-->

RESTRUKTURISASI KUR UNTUK PETERNAK TERDAMPAK COVID-19


Ilustrasi peternakan sapi (Foto: INF)

Melalui Siaran Pers Nomor HM.4.6/44/SET.M.EKON.2.3/04/2020 tanggal 8 April 2020, Pemerintah memutuskan membebaskan pembayaran bunga dan penundaan pokok angsuran kredit usaha rakyat (KUR) untuk usaha yang terkena dampak COVID-19, paling lama 6 (enam) bulan.

Selain itu dilakukan juga relaksasi ketentuan KUR dengan memberikan perpanjangan jangka waktu dan tambahan plafon. Hal ini diharapkan mampu membantu petani dan peternak yang modal usahanya berasal dari KUR, sehingga mereka dapat terus menjalankan usaha mereka.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, I Ketut Diarmita membenarkan hal ini dan berharap agar kebijakan Pemerintah ini dapat membantu para peternak di daerah terdampak COVID-19.

“Kita berharap restrukturisasi kredit ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh debitur KUR bidang peternakan yang terimbas langsung maupun tidak langsung, sehingga usahanya dapat terus berjalan dan tidak mengakibatkan risiko kredit. Tentu saja tetap harus memperhatikan peraturan yang berlaku”, ucapnya.

Lebih lanjut Ketut menjelaskan bahwa kebijakan ini mulai berlaku pada 1 April 2020, dengan catatan bahwa debitur KUR yang mendapat pembebasan bunga dan penundaan pembayaran angsuran pokok KUR paling lama 6 bulan, harus memenuhi penilaian penyalur KUR masing-masing.

“Kami juga meminta bantuan dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau Dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di daerah untuk dapat memonitor dan membantu UMKM pelaku usaha binaannya yang telah mengakses KUR,” tambahnya.

Sementara Fini Murfiani, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen PKH menuturkan bahwa untuk keamanan dalam pelaksanaannya, debitur KUR diminta agar selalu mengikuti informasi yang diberikan oleh Penyalur Kredit langsung atau melalui call centre/website resmi Penyalur Kredit.

Ia berharap peternak tidak mempercayai informasi yang bersifat hoax dan tidak menanggapi pihak-pihak yang tidak berkepentingan untuk melakukan koleksi pembayaran kredit.

“Lebih baik dapatkan informasinya langsung dari bank, koperasi atau penyalur KUR lainnya yang memberi pinjaman,” imbuhnya.

Relaksasi Restrukturisasi KUR 

Lanjut Fini menjelaskan beberapa stimulus yang diberikan terkait relaksasi ketentuan restrukturisasi KUR, yakni kebijakan perpanjangan jangka waktu KUR; dan/atau kebijakan penambahan limit plafon KUR (khususnya bagi debitur KUR Kecil dan KUR Mikro non Produksi).

"Bagi calon debitur KUR yang baru, diberikan relaksasi pemenuhan persyaratan administratif pengajuan KUR, seperti Izin Usaha, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan dokumen agunan tambahan," jelas Fini.

Menurutnya semua dokumen tersebut ditangguhkan sementara sampai kondisi memungkinkan. Calon debitur KUR yang baru dapat mengakses KUR secara online.

Terkait kriteria penerima KUR yang mendapatkan perlakuan khusus, Fini memaparkan bahwa terdapat syarat umum dan syarat khusus. Untuk syarat umum, mencakup kualitas kredit per 29 Februari 2020 serta sikap kooperatif dan itikad baik penerima KUR.

Adapun syarat khusus adalah penerima KUR mengalami penurunan usaha dikarenakan minimal salah satu kondisi, yakni lokasi usahanya berada daerah terdampak Covid-19 yang diumumkan pemerintah setempat, terjadi penurunan pendapatan atau omzet karena mengalami gangguan terkait COVID-19; dan terjadi gangguan terhadap proses produksi karena dampak COVIDa-19.

Perkembangan Realisasi KUR Tahun 2020

Fini menambahkan, Pemerintah telah meluncurkan program KUR dimana sumber dananya berasal dari penyalur KUR dan pemerintah memberikan subsidi bunga, tahun 2020 kita targetkan KUR untuk sub sektor peternakan dapat diakses oleh UMKM (usaha mikto, kecil, dan menengah) peternakan sebesar 9,01 Trilyun. Bunga KUR tahun ini sudah turun menjadi 6% dan peternak dapat membayar setelah panen (yarnen) sehingga dapat dimanfaatkan pelaku usaha peternakan yang hasil usahanya diperoleh setalah akhir siklus usaha.

Realisasi akad kredit KUR Sub Sektor Peternakan sampai dengan 28 Mei 2020 tercatat di Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) Kementerian Keuangan sebesar  Rp. 4,54 triliun atau telah mencapai 50,39% dari target Ditjen PKH Rp.9,01 T untuk 164.652 debitur pelaku usaha peternakan.

Dari data tersebut memberikan gambaran bahwa tingkat kepercayaan lembaga pembiayaan terhadap usaha peternakan masih positif. (Rilis/INF)


FKH UGM SELENGGARAKAN WEBINAR BERTEMA DESINFEKTAN DAN BIOSEKURITI


Dua narasumber vet-webinar FKH UGM (Foto: Ist)

Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM dan GAMAVET menyelenggarakan webinar bertema “Desinfektan yang Aman bagi Manusia, Hewan dan Lingkungan: Belajar dari Penerapan Biosecurity Farm Unggas”, Rabu (3/6/2020). Menghadirkan narasumber Drh Heri Setiawan (Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia) dan Dr Drh Agustina DW, MP (Ketua Departemen Farmakologi FKH UGM) dan dipandu oleh moderator Drh Aria Ika Septana. 

Webinar diikuti lebih dari 300 orang dari berbagai daerah di Indonesia. Tingginya antusiasme peserta dalam sesi diskusi, moderator memutuskan untuk menambah waktu acara ini.

Dalam paparannya, Drh Heri menyebutkan tiga elemen dalam biosekuriti adalah isolasi, kontrol lalu-lintas dan sanitasi.

“Isolasi bertujuan menciptakan lingkungan agar ayam terlindungi dari penyebaran bibit penyakit atau mikroorganisme patogen. Elemen kontrol lalu-lintas guna mengendalikan lalu-lintas manusia, peralatan, kendaraan masuk/keluar area peternakan dan sanitasi berupa penerapan pelaksanaan pembersihan dan desinfeksi secara teratur dan menjaga kebersihan para pekerja di area farm,” terang Heri.

Dijelaskan Heri lebih lanjut, persyaratan desinfektan antara lain memiliki spektrum aktivitas luas, berdaya penetrasi kuat hingga efektivitas tinggi pada berbagai kondisi. Selain itu pemilihan produk desinfektan harus memperhatikan amankah bagi manusia, hewan dan lingkungan serta tidak memicu resistensi. (NDV)

FAPET UNSOED SIAP GELAR WEBINAR PROSPEK PETERNAKAN PASCA PANDEMI

Webinar Fakultas Peternakan Unsoed (Foto: Ist)


Pandemi COVID-19 merupakan isu kontemporer yang sedang memengaruhi berbagai sektor kehidupan manusia. Peternakan merupakan salah satu sektor yang paling terdampak oleh pandemi ini. Hal ini berkaitan dengan perubahan pola hidup masyarakat termasuk pola konsumsi terhadap produk-produk peternakan.

Pola ini sebagian besar diduga akan bertahan sebagai kebiasaan baru masyarakat pasca pandemi atau masa normal baru. Penyesuaian pada pola baru di masyarakat perlu di kembangkan pada sektor peternakan baik dalam hal budidaya, teknologi, nutrisi, dan pemasaran produk peternakan.

Masa normal baru merupakan sebuah tantangan sekaligus peluang yang dapat dimanfaatkan oleh sektor peternakan.

Menindaklanjuti potensi ini, Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) memprakarsai sebuah acara bertajuk “Prospek Peternakan di Era Normal Baru Pasca Pandemi COVID-19”. Acara ini merupakan Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan yang diselenggarakan setiap tahun dan telah memasuki seri yang ke 7 (STAP VII). Seminar yang rencananya akan diselenggarakan pada Sabtu 27 Juni 2020 ini berbeda dibandingkan dengan biasanya, karena akan dilaksanakan secara online atau webinar.

Dekan Fakultas Peternakan Unsoed, Prof  Dr Ismoyowati  SPt MP menjelaskan bahwa seminar ini merupakan rangkaian kegiatan Dies Natalis Fakultas Peternakan Unsoed yang ke 54. Tujuan diadakanya seminar ini yaitu menggali dan mengumpulkan gagasan yang dapat dimanfaatkan untuk mempersiapkan pendidikan, riset, dan industri peternakan dalam memasuki Era Normal Baru pasca Pandemi COVID-19.

Selain itu juga ditujukan untuk menyediakan forum ilmiah yang aksesable selama masa work from home untuk bertukar pikiran tentang hasil penelitian dan pengembangan teknologi agribisnis peternakan.

Dr Ir Agustinah Setyaningrum MP  selaku ketua panitia menerangkan seminar akan diikuti oleh peneliti, dinas terkait, dosen, dan mahasiswa.

Acara utama akan diisi oleh berbagai pakar yang antara lain Prof Dr Budi Santoso MP (Guru Besar Bidang Nutrisi Ruminansia Universitas Papua), Prof Dr Ismoyowati SPt MP (Guru Besar Bidang Bioteknologi Peternakan Unsoed), Ir Bambang Suharno (Pimpinan Redaksi Majalah Infovet) dan Dr Ir Bess Tiesnamurti MSc (Peneliti Senior Bidang Genetika Ternak Puslitbangnak).

Selanjutnya acara akan diisi oleh paparan artikel ilmiah dari berbagai bidang kajian. Hasil paparan akan dipublikasi pada prosiding seminar ber e-ISBN dan atau Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (JIPVET).

Artikel ilmiah juga akan terpublish yang diharapkan dapat dijadikan informasi dan masukan yang berarti bagi pengembangan peternakan mendatang. (Rilis/INF)       

EKSPOR UNGGAS BRASIL TUMBUH 5,1% DI MASA COVID-19

Ekspor ayam Brasil meningkat di masa pandemi (Foto: Ist)


Ekspor ayam Brasil telah meningkat sebesar 5,1% menjadi 1,365 juta ton, selama 4 bulan pertama tahun 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal itu disimpulkan dalam laporan ABPA (Asosiasi Protein Hewan Brasil).

Penjualan internasional Brasil dari sektor unggas ini menghasilkan pendapatan 0,5% lebih tinggi menjadi US $ 2,151 juta antara Januari dan April, dibandingkan dengan US $ 2,141 pada periode 4 bulan pertama tahun 2019.

“Sektor ini berkomitmen untuk menjaga ekspor tetap mengalir selama pandemi, memperkuat ketahanan pangan di antara negara-negara mitra. Kami memang mengharapkan peningkatan perdagangan kami dengan Cina, tetapi kami juga melihat pertumbuhan di Afrika, Asia dan Timur Tengah,” ungkap Francisco Turra, presiden ABPA.

Namun ada beberapa kekhawatiran tentang data bulan April. Khusus pada bulan April 2020, ada pengurangan 4,7% dalam ekspor, dengan total 343.300 ton tahun ini terhadap 360.100 ton pada bulan yang sama di tahun 2019. Sedangkan nilai penjualan turun menjadi US $ 515,9 juta terhadap US $ 599,1 juta tahun lalu, atau 13,9% lebih rendah, menggunakan parameter yang sama.

Laporan ABPA terbaru, Brazilian Animal Protein Report 2020, memberikan gambaran lengkap tentang produksi unggas (ayam, kalkun, telur dan genetika) dan babi. Menurut dokumen itu, negara ini telah memproduksi 13,245 juta ton selama tahun lalu, yang menjadi sebuah rekor baru (0,7% lebih tinggi dari 13,140 juta ton pada 2015).

Angka-angka itu menjadikan Brasil produsen terbesar ke-3 pada 2019, di belakang AS (19,941 juta ton) dan China (13,750 juta ton), di atas EU-28 (12,460 juta ton) dan Rusia (4,671 juta ton).

Tetapi untuk ekspor unggas saja, Brasil telah mengkonsolidasikan posisi teratasnya dengan 4,214 juta ton, di atas AS (3,261 juta ton), UE-28 (1,548 juta) dan Thailand (881,000 ton). Produsen ayam Brasil memperoleh US $ 6.994 miliar (6,4% lebih tinggi dari AS $ 6.571 pada tahun 2018) tahun lalu dari seluruh dunia. Persentase impor ke Asia 37,53%; Timur Tengah 34,39% dan Afrika 12,84%.

Dari total di tahun 2019, sektor unggas menghasilkan 68% untuk konsumen nasional dan 32% untuk pasar luar negeri. Konsumsi per kapita sedikit meningkat dari 41,99 kg menjadi 42,84 kg. Daerah produsen utama adalah Parana (34,69%), Santa Catarina (15,40%) dan Rio Grande do Sul (14,32%). (Sumber: poultryworld.net)

DRH MAKMUN JUNAIDDIN JABAT DIREKTUR PAKAN

Drh Makmun Junaiddin usai dilantik Direktur Pakan. (Foto: Humas Pertanian)

"Segenap keluarga besar Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, mengucapkan selamat kepada Drh Makmun Junaiddin MSc atas dilantiknya sebagai Direktur Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan."

Begitulah ucapan yang disematkan dalam laman Facebook Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian, atas dilantiknya Makmun sebagai Direktur Pakan.

Dari pantauan Infovet, segenap doa dipanjatkan mengiringi terpilihnya Makmun. "Mari kita doakan bersama agar beliau amanah, serta dapat melaksanakan tugasnya dengan lancar dan baik, Amin." Selain itu, ucapan selamat pun juga mengalir dari para kolega dan kerabat.

Makmun terpilih menjadi Direktur Pakan dan resmi dilantik menggantikan Sri Widayati pada Rabu (3/6/2020) di Auditorium Kementerian Pertanian.


Pelantikan pejabat setingkat eselon II, Rabu (3/6). (Foto: Humas Pertanian)

Pelantikan dilakukan langsung oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, bersama 15 pejabat setingkat eselon II lingkup Kementerian Pertanian. (RBS)

GOPAN IMBAU STAKEHOLDER PERUNGGASAN TURUNKAN HARGA DOC FS


GOPAN berharap harga DOC FS tak lebih dari Rp 5.000 (Foto: poultryscience.in)

Naiknya harga DOC (Day Old Chick) pada level tertinggi Rp. 6.000 – Rp. 6.500 ditengah ketidakpastian harga ayam hidup pada saat periode panen berikutnya, Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) mengimbau kepada stakeholder perunggasan untuk mengambil sikap.

GOPAN melayangkan surat permohonan penurunan harga DOC FS (final stock) kepada perusahaan perunggasan dan Gabungan Perusahaan Perbibitan Unggas (GPPU).

Dalam surat resmi bertanda tangan Ketua GOPAN Herry Dermawan, Selasa (2/6/2020), GOPAN berharap GPPU mengimbau kepada anggotanya agar harga DOC FS tidak lebih dari Rp 5.000 sebagai bentuk empati dan mendukung keberlangsungan usaha peternak mandiri.

“Empati penuruan harga DOC FS ini kami harapkan juga selalu diikuti dengan kualitas DOC FS yang berkualitas dan ketersedian yang cukup bagi peternak mandiri sesuai dengan kebijakan pemerintah yang berlaku,” sebut isi surat resminya.

Sekretaris Jenderal GOPAN, Sugeng Wahyudi dihubungi Infovet, Rabu (3/6/2020) menyatakan pihaknya berharap surat permohonan tersebut segera mendapat feed back positif dari para stakeholder.

Sugeng Wahyudi

Sugeng mengemukakan harga DOC naik bersamaan dengan harga ayam, sangatlah memberatkan. Jika harga DOC mahal, bukan saja rasa was-was peternak yang belum terjamin bagus atau tidaknya di situasi pandemi saat ini.

Imbuh Sugeng selain was-was, apabila kondisi ini masih berlangsung tentunya menjadi pukulan kerugian yang besar karena terjadi sedari Januari hingga April 2020.

“Mohon turunkan harga DOC agar kandang-kandang rakyat bisa terisi dan kelangsungan budidaya ayam tidak terhenti,” pungkasnya. (NDV)



JANGAN TAKUT KONSUMSI AYAM SAAT PANDEMI COVID-19

Pedagang ayam broiler di pasar. (Foto: Istimewa)

Di media sosial beredar informasi tentang telah ditemukan virus corona di daging ayam broiler. Kementerian Komunikasi dan Informasi pun bergerak cepat dan menyatakan itu hoaks.

Sutarmi (40), pedagang ayam broiler di Pasar Jaya, Depok, Jawa Barat, siang itu tampak murung. Onggokan daging ayam utuh (karkas) di depannya masih memenuhi meja dagangannya. Bahkan sebagian sudah tampak memerah, seperti akan membusuk. Sejak pukul 06.00 WIB digelar, dagangannya hanya beberapa ekor yang terjual.

Rupanya kondisi macam ini bukan hanya sat itu saja terjadi, tapi sudah hampir dua pekan lebih. Padahal, perantau asal Kota Ponorogo, Jawa Timur itu sudah mengurangi dagangannya hampir separo dari biasanya yang ia jual. 

Sebulan lalu, Sutarmi biasa menjual hampir 70 ekor karkas dan selalu habis sebelum matahari terasa terik. Kini hanya 40 ekor yang ia ambil dari distributor karkas untuk dijual, namun hanya beberapa ekor saja yang laku. 

Apa penyebab dagangan Sutarmi mendadak sepi pembeli? ”Banyak orang yang bilang pada takut beli ayam karena takut corona. Takut virus corona masuk kandang ayam,” kata Sutarmi.

Ia ternyata bukan satu-satunya pedagang ayam yang sepi pembeli. Beberapa pedagang lainnya pun mengalami hal serupa. “Benar enggak sih corona bisa nularin lewat ayam? Kok orang yang mau beli ayam pada ikut takut beli ayam,” ujar Ruslani pedagang ayam lainnya.

Pandemi corona (COVID-19) ternyata juga mengimbas pada persepsi sebagian masyarakat hingga takut mengonsumsi daging ayam broiler. Meski sudah bejibun edukasi kesehatan dari banyak pihak tentang apa dan bagaimana virus ini menular, namun ketakutan sebagian masyarakat masih saja ada.

Ada masyarakat yang takut mengonsumsi daging ayam karena takut ayamnya terjangkit virus corona saat di kandang. Apalagi kadang ayam yang cenderung bau dan kotor akan sangat mudah virus apapun, termasuk corona akan mudah menempel. Yang memprihatinkan, informasi tentang virus corona ditemukan pada ayam broiler juga sudah merebak di berbagai media sosial.

Anggapan yang cenderung menjadi stigma keliru ini perlu diluruskan. Jika tidak, bisa saja jadi makin menyebar dan diyakini kebenarannya oleh masyarakat lebih luas lagi. Munculnya pemahaman semacam ini tentu karena keterbatasan informasi yang baik dan benar tentang daging ayam broiler.

Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) telah melansir dan menyatakan bahwa informasi tersebut adalah hoaks alias bohong. Di laman www.kominfo.go.id disebutkan:
Telah beredar informasi di media sosial yang mengatakan bahwa virus corona ditemukan di ayam broiler, dalam narasinya juga menghimbau agar berhati-hati dalam mengonsumsi ayam broiler.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, faktanya informasi tersebut tidak benar adanya. Pada tanggal 1 Februari 2020, di tengah wabah virus corona yang mematikan, muncul lagi wabah virus flu burung H5N1. Namun tidak ada satupun kasus setiap unggas yang ditemukan positif terkena virus corona. Di sisi lain, virus corona berbeda dari Avian Influenza (H5N1), yang dapat diobati pada manusia dengan obat anti-virus yang tersedia. H5N1 tidak menular di antara manusia dan jarang menyebar ke manusia.

Informasi hoaks mengenai ayam broiler terkena corona. (Sumber: Kominfo)

Anjuran yang Keliru
Sejak dulu, “posisi” ayam broiler memang sering “dilema”. Daging ayam ras ini kerap kali dihubungkan dengan banyak stigma negatif yang seringkali tidak ada bukti, seperti isu disuntik hormon, kandungan lemak jahat yang tinggi dan wabah yang sedang menyerang. Di sisi lain orang masih membutuhkan asupan protein dan gizi lainnya yang terkandung di dalam daging ayam.

Kekhawatiran sebagian masyarakat mengonsumsi daging ayam broiler karena takut mengandung kolesterol bukan saja disebabkan oleh informasi yang bersumber “katanya”. Ketakutan sebagian masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam negeri juga ada yang disebabkan oleh anjuran para oknum dokter kepada pasiennya.

Hal ini pernah disampaikan Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Drh Irawati Fari, dalam perbincangan antara Infovet beberapa waktu lalu. Menurut Ira-sapaan akrabnya, masih ada dokter manusia yang menganjurkan pasiennya untuk tidak mengonsumsi ayam broiler, karena mengandung hormon, ayam disuntik obat tertentu dan info menakutkan lainnya.

Anjuran macam ini jelas tidak tepat disampaikan ke pasien. Biasanya oknum dokter tersebut belum tahu bagaimana proses produksi ayam broiler yang sebenarnya. Sangat disayangkan jika masih ada tenaga medis yang masih memberikan anjuran keliru kepada pasiennya, sementara dia sendiri tidak tahu persis proses produksinya.

Perlu Galakkan Kampanye 
Kekhawatiran sebagian masyarakat mengonsumsi daging ayam broiler bukanlah perkara baru. Fenomena ini sudah terjadi sejak lama. Ketidakmengertian dan mendapatkan informasi dari sumber yang keliru menjadi penyebab utama mereka tak mau mengonsumsi daging ayam broiler.

Yuny Erwanto, Dosen Pangan Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjahmada (UGM), Yogyakarta, berpendapat bahwa ketakutan sebagian masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam broiler memang masih terjadi hingga sekarang. Penyebabnya, bisa karena mendapat informasi yang kurang tepat tentang cara beternak ayam negeri atau karena ada anjuran dari orang lain agar tak mengonsumsi daging ayam broiler.

“Harus dilawan dengan menggalakkan kampanye mengonsumsi daging ayam, juga sumber protein lainnya seperti ikan dan lainnya. Kalau tidak ada edukasi pentingnya mengonsumsi protein hewani dari ayam, masyarakat akan makin menjauhi makan ayam,” ujarnya kepada Infovet.

Kampanye mengonsumsi protein hewani perlu dilakukan secara massif dan berkelanjutan. Tidak bisa hanya dilakukan sesaat, lalu dilupakan lagi. Kampanye mengonsumsi makanan sehat bisa dilakukan mulai dari lingkungan sekolah, misalnya dengan mengajak sarapan bersama anak-anak sekolah dengan makan ayam dan telur, atau melalui lomba masak di kalangan ibu-ibu rumah tangga dengan bahan baku daging ayam broiler dan telur.

Upaya ini penting mengingat tingkat konsumsi daging masyarakat Indonesia hingga saat ini masih tergolong rendah. Erwanto menyebutkan, saat ini konsumsi daging masyarakat Indonesia tak lebih dari 10 kg/kapita/tahun. Sedangkan Malaysia sekitar 50 kg lebih dan negara maju sekitar 100 kg/kapita/tahun.

Informasi gizi terkait daging ayam sebenarnya sederhana. Daging ayam memiliki kandungan protein tinggi, asam amino yang dibutuhkan tubuh manusia terpenuhi dan lengkap, mengandung mineral yang juga bermanfaat bagi tubuh.

“Bisa jadi faktor yang menyebabkan masih rendahnya konsumsi daging ayam adalah kekhawatiran kandungan antibiotik pada ayam broiler yang dianggap tinggi, padahal sebenarnya tidak separah itu,” pungkasnya. (AK)

PRODUKSI AYAM BANGLADESH MEROSOT KARENA CORONA

Foto: ilustrasi

Menyusul menurunnya permintaan daging dan telur ayam di Bangladesh sejak awal pandemi Covid-19, produksi pun ikut anjlok setidaknya 50%.

Banyak konsumen daging dan telur ayam seperti hotel, restoran, dan perusahaan makanan cepat saji tutup, dan acara serta pertemuan seperti pernikahan dibatalkan. Selain itu, hilangnya pendapatan berarti daya beli konsumen yang lebih rendah.

Hatchery terpaksa menjual telur yang ditetaskan dengan harga yang rendah, dan harga telur ayam dan daging mencapai titik terendah dalam 12 tahun pada bulan April 2020.

Sebelum dimulainya pandemi coronavirus, para peternak menetaskan 14 juta DOC setiap minggu, tetapi kini jumlah itu telah turun hingga 7 juta.

Fazle Rahim Khan Shahriar, MD dari Aftab Bahumukhi Farms, mengatakan ketidakcocokan penawaran-permintaan untuk unggas akan berlanjut selama minimal 6 bulan. Harga telur dan ayam broiler juga turun, dan peternak harus menjual di bawah biaya produksi.

Telur dijual seharga Tk4 (US $ 0.05) di tingkat peternakan di beberapa daerah di Bangladesh sementara biaya produksi setidaknya Tk6 (US $ 0.07). Harga rata-rata telur adalah Tk7 - 8 (US $ 0.08 – 0.09) sebelumnya.

Menurut Dewan Pusat Industri Perunggasan Bangladesh, harga ayam broiler turun menjadi Tk55 (US0.65) per kg di tingkat peternakan di berbagai distrik sementara biaya produksi sekitar Tk120 (US $ 1.41) per kg. (Sumber: poultryworld.net)

PERINGATAN HARI SUSU, MOMENTUM TINGKATKAN KONSUMSI SUSU MASYARAKAT INDONESIA


Ilustrasi (Foto: Pixabay)


Saat ini di tengah pandemi COVID-19, asupan makanan dan minuman yang bergizi tinggi sangat diperlukan untuk memperkuat daya tahan tubuh salah satunya melalui konsumsi susu. Mengingat banyaknya manfaat yang diperoleh melalui susu,Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) sejak tahun 2001 menetapkan  tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Susu Dunia (World Milk Day).

Peringatan ini dimaknai untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mengonsumsi susu setiap hari. Kegiatan ini menjadi acara tahunan di banyak negara di dunia. Indonesia pun turut serta merayakan Hari Susu Dunia sejak tanggal 1 Juni 2009 melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 2182/KPTS/PD.420/5/2009, dengan tajuk Hari Susu Nusantara.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita menyampaikan momentum Hari Susu Nusantara ini tentang pentingnya masyarakat untuk terus mengonsumsi susu namun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia tahun 2019 masih berkisar 16,23 kg/kapita/tahun.

"Konsumsi susu di Negara kita masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain," katanya saat diwawancarai pada Senin (1/06/20).

Ia juga mengatakan secara umum susu banyak memiliki manfaat untuk pertumbuhan yaitu untuk regenerasi sel, menguatkan tulang dan gigi, menyokong pertumbuhan fisik, meningkatkan kecerdasan, mampu mencegah stunting pada anak-anak serta meningkatkan imunitas tubuh sehingga meminimalisir potensi terinfeksi agen penyakit.

"Di masa pandemi COVID-19 saat ini, konsumsi susu menjadi penting untuk peningkatan imunitas tubuh yang merupakan salah satu cara untuk meminimalisir potensi terinfeksi agen penyakit," kata Ketut.

Selain Itu, Ketut juga menyoroti pentingnya peningkatan populasi sapi perah untuk meningkatkan produksi susu dan memenuhi kebutuhan susu nasional. Populasi sapi perah Nasional pada tahun 2019 sebanyak 561.061 ekor dengan produksi susu sebanyak 996.442 ton (Data Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan tahun 2019).

"Pertumbuhan populasi sapi perah dan pertumbuhan produksinya belum mampu mengimbangi pertumbuhan konsumsi, sehingga ketersediaan sebagian besar produk susu dan turunannya adalah melalui importasi yang semakin lama semakin meningkat," terangnya.

Dengan jumlah kebutuhan susu nasional tahun 2019 mencapai 4.332,88 ribu ton, produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) diatas, hanya mampu memenuhi 22% dari kebutuhan nasional, sehingga 78%nya berasal dari impor (BPS 2020). Selain itu, produksi susu saat ini masih didominasi oleh susu sapi, padahal kita memiliki potensi ternak lain seperti kambing perah (Kambing Peranakan Ettawa, Kambing Saanen) dan kerbau perah yang pemanfaatannya belum optimal.

"Berbagai permasalahan dan tantangan dalam pengembangan industri susu nasional harus didorong bersama melalui peran aktif dari semua pihak, tidak hanya pemerintah namun juga akademisi, swasta, industri dan tentu saja para peternak itu sendiri," sambungnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai instansi teknis yang menangani peternakan, terus berupaya keras dalam mengembangkan persusuan nasional untuk mencapai target pemenuhan kebutuhan susu  nasional tahun 2025 sebanyak 60% sesuai dengan Cetak Biru Persusuan 2013-2025 yang dikeluarkan oleh Kemenko Perekonomian.

Pemerintah menyusun dan menetapkan berbagai program dan kegiatan untuk pengembangan persusuan, baik melalui APBN, APBD, maupun melalui kemitraan dengan industri dan lembaga pembiayaan," ungkapnya lebih lanjut.

Selanjutnya, Ia mengungkapkan terkait upaya pemerintah untuk meningkatkan populasi sapi perah yang dilakukan melalui berbagai cara, diantaranya: program SIKOMANDAN (Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri), pemasukan bibit sapi perah untuk replacement induk dan dikembangkan di Balai Ternak Unggul Baturaden.

Pengembangan rearing unit di Unit Pelaksana Teknis (UPT)/Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dan melalui kemitraan dengan Industri Pengolahan Susu (IPS), penetapan kawasan pengembangan sapi perah nasional, perbaikan mutu genetik melalui pejantan unggul hasil Uji zuriat atau progeny test dan produksi semen beku sexing, kemudahan dalam pengajuan rekomendasi pemasukan/pengeluaran ternak, produk ternak.

"Dapat melalui aplikasi Sistem Rekomendasi (SIMREK PKH) serta fasilitasi/kemudahan akses pembiayaan (Kredit Usaha Rakyat-KUR/Program Kemitraan Bina Lingkungan-PKBL) untuk peternak sapi perah," imbuhnya Ketut.

Selain itu, Kementan juga berupaya untuk mengembangkan ternak perah lain seperti kambing perah dan kerbau perah serta mendorong pihak swasta untuk melakukan diversifikasi genetik sapi perah melalui pengembangan sapi perah non Frisian Holstein/FH (sapi perah jersey). Pengembangan sapi perah non FH saat ini masih bersifat closed breeding untuk mengetahui kemampuan adaptasi dan produksi ternak di Indonesia.

"Dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas susu peternak, pemerintah terus berupaya meningkatkan kapasitas SDM peternak melalui bimbingan teknis dan pelatihan, serta melakukan pendampingan kepada peternak seperti untuk penerapan Good Farming Practices (GFP)," ucapnya.

Kementan juga berupaya meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk peternak melalui diversifikasi produk, fasilitasi sarana prasarana pengolahan susu, pengurusan ijin edar produk susu serta fasilitasi/pendampingan sertifikasi organik untuk kelompok peternak, serta fasilitasi pemasaran melalui akses market online bekerjasama dengan marketplace.

"Untuk peningkatan konsumsi susu, pemerintah terus berupaya mendorong meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi susu melalui sosialisasi dan promosi, baik melalui media sosial maupun sarana promosi,” lanjut Ketut.

Dalam mendorong pengembangan usaha peternak/pelaku usaha melalui pengurangan pajak penghasilan atau tax allowance, akses pembiayaan/kredit (Kredit Usaha Rakyat (KUR), Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dan Badan Usaha Milik Negara/BUMN), asuransi peternak (misal: Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau/AUTS) serta mendorong kemitraan dengan industri.

Berbagai kebijakan dan program yang telah lakukan tentu saja tidak akan berhasil tanpa dukungan dari semua stake holder dan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, melalui momentum Peringatan Hari Susu Nusantara ini kami berharap peran serta semua stakeholder.

"Baik Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah, akademisi, industri, koperasi dan seluruh peternak sapi perah di Indonesia untuk terus bersama-sama bergandengan tangan menuju agroindustri persusuan yang tangguh dan mandiri untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia seutuhnya, ” tutup Ketut. (Rilis Kementan)


CARA TEPAT MENGELOLA STRES PADA BROILER DAN LAYER MODERN

Kepadatan kandang perlu dijaga untuk menghindadi stres. (Foto: Istimewa)

Perkembangan yang terjadi pada ayam ras baik broiler maupun layer modern dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini sangat luar biasa, baik secara genetik, pola pemeliharaan dan hasil performa produksinya.

Ayam broiler modern mempunyai daya tumbuh yang sangat pesat dengan tingkat konversi pakan yang efisien dan deplesi yang rendah. Dari data yang diperoleh melalui peternak, saat ini ayam broiler pada umur 28 hari dapat mencapai berat rata-rata 2,0-2,2 kg/ekor dengan nilai konversi pakan 1,48-1,52 dan deplesi kurang dari 3%.

Sedangkan ayam layer modern mulai bertelur pada umur kurang lebih 19 minggu dan mencapai puncak produksi (90%) di umur 25 minggu. Hingga umur 80 minggu, total telur yang dihasilkan mencapai 340 butir atau 21 kg/ekor dengan deplesi 10%.

Dengan percepatan pertumbuhan tersebut, ancaman dan dampak stres menjadi salah satu tantangan terbesar bagi industri peternakan ayam ras modern. Untuk itu, penting kiranya agar dapat  mengidentifikasi gejala-gejala stres unggas sedini mungkin.

Klasifikasi jenis penyebab stres:
1. Lingkungan: Ventilasi kandang yang buruk, tingginya gas amonia, polutan, litter basah, lampu dengan intensitas tinggi.
2. Iklim: Kelembapan, suhu panas atau dingin yang ekstrem.
3. Fisiologis dan genetik: Pertumbuhan yang sangat cepat pada broiler modern, periode puncak produksi pada layer modern, proses pematangan seksual dan moulting.
4. Nutrisi: Kekurangan nutrisi, feed intake bermasalah, perubahan pakan dan adanya toksin dalam pakan.
5. Fisik: Penangkapan, pemindahan, transportasi dan vaksinasi.
6. Sosial: Kepadatan kandang dan kondisi tubuh yang buruk.
7. Psikologis: Ayam mengalami ketakutan, perubahan pekerja kandang, perlakuan kasar dari pekerja.

Dampak Stres pada Tubuh Ayam
Reaksi stres merupakan reaksi alami tubuh terhadap stresor. Stresor dapat berupa agen penyakit, perubahan temperatur ekstrem, kepadatan ternak, obat-obatan, vaksinasi, polutan dan bahkan pakan. Efek dari stresor dipengaruhi oleh jumlah, durasi, variasi genetik dan status kekebalan ayam. Terdapat dua tipe stres, yakni stres akut dan stres kronis.

Pada stres akut, stresor bekerja dengan waktu singkat dan hanya sedikit mempengaruhi ayam. Penyebabnya antara lain perubahan suhu secara mendadak, pergantian pakan, vaksinasi, pengobatan, kerusakan sementara peralatan perkandangan, perubahan jadwal pakan, kosongnya saluran air minum. Stresor mengaktifkan symphatethic adrenomedullary system, sehingga hormon adrenalin lebih banyak bekerja mengakibatkan peningkatan aktivitas metabolisme. Gejala yang tampak, ayam lebih aktif. Efek terhadap kekebalan hampir tidak ada.

Untuk stres kronis, stresor bekerja dengan waktu relatif lebih lama dan simultan. Hal ini sangat mempengaruhi… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020)

Drh Yuni
PT ROMINDO PRIMAVETCOM

SAMBUT HARI SUSU SE-DUNIA BEM FKH IPB GELAR WEBINAR



Hari susu se-dunia atau World Milk Day jatuh pada tanggal 1 Juni yang lalu. Dalam menyambut event tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan IPB (BEM FKH IPB) mengadakan webinar dengan tema "Bisnis Susu ala Dokter Hewan".

Narasumber yang dihadirkan tentunya juga orang - orang yang sudah tidak diragukan lagi kompetensinya di bidang sapi perah Indonesia. Mereka adalah Drh Deddy Fakhruddin Kurniawan dan Drh Muhammad Dwi Satrio yang juga merupakan alumnus FKH IPB.

Antusiasme peserta pun terbilang tinggi, hal ini terlihat dari jumlah yang lalu - lalang masuk ke dalam aplikasi google meeting, kurang lebih 150-an orang hadir dalam webinar tersebut. Mereka pun bukan hanya berasal dari kalangan mahasiswa, tetapi juga dosen, ASN, peternak, bahkan praktisi sapi perah.

Seminar dibuka dengan paparan dari Drh Muhammad Dwi Satriyo yang bertajuk bisnis susu ala dokter hewan. Dalam presentasi dengan durasi 30 menit, Drh Satrio membagikan pengalamannya sebagai dokter hewan, peternak, dan pengusaha di bidang persusuan. 

Menurutnya konsumsi susu di Indonesia masih sangat rendah ketimbang negara - negara lain di Asia Tenggara apalagi dunia. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, namun menurutnya yang terpenting adalah kesejahteraan peternak sapi perah. 

"Harga susu di Indonesia rendah, jauh ketimbang di negara - negara Asia tenggara maupun dunia, oleh karenanya peternak enggan membesarkan skala usahanya. Padahal kalau kita lihat negara tetangga saja, Malaysia misalnya, harga susunya lebih tinggi dari kita, sudah begitu konumsi susu negeri Jiran dua kali bahkan tiga kali lipat lebih tinggi daripada kita," tutur Satriyo. 

Belum lagi ketika bicara kebijakan yang dibuat oleh pemerintah terhadap peternakan sapi perah, misalnya saja ia mencontohkan di kawasan Cisarua dekat tempat tinggalnya. Menurutnya, pemerintah harus lebih berpihak pada peternak sapi perah, supaya produksi susu bisa meningkat.

"Dulu di sini masih banyak tanah kosong, tumbuh banyak rerumputan bagus itu untuk hijauan pakan ternak ruminansia. Namun sekarang yang banyak tumbuh adalah villa - villa, lahan hijauan berkurang, jadi sulit buat kasih hijauan ke sapi, mau tidak mau peternak membeli rumput dengan harga yang kurang ekonomis, sementara harga susu segitu - segitu saja," papar Satriyo.

Satriyo juga membagikan tips beternak agar produksi susu meningkat, diantaranya dengan memberikan pakan terbaik, meningkatkan manajemen pemeliharaan, dan tetap menjaga sanitasi lingkungan dan hygiene di peternakan. Hal ini akan berpengaruh kepada produksi dan kualitas susu, karena kualitas susu juga menjadi hal yang menentukan dalam penentuan harga susu.

Sementara itu di presentasi kedua Drh Deddy Fakhruddin Kurniawan mengajak peserta untuk lebih mengubah mindset tentang persusuan di Indonesia. Ia mencontohkan bahwa di negara terbelakang, berkembang, dan negara maju mindset peternaknya berbeda.

"Kalau kita negara berkembang, pasti masih membicarakan soal peningkatan konsumsi dan produksi, sementara di negara maju sana mindset sudah berbeda, mereka bicara tentang genetik, animal welfare dan yang nomor satu adalah proud alias kebanggan terharap produk susu yang mereka hasilkan, kita kapan?," tukas Deddy.

Ia juga mengatakan bahwa di negara - negara maju, kampanye minum susu dilakukan secara masif dan terstruktur. Hal ini dilakukan karena mereka tahu betul bahwa susu juga merupakan sumber protein yang esensial bagi tubuh. 

"Konsumsi susu negeri paman Sam itu 9 - 10x lipat lebih tinggi dari negeri kita, konsumsi susu India, itu 4-5x lebih tinggi daripada Indonesia. Padahal, kalau menurut data penduduk dunia, Indonesia ini kan penduduknya paling banyak ke-4 atau ke-5 se-dunia, seharusnya konsumsinya ya nomor segitu juga," tukas Deddy.

Oleh karenanya menurut Deddy, perlu dilakukan juga kampanye masif yang terstruktur dan berkelanjutan agar masyarakat Indonesia gemar mengonsumsi susu. Apalagi kalau susu yang dihasilkan berasal dari peternakan lokal, selain menyehatkan, tentunya bangga dengan produk peternak lokal, dan kita juga membantu peternak lokal kita, support our local farmer!. (CR)



STRES PADA AYAM: PENYEBAB DAN SOLUSINYA

Dengan mengenali faktor-faktor dan cara mengatasi stres pada budidaya unggas, maka pemeliharaan akan lebih terarah dan produktivitas bisa optimal. (Sumber: ayamkita.com)

Stres adalah suatu kondisi atau keadaan yang terjadi, dimana terjadi ketegangan baik secara fisik ataupun psikologis. Stres sebenarnya wajar terjadi dalam suatu kehidupan, dimana tuntutannya adalah makhluk hidup harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi.

Bagaimana gambaran umum ayam yang mengalami stres? Berikut gambaran ayam yang mengalami stres seperti ayam terlihat gelisah di dalam kandang, sering membentangkan sayap, lebih banyak minum untuk menurunkan suhu tubuhnya, nafsu makannya menurun yang akan menghambat pertumbuhan atau produktivitasnya, serta bertambahnya kecepatan respirasi.

Apakah faktor-faktor yang menyebabkan ayam mengalami stres? Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan ayam stres, diantaranya perubahan cuaca secara tiba-tiba, ayam mengalami kelelahan atau sedang sakit, ventilasi dan kecukupan cahaya di kandang tidak memadai, seringnya keluar-masuk orang tidak dikenal, adanya suara kegaduhan atau kebisingan di sekitar lokasi peternakan, perawatan yang salah, perubahan ransum/air minum secara tiba-tiba dan luas kandang dengan jumlah unggas yang dipelihara tidak seimbang.

Namun tak perlu khawatir, dalam tulisan kali ini akan dibahas satu-persatu faktor penyebab stres dan cara penangannya pada ternak ayam:

1. Stres karena Lokasi 
Lokasi tempat peternakan yang bising atau suasana peternakan yang sering berganti juga dapat menimbulkan stres, sebab ayam harus beradaptasi terhadap suasana yang baru secara berulang kali. Cara mengatasinya adalah memilih lokasi peternakan yang jauh dari sumber kebisingan dengan suasana yang stabil tetapi masih memadai, cukup tersedia sumber mata air dan mudah dijangkau dengan sarana transportasi darat. Lokasi peternakan dengan tingkat kepadatan populasi yang tinggi juga akan membawa ayam kepada kondisi yang perlu beradaptasi tinggi, disamping rumitnya menerapkan pola pemeliharaan ayam yang harus dijalankan.

2. Stres karena Bibit/DOC
Jika induk dan bibit ayam yang dibeli kurang baik kualitasnya, biasanya akan menghasilkan keturunan yang cenderung mudah stres. Untuk mencegahnya adalah dengan membeli anak ayam (DOC) dari penjual yang terpercaya dan mencari keterangan dari yang sudah memelihara bibit tersebut atas kelebihan dan kekurangannya. Walaupun pada dasarnya semua produk bibit yang beredar tersebut adalah bibit unggulan dari segi produktivitasnya, namun ada beberapa perbedaan dalam karakter yang menjadi mudah atau sukar dalam hal pemeliharaanya. Hal inilah yang penting untuk diketahui para peternak.

3. Stres karena Kandang 
Keadaan kandang yang tidak sehat dapat menyebabkan ayam tidak nyaman, sehingga dapat mengakibatkan stres. Guna mencegahnya adalah… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020) (AHD-MAS)

TAK PERLU STRES MENANGANI STRES PADA AYAM

Pemberian nutrisi yang sesuai kebutuhan juga dapat membantu menekan stres yang terjadi pada ayam. (Foto: Dok. Infovet)

Menghadapi stres pada ayam memang susah-susah gampang. Karena terkendala komunikasi, tentunya peternak tidak bisa berbicara dengan hewan. Tetapi jangan sampai peternak juga ikutan stres dalam menghadapi ayam stres.

Walaupun sudah mengetahui beberapa gejala klinis atau tanda-tanda ayam yang stres, bukan berarti mengetahui ayam stres itu mudah. Pastinya yang ada dipikiran peternak atau dokter hewan di farm sudah mengarah kepada penyakit apabila ada terjadi penurunan performa, kematian mendadak dan lain sebagainya.

Hal ini diakui oleh Juwarno peternak broiler asal Klaten, Jawa Tengah. Walaupun sudah berpengalaman kurang lebih 10 tahun menjadi peternak, ia mengaku pernah dibuat stres menghadapi ayam-ayamnya yang ternyata juga terserang stres.

“Pernah baru chick-in sehari kandang saya besoknya mati mendadak, pernah juga sudah umur dua minggu tapi itu ayam kerdil, sudah gitu rata pula kerdilnya. Padahal sudah diperiksa dokter, sudah nekropsi cari penyebabnya, sampai akhirnya tahu kalau ternyata faktor stres,” ujar Juwarno.

Ia juga pernah suatu waktu karena mengejar dan memperhitungkan hari raya, ia mengisi kandang melebihi kapasitas. Ternyata bukan berbuah manis, namun pil pahit yang ia terima karena ayam-ayamnya banyak yang mati dan pertumbuhannya terhambat.

“Waktu itu deplesinya hampir 10%, saya ngejar momen munggah itu sudah saya hitung- hitung bakal untung berapa, tapi ternyata malah buntung, apes deh,” papar Juwarno.

Jangan Biarkan Ayam Stres
Sedikit berkelakar, masalah utama stres sebenarnya karena manusia tidak bisa mengetahui isi hati dan perasaan ayam, begitu juga sebaliknya. Namun peternak dapat mempelajari tingkah laku dan kebiasaan hidup ternak, baik dari buku, sharing dengan sesama peternak dan dokter hewan (TS), bahkan di media online pun dengan mudahnya dapat belajar cara beternak yang baik. Masalahnya, adalah pada niat, apakah dalam beternak hanya sekedar beternak atau memang beternak merupakan passion? Mungkin beberapa… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020) (CR)

UPAYA TEKNIS MANAJEMEN STRES PADA BROILER MODERN DALAM PERSPEKTIF KONSEP MILEU

Pada saat lingkungan di sekitar ayam mengalami perubahan yang ekstrem, tidak jarang ayam akan terganggu kenyamanannya. (Sumber: Istimewa)

Secara sadar atau tidak, ayam yang dipelihara mau tidak mau, suka tidak suka, harus selalu berinteraksi dengan berbagai macam mikroorganisme di sekelilingnya (bahkan di dalam tubuhnya sendiri) dan berada dalam suatu lingkungan tertentu pada waktu yang sama. dengan kata lain, ayam dan mikroorganisme tersebut hidup dalam lingkungan yang sama, dimana ketika ada perubahan yang terjadi pada lingkungan tertentu maka akan berpengaruh pula terhadap keduanya.

Pada saat lingkungan di sekitar ayam mengalami perubahan yang ekstrem, tidak jarang ayam akan terganggu kenyamanannya (stres dengan berbagai derajad variasi keparahan). Di sisi lain mikroorganisme pada kondisi itu mempunyai peluang yang lebih besar untuk melakukan invasi dan menyebabkan gejala sakit.

Dengan kondisi tersebut, sebagai praktisi lapangan dituntut memahami bagaimana interaksi yang terlibat di dalamnya. Melalui konsep mileu, tahapan analisa dalam melacak faktor pemicu utama sekaligus menghubungkan dengan faktor ikutan terkait dengan tata laksana manajemen akan lebih terarah, lebih menyeluruh (holistik) dan lebih sistimatik. Sehingga upaya untuk meminimalisir dampak negatif yang akan muncul bisa lebih tepat sasaran.

Konsep Mileu
Mileu adalah suatu situasi, kondisi dan realita yang terjadi di sekeliling lingkungan ayam yang bersifat dinamis (berubah dari waktu ke waktu). Situasi, kondisi dan realita tersebut tidak hanya dalam satu pen (sekatan) dalam satu kandang saja, namun juga bisa dalam skala yang lebih besar berupa flock tertentu, farm tertentu bahkan area atau daerah tertentu. Dalam skala tertentu bisa sama-sama dipahami bahwa satu sekatan mempunyai mileu yang berbeda dengan sekatan lain, begitu pula mileu antar kandang, kemudian mileu di sekitar pegunungan/dataran tinggi berbeda dengan yang ada di sekitar pantai, bahkan dalam cakupan yang lebih luas bahwa mileu ayam di negara tropis bisa berbeda dengan mileu ayam di negara sub tropis.

Komponen Mileu
Untuk memahami lebih jauh tentang konsep mileu, ada beberapa hal yang harus ditelaah lebih rinci, yaitu komponen mileu. Secara garis besar ada tiga komponen yaitu: 

1. Komponen fisik. Komponen ini terdiri dari semua faktor yang ada di sekitar lingkungan ayam yang secara fisik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kenyamanan ayam, diantaranya suhu/temperatur lingkungan, kelembapan lingkungan, kecepatan angin, static pressure pada kandang sistem tertutup, konsentrasi debu, perlakuan-perlakuan fisik tertentu seperti penerimaan DOC, penyebaran DOC di area brooding, pelaksanaan vaksinasi dan lain sebagainya.

2. Komponen kimia. Semua hal terkait dengan unsur kimiawi yang ada di sekitar lingkungan ayam sangat berdampak terhadap kenyamanan ayam, diantaranya konsentrasi NH3 (amonia), CO2 (karbon dioksida), O2 (oksigen), CH4 (gas metan), CO (karbon monoksida), Formalin dan lain-lain. Termasuk di dalamnya adalah pestisida di sekitar kandang yang ada di area persawahan.

3. Komponen biologis. Komponen ini terdiri dari... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020)

Eko Prasetio, DVM
Private Broiler Commercial Farm Consultant

SEKALI LAGI TENTANG STRES: “HANTU” PADA AYAM MODERN

Stres juga merupakan suatu bentuk mekanisme pertahanan tubuh ayam dalam menyikapi kondisi sekitarnya diluar “zone of comfort” yang dibutuhkan ayam. (Foto: Istimewa)

Oleh:
Tony Unandar (Private Poultry Farm Consultant-Jakarta)

Topik “stres” pada ayam modern ternyata tak lekang oleh waktu. Tidak hanya lekat dengan para praktisi perunggasan lapangan, tetapi juga menarik perhatian kaum peneliti fisiologi unggas modern untuk mencari jalan keluar mengatasi dampak negatif yang ditimbulkannya. Lantaran terbatasnya halaman yang tersedia, maka tulisan ini hanya menyoroti secercah deskripsi tentang stres, sumber penyebab kejadian stres (stresor), dampaknya pada ayam modern, serta strategi yang adekuat untuk mereduksi potensi kerugian yang akan terjadi.

Dalil Tentang Stres
Terminologi stres dikenal dalam ranah fisiologi dan kesehatan manusia, baik kesehatan tubuh maupun mental, sejak Dr Janos Hugo Bruno “Hans” Selye (1907-1982) untuk pertama kali memaparkan dalilnya melalui sebuah tulisan ilmiah berjudul “General Adaptation Syndrome” (GAS) dalam majalah Nature 138 (32) pada tahun 1936. Dan sebagai pelopor riset terkait stres pada manusia, dokter yang berkebangsaan Austria ini telah menulis lebih dari 1.700 tulisan ilmiah dan 39 buah buku. Tiga buah diantara bukunya yang terkenal adalah (1) Stress without Distress-1974, (2) Stress in Health and Disease-1971 dan (3) The Stress of Life-1956.

Menurut dalil atau postulat Hans Selye, stres adalah serangkaian respon fisiologis dan psikologis tubuh yang bersifat sistemik terhadap situasi yang mengancam atau menantang (selanjutnya disebut stresor atau “stimuli”) dan membutuhkan beberapa jenis tuntutan serta tahapan atau taraf untuk penyesuaiannya. Rangkaian respon tersebut melibatkan dua buah sistem regulatori utama tubuh (sistem neuroendokrin) yaitu: (a) sistem syaraf otonom (autonomic nervous system/ANS), khususnya sistem syaraf simpatis dan (b) sistem hormonal (endocrine system/ES), khususnya poros HPA (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal Axis). Karena latar belakangnya seorang dokter, maka pada periode-periode selanjutnya beliau mengembangkan teori bagaimana stres bisa mencetuskan beberapa bentuk penyakit pada tubuh atau somatis dan problem kejiwaan (psychosomatic diseases).

Berdasarkan teori GAS, dalam menyikapi adanya stimuli atau stresor tertentu, maka biofisiologis tubuh umumnya akan berespon melalui tiga taraf, yaitu:

a. Alarm Stage (Taraf Peringatan). Taraf ini biasanya berlangsung relatif singkat, dimana tubuh secara langsung menanggapi setiap stimuli atau stresor terutama dengan sistem syaraf simpatis dan poros HPA yang diikuti oleh sekresi sejumlah katekolamin dan kortisol pada level ringan sampai sedang. Dalam kondisi ini tubuh mencoba menata ulang prioritas yang akan dilakukan terhadap stresor yang ada, apakah reaksinya dapat berupa Fight (melawan) atau Flight (menghindari) terhadap stimuli yang ada. Pada taraf ini, umumnya kinerja sistem syaraf simpatik lebih dominan dibanding dengan kinerja sistem hormonal poros HPA. Jika stimuli atau stresor bisa diatasi atau sudah tiada lagi, maka tubuh perlahan-lahan akan kembali ke kondisi level normal.

b. Resistance Stage (Taraf Perlawanan). Taraf ini terjadi biasanya jika pada “taraf peringatan” stresor belum dapat diatasi atau diadopsi oleh individu yang bersangkutan. Pada taraf ini tubuh meningkatkan kemampuan untuk melawan stresor yang ada melalui peningkatan rangsangan fisiologis pada level sedang sampai berat, namun realitanya kemampuan tubuh untuk menahan stresor tersebut perlahan-lahan sudah berkurang.

c. Exhaustion Stage (Taraf Kepayahan/Kelelahan). Pada taraf ini biasanya sudah terjadi penipisan… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer