SCAN APLIKASI ANDROID

SCAN APLIKASI ANDROID

EDISI SEPTEMBER 2018

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman SPt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof Dr Drh Charles Rangga Tabbu,
Drh Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh Ketut T. Sukata, MBA,
Drs Tony Unandar MS
Prof Dr Drh CA Nidom MS

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran : marketing.infovet@gmail.com

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com

Jumlah Pengunjung

PT. GITA Group

Followers

Info Agribisnis Klik Di Sini

alterntif text

TRANSLATE

Pelatihan Pembiakan dan Manajemen Sapi Komersial

On 10:54:00 AM

Foto bersama pembukaan pelatihan pembiakan manajemen sapi komersial (Foto: Unpad) 

Universitas Padjadjaran (Unpad) melalui Fakultas Peternakan (Fapet) memfasilitasi pelatihan pembiakan dan manajemen sapi komersial di Indonesia, pada 16-28 September 2018. Pelatihan ini digelar Indonesia-Australia Partnership on Food Security in the Red Meat and Cattle Sector (The Partnership), pada  16 - 28 September 2018.

Seeperti dikutip dari situs www.unpad.ac.id, program pengembangan keterampilan ini bertujuan untuk mendorong transfer pengetahuan dan kapabilitas bagi pemerintah dan industri sapi potong komersial di Indonesia.

Kegiatan tersebut diikuti oleh sejumlah peserta dari perusahaan pembiakan sapi potong dan perusahaan kelapa sawit yang memiliki usaha pembiakan sapi potong terintegrasi. Secara keseluruhan, kegiatan ini digelar di Indonesia dan Australia, 16  September hingga 6 Oktober 2018.

Pelatihan berisi kegiatan kelas di Provinsi Banten dan Lampung, serta  kunjungan lapangan ke sejumlah perusahaan peternakan sapi.

Kunjungan dilakukan ke PT Lembu Jantan Perkasa di Kota Serang, Banten, juga perusahaan mitra dari Program kemitraan Indonesia dan Australia untuk Pembiakan Sapi secara Komersial (IACCB) yaitu PT. Buana Karya Bhakti dan PT Cahaya Abadi Petani di Kalimantan Selatan, serta PT Superindo Utama Jaya dan KPT Maju Sejahtera di Lampung.

“Program pelatihan ini didukung sepenuhnya pemerintah Australia melalui program the Partnership yang sudah dimulai sejak tahun 2013 dengan alokasi pendanaan mencapai $60 juta. Melalui program ini, Indonesia dan Australia berupaya untuk meningkatkan rantai pasokan daging merah dan sapi potong di Indonesia dan mempromosikan investasi dan perdagangan yang stabil diantara kedua negara,” ujar George Hughes sebagai perwakilan Kedutaan Besar Australia di Indonesia, saat acara pembukaan.

Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Joni Liano, menyampaikan bahwa program pelatihan ini menunjukkan komitmen pemerintah Australia dalam mendukung pengembangan industri sapi potong di Indonesia, khususnya dalam hal hal pembiakan.

Peserta pelatihan yang sudah berjalan dua angkatan ini adalah para “champion” dari perusahaan masing-masing dan diharapkan ilmu yang didapat dapat diterapkan untuk meningkatkan efiseiensi program pembiakan di perusahaan masing-masing.

Mewakili Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Dr Unang Yunasaf menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada pemerintah Australia - Kemitraan Indonesia Australia, serta atas kepercayaannya pada Fapet Unpad yang ditunjuk sebagai fasilitator pelatihan ini. Dr Unang menambahkan harapannya agar kerja sama lainnya juga bisa dikembangkan ke depannya. 


Selanjutnya, pelatihan di Australia Utara akan dilaksanakan pada 30 September - 6 Oktober 2018, difasilitasi oleh The Northern Territory Department of Primary Industry and Resources (DPIR), bertempat di Katherine Research Station. Kegiatan training di Australia meliputi kegiatan teori dan praktik kunjungan lapangan ke beberapa peternakan di Katherine, Australia Utara. ***


200 Peserta Ikuti Kuliah Umum Kemin Industry

On 11:09:00 AM

Suasana kuliah umum Kemin Industry di IPB (Foto: Tribunnews.com)

Kuliah Umum Kemin Industry bertemakan bertemakan “Recent Issue in Feed Technology and Animal Nutrition for Healthy and Safe Animal Product” berlangsung di Auditorium Janes Hummuntal Hutasoit (JHH) Institut Pertanian Bogor (IPB), Rabu (19/9/2018).

Wakil Dekan Fakultas Pertanian IPB, Dr Rudy Afnan di hadapan 200 peserta didik menyatakan industri pakan ternak di Indonesia saat ini terkendala minimnya bahan baku jagung ternak.

Seperti dikutip dari dari tribunnews.com, Kamis (20/9/2018), Rudy menambahkan selama ini bahan baku pakan ternak yakni jagung ternak hanya terdapat di beberapa wilayah di Indonesia. Persediaan jagung tersebut pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan di wilayah tersebut.

Swasembada jagung ternak hanya ada di Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Barat. Sementara sentra produksi pakan ternak ada di Sumatera Utara. Biaya distribusi dari Sumut juga lebih mahal jika dibandingkan dengan biaya mengimpor bahan baku dari luar negeri.

"Jika biaya angkut mahal, biasanya 20 persen dari total biaya dibebankan pada konsumen," tegasnya.

Sementara itu, kebijakan larangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) untuk pakan ternak di Indonesia oleh pemerintah beberapa waktu lalu, kata Rudy, memang harus didukung. Perlu dipikirkan penyediaan bahan pengganti AGP, yang selama ini belum bisa diproduksi dalam skala besar.

“Bahan pengganti AGP sebenarnya bisa dengan single factor yakni herbal maupun probiotik. Namun, seperti yang dilakukan di IPB, baru mampu dibuat dalam skala laboratorium. Kemin Industry juga melakukan seperti kami, hanya bedanya Kemin sudah mampu memproduksi dalam skala industri,”tukasnya.

Dalam kesempatan itu, Rudy juga mengapresiasi Japfa Foundation sebagai fasilitator yang menghadirkan para pakar dari Kemin Industry dalam kuliah umum yang diikuti 200 peserta.

Sementara Head Of Japfa Foundation, Andi Prasetyo, menjelaskan Japfa Foundation sebagai organisasi yang aktif menyuarakan pentingnya pendidikan ternak dan agrikultur, ikut berperan sebagai fasilitator antara Kemin Industry dan IPB.

“Dukungan terhadap kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dari komitmen dan perhatian Japfa Foundation terhadap pendidikan ternak dan agrikultur di Indonesia,”ujarnya. ***


Sistem Informasi Kesehatan Hewan Indonesia Terbaik di Asia

On 3:25:00 PM

Dirjen PKH bersama dengan Tim Chapman (Foto: Humas Kementan)

Pada pertemuan akhir Komiter Koordinasi Program (PCC) Australia-Indonesia Partnership for Emerging Infectious Diseases (AIPEID), Selasa (18/9/2018), Dirjen PKH I Ketut Diarmita mengumumkan bahwa Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional yang terintegrasi Indonesia (iSIKHNAS) diakui Badan Kesehatan Dunia (OIE) sebagai salah satu sistem informasi kesehatan hewan terbaik di Asia.

Ketut mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Australia yang telah bekerjasama untuk mengembangkan iSIKHNAS melalui program AIPEID. Dalam pertemuan tertinggi sistem tata-kelola AIPEID tersebut, rapat dipimpin oleh Ketua Bersama. Pihak Indonesia dipimpin Dirjen PKH dan dari perwakilan pemerintah Australia dipimpin oleh Tim Chapman yang merupakan First Assistant Secretary, Animal Biosecurity, Department of Agriculture and Water Resources, Australia, serta dihadiri pihak-pihak yang terlibat dalam kemitraan.

“Melalui iSIKHNAS early report (laporan cepat) atau early detection (deteksi awal) dapat berjalan dengan baik, sehingga pemerintah dapat bergerak cepat untuk mengambil keputusan atau langkah-langkah aksi dalam pengendalian dan pemberantasan penyakit hewan, sehingga jangan sampai terjadi outbreak penyakit,” ucap Ketut, dalam pernyataan tertulis yang diterima Infovet, Rabu (19/9/2018).  

Awal Oktober 2018 mendatang iSIKHNAS akan dipaparkan oleh staf Ditjen PKH di forum OIE. Selanjutnya OIE melalui Lembaga Penelitian Perancis, CIRAD akan melakukan penilaian dampak iSIKHNAS terhadap sektor peternakan dan kesehatan di Indonesia.

Lebih lanjut, Ketut menyampaikan pentingnya penguatan sistem pelayanan kesehatan hewan nasional, terutama sebagai upaya menghadapi ancaman masuknya penyakit hewan menular yang baru muncul. "Hal ini telah menjadi prioritas pemerintah untuk mengendalikan penyakit, serta meningkatkan produksi ternak domestik untuk memastikan keamanan pangan dan menstabilkan harga produk ternak," ungkapnya. (NDV)

Meriahkan HATN 2018, Seminar Perunggasan Digelar

On 11:46:00 AM

Alfred Kompudu saat memaparkan presentasi di hadapan 300 peserta (Foto: Bams)

Seminar perunggasan digelar di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Sulawesi Utara (Sulut) Jumat (14/9/2018) sebagai rangkaian kegiatan memeriahkan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2108. Hadir sebagai pembicara, Ir Bambang Suharno (Panitia Pusat HATN dan Pemred Infovet), Ricky Bangsaratoe (Ketua Bidang Usaha dan Promosi Pinsar Indonesia ), Alfred Kompudu (FAO Indonesia) dan Dr Ir Jola JMR Londok MSi (pakar nutrisi ternak dari Fapet Unsrat).

Gedung Rektorat Unsrat, Manado sebagai tempat penyelenggaraan seminar dipenuhi sekitar 300 peserta. Seminar dibuka oleh Dekan Fapet Unsrat, Dr Ir Johanes RL Tulung MS.

Dalam presentasinya, Bambang Suharno menyampaikan, pertumbuhan perunggasan di Kawasan Timur Indonesia (KTI) dalam 5 tahun belakangan ini lebih tinggi dibanding Kawasan Barat Indonesia (KBI). Populasi ayam petelur di KBI selama lima tahun (2012-2016) tumbuh 9,8 % sedangkan di KTI terjadi pertumbuhan 53,3%. Pada periode yang sama, populasi ayam broiler di KBI sebesar 16% sedangkan di KTI tumbuh hampir 10  kali lipat yaitu sebesar 111%.

Sementara itu, perunggasan Sulut saat ini secara umum lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan perunggasan di KTI. Populasi ayam broiler di Sulut dalam periode 2012-2016 naik 280%, lebih dari dua kali lipat dari pertumbuhan di KTI yang sebesar 111%. Seiring dengan tumbuhnya pariwisata di Sulut, pertumbuhan perunggasan Sulut diperkirakan akan lebih cepat lagi, karena semakin banyak hotel dibangun, kebutuhan telur dan daging ayam otomatis meningkat.

Selain itu dengan kegiatan edukasi konsumsi ayam dan telur, akan mendorong tumbuhnya konsumsi ayam dan telur. “Ini artinya prospek perunggasan di Sulut sangat baik,” ujar Bambang.

Makan telur, sebagai simbol  dimulainya kampanye ayam dan telur dalam rangkaian acara HATN
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sulut Ir Novly Wowuling, Wakil Direktur Manado Post Tommy Waworundeng, Wakil Dekan 1 Dr Ir Florencia N Sompie MP, Wakil Dekan 2 Dr Ir Betty Bagau MP, Wakil Dekan 3 Ir Boyke Rorinpandey MP, para dosen, serta para tokoh perunggasan Sulut dan perwakilan ASOHI Sulut tampak hadir dalam seminar ini. (Bams)

Aksi Solidaritas untuk Dokter Hewan Indhira

On 2:45:00 PM

Aksi solidaritas "Client Awareness" digelar untuk mendukung drh Indhira (Foto: Istimewa)


Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) menggelar aksi solidaritas untuk memperjuangkan penegakan keadilan dan membela hak profesi dokter hewan di Indonesia.

"Kehadiran Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PDHI, Dr drh Heru Setijanto, PAVet, bersama 50 dokter hewan perwakilan dari beberapa cabang di Pengadilan Tangerang menunjukkan dukungan moril PDHI.” Demikian pernyataan tertulis PB PDHI yang diterima Infovet, Selasa (18/9/2018).

Aksi solidaritas yang disebut "Client Awareness" ini dilakukan terkait kasus hukum yang menimpa salah satu anggotanya, yakni drh Indhira yang harus menjalani persidangan seorang diri di Pengadilan Negeri Tangerang, Banten.

Kronologis kejadian sehingga drh Indhira akhirnya tersandung kasus hukum bermula pada peristiwa pada tanggal 28 Mei 2018, di mana seorang warga yang setelah seekor anak anjingnya mati karena kecacingan parah. Pada malam hari tanggal 28 Mei itu anak anjing lain yang sekelahiran baru dibawa periksa ke dokter hewan yang hampir tutup jadwal praktiknya.

Pemilik memaksa untuk diperiksa. Padahal sang dokter sudah lelah dan sakit flu. Dengan penuh tanggung jawab drh Indhira memberikan penanganan pertama dan menyarankan agar terapi dilanjutkan keesokan harinya di rumah pemilik.

Keesokan harinya dengan alasan sulit dihubungi,  pemilik membawa anak anjing tersebut ke dokter hewan praktik yang lain. Tragisnya, anak anjing itu mati di sana, dan drh Indhira sudah meminta maaf dan minta untuk  dimaklumi, karena kondisinya yang sakit pada saat itu.

Hubungan klien-dokter sempat membaik, tetapi belakangan pemilik menuntut ganti rugi. Awalnya Rp 500 juta, berkembang menjadi gugatan Rp 250 juta untuk ganti rugi kematian anjing, dan Rp 1,3 miliar untuk kerugian imaterial dan penyitaan seluruh aset milik dokter hewan.

Meskipun peristiwa kematian anak anjing tersebut terjadi di luar penanganannya, namun pada tanggal 17 September 2018, drh Indhira ini harus menjalani persidangan seorang diri di Pengadilan Negeri Tangerang, Banten.

Apakah pantas drh Indhira dituntut? Jika menuntut, mestinya digunakan alur logika. Ditegaskan bahwa dokter hewan adalah profesi penyembuh, tetapi tidak serta merta dapat menyembuhkan semua jenis penyakit.

Pernyataan PDHI, jika penyakitnya sudah parah, sebagaimana terjadi pada anak anjing yang sekelahiran tersebut pasti tidak dapat tertolong. Salah satu penyebabnya adalah tindakan pergi ke dokter hewan sudah terlambat. Dalam konteks ini tentu dokter hewan tidak bisa disalahkan, apalagi matinya tidak pada saat dirawat oleh dokter hewan tersebut.

Di sini lah, kata PDHI, diperlukan kesadaran bagaimana menjadi pemilik hewan yang baik ataupun menjadi "client" yang baik. Kasus ini tidak mungkin terjadi jika terbangun adanya kesadaran klien. Karena itu aksi PDHI sebagai aksi solidaritas "Client Awareness" untuk kasus hukum drh Indhira.

PDHI berkewajiban membantu semua anggotanya. Untuk itu, PDHI turut hadir untuk memberikan dukungan kepada drh Indhira, baik secara teknis berupa bantuan hukum maupun bersifat non-teknis berupa dukungan moril

Dukungan PB PDHI beserta pengurus cabangnya yang tersebar di 52 daerah pada aksi solidaritas adalah untuk memperjuangkan penegakan keadilan dan membela hak hak profesi dokter hewan serta penegakan kode etik dokter hewan.

Ketua umum PB PDHI, Heru Setijanto menjelaskan bahwa pihaknya menunjuk kuasa hukum untuk membantu dokter Indhira menghadapi kasusnya di persidangan sebagai bentuk bantuan hukum

Ia menambahkan, Organisasi Pengacara Perempuan Indonesia (OPPI) tergerak hatinya mengajukan diri sebagai kuasa hukum PDHI untuk mendampingi dokter Indhira di pengadilan. (Rilis PDHI)


FGD Evonik: What Alternative Do We Have for AGP

On 2:30:00 PM

Penyelenggara FGD bersama peserta. (Foto: Infovet/Sadarman)
Bertempat di Ballroom I Hotel Mercure Alam Sutera, Tangerang Selatan, PT Evonik Indonesia bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB), menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD), bertajuk “Updateon Regulation for Antibiotic Growth Promoters Use in Poultry Feeds and What Alternative Do We Have for AGPs?”.

Merciawati, Senior Business Manager PT Evonik Indonesia, menyampaikan kegelisahannya terkait penerapan pelarangan AGP, yang berdampak pada industri terkait, yakni obat hewan dan pakan ternak, yang diaplikasikan pada ternak, terutama ayam ras komersial, baik pedaging maupun petelur. Namun, jika dikerjakan bersamaan maka dapat dilewati, sehingga akan indah pada waktunya. Untuk menjawab kegelisahan tersebut, setelah memasuki bulan kesembilan pelarangan penggunaan AGP, PT Evonik Indonesia menyelenggarakan FGD.

“Gunakan forum ini sebaik mungkin, kemukakan keluhan, masukkan dan gagasan terbaik di sini, agar dapat dicarikan solusi terkait What Alternative Do We Have for AGPs dimaksud,” kata Merciawati. 

FGD Evonik ini diikuti oleh hampir sebagian besar nutrisionis, formulator di pabrik pakan, pelaku usaha di bidang peternakan, kemitraan, peternak mandiri dan akademisi, serta peneliti terkait dengan masalah ini.


Dalam FGD, Evonik Indonesia menghadirkan Ni Made Ria Isriyanthi PhD (Kasubdit POH Kementerian Pertanian), Sasi Jaroenpoj DVM dari Animal Feed and Veterinary Product Control Division Thailand, Nasril Surbakti PhD dari PT Charoen Pokphand Indonesia, Dr Girish Channarayapatna selaku Technical Service Director, Evonik SEA. Dan acara dipandu langsung oleh Prof I Wayan Teguh Wibawan, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB. (Sadarman)

Berlomba Memacu Performa Genetik di Era Non Antibiotik

On 1:31:00 PM

Kandang closed house.

Bicara perkara pelarangan AGP (Antibiotic Growth Promoter) pada pakan unggas seakan tidak ada habisnya. Pasalnya, setiap peternak banyak mengeluh mengenai performa yang kian anjlok. Apakah benar begitu adanya? Bagaimana agar performa stabil di era non-AGP?

Sejarah mencatat bahwa Indonesia melakukan impor ayam broiler secara komersil pada tahun 1967. Sejak saat itu usaha budidaya ayam broiler, baik skala kecil maupun besar terus berkembang hingga saat ini. Pada era tersebut, ayam broiler perkembangannya belum secepat ayam broiler zaman now. Namun kini, seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi, ayam broiler dapat dipanen kurang dari 30 hari dengan bobot badan lebih dari 1.000 gram. Sejalan dengan ayam broiler, ayam petelur atau biasa disebut layer juga mengalami hal serupa. Produksi ayam petelur zaman old versus zaman now tentunya sangat berbeda.

Bahkan karena cepatnya kedua jenis unggas tersebut berkembang, tidak jarang kalangan peternakan mendengar isu-isu miring mengenai hal tersebut. Mulai dari ayam disuntik hormon, obat kuat, sampai yang agak aneh mengenai telur palsu (plastik). Tentunya isu-isu miring seperti ini kian membuat gerah kalangan peternakan di Tanah Air.

Kemajuan Genetik
Jika masyarakat rajin membaca apalagi mengunjungi laman web para "provider" bibit-bibit ayam di luar negeri, mereka akan paham bahwa ayam modern dapat berkembang begitu cepat karena teknologi di bidang genetika. Bukan dari modifikasi genetik, melainkan pemuliaan demi pemuliaan yang dilakukan oleh para provider di laboratorium mereka masing-masing.

Hasilnya? Setelah lebih dari 100 tahun penelitian lahir lah ayam-ayam zaman sekarang yang perkembangannya sangatcepat. Menurut Prof Burhanudin Sundu, Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako, ayam-ayam modern adalah “monster” yang sebenarnya.

“Bukan monster yang suka makan orang ya, tapi dari segi pertumbuhannya. Coba bayangkan, seekor DOC yang awalnya bobot badannya kurang lebih 40 gram, dalam 30 hari menjadi 1,5 kilogram bahkan ada yang hampir 2 kilogram. Itu kan artinya mereka menjadi besar sebanyak 150 kali lipat hanya dalam sebulan,” ujar Prof Burhanudin.

Begitu pula dengan ayam petelur, potensi bertelurnya setiap tahun akan terus meningkat seiring perkembangan di bidang genetika. “Kalau tidak percaya coba cari dan bandingkan misalnya performance ayam-ayam Cobb sebelum tahun 2000 sampai sekarang tahun 2018 ini, pasti berbeda,” tuturnya.

Namun begitu, lanjut Prof Burhanudin, tidak ada mahluk yang superior di dunia ini. “Ayam zaman now memang sangat superior dalam bidang performa produksi, namun sebagai kompensasinya gen-gen kekebalan terhadap penyakit yang ada pada tubuh mereka tidak se-superior performance-nya, sehingg aayam zaman now mudah sekali terserang stres dan penyakit,” jelasnya... (CR)


Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi September 2018.

Festival Ayam Pelung Nusantara 2018

On 7:27:00 PM

Peserta Seminar FAPN saat pengarahan sebelum penjurian (Foto: Sadarman)

Himpunan Profesi Mahasiswa Fakultas Peternakan menyelenggarakan kegiatan Festival Ayam Pelung Nusantara (FAPN). Kegiatan berlangsung di Gedung Jannes Humuntal Hutasoit, Fakultas Peternakan (Fapet), Institut Pertanian Bogor pada 15-16 September 2018.

Dekan Fapet Dr Ir Mohamad Yamin MAgrSc menyambut dan mengapresiasi baik kegiatan ini. Dalam sambutannya, Yamin menyebutkan bahwa ayam Pelung memang perlu dilestarikan. Hal ini mengingat bahwa ayam Pelung merupakan sumber daya genetik (SDG) lokal yang tidak dipunyai oleh negara lain di dunia.

“Acara ini diharapkan dapat memenuhi kriteria dari 3 learning outcome, yakni pengetahuan, skill dan sikap yang aplikasinya ke arah pemeliharaan dan pengembangannya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Yamin mengemukakan ayam Pelung dapat dijadikan sebagai bibit unggul, lalu digunakan tidak hanya untuk suaranya saja yang merdu, namun juga diharapkan dari produksi dagingnya. Sehingga arah pngembangan ayam pelung ke depan dapat disesuaikan dengan standar pemeliharaan yang sama dengan ayam ras saat ini.

“Semoga di masa mendatang kegiatan Himpunan Profesi Mahasiswa ke depannya tidak hanya fokus pada ayam Pelung saja, akan tetapi juga SDG ternak Indonesia lainnya juga harus diperhatikan seperti ayam Ketawa, Merawang dan ayam kokok Balenggek,” tandasnya. 

Foto bersama Dekan Fapet IPB Dr Ir Mohamad Yamin MAgrSc di FAPN HPM Fapet 2018 (Foto: Sadarman)

Kegiatan FAPN 2018 ini dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Sumberdaya Kerjasama dan Pengembangan yang juga Dosen Dasar Produksi Unggas, Dr Rudi Afnan SPt MScAgr dan Pembina Kemahasiswaan Fapet, Dr Sigit Prabowo SPt MSc. Panitia Pelaksana menghadirkan Prof Iman Rahayu, Guru Besar Perunggasan Fapet sebagai pembicara utama dan Cece Suherman dari Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Nusantara sebagai pembicara sekaligus sebagai koordinator penjurian FAPN 2018.

Ketua Panitia Pelaksana, Berry Sipayung mengatakan kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan sebagai acuan dan pengembangan ayam Pelung yang berkualitas, baik dari suara, bobot badan dan performa lainnya untuk dilestarikan sebagai plasma nutfah Indonesia. Ayo lestarikan ayam Indonesia bersama irama Pelung nusantara! (Sadarman/NDV).

Petani Miskin di Pandeglang Terima Bantuan Ditjen PKH

On 4:52:00 PM

Dirjen PKH serahkan bantuan (Foto: Istimewa)

Kamis (13/9/2018), para petani miskin di Desa Madalsari, Pandeglang, Banten, menerima bantuan dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan. Program bantuan yang diberi nama #Bekerja (Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera) itu menyalurkan bantuan berupa sarana, ayam, pakan, vitamin, dan obat.

Bantuan diserahkan langsung oleh Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, dan disaksikan oleh penanggungjawab lokasi #Bekerja lingkup Kementerian Pertanian, Kepala Dinas/Kelembagaan Peternakan/Pertanian Provinsi/Kabupaten, dan Bupati Pandeglang beserta muspida Pandeglang.

Ketut mengatakan, Kabupaten Pandeglang adalah salah satu dari 19 Kabupaten dari 10 Provinsi wilayah Program #Bekerja. 10 Provinsi dan 19 Kabupaten dipilihberdasarkan jumlah RTM (Rumah Tangga Miskin) dan berdasarkan respon positif Pemerintah Daerah dalam mendukung Pembangunan Pertanian.

Dirjen PKH, I Ketut Diarmita (Foto: Istimewa)  
Pemerintah saat ini mempunyai beberapa program penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan oleh elemen-elemen pemerintah yang salah satunya adalah Kementerian Pertanian. Ditjen PKH mendukung program tersebut dengan memberikan bantuan ternak dan pendampingan.

"Tujuan dari bantuan ini adalah untuk meningkatkan penyediaan protein hewani dan pendapatan rumah tangga," kata Ketut.

Lebih lanjut Ketut menyebutkan target nasional Program #Bekerja adalah untuk 190.000 RTM.

Kabupaten Pandeglang sendiri mendapat alokasi bantuan ternak ayam untuk 2.254 RTM dengan jumlah ayam sebanyak 112.700 ekor ayam. Ditjen PKH membantu 1.700 RTM dengan 85.000 ekor ayam, 510 Ton pakan dan obat-obatan 1.700 paket. Sisanya untuk 554 RTM dengan 27.700 ekor ayam dan paket pakan serta obat-obatan dari Badan Pengembangan SDM Pertanian.

"Bantuan dari Ditjen PKH telah terealisasi sebanyak 59,8% atau 50.850 ekor dengan pakan 50 Ton dan 1.017 paket obat-obatan. Pada hari ini akan dibagikan untuk 254 RTM dengan jumlah ayam 12.700 ekor dan pakan 12,7 Ton. Selanjutnya kekurangannya akan dibagikan pada tanggal 18 dan 19 September 2018 sesuai jadwal dari perusahaan penyedia ayam dan pakan," ungkap Ketut.

Sementara Bupati Pandeglang Irna Narulita, menyampaikan, melalui program #Bekerja ini dia harapkan dapat menurunkan anggka kemiskinan di Indonesia khususnya di Kabupaten Pandeglang.

"Saya yakin dan percaya bahwa dengan Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera dapat menurunkan angka kemiskinan di Kabupaten Pandeglang," ucapnya. (NDV)

Teknologi Coarse Corn Tingkatkan Kinerja Broiler Modern

On 4:03:00 PM

Ternak broiler. (Sumber: medicalnewstoday.com)

((Berbicara mengenai peningkatan performa ayam broiler akan terkait erat dengan aspek pakan. Pakan pada intinya mengandung nutrisi yang memiliki peran penting untuk menciptakan performa ayam yang baik (good performance) bahkan pada saat di era bebas AGP. Perkembangan genetik dari ayam broiler modern yang sedemikian cepat dari hari kehari menjadi tantangan tersendiri bagi para nutritionis untuk dapat mendesain pakan dengan nilai nutrisi (nutrient value) yang tepat sesuai dengan potensi genetik yang semakin melejit))

Optimalisasi nutrient value dalam pakan salah satunya dapat melalui aplikasi teknologi pakan yang bertujuan mempengaruhi proses nutrisi dalam sistem saluran pencernaan ayam broiler. Sehingga walaupun tanpa peran Antibiotic Growth Promoter (AGP) yang kini telah dilarang penggunaannya, maka upaya optimalisasi nilai nutrisi pakan akan berdampak positif terhadap peningkatan performance broiler modern.

Salah satu aplikasi teknologi tersebut adalah melaului perbaikan terhadap perkembangan gizzard (gizzard development) pada ayam broiler modern. Gizzard atau ampela merupakan salah satu kompartemen dalam saluran pencernaan unggas yang unik, seringkali gizzard disebut sebagai mechanical stomach (perut mekanis) yang memiliki dua bagian otot kuat dan memiliki fungsi sebagai gigi (pengunyah). Pakan yang terkonsumsi (digestive juice) dari kelenjar saliva dan proventriculus akan menuju ke ampela dan mengalami proses grinding (penggilingan), mixing (pencampuran) dan mashing (penghalusan bahan pakan).

Salah satu faktor yang dapat menstimulasi perkembangan gizzard adalah ukuran partikel (particlel size) bahan pakan. Ukuran partikel bahan pakan yang besar akan mempengaruhi fungsi  saluran pencernaan (Gastro Intestinal Tract/GIT) dan perkembangan gizzard. Perkembangan gizzard yang baik akan memperbaiki gerak peristaltic usus, meningkatkan retention time (waktu diam) pakan dalam GIT, meningkatkan kecernaan, absopsi nutrisi pada usus bagian bawah, dan menurunkan resiko Cocsidiosis dan Enteric diseases lain, sehingga akan meningkatkan performa ayam broiler itu sendiri...


Yogianto

Staff Research and Technology (R&T)


Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi September 2018.

UNS Bantu Peternak Sapi dengan Ilmu Ini

On 5:00:00 PM


Ilustrasi


Kelompok Peternak sapi potong di Desa Kenteng, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali gembira bobot ternak mereka meningkat. Sukses menerapkan manajemen pakan, sapi potong mereka mengalami peningkatan bobot. Manajemen pakan tersebut dikembangkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Pangan Gizi dan Kesehatan Masyarakat LPPM Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Tim terdiri atas Ir Sudiyono MS, Sutrisno Hadi Purnomo SPt MSi PhD dan Shanti Emawati SPt MP (dosen Prodi Peternakan ) serta Prof Dr Ir Suwarto MSi (staf pengajar Jurusan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian). Langkah ini menjadi titik terang bagi petani ternak untuk memenuhi pasokan kebutuhan daging di pasar.

Karena Desa Kenteng salah satu yang dijadikan contoh untuk pengembangan sapi potong di Jawa Tengah. ”Sebelumnya peternak menghadapi permasalahan produktivitas ternak sapi potong cukup rendah dikarenakan manajemen pakan yang kurang memenuhi persyaratan,” kata Koordinator Tim, Sudiyono.

Terkait persoalan itu, lanjutnya, tim menawarkan solusi yakni manajemen pakan dan manajemen pemeliharaan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak. Peternak juga diberikan pelatihan penyusunan formulasi ransum pakan dan jerami padi fermentasi, serta dibantu pengadaan mesin pemotong rumput (chooper).

Melalui kegiatan itu kesejahteraan petani ternak diharap bisa terangkat. Melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) yang didanai Kemenristekdikti tahun anggaran 2018 tim menggandeng mitra Kelompok Tani Ternak (KTT) Sumber Makmur, kemudian KTT Taruban Mulyo dan KTTNgudi Mulyo. Setelah mengembangkan manajemen pakan dalam tiga bulan terjadi kenaikan bobot sapi. ”Sapi milik anggota KTT di tempat percontohan atau demplot dalam tiga bulan terjadi peningkatan bobot badan,” jelas Sudiyono.

Kenaikan bobot itu menjawab persoalan yang dihadapi peternak bahwa produktivitas ternak sapi potong cukup rendah. Salah satu penyebabnya manajemen pakan yang kurang memenuhi persyaratan. (sumber:suaramerdeka.com)

Optimalkan Potensi Genetik Ayam Broiler Tanpa AGP

On 4:54:00 PM

Sumber: shutterstock foto.

Latar Belakang Pemakaian AGP Dilarang Pemerintah?
Isu global mengenai pentinganya “safety and healthy food” produk pangan asal hewani mensyaratkan tersedianya produk pangan bebas dari residu antibiotik, bahan kimia dan hormone, serta bebas dari cemaran kuman yang resisten terhadap antibiotik. Adanya kekhawatiran masyarakat global berkenaan dengan masalah AMR (Anti-Microbial Resistance), membuat Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian mengambil langkah konkret dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 14/2017 berkenaan dengan larangan pemakaian antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (Antibiotic Growth Promoter/AGP) serta membatasi pemakaian antibiotik yang digunakan sebagai produk pendukung untuk program kesehatan guna mencegah infeksi agen penyakit asal bakteri.

Pada era perdagangan bebas saat ini, Indonesia tergolong negara besar dengan lebih dari 260  juta penduduk tentu menjadi pasar potensial untuk produk pangan asal hewani yang diproduksi oleh nagara lain. Sehingga dalam menyikapi isu global terkait dengan problem AMR dan tuntutan global bagi tersedianya pangan asal hewani yang sehat dan aman, maka sebagai negara besar agar tidak hanya menjadi pasar bagi negara lain, mengharuskan Indonesia untuk mampu menjadi produsen sekaligus konsumen dan mampu untuk mengekspor produk pangan asal hewani yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).

Problem Lambat Tumbuh dan Larangan AGP Dijadikan Kambing Hitamnya
Adanya problem pencernaan dan lambat tumbuh yang terjadi belakangan ini pada ayam broiler disinyalir banyak peternak penyebabnya karena adanya larangan AGP pada pakan ayam. Sehingga terkesan adanya gangguan pencernaan, lesi pada gizzard, pakan yang tidak tercerna sempurna dan gangguan pertumbuhan, menjadikan Peraturan Pemerintah tentang larangan pemakaian AGP dijadikan kambing hitam salah satu penyebab kurang optimalnya pertumbuhan ayam broiler yang tidak sesuai potensi genetiknya.

Dari pengamatan yang penulis lakukan langsung di lapangan, setelah dikaji secara mendalam adanya gangguan pencernaan berupa enteritis, gizzard erosion disertai gejala klinis wet dropping, material pakan yang tidak tercerna sempurna, sehingga menyebabkan terjadinya gangguan pertumbuhan broiler, ternyata tidak sepenuhnya disebabkan oleh adanya larangan pemakaian AGP. Adapun beberapa penyebab terjadinya problem pencernaan dan lambat tumbuh pada broiler, lebih disebabkan karena beberapa faktor berikut:

1. Preparat pengganti AGP yang dipakai kurang efektif menjaga integritas sistem pencernaan, tidak optimal mencegah infeksi entero-patogen dengan masih ditemukan tanda-tanda enteritis.
2. Adanya problem gizzard erosion disinyalir penyebabnya karena iritasi mikotoksin jenis T-2 toksin yang mencemari pakan, sehingga menyebabkan pakan yang dikonsumsi oleh ayam tidak tercerna sempurna.
3. Problem wet dropping diduga disebabkan karena cukup tingginya kandungan ANF’s (Anti-Nutritional Factors) dalam sediaan pakan dan juga kondisi usus ayam yang nampak cukup tipis, hal ini karena vili-vili usus tidak berkembang dengan baik untuk menyerap nutrisi pakan dan air.

Dampak Pemakaian AGP pada Pakan Terhadap Kesehatan Pencernaan
Sebelum penulis membahas apa dampak pemakaian antibiotik yang tidak terkontrol sebagai growth promoter, terlebih dahulu penulis sampaikan apa saja penyebab atau pemicu terjadinya resistensi kuman penyakit terhadap antibiotik yang digunakan sebagai growth promoter pada industri peternakan: ...


Drh Wayan Wiryawan
PT Farma SEVAKA NUSANTARA


Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi September 2018.

Empat Perusahaan Raih Sertifikat Pembiakan Sapi Kemitraan Indonesia Australia

On 9:00:00 PM



Penyerahan sertifikat kepada empat perusahaan pembiakan sapi berlangsung di Hotel Raffles, Jakarta. 

Penyerahan sertifikat keberhasilan kepada empat perusahaan pembiakan dan koperasi peternak sapi, menjadi salah satu agenda acara pada Simposium Program Pembiakan Sapi Potong Indonesia dan Australia, Rabu (12/9/218) di Jakarta.

Empat perusahaan tersebut diantaranya PT Buana Karya Bhakti, PT Kalteng Andinipalma Lestari, Sentra Peternakan Rakyat Megajaya, dan PT Bio Nusantara Teknologi.  

Keberhasilan ini menandai pencapaian penting bagi keempat perusahaan ersebut untuk menjadi perusahaan pembiakan sapi yang komersial dan berkelanjutan. Terutama dalam produktivitas ternak, pengendalian biaya dan pengelolaan iklim usaha yang kondusif, setelah lebih dari 18 bulan bekerja sama dengan Program Pembiakan Sapi Komersial Indonesia Australia (Indonesia Australia Commercial Breeding Program/IACCB).

Keempat perusahaan tersebut berbagi data dan pembelajaran sehingga semakin banyak pihak dapat belajar, berinvestasi dan berhasil di sektor ini. Tiga mitra IACCB lain sedang menjalani proses untuk mendapatkan sertifikat keberhasilan yang sama.

“Indonesia mengundang lebih banyak investor untuk berkontribusi dalam pencapaian target Indonesia, demi meningkatkan populasi sapi dan memperluas perdagangan dan investasi ke negara lain,” ungkap Deputi Bidang Kerjasama Penanaman Modal BKPM, Wisnu Wijaya Soedibjo.

Kegiatan Simposium yang diadakan Indonesia Australia Partnership on Food Security in the Red Meat and Cattle Sector (Partnership) dan Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), bekerjasama dengan BKPM ini dihadiri oleh lebih dari 200 orang praktisi dan akademisi di bidang daging merah dan ternak sapi.

Diantaranya termasuk perwakilan industri dan petani seperti PT Lembu Jantan Perkasa, PT Sulung Ranch, dan tujuh perusahaan pembiakan yang telah bermitra dengan IACCB selama 18 bulan terakhir.

Simposium ini bertujuan untuk menyediakan platform bagi para praktisi dan akademisi untuk bertukar pikiran mengenai tantangan dan peluang pembiakan sapi pada skala komersial di Indonesia, untuk berkontribusi positif terhadap ketahanan pangan serta iklim investasi Indonesia.

ISPI sebagai mitra pelaksana simposium sangat mengapresiasi acara ini sebagai ajang untuk mendapatkan masukan dan pembelajaran dari industri peternakan sapi.

“Pembelajaran dan pengalaman dari industri akan memberikan masukan berharga dalam upaya pembiakan sapi dengan skala komersial dan peningkatan populasi sapi di Indonesia,” kata Ir Didiek Purwanto, Sekretaris Jenderal PB ISPI. (NDV)


Simposium Program Pembiakan Sapi Indonesia - Australia

On 5:30:00 PM


Simposium Program Pembiakan Sapi Indonesia - Australia digelar Rabu (12/9/2018) di Jakarta.

Lebih dari 200 praktisi dan akademisi di sektor daging merah dan ternak sapi memenuhi Ballroom A, Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (12/9/2018). Para undangan ini hadir dalam kegiatan Simposium Program Pembiakan Sapi Potong Indonesia dan Australia.

Acara ini diselenggarakan Indonesia Australia Partnership on Food Security in the Red Meat and Cattle Sector (Partnership) dan Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), bekerjasama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia (BKPM).

Deputi Bidang Kerjasama Penanaman Modal BKPM yang juga merupakan Co-Chair Indonesia untuk Partnership, Wisnu Wijaya Soedibjo menyatakan Indonesia sedang berupaya untuk menuju bisnis yang lebih berkelanjutan secara komersial dalam sektor daging merah dan sapi.

“Indonesia memiliki potensi luar biasa di sektor ini, namun investasi domestik dan asing masih perlu ditingkatkan. Kami mengundang para pelaku bisnis, baik dari dalam maupun luar negeri untuk berpartisipasi dan menumbuhkan iklim investasi di Indonesia,” ajak Wisnu.

Berdasarkan data BKPM, investasi dalam negeri di sektor daging merah dan sapi di Indonesia hanya 
sekitar 0,32% dari total investasi domestik pada tahun 2017, sementara investasi asing dalam sub sektor peternakan pada tahun 2016 hanya 0,48% dari total investasi asing.

Allaster Cox,  Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia mengemukakan melalui Partnership, para pengambil keputusan dari Indonesia dan Australia akan meningkatkan produktivitas, keberlanjutan dan daya saing sektor ternak sapi di Indonesia. (NDV)
  

Menangani Gugatan Rp 5 Trilliun

On 11:59:00 AM


Tekanan terhadap Indonesia untuk membuka keran impor produk pertanian dan peternakan tampaknya kian kuat. Setelah Brazil menang di WTO atas gugatan terhadap kebijakan impor daging ayam Indonesia, belum lama ini Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyatakan akan menggugat Indonesia senilai USD 350 juta atau sekitar Rp 5 triliun di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Gugatan ini karena Indonesia dianggap mengabaikan keputusan sidang banding WTO pada November 2017 lalu.

Terhadap gugatan AS ini, Menko Perekonomian, Darmin Nasution, kepada media mengatakan, pemerintah akan mengirim tim untuk melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat. Tim ini akan mengkaji masalah ketidaksepakatan AS terhadap kebijakan Indonesia dalam perdagangan.
Kalau sudah begini yang paling betul adalah tidak sekadar dengan surat. Kita harus kirim tim untuk mengetahui dimana persisnya mereka sepakat, ujar Darmin.

Pemerintah, kata dia, akan meneliti satu-per-satu keberatan AS, sehingga tidak hanya menguntungkan bagi NegaraPaman Sam tersebut.Nanti kita lihat, masuk akal apa enggak. Kalau memang masuk akal ya kita ubah. Wong ini peraturan menteri doang, ucapnya.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Dr Drh I Ketut Diarmita, kepada Infovet mengaku, tidak terlalu khawatir dengan ancaman Pemerintah AS. Ia mengatakan, Indonesia adalah mitra yang baik di mata AS. “Jadi saya yakin AS nantinya akan luwes dalam menghadapi Indonesia,” ujar Dirjen PKH.

Sementara itu, Ketua Umum PB ISPI, Prof Ali Agus, berpandangan, ketika Indonesia sudah menandatangani pakta WTO tentu sudah mempertimbangkan konsekuensinya, yang salah satunya adalah membuka lebih bebas perdagangan antar bangsa. Yang harus diperkuat adalah lobby-lobby diplomasi agar perdagangan antar bangsa seimbang.

Terkait lobby diplomasi ini, beberapa pihak memandang kemampuan diplomasi Indonesia masih perlu ditingkatkan. Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional, Shinta W. Kamdani, mengatakan, Indonesia belum memiliki orang yang memang benar-benar andal untuk menangani hukum perdagangan internasional. Jadi sering kali kita pasrah saja (dengan hasilnya), toh aturan di dalam negeri juga cukup sulit direvisi.

Direktur Pengamanan Perdagangan Kementerian Perdagangan, Pradnyawati, juga menilai kekalahan Indonesia saat bersidang atau mengajukan banding di panel Dispute Settlement Body (DSB), disebabkan oleh kurangnya kapasitas dan kapabilitas RI dalam menangani sengketa dagang di WTO.

Hal senada dikatakan Prof Ade Maman, pakar hukum internasional dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Ia mengatakan, AS punya ratusan lawyer, negosiator serta saksi ahli diberbagai bidang, sementara Pemerintah Indonesia tentu sulit untuk membiayai lawyer Internasional yang tarifnya selangit.

Berdasarkan catatan Bisnis Indonesia, selama 2014-2018 terdapat delapan sengketa dagang melibatkan Indonesia yang berakhir di meja WTO melalui panel DSB. Dari delapan kasus itu, lima diantaranya telah diputuskan dan hanya satu kasus yang dimenangkan oleh Indonesia.

Melihat fakta ini, kita semua perlu lebih cermat lagi di sidang WTO. Jika tidak, kita akan kembali menelan pil pahit, kekalahan di sidang internasional tersebut. Padahal, dampak kekalahan sidang WTO akan berakibat buruk bagi pelaku usaha dalam negeri. Contoh paling baru adalah gugatan AS Rp 5 triliun terhadap Indonesia atas kebijakan Indonesia yang dinilai menghambat masuknya produk pertanian dan peternakan dari Negeri Paman Sam. Masalahnya bukan hanya soal membayar Rp 5 triliun saja, melainkan bagaimana kelak stabilitas usaha perunggasan yang perputarannya diperkirakan lebih Rp 200 triliun. Jika misalkan dengan kemampuan lobby­-nya AS bisa “memaksa” Indonesia untuk menerima paha ayam (chicken leg quarter), hal ini diperkirakan akan membuat usaha perunggasan nasional sangat terganggu.

Untunglah dengan kemampuan negoasiasi pemerintah, hal itu tidak terjadi. Negosiasi dengan Brazil juga berhasil dilakukan Indonesia dengan memperbolehkan masuknya daging sapi dari Brazil, tapi melarang masuknya daging ayam. Ini adalah jalan tengah yang masih bisa diterima pelaku perunggasan.

Semua negara hakekatnya perlu melindungi usaha pertaniannya, karena usaha pertanian bukan hanya sekadar untuk menghidupi petani/peternak, melainkan untuk menjamin ketersediaan pangan. Dalam perdagangan internasional, impor bukanlah kegiatan buruk, namun memperbolehkan impor yang berpotensi menggangu keberlanjutan usaha pertanian haruslah dihindari. Negara manapun selalu berupaya keras untuk mempertahankan serta memajukan usaha pertanian dan peternakannya. Impor dilakukan hanya untuk memajukan usaha pertanian dan peternakan.

Dalam hal ini semua pemangku kepentingan peternakan perlu mengkaji dan member masukkan kepada pemerintah bagaimana sebaiknya bentuk perlindungan kepada usaha peternakan di tengah era keterbukaan dan globalisasi. Hal ini sangat diperlukan, agar dengan pertumbuhan pendapatan masyarakat dan pertumbuhan jumlah penduduk, usaha peternakan semakin berkembang, ikut menikmati pertumbuhan ekonomi dan juga ikut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Adapun terhadap gugatan Rp 5 triliun dari AS dan juga mungkin nantinya ada gugatan dari negara lain, Indonesia perlu memperkuat tim lobby dan negosiator agar bisa meyakinkan negara lain perihal kebijakan yang diambil pemerintah. ***

Editorial Majalah Infovet Edisi September 2018

Artikel Populer