-->

FILIPINA 2026: MENINGKATNYA PERMINTAAN SUSU DAN PERTUMBUHAN IMPOR KEJU

Berdasarkan perkiraan Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), permintaan produk susu di Filipina akan meningkat sebesar 1,5% menjadi 3,5 juta metrik ton (mt) setara susu cair pada tahun 2026. Menurut laporan tahunan GAIN terbaru tentang produk susu, produksi domestik tidak dapat memenuhi permintaan sehingga Filipina mengimpor sebagian besar kebutuhan susunya, yang saat ini mencapai 99%. Pada tahun berikutnya, diperkirakan akan ada sedikit pertumbuhan impor susu skim sebesar 1% menjadi 175.000 mt, sementara impor susu cair tetap stabil di 130.000 mt.

Impor keju akan terus meningkat, diperkirakan sebesar 9% meskipun harganya tinggi karena meningkatnya permintaan dari jaringan pizza, restoran, dan hotel.

Peluang Luas bagi Produsen

Seperti yang telah disebutkan, negara ini hanya memproduksi 1% dari kebutuhan produk susunya, yang menyebabkan negara ini mengimpor 99% dari kebutuhannya. Konsumsi per kapita tahunannya sebesar 27 kg berada di bawah konsumsi di Amerika Serikat, yang mencapai 295 kg per kapita. Angka yang rendah ini menunjukkan bahwa ada banyak peluang bagi produsen makanan untuk menawarkan lebih banyak produk susu di Filipina.

Produksi susu rata-rata di negara ini adalah 10 liter per hari untuk sapi perah, 4,5 liter per hari untuk kerbau, dan 1,5 liter per hari untuk kambing. Amerika Serikat dan Selandia Baru tetap menjadi pemasok utama produk susu ke Filipina.

Prakiraan untuk 2026

Laporan tersebut menambahkan bahwa FAS Manila memperkirakan konsumsi akan mencapai 3,5 juta metrik ton setara susu cair pada tahun 2026, yang mewakili pertumbuhan 1,5% dari tahun 2025, dengan sebagian besar berasal dari impor. Pertumbuhan ini merupakan hasil dari kelas menengah yang berkembang dan populasi yang meningkat. Populasi di Filipina diperkirakan mencapai 121,9 juta jiwa pada tahun 2026, meningkat 1,5% setiap tahunnya.

Prakiraan Produk Susu

Susu cair atau susu siap minum, produksinya diperkirakan meningkat menjadi 37.000 metrik ton pada tahun 2026, didorong oleh peningkatan jumlah sapi perah dan implementasi aktif proyek pengembangan susu pemerintah.

Meskipun produksi keju lokal masih minimal, terdapat peningkatan permintaan keju meskipun harganya lebih tinggi untuk memasok makanan cepat saji, jaringan pizza, hotel, dan restoran, yang merupakan pendorong permintaan keju. Peningkatan impor sebesar 9% diperkirakan terjadi pada tahun 2026 karena peningkatan permintaan lokal di kalangan hotel, jaringan makanan, dan restoran.

Konsumsi susu bubuk skim diperkirakan meningkat menjadi 175.000 metrik ton pada tahun 2026, naik 1% dari tahun 2025. Pertumbuhan impor susu bubuk skim sebesar 2% juga diperkirakan terjadi karena konsumsi terus meningkat.

Susu bubuk utuh, konsumsi diperkirakan akan tetap stabil pada tahun 2026 di angka 20.000 metrik ton, setelah mengalami peningkatan pada tahun 2025. Impor diperkirakan akan tetap stabil pada tahun 2026 di angka 20.000 metrik ton dengan mempertimbangkan pertumbuhan dua digit yang diharapkan sebesar 18% pada tahun 2025.

Produksi Susu

Peningkatan produksi sebesar 3% menjadi 37.000 metrik ton pada tahun 2026 dibandingkan dengan tahun 2025 diantisipasi, didorong oleh peningkatan jumlah ternak sapi perah dan proyek pengembangan peternakan sapi perah pemerintah.

Sumber susu lainnya seperti produksi susu kerbau dan kambing akan terus meningkat tetapi kontribusinya akan tetap minimal, terutama produksi susu kambing. Produksi susu sapi mewakili lebih dari 50% dari total produksi.

Secara keseluruhan, impor produk susu akan mengalami pertumbuhan sebesar 1,5% pada tahun 2026 seiring dengan meningkatnya permintaan.

KASUS TERBARU VIRUS BLUETONGUE DI INGGRIS

Di Inggris, kasus pertama virus bluetongue serotipe 3 (BTV-3) pada musim vektor 2025 hingga 2026 dikonfirmasi pada 11 Juli 2025. Satu kasus baru BTV-3 di Inggris dikonfirmasi pada 30 Januari 2026 setelah laporan tanda-tanda klinis yang mencurigakan: 1 janin yang mengalami keguguran di Devon.

Selain itu, satu kasus baru BTV-3 di Inggris dikonfirmasi pada 30 Januari 2026 setelah hasil tes pribadi yang tidak negatif: 1 sapi di Cumbria yang diuji sebagai bagian dari kontrol perkembangbiakan buatan.

Departemen Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan Inggris (Defra) mengatakan bahwa sebelum ini mereka telah mengkonfirmasi 160 kasus BTV-3 di Inggris dan 2 kasus dari pergerakan berisiko tinggi di Wales antara 26 Agustus 2024 dan 31 Mei 2025. Satu kasus virus bluetongue serotipe 12 (BTV-12) dikonfirmasi di Inggris pada 7 Februari 2025.

Defra selanjutnya menyatakan bahwa telah ada 284 kasus bluetongue di Inggris Raya pada musim bluetongue 2025 (sejak Juli 2025):

Suhu rendah dalam beberapa minggu terakhir terus berlanjut dan para ahli menganggap risiko penyebaran melalui vektor di wilayah tenggara, East Anglia, barat daya, dan timur laut dapat diabaikan, kata pemerintah Inggris. Namun, masih ada risiko bahwa hewan dapat terinfeksi dari lalat pengisap darah yang sudah terinfeksi atau dari produk germinal yang terinfeksi, tambahnya.

BERBAGAI PENYAKIT PADA AYAM DAMPAK DARI PERUBAHAN CUACA

Perubahan iklim/cuaca sangat berdampak pada kesehatan ayam

Perubahan cuaca secara signifikan mengancam kesehatan dan produktivitas ayam. Ayam sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan kelembapan ekstrem, baik panas maupun dingin, yang dapat menyebabkan stres fisiologis, menurunkan kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko terinfeksi penyakit.

Indonesia adalah sebuah negara yang berlokasi tepat di garis khatulistiwa, sehingga musim yang terjadi sangat berbeda dengan daerah lainnya, dan hanya ada dua musim utama, yaitu musim panas/kemarau dan musim dingin/hujan.

Perubahan iklim/cuaca sangat berdampak pada kesehatan ayam, apalagi di Indonesia masih banyak sistem pemeliharaan ayam yang belum sepenuhnya terbebas dari pengaruh kondisi lingkungan, dimana ayam dipelihara dengan kandang terbuka/open house.

Dampak Cuaca Panas
Seperti diketahui bahwa ayam tidak memiliki kelenjar keringat, sehingga sulit membuang panas tubuh saat suhu lingkungan tinggi, maka timbul kondisi yang disebut heat stress. Kondisi ini ditampakkan pada ayam dengan gejala megap-megap/terengah-engah/panting, meningkatnya konsumsi air minum, meregangkan sayap, dan ayam biasanya menjadi lesu. 

Heat stress dapat menyebabkan kematian mendadak jika tidak ditangani dengan cepat.  Dampak ikutan lainnya terutama pada ayam petelur yang sedang berproduksi akan terjadi penurunan produksi dan ukuran telur lebih kecil. Sedangkan pada broiler akan mengalami pertumbuhan yang terhambat karena terjadi penurunan konsumsi pakan.

Tabel 1. Reaksi Ayam Terhadap Suhu Lingkungan Tinggi

Suhu (°C)

Reaksi yang Ditampilkan Ayam

21-25

Suhu ideal untuk menghasilkan performa dan FCR yang baik

26-28

Sedikit mulai ada pengurangan konsumsi/feed intake

29-31

Karena konsumsi pakan turun, pertambahan berat badan juga melambat, FCR meningkat (broiler), produksi telur turun, berat telur turun, juga kualitas kerabang menurun (layer)

32-34

Mulai ada kematian ayam yang berbobot tinggi dan berproduksi tinggi serta lemah

35-37

Ayam panting kematian karena heat stress meningkat

> 38

Diperlukan alat bantu untuk mendinginkan suhu agar ayam dapat bertahan hidup

Sumber: Dari berbagai sumber.

Dampak Cuaca Dingin
Meskipun ayam dapat bertahan pada suhu rendah dengan manajemen yang tepat, cuaca dingin yang ekstrem atau paparan terhadap angin kencang dan kelembapan tinggi dapat menimbulkan masalah dengan apa yang disebut cold stress.

Gejala yang nampak adalah ayam cenderung berkerumun, menggembungkan bulu, dan mengangkat kaki ke dada untuk menjaga panas tubuh. Stres dingin dapat menyebabkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

RUSIA: MAKANAN KADALUARSA YANG TELAH DIOLAH UNTUK PRODUKSI PAKAN TERNAK

Inisiatif yang telah lama dibahas untuk mengizinkan penggunaan makanan kadaluarsa dalam produksi pakan ternak dan, mungkin, makanan hewan peliharaan telah mendapatkan momentum baru di Rusia, karena sekelompok anggota parlemen mendaftarkan RUU yang akan mengubah standar veteriner yang ada dan membuka jalan bagi jutaan ton makanan busuk untuk mencapai pabrik pakan ternak.

Secara khusus, para legislator berasumsi bahwa produk roti dan kue berkualitas rendah, serta produk dengan masa simpan kadaluarsa, dapat digunakan dengan aman dalam produksi pakan ternak.

Teknologi untuk mengolah produk makanan kadaluarsa menjadi bahan baku pakan ternak telah dikembangkan dan dikenal luas, kata para legislator dalam catatan penjelasan RUU tersebut. Dalam industri peternakan, bahan baku tambahan tersebut dimaksudkan untuk "memperluas dan menstabilkan pasokan pakan," tambah para legislator.

Ini bukan pertama kalinya anggota parlemen Rusia mendorong inisiatif untuk mengizinkan penggunaan limbah makanan dalam produksi pakan.

Pada tahun 2020, RUU serupa didaftarkan di Duma, majelis rendah Parlemen Rusia, meskipun akhirnya gagal menjadi undang-undang. Pada saat itu, para legislator memperkirakan bahwa setiap tahun, sekitar sepertiga dari seluruh makanan, setara dengan 17 juta ton, yang diproduksi untuk konsumsi manusia di Rusia terbuang sia-sia.

Peraturan veteriner yang ada secara teknis tidak melarang penggunaan produk makanan kadaluarsa dalam produksi pakan, namun, membuat praktik ini secara ekonomi tidak dapat dibenarkan. Pendukung RUU tersebut berpendapat bahwa hal itu mencegah jutaan ton bahan baku berharga memasuki rantai pasokan.

Beberapa organisasi bisnis Rusia telah berbicara menentang inisiatif tersebut. Misalnya, Persatuan Perusahaan Bisnis Hewan Peliharaan Rusia memperingatkan bahwa RUU baru tersebut secara teknis mengizinkan penggunaan limbah makanan dalam produksi pakan dan makanan hewan peliharaan.

Para produsen makanan hewan peliharaan memperingatkan bahwa inisiatif ini dapat membahayakan rantai pasokan, karena saat ini tidak ada peluang nyata untuk memastikan bahwa limbah makanan, yang seringkali memiliki kualitas yang bervariasi, aman.

“Menggunakan bahan-bahan yang kedaluwarsa atau berkualitas rendah dapat menyebabkan penyakit dan bahkan kematian,” klaim organisasi tersebut.

Komunitas industri pakan Rusia sebelumnya menyuarakan kekhawatiran serupa, menunjukkan bahwa hampir tidak mungkin untuk memastikan keamanan di sepanjang rantai pasokan jika limbah makanan dibiarkan masuk ke dalamnya.

KENAIKAN HARGA PAKAN YANG MELONJAK MENANTANG INDUSTRI AKUAKULTUR DAN UNGGAS VIETNAM

Kenaikan tajam harga pakan di Vietnam dalam beberapa waktu terakhir telah merugikan industri unggas dan mendorong peternakan ikan untuk mengurangi rencana investasi mereka.

Lonjakan Harga Pakan Akuakultur Memicu Pengurangan Skala

Pasar pakan ikan Vietnam belum pernah menyaksikan kenaikan harga yang begitu berkepanjangan, menurut Le Van Tam, seorang petani dari komune An Nhon di Delta Mekong, wilayah akuakultur utama negara itu. Sejak awal tahun 2023, harga rata-rata pakan ikan di Vietnam telah melonjak sebesar VND 6.000-8.000 per kg ($0,32–$0,31), yang secara signifikan mendorong kenaikan biaya produksi di industri ini.

Akibatnya, banyak petani yang membudidayakan pangasius dan spesies ikan populer lainnya tetap sangat berhati-hati tentang rencana investasi mereka. Misalnya, Tam mengatakan bahwa ia dulu membudidayakan pangasius di 5 kolam, tetapi sekarang hanya mengoperasikan 3, karena kelayakan ekonomi untuk mengisi kolam yang tersisa menjadi semakin diragukan.

Cukup banyak faktor yang berkontribusi terhadap kenaikan harga pakan ternak yang terus menerus di Vietnam, kata seorang juru bicara distributor pakan ternak lokal yang tidak ingin disebutkan namanya kepada publikasi lokal Tepbac. Faktor-faktor ini termasuk kenaikan signifikan biaya bahan baku impor, kenaikan harga minyak, peningkatan suku bunga bank, dan biaya logistik dan transportasi yang lebih tinggi.

Industri Unggas juga Menderita

Peternak unggas juga mengeluhkan kenaikan biaya pakan. Menurut Asian-Agribiz, sebuah media berita lokal, hampir semua produsen pakan utama, termasuk De Heus, VinaFeed, USFeed, Cargill, Hoa Phat Dong Nai Feed, Phu Sy Nutrition, dan Viet Phap Nutrition baru-baru ini menaikkan harga produk mereka.

Rata-rata, harga pakan unggas meningkat sebesar $7,6 per ton, meskipun dalam beberapa kasus harganya naik hingga $9,5 per ton.

Produsen pakan unggas juga menyebutkan kenaikan harga bahan baku, biaya energi dan bahan bakar yang lebih tinggi, dan biaya logistik yang mahal sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap kenaikan tersebut.

Analis lokal memperkirakan bahwa situasi pasar pakan dapat mendorong gelombang konsolidasi baru di industri unggas Vietnam.

Produksi Pakan Meningkat

Pada tahun 2025, Vietnam memproduksi 22,12 juta ton pakan, 2,9% lebih tinggi dari tahun sebelumnya, menurut perkiraan Departemen Peternakan dan Kedokteran Hewan Vietnam. Pertumbuhan terlihat di semua segmen utama.

Produksi pakan babi meningkat dari 11,2 juta ton pada tahun 2024 menjadi 11,6 juta ton pada tahun 2025. Produksi pakan unggas naik dari 9,5 juta ton menjadi 9,8 juta ton.

Sementara itu, Vietnam tetap sangat bergantung pada bahan baku impor. Pada tahun 2025, negara tersebut membeli 24,78 juta ton bahan pakan, seperti jagung, kedelai, dan DDGS senilai $8,2 miliar.

TROUW INGATKAN BAHAYA MIKOTOKSIN DALAM GLOBAL MYCOTOXIN REVIEW 2026

Dr Swamy Haladi Memberikan Penjelasan Mengenai Review Mikotoksi Global
(Foto : CR)


Trouw Nutrition sebagai salah satu produsen feed additive terkemuka di dunia kembali menyelenggarakan webinar review mikotoksin global 2026 pada, Kamis (5/2) . Dalam webinar tersebut yang bertindak sebagai pembicara yakni Dr Swamy Haladi yang merupakan Commercial Technical Manager - Mycotoxin Risk Management, Trouw Nutrition. Dalam presentasinya ia menjabarkan beberapa hal terkait cemaran mikotoksin yang terdapat pada bahan baku serta pakan jadi.

Ia menuturkan, berdasarkan analisis terhadap lebih dari 115.000 sampel dari 46 negara, Trouw Nutrition melaporkan bahwa jumlah sampel yang terkontaminasi mikotoksin pada tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024. Sampel tersebut mencakup berbagai bahan baku pakan, termasuk biji-bijian, sumber protein, produk samping, silase, Total Mixed Rations (TMR), konsentrat, serta pakan lengkap.

"Penurunan paling signifikan terjadi pada tingkat kontaminasi fumonisin dan toksin T-2. Sebaliknya, tingkat deoksinivalenol (DON) dan zearalenon (ZEA) relatif serupa dengan tahun sebelumnya dan tetap lebih tinggi dibandingkan fumonisin. Sementara itu, rata-rata konsentrasi mikotoksin dalam sampel tahun 2024 dan 2025 dilaporkan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan," paparnya.

Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun jumlah sampel terkontaminasi menurun, faktor lingkungan yang mendukung pertumbuhan kapang dan produksi mikotoksin masih berlanjut hingga tahun 2025, khususnya di wilayah beriklim sedang. 

Selain existing mycotoxin yang sudah kita kenal, ia juga berbicara mengenai enniatins. Mereka adalah kelompok mikotoksin “emerging (mikotoksin yang relatif baru mendapat perhatian) yang diproduksi terutama oleh jamur Fusarium, khususnya Fusarium avenaceum, F. tricinctum, dan F. poae.

Enniatins (misalnya Enniatin A, A1, B, dan B1) merupakan senyawa siklik heksadepsipeptida yang bersifat ionofor, artinya mampu membentuk kompleks dengan ion (seperti K⁺, Na⁺, Ca²⁺) dan mengganggu keseimbangan ion dalam sel.

Walau belum diregulasi secara ketat seperti DON atau aflatoksin, enniatins mendapat perhatian karena dapat menyebabkan efek sitotoksik pada sel mamalia (in vitro), gangguan membran sel dan mitokondria, potensi imunosupresif dan antimikroba, serta memiliki efek sinergis dengan mikotoksin lain (toxic cocktail effect).

"Feed producer harus waspada dengan hal ini, karena enniatins juga bisa berbahaya, oleh karenanya kewaspadaan harus terus ditingkatkan," tuturnya.

Trouw sendiri menurut Dr Swamy terus berupaya memberikan pelayanan termasuk proteksi terhadap mikotoksin untuk para customer melalui Masterlabnya. Di sana customer dapat berkonsultasi sekaligus mengecek apakah bahan baku dan pakan jadinya masih aman dari batas kontaminan mikotoksin yang diperbolehkan. Selain itu beragam protofolio produk Trouw juga selalu tersedia dalam membantu customer dalam memecahkan masalah mikotoksin. (CR)

KEMENTAN PERKUAT PENGENDALIAN PENYAKIT HEWAN JELANG HBKN

Dirjen PKH Agung Suganda dalam Rapat Koordinasi Keswan dan Kesmavet. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat kesiapsiagaan nasional menghadapi Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) melalui koordinasi lintas wilayah dan penguatan deteksi dini, khususnya menjelang meningkatnya lalu lintas ternak pada Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah kerugian ekonomi serta menjaga pasokan pangan asal ternak tetap aman dan stabil bagi masyarakat.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, Agung Suganda, menegaskan bahwa pengalaman kejadian penyakit hewan sebelumnya menjadi pelajaran penting agar pengendalian dilakukan secara terencana, terpadu, dan berbasis kewaspadaan.

“Pencegahan harus menjadi fokus utama. Jika ada kasus harus cepat ditemukan dan segera dikendalikan agar tidak meluas,” ujarnya di Bekasi, Rabu (4/2/2026).

Ia mengungkapkan, pemerintah telah menyiapkan langkah konkret di 2026 melalui alokasi vaksin, obat, dan sarana pendukung pengendalian penyakit, termasuk vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK).

Namun demikian, ia tekankan bahwa keberhasilan pengendalian tidak hanya bergantung pada besaran anggaran, melainkan kedisiplinan pelaksanaan di lapangan, terutama vaksinasi dan penerapan biosekuriti.

Ia juga menambahkan bahwa perhatian Komisi IV DPR RI terhadap isu PHMS menunjukkan pentingnya kesehatan hewan dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Hal tersebut tercermin dari kunjungan kerja spesifik Ketua dan Anggota Komisi IV DPR RI ke Balai Besar Veteriner Wates yang secara khusus membahas pengendalian PHMS, dengan PMK sebagai salah satu penyakit utama yang menjadi perhatian.

“Alhamdulillah, respons Ketua dan Anggota Komisi IV DPR RI sangat luar biasa dan siap mendukung anggaran yang dibutuhkan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk pengendalian PHMS,” ucapnya.

Meski mendapat dukungan anggaran, Agung menegaskan pengelolaannya harus tetap dilakukan secara hati-hati dan bertanggung jawab. Setiap alokasi anggaran harus memiliki kejelasan manfaat dan peruntukan. Ia menyebut, meskipun anggaran Ditjen PKH relatif terbatas, pemerintah tetap menyediakan alokasi khusus untuk pengendalian PHMS.

“Pada tahun ini alokasi vaksin dan sarana pendukung pengendalian penyakit mencapai sekitar 5,6 juta dosis, dengan strategi vaksinasi PMK dua periode yang terbukti efektif menekan kasus,” jelasnya.

Selain vaksinasi, Agung juga menyoroti kesiapan laboratorium veteriner sebagai garda depan deteksi dini. Ia meminta seluruh balai veteriner memastikan ketersediaan reagen dan alat diagnostik agar tidak terjadi keterlambatan penanganan ketika muncul dugaan penyakit.

Hal lain yang juga ia sampaikan agar tidak terjadi penyakit yang dapat mengganggu fokus pemerintah dalam menjaga ketahanan dan swasembada pangan, terutama menjelang HBKN. Sebab, pengendalian PHMS tidak hanya berkaitan dengan kesehatan hewan, tetapi juga berdampak langsung pada stabilitas pasokan pangan strategis, seperti daging, susu, dan telur.

“Jika terjadi kasus harus segera ditangani agar tidak mengganggu pasokan pangan. Menjelang HBKN, harga pangan strategis juga harus dijaga, termasuk harga sapi siap potong Rp 55.000 per kilogram berat hidup di tingkat peternak,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Veteriner Subang Kementan, Putut Eko Wibowo, ikut menyampaikan bahwa wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten memiliki peran strategis sebagai pusat lalu lintas ternak nasional. Oleh karena itu, Balai Veteriner Subang terus memperkuat koordinasi dengan dinas daerah, karantina, dan balai veteriner lainnya untuk memantau perkembangan penyakit serta menyiapkan langkah antisipasi bersama.

Ia menjelaskan, sepanjang 2025 kondisi penyakit hewan di wilayah kerjanya relatif terkendali, dengan kasus PMK yang dapat ditekan melalui vaksinasi dan perbaikan biosekuriti. “Koordinasi rutin dan berbagi informasi antar wilayah menjadi kunci agar potensi risiko bisa diketahui lebih awal,” katanya.

Ia pun mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk peternak, untuk aktif mendukung program vaksinasi dan segera melaporkan jika menemukan gejala penyakit. “Kewaspadaan bersama adalah benteng utama agar ternak tetap sehat dan pangan tetap aman,” tukasnya. (INF)

INDUSTRI UNGGAS TUNISIA, MAPAN & TERUS BERKEMBANG

Industri unggas Tunisia, meskipun tidak menyamai volume produksi raksasa di Afrika seperti Mesir, Afrika Selatan, atau Maroko, sudah mapan dan terus berkembang.

Industri unggas Tunisia menyumbang sekitar 12% dari total produksi pertanian dan 33% dari produksi hewan, menunjukkan pentingnya bagi perekonomian nasional.

Pada tahun 2022, negara ini dilaporkan memproduksi sekitar 242.000 metrik ton daging unggas, angka yang menunjukkan peningkatan moderat dari tahun ke tahun. Perkiraan menunjukkan bahwa pada tahun 2028, produksi daging unggas Tunisia dapat mencapai sekitar 265.000 metrik ton, meskipun pertumbuhan diperkirakan akan tetap moderat (CAGR sekitar 1,5%).

Produksi Telur

Produksi telur merupakan pilar kuat dalam lanskap unggas Tunisia. Data terbaru menunjukkan bahwa negara ini memproduksi lebih dari 2,1 miliar telur per tahun, dengan sekitar 97% dari produksi tersebut berasal dari produksi komersial intensif, sementara sebagian kecil berasal dari peternakan tradisional/lokal.

Produksi intensif telah memungkinkan Tunisia untuk sebagian besar memenuhi permintaan domestiknya akan telur, mengurangi ketergantungan pada impor di sub-segmen tersebut.

Terdapat sekitar 850 peternakan ayam petelur dan sekitar 350 peternakan unggas pembibitan, yang didukung oleh 4 tempat penetasan. Jaringan ini mendukung kemampuan Tunisia untuk memasok pasar domestik secara andal, terutama untuk konsumsi telur. Lebih lanjut, pada awal tahun 2025, angka pasokan telur untuk bulan-bulan seperti Agustus stabil di sekitar 162 juta telur, yang mencerminkan bahwa rantai pasokan relatif stabil meskipun ada tekanan harga.

Pasokan, Penetapan Harga, dan Pengawasan Regulasi

Namun, sektor unggas Tunisia menghadapi hambatan yang signifikan. Produksi biji-bijian pakan lokal terbatas, sehingga Tunisia bergantung pada impor untuk banyak input. Selain itu, fluktuasi harga daging unggas dan telur tetap menjadi tantangan. Margin pengecer dan produsen berada di bawah pengawasan. Upaya publik saat ini sedang dilakukan untuk mengatur harga telur guna melindungi baik petani maupun konsumen dari fluktuasi yang tidak menentu.

Lembaga seperti Kamar Dagang Unggas dan Daging Putih Nasional Tunisia dan ONAGRI (Observatorium Pertanian Nasional) semakin aktif, berupaya memastikan pasokan yang memadai, menstabilkan harga, dan meningkatkan pengawasan regulasi.

Bagi Afrika, Tunisia menjadi contoh bagaimana produsen menengah dapat memanfaatkan sektor ayam petelur/telur yang kuat dan pertumbuhan ayam broiler yang stabil, bahkan ketika menghadapi tantangan biaya input dan ketergantungan eksternal, untuk berkontribusi pada ketahanan pangan dan mengurangi erosi impor.

MENTAN AMRAN: RPH DILARANG NAIKKAN HARGA DAGING

Mentan Amran saat melihat ketersediaan daging sapi di pasar. (Foto: Istimewa)

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menegaskan seluruh rumah pemotongan hewan (RPH) untuk melarang para jagal menaikkan harga daging sapi, sebagai bagian dari kesiapan pemerintah menjaga stabilitas pangan nasional menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.

Penegasan tersebut disampaikan di tengah kondisi harga pangan nasional yang cenderung terkendali. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), komponen harga bergejolak (volatile food) secara bulan ke bulan mengalami deflasi sebesar 1,96%, sementara secara tahunan tercatat inflasi sebesar 1,14%, menandakan stabilitas harga pangan masih terjaga.

Pemerintah telah menetapkan harga sapi siap potong dari feedloter tidak lebih dari Rp 55.000/kg dan terima di RPH maksimal Rp 56.000/kg. Untuk itu semua jagal wajib menjaga stabilitas harga karkas sehingga harga daging di pasar tidak lebih dari Rp 130.000/kg.

“Seluruh RPH tidak boleh menaikkan harga daging. Pemerintah ingin memastikan harga sapi dan daging tetap stabil, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026,” kata Mentan Amran dalam keterangan resminya, Selasa (3/2/2026).

Ia juga menekankan bahwa kenaikan harga yang tidak wajar tidak akan ditoleransi, terlebih jika dilakukan dengan memanfaatkan meningkatnya kebutuhan masyarakat pada momentum hari besar keagamaan.

Untuk memastikan kebijakan tersebut berjalan efektif, Mentan Amran meminta Satuan Tugas (Satgas) Pangan Mabes Polri bersama instansi terkait melakukan pengawasan dan pemeriksaan ketat terhadap RPH yang diduga memainkan harga daging.

“Satgas Pangan kami minta turun langsung memeriksa RPH yang memainkan harga. Jika ditemukan pelanggaran, akan dilakukan penindakan tegas,” ucapnya.

Sebagai langkah penertiban rantai pasok, Mentan juga menginstruksikan feedloter agar tidak menyalurkan/suplai sapi hidup kepada para jagal RPH yang tidak patuh terhadap ketentuan harga karkas dan daging.

Feedloter jangan memasok sapi ke jagal/pemotong di RPH yang tidak patuh. Ini bentuk penertiban agar stabilisasi harga berjalan efektif,” tambahnya.

Sebagai informasi BPS mencatat terjadi deflasi pada Januari 2026, terutama pada komponen harga bergejolak terutama didorong oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan, salah satunya telur ayam ras di sejumlah wilayah. Sementara secara tahunan, beberapa komoditas termasuk daging ayam ras masih memberikan andil inflasi, namun dinilai masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu stabilitas harga pangan secara keseluruhan.

Mentan Amran menegaskan, dengan pasokan pangan strategis yang berada dalam kondisi aman, pemerintah berkomitmen menjaga harga tetap terkendali serta memastikan masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadan dan merayakan Idulfitri 2026 tanpa tekanan lonjakan harga pangan. (INF)

PENGGUNAAN AYAM PERSILANGAN ARIAN DIPERKIRAKAN MENIMBULKAN BIAYA TAMBAHAN US$1 MILIAR BAGI IRAN

Pemerintah Iran telah memerintahkan penyelidikan atas nasib ayam persilangan Arian setelah beberapa penelitian mengungkapkan bahwa penggunaan paksa ayam tersebut sangat menghambat profitabilitas industri.

Dalam pertemuan dengan presiden Iran di provinsi Qazvin, para peternak mengeluh bahwa penggunaan paksa ayam Arian tidak masuk akal secara ekonomi. Ayam ini memiliki tulang 20% lebih banyak dan, rata-rata, produktivitas 20% lebih rendah daripada ayam persilangan populer.

Penggunaan ayam Arian menelan biaya rata-rata US$1,2 miliar per tahun bagi peternak Iran, menurut perkiraan Ali Akbar Abdul Maleki, kepala Kamar Dagang Sanandaj, yang mengutip perhitungan resmi dari Kementerian Pertanian.

Iran secara resmi bergantung ayam Arian untuk mengurangi biaya dan melindungi ketahanan pangan. Namun, implikasi ekonomi jangka panjang dari kebijakan ini menunjukkan bahwa kebijakan ini mungkin menyebabkan lebih banyak kerugian finansial daripada manfaat, karena biaya impor induk – diperkirakan sebesar US$20-25 juta per tahun – diimbangi oleh potensi peningkatan produktivitas yang saat ini belum terealisasi.

Penggunaan paksa unggas persilangan Arian tampaknya merupakan salah satu alasan utama mengapa industri unggas Iran berada dalam situasi keuangan yang buruk.

“Terdapat 777 peternakan ayam aktif di provinsi Qazvin yang berada di ambang penutupan karena produktivitas Arian yang rendah dan biaya tinggi untuk mendapatkan pakan di pasar terbuka. Dengan beralih ke ayam persilangan yang berbeda, unit-unit ini dapat kembali pulih dan menurunkan biaya bagi konsumen,” tambah Maleki.

Inisiatif untuk mengevaluasi kembali efektivitas ayam persilangan Arian telah disambut baik di kalangan ahli Iran.

“Pengembangan ayam persilangan memiliki sejarah lebih dari 135 tahun di negara-negara seperti Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Prancis, dan Inggris, sementara ayam ras Arian dikembangkan pada tahun 1993 tanpa penelitian ilmiah yang memadai,” kata Arsalan Jamshidi, seorang analis industri independen.

Terdapat kesenjangan yang signifikan dalam rasio konversi pakan antara ayam ras Arian dan ayam persilangan Barat yang populer. Pada Mei 2025, penggunaan paksa ayam persilangan ras Arian dikritik keras dalam surat terbuka yang diajukan kepada pemerintah. Surat yang ditandatangani oleh 93 peternak unggas yang secara bersama-sama mewakili 30% produksi daging ayam broiler di negara itu, memperingatkan bahwa persilangan Arian membahayakan kelangsungan hidup industri tersebut. Namun, para pejabat Iran menolak untuk menghentikan penggunaan paksa persilangan Arian pada saat itu.

CUACA BERUBAH, AYAM PUN GUNDAH

Gangguan lingkungan sekecil apapun dapat memicu penurunan kesehatan, performa, dan efisiensi produksi unggas. (Foto: Gemini)

Perubahan cuaca yang semakin ekstrem tidak hanya berdampak pada kenyamanan lingkungan pemeliharaan ayam, tetapi juga memicu perubahan fisiologis yang kompleks di dalam tubuh mereka. Dalam sistem perunggasan modern yang sangat presisi, gangguan lingkungan sekecil apapun dapat memicu rangkaian efek berantai yang berujung pada penurunan kesehatan, performa, dan efisiensi produksi.

Indonesia sebagai negara tropis sejatinya telah lama terbiasa dengan suhu relatif tinggi. Namun, perubahan iklim global membuat kondisi cuaca semakin sulit diprediksi. Gelombang panas berkepanjangan, hujan ekstrem, hingga perbedaan suhu siang dan malam yang tajam menjadi faktor stres tambahan bagi ayam, khususnya pada sistem pemeliharaan intensif.

Ayam, Suhu, dan Cuaca
Ayam merupakan hewan homoioterm yang harus mempertahankan suhu tubuh sekitar 41-42 °C. Zona nyaman (thermoneutral zone) ayam berada pada kisaran 18-25 °C, tergantung umur dan jenis ayam. Pada rentang ini, energi metabolik dapat digunakan secara optimal untuk pertumbuhan dan produksi.

Ketika suhu lingkungan melampaui batas tersebut, ayam mulai mengalami stres lingkungan, terutama stres panas (heat stress). Berbagai penelitian menyebutkan bahwa suhu di atas 28-30 °C yang disertai kelembapan tinggi secara signifikan menurunkan performa ayam broiler dan petelur (Lara & Rostagno, 2013; Nawab et al., 2018).

Guru Besar SKHB IPB University, Prof Agik Suprayogi, ketika ditemui Infovet mengatakan bahwasanya ayam mempertahankan suhu tubuh relatif konstan melalui keseimbangan antara panas metabolik dan pelepasan panas ke lingkungan. Ketika suhu lingkungan meningkat, kemampuan ayam melepaskan panas menjadi terbatas, terutama pada kondisi kelembapan tinggi.

“Jadi sebenarnya mereka juga tergantung pada lingkungan, suhu, cuaca, kelembapan, kecepatan angin, dan parameter lainnya bila perlu harus dapat dikontrol. Ini penting apalagi ayam modern yang kita kenal saat ini “lembek” terhadap perubahan lingkungan meskipun performa produksinya tinggi,” tutur Agik.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa suhu di kandang atau tempat ayam hidup sebisa mungkin harus dijaga agar mereka dapat tumbuh dengan optimal. Salah sedikit saja dalam mengatur hal tersebut maka bisa fatal akibatnya.

Tabel Hubungan Suhu Lingkungan dan Respons Fisiologis Ayam

Suhu Lingkungan

Respons Ayam

Dampak Produksi

18-25 °C

Zona nyaman

Performa optimal

26-29 °C

Awal stres panas

Konsumsi pakan mulai turun

30-33 °C

Stres panas sedang

FCR memburuk, produksi telur turun

>33 °C

Stres panas berat

Mortalitas meningkat

(Sumber: Lara, L. J. & Rostagno, M. H. 2013)

Data pada tabel sejalan dengan berbagai studi yang menunjukkan bahwa setiap kenaikan suhu 1 °C di atas 25 °C dapat menurunkan konsumsi pakan broiler sebesar 1-2%, dan pada ayam petelur menurunkan produksi telur hingga 1,5%.

Ketika ayam mengalami stres akibat cekaman suhu tinggi, yang terjadi bukan hanya mereka kepanasan saja alias berdampak fisiologis tunggal, melainkan memicu serangkaian perubahan metabolik dan hormonal. Ayam yang mengalami heat stress akan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2026. (CR)

AVEC MENDESAK PARLEMEN EROPA UNTUK MENOLAK KESEPAKATAN MERCOSUR

AVEC, Asosiasi Pengolah Unggas dan Perdagangan Unggas di Uni Eropa, sangat menyesalkan pemungutan suara oleh negara-negara anggota Uni Eropa yang mendukung perjanjian EU-Mercosur.

Terlepas dari tekanan politik yang kuat yang diberikan dalam beberapa minggu terakhir, beberapa negara anggota memilih untuk menolak dan mempertahankan penentangan mereka terhadap perjanjian ini. AVEC ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada negara-negara ini atas pendirian dan upaya mereka untuk membela produsen peternakan Eropa. Sayangnya, penolakan ini tidak cukup untuk mencegah persetujuan perjanjian tersebut di tingkat Dewan.

AVEC menegaskan kembali posisinya yang tegas bahwa perjanjian EU-Mercosur akan memiliki konsekuensi yang signifikan dan jangka panjang bagi sektor unggas Eropa, terutama jika dilihat dalam konteks dampak kumulatif dari perjanjian perdagangan yang ada dan yang akan datang.

Saat ini, lebih dari 25% daging dada unggas yang dikonsumsi di Uni Eropa berasal dari negara ketiga. Dengan kuota yang diatur dalam perjanjian Mercosur (180.000 metrik ton), total impor akan mewakili 9% dari total konsumsi unggas Uni Eropa, yang akan memberikan tekanan yang tidak berkelanjutan pada produsen Uni Eropa yang tunduk pada standar tertinggi di dunia dalam hal keamanan pangan, kesejahteraan hewan, perlindungan lingkungan, dan aturan sosial.

Semua mata kini tertuju pada Parlemen Eropa. AVEC memiliki keyakinan penuh bahwa Anggota Parlemen Eropa akan menjalankan tanggung jawab demokrasi mereka dan menolak perjanjian yang tidak seimbang ini, yang gagal memastikan persaingan yang adil dan perlindungan yang memadai untuk sektor pertanian yang sensitif.

Dalam konteks ini, AVEC juga sangat berharap bahwa Parlemen Eropa akan mendukung pengajuan perjanjian tersebut ke Mahkamah Kehakiman Uni Eropa, untuk mendapatkan kejelasan hukum tentang aspek-aspek mendasar dari kesepakatan tersebut.

Selain itu, setiap upaya untuk menerapkan perjanjian tersebut secara sementara sebelum pemungutan suara di Parlemen Eropa akan merupakan penolakan serius terhadap prinsip-prinsip demokrasi dan mengabaikan proses persetujuan demokratis Uni Eropa.

AVEC kini akan sepenuhnya memfokuskan upayanya untuk berinteraksi dengan Parlemen Eropa guna menunjukkan secara jelas konsekuensi negatif yang akan ditimbulkan oleh perjanjian ini bagi produsen unggas Uni Eropa, lapangan kerja di pedesaan, dan keberlanjutan produksi Eropa. Asosiasi tersebut menyatakan bahwa mereka tetap berkomitmen pada dialog konstruktif dengan lembaga-lembaga Uni Eropa, tetapi tidak dapat menerima kebijakan perdagangan yang mengorbankan peternakan Eropa demi kepentingan geopolitik atau komersial.

IRAK MELARANG IMPOR UNGGAS UNTUK MENDUKUNG PETERNAK

Irak telah mengumumkan larangan sementara impor unggas yang berlaku mulai 15 Januari 2026. Langkah ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan lebih lanjut kepada peternak lokal untuk pengembangan, meskipun ada kekhawatiran tentang kenaikan harga menjelang Ramadan.

Jumlah peternakan unggas terdaftar di Irak telah mencapai 1.200, tersebar di Baghdad dan beberapa provinsi lainnya, kata Kementerian Pertanian, menambahkan bahwa angka ini tidak termasuk wilayah Kurdistan, di mana kapasitas produksi unggas yang substansial juga terkonsentrasi.

Industri unggas Irak sekarang terdiri dari berbagai peternakan, termasuk yang memproduksi daging ayam broiler, telur, dan anak ayam. Berdasarkan basis produksi yang berkembang dengan baik ini, kata Kementerian, industri ini dapat secara signifikan meningkatkan swasembada nasional dalam produk unggas.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Pertanian Irak menggambarkan larangan tersebut sebagai salah satu alat paling efektif yang tersedia untuk mendukung peternak unggas.

Mahdi Al-Jubouri, Wakil Sekretaris Administrasi Kementerian, menyatakan bahwa melindungi peternak lokal adalah salah satu pilar utama untuk menghidupkan kembali industri unggas negara itu, yang telah mengalami kerusakan signifikan selama bertahun-tahun akibat konflik bersenjata dan ketidakpastian.

Menurut Al-Jubouri, ada ribuan proyek unggas yang berbeda di Irak, dan sejumlah besar warga telah kehilangan mata pencaharian mereka karena kehilangan peternakan mereka dalam beberapa tahun terakhir. “Keputusan [untuk melarang impor unggas] seharusnya membantu memulai kembali proyek-proyek ini dan merevitalisasi siklus produksi,” kata Al-Jubouri.

Irak adalah importir daging unggas terbesar ke-9 di dunia, dengan impor senilai US$808 juta pada tahun 2024, menurut Observatorium Kompleksitas Ekonomi. Irak mengimpor unggas dari Brasil, Turki, dan Amerika Serikat.

Pada saat yang sama, larangan impor unggas memicu kekhawatiran tentang inflasi pangan, terutama selama Ramadan, ketika konsumsi protein meningkat.

PROSPEK 2026: PERTUMBUHAN GLOBAL DAGING UNGGAS DIPERKIRAKAN BERLANJUT

Permintaan ayam tetap tinggi, dan pertumbuhan global di sektor ini diperkirakan akan berlanjut, menurut laporan terbaru RaboResearch.

Pertumbuhan global di sektor daging unggas diperkirakan akan berlanjut sepanjang tahun 2026, dengan pertumbuhan sektor yang kuat sekitar 2,5%. Dalam 3 tahun terakhir, pertumbuhan global juga terjadi sekitar 3% per tahun, menurut laporan terbaru RaboResearch.

Pertumbuhan di sektor daging unggas ini sebagian didorong oleh harga ayam yang kompetitif relatif terhadap harga daging sapi dan telur, dikombinasikan dengan kondisi ekonomi yang membaik di pasar negara berkembang utama seperti Asia, kawasan MEA, dan Amerika Selatan dan Tengah.

Ada kemungkinan besar bahwa flu burung dan perkembangan geopolitik dapat menjadi sumber utama volatilitas pasar pada tahun 2026. Eropa Barat Laut dan Spanyol telah sangat terpengaruh oleh flu burung. Di AS, jumlah kasus juga meningkat. Gelombang wabah flu burung ini memiliki konsekuensi buruk bagi produksi lokal dan pasar global sebagai akibat dari pembatasan ekspor.

Pasar telur tetas sudah ketat karena terbatasnya stok induk global dan dampak kumulatif flu burung. Harga telur tetas telah naik ke level tertinggi sepanjang sejarah dan dapat naik lebih jauh jika wabah flu burung berlanjut. Selain itu, kebijakan perdagangan AS yang tidak dapat diprediksi dapat tiba-tiba menyebabkan perubahan dalam arus perdagangan.

Perdagangan global daging unggas juga diperkirakan akan terus tumbuh pada tahun 2026, antara 1,5% dan 2%, meskipun dengan kecepatan yang lebih lambat daripada sektor unggas itu sendiri. Hal ini terutama karena banyak pasar negara berkembang semakin fokus pada pasar domestik mereka dengan impor terbatas atau memberlakukan pembatasan melalui kuota, tarif tinggi, atau strategi ketahanan pangan (termasuk Uni Eropa, AS, Arab Saudi, Thailand, Tiongkok, dan Afrika Selatan).

Bagaimanapun, Brasil siap untuk memperluas pangsa pasarnya di pasar ekspor global. Tiongkok juga diperkirakan akan mengekspor lebih banyak daging unggas pada tahun 2026. Belanda berhasil mengekspor lebih banyak ayam selama 3 kuartal pertama tahun 2025, tetapi ekspor dari Uni Eropa berada di bawah tekanan sementara impor Uni Eropa meningkat.

Thailand (+18%) dan Tiongkok (+38%) secara signifikan meningkatkan ekspor mereka ke Uni Eropa. Negara-negara ini mendapat manfaat dari harga Eropa yang tinggi dan berkurangnya persaingan dari Brasil, yang terkena dampak flu burung tahun lalu.

SOLIDARITAS UNTUK CISARUA: NAPINDO DUKUNG UPAYA BANTUAN KEMANUSIAAN

Penyerahan tanda serah-terima bantuan dari Kementan ke Bupati Bandung Barat (Foto-foto: Dok. Napindo)

PT Napindo Media Ashatama (Napindo) bersama Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan) menyalurkan bantuan logistik kemanusiaan bagi warga terdampak bencana longsor di wilayah Kecamatan Cisaura, Bandung Barat.. Penyerahan bantuan dilakukan pada Rabu, 28 Januari 2026 di Masjid Agung Ash-Shiddiq. 

Napindo sebagai penyelenggara kegiatan Indo Livestock Expo & Forum yang dituan rumahi oleh Kementan, turut mengambil bagian dalam upaya kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan antara lain air mineral (kemasan 1500 ml) dan susu UHT sebagai tambahan asupan gizi. Kebutuhan pangan juga dipenuhi melalui makanan siap saji (mie instan) serta camilan (biskuit dan crackers) yang mudah dikonsumsi. Harapannya, bantuan ini dapat mendukung kebutuhan harian para pengungsi dan warga terdampak di lokasi bencana. 

Penyaluran bantuan dilakukan secara terkoordinasi melalui Kementerian Pertanian, yang pada kesempatan tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman, bersama Wakil Menteri Pertanian, jajaran Eselon I Kementerian Pertanian, serta Komisi IV DPR RI. Kehadiran tersebut menegaskan sinergi pemerintah dan mitra dalam memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat secara cepat dan tepat sasaran.

Tim Napindo di titik penyerahan bantuan

Mentan Amran menyatakan, “Kami turut berduka cita atas korban bencana di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Kami turun langsung memberi bantuan. Ada 24 truk bantuan, berisi pangan siap saji, beras, dan kebutuhan pokok lainnya. Yang terpenting, masyarakat bisa segera  terbantu.” Langkah taktis ini diharapkan menghadirkan dukungan moral melalui kehadiran nyata berbagai pihak dalam situasi darurat. 

Sinergi antara Napindo dan Kementan menegaskan pentingnya kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah dalam merespon bencana alam. Melalui penyaluran bantuan yang tepat sasaran dan terkoordinasi, diharapkan dapat mendukung pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak selama masa tanggap darurat, serta mempercepat proses pemulihan. (Rilis/INF) 

SEKTOR UNGGAS ALJAZAIR BERUPAYA UNTUK MENJADI LEBIH KOMPETITIF

Aljazair berada di antara produsen unggas menengah di Afrika. Meskipun total produksinya masih jauh di bawah negara-negara seperti Mesir, Afrika Selatan, dan Maroko, pasarnya telah berkembang secara bertahap.

Dilaporkan bahwa pada tahun 2022, produksi unggas di Aljazair mencapai hampir 275.000 metrik ton, meningkat perlahan dengan rata-rata tingkat tahunan sekitar +1,1% antara tahun 2017 dan 2022. Analis sektor mengantisipasi tren kenaikan yang moderat pada angka untuk tahun 2024/2025.

Salah satu tantangan utama sektor unggas Aljazair adalah input pakan. Pada musim 2024/2025, negara tersebut memperkirakan akan mengimpor rekor 5 juta ton jagung, terutama untuk memasok industri unggas, daging sapi, dan susu. Ini menandai peningkatan dibandingkan rata-rata tahun-tahun sebelumnya (sekitar 4 juta ton).

Namun, Aljazair berupaya untuk memperluas budidaya jagung domestik, dengan pemerintah bertujuan untuk menambah luas lahan yang ditanami jagung pada tahun 2028.

Konsumsi domestik produk unggas di Aljazair meningkat, meskipun dari angka per kapita yang lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara terkemuka. Di sektor telur, diperkirakan produksi nasional mencapai sekitar 10 miliar butir telur per tahun pada tahun 2025, dibandingkan dengan permintaan domestik yang mendekati 6-7 miliar, menghasilkan kelebihan pasokan yang signifikan. Tanggapan pemerintah adalah dengan mengizinkan kembali ekspor telur.

Dalam hal daging unggas, pihak berwenang berupaya untuk mengurangi ketergantungan pada impor unggas beku dan menurunkan ketidakstabilan pasokan. Impor ayam petelur dan telur tetas yang diizinkan dari Spanyol (untuk mengatasi kekurangan jenis unggas) juga mencerminkan upaya untuk menyeimbangkan kendala kapasitas internal dengan kebutuhan pasar yang mendesak.

Sektor unggas Aljazair sedang berupaya untuk menjadi lebih kompetitif di Afrika Utara, yang akan berkontribusi terhadap pengurangan tagihan impor produk unggas secara keseluruhan di Afrika.

ANNUAL MEETING GALLUS: INOVASI DAN ADAPTASI KUNCI DI ERA PERUBAHAN

Foto bersama Annual Meeting 2026 Gallus. (foto-foto: Infovet/Ridwan)

Kamis (29/1/2026), PT Gallus Indonesia Utama (Gallus) resmi melaksanakan kegiatan tahunan Annual Meeting dengan tema “Inovasi dan Adaptasi: Kunci Sukses Gallus di Era Perubahan”.

Kegiatan dihadiri oleh Jajaran Direksi Gallus Bambang Suharno dan Rakhmat Nuriyanto, bersama Komisaris Gallus Gani Haryanto, dan Ketua Umum (Ketum) Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Akhmad Harris Priyadi, serta seluruh manager divisi dan staf Gallus.

Setelah melihat paparan kinerja perusahaan tahun kemarin, Gani turut memberikan apresiasi kepada Gallus yang telah sukses menerapkan inovasi dan adaptasi terhadap perubahan bisnis media maupun peternakan dan perikanan, di tengah gejolak industri dalam negeri dan global.

“Pencapaian Gallus tahun kemarin sudah sangat baik, mampu bertahan dan berkembang dengan perubahan yang cepat. Semoga ke depan kita bisa bekerja lebih inovatif dan adaptif lagi di tahun ini,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketum ASOHI, Akhmad Harris Priyadi, turut menyampaikan beberapa pandangan terkait tantangan dan situasi bisnis obat hewan, serta visi-misi ASOHI.

Dengan visi mewujudkan ASOHI yang lebih inovatif, fasilitatif, dan lebih kuat dengan seluruh pemangku kepentingan untuk kemajuan industri peternakan dan kesehatan hewan Indonesia.

Serta dengan membawa misi (Catur Krida) bersama ASOHI mendorong keterbukaan, edukasi, sosialisasi, teknologi informasi, serta bersinergi dan berkolaborasi, menguatkan profesionalitas, ketaatan, skill, kemandirian, hingga ASOHI yang proaktif meningkatkan industri, akselarasi, serta kontribusi peternakan dan kesehatan hewan.

Harris pun berharap Gallus dapat memberikan dukungan yang terbaik untuk menyukseskan visi-misi dan kegiatan-kegiatan ASOHI ke depannya.

Penandatanganan budgeting 2026 disaksikan langsung oleh Komisaris Gallus dan Ketum ASOHI.

Usai pemaparan dan arahan, kegiatan berlanjut dengan penandatanganan budgeting 2026 yang disaksikan langsung oleh Komisaris Gallus dan Ketum ASOHI. Annual Meeting kemudian ditutup dengan makan bersama dan pelatihan bagi karyawan. (RBS)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer