-->

ANTISIPASI POTENSI KELEMAHAN DALAM PENANGANAN CRD KOMPLEKS

Ayam menunjukkan gejala respirasi (gasping) akibat infeksi mycoplasma. (Foto: Istimewa)

Di beberapa layer farm yang penulis kunjungi, keluhan yang sering terdengar adalah ngorok tidak hilang meski sudah dua kali terapi, FCR naik tanpa sebab yang jelas, atau ayam batuk ringan yang tiba-tiba memburuk seminggu setelah ada perlakuan vaksinasi. Pola seperti itu hampir selalu mengarah ke satu hal yang sama, yaitu CRD tidak lagi datang sendirian, melainkan bersamaan dengan E. coli, virus pernapasan, dan kondisi kandang yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda bahaya sejak awal.

Bentuk rombongan inilah yang dalam literatur disebut complicated chronic respiratory disease (CCRD). Kombinasi Mycoplasma dengan infeksi sekunder E. coli, ND, IB, AMPV, ILT, dan lain sebagainya saling memperberatkan satu sama lain dan menimbulkan kerugian ketika produksi sudah telanjur turun.

Dua Wajah Mycoplasma yang Tidak Sama
Banyak yang masih menyamaratakan Mycoplasma gallisepticum (MG) dan Mycoplasma synoviae (MS), padahal keduanya punya karakter berbeda dan menuntut strategi deteksi yang berbeda pula.

MG relatif memiliki gejala yang konsisten, lebih mudah dikenali, dan masih cukup responsif terhadap antibiotik. Kerugian dapat muncul karena FCR naik, penurunan produksi telur, ditambah penurunan daya tetas pada breeder.

Sementara untuk MS jauh lebih sulit dideteksi. Infeksi tunggalnya sering tidak bergejala sama sekali dan baru terlihat jelas saat berkomplikasi dengan virus atau bakteri lain. MS juga tidak sebaik MG dalam merespons antibiotik, dan ayam yang pernah terpapar MS akan menjadi carrier sepanjang hidupnya dan terus berpotensi menularkan meski flock tampak sehat-sehat saja. Bila dibiarkan tanpa pengendalian sejak dini, penurunan produksi telur akibat MS bisa mencapai sekitar 7%, juga berdampak pada kualitas kerabang (jumlah telur kualitas II meningkat) yang sering luput dari perhatian.

Titik lemah pertama justru muncul di sini, banyak peternakan masih menganggap “Mycoplasma ya mycoplasma”, tanpa membedakan pendekatan diagnosis dan kontrol untuk masing-masing spesies.

Apa Kata Data Lapangan
Surveilans nasional yang dilakukan pada 350 sampel layer komersial di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi sepanjang 2025, memberikan gambaran cukup mengejutkan. Prevalensi MS secara keseluruhan tercatat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. 

Ditulis oleh:
Drh. A. Riwanda
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Head Office – Jl. Dr Saharjo, No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id 

CRD BUKAN SEKADAR INFEKSI: SAAT KECERNAAN NUTRISI MENJADI KUNCI KESEHATAN PERNAPASAN AYAM


Selama ini, chronic respiratory disease (CRD) pada ayam broiler maupun layer lebih sering dikaitkan dengan infeksi Mycoplasma gallisepticum (MG), yang dikenal sebagai salah satu patogen utama penyebab gangguan saluran pernapasan. Tidak mengherankan jika berbagai upaya pengendalian di lapangan masih didominasi oleh penggunaan antibiotik, vaksinasi, peningkatan biosekuriti, serta perbaikan ventilasi kandang.

Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan MG tidak selalu berujung pada gejala klinis yang berat. Sebaliknya, banyak peternakan mengalami kasus CRD yang kompleks akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari tingginya kadar amonia, kualitas litter yang buruk, kepadatan kandang, stres lingkungan, hingga ketidakseimbangan nutrisi pakan.

Perkembangan ilmu nutrisi unggas dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kesehatan saluran pernapasan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan saluran pencernaan. Konsep gut-lung axis menjelaskan adanya komunikasi biologis antara usus dan paru-paru melalui sistem imun mukosa, metabolit mikrobiota, serta mediator inflamasi. Artinya, kualitas nutrisi yang dikonsumsi ayam dan kemampuan saluran pencernaan dalam mencerna serta menyerap nutrient akan sangat menentukan kemampuan ayam menghadapi tantangan penyakit respirasi, termasuk CRD.

Ketika Kecernaan Nutrisi Menentukan Ketahanan Ayam
Tujuan utama formulasi pakan bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi berdasarkan angka kandungan protein atau energi, tetapi memastikan bahwa nutrien tersebut benar-benar dapat dicerna dan dimanfaatkan secara optimal oleh ayam. Nutrisi yang memiliki kecernaan tinggi akan menghasilkan penyerapan asam amino dan energi yang lebih efisien, sehingga mendukung pertumbuhan, produksi telur, sekaligus memperkuat sistem imun.

Sebaliknya, nutrien yang tidak tercerna akan menjadi substrat bagi bakteri di saluran pencernaan bagian bawah. Fermentasi protein oleh bakteri proteolitik menghasilkan berbagai senyawa seperti amonia, amina biogenik, indol, dan hidrogen sulfida yang bersifat iritatif terhadap mukosa usus. Kondisi ini memicu dysbiosis, meningkatkan permeabilitas usus (leaky gut), dan mengaktifkan respons inflamasi sistemik.

Dampaknya tidak hanya terbatas pada saluran pencernaan, tetapi juga memengaruhi jaringan mukosa saluran pernapasan sehingga ayam menjadi lebih rentan terhadap kolonisasi MG maupun infeksi bakteri sekunder seperti E. coli. Dengan kata lain, kesehatan saluran pernapasan sebenarnya dimulai dari usus yang sehat.

Protein Berlebih: Produktif atau Justru Menjadi Beban?
Masih banyak dijumpai anggapan bahwa peningkatan kadar protein kasar dalam pakan akan selalu menghasilkan performa yang lebih baik. Padahal, ayam tidak membutuhkan protein dalam jumlah berlebih, melainkan keseimbangan asam amino yang dapat dicerna sesuai kebutuhannya.

Protein yang tidak terserap akan mengalami proses deaminasi dan akhirnya diekskresikan sebagai nitrogen. Semakin tinggi protein yang terbuang, semakin besar pula nitrogen yang dikeluarkan melalui ekskreta. Di dalam litter, nitrogen tersebut akan diuraikan mikroorganisme menjadi gas amonia, terutama ketika kelembapan kandang tinggi dan ventilasi kurang optimal.

Inilah salah satu hubungan paling nyata antara nutrisi dan penyakit respirasi. Formulasi pakan yang kurang efisien tidak hanya meningkatkan biaya pakan, tetapi juga meningkatkan pencemaran udara di dalam kandang yang pada akhirnya memperbesar risiko gangguan pernapasan.

Pendekatan precision nutrition yang saat ini berkembang di industri global justru menekankan penggunaan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

AGAR CRD TIDAK MENJADI CCRD

Penularan mikoplasma pada ayam, baik melalui jalur vertikal (dari ayam betina yang terinfeksi ke keturunannya) maupun jalur horizontal (dari ayam yang terinfeksi ke ayam yang rentan). (Sumber: Veterinary Research (2025) 56:10)

Penyebab utama chronic respiratory disease (CRD) pada unggas adalah bakteri Mycoplasma gallisepticum (MG). Mikoplasma adalah mikroorganisme prokariotik yang termasuk dalam kelas Mollicutes. Mikroorganisme ini ditandai oleh ketiadaan dinding sel dan ukurannya yang kecil, serta mampu melakukan replikasi sendiri (Lu Z, et al., 2017).

Mikoplasma dapat ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk tanah, tumbuhan, serangga, unggas, mamalia, dan manusia. Ia berkembang biak melalui pembelahan biner atau tunas, membentuk koloni khas berbentuk “telur rebus” pada media kultur padat. Beberapa strain patogenik dari mikoplasma memengaruhi unggas, termasuk MG, Mycoplasma meleagridis (MM), Mycoplasma synoviae (MS), dan Mycoplasma iowae (MI). Di antara itu, MG adalah patogen penting yang menyebabkan penyakit pernapasan kronis pada unggas. Mikroorganisme ini menunjukkan variasi dalam patogenisitas dan tropismenya di antara isolat dari berbagai wilayah (Levisohn S, Dykstra MJ, Lin MY, Kleven SH, 1986).

MG karena tidak memiliki dinding sel, sehingga kebal terhadap beberapa antibiotik. Penyebarannya melalui kontak langsung antar unggas, percikan udara, pakan atau air yang terkontaminasi, serta peralatan. Infeksinya bersifat kronis dan menetap, memengaruhi ayam broiler maupun petelur, menyebabkan gangguan pernapasan, efisiensi konversi pakan menurun, dan infeksi sekunder.

Beberapa faktor berkontribusi pada penyebaran dan tingkat keparahan penyakit ini, seperti kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi; mikoplasma menyebar ketika unggas sehat berinteraksi dengan unggas yang terinfeksi; lingkungan terkontaminasi antara lain pakan, air, litter, dan peralatan bisa menjadi tempat bakteri hidup; penularan melalui udara karena CRD menyebar lewat percikan udara dari batuk dan bersin unggas; penularan vertikal (melalui telur) induk betina yang terinfeksi bisa menularkan mikoplasma kepada anaknya lewat telur; stres lingkungan seperti kepadatan berlebih, ventilasi buruk, dan fluktuasi suhu meningkatkan kerentanan; imunitas melemah karena unggas dengan sistem kekebalan yang seperti itu kekurangan nutrisi atau infeksi lain lebih rentan terhadap CRD.

Tanda klinis penyakit pernapasan yang disebabkan MG meliputi bulu kusut, kehilangan nafsu makan, lesu, hidung berair, batuk, rales trakea, bernapas melalui mulut, pembengkakan kelopak mata, dan mata yang berair berlebihan (Wu Z, Chen C, et al., 2020). Pada anak ayam, infeksi MG sering menyebabkan pertumbuhan terhambat, peningkatan angka kematian, dan fungsi kekebalan tubuh yang terganggu. Ayam petelur yang terinfeksi MG mengalami penurunan kinerja produksi, termasuk produksi telur yang lebih rendah dan kualitas telur yang menurun. Ayam pedaging mungkin mengalami penurunan berat badan sebesar 20-40%, penurunan kualitas daging, efisiensi pemanfaatan pakan menurun sekitar 20%, dan peningkatan biaya pengobatan (Yadav JP, Tomar P, Singh Y, Khurana SK, 2022).

Meskipun tingkat kematian akibat MG saja biasanya rendah, hal ini dapat membuat unggas rentan terhadap infeksi sekunder dari patogen seperti virus penyakit Newcastle dan E. coli, yang meningkatkan risiko dalam industri unggas. MG menyebar melalui penularan horizontal dan vertikal di dalam kawanan ayam, bertahan sepanjang periode pemeliharaan dan terbukti sulit untuk diberantas sepenuhnya (De la Cruz L, et al., 2020).

Unggas dari semua usia dapat terinfeksi MG, dengan kasus yang terjadi sepanjang tahun, khususnya puncaknya selama... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

PENYAKIT NGOROK YANG MASIH MENJADI MOMOK

Temuan umum patologi anatomis dari CRD (A dan B) pericarditis, perihepatitis, dan air sacculitis pada broiler. (C dan D) hal yang sama terjadi pada unggas layer. (Sumber: Marouf et al. 2022)

Penyakit pernapasan pada unggas merupakan salah satu tantangan utama yang menjadi momok menakutkan. Terlebih lagi aspek kesehatan ternak juga memiliki korelasi dengan produktivitas. Salah satu yang kerap menjadi residivis di Indonesia adalah mycoplasmosis alias chronic respiratory disease (CRD) yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum.

Ngorok biasa disebut peternak atau CRD kerap ditemui dalam suatu peternakan unggas. CRD adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan ayam dan bersifat kronis. Disebut “kronis” karena penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu lama dan sulit untuk disembuhkan.

Si Penyebab Ngorok
Biang keladi dari penyakit ngorok tadi tidak lain adalah Mycoplasma gallisepticum (MG), yang biasa disebut sebagai organisme mirip bakteri (bacteria-like organism). Berbagai praktisi perunggasan lokal maupun mancanegara bahkan menyebut MG sebagai salah satu patogen yang paling merugikan dalam industri unggas.

Dibalik ukurannya yang sangat kecil dan sederhana, MG memiliki kemampuan untuk menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan di seluruh dunia melalui penurunan produktivitas, peningkatan biaya pengobatan, dan peningkatan mortalitas pada unggas.

Dalam sebuah seminar mengenai penyakit pernapasan pada unggas, Veterinary Service Manager PT Ceva Indonesia, Drh Fauzi Iskandar, menerangkan mengenai sifat dan karakteristik MG. Ia mengatakan bahwa MG adalah bakteri dari kelompok Mycoplasma yang unik karena tidak memiliki dinding sel.

Hal ini membuatnya sangat sulit untuk diberantas dengan antibiotik biasa terutama yang bekerja dengan cara mengganggu sintesis dinding sel bakteri. Bakteri ini berbentuk pleomorfik dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan, membuatnya sulit dideteksi dan dikendalikan di peternakan unggas.

“Penggunaan antibiotik yang melisiskan dinding sel tentu tidak akan efektif, oleh karenanya MG ini sangat sulit diberantas, meskipun begitu bukan tidak mungkin untuk dikendalikan, hanya saja butuh “jurus khusus” dalam pengendaliannya,” tutur Fauzi.

Ia melanjutkan, MG dapat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. (CR)

MYCOPLASMA YANG MASIH BETAH LAMA

Temuan Umum Patologi Anatomis dari CRD (A,B) Pericarditis, Perihepatitis, Air Sacculitis pada Broiler. (C,D) sama kaya AB, tapi pada layer. Sumber : Marouf et al. 2022

Penyakit pernapasan pada unggas merupakan salah satu tantangan utama yang menjadi momok menakutkan. Terlebih lagi aspek kesehatan ternak juga memiliki korelasi dengan produktivitas. Salah satu yang kerap menjadi residivis di Indonesia adalah Mycoplasmosis alias Chronic respiratory disease (CRD) yang disebabkan Mycoplasma gallisepticum (MG).

CRD atau biasa disebut ngorok oleh peternak kerap ditemui dalam suatu peternakan unggas. CRD adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan ayam dan bersifat kronis. Disebut kronis karena penyakit ini berlangsung secara terus-menerus dalam jangka waktu lama dan sulit disembuhkan.

Penyebab Ngorok
Biang keladi dari penyakit ngorok adalah MG, yang biasa disebut sebagai organisme mirip bakteri (bacteria-like organism). Berbagai praktisi perunggasan bahkan menyebut MG sebagai salah satu patogen yang paling merugikan dalam industri unggas.

Dibalik ukurannya yang sangat kecil dan sederhana, MG memiliki kemampuan untuk menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan di seluruh dunia melalui penurunan produktivitas, peningkatan biaya pengobatan, dan peningkatan mortalitas pada unggas.

Dalam sebuah seminar mengenai penyakit pernapasan pada unggas, Veterinary Service Manager PT Ceva Indonesia, Drh Fauzi Iskandar, menerangkan mengenai sifat dan karakteristik MG. Ia mengatakan, MG adalah bakteri dari kelompok mycoplasma yang unik karena tidak memiliki dinding sel.

Hal ini membuatnya sangat sulit diberantas dengan antibiotik biasa terutama yang bekerja dengan cara mengganggu sintesis dinding sel bakteri. Bakteri ini berbentuk pleomorfik dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan, membuatnya sulit dideteksi dan dikendalikan di peternakan unggas.

“Penggunaan antibiotik yang melisiskan dinding sel tentu tidak akan efektif, oleh karenanya MG ini sangat sulit diberantas, meskipun begitu bukan tidak mungkin untuk dikendalikan, hanya saja butuh jurus khusus dalam upaya pengendaliannya,” tutur Fauzi.

Ia melanjutkan, MG dapat menyebar pada unggas umumnya terjadi melalui… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2024.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

VAKSINASI MG, PILIHAN TEPAT UNTUK MENCEGAH CRD

Chronic respiratory disease (CRD) merupakan penyakit pernapasan pada unggas yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum (MG). Bukan hanya menyerang pernapasan, MG juga menyerang sistem reproduksi dan mengakibatkan penurunan kualitas telur sampai 10-15% selama 4-6 minggu.



MENJAGA KESEHATAN SALURAN PERNAPASAN

Ayam yang dipelihara dalam lingkungan terbatas membutuhkan faktor pendukung yang ideal untuk pertumbuhan optimal. (Foto: Shutterstock)

Kesehatan saluran pernapasan ayam sangat penting untuk mencapai target produktivitas, baik pada ayam pedaging maupun petelur. Ayam yang dipelihara dalam lingkungan terbatas membutuhkan faktor pendukung yang ideal untuk pertumbuhan optimal, sehingga dapat berproduksi maksimal. Faktor pendukung tersebut adalah udara, air dan pakan. Bila ketiga faktor tersebut terpenuhi secara ideal, kemampuan bibit penyakit berkurang, apalagi bila biosekuriti dilakukan secara optimal.

Wilayah Indonesia beriklim tropis, ini merupakan tempat yang sangat baik untuk mendukung tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme patogen penyebab penyakit dengan gejala kelainan sistem pernapasan pada ayam. Hal ini disebabkan adanya perubahan temperatur dan kelembapan ekstrem pada siang dan malam hari, serta pada saat terjadinya perubahan musim dari kemarau ke penghujan.

Berdasarkan laporan pengamatan dan penanganan kasus oleh Veterinary Representative di lapangan, penyakit-penyakit pernapasan merupakan tipe penyakit paling sering ditemukan. Besarnya komposisi penyakit tipe pernapasan lebih dari 60% dibanding jumlah tipe penyakit lainnya. Dari tipe penyakit pernapasan yang menyerang ayam petelur dan pedaging, Chronic Respiratory Disease (CRD) dan Complex Chronic Respiratory Disease (CCRD) menjadi kasus paling sering muncul, disusul Coryza dan Colibacillosis.

Chronic Respiratory Disease 
Merupakan penyakit pernapasan utama pada ayam disebabkan Mycoplasma gallisepticum, yang dapat menyerang ayam pada semua periode umur produksi. CRD merupakan penyakit endemik yang merusak sistem pernapasan dan reproduksi. Penyakit ini sudah tersebar di seluruh dunia dan sangat merugikan industri perunggasan. Untuk itu, usaha untuk menanggulangi CRD pada ayam di Indonesia sudah sering dilakukan tetapi sampai saat ini masih sering terjadi.

Proses penyakit CRD berjalan… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2021.

Drh Yuni
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264, Jakarta
Telp: 021-8300300

TRIK JITU TANGANI SERANGAN PENYAKIT BAKTERIAL

Desinfektan celup kaki, contoh sederhana penerapan biosekuriti. (Sumber: viv.net)

Dalam dunia mikroorganisme, bakteri merupakan salah satu yang paling sering dibicarakan. Terutama bakteri yang bersifat patogen. Celakanya, dalam dunia peternakan khususnya unggas, bakteri-bakteri patogen kerap kali menjadi biang permasalahan.

Menjaga kesehatan ternak demi menuai performa yang produktif wajib hukumnya. Terlebih lagi dalam perunggasan, selain penyakit non-infeksius, penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri sering kali terdengar mewabah. Kadang wabah dari infeksi bakteri yang terjadi di suatu peternakan ayam dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar. Oleh karenanya dibutuhkan trik-trik jitu dalam menanganinya. 

Karena Bakteri jadi Merugi
Kesuksesan mengontrol bakteri patogen, menghindari kontaminasi, mencegah multifikasi dan menyebabkan penyakit, menurut Ensminger (2004) adalah salah satu kunci sukses dalam menjaga performa dan produksi ternak. Namun, tidak semua peternak mampu melakukan hal tersebut. Cerita datang dari Marzuki, peternak asal Tanah Tinggi, Tangerang. Pernah ia mengalami kerugian akibat wabah penyakit CRD (Chronic Respiratory Disease) kompleks beberapa tahun lalu.

Awal mula menjadi peternak broiler, ia mengira bahwa memelihara ayam mudah, hanya tinggal memberi pakan dan menunggu saja, walaupun kenyataannya tidak. Dirinya baru mengetahui bahwa ayamnya terserang Colibacillosis ketika ada staf technical service suatu perusahaan obat mendatangi kandangnya.

“Saya enggak tahu-menahu awalnya, yang saya tahu penyakit ayam kalau enggak tetelo atau flu burung,” kata Marzuki. Ia kemudian secara perlahan mempelajari mengenai manajemen pemeliharaan yang baik dan benar dari berbagai sumber. Ketika diserang Colibacillosis, kerugian ekonomi yang diderita Marzuki mencapai 50% dari total ayamnya.

Menurut Product Manager PT Sanbe Farma, Drh Dewi Nawang Palupi, infeksi bakteri sangat berbahaya dan merugikan. Ia menegaskan, penyakit bakterial seperti Colibacillosis ditentukan oleh manajemen kebersihan kandang. Terlebih jika manajemen kebersihan kandang buruk dan tidak menerapkan sanitasi dalam kandang dan air minum.

“Kematian sekitar 1-2%, dan bisa berlangsung lama bila tidak ditangani dengan baik. Jika terjadi di minggu pertama masa pemeliharaan ,kematian bisa mencapai 10-15%. Saya menduga jika kematian sampai 50% ada campur tangan penyakit lain (komplikasi),” jelas Dewi.

Kendati demikian, Dewi juga menjelaskan bahwa Colibacillosis seseungguhnya bukan penyakit yang serta-merta menyerang begitu saja. Kemungkinan jika ada kandang yang terserang Colibacillosis itu hanya dampak sampingan saja. “E. Coli itu bakteri komensal di usus dan organ pencernaan, jadi kalau tiba-tiba berubah jadi patogen pasti karena... (CR)


Selengkapnya baca di Majalah infovet edisi Mei 2019

KENDALIKAN AMONIA SEBELUM CRD MERUSAK

Ngorok, merupakan manifestasi klinis yang sering terlihat pada CRD. (Istimewa)

Siapa tidak tahu Chronic Respiratory Disease atau yang biasa disingkat CRD, peternak manapun di Indonesia pasti sangat fasih mengenai penyakit tersebut. Hampir seluruh peternakan ayam broiler komersil di Indonesia terutama yang masih menggunakan sistem kandang terbuka pasti pernah terinfeksi CRD. Seakan tanpa celah, kasus CRD selalu terulang dan tidak ada habisnya.

Seluruh peternak ayam broiler kawakan pasti sudah hafal sekali dengan penyakit ini. Bakteri penyebabnya, gejala klinisnya, akibat yang ditimbulkannya, bahkan sampai dengan terapi dalam mengobatinya. Namun mengapa kasus ini selalu terulang? Tentunya harus ada antisipasi lebih agar CRD tidak selalu menjadi residivis yang menyebabkan kerugian lebih lanjut.

Mengapa Terus Berulang?
Penyakit yang pada hakikatnya disebabkan oleh Mycoplasma gallinarrum ini termasuk menjadi kasus “langganan” terutama pada peternakan broiler komersil. Sekedar flashback saat masih duduk di bangku perkuliahan, ketika menemukan ayam dengan gejala klinis nafas terengah-engah (panting) yang disertai dengan ngorok, peradangan pada konjugtiva dan bahkan pertumbuhan yang cenderung terhambat, arah diagnosis sudah menuju kesitu.

Terlebih lagi apabila ayam-ayam dengan gejala klinis tadi di-nekropsi dengan temuan berupa airscaculitis (peradangan kantung hawa), pericarditis (peradangan selaput jantung), serta perihepatitis (peradangan selaput hati), maka bisa dipastikan ayam tersebut mengidap CRD. Ditambah lagi dengan berbagai peradangan pada saluran pernafasan bagian atas dan juga infeksi sekunder dari bakteri E.coli yang mengakibatkan timbulnya perkejuan, maka sudah sangat pas bahwa diagnosis penyakit tersebut adalah CRD kompleks.

Pada dasarnya bakteri M. gallinarum sebenarnya adalah bakteri yang memang ada pada  lingkungan dan juga di dalam saluran pernafasan ayam itu sendiri, seperti halnya E. coli pada saluran pencernaan. Lalu mengapa bisa menginfeksi ayam? Hal tersebut disebabkan oleh gas amonia yang dihasilkan oleh feses ayam. Menurut Rachmawati (2000), dalam sehari seekor ayam rata-rata bisa mengeluarkan kotoran sebanyak 0,15 kg dan dari total kotoran tersebut biasanya terkandung nitrogen 2,94%.

Pada dasarnya, nitrogen dalam metabolisme protein makhluk hidup diekskresikan ke luar tubuh dalam dua bentuk senyawa kimia, yaitu urea atau asam urat. Jika masih berbentuk asam urat, nitrogen akan didekomposisi (diubah bentuknya) terlebih dahulu menjadi senyawa urea oleh bakteri ureolitik di lingkungan. Adanya kelembaban yang tinggi dan suhu yang relatif rendahlah yang akan membuat urea-urea yang mengandung nitrogen tadi akhirnya terurai menjadi gas amonia dan CO2.

Sisa nitrogen inilah yang nantinya akan menjadi sumber amonia. Celakanya, gas amonia tersebut memiliki daya iritasi yang tinggi dan dapat terserap oleh mukosa membran pada mata dan saluran pencernaan ayam. Mukosa, sel epitel dan bulu getar (cilia) yang terdapat dalam saluran pernafasan berperan sebagai pertahanan tubuh pertama yang menghambat masuknya kuman penyakit ke dalam tubuh ayam. Kerusakan pada organ tubuh tersebut akan menjadi stimulator serangan kuman penyakit saluran pernafasan seperti CRD. Hal inilah yang membuat penyakit CRD sulit dihilangkan dan cenderung berulang kejadiannya dalam suatu peternakan.

Pengaruh Amonia Bagi Kesehatan Ayam
Seperti yang sudah penulis sebutkan di atas tadi, amonia merupakan gas yang bersifat iritan (menyebabkan iritasi) pada mukosa, tentunya ada batas aman kadar amonia dalam kandang, tetapi apabila sudah melewati batas tersebut, jangan harap saluran pernafasan ayam akan sehat. Dalam pengendalian penyakit CRD, kadar gas amonia harus pada batas aman. Selain mengakibatkan iritasi pada saluran pernafasan hewan, gas amonia juga dapat mengiritasi... (CR)


Selengkapnya baca Majalah infovet edisi April 2019.

Sisi Lain dari Mycoplasma “Penyakit Menahun yang Selalu Ada”

Air sacculitis yang ditemukan pada DOC yang menggambarkan penyebaran vertikal dari induk. (Sumber: Istimewa)

Penyakit saluran pernafasan mendapat perhatian ekstra, baik pada ternak layer, breeder sampai broiler. Penanganan dan antisipasi di layer farm dan breeder farm bisa diantisipasi dengan vaksinasi menggunakan beberapa penyakit yang menyerang saluran pernafasan, baik vaksin live ataupun vaksin killed, namun di broiler vaksinasi tidak selengkap di layer farm karena siklusnya yang pendek.

Ada satu link yang saling berhubungan erat baik di layer, breeder dan broiler, dan hampir semua sepakat mengatakan pengobatannya sangat sulit, berulang dan cost-nya cukup tinggi hanya untuk membebaskan farm dari penyakit ini. Peternak biasanya menyebutnya dengan CRD atau Chronic Respiratory Diseases yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum (MG).

Mycoplasma gallisepticum akan ditransferkan dari induk ke anak (DOC), sehingga akan mengakibatkan penyebaran 100% di kandang yang diakibatkan oleh bawaan induk. Hal ini tidak mengenal pengecualian, baik di layer, breeder maupun broiler. Ditambah lagi dengan penyebaran yang terjadi pada ayam di bawah empat minggu, akan menghasilkan gejala klinis lebih berat dibanding dengan ayam di atas empat minggu. Apabila tidak ditangani dengan sempurna, infeksi sekunder akan lebih mudah masuk dari awal, baik viral maupun bakterial, maka penanganan MG ini ketika terserang diumur di atas empat minggu.

Tidak seperti bakteri pada umumnya yang bersifat ektraseluler, bakteri ini dapat menginfeksi makrofag dan sel darah putih, sehingga dikategorikan sebagai intraseluler patogen dan dengan sifat inilah yang menyebabkan pengobatan terhadap mycoplasma seakan-akan tidak efektif dan cenderung berulang-ulang, hampir mirip dengan Mycobacterium tuberculosis penyebab TBC yang memerlukan pengobatan intensif, dan karena sifat menginfeksi makrofag inilah beberapa ahli ada yang mengatakan MG sebagai salah satu penyakit imunosupresi.

Banyak yang ingin membunuh bakteri ini baik dengan antibiotik atau dengan sistem kekebalan tubuh berupa makrofag, namun bakteri ini justru bisa bersembunyi di dalam makrofag. Sudah tentu dengan sifat bakteri seperti ini, opsi untuk membuat kandang bebas mycoplasma hanya ada dua, antara lain DOC harus benar-benar free mycoplasma ditambah single age farm atau culling semua flok yang positif mycoplasma seperti yang dilakukan di beberapa negara lain. Karena pilihan tersebut sulit dilakukan, maka yang bisa dilakukan adalah berdamai dengan mycoplasma lewat tiga pilihan, yakni vaksinasi, antibiotik rutin dan berkala, serta kombinasi antara vaksin dengan antibiotik.

Antibiotik terhadap mycoplasma umum diberikan terutama saat DOC, baik layer, breeder maupun broiler, apabila mencurigai ada vertikal transmisi dari induk dan mencegah gejala klinis yang berat di awal pertumbuhan. Untuk mengetahui hal ini...

Drh Agus Prastowo
Technical Manager PT Elanco

Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi Januari 2019.

Gambaran Dinamika Penyakit Unggas 2019

Penanganan penyakit menjadi kunci sukses usaha budidaya unggas. (sumber: Google)

Penyakit merupakan satu dari banyak tantangan yang akan terus merintangi usaha budidaya ternak. Perkembangan penyakit unggas di lapangan sangat dinamis dan terkadang sulit ditebak, bagaimana kira-kira prediksi penyakit unggas di 2019? Tentu akan sangat menarik untuk dicermati.

Hari berlalu tahun berganti, namun penyakit-penyakit unggas tetap terus menghantui. Jika budidaya ternak diibaratkan sebagai perang, penyakit merupakan musuh yang paling pantang menyerah dalam meneror usaha budidaya. Bagaimana tidak?, walaupun di kandang ayam terlihat sehat secara kasat mata, bisa jadi kondisi ayam tidak sepenuhnya sehat, oleh karenanya kewaspadaan diperlukan agar peternak tidak kecolongan.

Ngorok yang Tak Pernah Usai
Ada suatu kutipan dalam bahasa Inggris yang berbunyi, “nothing last forever”. Mungkin kutipan tersebut kurang tepat untuk beberapa jenis penyakit unggas. Pasalnya, beberapa penyakit unggas justru “long lasting forever”. Sebut saja penyakit CRD (Chronic Respiratory Disease), Coryza dan Colibacillosis. Entah bagaimana penyakit-penyakit tadi sangat betah menebar teror kepada para peternak di Indonesia.

“Setiap kandang dengan sistem open house pasti pernah kena CRD atau Coryza apalagi Colibacillosis, saya yakin banget,” ujar Prof I Wayan Teguh Wibawan, dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB sekaligus praktisi perunggasan. Menurutnya, CRD adalah penyakit “langganan” yang sudah mendarah daging di sektor perunggasan Indonesia.

Prof Wayan menegaskan, penyakit-penyakit tadi sangat sulit dieradikasi karena memang bukan hanya terkait dengan si agen infeksi, tetapi juga perkara manajemen pemeliharaan. “Sekarang begini, kita semua tahu bahwa negara ini kondisi iklimnya sangat mendukung untuk siklus hidup mikrobiologi patogen, tapi karena faktor kita yang lengah dan tidak peduli, siklus penyakit jadi sulit diputus, oleh karenanya kita juga harus eling bahwa kita jangan betah diteror penyakit,” ucap dia.

Yang kadang peternak luput adalah, penyakit-penyakit di atas tadi adalah pintu gerbang bagi agen patogen lainnya untuk masuk ke dalam kandang. “Kalau mereka sudah berkolaborasi, baru tuh mereka kalang-kabut kelabakan, saya sering banget ditanya harus seperti apa,” ungkap Prof Wayan.

Berkaitan dengan ketiga penyakit tadi, Prof Wayan merekomendasikan agar peternak tidak memaksakan diri dalam mengisi kandang. Artinya, ketika harga bagus peternak seringkali mengisi kandang overload, sehingga kandang terlalu padat, sirkulasi udara buruk dan kadar amoniak terlalu tinggi. Amoniak tadi akan mengiritasi ayam di dalam kandang terus-menerus dan menyebabkan peradangan pada slauran pernafasan. Dari situ mikroba patogen akan mengambil alih dan memperparah peradangan tersebut.

“Perbaiki cara pemeliharaan juga, ini berpengaruh. Mindset jangan hanya keuntungan saja, selain itu patuhi istirahat kandang. Jangan ketika harga (ayam) sedang oke, kandang dipaksa berproduksi terus, gawat itu,” tukas Prof Wayan. Menurut dia, apabila manajemen pemeliharaan yang buruk tetap dipertahankan, penyakit-penyakit tersebut di atas akan terus eksis sampai kapanpun.

Dampak Pelarangan AGP
Sejak diberlakukannya Permentan No. 14/2017 tentang pelarangan antibiotik sebagai imbuhan pakan, pro dan kontra di lapangan terus terjadi. Beberapa pihak mengklaim bahwa pelarangan penggunaan AGP (Antibiotic Growth Promotor) membuat ayam menjadi rentan terhadap penyakit, namun ada juga yang menganggap pelarangan penggunaan AGP tidak banyak membawa pengaruh pada kesehatan ayam.

Darmawan, peternak kemitraan asal Tuban, ketika ditemui Infovet menyatakan, sejak pelarangan AGP kandangnya sangat sulit untuk perform. “Sekarang beda, enggak pakai antibiotik ayam jadi mudah sekali mencret, sudah begitu tingkat kematiannya juga lumayan kalau enggak kita upayakan,” tutur Darmawan.

Hal senada juga diutarakan Jarwadi, salah satu peternak layer asal Lamongan. “Nyekrek dan mencret-nya jadi lebih sering, produksi telur juga turun entah mengapa, mungkin karena pakan non-AGP, yang jelas sekarang peternak harus punya lebih banyak jurus untuk menghadapi hal-hal seperti itu,” ucap Jarwadi.

Sementara, Pakar Kesehatan Unggas dan Konsultan Perunggasan, Tony Unandar, juga angkat bicara mengenai pelarangan AGP. Menurut Tony, ketika AGP dilarang, yang justru berbahaya dan dikhawatirkan adalah ancaman Koksidiosis. “Banyak yang bilang ke saya kalau semenjak pakan tidak diberi AGP, Koksidiosis marak terjadi. Sudah banyak yang konfirmasi juga ke laboratorium, kalau itu benar Koksidiosis,” ujar Tony.

Ia melanjutkan bahwa ketika AGP dilarang, yang justru berbahaya dan dikhawatirkan adalah ancaman... (CR)


Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi Desember 2018.

Kasus Penyakit Penting di Tahun 2018

Salah satu penyakit CRD kompleks yang diikuti oleh infeksi E. Coli.

Fenomena kejadian penyakit di tahun 2018 relatif meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, hal ini dilatarberlakangi juga oleh kondisi challenge penyakit yang tinggi disebabkan bibit penyakit yang semakin berkembang dan kompleks. Penyakit kekinian seperti Inclusion body hepatitis (IBH) mejadi catatan spesial dimana penyakit ini secara valid dan terbukti menyerang pada umumnya ayam broiler dengan diagnosa final melalui histopatologi.

Berdasarkan pengalaman penulis, disini kami akan membagikan beberapa kasus penyakit paling penting dan sering terjadi di tahun 2018 baik yang menimpa ayam broiler maupun layer.

Chronic Respiratory Diseases (CRD)
Mycoplasmosis terutama yang disebabkan oleh Mycoplasma Gallisepticum (MG) merupakan ancaman yang nyata dan sangat berperan dalam gangguan sistem pernapasan ini. Kuman MG yang menempel di silia sel pernafasan akan mengeluarkan endotoksin kemudian melemahkan sistem mukosiliaris. Sumber kontaminasi MG di broiler farm terutama dari burung liar, mobilitas pekerja kandang, kendaraan yang terkontaminasi serta DOC yang terkontaminasi akibat infeksi vertikal dari induknya. Sejatinya Mycoplasma mudah mati dalam lingkungan dengan temperatur tinggi, kadar oksigen yang tinggi, kelembaban yang relatif rendah, dan hampir semua jenis desinfektan mampu membunuhnya. Tetapi kondisi ventilasi kandang yang jelek akan mengakibatkan kelembaban udara dan kadar amonia dalam kandang akan meningkat dan konsekuensinya adalah tekanan oksigen akan menurun. Hal ini yang menyebabkan Mycoplasma yang sudah berada di permukaan sel pernafasan akan berkembang biak dengan cepat dan menggangu sistem mukosiliaris sehingga rentan akan munculnya infeksi sekunder.

Kontrol yang paling tepat untuk meminimalkan munculnya kasus pernafasan yang dipicu oleh MG adalah melalui kedisiplinan pelaksanaan program sanitasi, pemilihan DOC yang minim kontaminasi MG dan didukung dengan pengaturan ventilasi atau tatalaksana kandang yang berhubungan dengan kecukupan oksigen di kandang. Program kontrol di broiler dengan antibiotik khusus untuk MG merupakan pilihan terakhir dan program sebaiknya didasarkan dengan melihat status MG di DOC yang diterima pada saat kedatangan. Untuk memudahkan kontrol, sangat disarankan memilih DOC yang induknya sudah divaksin dengan vaksin MG live.

Infectious Bronchitis
Dari berbagai faktor di atas, ada beberapa faktor pencetus utama yang sering dijumpai dan menyebabkan integritas sistem kekebalan mukosiliaris ini terganggu antara lain kadar amonia dan debu yang berlebih, infeksi kuman Mycoplasma terutama Mycoplasma Gallisepticum, infeksi virus Infectious Bronchitis dan reaksi pasca vaksin pernafasan seperti ND dan IB live.

Inclusion Body Hepatitis (IBH)
IBH menjadi momok yang menakutkan bagi para peternak, hakekat penyakit ini mirip dengan IBD tetapi lebih hebat dampaknya terhadap mortalitas dan perubahan organ kekebalan tubuh. Kematian yang disebabkan oleh IBH bisa terjadi lebih awal di umur 15 hari dan dapat diperparah oleh kondisi ventilasi yang buruk. Manifestasi fase dini IBH biasanya ada pembengkakan ringan organ...


Drh Sumarno
Manager AHS, PT Sierad Produce, TBK


Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi Desember 2018.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer