-->

AGAR PRODUKSI DAN KUALITAS KOLOSTRUM SAPI PERAH MENINGKAT



Sapi perah perlu menghasilkan setidaknya 6 liter kolostrum berkualitas baik dengan nilai Brix ≥22% untuk memenuhi kebutuhan pedet yang baru lahir. Namun, sekitar 25–60% sapi perah berpotensi menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang tidak mencukupi atau dengan kualitas yang kurang baik berdasarkan standar yang direkomendasikan.

Menurut penelitian yang dikutip Selko, penggunaan Selko IntelliBond, yaitu sumber mineral mikro hidroksi (hydroxy trace minerals), dapat meningkatkan produksi kolostrum sekitar 1 liter per ekor tanpa menurunkan konsentrasi IgG dalam kolostrum.

Pentingnya manajemen kolostrum pada pedet
Manajemen kolostrum yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pemeliharaan pedet. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jumlah kolostrum yang dikonsumsi pedet dapat memengaruhi kekebalan tubuh, pertumbuhan, metabolisme, dan status hormonal pada masa awal kehidupannya.

Manajemen kolostrum yang baik juga tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian kolostrum yang tepat dapat berpengaruh terhadap produktivitas pada masa laktasi berikutnya serta umur produktif sapi. (Selko Feed Additives)
Ada beberapa alasan mengapa pedet harus mendapatkan kolostrum dalam jumlah dan kualitas yang memadai.

Kolostrum mengandung imunoglobulin
Kolostrum sapi mengandung berbagai jenis imunoglobulin, terutama IgG, IgA, dan IgM. IgG merupakan imunoglobulin yang paling dominan sehingga konsentrasi IgG sering digunakan sebagai parameter utama untuk menilai kualitas kolostrum.

Secara umum, kolostrum dianggap berkualitas baik apabila memiliki konsentrasi IgG ≥50 mg/mL.
Di tingkat peternakan, kualitas kolostrum dapat diperiksa secara praktis menggunakan kolostrometer atau refraktometer Brix. Nilai Brix minimal sekitar 22% umumnya berkorelasi dengan konsentrasi IgG sekitar 50 g/L atau lebih. Akan tetapi, manfaat kolostrum sebenarnya tidak hanya berasal dari kandungan antibodinya.

Kolostrum memberikan kekebalan pasif kepada pedet
Pedet yang baru lahir belum memiliki sistem kekebalan yang berkembang sempurna. Mereka juga belum memiliki pengalaman imunologis terhadap berbagai mikroorganisme penyebab penyakit.
Respons kekebalan pada pedet yang baru lahir juga relatif lambat. 

Oleh karena itu, antibodi maternal yang diperoleh melalui kolostrum menjadi sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap berbagai patogen pada minggu-minggu pertama kehidupannya.IgG, IgA, dan IgM yang terdapat dalam kolostrum membantu menyediakan kekebalan pasif bagi pedet pada periode kritis tersebut. Karena itu, bukan hanya keberadaan kolostrum yang penting, tetapi juga seberapa cepat pedet mendapatkannya setelah lahir dan berapa banyak yang dikonsumsi.

Pedet membutuhkan energi dari kolostrum sejak jam-jam pertama kehidupannya
Kolostrum juga merupakan sumber energi yang sangat penting bagi pedet. Saat lahir, kandungan lemak tubuh pedet relatif sangat rendah, yaitu kurang dari 3% bobot tubuhnya. Sebagian lemak tersebut merupakan brown fat atau lemak cokelat yang kaya akan mitokondria.

Lemak cokelat memiliki fungsi penting dalam membantu pedet mempertahankan suhu tubuh melalui mekanisme non-shivering thermogenesis, yaitu produksi panas tanpa harus menggigil. Cadangan lemak cokelat tersebut berada di sekitar organ-organ vital, seperti jantung dan ginjal. Kolostrum menyediakan energi yang dibutuhkan untuk mengaktifkan mekanisme produksi panas tersebut. Menurut artikel Selko, kandungan energi kolostrum sekitar 5,4 kJ ME/L dan disebutkan sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan susu.

Pedet memang dapat bertahan hingga sekitar 15 jam tanpa mendapatkan kolostrum, tetapi cadangan energinya akan cepat terkuras apabila tidak mendapatkan kolostrum dalam beberapa jam pertama setelah lahir.

Ketika cadangan energi semakin menipis, suhu tubuh pedet dapat turun. Pedet kemudian menjadi lemah dan lesu. Pada kondisi hipotermia, refleks menyusu dapat menghilang sehingga pedet semakin tidak mampu minum. Dengan kata lain, semakin terlambat pedet mendapatkan kolostrum, semakin besar risiko terjadinya masalah kesehatan.

Kolostrum juga mengandung faktor pertumbuhan
Selain antibodi dan energi, kolostrum sapi mengandung berbagai growth factors atau faktor pertumbuhan yang berperan dalam perkembangan pedet.
Beberapa di antaranya adalah:
Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1)
Insulin-like Growth Factor-2 (IGF-2)
Transforming Growth Factor-alpha (TGF-α)
Transforming Growth Factor-beta (TGF-β)

Faktor-faktor tersebut berperan dalam menjaga integritas saluran pencernaan, mendukung pertumbuhan, serta membantu perkembangan sistem kekebalan pedet. Kolostrum sapi merupakan sumber penting faktor pertumbuhan tersebut bagi pedet yang baru lahir. 

Berapa banyak kolostrum yang dibutuhkan pedet?
Sebagai pedoman, pedet dianjurkan mendapatkan kolostrum sekitar 10–12% dari bobot lahirnya pada pemberian pertama. Untuk pedet sapi perah yang baru lahir, artikel ini merekomendasikan sedikitnya 4 liter kolostrum berkualitas baik dalam 12 jam pertama kehidupan.

Pemberian pertama idealnya dilakukan dalam 1–2 jam setelah kelahiran. Sebagai gambaran, pola pemberian yang disebutkan dalam artikel adalah:

Pemberian pertama:
3–4 liter kolostrum sesegera mungkin setelah lahir.
Pemberian kedua:
Sekitar 2 liter, enam jam kemudian.
Pemberian berikutnya:
Tambahan 1–2 liter pada sekitar 12 jam setelah lahir apabila memungkinkan.
Agar pola pemberian tersebut dapat dilakukan secara optimal, seekor sapi induk idealnya menghasilkan sedikitnya 6 liter kolostrum berkualitas baik dengan nilai Brix ≥22%. 

Apakah sapi perah menghasilkan kolostrum yang cukup?
Masalahnya, tidak semua sapi mampu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup. Dalam salah satu penelitian yang melibatkan 1.731 laktasi sapi Holstein, sebanyak 62,6% sapi menghasilkan kurang dari 6 kg kolostrum pada pemerahan pertama.

Lebih jauh lagi, hanya 27,7% sapi yang menghasilkan sedikitnya 6 kg kolostrum dengan nilai Brix 22%. Penelitian dari University of New Hampshire juga menemukan bahwa sekitar 12% sapi tidak menghasilkan kolostrum sama sekali, sedangkan hampir 25% menghasilkan kolostrum dalam jumlah terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan pedetnya.

Penelitian yang lebih baru juga menunjukkan bahwa sekitar 73% sapi dara yang baru pertama kali melahirkan (primiparous) dan 61% sapi yang telah beberapa kali melahirkan (multiparous) menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang tidak memadai. 

Dengan demikian, berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, diperkirakan sekitar 25–60% sapi perah dapat menghasilkan kolostrum yang jumlahnya tidak mencukupi atau tidak memenuhi standar kualitas yang direkomendasikan.

Ini merupakan persoalan penting dalam manajemen pedet karena produksi kolostrum yang rendah dapat menyulitkan peternak memenuhi kebutuhan pemberian kolostrum pada jam-jam pertama kehidupan.

Apa yang terjadi ketika sapi diberi Selko IntelliBond?
Salah satu pendekatan yang ditawarkan Selko adalah penggunaan Selko IntelliBond, yang mengandung mineral mikro dalam bentuk hydroxy trace minerals.

Menurut Selko, sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan sumber mineral tersebut sebagai pengganti sumber mineral sulfat dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan dan performa sapi perah. Selko juga menyebutkan bahwa penggunaan IntelliBond dapat meningkatkan produksi Energy Corrected Milk (ECM) sekitar 1–1,5 kg per ekor per hari.

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Professor Jose Santos dari University of Florida secara khusus mengevaluasi pengaruh pemberian IntelliBond selama periode close-up—yaitu periode menjelang kelahiran terhadap produksi kolostrum.

Penelitian University of Florida
Sebanyak 141 ekor sapi Holstein dilibatkan dalam penelitian tersebut. Sapi dibagi secara acak menjadi dua kelompok:

Kelompok pertama:
30 ekor sapi dara dan 40 ekor sapi multiparitas diberi mineral dalam bentuk sulfat.

Kelompok kedua:
31 ekor sapi dara dan 40 ekor sapi multiparitas diberi Selko IntelliBond sebagai pengganti penuh sumber mineral sulfat.

Perlakuan dimulai sekitar 21 hari sebelum sapi melahirkan.
Mineral tambahan yang diberikan terdiri atas:
Zinc (Zn): 30 mg/kg bahan kering ransum
Copper (Cu): 7 mg/kg bahan kering ransum
Manganese (Mn): 22 mg/kg bahan kering ransum

Produksi serta kualitas kolostrum kemudian dibandingkan pada pemerahan pertama setelah sapi melahirkan.

Hasil penelitian: produksi kolostrum meningkat
Penggantian sumber Zn, Cu, dan Mn dari bentuk sulfat menjadi sumber mineral IntelliBond tidak memengaruhi konsumsi bahan kering sapi sebelum melahirkan. Namun, terdapat kecenderungan peningkatan produksi kolostrum sekitar 1,0 kg.

Pada sapi dara, produksi kolostrum meningkat dari rata-rata:
5,54 kg → 7,07 kg
Sementara pada sapi multiparitas:
4,89 kg → 5,47 kg

Jika sapi dara dan sapi multiparitas digabungkan, peningkatan produksi kolostrum pada pemerahan pertama mencapai sekitar 1 kg. Nilai p yang dilaporkan adalah 0,08, sehingga hasil tersebut lebih tepat disebut sebagai tendency atau kecenderungan, bukan perbedaan yang signifikan secara statistik pada tingkat konvensional p<0,05. 

Bagaimana dengan kualitas kolostrumnya?
Yang menarik, peningkatan volume kolostrum tersebut tidak diikuti dengan penurunan parameter kualitas utama.
Tidak ditemukan perbedaan yang berarti dalam:
persentase lemak,
persentase protein,
persentase laktosa,
total padatan,
jumlah sel somatik,
nilai Brix, maupun
konsentrasi IgG.

Nilai Brix pada kedua kelompok berada di sekitar 27%, sedangkan konsentrasi IgG berada pada kisaran 106–122 g/L, tergantung kelompok sapi.  Artinya, berdasarkan penelitian tersebut, peningkatan volume kolostrum tidak menyebabkan efek pengenceran terhadap konsentrasi IgG.

Bahkan, total IgG yang dihasilkan cenderung meningkat karena jumlah kolostrum yang diproduksi lebih banyak. Pada sapi dara, total IgG meningkat dari sekitar 574 g menjadi 735 g, sedangkan pada sapi multiparitas meningkat dari sekitar 572 g menjadi 615 g. Namun, perbedaan tersebut tidak mencapai tingkat signifikansi statistik yang dilaporkan dalam penelitian. 

Memanfaatkan senyawa tanaman untuk meningkatkan kualitas kolostrum
Selain IntelliBond, artikel Selko juga membahas produk lain yang disebut Fytera Lacteco. Fytera Lacteco disebut sebagai PhytoComplex yang dipatenkan dan digunakan sebagai bahan tambahan pakan alami untuk sapi.

Menurut beberapa penelitian yang dikutip Selko, pemberian Fytera Lacteco selama 30 hari terakhir sebelum kelahiran dapat meningkatkan kadar imunoglobulin dalam kolostrum dan memperbaiki proses transfer antibodi maternal kepada pedet. 

Dalam salah satu percobaan, pedet dari sapi yang mendapatkan Fytera Lacteco mencapai kadar IgG serum 24 g/L pada 24 jam setelah lahir, yang digunakan dalam penelitian tersebut sebagai ambang keberhasilan transfer imunitas maternal.

Dengan demikian, pendekatan yang ditawarkan Selko tidak hanya berfokus pada meningkatkan jumlah kolostrum, tetapi juga pada upaya mempertahankan atau meningkatkan kualitas imunologis kolostrum.

Membangun program manajemen kolostrum yang baik
Manajemen kolostrum merupakan bagian yang sangat penting dalam pemeliharaan pedet. Kolostrum memberikan tiga manfaat utama bagi pedet:

1. Antibodi untuk membangun kekebalan pasif.
2. Energi untuk membantu mempertahankan suhu tubuh dan memenuhi kebutuhan metabolisme awal kehidupan.
3. Faktor pertumbuhan yang mendukung perkembangan saluran pencernaan dan sistem kekebalan.

Karena itu, peternakan sapi perah perlu memastikan bahwa sapi mampu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup dan dengan kualitas yang baik. Target yang disebutkan dalam artikel adalah setidaknya 6 liter kolostrum dengan nilai Brix ≥22% dari pemerahan pertama.
 
Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai penelitian, sebagian besar peternakan berpotensi menghadapi masalah produksi kolostrum yang tidak mencukupi. Program peningkatan produksi kolostrum dapat meningkatkan volume kolostrum sekitar 1–3 liter per ekor, dan menurut artikel tersebut peningkatan volume tersebut dapat dicapai tanpa harus menurunkan konsentrasi IgG.

Sumber mineral yang digunakan dalam ransum dapat menjadi salah satu faktor yang berpengaruh. Penggantian sumber mineral sulfat dengan Selko IntelliBond dalam penelitian University of Florida meningkatkan produksi kolostrum pada pemerahan pertama sekitar 1 liter, tanpa menurunkan konsentrasi IgG. 

Sementara itu, pemberian Fytera Lacteco selama 30 hari terakhir kebuntingan dilaporkan dapat meningkatkan kadar imunoglobulin kolostrum dan memperbaiki transfer kekebalan pasif kepada pedet.

Kesimpulan
Manajemen kolostrum yang baik merupakan fondasi penting dalam keberhasilan pemeliharaan pedet. Pedet membutuhkan kolostrum bukan hanya sebagai sumber antibodi, tetapi juga sebagai sumber energi dan berbagai faktor pertumbuhan yang diperlukan untuk perkembangan awal tubuh dan sistem kekebalan.

Idealnya, pedet mendapatkan kolostrum berkualitas tinggi sesegera mungkin setelah lahir. Untuk mendukung program tersebut, sapi induk perlu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang memadai.
Artikel Selko menunjukkan bahwa sekitar 25–60% sapi perah berpotensi tidak menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup sesuai standar yang direkomendasikan. 

Penelitian University of Florida yang melibatkan 141 ekor sapi Holstein menunjukkan bahwa penggantian sumber Zn, Cu, dan Mn berbasis sulfat dengan Selko IntelliBond hydroxy trace minerals cenderung meningkatkan produksi kolostrum sekitar 1 kg pada pemerahan pertama, tanpa menurunkan nilai Brix maupun konsentrasi IgG kolostrum. 

Dengan demikian, menurut artikel tersebut, pengelolaan sumber mineral mikro dapat menjadi salah satu bagian dari strategi yang lebih luas untuk meningkatkan produksi kolostrum dan mendukung program manajemen pedet. (INF)

OPTIMALISASI REPRODUKSI KAMBING - DOMBA DENGAN KANDANG PORTABEL USG



Oleh : : Dr. Abdullah Baharun, S.Pt., M.Si (Dosen Prodi Peternakan, Universitas Djuanda)

Beternak domba dan kambing menjadi pilihan yang semakin menarik karena didukung ketersediaan hijauan pakan dan kondisi lingkungan yang sesuai. Meski demikian, mengembangkan usaha peternakan rakyat bukan tanpa tantangan. Produktivitas ternak dan efisiensi pengelolaan masih perlu ditingkatkan agar usaha ini mampu memberikan pendapatan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Potensi Besar di Kaki Gunung Salak

Ciburayut memiliki modal alam yang kuat untuk pengembangan peternakan domba dan kambing. Ketersediaan hijauan pakan masih cukup luas, tanah relatif subur, dan iklim pegunungan mendukung pertumbuhan beragam jenis rumput serta tanaman pakan. Meski pembangunan vila mulai berkembang di sejumlah lokasi, kebutuhan pakan ternak masyarakat hingga kini masih dapat dipenuhi.

Potensi tersebut semakin menarik karena permintaan domba dan kambing di Jawa Barat cukup tinggi. Ternak dari wilayah ini dibutuhkan untuk memenuhi pasar daging maupun ternak hidup di Bogor, Jakarta, Banten, dan berbagai daerah lain di Jawa Barat. Bahkan, sebagian kebutuhan pasar masih dipasok dari Jawa Tengah karena produksi lokal belum mampu memenuhinya.

Peluang inilah yang dikembangkan oleh Kelompok Ternak Kampung Domba Gunung Salak Bogor. Kelompok yang telah berbadan hukum dan memiliki jaringan pemasaran cukup luas ini telah berkembang menjadi salah satu sentra peternakan rakyat di Ciburayut. Persoalannya, kapasitas produksi belum mampu mengikuti besarnya permintaan pasar.

Reproduksi Menjadi Titik Lemah

Kendala utama bukan terletak pada pemasaran, melainkan pada reproduksi. Banyak induk terlambat diketahui bunting. Sebagian lainnya bahkan dipelihara berbulan-bulan tanpa kepastian kebuntingan. Kondisi ini membuat waktu produktif ternak terbuang, jarak beranak menjadi panjang, dan pertumbuhan populasi berjalan lambat.

Selama ini, peternak umumnya mengandalkan pengamatan visual melalui perubahan bentuk tubuh atau perilaku ternak. Cara tersebut sederhana, tetapi kurang efektif untuk mendeteksi kebuntingan pada tahap awal. Akibatnya, induk yang belum bunting terlambat dikawinkan kembali dan efisiensi reproduksi pun menurun.

Padahal, dengan pengelolaan yang baik, seekor induk domba atau kambing berpotensi beranak hingga dua kali dalam satu tahun. Potensi biologis ini hanya dapat dimanfaatkan secara optimal melalui manajemen reproduksi yang tepat.

Melanjutkan Program Pendampingan

Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Nomor Kontrak: 207/C3/DT.05.00/PM/2026; 485/01/K-X/V/2026).

Program ini merupakan kelanjutan dari kegiatan pengabdian pada 2024 yang berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam kesehatan ternak, pembangunan bank pakan, serta pengenalan teknik budidaya domba dan kambing secara konvensional.

Tahun ini, pendampingan diarahkan pada peningkatan efisiensi reproduksi melalui pemanfaatan ultrasonografi (USG) portable. Teknologi tersebut memungkinkan pemeriksaan kondisi organ reproduksi, aktivitas ovarium, perkembangan embrio, dan status kebuntingan secara cepat dan lebih akurat.

Bagi sebagian peternak, penggunaan USG menjadi pengalaman baru. Alat yang selama ini lebih dikenal untuk pemeriksaan kesehatan manusia ternyata dapat digunakan secara praktis di kandang untuk membantu menentukan keputusan reproduksi ternak.

Belajar Langsung di Kandang

Kegiatan diawali dengan penyerahan USG portable langsung ke peternak (Caption Foto 1), sosialisasi program, penyuluhan mengenai manajemen reproduksi domba dan kambing. Materi mencakup siklus birahi, waktu perkawinan yang ideal, pentingnya deteksi kebuntingan dini, serta pengelolaan pakan selama masa kebuntingan.

Antusiasme peserta semakin terlihat ketika memasuki sesi praktik secara bertahap dan berkelanjutan. Tim pengabdian (Abdullah Baharun, Deden Sudrajat, Riny Kusumawati) bersama dokter hewan (drh. Annisa Rahmi, M.Si) yang dibantu oleh mahasiswa Universitas Djuanda (Adiba Kanza Arasya, Kustini, Rumaisha Kultsum Qurani, Refacha Nadila, Asep Maman, Alfatir Muhammad Syafur) memperagakan penggunaan USG portable pada sejumlah induk. Melalui layar monitor, peternak dapat melihat gambaran organ reproduksi dan perkembangan embrio di dalam uterus secara langsung.

Pengalaman tersebut tidak hanya menarik, tetapi juga membuka wawasan baru. Peternak dapat mengetahui status kebuntingan ternaknya sekaligus memahami pentingnya pemeriksaan reproduksi sebagai bagian dari pengelolaan usaha.

Selain pemeriksaan kebuntingan, tim mendampingi peternak mengevaluasi kondisi reproduksi calon induk. Pemeriksaan ovarium membantu menentukan kesiapan ternak untuk dikawinkan sehingga waktu perkawinan dapat direncanakan dengan lebih tepat.

Foto Penyerahan USG portable ke Peternak Kampung Domba Gunung Salak, Ciburayut.

(Sumber : Abdullah Baharun, 2026)

Hasil Nyata di Lapangan

Program pendampingan mendapat respons positif. Seluruh peserta mengikuti penyuluhan dan praktik dengan antusias. Diskusi berlangsung aktif karena peternak dapat menghubungkan materi dengan persoalan yang selama ini mereka temui di kandang.

Evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan hingga 90% mengenai manajemen reproduksi, terutama dalam mengenali siklus birahi, menentukan waktu kawin, dan memahami pentingnya deteksi kebuntingan dini. Peternak juga semakin memahami bahwa induk yang belum bunting perlu segera dimasukkan kembali ke program perkawinan agar tidak terus menambah biaya pemeliharaan tanpa menghasilkan keturunan.

Dalam praktik lapangan, sebanyak 176 ekor induk domba dan kambing diperiksa menggunakan USG portable. Hasil pemeriksaan menunjukkan sejumlah induk telah bunting pada fase awal (11 ekor) dan mengalami gangguan reproduksi sebanyak 1 ekor (organ reproduksi abnormal). Induk-induk tersebut dapat segera dipisahkan dan memperoleh manajemen pakan sesuai kebutuhannya. Sementara itu, induk yang belum bunting (164 ekor) langsung dimasukkan ke dalam program perkawinan berikutnya.

Hasil pemeriksaan juga menjadi dasar bagi kelompok peternak untuk mulai membangun pencatatan reproduksi yang lebih sistematis dengan bantuan aplikasi dashboard pada smartphone yang dibuatkan khusus dalam kegiatan PkM. Data status kebuntingan, perkiraan waktu kelahiran, dan jadwal perkawinan dapat digunakan untuk menyusun rencana produksi sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan pasar.

Dari Teknologi Menuju Peningkatan Pendapatan

Pemanfaatan USG portable bukan sekadar memberikan kepastian mengenai status reproduksi ternak. Teknologi ini membantu peternak mengambil keputusan usaha dengan lebih cepat dan efisien. Induk bunting dapat segera memperoleh pakan tambahan sesuai kebutuhannya, sedangkan induk yang belum bunting tidak perlu dipelihara terlalu lama tanpa kepastian reproduksi.

Dengan semakin pendeknya waktu kosong (days open) dan semakin teraturnya jadwal perkawinan, produktivitas ternak diharapkan meningkat. Lebih banyak kelahiran berarti lebih banyak ternak yang tersedia untuk dibesarkan dan dijual. Pada akhirnya, kapasitas kelompok untuk memenuhi permintaan pasar pun dapat meningkat.

Lebih dari sekadar memperkenalkan alat, pendampingan ini mendorong perubahan cara pandang peternak. Reproduksi tidak lagi dipandang sebagai proses alami yang berjalan begitu saja, melainkan sebagai bagian penting dari strategi usaha yang perlu dikelola dan direncanakan.

Langkah Awal Transformasi Peternakan Rakyat

Pengalaman di Kelompok Ternak Kampung Domba Gunung Salak menunjukkan bahwa teknologi tepat guna akan memberi manfaat maksimal jika disertai pendampingan yang berkelanjutan. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, tenaga kesehatan hewan, dan kelompok peternak menjadi fondasi penting agar inovasi tidak berhenti pada tahap pengenalan, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan.

Bagi masyarakat Ciburayut, beternak domba dan kambing bukan sekadar pilihan usaha, tetapi juga peluang untuk mengembangkan sumber penghidupan yang sesuai dengan potensi wilayah. Dengan dukungan teknologi reproduksi yang semakin mudah diakses, peternakan rakyat memiliki peluang untuk tumbuh menjadi sumber penghidupan yang lebih aman, produktif, dan berkelanjutan.

Transformasi tentu tidak terjadi dalam semalam. Namun, setiap induk yang berhasil dideteksi bunting lebih awal, setiap kelahiran yang dapat direncanakan, dan setiap anak ternak yang lahir sehat merupakan langkah menuju peningkatan kesejahteraan peternak. Dari kandang-kandang sederhana di kaki Gunung Salak, harapan itu tumbuh bersama inovasi yang membawa pengelolaan reproduksi ternak ke arah yang lebih modern dan produktif. (INF)


MENGUSUNG ONE HEALTH, ONE WELFARE, KIVNAS XXI RESMI DIGELAR

Foto bersama KIVNAS XXI. (Foto: Infovet/Ridwan)

Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) resmi menyelenggarakan Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional (KIVNAS) XXI yang berlangsung pada 14-15 Agustus 2026, di Grand Serpong Hotel. Mengusung tema besar "One Health, One Welfare", gelaran ilmiah ini menampilkan beragam agenda strategis, mulai dari sesi pleno, presentasi ilmiah (oral dan poster), hingga seminar/workshop dari Unit Peminatan Non-Teritorial (UPNT).

​Rangkaian KIVNAS XXI hari pertama diawali dengan Morning Seminar yang menghadirkan Dr Drh Susan M. Noor, yang mengulas isu-isu krusial terkait kesehatan hewan nasional, termasuk kewaspadaan terhadap E. coli, isu resistansi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR), serta pentingnya penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggung jawab pada hewan.

Usai pemaparan, acara dilanjutkan dengan sesi sambutan secara resmi oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar (PB) PDHI, Drh Andi Wijanarko. Dalam sambutannya, Andi menyampaikan bahwa KIVNAS merupakan wahana penting untuk menyatukan ide demi kemajuan bersama profesi veteriner.

"Kita berkumpul di sini untuk memberikan ide bagi kemajuan kita bersama. KIVNAS ini adalah forum penting untuk memperkuat ilmu dan kolaborasi dalam memajukan kesatuan kedokteran hewan kita. Tema One Health, One Welfare mengingatkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tidak terpisahkan," ujar Andi.

​Ia juga menegaskan bahwa posisi strategis dokter hewan yang selalu hadir dan dibutuhkan dalam isu-isu vital bangsa, seperti penanganan zoonosis, pengendalian AMR, hingga penjaminan ketahanan dan keamanan pangan. Mengingat KIVNAS digelar menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan RI, Andi berharap KIVNAS XXI menjadi momentum nyata untuk mewujudkan dokter hewan Indonesia yang berintegritas, adaptif, dan kolaboratif demi melahirkan gagasan serta jejaring baru bagi masa depan.

Pada kesempatan yang sama, hadir sebagai Keynote Speaker, Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Drh Hendra Wibawa, menyampaikan visi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang maju dan berkelanjutan. Pembangunan tersebut tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan peternak dan penguatan sistem kesehatan hewan nasional.

Hendra juga memaparkan sejumlah tantangan kompleks yang masih dihadapi saat ini, seperti ancaman zoonosis, Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS), emerging infectious disease (EID), perubahan iklim, degradasi lingkungan, keamanan pangan, hingga dinamika perubahan sistem produksi peternakan, dan risiko AMR.

​Untuk menjawab kompleksitas tersebut, Hendra menyampaikan tiga pesan kunci. Pertama, proteksi. Yakni menjaga kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan untuk ketahanan kehidupan masyarakat.
"Yang kedua, promote. Dengan mempromosikan penguatan animal welfare karena keberadaannya penting bagi keberlanjutan usaha peternakan. Dan ketiga yaitu kolaborasi. Dengan memperkuat sinergi lintas sektor, karena tantangan ke depan yang semakin kompleks, sehingga seluruh pihak harus menjadi satu kesatuan demi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang lebih maju dan berkelanjutan," tukasnya.

Usai pembukaan resmi oleh Dirkeswan, kegiatan KIVNAS XXI dilanjutkan dengan pemaparan materi dari jajaran pakar, akademisi, dan praktisi senior. Pada hari pertama, hadir narasumber di antaranya Prof Dr Drh Bambang Pontjo P. (Dosen Patologi SKHB IPB University, Sekjen FAVA), Dr Drh Nusdianto Triakoso (Ketua UPNT AKIVI, Wadir RSHP Unair, Dosen FKH Unair), Drh Kadek Agus Agra Arnawa (Senior Vet, Dokter Hewan Praktisi Central Vet Bali, Anggota UPNT ADBVI), hingga Drh Anang Triatmoko (Dokter Hewan Praktisi GAIA Small Animal Clinic, Anggota UPNT ADBVI).

Kemudian pada hari kedua diskusi ilmiah dilanjutkan dengan pemaparan dari Drh Akhmad Harris Priyadi (Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia/ASOHI), Dr Siraya Chunekamrai (Veterinary Practice in Thailand, Founder The Thai Pony Foundation), ​Dr Drh Hasbullah Abdurrachman (Konsultan Bisnis, Senior Veterinarian Standard Biosensor Indonesia), ​Prof Dr Drh Widagdo Sri Nugroho (Dosen Dept. Kesmavet FKH UGM & Koord. Bid. Peningkatan Kompetensi UPNT Askesmaveti), Dr Drh Fitria Senja Murtiningrum (Dosen SKHB IPB University, Anggota UPNT ADHPHKI), hingga Drh Fajriyanti Qurrotuain (Dokter Hewan Praktisi, Anggota UPNT ADHPHKI).

Melalui pemaparan materi dan diskusi interaktif selama dua hari, KIVNAS XXI diharapkan melahirkan gagasan inovatif serta memperkuat sinergi interprofesional demi mewujudkan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan yang berkelanjutan di Indonesia. (RBS)

JAPFA FOR KIDS 2026, MEMPERSIAPKAN MASA DEPAN ANAK MELALUI PENINGKATAN STATUS GIZI

Senam hari sehat Japfa SDN Megamendung
Pelaksanaan Hari Sehat Japfa dengan senam bersama semua siswa SDN Megamendung 01, 02, dan 03. (Foto-foto: NDV/Infovet & Istimewa)

Sudah 18 tahun program Japfa for Kids berjalan. Sebuah program sosial dari PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk, menyasar siswa usia sekolah dasar di sekitar unit operasional Japfa. Program ini bertujuan untuk menurunkan malagizi (gizi buruk dan gizi kurang) pada siswa serta mendorong mereka membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Tahun ini Bogor menjadi salah satu daerah tempat dilaksanakannya Japfa for Kids. Jumat 7 Agustus 2026, jurnalis Infovet mengunjungi empat sekolah dasar penerima manfaat program di Kabupaten Bogor. 

Japfa for Kids di SDN Megamendung

Jurnalis Infovet sampai di lokasi kompleks SDN Megamendung 01, 02, dan 03 di Cilember, Kecamatan Cisarua, Bogor saat pelajaran belum dimulai. Terlihat beberapa siswa laki-laki bermain sepak bola di halaman SDN Megamendung 01. Sementara sebagian anak-anak SDN Megamendung 02 sudah siap di halaman sekolah mereka, mengenakan sarung dan mukena, bersiap untuk sholat dhuha.

Anak-anak SDN Megamendung 01 bermain bola di halaman sekolah.

Lalu tiba waktunya anak-anak berkumpul untuk mengaji dan sholat dhuha. Dilanjutkan dengan pelaksanaan Hari Sehat Japfa dengan melakukan senam sehat untuk seluruh murid dan guru seluruh SDN Megamendung. Setelah senam anak-anak mencuci tangan menggunakan sabun, mengecek kebersihan dan kesehatan kuku, kemudian makan MBG bersama.

Guru SDN Megamendung 01, Ranti didampingi oleh Irma, di sela aktivitasnya bercerita, para orang tua senang mendapatkan pembagian telur dari program Japfa for Kids. Walaupun ada yang pada awalnya agak keberatan karena kesannya dianggap tidak mampu membeli telur sendiri.

Ranti (baju putih) dan Irma.

“Tapi terus saya bilangin jangankan beli 1 kilo, beli satu peti saja Ibu mungkin mampu. Tapi selain telur program ini ada reward-nya untuk kita, anak-anak jadi diperhatikan kesehatannya,” terang Ranti. “Pekan depan nanti ada medical checkup, saya bilang. Kalau kita sengaja datang ke rumah sakit atau ke puskesmas untuk medical checkup anak mana pernah. Kalau anak tidak sakit kan tidak pernah ke dokter.”

Sama dengan di sekolah lainnya, sebelum program Japfa for Kids diimplementasikan pada anak-anak SDN Megamendung. Sekitar 3 atau 4 bulan sebelumnya diadakan pembekalan untuk guru-guru PIC. Apa yang akan disampaikan ke orang tua dan anak, disampaikan lebih dahulu pada guru PIC. Seperti gizi seimbang itu bagaimana dan menu apa saja yang harus ada, pentingnya PHBS, cuci tangan pakai sabun, kesehatan kuku, dan lainnya.

“Sudah terprogram ini 10 anak sampai 6 bulan. Mudah-mudahan setelah itu ada program berikutnya lagi yang menyasar siswa yang lain,” begitu harap Ranti. “Bukannya kita berharap ada siswa yang gizi buruk atau gizi kurang lagi. Tapi dengan program tersebut membuat orang tua lebih termotivasi memperhatikan gizi anak. Mereka juga terpancing kreativitasnya untuk membuat masakan-masakan berbahan telur.”

Sementara itu R Ghaniawatie, guru SDN Megamendung 03, mengatakan orang tua memang terbantu dengan program Japfa for Kids. Namun kadang terkendala oleh anak yang susah diatur pola makannya.

R Ghaniawatie.

“Ada juga anak yang telurnya tidak mau dibawa ke sekolah, makannya di rumah,” tuturnya. “Sampai ada yang dibuat sushi oleh ibunya, karena anaknya bosan. Paling kan kalau yang lain biasanya dibuat nasi goreng, juga mie goreng. Ini dikreasikan, begitu.”

Ghaniawatie juga menyayangkan dalam bekal anak yang dibawa ke sekolah banyak yang tidak memakai sayur. Menurutnya anak-anak sekarang melihat sayuran itu seperti melihat 'musuh'. Bukan salah orang tuanya, namun lebih ke anak-anaknya yang menolak diberi sayur, sehingga diperlukan kreativitas menu dan pembiasaan.

Diceritakannya juga ada orang tua yang heran sewaktu screening anaknya terjaring sebagai malagizi. Padahal sebelum menerima program Japfa for Kids, setiap hari anaknya selalu diberi dua butir telur. Tapi kenyataannya tinggi dan berat badannya memang belum sesuai dengan usianya. Sehingga orang tua tersebut tidak keberatan mengikuti program, agar lebih tahu permasalahan tumbuh kembang anaknya lebih jelas.

Farel Tergerak untuk Makan Sayuran

Erliana Rahayu termasuk orang tua yang anaknya, Muhammad Farel Ilfar siswa kelas 5 SDN Megamendung 01, tidak begitu suka makan sayuran. Selama ini cukup rutin mengonsumsi telur, tapi tidak demikian dengan sayurnya.

“Makanya ada program ini senang karena Farel jadi agak mau makan sayur. Karena saya bilang gini ke dia, ‘Ah, kamu kurang gizi, malu. Enggak baik itu kamu pertumbuhannya.’ Baru dia mau nurut mau makan sayuran,” ceritanya sambil tertawa kecil.

Obrolan Infovet dengan Erliana terhenti sejenak ketika Farel yang berumur 10 tahun, dengan berat badan 24 kg, tinggi badannya 132 cm, datang mendekati Ibunya. Sebelum pergi lagi, dia dan Ibunya berpose untuk foto.

Erliana dan Farel.

“Kalau sayurannya kan setiap hari dapat dari MBG, telurnya bawa dari rumah.” Erliana melanjutkan. “Kecuali Sabtu dan Minggu baru kita masak sayuran sendiri. Harus yang enak-enak biar Farel mau makan.”

Program untuk Mempersiapkan Masa Depan Anak

Fasilitator program Japfa for Kids untuk kawasan Megamendung, Bogor, Muhammad Trisna Kusuma Wardana menjelaskan program utama dari Japfa for Kids ada tiga. Pertama, program satu hari satu telur. Kedua Hari Sehat Japfa yang memiliki lima komponen yaitu senam sehat, PHBS, cuci tangan pakai sabun, cek kuku, makan bersama. Program ketiga adalah pertemuan orang tua tiap bulan.

Muhammad Trisna Kusuma Wardana

“Pertemuan pertama dilakukan untuk menggali bagaimana komitmen orang tua. Sebelum manfaat diberkan kita tanya apakah berkomitmen dan apakah setuju dengan programnya. Alhamdulillah seluruh orang tua di program ini di SDN Megamendung setuju semuanya,” terang Trisna.

Saat pertemuan tersebut orang tua antusias mengajukan beberapa pertanyaan. Ada yang bertanya bagaimana agar anak tetap tumbuh maksimal, sedangkan anaknya rewel makannya meski asupan gizi yang diberikan orang tua sudah mencukupi.

Trisna menerangkan bahwa orang tua dan guru diminta untuk memastikan gizi anak tercukupi. Yaitu di samping telur juga melengkapinya dengan asupan karbohidrat, sayur, dan buah. Orang tua dan guru diminta untuk mendokumentasikan apa yang anak makan. Kemudian setiap bulannya fasilitator akan memberikan update dan evaluasi, disertai dengan diskusi.

“Diharapkan dengan demikian makan bergizi seimbang dan perilaku sehat menjadi kebiasaan. Pembiasaan itulan jawaban dari keluhan orang tua tadi,” kata Trisna.

Dengan demikian orang tua terpacu kreativitasnya bagaimana caranya agar anak mau makan dengan baik. Hasilnya cukup membuat Trisna terkejut gembira. Ada orang tua yang memasak telur menggunakan cetakan bunga, ada yang dibuat onigiri, dan berbagai kreasi kreatif lainnya.

Onigiri dan telur dadar, kreasi orang tua siswa agar anaknya lebih berselera makan.

“Jadi Japfa for Kids ini mekanismenya sharing contribution. Bukan hanya Japfa saja yang berperan tapi juga dari guru, dari orang tua dan juga puskesmas,” kata Trisna. “Oh ya, setiap tiga minggu lalu di minggu keempatnya semuanya bakal dapat telur, termasuk gurunya. Makanya tadi saya ngobrol dengan Kepala Sekolah Megemendung 03 harapannya telurnya dibagikan menjelang 17 Agustus, karena akan dijadikan ajang lomba.”

Trisna berharap program Japfa for Kids menjadi kebiasaan yang terus dibangun bersama anak-anak. Lebih jauh lagi dia ingin program ini bisa ikut mempersiapkan masa depan anak yang lebih baik.

“Anak-anak ini nanti kan masih melanjutkan pertumbuhannya. Juga untuk persiapan di SMP dan SMA dimana ada ekstrakurikuler seperti Pramuka dan Paskibra, dan lainnya. Jangan sampai tinggi dan berat yang tidak ideal menjadi halangan anak-anak untuk mengejar cita-citanya,” harapnya.

“Apalagi pekerjaan sekarang ini bukan hanya polisi dan tentara yang memiliki syarat minimal tinggi dan berat badan. Jangan sampai masalah pertumbuhan menjadi halangan cita-cita mereka. Anak-anak bisa saja sudah siap secara pemikiran, emosional, pendidikan dan lain-lain namun bisa terhalang oleh masalah tersebut. Jangan sampai terjadi.”

Pencapaian Japfa for Kids

Japfa for Kids adalah bentuk komitmen perusahaan untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat sekitar. Hingga tahun 2025, program ini telah menjangkau 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota yang tersebar di 28 provinsi di Indonesia. Pada pelaksanaan tahun 2026, program berlangsung di delapan wilayah, yaitu Megamendung & Klapanunggal (Kabupaten Bogor, Jawa Barat), Karanganyar (Jawa Tengah), Tegal (Jawa Tengah), Lamongan (Jawa Timur), Sidomulyo (Lampung), Padang Pariaman (Sumatera Barat), Bintan (Kepulauan Riau), dan Sofifi (Maluku Utara).

Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs Japfa menjelaskan, “Selama 18 tahun pelaksanaannya, Japfa for Kids tidak hanya memperluas jangkauan program, tetapi juga terus menyempurnakan pendekatannya agar dampak yang dihasilkan semakin terukur dan berkelanjutan. Melalui edukasi gizi seimbang, pembiasaan konsumsi protein hewani, PHBS, serta kolaborasi dengan guru, orang tua, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah, program ini telah membantu membangun kebiasaan hidup sehat pada anak-anak sekolah dasar.”

Rachmat Indrajaya

Upaya tersebut menurut Rachmat turut berkontribusi pada peningkatan status gizi anak penerima manfaat, yang diperkuat melalui pemantauan dan evaluasi secara berkala.

Sejak tahun 2024, Japfa for Kids memperkuat pendekatan berbasis data melalui pengukuran tinggi badan dan berat badan siswa sebelum, selama, dan setelah program berlangsung, sehingga dampak program dapat diukur secara lebih objektif. Pada tahun 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau sebesar 51,5%. Sementara pada tahun 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.

Japfa for Kids di SDN Cikopo

Foto bersama penerima manfaat program Japfa for Kids di SDN Cikopo.

Dari SDN Megamendung, Infovet melanjutkan kunjungan ke SDN Cikopo, Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Bogor. Sekolah yang juga menerima manfaat program Japfa for Kids. Disambut oleh Emilia Fetristianti, wali kelas 1B dan Eriyanti, wali kelas 6 SDN Cikopo.

Eriyanti.

“Saya dulu juga sempat percaya kalau makan telur terus-terusan bisa bisulan. Oleh fasilitator Japfa dijelaskan, termasuk ke orang tua murid juga, ternyata ada faktor lainnya misalnya kebersihan. Jadi kami paham sekarang,” kata Eriyanti.

Emilia Fetristianti

Rekannya, Emilia, menambahkan bahwa dijelaskan pula protein itu penting untuk anak-anak usia SD yang sedang dalam masa pertumbuhan. Program CSR Japfa tersebut dirasakan manfaatnya tidak hanya dari sisi pemenuhan gizi anak, namun edukasinya juga membuka pemikiran orang tua dan guru.

“Karena selama ini kan orang tua tahunya makan yang penting kenyang. Ternyata tidak bisa sembarangan,” tutur Eriyanti. “Mereka juga berpikir makanan bergizi seimbang harus yang mahal-mahal. Ternyata dijelaskan kemarin bahwa telur, tahu, tempe yang harganya terjangkau juga bergizi. Lalu orang tua anggapannya juga harus minum susu padahal protein juga bisa dari telur.”

Seperti sekolah penerima manfaat lainnya, SDN Cikopo juga memiliki grup penerima manfaat di WhatsApp. Grup tersebut menjadi tempat orang tua mengunggah foto anak sedang memakan telur, sebagai laporan. Kemudian diteruskan ke aplikasi Japfa for Kids oleh Emilia.

Salah satu wujud berkembangnya pemahaman orang tua akan gizi seimbang. Adalah ketika mereka yang semula mengirim foto dokumentasi, anaknya hanya makan telur dan nasi. Kemudian dalam waktu singkat menu anak sudah ditambahkan dengan sayur.

Sebanyak 23 anak dari SDN Cikopo terjaring sebagai anak malagizi ketika dilakukan screening awal di puskesmas. Salah satu indikasinya adalah tinggi dan berat badan anak tidak sesuai dengan usianya. Keduapuluh tiga anak tersebut diberikan telur omega organik tujuh butir per minggu, untuk dikonsumsi satu hari satu telur.

“Kami bersyukur ada program dari Japfa ini. Anak-anak juga senang, respon orang tua antusias. Bahkan ada orang tuanya yang mengakui kalau memang anaknya susah makan dan menyambut baik program ini,” jelas Emilia.

Eriyanti menambahkan para orang tua anak-anak yang baru masuk kelas 1 yang belum ikut seleksi, pun meminta anaknya diikutkan program.

“Bagi kami program ini sangat bagus. Seharusnya program seperti ini ada di kurikulum, karena sangat penting. Mau banget programnya berlanjut, tidak cuma berhenti di angkatan ini,” harap Eriyanti.

Kepedulian Mendalam Japfa

Ketika pembagian telur dari program Japfa for Kids sudah berjalan, akan ada medical checkup untuk semua siswa. Anemia, riwayat tuberkulosis, karies gigi dan lain-lainnya diperiksa.

“Jika ada anak yang tersuspek penyakit nanti akan ditolong oleh puskesmas. Hal itu akan menjadi catatan kami juga, karena kalau anak-anak mendapati penyakit tersebut itu akan mengurangi respon tubuh terhadap pertumbuhan anak itu. Walaupun kita sudah memastikan makannya baik, gizi seimbang tapi kalau misalnya dia ada penyakit bisa jadi faktor penghambat pertumbuhannya,” terang Trisna.

Jika ada beberapa anak yang teridentifikasi memiliki penyakit lalu pertumbuhannya masih belum menuju ke normal seperti yang diharapkan, Japfa akan menindaklanjuti dengan strategi untuk mengulurkan bantuan tambahan lainnya guna memastikan agar anak-anak tersebut masuk ke dalam gizi normal. (NDV)

PENYAKIT NGOROK YANG MASIH MENJADI MOMOK

Temuan umum patologi anatomis dari CRD (A dan B) pericarditis, perihepatitis, dan air sacculitis pada broiler. (C dan D) hal yang sama terjadi pada unggas layer. (Sumber: Marouf et al. 2022)

Penyakit pernapasan pada unggas merupakan salah satu tantangan utama yang menjadi momok menakutkan. Terlebih lagi aspek kesehatan ternak juga memiliki korelasi dengan produktivitas. Salah satu yang kerap menjadi residivis di Indonesia adalah mycoplasmosis alias chronic respiratory disease (CRD) yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum.

Ngorok biasa disebut peternak atau CRD kerap ditemui dalam suatu peternakan unggas. CRD adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan ayam dan bersifat kronis. Disebut “kronis” karena penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu lama dan sulit untuk disembuhkan.

Si Penyebab Ngorok
Biang keladi dari penyakit ngorok tadi tidak lain adalah Mycoplasma gallisepticum (MG), yang biasa disebut sebagai organisme mirip bakteri (bacteria-like organism). Berbagai praktisi perunggasan lokal maupun mancanegara bahkan menyebut MG sebagai salah satu patogen yang paling merugikan dalam industri unggas.

Dibalik ukurannya yang sangat kecil dan sederhana, MG memiliki kemampuan untuk menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan di seluruh dunia melalui penurunan produktivitas, peningkatan biaya pengobatan, dan peningkatan mortalitas pada unggas.

Dalam sebuah seminar mengenai penyakit pernapasan pada unggas, Veterinary Service Manager PT Ceva Indonesia, Drh Fauzi Iskandar, menerangkan mengenai sifat dan karakteristik MG. Ia mengatakan bahwa MG adalah bakteri dari kelompok Mycoplasma yang unik karena tidak memiliki dinding sel.

Hal ini membuatnya sangat sulit untuk diberantas dengan antibiotik biasa terutama yang bekerja dengan cara mengganggu sintesis dinding sel bakteri. Bakteri ini berbentuk pleomorfik dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan, membuatnya sulit dideteksi dan dikendalikan di peternakan unggas.

“Penggunaan antibiotik yang melisiskan dinding sel tentu tidak akan efektif, oleh karenanya MG ini sangat sulit diberantas, meskipun begitu bukan tidak mungkin untuk dikendalikan, hanya saja butuh “jurus khusus” dalam pengendaliannya,” tutur Fauzi.

Ia melanjutkan, MG dapat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. (CR)

SEMARAK HUT KE-41, BBPMSOH HADIRKAN TALKSHOW, EKSPOSE KAJIAN ILMIAH, DAN BAZAR UMKM

Kegiatan talkshow menjadi momentum merefleksikan perjalanan 41 tahun BBPMSOH. (Foto: NDV/Infovet)

Tahun ini Balai Besar Pengujian Mutu Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) memasuki usia yang semakin matang. Memperingati HUT ke-41 sekaligus HUT RI ke-81 BBPMSOH menyelenggarakan berbagai kegiatan.

Acara utama adalah Talkshow dan Ekspose Hasil Kajian Ilmiah BBPMSOH yang berlangsung pada Kamis, 6 Agustus 2026, bertempat di area parkir kantor BBPMSOH, Bogor. Hadir sebagai tamu antara lain UPT lingkup Direktorat Jenderal Peternakan, ASOHI, pensiunan BBPMSOH, berbagai instani pemerintah di Kecamatan Gunungsindur, dan mitra-mitra BBPMSOH.

Talskhow bertajuk “Kiprah BBPMSOH dari Masa ke Masa: Mengawal Mutu dan Keamanan Obat Hewan Indonesia serta Menjawab Tantangan Masa Depan”, menghadirkan narasumber yaitu Kepala BBPMSOH Drh Hasan Abdullah Sanyata, pejabat senior Kementan drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa PhD, Ketua Kelompok Substansi Pengawas Obat Hewan Kementan Drh Arief Wicaksono , dan Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Drh Akhmad Harris Priyadi. Talkshow dimoderatori oleh Drh Yuni Yupiana MSc PhD.

Acara semestinya dibuka oleh Dr Drh Agung Suganda MSi, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan) yang berhalangan hadir. Sehingga diwakili oleh Direktur Kesehatan Hewan, Drh Hendra Wibawa MSi PhD yang membuka acara secara daring.

Dalam sambutannya, Hendra memaparkan. “Obat hewan merupakan komponen vital dalam mendukung produksi peternakan nasional. Oleh karena itu, mutunya harus terjamin mengingat obat hewan berdampak langsung terhadap kesehatan dan produktivitas ternak, keamanan pangan asal hewan, hingga kesehatan masyarakat. Dalam konteks tersebut, BBPMSOH memiliki peran strategis sebagai satu-satunya unit pelaksana teknis yang diakui pemerintah secara nasional dalam pengujian mutu, sertifikasi, analisis, dan pemantauan obat hewan.”

Hendra juga menyinggung sedikit mengenai isu resistensi antimikroba (AMR) yang telah menjadi perhatian global dan ancaman serius yang harus diantisipasi. 

“Meningkatnya penggunaan produk herbal sebagai alternatif pengobatan juga membutuhkan metode pengujian dan pengawasan yang relevan. Perkembangan tersebut menuntut BBPMSOH untuk terus memperkuat kapasitas, metode pengujian, serta kesiapan dalam merespons berbagai inovasi dan isu yang berkembang,” tuturnya. 

Jaminan mutu, khasiat, dan keamanan obat hewan pada akhirnya berkaitan erat dengan daya saing produk peternakan Indonesia, baik di pasar domestik maupun internasional. Semakin kuat jaminan terhadap kualitas dan keamanan obat hewan, semakin besar pula kepercayaan terhadap produk peternakan yang dihasilkan. Peran BBPMSOH menjadi semakin penting dalam memastikan obat hewan yang beredar aman, berkhasiat, dan memenuhi standar, sekaligus mendukung peningkatan daya saing sektor peternakan nasional di tengah tuntutan pasar yang semakin ketat.

Dalam sesi talkshow, Ketua ASOHI mengemukakan BBPMSOH memiliki peran strategis sebagai acuan dan parameter dalam memastikan mutu serta kelayakan obat hewan yang digunakan di industri peternakan. Standar pengujian yang diterapkan BBPMSOH juga dipandang tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi dan perkembangan produk obat hewan. 

“Jika dahulu obat hewan lebih banyak dipersepsikan sebagai sarana untuk mengobati ternak ketika sakit, kini paradigma tersebut mulai bergeser ke arah promotion dan prevention. Industri peternakan dituntut untuk lebih mengedepankan pencegahan, karena ketika ternak sudah sakit dan membutuhkan pengobatan, kondisi tersebut dapat dikatakan sudah terlambat,” ungkap Harris.

BBPMSOH menjadi rujukan penting bagi pelaku usaha untuk memastikan produk obat hewan yang beredar dan digunakan di peternakan telah memenuhi persyaratan mutu dan keamanan. Sertifikasi dan hasil pengujian BBPMSOH memberikan parameter yang jelas dalam membedakan produk yang layak digunakan di lapangan. Keberadaan standar dan pengawasan tersebut sekaligus mendorong industri obat hewan dan peternakan menjadi lebih tertib, teratur, serta memiliki kepastian dalam memilih produk yang memenuhi standar.

Ekspose Kajian Ilmiah 

Talkshow dilanjutkan dengan Ekspose Kajian Ilmiah yang menghadirkan narasumber para penyelia dari laboratorium BBPMSOH. 

Antara lain Penyelia Unit Virologi, Penyelia Unit Bakteriologi, Penyelia Unit Uji Farmasetik dan Premiks. Acara ini dipandu oleh Drh Rahajeng Setiawaty, MSi sebagai moderator.

Pada hari yang sama pula, seperti perayaan tahun-tahun sebelumnya. BBPMSOH mengadakan bazar murah di area masuk BBPMSOH yang diikuti oleh 25 UMKM. Bazar yang meriah menawarkan buah-buahan, sembako, makanan, minuman, butik, barang antik, kosmetik, dan produk-produk lainnya. (NDV)

POLANDIA MUNGKIN AKAN MENGHADAPI KRISIS TELUR BARU KARENA FLU BURUNG

Para produsen telur di Eropa Timur membunyikan alarm atas kerugian yang meningkat akibat gelombang baru flu burung patogenik tinggi dan Newcastle Disease. Dengan jutaan ayam petelur dimusnahkan di seluruh Polandia dalam beberapa bulan terakhir, asosiasi industri memperingatkan pengecer dan konsumen untuk bersiap menghadapi pasokan yang lebih ketat dan harga telur yang lebih tinggi.

Sejak awal tahun, sekitar 10 juta unggas telah dimusnahkan di Polandia karena wabah, menurut data dari Inspektorat Veteriner Utama Polandia.

Paweł Podstawka, presiden Federasi Nasional Peternak Unggas dan Produsen Telur, memperingatkan bahwa penyakit menular tersebut berdampak besar pada industri telur negara itu.

Memulihkan kawanan ayam petelur membutuhkan waktu antara 6 dan 9 bulan, yang berarti beberapa peternakan belum pulih dari wabah tahun lalu, yang mengakibatkan hilangnya sekitar 20 juta unggas.

“Tahun ini, wabah flu burung telah memengaruhi 4,88 juta ayam petelur. Dengan populasi ayam petelur nasional sebanyak 38-42 juta ekor, jumlah ayam yang dimusnahkan mewakili kerugian sekitar 12% dari potensi produksi. Satu ayam petelur menghasilkan rata-rata 300-330 butir telur per tahun, jadi kita berbicara tentang kerugian 120-135 juta butir telur per bulan,” kata Podstawka, menambahkan bahwa skala kerugiannya sangat besar.

PETERNAK PETELUR SOLO RAYA GELAR AKSI DAMAI

Aksi damai peternak petelur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Petelur se-Solo Raya di kawasan Bundaran Gladak, Solo. (Foto: Dok. Krishandrika)

Peternak petelur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Petelur se-Solo Raya menggelar aksi damai di kawasan Bundaran Gladak, Solo, Rabu (5/8/2026). Dalam aksi yang berlangsung tertib tersebut, para peternak membagikan telur kepada masyarakat sebagai bentuk protes atas kondisi industri perunggasan yang kian memprihatinkan.

Ketua Pinsar Kabupaten Boyolali, sekaligus Penanggung Jawab Aksi Damai, Drh Krishandrika Immanuel Raharjo, mengungkapkan bahwa para peternak saat ini tertekan dari dua sisi. Di satu sisi, penyusun HPP melambung akibat tingginya harga pakan, sementara di sisi lain, harga jual telur di tingkat peternak justru tertekan. Kondisi ini memaksa peternak harus menanggung kerugian.

“Pemerintah harus hadir dan tidak sekadar menjadi ‘pemadam kebakaran’. Langkah pencegahan harus dilakukan sejak dini agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat diantisipasi,” ujar Krishandrika dalam perbincangannya bersama Infovet, Kamis (6/8/2026).

Dalam aksi tersebut, terdapat beberapa poin yang menjadi tuntutan para peternak. Di antaranya penurunan harga pakan dan stabilisasi jagung dengan meminta pemerintah menstabilkan harga pakan. Jika diperlukan, pemerintah didesak membuka opsi impor jagung agar harganya dapat terealisasi sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP), yakni Rp 5.500/kg.

Kemudian meminta penghentian monopoli impor BKK, lalu mendesak pemerintah segera mengisi kekosongan posisi Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan meminta pembentukan Kementerian Peternakan yang khusus menangani sektor peternakan secara fokus.

Selain menyampaikan tuntutan teknis, Krishandrika juga menekankan pentingnya evaluasi tata niaga perunggasan nasional secara menyeluruh bukan parsial. Ia juga menyoroti perlunya sinkronisasi kebijakan antar kementerian dengan mengikis ego sektoral demi kepastian usaha peternak.

Terkait desakan pembentukan Kementerian Peternakan, Krishandrika menilai sektor peternakan dan kesehatan hewan memiliki cakupan yang terlalu luas jika hanya dijadikan bagian dari Kementerian Pertanian.

“Urusan kesejahteraan masyarakat ditopang oleh kecukupan protein hewani, begitu pula kesehatan manusia yang erat kaitannya dengan kesehatan hewan. Ke depan, sektor strategis ini harus dipegang oleh lembaga tersendiri dan dipimpin oleh pihak-pihak yang kompeten,” tukasnya. (INF)

KETUA UMUM PDHI JATIM II DAN KEPALA BRIN SEPAKAT USUNG ONE HEALTH

Ketum PDHI Jatim II Bersama Dengan Kepala BRIN
(Foto : Istimewa)


Jakarta, 5 Agustus 2026 – Dokter Hewan Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet. melakukan pertemuan strategis bersama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., di Gedung B.J. Habibie, komplek kantor pusat BRIN di Kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.

Pertemuan tersebut membahas masa depan profesi dokter hewan Indonesia dalam menghadapi tantangan global, khususnya terkait One Health, ketahanan pangan (food security),  perkembangan teknologi, serta kebutuhan adaptasi pendidikan dokter hewan terhadap perubahan zaman.

Dalam diskusi tersebut, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. menyampaikan apresiasi terhadap dokter hewan yang terus berupaya memberikan kontribusi dalam isu-isu strategis nasional, terutama dalam mendukung ketahanan pangan dan kesehatan yang terintegrasi.

Menurutnya, tantangan masa depan membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, terutama dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Semua hal tersebut perlu dikolaborasikan dengan isu teknologi, di mana sekarang artificial intelligence (AI) dan robotik medis sudah mulai berkembang. "Kini saatnya bagaimana dokter hewan mampu merespons isu-isu tersebut sehingga kurikulum pendidikan dapat diformulasikan untuk menjawab tantangan tersebut,” lanjutnya.

Prof. Arif menekankan bahwa profesi dokter hewan ke depan harus memiliki kompetensi yang kuat, terbuka terhadap kolaborasi, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. isu ONE HEALTH yang telah menjadi pusat perbicangan dan melibatkan kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan harus menjadi perhatian serius.

Dokter Hewan dan Era Baru Inovasi Teknologi

Dalam kesempatan yang sama, Ketua PDHI Jawa Timur, Drh. Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet., menyampaikan bahwa profesi dokter hewan memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis dalam pembangunan nasional melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan inovasi.

Sebagai dokter hewan dengan kepakaran di bidang genomik, Drh. Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet. melihat bahwa perkembangan teknologi dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat sektor kesehatan hewan, peternakan, konservasi, dan ketahanan pangan.

Pemanfaatan teknologi genomik, kecerdasan buatan, dan pendekatan berbasis data dapat membuka peluang baru dalam, peningkatan produktivitas ternak, pengendalian penyakit hewan, pengembangan kesehatan hewan presisi, konservasi keanekaragaman hayati, serta pembangunan sistem pangan yang berkelanjutan.

Kedua tokoh ini bersepakat untuk bersama membangun kolaborasi strategis dalam mengusung isu ONE HEALTH kedepan. (INF)

Satu Profesi

Beragam Kontribusi Pengabdian

Satu Tujuan

PDHI sebagai rumah besar ragam profesi dokter hewan indonesia. 

BIG PROBLEM: DIARE KOMPLEKS PADA PETERNAKAN BABI

Piglet menunjukkan tanda diare kompleks. (Foto: Dok. Catrine Relia)

Penyakit pencernaan merupakan salah satu masalah ekonomi terpenting dan multifaktorial dalam produksi babi. Diare neonatal dan pasca-penyapihan merupakan penyakit paling sering terjadi, menyebabkan angka kematian tinggi, penurunan laju pertumbuhan, dan peningkatan biaya pengobatan.

Biaya penanganan diare neonatal untuk peternakan dengan angka kematian 10% dan biaya untuk diare pasca-penyapihan bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per induk babi per tahun. Infeksi pencernaan kompleks selama periode neonatal, serta pada fase pasca-penyapihan dapat terjadi secara bersamaan sehingga menimbulkan pola penyakit klinis yang kompleks, sulitnya tindakan pengendalian dan penanganan.

Diare pada babi secara umum disebabkan oleh agen infeksius dan non-infeksius. Mayoritas agen penyebab penyakit diare pada babi merupakan bagian dari mikroba normal pada saluran pencernaa babi. Usus babi mengandung sekitar 800 spesies bakteri, di antaranya dapat diidentifikasi patogen potensial seperti Clostridium spp., Escherichia coli, dan Salmonella spp. Bakteri ini dapat berubah menjadi patogen penyebab penyakit pada kondisi stres dan shedding bakteri di lingkungan yang sangat tinggi.

Penyakit diare kompleks pada babi secara umum disebabkan oleh multi-agen infeksius, yaitu virus, bakteri, dan parasiter (cacing dan Cystoisosporasuis). Agen virus yang dominan pada diare kompleks pada babi adalah coronavirus dan rotavirus. Sedangkan agen bakterial yang paling dominan menyebabkan penyakit diare kompleks pada babi meliputi E. coli, Clostridium perfingens tipe C, Clostridium perfringens tipe A, Clostridium difficile, Salmonella typhimurium, Lawsonia intercellularis, Brachyspira hyodysenteriae, dan Brachyspira pilosicoli.

Diare kompleks pada babi menjadi masalah yang susah dikendalikan, jika peternak tidak mengetahui sejak dini langkah-langkah pengendalian dan pencegahannya. Faktor lingkungan, hospes, dan agen penyakit menjadi segitiga penyakit infeksius yang harus dikupas satu-per-satu secara terintegrasi. Agen infeksi yang beragam tersebut menyebabkan sulitnya tindakan pengobatan, salah satunya pemilihan antibiotik yang tepat untuk multi-agen bakterial.

E. coli dikenal sebagai kolibasilosis neonatal (umur 0-4 hari), pasca sapih (28-60 hari) hingga 12 minggu. Kolibasilosis ditandai kotoran terlihat diare encer, berwarna putih kekuningan, bersifat basa, usus halus dan lambung bagian fundus terlihat oedematus, serta perdarahan dengan ingesta berbau.

Klostridia adalah basil gram-positif pembentuk spora bersifat anaerobik. Beberapa spesies dari genus Clostridium berkontribusi dalam penyakit diare kompleks pada babi. Clostridium perfringens tipe C dan Clostridioides difficile (sebelumnya Clostridium difficile) dianggap sebagai klostridia patogen enterik yang paling berkorelasi pada babi neonatal. Clostridium perfingens tipe C biasanya terjadi pada neonatal hingga umur tiga minggu. Tanda klinis menciri dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer