-->

SURAT EDARAN KEMENTAN TENTANG PELARANGAN PENGGUNAAN COLISTIN PADA HEWAN

I Ketut Diarmita (Foto: Istimewa)


Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, mengeluarkan surat edaran berisikan Pelarangan Penggunaan Colistin pada Hewan. Surat edaran ini ditandatangani Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Drh I Ketut Diarmita MP pada 9 Desember 2019. 

Dalam surat edaran tersebut dinyatakan bahwa Colistin merupakan last drug of choice untuk penyakit infeksi saluran pencernaan dan bakterimia yang disebabkan oleh bakteri multidrugs resistence pada manusia yang dalam penggunaan secara luas berpotensi menimbulkan bakteri resisten. Colistin dalam daftar WHO masuk dalam kelompok Highest Critically Important  Antimicrobials for Human Medicine (WHO) dan dalam daftar OIE masuk kelompok Veterinary Highly Important Antimicrobial Agents (OIE).

Berdasarkan berbagai informasi dan pertimbangan ilmiah, Dirjen PKH, Kementan melarang penggunaan Colistin pada hewan (ternak maupun non-ternak) melalui berbagai rute pemberian, baik secara tunggal maupun kombinasinya.

Selasa (10/12/2019) Infovet telah mengonfirmasi ke Subdit Pengawasan Obat Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan Kementan bahwa surat edaran ini resmi. Berikut ini secara lengkap surat edaran dari Kementan perihal pelarangan Colistin.







DISNAK KABUPATEN SORONG GELAR PASAR MURAH



Pasar murah digelar Dinas Peternakan Sorong (Foto: infopublik.id)

Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Sorong, Papua Barat menggelar pasar murah, khususnya kebutuhan akan telur, telur puyuh, daging ayam dan pentolan bakso.

Kegiatan yang berlangsung di pelataran halaman Kantor Bupati Sorong di kilometer 24 Aimas mendapat sambutan baik dari para Aparatur Sipil Negara yang hadir mengikuti apel gabungan Organisasi Perangkat Daerah, Senin (9/12/2019).

Wakil Bupati  Sorong Suka Harjono dalam arahannya, dengan adanya pasar murah ini sebenarnya untuk membantu para pegawai serta masyarakat.

Apalagi menjelang perayaan hari-hari besar keagamaan seperti Natal dan jelang tutup tahun 2019, beberapa kebutuhan pokok secara otomatis akan meningkat seiring dengan permintaan konsumen di pasaran.

Telur ayam dan berbagai jenis barang yang dijual harganya sangat miring dengan harga yang ada di pasar, dimana khusus untuk telur ayam harga dalam kisaran Rp 65.000/ ram.

Adanya kegiatan ini diharapkan dapat meringankan beban dalam memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat, khususnya yang ada di Kabupaten Sorong.

Harga telur ayam lokal bervariasi dari petani ternak yang merupakan binaan dari Dinas Peternakan Kabupaten Sorong.

Harga telur per ram tertinggi Rp 50.000 dan terendah Rp 38. 000. Sedangkan telur puyuh Rp 40.000/ram. Untuk ayam beku ukuran satu kilogram lebih Rp 50.000 /ekor. Sementara pentolan bakso (isi 50) seharga Rp 30.000/bungkusnya. (Sumber: infopublik.id)

MENTAN LEPAS EKSPOR PRODUK DAGING AYAM OLAHAN DAN PAKAN TERNAK KE TIMOR LESTE




PT Japfa Comfeed Indonesian Tbk (Foto: Perseroan) 


Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) terus mendorong ekspor produk pertanian dan peternakan. SYL melepas ekspor produk peternakan berupa daging ayam olahan dan pakan ternak yang dilakukan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk di Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (8/12/2019).

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk mengekspor produk daging ayam olahan dan pakan ternak ke Timor Leste dengan nilai mencapai Rp 506 miliar.

Pelepasan ekspor ini langsung dilakukan SYL bersama Komisaris Utama PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Ito Sumardi dan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah.

Kementan akan terus berupaya untuk mendorong ekspor berbagai komoditas pertanian dan peternakan untuk menambah daya saing Indonesia.

Ekspor yang dilakukan PT Japfa membuktikan bahwa kemampuan perunggasan Indonesia sudah dapat memenuhi kebutuhan internasional.

Kebutuhan daging unggas, telur dan produk turunannya seperti Nugget, Bakso masih diminati pasar luar negeri dan Kementan terus mendorong pelaku usaha agar melakukan diversifikasi produk. Telur ayam siap dipasarkan.

Pihaknya berkomitmen untuk mendorong volume ekspor sebanyak tiga kali lipat dalam 5 tahun ke depan dan mendorong perusahaan besar agar bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Saya resmi melepas produk ekspor dari PT Japfa dengan nilai Rp 506 miliar dan kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia merupakan negara pengekspor produk peternakan terbesar,” ujar dia dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (9/12/2019).

SYL juga berkomitmen untuk mendorong ekspor pertanian karena sangat menjanjikan, di saat ekonomi global yang tidak menentu pasti produk pertanian dan peternakan masih dibutuhkan karena berurusan dengan perut.

Produk pertanian dan peternakan masih mempunyai prospek yang cukup cerah dan termasuk komoditas unggulan.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita mengatakan volume ekspor produk peternakan pada 2018 sudah mencapai US$ 640 juta atau meningkat 2,42% jika dibandingkan tahun 2017 yang mencapai US$ 625 juta.

Kegiatan ekspor seperti ini harus didorong, jika dilakukan terus menerus maka tidak menutup kemungkinan target peningkatan ekspor sebanyak tiga kali lipat bisa dicapai.

Kementan juga terus mendorong agar industri perunggasan bisa melakukan diversifikasi dan mampu bersaing di pasar dunia.

Di samping itu, Komisaris Utama PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Ito Sumardi mengatakan nilai ekspor sebesar Rp 506 miliar terbilang tinggi untuk kawasan Timur Leste dan permintaan di sana cukup tinggi. Pihaknya juga berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan protein hewani di dalam negeri dan mendorong ekspor sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo.

“Kami optimistis, kabinet Indonesia maju ini bisa memperlancar bisnis pengusaha dan tentunya kami akan terus ekspor,” ujar dia. Permintaan pasar yang paling utama adalah kualitas produk dan tentunya Indonesia sudah dikenal sebagai produsen unggas terbaik di dunia.Produsen unggas terbaik masih dipegang Brasil dan Australia. (Sumber: investor.id)



LUNCURKAN VAKSIN, MENTAN MINTA BISA INTERVENSI DUNIA

Mentan Syahrul dalam kegiatan Launching Inovasi Teknologi Kesehatan Unggas Veteriner di BB Litvet Bogor. (Foto: Humas Kementan)

Dalam rangka Launching Inovasi Teknologi Kesehatan Unggas Veteriner, di Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet), Kementerian Pertanian (Kementan), Bogor, Kamis (5/12), Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, menyatakan keinginannya untuk mengembangkan inovasi dan teknologi vaksin unggas yang dapat dimanfaatkan berbagai pihak dari dalam maupun luar negeri.

“Saya berharap kita dapat mengintervensi dunia, jadi tidak hanya memanfaatkan vaksin dari luar, tetapi mampu menciptakan vaksin sendiri untuk dapat dimanfaatkan negara lain dalam meningkatkan kesehatan unggas, sehingga populasi dan produksi akan lebih baik,“ kata Mentan Syahrul dalam siaran persnya.

Ia menyebut, program Kementan dalam bidang peternakan yakni pengembangan dan peningkatan populasi ternak unggas, salah satunya ayam kampung terus digalakkan. “Tentunya kita berharap populasi ternak semakin berkembang, namun akselerasi dan perkembangan yang cepat juga rentan terhadap berbagai hama, virus dan penyakit, untuk itu kita harus dapat mengantisipasinya,“ jelas dia.

Ia juga menambahkan, melalui inovasi dan teknologi BB Litvet dipercaya dapat mengantisipasi masalah dan tantangan terkait kesehatan hewan, mengingat ancaman virus global saat ini semakin meningkat. 

“Kita perlu melakukan penelitian dan riset terhadap segala permasalahan kesehatan hewan, para ahli peneliti dan dokter hewan kita hebat dan tidak kalah dengan negara lain,” ucap Mentan Syahrul.

Dalam kegiatan tersebut, BB Litvet meluncurkan beberapa vaksin untuk unggas, diantaranya vaksin AI (Avian influenza) bivalen, vaksin AI kombinasi HPAI (High Pathogenic Avian Influenza) dan LPAI (Low Pathogenic Avian Influenza), vaksin ND GTT 11 dan teknologi diagnosa kit ELISA DIVA yang digunakan untuk membedakan hasil vaksinasi dan infeksi AI.

“Nantinya vaksin kita juga terbuka untuk para pengusaha dan investor yang ingin berinvestasi, kalau perlu kita lakukan diplomasi perdagangan dengan negara lain terhadap vaksin yang kita miliki,“ pungkasnya. (INF)

WASPADAI ANCAMAN ASF DARI TIMOR LESTE, KEMENTAN LATIH PETUGAS LAPANGAN DI NTT

Foto: Dokumentasi Kementan

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus berupaya melakukan penguatan sistem pelayanan kesehatan hewan nasional di Indonesia. Salah satu fokus penguatan saat ini adalah terkait upaya pencegahan, deteksi, dan pengendalian penyakit African Swine Fever (ASF) yang merupakan ancaman potensial bagi populasi babi di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini penting karena ASF sudah mewabah di Timor Leste.

Antisipasi terhadap kejadian tersebut, Ditjen PKH melaksanakan bimbingan teknis (bimtek) kepada 50 orang petugas lapang yang berasal dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan Provinsi NTT dan kabupaten/kota yang ada di Pulau Timor. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari dari tanggal 4 Desember 2019 di Hotel On the Rock Kupang.

Menurut Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, penyebaran penyakit ASF ini sangat cepat dan telah mendekati perbatasan wilayah Negara Republik Indonesia di NTT, sehingga potensi ancaman masuknya penyakit ini semakin besar. "Kondisi ini memerlukan kewaspadaan dini dan harus segera diwujudkan dalam bentuk tindakan teknis" ungkap Ketut.

Oleh karenanya, sesuai amanat Undang-Undang No.18 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2014, tindakan teknis yang harus dilakukan adalah deteksi cepat, pelaporan cepat dan pengamanan cepat. "Sangat penting untuk diidentifikasi potensi lokasi timbulnya penyakit dan sebaran populasi babi" ungkap Ketut.

Untuk berhasilnya deteksi, pelaporan dan penanganan cepat, lanjut Ketut, diperlukan adanya pemahaman peternak terkait gejala klinis penyakit ASF. Setiap ada perubahan pada babi yang dipelihara, seperti penurunan nafsu makan dan peningkatan kasus kematian, peternak diharapkan segera melaporkan kejadiannya kepada petugas lapang dinas. "Pemahaman petugas terkait ASFmenjadi kunci utama penanganan yang cepat dan efektif, sehingga kasus dapat ditangani dan meminimalisir kerugian" tambahnya.

Ketut juga menjelaskan bahwa ASF ini merupakan penyakit yang belum ditemukan vaksin dan obatnya yang efektif, untuk itu tindakan teknis dalam pencegahan, pengendalian dan pemberantasan difokuskan pada surveilans, biosekuriti dan dilanjutkan dengan tindakan depopulasi, disposal dan dekontaminasi.

Melalui bimtek ini, harapnya, menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan petugas tentang penyakit ASF, serta memberikan kesempatan petugas untuk dapat melakukan praktek langsung di lapangan. “Kompetensi-kompetensi yang dimiliki petugas tersebut sangat penting untuk mengantisipasi ancaman masuk, terjadinya, dan potensi menyebarnya penyakit” tutup Ketut. (Rilis Kementan)

PERNYATAAN PDHI TERKAIT KASUS KEMATIAN BABI DI SUMATERA UTARA









TIGA PILAR TERJADINYA PENYAKIT

Peternakan ayam broiler. (Foto: Dok. Infovet)

Dalam suatu populasi, disadari atau tidak, hewan ternak dalam hal ini ayam yang dipelihara, dalam hitungan detik harus selalu berinteraksi dengan sejumlah mikroorganisme di sekelilingnya dalam suatu lingkungan tertentu (mileu) yang menopang keduanya. Atribut yang terkait dengan komponen lingkungan itu sendiri seperti kelembaban dan temperatur tentu saja dapat mempengaruhi serta memodulasi interaksi yang terjadi diantara keduanya.

Yang jelas, dalam kondisi normal, interaksi yang terjadi adalah interaksi yang harmonis, artinya terjadi keseimbangan antara daya tahan tubuh ayam dengan kemampuan menginfeksi dari mikroorganisme yang ada. Interaksi yang dimaksud dapat dilihat melalui ilustrasi gambar 1 berikut:

Gambar 1: Model interaksi antara hewan ternak dengan mikroorganisme di sekelilingnya dalam lingkungan tertentu. Dalam kondisi normal, semuanya dalam keadaan harmoni atau equilibrium. Hewan ternak berada dalam kondisi sehat, mampu mengatasi serangan dari mikroorganisme.

Selanjutnya, dengan adanya karakter "dinamika" yang merupakan suatu ciri dari kehidupan, maka kondisi harmoni tersebut di atas pada kenyataannya tidaklah kekal. Dengan berjalannya waktu, maka akan ada perubahan-perubahan yang kadang kala menguntungkan atau bahkan dapat merugikan kondisi hewan ternak yang dipelihara. Jika ini yang terjadi, maka hewan ternak mungkin saja akan sakit atau akan menunjukkan penampilan (performance) yang tidak memuaskan dengan derajat yang bervariasi.

Ada beberapa kondisi yang dapat mengubah keseimbangan yang terjadi, yaitu:

a. Terjadinya perubahan pada hewan ternak sendiri, misalnya menurunnya kondisi tubuh secara umum dan/atau meningkatnya tantangan mikroorganisme yang ada di sekeliling hewan ternak yang dipelihara. Menurunnya kondisi tubuh hewan ternak secara umum bisa disebabkan oleh berkurangnya kualitas dan kuantitas nutrisi yang diperoleh, tingginya faktor stres atau adanya faktor-faktor yang dapat menekan respon pertahanan tubuh hewan ternak secara umum (adanya faktor imunosupresi). Di lain pihak, meningkatnya tantangan mikroorganisme di sekeliling hewan ternak mungkin disebabkan oleh pelaksanaan konsep biosekuriti yang tidak konsisten, waktu istirahat kandang yang minim, atau tingginya tingkat kegagalan program vaksinasi maupun medikasi yang ada. Yang jelas, perubahan pada sisi mikroorganisme lingkungan bisa dari aspek jumlah (meningkatnya jenis atau kepadatan mikroorganisme patogen) atau aspek kualitas (meningkatnya keganasan mikroorganisme yang bersangkutan). Gambar 2 merupakan ilustrasi dari apa yang baru dijelaskan.

Gambar 2: Kondisi lingkungan tidak berubah, akan tetapi terjadi perubahan pada kondisi hewan ternak dan/atau pada mikroorganisme yang ada di sekeliling hewan ternak yang bersangkutan. Ketidakseimbangan terjadi jika kondisi tubuh hewan ternak menurun dan/atau kondisi mikroorganisme di sekelilingnya meningkat (dari aspek kuantitas atau kualitas).

b. Kondisi pada hewan ternak ataupun mikroorganisme yang ada di sekelilingnya tidak berubah, akan tetapi terjadi perubahan pada lingkungan yang mendukungnya. Perubahan pada kondisi lingkungan bisa berupa perubahan pada temperatur, kelembaban atau terjadinya polusi dari lingkungan sekitar hewan ternak. Yang jelas, perubahan yang terjadi justru akan memberikan kondisi yang sulit untuk hewan ternak atau mungkin memberikan kondisi yang menguntungkan bagi mikroorganisme yang ada di sekitar hewan ternak yang dipelihara. Dengan kata lain, terjadinya perubahan pada kondisi lingkungan akan memberikan efek negatif pada hewan ternak, tapi di lain pihak mungkin akan memberikan efek positif pada mikroorganisme lingkungan. Pada keadaan ini keseimbangan tentu saja akan terganggu (lihat gambar 3).

Gambar 3: Kondisi pada hewan ternak tidak berubah, akan tetapi kondisi lingkungan berubah dan perubahan tersebut memberikan efek positif pada mikroorganisme yang ada di sekeliling hewan ternak yang dipelihara.

Dari uraian di atas, sangatlah jelas bahwa terjadinya ledakan kasus penyakit dalam lingkungan suatu peternakan bukanlah suatu kejadian yang sifatnya revolutif atau suatu kejadian yang dramatis, akan tetapi lebih merupakan suatu proses yang sifatnya evolutif. Oleh sebab itu, ada tiga hal mendasar yang saling terkait dalam usaha mencegah terjadinya kasus-kasus penyakit infeksius di dalam lingkungan peternakan secara sistematis, yaitu:

1. Usaha-usaha untuk mengurangi jenis dan jumlah mikroorganisme (terutama yang patogen) di sekeliling hewan ternak yang ada (aspek mikroorganisme).
2. Usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kontak antara hewan ternak yang dipelihara dengan mikroorganisme patogen (aspek lingkungan).
3. Usaha-usaha untuk meningkatkan daya tahan tubuh hewan ternak yang dipelihara (aspek hewan ternak).

Aspek Mikroorganisme (Patogen)
Yang jelas, untuk mengurangi jumlah maupun jenis mikroorganisme patogen yang ada di sekeliling hewan ternak, maka pertama-tama harus mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasinya secara tepat. Jika identifikasi sudah dapat dilakukan, maka dengan mudah akan mengetahui aspek-aspek epidemiologisnya (cara penyebaran, kecepatan menyebar, pola kematian hewan ternak, tanda-tanda klinis yang paling dominan, dll), serta aspek patogenesisnya (perjalanan penyakit di dalam tubuh hewan ternak).

Identifikasi mikroorganisme patogen dapat dilakukan dengan menganalisa data yang berasal dari anamnese (sejarah penyakit dalam suatu lingkungan peternakan), pengamatan gejala klinis, pengamatan bedah bangkai atau bahkan dengan bantuan hasil-hasil pemeriksaan laboratorium.

Selanjutnya, dengan mengetahui jenis mikroorganisme yang ada, maka dapat diketahui model penularannya dari sutu ternak ke ternak lainnya, atau bahkan dari suatu peternakan ke peternakan lainnya. Sampai pada tahap ini sebenarnya sudah dapat diambil langkah-langkah yang tepat untuk mencegahnya, terutama pada titik-titik tertentu, dimana merupakan titik atau fase kunci dari tahapan penularan suatu mikroorganisme di alam.

Dengan diidentifikasinya mikroorganisme patogen di sekeliling hewan ternak yang dipelihara, dapat diketahui pula media apa yang digunakan oleh mikroorganisme patogen tersebut untuk menyebar, apakah feses (kotoran hewan ternak), percikan batuk, air liur atau bahkan ketombe bulu (pada ternak unggas). Bahan-bahan ini tentu akan mendapatkan perlakuan khusus, agar penyebaran mikroorganisme patogen dapat dicegah sedini mungkin.

Pada sisi lain, dengan diidentifikasinya mikroorganisme patogen yang ada, maka kegagalan dalam penggunaan program dan jenis desinfektan juga dapat dikurangi. Sebagai contoh, desinfektan dari kelompok fenol atau kresol tidak mempunyai potensi yang baik dalam membunuh kuman-kuman yang dapat membentuk spora (misalnya Clostridium).

Aspek Lingkungan (Mileu)
Suatu kasus penyakit di dalam lingkungan suatu peternakan bisa saja terjadi akibat hewan ternak terinduksi oleh mikroorganisme yang mempunyai strain atau jenis yang baru yang masuk ke dalam lingkungan peternakan yang bersangkutan. Ini berarti telah terjadi perubahan pada kondisi lingkungan peternakan tersebut. Hewan ternak menjadi sakit karena tidak atau belum mempunyai kekebalan yang cukup, karena belum pernah terinduksi pada fase-fase sebelumnya.

Oleh sebab itu, dalam aspek lingkungan ini tercakup usaha-usaha dalam mengontrol lalu-lintas kendaraan (vehicles), peralatan-peralatan peternakan (fomites), atau bahkan karyawan yang sebenarnya dapat menjadi media tranportasi suatu mikroorganisme untuk masuk ke dalam lingkungan suatu flok atau peternakan.

Melaksanakan sanitasi yang baik dan mengurangi frekuensi lalu-lintas kendaraan, peralatan peternakan dan karyawan tentu saja dapat mencegah terjadinya kontak antara hewan ternak dengan mikroorganisme patogen yang tidak diinginkan.

Selanjutnya, keberadaan hewan liar (ferret animals) di dalam lingkungan suatu peternakan jelas dapat memperbesar peluang terkontaminasinya lingkungan peternakan yang bersangkutan dengan mikroorganisme patogen dengan strain atau bahkan jenis yang baru. Model untuk mengontrol hewan-hewan liar yang mungkin dapat menjadi perantara penularan suatu mikroorganisme patogen harus disesuaikan dengan jenis hewan-hewan liar yang ada, apakah berupa hewan pengerat (tikus), anjing liar, pelbagai jenis burung, atau bahkan serangga (insekta).

Masuknya mikroorganisme patogen di dalam suatu lingkungan peternakan bisa juga melalui bahan-bahan pakan (atau pakan ternak) atau air, yang digunakan baik sebagai air minum atau untuk keperluan lainnya. Untuk mencegah terjadinya induksi oleh mikroorganisme patogen ke dalam suatu peternakan melalui cara ini, maka sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan terhadap pakan dan sumber-sumber air secara rutin, sehingga tercemarnya lingkungan peternakan dapat dicegah sedini mungkin.

Aspek Hewan Ternak (Induk Semang)
Hewan ternak relatif tahan dalam menghadapi tantangan bibit penyakit bila kondisi tubuhnya baik. Kondisi ini dapat tercapai bila keberadaan energi dan bahan-bahan nutrisi di dalam pakan dalam keadaan cukup. Hewan ternak yang mengalami defisiensi nutrisi lebih mudah terserang penyakit.

Kondisi tubuh hewan ternak juga dapat ditingkatkan melalui program-program vaksinasi yang efektif dan tepat waktu, sehingga dapat menstimulasi terbentuknya kekebalan yang sesuai dan cukup, terutama pada fase-fase rawan selama kehidupan hewan ternak yang bersangkutan.

Dalam kondisi tertentu, penggunaan preparat antibiotika dengan tujuan untuk mengurangi peluang terjadinya kasus-kasus infeksius tentu saja sangat membantu memperbaiki kondisi tubuh hewan ternak secara umum. Preparat antibiotika yang dipakai tentu saja harus disesuaikan dengan mikroorganisme yang ada.

Selanjutnya, kondisi tubuh hewan ternak dapat saja turun karena tingginya faktor stres yang diperoleh. Penanganan hewan ternak yang kasar, program-program vaksinasi yang terlalu sering, dan terlalu padatnya hewan ternak dalam suatu lingkungan peternakan jelas dapat menstimulasi tingginya faktor stres. Oleh sebab itu, untuk mengurangi tingginya faktor-faktor stres yang berhubungan dengan tata laksana peternakan, maka sangat dianjurkan setiap peternakan menerapkan tata laksana yang baku dengan standar operasional yang jelas.

Kondisi tubuh hewan ternak dapat juga terganggu dengan adanya faktor-faktor imunosupresi (faktor yang dapat menekan respon pertahanan tubuh). Hal ini tentu saja dapat dicegah jika mampu mengidentifikasi faktor-faktor imunosupresi yang ada, apakah berupa infeksi virus yang subklinis, adanya kontaminasi mikotoksin dalam pakan, atau kondisi-kondisi lainnya.

Akhirnya, pemilihan jenis atau strain hewan ternak yang relatif tahan/resistan atau sesuai dengan kondisi lingkungan peternakan setempat juga sangat membantu mencegah terjadinya kasus-kasus infeksius yang mungkin terjadi. ***

Oleh: Tony Unandar
(Private Poultry Farm Consultant)

KEMENTAN DAN BPS SEPAKATI SATU DATA PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

Ilustrasi peternakan ayam (Foto: Pixabay) 



Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) menggelar sosialisasi Kebijakan dan Petunjuk Teknis Pengumpulan, Pengolahan, dan Penyajian Data Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan, di Depok, Jawa Barat pada 2 hingga 4 Desember 2019.

Dalam kesempatannya, Dirjen PKH I Ketut Diarmita mengatakan, data dan informasi sangat berperan penting dalam proses pembangunan, termasuk dalam pembangunan Subsektor Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Menurutnya, Kementan khususnya Ditjen PKH menyadari bahwa tantangan yang dihadapi subsektor peternakan dan kesehatan hewan ke depan cukup berat.

Berdasarkan proyeksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Badan Pusat Statistik (BPS) hasil SUPAS tahun 2015, penduduk Indonesia 2020 diperkirakan mencapai 269,60 juta jiwa dan pada 2035 diproyeksikan mengalami peningkatan menjadi 304,21 juta jiwa.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi, kebutuhan akan pangan termasuk pangan asal ternak akan semakin meningkat.

"Peningkatan itu tidak hanya dari aspek kuantitas atau jumlahnya, namun termasuk juga peningkatan kualitas atau mutu pangan yang dihasilkan, serta pemenuhan persyaratan keamanan, kesehatan, dan kehalalan," ujar Ketut.

Tantangan-tantangan dalam pembangunan subsektor peternakan dan kesehatan hewan di masa yang akan datang ini lanjutnya, membutuhkan pemecahan atau solusi melalui proses perencanaan yang baik dan didukung oleh data hingga informasi yang berkualitas.

"Selain menjadi basis dalam perencanaan, data dan informasi juga menjadi ukuran keberhasilan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan, seperti halnya kinerja peningkatan populasi dan produksi ternak serta kinerja pembangunan ekonomi Sub Sektor Peternakan dan Kesehatan Hewan seperti PDB/PDRB, NTP/NTUP, Investasi, Ekspor-Impor, Tenaga Kerja, dan lainnya," urai Ketut.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M Habibullah menjelaskan bahwa berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia, dinyatakan bahwa Satu Data Indonesia adalah kebijakan tata kelola data pemerintah untuk menghasilkan data yang akurat, mutakhir, terpadu, dan dapat dipertanggungjawabkan, serta mudah diakses dan dibagipakaikan antar Instansi Pusat dan Instansi Daerah.

Sejalan dengan kebijakan satu data Indonesia tersebut, sebelumnya Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam arahannya menyatakan bahwa dalam 100 hari harus bisa menyeragamkan data.

Oleh karena itu dalam 100 hari kerja, Kementan akan melakukan upaya-upaya dalam rangka mewujudkan Satu Data Pertanian yaitu Membangun Komando Strategis Pertanian tingkat Kecamatan (Konstratani), Pengembangan Agriculture War Room (AWR), dan pengakurasian data utamanya lahan dan produksi.

Menindaklanjuti hal tersebut maka Ditjen PKH bekerja sama dengan Pusdatin Kementan, BPS RI, dan Politeknik Statistika STIS melakukan revisi atas Keputusan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor 798/Kpts/OT.140/F/10/2012 tentang Petunjuk Teknis (juknis) Pengumpulan dan Penyajian Data Peternakan.

Juknis baru ini akan dijadikan sebagai standar prosedur baku dalam hal Pengumpulan, Pengolahan, dan Penyajian Data Peternakan dan Kesehatan Hewan baik di pusat maupun Dinas yang Melaksanakan Fungsi Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan di provinsi maupun kabupaten/kota seluruh Indonesia yang memenuhi prinsip Satu Data Indonesia.

"Harapannya juknis ini juga dapat digunakan dalam proses pendataan ternak oleh Konstratani yang akan dibangun oleh Kementan," ungkap Habibullah. (Sumber: jpnn.com)

KOLABORASI TROUW NUTRITION INDONESIA DENGAN BPMSP DALAM MENJAMIN KEAMANAN DAN KUALITAS PAKAN

PT Trouw Nutrition Indonesia, menjadi partner BPMSP dalam uji kualitas pakan dan bahan baku pakan (Foto : CR)

Untuk menghasilkan pakan ternak yang berkualitas prima tentunya juga dibutuhkan kualitas bahan baku yang prima. Keamanan dan kualitas pakan tentunya akan terjamin melalui pengujian laboratorium. 

Atas dasar tersebut Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Pakan (BPMSP) berkomitmen bersama Masterlab Asia yang merupakan bagian dari PT Trouw Nutrition Indonesia untuk melangsungkan kerjasama. Secara simbolis penandatanganan MoU tersebut dilakukan di markas PT Trouw Nutrition Indonesia di Cibitung, Bekasi pada 3 Desember 2019. Kerjasama tersebut nantinya akan berjalan terhitung pada 1 Januari 2020 - 31 Desember 2020.

Ditemui oleh Infovet pada acara tersebut, Kepala BPMSP Irwandi mengatakan bahwa bisnis pakan ternak di Indonesia mengalami peningkatan. Hal ini kata Irwandi dapat dilihat dari bertambahnya sampel yang diujikan di BPMSP.

"Selama tahun 2018 lalu kita sudah menguji sekitar 3.888 sampel dengan 27.464 parameter uji, di tahun 2019 ini baru sampai bulan Oktober sampel yang masuk dan diujikan sudah mencapai 3.998 dengan 25.177 parameter uji," tukas Irwandi.

Ia juga menambahkan BPMSP sebagai lembaga yang ditunjuk pemerintah dalam mengeluarkan sertifikasi pakan tentunya juga memiliki kekurangan. Oleh karenanya dalam mengatasi kekurangan dan juga meningkatkan kepuasan para pengguna jasa, BPMSP menggaet PT Trouw Nutrition Indonesia dalam hal ini.

"Kami sudah yakin dengan PT Trouw, lima tahun belakangan ini kami sudah bekerjasama, dan hari ini kami nyatakan komitmen bersama kami. Masterlab sudah memenuhi semua persyaratan, tim audit kami juga sudah melakukan audit dan hasilnya PT Trouw secara teknis memenuhi bahkan melampaui persyaratan. Saya berharap ini menjadi kerjasama yang baik dan saling menguntungkan," tutur Irwandi.

Sementara itu, Ivan Kupin Presdir PT Trouw Nutrition Indonesia menunjukkan rasa bangganya dapat menjadi partner lembaga sekelas BPMSP. Dirinya berharap dengan adanya kerjasama ini kualitas pakan dan bahan baku pakan ternak di Indonesia dapat lebih ditingkatkan.

"Saya ucapkan terima kasih kepada BPSMP sudah mempercayai kami. Tentunya kami juga akan melakukan yang terbaik untuk hal ini. Saya senang karena ini adala pengakuan bahwa PT Trouw Nutrition Indonesia adalah penyedia solusi yang profesional. Sekali lagi terima kasih atas epercayaan yang diberikan," kata Ivan.

Selesai acara penandatanganan MoU, Kepala BPSMP beserta undangan yang hadir diajak berkeliling laboratorium milik Masterlab Asia. Dengan dukungan teknologi canggih semacam Near Infra-Red (NIR), Atomic Absorption Spectofotometer serta peralatan lainnya, tentunya uji kualitas pakan serta bahan baku pakan akan terjamin akurasinya. Selain itu Masterlab Asia juga mengantongi akreditasi ISO 17025:2017, sehingga sistem manajemen mutu laboratorium sudah sesuai dengan standar internasional. (CR)




SEGERA DAFTAR, GRATIS BUKU DAN KALENDER BAGI PESERTA SEMINAR TONY UNANDAR


Berpengalaman sebagai Private Poultry Farm Consultant selama bertahun-tahun, Tony Unandar MSi telah banyak membantu breeding farm dan peternakan unggas komersial dalam meningkatkan kinerja peternakan unggas melalui manajemen kesehatan unggas modern.

Tony Unandar
Pengalamannya sebagai tenaga ahli di perusahaan multinasional dan pengalaman aktif di organisasi dan forum perunggasan internasional,  serta pendalaman ilmunya di berbagai scientific congress ditambah “jam terbang” dan reputasi menangani kasus-kasus lapangan membuat kemampuan analisanya semakin tajam. Tidak heran jika semakin banyak perusahaan mempercayakan Tony Unandar sebagai konsultan.

Artikelnya di Majalah Infovet yang berisi kajian kasus-kasus aktual selalu ditunggu-tunggu oleh para praktisi perunggasan maupun dunia akademis.

Majalah Infovet bersama Gita Event Organizer dan Gita Pustaka dengan bangga menyelenggarakan seminar “Manajemen Kesehatan Unggas Modern di Era Bebas AGP” yang secara khusus akan menghadirkan Tony Unandar.

Seminar ini sekaligus akan diisi dengan agenda launching buku karya Tony Unandar berjudul “Manajemen Kesehatan Unggas Modern” yang menguraikan bagaimana kiat-kiat implementasi manajemen kesehatan unggas modern, yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Yuk, segera daftar seminar ini yang diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal               : Jum’at, 20 Desember 2019
Pukul                           : 12.30 – 16.30 WIB
Tempat                        : Hotel Sahati, Ragunan Jakarta Selatan
Biaya Pendaftaran      : Rp 450.000/orang (kuota hanya untuk 100 orang)

Pendaftaran melalui email : adhes02.gita@gmail.com
WA  08777 829 6375 (Mariyam), SMS 0818 0659 7525 (aida)

Disarankan Pendaftaran online dengan klik link: http://bit.ly/SEMINAR-INFOVET


Buku Manajemen Kesehatan Unggas Modern karya Tony Unandar 
Peserta seminar mendapatkan gratis 1 eksemplar buku Manajemen Kesehatan Unggas Modern senilai Rp. 100.000 karya Tony Unandar dan Kalender Bisnis Pernakan - Infovet 2020  senilai Rp. 75.000. Nah, jangan sampai lewatkan kesempatan bernilai ini. Daftar segera!

PAKAN TERAPI, ALTERNATIF NAIKKAN PERFORMA?

Self-mixing harus senantiasa dibimbing. (Sumber: Istimewa)

Fenomena pakan terapi (medicated feed) muncul setelah larangan penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) diberlakukan setahun lalu. Kendati demikian, apakah penggunaan pakan terapi akan berpengaruh pada peningkatan performa ternak?

Pakan terapi merupakan pakan ternak yang dibuat khusus untuk mengobati ternak ketika terjadi penyakit yang ditemukan di kandang. Kandungan obat yang di masukkan dapat digunakan untuk mengobati penyakit infeksi, baik yang disebabkan bakteri maupun karena Koksidia. Di beberapa negara, aplikasi pakan terapi dalam penanggulangan infeksi utamanya Koksidia pada ayam dara (pullet) telah banyak dilakukan. Di Indonesia sendiri, pakan terapi benar-benar hal baru, karena kebijakan ini beriringan dengan pelarangan AGP pada pakan.

Aspek Teknis
Karena sifatnya yang dikhususkan untuk terapi atau tindakan kuratif, maka dosis antibiotik atau obat-obatan yang diberikan harus sesuai dosis pengobatan. Oleh karenanya, penggunaan dan pembuatan pakan terapi ini harus diawasi oleh dokter hewan.

Namun beberapa kalangan peternakan masih mengkhawatirkan proses pengawasan tersebut, salah satunya peneliti dari Balitnak Ciawi, Prof Budi Tangendjadja. Menurutnya, pengawasan dokter hewan mungkin akan ketat pada perusahaan produsen pakan, namun bagaimana di tingkat peternak mandiri yang meracik pakannya sendiri?

“Kalau menurut saya it’s ok pemerintah juga sudah mengatur, untuk perusahaan besar enggak perlu diragukan lagi aspek teknisnya, selain mesin untuk mixing terjamin, sumber daya manusianya juga ada, di perusahaan besar dokter hewannya pasti ada. Tapi kalau self-mixing gimana? Di Jawa Timur banyak self-mixing, siapa yang mengawasi mereka? Dinas? Technical service? Dari dulu kita lemah dalam fungsi pengawasan ini,” ujar Budi.

Kekhawatiran beliau memang cukup beralasan, karena berdasarkan pengamatan kemampuan peternak dalam memproduksi pakan self-mixing masih minim. Budi menjelaskan, kebanyakan peternak menggunakan mixer vertikal yang dipakai untuk mencampur konsentrat, jagung giling dan dedak padi dengan proporsi 35, 45-50 dan 15-20%. Cara kerja mixer tersebut sangat berbeda dengan mixer horizontal yang dimiliki pabrikan pakan, sehingga kemampuan untuk mencampur bahan dalam jumlah kecil diragukan.

Meskipun beberapa peternak mencoba membuat premix (pre-mixing), yaitu campuran imbuhan pakan dalam jumlah kecil menjadi campuran yang lebih besar (misalnya 50 kg per ton), untuk kemudian dimasukkan dalam mixer utama. Tetapi kemampuan mengaduk secara merata dari mixer vertikal yang berkapasitas 1-2 ton jarang diuji, sehingga tidak diketahui apakah ransum yang dibuat sudah homogen. 

Selain itu, Budi juga menekankan aspek... (CR) Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi November 2019.

FKH IPB GELAR SEMINAR OBAT HEWAN INDONESIA

Foto bersama kegiatan seminar nasional obat hewan Indonesia oleh Divisi Farmakologi dan Toksikologi FKH IPB. (Foto: Infovet/Sadarman)

Divisi Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB), menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Obat Hewan Indonesia” untuk lebih dalam menggali informasi dan prospek industri obat hewan di Indonesia.

“Kita semua adalah calon dokter hewan yang kelak akan bersinggungan dengan obat hewan. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya kita mengkaji bagaimana prospek bisnis obat hewan Indonesia ke depannya,” kata Ketua Pelaksana, Ilham Maulidandi Rahmandika, dalam sambutannya.

Menyambung sambutan ketua pelaksana, Ketua Divisi Farmakologi dan Toksikologi FKH IPB, Drh Huda S. Darusman, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. “Seminar ini adalah akhir dari kegiatan atau aktivitas mahasiswa di Divisi Farmakologi dan Toksikologi, sehingga dapat saya katakan bahwa seminar nasional ini adalah cinderamata dari Divisi Farmakologi dan Toksikologi, yang dikerjakan langsung oleh mahasiswa,” kata Huda.

Sementara Dekan FKH IPB, Prof Drh Srihadi Agungpriyono, yang didaulat menyambut dan membuka kegiatan ini menyebut bahwa menjadi mahasiswa FKH harus aktif, tidak hanya dalam perkuliahan namun juga dalam kegiatan internal dan eksternal kampus.

Menurutnya, pelaksanaan seminar ini penting diketahui para calon dokter hewan ke depannya. Mengingat peluang kerja dokter hewan sangat beragam dan semua itu didasarkan atas kecakapan intelektual dan kemampuan dari masing-masing individu.

“Dokter hewan itu harus mengerti obat, karena obat dapat menyembuhkan dan bahkan dapat menjadi penyebab kematian jika tidak digunakan sesuai dengan dosis dan aplikasinya,” ucap Srihadi.

Acara yang diselenggarakan di Auditorium Andi Hakim Nasution Sabtu (30/11/2019), menghadirkan pembicara utama Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa, dan pembicara lain diantaranya Drh Ni Made Ria Isriyanthi, Drh Lusianingsih Winoto (PT SHS), Drh Ayu Berlianti, Drh Mukhlas Yasi Alamsyah, Drh Beni Halaludin dan Ir Suaedi Sunanto.

Dalam paparannya, Fadjar Sumping menyampaikan mengenai perkembangan obat hewan Indonesia. Menurutnya dalam bisnis obat hewan, Indonesia memiliki aturan sebagai landasan dalam membuat, mengedarkan dan menggunakan obat hewan untuk kepentingan penyembuhan penyakit hewan dan ternak. Diantara aturan tersebut, obat hewan yang dibuat dan disediakan untuk diedarkan harus memiliki nomor pendaftaran, diuji dan disertifikasi agar dapat digunakan di bawah pengawasan dokter hewan berwenang, terutama untuk obat keras. (Sadarman)

TIGA SISTEM APLIKASI DITJEN PKH MENANG LOMBA INOVASI TIK 2019

Momen Mentan memberikan penghargaan (Foto: Humas Kementan)

SISCOBETI dan SIMREK Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian masing-masing mendapatkan peringkat II dan III kategori aplikasi layanan publik, sedangkan SIBETI mendapatkan peringkat III aplikasi layanan internal, Lomba Inovasi Teknologi informasi Komunikasi (TIK) 2019. Hal tersebut diumumkan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada saat Upacara Peringatan HUT KORPRI ke-48 di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, 29 November 2019.

Menurut Nasrullah, Sekretaris Ditjen PKH, SIMREK PKH adalah layanan rekomendasi dan perizinan bidang peternakan dan kesehatan hewan sedangkan aplikasi SISCOBETI dan SIBETI merupakan layanan yang dibangun oleh Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, sebuah unit pelaksana teknis dibawah Ditjen PKH. Pengembangan aplikasi-aplikasi tersebut lanjutnya, bertujuan untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, transparan, dan akurat serta mampu menjembatani pelayanan masyarakat.

“Sesuai dengan arahan Menteri Pertanian terkait Pertanian Indonesia yang Maju, Mandiri dan Modern, Kami di Ditjen PKH berkomitmen untuk menjadi penyelenggaraan pemerintahan yang efektif, efisien, dengan tolok ukur transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan melalui pemanfaatan teknologi,” ungkapnya.

Nasrullah kemudian menjelaskan bahwa SIMREK berbasis online untuk pelaku usaha peternakan yang membutuhkan berbagai surat rekomendasi, dalam bentuk dokumen perizinan seperti surat rekomendasi, surat persetujuan, dan surat keterangan terkait ekspor dan impor.

"Kami melayani 25 jenis izin rekomendasi yang bisa diajukan secara online, sehingga pemohon hanya perlu satu kali datang ke Kementan untuk validasi dokumen. Sistem ini terintegrasi dengan Indonesia National Single Window (INSW) di bawah naungan Kementerian Keuangan", ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BET Cipelang, Oloan Parlindungan yang mendapatkan penghargaan E-Leadership Terbaik atas prestasinya dalam pemanfaatan inovasi teknologi dalam layanan BET pada Lomba Inovasi TIK 2019 ini menjelaskan bahwa aplikasi SISCOBETI dibangun untuk memudahkan seluruh stakeholder mendapatkan layanan yang ada di BET Cipelang secara online sehingga dapat diakses dimanapun dan kapanpun, sedangkan SIBETI merupakan aplikasi layanan internal adalah aplikasi internal BET Cipelang untuk memudahkan penanggung jawab kegiatan melakukan rekapitulasi dan analisis data teknis, sehingga pimpinan untuk mudah untuk me-monitor dan evaluasi kinerja balai. (Sumber: Rilis Kementan)

PASCA FREE AGP, KONSEKUENSI REGULASI DAN UPAYA MENJAGA PERFORMA AYAM DENGAN PAKAN TERAPI

Penggunaan antibiotik dalam pakan masih diperbolehkan melalui pakan terapi yang penggunaannya harus sesuai aturan pemerintah. (Foto: Dok. Infovet)

Kebijakan penggunaan antibiotik dalam dunia peternakan dua tahun terakhir ini benar-benar menjadi tema dan trending topik yang selalu seru untuk dikupas lebih rinci dan detail. Tidak hanya berdampak terhadap perubahan pola strategi dalam menyusun formula pakan, namun juga startegi tata cara pemeliharaan termasuk sistem biosekuritinya.

Zaman telah berubah, waktu berganti dan strategi untuk bisa bertahan hidup dengan efisiensi terbaikpun mengalami penyesuaian. Titik-tolak perubahan ini terjadi seiring dengan penegasan implementasi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan pada bagian kelima. Kriteria obat hewan yang dilarang tercantum dalam Pasal 15 ayat 1. Kebijakan tersebut sesuai amanat Undang-Undang No. 18/2009 juncto No. 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Secara tersurat, esensi dari Permentan No. 14/2017 mengatur penggunaan antibiotik yang dicampur dalam pakan tidak lagi diperbolehkan. Kendati demikian, pencampuran antibitoik dalam pakan saat ini hanya boleh digunakan dengan resep dokter hewan dan dalam monitoring yang ekstra ketat. Berbeda dengan era sebelumnya dimana antibiotik masih diizinkan sebagai pemicu pertumbuhan (Antibiotic Growth Promotor/AGP). Namun dengan adanya penegasan pemerintah terkait pelarangan penggunaan antibiotik, menjadi paradigma baru bagi industri peternakan khususnya untuk menyediakan produk-produk peternakan yang lebih ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal).

Konsekuensi yang harus dihadapi dari hal tersebut terjadi tidak hanya di kalangan peternak, namun juga terjadi di semua stakeholder yang berhubungan dengan industri peternakan (feed mill, breeding farm, perusahaan obat hewan dan imbuhan pakan, perusahaan penyedia bahan baku pakan dan sebagainya). Sehingga tantangan kuman penyakit, baik virus ataupun bakteri harus disikapi dengan melakukan antisipasi lebih dini dan lebih serius dibandingkan sebelumnya. Jangan sampai bakteri menjadi kebal (resistant) terhadap berbagai jenis antibiotik, sehingga akan menjadi bom biologis yang membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia.

Isu Resistensi Antimikroba (AMR/Antimicrobial Resistance)
Pada Juli 2014 silam pernah diadakan pertemuan global “The Review on Antimicrobial Resistance” dimana dari hasil pertemuan tersebut menyatakan bahwa kasus infeksi bakteri yang kebal/resisten terhadap antimikroba meningkat sangat signifikan. Di Eropa dan Amerika Serikat saja lebih dari 50.000 nyawa hilang tiap tahunnya karena kasus resistensi ini pada kejadian infeksi sekunder bakteri penyakit malaria, HIV/AIDS dan TBC.

Dari pertemuan itu juga para ahli memperkirakan jumlah korban meninggal secara global di seluruh dunia mencapai sedikitnya 700.000 setiap tahun. Pada 2050, jumlah ini diprediksi naik mencapai 10 juta orang, jauh lebih tinggi dibandingkan korban meninggal akibat kanker, diabetes, kecelakaan lalu lintas, kolera, tetanus, measles, diarea dan kolera.

Dari total jumlah tersebut, korban terbesar sekitar 4 juta orang dari Afrika dan Asia. Bahkan prediksi biaya kesehatan untuk mengatasi kasus resistensi ini mencapai hingga 100 triliun dolar AS per tahun. Selain itu resistensi antibiotik juga turut meningkatkan risiko kematian yang secara langsung berpengaruh pada menurunnya usia harapan hidup suatu negara.

• Konsekuensi di Kalangan Peternak
Terbukti semua peternak berbenah diri. Bagi para peternak yang mempunyai anggaran cukup, tidak tanggung-tanggung langsung menyulap kandangnya dari open house (kandang terbuka) menjadi semi closed house (tunel) bahkan full closed house (kandang tertutup) dengan evaporative cooling system.

Tantangan kuman dari luar bisa ditekan karena kandang dalam kondisi tertutup 24 jam, dimana hanya area inlet (tempat udara masuk) saja yang dibuka. Harapannya jumlah kontaminan bibit penyakit bisa di tekan seoptimal mungkin. Tidak hanya itu, di kalangan peternak yang masih menggunakan sistem kandang terbuka pun tidak mau kalah. Mereka mencari... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi November 2019.

Oleh: Drh Eko Prasetio
Private Commercial Broiler Farm Consultant

BUPATI BLORA TANDATANGANI KERJASAMA BIDANG PETERNAKAN DENGAN PT SURYA AGROPRATAMA

Bupati Blora Djoko Nugroho

Bupati Blora Djoko Nugroho menyambut baik peluncuran Program Kerjasama di Bidang Peternakan dengan Memberdayakan Peternakan Rakyat yang digelar di The Icon, Hotel Morrissey, Jakarta, Kamis (28/11/2019). Program kerjasama ini merupakan diwujudkan melalui penandatanganan kerjasama antara PT Surya Agropratama (PT SAP) dengan Infrabanx, LPPM IPB, serta PT SAP dengan Kabupaten Blora.

Kerjasama dengan Kabupaten Blora berupa implementasi kemitraan dengan peternakan rakyat di wilayah tersebut.

Djoko mengemukakan Kabupaten Blora memiliki masyarakat peternakan yang besar dan menjadi salah satu kabupaten di  Jawa Tengah yang menjadi sentra pengembangan produksi sapi potong.

“Ada tiga jenis ternak yang diusahakan di Kabupaten Blora yaitu ternak besar, ternak kecil, dan unggas. Sapi potong merupakan jenis ternak besar  terbanyak di di Kabupaten Blora,” kata Djoko. 

Setiap tahunnya, lanjut Djoko, jumlah sapi yang tersebar di wilayah Kabupaten Blora terus mengalami peningkatan cukup bagus. Tidak heran, jika Blora dikenal banyak orang dengan sebutan “Lumbung Ternak di Jawa Tengah.” 

Tahun 2019, jumlah sapi yang tersebar di semua wilayah Blora menembus angka 239.000 ekor. Sementara sebelumnya, di tahun 2017 jumlah sapi sebanyak 222.000 ekor, tahun 2018 sebanyak 231.000 ekor. (NDV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer