-->

JANGAN TAKUT KONSUMSI AYAM SAAT PANDEMI COVID-19

Pedagang ayam broiler di pasar. (Foto: Istimewa)

Di media sosial beredar informasi tentang telah ditemukan virus corona di daging ayam broiler. Kementerian Komunikasi dan Informasi pun bergerak cepat dan menyatakan itu hoaks.

Sutarmi (40), pedagang ayam broiler di Pasar Jaya, Depok, Jawa Barat, siang itu tampak murung. Onggokan daging ayam utuh (karkas) di depannya masih memenuhi meja dagangannya. Bahkan sebagian sudah tampak memerah, seperti akan membusuk. Sejak pukul 06.00 WIB digelar, dagangannya hanya beberapa ekor yang terjual.

Rupanya kondisi macam ini bukan hanya sat itu saja terjadi, tapi sudah hampir dua pekan lebih. Padahal, perantau asal Kota Ponorogo, Jawa Timur itu sudah mengurangi dagangannya hampir separo dari biasanya yang ia jual. 

Sebulan lalu, Sutarmi biasa menjual hampir 70 ekor karkas dan selalu habis sebelum matahari terasa terik. Kini hanya 40 ekor yang ia ambil dari distributor karkas untuk dijual, namun hanya beberapa ekor saja yang laku. 

Apa penyebab dagangan Sutarmi mendadak sepi pembeli? ”Banyak orang yang bilang pada takut beli ayam karena takut corona. Takut virus corona masuk kandang ayam,” kata Sutarmi.

Ia ternyata bukan satu-satunya pedagang ayam yang sepi pembeli. Beberapa pedagang lainnya pun mengalami hal serupa. “Benar enggak sih corona bisa nularin lewat ayam? Kok orang yang mau beli ayam pada ikut takut beli ayam,” ujar Ruslani pedagang ayam lainnya.

Pandemi corona (COVID-19) ternyata juga mengimbas pada persepsi sebagian masyarakat hingga takut mengonsumsi daging ayam broiler. Meski sudah bejibun edukasi kesehatan dari banyak pihak tentang apa dan bagaimana virus ini menular, namun ketakutan sebagian masyarakat masih saja ada.

Ada masyarakat yang takut mengonsumsi daging ayam karena takut ayamnya terjangkit virus corona saat di kandang. Apalagi kadang ayam yang cenderung bau dan kotor akan sangat mudah virus apapun, termasuk corona akan mudah menempel. Yang memprihatinkan, informasi tentang virus corona ditemukan pada ayam broiler juga sudah merebak di berbagai media sosial.

Anggapan yang cenderung menjadi stigma keliru ini perlu diluruskan. Jika tidak, bisa saja jadi makin menyebar dan diyakini kebenarannya oleh masyarakat lebih luas lagi. Munculnya pemahaman semacam ini tentu karena keterbatasan informasi yang baik dan benar tentang daging ayam broiler.

Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) telah melansir dan menyatakan bahwa informasi tersebut adalah hoaks alias bohong. Di laman www.kominfo.go.id disebutkan:
Telah beredar informasi di media sosial yang mengatakan bahwa virus corona ditemukan di ayam broiler, dalam narasinya juga menghimbau agar berhati-hati dalam mengonsumsi ayam broiler.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, faktanya informasi tersebut tidak benar adanya. Pada tanggal 1 Februari 2020, di tengah wabah virus corona yang mematikan, muncul lagi wabah virus flu burung H5N1. Namun tidak ada satupun kasus setiap unggas yang ditemukan positif terkena virus corona. Di sisi lain, virus corona berbeda dari Avian Influenza (H5N1), yang dapat diobati pada manusia dengan obat anti-virus yang tersedia. H5N1 tidak menular di antara manusia dan jarang menyebar ke manusia.

Informasi hoaks mengenai ayam broiler terkena corona. (Sumber: Kominfo)

Anjuran yang Keliru
Sejak dulu, “posisi” ayam broiler memang sering “dilema”. Daging ayam ras ini kerap kali dihubungkan dengan banyak stigma negatif yang seringkali tidak ada bukti, seperti isu disuntik hormon, kandungan lemak jahat yang tinggi dan wabah yang sedang menyerang. Di sisi lain orang masih membutuhkan asupan protein dan gizi lainnya yang terkandung di dalam daging ayam.

Kekhawatiran sebagian masyarakat mengonsumsi daging ayam broiler karena takut mengandung kolesterol bukan saja disebabkan oleh informasi yang bersumber “katanya”. Ketakutan sebagian masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam negeri juga ada yang disebabkan oleh anjuran para oknum dokter kepada pasiennya.

Hal ini pernah disampaikan Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Drh Irawati Fari, dalam perbincangan antara Infovet beberapa waktu lalu. Menurut Ira-sapaan akrabnya, masih ada dokter manusia yang menganjurkan pasiennya untuk tidak mengonsumsi ayam broiler, karena mengandung hormon, ayam disuntik obat tertentu dan info menakutkan lainnya.

Anjuran macam ini jelas tidak tepat disampaikan ke pasien. Biasanya oknum dokter tersebut belum tahu bagaimana proses produksi ayam broiler yang sebenarnya. Sangat disayangkan jika masih ada tenaga medis yang masih memberikan anjuran keliru kepada pasiennya, sementara dia sendiri tidak tahu persis proses produksinya.

Perlu Galakkan Kampanye 
Kekhawatiran sebagian masyarakat mengonsumsi daging ayam broiler bukanlah perkara baru. Fenomena ini sudah terjadi sejak lama. Ketidakmengertian dan mendapatkan informasi dari sumber yang keliru menjadi penyebab utama mereka tak mau mengonsumsi daging ayam broiler.

Yuny Erwanto, Dosen Pangan Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjahmada (UGM), Yogyakarta, berpendapat bahwa ketakutan sebagian masyarakat untuk mengonsumsi daging ayam broiler memang masih terjadi hingga sekarang. Penyebabnya, bisa karena mendapat informasi yang kurang tepat tentang cara beternak ayam negeri atau karena ada anjuran dari orang lain agar tak mengonsumsi daging ayam broiler.

“Harus dilawan dengan menggalakkan kampanye mengonsumsi daging ayam, juga sumber protein lainnya seperti ikan dan lainnya. Kalau tidak ada edukasi pentingnya mengonsumsi protein hewani dari ayam, masyarakat akan makin menjauhi makan ayam,” ujarnya kepada Infovet.

Kampanye mengonsumsi protein hewani perlu dilakukan secara massif dan berkelanjutan. Tidak bisa hanya dilakukan sesaat, lalu dilupakan lagi. Kampanye mengonsumsi makanan sehat bisa dilakukan mulai dari lingkungan sekolah, misalnya dengan mengajak sarapan bersama anak-anak sekolah dengan makan ayam dan telur, atau melalui lomba masak di kalangan ibu-ibu rumah tangga dengan bahan baku daging ayam broiler dan telur.

Upaya ini penting mengingat tingkat konsumsi daging masyarakat Indonesia hingga saat ini masih tergolong rendah. Erwanto menyebutkan, saat ini konsumsi daging masyarakat Indonesia tak lebih dari 10 kg/kapita/tahun. Sedangkan Malaysia sekitar 50 kg lebih dan negara maju sekitar 100 kg/kapita/tahun.

Informasi gizi terkait daging ayam sebenarnya sederhana. Daging ayam memiliki kandungan protein tinggi, asam amino yang dibutuhkan tubuh manusia terpenuhi dan lengkap, mengandung mineral yang juga bermanfaat bagi tubuh.

“Bisa jadi faktor yang menyebabkan masih rendahnya konsumsi daging ayam adalah kekhawatiran kandungan antibiotik pada ayam broiler yang dianggap tinggi, padahal sebenarnya tidak separah itu,” pungkasnya. (AK)

PRODUKSI AYAM BANGLADESH MEROSOT KARENA CORONA

Foto: ilustrasi

Menyusul menurunnya permintaan daging dan telur ayam di Bangladesh sejak awal pandemi Covid-19, produksi pun ikut anjlok setidaknya 50%.

Banyak konsumen daging dan telur ayam seperti hotel, restoran, dan perusahaan makanan cepat saji tutup, dan acara serta pertemuan seperti pernikahan dibatalkan. Selain itu, hilangnya pendapatan berarti daya beli konsumen yang lebih rendah.

Hatchery terpaksa menjual telur yang ditetaskan dengan harga yang rendah, dan harga telur ayam dan daging mencapai titik terendah dalam 12 tahun pada bulan April 2020.

Sebelum dimulainya pandemi coronavirus, para peternak menetaskan 14 juta DOC setiap minggu, tetapi kini jumlah itu telah turun hingga 7 juta.

Fazle Rahim Khan Shahriar, MD dari Aftab Bahumukhi Farms, mengatakan ketidakcocokan penawaran-permintaan untuk unggas akan berlanjut selama minimal 6 bulan. Harga telur dan ayam broiler juga turun, dan peternak harus menjual di bawah biaya produksi.

Telur dijual seharga Tk4 (US $ 0.05) di tingkat peternakan di beberapa daerah di Bangladesh sementara biaya produksi setidaknya Tk6 (US $ 0.07). Harga rata-rata telur adalah Tk7 - 8 (US $ 0.08 – 0.09) sebelumnya.

Menurut Dewan Pusat Industri Perunggasan Bangladesh, harga ayam broiler turun menjadi Tk55 (US0.65) per kg di tingkat peternakan di berbagai distrik sementara biaya produksi sekitar Tk120 (US $ 1.41) per kg. (Sumber: poultryworld.net)

PERINGATAN HARI SUSU, MOMENTUM TINGKATKAN KONSUMSI SUSU MASYARAKAT INDONESIA


Ilustrasi (Foto: Pixabay)


Saat ini di tengah pandemi COVID-19, asupan makanan dan minuman yang bergizi tinggi sangat diperlukan untuk memperkuat daya tahan tubuh salah satunya melalui konsumsi susu. Mengingat banyaknya manfaat yang diperoleh melalui susu,Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) sejak tahun 2001 menetapkan  tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Susu Dunia (World Milk Day).

Peringatan ini dimaknai untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mengonsumsi susu setiap hari. Kegiatan ini menjadi acara tahunan di banyak negara di dunia. Indonesia pun turut serta merayakan Hari Susu Dunia sejak tanggal 1 Juni 2009 melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 2182/KPTS/PD.420/5/2009, dengan tajuk Hari Susu Nusantara.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita menyampaikan momentum Hari Susu Nusantara ini tentang pentingnya masyarakat untuk terus mengonsumsi susu namun berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia tahun 2019 masih berkisar 16,23 kg/kapita/tahun.

"Konsumsi susu di Negara kita masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara lain," katanya saat diwawancarai pada Senin (1/06/20).

Ia juga mengatakan secara umum susu banyak memiliki manfaat untuk pertumbuhan yaitu untuk regenerasi sel, menguatkan tulang dan gigi, menyokong pertumbuhan fisik, meningkatkan kecerdasan, mampu mencegah stunting pada anak-anak serta meningkatkan imunitas tubuh sehingga meminimalisir potensi terinfeksi agen penyakit.

"Di masa pandemi COVID-19 saat ini, konsumsi susu menjadi penting untuk peningkatan imunitas tubuh yang merupakan salah satu cara untuk meminimalisir potensi terinfeksi agen penyakit," kata Ketut.

Selain Itu, Ketut juga menyoroti pentingnya peningkatan populasi sapi perah untuk meningkatkan produksi susu dan memenuhi kebutuhan susu nasional. Populasi sapi perah Nasional pada tahun 2019 sebanyak 561.061 ekor dengan produksi susu sebanyak 996.442 ton (Data Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan tahun 2019).

"Pertumbuhan populasi sapi perah dan pertumbuhan produksinya belum mampu mengimbangi pertumbuhan konsumsi, sehingga ketersediaan sebagian besar produk susu dan turunannya adalah melalui importasi yang semakin lama semakin meningkat," terangnya.

Dengan jumlah kebutuhan susu nasional tahun 2019 mencapai 4.332,88 ribu ton, produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) diatas, hanya mampu memenuhi 22% dari kebutuhan nasional, sehingga 78%nya berasal dari impor (BPS 2020). Selain itu, produksi susu saat ini masih didominasi oleh susu sapi, padahal kita memiliki potensi ternak lain seperti kambing perah (Kambing Peranakan Ettawa, Kambing Saanen) dan kerbau perah yang pemanfaatannya belum optimal.

"Berbagai permasalahan dan tantangan dalam pengembangan industri susu nasional harus didorong bersama melalui peran aktif dari semua pihak, tidak hanya pemerintah namun juga akademisi, swasta, industri dan tentu saja para peternak itu sendiri," sambungnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) sebagai instansi teknis yang menangani peternakan, terus berupaya keras dalam mengembangkan persusuan nasional untuk mencapai target pemenuhan kebutuhan susu  nasional tahun 2025 sebanyak 60% sesuai dengan Cetak Biru Persusuan 2013-2025 yang dikeluarkan oleh Kemenko Perekonomian.

Pemerintah menyusun dan menetapkan berbagai program dan kegiatan untuk pengembangan persusuan, baik melalui APBN, APBD, maupun melalui kemitraan dengan industri dan lembaga pembiayaan," ungkapnya lebih lanjut.

Selanjutnya, Ia mengungkapkan terkait upaya pemerintah untuk meningkatkan populasi sapi perah yang dilakukan melalui berbagai cara, diantaranya: program SIKOMANDAN (Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri), pemasukan bibit sapi perah untuk replacement induk dan dikembangkan di Balai Ternak Unggul Baturaden.

Pengembangan rearing unit di Unit Pelaksana Teknis (UPT)/Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dan melalui kemitraan dengan Industri Pengolahan Susu (IPS), penetapan kawasan pengembangan sapi perah nasional, perbaikan mutu genetik melalui pejantan unggul hasil Uji zuriat atau progeny test dan produksi semen beku sexing, kemudahan dalam pengajuan rekomendasi pemasukan/pengeluaran ternak, produk ternak.

"Dapat melalui aplikasi Sistem Rekomendasi (SIMREK PKH) serta fasilitasi/kemudahan akses pembiayaan (Kredit Usaha Rakyat-KUR/Program Kemitraan Bina Lingkungan-PKBL) untuk peternak sapi perah," imbuhnya Ketut.

Selain itu, Kementan juga berupaya untuk mengembangkan ternak perah lain seperti kambing perah dan kerbau perah serta mendorong pihak swasta untuk melakukan diversifikasi genetik sapi perah melalui pengembangan sapi perah non Frisian Holstein/FH (sapi perah jersey). Pengembangan sapi perah non FH saat ini masih bersifat closed breeding untuk mengetahui kemampuan adaptasi dan produksi ternak di Indonesia.

"Dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitas susu peternak, pemerintah terus berupaya meningkatkan kapasitas SDM peternak melalui bimbingan teknis dan pelatihan, serta melakukan pendampingan kepada peternak seperti untuk penerapan Good Farming Practices (GFP)," ucapnya.

Kementan juga berupaya meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk peternak melalui diversifikasi produk, fasilitasi sarana prasarana pengolahan susu, pengurusan ijin edar produk susu serta fasilitasi/pendampingan sertifikasi organik untuk kelompok peternak, serta fasilitasi pemasaran melalui akses market online bekerjasama dengan marketplace.

"Untuk peningkatan konsumsi susu, pemerintah terus berupaya mendorong meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi susu melalui sosialisasi dan promosi, baik melalui media sosial maupun sarana promosi,” lanjut Ketut.

Dalam mendorong pengembangan usaha peternak/pelaku usaha melalui pengurangan pajak penghasilan atau tax allowance, akses pembiayaan/kredit (Kredit Usaha Rakyat (KUR), Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dan Badan Usaha Milik Negara/BUMN), asuransi peternak (misal: Asuransi Usaha Ternak Sapi/Kerbau/AUTS) serta mendorong kemitraan dengan industri.

Berbagai kebijakan dan program yang telah lakukan tentu saja tidak akan berhasil tanpa dukungan dari semua stake holder dan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, melalui momentum Peringatan Hari Susu Nusantara ini kami berharap peran serta semua stakeholder.

"Baik Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah, akademisi, industri, koperasi dan seluruh peternak sapi perah di Indonesia untuk terus bersama-sama bergandengan tangan menuju agroindustri persusuan yang tangguh dan mandiri untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia seutuhnya, ” tutup Ketut. (Rilis Kementan)


CARA TEPAT MENGELOLA STRES PADA BROILER DAN LAYER MODERN

Kepadatan kandang perlu dijaga untuk menghindadi stres. (Foto: Istimewa)

Perkembangan yang terjadi pada ayam ras baik broiler maupun layer modern dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini sangat luar biasa, baik secara genetik, pola pemeliharaan dan hasil performa produksinya.

Ayam broiler modern mempunyai daya tumbuh yang sangat pesat dengan tingkat konversi pakan yang efisien dan deplesi yang rendah. Dari data yang diperoleh melalui peternak, saat ini ayam broiler pada umur 28 hari dapat mencapai berat rata-rata 2,0-2,2 kg/ekor dengan nilai konversi pakan 1,48-1,52 dan deplesi kurang dari 3%.

Sedangkan ayam layer modern mulai bertelur pada umur kurang lebih 19 minggu dan mencapai puncak produksi (90%) di umur 25 minggu. Hingga umur 80 minggu, total telur yang dihasilkan mencapai 340 butir atau 21 kg/ekor dengan deplesi 10%.

Dengan percepatan pertumbuhan tersebut, ancaman dan dampak stres menjadi salah satu tantangan terbesar bagi industri peternakan ayam ras modern. Untuk itu, penting kiranya agar dapat  mengidentifikasi gejala-gejala stres unggas sedini mungkin.

Klasifikasi jenis penyebab stres:
1. Lingkungan: Ventilasi kandang yang buruk, tingginya gas amonia, polutan, litter basah, lampu dengan intensitas tinggi.
2. Iklim: Kelembapan, suhu panas atau dingin yang ekstrem.
3. Fisiologis dan genetik: Pertumbuhan yang sangat cepat pada broiler modern, periode puncak produksi pada layer modern, proses pematangan seksual dan moulting.
4. Nutrisi: Kekurangan nutrisi, feed intake bermasalah, perubahan pakan dan adanya toksin dalam pakan.
5. Fisik: Penangkapan, pemindahan, transportasi dan vaksinasi.
6. Sosial: Kepadatan kandang dan kondisi tubuh yang buruk.
7. Psikologis: Ayam mengalami ketakutan, perubahan pekerja kandang, perlakuan kasar dari pekerja.

Dampak Stres pada Tubuh Ayam
Reaksi stres merupakan reaksi alami tubuh terhadap stresor. Stresor dapat berupa agen penyakit, perubahan temperatur ekstrem, kepadatan ternak, obat-obatan, vaksinasi, polutan dan bahkan pakan. Efek dari stresor dipengaruhi oleh jumlah, durasi, variasi genetik dan status kekebalan ayam. Terdapat dua tipe stres, yakni stres akut dan stres kronis.

Pada stres akut, stresor bekerja dengan waktu singkat dan hanya sedikit mempengaruhi ayam. Penyebabnya antara lain perubahan suhu secara mendadak, pergantian pakan, vaksinasi, pengobatan, kerusakan sementara peralatan perkandangan, perubahan jadwal pakan, kosongnya saluran air minum. Stresor mengaktifkan symphatethic adrenomedullary system, sehingga hormon adrenalin lebih banyak bekerja mengakibatkan peningkatan aktivitas metabolisme. Gejala yang tampak, ayam lebih aktif. Efek terhadap kekebalan hampir tidak ada.

Untuk stres kronis, stresor bekerja dengan waktu relatif lebih lama dan simultan. Hal ini sangat mempengaruhi… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020)

Drh Yuni
PT ROMINDO PRIMAVETCOM

SAMBUT HARI SUSU SE-DUNIA BEM FKH IPB GELAR WEBINAR



Hari susu se-dunia atau World Milk Day jatuh pada tanggal 1 Juni yang lalu. Dalam menyambut event tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan IPB (BEM FKH IPB) mengadakan webinar dengan tema "Bisnis Susu ala Dokter Hewan".

Narasumber yang dihadirkan tentunya juga orang - orang yang sudah tidak diragukan lagi kompetensinya di bidang sapi perah Indonesia. Mereka adalah Drh Deddy Fakhruddin Kurniawan dan Drh Muhammad Dwi Satrio yang juga merupakan alumnus FKH IPB.

Antusiasme peserta pun terbilang tinggi, hal ini terlihat dari jumlah yang lalu - lalang masuk ke dalam aplikasi google meeting, kurang lebih 150-an orang hadir dalam webinar tersebut. Mereka pun bukan hanya berasal dari kalangan mahasiswa, tetapi juga dosen, ASN, peternak, bahkan praktisi sapi perah.

Seminar dibuka dengan paparan dari Drh Muhammad Dwi Satriyo yang bertajuk bisnis susu ala dokter hewan. Dalam presentasi dengan durasi 30 menit, Drh Satrio membagikan pengalamannya sebagai dokter hewan, peternak, dan pengusaha di bidang persusuan. 

Menurutnya konsumsi susu di Indonesia masih sangat rendah ketimbang negara - negara lain di Asia Tenggara apalagi dunia. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, namun menurutnya yang terpenting adalah kesejahteraan peternak sapi perah. 

"Harga susu di Indonesia rendah, jauh ketimbang di negara - negara Asia tenggara maupun dunia, oleh karenanya peternak enggan membesarkan skala usahanya. Padahal kalau kita lihat negara tetangga saja, Malaysia misalnya, harga susunya lebih tinggi dari kita, sudah begitu konumsi susu negeri Jiran dua kali bahkan tiga kali lipat lebih tinggi daripada kita," tutur Satriyo. 

Belum lagi ketika bicara kebijakan yang dibuat oleh pemerintah terhadap peternakan sapi perah, misalnya saja ia mencontohkan di kawasan Cisarua dekat tempat tinggalnya. Menurutnya, pemerintah harus lebih berpihak pada peternak sapi perah, supaya produksi susu bisa meningkat.

"Dulu di sini masih banyak tanah kosong, tumbuh banyak rerumputan bagus itu untuk hijauan pakan ternak ruminansia. Namun sekarang yang banyak tumbuh adalah villa - villa, lahan hijauan berkurang, jadi sulit buat kasih hijauan ke sapi, mau tidak mau peternak membeli rumput dengan harga yang kurang ekonomis, sementara harga susu segitu - segitu saja," papar Satriyo.

Satriyo juga membagikan tips beternak agar produksi susu meningkat, diantaranya dengan memberikan pakan terbaik, meningkatkan manajemen pemeliharaan, dan tetap menjaga sanitasi lingkungan dan hygiene di peternakan. Hal ini akan berpengaruh kepada produksi dan kualitas susu, karena kualitas susu juga menjadi hal yang menentukan dalam penentuan harga susu.

Sementara itu di presentasi kedua Drh Deddy Fakhruddin Kurniawan mengajak peserta untuk lebih mengubah mindset tentang persusuan di Indonesia. Ia mencontohkan bahwa di negara terbelakang, berkembang, dan negara maju mindset peternaknya berbeda.

"Kalau kita negara berkembang, pasti masih membicarakan soal peningkatan konsumsi dan produksi, sementara di negara maju sana mindset sudah berbeda, mereka bicara tentang genetik, animal welfare dan yang nomor satu adalah proud alias kebanggan terharap produk susu yang mereka hasilkan, kita kapan?," tukas Deddy.

Ia juga mengatakan bahwa di negara - negara maju, kampanye minum susu dilakukan secara masif dan terstruktur. Hal ini dilakukan karena mereka tahu betul bahwa susu juga merupakan sumber protein yang esensial bagi tubuh. 

"Konsumsi susu negeri paman Sam itu 9 - 10x lipat lebih tinggi dari negeri kita, konsumsi susu India, itu 4-5x lebih tinggi daripada Indonesia. Padahal, kalau menurut data penduduk dunia, Indonesia ini kan penduduknya paling banyak ke-4 atau ke-5 se-dunia, seharusnya konsumsinya ya nomor segitu juga," tukas Deddy.

Oleh karenanya menurut Deddy, perlu dilakukan juga kampanye masif yang terstruktur dan berkelanjutan agar masyarakat Indonesia gemar mengonsumsi susu. Apalagi kalau susu yang dihasilkan berasal dari peternakan lokal, selain menyehatkan, tentunya bangga dengan produk peternak lokal, dan kita juga membantu peternak lokal kita, support our local farmer!. (CR)



STRES PADA AYAM: PENYEBAB DAN SOLUSINYA

Dengan mengenali faktor-faktor dan cara mengatasi stres pada budidaya unggas, maka pemeliharaan akan lebih terarah dan produktivitas bisa optimal. (Sumber: ayamkita.com)

Stres adalah suatu kondisi atau keadaan yang terjadi, dimana terjadi ketegangan baik secara fisik ataupun psikologis. Stres sebenarnya wajar terjadi dalam suatu kehidupan, dimana tuntutannya adalah makhluk hidup harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang terjadi.

Bagaimana gambaran umum ayam yang mengalami stres? Berikut gambaran ayam yang mengalami stres seperti ayam terlihat gelisah di dalam kandang, sering membentangkan sayap, lebih banyak minum untuk menurunkan suhu tubuhnya, nafsu makannya menurun yang akan menghambat pertumbuhan atau produktivitasnya, serta bertambahnya kecepatan respirasi.

Apakah faktor-faktor yang menyebabkan ayam mengalami stres? Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan ayam stres, diantaranya perubahan cuaca secara tiba-tiba, ayam mengalami kelelahan atau sedang sakit, ventilasi dan kecukupan cahaya di kandang tidak memadai, seringnya keluar-masuk orang tidak dikenal, adanya suara kegaduhan atau kebisingan di sekitar lokasi peternakan, perawatan yang salah, perubahan ransum/air minum secara tiba-tiba dan luas kandang dengan jumlah unggas yang dipelihara tidak seimbang.

Namun tak perlu khawatir, dalam tulisan kali ini akan dibahas satu-persatu faktor penyebab stres dan cara penangannya pada ternak ayam:

1. Stres karena Lokasi 
Lokasi tempat peternakan yang bising atau suasana peternakan yang sering berganti juga dapat menimbulkan stres, sebab ayam harus beradaptasi terhadap suasana yang baru secara berulang kali. Cara mengatasinya adalah memilih lokasi peternakan yang jauh dari sumber kebisingan dengan suasana yang stabil tetapi masih memadai, cukup tersedia sumber mata air dan mudah dijangkau dengan sarana transportasi darat. Lokasi peternakan dengan tingkat kepadatan populasi yang tinggi juga akan membawa ayam kepada kondisi yang perlu beradaptasi tinggi, disamping rumitnya menerapkan pola pemeliharaan ayam yang harus dijalankan.

2. Stres karena Bibit/DOC
Jika induk dan bibit ayam yang dibeli kurang baik kualitasnya, biasanya akan menghasilkan keturunan yang cenderung mudah stres. Untuk mencegahnya adalah dengan membeli anak ayam (DOC) dari penjual yang terpercaya dan mencari keterangan dari yang sudah memelihara bibit tersebut atas kelebihan dan kekurangannya. Walaupun pada dasarnya semua produk bibit yang beredar tersebut adalah bibit unggulan dari segi produktivitasnya, namun ada beberapa perbedaan dalam karakter yang menjadi mudah atau sukar dalam hal pemeliharaanya. Hal inilah yang penting untuk diketahui para peternak.

3. Stres karena Kandang 
Keadaan kandang yang tidak sehat dapat menyebabkan ayam tidak nyaman, sehingga dapat mengakibatkan stres. Guna mencegahnya adalah… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020) (AHD-MAS)

TAK PERLU STRES MENANGANI STRES PADA AYAM

Pemberian nutrisi yang sesuai kebutuhan juga dapat membantu menekan stres yang terjadi pada ayam. (Foto: Dok. Infovet)

Menghadapi stres pada ayam memang susah-susah gampang. Karena terkendala komunikasi, tentunya peternak tidak bisa berbicara dengan hewan. Tetapi jangan sampai peternak juga ikutan stres dalam menghadapi ayam stres.

Walaupun sudah mengetahui beberapa gejala klinis atau tanda-tanda ayam yang stres, bukan berarti mengetahui ayam stres itu mudah. Pastinya yang ada dipikiran peternak atau dokter hewan di farm sudah mengarah kepada penyakit apabila ada terjadi penurunan performa, kematian mendadak dan lain sebagainya.

Hal ini diakui oleh Juwarno peternak broiler asal Klaten, Jawa Tengah. Walaupun sudah berpengalaman kurang lebih 10 tahun menjadi peternak, ia mengaku pernah dibuat stres menghadapi ayam-ayamnya yang ternyata juga terserang stres.

“Pernah baru chick-in sehari kandang saya besoknya mati mendadak, pernah juga sudah umur dua minggu tapi itu ayam kerdil, sudah gitu rata pula kerdilnya. Padahal sudah diperiksa dokter, sudah nekropsi cari penyebabnya, sampai akhirnya tahu kalau ternyata faktor stres,” ujar Juwarno.

Ia juga pernah suatu waktu karena mengejar dan memperhitungkan hari raya, ia mengisi kandang melebihi kapasitas. Ternyata bukan berbuah manis, namun pil pahit yang ia terima karena ayam-ayamnya banyak yang mati dan pertumbuhannya terhambat.

“Waktu itu deplesinya hampir 10%, saya ngejar momen munggah itu sudah saya hitung- hitung bakal untung berapa, tapi ternyata malah buntung, apes deh,” papar Juwarno.

Jangan Biarkan Ayam Stres
Sedikit berkelakar, masalah utama stres sebenarnya karena manusia tidak bisa mengetahui isi hati dan perasaan ayam, begitu juga sebaliknya. Namun peternak dapat mempelajari tingkah laku dan kebiasaan hidup ternak, baik dari buku, sharing dengan sesama peternak dan dokter hewan (TS), bahkan di media online pun dengan mudahnya dapat belajar cara beternak yang baik. Masalahnya, adalah pada niat, apakah dalam beternak hanya sekedar beternak atau memang beternak merupakan passion? Mungkin beberapa… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020) (CR)

UPAYA TEKNIS MANAJEMEN STRES PADA BROILER MODERN DALAM PERSPEKTIF KONSEP MILEU

Pada saat lingkungan di sekitar ayam mengalami perubahan yang ekstrem, tidak jarang ayam akan terganggu kenyamanannya. (Sumber: Istimewa)

Secara sadar atau tidak, ayam yang dipelihara mau tidak mau, suka tidak suka, harus selalu berinteraksi dengan berbagai macam mikroorganisme di sekelilingnya (bahkan di dalam tubuhnya sendiri) dan berada dalam suatu lingkungan tertentu pada waktu yang sama. dengan kata lain, ayam dan mikroorganisme tersebut hidup dalam lingkungan yang sama, dimana ketika ada perubahan yang terjadi pada lingkungan tertentu maka akan berpengaruh pula terhadap keduanya.

Pada saat lingkungan di sekitar ayam mengalami perubahan yang ekstrem, tidak jarang ayam akan terganggu kenyamanannya (stres dengan berbagai derajad variasi keparahan). Di sisi lain mikroorganisme pada kondisi itu mempunyai peluang yang lebih besar untuk melakukan invasi dan menyebabkan gejala sakit.

Dengan kondisi tersebut, sebagai praktisi lapangan dituntut memahami bagaimana interaksi yang terlibat di dalamnya. Melalui konsep mileu, tahapan analisa dalam melacak faktor pemicu utama sekaligus menghubungkan dengan faktor ikutan terkait dengan tata laksana manajemen akan lebih terarah, lebih menyeluruh (holistik) dan lebih sistimatik. Sehingga upaya untuk meminimalisir dampak negatif yang akan muncul bisa lebih tepat sasaran.

Konsep Mileu
Mileu adalah suatu situasi, kondisi dan realita yang terjadi di sekeliling lingkungan ayam yang bersifat dinamis (berubah dari waktu ke waktu). Situasi, kondisi dan realita tersebut tidak hanya dalam satu pen (sekatan) dalam satu kandang saja, namun juga bisa dalam skala yang lebih besar berupa flock tertentu, farm tertentu bahkan area atau daerah tertentu. Dalam skala tertentu bisa sama-sama dipahami bahwa satu sekatan mempunyai mileu yang berbeda dengan sekatan lain, begitu pula mileu antar kandang, kemudian mileu di sekitar pegunungan/dataran tinggi berbeda dengan yang ada di sekitar pantai, bahkan dalam cakupan yang lebih luas bahwa mileu ayam di negara tropis bisa berbeda dengan mileu ayam di negara sub tropis.

Komponen Mileu
Untuk memahami lebih jauh tentang konsep mileu, ada beberapa hal yang harus ditelaah lebih rinci, yaitu komponen mileu. Secara garis besar ada tiga komponen yaitu: 

1. Komponen fisik. Komponen ini terdiri dari semua faktor yang ada di sekitar lingkungan ayam yang secara fisik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kenyamanan ayam, diantaranya suhu/temperatur lingkungan, kelembapan lingkungan, kecepatan angin, static pressure pada kandang sistem tertutup, konsentrasi debu, perlakuan-perlakuan fisik tertentu seperti penerimaan DOC, penyebaran DOC di area brooding, pelaksanaan vaksinasi dan lain sebagainya.

2. Komponen kimia. Semua hal terkait dengan unsur kimiawi yang ada di sekitar lingkungan ayam sangat berdampak terhadap kenyamanan ayam, diantaranya konsentrasi NH3 (amonia), CO2 (karbon dioksida), O2 (oksigen), CH4 (gas metan), CO (karbon monoksida), Formalin dan lain-lain. Termasuk di dalamnya adalah pestisida di sekitar kandang yang ada di area persawahan.

3. Komponen biologis. Komponen ini terdiri dari... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020)

Eko Prasetio, DVM
Private Broiler Commercial Farm Consultant

SEKALI LAGI TENTANG STRES: “HANTU” PADA AYAM MODERN

Stres juga merupakan suatu bentuk mekanisme pertahanan tubuh ayam dalam menyikapi kondisi sekitarnya diluar “zone of comfort” yang dibutuhkan ayam. (Foto: Istimewa)

Oleh:
Tony Unandar (Private Poultry Farm Consultant-Jakarta)

Topik “stres” pada ayam modern ternyata tak lekang oleh waktu. Tidak hanya lekat dengan para praktisi perunggasan lapangan, tetapi juga menarik perhatian kaum peneliti fisiologi unggas modern untuk mencari jalan keluar mengatasi dampak negatif yang ditimbulkannya. Lantaran terbatasnya halaman yang tersedia, maka tulisan ini hanya menyoroti secercah deskripsi tentang stres, sumber penyebab kejadian stres (stresor), dampaknya pada ayam modern, serta strategi yang adekuat untuk mereduksi potensi kerugian yang akan terjadi.

Dalil Tentang Stres
Terminologi stres dikenal dalam ranah fisiologi dan kesehatan manusia, baik kesehatan tubuh maupun mental, sejak Dr Janos Hugo Bruno “Hans” Selye (1907-1982) untuk pertama kali memaparkan dalilnya melalui sebuah tulisan ilmiah berjudul “General Adaptation Syndrome” (GAS) dalam majalah Nature 138 (32) pada tahun 1936. Dan sebagai pelopor riset terkait stres pada manusia, dokter yang berkebangsaan Austria ini telah menulis lebih dari 1.700 tulisan ilmiah dan 39 buah buku. Tiga buah diantara bukunya yang terkenal adalah (1) Stress without Distress-1974, (2) Stress in Health and Disease-1971 dan (3) The Stress of Life-1956.

Menurut dalil atau postulat Hans Selye, stres adalah serangkaian respon fisiologis dan psikologis tubuh yang bersifat sistemik terhadap situasi yang mengancam atau menantang (selanjutnya disebut stresor atau “stimuli”) dan membutuhkan beberapa jenis tuntutan serta tahapan atau taraf untuk penyesuaiannya. Rangkaian respon tersebut melibatkan dua buah sistem regulatori utama tubuh (sistem neuroendokrin) yaitu: (a) sistem syaraf otonom (autonomic nervous system/ANS), khususnya sistem syaraf simpatis dan (b) sistem hormonal (endocrine system/ES), khususnya poros HPA (Hypothalamic-Pituitary-Adrenal Axis). Karena latar belakangnya seorang dokter, maka pada periode-periode selanjutnya beliau mengembangkan teori bagaimana stres bisa mencetuskan beberapa bentuk penyakit pada tubuh atau somatis dan problem kejiwaan (psychosomatic diseases).

Berdasarkan teori GAS, dalam menyikapi adanya stimuli atau stresor tertentu, maka biofisiologis tubuh umumnya akan berespon melalui tiga taraf, yaitu:

a. Alarm Stage (Taraf Peringatan). Taraf ini biasanya berlangsung relatif singkat, dimana tubuh secara langsung menanggapi setiap stimuli atau stresor terutama dengan sistem syaraf simpatis dan poros HPA yang diikuti oleh sekresi sejumlah katekolamin dan kortisol pada level ringan sampai sedang. Dalam kondisi ini tubuh mencoba menata ulang prioritas yang akan dilakukan terhadap stresor yang ada, apakah reaksinya dapat berupa Fight (melawan) atau Flight (menghindari) terhadap stimuli yang ada. Pada taraf ini, umumnya kinerja sistem syaraf simpatik lebih dominan dibanding dengan kinerja sistem hormonal poros HPA. Jika stimuli atau stresor bisa diatasi atau sudah tiada lagi, maka tubuh perlahan-lahan akan kembali ke kondisi level normal.

b. Resistance Stage (Taraf Perlawanan). Taraf ini terjadi biasanya jika pada “taraf peringatan” stresor belum dapat diatasi atau diadopsi oleh individu yang bersangkutan. Pada taraf ini tubuh meningkatkan kemampuan untuk melawan stresor yang ada melalui peningkatan rangsangan fisiologis pada level sedang sampai berat, namun realitanya kemampuan tubuh untuk menahan stresor tersebut perlahan-lahan sudah berkurang.

c. Exhaustion Stage (Taraf Kepayahan/Kelelahan). Pada taraf ini biasanya sudah terjadi penipisan… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020)

DARI PWMP KEMENTAN, PETANI MILENIAL GIATKAN DIVERSIFIKASI PAKAN TERNAK MELALUI KORPORASI



Ilustrasi

Program inisiasi Kementerian Pertanian yakni ‘Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian’ (PWMP) telah menetaskan pengusaha muda pertanian. Banyak Petani Pengusaha Milenial yang tidak hanya sukses sekadar bertani tapi juga berhasil mengembangkan usahanya di bidang pakan ternak dengan omzet fantastis bahkan telah melakukan ekspor.

Salah satunya Tekad Urip Sujarnoko dan Ardiansah yang berhasil merintis usaha produksi pakan ternak yang diberi nama PT Agro Apis Palacio. Keduanya merupakan alumni Fakultas Peternakan IPB dan mendapatkan program PWMP.

“Awalnya memang dedicated untuk domba dan kambing, tapi sekarang sudah banyak jenis lain. Mulai dari sapi, kelinci dan ada juga untuk lele. Lele ini ada di fasilitas kami yang ada di Lebak, Banten,” ujar Ardiansah, di salah satu lokasi usahanya di Bogor pada Kamis (21/5).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (YSL) menaruh harapan pertanian pada generasi milenial.
“Saya makin percaya anak muda yang mau terjun di bidang pertanian  bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia maka dunia dalam genggaman kalian,” ujar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). 

Selain di Bogor dan Banten, PT Apis juga memperluas wilayah hingga ke Magetan. Saat merintis usaha ini di tahun 2015 Ardiansah dan Tekad melihat adanya peluang bisnis di pakan ternak kambing dan domba.

“Ketika tidak banyak pabrik pakan lain yang fokus ke kambing dan domba karena mungkin kurang ekonomis, justru kami melirik bidang usaha ini,” ungkap Ardiansah.

Saat ini kapasitas produksi PT Apis telah mencapai mencapai ± 300 ton per bulan. Ardiansah mengaku untuk pasar terbesar masih di Jawa Barat dan Jabodetabek, walaupun di Jawa Timur sudah mulai besar statistik permintaannya. Bahkan omzet diraih PT Apis periode ini sudah mencapai 1,5-2 M per bulannya.

Lima tahun berjalannya usaha, PT Apis terus berkembang dan saat ini sudah memiliki unit usaha lai seperti farm, pengolahan limbah, dan produksi susu. Bahkan sudah menembus pasar ekspor ke Oman, Somalia.

Lebih lanjut disampaikan Ardiansyah, selain produksi pakan, juga terdapat unit usaha lain. Dalam pengembangannya, dirinya dan rekannya Tekad merangkul banyak pengusaha muda lainnya untuk bekerjasama dengan sistem joint venture, di antaranya Richard yang memiliki usaha peternakan domba dan Praselta yang memiliki usaha aqiqah.

Richard juga merupakan salah satu alumni IPB yang menerima manfaat PWMP pada tahun 2019. Saat ini, ternak di kandangnya mencapai 200 ekor domba untuk tujuan perbesaran. Sumber pakan untuk ternaknya berasal dari PT Apis dan fermentasi rumput yang diproduksi mandiri.

Berbeda dengan Ardiansah dan Richard, Praselta bersama kedua temannya (Andi dan Dzaky) menekuni usaha di bidang aqiqah yang diberi nama Aqiqah Dinar. Domba yang digunakan berasal dari kandang sendiri, yang didukung oleh kedua rekanannya.

“Per-bulannya bisa potong domba sekitar 80 ekor, kami juga menjaga kualitas produk, domba dan kambing yang digunakan berada di bawah pengawasan dokter hewan, serta pemotongan dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) berstandar ISO,” ungkap Praselta.

Selain itu Praselta bersama rekan-rekannya melakukan pemberdayaan masyarakat sekitar lokasi produksi dan memberikan pelatihan kepada SDM yang dibina.

“Itulah bedanya pengusaha jaman dulu dan pengusaha muda jaman milenial. Kalau jaman dulu, usaha dianggap sebagai kompetisi. Kalau pengusaha muda milenial ini, justru menghilangkan kata kompetisi, yang ada kolaborasi dan sinergi,” ujar Iwan salah satu peserta yang yang mengikuti pelatihan.

Secara terpisah Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan, Dedi Nursyamsi menegaskan dalam berbagai kesempatan penumbuhan wirausahawan muda pertanian menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkembangkan minat generasi milenial akan dunia pertanian.

“Dalam pelaksanaannya, Kementerian Pertanian bekerjasama dengan banyak pihak, termasuk Perguruan Tinggi Mitra, yang salah satunya adalah IPB, Bogor. Diharapkan melalui program PWMP mampu mewujudkan target 2,5 juta petani milenial dalam 5 tahun”, ujar Dedi.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Idha Widi Arshanti yang ikut berkunjung ke lokasi menyampaikan dukungan penuh Kementerian Pertanian kepada petani pengusaha milenial dalam mengembangka/n usaha taninya.

“Kami akan mendukung petani milenial ini untuk terus berkembang. Tidak hanya yang sudah besar saja, tetapi juga yang masih merintis. Kami akan hubungkan dengan pihak-pihak lain yang bisa membantu seperti misalnya market place, atau bantuan modal, pelatihan juga bisa,” ujar Idha. (Sumber: Investor Daily)


COVID-19, SERIKAT PETERNAK INGGRIS BERJUANG MELANJUTKAN RANTAI PASOKAN

Foto: ilustrasi

Pengecer dan serikat peternak di Inggris dan sekitarnyaberjuang untuk memastikan rantai pasokan telur dan daging unggas tetap berlangsung untuk memenuhi permintaan yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Angka terbaru menunjukkan permintaan telur dari konsumen Inggris naik 30% sementara permintaan daging unggas meningkat 25%.

Thomas Wornham, ketua dewan unggas National Farmers’ Union, mengatakan bahwa sementara rantai pasokan bertahan, ada gangguan yang berarti peluang bagi sebagian orang dan merugikan yang lain.

Mr Wornham mengatakan NFU telah bekerja sepanjang waktu untuk memastikan dampak telah diminimalkan di sektor perunggasan, menghubungkan bisnis bersama-sama dalam panasnya krisis dan bekerja dengan Defra (Department for Environment, Food and Rural Affairs) untuk menyelami kembali rantai pasokan agar terus bergerak.

Sementara itu di rak-rak toko dijumpai produk-produk impor. “Ini sangat membuat frustrasi dan sesuatu yang saya yakin tidak ingin dilihat konsumen. Apakah itu ayam Polandia atau telur Belanda, kami menegur secara langsung pada pengecer, dengan mempertimbangkan ketersediaan dan memastikan Inggris dan nilai-nilai produksi kami dicari terlebih dahulu. ”

Supermarket Lidl mendapat tekanan karena menyimpan telur Belanda bersama telur Inggris di beberapa tokonya. Hal itu mendorong Robert Gooch, kepala eksekutif British Free Range Egg Producers Association, untuk mengatakan bahwa skema British Lion telah sukses nyata selama 30 tahun terakhir.

“Sangat jarang terjadi telur impor dari sistem produksi mana pun ditebar di toko-toko ini. Kami berharap bahwa semua pengecer akan menyetok telur Inggris sedapat mungkin.” (Sumber: poultry.net)

KEKURANGAN PAKAN MENDORONG PARA PETERNAK IRAN UNTUK MENGUBUR DOC HIDUP-HIDUP

Foto: ilustrasi

Puluhan video yang diposting di media sosial di Iran menunjukkan ribuan DOC dikubur hidup-hidup dengan buldoser. Ini kemungkinan terkait dengan kenaikan harga di pasar pakan domestik Iran selama beberapa minggu terakhir.

“Diumumkan bahwa karena sanksi, transfer uang pembelian untuk sekitar 3 juta ton jagung dan bungkil kedelai tidak dilakukan tepat waktu sehingga persediaan bahan pakan tersebut terpengaruh. Akibatnya, harga pakan ternak naik,” Dr Majid Movafegh Ghadirly, ketua Asosiasi Industri Pakan Iran berkomentar.

Iran memproduksi 2,3 juta ton daging unggas dan 1 juta ton telur per tahun, dan mengimpor 80% bahan baku untuk produksi pakan, menurut Asosiasi Industri Pakan Iran.

Rekaman diposting tak lama setelah Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan bahwa sektor pertanian negara itu tidak terkena wabah coronavirus, dan bahwa warga tidak perlu khawatir tentang pasokan makanan karena produksi biji-bijian cukup untuk memenuhi kebutuhan lokal sampai Maret 2021.

Peternak tidak membeli anak ayam yang baru lahir karena lemahnya permintaan di pasar domestik. Ini berarti bahwa hatchery lokal tidak memiliki pilihan lain selain memusnahkan DOC.

Peternak lokal mengeluh bahwa konsumsi unggas dan telur sangat rendah karena epidemi Covid-19 yang berkelanjutan di negara itu membuat hampir seluruh industri perhotelan tidak beroperasi. Harga pakan ayam di Iran naik dua kali lipat menjadi 3.000 tomans (€ 0,18) per kilo.

Dengan penjualan yang lemah di pasar, para peternak tidak dapat menaikkan harga, yang berarti bahwa mereka harus menderita kerugian mendekati 3.000 tomans per ayam.

Harga pasar rata-rata untuk ayam sebelum awal pandemi Covid-19 adalah 12.800 tomans per kilo (€ 0,77), tetapi menyusut menjadi 9.500 tomans (€ 0,57) pada bulan April 2020, Pusat Statistik Iran memperkirakan.

Menanggapi kritik tersebut, Asosiasi Produsen DOC menulis surat kepada semua anggotanya melarang pemusnahan DOC, menjanjikan hukuman bagi mereka yang melanggar perintah. Belum terlihat apakah peringatan itu akan membuahkan hasil.

Diperkirakan bahwa hingga 15 juta ekor DOC dimusnahkan di Iran selama beberapa minggu terakhir karena krisis, kata Persatuan Petani Unggas Teheran dalam sebuah pernyataan akhir April.

Negara ini menghasilkan 1,2 miliar ekor anak ayam per tahun. Ada kekhawatiran bahwa para petani akan segera beralih ke pemusnahan ayam dewasa, karena krisis Covid-19 tidak akan segera mereda. (Sumber: poultryworld.net)

ILMUWAN AS MENCARI CARA UNTUK MENGURANGI SALMONELLA PADA UNGGAS

Foto: ilustrasi

Para ilmuwan dari University of Georgia dan Colorado State University bekerja dengan staf di USDA untuk mengembangkan teknik baru, dengan fokus pada pencegahan infeksi dan prediksi risiko dalam produksi bebas antibiotik. Setiap tahun, Salmonella menginfeksi sekitar 1,2 juta orang dan mengakibatkan kerugian ekonomi antara $ 2,3 miliar dan $ 11,3 miliar di Amerika Serikat dan prevalensinya tetap tidak berubah selama bertahun-tahun.

Penelitian, yang dipimpin oleh USDA Dr Adelumola Oladeinde berkonsentrasi pada Salmonella Heidelberg, salah satu strain utama yang menyebabkan wabah yang ditularkan melalui makanan. Strain ini sangat sulit untuk dihilangkan setelah mengkolonisasi peternakan broiler.

“Infeksi yang disebabkan oleh Salmonella Heidelberg juga lebih invasif daripada strain lainnya, dan Salmonella Heidelberg yang terkait dengan unggas cenderung membawa resistensi antibiotik dan gen virulensi. Oleh karena itu, ini merupakan model organisme untuk menguji mekanisme yang telah kami kembangkan, ”kata Dr Oladeinde.

Tim ilmuwan memfokuskan upayanya dalam 2 bidang utama - memeriksa bagaimana jenis kotoran unggas di kandang broiler dapat mencegah infeksi dan pengembangan resistensi antibiotik, dan menyusun sistem pemantauan kesehatan kawanan unggas yang dapat membantu mereka untuk memprediksi risiko infeksi lebih cepat.

Ini adalah praktik yang cukup umum di AS untuk mendaur ulang litter selama satu tahun atau lebih. Dr Oladeinde dan timnya mempelajari dampak dari menggunakan litter segar atau daur ulang pada kejadian Salmonella dalam kawanan unggas dan dampaknya pada pengembangan resistensi antibiotik, bahkan tanpa adanya penggunaan antibiotik.

Tim menginokulasi litter segar dan daur ulang di laboratorium dengan strain Salmonella yang berbeda dan dipantau selama 14-21 hari. Mereka juga melakukan percobaan dengan unggas hidup, memelihara ayam yang membawa Salmonella Heidelberg baik dengan litter segar atau daur ulang.

Mereka menemukan bahwa mikrobioma yang ada dalam litter daur ulang berkorelasi negatif dengan populasi Salmonella Heidelberg yang kebal antibiotik dalam usus ayam, dibandingkan dengan ayam broiler yang dibesarkan di litter segar.

"Ini menunjukkan bahwa menggunakan kembali litter mempromosikan mikrobioma yang tidak menguntungkan untuk Salmonella yang membawa resistensi antibiotik," katanya.

Tim juga telah menyelidiki cara-cara baru untuk memprediksi risiko Salmonella dalam suatu kawanan. Studi yang lebih luas telah menunjukkan bahwa beberapa bakteri menguntungkan yang diidentifikasi oleh tim dalam mikrobioma uanggas yang dibesarkan pada litter daur ulang, termasuk Bifidobacterium, dapat mengurangi kecemasan dan gejala mirip depresi pada tikus dan manusia, menunjukkan bahwa mikrobioma usus dapat berdampak positif pada otak.

Hal itu mengarahkan mereka untuk memulai pengembangan vision based Salmonella Predictor otomatis, yang mereka harapkan dapat mengidentifikasi dan menemukan unggas yang terinfeksi Salmonella dalam 2 minggu pertama kehidupan.

Predictor akan menggunakan teknik pencitraan canggih untuk mengumpulkan informasi tentang kesehatan unggas dan isyarat sosial yang terkait dengan infeksi Salmonella, termasuk sifat-sifat perilaku, berat unggas dan suhu tubuh. Mikrobiologi dan genetika molekuler juga akan digunakan untuk menentukan prevalensi Salmonella, virulensi dan status resistensi antimikroba.

Saat ini dalam tahap awal pengembangan, tim berusaha melatih sistem untuk mengidentifikasi isyarat sosial ayam broiler bebas Salmonella yang dipelihara tanpa antibiotik. Tahapan selanjutnya akan mencakup pengujian Predictor pada citra ayam broiler yang telah diinokulasi dengan strain Salmonella Heidelberg dan mengoptimalkan Predictor untuk uji verifikasi di kandang broiler komersial.

“Jika alat prediksi awal yang kami usulkan berhasil dikembangkan dan diadopsi oleh hanya 5% dari produsen ayam AS, itu bisa mengurangi jumlah ayam yang membawa Salmonella saat disembelih hingga 90 juta setiap tahunnya. Ini secara signifikan akan meningkatkan food safety dan mengurangi kebutuhan untuk menarik kembali ayam karena kontaminasi Salmonella, ”tambahnya. (Sumber: poultryworld.net)

GITA DAN INFOVET GELAR PERDANA ZOOM ONLINE SEMINAR BIOSEKURITI


Selasa 19 Mei 2020 jam 10.00 – 12.00 GITA Organizer dan Majalah Infovet menggelar Online Seminar Biosekuriti dengan tema : “Pandemi vs. Biosekuriti (Pada Peternakan Unggas) diikuti 120 peserta dari seluruh tanah air terdiri dari Akademisi (Unsrat Manado, Unlam Banjarmasin, Unram Lombok, IPB Bogor, Unpad Bandung, Unbra Malang, Unud Bali, Polbangtan Gowa, UNU Blitar, Unair Surabaya, UNP Kediri dll). Seminar ini adalah seminar perdana yang didukung oleh perusahan obat hewan nasional yaitu PT Romindo Primavetcom, PT Biomin dan PT Zoetis.
Alfred Kompudu
Seminar yang diselenggarakan di tengah maraknya Pandemi Covid 19 ini, menghadirkan pakar Biosekuriti yang masing-masing sudah lama malang melintang di bidangnya yaitu Alfred Kompudu, S Pt, MM (Master Trainer Biosekuriti dari  Australian Centre for International Agriculture Research) dengan materi : “Implementasi Biosekuriti 3-Zone di Peternakan Unggas” dan Drh. Baskoro Tri Caroko (National Poultry Technical Consultant) dengan materi : “Desinfeksi Yang Tepat Untuk Peternakan”. Sebagai moderator Bambang Suharno, Pemimpin Umum/Redaksi Infovet.
Baskoro Tri Caroko

Alfred Kompudu sebagai pembicara pertama mengawali dengan mengemukakan kasus merebaknya wabah Flu Burung (Avian Influenza) di Cina yang disebabkan virus H5N1 di Hunan – Cina yang merupakan provinsi pusat penyebaran virus Corona (Kompas.com), disamping mengemukakan terjadinya kematian puluhan unggas akibat wabah Flu Burung di Bondowoso – Jatim dan enam ribu ayam mati karena wabah penyakit unggas yang sama di Sidrap - Sulawesi  yang praktis waktunya hampir bersamaan dengan kemunculan Covid 19.

Pembicara menekankan bahwa untuk menghadapi kedua virus tersebut (baik Flu Burung maupun Covid 19) perlu dipegang 3 Prinsip Biosekuriti (Bio = Hidup, Sekurity = pengamanan) yaitu mencegah kuman masuk, tumbuh/berkembang dan menyebar, sedangkan elemen biosekuriti yang wajib diaplikasikan ialah isolasi, kontrol lalu-lintas/pergerakan (orang/kendaraan/barang/hewan lain) dan sanitasi (Cleaning & Desinfection).

Selanjutnya Alfred merekomendasikan “Biosekuriti 3-Zona” (Zona Merah = kotor, Zona Kuning = perantara/buffer dan Zona Hijau = bersih) untuk Peternakan Unggas dengan tujuan 1) Mencegah kuman/mikroorganisma menginfeksi unggas/ayam 2) Menjaring kuman hingga 3 lapisan perlakuan 3) PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) 4) Daya saing perunggasan (kualitas produk, ancaman AMR) 5) Sesuai dengan GFP (Good Farming Practise). Pada akhir penyajian materi Alfred meyakinkan peserta seminar dengan Analisa Ekonomi Implementasi Bio 3-Zona di Farm, bahwa peternakan ayam petelur (Layer) yang menerapkan akan menurunkan penggunaan Antibiotik 40%, penurunan penggunaan Desinfektan 30%, penghematan biaya OVK hingga Rp 10 jt (USD 770 – Kurs saat itu), HD (Hen Day) telur rata=rata 90% atau 56 kg/1.000 ekor Layer. Pada peternakan ayam pedaging (Broiler) yang menerapkan Bio 3-Zona ternyata mampu memperoleh tambahan profit (keuntungan) Rp 1.048,-/ekor/siklus.

Searah Jarum Jam: Drh Sulaxono,
Bambang Suharno, Baskoro, Alfred
Pembicara kedua Drh. Baskoro Tri Caroko mengemukakan bahwa berdasarkan fakta lapangan vaksinasi saja tidak cukup untuk mencegah suatu wabah penyakit unggas karena vaksin tidak memberikan proteksi 100%, disamping sumber penularan (Zoonotik Pools) sangat berpengaruh terhadap kejadian penyakit dan kita mengharapkan ayam tetap sehat agar tumbuh sempurna sehingga berproduksi optimal.

Selanjutnya Baskoro menekankan pentingnya Prinsip Pengendalian Penyakit Unggas ialah “One Health”, dalam arti bahan desinfektan yang digunakan harus mempertimbangkan 1) Efektif dan tidak berbahaya bagi pekerja, masyarakat dan makhluk hidup sekitarnya 2) Tidak menimbulkan kerusakan atau pencemaran, bebas polusi dan ramah lingkungan serta tidak menyebabkan residu antibiotik atau bahan berbahaya lainnya pada unggas maupun produk turunannya.

Seminar diakhiri dengan acara tanya-jawab yang nampak peserta sangat antusias, bahkan sempat menyinggung standar dosis dan jenis-jenis desinfektan yang boleh digunakan untuk menghadapi wabah virus yang menyerang manusia seperti Covid 19 dan virus Flu Burung yang menyerang hewan dan manusia. Para peserta yang hadir mendapatkan softcopy materi dan E-Sertificate. Seminar model “Online” ini diharapkan terus berlanjut dengan topik yang menarik dan dibutuhkan insan perunggasan khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. (S.Alam)





MANAJEMEN RANTAI PASOK DAN KEAMANAN PANGAN DI SAAT PANDEMI COVID-19

Daging, produk pangan hasil ternak. (Foto: Istimewa)

Rantai pasok merupakan rangkaian aliran barang, informasi dan proses yang digunakan untuk mengirim produk atau jasa dari lokasi sumber pemasok ke lokasi tujuan pelanggan.

Dimulai dari titik produsen ini bahan pangan akan bergerak menuju berbagai metode pengolahan. Pergerakan bahan pangan ini difasilitasi unit usaha logistik dan transportasi, yang akan menjamin bahwa produk pangan akan sampai kepada konsumen dengan tepat waktu dan berkualitas. 

Hal itu dijelaskan oleh Pengajar Fakultas Peternakan IPB, Dr Epi Taufik, dalam Pelatihan Online "Logistik Rantai Dingin pada Produk Hasil Ternak" yang diselenggarakan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB. Acara berlangsung pada 20-21 Mei 2020 juga menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi atau swasta, yakni Direktur Operasional PT Adib Logistics, Irene Natasha. 

Dijelaskan Epi, perbedaan mendasar antara rantai pasok pangan dengan rantai pasok lainnya adalah perubahan yang terus-menerus dan signifikan terhadap kualitas produk pangan di seluruh rantai pasok hingga pada titik akhir produk tersebut dikonsumsi. Adapun berdasarkan jenis proses produksi dan distribusi dari produk nabati dan hewani, rantai pasok pangan dibedakan atas dua tipe, yakni rantai pasok produk pangan segar dan rantai pasok produk pangan olahan.

Rantai pasok produk pangan segar seperti daging, sayuran, bunga, buah-buahan, secara umum rantai pasoknya meliputi peternak atau petani, pengumpul, grosir, importir, eksportir, pengecer dan toko-toko khusus. Pada dasarnya seluruh tahapan rantai pasok tersebut memiliki karakteristik khusus, produk yang dibudidayakan atau diproduksi dari sebuah farm atau pedesaan. Proses utamanya adalah penanganan, penyimpanan, pengemasan, pengangkutan dan perdagangan produk.

Adapun rantai pasok produk pangan olahan seperti makanan ringan, makanan sajian, atau produk makanan kaleng.

"Pada rantai pasok ini, produk pertanian dan perikanan digunakan sebagai bahan baku dalam menghasilkan produk-produk pangan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Dalam banyak hal, proses pengawetan dan pendinginan melalui sistem rantai pendingin akan memperpanjang masa guna (shelf life) dari produk pangan yang dihasilkan," ujar Epi.

Kesuksesan rantai pasok pangan, lanjut dia, sangat tergantung pada interaksi yang kuat dan efektif antara pemasok bahan ramuan, penyedia bahan kemas utama (contact packaging providers), pengemas ulang (re-packers), pabrik maklon (co-manufacturers), pedagang perantara dan pemasok lainnya. (IN)

PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN INKLUSIF DALAM SITUASI PANDEMI COVID-19

Pembangunan peternakan dalam situasi pandemi (Foto:Ist)


Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional sudah seharusnya dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi upaya pengentasan kemiskinan dan pemerataan pembangunan. Dengan demikian, pembangunan ekonomi harus dilaksanakan secara berkelanjutan dan inklusif.

Hal ini berbeda dengan pembangunan yang dilakukan secara eksklusif, yaitu pembangunan yang hanya menjadikan aspek pertumbuhan ekonomi sebagai satu-satunya tujuan utama yang seringkali menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa pemerataan kesejahteraan, maka pembangunan inklusif menjadi pilihan logis dalam mempertahankan produksi, produktifitas, dan konsumsi produk produk peternakan dan pertanian pada situasi pandemi COVID-19.

"Pembangunan inklusif mengurangi tingkat kemiskinan dan terwujud karena semua pihak berkontribusi menciptakan peluang yang setara berbagi manfaat pembangunan dan memberikan ruang partisipasi seluas luasnya dalam pengambilan keputusan secara partisipatif, non diskriminatif dan akuntabel," jelas Prof Tjeppy Soedjana, Tim Analisis Kebijakan Puslitbang Peternakan, Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian RI yang menjadi pembahas dalam Diskusi Online yang diselenggarakan oleh Indonesia Livestock Alliance (ILA) dan Yayasan CBC Indonesia (YCI) pada Rabu (20/5) melalui aplikasi daring.

Diskusi online #Edisi10 dengan mengangkat tema “Praktik Bisnis Inklusif untuk Pengembangan Usaha di Sektor Pertanian dan Peternakan" yang dilaksanakan oleh YCI-ILA tersebut dengan berkolaborasi bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) dan Partnership for Indonesia Suistainable Agriculture (PISAgro), serta atas dukungan Australia-Indonesia Partnership Promoting Rural Incomes through Support for Markets in Agriculture (PRISMA). PRISMA adalah sebuah program Kemitraan Pembangunan antara Pemerintah Australia (Department of Foreign Affairs and Trade, DFAT) dengan Pemerintah Indonesia (Bappenas). Kemitraan pembangunan multitahun ini bertujuan untuk mempercepat pengentasan kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Narasumber penting lain yang dihadirkan dalam diskusi rutin yang diselenggarakan untuk yang ke-10 itu yakni Ir. R. Anang Noegroho Setyo Moeljono, M.E.M (Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas), Lulu Wardhani (Unit Manager, Rural Development  Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT)), Devin Marco (Head of Portfolio PRISMA), M. Burmansyah K. (Manager Partnership & Smallholder PT Pupuk Kalimantan Timur), Regi Diar Patrizia (Business Development KJUB Puspetasari), Febroni Purba(Manager Marketing PT Sumber Unggas Indonesia), Dr. Andre Rivanda Daud (Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Peternakan Unpad).

Lebih jauh Tjeppy memaparkan, strategi utama pembangunan inklusif adalah dengan penciptaan lapangan kerja produktif dan menguntungkan, menyediakan jaring pengaman sosial yang efektif dan efisien untuk melindungi mereka yang tidak mampu bekerja atau yang terlalu sedikit mendapatkan manfaat pembangunan, meningkatkan pelayanan dasar publik dan dukungan kebijakan publik yang memadai.

Pada prinsipnya, pembangunan inklusif merupakan model pembangunan ekonomi lokal dengan melibatkan secara peran aktif pemerintah, sektor bisnis dan masyarakat yang diimplementasikan dalam bentuk intervensi program dengan memanfaatkan potensi ekonomi daerah, pengembangan perencanaan partisipatif, pengembangan forum multipihak, advokasi kebijakan publik, serta dukungan usaha kecil dan menengah terutama yang berbasis pemanfaatan sumber daya alam untuk membangun iklim pembangunan inklusif.

Pandemi COVID-19 telah mengganggu ketersediaan, distribusi, dan akses terhadap pangan di berbagai negara termasuk Indonesia, sehingga diperkirakan akan terjadi kelangkaan pangan, dan dikuti oleh perubahan perilaku masyarakat dalam mencukupi kebutuhan pangannya.

Melihat hal itu, Tjeppy menjelaskan, penanganan dampak dan potensi dampak ekonomi dan sosial dapat dilakukan melalui pendekatan pembangunan pertanian inklusif di perdesaan.

Beberapa langkah pendekatan itu yakni dengan mendekatkan petani pelaku usaha pertanian kepada teknologi inovatif untuk meningkatkan adopsi, perbaikan pendapatan, dan kesejahteraan ;jaminan ketersediaan penyediaan bahan pangan pokok, percepatan ekspor komoditas potensial setempat dalam mendukung keberlanjutan ekonomi ;pengembangan pasar tani di provinsi termasuk pasar online, jaring pengaman sosial melalui kegiatan padat karya dan fasilitas penyediaan pangan murah;dukungan terhadap UMKM dan usaha ekonomi informal di sektor pertanian ;dan menjamin keberlangsungan usaha pertanian melalui bantuan sarana produksi seperti alat dan mesin pertanian, input produksi berupa benih bibit ternak, pupuk dan biaya usaha pertanian -melalui kegiatan padat karya tunai. (IN)

PELAKU INDUSTRI PAKAN DAN OBAT HEWAN BICARA DAMPAK PANDEMI COVID-19






AYAM JUGA BISA STRES

Kepadatan kandang, salah satu faktor pemicu stres. (Sumber: Istimewa)

Serupa dengan manusia, hewan juga mengalami stres. Namun tentu saja parameter penyebab stresnya berbeda. Yang esensial tentu saja stres dapat menyebabkan imunosupresi dan memudahkan penyakit menyerang, performa pun bisa berantakan akibat stres.

Dalam KBBI, stres didefinisikan sebagai gangguan atau kekacauan mental dan emosional akibat faktor luar. Dari sini dapat dinalar bahwasanya stres ini berkaitan dengan lingkungan (termasuk iklim dan suhu) serta manajemen pemeliharaan.

Fisiologi Stres
Secara fisiologis, ketika ayam mengalami stres jangka panjang akibat faktor apapun, akan terjadi peningkatan sekresi hormon ACTH (Adrenocorticotropic) oleh kelenjar pituitari di otak. Tingginya kadar hormon ACTH akan menurunkan fungsi metabolisme secara umum, tanpa terkecuali penyerapan kuning telur pada masa day old chick (DOC).

Gangguan penyerapan kuning telur pada masa DOC tentunya akan menyebabkan pertumbuhan terhambat. Apalagi jika sisa kuning telur yang lambat terserap tadi terkontaminasi dan terinfeksi oleh mikroorganisme misalnya E. coli, tentunya omphalitis akan terjadi.

Hal lain yang juga lebih mengerikan dan pasti terjadi adalah terlambatnya penyerapan zat kebal yang ada pada kuning telur. Tentu saja jika ini terjadi, ayam akan menjadi lebih rentan terhadap penyakit akibat daya tahan tubuh menurun. Itulah mengapa stres juga dapat berujung pada imunosupresi.

Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Prof Agik Suprayogi, ada beberapa ciri-ciri stres pada hewan ternak. Pada ayam perubahan perilaku yang dapat dilihat misalnya ayam tampak gelisah di dalam kandang, sering kali membentangkan dan mengepakkan sayap, lebih banyak minum ketimbang makan, nafsu makan menurun, terlihat megap-megap (panting).

“Kita mikirnya udah macam-macam aja kalau melihat perubahan perilaku, ya wis ngalor-ngidul kepikiran penyakit ini-itu, padahal ayam itu enggak nyaman. Ini yang perlu kita sadari, makanya memang sulit mendeteksi stres juga,” tutur pria asal Malang tersebut.

Agik juga menyebut bahwa dampak stres pada hewan ternak yang ditakutkan bukanlah kematian, tetapi penurunan produksi. “Kalau mati atau setengah hidup, kita langsung potong, dagingnya masih bisa dijual. Tapi kalau produksi turun, akan rugi. Kasih pakan rutin tapi profit enggak, ya toh?,” katanya.

Kenali Faktor Penyebab Stres
Prof Lenny Van Erp dari HAS University Belanda dalam suatu presentasi pernah mengatakan bahwa kebanyakan ayam modern mengalami stres akibat… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020 (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer