-->

KASUS PENYAKIT PENTING DI 2020 & PREDIKSINYA DI 2021 MENDATANG

Tahun 2021 terkait penyakit unggas masih akan didominasi oleh penyakit viral. (Foto: Dok. Infovet)


Fenomena kejadian penyakit pada unggas sepanjang 2020 relatif meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pergantian cuaca yang ekstrem dan kondisi suhu yang lebih panas dibandingkan tahun sebelumnya bisa dilihat pada gambar di bawah yang menyebabkan kondisi pemeliharaan ayam mengalami tantangan, diantaranya:

• Kondisi ayam yang mengalami stres dan potensial imunosupresi yang diakibatkan fluktuasi suhu, kelembapan dan kecepatan angin.
• Bibit patogen lebih berkembang diakibatkan kondisi kelembapan lebih tinggi.
• Tantangan manajemen di kandang karena perubahan cuaca yang ekstrem.
• Tantangan pemenuhan kebutuhan energi di saat kondisi panas ekstrem.

Dampak stres karena panas ini paling berbahaya menyebabkan penurunan kekebalan tubuh, sehingga kemampuan imunitas untuk melawan penyakit menjadi berkurang, akibatnya kejadian penyakit potensial meningkat sepanjang 2020.

Berdasarkan pengalaman penulis, di sini akan dibagikan beberapa kasus penyakit paling penting dan sering terjadi di 2020, baik yang menimpa ayam broiler maupun layer.

Chronic Respiratory Diseases (CRD)
Mycoplasmosis terutama yang disebabkan oleh Mycoplasma Gallisepticum (MG) merupakan ancaman nyata dan sangat berperan dalam gangguan sistem ini. Kuman MG yang menempel di silia sel pernapasan akan mengeluarkan endotoksin kemudian melemahkan sistem mukosiliaris. Sumber kontaminasi MG di broiler farm terutama dari burung liar, mobilitas pekerja kandang, kendaraan yang terkontaminasi, serta DOC yang terkontaminasi akibat infeksi vertikal dari induknya.

Sejatinya Mycoplasma mudah mati dalam lingkungan dengan temperatur dan kadar oksigen yang tinggi, kelembapan relatif rendah dan hampir semua jenis disinfektan mampu membunuhnya. Tetapi kondisi ventilasi kandang yang buruk akan mengakibatkan kelembapan udara dan kadar amonia dalam kandang meningkat dan konsekuensinya adalah tekanan oksigen akan menurun. Hal ini yang menyebabkan Mycoplasma yang sudah berada di permukaan sel pernapasan akan berkembang biak dengan cepat dan menggangu sistem mukosiliaris, sehingga rentan akan munculnya infeksi sekunder.

Kontrol yang paling tepat untuk meminimalkan munculnya kasus pernapasan yang dipicu oleh MG adalah melalui kedisiplinan pelaksanaan program sanitasi, pemilihan DOC yang minim kontaminasi MG dan didukung dengan pengaturan ventilasi atau tata laksana kandang yang berhubungan dengan kecukupan oksigen di kandang. Program kontrol di broiler dengan antibiotik khusus untuk MG merupakan pilihan terakhir dan program tersebut sebaiknya didasarkan dengan melihat status MG di DOC yang diterima pada saat kedatangan. Untuk memudahkan kontrol, sangat disarankan memilih DOC yang induknya sudah divaksinasi dengan vaksin MG live.

Inclusy Body Hepatitis (IBH)
IBH menjadi momok yang menakutkan bagi para peternak, hakekat penyakit ini mirip dengan Infectious Bursal Disease (IBD) tetapi lebih hebat dampaknya terhadap mortalitas dan perubahan organ kekebalan tubuh.

Kematian yang disebabkan IBH bisa… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2020

Ditulis oleh:
Drh Sumarno (Senior Manager AHS PT Sreeya Sewu Indonesia)
& Han (Praktisi Peternak Layer)

THROW BACK PENYAKIT UNGGAS 2020

ND masih menjadi momok menakutkan bagi peternak unggas Indonesia. (Sumber: Istimewa)

Penyakit merupakan salah satu hambatan yang merintangi dalam suatu usaha budi daya peternakan, khususnya unggas. Baik penyakit infeksius maupun non-infeksius semuanya bisa jadi biang keladi kerugian bagi peternak. Menarik untuk dicermati ragam penyakit yang menghampiri di tahun 2020 dan bagaimana prediksinya ke depan.

Perunggasan, sebagai industri terbesar di sektor peternakan Tanah Air tentunya yang paling menjadi sorotan. Tiap tahunnya, kejadian penyakit selalu terjadi dan jenisnya pun juga beragam, baik infeksius maupun non-infeksius.

Maklum saja, sebagai negara tropis Indonesia memang menjadi tempat yang nyaman bagi berbagai jenis mikroorganisme patogen. Tentunya para stakeholder yang berkecimpung mau tidak mau, suka tidak suka harus berusaha untuk bisa survive dari hambatan ini.

Yang patut diingat adalah bahwa kejadian penyakit akan berhubungan dengan performa dan produktivitas, kemudian kedua aspek itu tentu saja akan langsung terkait pada nilai keuntungan yang didapat. Jadi, siapa saja yang dapat mencegah terjadi penyakit di suatu peternakan, apapun peternakannya, sudah pasti akan mendapatkan keuntungan yang lebih baik.

Catatan Penting 2020
Tahun 2020 peternak dianggap sudah dapat beradaptasi dengan ketiadaan Antibiotic Growth Promoter (AGP). Hal ini dikemukakan oleh Technical Support PT Mensana Aneka Satwa, Drh Arief Hidayat. Meskipun begitu, ia menyebut bahwa ada juga peternak yang masih kesulitan dengan setting-an terbaik dalam mengakali performa.

Menurut Arief juga tahun 2020 kasus kejadian penyakit unggas yang terjadi tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Kasus penyakit unggas yang banyak terjadi pada broiler masih didominasi oleh penyakit CRD kompleks, Gumboro dan sedikit laporan mengenai Slow Growth oleh cemaran Mikotoksikosis.

Sedangkan pada layer kasus penyakit masih didominasi penyakit yang sebabkan penurunan produksi pada ayam masa bertelur seperti ND (G7), AI (H9N2) , IB dan Coryza, sedangkan untuk fase starter-grower-prelayer (pullet) di dominasi oleh IBD dan ND.

Arief menggarisbawahi bahwasanya penyakit layaknya CRD kompleks dan dan Colibacillosis rata-rata disebabkan oleh kesalahan dalam manajemen pemeliharaan.

“Manajamen pemeliharaan yang kurang baik akan membuat penyakit ini kerap berulang, karena sebagaimana kita ketahui si agen penyakit inikan sifatnya oportunis. Jadi manajemen pemeliharaan tentunya harus benar-benar diperhatikan,” tutur Arief.

Selain itu jangan lupakan faktor cuaca dan iklim yang dapat mempengaruhi pola serangan penyakit. Menurut Arief, ketika terjadi peralihan musim alias pancaroba seperti sekarang ini, ayam akan mengalami stres, sehingga ternak akan mengalami imunosupresi yang kemudian akan memudahkan agen infeksius patogen semakin gencar menyerang.

Terkait penyakit Gumboro, hal ini juga diamini oleh Technical & Marketing Manager PT Ceva Animal Health Indonesia, Drh Ayatullah Natsir. Gumboro juga masih menjadi penyakit langganan di perunggasan Indonesia.

“Gumboro tetap hits di 2020, banyak kasus menyerang ayam pullet. Laporan kasus gumboro 2020 di database kami kurang lebih sekitar 70 kasus sampai Oktober kemarin,” papar Ayatullah.

Ia berujar bahwa dengan merebaknya penyakit semacam ND, Gumboro dan beberapa kejadian Inclusion Body Hepatitis (IBH), artinya terjadi peningkatan kasus imunosupresi di lapangan. Ketiga penyakit tadi juga dikenal sebagai penyakit yang dapat menyebabkan imunosupresi pada ayam.

Terkait penyakit-penyakit imunosupresif, Technical Manager PT Boehringer Ingelheim, Drh Hari Wahjudi, juga ikut memberikan pendapat. Dalam sebuah webinar ia memaparkan bahwasanya peternak harus lebih diedukasi mengenai Gumboro.

“Gumboro ini memang agak tricky, pengendaliannya tidak cukup hanya vaksin. Sediaan vaksin yang digunakan jika salah juga akan berimbas nantinya. Peternak juga harus lebih diedukasi lagi mengenai ini dan memang saya menemukan banyak penyakit ini pada 2020,” tutur Hari.

Ancaman Baru Mengintai?
Di tahun 2020 ini bisa dibilang tidak ada penyakit… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2020 (CR)

PENCEGAHAN AI DENGAN MELIBATKAN LASER

Laser sedang diujicobakan di peternakan unggas free range Belanda untuk menghilangkan ancaman kontaminasi flu burung dari burung liar.

Penelitian tentang penggunaan laser sebagai pengusir burung liar telah dilakukan sejak tahun 1970-an, pertama sebagai pencegahan serangan burung di lapangan terbang dan kemudian untuk mengusir burung liar yang menyebabkan kerusakan tanaman pertanian.

Penelitian saat ini dilakukan dengan cara menakut-nakuti bebek liar dan burung liar lainnya menggunakan laser pada platform 6 meter di atas permukaan tanah. Peternakan free range dilaser antara pukul 5 sore dan 10 pagi, dengan padang rumput di sekitarnya (hingga 600 meter jauhnya) dilaser pada waktu yang sama.

Hasilnya tidak ada burung liar yang mendekat di sekitar peternakan saat laser beroperasi.

EVALUASI DAN PREDIKSI PENYAKIT 2020 KE 2021

Selain penyakit viral, penyakit bakterial pada unggas juga masih mendominasi kejadian penyakit di lapangan. (Foto: Istimewa)


Hari berganti, tahun berlalu. Tanpa terasa sudah berada di penghujung tahun 2020. Semua yang diperjuangkan di Tahun ini, mari menganalisis dan evaluasi demi kemajuan diwaktu yang akan datang, di tahun 2021.

Pada 2020, dari laporan pemeriksaan kasus oleh para dokter hewan lapangan PT Romindo di seluruh Indonesia, menunjukkan bahwa kasus penyakit ND (Newcastle Disease), IBD (Infectious Bursal Disease), CRD, NE, Coryza dan Kolibasilosis kejadiannya selalu tinggi setiap bulannya. Selain itu, penyakit Mikotoksikosis juga dilaporkan terjadi di semua wilayah.

Seperti diketahui bersama bahwa penyakit ND adalah salah satu penyakit pernapasan dan sistemik yang disebabkan oleh virus, bersifat akut dan sangat mudah menular dan menyerang berbagai jenis unggas terutama ayam. Pada 2020, gejala klinis ND yang muncul bersifat akut yang berupa pendarahan dan nekrosis pada saluran pencernaan dengan angka kematian tinggi (velogenic viscerotropic). Ada pula dengan gejala klinis pada saluran pernapasan dan syaraf, tanpa perubahan pada saluran pencernaan dengan angka kematian tinggi (velogenic neurotropic). 

Pada 2020 dilaporkan adanya peningkatan jumlah kasus IBD dibanding tahun sebelumnya dan kasusnya tersebar merata. Ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan penyakit ini masih belum optimal dan aman, artinya program vaksinasi IBD, baik aplikasinya maupun pemilihan strain vaksin IBD. Pemakaian vaksin IBD live dengan strain intermediate dan intermediate-plus, kadang kala diberikan pada anak ayam baik broiler, layer maupun breeder. Hal ini akan menyebabkan terjadinya atropi bursa fabrisius sebagai organ limfoid primer yang berakibat terganggunya proses pembentukkan kekebalan secara umum.

Selain penyakit viral, penyakit bakterial juga masih mendominasi kejadian penyakit di lapangan. Yang terbanyak ditemukan adalah penyakit CRD, CRD komplek, Kolibasilosis, NE dan Coryza. Kasus penyakit bakterial ini jumlahnya lebih dari setengah keseluruhan kasus yang ditangani oleh tim Romindo di lapangan. Hal ini dikarenakan masih mengedepankan tindakan pengobatan terhadap penyakit daripada pencegahan. Ketika ayam terlihat gejala klinis sakit saat itulah diberikan produk antibiotika. Padahal kalau dicermati, kasus penyakit bakterial ini sifatnya lebih rutin dan terpola. Jadi mestinya dapat dilakukan program pencegahan penyakit, pada saat ayam masih terlihat sehat.

Untuk itu, perlu dipertimbangkan program lain, yaitu vaksinasi terhadap Mycoplasmosis (MG dan MS), terutama pada ayam layer dan breeder, agar ayam mendapatkan kekebalan lokal MG dan MS sejak awal pemeliharaan hingga afkir. Hal ini karena kuman MG dan MS ini selalu ada di lapangan dan menginfeksi ayam setiap saat. Sehingga dengan memberikan kekebalan lokal sejak awal, maka kondisi tubuh ayam selalu siap menghadapi serangan bakteri Mycoplasma dari lapangan. Efek positif lainnya adalah pemakaian antibiotika misalnya golongan tylosin sebagai pencegahan MG dan MS dapat dikurangi bahkan dihilangkan, sehingga dapat menghemat biaya pengobatan.

Penyakit Coryza atau Snot, pada 2020 ini semakin bandel dan susah dikendalikan. Hal ini terjadi karena ada penyakit lain yang secara diam-diam “membukakan pintu” bagi masuknya bakteri Haemophilus spp. ke dalam tubuh ayam. Penyakit ini adalah AmPV (Avian Metapneumovirus), dengan gejala klinis swollen head syndrome atau kebengkakan di daerah kepala bagian atas. Ketika terjadi outbreak Coryza, perlu dilakukan pemeriksaan serologis terhadap APV, karena meskipun ayam tidak divaksin APV tetapi hasil serologisnya biasanya positif terhadap APV. Ini menunjukkan bahwa ayam sudah terinfeksi APV dan berlanjut menjadi outbreak Coryza. Sering kali APV berjalan tanpa gejala klinis, apabila tidak ada infeksi sekunder yang menyertai.

Helminthiasis atau cacingan, baik karena cacing gilig maupun cacing pita kejadiannya cukup menggangu di lapangan. Pengobatan terhadap cacingan biasanya cukup berhasil tetapi pada beberapa kasus, kejadian cacingan kambuh kembali dalam waktu singkat. Hal ini dimungkinkan karena penanganan kasus cacingan tidak disertai dengan penanganan vektor pembawa, misalnya lalat. Oleh karena itu, penanganan cacingan yang optimal harus dibarengi dengan meminimalkan populasi lalat di lokasi farm.

Mikotoksikosis, adalah penyakit yang disebabkan karena adanya cemaran Mikotoksin dalam pakan. Pada 2020, kasus Mikotoksikosis ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik pada broiler, layer maupun breeder. Tingkat keparahan bervariasi mulai dari hambatan pertumbuhan, penurunan produksi telur, penurunan kualitas telur, kerusakan organ-organ dalam tubuh dan sebagai imunosupresan menurunkan sistem kekebalan dan mendukung munculnya kasus penyakit lain. Hal ini karena Mikotoksin dapat menghambat penyerapan asam amino dan menghambat penyerapan mineral khususnya Ca dan P. 

Lebih jauh lagi, pencemaran multi-mikotoksin dosis rendahlah yang paling banyak ditemui di lapangan. Padahal multi-mikotoksin ini dapat menimbulkan dampak aditif maupun sinergistik pada ayam. Oleh karena itu, tidak ada level aman untuk Mikotoksin.

Prediksi Penyakit 2021
Pada 2021, diprediksi penyakit ayam cenderung muncul... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2020

Drh Yuni
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264, JAKARTA.
Telp: 021-8300300

TAHUN BERGANTI PENYAKIT MENANTI, BAGAIMANA MENGHADAPINYA?

Beberapa penyakit viral dan bakterial masih menghantui peternakan unggas di Indonesia. (Foto: Dok. Infovet)

Tahun 2020 tinggal menunggu hitungan hari, namun begitu di tahun itu penyakit unggas tetap datang silih berganti. Sebagai bentuk introspeksi diri, mari sama-sama mengevaluasi apa saja penyakit yang terjadi di 2020 demi masa depan yang lebih baik lagi.

Meskipun 2020 sempat terkendala COVID-19, PT Mensana Aneka Satwa dan PT Sanbio tetap melakukan kunjungan kepada peternak. Berdasarkan laporan kunjungan dari para dokter hewan dan technical services di seluruh penjuru Indonesia, pada 2020 kasus penyakit unggas yang banyak terjadi pada broiler masih didominasi oleh penyakit CRD kompleks, Gumboro dan sedikit laporan mengenai Slow Growth oleh cemaran Mikotoksikosis.

Sedangkan pada ternak layer, kasus penyakit masih didominasi penyakit yang sebabkan penurunan produksi pada ayam masa bertelur seperti ND (G7), AI (H9N2), IB dan Coryza, sedangkan untuk fase starter-grower-prelayer (pullet) di dominasi oleh IBD dan ND.

Bisa dibilang penyakit-penyakit pada 2020 masih didominasi penyakit klasik layaknya CRD kompleks, ND, Coryza dan Gumboro. Sementara itu tim Mensana-Sanbio belum menemukan adanya penyakit infeksius baru yang menginfeksi unggas di Indonesia.

Penyakit disebutkan di atas merupakan penyakit infeksius yang disebabkan virus dan bakteri. Sebagaimana diketahui bersama misalnya saja Gumboro alias Infectious Bursal Disease (IBD) merupakan penyakit yang hampir selalu ada dan ditemui oleh tim Mensana-Sanbio di lapangan umumnya pada broiler.

Mencegah Penyakit Viral
Gumboro masih bisa dibilang merupakan salah satu momok di peternakan unggas Indonesia. Selain tidak bisa disembuhkan, penyakit ini juga dapat menurunkan kinerja sistem imun (imunosupresif) karena menyerang sistem imun ayam. Oleh karena itu, amatlah penting bagi peternak untuk mengutamakan pencegahan terhadap penyakit ini.

Penyakit viral lainnya yang masih sering ditemui di lapangan yakni ND, terutama dari genotipe 7 alias ND (G7). Serupa dengan Gumboro, penyakit ND juga masih menjadi “primadona” dan banyak dijumpai di peternakan unggas rakyat. Namun begitu, ND (G7) ini bersifat lebih ganas daripada strain lainnya dan dapat menyebabkan mortalitas 50-90%, dengan tingkat morbiditas di atas 80%.

Dalam mencegah berbagai penyakit viral pada unggas, tentunya dibutuhkan program vaksinasi yang tepat. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam suatu program vaksinasi yaitu:
• Kondisi ayam. Ayam dengan kondisi sehat akan menghasilkan titer antibodi yang baik. Oleh karena itu, sangatlah penting agar ayam dijaga tetap sehat dan tidak mengalami stres sebelum waktu vaksinasi.

• Faktor manusia. Vaksinator harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam melakukan vaksinasi. Abai terhadap hal ini tentunya juga akan mengakibatkan kegagalan vaksin.

• Lingkungan. Peternak harus dapat mengondisikan kandang sedemikian rupa agar ayam tetap nyaman dan tidak stres. Perhatikan kepadatan, ventilasi dan faktor lainnya. Ingat, stres akan menurunkan imunosupresi dan juga dapat menjadi faktor kegagalan program vaksinasi.

• Metode vaksinasi. Vaksinasi harus dilakukan dengan cara/metode yang tepat, teknik yang tepat dan waktu yang tepat untuk meningkatkan presentase keberhasilan vaksinasi dan menghasilkan titer antibodi yang baik.

• Kualitas vaksin. Sebagai salah satu produsen vaksin terkemuka di Indonesia, PT Sanbio Laboratories telah banyak memproduksi vaksin unggas berkualitas. Produk vaksin Gumboro dan ND (G7) milik Sanbio, Sanavac IBD Series, Sanavac Gumboro Series dan Sanavac ND (G7) Series merupakan vaksin berkualitas dan homolog dengan virus di lapangan. Selain itu, produk vaksin Sanbio merupakan produk yang telah teregistrasi di Kementerian Pertanian dan terjamin mutu dan kualitasnya. Banyak peternak telah membuktikan hal ini.

Mengatasi Penyakit Bakterial
Di 2020, penyakit bakterial juga masih mendominasi peternakan unggas di Indonesia. Penyakit-penyakit semacam CRD kompleks dan Infectious Coryza masih menjadi langganan dan kerap ditemui oleh tim Mensana-Sanbio di lapangan.

Penyakit CRD kompleks sebaiknya… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2020 (CR)

SELAMAT JALAN MENTOR HUKUM PETERNAKAN (MENGENANG SUPRAHTOMO SH MH)

Suprahtomo (no 2 dari kanan) bersama keluarga saat pernikahan putrinya 2016

Soeprahtomo SH. MH yang biasa dipanggil Pak Prahtomo atau nama singkatnya Pak Tom, pada pagi hari 13 Desember 2020 telah tutup usia di RS Permata  Bunda Jl Margonda Depok di usianya 66 tahun. Ia  meninggalkan teman sahabatnya dan handai taulannya dengan sejuta kenangan. Pak Tom dikenal sebagai pegawai negeri yang benar-benar meniti karier dari bawah di Ditjen Peternakan. Dengan berbekal ijasah SMA pria asli Madiun Jawa Timur ini nekad bekerja di kantor pusat Ditjen Peternakan. 

Drh Chairul Arifin, sahabat dekat almarhum dalam artikel memoarnya yang dikirimkan melalui media sosial Whatsapp menceritakan, sekitar tahun 1970 an Pak Tom hanyalah staf biasa di Proyek Bimas Ayam Pusat. Kemudian dia bersama kawan karibnya Soeliyatno SH.MH sama-sama menempuh pendidikan Sarjana Hukum di Fakultas Hukum UI dan lulus bersama serta dipercaya sebagai Bendahara Proyek Bimas Ayam Pusat. Sekitar tahun 1985 ia kemudian diangkat sebagai Kepala Sub Bagian Peraturan Perundangan  pada Bagian Organisasi dan Tata Laksana Ditjen Peternakan. Di tempat kerja inilah almarhum bersama dengan Soeliyatno SH MH di tahun 1992 mulai menekuni sebagai legal drafter, suatu bidang yang sangat jarang ditekuni oleh seorang Sarjana Hukum sekalipun. Pendidikan ini ditempuhnya di IBLAM  dengan gelar Magister Hukum  (MH). Kariernya begitu moncer   sehingga pada tahun-selanjutnya selanjutnya ia  ditarik ke Bagian Biro Hukum di Sekretariat Kementerian Pertanian sebagai Kepala Bagian meninggalkan teman sahabatnya di Ditjen Peternakan

Di sekretariat Kementan inilah kemudian ia dipromosikan lebih lanjut untuk menjabat sebagai Kepala Biro Hukum dan Humas, suatu jabatan eselon  II di kantor pusat. Suatu jabatan dimana beliau diminta menangani masalah hukum yang rumit di Kementrian Pertanian.

Pada jabatan ini  almarhum banyak menangani penyelesaian berbagai Undang-Undang tidak saja Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan di  tahun 2009 dan  Perubahannya di tahun 2014 tetapi tercatat pula berbagai Undang-undang sub sektor lainnya bersama pihak legislatif DPR yang ada kalanya pembahasannya berlangsung dalam hitungan bulan dan melelahkan. 

Sidang-sidang di Mahkamah Konstitusi pun sering dijalaninya dan bertindak sebagai Kuasa Hukum pemerintah. Bahkan pada waktu perundingan sengketa dagang antara Brazil dan Indonesia, almarhum berperan penting dalam menangani ancaman daging Brazil. 

Sama sekali tidak canggung dan selalu tampil percaya diri dengan berbagai argumentasi hukum nya. Itulah Pak Tom dengan kesehariannya. Tak jarang almarhum banyak memberikan pertimbangan hukum yang akurat.pada berbagai rapat di Kementerian. Tercatat bersama  Drh. Djayadi Gunawan pernah  memperjuangkan Chicken Leg Quarter (CLQ) agar tidak masuk ke Indonesia. Kalau masuk bisa hancur industri perunggasan tanah air karena harga CLQ itu di Amerika jauh lebih rendah dibanding harga di Indonesia. Untungnya issue halal yang diusung almarhum dan kawan-kawan berhasil memenangkan sengketa. 

Chairul Arifin yang dikenal di lingkungan Ditjen PKH sebagai ahli yang menguasai data dan informasi peternakan (juga sebagai penulis buku Kamus dan Rumus Peternakan & Kesehatan Hewan terbitan Gita Pustaka) mengaku mengenal Pak Tom sebagai satu-satu nya Sarjana Hukum yang tangguh di lingkungan kerjanya.  "Saya ingat betul bila Pak Soeliyatno SH MH sudah mentok selaku Kepala Sub Bagian Hukum dan Humas dalam rapat internal Ditjen Peternakan, Pak Soeliyatno selalu berkonsultasi lebih dahulu  dengan almarhum yang sudah dianggap sebagai mentor nya," ujar Chairul.

Masa-masa pensiunnya sejak  2010 dijalaninya dengan tetap aktif berkarya di berbagai lembaga, antara lain masih aktif sebagai anggota Dewan Penasehat ASOHI. Medawati, istri Alm Pak Tom, ketika dihubungi Infovet menyampaikan bahwa almarhum sakit jantung dan sudah pasang ring pada tahun 2016.  Namun untuk penyebab tidak bisa jalan adalah karena kehilangan keseimbangan akibat ada tumor dekat batang otak, dimana baru beberapa bulan sebelum berpulang Pak Tom harus menggunakan kursi roda. 

"Bapak tidak terkena stroke sebagaimana informasi yang beredar," ujar Medawati meluruskan informasi yang sempat beredar di Medsos.

Chairul bertemu terakhir kalinya dengan almarhum tahun 2019 lalu dalam sebuah rapat untuk menyusun Sejarah Pertanian Indonesia. Keduanya duduk berdampingan sebagai narasumber di Museum Tanah dan Pertanian di Bogor. Sebagai sesama pensiunan Pak Tom mengeluhkan tentang operasi ring di jantungnya kepada Chariul. Namun di sela-sela pertemuan itu Pak Tom juga bercanda sambil mengenang peristiwan puluhan tahun silam ketika mengawali karir di Ditjen Peternakan.

Pak Tom berkisah tentang peristiwa tak terlupakan di tahun 1983 sewaktu belajar menyetir mobil bersama Chairul, menggunakan mobil dinas di lapangan Pramuka Cibubur.

"Itu kenangan tak terlupakan, saya masih ingat mobilnya Hi Ace, no polisi  B 7012 VN sebagai pegangan belajar nyopirnya," ujar Chairul menirukan ungkapan almarhum pak Tom .

Dewan Pakar dan Penasehat 

Bukan hanya di lingkungan pemerintahan, Pak Tom memiliki peran besar di bidang hukum. Di kalangan swasta khususnya di asosiasi pertanian, Pak Tom juga kerap menjadi narasumber, apalagi setelah memasuki masa purna bakti. Banyak asosiasi yang mengundangnya sebagai narasumber dalam membahas beberapa masalah hukum.

Di Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) pak Tom sudah banyak berkiprah sejak masih aktif sebagai PNS. Dalam buku "30 Tahun ASOHI (1979-2009) ada satu bab tentang profil para senior yang berkiprah mengembangkan ASOHI, salah satunya Pak Tom.

Profil Pak Tom disebut dalam judul artikel sebagai "Ahli Hukum Yang Menguasai Peraturan Obat Hewan"

Ia dijuluki sebagai manusia langka karena hanya sedikit atau bahkan mungkin satu satunya sarjana hukum yang rela berjibaku membahas pernak-pernik aturan hukum mengenai obat hewan. 

Di  lingkungan ASOHI ia dikenal sebagai narasumber yang cara bicaranya jelas, lugas dan bahasanya mudah dimengerti olah masyarakat umum. Ketika Munas III ASOHI  tahun 1994, Suprahtomo adalah tokoh penting yang ikut memberi masukan dalam menyusun draft penyempurnaan UU no.6/1967 (tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan) bersama tim ASOHI yang lain.

Selanjutnya, dia pulalah yang menyampaikan perihal perlunya penyempurnaan UU no 6 tahun 1967 di depan Forum Masyarakat Peternakan Indonesia (Masterindo).

Sepanjang perjalanan ASOHI ia sering dimintai pendapat dan pandangannya mengenai bermacam peraturan mengenai obat hewan. Pada Munas V ASOHI tahun 2005 , Suprahtomo dipercaya sebagai anggota Dewan Pakar ASOHI. Mendapat kabar mengenai dewan pakar, Suprahtomo dengan nada merendah mengatakan,” wah apa iya saya pantas disebut dewan pakar pak?”

Selanjutnya pada kepengurusan hasil Munas ASOHI tahun 2015, Suprahtomo masuk dalam jajaran Dewan penasehat ASOHI, dimana setiap 3 bulan sekali Pak Tom selalu aktif mengikuti rapat Dewan Penasehatn ASOHI yang terdiri dari para mantan Ketua Umum ASOHI dan senior ASOHI. Tercatat Pak Tom masuk ikut rapat Dewan Penasehat ASOHI bulan Juni 2020 yang dilalukan secara online.

Sejak masih aktif di pemerintahan, ia bersedia menyisihkan waktunya untuk mengisi berbagai acara di ASOHI. “Bagaimanapun saya adalah bagian dari keluarga ASOHI, jadi sesibuk apapun, saya harus menyisihkan waktu untuk ASOHI,” kata Suprahtomo.

Ditanya mengenai makna ASOHI dalam perjalanan karirnya, Suprahtomo menjelaskan bahwa keberadaan ASOHI telah memberikan cukup banyak ide, inspirasi maupun masukan, yang sangat bermanfaat bagi tugasnya, antara lain dalam menyusun dan merancang berbagai peraturan yang berkaitan dengan peternakan, kesehatan hewan dan perkarantinaan.

“Saya kenal dekat ASOHI terutama sejak didirikan Masterindo tahun 1991, dimana ASOHI yang waktu itu dipimpin H A, Karim Mahanan adalah salah satu pendirinya. Pada hemat saya, sebagai suatu organisasi, peranan ASOHI sangat penting, apalagi kepengurusannya memiliki independensi dan integritas yang tinggi dalam menjalankan roda organisasi,” ujar Suprahtomo.

Suprahtomo juga terkesan dengan ASOHI yang menurut pandangan dia termasuk organisasi yang tidak banyak menuntut fasilitas pemerintah

“Sebagai sebuah organisasi, ASOHI memberikan kesan yang baik dan demokratis dalam menampung aspirasi anggotanya. Adanya pergantian pengurus yang lancar dan baik mengindikasikan bahwa ASOHI sebagai organisasi yang baik,” kata Suprahtomo.

Keluarga dan Penghargaan 

Suprahtomo beristrikan Medawati orang Solok, Sumatera Barat, sehingga almarhum tergolong semando kata orang Minang. Berputra 2 (dua orang) laki dan perempuan dan dianugerahi tiga orang cucu. 

Dalam satu perbincangan dengan Infovet, Pak Tom pernah berujar, membangun hukum itu yang terlihat hanya lembaran kertas, sehingga banyak orang mengabaikannya. Beda dengan pembangunan fisik, masyarakat langsung melihat ada bangunan, ada jalan, lahan peternakan dan sebagainya. "Padahal pembangunan hukum ini sangat penting, termasuk di bidang peternakan dan kesehatan hewan," ujarnya seakan ingin menunjukkan bahwa harus ada orang yang sangat tekun, berdedikasi dan mengusasi aspek hukum peternakan, sebagaimana ia lakukan selama ini. 

Untunglah meskipun yang diperjuangkan Pak Tom "hanya" terlihat sebagai lembaran kertas, karyanya diapresiasi berbagai lembaga. Pada tahun 2012 Suprahtomo mendapat penghargaan bergengsi  Indo Livestock Award kategori tokoh perorangan dengan nama "Adi Karsa Nugraha". Pak Tom diberi penghargaan tersebut  atas dedikasi nya pada pembangunan Hukum bidang peternakan dan Kesehatan Hewan.

Kini Pak Tom telah meninggalkan kita, para sahabat, teman dan isteri anak cucunya karena dipanggil menghadap Illahi Rabbi.

Selamat jalan Mentor kami menuju keabadian. 

Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un***

Ditulis ulang oleh Bambang Suharno, disertai ucapan terima kasih kepada Bapak Chairul Arifin atas artikel memoar tentang kepergian Bapak Suprahtomo SH MH 

Sumber :

  • Artikel Memoar Drh M.Chairul Arifin, 13 Des 2020
  • Buku "30 Tahun ASOHI (1979-2009)"
  • Wawancara pribadi sebagai Jurnalis Majalah Infovet


KONGRES KE-5 MIPI MEMILIH PENGURUS BARU

Kongres MIPI ke-5 & Seminar Perunggasan "Kiprah MIPI dalam Perkembangan Industri Perunggasan Indonesia", diadakan secara online pada rabu, 23 Desember 2020. Agenda utama kongres kali ini adalah memilih pengurus baru untuk periode 2020-2025.

Dalam kongres Dr Ir Laurentius Hardi Prasetyo MAgr memperkenalkan secara singkat apa itu MIPI.

Masyarakat Ilmu Perunggasan Idonesia (MIPI) adalah sebuah organisasi sebagai cabang World's Poultry Science Association (WPSA). MIPI merupakan wadah untuk anggota WPSA di Indonesia. Berdiri di tahun 1992 tapi vakum setelah beberapa tahun, MIPI mulai aktif kembali tahun 2004 hingga sekarang.

Tujuan MIPI:

  • Mempromosikan industri unggas nasional dalam rangka mendukung kenaikan produksi dan ketersediaan protein hewani dari unggas.
  • Membantu menyebarluaskan informasi dan aplikasi sains dan teknologi pada unggas.

Pada dasarnya MIPI berusaha memfasilitasi komunikasi dan interaksi antara ilmuwan dengan sektor privat di industri unggas.

Kategori keanggotaan MIPI:

  1. Anggota reguler dengan hak voting di setiap rapat.
  2. Anggota khusus yang disetujui oleh rapat umum, dan tanpa hak voting (individual atau perusahaan).

Pengurus MIPI:

  • Dipilih setiap 5 tahun.
  • Terdiri dari setidaknya Ketua, Sekretaris, dan Bendahara.
  • Dapat diperluas hingga mencakup Ketua Bidang dan Perwakilan Daerah.

Kongres ke-5 menghasilkan keputusan Prof Dr Ir Arnold Parlindungan Sinurat, MS dari Balitbang sebagai Ketua MIPI periode 2020-2025.

MIPI juga membuka penerimaan anggota baru. Syarat menjadi anggota MIPI adalah berminat pada perunggasan dan bersedia mematuhi AD/ART, serta bersedia membayar iuran tahunan anggota. Silakan menghubungi Dr Maria Mahata di email mariamahata (at) gmail.com untuk mendaftar menjadi anggota MIPI. (NDV)

HELLO MILK & FRIENDS, PERUSAHAAN SUSU DENGAN IMPACT SOSIAL KE PETERNAK

Hello Milk & Friends adalah perusahaan susu yang didirikan oleh Nu'man Firdaus, seorang alumnus Fapet UGM. Berdiri sejak 2017 saat ini market perusahaan meliputi Yogyakarta, Sleman, dan Bantul.

Perusahaan ini mempunyai konsep menyuplai kebutuhan susu segar secara sustainable dan mempunyai impact sosial pada peternak.

Nu’man mengatakan ada 3 permasalahan utama persusuan di Indonesia:

  1. Konsumsi susu masih rendah bahkan dibanding dengan negara-negara ASEAN lainnya.
  2. Harga jual di tingkat produsen sangat rendah, membuat motivasi peternak rendah yang mengakibatkan produktivitas rendah.
  3. Ada ketidakefisienan distribusi, karena secara konvensional di indonesia susu didistribusikan melalui supermarket, hal ini tidak efisien karena membuat tingkat konsumsi rendah.

Hello Milk & Friends hadir bukan sekedar mencari profit, tapi juga sebagai solusi atas permasalahan-permasalahan tersebut.

Dikelola oleh anak-anak muda, perusahaan susu ini mengetahui apa yang sedang tren di kalangan anak muda. Dari situ mereka memformulasikan produk-produk yang bisa diterima masyarakat luas.

Perusahaan bermitra dengan peternak, dimana peternak setidaknya mendapat 2 kelebihan. Pertama, peternak diedukasi untuk menghasilkan susu dengan kualitas yang baik dan produksinya ikut meningkat. Kedua, peternak diberi kepastian harga beli yang lebih baik dibanding jika peternak menjual ke koperasi.

Hello Milk & Friends membuat opsi-opsi yang dapat meningkatkan efisiensi pendistribusian susu.

Pertama, mereka menawarkan sistem berlangganan sehingga konsumen yang ingin membeli tidak harus pergi ke supermarket, mereka cukup memesan via WA atau Instagram https://www.instagram.com/hellomilf_/. Susu akan diantar langsung ke rumah pelanggan.

Kedua dengan rajin mengikuti berbagai event terutama event anak muda, sehingga mendekatkan produk pada konsumen.

Lini pertama produknya adalah Hello Milk, susu pasteurisasi dengan berbagai macam rasa dan ukuran, dengan konsep natural dan rendah gula. Konsumen yang ingin diraih dari produk ini adalah keluarga, terutama keluarga muda yang sadar pentingnya kesehatan dan pentingnya mengonsumsi susu.

Lini kedua produk adalah Hello Friends yang merupakan pengembangan dari Hello Milk. Berupa milkshake yang cocok untuk market anak muda.

Ada setidaknya 2 hal yang ingin diraih oleh Hello Milk & Friends di masa depan. Yaitu mewujudkan visi membuat sistem agribisnis yang lebih adil untuk semua stakeholder di dunia agribisnis sapi perah. Kemudian bermitra dengan desa di mana mitra perusahaan kini berada, sehingga desa akan menjadi desa yang mandiri oleh usaha sapi perah mereka.

INOVASI DAN STRATEGI PETERNAKAN DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN PERTANIAN BERKELANJUTAN

Di tengah resesi ekonomi, sektor pertanian tumbuh 2,19% pada Q2-2020 dan 2,15% pada Q3-2020, tetapi subsektor peternakan mengalami kontraksi yaitu minus 1,84% pada Q2-2020 dan minus 0,16% pada Q3-2020 karena nilai tambah yang juga ikut tertekan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko, SIP., yang juga Kepala Kantor Staf Presiden, dalam Simposium Nasional Penelitian dan Pengembangan Peternakan 2020 yang diselenggarakan oleh Fakultas Peternakan UGM pada Rabu, 16 Desember 2020 secara daring melalui Zoom.

Moeldoko menambahkan, persoalan daya beli masyarakat selama masa pandemi Covid-19 telah memukul subsektor peternakan. Meskipun begitu, para pelaku usaha peternakan telah berusaha keras untuk melakukan inovasi dalam segenap proses rantai nilai produk peternakan. Inovasi ini perlu dilakukan karena perubahan lingkungan strategis juga bergerak cepat.

Kinerja ternak besar cukup bagus walau tidak terlalu spektakuler. Peningkatan produksi daging masih positif meski cukup lambat. Produksi daging sapi 2020 sekitar 422 ribu ton, sedangkan konsumsi diatas 500 ribu ton sehingga Indonesia harus melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Impor sapi hidup pada 2020 sekitar 770 ribu ekor (setara 122 ribu ton daging), plus daging beku lebih dari 100 ribu ton. Impor sapi hidup dilakukan untuk digemukkan perusahaan ternak sapi potong. Untuk menyiapkan SDM peternakan yang unggul, Indonesia telah dan sedang mengembangkan Sekolah Lapang Peternakan Rakyat (SLPR) untuk meningkatkan produktivitas ternak local khususnya yang skala kecil.

Moeldoko menyebutkan, ada beberapa persoalan klasik pada agribisnis sapi potong di Indonesia yaitu jumlah peternak 4,6 juta rumah tangga dengan skala kepemilikan 2-3 ekor, sekitar 99% skala rumah tangga. Jarak melahirkan (calving) 18-21 bulan (ideal 14-16), angka kebuntingan 56% (ideal 70%), dan angka kematian pedet cukup tinggi 5-10%. Inseminasi buatan dengan semen Simental dan Limosin dapat menurunkan populasi ternak sapi lokal yang sebenarnya telah teradaptasi dengan lingkungan khas Indonesia, karena preferensi peternak lebih memilih pelihara sapi keturunan european breed (Simental, Limousin) tersebut, jika di banding memelihara sapi lokal.

Persoalan lain yaitu kinerja produksi dan reproduktivitas yang belum memadai sebagai akibat dari relatif rendahnya adopsi teknologi reproduksi seperti Inseminasi Buatan (IB), teknologi pakan dan kesehatan hewan yang belum berkembang sepenuhnya bahkan belum menjangkau separuh (50%) dari total betina produktif.

Dari persoalan yang ada, strategi yang dapat diambil adalah terkait budidaya dan teknologinya agar peternak keluar dari situasi tersebut. Strategi kedua adalah strategi marketing dan tata niaga yang efektif dan efisien dengan memanfaatkan sarana-prasarana seperti teknologi digital (teknologi 4.0).
Disamping itu, Moeldoko mengungkapkan beberapa solusi yang dapat ditempuh, antara lain: pembuatan pakan ternak sendiri dengan bekerja sama dengan perusahaan, penggunaan pupuk organik secara terukur, pengelolaan balai penelitian dan pengembangan dengan bekerja sama dengan perusahaan, pembuatan alat peternakan modern lokal agar harga terjangkau, dan pemetaan wilayah daerah peternakan sesuai kondisi geografis daerah sebagai sumber-sumber pengelolaan ternak, bersinergi antar-daerah. 

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN. Eng seusai acara mengatakan, simposium ini adalah simposium ke-3 yang dilaksanakan dalam rangka Dies Natalis ke-51 dengan tema “Inovasi dan Strategi Pengembangan Peternakan Terkini untuk Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan”. Mengingat inovasi adalah jantungnya kemajuan suatu usaha dan industri, apapun jenisnya, tidak terkecuali pada industri peternakan. Produksi pangan hasil ternak yang tidak cukup disuplai dari produksi dalam negeri (faktanya masih banyak yang diimpor), maka inovasi harus dilakukan dalam rangka mendukung peningkatan kapasitas produksi dalam negeri karena meningkatnya kebutuhan pangan hasil ternak. Hal ini sekaligus memberikan peluang bagi generasi muda untuk memasuki dunia industri peternakan, yang sebenarnya masih sangat prospektif. Jika peluang ini tidak diambil dengan dukungan teknologi dan inovasi, maka akan diambil orang lain dan kita akan semakin bergantung pada produk pangan impor. Ketergantungan pangan dan bahan pangan impor yang semakin tinggi akan sangat membahayakan kedaulatan bangsa dan negara kita.

Acara SIMANSTER ke-3 ini mengundang para narasumber praktisi seperti Ir. Tumiyono, MBA, CEO dan owner PT Widodo Makmur Group, Jakarta, yang memiliki pengalaman panjang di bidang usaha peternakan. Sebagai pelaku usaha berpengamalam, sensitivitas terhadap dinamika persoalan baik makro maupun mikro di Indonesia, termasuk bagaimana tetap survive dan berkembang dalam kondisi perekonomian sulit, telah dijelaskan. Narasumber lain adalah Pimpinan Kantor Wilayah BNI Yogyakarta, Bapak Moh. Hisyam, yang menyampaikan strategi dan pentingnya dukungan kelembagaan khususnya dari aspek permodalan. Ir. Nafiatul Umami, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM. ASEAN. Eng., dosen Peternakan UGM, menyampaikan perkembangan inovasi hijauan pakan ternak.  Selain itu, dihadirkan pula narasumber dari Wageningen University, Belanda, yaitu Dr. Simon Oosting, yang membahas berbagai isu seperti pemanasan global dan sistem peternakan terpadu dalam mendukung pertanian berkelanjutan.

Simposium diharapkan menginspirasi betapa prospek industri peternakan sangat luas dan sangat kompetitif sehingga mau tidak mau harus mengadopsi teknologi dan melakukan inovasi agar makin kompetitif dan produktif. (Press release)

PEMBERIAN KACANG TANAH DAPAT MENINGKATKAN PERFORMA AYAM

Sebuah studi yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian makan kacang tanah utuh tinggi oleat menunjukkan bahwa pemberian kacang tanah pada ayam broiler dapat meningkatkan profil fatty acid daging.

Meskipun studi tambahan harus dilakukan, studi ini menunjukkan bahwa memberi makan kacang oleat tinggi yang tidak direbus ke ayam pedaging dapat meningkatkan profil fatty acid daging.

Penelitian yang bertajuk Feeding high-oleic peanuts to meat-type broiler chickens enhances the fatty acid profile of the meat produced ini dipublikasikan oleh Elsevier.

Di berbagai belahan dunia seperti India, Ghana dan Nigeria, tepung kacang tanah biasa digunakan sebagai sumber protein untuk pakan unggas. Namun, sangat sedikit penelitian yang telah dilakukan di AS yang meneliti penggunaan kacang sebagai bahan pakan alternatif bagi unggas untuk meningkatkan kandungan gizi atau kualitas daging dan/atau telur yang dihasilkan.

Studi pakan unggas oleh Pesti et al., (2003) dan Costa et al., (2001) telah mengidentifikasi tepung kacang tanah yang dibuat dari kacang tanah normal-oleat (asam oleat 52% dan asam linoleat 27%) sebagai pakan unggas yang baik. Namun demikian, beberapa penelitian telah meneliti penggunaan kultivar kacang tanah oleat tinggi modern (80% asam oleat dan 2% asam linoleat) sebagai bahan pakan untuk ayam jenis daging, dan menentukan pengaruhnya terhadap komposisi kimia dan kualitas daging yang dihasilkan.

Studi yang juga dilakukan di Market Quality & Handling Research Unit - Agricultural Research Service menunjukkan bahwa telur yang dihasilkan dari ayam petelur yang diberi pakan yang mengandung kacang oleat tinggi dan jagung memiliki kandungan b-karoten 1,35 kali lipat lebih tinggi, intensitas warna kuning telur 2 kali lipat lebih tinggi, dan kandungan minyak asam oleat tak jenuh tunggal juga lebih tinggi dibandingkan telur yang dihasilkan dari ayam petelur yang diberi pakan bungkil kedelai dan jagung konvensional.

UNIVERSITY OF GEORGIA MENERIMA HIBAH USPOULTRY FOUNDATION

University of Georgia (UGA) telah menerima hibah senilai $23,292 dari USPOULTRY Foundation. Hibah tersebut dimungkinkan sebagian oleh peran Leland Bagwell Education and Innovation Fund.

Hibah tersebut akan digunakan untuk UGA Department of Poultry Science, yang memiliki sejarah panjang dan sukses dalam kemitraan dengan USPOULTRY Foundation. Dana akan digunakan untuk membantu merekrut siswa, meningkatkan pengaruh signifikan program pada masa depan industri unggas di Georgia dan di seluruh dunia.

USPOULTRY Foundation baru-baru ini menyetujui hibah sejumlah $275,663 untuk 26 perguruan tinggi dan universitas di seluruh Amerika Serikat, dengan departemen ilmu unggas atau program terkait industri unggas. USPOULTRY Foundation menyediakan dana rekrutmen tahunan ke perguruan tinggi dan universitas untuk menarik mahasiswa ke program studi unggas.

WEBINAR BBPMSOH: PERAN OBAT HEWAN DALAM PENINGKATAN PRODUKSI TERNAK DAN EKSPOR

Webinar Nasional BBPMSOH, Selasa (22/12/2020). (Foto: Dok. Infovet)

Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) menyelengarakan Webinar Nasional “Peran Obat Hewan dalam Peningkatan Produksi Ternak Nasional dan Peningkatan Ekspor (Gratieks),” Selasa (22/12/2020) melalui daring.

Hadir sebagai pembuka acara, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Dr Ir Nasrullah, menyampaikan bahwa program kesehatan hewan menjadi poin yang sangat penting dalam peningkatan produksi ternak nasional.

“Tentunya pelayanan kesehatan hewan menjadi sebuah hal yang harus kita lakukan. Dalam pencegahan, obat hewan merupakan keharusan untuk dipersiapkan dalam jumlah atau kualitas sesuai dengan yang kita harapkan,” ujar Nasrullah dalam sambutannya.

Ia menambahkan, untuk menjamin kualitas, mutu dan khasiatnya, dilakukan perhatian dalam pembuatan dan pengedarannya. “BBPMSOH memiliki peran penting dan strategis untuk menjamin itu. Untuk itu BBPMSOH merupakan indikator utama produksi dan peredaran obat hewan sebagai penjamin bagi masyarakat dalam menggunakan obat hewan,” ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan Nasrullah, terkait ekspor obat hewan ia menyebut saat ini sudah mencapai 661 ton atau sekitar US $ 10,2 juta. Di tahun 2021, ekspor akan lebih dikencangkan lagi.

“Jangan sampai ekspor kita lebih kecil dibanding impor obat hewan kita. Ngapain kita impor kalau kita sendiri bisa ekspor. Kami berikan karpet merah bagi perusahaan atau produsen yang akan mengekspor obat hewan,” ucap Nasrullah.

Untuk peningkatan ekspor melalui Gratieks, pihaknya pun semakin memperkuat fasilitas yang dibutuhkan oleh para produsen dalam memenuhi standar negara tujuan ekspor.

“Tahun 2021 BBPMSOH kita lengkapi dengan peralatan yang lebih canggih lagi yang sebelumnya belum tersedia. Ini untuk membantu perusahaan memenuhi standar negara tujuan ekspor, sehingga eksportir bisa lebih lancar lagi,” terang dia.

Dengan adanya Gratieks, lanjut dia, diharapkan volume ekspor pada tahun 2024 mencapai 300%, dan obat hewan memiliki porsi yang cukup besar dalam peningkatan ekspor.

“Tinggal menambah volume dan negara tujuan ekspor saja. Kami juga bersama Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) terus melakukan terobosan market di luar negeri. Kita melakukan langkah-langkah yang lebih kencang lagi dalam promosi dan segi teknis untuk persyaratan ekspor,” katanya.

“Intinya kami siap bergandengan tangan bersama ASOHI dan sakeholder lainnya untuk memperkuat ekspor. Sebab tahun depan kami akan lebih selektif lagi dalam pemasukan obat hewan impor. Jangan sampai produksi dalam negeri kita ada, tetapi impor tetap jalan,” pungkasnya.

Dalam webinar tersebut dihadirkan pembicara dari berbagai bidang, diantaranya Prof Imam M. Fahmid (Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian), Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa (Direktur Kesehatan Hewan), Drh Maidaswar (Kepala BBPMSOH) dan Drh Irawati Fari (Ketua Umum ASOHI). (RBS)

TANGGAP KEBAL MUKOSA PADA AYAM MODERN

Ayam broiler. (Sumber: medicalnewstoday.com)

OLEH:
TONY UNANDAR (PRIVATE POULTRY FARM CONSULTANT - JAKARTA)

Lapisan mukosa (selaput lendir) dari sistem pernapasan, pencernaan dan sistem urogenitalis pada ayam modern tidak hanya merupakan barier fisiko-kimiawi alias pemisah antara lingkungan eksternal dengan lingkungan internal yang steril, tetapi juga merupakan lini pertahanan terdepan dalam sistem pertahanan tubuh. Mengapa?  Karena kebanyakan patogen melakukan invasi via lapisan mukosa untuk masuk lebih dalam ke jaringan-jaringan tubuh induk semang.

Tulisan ini mencoba memberi gambaran secara sederhana bagaimana komponen tanggap kebal mukosa (mucosal immunity) yang kompleks dalam menghadang laju sergapan patogen dari eksternal dan/atau saat ada stimulasi pada pemberian vaksin aktif (live vaccine) atau biomolekul tertentu.

Komponen Tanggap Kebal Mukosa
Sistem tanggap kebal mukosa (mucosal immune system) adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh ayam modern yang terdiri dari sel-sel epitelium beserta variasi sel permukaan mukosa yang berjajar sepanjang lapisan terluar mukosa dan secara langsung kontak dengan kondisi eksternal yang bersifat asing atau antigenik (Montilla NA et al., 2004).

Lapisan epitelium tersebut dilengkapi jaringan limfoid berupa MALT (Mucosa-Associated Lymphoid Tissue) yang dapat ditemukan dalam beberapa bentuk, tergantung apakah pada sistem pernapasan, pencernaan atau urogenitalis ayam (Kelsall BL et al., 1996).  Dari dalam bentukan MALT inilah sumber dan tempat bersemayamnya sel-sel dendritik (DCs = dendritic cells), sel makrofag, sel limfosit B dan T yang berperanan sebagai efektor dalam reaksi kekebalan mukosa (Randall TD, 2010; de Geus ED et al., 2012). Jaringan MALT umumnya ditemukan pada lapisan lamina propria mukosa dalam bentukan tersebar, membentuk suatu folikel atau tonsil pada sistem pernapasan, pencernaan dan urogenitalis ayam (Schummer, 1973).

Pada sistem pernapasan misalnya, selain adanya lapisan sel-sel epitelium beserta variasinya (misalnya sel goblet) yang bertindak sebagai barier utama berupa system pertahanan fisiko-kimiawi dalam bentuk mekanisme transportasi mukosiliaris, juga disempurnakan oleh adanya jaringan limfoid yang notabene merupakan bagian dari MALT, yaitu NALT (Nasal-Associated Lymphoid Tissue) dan BALT (Bronchus-Associated Lymphoid Tissue). Baik NALT atau BALT selain bisa dalam bentuk tersebar di jaringan lamina propria mukosa atau diantara sel-sel epitelium (diffuse atau scattered NALT/BALT), tetapi juga bisa dalam bentuk mengumpul membentuk suatu tonsil atau dikenal sebagai organized NALT/BALT (Schummer, 1973). Perlu juga dicatat bahwa distribusi, peranan serta kinerja kedua kelompok jaringan limfoid tersebut pada sistem imunitas pernapasan ayam sudah diketahui secara pasti oleh para peneliti imunologi (Fagerland JA & Arp LN, 1993; Ohshima K &Hiramatsu K, 2000; de Geus ED et al., 2012; Kong HH et al., 2013; Sepahi A & Salinas I, 2015).

Berbeda dengan mamalia (hewan menyusui), ayam tidak mempunyai limfonodus (kelenjar getah bening) pada sistem pencernaannya, kecuali pada itik dan angsa (Barone, 1996). Ayam mempunyai jaringan limfoid yang agak kompleks berupa kumpulan sel-sel limfoid atau folikel limfoid (lymphoid follicles) dan berupa tonsil yang tersebar sepanjang saluran cerna, dari rongga mulut sampai kloaka. Jaringan limfoid yang tergolong dalam MALT pada sistem pencernaan dikenal sebagai GALT (Gut-Associated Lymphoid Tissue). GALT pada ayam umumnya sudah berkembang dengan baik sejak menetas di dalam mesin penetas (Matsumoto & Hashimoto, 2000; Casteleyn C et al., 2010).

Di dalam jaringan GALT terdapat berbagai jenis sel yang terkait dengan fungsi respon tanggap kebal, misalnya sel limfosit B, sellimfosit T, NK cell (Natural Killer cell), makrofag, sel dendritik dan heterofil. Sel-sel tersebut juga ditemukan dalam jumlah kecil di sekitar area epitelium mukosa saluran cerna. Selain itu, juga ditemukan sel-sel tertentu yang hanya berpartisipasi pada pertahanan non-spesifik dan pengenalan antigen atau PAMP suatu patogen, misalnya sel goblet dan M-cell. Sel goblet memproduksi sekreta lendir glikoprotein yang akan menjadi substrat bagi bakteri fermentatif dan merekat bakteri patogen yang akan menyerang sel-sel epitelium usus. Sedangkan tugas sel M (M-cell) adalah untuk mengangkut mikroorganisme atau biomolekul antigen atau PAMP dari lumen usus ke jaringan limfoid di bawahnya, sehingga dampak akhir dari aktivitas ini adalah sekresi imunoglobulin A (secretory immunoglobulin A = sIgA) ke lumen usus (Koustos & Klasing, 2006; Miller et al., 2007; Murphy K & Weaver C, 2017).

Dalam sistem kekebalan mukosa (mucosal immunity) ternyata ditemukan adanya integrasi (atau interkoneksi) antara… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2020 (toe)

SEKJEN ISPI MENJADI NARASUMBER WEBINAR NASIONAL PERUNGGASAN

Pada Webinar Nasional Perunggasan: Potensi Unggas Lokal Kalbar, Mandiri Bibit dan Pakan, 17 Desember 2020, Joko Susilo SPt (Sekjen ISPI Pusat) membawakan tema “Pilih Ayam Joper atau AKA, Percapaian Performance dan Serapan Pasar”.

Melalui presentasinya Joko berbagi tips memilih bibit ayam lokal yang baik, yaitu:

  • Berasal dari badan usaha yang memiliki lisensi.
  • Memiliki sertifikasi layak bibit.
  • Menerapkan good breeding practice.
  • Memiliki kompartemen bebas penyakit avian influenza.
  • Melakukan vaksinasi.

Memilih bibit ayam lokal ini juga berkaitan dengan pelestarian dan pemanfaatan keberlanjutan sumber daya genetik ayam lokal asli dan ayam lokal.

Disarankan juga agar memilih DOC dengan warna kaki yang sesuai dengan keinginan masyarakat setempat. Karena bagaimanapun ini adalah bisnis yang harus bisa memenuhi selera pasar.

Untuk peserta yang berminat dengan usaha pembibitan ayam kampung Joko mengatakan usaha pembititan cost-nya cukup tinggi, terutama pada biaya transportasi penyebarannya. Jika skala usaha hanya kecil maka efisiensinya sangat kurang.

Bagian kedua presentasi adalah pemeliharaan yang meliputi perlaukan saat DOC datang, penimbangan dan seleksi warna DOC. Diberikan juga tips brooding yaitu segera tebar DOC begitu datang, amati kondisi tembolok 2 jam pertama, dan amati presentase tembolok isi pada 8 jam pertama harus sudah benar-benar terisi pakan.

Kandang hendaknya memiliki luas yang cukup, ventilasi yang bagus, aman dari binatang buas. Baik kandang litter maupun baterai (individu) bisa diterapkan.

Peternak ayam lokal umumnya sampai dengan usia ayam 14 hari menggunakan pakan broiler starter. Ketika ayam sudah besar pakan bisa ditambah jagung atau rumput untuk hijauan.

Berikutnya Joko juga membahas target produksi hingga penjualan. Dimana detil materinya bisa diunduh disini.

INGGRIS MENGIDENTIFIKASI KASUS LAIN DARI FLU BURUNG YANG SANGAT PATOGEN

Pejabat kesehatan hewan telah mengkonfirmasi wabah flu burung H5N8 yang sangat patogen di Inggris utara.

Sebuah pernyataan dari Animal and Plant Health Agency Inggris telah mengkonfirmasi kasus flu burung H5N8 pada unggas dan burung yang ditangkap di dekat Willington, Derbyshire.

Wabah terbaru ini muncul setelah saran biosekuriti baru untuk pemelihara unggas dan pemelihara diberlakukan pada 14 Desember 2020.

INGGRIS MENAMBAHKAN UNGGAS KE DALAM NATIONAL BREED INVENTORY

Data penting tentang unggas telah dimasukkan dalam National Breed Inventory Inggris, memastikan bahwa spesies unggas akan terus dipandang sebagai sumber daya genetik yang penting.

Inventaris tahunan ini mengumpulkan data tahunan tentang jumlah silsilah hewan ternak di Inggris dan membantu pejabat memantau perubahan populasi dari waktu ke waktu yang membantu mengidentifikasi status, tren dan potensi ancaman.

Tahun ini, untuk pertama kalinya data unggas dan cadangan kriogenik dimasukkan. Penambahan data unggas merupakan langkah maju yang besar dalam memastikan bahwa spesies unggas terus dipandang sebagai sumber daya genetik yang penting. Selain itu, penyertaannya dalam kumpulan data akan membantu perencanaan masa depan untuk peternakan Inggris.

Sangat penting bahwa perkumpulan breeder yang mewakili sumber daya genetik unggas asli terus memberikan informasi ini setiap tahun agar memungkinkan pemerintah Inggris untuk melacak secara memadai kesehatan genetik dari populasi ini.

TYSON FOODS MEMECAT TUJUH MANAJER PABRIK DAGING BABI

Tyson Foods mengatakan pada 16 Desember 2020 bahwa mereka telah memecat tujuh manajer di pabrik daging babi Iowa, setelah menyelidiki tuduhan bahwa mereka saling bertaruh tentang berapa banyak karyawan yang akan tertular COVID-19.

Penyelidikan independen, yang dipimpin oleh mantan Jaksa Agung AS Eric Holder, dilakukan sebagai tanggapan atas gugatan yang diajukan oleh putra seorang pekerja di fasilitas Tyson di Waterloo, Iowa, yang meninggal pada bulan April karena komplikasi dari COVID-19.

Gugatan tersebut mengklaim bahwa manajer pabrik menyesatkan pekerja tentang COVID-19, bertaruh pada pekerja yang tertular virus dan mengizinkan karyawan yang sakit untuk terus bekerja.

SUMBER UNGGAS INDONESIA PEDULI KORBAN BANJIR SUMATERA UTARA

Penyerahan bantuan kepada pengungsi

PT Sumber Unggas Indonesia (SUI) bersama Ikatan Alumni Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Unand) Sumatera Utara memberikan bantuan kepada warga korban banjir di Medan dan Sei Rampah.

Pendistribusian bantuan ini merupakan rangkaian program aksi sosial PT SUI sejak pekan lalu. PT SUI yang bermarkas di Desa Cogreg Kabupaten Bogor telah memberikan bantuan  berupa ayam kampung siap masak sebanyak 210 bungkus dan 300 butir telur ayam kampung kepada warga pengungsi korban banjir di Dusun 1 dan 3, Kampung Mandailing, Sei Rampah.

Bantuan kepada warga korban banjir di Tanjung Selamat, Medan Tuntungan diserahkan pada Jumat (18/12). Bantuan tersebut berupa ayam kampung siap masak sebanyak 90 bungkus. “Alhamdulillah antusias warga bergembira, mereka senang dengan pemberian ini karena kita hadir di waktu mereka membutuhkan,” ucap Ketua IKA Fakultas Peternakan Unand Sumut Aulia Idris Tanjung.

Manager Marketing PT SUI Febroni Purba mengatakan bantuan ini merupakan bentuk kepedulian sosial perusahaan bagi masyarakat yang menjadi korban bencana. “Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban masyarakat korban banjir,” pungkasnya. (CR)


KOMITMEN TRI GROUP DALAM MENDUKUNG DUNIA PENDIDIKAN

Tri Hardiyanto (paling kanan) bersama Dekan SV IPB University Dr. Arief Daryanto MEc, usai menandatangani Memorandum of Academic (MoA)

Sebagai kelompok usaha yang memfokuskan diri di sektor perunggasan, Tri Group berkomitmen mendukung dunia pendidikan nasional. Sinergi bersama dunia pendidikan ini merupakan langkah strategis sebagai upaya menyiapkan sumber daya manusia yang cakap, terampil dan kompeten  pada dunia perunggasan. Sebagai bentuk dukungan Tri Group pada dunia pendidikan, melalui perusahaan induk PT Tri Gardanindo Inti melakukan penandatangan kerjasama (Memorandum of Academic/MoA) dengan Sekolah Vokasi (SV) IPB University.


Bertempat di IICC Bogor pada hari Jum'at (18/12), Tri hardiyanto selaku Direktur Utama PT. Tri Gardanindo Inti melakukan penandatangan MoA dengan SV IPB University yang diwakili oleh Dekan SV IPB University, Dr. Arief Daryanto, MEc. Kerjasama yang dilakukan yakni di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat khususnya pada bidang perunggasan. Melalui kerjasama ini Tri Group membuka diri kepada civitas akademika SV IPB University untuk dapat memanfaatkan fasilitas produksi dan usaha yang ada di lingkungan Tri Group sebagai fasilitas atau media pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Kerjasama dengan IPB University ini sebenarnya sudah dilakukan oleh Tri Group secara rutin, hanya saja kerjasama kali ini bersifat lebih formal dan terprogram secara rutin khususnya untuk SV IPB University. Output yang diharapkan dari kerjasama ini agar civitas akademika SV IPB University dapat lebih mengetahui kondisi ril sektor perunggasan baik secara teknis budidaya dan pemasaran. Diharapkan dari kerjasama ini lulusan SV IPB University lebih terampil secara skill dan cakap secara pengetahuan juga memiliki daya analisis yang tajam karena langsung dihadapkan dengan kondisi riil perunggasan di lapangan.

Sebelum dilakukannya penandatangan MoA, selama tiga bulan terakhir Tri Group bersama SV IPB University melakukan kegiatan SV – IDUKA (Sekolah Vokasi -  Industri dan UKM Perunggasan). Dalam kegiatan tersebut Tri Group bersama SV IPB University melakukan kajian tentang tata niaga perunggasan, kelembagaan peternak, serta kunjungan ke kandang mini closed house dan fasilitas Rumah Pemotongan Ayam (RPA). (Jefri/CR)

EVALUASI DAN OPTIMALISASI KEUNTUNGAN TERNAK LAYER

Agar untung, kuncinya adalah menjaga ayam agar tetap berproduksi stabil. (Foto: Istimewa)

“Tahun 2020 dimulai dengan harga telur yang lebih bagus dari 2019, beberapa kali sempat turun tapi bisa recovery harganya bagus lagi. Harga DOC di akhir 2020 juga lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Sedangkan harga pakan dari tahun lalu cukup stabil Rp 5.000-an,” kata Fatimah mengawali kuliah WhatsApp “Evaluasi dan Optimalisasi Keuntungan Ternak Layer”, Jumat (13/11).

Wanita yang sudah sembilan tahun bergabung dengan PT Cargill Indonesia dan sekarang menempati posisi Technology Application Manager, menjelaskan perhitungan kasar BEP (harga impas) ternak layer. Yaitu 3,5 x harga pakan jika performa normal; 3,25 x harga pakan jika performa bagus dan 3,75 x harga pakan jika performa sedang jelek.

Kemudian disampaikannya untuk evaluasi performance total farm ada dua yang harus dihitung, yaitu FCR total farm dan %HD (hen day) produksi total farm.

Biaya Pullet, Operasional, Depresiasi Kandang, Program Kesehatan dan Pakan
Tahun 2020 ini biaya pullet terhitung meningkat cukup gradual sekitar Rp 1.450-1.500/kg telur. Kemudian biaya operasional fase layer adalah Rp 2.000-2.500/kg telur, biaya depresiasi bangunan (gudang, kandang) Rp 1.700-2.000/kg telur, biaya kesehatan (obat, vaksin, vitamin) Rp 600-700/kg telur. Mayoritas peternak mengalami kenaikan di biaya kesehatan ini.

Harga jagung tahun ini terhitung cukup terkendali dan lebih kondusif dibandingkan dua tahun ke belakang. Rata-rata harga pakan tahun ini tidak ada gejolak signifikan, cukup stabil bahkan sedikit lebih rendah dibanding dengan rata-rata harga pakan tahun lalu.

Evaluasi Performance (Total Farm)
Untuk bisnis yang dievaluasi adalah total farm. Karena dalam satu farm biasanya mempunyai lebih dari satu kandang layer dan biasanya juga memiliki ayam starter dan ayam grower yang belum berproduksi. Ayam layer yang dimiliki pun biasanya ada ayam yang muda, ada yang di puncak produksi dan ada ayam tua.

FCR total farm yang masih menguntungkan ada di kisaran 2,5-2,6. Jika di atas 2,6 biasanya keuntungannya tipis sekali atau bahkan tidak ada keuntungan.

%HD produksi total farm yang masih menguntungkan adalah di atas 75%.

Untuk mengoptimalkan keuntungan bisnis layer, pertama pastikan FCR total farm lebih kecil dari 2,6. Jika sudah lebih besar dari 2,6 segera ambil tindakan untuk memperbaiki FCR.

Kedua, perbaiki %HD total farm. Secara umum rataan %HD total farm, jika performa layer sesuai standar, angkanya adalah 84%. Jika pullet masuk HD akan turun jadi sekitar 75-76%.

Jika %HD total farm 70% peternak masih bisa membayar biaya pakan, biaya operasional dan biaya pullet. Jika %HD total farm 60% hanya bisa digunakan untuk membayar biaya pakan dan biaya operasional. Dengan HD 60% ini nanti jika harus masuk pullet pasti akan terganggu cash flow-nya. Sedangkan jika %HD total farm 50% hanya bisa untuk membayar biaya pakan dan biaya lain-lain harus nombok.

Jika produksi total adalah 60% sudah harus dievaluasi kandang yang sudah tidak produktif untuk segera di-culling/afkir, untuk mengembalikan angka HD tetap di atas 70%. Kecuali kalau harga telur sedang bagus sekali.

Utamakan Jaga Performance Ayam
Konsep efisiensi biaya produksi perlu ditetapkan secara bijak, yaitu dengan disiplin melakukan biosekuriti. Kemudian bisa dengan sedikit menambahkan instalasi sederhana yang memangkas waktu tenaga kerja melakukan sesuatu dan memfokuskan tenaga ke kegiatan yang lebih penting.

Pembuatan instalasi tersebut misalnya bisa diterapkan pada alat pemberian pakan semi otomatis. Sebab pakan yang terbuang dari aktivitas pemberian pakan manual (dengan gayung, piring dan lain-lain) bisa mencapai 1-2 gram/hari/ekor ayam. Alat semi otomatis bisa mengurangi potensi pakan tercecer ini. Jika peternak mempunyai populasi 10.000 ekor dengan harga pakan Rp 5.000/kg. Apabila pakan terbuang 2 gram/ekor/hari, maka biaya pakan terbuang per bulan adalah Rp 3.000.000.

Untuk menjaga keuntungan, output (hasil penjualan) harus bisa menutup semua biaya produksi. Di kondisi sulit, misalnya waktu harga telur sedang jatuh mau tidak mau harus mengoptimalkan biaya produksi. Konsep efisiensi biaya produksi harus ditetapkan secara bijak.

Jangan ganti pakan yang lebih rendah kualitasnya demi berjalannya cash flow atau demi agar tetap untung. Mengganti pakan sebaiknya jadi pilihan terakhir. Menurut Fatimah, masih bisa mengoptimalkan biaya produksi dengan cara lain, misalnya biosekuriti, agar farm benar-benar terjaga dan risiko ayam terkena penyakit bisa dihindari. Kalau ayam gampang sakit maka produksi akan menurun dan bisa terjadi kematian.

Penggantian pakan secara drastis akan berdampak ke FCR. Jika tidak dilakukan dengan baik bisa berdampak ke saluran cerna, ayam mungkin tidak sakit tapi akan ada masa adaptasi yang biasanya langsung berdampak ke FCR. Jika FCR naik 0,1% maka kerugiannya 0,1% x Rp 5.000 (harga pakan) = Rp 500. Jika pakan tidak diganti, harga pakan memang bisa naik Rp 100-200 tapi FCR dan performance tetap terjaga kestabilannya.

 “Kalau harga telur sedang jatuh lebih baik pakan tetap yang bagus atau di bawahnya? Beberapa peternak yang benar-benar menghitung bisnis tetap memilih pakan yang kualitasnya bagus. Tidak mengganti pakan tapi mencari alternatif lain untuk menekan cost,” kata dia.

Secara jangka pendek mengganti pakan yang lebih murah memang bisa menurunkan biaya operasional. Tapi produksi jangka panjang cenderung menurun dan ayam lebih cepat afkir. Sedangkan dengan tetap menjaga kualitas pakan, produksi dipertahankan tetap stabil dan ayam lebih lama afkir.

“Agar untung kuncinya adalah menjaga ayam agar tetap berproduksi stabil, jangan sampai terganggu produksinya,” pungkasnya. (NDV)

TINDAKAN BIOSEKURITI FLU BURUNG BARU MULAI BERLAKU DI INGGRIS

Peternak dan pemelihara unggas di Inggris sekarang secara hukum diharuskan memelihara hewan mereka di dalam ruangan untuk membendung penyebaran flu burung.

Persyaratan tersebut merupakan bagian dari peraturan baru yang mulai berlaku sejak 14 Desember 2020.

Jika unggas tidak dapat dipelihara di dalam ruangan, pemiliknya diminta untuk mengambil langkah yang tepat untuk memisahkannya dari burung/unggas liar.

Persyaratan lain termasuk mengikuti langkah-langkah biosekuriti yang ketat:

  • Mengandangkan atau memagari lingkungan dengan jaring untuk semua unggas dan burung yang ditangkap.
  • Membersihkan dan mendisinfeksi pakaian, alas kaki, peralatan, dan kendaraan sebelum dan setelah kontak dengan unggas dan burung.
  • Mengurangi pergerakan orang, kendaraan atau peralatan ke dan dari area tempat unggas, untuk meminimalkan kontaminasi dari kotoran, dan produk lainnya, dan menggunakan pengendalian hama (tikus, dsb) yang efektif.
  • Membersihkan dan mendisinfeksi kandang secara menyeluruh di akhir siklus produksi.
  • Menyediakan disinfektan segar pada konsentrasi yang tepat di semua titik di mana orang harus menggunakannya, seperti pintu masuk peternakan dan sebelum memasuki kandang.
  • Meminimalkan kontak langsung dan tidak langsung antara unggas dan burung yang ditangkap serta burung liar, termasuk memastikan semua pakan dan air tidak dapat diakses oleh burung liar.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer