-->

KETIKA DAGING, SUSU, DAN TELUR MENJADI PENENTU MASA DEPAN BANGSA

Beberapa sumber protein hewani. (Foto: iStock)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap dipahami secara sederhana, anak-anak makan di sekolah, lalu pulang dengan perut kenyang. Padahal, bagi penulis yang lama bergelut di dunia akademik dan lapangan peternakan, MBG jauh lebih besar dari sekadar urusan perut. Ia adalah titik temu antara kebijakan negara, ilmu gizi, kerja keras peternak, dan harapan orang tua akan masa depan anak-anaknya.

Di balik setiap piring makan siswa ada keputusan penting, sumber gizi apa yang disajikan, dari mana asalnya, dan siapa yang diuntungkan. Di sinilah produk peternakan yakni daging, susu, dan telur, memiliki posisi yang tidak tergantikan. Ia bukan hanya komoditas, tetapi penentu kualitas tumbuh kembang, kecerdasan, bahkan daya saing generasi mendatang.

Tulisan ini bukan semata-mata pujian pada MBG, tetapi refleksi kritis dari sudut pandang akademisi lapangan. Bahwa keberhasilan MBG sangat bergantung pada keberanian negara menempatkan produk peternakan lokal sebagai tulang punggung gizi, sekaligus sebagai penggerak ekonomi rakyat.

MBG: Investasi Peradaban
MBG seharusnya dipahami sebagai investasi jangka panjang, bukan belanja rutin tahunan. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk gizi anak hari ini akan menentukan kualitas sumber daya manusia puluhan tahun ke depan. Negara-negara maju telah lama menempatkan gizi anak sebagai fondasi peradaban.

Dalam konteks ini, MBG bukan hanya urusan dapur sekolah, tetapi kebijakan strategis lintas sektor dari pendidikan, kesehatan, pertanian, dan peternakan. Jika salah memilih komposisi gizi, maka peluang emas ini bisa berubah menjadi program mahal dengan dampak minimal.

Sebagai akademisi, penulis melihat MBG sebagai laboratorium kebijakan. Di sinilah ilmu gizi, data stunting, dan realitas lapangan diuji secara nyata, bukan hanya di atas kertas laporan.

Sumber Gizi Lengkap yang Tak Tergantikan
Produk peternakan bukan hanya soal gizi anak sekolah, tetapi juga soal keberlangsungan hidup jutaan peternak rakyat. Ketika negara memilih daging, susu, dan telur sebagai sumber utama gizi MBG, pada saat yang sama negara sedang memilih untuk menghidupkan kandang-kandang kecil di desa.

Bagi peternak, kepastian bahwa produk mereka dibutuhkan secara rutin adalah bentuk keberpihakan paling nyata. MBG membuka ruang pasar yang stabil, terukur, dan berkelanjutan, sesuatu yang selama ini sulit diakses peternak kecil karena fluktuasi harga dan ketergantungan pada tengkulak.

Dengan menjadikan produk peternakan sebagai komponen utama MBG, negara sebenarnya sedang menautkan dua tujuan besar sekaligus, yakni memperbaiki gizi anak dan menjayakan peternak lokal.

Telur Ayam, Protein Murah dengan Dampak Besar
Di banyak desa, usaha ternak ayam petelur dijalankan oleh keluarga dengan modal terbatas. Telur menjadi penopang ekonomi harian, namun harganya sering jatuh ketika produksi melimpah. MBG dapat menjadi penyeimbang yang adil bagi kondisi ini.

Dengan kebutuhan telur dalam jumlah besar dan berkelanjutan, MBG menciptakan permintaan yang relatif stabil. Bagi peternak ayam petelur, ini berarti kepastian penyerapan hasil produksi dan peluang memperbaiki manajemen usaha tanpa dibayangi ketidakpastian pasar.

Setiap butir telur yang tersaji di piring anak sekolah sesungguhnya adalah bukti bahwa negara hadir hingga ke kandang rakyat. Anak mendapatkan gizi, peternak mendapatkan harapan.

Susu dan Kalsium: Fondasi Sunyi bagi Pertumbuhan Generasi
Peternak sapi perah selama ini hidup dalam tekanan biaya pakan dan harga jual susu yang tidak selalu berpihak. MBG berpotensi menjadi jalan keluar jika dirancang dengan keberpihakan pada susu segar lokal.

Keterlibatan koperasi susu dan peternak kecil dalam rantai pasok MBG akan menciptakan efek domino positif. Produksi meningkat, kualitas diperbaiki, dan pendapatan peternak menjadi lebih layak.

Ketika anak-anak terbiasa minum susu hasil peternak lokal, sesungguhnya kita sedang menanam dua fondasi sekaligus, yaitu tulang yang kuat dan ekonomi desa yang hidup.

Daging dan Zat Besi
Bagi peternak sapi dan kambing rakyat, pasar daging sering kali tidak ramah. Harga fluktuatif, rantai distribusi panjang, dan posisi tawar yang lemah menjadi persoalan klasik. MBG dapat mengubah peta ini jika dikelola dengan tepat.

Meski tidak disajikan setiap hari, kebutuhan daging yang terencana dalam MBG menciptakan pasar yang lebih pasti. Ini memberi ruang bagi peternak untuk merencanakan produksi, penggemukan, dan perbaikan kualitas ternak.

Dengan demikian, daging dalam MBG bukan sekadar menu bergizi, tetapi juga simbol keberpihakan negara pada peternak ruminansia sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional.

Peternak Lokal di Balik Piring Anak Sekolah
Peternak lokal di balik piring anak sekolah jarang disadari, setiap menu MBG menyimpan cerita peternak di desa. Dari kandang sederhana, mereka menyumbang gizi bagi anak-anak yang mungkin tak pernah mereka temui.

Jika rantai pasok dikelola dengan adil, MBG bisa menjadi kebijakan pro-peternak rakyat. Bukan hanya menyerap produk, tetapi juga memberi kepastian harga. Inilah wajah keadilan pangan yang sering luput dari diskusi publik.

Ketahanan Pangan Dimulai dari Kandang, Bukan dari Impor
Ketika MBG dijalankan dengan orientasi impor, maka yang terjadi hanyalah pemindahan anggaran negara ke luar negeri. Padahal, ketahanan pangan sejati justru dimulai dari kandang-kandang peternak rakyat yang selama ini berjuang dengan keterbatasan modal dan akses pasar.

Peternak lokal sebenarnya memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan daging, susu, dan telur jika didukung dengan kebijakan yang konsisten. Dukungan tersebut tidak selalu berupa subsidi, tetapi bisa dalam bentuk kepastian serapan, regulasi harga yang adil, dan pendampingan teknis berkelanjutan.

MBG seharusnya menjadi momentum koreksi arah kebijakan pangan nasional, dari ketergantungan impor menuju kemandirian berbasis produksi dalam negeri.

MBG dan Peluang Kebangkitan Peternakan Rakyat
Permintaan besar dan rutin dari MBG membuka peluang kebangkitan peternakan rakyat yang selama ini stagnan. Pasar yang pasti memberi keberanian bagi peternak untuk meningkatkan skala usaha, memperbaiki kandang, dan mengadopsi teknologi sederhana.

Namun peluang ini tidak datang otomatis. Tanpa tata kelola yang berpihak, peternak kecil berisiko kembali tersisih oleh pemain besar. Karena itu, desain MBG harus memastikan keterlibatan koperasi, kelompok ternak, dan UMKM peternakan.

Jika dikelola dengan adil, MBG dapat menjadi tonggak sejarah kebangkitan peternakan rakyat di Indonesia.

Tantangan Mutu, Keamanan, dan Kontinuitas
Produk peternakan memiliki karakter mudah rusak dan sensitif terhadap penanganan. Oleh karena itu, rantai pasok MBG harus dirancang dengan standar mutu dan keamanan pangan yang ketat.

Bagi peternak, standar ini bukan ancaman, melainkan peluang untuk naik kelas. Dengan pendampingan yang tepat, peternak dapat meningkatkan kualitas produksi sekaligus memperoleh nilai tambah.

Di sinilah peran pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi krusial sebagai jembatan antara kebijakan dan praktik lapangan.

Ilmu Peternakan yang Bekerja Diam-diam
Kualitas produk peternakan tidak lahir secara instan. Ia ditentukan sejak pemilihan bibit, manajemen pakan, hingga kesehatan ternak.

Ilmu peternakan sering kali bekerja di balik layar, namun menjadi penentu keberhasilan MBG. Tanpa pakan berkualitas dan manajemen yang baik, sulit mengharapkan produk bermutu tinggi.

MBG seharusnya juga mendorong pemanfaatan pakan lokal dan inovasi sederhana yang dapat diterapkan peternak rakyat.

Gizi Hewani dan Keadilan Sosial bagi Anak Indonesia
Akses terhadap protein hewani masih menjadi kemewahan bagi sebagian anak Indonesia. Kondisi ini menciptakan kesenjangan gizi yang berdampak jangka panjang.

MBG hadir sebagai instrumen keadilan sosial, memastikan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, memperoleh gizi yang layak.

Ketika produk peternakan lokal menjadi bagian dari MBG, keadilan sosial bagi anak bertemu dengan keadilan ekonomi bagi peternak.

Menghubungkan Sekolah, Peternak, dan Negara dalam Satu Ekosistem
MBG tidak boleh dipahami sebagai hubungan jual beli semata. Ia harus dibangun sebagai sebuah ekosistem yang saling menguatkan. Sekolah menjadi titik distribusi gizi, peternak sebagai produsen, dan negara sebagai penjamin keberlanjutan.

Ketiganya harus terhubung dalam sistem yang transparan. Ekosistem inilah yang akan memastikan MBG berjalan konsisten dan berkelanjutan.

Menjaga Harapan di Setiap Butir Telur dan Tetes Susu
Pada akhirnya, MBG adalah tentang harapan yang dititipkan pada hal-hal sederhana, pada butir telur, tetes susu, dan potongan daging. Di sanalah gizi bertemu dengan kerja keras, dan kebijakan bertemu dengan kehidupan nyata.

Harapan orang tua agar anaknya tumbuh sehat, harapan guru melihat muridnya lebih fokus belajar, dan harapan peternak agar jerih payahnya dihargai. Harapan-harapan ini tidak lahir di ruang rapat, tetapi di kandang, di dapur sekolah, dan di meja makan keluarga.

Jika MBG dikelola dengan hati dan ilmu, maka dari kandang-kandang rakyat itulah masa depan bangsa perlahan dibangun.

Catatan Akademisi Lapangan
Sebagai akademisi yang kerap turun ke lapangan, penulis melihat langsung bagaimana peternak rakyat bekerja dalam sunyi. Mereka bangun lebih pagi dari kebanyakan orang, merawat ternaknya dengan sumber daya terbatas, dan bertahan di tengah harga yang sering kali tak berpihak.

MBG menghadirkan harapan baru, bukan janji kosong, bahwa kerja keras itu akhirnya mendapat tempat dalam kebijakan negara. Namun harapan ini hanya akan menjadi kenyataan jika MBG dirancang secara adil, transparan, dan benar-benar berpihak pada produksi peternakan dalam negeri.

Pada titik inilah MBG diuji. Apakah ia berhenti sebagai program makan gratis, atau benar-benar menjadi jalan bersama menuju generasi yang lebih sehat dan peternakan rakyat yang berdaulat. ***

Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak,
Prodi Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau

TRANSFORMASI PETERNAKAN SAPI PERAH

Peternakan sapi perah. (Foto: Dok. Infovet)

Transformasi peternakan sapi perah bukan lagi wacana masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung. Perubahan teknologi, dinamika permintaan pasar, perilaku konsumen, serta sistem transaksi ekonomi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan kebijakan publik dalam meresponsnya.

Terlebih lagi dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), memberikan tekanan kuat atas meningkatnya permintaan akan susu segar dalam negeri (SSDN). Akibatnya, peternakan sapi perah rakyat berada dalam tekanan struktural yang kian besar.

Selama puluhan tahun, kebijakan peternakan sapi perah cenderung dibangun di atas asumsi lama, yakni peternak kecil, produksi SSDN sebagai bahan baku, koperasi sebagai penampung, dan industri pengolah susu (IPS) sebagai penentu harga. Asumsi ini mungkin relevan di masa lalu, tetapi menjadi semakin usang di tengah perubahan lanskap ekonomi yang bergerak ke arah digitalisasi, diferensiasi produk, dan sistem bisnis berbasis pasar.

Sejak era industrialisasi hingga masuk ke fase Internet of Things (IoT) dan ekonomi digital, sektor pertanian dan peternakan telah mengalami perubahan mendasar. Produksi massal bergeser ke produksi spesifik sesuai preferensi konsumen. Komoditas bahan mentah berubah menjadi produk bernilai tambah. Namun, kebijakan peternakan sapi perah masih terlalu fokus pada peningkatan populasi ternak dan volume produksi, bukan pada transformasi sistem bisnis dan kelembagaan peternak.

Perubahan perilaku konsumen yang menuntut produk susu siap saji, aman, berkualitas, dan terlacak asal-usulnya belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam kebijakan yang operasional. Negara masih memperlakukan SSDN sebagai komoditas primer, padahal pasar telah bergerak ke arah produk olahan dan diferensiasi nilai. Ketimpangan ini membuat peternak rakyat terjebak sebagai pemasok bahan baku dengan posisi tawar yang lemah.

Masalah semakin kompleks ketika pola transaksi bisnis berubah. Sistem pembayaran di sektor pangan kini cenderung menuju cash before delivery, sementara sebagian besar peternak sapi perah masih bergantung pada sistem pembayaran tertunda (kredit) melalui koperasi. Sayangnya, kebijakan belum cukup hadir untuk menjembatani transisi ini, baik melalui skema pembiayaan yang adaptif, integrasi dengan sistem keuangan digital, maupun perlindungan arus kas peternak.

Koperasi yang seharusnya menjadi instrumen transformasi justru sering terjebak dalam peran administratif dan sosial. Kebijakan koperasi peternakan belum secara serius mendorong koperasi bertransformasi menjadi entitas bisnis modern dengan tata kelola profesional. Banyak koperasi diperlakukan sebagai objek program, bukan sebagai corporate vehicle milik peternak yang mampu mengelola rantai nilai dari hulu ke hilir.

Kritik utama terhadap kebijakan peternakan sapi perah adalah kecenderungannya yang terlalu sektoral. Pendekatan pembangunan masih didominasi oleh intervensi teknis—bibit, pakan, kandang, dan produksi—tanpa diimbangi reformasi kelembagaan, model bisnis, dan akses pasar. Padahal, masalah utama peternakan sapi perah rakyat bukan semata pada kemampuan produksi semata, melainkan pada ketidakmampuan sistem untuk menangkap nilai ekonomi dari perubahan pasar yang lintas sektor.

Transformasi peternakan sapi perah seharusnya diposisikan sebagai agenda kebijakan lintas sektor: pertanian, koperasi, industri, keuangan, dan digital. Negara perlu bergeser dari peran sebagai pelaksana program menjadi enabler transformasi, yang menciptakan ekosistem bisnis kondusif bagi peternak dan koperasi untuk tumbuh sebagai pelaku ekonomi modern.

Tanpa koreksi kebijakan yang mendasar, transformasi peternakan sapi perah akan berlangsung secara timpang, pasar bergerak cepat, sementara peternak rakyat tertinggal. Dalam kondisi demikian, jargon kedaulatan pangan dan penguatan peternak hanya akan menjadi retorika, bukan realitas ekonomi.

Transformasi peternakan sapi perah bukan semata urusan peternak, melainkan cermin kemampuan negara membaca perubahan zaman dan menerjemahkannya ke dalam kebijakan yang relevan, adaptif, dan berpihak pada masa depan.

Jika ini tidak segera dilakukan, tidak mustahil akan terjadi “disrupsi” yaitu perubahan besar dan cepat yang akan mengganggu cara lama (peternak rakyat) baik di sektor ekonomi, teknologi, sosial, maupun tata kelolanya oleh  entitas ekonomi lain non-koperasi, menggantikannya dengan cara baru yang lebih efisien. Dengan kata lain, peternakan rakyat akan terpinggirkan dan tumbuh korporasi yang berjiwa kapitalis. ***

Ditulis oleh:
Rochadi Tawaf
Ketua Asosiasi Holstein Indonesia

MANAJEMEN KESEHATAN UNGGAS BERKEMAJUAN PASCA PELARANGAN AGP

Ayam dan telur bukan sekadar komoditas pangan. Mereka adalah bagian dari sistem kehidupan yang saling berhubungan. (Foto: Gemini)

Telur, Ayam, dan Rasa Syukur yang Terlupakan
Pada seminar Infovet yang digelar dalam ajang ILDEX Indonesia 2025 di ICE BSD, Tangerang Selatan, September kemarin, Saya membuka sesi dengan pertanyaan sederhana kepada para peserta. “Siapa yang pernah makan telur?” Seluruh tangan langsung terangkat. Pertanyaan kedua pun Saya lontarkan, “Siapa yang pernah makan daging ayam?” Lagi-lagi, semua menjawab “pernah”.

Namun ketika ditanya, “Siapa yang pernah bersyukur kepada Allah SWT atas terciptanya telur dan ayam?” Ruang seminar mendadak hening. Tak ada satu tangan pun yang terangkat. Momen hening itulah yang menjadi titik awal refleksi kita semua, betapa sering manusia menikmati hasil unggas, namun lupa bersyukur atas nikmat besar yang dikaruniakan Sang Pencipta.

Ayam dan telur bukan sekadar komoditas pangan. Mereka adalah bagian dari sistem kehidupan yang saling berhubungan, manusia diberi rezeki dari unggas dan manusia pula yang bertanggung jawab atas kesejahteraan mereka. Di sinilah dasar filosofi animal welfare sejati, rasa syukur yang diwujudkan dalam tanggung jawab manusia menjaga kesejahteraan makhluk yang dipeliharanya.

Dari Antibiotik ke Holistik: Perubahan Paradigma Besar
Sejak pemerintah melarang penggunaan antibiotic growth promoter (AGP), sektor perunggasan Indonesia menghadapi tantangan baru. AGP sebelumnya menjadi penopang performa pertumbuhan unggas, menjaga kesehatan usus, dan menekan penyakit.

Namun pelarangan itu bukan akhir segalanya, justru ini momentum untuk bertransformasi menuju manajemen kesehatan unggas yang lebih berkemajuan, berbasis pendekatan holistik.

Pendekatan holistik berarti memandang kesehatan unggas bukan semata dari aspek medis, tetapi dari tiga faktor besar yang saling berinteraksi, yakni perlakuan manusia, perilaku unggas, dan perubahan lingkungan. Ketiganya berperan besar dalam memicu atau mencegah penyakit di peternakan komersial.

Perlakuan Manusia
Manusia memegang peran sentral. Peternak dan operator kandang adalah khalifah fil-ardh, wakil Tuhan di bumi, yang diberi amanah menjaga makhluk hidup lainnya. Maka, revolusi manajemen kesehatan unggas dimulai dari revolusi mindset bahwa setiap tindakan manusia di farm harus mencerminkan rasa syukur dan tanggung jawab terhadap kesejahteraan unggas.

Langkah nyata dimulai dengan standarisasi kemampuan perawatan: Operator layer idealnya mampu mengelola minimal 3.000 ekor dan operator broiler minimal 7.000 ekor dalam sistem open house. Angka yang rasional untuk menyesuaikan beban kerja dengan UMR serta efisiensi kerja.

Kemampuan operator bukan sekadar teknis, tetapi juga mental, berempati terhadap unggas yang mereka rawat. Karena ayam yang diperlakukan dengan baik akan tumbuh optimal, sehat, dan produktif. Maka, kesejahteraan unggas harus diimbangi dengan kesejahteraan operator kandang. Operator yang lelah, tidak cukup istirahat, atau tidak dihargai, sulit memberikan perawatan optimal.

Perilaku Unggas
Unggas modern, baik broiler maupun layer, telah beradaptasi jauh dari perilaku alaminya. Mereka tinggal dalam kandang tertutup dengan ruang gerak terbatas, sirkulasi udara minim, dan aktivitas makan, minum, hingga buang kotoran dilakukan di tempat yang sama.

Akibatnya, udara kandang cepat tercemar amonia, suhu dan kelembapan meningkat, serta kualitas oksigen menurun. Kondisi ini jika dibiarkan menciptakan apa yang disebut zoonotic pools, sumber penularan penyakit yang terus berulang.

Solusinya bukan sekadar disinfektan atau antibiotik, tetapi rehabilitasi lingkungan kandang. Beberapa langkah sederhana namun efektif antara lain mempercepat pelebaran area brooding agar sirkulasi udara lancar; menjaga litter agar tetap kering dan gembur, tidak menggumpal atau jenuh; membuat selokan di sekeliling kandang agar air hujan tidak masuk ke kolong; hingga mengatur ventilasi sehingga udara tetap kaya oksigen dan bebas amonia.

Dengan manajemen mikroklimat yang baik, unggas bisa tumbuh sesuai potensi genetiknya tanpa harus bergantung pada antibiotik.

Perubahan Lingkungan Global
Perubahan iklim ekstrem (climate change) kini menjadi tantangan nyata. Gagal panen di berbagai negara menyebabkan kelangkaan bahan baku pakan, yang berdampak langsung pada penurunan kualitas ransum unggas.

Dampaknya nyata di lapangan pertumbuhan broiler tidak sesuai target, FCR membengkak, DOC layer tidak seragam, daya tahan tubuh menurun, sampai produksi telur tidak stabil.

Solusi rehabilitasi dilakukan melalui upgrade formulasi dan manajemen pakan dengan menambahkan acidifier, toxin binder, prebiotik, probiotik, simbiotik, dan hepatoprotektor dalam bentuk matriks tepung agar tercampur merata, serta meninjau ulang program vaksinasi, memilih vaksin yang tepat, dan menerapkan teknik vaksinasi tanpa stres.

Manajemen Holistik: Integrasi Ilmu dan Empati
Pendekatan holistik dalam manajemen kesehatan unggas bukan hanya konsep ideal. Ini adalah strategi praktis, efektif, dan efisien yang bisa diterapkan di farm komersial. Prinsip utamanya “Perbaiki manusia dan lingkungannya, maka unggas akan sehat dengan sendirinya.”

Holistik berarti memperhatikan semua faktor, yakni manusia, hewan, dan lingkungan, serta menghilangkan pengaruh negatif di antara ketiganya. Hasilnya adalah program mitigasi dan rehabilitasi yang menyentuh akar masalah, bukan sekadar gejala permukaan.

Ciri khas manajemen holistik adalah sebagai berikut: Adaptif terhadap kemampuan operator kandang. Praktis dan mudah diterapkan. Efektif mengurai sumber penyakit. Efisien karena menjadi bagian dari rutinitas kerja harian, bukan tambahan beban.

Menuju Produksi ASUH dalam Konstelasi One Health
Tujuan akhir dari semua penerapan manajemen holistik ini adalah terwujudnya produksi telur dan daging unggas yang ASUH (aman, sehat, utuh, halal). Kesehatan unggas tidak bisa dipisahkan dari kesehatan manusia dan lingkungan. Inilah esensi konsep One Health, sinergi antara manusia, hewan, dan ekosistem untuk menciptakan keberlanjutan pangan yang sehat.

Dengan revolusi mindset, disiplin manajemen, dan empati terhadap makhluk hidup lain, sektor perunggasan Indonesia bukan hanya bertahan pasca pelarangan AGP, tetapi juga bertransformasi menjadi lebih modern, beradab, dan berkemajuan.

Manajemen kesehatan unggas yang berkemajuan bukanlah soal seberapa canggih teknologi kandang atau mahalnya suplemen pakan, tetapi seberapa dalam rasa syukur dan tanggung jawab kita terhadap kehidupan. Dengan empati, ilmu, dan keteladanan, manusia dapat menjadi penentu kesejahteraan unggas, yang pada akhirnya ikut menyejahterakan manusia itu sendiri. ***

Strategi Holistik Mitigasi dan Rehabilitasi

Faktor

Masalah Umum

Strategi Mitigasi dan Rehabilitasi

Perlakuan Manusia

Kurangnya empati dan standar kerja operator kandang

Revolusi mindset, pelatihan empati, standarisasi perawatan, dan peningkatan kesejahteraan operator.

Perilaku Unggas

Kepadatan tinggi, kualitas udara buruk, litter basah

Pelebaran brooding, ventilasi baik, pengaturan litter kering, dan sanitasi rutin.

Perubahan Lingkungan

Perubahan iklim, kelangkaan bahan baku pakan, stres panas

Formulasi pakan dengan acidifier, toxin binder, probiotik, dan upgrade program vaksinasi tanpa stres.


Ditulis oleh:
Drh H. Baskoro Tri Caroko
The 1st Winner Veterinary Poultry Technical Consultant - Inpova Award 2019
Koordinator ADHPI Wilayah Jabodetabek & Banten

SERVANT LEADERSHIP SOLUSI PEMBERDAYAAN EKONOMI PERUNGGASAN

Pemberdayaan ekonomi sektor perunggasan adalah aransemen wajib bagi semua elemen orkestra. (Foto: Istimewa)

Di Indonesia pada 2019, kelompok usaha menengah berkontribusi 37% dari konsumsi nasional. Akibat pandemi COVID-19, pada 2023 menurun menjadi 21%, hingga tersisa 16%. Bangkrutnya kelompok usaha menengah menyebabkan tsunami PHK karyawan, akibatnya pengangguran bertambah, kemiskinan meningkat, daya beli turun, menimbulkan gejolak sosial, rawan pangan, dan gangguan keamanan.

Meningkatnya pengangguran dan kemiskinan menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat terutama kalangan akar rumput sebagai konsumen terbesar, akibatnya demand telur dan ayam melemah signifikan.

Pandemi mengingatkan pada cerita pewayangan “Semar Mbangun Khayangan”. Diawali pertemuan Pandawa Lima bersaudara di istana negeri Amarta. Hadir Baladewa yang bermaksud minta pusaka Jamus Kalimasada sebagai tumbal mengatasi pandemi di negeri tetangga. Selanjutnya datang Gareng, Petruk, Bagong mewakili Semar dari desa di wilayah Amarta. Mereka melaporkan pandemi serupa dan memohon agar Pandawa bersaudara berkenan hadir ke desa beserta pusaka Jamus Kalimasada untuk kepentingan rakyatnya, dengan harapan pemulihan kondisi berjalan lancar, berhasil, dan sukses.

Akibat dua kepentingan serupa tersebut, timbul perdebatan seru antara Baladewa mewakili luar negeri dan Petruk mewakili Semar dari desa di negeri sendiri. Situasi memanas dan bertambah sengit, karena Baladewa sengaja mengeluarkan kata-kata kasar, menghina Semar sebagai gedibal pitulikur, miskin, bagaikan cebol meraih bintang, orang rendahan yang tak tahu diri, sehingga punokawan tersinggung. Demi menjaga harga diri sebagai lelaki dan nama baik Semar, mereka nekat melawan dan tak peduli meskipun Baladewa terkenal sakti mandraguna.

Singkat cerita, dengan kesaktian sebagai dewa ngejawantah Semar berhasil membekuk oknum kreator pandemi di desanya, mengungkap fakta dan membasmi sifat tamak, rakus, serakah, sumber angkara murka. Berkat dukungan Pandawa Lima dan tata kelola desa sesuai Jamus Kalimasada, Semar kembali membangun semangat agar giat berkarya, bekerja sama dan saling menjaga, sehingga tak ada lagi pengangguran, kemiskinan, kelaparan. Sandang, pangan, papan tercukupi, rakyat berpenghasilan dan berdaya beli, diperlakukan adil, hidup mulia, sejahtera, dan bahagia bagaikan di surga (khayangan).

Semar Mbangun Khayangan adalah cerita pewayangan yang heroik dan sarat makna. Dalam kehidupan nyata, sifat tamak, rakus, dan serakah terbukti selalu menimbulkan kekacauan, kerusakan, serta sangat merugikan manusia lainnya. Manusia terbaik itu bukan karena mereka lebih berkuasa, bergelimang harta, pandai tipu daya, ahli rekayasa, atau mahir berpura-pura. Manusia terbaik itu adalah mereka yang ikhlas menjalani takdir, pandai menjaga lisan, dan rendah hati, sehingga hidupnya selalu membawa manfaat bagi manusia lainnya.

Bagaimana dengan ilustrasi kondisi bisnis sektor perunggasan sampai triwulan terakhir di 2024? Sektor perunggasan ibarat orkestra kolosal, menggunakan berbagai jenis alat musik yang melibatkan banyak pemain profesional pada setiap jenis alat musik yang dimainkan. Setiap pemain andal dan kompeten memainkan alat musik masing-masing. Setiap pemain memiliki peran penting, terkait dan saling memengaruhi, mengisi dan menguatkan. Agar menghasilkan harmonisasi semua elemen harus berpadu dalam aransemen yang sama sehingga pertunjukan terasa indah, megah, dan menghibur.

Jika tidak pernah komunikasi, tidak ada komitmen lagu, tanpa aransemen, dan tidak pernah latihan bersama, bagaimana ketika dipentaskan? Apakah bisa membuat para pemirsa terhibur? Apa yang bisa diharapkan dari pentas orkestra yang tidak pernah dipersiapkan untuk menghibur para pemirsanya? Apa yang bakal terjadi ketika pentas dimulai? Diawali suara tak beraturan dan bunyi yang mengagetkan, selanjutnya panggung menjadi sumber kegaduhan, tidak enak dilihat, tidak nyaman didengar, tidak menghibur, mengecewakan para pemirsanya, dan pasti sangat merugikan produsernya.

Tetapi membuat grand design pemberdayaan ekonomi sektor perunggasan memang tidak gampang, lebih rumit dari ilustrasi di atas. Karena harus diawali revolusi mindset. Pemberdayaan ekonomi bukan untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok sendiri. Bukan kampanye cari muka, pencitraan ekonomi, atau mencari dukungan suara. Pemberdayaan ekonomi pada sektor perunggasan sejatinya adalah aransemen untuk berbagi peran demi menjaga kestabilan (supply and demand), saling mengisi dan menguatkan, agar sektor perunggasan lebih harmonis, sustainable, dan berkesinambungan.

Pemberdayaan ekonomi sektor perunggasan adalah aransemen wajib bagi semua elemen orkestra. Dibutuhkan regulasi agar kolaborasi dan sinergitas yang dibangun menghasilkan harmonisasi indah dan membahagiakan. Semua eleman harus menyesuaikan, perlu instal dengan mindset baru, serta menghilangkan penghambatnya berupa sifat tamak, rakus, serakah yang hanya mementingkan diri sendiri, keluarga, atau kelompoknya. Diganti dengan kepemimpinan yang melayani, berani dan baik hati, peduli untuk membela kepentingan rakyat demi kemajuan sektor perunggasan, perbaikan visibilitas usaha, dan keamanan investasi bisnis di masa depan.

Diawali bersyukur atas karunia nikmat yang telah diterima sebagai bangsa berpenduduk 270 juta jiwa, tinggal di negara kepulauan, memiliki pemandangan indah, tanah subur, dan sumber daya melimpah. Semestinya Indonesia lebih percaya diri menentukan masa depan bangsa dan pemulihan ekonomi. Dengan persepsi sama dan komitmen untuk kemajuan bangsa, melalui pengembangan pariwisata, perbaikan tata kelola sektor pertanian, peternakan dan kelautan, serta perbaikan tata niaga hilirisasi secara holistik untuk kestabilan (supply and demand) demi terwujudnya kedaulatan pangan Indonesia.

Semoga pemimpin terpilih pada pemerintahan baru memiliki Servant Leadership, kepemimpinan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang adil dan beradab untuk memberdayakan kaum lemah, memperhatikan mereka yang tertindas, terbelakang dan di bawah garis kemiskinan, serta mendorong kelompok usaha menengah dengan cara bijaksana, supaya terbuka peluang kerja bagi akar rumput. Tidak ada lagi pengangguran, kemiskinan atau kelaparan, dan atas berkah rahmat Allah SWT didorong keinginan luhur terwujud kesejahteraan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan kebijakan ekonomi yang berpihak pada kepentingan rakyat dan regulasi yang kondusif bagi pertumbuhan usaha menengah dan UMKM, efektif mendorong pertambahan jumlah perputaran uang pada kalangan akar rumput serta berpengaruh signifikan terhadap peningkatan daya beli masyarakat. Sehingga strategi peningkatan daya beli masyarakat melalui cara tersebut konstruktif membangun pilar ekonomi untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi biaya produksi, dan customer segmentation sebagai roadmap pemulihan kondisi ekonomi nasional untuk Indonesia maju dan terbebas dari krisis.

Pemberdayaan ekonomi komunitas akar rumput sejatinya adalah implementasi kepatuhan terhadap perintah untuk memberdayakan kaum lemah, yang terbelakang dan tertindas, sehingga kebaikan yang dilakukan menolong siapapun tanpa melihat latar belakang agama, suku, atau organisasi sebagaimana amanat QS Al Maun. Sehingga Allah SWT pasti menepati janji dan tidak akan menterlantarkan siapapun yang menebar kebaikan di muka bumi ini.

Tak ada gading yang tak retak dan seputih-putih bulu kelinci pasti ada hitamnya. Kita sebagai manusia tidak lepas dari salah, khilaf, dan dosa. Untuk itu mari segenap elemen orkestra bisnis perunggasan bersama melakukan mindset change dengan sifat kepemimpinan yang melayani, berani dan baik hati, membela kepentingan rakyat, sehingga tercipta ekosistem bisnis sektor perunggasan yang kondusif, marketable, sustainable, dan lebih profitable. Selamat menyongsong tahun baru 2025 dengan mindset baru, semoga lebih bersemangat dan sukses selalu. ***


Ditulis oleh:
Drh Baskoro Tri Caroko
Poultry Farm Consultant

''THINK GLOBALLY, ACT LOCALLY'' TERHADAP PERUBAHAN IKLIM GLOBAL

(Foto: Istimewa)

Bersyukur bisa hadir pada lokakarya Foresight yang diadakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) bekerja sama dengan Food and Agriculture Organization (FAO), pada 15-16 Juli 2024, di Pullman Hotel Thamrin, Jakarta Pusat, bersama seorang kolega lain, mewakili Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI).

Pada lokakarya tersebut membahas tema meningkatnya ancaman perubahan iklim yang mengganggu produksi peternakan dan memicu penyakit zoonosis baru untuk mengidentifikasi tantangan masa depan subsektor peternakan di Indonesia, tema yang menarik bagi saya sebagai praktisi perunggasan.

Membaca undangan Ditjen PKH yang dikirimkan ketua ADHPI, Drh Dalmi Triyono, menerangkan bahwa kerangka acuan yang digunakan dalam lokakarya tersebut adalah Inisiatif Kebijakan dan Perencanaan Masa Depan Peternakan (Futures Livestock Policy and Planning (FLPP) Initiative) Mitigasi Dampak Perubahan Iklim terhadap Penyakit Zoonosis yang Muncul dan Muncul Kembali di Indonesia.

Dijelaskan dalam beberapa dekade mendatang, negara-negara berkembang seperti Indonesia akan mengalami lonjakan permintaan makanan sumber protein hewani karena pertumbuhan penduduk, meningkatnya pendapatan, dan urbanisasi. Peningkatan permintaan akan mendorong investasi besar dalam peternakan dan rantai nilai terkait, yang sangat berdampak pada mata pencaharian, kesehatan masyarakat, dan lingkungan.

Ketika sektor peternakan berubah, interaksi baru antara manusia, hewan, dan satwa liar akan muncul, berpotensi mengarah pada ancaman kesehatan masyarakat baru. Ancaman ini mencakup penyakit zoonosis yang muncul dengan potensi pandemi, bahaya keamanan pangan, dan penyebaran patogen resistan antimikroba.

Dalam lokakarya tersebut, metode foresight akan disusun untuk mengikuti Model Foresight Generik seperti yang digariskan oleh Joseph Voros.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Drh Syamsul Ma’arif MSi, sebelum membuka lokakarya secara resmi, turut memberi apresiasi positif, bersyukur, dan mendorong solusi perubahan iklim serta pencegahan zoonosis dengan pendekatan One Health.

Pada hari pertama fokus pada “Input” mengumpulkan informasi tentang keadaan sektor peternakan Indonesia saat ini, termasuk tren, tantangan, dan peluang. Kemudian “Analisis” untuk identifikasi pola dan mencari pendorong utama perubahan. Diawali pemaparan tentang tren perubahan iklim 15-20 tahun ke depan disampaikan oleh Kadarsih MSi dari BMKG, dilanjutkan Drh Didi Prigastono dari industri perunggasan, Josep lay dari industri penggemukan sapi potong, dan Drh Dedy Fachrudin mewakili industri sapi perah. Semua peserta terlibat dalam “Interpretasi” untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang kekuatan mendasar yang membentuk sektor ini.

Terhadap perubahan tersebut para narasumber menyikapi dengan cara berbeda, sehingga menjadi sebuah kombinasi yang melengkapi dan saling menguatkan, dengan perubahan iklim tersebut agar lebih memperhatikan biosecurity, food security, dan social security.

Pada hari kedua, fokus beralih ke “Prospection” mengeksplorasi skenario masa depan potensial untuk sektor peternakan Indonesia. Peserta menggunakan alat dan teknik Foresight untuk membayangkan masa depan alternatif, dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti perubahan iklim, kemunculan penyakit, dan preferensi konsumen. “Output” dari latihan ini akan diterjemahkan ke dalam rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti untuk kebijakan dan perencanaan.

Penulis (paling tengah) mewakili ADHPI saat lokakarya Foresight yang diadakan Ditjen PKH dan FAO di Jakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Tetapi dalam diskusi kecil kelompok, kami merasa ada yang kurang pas, karena aktualisasi bayangan perubahan yang kami presentasikan tersebut terlampau ekstrem. Kami khawatir menimbulkan gejolak, apalagi kondisi mental masyarakat saat ini sangat rapuh akibat perubahan yang terjadi, berpotensi menyebabkan gejolak sosial, sehingga bernegara bisa berubah ekstrem menjadi sosialis atau kapitalis.

Sehingga pada akhir sesi kami sampaikan bahwa menyikapi perubahan yang bakal terjadi di masa depan, sebaiknya “Berpikir Global tetapi Bertindak Lokal” (Think Globally, Act Locally) memahami masalah secara global, menyadari bahwa Indonesia juga terdampak akibat perubahan, tetapi mencari solusinya dengan tetap memperhatikan kepentingan dalam negeri dan kearifan sumber daya lokal agar kita tetap memiliki jati diri sebagai bangsa yang beradab, berbudaya, menjunjung tinggi perikemanusiaan, keadilan, dan persatuan untuk kesejahteraan rakyat dan kejayaan Indonesia. Berbeda dari konsep sosialis maupun kapitalis, maka gagasan itu kami namakan Sosio Capita Humanis.

Masih banyak yang ingin kami diskusikan, bersama tim dengan latar belakang berbeda, membahas strategi masa depan untuk kepentingan peternakan di Indonesia adalah sangat mengasyikan, tetapi karena terbatasnya waktu, lokakarya harus disudahi, dan ditutup resmi oleh Drh Imron Suandi MVPH selaku Direktur Kesehatan Hewan yang baru.

Semoga hasil pemikiran peserta dalam lokakarya tersebut bermanfaat sebagai kontribusi pada rencana strategis peternakan nasional yang tangguh menghadapi perubahan iklim, mencegah zoonozis, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045. ***

Ditulis oleh:
Drh H. Baskoro Tri Caroko
Koordinator ADHPI Area Jabodetabek Banten

MEMAJUKAN WIRAUSAHA PERUNGGASAN DI INDONESIA

Pengembangan kewirausahaan perunggasan dihadapkan pada fakta bahwa dunia senantiasa berubah, atau dikenal sebagai Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA). (Foto: Istimewa)

Industri perunggasan menjadi salah satu wahana yang tepat untuk dikembangkan oleh para pelaku wirausaha Indonesia, karena besarnya potensi perunggasan yang dimiliki. Karakter khusus harus ditanamkan sejak dini sehingga generasi muda Indonesia dapat memanfaatkan setiap peluang bisnis perunggasan Indonesia, agar perunggasan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Indonesia memiliki populasi penduduk yang sangat besar dan hal itu menjadi peluang untuk memenuhi kebutuhan asupan gizi protein hewani. Peluang tersebut didukung pula oleh kekayaan alam yang besar, iklim yang mendukung, ketersediaan teknologi, serta bahan baku yang bisa menjadi nilai tambah dalam suatu proses produksi.

Semua kelebihan yang dimiliki Indonesia tersebut menjadi tantangan pengembangan wirausaha di bidang perunggasan dalam rangka menyuplai kebutuhan protein hewani bagi warga Indonesia. Terlebih lagi saat ini perunggasan menyumbang kontribusi atas 2/3 dari kebutuhan protein hewani nasional dan berkontribusi atas 80,77% terhadap total produksi ternak nasional. Sektor perunggasan juga mampu menyerap sekitar 10% dari tenaga kerja nasional, dengan omzet mencapai 700 triliun per tahun (Ditjen PKH, 2024). Sementara di sisi lain, angka konsumsi protein hewani asal unggas masih sangat kecil dibanding negara-negara tetangga di ASEAN.

Peluang itu dapat dimanfaatkan oleh para wirausaha di bidang perunggasan untuk dapat berkreasi memanfaatkannya. Kewirausahaan pada prinsipnya merupakan suatu kemampuan untuk memberi nilai tambah suatu produk di pasaran, yang tentunya menggunakan berbagai cara. Kewirausahaan dikaitkan dengan pembentukan bisnis baru yang menghasilkan keuntungan, nilai, dan produk baru atau jasa yang unik serta kreatif.

Jadi, kewirausahaan merupakan proses menciptakan hal baru atau membuat sesuatu yang berbeda dari yang pernah ada sebelumnya. Dengan demikian, seorang wirausaha adalah seseorang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai peluang, mengelola sumber daya yang dibutuhkan, serta mengambil tindakan yang tepat untuk memastikan sukses secara berkelanjutan.

Adapun usaha atau perusahaan, merupakan suatu bentuk usaha yang melakukan kegiatan secara tetap dan terus-menerus dengan tujuan memperoleh keuntungan, baik yang diselenggarakan oleh perorangan maupun badan usaha yang berbentuk badan hukum atau tidak berbentuk badan hukum yang didirikan dan berkedudukan di suatu daerah dalam suatu negara.

Di era yang penuh tantangan global ini pengembangan kewirausahaan di suatu negara dihadapkan oleh fakta bahwa dunia senantiasa berubah, atau dikenal sebagai Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity (VUCA World). Hal itu disebabkan dunia usaha sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di antaranya selera pasar, kebijakan pemerintah, perkembangan politik, krisis ekonomi, perkembangan teknologi, dan kesehatan masyarakat.

Volatility, merupakan perubahan yang berlangsung dengan sangat cepat di era disrupsi dan digital ini. Produk live cycle yang sebelumnya mencapai 15-20 tahun, kini pada era sekarang hanya berlangsung selama 1-5 tahun saja. Seorang wirausaha harus selalu beradaptasi dengan adanya berbagai perubahan yang dihadapi.

Uncertainty, seorang wirausaha selalu dihadapkan pada ketidakpastian, baik pada saat ini ataupun masa depan. Cukup atau tidak cukup atas informasi yang memadai, perusahaan atau seorang wirausaha harus tetap mengambil keputusan. Dengan demikian untuk dapat bertahan, seorang wirausaha harus selalu siap dengan berbagai kepastian.

Complexity, banyak informasi dan faktor yang memengaruhi proses pengambilan keputusan, namun tidak mungkin semua faktor tersebut dapat dipertimbangkan. Sehingga perlu untuk mempertimbangkan faktor-faktor yang penting saja untuk pengambilan keputusannya.

Ambiguity, sering kali informasi yang didapatkan tidak jelas, tidak lengkap, tidak akurat, atau bahkan saling bertentangan, sehingga sulit untuk dapat ditarik kesimpulan. Oleh karena itu, keputusan dapat saja berubah sesuai dengan perkembangan yang terjadi.

Jadi walaupun pengembangan perunggasan Indonesia terbuka lebar, namun peluang dan tantangan dalam lingkungan perunggasan tersebut akan senantiasa terus-menerus mengalami perubahan, sehingga sangat diperlukan strategi dalam pengambilan keputusan. Di sinilah peran penting seorang wirausaha perunggasan untuk dapat memanfaatkan peluang bisnis perunggasan di tengah keberadaan perusahaan-perusahaan raksasa dunia yang ada di Tanah Air.

Di Indonesia jumlah wirausaha perunggasan, apalagi wirausaha muda masih sangat sedikit. Hal itu disebabkan beberapa faktor seperti pola pikir yang tidak tepat, tidak memahami bagaimana memulai sebuah wirausaha perunggasan, modal belum mencukupi, ingin sukses secara instan, khawatir akan ketidakpastian, serta ketakutan setelah mendengar cerita kegagalan, dan sebagainya.

Menurut Isra Noor (2023), untuk memulai suatu wirausaha perunggasan harus dimulai dari apa yang dimiliki, harus berani memulainya, dan tidak membiarkan kesempatan lewat. Ada banyak cara untuk memulai usaha, bisa dari ide yang sederhana, ide dari pendidikan, pekerjaan, hobi, keahlian, ataupun keprihatinan. Hukum memulai usaha sama halnya dengan hukum gaya gesek suatu benda. Benda yang diam akan memiliki gaya gesek yang relatif besar dibandingkan dengan benda yang bergerak. Dan gaya gesek terbesar terjadi pada saat benda akan bergerak. Demikian juga ketika akan memulai usaha, maka hambatan terbesar adalah ketika akan memulainya.

Di industri perunggasan nasional, tantangan utama yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh seorang wirausaha adalah perihal margin keuntungan, outbreak penyakit, masuknya produk impor, masih rendahnya minat para pelaku usaha secara profesional, dan aspek permodalan. Semua tantangan tersebut harus dicermati sebagai bekal dalam melangkah menjadi seorang wirausaha perunggasan yang sukses.

Peran Pendidikan 
Akan lebih baik manakala pendidikan seputar kewirausahaan dapat dilakukan sejak dari taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, sampai perguruan tinggi. Penanaman nilai-nilai jiwa kewirausahaan sangat perlu untuk ditanamkan sejak dini karena karakteristik wirausaha sesungguhnya bukan hanya harus dimiliki oleh para pelaku wirausaha, namun merupakan suatu keterampilan hidup (life skill) yang harus dimiliki oleh setiap generasi muda di era disrupsi ini.

Keterampilan hidup yang semestinya dimiliki oleh generasi muda Indonesia sejak dini yakni keterampilan tentang cara komunikasi, kolaborasi, kreativitas, pemikiran kritis, karakter, dan jaringan. Keterampilan-keterampilan seperti itu sebaiknya tidak sekadar diajarkan melalui kurikulum di sekolah atau kampus, namun juga diaplikasikan secara terintregrasi dalam kegiatan-kegiatan di luar pembelajaran pada umumnya, misalnya pada organisasi siswa atau mahasiswa, serta kegiatan siswa atau mahasiswa.

Seorang wirausaha perunggasan harus bisa memiliki setidaknya beberapa karakter, yakni gigih atau tekun, kreatif, inovatif, memiliki jiwa kepemimpinan, mampu berkomunikasi, berani mengambil risiko, percaya diri, mampu membangun jaringan, dan memiliki etika yang baik (Nababan, 2021). Karakter berikutnya adalah jujur, disiplin, tanggung jawab, berpikir kritis, serta mampu memandang jauh ke depan dan jangka panjang.

Untuk dapat menjadi wirausaha perunggasan sukses, maka strategi efektif agar dapat mengembangkan usaha yakni pentingnya upaya meniru dengan lebih baik dari yang ditiru (benchmarking), produk harus unik, berbeda dan sulit ditiru (diferensiasi), adanya kemitraan (partnership), adanya jaringan kerja (networking), adanya nilai tambah (added value), adanya alih daya dari luar (outsourcing), serta tak kalah pentingnya adalah pemberdayaan (Ali Agus, 2018).

Manakalah jiwa dan karakter wirausaha perunggasan sudah dapat ditanamkan sejak dini, maka akan ada banyak peluang perunggasan yang dimanfaatkan sebagai objek kewirausahaan. Dan hal yang harus ditekankan adalah para generasi muda didorong untuk berani keluar dari zona nyaman untuk menjadi seorang wirausaha yang inovatif dan kreatif. Dengan meningkatnya para wirausaha muda di bidang perunggasan, hal itu tidak saja dapat meningkatkan kemajuan dan kemandirian industri perunggasan nasional, namun juga menjadi faktor penggerak nyata dalam sistem perekonomian nasional. ***


Ditulis oleh:
Andang S. Indartono SPt
Koordinator Indonesia Livestock Alliance (ILA)

POTENSI DAN KEBUTUHAN DOKTER HEWAN DI INDONESIA SAAT INI


Profesi Dokter Hewan di Indonesia masih banyak dibutuhkan hingga saat ini. Berbagai bidang pekerjaan membutuhkan dokter hewan baik sebagai Pegawai Negeri ( ASN) di kementrian pertanian, Kementrian Kesehatan, Kementrian Lingkungan Hidup Kementrian Perikanan dan Kelautan Kepolisian dan Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara, Pegawai Swasta dibidang Pabrik Obat Hewan, Pabrik Makanan Ternak. Disamping itu juga dapat bekerja di Peternakan Ayam, Peternakan Sapi Perah, Sapi Potong, Peternakan hewan eksotik, satwa liar dan di Kebun Binatang.

Total jumlah Dokter Hewan yang terdata di PDHI kurang lebih 13.500 orang. Dokter Hewan tersebar di 56 Cabang di wilayah Indonesia dengan Komposisi 50 % ASN, 40 % Swasta dan 10 % Praktek Mandiri sebagai Praktisi. Pertambahan Dokter Hewan setiap tahun kurang lebih 1000 Dokter Hewan yang berasal dari Universitas Gadjah Mada, SKHB IPB, Universitas Airlangga, Universitas Hasanudin, Universitas Udayana, Universitas Nusa Cendana, Universitas Wijaya Kusuma, Universitas Padjadjaran, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Brawijaya. Data dari Direktorat Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian RI menyebutkan saat ini Indonesia memiliki 1.691 Puskeswan yang tersebar di sejumlah daerah. Sementara ini terdata hanya 21 persen kecamatan yang menyediakan fasilitas Puskeswan aktif. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 64 Tahun 2007, wilayah kerja Puskeswan meliputi 1 sampai 3 kecamatan. Dengan jumlah kecamatan di Indonesia sebanyak 7.094, dan rata-rata satu Puskeswan melakukan pelayanan untuk dua kecamatan, maka jumlah ideal Puskeswan di Indonesia adalah sebanyak 3.547 unit. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih perlu tambahan sebanyak 1.800-an unit Puskeswan di seluruh Indonesia. Ini baru berbicara tentang puskeswan, salah satu sektor pelayanan kesehatan hewan milik pemerintah, belum berbicara tentang kebutuhan dokter hewan untuk kepentingan keamanan pangan asal hewan, konservasi satwa liar, pemeliharaan hewan kesayangan, laboratorium dan sebagainya.

Total Kebutuhan Dokter Hewan di Indonesia menurut perhitungan adalah 50.000 Dokter Hewan untuk memenuhi kebutuhan di seluruh wilayah Indonesia dari tingkat Nasional hingga tingkat Kabupaten. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut perlu panambahan dokter hewan setiap tahun minimal 5.000 dokter hewan. Sehingga dalam waktu 5 sampai 10 Tahun jumlah dokter hewan bisa terpenuhi. Untuk memenuhi jumlah kelulusan minimal 5000 per tahun diperlukan Fakultas Kedokteran hewan minimal 20 Universitas di Indonesia, Hingga saat ini Jumlah Universitas yang telah memiliki Fakultas dan Program Studi Kedokteran Hewan berjumlah 12 Universitas. Universitas yang baru membuka Prodi Kedokteran hewan tahun 2023 adalah Universitas Riau di Pekanbaru.

Sumber : Data seleksi nasional berdasarkan tes (SNBT) dan seleksi Nasional berdasarkan Prestasi (SNBP) Perguruan Tinggi Negeri. https://sidata-ptn-snpmb.bppp.kemendikbud.go.id.

Dari tahun ke tahun, persaingan pendaftar UTBK SNBT di bidang kedokteran hewan terbilang ketat. Tingkat persaingan dapat diukur dari daya tampung dan peminat jurusan yang dituju. Peminat bidang ini sangat banyak dibandingkan dengan daya tampung yang ada. Ini menandakan bahwa semakin tahun jurusan kedokteran hewan semakin menjadi incaran. Kedokteran hewan memainkan peran integral dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan hewan, serta melibatkan sejumlah prospek karir yang luas dan menarik bagi para profesionalnya. Dalam dunia yang semakin peduli terhadap hewan, dokter hewan tidak hanya berfokus pada perawatan hewan peliharaan, tetapi juga terlibat dalam aspek-aspek kesehatan ternak, kesehatan masyarakat, konservasi satwa liar, juga berperan penting dalam penelitian, pangan hewan, dan bahkan industri farmasi hewan.

Data jumlah penerimaan mahasiswa SNBT dan SNBP Kedokteran Hewan tahun 2020-2022. Sumber = kemdikbud.go.id

Dari data diatas diketahui bahwa data tampung dari ke-9 Universitas yang memiliki jurusan Kedokteran Hewan dari tahun ke tahun terjadi penurunan, artinya terjadi peningkatan peminat tanpa dibarengi dengan peningkatan daya tampung. Rata-rata data tampung pada tahun 2020 adalah 13,1%, tahun 2021 adalah 10,84% dan tahun 2022 adalah 8,5%. Ini menunjukkan bahwa demand/permintaan terhadap jurusan kedokteran hewan sangat tinggi. Contohnya Prodi KH di Universitas Riau yang baru buka pada tahun 2023 ini, daya tampungnya hanya 40 orang namun peminatnya 712 orang, artinya ratio persaingan 1:18. Angka yang sangat besar untuk sebuah prodi baru di tahun pertama berdirinya. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, daya tampung 175 mahasiswa, dengan peminat sebanyak 800 orang. Sementara di Universitas Nusa Tenggara Barat daya tampung 100-150 mahasiswa dengan peminat 350 orang.

Bila melihat dari sisi wilayah perlu dibangun Fakultas Kedokteran Hewan di wilayah Pulau Kalimantan dan Pulau Papua. Saat ini jumlah FKH di Pulau Sumatera ada 2 FKH yaitu FKH UNSYIAH dan Prodi KH di FK Universitas Riau, Di Pulau Jawa ada 6 FKH yaitu SKHB IPB, UGM, UWKS, UNAIR, UNPAD dan UB. Di Pulau Bali ada FKH UDAYANA, Di Pulau NTT ada FKH UNDANA, di Pulau NTB ada UNDIKMA, dan di Pulau Sulawesi ada FKH UNHAS. Pada Tahun 2024 telah diberikan rekomendasi oleh PBPDHI kepada Universitas Negeri Padang di Kota Bukit Tinggi dan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat di Kota Payakumbuh yang kedua nya ada di Sumatera Barat. PBPDHI sangat mengharapkan berbagai Universitas yang ada untuk mendirikan Prodi Kedokteran Hewan seperti Universitas Lampung, Universitas Mulawarman, Universitas Cendrawasih, Universitas Jember, Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas dan Universitas Samratulangi.

Salah satu syarat pendirian Prodi Kedokteran Hewan adalah memiliki Fakultas Kedokteran atau Fakultas Kesehatan Masyarakat. Sebelum menjadi Fakultas, Kedokteran Hewan dapat menjadi Prodi/Program Studi di bawah Fakultas Kedokteran atau Fakultas Kesehatan Masyarakat. Dengan alasan bahwa sarana laboratorium dan sarana pembelajaran memiliki kesamaan sehingga mempermudah proses pembelajaran. Setiap pendirian prodi Kedokteran Hewan wajib mendapatkan rekomendasi dari Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia, serta wajib memenuhi persyaratan ketentuan yang telah di tetapkan melalui SK bersama PDHI dan AFKHI.

Kita berharap semoga harapan ini dapat segera terwujud sehingga jumlah Kebutuhan Dokter Hewan di Indonesia bisa terpenuhi, untuk menjamin Kesehatan masyarakat melalui Kesehatan hewan dan dapat terjamin makanan hasil ternak seperti daging, susu dan telur untuk menyehatkan masyarakat. Terima kasih.

Penulis:

Ketua Umum PB PDHI

Dr drh M Munawaroh MM

MANFAAT DATA SCIENCE DI BISNIS PERUNGGASAN

Data sience dapat menjadi pedoman bagi peternak dalam mengambil keputusan di kemudian hari, sehingga performa produksi bisa lebih optimal. (Foto: Istimewa)

Industri perunggasan merupakan lini bisnis paling maju di antara bisnis peternakan lainnya, lengkap dengan berbagai adopsi teknologi di dalamnya. Namun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak celah-celah yang harus diantisipasi. Untuk itu penggunaan data science menjadi hal penting, sehingga peluang kebocoran bisa tertutupi.

Data science merupakan suatu multidisiplin ilmu yang mempelajari pemrograman, visualisasi data, statistik, dan domain bisnis itu sendiri. Jadi ketika peternak melakukan riset secara manual dan ada sentuhan statistiknya, maka itu masih masuk ke ranah tradisional riset. Namun ketika sudah dimasukkan tentang computer science akan berkembang menjadi software development dan gabungan antara keduanya akan menghasilkan mesin learning. Jadi, intinya data science ini adalah gabungan antara ketiganya, yakni lini bisnisnya seperti apa dalam hal ini kita di perunggasan, dipadukan ke computer science, IT, dan statistic mathematic-nya.

Data science telah sejak lama digunakan secara luas di berbagai bidang bisnis, namun sifatnya spesifik dan harus mengerti betul berbagai ilmunya. Data science harus mencakup qualitative analysis, unstructured data, multidisciplinary, dan data product. CEO & Co-Founder BroilerX, Prastyo Ruandhito, dalam sebuah seminar nasional beberapa waktu lalu pernah mengatakan, dalam sebuah pemeliharaan ayam ras tentu sudah ada berbagai indikator-indikator tertentu yang telah dikeluarkan perusahaan pembibitan, seperti temperatur, kelembapan, kadar amonia, riwayat penyakit, dan lain-lain.

Sebagai peternak tentu berusaha semaksimal mungkin kondisi dalam kandang bisa atau mendekati acuan yang telah ada. Dari berbagai indikator inilah yang bisa dicatat dan dikumpulkan, sehingga kelak dapat diolah dan menjadi data science pada bisnis perunggasan tersebut. Dari data-data ini dapat menjadi pedoman bagi peternak dalam mengambil keputusan di kemudian hari, sehingga performa produksi bisa lebih optimal.

Dalam tataran praktik di lapangan, sebanyak 80% pekerjaan data science adalah mengumpulkan data mentah di lapangan, seperti indikator lingkungan, indikator harian meliputi FI, FCR, mortalitas, dan sebagainya. Dari data lapangan ini akan menghasilkan data mentah (raw data), kemudian akan diproses (data processing) yang menghasilkan clean data. Dari sini data akan dieksplor lebih jauh melalui proses exploratory analysis data. Dalam proses ini data akan dibuat sedemikian rupa sesuai kebutuhan penggunanya, sehingga menghasilkan model dan algoritmanya seperti apa. Serangkaian proses tersebut akan menghasilkan data produk yang dapat menjadi bahan laporan serta pedoman untuk mengambil sebuah keputusan di lapangan.

Data mentah dapat diperoleh dari berbagai sumber, bisa dari ERP dan Apps Data Base, survei pasar, catatan pembelian dan penjualan perusahaan, rekap data organisasi perunggasan, online marketplace, rekap indikator pemeliharaan, dan lainnya. Namun, karena bersifat data mentah dan berasal dari berbagai sumber, maka penting untuk mengolah data yang telah dikumpulkan. Jadi misalnya diperoleh berbagai data mentah harga ayam hidup (LB) dari asosiasi, Badan Pangan Nasional, info pedagang, dan sebagainya, dari situ biasanya kami mengolah dengan bantuan berbagai aplikasi pengolahan data, seperti Google Big Query, MySQL, Hadoop, mongoDB, dan masih banyak lainnya. Setelah diolah, akan didapatkan hasil yang lengkap, komprehensif, dan mudah dipahami, sehingga kita bisa mengikuti pergerakan harga LB dan mendapatkan insight dari sudut pandang data yang tersaji dengan tepat.

Terkait model data yang dihasilkan, hal itu dapat berupa estimasi, forecasting, klasifikasi, clustering, dan asosiasi. Misalnya untuk data forecasting atau memperkirakan tentang kondisi harga LB satu bulan ke depan, bisa diperkirakan secara akurat dengan data science ini. Model data tersebut harus dengan kebutuhan setiap pelaku usaha perunggasan, sehingga harapannya dapat menjadi data yang utuh untuk melakukan analisis.

Membantu Meningkatkan Efisiensi Produksi
Dalam konteks perunggasan, penerapan data science dapat meningkatkan efisiensi produksi, pemantauan kesehatan ternak, hingga prediksi dan penentuan strategi pemasaran. Untuk dapat menghasilkan data science yang baik, maka data mentah yang telah dikumpulkan harus dianalisis terlebih dahulu. Hal ini untuk mengetahui apakah data tersebut dapat menjadi data yang berarti. Kemudian, dari data yang telah dikumpulkan harus diakurasi dan diseleksi terlebih dahulu, dengan dikembalikan lagi ke user untuk mengetahui bagaimana tingkat validitas datanya.

Data science yang baik itu harus relevan dengan tujuan dan analisis yang akan diambil. Kemudian agar data tersebut mempunyai tingkat akurasi yang baik dan minim kesalahan, sehingga perlu terus dilakukan koreksi secara berkala. Selain itu, secara kuantitas juga harus memadai dan tidak cuma beberapa saja. Dan yang tidak kalah penting adalah datanya dari fakta terbaru, konsisten, berintegritas, dan bisa ditelusuri. Sebagai contoh data science yang berkualitas adalah yang saat ini tengah dikembangkan dalam ekosistem BroilerX, dengan menerapkan Enterprise Resource Planning (ERP) dan berbagai data sensor dari internet of thing (IoT), sehingga pihak pengelola dapat memastikan tingkat akurasinya memiliki kualitas tinggi. Data science tersebut selanjutnya bisa digunakan untuk berbagai analisis bisnis unggas ke depan.

Di tingkat nasional, tantangan pemanfaatan data science adalah pada tingkat akurasi datanya, dimana harus mengklasifikasikan data-data tersebut dari sumbernya. Seandainya semua data di industri perunggasan bisa terbuka, maka akan lebih mudah dalam mengolah dan menganalisis data-data tersebut. Untuk itu sangat dibutuhkan adanya validasi lagi dari user, misalkan melalui tim sales atau lapangan untuk dapat menjadi data intelijen yang bisa mengumpulkan data, seperti populasi dan sebagainya.

Ke depan persoalan keakuratan data ini harus dapat lebih disempurnakan. Hal itu sangat diperlukan adanya kolaborasi dan elaborasi antara berbagai pihak, tidak hanya dari praktisi atau pelaku bisnis perunggasan, tentu harus melibatkan para pemangku kepentingan perunggasan yang lain, seperti perguruan tinggi, perusahaan, maupun pemerintah. ***

Ditulis oleh:
Andang S. Indartono SPt
Koordinator Indonesia Livestock Alliance (ILA)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer