Gratis Buku Motivasi "Menggali Berlian di Kebun Sendiri", Klik Disini Infectious Bronchitis | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan -->

CENGKRAMAN IB DI PERUNGGASAN

Gejala pada kasus IB varian saat dilakukan bedah bangkai terlihat adanya timbunan cairan di dalam oviduk. (Foto: Dok. Romindo)

Di tiga bulan terakhir sebanyak 14% kasus infectious bronchitis (IB) ditangani oleh tim lapangan PT Romindo Primavetcom dan ini merupakan kasus viral terbanyak kedua setelah kasus newcastle disease (ND).

Penyakit ini menimbulkan kerugian sangat besar bagi peternak, dimana penyakit ini menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas telur, serta pertumbuhan ayam terganggu. Penyakit IB merupakan penyakit saluran pernapasan atas dan urogenital pada ayam yang bersifat akut dan menular (KING dan CAVANAGH, 1991).

Pada anak ayam umur kurang dari enam minggu dapat menyebabkan kematian dengan tingkat mortalitas 10-30% (HOFSTAD, 1984), dan ditandai dengan gejala pernapasan seperti sesak napas, bersin-bersin, ngorok, serta menyebabkan pertumbuhan badan terhambat (DAVELAAR et al., 1986).

Pada ayam periode bertelur, penyakit IB dapat menyebabkan penurunan produksi hingga mencapai 60% dalam kurun waktu 6-7 minggu dan selalu disertai dengan penurunan mutu telur berupa bentuk telur tak teratur, kerabang telur lunak, dan albumin cair (HOFSTAD, 1984; DAVELAAR et al., 1986; MUNEER et al., 1986; CHUBB, 1988).

Etiologi dari penyakit IB disebabkan oleh virus yang termasuk ke dalam famili Coronaviridae dan hanya memiliki satu genus, yaitu Coronavirus (MURPHY dan KINGSBURY, 1990). Virus IB memiliki banyak serotipe (HOPKINS, 1974; DARBYSHIRE et al., 1979; HOFSTAD, 1984). Virus IB berbentuk pleomorphic, memiliki envelop (selaput luar) dengan diameter 90-200 nm, serta memiliki asam inti berutas tunggal asam ribonukleat (RNA) dengan berat molekul 8 x 106 Base pair (Bp) dan asam polyadenylic pada ujung 3’ (KING dan CAVANAGH, 1991).

Pada partikel virus IB ditemukan tiga macam protein struktural, yaitu protein nucleocapsid (N) yang berhubungan dekat dengan viral RNA, glikoprotein membran (M), dan glikoprotein spike (S) yang terletak pada permukaan virion dan terdapat dalam dua subunit S1 dan S2 (JACKWOOD et al., 1997; IGNJATOVIC et al., 1997). Sub unit S1 mengandung epitope yang spesifik serotipe dan bertanggung jawab dalam menetralisasi (GALLAGHER et al., 1990). Protein S1, S2 , M, dan N merupakan antigen yang dapat menimbulkan respons antibodi pada tubuh ayam yang terinfeksi (KING dan CAVANAGH).

Berdasarkan sifat kimia dan fisiknya, virus IB sangat labil dan sensitif terhadap bahan-bahan yang bersifat lipolitik (seperti ether dan chlorofrom), panas, dan berbagai bahan disinfektan (OTSUKI et al., 1979). Virus IB umumnya dapat diinaktif dengan menempatkannya pada suhu 56° C selama 15 menit dan 45° C selama 90 menit. Virus lebih lama bertahan pada pH 11 daripada pH 3 (ALEXANDER dan COLLINS, 1975).

Ayam yang terinfeksi virus dalam organ dapat terpelihara dengan baik dalam 50% gliserin NaCl physiologis. Sifat yang demikian memungkinkan pengiriman sampel ke laboratorium tanpa pendingin (HOFSTAD, 1984). Isolat virus IB dapat bertahan selama beberapa tahun bila disimpan pada suhu -30° C (HOFSTAD, 1984).

Faktor-faktor yang mendukung kejadian kasus IB di peternakan selama ini meskipun pencegahan dengan vaksinasi sudah dilakukan, namun kasus tetap muncul dikarenakan beberapa hal berikut:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2024.

Ditulis oleh:
Drh Damar
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 266, JAKARTA
Telp: 021-8300300

MENGENDALIKAN IB SEMAKSIMAL MUNGKIN

Vaksinasi menjadi salah satu langkah pencegahan yang ditempuh dalam mengendalikan peredaran IB. (Sumber: Poultry World Visit)

Penyakit infectious bronchitis (IB) adalah penyakit yang sudah populer di kalangan peternak ayam layer, namun tidak demikian di kalangan peternak ayam broiler. Kematian yang relatif rendah membuat peternak ayam broiler memandang sebelah mata penyakit ini. Lalu, seberapa besar penyakit ini menyebabkan kerugian pada ayam broiler?

Jangan Remehkan IB di Peternakan Broiler
IB akan menyebabkan ayam mengalami gangguan pernapasan, reproduksi, bahkan gangguan pada ginjal. Hal tersebut akan menghambat pertumbuhan ayam broiler, sehingga pertumbuhan tidak optimal seperti yang diharapkan. ADG yang rendah dan FCR yang tinggi adalah bukti nyata kerugian dari IB. Bahkan, pada ayam yang terserang IB dan kombinasi dengan penyakit lainnya seperti kolibasilosis akan dapat menyebabkan peningkatan kematian. Hal tersebut disampaikan oleh Veterinary Service Coordinator PT Ceva Animal Health Indonesia, Drh Ignatia Tiksa Nurindra.

Meskipun sangat dikenal dan banyak terjadi kasusnya pada layer, pada dasarnya virus IB dapat menginfeksi ayam broiler juga. Hanya saja menurut Tiska, sebelumnya kesadaran peternak terhadap penyakit IB di broiler masih cukup rendah sehingga belum banyak yang mendiagnosis penyakit IB.

“Semakin lama juga semakin banyak kandang yang berdekatan, antara kandang layer dan broiler. Hal tersebut juga berkontribusi dalam mempermudah penularan berbagai penyakit pada ayam layer dan broiler, tidak hanya IB, tetapi penyakit lain juga,” tuturnya.

Ia melanjutkan, sebenarnya sudah cukup lama Ceva dapat mendiagnosis penyakit IB pada ayam broiler. Apabila membuka data laporan penyakit yang dikumpulkan oleh tim Ceva dari 2018 sampai saat ini, tren penyakit IB pada broiler cenderung naik setiap tahunnya. Dari gambaran serologis IB 2020-2023 juga menunjukkan selalu ada tantangan IB di setiap tahunnya.

Misalnya ketika mereka melakukan survei penyakit IB pada peternakan broiler di Indonesia dilakukan pada periode Agustus-Desember 2020 untuk mengetahui adanya virus penyebab IB di beberapa daerah di Indonesia, yaitu di Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sampel diambil dari ayam broiler pada usia panen (lebih dari 28 hari) yang divaksin dengan vaksin IB live massachusetts pada saat DOC dengan aplikasi spray.

Data serologi dikumpulkan dari 110 flock ayam yang berasal dari area... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2024.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

AWAS, SERANGAN INFECTIOUS BRONCHITIS BISA BIKIN MERINGIS

Gejala klinis umum IB, tidak spesifik. (Sumber: Ceva, 2021)

Pada 2019 lalu seluruh dunia dihebohkan dengan wabah COVID-19. Ternyata virus corona bukan barang baru di sektor perunggasan, virus tersebut juga menyebabkan damage yang sama besar bagi ternak unggas.

Dokter hewan yang berkecimpung di bidang perunggasan tentu tidak asing dengan penyakit infectious bronchitis (IB). Penyakit IB alias chicken bronchitis, atau gasping disease adalah penyakit yang sangat menular yang bersifat akut dan disebabkan oleh Avian Gammacoronavirus yang tidak hanya menyerang saluran pernapasan tapi juga saluran urogenital.

Lebih Dekat Dengan Virus IB
Dalam sejarahnya virus ini pertama kali dilaporkan pada 1977. Hingga kini ada beberapa serotipe yang telah berhasil diidentifikasi di lapangan di antaranya massachusetts/klasik, connecticut, dan sejumlah varian lainnya seperti 793B, QX, D274, dan arkansas. Selain itu, virus ini juga dikenal sangat gampang bermutasi sehingga banyak menghasilkan genotipe dan serotipe yang sangat beragam.

Head of Strategic Business Unit Animal Health and Live Equipment JAPFA, Dr Teguh Prajitno, mengatakan hingga kini telah diketahui sebanyak tujuh genotipe dan sekitar 100 serotipe dari virus IB. Perubahan genetik virus IB ini, lanjut dia, dapat terjadi melalui tiga faktor penyebab, yakni mutasi titik, insersi, delesi, maupun rekombinasi.

“Ketiga penyebab itu menjadikan terjadinya genetic drift, sedangkan rekombinasi menyebabkan terjadinya genetic shift,” tutur Teguh.

Ia menambahkan, virus IB dapat menyebar secara horizontal melalui udara dan droplet yang dikeluarkan melalui batuk dan bersin, selain itu virus juga dapat dieksresi melalui feses. Masa inkubasinya juga tergolong singkat hanya 18-36 jam. Sehari setelah infeksi, keberadaan virus dapat dideteksi pada trakea, ginjal, dan oviduk. Bahkan ia menyebut sampai hari ke-13, virus akan ditemukan di paru-paru, trakea, ovarium, dan oviduk.

Selain itu, penularan virus dari satu peternakan ke peternakan lain dapat terjadi karena kontaminasi silang dari mobilitas kendaraan dan manusia, juga air minum, pakan, litter, dan peralatan yang terkontaminasi dapat menjadi sumber penularan.

Meskipun begitu, kata Teguh, penularan secara vertikal belum terbukti, akan tetapi kerabang telur yang terkontaminasi virus dapat menjadi sumber penularan di hatchery. Utamanya virus IB langganan menyerang ayam broiler, layer, maupun breeder, selain itu spesies unggas lainnya seperti burung puyuh juga dapat terinfeksi IB.

Dalam suatu seminar yang diadakan di Jakarta beberapa waktu lalu, Poultry Health & Research Consultant dari Departemen Mikrobiologi FKH UGM, Prof Michael Haryadi Wibowo, memaparkan lebih dalam mengenai sifat virus IB.

Ia memaparkan bahwa tingkat kesakitan (morbiditas) akibat IB mencapai 100%. Yang artinya dalam sebuah flock atau satu peternakan dapat terinfeksi seluruhnya. Ia juga menjelaskan tropisme dari si virus yang sangat menyukai saluran pernapasan bagian atas dan saluran urogenital. Impaknya selain gangguan pernapasan adalah penurunan produksi telur yang dapat mencapai 70% bahkan terkadang lebih.

Secara umum kata Michael, terdapat tiga tipe serangan yang dimiliki IB, yakni... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

INFECTIOUS BRONCHITIS, PENYAKIT UNGGAS YANG MASIH MENJADI ANCAMAN DI PETERNAKAN

Berbagai gejala penyakit IB. (Foto: Istimewa)

Infectious bronchitis (IB) termasuk penyakit pernapasan akut yang sangat menular pada ayam dan disebabkan oleh virus Coronavirus dari famili Coronaviridae. Ada berbagai hal yang menjadi poin penting yang membuat peternak harus waspada terhadap penyakit ini, di antaranya:

1. Penyebaran cukup cepat
Penularan dapat terjadi melalui droplet pernapasan (saat ayam batuk atau bersin) dan shedding virus melalui feses (dapat terjadi selama beberapa minggu). Sementara itu penularan tidak langsung dapat melalui peralatan, makanan, atau minuman yang tercemar. Masa inkubasi penyakit ini sekitar 18-36 jam dan telur yang terkontaminasi feses yang mengandung virus IB dapat menjadi sumber penularan.

2. Gejala klinis yang mengganggu produksi
Gejala yang umum ditemukan pada kasus IB di ayam muda adalah gejala pernapasan (batuk, bersin, ngorok, dan adanya sekresi hidung). Pada ayam layer dewasa, penurunan kuantitas dan kualitas telur lebih menonjol. Penurunan produksi dapat mencapai 5-10% (persentase dapat meningkat jika muncul bersama dengan penyakit lain), sementara kualitas telur turun akibat kalsifikasi telur yang tidak merata dan albumin encer. Selain itu, gejala IB yang saat ini sering ditemukan adalah distensi abdomen akibat sistik oviduk yang berisi cairan sehingga ayam memiliki postur mirip penguin.

3. Potensi mutasi yang tinggi
Infectious bronchitis merupakan jenis virus ss-RNA yang tidak memiliki mekanisme proof reading, sehingga berpotensi tinggi mengalami mutasi. Hal ini tentunya akan memengaruhi dalam pemilihan vaksin yang sesuai kondisi lapangan. Perbedaan antar serotipe virus IB bahkan dapat mencapai 20-25% dan memengaruhi kemampuan cross proteksi dalam menginduksi kekebalan yang protektif. Pemetaan kecocokan virus IB dapat berdasarkan sifat protektotipenya atau tipe kemampuannya dalam menginduksi imunitas yang protektif. 

4. Kerugian ekonomi
Kerugian ekonomi akibat virus IB utamanya adalah dari adanya penurunan... Selengkapnya baca di Majalah infovet edisi April 2024.

TIPS MENGENDALIKAN IB QX DI LAPANGAN ALA VAKSINDO

Teguh Prajitno Memaparkan Materi 
(Foto : CR)

Penyakit Infectious Bronchitis bisa dibilang masih menjadi momok bagi sektor perunggasan di Indonesia. Penyakit yang  disebabkan oleh avian coronavirus tersebut memiliki tropisme yang luas, tidak hanya menyerang saluran pernafasan IB juga dapat menyerang saluran urogenital. Dampaknya selain menyebabkan kematian, peternak juga dirugikan karena kualitas telur memburuk dan menurunnya fertilitas ayam. Hal tersebut disampaikan oleh Dr Teguh Prajitno President Director SBU ANIMAL Health And Livestock Equipment PT Japfa Comfeed dalam sebuah seminar pada event ILDEX 2023 di ICE BSD, (20/9/2023). 

Terlebih lagi lanjut Teguh virus IB memiliki serotipe yang cukup banyak, diantaranya yakni Massachusetts klasik dan sejumlah varian seperti 793B, QX, D274 dan Arkansas. Selain itu, virus IB cenderung lebih mudah bermutasi yang membuatnya sulit untuk dikendalikan.

"Karena mudahnya mereka bermutasi menyebabkan komponen penyusun virus jadi berubah - ubah. Selain itu dalam pengendaliannya banyak produk vaksin dari IB tidak sepenuhnya efektif mengatasi infeksi IB. Kekebalan silang pun kadang tidak begitu efektif sehingga dokter hewan di farm harus banyak memutar otak untuk menghadapinya," tutur Teguh.

Sebenarnya menurut Teguh, untuk mengendalikan dan membunuh virus di lingkungan sangat mudah. Virus IB mudah hancur oleh panas dan desinfektan biasa. Pada ayam muda, penambahan suhu brooder sangat membantu dan mengoptimalkan kondisi lingkungan. Namun begitu, ketika infeksi terjadi pada ayam, untuk melakukan eradikasi sangatlah sulit, oleh karena sebisa mungkin virus ini harus benar - benar dicegah agar tidak menginfeksi ayam.

Teguh menegaskan bahwa cara pencegahan terbaik dari peternak yang bisa dilakukan adalah menerapkan biosekuriti yang ketat dan kontinu dalam manajemen beternak. Selain biosekuriti yang baik, upaya vaksinasi harus dilakukan agar dapat betul - betul memastikan bahwa ayam berada dalam kondisi sehat. 

"Kami menyarankan agar peternak senantiasa memilih vaksin terbaik untuk mencegah IB, apalagi varian QX yang paling banyak tersebar di nusantara. Saat ini kami sudah mengembangkan produk vaksin yang dapat memberikan perlindungan menyeluruh pada semua varian IB, aman bagi ayam, juga lingkungan," tutup Teguh. (CR)


PT BOEHRINGER INGELHEIM INDONESIA GELAR SEMINAR IB PROTECTION

Hybrid seminar PT Boehringer Ingelheim Indonesia, Selasa (14/3/2023). (Foto: Dok. Infovet)

Bertempat di Swissotel PIK Jakarta, Selasa (14/3/2023), PT Boehringer Ingelheim Indonesia menggelar seminar launching produknya secara luring dan daring “Maximazing Poultry Performance with The Right Choice of IB Protection.”

Seminar yang dimulai pukul 09:00 WIB diawali dengan sambutan dari Animal Health Director PT Boehringer Ingelheim Indonesia, Peter O. Martinez. Dilanjutkan dengan presentasi dari narasumber Poultry Consultant, Prof Dr Drh Michael Haryadi Wibowo MP dan Senior Technical Service Manager BIAH GSM Poultry, Dr Andrea Delvecchio.

Dalam pemaparannya, Prof Micheal berfokus pada virus Infectious Bronchitis (IB) yang kerap menyerang ternak broiler, dimana untuk menangani penyakit tersebut, peternak harus bisa mengenali terlebih dahulu karakter dari penyakit IB. “Seperti kalau mau perang kita harus kenali dulu musuh kita. Virus IB memiliki banyak varian di dunia ini dan beberapa menjadi concern di lapangan,” katanya.

Lebih lanjut disampaikan, serangan virus IB sangat luar biasa merugikan, dimana virus bisa menyerang semua organ, mulai dari pernapasan, intestinal, kerusakan pada otot bahkan sampai pada perusakan sistem imun. “Banyak terjadi di lapangan kasus IB diikuti oleh penyakit lain, misalnya mikoplasma atau penyakit lainnya,” ujar Prof Michael.

Sementara Dr Andrea mengemukakan solusi yang bisa dilakukan dalam menangani kasus IB di lapangan. Salah satunya melalui dua produk vaksin yang dimiliki PT Boehringer Ingelheim yang sekaligus juga dilakukan launching pada acara tersebut.

Ia mengatakan, penggunaan dua produk vaksin dari pihaknya diklaim mampu memberikan proteksi terhadap virus IB varian QX, Q1 dan varian 2 melalui trial yang sudah dilakukan.

Selain produk, PT Boehringer Ingelheim juga memberikan servis melalui peralatan vaksinasi yang disampaikan oleh Technical Service PT Boehringer Ingelheim Indonesia, Hari Wahjudi. “VTS/Vaccination, Technologies and Services. Kita memiliki peralatan vaksinasi yang merupakan servis dari kami. Jadi vaksin dari kami kita juga servis vaksinnya sampai ke dalam tubuh ayam. Ini bentuk servis kita untuk memudahkan bapak/ibu dalam melakukan vaksinasi,” kata Hari. (RBS)

INFECTIOUS BRONCHITIS, PENYAKIT PERNAPASAN YANG MEMENGARUHI KUALITAS PRODUKSI


Infectious Bronchitis (IB) adalah penyakit yang cukup diwaspadai peternak ayam komersil di Indonesia. Vaksinasi IB bahkan masuk dalam list vaksin yang harus diberikan pada ayam komersil, terutama ayam layer. Penyakit ini termasuk penyakit pernapasan akut sangat menular pada ayam dan disebabkan oleh virus Coronavirus dari Family Coronaviridae.

Apa yang menyebabkan penyakit ini tidak boleh dibiarkan menjangkit di peternakan?
1. Penyebaran yang cukup cepat. Ayam dapat terinfeksi penyakit IB secara langsung melalui droplet pernapasan dari ayam sakit saat batuk atau bersin, serta virus yang diekskresikan melaui feses (shedding). Shedding virus ini dapat terjadi selama beberapa minggu oleh ayam yang terinfeksi IB. Sementara itu penularan tidak langsung dapat terjadi melalui peralatan, makanan, atau minuman yang tercemar droplet pernapasan maupun feses. Masa inkubasi penyakit ini relatif pendek hanya 18-36 jam dan telur yang terkontaminasi feses mengandung virus IB dapat menjadi sumber penularan.

2. Gejala klinis cukup extent. Saat menginfeksi tubuh, virus IB akan bereplikasi dalam saluran pernapasan atas kemudian menjangkiti organ predileksinya. Organ predileksi dari virus IB ini adalah paru-paru, trakea, ovarium, oviduk, ginjal dan seka tonsil. Gejala umum ditemukan akibat infeksi virus ini adalah gejala pernapasan (batuk, bersin, ngorok dan adanya sekresi hidung). Walaupun demikian gejala pernapasan lebih terlihat pada ayam muda yang menyebabkan leleran berair dari mata dan nostril, serta kesulitan bernapas. Suara napas abnormal lebih menonjol terdengar di malam hari, bahkan dapat terjadi kematian. Pada ayam dewasa, terutama ayam layer, penurunan kuantitas dan kualitas telur lebih menonjol. Jumlah produksi telur turun dapat mencapai 5-10% (persentase dapat meningkat jika muncul bersama penyakit lain), sementara kualitas telur turun akibat kalsifikasi telur yang tidak merata dan albumin encer. Selain itu gejala IB yang saat ini sering ditemukan adalah distensi abdomen akibat sistik oviduk yang berisi cairan, sehingga ayam memiliki postur mirip penguin.

3. Potensi mutasi tinggi. IB merupakan jenis virus ss-RNA yang tidak memiliki mekanisme proof reading sehingga berpotensi tinggi mengalami mutasi. Oleh karena itu, virus ini memiliki variasi yang tinggi dari segi serotipe dan juga genotipe-nya. Perbedaan antar serotipe ini dapat mencapai 20-25%. Adanya shedding virus di lapangan oleh ayam sakit tanpa penanganan biosekuriti yang baik memiliki potensi mutasi walaupun tidak secapat pada kasus Avian Influenza. Hal ini seringkali memengaruhi dalam pemilihan vaksin yang memiliki tingkat proteksi tinggi untuk semua jenis variasi yang ada di lapangan. Oleh karena itu, virus IB di lapangan lebih baik dipetakan berdasarkan sifat protectotipe atau immunotipe-nya, yaitu tipe kemampuannya dalam menginduksi imunitas yang protektif.

4. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan. Utamanya adalah dari adanya penurunan kualitas dan kuantitas produksi telur dan biaya pengobatan yang harus dikeluarkan. Selain itu, kematian dan gangguan pertumbuhan dapat terjadi jika IB menjangkiti ayam muda. Kematian pada kasus IB yang parah pada ayam muda dapat mencapai 25-30%. Hal ini tentu memengaruhi performa peternakan.

Bagaimana bisa mencegah IB di lapangan? Tentunya peternak harus memahami… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2021.

Ditulis oleh:
Drh Aprilia Kusumastuti MSi
Marketing Support PT Sanbio Laboratories

CENGKRAMAN CORONA

Ilustrasi. (Istimewa)

Dunia sedang digemparkan dengan keunculan virus Corona baru (COVID-19) yang membuat seluruh dunia kalang-kabut dan berdampak pada penurunan neraca ekonomi yang kian hari kian mencemaskan. Bagi insan perunggasan, virus Corona bukanlah hal yang asing lagi karena setiap hari virus ini akan selalu menghantui peternak broiler, layer dan breeder. Infectious Bronchitis (IB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus ini, tetapi virus Corona yang dimaksud adalah gammacoronavirus yang khusus menginfeksi keluarga avian.

Sampai saat ini, IB masih merupakan salah satu jenis penyakit yang sangat penting secara ekonomi bagi dunia perunggasan. Infectious Bronchitis Virus (IBV) pada breeder dan layer dapat menyebabkan penurunan pada kuantitas dan kualitas telur dan tentu saja meningkatkan mortalitas. Khusus pada breeder, penyakit ini akan menyebabkan penurunan fertilitas, baik jantan dan betina yang akan berimbas pada penurunan kemampuan penetasan telur (hatchability). Menariknya, pada broiler penyakit ini ibarat ada dan tiada. Seringkali para praktisi lapang tidak mendiagnosis IBV pada ayam. Gejala penyakit ini tersamarkan dengan kejadian penyakit lain seperti CRD, Snot dan Colibacillosis pada derajat penyakit yang serius. Penurunan average daily gain (ADG), peningkatan feed conversion ratio (FCR) dan gejala “cekrek” yang terus-menerus sehingga deplesi harian yang semakin meningkat, gejala klinis yang umum ini karena IB merupakan pintu gerbang bagi penyakit lain karena virus akan menempel pada reseptor saluran pernapasan, sehingga peluang infeksi sekunder akan terbuka luas.

Situasi epidemiologi IB di Asia pertama kali dilaporkan pada tahun 1950-an di Jepang oleh Nakamura et al (1954) dan di Thailand oleh Chindavanig (1962). Promkuntop (2016) melakukan review tentang strain IBV yang penting secara ekonomi yang ditemukan pada peternakan komersial di negara-negara Asia dan diklasifikasikan dalam strain Mass-type, Japanese/Taiwanese, Taiwanese, Middle East, Far East, Chinese, LX4, QX, QX-like varian dan isolat Korean/Chinese.

Sejak 2008-2018, Ceva melakukan riset internal dalam mengelompokkan strain IBV di negara-negara Asia melalui beberapa sampel organ pada peternakan broiler, breeder broiler, komersial layer dan ayam kampung yang mengalami gangguan pernapasan. Negara-negara tersebut antara lain Banglades, China, Indonesia, India, Malaysia, Filipina, Sri Langka dan Vietnam. Sampel organ tersebut dikirim ke Ceva Scientific Support and Investigation Unit Laboratory (Ceva SSIU Lab) di Budapest, Hongaria. Dari hasil tersebut diketahui bahwa… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2020).

Oleh: Drh Muhammad Abdillah
Veterinary Service PT Ceva Animal Health

KIAT MENANGKAL PENYEBAB PENYAKIT VIRAL

Penyemprotan desinfektan di areal kandang ternak. (Sumber: Google)

Salah satu tantangan yang kerap dihadapi dalam usaha peternakan unggas adalah serangan penyakit yang dapat muncul sewaktu-waktu. Oleh karena itu, mengenali setiap penyakit dan melakukan upaya penangkalan serta penanganan secara tepat merupakan bekal penting bagi suksesnya suatu usaha peternakan.

Peternak mungkin sudah akrab dengan beragam gejala seperti ngorok, pilek, diare, penurunan produksi, penurunan nafsu makan, ayam lemah, gangguan pertumbuhan dan lain-lain yang sering ditemui di peternakan. Gejala tersebut muncul sebagai indikator bahwa telah terjadi ketidakseinbangan interaksi antara ayam, kondisi lingkungan dan bibit penyakit.

Ayam pada dasarnya memiliki sistem pertahanan tubuh untuk mengusir dan terhindar dari bibit penyakit. Contoh pertahanan fisik seperti kulit, silia hidung dan selaput lendir, sedangkan pertahanan kimiawi (enzim) dan pertahanan biologi yang terdiri dari antibodi seluler dan humoral. Namun pada kenyataannya, banyak faktor yang bisa menyebabkan berbagai organ pertahanan tubuh tersebut tidak berfungsi optimal dan berpeluang memicu masuknya bibit penyakit.

Biasanya faktor tersebut berhubungan dengan kualitas pakan yang rendah, munculnya stres akibat suhu lingkungan yang tidak nyaman hingga perlakuan saat vaksinasi, pindah kandang atau potong paruh (debeaking) dan lain sebagainya.

Penyakit viral terkini
Virus merupakan parasit mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil Asam Nukleat yang diselubungi bahan pelindung (amplop) yang terdiri dari protein, lipid, glikoprotein atau kombinasi ketiganya. Cara hidup dan reproduksi virus terdiri dari tiga fase, yaitu fase lisis, fase adsorpsi dan fase perakitan, di mana virus dapat hidup dalam sel hidup organisme tertentu (inang).

Tercatat ada banyak penyakit viral yang kerap menyerang unggas, diantaranya Avian Encephalomyelitis (AE), Avian Influenza (AI), Chicken Anemia Virus (CAV), Egg Drop Syndrome (EDS), Fowl Pox, Runting & Stunting Syndrome, Infectious Bronchitis (IB), Infectious Bursal Disease (IBD/Gumburo), Infectious Laryngotracheitis (ILT), Limphois Leukosis, Marek’s Disease, Newcastle Disease (ND/Tetelo) dan Swollen Head Syndrome.

Biosekuriti sebagai Solusi
Untuk menangkal berbagai penyakit ayam, baik yang disebabkan oleh virus, bakteri, endoparasit, ektoparasit maupun jamur, adalah dengan penerapan biosekuriti.

Biosekuriti terdiri dari seluruh prosedur kesehatan dan penangkalan/pencegahan yang dilakukan secara rutin di sebuah peternakan, untuk mencegah masuk dan keluarnya kuman/bibit penyakit yang menyebabkan penyakit unggas. Biosekuriti yang baik akan berkontribusi pada pemeliharaan unggas yang bersih dan sehat, dengan memanfaatkan... (SA)


Selengkapnya baca Majalah infovet Edisi Maret 2019.

Kasus Penyakit Penting di Tahun 2018

Salah satu penyakit CRD kompleks yang diikuti oleh infeksi E. Coli.

Fenomena kejadian penyakit di tahun 2018 relatif meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, hal ini dilatarberlakangi juga oleh kondisi challenge penyakit yang tinggi disebabkan bibit penyakit yang semakin berkembang dan kompleks. Penyakit kekinian seperti Inclusion body hepatitis (IBH) mejadi catatan spesial dimana penyakit ini secara valid dan terbukti menyerang pada umumnya ayam broiler dengan diagnosa final melalui histopatologi.

Berdasarkan pengalaman penulis, disini kami akan membagikan beberapa kasus penyakit paling penting dan sering terjadi di tahun 2018 baik yang menimpa ayam broiler maupun layer.

Chronic Respiratory Diseases (CRD)
Mycoplasmosis terutama yang disebabkan oleh Mycoplasma Gallisepticum (MG) merupakan ancaman yang nyata dan sangat berperan dalam gangguan sistem pernapasan ini. Kuman MG yang menempel di silia sel pernafasan akan mengeluarkan endotoksin kemudian melemahkan sistem mukosiliaris. Sumber kontaminasi MG di broiler farm terutama dari burung liar, mobilitas pekerja kandang, kendaraan yang terkontaminasi serta DOC yang terkontaminasi akibat infeksi vertikal dari induknya. Sejatinya Mycoplasma mudah mati dalam lingkungan dengan temperatur tinggi, kadar oksigen yang tinggi, kelembaban yang relatif rendah, dan hampir semua jenis desinfektan mampu membunuhnya. Tetapi kondisi ventilasi kandang yang jelek akan mengakibatkan kelembaban udara dan kadar amonia dalam kandang akan meningkat dan konsekuensinya adalah tekanan oksigen akan menurun. Hal ini yang menyebabkan Mycoplasma yang sudah berada di permukaan sel pernafasan akan berkembang biak dengan cepat dan menggangu sistem mukosiliaris sehingga rentan akan munculnya infeksi sekunder.

Kontrol yang paling tepat untuk meminimalkan munculnya kasus pernafasan yang dipicu oleh MG adalah melalui kedisiplinan pelaksanaan program sanitasi, pemilihan DOC yang minim kontaminasi MG dan didukung dengan pengaturan ventilasi atau tatalaksana kandang yang berhubungan dengan kecukupan oksigen di kandang. Program kontrol di broiler dengan antibiotik khusus untuk MG merupakan pilihan terakhir dan program sebaiknya didasarkan dengan melihat status MG di DOC yang diterima pada saat kedatangan. Untuk memudahkan kontrol, sangat disarankan memilih DOC yang induknya sudah divaksin dengan vaksin MG live.

Infectious Bronchitis
Dari berbagai faktor di atas, ada beberapa faktor pencetus utama yang sering dijumpai dan menyebabkan integritas sistem kekebalan mukosiliaris ini terganggu antara lain kadar amonia dan debu yang berlebih, infeksi kuman Mycoplasma terutama Mycoplasma Gallisepticum, infeksi virus Infectious Bronchitis dan reaksi pasca vaksin pernafasan seperti ND dan IB live.

Inclusion Body Hepatitis (IBH)
IBH menjadi momok yang menakutkan bagi para peternak, hakekat penyakit ini mirip dengan IBD tetapi lebih hebat dampaknya terhadap mortalitas dan perubahan organ kekebalan tubuh. Kematian yang disebabkan oleh IBH bisa terjadi lebih awal di umur 15 hari dan dapat diperparah oleh kondisi ventilasi yang buruk. Manifestasi fase dini IBH biasanya ada pembengkakan ringan organ...


Drh Sumarno
Manager AHS, PT Sierad Produce, TBK


Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi Desember 2018.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

ARTIKEL POPULER BULAN INI

ARTIKEL POPULER TAHUN INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer