-->

ASOHI RIAU SUMBANGKAN RATUSAN LITER DESINFEKTAN

Penyerahan bantuan desinfektan oleh ASOHI Riau. (Foto: Infovet/Sadarman)

Wabah pandemi COVID-19 telah memapari hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Wabah ini pun telah ditetapkan pemerintah sebagai wabah nasional, sehingga ajakan pemerintah untuk bersama melawannya patut diapresiasi dengan beragam kegiatan.

Himbauan seperti mencuci tangan sesering mungkin dengan sabun, atau menggunakan hand sanitizer, melakukan desinfeksi, berdiam diri dan beraktivitas di rumah, digalakkan untuk menekan penyebaran virus. 

Saling bahu-membahu menjaga kebersihan lingkungan dari COVID-19 menjadi prioritas. Hal itu seperti yang dilakukan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Daerah Riau yang turut menyumbangkan desinfektan kepada Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Riau. Penyerahan bantuan dilakukan di Klinik Drh Syafiq Riyadi Kota Pekanbaru, Selasa (21/4/2020).

Pada kesempatan tersebut Ketua ASOHI Riau, Drh Musran, menyatakan bahwa COVID-19 merupakan kasus baru yang sampai saat ini belum ditemukan vaksinnya dan obat yang digunakan belum spesifik. Sehingga himbauan untuk mengintensifkan tindakan pencegahan seperti menjaga kebersihan diri dan lingkungan, meningkatkan imun tubuh dengan makanan bergizi, mutlak harus dilakukan.

“Kita tidak bisa main-main dengan wabah ini, khususnya untuk orang yang punya riwayat penyakit pernapasan, jantung dan penyakit lainnya yang berada dalam kondisi minim imunitas tubuh, mereka adalah yang paling rawan terpapar COVID-19,” kata Musran.

ASOHI Riau sendiri telah menyumbangkan sebanyak 60 liter desinfektan yang dihimpun dari berbagai perusahaan obat hewan yang beroperasi di wilayah Riau dan sekitarnya.

Apresiasi pun disampaikan oleh Drh Syafiq kepada perusahaan obat hewan  yang telah ikut berpartisipasi mendukung Pemerintah Riau dalam melawan COVID-19. “PDHI akan menyalurkan sesuai dengan yang diamanatkan oleh ASOHI, sehingga desinfektan tersebut penyalurannya tepat sasaran,” katanya.

ASOHI Riau juga membagikan sekitar 40 liter desinfektan ke Desa Pandau Jaya, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar pada hari berikutnya Rabu (22/4/2020). Kepala Desa Pandau Jaya, Firdaus Roza menerima secara keseluruhan bantuan tersebut. “Ini jelas bermanfaat dan semoga dapat menurunkan kasus COVID-19 di wilayah kami,” kata Firdaus.

Terkait dengan aplikasi di lapangan, Drh Musran juga memberi edukasi langsung mengenai tata cara pemakaian desinfektan terkait dosis dan lokasi-lokasi yang perlu didesinfeksi.

“Kami menghimbau untuk melakukan desinfeksi pada lokasi yang benar-benar sering bersentuhan dengan masyarakat, seperti fasilitas umum, pagar dan bagian pintu suatu bangunan atau spesifiknya rumah,” tandasnya. (Sadarman)

UNIK, PETERNAKAN AS SEWAKAN HEWAN SECARA VIRTUAL

Foto: Peace N Peas Farm Facebook Fanpage



Hiburan terbatas selama lockdown membuat banyak orang mencari cara untuk menghilangkan kebosanan. Salah satunya perternakan di North Carolina yang membawa hewan-hewan menjelajahi internet untuk memberikan hiburan.

Peace N Peas Farm membuat sebuah penyewaan hewan untuk acara virtual yang semakin marak dilakukan karena penutupan yang dilakukan pemerintah. Bagi yang ingin menyewa hewan secara virtual, mereka bisa menggunakannya sebagai kebutuhan apa saja.

Contohnya adalah menempatkan keledai bernama Mambo untuk hadir dalam rapat kerja.  Mereka bisa menjadi hiburan dengan tingkah lakunya ketika para manusia terjebak dalam pertemuan virtual yang melelahkan. "Saya pikir itu akan membuat beberapa orang tertawa," kata pemilik Peace N Peas Farm Mark Dunlap.

Selain keledai berusia delapan tahun, Peace N Peas Farm memiliki beberapa hewan lainnya yang dapat dimunculkan di layar. Peternakan ini memiliki tiga kuda bernama Heiren, Zeus, dan Eddie bersama dengan beberapa ayam dan bebek.

Dikutip dari Charlotte Observer, dengan biaya 50 dolar AS penyewa virtual dapat menghadirkan hewan-hewan itu di layar mereka selama 10 menit. "Hewan itu akan muncul selama lima atau 10 menit pertama sehingga mereka benar-benar bisa akrab dengan pertemuan mereka," kata Dunlap.

Orang-orang tersebut pun bisa memberikan nama sesuka hati untuk hewan yang muncul virtual ini. Cara ini dinilai ampuh memberikan kedekatan dan menimbulkan hiburan untuk penyewanya.

Situs yang mulai beroperasi sejak 18 April ini juga telah dimanfaatkan oleh tenaga pengajar untuk mendukung materi para murid. Hewan-hewan itu disewa secara virtual untuk bergabung di dalam kelas daring. (Sumber: republika.co.id)

AGAR AI TIDAK KERASAN

Wabah AI di Indonesia kini tidak hits seperti pada masa awal mewabah. Namun hal tersebut bukan berarti peternak bisa lengah terutama dalam unsur pemeliharaan ayam. (Sumber: Istimewa)

Sebagai negara dengan iklim tropis, pastilah mikroorganisme patogen kerasan tinggal di Indonesia. Bukannya tanpa daya dan upaya, berbagai cara telah dilakukan oleh seluruh stakeholder dalam mengendalikan Avian Influenza (AI) dan teman-temannya. Lalu seberapa efektifkah upaya tersebut?

Memang jika dilihat lebih lanjut persoalan wabah AI di Indonesia kini tidak hits seperti pada masa awal AI mewabah. Namun hal tersebut bukan berarti peternak bisa lengah terutama dalam unsur pemeliharaan. Semakin zaman berubah, bibit-bibit penyakit juga akan berubah menyesuaikan dirinya dalam upaya survival layaknya manusia. Oleh karenanya, upaya pencegahan perlu dilakukan secara maksimal, berkesinambungan dan konsisten.

Upaya Pencegahan AI 
Dalam mengendalikan AI, idealnya memang harus dilakukan secara menyeluruh. Stamping out dan depopulasi selektif seharusnya dilakukan, namun risikonya akan ada kerugian ekonomi dari peternak akibat depopulasi akan sangat besar, pemerintah juga pasti tidak akan mampu memberikan kompensasi. Pada saat AI mewabah 2003 lalu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 96/Kpts/PD.620/2/2004 telah menetapkan sembilan langkah strategis dalam mengendalikan AI, diantaranya: 

1. Meningkatkan biosekuriti pada semua aspek manajemen
2. Depopulasi secara selektif kelompok ayam/unggas yang terinfeksi virus AI
3. Stamping out kelompok ayam/unggas pada daerah infeksi baru
4. Vaksinasi terhadap AI
5. Kontrol lalu lintas unggas, produk asal unggas dan produk sampingannya
6. Surveilans dan penelusuran kembali
7. Mengembangkan penyadaran masyarakat
8. Re-stocking
9. Monitoring dan evaluasi

Direktur Kesehatan Hewan, Kementan, Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa, mengatakan bahwa pada dasarnya pemerintah juga menerapkan konsep… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2020) (CR)

SOLIDARITAS PETERNAK AYAM RAS, KEMENTAN GANDENG KERJASAMA DENGAN ORGANISASI PETERNAK RAKYAT

Acara penandatanganan kerjasama Kementan dengan perusahaan integrator perunggasan (Foto: Humas Kementan)

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melakukan kerjasama dengan PT Universal Agri Bisnisindo, Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) dan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) dalam pembelian ayam ras siap potong.

Kerjasama tersebut dilaksanakan sebagai upaya pemerintah dalam membantu peternak mandiri supaya bisa menyerap ayam ras pedaging (livebird) serta upaya peningkatan pemasaran hasil peternakan.

Seperti diketahui, harga ayam hidup di peternak sedang menurun hingga ke angka Rp. 4000. Hal itu dikarenakan karena berkurangnya minat warga akibat pandemi Covid-19. Sedangkan panen ayam sedang mengalami kenaikan berlimpah. Itulah yang menyebabkan harga ayam cenderung menurun.

"Sesuai arahan dari Bapak Menteri bahwa setiap hasil rapat agar tidak hanya di atas kertas saja, tetapi harus langsung dieksekusi," kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, I Ketut Diarmita saat Penandatanganan Kerjasama, Senin, (20/42020).

Sebagai informasi, harga rata-rata daging ayam di tingkat konsumen saat ini terus berubah. Di Banten misalnya, harga di sana mencapai Rp. 33,955 per kilogram. Di Jawa Barat Rp. 30,140 per kilogram, Jawa Tengah Rp. 28, 445 per kilogram, DIY 28, 650 per kilogram dan Jawa Timur Rp. 26,510 per kilogram.

"Artinya harga di konsumen tidak turun sebesar harga di peternak. Dan ini masih normal," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Ketut juga mengapresiasi kepada seluruh integrator yang telah berkomitmen melaksanakan apa yang sudah menjadi kesepakatan dengan Ditjen PHK dalam membantu para peternak mandiri.

Tercatat, telah terkumpul 23 perusahaan yang akan membantu penyerapan livebird. Dari jumlah tersebut, 15 perusahaan telah berkomitmen akan menyerap livebird yang khusus ada di pulau Jawa. Jumlah kesanggupan pembelian livebird ada 4 juta ekor kurang lebih. 8 perusahaan akan segera menyusul.

"Ditengah pancemi Covid-19 kami terus berupaya mengambil langkah inovatif demi menjaga peternak mandiri dan juga memastikan pendistribusian daging ayam aman hingga ke tangan masyarakat," katanya.

Sementara itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang diwakili oleh Sekretaris Jenderal Kementan, Momon Rusmono menyampaikan kepada seluruh jajaran Kementan agar tidak mundur dalam menjaga ketersediaan pangan di tengah pandemi Covid-19.

Selain itu, Kementan juga harus memastikan stabilisasi harga bahan pangan dalam waktu yang cepat. Kata Momon, masyarakat tidak boleh disulitkan dengan harga pangan yang melonjak.

"Caranya kita harus menjaga kerjasama dengan stakeholder lain dan terus meningkatkan komunikasi. Kalau melihat data dari 11 komoditas utama yang ada, Insya Allah, semua aman sampai Agustus mendatang. Mudah-mudahan upaya yang kita lakukan ini bisa diatasi bersama selama kita bekerja keras," tutupnya. (Rilis/INF)

KEMENTAN GANDENG TOKOPEDIA FASILITASI PENJUALAN PRODUK PETERNAKAN


Penandatanganan MoU Ditjen PKH Kementan dengan Tokopedia (Foto: Dok. Kementan)


Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) menggandeng perusahaan e-commerce Tokopedia sebagai akses ke pemasaran online. Kerja sama tersebut dilakukan untuk memfasilitasi produk peternakan yang dikelola mandiri maupun oleh para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Dirjen PKH Kementan, I Ketut Diarmita mengatakan jalinan kerja sama ini diyakini dapat meningkatkan pemasaran produk pertanian serta memutus rantai panjang yang menghambat penjualan.

"Terpenting adalah kerja sama ini bisa meningkatkan pendapatkan para peternak mandiri," ujar Ketut saat melakukan pendatanganan nota kesepakatan (MoU) dengan Tokopedia di Jakarta, Senin (20/4/2020).

Seperti diketahui, Kementan juga melakukan penandatanganan kerjasama dengan penyedia jasa layanan pemasaran online seperti perusahaan Blibli, Gojek dan Grab. Selain itu, kerja sama juga dilakukan dengan mitra peternakan usaha daging dan telur unggas termasuk ayam ras, daging sapi dan susu dengan perjanjian percepatan pendistribusian ke masyarakat yang saat ini sebagian besar berada di rumah.

"Selain itu, kami juga melakukan perjanjian dengan perusahan start up dalam upaya mencarikan peluang pasar bagi para peternak agar dapat meningkatkan pendapatan mereka," kata Ketut.

Semua upaya ini, menurut Ketut, dilakukan sembari menunggu pelaksanaan rencana pembelian 12 juta ekor ayam ras boiler yang sudah sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020.

Sementara itu, salah satu pelaku UMKM pengolahan daging ayam, Devi Maharani, mengaku tertolong dengan terjalinnya kerjasama antara Kementan dan Tokopedia. Ia berharap kerjasama tersebut dapat memudahkan penjualan hingga ke seluruh elemen masyarakat.

"Dengan kerjasama ini sayang tertolong sekali, karena bisa mendongkrak orderan melalui Tokopedia. Saya harap kerjasama ini terus berlanjut sampai berakhirnya masa pandemi Covid-19," tutur Devi. (Rilis/INF)

PERKEMBANGAN KASUS AI TERKINI

Penggunaan vaksin kill AI H5N1 sangat membantu memberi perlindungan dan tentu saja didukung dengan antigenic matching dari seed vaksin kill yang digunakan. (Foto: Dok. Infovet)

Akhir-akhir ini banyak diperbincangkan maraknya kasus penurunan produksi telur baik di ayam layer komersial ataupun di ayam pembibit. Banyak informasi yang bermunculan dengan merebaknya kasus tersebut dan kadangkala mengarah ke virus tertentu (H9N2 misalnya), tanpa didasari peneguhan diagnosis rinci mulai dari anamnesa, pemeriksaan gejala klinis, patologis dan didukung dengan pemeriksaan laboratorium. Untuk itu penulis akan mencoba menyegarkan kembali dengan memberikan update informasi perkembangan terkini AI (Avian influenza) yang menyebabkan gangguan produksi dan kematian tinggi di Indonesia berikut langkah-langkah diagnosisnya.

Peta kasus penyakit di wilayah Sumatra dan Jawa.

Data dari PT Ceva Animal Health yang dikumpulkan sepanjang 2019 (sampai November) menunjukkan kejadian AI pada peternakan layer komersial masih banyak terjadi di wilayah Jawa Timur. AI menduduki peringkat kedua setelah penyakit ND (Newcastle disease). Hal ini tentunya menjadi perhatian khusus bagi masyarakat peternak untuk lebih waspada dan fokus dalam pengendaliannya.

Virus AI dari berbagai subtipe dapat menimbulkan penyakit dengan derajat keparahan yang berbeda, mulai dari penyakit yang menyebabkan mortalitas tinggi dengan kematian mendadak tanpa didahului gejala klinis tertentu, atau hanya menunjukan gejala ringan sampai pada bentuk penyakit yang sangat ringan atau tidak tampak secara klinis.

Penyakit AI sendiri  akhir-akhir  ini menjadi primadona dan banyak diperbincangkan, tidak hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Pada Agustus 2017 lalu, pemberitaan tentang teridentifikasinya virus AI H5N1 di Filipina juga tidak luput menjadi perbincangan, sedangkan di Indonesia sendiri virus H9N2 lebih banyak dibicarakan porsinya dibandingkan H5N1, karena ada beberapa laporan baru mengenai teridentifikasinya virus ini di lapangan. Penyakit AI secara garis besar dikategorikan menjadi dua, yaitu Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI), misal H5N1 dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI), misal H9N2.

Highly Pathogenic Avian Influenza 
Sudah lama diketahui, bahwa ayam petelur yang mendapatkan serangan virus H5N1 akan mengalami gangguan produksi telur. Variasi gejala dan tingkat kematian yang muncul pada ayam masa produksi sangat tergantung kekebalan ayam, kepadatan virus yang menantang dan kondisi umum ayam.

Virus H5N1 akhir ini didominasi dari grup clade 2.3.2.1 yang menjadi ancaman bagi ayam petelur di Indonesia. Tidak jarang gejala yang muncul hanya penurunan produksi telur tanpa ada kematian, hal ini salah satunya diakibatkan… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2020)

Ditulis oleh:
Drh Sumarno, Senior Manager AHS
& Han han, praktisi peternakan layer Rehobat

LONG EGG, OLAHAN TELUR PENUH GIZI DAN MUDAH DIBUAT



Long egg telur ayam (Foto: Istimewa)

Long egg merupakan olahan telur penuh gizi yang dimasak dalam tabung silinder atau bambu sehingga berbentuk memanjang seperti tabung, bertekstur kompak, dan rasanya lebih mantap dibandingkan dengan telur rebus dengan cangkangnya. Olahan telur ini dapat dikombinasi dengan variasi bumbu dan mudah dibuat. Biaya produksinya pun relatif murah dan dapat digunakan sebagai salah satu peluang usaha bagi kelompok.

Kepala Laboratorium Teknologi Susu dan Telur Fakultas Peternakan UGM, Prof Dr Ir Nurliyani MS, IPM ketika dihubungi pada Sabtu (18/4/2020) mengatakan bahwa telur merupakan sumber protein hewani yang mudah dicerna dan sangat bagus dikonsumsi oleh anak-anak sehingga dapat mencegah stunting. Telur juga sangat bagus dikonsumsi oleh orang-orang dalam proses penyembuhan dari sakit dan orang-orang lanjut usia yang umumnya kesulitan mencerna dan menyerap makanan.

Nilai kalori telur yang rendah sangat cocok dikonsumsi oleh individu yang memiliki masalah kelebihan berat badan. Namun, perlu diperhatikan cara mengolah telur agar mendapatkan gizi yang optimal. Telur yang direbus dalam waktu yang tepat merupakan salah satu cara untuk mendapatkan gizi yang bagus. Long egg rebus merupakan salah satu contoh olahan telur dengan waktu yang relatif singkat (sampai telur sudah mengental/matang) sehingga dapat mempertahankan nilai gizinya.

Long egg dapat dibuat dari telur ayam atau telur bebek. Cara membuat long egg sangat mudah.

1. Pertama, pisahkan kuning dan putih telur kemudian masing-masing dikocok.
2. Selanjutnya, siapkan dua tabung bambu berdiameter berbeda dan dilapisi aluminium foil yang panjangnya melebihi panjang bambu agar telur tidak lengket.
3. Tutup ujung bambu bagian bawah. Masukkan bambu berdiameter kecil ke dalam bambu diameter besar.
4. Masukkan putih telur ke dalam bambu berdiameter besar dan masukkan ke dalam panci berisi air, kemudian panaskan. Setelah putih telur menggumpal, keluarkan bambu diameter kecil dan selanjutnya isi dengan kuning telur hingga matang.
5. Telur dikeluarkan dengan cara menarik aluminium foil. Long egg dapat juga dibakar di atas bara api (arang) dengan langkah yang sama seperti long egg rebus.

Setelah matang, long egg didinginkan, kemudian diiris-iris dan dapat langsung dikonsumsi atau digunakan sebagai tambahan dalam sup atau mie rebus. Long egg juga dapat dibuat menjadi berbagai masakan, misalnya balado, pepes, steak, asam manis, dll. Jika tidak langsung dikonsumsi, long egg dapat disimpan di dalam lemari es.

Praktik pembuatan long egg telah dilaksanakan di kelompok Program Kesejahteraan Keluarga di dusun Karangturi, Baturetno, Banguntapan, Bantul pada 2019.  Daerah ini memiliki potensi lokal berupa telur dari ayam dan itik yang dipelihara oleh warga. Program ini bertujuan mengenalkan aneka olahan telur kepada warga dan membuka wawasan tentang peluang usaha olahan telur.

Berkreasi membuat long egg merupakan salah satu aktivitas yang dapat dilakukan di rumah selama terjadi pandemi Covid-19. Selain dikonsumsi sendiri, long egg dapat juga dijual dengan dikemas secara menarik. (Rilis/INF)

UPAYA KEMENTAN INTERVENSI HARGA AYAM

Harga daging ayam broiler di tingkat pedagang tinggi, berkebalikan dengan harga ayam hidup di tingkat peternak

Kementerian Pertanian (Kementan) membahas persoalan pangan bersama Komisi IV DPR RI melalui rapat virtual, Kamis (16/4). Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memaparkan beberapa persoalan pangan yang tengah dihadapi Indonesia. Salah satunya harga ayam yang anjlok

Syahrul menuturkan bahwa persoalan stabilitas harga pangan sebenarnya bukan ranah Kementan. Tugas Kementan adalah menggenjot produksi pangan. Sedangkan masalah distribusi, rantai pasokan, dan stabilitas harga adalah urusan Kementerian Perdagangan (Kemendag). Namun, ia menilai jika menunggu intervensi kebijakan dari Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, maka harga ayam akan semakin anjlok. 

"Kalau saya menunggu Menteri Perdagangan untuk mengatur stabilisasi harga, harga akan jatuh" tegasnya di depan Komisi IV DPR RI..

Syahrul menyampaikan secara terang-terangan tupoksi kerja Kementerian Pertanian dalam rangka stabilitas ketersediaan pangan, sebetulnya tidak sampai intervensi harga pangan di pasaran.

"Saya ingin sampaikan, sebenarnya begini urusan stabilisasi harga bukan tupoksi kita. Sebenarnya tupoksi yang ada di kementerian lain. Tetapi kalau kami biarkan ini terus terjadi maka harga akan hancur totally di bawah," ungkapnya.

Sejauh ini Kementan telah berupaya untuk melakukan intervensi dalam skala kecil untuk mempermudah ketersediaan pangan melalui Toko Tani. Meski demikian, Toko Tani tidak memiliki kekuatan yang besar dalam meredam gejolak harga di pasaran.

"Oleh karena itu kami kerja sama dengan startup untuk 11 komoditi dan itu hanya bisa menstabilisasi antara harga yang ada," imbuhnya.

Dirinya juga menyebut persoalan pangan selain harga ayam, yaitu impor daging kerbau. Syahrul mewanti-wanti ketersediaan daging menjelang puasa dan Lebaran akan berpotensi terganggu. Sebab saat ini pasokan daging impor masih terkendala di India yang masih memberlakukan kebijakan lockdown

"Khusus daging, daging sampai lebaran Insyaallah kita masih bisa andalkan lokal, walaupun ini akan terseok-seok," katanya. (CR)

PETERNAK MADIUN BAGI AYAM GRATIS

Warga berebut "bantuan" ayam dari peternak di Madiun

Lagi - lagi pil pahit terpaksa ditelan oleh peternak. Parahnya kini, selain berkutat dengan masalah fluktuasi harga, secara tidak langsung pendapatan mereka berangsur menurun akibat wabah Covid-19.

Seperti yang dilakukan oleh peternak ayam broiler di Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Mereka membagikan ribuan ayam secara gratis, menyusul anjloknya harga ayam sejak pertengahan 2019 hingga saat ini.

Di Pasar Dungus, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Kamis (16/4/2020), sejumlah peternak mulai membagi-bagikan ayam secara gratis, warga di sekitar pasar pun terlihat antusias menerima "bantuan" ayam tadi.

Setidaknya delapan mobil pick up dikerahkan untuk mengangkut sekitar 2.000 ekor ayam broiler hidup. Setelah mobil terparkir, ratusan warga berlari mendekat hingga berdesak-desakan berebut mengambil ayam.  Pengambilan ayam tidak dibatasi. Rata-rata warga mengambil dua hingga tiga ekor. 


"Harga ayam hidup di kandang saat ini sangat hancur sampai kami tidak mampu membeli pakan. Harga saat ini sebesar Rp 6.000 per kilogram. Sementara harga pokok penjualan (HPP) sesuai peraturan menteri pertanian paling rendah Rp 17.000 per kilogram," ujar Yusak Dwi Prasetyo, salah satu peternak ayam di Kabupaten Madiun.

 Aksi bagi-bagi ayam gratis sebagai bentuk wujud keresahan peternak ayam yang tidak mampu lagi berpoduksi jika harga masih jauh di bawah standar. Peternak lebih baik membagikan ayam itu gratis kepada masyarakat daripada membiarkan ribuan ayam mati kelaparan karena tidak diberi makan.

"Lebih baik kami bagikan ayam ini gratis kepada masyarakat agar bisa dinikmati," ungkap Yusak.  Bila tidak ada perubahan harga dalam waktu dekat, peternak akan kembali membagikan ribuan ayam kepada masyarakat.

Harapannya, aksi bagi ayam gratis dapat membuka mata pemerintah bahwa peraturan yang dibuat tidak berjalan efektif di lapangan. Salah satunya peraturan pemerintah yang mengatur harga ayam hidup ambang terendah di kandang sebesar Rp 17.000 per kilogram. Para peternak pun kebingungan dengan jatuhnya harga ayam hidup di lapangan. Pasalnya harga eceran daging ayam di pasar tetap stabil diatas Rp 20.000.

"Semestinya bila harga di kandang Rp 6.000 perkilogram maka harga daging ayam seharusnya Rp 15.000 perkilogramnya," jelas Yusak.

Senada dengan Yusak, Suwito peternak ayam lainnya menyatakan harga ayam hidup makin anjlok setelah wabah corona melanda Indonesia. Bahkan selama beternak ayam belasan tahun, harga ayam hidup terendah mencapai Rp 6.000 per kilogram, jauh di bawah harga standar.

"Harga ayam hidup makin hancur setelah wabah corona terjadi. Banyak peternak ayam gulung tikar karena tidak kuat menanggung beban biaya pakan dan operasional," jelas Suwito.

Suwito mengatakan harga ayam hidup mulai jatuh sejak pertengahan 2019. Harga ayam makin anjlok setelah masuk awal tahun 2020. Menurut Suwito, saat ini masih ada peternak yang bertahan lantaran menghabiskan stok ayam hidup. Suwito berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk menyelamatkan peternak ayam. (CR)






AVIAN INFLUENZA, BAGAIMANA RIWAYATMU KINI?

Walau serangan AI tidak seganas dulu, namun kewaspadaan terhadapnya harus selalu dilakukan. (Sumber: Istimewa)

Tiada hari tanpa Corona, setidaknya itulah yang masih menjadi headline di media massa beberapa waktu belakangan ini. Namun begitu, Indonesia pernah beberapa kali dikejutkan dengan adanya outbreak penyakit, yakni Avian Influenza (AI). Namun kini AI terasa menguap, kemanakah ia kini?

Sejak 2003 lalu AI telah eksis di Indonesia, saat itu terjadi wabah penyakit yang menyebabkan kematian mendadak pada unggas dengan gejala klinis seperti penyakit tetelo (Newcastle Disease/ND). Sampai akhirnya kemudian didalami bahwa wabah tersebut disebabkan oleh penyakit baru bernama AI dari subtipe H5N1.

AI memiliki sejarah panjang di Indonesia, jenisnya pun juga bervariasi bukan hanya subtipe H5N1 saja. Secara perlahan tapi pasti, AI menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Awalnya mungkin hanya virus dari subtipe H5N1, kemudian ada varian clade dari H5N1, hingga kini ada juga H9N2 yang disebut-sebut sebagai low pathogenic AI, dimana awalnya wabah H9N2 terjadi pada ayam petelur dan kini H9N2 juga “doyan” menginfeksi broiler.

Tak Seganas Dulu
Divisi Technical Education & Consultation PT Medion, Drh Christina Lilis, menyatakan bahwa penyakit AI H9N2 yang dulunya ditemukan di layer, sekarang sudah ditemukan di broiler. Biasanya memasuki umur 21 hari sampai puncak produksi, penyakit H9N2 ini akan menyerang. Ia juga menegaskan, di luar negeri virus AI H9N2 ini lebih menjadi momok ketimbang H5N1.

Lebih lanjut dijelaskan bahwasanya kejadian AI di Indonesia saat ini masih ada walaupun kasusnya tidak semarak dulu pada masa awal “kejayaan” AI.

“Kami ada beberapa laporan dari tim kami, di berbagai daerah ada, cuma tidak heboh seperti dulu, dan lagi kasusnya bisa dibilang cenderung turun, namun begitu kita tetap harus waspada,” tutur Lilis.

Hal senada juga disampaikan oleh salah satu peternak layer asal Blitar, Sunarto. Ia mengatakan bahwa AI masih ada di beberapa wilayah di daerahnya. Ia mengonfirmasi bahwa beberapa titik di Blitar masih dihantui AI, baik H5N1 maupun H9N2.

“Bukan di peternakan saya, tetapi di sekitaran sini masih ada, walaupun enggak banyak. Saya tahu itu AI karena ada hasil laboratoriumnya dan kata dokter hewannya begitu,” ujar Sunarto.

Ia juga menyebut bahwa kemunculan AI dikhawatirkan akibat adanya perubahan dari musim kemarau ke penghujan. Selain itu adanya heat stress yang muncul akibat cuaca panas yang mencapai suhu 36-39 °C yang terjadi beberapa bulan lalu, sehingga memicu munculnya penyakit AI di wilayah Blitar.

Kendati demikian, Sunarto juga mengonfirmasi bahwa kasus AI yang terjadi hanya tentatif saja. Karena ketika begitu para peternak mendengar ada populasi ayam yang mati mendadak atau turun produksinya, mereka langsung… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2020) (CR)

PERANGI COVID-19, ASOHI TELAH SALURKAN 12,8 JUTA LITER DESINFEKTAN KE PENJURU INDONESIA

Penyerahan bantuan desinfektan dari ASOHI Jabar ke Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (Foto: Istimewa)

Indonesia masih berjuang melawan pandemi Covid-19 sampai saat ini. Baik pemerintah, organisasi kemasyarakatan, komunitas, LSM  bersama-sama bergerak menggalang donasi.

Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) pusat dan daerah, secara serentak dimulai Maret dan masih berlangsung hingga 14 April telah menyalurkan bantuan berupa desinfektan sebanyak 2558 liter atau setara 12,8 juta liter RTU (ready to use).

Selain desinfektan, ASOHI juga mendistribusikan bantuan hand sprayer, telur dan hand sanitizer. Seperti pada 6 April lalu di Karanganyar, Surakarta yang diinisiasi ASOHI Jateng.

Penyerahan bantuan dari ASOHI Sumatera Barat (Sumbar) sebanyak 200 liter desinfektan. ASOHI Sumbar menggandeng PINSAR menyumbangkan 10.000 butir telur dan 200 APD, diterima langsung oleh Gubernur Sumbar Prof Dr H Irwan Prayitno MSi.
Irawati Fari

“Aksi sosial ini mulanya berangkat dari ide rekan-rekan di ASOHI pusat, kemudian kami menyampaikan surat resmi ke ASOHI daerah untuk ditindaklanjuti,” ungkap Ketua Umum ASOHI, Drh Irawati Fari dihubungi Infovet, Selasa (14/4/2020). 

Ira mengatakan sangat bahagia dengan respon para pengurus ASOHI daerah yang cepat bergerak turun ke masyarakat untuk memberikan bantuan.

“Dalam kondisi pandemi ditambah dengan pemberlakuan PSBB, kami mengajak para stakeholder di bidang peternakan dan obat hewan untuk patuh pada kebijakan pemerintah,” kata Ira.

Lanjutnya, ASOHI dalam hal ini terus meningkatkan perannya dalam mendukung pelaku usaha obat hewan memaksimalkan produksi serta jalur pendistribusian obat hewan maupun vitamin untuk hewan ternak.


Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Dr Drh I Ketut Diarmita MP dihubungi Infovet, Kamis (16/4/2020) menyatakan pihaknya sangat mengapresiasi.

“Kegiatan ASOHI Peduli Pandemi Covid-19 ini adalah aksi  sosial yang sangat menolong bangsa dan negara kita yang tengah kesulitan. Sekecil apapun bantuan kita di saat saat seperti ini, tentu sangat bermanfaat. Semoga penuh berkat dan rahmat dari-Nya. Amiin,” ungkap Ketut. (NDV)





MENYIKAPI PENYAKIT DEMAM TIGA HARI PADA PETERNAKAN SAPI

Kejadian BEF pada induk sapi BX bunting di lahan sawit. (Foto: Dok. Joko Susilo)

Fan Lee dari Animal Health Research Institute, Taiwan (Bagian Epidemiologi) menulis jurnal tentang Bovine ephemeral fever di Asia: Status saat ini dan Pemetaanya pada Mei 2019. Demam tiga hari (Bovine ephemeral fever/BEF) pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1919, yang merupakan outbreak penyakit BEF pertama pada sapi perah di Jawa Barat. Pada 1928-1931 kasus dilaporkan epidemi di Wilayah Sumatra. Kejadian outbreak dilaporkan di Jawa Timur pada 1978, dan kasus penyakit terjadi hingga 1985 dan terkadang menimbulkan tingkat kematian tinggi, serta di Kalimantan terjadi pada 1991. Surveilans serologis pada 1979 mendeteksi tingginya prevalensi kasus seropositif BEF (78,9%) pada sapi di Jawa dan Bali. Surveilans serologis yang dilakukan sejak 1987 dan 1990 juga mendeteksi seropositif BEF dengan prevalensi tinggi pada sapi-sapi Sentinel di perbatasan pulau Sumatra, Jawa, Bali, Timor, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Serokonversi  bersifat musiman, terutama terjadi pada musim dingin di Desember hingga Juni.

BEF pada sapi merupakan penyakit yang menduduki peringkat pertama laporan kasus penyakit di iSIKHNAS dari Regional III Pulau Sumatra bagian Selatan. Di empat wilayah dilaporkan sebanyak 479 kasus sejak Juni 2019 hingga awal 15 Februari 2020. Penyakit ini dilaporkan oleh petugas kesehatan hewan di Kabupaten/Kota di Provinsi Lampung, Sumatra Selatan, Bengkulu dan Bangka Belitung.

Kurva 1. laporan kasus penyakit di iSIKHNAS dari Regional III Pulau Sumatra bagian Selatan

Kurva 2. Kejadian penyakit ini menunjukan pola kurva epidemik yang hampir sama pola waktu, tempat dan ternak dari tahun ke tahun

Demam Tiga Hari di Tingkat Peternak
Kejadian penyakit ini menurut informasi dari dokter hewan dan petugas kesehatan hewan di lapangan terjadi hampir di seluruh kabupaten/kota di seluruh Lampung pada akhir 2019  sampai awal 2020. Tingginya laporan BEF dari salah satu kabupaten di Lampung berdasarkan data iSIKHNAS menginspirasi penulis untuk melakukan investigasi kasus ke kabupaten tersebut. Beberapa kegiatan dilakukan meliputi diskusi tentang kejadian penyakit dengan kepala bidang peternakan dan kesehatan hewan, medik veteriner dan paramedik veteriner. Dari hasil diskusi tersebut, diperoleh informasi bahwa kasus BEF terjadi hampir di semua kecamatan dengan prevalensi 2,5% (Juni 2019-Februari 2020). Kasus mulai meningkat pada Oktober 2019 dan secara signifikan mencapai puncaknya di Desember 2019 dan Januari 2020. Pola penyakit ini berulang dari tahun ke tahun sejak 2010 di kabupaten tersebut.

Kegiatan observasi lapangan dilakukan di tingkat peternak. Kasus ini terjadi pada hampir semua umur (sebagian besar pada sapi dewasa), breed dan jenis kelamin. Gejala BEF yang umum meliputi demam, hipersalivasi, tidak mau makan, kelumpuhan kaki, kelemahan alat gerak, sapi ambruk, ritme napas cukup cepat dan sebagian besar feses keras.

Adapun penanganan medis yang dilakukan dengan pemberian terapi suportif berupa multivitamin, penurun panas atau penahan rasa sakit. Sapi dengan gejala klinis tersebut dirawat dan diawasi maksimal, disediakan perkandangan yang nyaman, dengan alas tebal untuk menghindari luka gesekan dengan lantai, serta posisi duduk dibolak-balik secara periodik agar tidak rebah di satu sisi. Petugas medis berpengalaman akan memberikan bimbingan dan dukungan moral kepada peternak bahwa sapinya akan sembuh, tidak perlu dijual ke jagal.

Case fatality rate (persentase sapi mati atau dipotong-paksa dari seluruh sapi dengan gejala klinis) pada penyakit ini kurang dari 1%. Kegiatan lain yang dilakukan meliputi pengambilan sampel darah dan swab hidung untuk membuktikan apakah ada infeksi sekunder penyakit ngorok (septicaemia epizootica) dan Bovine viral diarrhea. Upaya yang dilakukan untuk pencegahan penularan penyakit ke sapi lain dengan melakukan fogging (pengasapan) untuk memberantas nyamuk Culicoides yang merupakan salah satu hewan penular ke ternak lain. Nyamuk Culicoides yang menggigit sapi terkena BEF, darah yang dihisap akan mengandung ribuan virus BEF. Kemudian nyamuk akan menularkan ke sapi lain dengan menggigit dan memasukan virus tersebut.

Penanganan kasus penyakit di masyarakat. (Foto: Dok. Joko Susilo)

Kasus di Peternakan Feedlot dan Breeding
Demam tiga hari juga merupakan penyakit musiman yang juga diinformasikan oleh beberapa pekerja di feedlot dan budidaya sapi. Saat musim hujan pada November-Februari, kejadian penyakit ini cenderung meningkat. Kejadian BEF di beberapa feedlot di Lampung terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Gejala klinis penyakit meliputi kondisi demam (suhu mencapai 42° C), lemah, tidak mau makan, mengalami pincang dan kekakuan alat gerak, terkadang sapi tidak mampu berdiri, hipersalivasi, kesulitan bernapas, gemetar, dehidrasi, keluar leleran dari hidung dan air mata.

Penyakit terjadi pada semua sapi fase penggemukan baik starter, grower ataupun finisher. Angka kematian dari beberapa literatur sangat kecil dengan angka kesakitan yang tinggi, namun jika penyakit ini terjadi pada feedlot ataupun breeding, case fatality rate-nya cukup tinggi dan dapat menimbulkan kerugian cukup besar. Kejadian potong paksa  3-7 ekor/hari dengan prevalensi yang cukup tinggi. Pada populasi 5.000 ekor, jika rata-rata potong paksa 4 ekor/hari selama satu bulan yaitu sejumlah 120 ekor, maka total potong paksa (case fatality rate) mencapai 2,4% dalam sebulan. Prevalensi kasus penyakit ini akan menjadi tinggi di peternakan karena beberapa hal. Pertama, jika virus BEF atau nyamuk penular bermigrasi melalui udara dari peternak rakyat masuk ke peternakan dan penanganan dengan fogging tidak dilakukan sebagai pencegahan. Kedua, jika beberapa ekor di populasi besar terkonsentrasi (feedlot) maka penularannya akan sangat cepat. Prevalensi penyakit yang tinggi ini membuat kepanikan luar biasa, sehingga banyak sapi dengan gejala klinis kemudian dilakukan potong paksa.

Beberapa langkah yang harus dilakukan feedlot untuk mencegah penyebaran penyakit dan menurunkan prevalensi kasus, diantaranya feedlot yang berada di daerah endemik harus selalu update informasi kejadian penyakit di peternakan rakyat, terutama pada saat musim hujan, kemarau atau peralihan. Pada saat penyakit terjadi di peternakan rakyat, maka langkah pertama melalukan penyemprotan serangga dan nyamuk di lingkungan kandang agar keberadaannya menurun atau memutus siklus hidup nyamuk, kemudian menjaga kebersihan kandang, menghindari genangan air dan lain sebagainya.

Kejadian di Integrasi Sapi Sawit
Penyakit BEF juga terjadi di salah satu peternakan model integrasi sapi-sawit dengan populasi 950 ekor. Luas lahan sawit untuk penggembalaan 2.200 hektare yang dibagi 50% untuk peternak di sekitar farm dan 50% lahan untuk sapi milik peternakan. Laporan dari humas peternakan tersebut menunjukan bahwa kejadian BEF di sekitar farm sudah terjadi sejak Desember 2019 kemarin. Walaupun kontak langsung dengan sapi milik peternak tidak terjadi, namun virus ini dapat menular melalui udara dan nyamuk.

Pada pertengahan Februari 2020, kurang lebih ada 10 ekor sapi di peternakan yang menunjukan gejala klinis BEF. Identifikasi dini dilanjutkan dengan pemberian terapi suportif menurunkan tingkat kesakitan dan meningkatkan kesembuhan. Sapi dengan gejala klinis yang sangat parah dipindahkan dari lahan grassing ke kandang perawatan intensif. Tindakan fogging dilakukan di sekitar kandang intensif dan juga sebagian di sekitar lahan sawit turut memberi manfaat cukup besar untuk pencegahan penyebaran penyakit.


Kerugian nyata akibat penyakit ini meliputi penurunan produksi (susu/daging), keguguran, meningkatnya biaya pengobatan, hingga kematian ternak. Ternak yang sakit dan dijual ke jagal dengan harga 50% dari harga normal. Penyakit ini memiliki pola epidemik yang selalu sama dari tahun ke tahun. Terjadi pada musim hujan (Oktober-Februari), merata hampir di semua wilayah dan menimbulkan kerugian nyata bagi peternak.

Terkait hal tersebut, sudah semestinya pemerintah mempertimbangakan kebijakan untuk melakukan program vaksinasi terhadap BEF. Di beberapa negara maju seperti Jepang, Amerika, Australia, Filipina, Turki, Israel, Kuwait, Oman, Bahrain, Saudi Arabia dan Mesir, sudah melakukan pemberian vaksin dan signifikan menurunkan kasus BEF. Efektivitas vaksinasi di lapangan dilaporkan mencapai 90% (2,9% morbiditas pada ternak yang divaksin, sebaliknya  24,9% pada ternak yang tidak divaksinasi) dan efektivitas yang sama juga ditunjukan pada infeksi alami 12 bulan setelah vaksinasi (Vanselow, B.A. et al., 1995). ***

Drh Joko Susilo MSc
Medik Veteriner, Balai Veteriner Lampung

EKSPOR PETERNAKAN TETAP BERGERAK, CAPAI RP 538 MILIAR

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpor, didampingi Dirjen PKH I Ketut Diarmita, saat melepas ekspor produk olahan ternak tahun lalu. (Foto: Infovet/Ridwan)

Di tengah pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini, ekspor sub sektor peternakan terus bergerak.

“Pada April 2020 terdapat beberapa perusahaan sektor peternakan yang telah memastikan akan melaksanakan ekspor ke beberapa negara dengan total nilai Rp 538,12 miliar,” kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita, Senin (6/4/2020).

Perusahaan-perusahaan yang telah melaporkan rencana ekspornya antara lain PT Sinar Indochem dan PT Charoen Pokphand Indonesia yang akan mengekspor pakan ke Timor Leste masing-masing sebanyak 240 ton dan 60 ton dengan nilai ekspor mencapai Rp 1,57 miliar.

Selain itu tercatat juga PT Greenfields Indonesia yang akan mengekspor susu dan produk olahan susu ke Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam sebanyak 417 ton dengan nilai mencapai Rp 5,67 miliar. Sementara PT Japfa Comfeed Indonesia akan mengekspor hatching egg sebanyak 625.000 butir ke Myanmar, serta day old chick (DOC) 18.000 ekor ke Timor Leste, dengan total nilai keduanya Rp 3 miliar.

Adapun perusahan yang memproduksi Sarang Burung Walet (SBW) yaitu PT Ori Ginalnest Indonesia juga akan mengekspor ke Amerika Serikat, China dan Australia sebanyak 780 kg dengan nilai sebesar Rp 24,96 miliar. 

Selain itu, ditambah juga beberapa perusahaan yang bergerak di industri obat hewan akan mengekspor vaksin dan biologik sebanyak 343.582.000 dosis, farmasetik dan premix sebanyak 23.922 ton ke China, Jepang, Australia dan ke lebih dari 30 negara lainnya. Nilai ekspor obat hewan tersebut mencapai Rp 502,66 miliar.

“Sesuai arahan Menteri Pertanian kita akan terus mendorong dan memfasilitasi ekspor. Berdasarkan data BPS, ekspor sub sektor peternakan pada Januari-Februari 2020 meningkat 30% dibandingkan tahun lalu pada bulan yang sama. Pada April ini terdapat beberapa perusahaan yang juga telah memastikan ekspor, diharapkan ini akan terus meningkat,” jelas Ketut. 

Sementara ditambahkan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Fini Murfiani, walau pandemi COVID-19 menyebar secara masif di dunia, memang membuat beberapa negara terdampak mengeluarkan kebijakan pembatasan keluar-masuknya barang dan manusia, bahkan ada yang mengambil kebijakan lockdown, hal ini membuat aktivitas perdagangan pun mengalami tekanan.

“Namun melihat pencapaian kinerja ekspor sub sektor peternakan di awal tahun dan rencana ekspor pada April ini, sangat optimis ekspor produk sub sektor peternakan dapat bertahan dalam ketidakpastian perekonomian akibat pandemi COVID-19. (RBS)

WABAH COVID-19: KEMENTAN PERMUDAH DISTRIBUSI PANGAN

Menteri Pertanian beserta jajarannya melakukan kerja sama dengan Grab untuk mempermudah distribusi pangan ke masyarakat di tengah pandemi COVID-19. (Foto: Humas Kementan)

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, mengatakan bahwa Indonesia saat ini menghadapi sejumlah tantangan dalam memenuhi pangan masyarakat di tengah pandemi COVID-19.

Untuk mempermudah hal itu, Mentan Syahrul melakukan penandatanganan kerja sama dengan enam mitra peternakan sekaligus bersama Grab, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan), Selasa (14/4/2020).

“Indonesia tengah mengalami pembatasan di sejumlah wilayah, untuk itu saya minta seluruh pihak terkait, kita tidak boleh diam, kalian butuh makan dan protein, kalian tidak bisa fight dengan virus yang dashyat ini tanpa pangan” kata Mentan Syahrul dalam kegiatan tersebut.

Dalam kerja sama itu Kementan menggandeng PT Charoen Pokphand Indonesia, PT Japfa Comfeed Indonesia, PT Tri Putra Panganindo, PT Cimory, PT Indoguna Utama dan PT Agro Boga Utama, serta pemasaran produk peternakan berbasis online dengan tiga start-up digital market place yakni Etanee, Tani Supply Indonesia dan SayurBox. Sementara kerja sama dengan Grab diharapkan melancarkan distribusi produk pangan hasil peternakan seperti daging sapi dan ayam, telur, susu dan olahan lainnya kepada masyarakat.

“Dibutuhkan kebersamaan dan nurani kebangsaan, harus ada keterpanggilan atas nama bangsa, kalau tidak maka siap-siap kita akan melihat ceceran masalah di depan mata kita” ucap dia.

Menurutnya, untuk mengurai permasalahan pangan di tengah pandemi COVID-19 ini dibutuhkan kerjasama dan sinergi yang kuat dari berbagai pihak. Ia pun memanggil seluruh  pelaku usaha bidang pertanian dan peternakan maupun mitra usaha bidang transportasi dan para generasi milenial untuk membantu memenuhi pangan bagi masyarakat Indonesia.

Pada kesempatan serupa, Presiden of Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata, menyatakan dukungannya kepada pemerintah. Ia memastikan ratusan ribu driver Grab siap membantu mendistribusikan pangan bagi masyarakat khususnya produk peternakan dan olahannya. Mengingat kebijakan pemerintah terkait Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ataupun physical/social distancing untuk menekan angka penyebaran COVID-19 di Indonesia.

“Ini menjadi usaha yang luar biasa dari Grab dengan Kementan, bahkan Bapak Menteri sendiri turun tangan untuk menjamin ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat, seperti daging, telur ayam dan lain sebagainya. Kami harap layanan ini dapat menjangkau masyarakat yang saat ini tengah mengikuti protokol kesehatan di rumah,” pungkasnya. (INF)

JOKOWI INGATKAN ANCAMAN KRISIS PANGAN, MENTAN: PERSEDIAAN KITA SURPLUS

Ketersediaan pangan dinyatakan surplus oleh Mentan (Foto: Istimewa)


Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan akan ancaman krisis pangan dunia di tengah pandemi Corona seperti yang diprediksi oleh Food Agriculture Organization (FAO). Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan stok pangan Indonesia, baik 11 bahan pokok, utamanya produk hewani surplus.

"Persediaan kita, neraca kita se-Indonesia khusus untuk protein daging itu, termasuk di dalamnya adalah daging sapi, kerbau, dan ayam serta telur semua surplus. Dan saya melihat bahwa 11 pangan dasar pun surplus. Jadi neraca kita okay," kata Syahrul dalam virtual launching kerja sama Direktorat Jenderal Peternakan Hewan dan Kesehatan (PKH) Kementan dengan mitra tani, Selasa (14/4/2020).

Syahrul menuturkan, di tengah prediksi krisis pangan dunia, jika memang nantinya ada impor komoditas pangan yang terhambat, pihaknya menjamin hal itu akan teratasi dengan produksi dalam negeri.

"Walaupun impornya terlambat atau tepat waktu tidak bersoal, karena daging lokal kita sebenarnya siap dari neraca yang ada. Kalau begitu persoalannya di kesiapan jajaran pertanian untuk bekerja sama dengan kemitraan yang ada. Ini saja yang harus ditingkatkan, diperketat," terang Syahrul.
Sehingga, ia berharap dengan kabar baik ini, masyarakat maupun pedagang pangan pokok tidak panik menghadapi Corona.

"Ketersediaan kita cukup. Oleh karena itu kita harap tidak ada kepanikan. tidak ada trader yang oanik. tidak ada pedagang yang menimbun. Insyaallah sampai bulan puasa-lebaran kita dalam keadaan yang baik," tegas dia.

Dalam virtual launching tersebut, Kementan turut mengundang Dinas Peternakan dan Hewan di beberapa provinsi seperti Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), Jawa Timur (Jatim), Lampung, Banten dan sebagainya untuk melaporkan data ketersediaan komoditas pangan hewani.

Berdasarkan laporan tersebut, Dinas PKH Jabar membeberkan, wilayah tersebut surplus daging ayam sebanyak 137.000 ton, dari kebutuhan 175.000 ton dan ketersediaan 312.000 ton.

Daging sapi kebutuhannya 88.012 ton, dan ketersediaannya defisit, namun Jabar memenuhinya dengan pasokan daging sapi dari provinsi lain, dan daging impor. Untuk kebutuhan telur ayam, Jabar memerlukan 200.000 ton untuk April-Juli 2020, dan ketersediaannya defisit. Untuk memenuhinya, Jabar memerlukan pasokan telur dari Jateng, Jatim, dan Sumatera Utara (Sumut).

Sementara di provinsi Lampung, kebutuhan ayam mencapai 3.820 ton dengan ketersediaan 4.151 ton, sehingga surplus 331 ton. Lalu daging sapi, kebutuhan 257 ton, ketersediaan 4.382 ton, sehingga surplus 4.125 ton.

Kebutuhan telur ayam mencapai 19.992 ton dan ketersediaan 22.530 ton, sehingga surplus 2.538 ton (Sumber: detik.com)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer