
Dr Swamy Haladi Memberikan Penjelasan Mengenai Review Mikotoksi Global
(Foto : CR)
Trouw Nutrition sebagai salah satu produsen feed additive terkemuka di dunia kembali menyelenggarakan webinar review mikotoksin global 2026 pada, Kamis (5/2) . Dalam webinar tersebut yang bertindak sebagai pembicara yakni Dr Swamy Haladi yang merupakan Commercial Technical Manager - Mycotoxin Risk Management, Trouw Nutrition. Dalam presentasinya ia menjabarkan beberapa hal terkait cemaran mikotoksin yang terdapat pada bahan baku serta pakan jadi.
Ia menuturkan, berdasarkan analisis terhadap lebih dari 115.000 sampel dari 46 negara, Trouw Nutrition melaporkan bahwa jumlah sampel yang terkontaminasi mikotoksin pada tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024. Sampel tersebut mencakup berbagai bahan baku pakan, termasuk biji-bijian, sumber protein, produk samping, silase, Total Mixed Rations (TMR), konsentrat, serta pakan lengkap.
"Penurunan paling signifikan terjadi pada tingkat kontaminasi fumonisin dan toksin T-2. Sebaliknya, tingkat deoksinivalenol (DON) dan zearalenon (ZEA) relatif serupa dengan tahun sebelumnya dan tetap lebih tinggi dibandingkan fumonisin. Sementara itu, rata-rata konsentrasi mikotoksin dalam sampel tahun 2024 dan 2025 dilaporkan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan," paparnya.
Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun jumlah sampel terkontaminasi menurun, faktor lingkungan yang mendukung pertumbuhan kapang dan produksi mikotoksin masih berlanjut hingga tahun 2025, khususnya di wilayah beriklim sedang.
Selain existing mycotoxin yang sudah kita kenal, ia juga berbicara mengenai enniatins. Mereka adalah kelompok mikotoksin “emerging” (mikotoksin yang relatif baru mendapat perhatian) yang diproduksi terutama oleh jamur Fusarium, khususnya Fusarium avenaceum, F. tricinctum, dan F. poae.
Enniatins (misalnya Enniatin A, A1, B, dan B1) merupakan senyawa siklik heksadepsipeptida yang bersifat ionofor, artinya mampu membentuk kompleks dengan ion (seperti K⁺, Na⁺, Ca²⁺) dan mengganggu keseimbangan ion dalam sel.
Walau belum diregulasi secara ketat seperti DON atau aflatoksin, enniatins mendapat perhatian karena dapat menyebabkan efek sitotoksik pada sel mamalia (in vitro), gangguan membran sel dan mitokondria, potensi imunosupresif dan antimikroba, serta memiliki efek sinergis dengan mikotoksin lain (toxic cocktail effect).
"Feed producer harus waspada dengan hal ini, karena enniatins juga bisa berbahaya, oleh karenanya kewaspadaan harus terus ditingkatkan," tuturnya.
Trouw sendiri menurut Dr Swamy terus berupaya memberikan pelayanan termasuk proteksi terhadap mikotoksin untuk para customer melalui Masterlabnya. Di sana customer dapat berkonsultasi sekaligus mengecek apakah bahan baku dan pakan jadinya masih aman dari batas kontaminan mikotoksin yang diperbolehkan. Selain itu beragam protofolio produk Trouw juga selalu tersedia dalam membantu customer dalam memecahkan masalah mikotoksin. (CR)

0 Comments:
Posting Komentar