekor domba," katanya, Rabu (12/06). 

Dikatakannya, dalam pemeriksaan tersebut ditemukan beberapa kelainan pada hewan kurban. Antara lain 5 ekor sapi belum cukup umur (BCU), 1 ekor sapi kurus, 1 ekor kambing cacat, 2 ekor kambing BCU, 2 ekor kambing penyakit mulut kuku (PMK), 2 ekor kambing sakit mata dan 1 ekor domba ORF atau dermatitis pustularis contagiosa. 

"Kami langsung ambil tindakan hewan-hewan yang sakit diminta untuk diisolasi dari hewan yang sehat," tambahnya  

"Sedangkan konsumen dihimbau untuk memilih hewan yang memenuhi syarat kesehatan dan syar'i," tutupnya. (Sumber: berita.depok.go.id)


INDO LIVESTOCK: PIONIR PAMERAN INTERNASIONAL INDUSTRI PETERNAKAN

 

Managing Director PT Napindo Media Ashatama memimpin kegiatan technical meeting Indo Livestock Expo & Forum 2024. (Foto: Istimewa)

Indo Livestock 2024 Expo & Forum, pameran internasional terkemuka di industri peternakan, pengolahan hasil ternak, dan kesehatan hewan ternak ke-17 akan kembali digelar pada 17-19 Juli 2024 di Jakarta Convention Center (JCC). Sebagai pionir dalam pameran internasional industri peternakan, pengolahan hasil ternak, dan kesehatan hewan ternak di Indonesia, Indo Livestock telah menunjukkan konsistensi dan keunggulannya sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2002.

“Kita bisa melihat antusiasme dari para stakeholders, peserta pameran yang hadir pada technical meeting hari ini. Apalagi tahun ini, Indo Fisheries sudah dituanrumahi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Saya harapkan pameran dan forum internasional ini bisa menjadi sebuah wadah yang sangat baik untuk terintegrasinya semua informasi di sektor terkait,” Arya Seta Wiriadipoera selaku Managing Director PT Napindo Media Ashatama (Napindo) saat membuka kegiatan technical meeting Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2024 Expo & Forum pada Senin, 10 Juni 2024 di JCC.

Penyelenggaraan Indo Livestock tahun ini, jumlah paviliun negara telah melebihi target yakni menjadi 12 paviliun negara yang telah mengkonfirmasi partisipasi mereka. Antara lain Indonesia, Belanda, China, Eropa, India, Italia, Korea Selatan, Malaysia, Taiwan, Spanyol, Vietnam, dan Singapura.

Lebih dari 600 peserta dari 50 negara akan berpartisipasi selama 3 hari. Begitu pula 18.000 pengunjung diharapkan dapat meramaikan pameran dan forum internasional yang telah dipercaya sebagai platform unggulan untuk menjalin kerjasama dan memperkenalkan inovasi di industri peternakan, pakan ternak, pengolahan susu, pertanian, kesehatan hewan, alat-alat kedokteran hewan, perikanan, dan akuakultur.

Arya menambahkan pameran internasional karya anak negeri ini memberikan peluang yang tak tertandingi bagi para peserta dan pengunjung untuk memperluas jaringan, menemukan peluang bisnis baru, serta memperoleh wawasan tentang tren dan teknologi terbaru di industri peternakan.

Pengunjung akan mendapatkan informasi dari pakar industri mengenai isu-isu terkini yang dapat mengembangkan bisnisnya. Tidak hanya itu, selama 3 hari pameran, Indo Livestock 2024 Expo & Forum menghadirkan “The 2nd Sustainably Integrated Animal, Fishery, and Agribusiness Industry Forum”, serta program menarik lainnya seperti Fishery Product Presentation dan Sosialisasi SDTI 2024 berupa Bazaar UMKM, talkshow dan kegiatan anak dalam rangkaian SDTI Fun. (Rilis/INF)

TERUS BERKUTAT DENGAN KOKSIDIOSIS

Serangan koksidiosis dapat berdampak pada proses pencernaan dan penyerapan nutrisi ternak menjadi tidak optimal. (Foto: Istimewa)

Koksidiosis masih menjadi momok bagi peternakan unggas di Indonesia. Tanpa disadari, koksidiosis “mencuri” dan “membunuh” unggas secara diam-diam. Kerugian ekonomi akibat penyakit ini selalu membayangi peternak dalam menjalankan usaha budi daya unggas.

Sebagaimana diketahui, koksidiosis merupakan penyakit yang menyerang saluran pencernaan unggas yang disebabkan oleh parasit dari spesies Eimeria sp. Penyakit ini dapat berdampak pada proses pencernaan dan penyerapan nutrisi menjadi tidak optimal, sehingga menyebabkan terganggunya pertumbuhan berat badan atau penurunan produksi telur (layer), yang berujung pada kematian.

Koksidiosis seolah tidak pernah hilang dari list penyakit yang perlu diwaspadai oleh para peternak unggas. Bukan tanpa alasan, jika unggas terserang koksidiosis sudah pasti yang terjadi adalah kerugian ekonomi dalam jumlah yang tidak sedikit. Berra (2010), menyebutkan dalam penelitiannya bahwa kerugian ekonomi akibat koksidiosis mencapai USD 3 miliar pada tahun tersebut. Kerugian berupa penurunan performa dan produksi ternak yang disertai dengan buruknya nilai FCR.

Pengaruh Domestikasi Manusia
Menurut konsultan perunggasan yang juga Anggota Dewan Pakar ASOHI, Tony Unandar, koksidiosis merupakan man made disease alias penyakit yang timbul karena proses domestikasi oleh manusia.

“Di alam kita jarang melihat kasus koksidiosis yang luar biasa hebatnya karena koksidiosis adalah self limiting disease, artinya kalau ditantang dalam dosis yang rendah ayam justru akan membentuk imunitas, bukan penyakit. Tetapi dengan adanya beberapa faktor seperti kepadatan yang tinggi dalam kandang maka jumlah koksidia yang ada di lapangan berada pada jumlah tinggi atau total inokulumnya sangat tinggi, maka akan menunjukkan gejala klinis yang jelas,” katanya.

Dari sini bisa diketahui bahwa makin tinggi kepadatan ayam, makin tinggi peluang ayam untuk terinfeksi koksidiosis. Pendapat senada juga disampaikan oleh Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Prof Drh Lucia Tri Suwanti.

“Kepadatan kandang sangat memengaruhi, selain itu kita ambil contoh lain misalnya dari segi ventilasi. Jika ventilasinya buruk maka akan memengaruhi kelembapan dan memicu terjadinya sporulasi dari Eimeria. Selain itu sanitasi kandang yang kurang baik berdampak pada penyebaran penyakit,” ujarnya.

Kenali Perkembangannya
Lebih lanjut Prof Lucia menjelaskan, koksidiosis bermula dari... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2024.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

VAKSINDO VIETNAM RESMIKAN PABRIK PRODUKSI VAKSIN VETERINER TERMUTAKHIR

 

Seremoni peresmian pabrik Vaksindo Vietnam, 9 Juni 2024. (Foto: Istimewa)


Vaksindo Vietnam Company Limited (Vaksindo Vietnam), anak perusahaan Vaksindo Satwa Nusantara di Indonesia meresmikan pabrik vaksin hewan ternak termutakhir yang terletak di Taman Industri Yen My II, Distrik Yen My, Provinsi Hung Yen, Minggu (09/06). Sebagai pabrik vaksin veteriner terbesar di Vietnam, Vaksindo bertujuan memasok vaksin berkualitas tinggi secara domestik dan mengekspornya ke negara-negara lain di kawasan Asia dan sekitarnya.

Mr Phung Duc Tien, Wakil Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Vietnam Denny Abdi, dan Mr Nguyen Hung Nam, Wakil Gubernur Provinsi Hung Yen turut hadir dalam peresmian Vaksindo Vietnam Animal Health (VVAH) sekaligus mengunjungi fasilitas pabrik pembuatan vaksin bersama dengan pimpinan JAPFA Group, dan Vaksindo Indonesia.

Denny Abdi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Vietnam menekankan bahwa Vietnam dan Indonesia adalah dua negara yang memainkan peran penting dalam keamanan pangan regional, karena populasi yang besar dan terus berkembang. Efektivitas langkah-langkah pencegahan penyakit untuk ternak di kedua negara akan memiliki dampak positif pada pasokan pangan di kawasan dan sekitarnya.

“Vaksindo adalah produsen vaksin veteriner terkemuka di Indonesia, dan vaksin yang diproduksi oleh Vaksindo didukung oleh penelitian inovatif dan secara ketat mematuhi standar internasional untuk kualitas dan keselamatan. Melalui pabrik ini, saya yakin bahwa penelitian antara Indonesia dan Vietnam di bidang kesehatan hewan dapat terus diperkuat, sehingga kita dapat menekan potensi wabah dan memprediksi epidemi di masa depan,” terang Denny dalam keterangan resminya.  

Lanjut Denny, kedua belah pihak dapat memperkuat kerja sama dalam keamanan pangan dan memberikan solusi untuk tantangan global. Saya yakin bahwa kerja sama yang kuat antara Indonesia dan Vietnam tidak hanya akan menguntungkan kedua negara, tetapi juga negara-negara ASEAN serta dunia.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Phung Duc Tien menyatakan saat ini, pabrik vaksin domestik yang memenuhi standar GMP hanya memenuhi sekitar 70% dari permintaan. "Peresmian pabrik vaksin Vaksindo Vietnam adalah peristiwa penting, dalam konteks meningkatnya permintaan akan vaksin. Dengan komitmen pada teknologi modern, produksi vaksin berbasis penelitian dan tekad untuk memenuhi standar internasional, kami mengharapkan Vaksindo Vietnam segera meluncurkan produk yang memenuhi permintaan domestik dan bergerak menuju ekspor, terutama dengan fokus pada penelitian untuk memproduksi vaksin yang saat ini harus diimpor oleh Vietnam.”

VVAH dibangun sejak April 2022, diatas lahan seluas lebih dari 20.000 meter persegi dan memiliki desain dua lantai dengan rencana perluasan di masa depan. VVAH telah diakui memiliki standar GMP-WHO, dan menerapkan teknologi terkini untuk memenuhi standar internasional.

Pabrik ini akan mengoperasikan lima lini produksi di area produksi seluas 9.000 meter persegi, dengan fokus pada vaksin berbasis Kultur Jaringan, vaksin berbasis Telur, dan vaksin Bakteri. Produk utamanya dirancang untuk memenuhi kebutuhan pencegahan penyakit untuk babi, sapi, dan unggas.

Teguh Prajitno, Head of SBU Animal Health and Live Equipment JAPFA mengatakan bahwa sejak 2010, Vaksindo telah menjadi mitra pemerintah Indonesia dan berpartisipasi dalam banyak kegiatan yang berkaitan dengan FAO dan OFFLU di Asia Tenggara. “Kami selalu bertekad untuk mengembangkan solusi tepat sasaran untuk menghadapi tantangan penyakit, dan mendorong ekspor vaksin dari pabrik kami di Indonesia yang mulai tahun ini, dapat diproduksi dari pabrik vaksin mutakhir Vaksindo di Vietnam.”

“Kami telah menempuh perjalanan panjang untuk mewujudkan impian Vaksindo membangun pabrik vaksin veteriner state-of-the-art di Vietnam. Fasilitas produksi vaksin mutakhir ini terutama bertujuan untuk memastikan keamanan penyakit bagi sistem peternakan ternak dan unggas di Vietnam, serta berkontribusi pada pengembangan berkelanjutan industri peternakan. Selain itu, Vaksindo Vietnam juga menjadi platform bagi kami untuk bergandengan tangan dengan negara-negara lain dalam mengendalikan epidemi dan meningkatkan kemandirian ASEAN,” ujar Teguh. (Rilis/INF)

MEMAJUKAN WIRAUSAHA PERUNGGASAN DI INDONESIA

Pengembangan kewirausahaan perunggasan dihadapkan pada fakta bahwa dunia senantiasa berubah, atau dikenal sebagai Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA). (Foto: Istimewa)

Industri perunggasan menjadi salah satu wahana yang tepat untuk dikembangkan oleh para pelaku wirausaha Indonesia, karena besarnya potensi perunggasan yang dimiliki. Karakter khusus harus ditanamkan sejak dini sehingga generasi muda Indonesia dapat memanfaatkan setiap peluang bisnis perunggasan Indonesia, agar perunggasan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Indonesia memiliki populasi penduduk yang sangat besar dan hal itu menjadi peluang untuk memenuhi kebutuhan asupan gizi protein hewani. Peluang tersebut didukung pula oleh kekayaan alam yang besar, iklim yang mendukung, ketersediaan teknologi, serta bahan baku yang bisa menjadi nilai tambah dalam suatu proses produksi.

Semua kelebihan yang dimiliki Indonesia tersebut menjadi tantangan pengembangan wirausaha di bidang perunggasan dalam rangka menyuplai kebutuhan protein hewani bagi warga Indonesia. Terlebih lagi saat ini perunggasan menyumbang kontribusi atas 2/3 dari kebutuhan protein hewani nasional dan berkontribusi atas 80,77% terhadap total produksi ternak nasional. Sektor perunggasan juga mampu menyerap sekitar 10% dari tenaga kerja nasional, dengan omzet mencapai 700 triliun per tahun (Ditjen PKH, 2024). Sementara di sisi lain, angka konsumsi protein hewani asal unggas masih sangat kecil dibanding negara-negara tetangga di ASEAN.

Peluang itu dapat dimanfaatkan oleh para wirausaha di bidang perunggasan untuk dapat berkreasi memanfaatkannya. Kewirausahaan pada prinsipnya merupakan suatu kemampuan untuk memberi nilai tambah suatu produk di pasaran, yang tentunya menggunakan berbagai cara. Kewirausahaan dikaitkan dengan pembentukan bisnis baru yang menghasilkan keuntungan, nilai, dan produk baru atau jasa yang unik serta kreatif.

Jadi, kewirausahaan merupakan proses menciptakan hal baru atau membuat sesuatu yang berbeda dari yang pernah ada sebelumnya. Dengan demikian, seorang wirausaha adalah seseorang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai peluang, mengelola sumber daya yang dibutuhkan, serta mengambil tindakan yang tepat untuk memastikan sukses secara berkelanjutan.

Adapun usaha atau perusahaan, merupakan suatu bentuk usaha yang melakukan kegiatan secara tetap dan terus-menerus dengan tujuan memperoleh keuntungan, baik yang diselenggarakan oleh perorangan maupun badan usaha yang berbentuk badan hukum atau tidak berbentuk badan hukum yang didirikan dan berkedudukan di suatu daerah dalam suatu negara.

Di era yang penuh tantangan global ini pengembangan kewirausahaan di suatu negara dihadapkan oleh fakta bahwa dunia senantiasa berubah, atau dikenal sebagai Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA World). Hal itu disebabkan dunia usaha sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di antaranya selera pasar, kebijakan pemerintah, perkembangan politik, krisis ekonomi, perkembangan teknologi, dan kesehatan masyarakat.

Volatility, merupakan perubahan yang berlangsung dengan sangat cepat di era disrupsi dan digital ini. Produk live cycle yang sebelumnya mencapai 15-20 tahun, kini pada era sekarang hanya berlangsung selama 1-5 tahun saja. Seorang wirausaha harus selalu beradaptasi dengan adanya berbagai perubahan yang dihadapi.

Uncertainty, seorang wirausaha selalu dihadapkan pada ketidakpastian, baik pada saat ini ataupun masa depan. Cukup atau tidak cukup atas informasi yang memadai, perusahaan atau seorang wirausaha harus tetap mengambil keputusan. Dengan demikian untuk dapat bertahan, seorang wirausaha harus selalu siap dengan berbagai kepastian.

Complexity, banyak informasi dan faktor yang memengaruhi proses pengambilan keputusan, namun tidak mungkin semua faktor tersebut dapat dipertimbangkan. Sehingga perlu untuk mempertimbangkan faktor-faktor yang penting saja untuk pengambilan keputusannya.

Ambiguity, sering kali informasi yang didapatkan tidak jelas, tidak lengkap, tidak akurat, atau bahkan saling bertentangan, sehingga sulit untuk dapat ditarik kesimpulan. Oleh karena itu, keputusan dapat saja berubah sesuai dengan perkembangan yang terjadi.

Jadi walaupun pengembangan perunggasan Indonesia terbuka lebar, namun peluang dan tantangan dalam lingkungan perunggasan tersebut akan senantiasa terus-menerus mengalami perubahan, sehingga sangat diperlukan strategi dalam pengambilan keputusan. Di sinilah peran penting seorang wirausaha perunggasan untuk dapat memanfaatkan peluang bisnis perunggasan di tengah keberadaan perusahaan-perusahaan raksasa dunia yang ada di Tanah Air.

Di Indonesia jumlah wirausaha perunggasan, apalagi wirausaha muda masih sangat sedikit. Hal itu disebabkan beberapa faktor seperti pola pikir yang tidak tepat, tidak memahami bagaimana memulai sebuah wirausaha perunggasan, modal belum mencukupi, ingin sukses secara instan, khawatir akan ketidakpastian, serta ketakutan setelah mendengar cerita kegagalan, dan sebagainya.

Menurut Isra Noor (2023), untuk memulai suatu wirausaha perunggasan harus dimulai dari apa yang dimiliki, harus berani memulainya, dan tidak membiarkan kesempatan lewat. Ada banyak cara untuk memulai usaha, bisa dari ide yang sederhana, ide dari pendidikan, pekerjaan, hobi, keahlian, ataupun keprihatinan. Hukum memulai usaha sama halnya dengan hukum gaya gesek suatu benda. Benda yang diam akan memiliki gaya gesek yang relatif besar dibandingkan dengan benda yang bergerak. Dan gaya gesek terbesar terjadi pada saat benda akan bergerak. Demikian juga ketika akan memulai usaha, maka hambatan terbesar adalah ketika akan memulainya.

Di industri perunggasan nasional, tantangan utama yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh seorang wirausaha adalah perihal margin keuntungan, outbreak penyakit, masuknya produk impor, masih rendahnya minat para pelaku usaha secara profesional, dan aspek permodalan. Semua tantangan tersebut harus dicermati sebagai bekal dalam melangkah menjadi seorang wirausaha perunggasan yang sukses.

Peran Pendidikan 
Akan lebih baik manakala pendidikan seputar kewirausahaan dapat dilakukan sejak dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, sampai perguruan tinggi. Penanaman nilai-nilai jiwa kewirausahaan sangat perlu untuk ditanamkan sejak dini karena karakteristik wirausaha sesungguhnya bukan hanya harus dimiliki oleh para pelaku wirausaha, namun merupakan suatu keterampilan hidup (life skill) yang harus dimiliki oleh setiap generasi muda di era disrupsi ini.

Keterampilan hidup yang semestinya dimiliki oleh generasi muda Indonesia sejak dini yakni keterampilan tentang cara komunikasi, kolaborasi, kreativitas, pemikiran kritis, karakter, dan jaringan. Keterampilan-keterampilan seperti itu sebaiknya tidak sekadar diajarkan melalui kurikulum di sekolah atau kampus, namun juga diaplikasikan secara terintregrasi dalam kegiatan-kegiatan di luar pembelajaran pada umumnya, misalnya pada organisasi siswa atau mahasiswa, serta kegiatan siswa atau mahasiswa.

Seorang wirausaha perunggasan harus bisa memiliki setidaknya beberapa karakter, yakni gigih atau tekun, kreatif, inovatif, memiliki jiwa kepemimpinan, mampu berkomunikasi, berani mengambil risiko, percaya diri, mampu membangun jaringan, dan memiliki etika yang baik (Nababan, 2021). Karakter berikutnya adalah jujur, disiplin, tanggung jawab, berpikir kritis, serta mampu memandang jauh ke depan dan jangka panjang.

Untuk dapat menjadi wirausaha perunggasan sukses, maka strategi efektif agar dapat mengembangkan usaha yakni pentingnya upaya meniru dengan lebih baik dari yang ditiru (benchmarking), produk harus unik, berbeda dan sulit ditiru (diferensiasi), adanya kemitraan (partnership), adanya jaringan kerja (networking), adanya nilai tambah (added value), adanya alih daya dari luar (outsourcing), serta tak kalah pentingnya adalah pemberdayaan (Ali Agus, 2018).

Manakalah jiwa dan karakter wirausaha perunggasan sudah dapat ditanamkan sejak dini, maka akan ada banyak peluang perunggasan yang dimanfaatkan sebagai objek kewirausahaan. Dan hal yang harus ditekankan adalah para generasi muda didorong untuk berani keluar dari zona nyaman untuk menjadi seorang wirausaha yang inovatif dan kreatif. Dengan meningkatnya para wirausaha muda di bidang perunggasan, hal itu tidak saja dapat meningkatkan kemajuan dan kemandirian industri perunggasan nasional, namun juga menjadi faktor penggerak nyata dalam sistem perekonomian nasional. ***


Ditulis oleh:
Andang S. Indartono SPt
Koordinator Indonesia Livestock Alliance (ILA)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer