Industri unggas Tunisia, meskipun tidak menyamai volume produksi raksasa di Afrika seperti Mesir, Afrika Selatan, atau Maroko, sudah mapan dan terus berkembang.
Industri unggas Tunisia menyumbang sekitar 12% dari total produksi pertanian dan 33% dari produksi hewan, menunjukkan pentingnya bagi perekonomian nasional.
Pada tahun 2022, negara ini dilaporkan memproduksi sekitar 242.000 metrik ton daging unggas, angka yang menunjukkan peningkatan moderat dari tahun ke tahun. Perkiraan menunjukkan bahwa pada tahun 2028, produksi daging unggas Tunisia dapat mencapai sekitar 265.000 metrik ton, meskipun pertumbuhan diperkirakan akan tetap moderat (CAGR sekitar 1,5%).
Produksi Telur
Produksi telur merupakan pilar kuat dalam lanskap unggas Tunisia. Data terbaru menunjukkan bahwa negara ini memproduksi lebih dari 2,1 miliar telur per tahun, dengan sekitar 97% dari produksi tersebut berasal dari produksi komersial intensif, sementara sebagian kecil berasal dari peternakan tradisional/lokal.
Produksi intensif telah memungkinkan Tunisia untuk sebagian besar memenuhi permintaan domestiknya akan telur, mengurangi ketergantungan pada impor di sub-segmen tersebut.
Terdapat sekitar 850 peternakan ayam petelur dan sekitar 350 peternakan unggas pembibitan, yang didukung oleh 4 tempat penetasan. Jaringan ini mendukung kemampuan Tunisia untuk memasok pasar domestik secara andal, terutama untuk konsumsi telur. Lebih lanjut, pada awal tahun 2025, angka pasokan telur untuk bulan-bulan seperti Agustus stabil di sekitar 162 juta telur, yang mencerminkan bahwa rantai pasokan relatif stabil meskipun ada tekanan harga.
Pasokan, Penetapan Harga, dan Pengawasan Regulasi
Namun, sektor unggas Tunisia menghadapi hambatan yang signifikan. Produksi biji-bijian pakan lokal terbatas, sehingga Tunisia bergantung pada impor untuk banyak input. Selain itu, fluktuasi harga daging unggas dan telur tetap menjadi tantangan. Margin pengecer dan produsen berada di bawah pengawasan. Upaya publik saat ini sedang dilakukan untuk mengatur harga telur guna melindungi baik petani maupun konsumen dari fluktuasi yang tidak menentu.
Lembaga seperti Kamar Dagang Unggas dan Daging Putih Nasional Tunisia dan ONAGRI (Observatorium Pertanian Nasional) semakin aktif, berupaya memastikan pasokan yang memadai, menstabilkan harga, dan meningkatkan pengawasan regulasi.
Bagi Afrika, Tunisia menjadi contoh bagaimana produsen menengah dapat memanfaatkan sektor ayam petelur/telur yang kuat dan pertumbuhan ayam broiler yang stabil, bahkan ketika menghadapi tantangan biaya input dan ketergantungan eksternal, untuk berkontribusi pada ketahanan pangan dan mengurangi erosi impor.


0 Comments:
Posting Komentar