-->

PUNCAK HATN 2026: “MULAI DARI PETERNAK KITA BERGERAK” YOGYAKARTA CHICKEN AND EGG RUN

Pelepasan peserta Chicken and Egg Run dalam puncak acara HATN 2026. (Foto-foto: Istimewa)

“Mulai dari Peternak Kita Bergerak” kalimat ini diteriakan oleh ribuan peserta lomba  sebelum langkah pertama di garis start, dalam kegiatan Chicken and Egg Run pada puncak acara Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2026, Minggu (18/10/2026), yang diselenggarakan PINSAR Indonesia di Yogyakarta.

Makna filosofis tersebut adalah peternak bukan sekadar objek, melainkan pelaku utama. Peternak harus dilibatkan dalam merumuskan kebijakan, penyampaian aspirasi, dan menentukan arah pembangunan industri perunggasan.

Peternak sebagai pusat perjuangan, di mana setiap kebijakan, program, dan langkah pembangunan peternakan harus berangkat dari kebutuhan, persoalan, dan kenyataan yang  dihadapi peternak di lapangan.

Peternak tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Mereka perlu bersatu, membangun solidaritas, dan bekerja sama dengan pemerintah, asosiasi, akademisi, serta pelaku usaha lainnya. Bergerak untuk mewujudkan peternakan unggas yang produktif, berdaya saing, berkelanjutan, dan memberikan kesejahteraan yang layak bagi peternak dan masyarakat.

Foto bersama penyelenggara acara.

Hal tersebut selaras dengan sambutan staf Ahli Menteri Bidang Kebijakan Publik Kementerian Koperasi, Koko Haryono, sebelum melepas para peserta Chicken and Egg Run 2026.
Menurutnya, dalam mewujudkan peternakan yang produktif berdaya saing, peternak perlu berhimpun dalam koperasi. Koperasi dinilai dapat berperan membangun ekosistem usaha yang menghubungkan kegiatan peternakan dari hulu hingga hilir.

Ia juga berharap PINSAR Indonesia terus berperan dalam program strategis nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. “Kami Kementerian Koperasi siap mendukung tata kelola hingga akses pembiayaannya,” katanya.

Pada kesempatan itu, ia juga mengapresiasi PINSAR Indonesia yang menginisiasi acara ini, yang tidak hanya sekadar mempromosikan olah raga, tetapi sarat dengan unsur edukasi bagi masyarakat akan pentingnya konsumsi daging ayam dan telur, seperti yang disampaikan Ketua Umum PINSAR Indonesia, Singgih Januratmoko.

Para peserta yang berhasil meraih juara dalam Chicken and Egg Run.

Lebih jauh dijelaskan bahwa ajang ini merupakan upaya mengampanyekan pentingnya asupan protein hewani yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kecerdasan. Ayam dan telur adalah sumber protein hewani yang berkualitas dan terjangkau.

“Saat ini tingkat konsumsi ayam masyarakat Indonesia berada pada 14 hingga 15 kilogram per kapita per tahun, sedangkan telur mencapai 23 kilogram per kapita per tahun. Angka ini dinilai masih sangat mungkin ditingkatkan, sehingga akan memberkan multiplier effect yang sangat menguntungkan bagi stakeholder perunggasan,” katanya.

Singgih berharap, melalui acara ini, masyarakat mendapatkan pembelajaran lebih dalam bahwa ayam dan telur adalah sumber protein hewani  yang berkualitas, terjangkau, dan sangat dibutuhkan terutama bagi generasi masa depan.

Peserta yang berhasil meraih hadiah utama satu unit mobil listrik BYD.

Kegiatan PINSAR ini dilaksanakan selama dua hari. Diawali dengan Rakornas pada Sabtu (17/10/2026) yang diikuti para pengurus daerah Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Kemudian dilanjutkan pada Minggu (18/10/2026) dengan peringatan HATN berupa kegiatan Chicken and Egg Run. Lomba ini diselenggarakan dengan tiga katagori, yakni 2,5 km, 5 km, dan 10 km, serta disediakan berbagai macam hadiah menarik, dengan hadirah utama satu unit mobil listrik BYD.

Minat masyarakat Yogyakarta sangat luar biasa, ditandai dengan banyaknya peserta yang mencapai hampir 3.000 orang. Selain itu, di lokasi acara juga diadakan Kuliner Pasar Kangen yang menawarkan berbagai makanan tradisional dan modern, yang juga dimeriahkan photobooth dan live music untuk menghibur para peserta maupun pengunjung lain di sepanjang acara.

Pembagian hadiah bagi peserta lomba kostum terbaik.

Ketua Panitia Pusat Peringatan HATN, Ricky Bangsaratoe, menilai bahwa acara peringatan  HATN yang diselenggarakan di Yogyakarta ini merupakan acara paling meriah yang pernah diselenggarakan PINSAR Indonesia.

“Event di Yogyakarta ini menjadi standar tinggi bagi penyelengara HATN berikutnya, yaitu PINSAR Kalimantan Barat pada 2027 mendatang,” katanya. Hal tersebut juga diamini oleh Rakhmat Nuriyanto, salah satu penggagas HATN sekaligus Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) periode 2010-2015, yang turut berpartisipasi pada kegiatan tersebut. (INF)

MELURUSKAN MISPERSEPSI KERACUNAN MASSAL MBG

Telur dan daging ayam broiler memiliki kandungan gizi yang menyehatkan tubuh. (Foto: Gemini)

Di tengah banyaknya kasus keracunan massal dalam Makan Bergizi Gratis (MBG), telur dan daging ayam broiler masih dianggap sebagai salah satu penyebab. Padahal, hasil pemeriksaan uji laboratorium membuktikan ada pemicu lain dalam kasus ini. Apa itu?

Kasus keracunan massal yang menimpa 411 pelajar dan santri akibat konsumsi telur dalam Makan Bergizi Gratis (MBG) di Mojokerto, Jawa timur, beberapa waktu lalu cukup heboh. Dalam kasus yang terulang terjadi ini, telur dianggap sebagai salah satu penyebab para pelajar keracunan. Dalam kasus di tempat lain juga daging ayam pernah dianggap menjadi penyebab.

Dalam kasus keracunan yang terjadi selama ini, seoalah-olah dua makanan sumber protein hewani tersebut menjadi “tersangka”. Namun apa sebenarnya yang terjadi? Hasil pemeriksaan laboratorium menyebutkan ternyata penyebab utamanya adalah cara mengolah dan penyajian telur ayam dari pihak Dapur MBG yang menjadi penyebab para pelajar keracunan.

Telur rebus yang sudah basi karena terlalu lama jeda dalam menyajikan MBG menjadi pemicu pelajar keracunan. Artinya, bukan telurnya yang menjadi penyebab. Telur ayam tetap menyehatkan, meskipun pakan ayam yang digunakan adalah pakan pabrikan. Pakan pabrikan ayam, bukan sumber racun pada telur dan daging ayam yang dihasilkan.

“Pakan untuk ayam yang akhirnya jadi telur dan daging berasal dari bahan baku pakan yang aman untuk dikonsumsi. Semua bahan yang ada dicampur sehingga memenuhi kebutuhan gizi yang dibutuhkan oleh ayam baik petelur maupun pedaging,” ujar Yahya Munirudin, ahli pakan ternak kepada Infovet.

Memang aroma pakan pabrikan untuk ayam menyengat dan khas. Seperti ada aroma obat-obatan yang kurang nyaman saat tercium hidung. Aroma inilah yang dianggap sebagian orang bahwa pakan ayam pabrikan mengandung obat-obatan. Artinya, daging ayam broiler dan telur yang dihasilkan juga dianggap mengandung obat.

Kalau tak ada edukasi yang baik dan tepat, bisa jadi isu ini bakal membuat orang makin khawatir makan daging dan telur ayam. Orang yang semula sedikit mengonsumsi telur akan berhenti total. Ini yang perlu diluruskan.

Menurut Yahya, secara umum bahan baku pakan ayam berasal dari dua sumber, yaitu hewan dan tumbuhan. Untuk bahan pakan yang bersumber dari hewan antara lain tepung ikan, tepung tulang, dan lainnya. Sedangkan untuk bahan pakan ayam yang bersumber dari tumbuhan seperti kedelai, jagung, umbi-umbian, bekatul, dan lainnya. Sebagai pelengkap, pakan ayam juga ditambahkan vitamin dan zat pengawet pakan, yang semuanya aman.

“Untuk menghasilkan kualitas pakan yang baik, bahan pakan di pabrikan diseleksi dengan ketat. Bahan baku yang mengalami kerusakan, misalnya jagung yang sudah berjamur, sudah pasti ditolak masuk ke pabrik pakan,” ujarnya.

Ketatnya seleksi bahan pakan untuk ayam menjadi jaminan keamanan bagi produk daging dan telur ayam yang akan dikonsumsi oleh manusia. Ahli pakan ternak ini juga memastikan bahwa industri pakan ayam memiliki alat pendeteksi berteknologi tinggi untuk menjamin bahan pakan yang akan diolah memiliki kualitas yang baik atau sebaliknya.

Melalui Proses Roasting
Dalam proses pengolahan, menurut Yahya, industri pakan juga melakukan perlakuan khusus terhadap bahan-bahan yang akan digunakan sebagai pakan olahan. Ia memberi contoh, sebelum diolah menjadi pakan jadi, kedelai dimatangkan terlebih dahulu, seperti melalui proses roasting. Proses ini bertujuan untuk menonaktifkan zat anti nutrisi yang ada di kedelai.

Dari sisi bahan pembuatan pakan sudah aman. Namun bagaimana dengan obat-obatan dalam proses pembuatan pakan? Pertanyaan ini juga masih bersarang di benak sebagian orang. Terjaminnya kualitas bahan pembuatan pakan ayam pabrikan, sebanding dengan harga produknya yang dianggap mahal oleh para peternak.

“Dari sisi proses pembuatan pakan, pabrik pakan tidak menggunakan obat-obatan sebagai bahan campuran. Tentang hal ini sudah diatur larangannya oleh pemerintah dalam penggunaan obat-obatan yang bisa berdampak pada kesehatan manusia yang mengonsumsiya. Permentan No. 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan, sejak 1 Januari 2018 Pemerintah melarang penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) dalam pakan,” jelasnya.

Ia menambahkan, bahan pakan diawasi dengan ketat sebelum diproses menjadi pakan. Quality control pakan pada industri dilakukan sejak pemasukan bahan pakan sampai menjadi produk akhir pakan. Untuk penggunaan obat-obatan hanya diberikan kepada ayam jika sakit. Tentu saja harus seusai aturan pakai. Makanya di kemasan obat-obatan biasanya disertakan peringatan “Harus dengan resep dokter hewan”.

“Penggunaan obat-obatan pengawasannya sudah ketat, tidak bisa sembarangan. Dan setiap pabrik obat hewan pasti ada dokter hewannya, sebagai penanggung jawab produk obatnya,” katanya.

Lupakan Mitos Buruk
Dari pemaparan proses dan sumber bahan pakan unggas yang disampaikan ahli pakan ternak tersebut, dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi hasil akhir ternak unggas berupa daging dan telur ayam yang menggunakan pakan pabrikan tetap menyehatkan. Tak perlu ada yang dikhawatirkan tentang kandungan nutrisinya.

Sudah saatnya masyarakat mengabaikan berbagai mitos buruk yang berkembang tentang makan telur dan daging ayam. Di era digital sekarang ini, bisa dengan mudah untuk mendapatkan informasi yang tepat tentang kandungan nutrisi pada telur dan daging ayam. Carilah informasi dari sumber yang dipercaya dan lupakan hasutan orang-orang yang mengatakan bahwa telur dan daging ayam broiler itu berbahaya bagi kesehatan.

Perlu dipahami bahwa satu butir telur atau sepotong daging ayam, memiliki kandungan gizi luar biasa yang sangat dibutuhkan tubuh. U.S. Soybean Export Council, dua tahun lalu pernah merilis data yang menarik untuk disimak. Satu porsi telur (100 g) memiliki kandungan Vitamin D, memenuhi sekitar 10-60% dari nilai Recommended Dietary Allowances (RDA) negara-negara di Asia Tenggara. Mirip dengan telur, daging ayam adalah kaya juga akan vitamin D, dengan setiap 100 g dada ayam diperkirakan memiliki 0,29 g vitamin D.

Vitamin D mempromosikan pengaturan jumlah kalsium dan fosfat yang diserap tubuh, dan mendukung perkembangan tulang yang sehat. Selain itu, vitamin D mendukung fungsi normal sistem kekebalan tubuh, yang merupakan garis pertahanan pertama tubuh terhadap infeksi. Oleh karena itu, individu didorong untuk mengeksplorasi kemungkinan peningkatan asupan vitamin D melalui konsumsi daging dan telur.

Sementara itu, 100 g dada ayam mengandung 13,3 mg vitamin B3 dan 0,6 mg vitamin B6. Di sisi lain, satu porsi telur (100 g) memiliki 0,01 mg vitamin B3 dan 0,2 mg vitamin B6. Direkomendasikan Nilai Nutrient Intake (RNI) untuk vitamin B3 adalah 16 mg untuk sebagian besar negara Asia Tenggara, sedangkan nilai untuk vitamin B6 berkisar 1,2-1,7 mg.

Oleh karena itu, kandungan vitamin B3 dan B6 yang tinggi terdapat pada telur dan daging unggas dapat dengan mudah memenuhi nilai RDA/RNI sebagian besar negara di kawasan ini. Vitamin B3 berfungsi dalam berbagai sistem enzim intraseluler, termasuk yang terlibat dalam energi produksi. Sedangkan vitamin B6 memainkan peran penting dalam fungsi sekitar 100 enzim yang mengkatalisis reaksi kimia penting dalam tubuh manusia. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

BREAKING THE CYCLE: MBG DAN KESEJAHTERAAN PETERNAK RAKYAT DALAM EKOSISTEM RANTAI PASOK BERKEADILAN

GOPAN forum di ILDEX Indonesia 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) kembali menggelar forum strategis bertajuk "Breaking the Cycle: MBG dan Kesejahteraan Peternak Rakyat Membangun Ekosistem Rantai Pasok yang Berkeadilan". Acara yang diselenggarakan pada Rabu (16/9/2026), di Ruang Garuda 6B, ICE BSD, Tangerang, ini menjadi bagian dari rangkaian pameran peternakan internasional ILDEX Indonesia.

Forum ini menyoroti pentingnya memutus rantai permasalahan peternakan broiler yang kerap berulang, sekaligus mengoptimalkan peluang besar dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mendongkrak kesejahteraan peternak rakyat.

Panitia GOPAN Forum, Yusuf, menjelaskan bahwa tema tahun ini sengaja dibuat lugas dan sederhana mengingat kompleksitas persoalan perunggasan yang terus berulang dari tahun ke tahun. Menurutnya, evaluasi mendalam diperlukan guna menentukan arah perubahan ke depan.

"Terkait tema sangat sederhana karena kita melihat banyak persoalan yang terus berulang. Karena itu, apa yang harus kita ubah ke depannya? MBG memberikan peluang baru, oleh karena itu bagaimana peternakan rakyat dapat memanfaatkan peluang tersebut," ujar Yusuf.

Melalui forum ini, ia berharap pemerintah, Badan Gizi Nasional (BGN), dan para peternak dapat merumuskan arah kebijakan bersama dalam membangun industri peternakan nasional yang tangguh.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum GOPAN, Heri Dermawan, menekankan pentingnya sinergi lintas sektor agar peternak rakyat tidak tertinggal di tengah dinamika industri modern.

Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Agung Suganda. Ia mengungkapkan bahwa harga ayam saat ini menunjukkan tren perbaikan, yang turut didorong oleh guliran program MBG. Ke depan, program strategis ini akan semakin terintegrasi melalui kewajiban bagi rumah pemotongan hewan unggas (RPHU) untuk masuk ke dalam marketplace yang disiapkan BGN.

"Saat ini Surat Edaran terkait optimalisasi penyerapan produk peternakan sedang difinalkan. Intinya, program MBG ini harus menyerap produksi para peternak yang ada di sekitar dapur MBG, baik untuk komoditas ayam maupun susu," ujar Agung.

Ia menambahkan, peluang perunggasan nasional masih sangat terbuka lebar, seiring dengan potensi peningkatan konsumsi per kapita. Tantangannya terletak pada bagaimana menjaga keseimbangan (supply and demand) antara volume produksi dan kebutuhan riil di lapangan.

Lebih lanjut dijelaskan, pemerintah kata Agung, juga mulai memberlakukan sejumlah regulasi ketat guna menciptakan keadilan dalam rantai pasok. Berdasarkan Permentan No. 10/2024, mulai 1 Januari 2027, distribusi DOC dengan skema 50% untuk internal dan 50% untuk eksternal wajib dijalankan pelaku industri. Agung mengapresiasi langkah awal yang telah diinisiasi oleh korporasi seperti Japfa Group dalam mematuhi aturan tersebut.

"Kemudian juga setiap peternak dengan kapasitas produksi unggas mencapai 60 ribu ekor atau lebih dalam per siklus pemeliharaan diwajibkan memiliki RPHU. RPHU inilah yang nantinya berfungsi sebagai marketplace penyedia karkas bagi dapur-dapur MBG di wilayah sekitar," jelasnya.

Di sisi lain, forum ini juga tidak menutup mata terhadap tantangan kenaikan harga pakan akibat melambungnya harga bahan baku. Harga jagung tercatat berada di kisaran Rp 6.200-7.500/kg tergantung wilayah, sementara dedak atau katul telah menyentuh angka Rp10.000/kg. Kondisi ini memberikan tekanan berat bagi perusahaan pakan untuk menahan kenaikan harga, meski dalam rapat koordinasi hari ini, upaya penahanan harga pakan, khususnya konsentrat layer, terus diupayakan demi melindungi peternak petelur di tengah variasi harga telur di berbagai daerah.

Pada kesempatan tersebut, hadir juga perwakilan dari PT Berdikari, Agus Wahyudi, yang turut memaparkan pandangannya dalam forum tersebut. Agus menyoroti pentingnya peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan dalam menjadi penyangga (buffer) stabilitas harga sekaligus mitra strategis bagi peternak rakyat.

Dalam pemaparannya, PT Berdikari berkomitmen untuk memperkuat sinergi hilirisasi melalui optimalisasi penyerapan hasil produksi peternak rakyat, sehingga distribusi komoditas protein hewani dapat menjangkau masyarakat secara merata, efisien, dan berkeadilan sejalan dengan visi besar program MBG.

Melalui Gopan Forum 2026, diharapkan terbangun komitmen bersama antara pemerintah, BGN, BUMN, dan peternak rakyat untuk mewujudkan industri perunggasan nasional yang adil, mandiri, dan berkelanjutan. (RBS)

KANDUNGAN PURIN HATI AYAM TERTINGGI, MITOS ATAU FAKTA?

Jangan konsumsi berlebihan, karena kandungan purin yang tinggi dalam hati ayam dapat menyebabkan gejala asam urat. (Foto: Shutterstock/istetiana)

Sarapan bubur ayam terasa lebih nikmat jika dipadukan dengan sate hati ayam. Namun di balik rasanya yang nikmat, olahan organ ini menjadi pemicu penyakit yang membuat persendian sangat nyeri. Benarkah hati ayam mengandung purin kadar paling tinggi?

Setiap Minggu pagi, di kawasan perumahan elit Shila Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, selalu dipenuhi warga yang berolahraga. Di antara kerumunan orang-orang di kawasan tersebut, tampak seorang pria paruh baya yang juga mengenakan kaos, celana pendek, dan bersepatu olahraga. Hanya saja, dia menggunakan kursi roda yang didorong oleh seorang perempuan yang lebih muda.

Sesekali pria tersebut turun dari kursi roda, lalu jalan berjingkat beberapa langkah, lalu duduk lagi di kursi roda sambil merintih. “Asam urat saya lagi kambuh, tapi saya coba paksa tetep olahraga sebisanya,” tutur Marzuki, nama pria paruh baya itu kepada Infovet.

Pensiunan karyawan sebuah bank swasta ini mengaku sudah tiga bulan lebih terserang asam urat. Kadang sembuh, kadang kumat lagi. Di saat kambuh, pergelangan kaki terasa nyeri tiada tara, begitu keluhnya. Hanya obat generik yang rutin diminum setiap hari jadi peredanya.

Apa gerangan penyebabnya? “Asam urat saya sudah melewati ambang batas. Dokter bilang sih, saya terlalu banyak konsumsi makanan yang banyak mengandung purin. Mungkin yang dimaksud ati ayam, karena saya hobi banget makan ati ayam,” ujarnya.

Sejak pensiun setahun lalu, hampir setiap pagi ia mengaku sarapan bubur ayam. Sate hati dan ampela ayam pasti menjadi pendamping menu sarapannya. Sekali makan bisa habis lima tusuk, makan bubur ayam tanpa sate hati-ampela kurang nikmat, begitu ceritanya.

Sebelum konsumsi rutin hati ayam, Marzuki mengaku hampir tak pernah terkena sakit asam urat. “Makanya, kalau dulu olahraga bisa lari atau jalan cepat. Sekarang harus pakai kursi roda, asam uratnya sering kambuh. Tapi tetap saya paksakan olahraga pagi sebisanya,” tuturnya.

Apa yang dialami Marzuki bisa jadi dialami juga oleh banyak orang. Meski tiap orang memiliki daya tahan tak sama terhadap kadar purin dalam tubuh, namun makanan yang menjadi sumber penyakit ini sebaiknya dihindari. Sekali terserang, rasa nyeri di persendian tak berkesudahan.

Literatur kesehatan yang dimuat situs Rumah Sakit Tirta Medica Centre, di Jakarta, menyebutkan asam urat atau gout merupakan salah satu bentuk radang sendi yang dapat menyebabkan nyeri hebat dan bengkak pada persendian. Kondisi ini terjadi ketika kadar asam urat dalam darah meningkat di atas batas normal, yaitu 3,4-7,0 mg/dL pada laki-laki dan 2,4-6,0 mg/dL pada perempuan.

Asam urat terbentuk ketika tubuh memecah senyawa purin yang berasal dari makanan atau diproduksi secara alami oleh tubuh. Indonesia menempati posisi keempat dunia dengan prevalensi penyakit asam urat tertinggi. Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hiperurisemia di Indonesia mencapai 81%, dengan lebih dari 355 juta penderita di seluruh dunia.

Literatur kesehatan lainnya, tulisan dr Alvin Nursalim, ahli nutrisi di Jakarta, yang dimuat sebuah di media online nasional menyebutkan hati ayam termasuk kelompok jeroan. Hati ayam, dalam 100 gram mengandung 116 kkal kalori, 345 mg kolesterol, serta 4,83 gram lemak. Jeroan dapat menjadi penyebab utama terjadinya peradangan pada sendi.

Orang yang mengalami radang sendi disarankan tidak mengonsumsi jeroan karena dapat memperparah keluhan. Kandungan purin yang tinggi dalam hati ayam juga dapat menyebabkan gejala asam urat. Di sisi lain, hati ayam memang kaya akan vitamin B, seperti vitamin B12 dan folat. Makanan ini juga tinggi mineral, termasuk zat besi, magnesium, dan selenium, serta vitamin-vitamin penting yang larut dalam lemak, seperti vitamin A, D, E, dan K.

Tak hanya hati ayam, sumber purin penyebab asam urat juga ada pada hasil laut. Beberapa jenis makanan laut, seperti kerang, udang, dan teri diyakini menjadi pemicu asam urat karena memiliki kadar tinggi purin. Dari literatur tadi disebutkan, dari semua jenis tersebut, ikan teri kering mengandung purin paling tinggi, mencapai 1.108,6 mg per 100 gram.

Tetap Bernutrisi 
Kehati-hatian mengonsumsi hati ayam juga sudah sering disampaikan oleh para ahli gizi melalui artikel atau berita di berbagai media. Ahli nutrisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Budi Setiawan MS, juga membenarkan bahwa hati ayam memiliki kandungan purin yang tinggi. Menurutnya, hati ayam per 100 gram mengandung 312,2 mg purin dan dikategorikan sebagai makanan dengan kadar purin sangat tinggi. Dengan demikian, kandungan tinggi purin dalam hati ayam bukanlah mitos.

Menurut dosen dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University, olahan hati ayam paling sering dikonsumsi masyarakat Indonesia karena rasanya nikmat. Akan tetapi, menurutnya, mengingat hati ayam juga berfungsi sebagai penyaring berbagai racun tubuh, organ ini termasuk dalam bahan makanan yang tidak sehat.

Namun demikian, hati ayam tetap memiliki kandungan nutrisi baik. Dalam hati ayam terdapat beberapa nutrisi yang menyehatkan seperti vitamin A, B12, D, E, dan K. Yang penting, pakar gizi ini menyarankan agar tidak mengonsumsi terlalu sering.

Ia menjelaskan, hati ayam mengandung kandungan lemak dan kolesterol yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering, bisa membuat kadar asam urat di dalam darah bisa meningkat. Hal ini tentu akan membuat risiko terkena penyakit asam urat ikut meningkat, mengingat zat purin semakin menumpuk di persendian. Karena alasan ini pulalah penderita asam urat tidak disarankan mengonsumsi hati ayam.

Tak hanya menyebabkan asam urat, jika dikonsumsi berlebihan, hati ayam bisa meningkatkan risiko terkena tekanan darah tinggi. Hal ini disebabkan kadar kolesterol di dalam hati yang bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat di dalam darah.

“Ini tentu akan memicu penumpukan plak pada pembuluh darah dan bisa menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Yang menjadi masalah adalah hipertensi bisa berimbas pada meningkatnya masalah penyakit jantung yang mematikan. Melihat adanya fakta ini, ada baiknya memang kita tidak sering-sering mengonsumsi hati ayam,” ujarnya.

Jangan Berlebihan
Budi tak menampik tentang anggapan bahwa konumsi daging juga menyebabkan seseorang terserang kolesterol. Akan tetapi jika membandingkan secara langsung antara daging dan hati, tentu saja akan ada perbedaannya.

Dari sisi kandungan gizi, hati sebagai jeroan memiliki kandungan kolesterol dan lemak lebih tinggi ketimbang daging. Selain itu, jeroan juga memiliki purin yang tinggi atau yang lebih dikenal dengan asam urat.

“Tapi lagi-lagi, kalau kita hanya mengonsumsi dalam batas wajar, misalnya hanya makan satu porsi, maka tidak perlu terlalu khawatir. Intinya, untuk makan apapun baik daging maupun jeroan tidak boleh berlebihan karena juga akan berdampak kepada kesehatan,” ujar Budi.

Termasuk dalam kebutuhan seperti vitamin dan mineral itu harus dengan ukuran yang pas. Maka itu, ada istilah angka kecukupan gizi yang harus dipatuhi. Angka kecukupan gizi merupakan batasan wajar yang perlu dikonsumsi untuk ukuran orang dewasa, anak-anak, dan ibu hamil.

“Bagi masyarakat umum, angka kecukupan gizi ini tidak mudah untuk diterapkan karena ada kebiasaan bahwa yang namanya makan harus kenyang,” kata Budi.

Menurutnya, selain hati ayam dan jeroan, masih banyak jenis makanan yang sebaiknya dikurangi jumlah konsumsinya, jika sedang menderita asam urat. Sumber makanan berupa daging merah (sapi, kambing, domba), serta daging putih tertentu (daging entok, kalkun, angsa, burung puyuh, dan kelinci) dapat menjadi penyebab asam urat. Jenis makanan ini tergolong memiliki kandungan purin sedang atau berada di atas 100 mg per 100 gram daging mentah.

Budi memberikan tips agar tetap sehat dan aman mengonsumsi olahan jeroan dan hati ayam. Pertama, jangan berlebihan. Yang jadi masalah sering kali jeroan dimasak dengan menggunakan santan, ini yang mengundang risiko, karena semakin bertambahnya kandungan lemak dan kolesterol di dalamnya, termasuk kandungan purin yang tinggi.

Kedua, cara mengolah jeroan, termasuk hati ayam akan lebih aman jika direbus, bukan digoreng. Hati ayam dan jeroan lainnya yang dioleh dengan cara digoreng akan berbahaya karena minyaknya juga sudah mengandung lemak. (AK)

MENGUBAH KEBIASAAN “JAHAT” DENGAN KONSUMSI PANGAN SEHAT

Mengalihkan gaya hidup yang lebih sehat dengan mengonsumsi protein hewani. (Foto: Istimewa)

“Omelan” istri terhadap suami untuk berhenti merokok cukup kuat pengaruhnya. Lebih kuat lagi apabila ada kejadian orang terdekat yang terserang penyakit kronis gara-gara “rajin” merokok sejak usia muda. Kisah ini buktinya.

Ini kisah nyata. Sepekan sebelum Lebaran Idul Fitri 1447 H lalu, tersiar berita duka di lingkungan Perumahan Bumi Sawangan Indah, Kota Depok, Jawa Barat. Alexandri, salah satu tokoh masyarakat di perumahan tersebut meninggal dunia, akibat kanker paru-paru akut. Diagnosis dokter yang menanganinya, penyebab terberat dari penyakit yang diderita disebabkan akibat konsumsi rokok.

Mendengar cerita sakit yang diderita orang tersebut sungguh memilukan. Sebelum berpulang, istri Alexandri sempat menyampaikan kepada dokter jika suaminya sudah merokok sejak masih sekolah menengah pertama (SMP). Jika dihitung sudah lebih dari 30 tahun merokok. Berbagai merek dan jenis rokok sudah dicobanya. Kendati ajal memang sudah jadi takdir, namun hadirnya penyakit kronis umumnya disebabkan oleh kebiasaan gaya hidup seseorang.

Gegara kejadian ini, rupanya sebagian tetangga terdekat mulai sadar dan pelan-pelan meninggalkan kebiasaan merokoknya. Setidaknya, mulai mengurangi. Para istri mereka tampaknya punya peran kuat mengingatkan suami.

“Ini memang jadi peringatan buat bapak-bapak di sini, biar bisa ngurangin rokok, termasuk suami saya. Hampir tiap hari saya ingetin suami, biar berhenti merokok. Saya bilang ke suami, itu udah ada contohnya,” tutur Hanifah, warga setempat.

Ibu rumah tangga ini mengaku tak bosan mengingatkan sang suami untuk pelan-pelan mengurangi rokok. Ia khawatir dengan kesehatan suami, setelah mengetahui kejadian memilukan tersebut.

“Sampai-sampai saya kadang bilang ke suami, Ayah kapan mau berhenti merokok. Ganti rokokmu dengan ayam goreng, itu lebih sehat,” lanjut Hanifah yang sehari-hari jualan ayam goreng.

Desakan ringan Hanifah kepada suaminya memang terlihat sederhana. Mengganti kebiasaan merokok dengan konsumsi ayam goreng, atau mungkin dengan camilan lain. Tetapi kalau dicerna ucapannya, ini pesan yang penting. Mengalihkan gaya hidup beracun ke gaya hidup yang lebih sehat.

Fenomena publik Indonesia dalam urusan rokok tiap tahun makin meningkat tingkat konsumsinya. Mengutip rilis yang dikeluarkan Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT), akhir Mei 2026 lalu, jumlah perokok dewasa di Indonesia terus bertambah dalam satu dekade terakhir. Data Komnas PT menyebutkan jumlah pengguna produk tembakau di Indonesia meningkat sekitar 8,8 juta orang dalam kurun 10 tahun terakhir.

Data tersebut merujuk pada Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021, yang dirilis kembali oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan pada 2024. Hasil survei menunjukkan sebanyak 34,5% penduduk dewasa Indonesia atau sekitar 70,2 juta orang menggunakan produk tembakau. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan prevalensi merokok tertinggi di dunia.

Komnas PT menyebut Indonesia bahkan diproyeksikan menjadi salah satu dari sedikit negara yang masih mengalami peningkatan jumlah perokok dalam dekade mendatang, ketika banyak negara lain justru menunjukkan tren penurunan.

Hasil “Omelan”
Hanifah yang mengaku tak pernah bosan mengingatkan suaminya untuk berhenti merokok, mungkin satu di antara sekian banyak istri yang bijak. Peran istri cukup besar dalam menjaga dan menyadarkan suami agar hidup sehat.

“Bukan apa ya, kalau suami sakit gara-gara rokok kan yang repot semua keluarga. Bukan cuma saya, tapi anak-anak juga bisa jadi korban, bisa ketularan penyakitnya. Pengeluaran uang juga jadi lebih boros,” ungkapnya.

Hanifah bercerita, meski baru beberapa bulan, “omelannya” kepada suami lumayan membuahkan hasil. Sang suami yang karyawan perusahaan swasta di Jakarta, perlahan mengurangi rokok. Sejak itu, Hanifah pun kerap membuatkan menu ayam goreng lebih banyak sebagai pengganti rokok. Tak ada hubungannya memang antara rokok dan ayam goreng, tapi kebetulan suaminya suka dengan ayam goreng.

“Yes, alhamdulillah sudah mulai berubah, suami jarang ngerokok kalau di rumah. Tapi enggak tahu ya kalau di luar rumah, soalnya saya enggak bisa ngawasi terus,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Langkah kecil yang dilakukan ibu rumah tangga ini sebenaranya cukup efektif untuk mencegah keburukan merokok di lingkungan keluarga. Mengalihkan anggota keluarga ke jalan yang benar dan menggantinya dengan ayam goreng, telur, atau bisa dengan olahan menu lain yang menyehatkan.

Andai saja yang dilakukan Hanifah juga dilakukan oleh sebagian besar ibu rumah tangga di negeri ini, niscaya tingkat konsumsi sumber protein hewani di Indonesia bakal meningkat. Tentu saja dengan syarat, para suami mau berubah. Hingga saat ini, jika menyimak data tingkat konsumsi daging dan telur ayam di dalam negeri masih belum naik secara signifikan.

Data Kementerian Pertanian (Kementan) kuartal I 2026, menyebutkan konsumsi daging ayam di Indonesia pada 2025 tercatat mengalami tren peningkatan, mencapai rata-rata sekitar 13,21 kg/kapita/tahun. Angka ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan protein hewani masyarakat serta didukung oleh program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kementan mengklaim, rata-rata konsumsi per kapita meningkat sekitar 3% dari tahun sebelumnya, menempatkan daging ayam sebagai sumber protein hewani yang paling mendominasi di Tanah Air.

Total estimasi kebutuhan konsumsi daging ayam ras nasional mencapai sekitar 3,87 juta ton. Kebutuhan ini dapat terpenuhi dengan baik melalui produksi dalam negeri yang diperkirakan mencapai 4,25 juta ton, menjadikan pasokan daging ayam nasional surplus.

Kalau Sudah Kronis
Penyandingan antara tingkat konsumsi daging dan telur ayam dengan konsumsi rokok masyarakat Indonesia setiap tahun sering menjadi trending topik. Dua kutub yang saling berseberangan, kutub satu menyehatkan dan kutub lainnya jadi sumber penyakit. Trending topik sering terjadi di tiap pertengahan tahun, saat peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, setiap 31 Mei.

Fenomena tahunan ini juga kerap mendapat perhatian dari para pakar gizi dari berbagai perguruan tinggi. “Fenomena semacam ini memang sulit diterima akal sehat. Kebutuhan asupan gizi untuk keluarga kadang harus dikalahkan sama kebutuhan rokok yang hanya jadi candu dan sumber penyakit,” ungkap Pakar gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Erwanto kepada Infovet.

Dosen ini tak habis pikir, jika dalam sehari orang menghabiskan Rp 20.000 lebih untuk membeli rokok setiap hari. Artinya, dalam sebulan Rp 600.000 dibakar begitu saja. Ia mengamsusikan jika dibelikan telur, dengan aumsi Rp 30.000, maka sebulan dia bisa beli 20 kg telur. Keluarga sehat, gizi terpenuhi, rumah juga bersih tanpa asap rokok.

Erwanto berpendapat, masalah rendahnya tingkat konsumsi daging dan telur ayam di Indonesia bukan semata-mata karena daya beli masyarakat masih rendah. Tetapi ini terkait erat dengan gaya hidup masing-masing orang. Gaya hidup tak melulu berkaitan dengan pergi ke club malam, karaoke, minum minuman keras, membeli barang-barang mewah, atau plesiran ke tempat wisata. Tapi, merokok pun jadi bagian dari gaya hidup seseorang.

Pakar gizi ini berargumen, kalangan perokok sangat sulit untuk mengurangi jatah rokoknya. Bahkan, ketika tidak memiliki uang sekalipun, para perokok berat akan mencari cara lain untuk bisa mendapatkan rokok, entah dengan meminta atau utang ke warung tetangga.

“Artinya pokok persoalan utama adalah pemahaman masyarakat dan kebiasan sebagian masyarakat kita yang memang lebih untuk tetap merokok, bagaimana pun kondisinya,” katanya.

Sebab itu, Erwanto sependapat dengan anggapan sebagian orang bahwa merokok yang tiada henti merupakan salah satu gaya hidup buruk yang paling sulit dihentikan. Gaya hidup ini bukan hanya dilakukan orang-orang yang memiliki duit lebih, tapi juga orang-orang yang hidup pas-pasan. Orang akan berhenti merokok, biasanya kalau sudah terserang penyakit kronis. (AK)

MENAKAR KINERJA PERUSAHAAN PUBLIK PETERNAKAN DI TENGAH DINAMIKA PROGRAM MBG

Webinar Nasional dalam rangka HUT ke-34 Infovet, menampilkan Victor Stefano dan Bagus Pekik, yang dipandu oleh Bambang Suharno. (Foto: Dok. Infovet)

Kebijakan strategis pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) diproyeksikan menjadi katalisator positif yang mampu mendongkrak kinerja emiten atau perusahaan publik di sektor peternakan/perunggasan nasional. Langkah intervensi ini dinilai efektif dalam menyerap hasil produksi daging ayam dan telur di tingkat domestik guna memperkuat kedaulatan protein bangsa.

Hal tersebut mengemuka dalam Webinar Nasional “Kinerja Perusahaan Publik Peternakan di Tengah Dinamika Program MBG” dalam rangka HUT ke-34 Infovet yang digelar pada Kamis (21/5/2026), dipandu oleh Pemimpin Redaksi Infovet, Bambang Suharno.

Acara dihadiri oleh sejumlah tokoh peternakan, antara lain Ketua Umum ASOHI Akhmad Harris Priyadi, Sugeng Wahyudi dan Setya Winarno (GOPAN), Indra Wahyudi (ADHMI), Baskoro Tri Caroko (konsultan perunggasan), Fadjar Sumping Tjaturrasa (Kementerian Pertanian), serta sejumlah tokoh perguruan tinggi, BRIN, dan lembaga terkait dari beberapa daerah.

Pada kesempatan tersebut, CMO PT Haida Indonesia, Bagus Pekik, didapuk sebagai narasumber yang memaparkan pandangan mendalam mengenai peran subsektor perunggasan nasional.

Menurutnya, sektor ini bukan sekadar lini bisnis biasa, melainkan pilar infrastruktur strategis untuk kedaulatan protein bangsa. Protein hewani berbanding lurus dengan peningkatan kualitas manusia Indonesia.

“Ayam dan telur adalah sumber protein yang paling cepat diproduksi, paling efisien, terjangkau, serta paling demokratis karena dapat diakses oleh hampir seluruh lapisan masyarakat,” ujar Bagus.

Kendati memiliki potensi besar, industri ini masih dibayangi berbagai tantangan klasik dan struktural. Bagus menyoroti volatilitas harga bahan baku pakan impor, seperti jagung dan bungkil kedelai (soybean meal/SBM). Hal ini krusial mengingat komponen biaya pakan menyerap porsi terbesar, yakni berkisar antara 60-70% dari total biaya produksi perunggasan.

Ia mengurai masalah pada sistem perunggasan nasional meliputi, di antaranya ketidakstabilan biaya pakan (feed cost), rantai pasok (supply chain) hulu hingga hilir yang terfragmentasi dan belum terintegrasi secara utuh, lemahnya distribusi logistik antarwilayah yang memicu disparitas pasokan (surplus vs defisit), tingginya ketergantungan pasar pada penjualan ayam hidup (live bird), serta minimnya infrastruktur hilirisasi dan rantai dingin (cold chain), hingga siklus kelebihan pasokan (oversupply) dan kekurangan pasokan (undersupply) yang terus berulang.

Dampak Finansial Kuartal I 2026
Dari sudut pandang pasar modal, Equity Research Analyst PT BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, yang juga menjadi narasumber, mengonfirmasi adanya lompatan performa yang solid pada kuartal I 2026 (1Q26). Berdasarkan data finansial terbaru, para integrator perunggasan berhasil membukukan laba bersih yang melampaui ekspektasi pasar berkat perbaikan dinamika supply-demand.

Emiten raksasa PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sukses mencetak rekor laba bersih kuartalan tertinggi sebesar Rp 2,6 triliun pada 1Q26, melonjak 13% secara kuartalan (qoq) dan tumbuh signifikan 68% secara tahunan (yoy). Pendapatan kotor CPIN tercatat kokoh di angka Rp 33,3 triliun. Keberhasilan ini didukung oleh strategi pemanfaatan stok bahan baku pakan yang telah dibangun sejak kuartal keempat 2025 sehingga mampu meredam tekanan biaya produksi.

Langkah positif serupa juga diikuti oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang membukukan laba bersih sebesar Rp 1,8 triliun pada 1Q26, melesat 14% qoq dan meroket 167% yoy. Pendapatan kotor JPFA melonjak 22% yoy mencapai Rp 27,2 triliun, didorong oleh pertumbuhan volume dan harga jual rata-rata (ASP) yang kuat di seluruh segmen.

Sementara itu, PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) mencatatkan pertumbuhan tahunan yang solid dengan laba bersih Rp 123 miliar (naik 96% yoy), meskipun mengalami normalisasi margin sebesar 4,0% secara kuartalan akibat mulai meningkatnya tekanan biaya bahan baku.

Menurut analisis ini, program MBG yang mulai berjalan penuh pada awal 2026 diproyeksikan mampu menyerap tambahan sekitar 13,5-20,3% dari total produksi ayam bulanan. Jika program ini diimplementasikan secara menyeluruh hingga mencapai target 82,9 juta penerima manfaat, tingkat penyerapan pasar berpotensi melonjak hingga 16,5-24,7%/bulan. (RBS)

MINIMNYA KONSUMSI TELUR DAN DAGING AYAM DI TENGAH STOK BERLIMPAH, APA PENYEBABNYA?

Mengonsumsi telur dan daging ayam baik untuk gizi harian dan pertumbuhan. (Foto: Gemini)

Kajian mengenai banyak mana konsumsi telur, kerupuk, dan rokok, masih terus menjadi bahasan, sebab tiga komoditas ini memiliki harga setara. Namun dari sisi manfaat kesehatan, sangat berbeda.

Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap produksi telur dan daging ayam di 2025 naik dibandingkan 2024. Angka produksi tersebut diklaim di atas kebutuhan konsumsi nasional. Dalam sebuah kesempatan, I Gusti Ketut Astawa, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pangan dari Bapanas, menyampaikan kepada wartawan bahwa swasembada perunggasan yang produksinya relatif melebihi kebutuhan, baik telur maupun daging ayam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi telur ayam pada 2024 mencapai 6,34 juta ton. Dan, dalam Proyeksi Neraca Pangan Bapanas per 22 April 2025, produksi telur ayam di 2025 disebutkan naik 2,78% menjadi 6,52 juta ton. Angka ini melebihi kebutuhan konsumsi nasional yang sebesar 6,22 juta ton.

Lalu, berapa konsumsi telur dan ayam masyarakat Indonesia? Mengutip platform Instagram milik Bambang Suharno, digital creator, PT Gallus Indonesia Utama-Strategi & Insight Industri Peternakan, Veteriner, Akuakultur, menyebutkan bahwa konsumsi per orang Indonesia per tahun sekitar 150-200 butir telur dan 15 kg daging ayam. Masih jauh dibandingkan dengan konsumsi di negara-negara ASEAN lainnya.

Minimnya tingkat konsumsi dua makanan sumber protein tinggi ini karena alasan yang masih klasik, karena daya beli masyarakat rendah. Tapi mirisnya, konsumsi rokok di Indonesia tembus lebih dari 1.300 batang/orang/tahun, tertinggi di ASEAN, bahkan termasuk yang tertinggi di dunia. Padahal harga satu batang rokok setara dengan sebutir telur.

Informasi lainnya, berasal dari GoodStats, sebuah platform media di bawah naungan Good News From Indonesia, menyebutkan persentase pria perokok aktif di Indonesia sebanyak 73,2% per 2025, tertinggi di dunia. Artinya, saat ini hanya ada sekitar 26,8% pria Indonesia yang tidak merokok.

Tingginya angka perokok bisa membawa masalah serius dalam jangka panjang. Laporan Tobacco Atlas menyebut 268 ribu orang Indonesia meninggal tiap tahunnya akibat merokok. Beban biaya ekonomi yang ditimbulkan akibat merokok juga cukup signifikan, mencapai Rp 288 triliun/tahun.

Sebulan, Rp 750.000 Dibakar
Pola asupan gizi di masyarakat Indonesia masih memprihatinkan. Meyimak data di atas, tergambar jelas masih banyak penduduk Indonesia yang lebih memilih rokok sebagai kebutuhan dalam pengeluaran keuangan keluarga. Rokok kerap dianggap sebagai simbol keren, termasuk oleh kelompok masyarakat miskin. 

Data BPS per Maret 2025 menunjukkan rokok filter-kretek menyumbang sekitar 9,99-10,72% terhadap garis kemiskinan, baik di perdesaan maupun perkotaan. Angka ini menggambarkan pengeluaran untuk membeli rokok lebih besar dari pangan bergizi. Pengeluaran untuk rokok konsisten menempati posisi kedua setelah beras, mengalahkan belanja telur, ayam, dan sumber protein lainnya.

Data Direktorat Jenderal Kementerian Kesehatan menyebut, rata-rata perokok di Indonesia mengonsumsi 4.190 batang rokok/tahun, yang menimbulkan beban ekonomi dan kesehatan yang signifikan. Itu baru data di 2023. Bisa jadi saat ini jumlahnya lebih besar.

Selain itu, tingginya prevalensi merokok di perdesaan (30,8%) dibandingkan perkotaan (18,99%) membuat rumah tangga di desa lebih rentan miskin, karena pengeluaran tembakau. Ini menjadi lingkaran setan yang tak berkesudahan. Kenaikan belanja rokok meningkatkan peluang kemiskinan, karena dana yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga justru terpakai.

“Kondisi ini benar-benar memprihatinkan,” ujar ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yuny Erwanto PhD, kepada Infovet. Ia menyebut, fenomena semacam ini sungguh sulit diterima akal sehat. Kebutuhan asupan gizi untuk keluarga dikalahkan dengan kebutuhan rokok.

Ia pun memberikan gambaran kalkulasi kalau dalam sehari orang menghabiskan Rp 25.000 untuk membeli rokok, maka dalam sebulan Rp 750.000 dibakar begitu saja. “Tapi coba kalau dibelikan telur, dengan asmusi Rp 30.000, maka sebulan dia bisa beli 25 kg telur. Gizi keluarga bisa terpenuhi dan sehat,” ujarnya.

Guru Besar Pangan Hasil Ternak Fakultas Peternakan UGM ini menyebut, perputaran uang untuk membeli rokok hanya akan berputar pada pabrik rokok dan cukai ke negara saja. Sementara jika uang dialihkan untuk konsumsi telur atau daging ayam, perputaran uangnya sangat luas. Mulai dari petani jagung, peternak, perusahaan pakan ternak, perusahaan pembibitan, usaha pemotongan hewan, hingga jalur pasar yang melibatkan pelaku usaha.

“Artinya, semakin tinggi biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi telur atau daging ayam secara tidak langsung akan membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Kerupuk juga Masih Dominan
Pola asupan gizi lainnya sebagian masyarakat yang masih kurang tepat adalah konsumsi kerupuk. Tingkat konsumsi kerupuk di Indonesia sangat tinggi dan merata di seluruh lapisan masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan, menjadikannya makanan pendamping sehari-hari.

Merujuk data BPS pada 2022, konsumsi kerupuk di seluruh Indonesia mencapai 0,03 kg/orang/minggu. Angka tersebut lebih tinggi dari konsumsi makanan ringan lainnya. Untuk 2025, sangat memungkinkan makin tinggi jumlah konsumsinya.

Berdasarkan proyeksi dari Politeknik Kesehatan Jakarta, rata-rata konsumsi kerupuk atau keripik/kapita/minggu diperkirakan meningkat sebesar 6,56%. Data spesifik angka final per tahun untuk 2025 belum dirilis resmi BPS, namun tren menunjukkan peningkatan konsumsi bahan pangan olahan (kerupuk) secara berkelanjutan.

Ternyata, kerupuk bukan hanya digemari di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. BPS mencatat, ekspor kerupuk, keripik, peyek, dan sejenisnya dari Indonesia mencapai US$37,77 juta pada 2023. Nilainya naik 1,35% dibandingkan setahun sebelumnya. Sementara ekspor kerupuk Indonesia pada 2022 mencapai 15.925,1 ton dengan nilai US$37,36 juta. Korea Selatan menjadi negara tujuan utama ekspor kerupuk Indonesia pada 2023. Disusul negara Belanda sebesar US$8,18 juta, lalu ada Tiongkok sebesar US$5,13 juta.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, kerupuk digemari karena ragam jenisnya, harganya terjangkau, dan menjadi pelengkap wajib bagi banyak hidangan utama sebagai lauk. Kurang afdol makan tanpa kerupuk, begitu ucapan sebagian orang.

Nah, jika membandingkan kandungan nutrisi di dalam kerupuk dengan telur dan daging ayam sudah pasti selisih jauh. Telur adalah sumber nutrisi lengkap (protein tinggi, vitamin, mineral) dengan kalori terukur, sementara kerupuk didominasi karbohidrat dan lemak jenuh/trans, serta minim nutrisi penting. Sebanyak 100 g telur (sekitar dua butir) mengandung ~154 kkal dan 12,4 g protein, sedangkan 100 g kerupuk mencapai ~500 kkal dan tinggi garam.

Dari sisi kandungan lemak dan kalori, telur mengandung lemak sehat dan kolesterol. Sebaliknya, kerupuk tinggi kalori dan lemak (terutama lemak gorengan) yang berisiko menyebabkan penumpukan lemak. Telur kaya akan kolin, selenium, yodium, fosfor, besi, serta vitamin A, B, D, dan K. Kerupuk umumnya minim vitamin dan mineral, justru sering tinggi kandungan garam (natrium) yang kurang baik jika berlebihan.

Mengonsumsi telur baik untuk gizi harian dan pertumbuhan. Konsumsi kerupuk berlebih berisiko tinggi terhadap penumpukan kolori, lemak, dan gangguan ginjal. Dengan demikian, konsumsi telur jauh lebih sehat dan padat gizi dibandingkan dengan kerupuk. Kerupuk sebaiknya dikonsumsi hanya sebagai camilan sesekali, bukan sebagai makanan harian.

Dari pengeluaran atau belanja, bisa disimak dari angka sebagai berikut: Harga sebutir telur setara dengan harga satu keping kerupuk untuk sekali makan, dan setara dengan satu batang rokok. Namun dari manfaatnya, telur tentu lebih bergizi dan menyehatkan. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

4 CIRI-CIRI AYAM TIREN

ciri ayam tiren

Ayam tiren (ayam bangkai) adalah ayam yang sudah mati sebelum disembelih, atau proses penyembelihannya tidak benar. Sehingga darah ayam tidak keluar sempurna.

Sayangnya ayam tiren sepertinya masih cukup banyak dijual di pasar. Dan harganya pun biasanya lebih murah.

Ciri-ciri ayam tiren bisa dikenali dari bagian-bagian berikut:

  1. Pembuluh darah di balik kulit ayam terlihat jelas, merah kehitaman.
  2. Daging di balik kulit ayam berwarna kemerahan seperti memar.
  3. Pangkal sayap, berwarna biru kehitaman karena berisi darah.
  4. Pembuluh darah pada leher. Saluran makan (esofagus) dan saluran nafas (trakea) tidak terpotong. Atau terpotong tapi terisi darah berwarna kehitaman.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer