-->

CEVA ANIMAL HEALTH

CEVA ANIMAL HEALTH

Boehringer Ingelheim

Boehringer Ingelheim

SIDO AGUNG FEED

SIDO AGUNG FEED

SCAN APLIKASI ANDROID

SCAN APLIKASI ANDROID

INFOVET EDISI MEI 2022

INFOVET EDISI MEI 2022

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno


Wakil Pemimpin Umum

Drh. Rakhmat Nurijanto, MM


Wakil Pemimpin Redaksi/Pemimpin Usaha
Ir. Darmanung Siswantoro


Redaktur Pelaksana
Ridwan Bayu Seto


Koordinator Peliputan
Nunung Dwi Verawati


Redaksi:
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman S.Pt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh. Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor:
Prof. Dr. Drh. Charles Rangga Tabbu,
Drh. Deddy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh. Ketut T. Sukata, MBA,
Drs. Tony Unandar MS.
Prof. Dr. Drh. CA Nidom MS.


Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Fachrur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi:
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi
Nur Aidah


Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar


Pemasaran

Septiyan NE


Alamat Redaksi
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi: majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran: marketing.infovet@gmail.com

Rekening:
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I. No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke:infovet02@gmail.com

Jumlah Pengunjung

PT. GITA Group

Pengikut

Info Agribisnis Klik Di Sini

alterntif text

TRANSLATE

MENTAN SYL BUKA PELATIHAN PENGENDALIAN PENYAKIT MULUT DAN KUKU

On Mei 12, 2022

Mentan SYL membuka Pelatihan Pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku

Pembukaan sekaligus hari pertama kegiatan Pelatihan Pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) berlangsung lancar. Secara virtual, pelatihan yang diselenggarakan selama tiga hari, pada 12-14 Mei 2022 ini dibuka oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL).

Dalam sambutannya, SYL sangat mengapresiasi langkah Pusat Pelatihan Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara dalam mempersiapkan pelatihan secara matang.

SYL berharap pelatihan ini dapat menambah wawasan para peserta yang men gikuti diantaranya para paramedik, petugas teknis, dan penyuluh peternakan se-provinsi Indonesia.

“Pelatihan ini memanggil rasa nasionalisme serta empati kita semua. Saya berharap seluruhnya yang ada di jajaran Kementan harus sigap dalam menyikapi wabah PMK, karena jika tidak cepat diatasi masyarakat panik dan bahkan tata niaga jatuh sebab terjadi panic selling atau peternak menjual ternak-ternaknya,” terang SYL melalui video conference.

Lanjutnya, SYL yakin wabah PMK ini bisa diatasi. Penanganan PMK terus dilakukan secara maksimal. Kementan telah melakukan beberapa langkah penanganan seperti mendistribusikan obat, penyuntikan vitamin, pemberian antibiotik, dan penguatan imun.

Kementan terus bekerja melakukan riset dan uji lab untuk menemukan vaksin dalam negeri. SYL mengatakan, pihaknya telah menemukan stereotip yang ada dan akan menghadirkan vaksin dalam waktu singkat.

“Saya minta Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam satu minggu ke depan untuk melakukan pengadaan vaksin dan akan kita kembangkan melalui Pusvetma,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama Dr drh Nuryani Zainuddin MSi selaku Direktur Kesehatan Hewan memaparkan beberapa agenda dalam penanganan wabah PMK di Indonesia. Sesuai dengan Menteri Pertanian, upaya yang dilakukan dengan mencanangkan tiga agenda berikut:

  1. Pengendalian SOS
    • Penetapan wabah oleh menteri pertanian (senin, 9 mei 2022) sbg kewajiban kita jg melakukan notifikasi ke OIE
    • Pemusnahan terbatas ternak yang terkonfirmwsi positif PMK
    • Penetapan penutupan (lockdown) zona wabah pada tingkat kecamaatan/kabupaten di setiap wilayah dengan radius 3-10 km dari wilayah terdampak PMK
    • Penutupan pengeluaran ternak dari Pulau Jawa dan pembatasan pemasukan ternak ke Pulau Jawa
    • Pembentukan gugus tugas tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota
    • Sosialisasi dan edukasi masyarakat terkait SOP Pencegahan dan pengendalian PMK
    • Menyiapkan vaksin PMK secara darurat, obat-obatan, disinfektan, APD
    • Memberikan multivitamin untuk penguat dan antibiotik untuk mencegah infeksi bakteri
    • Melakukan pembatasan, pengetatan, sampai penutupan lalu lintas ternak, pasar hewan dan rumah potong hewan, serta masuknya ternak hidup di wilayah perbatasan negara belum bebas PMK
    • Penghentian sementara pelayanan inseminasi buatan dan pemeriksaan kebuntingan di daerah wabah PMK
  2. Pengendalian Temporary
    • Pengadaan vaksin
    • Vaksinasi darurat
    • Pembatasan lalu lintas hewan dan produk hewan
  3. Pengendalian Permanent
    • Pembuatan vaksin oleh Pusvetma
    • Vaksinasi massal
    • Surveilans secara rutin

LANJUTAN KONFERENSI USSEC MENGENAI NUTRISI DAN PAKAN UNGGAS

On Mei 12, 2022

Diskusi panel antara narasumber dengan peserta. (Foto: Dok. Infovet)

Kamis (12/5/2022), USSEC hybrid eventBroiler Nutrition and Feed Technology Conference” kembali dilanjutkan secara live di Menara 165 Jakarta dan daring yang difasilitasi GITA Event Organizer (EO).

Pada sesi pertama konferensi menghadirkan pembicara dari Auburn University US, Wilmer Pacheco, yang memberikan dua materi sekaligus diantaranya mengenai Particel Size for Feeding Broiler dan Hygiene in Feed Production.

Dalam pemaparannya, Wilmer merekomendasikan ukuran partikel untuk pakan starter 0,9-1,0 mm, serta pakan grower dan finisher sebesar 1,2 mm. “Sebab ukuran partikel dapat memengaruhi FCR dan luas permukaan pakan turut berpengaruh terhadap kecernaan dan efisiensi pakan,” jelasnya.

Dia pun juga menjelaskan tentang pentingnya kebersihan produksi pakan untuk mengontrol mikroba yang merugikan. “Dengan cara disain feedmill yang baik, kontrol kualitas dari bahan, kontrol burung dan hewan pengerat, kontrol kepadatan, sanitasi peralatan dan penyimpanan dalam pabrik dan kandang,” kata Wilmer.

Adapun pembicara lainnya yakni Poultry Nutrition Specialist Aviagen, Ruben Kriseldi, yang membahas mengenai Interactive Effects of Branched-chain Amino Acids in Broiler Production. Ia menekankan, asam amino bercabang mempunyai peranan penting karena berfungsi dalam sintesis protein tubuh, pertumbuhan bulu dan tulang, juga transpor glukosa serta metabolisme lemak.

Diskusi panel antara narasumber dengan peserta. (Foto: Dok. Infovet)

Sementara pada sesi kedua, turut ditampilkan narasumber President RO Feed Association, Iani Adrian Chihaia, yang mengupas informasi mengenai Formulating Feed for Poultry: Ecomonic and Enviromental Objective, dilanjutkan pemaparan Technical Service Manager Evonik, Richad Lim, mengenai Improving and Maintaining a Healthy Poultry Gut in the AGP Free Era dan Senior Technical Advisor USSEC, Richard Han, soal Overview Broiler Production in China.

Disetiap penghujung sesi presentasi digelar diskusi panel antara narasumber dengan peserta yang terlihat antusias. Konferensi hari terakhir ini pun dihadiri oleh lebih dari 100 orang peserta. (RBS)

MENTAN SYL : DAGING SAPI TERINFEKSI PMK BISA DIKONSUMSI KECUALI INI

On Mei 12, 2022

Mentan SYL meninjau feedlot

Hasil riset yang dilakukan pemerintah pusat mengenai penyakit yang melanda hewan ternak sapi ini dikatakan masih aman dan tidak jangkit pada manusia.  Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan daging hewan yang terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku, masih bisa dikonsumsi secara layak oleh masyarakat, asalkan pada bagian tubuh hewan tersebut tidak terjangkit virus yang terlihat dari perubahan warna.

"Yang tidak boleh hanya pada bagian-bagian tertentu yang terkena PMK. Misalnya organ organ tertentu, misalnya kaki, ya, tentu saja harus diamputasi dulu," ujar Yasin saat mengerikan keterangan mengenai virus PMK  lobby gedung A Kementerian Pertanian RI, Jakarta Selatan, Rabu 11 Mei 2022.

Hasil penelitian juga mengatakan virus tersebut ada di bagian organ dalam hewan yang biasa disebut dengan jeroan, masyarakat dalam hal ini juga diimbau oleh Limpo untuk tidak mengkonsumsi jeroan.

"Cuma itu yang memang tidak direkomendasi, tapi yang lain masih bisa direkomendasi. Dagingnya pun masih bisa dimakan, kecuali ya beberapa teknis," ujarnya.

Penyembelihan hewan ternak yang terjangkit penyakit tersebut juga berada di dalam pengawakan ketat kementerian pusat, pihak Kemenkes bahkan menerjunkan tim medisnya ke lokasi rumah pemotongan hewan guna memberitahui masyarakat, bagian mana saja yang bisa dan layak di konsumsi

Limpo juga mengatakan beberapa bagian tubuh hewan yang tidak bisa di konsumsi lantaran terpapar virus tersebut yakni jeroan, mulut, bibir, lidah, dan kaki.

"Selebihnya, masih bisa dikonsumsi oleh manusia" ujar dia. 

Limpo juga jelaskan bahwa hewan ternak yang masih ada dan bertahan hidup di sekitar lokasi wabah virus PMK tersebut akan segera diberikan vaksin, Kementerian Pertanian itu sendiri juga akan membuat vaksin langsung.

"Vaksin yang akan kita pakai adalah vaksin nasional. Tapi, vaksin ini membutuhkan waktu," ujarnya. (INF)




MALINDO MERAMBAH BISNIS AYAM GORENG

On Mei 12, 2022

Seremoni opening resto Sunny’chick Fatmawati Jakarta. (Foto: Istimewa)

PT Malindo Feedmill Tbk melalui anak perusahaan PT Malindo Food Delight telah menambah bisnis baru, yaitu di bidang restoran ayam goreng dengan mendirikan resto Sunny’chick, yang dimulai dengan store pertamanya di Tambun Bekasi, Jawa Barat, pada November 2021.

Saat ini resto Sunny’chick sudah tersebar di berbagai lokasi di Jabodetabek dan Karawang. Direktur PT Malindo Feedmill Tbk, Lau Joo Hwa, dalam opening resto Sunny’chick Fatmawati Jakarta, Selasa (10/5), mengatakan bahwa bisnis ayam goreng Sunny’chick merupakan salah satu strategi Malindo dalam memperkuat posisinya di sektor hilir, disamping strategi lainnya seperti memperkuat pasar dipenjualan makanan olahan.

“Pilihan membuka bisnis ayam goreng karena makanan tersebut disukai oleh semua lapisan masyarakat dan dapat dibeli dengan harga terjangkau,” kata Lau melalui keterangan tertulisnya.

Ia menambahkan, “Dengan demikian diharapkan semua masyarakat Indonesia dapat menikmati ayam goreng yang enak, sehat, halal, bergizi dan pas di kantong mereka.”

Ayam goreng Sunny’ Chick memiliki cita rasa istimewa dengan berbagai pilihan menu, seperti crispy fried chicken yang tersedia dalam rasa original dan pedas dengan tambahan saus dan sambal geprek yang menggugah selera. Adapun menu lainnya yakni ayam bakar Sunny’chick. Ini menjadi menu andalan, dimana crispy fried chicken dibakar dan dioles saus rasa pedas atau barbeku. (INF)

USSEC GELAR KONFERENSI SOAL NUTRISI DAN PAKAN UNGGAS BERSAMA GITA EO

On Mei 11, 2022

Broiler Nutrition and Feed Technology Conference yang berlangsung secara hybrid. (Foto: Dok. Infovet)

US Soybean Export Council (USSEC) difasilitasi oleh GITA Event Organizer (EO) menyelenggarakan “Broiler Nutrition and Feed Technology Conference” pada 11-12 Mei 2022, yang berlangsung secara hybrid di Menara 165 Jakarta dan daring.

Pada hari pertama, konferensi dihadiri lebih dari 150 orang dengan menampilkan enam pembicara yang andal di bidangnya. Dipandu oleh Country Director Indonesia USSEC, Ibnu Edy Wiyono, acara diawali dengan pemberian sambutan dari Agicultural Consellor FAS U.S Embassy Jakarta Indonesia, Rey Santella.

“Kita sangat mendukung kegiatan konferensi ini, khususnya mengenai nutrisi dan teknologi pakan untuk unggas. Semoga konferensi ini memberi banyak informasi bagi semua,” kata Rey.

Kegiatan yang dimulai pukul 08:00 WIB dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama pemaparan diawali oleh Regional Director USSEC SEA & Oceania, Timothy Loh, yang membahas mengenai US Soy Sustainability and Sustainable Sourcing. Dilanjutkan oleh Nutrisionist Cobb Asia Pasific, Suttisak Boonyoung, dengan materi Broiler Nutrition Past and Current.

Kemudian dari Auburn University US, Wilmer Pacheco, yang membawakan materi Critical of Early Feeding on Broiler dan Senior Technical Service Manager Animal Nutrition Evonik (SEA) Pte. Ltd, Mubarak Ali, mengenai Digitalization Next Stage of Optimization in Broiler Production.

Pada sesi kedua, President RO Feed Association, Iani Adrian Chihaia, menjadi narasumber berikutnya yang membawakan materi Soy Industry 4.0 in Europe: Value Added Soy Products. Dilanjutkan dengan penampilan Technical Consultant Animal Nutrition USSEC Indonesia, Budi Tangendjaja perihal In Line Quality Control in Feed Manufacturing dan Suttisak Boonyoung mengenai Fiber in Broiler Nutrition and Health.

Pada tiap akhir sesi diadakan tanya jawab yang berjalan sangat dinamis. Kegiatan konferensi ini masih berlanjut pada Kamis (12/5/2022), dengan narasumber lainnya. (RBS)

KETUA GKSI IMBAU PETERNAK TIDAK LAKUKAN PANIC SELLING

On Mei 11, 2022

Gubernur Khofifah meninjau pengobatan Hewan Ternak Sapi milik H. Bakri di Dusun Wates, Desa Kedungpring, Kec. Balongpanggang, Sabtu (7/5/2022). Foto: https://kominfo.jatimprov.go.id/berita/gerak-cepat-gubernur-khofifah-kawal-langsung-pengobatan-hewan-ternak-yang-terinfeksi-penyakit-mulut-dan-kuku-di-gresik

Ketua Umum Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Daerah Jawa Barat, DedI Setiadi melalui keterangan resminya mengimbau para peternak sapi untuk tidak melakukan pannic selling. Dia juga menyatakan produk peternakan asal sapi berupa susu dan daging secara klinis dinyatakan tidak berbahaya dikonsumsi masyarakat, dikarenakan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) bukan penyakit Zoonosis.

“Kami mengimbau kepada peternak agar tidak melakukan "panic selling" yaitu menjual ternaknya secara tergesa-gesa. Kepada masyarakat umum agar tidak khawatir untuk mengonsumsi produk-produk peternakan asal sapi (susu dan daging),” terang Dedi, dikutip dari siaran pers yang diterima Infovet, Rabu (11/5). 

Imbauan tersebut telah disepakati berdasarkan hasil rapat koordinasi seluruh anggota Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Daerah Jawa Barat, Industri Pengolahan Susu (IPS), Ikatan Dokter Hewan Sapi Indonesia (IDHSI), Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat, Komite Pemulihan Ekonomi Jabar (KPED) Div Pertanian dan Ketahanan Pangan. Rapat koordinasi diselenggarakan pada Selasa tanggal 10 Mei 2022 di kantor GKSI Jawa Barat, Jalan Rumah Sakit No 114 Bandung.

Lebih lanjut dijelaskan, berkenaan dengan terjadinya outbreak PMK di Jawa Timur yang telah menyerang 1.247 ekor sapi (sumber: Surat Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur Nomor: 524.3/5201/122.3/2022), dan berdampak luas terhadap perekonomian regional maupun nasional. Mengingat PMK bersifat airborne disease dan penyebarannya sangat cepat, maka peternak sapi perah dibawah naungan GKSI dan peserta rapat lainnya, menyikapi sebagai berikut:

  1. GKSI dan segenap jajaran akan membuat SOP dan satgas PMK di tingkat peternak, kelompok, koperasi dan di tingkat GKSI dengan tujuan menghindari simpang siurnya pemberitaan mengenai dampak negatif yang tengah berkembang saat ini.
  2. Melakukan pemetaan dan identifikasi ternak dan wilayah yang tertular, terduga dan bebas PMK di wilayah Jawa Barat.
  3. Untuk meghindari terjadinya lalu lintas sapi yang tidak terkendali diperlukan keterlibatan lintas dinas, instansi terkait, dengan diterbitkannya kebijakan untuk tidak memasukkan ternak baru, terlebih dari wilayah termasuk zona terduga dan tertular wabah.
  4. Melakukan sosialisasi dan edukasi mengenai PMK dan dampaknya secara masif kepada peternak dan masyarakat umum dengan melibatkan berbagai pihak terkait.
  5. Dalam rangka eradikasi di wilayah tertular, diperlukan dana tanggap darurat yang berasal dari pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pihak lain yang tidak mengikat, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  6. Produk peternakan asal sapi berupa susu dan daging secara klinis dinyatakan tidak berbahaya dikonsumsi oleh masyarakat, dikarenakan PMK bukan penyakit Zoonosis. Apabila terdapat keraguan bagi masyarakat, maka dapat menghubungi Direktorat P2HP Kementerian Pertanian (Jl Harsono RM No 3, Ragunan, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta) dan atau DKPP Provinsi Jawa Barat (Whatsapp: 082324252815 atau 0895337189496).

(INF) 

KETUM PB PDHI: SEGERA LAKUKAN VAKSINASI UNTUK MENCEGAH PMK

On Mei 10, 2022

Vaksinasi untuk mencegah penyebaran PMK. (Foto: Istimewa)

Menyikapi mewabahnya kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), Drh M. Munawaroh, menegaskan untuk segera melakukan tindakan pencegahan melalui vaksinasi agar virus tidak meluas.

"PMK ini virus, tidak ada obatnya. Bisa dilakukan pencegahan dengan vaksinasi. Ini tidak jauh beda dengan COVID-19. Dengan adanya vaksin akan memudahkan pencegahan," kata Munawaroh ketika menjadi narasumber dalam program Primetime News di Metro TV, Selasa (10/5/2022).

Ia mengimbau, apabila vaksinasi dalam negeri kurang atau tidak mencukupi, bisa dilakukan impor vaksin agar kejadian PMK tidak semakin menyebar ke wilayah  lain di Indonesia. Diketahui PMK merebak di Jawa Timur dan Aceh.

Disebutkan merebaknya penyakit PMK tak luput dari lalainya impor ternak maupun daging dari negara yang belum bebas PMK seperti India maupun Brasil, melalui PP No. 4/2016 tentang Pemasukan Ternak dan/atau Produk Hewan Dalam Hal Tertentu yang Berasal dari Negara atau Zona Dalam Suatu Negara Asal Pemasukan.

"Kita sudah pernah beri masukan soal impor sapi atau daging dari negara yang belum bebas PMK. Aturan itu perlu ditinjau ulang. Ini menjadi kecerobohan kita. Karena untuk bebas dari PMK tidak mudah dan membutuhkan biaya," ucap Munawaroh. Hal ini menjadi keprihatinan mengingat Indonesia sudah bebas PMK sejak 1986 silam.

Kendati demikian tegas Munawaroh, masyarakat diimbau tak perlu risau untuk mengonsumsi daging sapi maupun ternak ruminansia lainnya. Karena PMK bukan merupakan penyakit zoonosis.

"Saya tegaskan PMK tidak menular kepada manusia, sehingga tidak perlu takut mengonsumsi daging sapi, asal daging tersebut benar-benar dimasak dengan matang," pungkasnya. (RBS)

HIMBAUAN PPSKI KEPADA PEMERINTAH DALAM PENANGANAN WABAH PMK DI INDONESIA

On Mei 10, 2022

Ilustrasi

Terkait wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang sedang terjadi di Indonesia, PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia) melalui press release menghimbau pemerintah agar:

  1. Stop lalu lintas ternak antar kabupaten/kota.
  2. Stop lalu lintas produk-produk pertanian mentah maupun olahan.
  3. Pengawasan transportasi ketat, yaitu terutama kendaraan dan manusia yang akan keluar dari daerah wabah.
  4. Tutup pasar hewan di daerah wabah.
  5. Bentuk segera pos-pos pemeriksaan untuk lalu lintas hewan ternak, dan produk-produk pertanian mentah ataupun olahan.
  6. Segera dilakukan biosurveillance serempak pada semua hewan ternak yang mungkin dapat tertular PMK, termasuk hewan-hewan liar dan juga yang ada di kebun-kebun binatang.
  7. Harus dapat diisolasi FMD Virus, ditentukan serotype-nya, dilakukan sequencing dan phylogenetic.
  8. Berdasarkan butir 7 tersebut, maka vaksinasi dan ring vaksinasi dengan seed FMDV yang sesuai dengan isolat FMDV yang bersirkulasi di lapangan harus segera dilakukan.
  9. Dilakukan disinfektansia dengan pH asam (pH dibawah 4) atau pH basa (pH diatas 11) di daerah dan di luar sekitar wabah (ring disinfektansia), dibuat eco friendly.
  10. Pejabat Deptan/drh/siapa saja yang ikut rapat dan dalam rapat-rapat tersebut sebelumnya (mungkin jika ada) yang merekomendasikan kepada pemerintah untuk dapat secara resmi mengimpor daging dari wilayah/negara endemik (juga termasuk dari wilayah/negara yang bebas FMDV dengan cara vaksinasi) perlu dipanggil dan dimintai pertanggungan jawabnya (berkaca dan belajar dari kasus Bank Century). Hal tersebut sangat perlu dilakukan demi penuntasan kasus FMDV dan pembelajaran demi masa depan pertanian yang optimal.
  11. Stop impor daging India.

(INF/Rilis)

PANDUAN PPSKI BAGI PETERNAK DALAM PENANGANAN WABAH PMK DI INDONESIA

On Mei 10, 2022

Foto: ilustrasi/pixabay

Terkait dengan terkonfirmasinya beberapa wilayah di Indonesia terserang wabah Penyakit Mulut dan Kuku/PMK atau Foot and Mouth Disease/FMD yang merupakan penyakit hewan yang sangat menular dan menyerang hewan berkuku belah/Artiodactyla seperti: Sapi, Kerbau, Kambing, Domba dan Babi.

Bersama ini PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia) menghimbau agar seluruh Peternak Sapi/Kerbau untuk tidak panik dan melakukan langkah-langkah pencegahan serta pengendalian dengan meningkatkan biosecurity di peternakan sebagai berikut:

  1. Tidak memasukkan ternak baru terutama dari daerah wabah.
  2. Tidak mengunjungi peternakan lain terutama peternakan-peternakan di daerah wabah.
  3. Membatasi lalu lintas orang yang keluar masuk lokasi kandang.
  4. Tempat pakan dan minum tidak bercampur.
  5. Penyemprotan kandang, kendaraan, peralatan dan perlengkapan kerja dengan desinfektan yang efektif.
  6. Tidak melakukan panic selling karena tingkat kematian pada hewan dewasa relatif rendah (1–5%), tetapi pada sapi, domba, dan babi berusia muda cukup tinggi (hingga 20%).
  7. Tingkatkan imunitas ternak dengan memperbaiki pakan dan terapi suportif seperti vitamin dan mineral agar ternak mampu melawan virus PMK.
  8. PMK bukan merupakan penyakit zoonosis/menular dari hewan dan manusia namun sangat mudah menular ke sesama hewan. Partikel virus ditemukan pada udara yang dihembuskan hewan terinfeksi, air liur, air susu, urin, tinja, semen, cairan dari vesikel, hingga cairan amnion dari janin domba teraborsi. Virus PMK dapat masuk ke tubuh hewan peka melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi (terutama melalui aerosol) dan dengan benda-benda terkontaminasi (seperti pakaian, sepatu, dan kendaraan).
  9. Segera melaporkan jika ada ternak yang menunjukkan gejala klinis mengarah pada PMK pada petugas peternakan setempat. Ciri khas penyakit ini adalah munculnya lepuh (vesikel) dan/atau erosi kulit di bagian hidung, lidah, bibir, di dalam rongga mulut (baik di gusi maupun pipi bagian dalam), di sela kuku, dan di puting. Tanda klinis lain yang sering ditemukan yakni demam (sekitar 40 °C), depresi, hipersalivasi (keluarnya air liur secara berlebihan), penurunan nafsu makan, berat badan, dan produksi susu, serta hambatan pertumbuhan.

(INF/Rilis)

AMANKAH MENGONSUMSI PRODUK PETERNAKAN YANG TERINFEKSI PMK?

On Mei 10, 2022

Talkshow PMK : memberikan edukasi kepada masyarakat


Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) atau Foot and Mouth Disease (FMD) baru - baru ini kembali muncul di Indonesia. Setelahada pernyataan resmi dari pemerintah terkait mewabahnya PMK di Provinsi Jawa Timur, semua stakeholder sudah mempersiapkan diri menghadapinya. 

Selain aspek kesehatan hewan, aspek kesehatan masyarakat tentunya juga tidak bisa dilepaskan begitu saja. Untuk memberikan info kepada masyarakat terkait penyakit PMK dan hubungannya dengan aspek keamanan pangan dan kesehatan masyarakat digelarlah acara talkshow "dadakan" pada Senin (9/5) yang lalu.

Penggagas acara tersebut yakni Drh Deddy F. Kurniawan selaku CEO Dairy Pro, narasumber yang dihadirkan dalam acara tersebut yakni Staff Pengajar sekaligus ahli Kesehatan Masyarakat Veteriner IPB University Drh Denny Widaya Lukman. Acara tersebut dihelat melalui kanal youtube Dairy Pro TV.

Drh Deddy mengatakan bahwa kegaduhan akibat wabah PMK yang juga datang mendadak ini menjadi semakin serius karena dalam waktu dekat umat islam di seluruh dunia juga akan merayakan hari raya Idul Adha. Dikhawatirkan dengan adanya isu ini masyarakat jadi ogah mengonsumsi daging ruminansia karena termakan hoax. 

Lalu kemudian Drh Deddy secara historis menceritakan perjalanan penyakit PMK dari masa ke masa beserta tindakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia dalam mengeliminir PMK. 

"1887 PMK ini mulai meledak di Malang lalu menyebar ke Kalimantan dan Sulawesi, pada tahun 1974 diadakan vaksinasi massal sampai 1982 tidak ada wabah, seolah - olah menghilang namun ternyata muncul lagi 1983 di Semarang dan menyebar kemana - mana. Pemerintah kemudian melakukan upaya lagi sampai kemudian di tahun 1986 Indonesia menyatakan diri bebas PMK, lalu di tahun 1987 diakui oleh ASEAN, dan 1990 diakui oleh OIE," tutur Drh Deddy.

Dan kini tahun 2022 PMK kembali "bangkit dari kubur" dan siap meneror industri peternakan negara ini, dimana bagi sebagian orang tentunya PMK adalah sesuatu yang baru, meskipun nyatanya bukan. Namun begitu dampak ekonomi dari penyakit ini dirasa akan sangat hebat mengingat waktunya yang juga dadakan (menjelang Idul Adha).

Drh Denny Widaya Lukman sendiri mengatakan bahwa banyak beredar di media sosial hoax yang mengatakan bahwa mengonsumsi produk hewani asal hewan yang terinfeksi PMK dapat menularkan PMK ke manusia.

"Ini hoax, PMK ini tidak tergolong zoonosis dan dapat menulari manusia, tetapi yang saya tekankan, perilaku manusia justru dapat menyebarkan virus PMK kepada hewan lain," tutur Denny.

Ia memberi contoh misalnya pedagang daging sapi atau soto yang membeli daging atau jeroan dari hewan terinfeksi PMK. Kemudian sebelum memasak mereka mencuci daging atau jeroan tersebut, lalu kemudian limbahnya masuk ke sungai atau sumber air bagi ternak yang peka, jika terkonsumsi akan menyebabkan infeksi pada hewan tersebut. 

Denny juga menjawab berbagai pertanyaan dan membagikan tips kepada para penanya yang hadir. Mulai dari teknik penanganan produk, prosedur penyembelihan di RPH, serta upaya dan tindakan yang harus dilakukan dalam mencegah penyebarluasan PMK. (CR)


DARURAT PENYAKIT MULUT DAN KUKU DI JAWA TIMUR

On Mei 08, 2022

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) mewabah di Jawa Timur. (Foto: Istimewa)

Menyikapi kejadian munculnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Gresik, Sidoarjo, Mojokerto dan Lamongan, Kementerian Pertanian (Kementan) lakukan upaya pencegahan penyebaran dan tracing PMK.

“Dua Laboratorium utama kita, Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates dan Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya sebagai laboratorium rujukan PMK telah melakukan tracing. Saat ini kita koordinasi dengan Pemerintah Daerah Jawa Timur untuk melakukan lockdown zona wabah,” kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (7/5/2022).

Ia menjelaskan, awalnya kasus ini diketahui setelah hasil pemeriksaan PCR menunjukkan positif PMK dan pihaknya telah melakukan rapat koordinasi bersama Gubernur Jawa Timur dan empat Bupati wilayah kasus PMK.

Adapun langkah darurat yang disiapkan untuk penanganan sebagai berikut:

1. Penetapan wabah oleh Menteri Pertanian berdasarkan surat dari Gubernur dan rekomendasi dari otoritas veteriner nasional sesuai dgn PP No. 47/2014.

2. Pendataan harian jumlah populasi positif PMK.

3. Pemusnahan ternak positif PMK secara terbatas.

4. Penetapan lockdown zona wabah tingkat desa/kecamatan di setiap wilayah dengan radius 3-10 km dari wilayah terdampak wabah.

5. Melakukan pembatasan dan pengetatan pengawasan lalu lintas ternak, pasar hewan dan rumah potong hewan.

6. Melakukan edukasi kepada peternak terkait SOP pengendalian dan pencegahan PMK.

7. Menyiapkan vaksin PMK.

8. Pembentukan gugus tugas tingkat provinsi dan kabupaten.

9. Pengawasan ketat masuknya ternak hidup di wilayah-wilayah perbatasan dengan negara tetangga yang belum bebas PMK oleh Badan Karantina Pertanian.

"Sejak Jumat (6/5/2022), tim pusat dan daerah sudah bekerja di lapangan. Harapannya dapat melokalisir zona penyakit dan tidak menyebar ke wilayah sentra sapi lainnya," ucap Nasrullah.

“Masyarakat kita mohon bantuan dan kerja sama untuk tidak memindahkan atau memperjualbelikan sapi dari daerah wabah ke daerah yang masih bebas. Kita tangani bersama dan lokalisir wilayahnya." (INF)

AGAR AYAM TETAP KEBAL

On April 28, 2022

Kebengkakan bursa fabricius akibat Gumboro. (Sumber: Istimewa)

Memiliki ayam yang “kebal” 100% memang tidaklah mungkin, namun begitu masih banyak cara untuk mengoptimalkan performa sistem kekebalan ayam. Selain itu perlu juga diwaspadai penyebab ayam menjadi “kurang kebal”.

Mewaspadai Penyakit Infeksius Penyebab Imunosupresi
Imunosupresi didefinisikan sebagai kondisi dimana terjadi penurunan reaksi pembentukan zat kebal tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid. Organ limfoid yang ada pada tubuh ayam dibagi menjadi organ primer (sentral) dan sekunder (tepi).

Terdapat banyak faktor yang dapat menimbulkan kondisi imunosupresi, salah satunya adalah agen penyakit yang memiliki predileksi pada organ-organ pembentuk kekebalan seperti limpa, bursa fabricius, seka tonsil, timus dan kelenjar harderian. Organ-organ ini merupakan penghasil sel B dan sel T yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Hal tersebut disampaikan oleh Dr Guillermo Zavala dari Poultry Diagnostic and Research Center University of Georgia.

Penyakit imunosupresi yang umum ditemui pada ayam antara lain adalah Marek’s (MD), Chicken Anemia Virus (CAV), Infectious Bursal Diseases (IBD) dan lain sebagainya. Penyakit Marek disebabkan oleh Herpesvirus yang menyerang sel B pada bursa fabricius dan menyebabkan sel B kehilangan kemampuannya untuk menghasilkan antibodi. Virus ini juga menginfeksi sel T, menyebabkan terhambatnya produksi sel T pembantu dan sel T sitotoksik dengan proses replikasi yang lambat (laten) dan secara perlahan akan merubah sel T menjadi sel tumor. Secara bersamaan, Marek’s juga menginvasi saraf perifer sehingga menyebabkan terjadinya paralisis.

Terganggunya fungsi sel B dan sel T inilah yang memunculkan kondisi imunosupresi. Hal yang sama terjadi dengan virus IBD, dimana virus ini menginfeksi immature sel B terutama pada bursa fabricius dan organ-organ penghasil sel B lainnya seperti limpa, kelenjar harderian, gut associated limfoid tissue dan respiratory associated limfoid tissue.

Sel B yang belum matang banyak terdapat pada ayam muda yang bursanya baru berkembang, sehingga menyebabkan… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2022. (CR)

PRODUK ALTERNATIF AGP: MEMAHAMI JEJAK IMUNOMODULASI

On April 27, 2022


Oleh: Tony Unandar
Anggota Dewan Pakar ASOHI - Jakarta

Pasca pakan tanpa antibiotic growth promoter (AGP), genderang perang terhadap mikroba (bakteri) dalam industri ayam modern mempunyai skala prioritas yang sangat tinggi, baik secara lokal maupun universal. Selain untuk tetap mengoptimalkan potensi genetik ayam, juga untuk kepastian keamanan pangannya. Tulisan ini mencoba menyoroti peranan komponen pakan yang bersifat nutritif maupun non-nutritif beserta interaksi positif yang ditimbulkannya dalam rangka menjaga atau mendukung sistem imunitas ayam agar tetap mentereng.

Sekilas Respon Imunitas Ayam
Sistem imunitas non-spesifik (innate immunity) adalah garis pertahanan pertama suatu makhluk (termasuk ayam) dalam rangka menahan laju invasi mikroorganisme patogen yang menerpanya. Komponen sistem ini berhadapan secara langsung dengan patogen yang menyerang (Medzhitov, 2017).

Pada tataran seluler, respon imunitas non-spesifik difasilitasi oleh sel-sel epitelium selaput lendir dan sel-sel fagosit (sub populasi sel darah putih) baik yang bermukim pada tingkat jaringan tubuh ataupun yang direkrut dari sistem peredaran darah, yakni granulosit (heterofil, asidofil, basofil), monosit dan makrofag.

Pada tataran molekuler, sel-sel dalam innate immunity mendeteksi keberadaan mikroba atau patogen via Pattern Recognition Receptors (PRRs) yang mampu mengenali molekul penciri dari suatu sel pathogen yang berupa suatu senyawa protein, lemak atau asam nukleat, yang selanjutnya disebut sebagai Microbe/Pathogen-Associated Molecular Patterns atau MAMPs/PAMPs (Kumar et al., 2011; Medzhitov, 2017). PRRs juga mampu mengenali banyak molekul penciri yang dihasilkan induk semang yang mengindikasikan adanya serangan patogen ataupun kerusakan sel-sel induk semang.

Patogen via PRRs mampu menginduksi atau mengaktivasi sel-sel dalam innate immunity untuk menghasilkan serta mengekskresikan sejumlah sitokin ataupun molekul mediator radang. Molekul mediator radang ini selanjutnya dapat merekrut dan mengaktivasi sel-sel imunitas lain untuk berada di sekitar infeksi dan menginduksi secara sistemik terkait keberadaan patogen dalam bentuk demam. Patogen via PRRs juga menstimulasi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2022. (toe)

JELANG IDULFITRI KEMENTAN BERSAMA PEMDA NTB GELAR PASAR TANI

On April 26, 2022

Gelar Pasar Tani di NTB untuk membantu kebutuhan masyarakat jelang Lebaran. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Nusa Tenggara Barat (NTB), menyelanggarakan Gelar Pasar Tani untuk memastikan masyarakat dapat mengakses kebutuhan bahan pangan pokok dengan harga terjangkau khususnya menjelang Hari Raya Idulfitri 1443 H.

Pasar Tani digelar 26-28 April 2022 di lapangan Karang Pule, Kecamatan Sekarbela, Mataram NTB. Bahan pangan pokok yang dijual diantaranta beras, jagung, kedelai, telur dan daging ayam, daging sapi, cabai rawit, cabai merah, bawang merah, bawang putih, minyak goreng dan gula pasir.

Pada kesempatan tersebut, Direktur Pengolahan Pemasaran Hasil Peternakan, Kementerian Pertanian, Tri Melasari, menyampaikan Gelar Pasar Tani merupakan bukti pemerintah hadir.

"Dengan memastikan bahan pangan pokok tersedia dan mudah diakses masyarakat dengan harga terjangkau." ungkap Melasari dalam siaran persnya ketika mengunjungi Pasar Tani di NTB, Selasa (26/4/2022).

Ia mengemukakan, penyelenggaraan Gelar Pasar Tani merupakan arahan langsung Menteri Pertanian, dimana semua jajaran Kementan diminta menyelenggarakan secara serentak di 34 Provinsi di seluruh Indonesia.

Sementara, Gubernur Provinsi NTB, Zulkieflimansyah, menyampaikan Gelar Pasar Tani merupakan cerminan keberhasilan sinergi dan kolaborasi program Nasional dan Daerah di Provinsi NTB.

“Saya ucapkan terima kasih kepada Menteri Pertanian karena dengan program-program unggulannya di bidang pertanian, ketersediaan bahan pangan pokok di NTB tercukupi dan aman,” tutur Zulkieflimansyah.

Ia mengungkapkan, kegiatan tersebur sangat membantu mengenalkan petani daerah, sehingga mampu secara langsung memasarkan produknya kepada masyarakat.

Gelar Pasar Tani di NTB disambut antusias masyarakat sekitar karena terbukti harga bahan pangan pokok yang dijual lebih murah dari harga pasar pada umumnya.

“Keberadaan Pasar Tani penting sekali, terutama bagi masyarakat muslim NTB yang saat ini sedang mempersiapkan untuk menyambut Hari Raya Idulfitri,” ucap dia.

Ia menilai, kegiatan ini tidak hanya pada substansi belanjanya, tapi interaksi masyarakat menjelang Lebaran yang biasanya menghadirkan sensasi tersendiri.

Dia pun meminta jajarannya agar Pasar Tani dapat dilaksanakan di semua kabupaten/kota di seluruh Provinsi NTB, karena konsepnya sangat bagus dan benar-benar bisa menjadi andalan memperpendek mata rantai, sehingga harga yang diterima masyarakat lebih terjangkau. (INF)

MENGGUNAKAN ANTIMIKROBA SECARA CERDAS BERSAMA BETTER PHARMA

On April 25, 2022

Dr Kanjana Imslip Melakukan Presentasi Secara Online

Isu resistensi antimikroba sudah menjadi isu global yang bahkan hendak dibahas dalam pertemuan G-20. Sektor peternakan menjadi sorotan karena dinilai menyumbang persentase yang tinggi karena praktik penggunaan antimikroba yang serampangan.

Better Pharma selaku perusahaan obat hewan terkemuka menggelar webinar bertajuk "Antibitotic Smart Used, Could Be Done?" melalui daring Zoom Meeting pada Senin (25/4). Dalam webinar tersebut yang bertindak sebagai narasumber yakni Dr Kanjana Imslip dari Departemen Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan Kasetsart University, Bangkok.

Dalam presentasinya kita dibawa kembali mempelajari mata kuliah farmakologi. ia menjelaskan lebih detail mengenai berbagai hal terutama aspek farmakodinamik dan farmakokinetik dari suatu sediaan. Selain itu Dr Imslip juga menjelaskan terkait faktor - faktor yang mempengaruhi bioavabilitas dan distribusi sediaan antimikroba.

"Terdapat banyak sekali faktor yang menjadi pertimbangan dalam memilih sediaan antimikroba yang tepat untuk pasien kita, diataranya adalah spesies hewan, rute pemberian, serta faktor psikokimia lainnya, nah ini yang harus kita pertimbangkan," tuturnya.

Selain itu Dr Im juga menjelaskan juga interaksi antar antimikroba, mana saja yang sinergis bahkan yang antagonis. Ini juga merupakan pertimbangan dari seorang dokter hewan dalam mengombinasikan antimikroba (bila perlu).

Terakhir yang menjadi perhatian akan isu resistensi antimikroba dan residu antimikroba adalah tatacara dan waktu penggunaan. Dr Im mengingatkan pada para petugas medis agar bijak dalam menggunakan antimikroba, selain menjadi senjata terakhir, penggunaan antimikroba juga harus mempedulikan withdrawal time dari sediaannya.

"Agar tidak terjadi residu, sebainya diperhatikan waktu panen dan waktu paruh obat. Contoh misalnya pada ayam, jika waktu ayam dipanen sediaan antimikrobanya belum melewati withdrawal time, ini bahaya pasti akan ada residu di produk hewannya, nah ini makanya harus diperhatikan" tutupnya (CR)

Artikel Populer