-->

BRAND TELUR ORGANIK PERTAMA DI INGGRIS MENGALAMI PENINGKATAN PERMINTAAN


Purely Organic, brand telur organik nasional pertama di Inggris milik perusahaan Noble Foods, saat ini menguasai 11% produksi dari total sektor telur organik setelah launching pada bulan September 2018 lalu.

Pertumbuhan Purely Organic didorong oleh konsumen yang berjuang untuk gaya hidup sehat dan lebih memperhatikan sumber makanan mereka.

Telur diproduksi dari enam peternakan di mana ayam bebas mencari makan di antara pohon buah-buahan dan bunga liar, dan semua pakan bersumber dari pabrik organik tunggal milik sendiri.

Permintaan untuk Purely Organic melonjak dan bukan hanya karena permintaan telur yang timbul karena pandemi Covid-19, menurut Graham Atkinson, direktur agrikultur di Noble Foods.

Dia mengatakan orang-orang menginginkan 'jaminan yang dapat ditawarkan oleh merek terpercaya', “Mereka menghargai dedikasi dan komitmen yang diberikan petani organik dalam merawat ayam-ayam mereka.”

“Kami selalu mencari cara untuk memberikan kembali kepada lingkungan, artinya telur kami baik untuk konsumen, baik untuk peternakan, dan baik untuk ayam,” katanya lagi.

Purely Organic adalah brand pertama di Inggris yang menampilkan logo Climate Partner. Artinya kemasan yang mereka gunakan ramah lingkungan. (Sumber: farminguk.com)

INDUSTRI TELUR INGGRIS MEMILIKI PERAN PENTING DI KOMISI PERDAGANGAN DAN PERTANIAN PASCA BREXIT


Kalangan terkemuka industri telur Inggris menyerukan Dewan Industri Telur Inggris (BEIC) untuk memainkan peran utama dalam Komisi Perdagangan dan Pertanian yang baru diumumkan.

BEIC percaya bahwa sangat penting bagi mereka untuk menjadi anggota komisi. Sehingga bisa meneliti dan memberi nasihat kepada pemerintah tentang kesepakatan perdagangan masa depan yang akan dilakukan Inggris di seluruh dunia.

Setelah memainkan peran penting dalam kampanye bersama di peternakan Inggris untuk membentuk kelompok perdagangan dan standar pertanian, untuk mencegah negara-negara dengan standar kesejahteraan hewan yang rendah merusak produsen Inggris, BEIC memiliki peran penting untuk dimainkan dalam komisi yang baru terbentuk.

Mark Williams, Kepala Eksekutif BEIC, mengatakan, “Ini adalah berita bagus bahwa Pemerintah telah mendengarkan komunitas peternakan Inggris mengenai masalah ini. Dewan Industri Telur Inggris mewakili industri telur Inggris, yang memiliki sejumlah masalah unik yang perlu diwakili dengan baik dan oleh karena itu penting agar kami dimasukkan dalam susunan Komisi Perdagangan dan Pertanian.”

Andrew Joret, Ketua BEIC menambahkan, “Industri telur Inggris adalah salah satu kisah sukses agrikultur terbesar, menjadi sangat efisien, inovatif dan responsif terhadap permintaan konsumen. Kami percaya kami memiliki banyak hal untuk ditawarkan dalam hal pengalaman kami.”
\
Komisi Perdagangan dan Pertanian akan menginformasikan perdagangan pasca Brexit dan membuat rekomendasi tentang kebijakan perdagangan agrikultur, kesejahteraan hewan, dan peluang ekspor bagi para petani Inggris. Keanggotaannya akan terdiri dari pejabat pemerintah, perwakilan industri, kelompok kesejahteraan hewan dan para ahli di bidang pangan dan pertanian. (Sumber: thepoultrysite.com)

PETANI KEKERINGAN, WAKIL MENTERI PERTANIAN THAILAND MEMBERIKAN BANTUAN UNGGAS


Wakil Menteri Pertanian dan Koperasi mengirimkan unggas kepada petani yang terkena dampak kekeringan di provinsi Maha Sarakham, berharap unggas-unggas itu akan menghasilkan pendapatan bagi para petani.

Mr Praphat Phothasoothon bertemu dengan para petani lokal dan memasok mereka dengan unggas hidup. Unggas tersebut akan digunakan sebagai stok pengembangbiakan, diharapkan bisa menjadi sumber pendaparan baru selama musim kemarau berlanjut.

Program tersebut adalah bagian dari skema pemulihan yang telah diperkenalkan oleh Kementerian Pertanian dan Koperasi. Skema ini berharap dapat menopang pendapatan petani yang terkena dampak bencana banjir Thailand pada awal tahun 2020.

4.886 petani di Maha Sarakham yang telah bergabung dalam skema ini memilih untuk menerima dukungan yang ditawarkan untuk memulai usaha peternakan mereka. (Sumber: thepoultrysite.com)

MASALAH PARASIT MASIH MEMBELIT

Ternak ayam petelur. (Foto: Dok. Han)

Fenomena masalah parasit pada unggas, baik broiler dan layer nampaknya masih dianggap remeh dan kurang diperhatikan karena tidak menimbulkan kematian yang mendadak dan tinggi seperti halnya penyakit viral (misal Newcastle disease/ND atau Avian influenza/AI). Padahal serangan parasit juga mampu menimbulkan kerugian cukup besar. Waktu serangannya pun sulit diketahui, tiba-tiba saja produktivitas (telur atau berat badan) ayam menurun.

Untuk itu penulis akan mencoba menyegarkan kembali dengan memberikan update informasi perkembangan terkini masalah parasit beserta langkah-langkah diagnosis dan program pengendaliannya.

Data hasil kolaborasi dengan PT Ceva pada April 2020 di wilayah Pulau Sumatra dan Jawa menunjukkan kejadian penyakit parasit masih menjadi momok yang menakutkan bagi peternak, dimana untuk ternak broiler serangan parasit yang ditemukan adalah Koksidiosis dan untuk layer adalah Helminthiasis/cacingan. Adapun data secara detailnya sebagai berikut:

Data pada April 2020 menunjukan serangan parasit pada peternakan ayam masih ditemukan.

Kejadian kasus penyakit pada unggas pada April 2020 masih didominasi oleh penyakit viral ND sejumlah 21% kasus dan bakterial Complex Chronic Respiratory Disease (CCRD) sejumlah 15% kasus. Untuk penyakit yang disebabkan oleh parasit juga masih ditemukan yakni Helminthiasis sebanyak 5%, diikuti oleh Koksidiosis sebanyak 3,75%. Helminthiasis terjadi pada banyak peternakan layer dan saat ini yang tengah marak adalah infestasi cacing pita, Raillietina sp. dan Acantocephala dengan spesies Mediorhynchus gallinae.

Penyakit cacingan bisa berpotensi menyebabkan penyakit lain masuk ke dalam tubuh ayam. Terutama luka pada usus, karena cacing bisa menyebabkan tumbuhnya bakteri Clostridium perfringens penyebab penyakit Necrotic enteritis (NE). Kejadian NE sendiri dari data di atas menempati peringkat ketiga dengan kejadian kasus sebanyak 13,75 %.

Helminthiasis
Penyakit cacingan merupakan infeksi yang disebabkan oleh adanya infestasi parasit pada ayam. Cacing yang umum menyerang ayam yakni cacing gelang maupun cacing pita. Keduanya hidup di saluran pencernaan ayam. Cacing gelang yang sangat sering ditemui yaitu dari jenis Ascaridiagalli dan Capillaria sp. atau cacing gelang dengan ukuran sangat kecil yaitu Heterakis gallinarum yang berbentuk seperti rambut-rambut halus, biasa ditemui di sekum ayam. Sedangkan untuk cacing pita umumnya ditemukan jenis Raillietina sp.

Ayam layer yang terkena cacingan menunjukkan gejala produksi telur dan berat badan turun, kotoran menjadi basah, pucat dan bulu kusut. Cacingan juga dapat berdampak anemia pada ayam yang menyebabkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2020

Ditulis oleh:
Drh Sumarno, Senior Manager AHS PT Sierad Produce dan 
Han, praktisi peternak layer Rehobat

INDONESIA TINGKATKAN KEWASPADAAN TERKAIT VIRUS FLU BABI G4

Babi, kembali menjadi sorotan karena penularan virus flu babi G4

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertanian,meningkatkan pengawasan terhadap hewan-hewan serta produk hewan yang masuk Indonesia yang berpotensi membawa penyakit.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita, menjelaskan bahwa para petugas karantina meningkatkan pengawasan sebagai bentuk antisipasi terhadap temuan sebuah galur (strain) virus flu baru yang berpotensi menjadi pandemi.

Galur virus yang disebut G4 EA H1N1 itu dibawa oleh babi, namun dapat menjangkiti manusia.

"Pengawasan sistematis terhadap virus influenza pada babi adalah kunci sebagai peringatan kemungkinan munculnya pandemi influenza berikutnya. Kita akan siapkan rencana kontingensinya juga," kata Ketut di Jakarta, Kamis (02/07).

Ketut menjelaskan bahwa pihaknya juga akan terus memperkuat kapasitas deteksi laboratorium kesehatan hewan di Indonesia, serta meminta jejaring laboratorium tersebut untuk melakukan surveilans untuk deteksi dini penyakit dimaksud.

Sebelumnya, kepada BBC, Prof Kin-Chow Chang, yang bekerja di Universitas Nottingham, Inggris, mengatakan dia dan para koleganya menemukan galur virus flu baru yang dibawa oleh babi.

Mereka khawatir virus yang disebut G4 EA H1N1 itu bisa bermutasi lebih jauh sehingga bisa menular dengan mudah dari satu orang ke orang lain dan memicu wabah penyakit sedunia.

Baru-baru ini para ilmuwan menemukan bukti penularan pada manusia yang bekerja di penjagalan dan industri peternakan babi di China.

Sejauh ini virus tersebut belum menimbulkan ancaman besar, namun menurut Prof Kin-Chow Chang dan kolega-koleganya yang tengah menelitinya, virus itu patut diawasi. Menurut Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita, temuan virus flu babi ini sempat membuat masyarakat bingung, karena menganggap flu babi sama dengan demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF).

Ketut menegaskan bahwa flu babi dan demam babi Afrika adalah dua penyakit yang berbeda.

"Kasus penyakit pada babi yang ada di Indonesia pada saat ini adalah ASF dan bukan flu babi," kata dia.

Sejak akhir 2019, kasus ASF dilaporkan di Indonesia tepatnya di Sumatera Utara.

Kementan pun terus memantau perkembangan kasusnya, dan berdasarkan data yang ada, tidak pernah ada laporan kejadian ASF menular pada manusia.

Ketut memastikan bahwa sejak ASF mulai dilaporkan di China pada 2018, Kementan secara konsisten terus melakukan pengendalian dan menyosialisasikan tentang ASF ke provinsi/kabupaten/kota melalui edaran dan juga sosialisasi secara langsung, pelatihan, dan simulasi.

Ketut menerangkan bahwa pada saat ini, kasus flu babi khususnya galur baru seperti pada pemberitaan, belum pernah dilaporkan di Indonesia.

"Jadi masyarakat tidak perlu khawatir terkait flu babi ini. Pemerintah akan terus memantau dan berupaya agar penyakit ini tidak terjadi di Indonesia," kata dia kepada

KEMUNCULAN FLU BABI DI TIONGKOK, BERBEDA DENGAN ASF

Muncul penyakit Flu babi di Tiongkok yang berpotensi zoonosis. (Foto: Ist)

Temuan virus baru Flu babi (Swine flu) G4 EA H1N1 yang dipublikasi oleh ilmuwan Tiongkok baru-baru ini, menurut Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita, tak sama dengan kasus African Swine Fever (ASF).

Hal tersebut dikatakan agar masyarakat tak bingung membedakan kedua penyakit tersebut. “Kasus penyakit pada babi yang ada di Indonesia saat ini adalah ASF, bukan Flu babi,” kata Ketut dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (1/7/2020).

Ia menambahkan, penyakit Flu babi yang dilaporkan oleh ilmuwan Tiongkok disebabkan oleh virus infulenza H1N1 galur baru dan berpotensi menular dari hewan ke manusia (zoonosis). Sementara pada kasus ASF yang ada di Indonesia tidak dapat menular ke manusia.

“Sejak akhir 2019, kasus ASF dilaporkan di Indonesia tepatnya di Sumatra Utara. Kementan terus memantau perkembangan kasusnya dan berdasarkan data yang ada, tidak pernah ada laporan kejadian ASF pada manusia di seluruh negara tertular,” jelas Ketut.

Pihaknya pun sejak laporan ASF di China pada 2018 secara konsisten terus melakukan pengendalian dan mensosialisasikan ASF ke provinsi/kabupaten/kota melalui edaran, maupun sosialisasi secara langsung, memberikan pelatihan dan simulasi. 

Sedangkan menanggapi kewaspadaan Flu babi khususnya galur baru ini, Ketut menegaskan akan menerapkan berbagai langkah mengurangi potensi masuk dan menyebarnya Flu babi di Indonesia. Diantaranya dengan memperkuat kapasitas deteksi laboratorium kesehatan hewan, serta meminta jejaring laboratorium tersebut untuk melakukan surveilans deteksi dini penyakit Flu babi. Selain itu, para petugas karantina juga diminta meningkatkan keamanan di pintu-pintu pemasukan untuk mengawasi masuknya hewan dan produk yang memiliki potensi risiko pembawa penyakit. 

“Masyarakat tak perlu khawatir. Pemerintah terus memantau dan berupaya agar penyakit ini tidak terjadi di Indonesia. Pengawasan sistematis terhadap virus influenza pada babi adalah kunci sebagai peringatan kemungkinan munculnya pandemi berikutnya. Kita akan siapkan juga rencana kontingensinya,” pungkas Ketut. (INF)

MENGENAL PENYAKIT AFRICAN SWINE FEVER

Virus ASF sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian 100% pada babi. (Foto: GETTY IMAGES)

Virus African Swine Fever (ASF) adalah virus DNA beruntai ganda termasuk dalam familie Asfarviridae sebagai agen penyakit ASF. Virus ini menyebabkan demam berdarah dengan tingkat kematian tinggi. Beberapa isolat dapat menyebabkan kematian hewan satu minggu setelah infeksi. Virus ini menginfeksi inang alami seperti babi hutan melalui vektor kutu dari genus Ornithodoros tanpa disertai gejala penyakit.

Selain itu, virus ASF juga ditularkan melalui kontak langsung dengan babi yang tertular, daging dan produk daging babi, sisa-sisa makanan (swilling feeding), peralatan, sepatu, hingga pakaian yang digunakan para pekerja atau pengunjung di peternakan babi yang tertular penyakit ASF.

Namun virus ASF bisa mati pada pemanasan suhu 56 derajat selama 70 menit atau suhu 60 derajat selama 20 menit. Kendati demikian, virus ASF bisa bertahan hidup pada sisa makanan dalam sampah yang terinfeksi virus ASF selama 3-6 bulan dan dalam keadaan frozen selama tiga tahun.

Gambar 1: Bentuk virus ASF secara fisik seperti model virus pada umumnya, tetapi sangat  jauh berbeda  secara molekular.

Penyakit ini tidak menyebabkan penyakit pada manusia atau tidak bersifat zoonosis. Virus ASF merupakan penyakit endemik di Afrika sub-Sahara dan menyebar ke Eropa melalui babi atau produknya yang dibawa oleh imigran maupun wisatawan Eropa. Virus ASF memiliki genom DNA beruntai ganda dan dapat menjangkau 190 kilobase, serta yang mengesankan karena mengkode hampir 170 protein, jauh lebih besar dari virus lain, seperti Ebola (beberapa strain hanya memiliki 7 protein).

Virus ASF memiliki kesamaan dengan virus DNA besar lainnya, misalnya poxvirus, iridovirus dan mimivirus. Virus ASF ini menyebabkan demam hemoragik, dimana sel targetnya terutama untuk bereplikasi terdapat pada makrofag sel monosit. Masuknya virus ke dalam sel inang dimediasi oleh reseptor, tetapi mekanisme endositosis yang tepat sampai saat ini belum jelas. Sel makrofag pada tahap awal diinfeksi oleh virus ASF, perakitan kapsid icosahedral terjadi pada membran retikulum endoplasma. Poliprotein diproses secara proteolitik membentuk kulit inti antara membran internal dan inti nukleoprotein. Membran sel plasma bagian luar sebagai inti partikel dari membran plasma. Protein virus mengkode protein yang menghambat jalur pensinyalan pada makrofag yang terinfeksi dan dengan demikian memodulasi aktivasi transkripsi gen respons imun. Selain itu, virus mengkode protein yang menghambat apoptosis sel yang terinfeksi untuk memfasilitasi produksi virion keturunannya. Protein membran virus dengan kemiripan protein adhesi seluler memodulasi interaksi sel yang terinfeksi virus dan viri ekstraseluler dengan komponen inang.

Hewan yang peka pada ASF ini adalah babi hutan, babi liar dan babi domestik. Babi yang terinfeksi dapat menunjukkan satu atau beberapa tanda-tanda klinis, seperti berwarna ungu kebiruan dan perdarahan (seperti bintik atau memanjang) di telinga, perut dan/atau kaki belakang, kemudian mata dan hidung keluar cairan, lalu terdapat merah pada kulit dada, perut, perineum, ekor dan kaki,  dan juga terjadi sembelit atau diare yang dapat berkembang dari mukoid menjadi berdarah (melena), muntah, induk babi yang bunting mengalami aborsi pada semua tahap kebuntingan, darah dan busa dari hidung/mulut dan mata, serta kotoran berdarah di sekitar ekor. Gejala klinis dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2. Gejala klinis pada penyakit African Swine Fever.

Oleh karena sifat virus yang sangat rumit dan memiliki genom besar, maka untuk menemukan obat misalnya vaksin saja juga sulit. Sampai saat ini peneliti belum mampu menemukan vaksin ASF, meskipun berbagai metoda pembuatan vaksin telah dilakukan. Metoda pembuatan vaksin ASF yaitu dimulai dari vaksin konvensional, vaksin DNA, rekombinan protein dan vaksin dari senyawa alami, sintetis dan obat.

Dengan alasan tersebut, maka virus ini sangat berbahaya apabila terjangkit wabah ASF, karena dapat menyebabkan kematian (mortalitas) 100%. Seluruh babi dalam suatu kandang atau wilayah akan mati secara keseluruhan. Selain kematian yang sangat tinggi juga akan kehilangan sumber protein dan kerugian ekonomi yang besar bagi peternak dan masyarakat.

Berdasarkan kompleksitas susunan DNA dan protein virus ASF, sifat penyakitnya menyebabkan kematian sangat tinggi (mortalitas 100%), belum ditemukannya obat (vaksin) yang efektif dan aman, maka pemerintah harus menjaga secara ketat masuknya penyakit ini ke dalam wilayah Indonesia. Penting untuk diperhatikan bahwa penularan penyakit ini tidak bisa dicegah, karena hal tersebut menyebabkan tidak ada negara yang kebal terhadap penyakit ASF. Negara maju pun seperti Amerika dan negara-negara lain di Eropa dapat tertular penyakit ini walaupun telah melakukan biosekuriti. Apalagi di negara berkembang seperti Indonesia dan Asia pada umumnya, dimana peternaknya belum disiplin dalam menerapkan biosekuriti. Satu-satunya cara untuk mengeliminasi virus ASF melalui depopulasi dengan cara penguburan dan desinfeksi kandang serta peralatannya. ***

Oleh: Dr med vet Drh Abdul Rahman
Medik Veteriner Ahli Madya di P3H Direktorat Kesehatan Hewan

KEMENTAN DORONG PELAKSANAAN UJI ZURIAT BIBIT SAPI PERAH

Usaha peternakan sapi perah 


Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus berupaya meningkatkan produksi ternak sapi perah secara nasional melalui peningkatan jumlah dan perbaikan mutu bibit sapi perah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah meningkatkan jumlah dan mutu ternak sapi perah yang unggul dan bermutu tinggi, dengan pelaksanaan uji zuriat untuk memilih ternak bibit sapi perah.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita, menilai usaha peternakan sapi perah dapat ditingkatkan melalui penyedian bibit sapi perah dan jantan yang berkualitas. Harapannya, bisa mendorong peternak menghasilkan susu dengan kualitas yang lebih baik.

“Karena di saat pandemi COVID-19 ini, masyarakat sangat sadar dan memahami pentingnya konsumsi susu dengan berbagai macam jenis olahannya seperti keju dan mentega yang sering menjadi bahan utama beragam makanan untuk meningkatkan imunitas tubuh dan meminimalisir potensi terinfeksi penyakit,” kata Ketut dalam siaran persnya, Sabtu (27/6).

Ketut menambahkan berdasarkan  data statistik peternakan dan kesehatan hewan tahun 2019, populasi sapi perah nasional sebanyak 561.061 ekor dengan kebutuhan jumlah kebutuhan susu nasional tahun 2019 mencapai 4.332.880 ton.  Sementara produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) sebanyak 996.442 ton atau hanya mampu memenuhi 22 persen dari kebutuhan nasional.

Untuk itu, Kementan ingin menyeimbangkan antara kebutuhan dan produksi tersebut. Melalui Ditjen PKH, Kementan berupaya mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi oleh peternak rakyat dengan meningkatkan populasi sapi perah dan peningkatan mutu genetik sapi perah.

Pada tahun 2020 ini, fokus kegiatan Kementan dalam peningkatan populasi sapi perah ini dilakukan melalui program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan). Selain itu, pemasukan bibit sapi perah untuk replacement induk juga dilakukan.

Sedangkan dalam hal peningkatan mutu genetik, langkah yang diambil adalah melalui program uji zuriat sapi perah nasional. Ketut menjelaskan, uji zuriat merupakan pengujian untuk mengetahui potensi genetik produksi susu sapi calon pejantan melalui produksi susu anak betinanya (Daughter Cow/DC) dan dilakukan untuk menghasilkan bibit pejantan unggul yang cocok dengan kondisi agroklimat Indonesia.

“Besarnya potensi peningkatan mutu genetik sapi perah di masyarakat ini menjadi salah satu tujuan kegiatan uji zuriat sapi perah nasional. Dan kami berharap meningkatnya produksi susu di masyarakat akan mendorong peningkatan produksi secara nasional," papar Ketut.

Pelaksanaan Kegiatan Uji Zuriat Sapi Perah Nasional

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Sugiono mengatakan, dalam pelaksanaan kegiatan Uji Zuriat Sapi Perah periode tahun 2011-2019, Ditjen PKH Kementan juga telah melibatkan stakeholder melalui bentuk kerja sama. Lewat kerja sama tersebut, menghasilkan 14 ekor pejantan unggul sapi perah hasil Uji Zuriat yaitu Bullionary, Farrel, Filmore, Formery, Flaunt, Florean, Fokker, Hostromsy, Goldsy, Perfentvil, Fortuner, SG. Gabe, SG. Bolton dan Aris.

Sugiono melanjutkan, keempat belas pejantan unggul hasil uji zuriat ini memiliki rataan produksi susu per hari sebanyak 16,77 kilogram (kg) per hari dengan dua kali pemerahan dan nilai persentase dari contemporary comparison/Relative Breeding Value-nya sebesar 112,75 persen. Dari nilai rataan produksi susu ini, menurut Sugiono, akan sangat berarti bagi peternak, karena dengan manajemen pemeliharaan sederhana peternak bisa memperoleh produksi susu yang lebih tinggi dibandingkan sapi betina yang bukan dari keturunan hasil uji zuriat.

“Pendekatan melalui peningkatan mutu genetik ini lebih terasa manfaatnya pada peternak rakyat yang memiliki kepemilikan sapi perah yang terbatas,” jelas Sugiono.

Dari 14 ekor yang telah dilaunching tersebut, 8 ekor pejantan di antaranya adalah dari  Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang. Kemudian selanjutnya pejantan yang termasuk Uji Zuriat Periode III sebanyak 6 ekor, yaitu Glens (314107), Shoty (314108), Dominggo (314111) dari BBIB Singosari.

Di tempat terpisah, Kepala Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Tri Harsi mengungkapkan, BIB Lembang mempunyai 3 calon pejantan unggul, yaitu Flate, Flanggo, dan Folegan. Ketiga calon pejantan unggul ini, diharapkan bisa dilaunching pada Hasil Uji Zuriat Sapi Perah Nasional pada Tahun 2020 ini.

Tri menyampaikan bahwa produksi semen beku Flate (314113), Flanggo (314115), dan Folegan (314118) sejak mulai diproduksi sampai dengan akhir Mei 2020 berturut- turut sebanyak 93.014 dosis, 75.034 dosis, dan 104.512 dosis. Sedangkan distribusi dari tiga calon pejantan unggul tersebut sampai dengan akhir Mei 2020 berturut-turut sebanyak 3.419 dosis, 3.750 dosis, dan 4.298 dosis.

“Distribusi semen beku calon pejantan unggul tersebut hanya dilakukan pada daerah peserta Uji Zuriat dan untuk keperluan Uji Zuriat," terang Tri.

Lebih lanjut, Tri menjelaskan di tengah pandemi covid-19 di Indonesia, pelaksanaan kegiatan Uji Zuriat baik koordinasi maupun monitoring evaluasi menjadi tantangan untuk dilaksanakan. Namun, ia berharap kegiatan Uji Zuriat pada Tahun 2020 dapat berlanjut sesuai jadwal yang direncanakan untuk melaunching calon pejantan unggul Indonesia. (republika.co.id)
 

KEMENTAN PASTIKAN HEWAN KURBAN ASUH BAGI MASYARAKAT

Pemotongan hewan kurban. (Foto: Humas PKH)

Dalam Upaya penjaminan kesehatan, keamanan dan kelayakan daging pada pelaksanaan Hari Raya Idul Adha 1441 H, Kementerian Pertanian (Kementan) terus meningkatkan pengawasan teknis kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner hewan kurban.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita, Kementan, saat membuka Program Bertani on Cloud Vol. 22 dengan Topik Pelatihan Juru Sembelih Halal, Selasa (30/6).

Menurutnya, dalam proses penyembelihan hewan kurban harus memenuhi dua aspek sekaligus, yakni kehalalan dan kesejahteraan hewan (Kesrawan). Kedua aspek tersebut sejalan dengan persyaratan prinsip dasar penyembelihan sehingga peran juru sembelih menjadi sangat penting dalam memastikan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban agar memenuhi persyaratan syariat Islam.

“Hari Raya Idul Adha sebentar lagi, jadi sangat penting sekali membekali para juru sembelih halal (Juleha) tersebut, apalagi ditengah wabah pandemi COVID-19 dengan memperhatikan  protokol kesehatan,” kata Ketut.

Untuk itu, Kementan telah melakukan serangkaian upaya mulai dari penyediaan regulasi, sosialisasi, pembinaan dan juga akan terlibat dalam pemeriksaan, serta pengawasan daging dan hewan kurban.

“Kementan berkomitmen memastikan bahwa pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di Indonesia dapat memenuhi persyaratan teknis dalam rangka menjamin daging kurban yang akan dibagikan kepada masyarakat sesuai kriteria Aman, Sehat, Utuh dan Halal  (ASUH),” tegasnya.

Ketut menambahkan, berbagai pelatihan dan sosialisasi tentang pelaksanaan penyembelihan hewan kurban kepada masyarakat sangat penting untuk dilakukan secara massif dalam mengedukasi masyarakat khususnya bagi panitia kurban terkait penanganan hewan kurban, penyembelihan halal dan penanganan daging kurban yang higienis, baik melalui berbagai media secara langsung maupun tidak langsung. 

Terlebih dengan adanya pandemi COVID-19 saat dimana dilakukan pembatasan sosial (social distancing), pelatihan dan sosialisasi memanfaatkan beraneka ragam aplikasi dan sarana multimedia, sehingga informasi yang dibutuhkan masyarakat dapat berjalan efektif dan efisien.

Di Indonesia panduan tentang penyembelihan halal mengacu pada tiga regulasi utama, yaitu: 1) Halal Assurance System (HAS) 23103, Guideline of Halal Assurance System Criteria on Slaughterhouses. 2) Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) No. 196/2014 tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok Jasa Penunjang Peternakan Bidang Penyembelihan Hewan Halal. 3) Standar Nasional Indonesia (SNI) 99002:2016 tentang Pemotongan Halal pada Unggas.

Direktur Kesehatan Masayarakat Veteriner, Syamsul Ma’arif menjelaskan titik kritis yang dapat menyebabkan daging menjadi tidak halal adalah cara penyembelihan hewan yang tidak sesuai dengan syariah agama Islam. Proses penyembelihan harus cepat, sekali ayun dan memotong tiga saluran, yaitu hulqum, mar’i dan wadjadain atau saluran napas (trachea), saluran makan (esofagus) dan pembuluh darah kiri dan kanan yang ada dibagian leher (arteri carotis comunis).

Selain itu, Syamsul juga menambahkan persyaratan prinsip dasar penyembelihan harus dilakukan, yakni penanganan ternak yang baik, penggunaan pisau yang tajam, teknik penyembelihan yang cepat dan tepat, satu kali penyembelihan sehingga tidak menginduksi kesakitan yang berlebihan, pengeluaran darah yang tuntas, serta kematian yang sempurna. (INF)

SATWA HARAPAN, BISNIS EFISIEN YANG MENJANJIKAN

Ulat hongkong, satwa harapan yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan. (Foto: Ist)

Ternak konvensional yang ada saat ini seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, babi, hanya sebagian kecil dari sumber daya hayati fauna yang ada. Masih ada banyak satwa lain yang memiliki potensi tinggi sebagai sumber protein bagi manusia, baik dari mamalia, burung, reptilia, avertebrata maupun serangga.

Hal itu dikatakan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, Prof Dr Asnasth M. Fuah dalam presentasinya bertajuk “Satwa Harapan Pilihan Usaha Menjanjikan yang Efisien” dalam sebuah  pelatihan melalui online yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB pada Sabtu (27/6/2020). Hadir pula narasumber lain yakni Dr Yuni Cahya Endrawati (Dosen Fapet IPB) dan Koes Hendra Agus Setiawan (Founder PT Sugeng Jaya Group).

Asnath memaparkan, satwa harapan memiliki sejumlah keunggulan yakni efisiensi lahan dan ruang, efisiensi modal, mudah beradaptasi dan ramah lingkungan, relatif tahan penyakit, siklus hidup yang pendek dan nilai ekonomi yang tinggi.

Ia mencontohkan satwa harapan dengan budidaya jangkrik yang memiliki kadar protein 54-58%, kapasitas produksi telur pada luas lahan sekitar kurang dari  100 m2 atau setara dengan 20 kotak pemeliharaan mencapai 6-8kg/hari, dapat dipanen mencapai 200-250 kg/bulan dengan harga jual Rp 30.000-35.000/kg.

Contoh lainnya adalah budidaya lebah madu apis, yang memerlukan kawasan tanaman pakan yang mengandung nektar. Produksi madu 2 kg/stup/periode panen, dalam setahun bisa 3-4 periode panen. “Keunggulan lain budidaya lebah madu apis yakni integrasinya dengan kopi. Meningkatkan produksi madu dan kopi, lebah sebagai polinatornya,” jelas Asnath.

Satwa harapan lain yang berpotensi besar untuk dikembangkan, lanjut dia, antara lain budidaya lebah trigona, ulat hongkong, lebah propolis, ulat sutera bombyx mori, ulat sutera alam Indonesia attacus atlas, ulat sutera alam samia cynthia ricini, semut rangrang dan black soldier flies (BSF).

Agar dapat berkembang secara berkelanjutan, Asnath menegaskan tentang strategi yang dapat dilakukan, yakni adanya ketersediaan pakan dan bibit secara cukup dan berkelanjutan, penguatan kapasitas organisasi, sumber daya manusia dan kemitraan, pembenahan infrastruktur, sistem distribusi dan tata niaga, penguatan teknologi budidaya dan pasca panen, serta dukungan kebijakan menyangkut regulasi tata ruang dan kawasan budidaya. (IN)

STRATEGI PENGGEMUKAN TERNAK MENJELANG IDUL ADHA

Penggemukan ternak jelang hari raya Idul Adha (Foto: Ist)


Penggemukan ternak menjadi perhatian para peternak terutama menjelang momen-momen tertentu seperti Idul Adha. Dalam penggemukan ternak, pemberian pakan yang optimal menjadi kunci utama keberhasilan. Hal tersebut dikupas dalam Obrolan Peternakan edisi ke-3 tanggal 20 Juni 2020 yang merupakan persembahan dari Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan (Fapet) UGM.

Dr Ir Bambang Suwignyo SPt MP IPM ASEAN Eng, salah satu narasumber yang juga Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerja Sama Fapet UGM, mengatakan bahwa pelet pakan hijauan dapat menjadi pilihan pakan dengan berbagai keunggulan.

Gulma sebagai sumber bahan pakan utama untuk membuat pelet pakan hijauan adalah jenis bahan pakan yang lebih tahan terhadap situasi ekstrem, yaitu panas dan air yang sedikit (musim kemarau) dibandingkan dengan rumput konvensional sehingga hampir pasti tersedia/tumbuh sepanjang tahun.

Bambang menambahkan, pelet pakan hijauan juga mengandung serat protein kasar tinggi lebih dari 20%, karena campurannya dapat didesain dengan komponen utama yang dominan adalah rumput gulma bernutrisi tinggi. Kadar nutrisinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan pakan. Pada kadar protein kasar yang sama, pelet pakan hijauan lebih murah dibandingkan dengan konsentrat komersial. Pelet pakan hijauan dapat berupa murni hijauan atau dicampur bekatul atau konsentrat.

Pelet hijauan pakan memperkecil peluang pakan tersisa karena ternak tidak dapat memilih. Jika pakan diberikan dalam bentuk hijauan, akan banyak yang tersisa karena ternak memilih yang dimakan. Pakan yang tidak terpilih akan terinjak ternak, bercampur dengan kotoran, dan menumpuk.

Cara pembuatannya pun sangat mudah. Hijauan dicampur dan dimasukkan ke dalam mesin kemudian dikeringkan selama 2—3 hari jika panas terik. Setelah kering, warnanya menjadi hijau kecoklatan. Semakin tinggi kadar konsentrat, warna pelet makin cerah. Setelah itu, pelet paling baik disimpan di dalam drum plastik karena kedap air, kuat, dan ukuran dapat dipilih.

Bentuk pelet juga menjadi kompak tidak voluminous (rowa) sehingga mudah dipacking dan dimobilisasi. Sangat cocok untuk penanganan ternak dalam program rescue, misalnya bencana erupsi Merapi atau Gunung Agung beberapa waktu lalu.

Narasumber lain, Prof Dr Ir Ristianto Utomo SU, dosen di Laboratorium Teknologi Makanan Ternak Fapet UGM mengungkapkan alternatif lain pakan berkualitas adalah pakan komplet fermentasi.

Ini cara pembuatan pakan komplet fermentasi: (1) Hijauan dicacah dan dicampur. (2) Hijauan ditambahkan konsentrat sesuai formula dan diaduk hingga merata. (3) Hijauan dimasukkan dan dipadatkan di dalam drum plastik kemudian diperam sekitar satu minggu. (4) Setelah diperam, pakan siap diberikan kepada ternak.

Pakan komplet fermentasi merupakan hasil fermentasi dari pakan komplet dengan menggunakan mikrobia sebagai inokulan dan molases sebagai substrat. Proses fermentasi dapat menaikkan kecernaan pakan dan meningkatkan kualitas pakan. Selain itu, pakan komplet fermentasi dapat dibuat dalam jumlah yang banyak sehingga peternak memiliki cadangan pakan. Dengan demikian, peternak tidak perlu mencari pakan setiap hari.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Dr Ir Zaenal Bachruddin MSc IPU ASEAN Eng, dosen di Laboratorium Biokimia Nutrisi Fapet UGM yang menjadi inventor dan pengembangan bakteri asam laktat, memaparkan tidak hanya secara ilmiah, namun juga pengalamannya mengimplementasikan hebatnya mikrobia ke dalam ternak domba.  

Bisnis pakan dengan konsep ada peran serta mikrobia ini dapat menjadi bisnis yang menjanjikan. Sementara itu sebagai pakan ternak, keberadaan mikrobia dalam pakan sangat menunjang kinerja produktivitas ternak. (Rilis/INF)  

WEBINAR UNSOED: PROSPEK PETERNAKAN DI ERA NORMAL BARU PASCA PANDEMI COVID 19


Sukses di pagelaran Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan Seri 6 (STAP-VI) tahun lalu, tahun ini, tepatnya Sabtu (27/06/2020), Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman kembali menyelenggarakan Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan Seri 7 (STAP-VII). Kali ini, Panitia Pelaksana melibatkan Universitas Papua, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) Bogor, Jurnal Animal Production, JIPVET untuk E-Prosiding, Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), dengan Majalah Infovet sebagai official Media Partner-nya serta didukung oleh kafapet-unsoed.com . Webinar ini dilaksanakan melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Panitia Pelaksana (http://s.id/livestap7) diikuti oleh 250 orang peserta dari 76 institusi di seluruh Indonesia, mulai dari kalangan dosen, peneliti, praktisi dan mahasiswa.

Panitia Pelaksana Dr. Ir. Agustinah Setyaningrum, M.P., dalam sambutannya menyebutkan bahwa webinar ini diselenggarakan sebagai media penyebaran berbagai hasil penelitian dari para peneliti bidang peternakan di seluruh Indonesia dan dapat dijadikan sebagai ajang pertukaran informasi antar peserta mengenai topik-topik penelitian yang ditekuninya. “Sama dengan penyelenggaraan tahun lalu, tahun ini meskipun dilaksanakan dalam jaringan (daring), Panitia Pelaksana tetap membuat kelompok diskusi secara acak dengan harapan terjadi pertukaran keilmuan, pemikiran dan wacana yang lebih luas di antara peserta diskusi,” kata Panitia Pelaksana.

Prof Dr Ir Ismoyowati, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman yang menyambut dan membuka webinar ini berharap agar musibah pandemi COVID-19 tidak dijadikan sebagai alasan untuk tidak berkarya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dosen, peneliti dan mahasiswa. “Kami memberikan ruang untuk berdiskusi terkait bagaimana prospek ke depan dunia peternakan kita, karena semua kita paham bahwa produk ternak adalah pangan yang sarat dengan zat gizi yang dibutuhkan tubuh manusia untuk proses tumbuh kembang,” kata Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman.

Di webinar STAP-7 ini, Panitia Pelaksana menghadirkan pembicara utama, yaitu Prof Dr Ir Budi Santoso dari Universitas Papua yang berbicara tentang "Prospek Pengembangan Sapi Potong di Era Normal Baru Pascapandemi COVID-19". Kemudian, Prof. Dr. Ir. Ismoyowati Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman menghantarkan materi "Potensi Telur Sebagai Immunomodulatory Food di Era Normal Baru Pasca Pandemi COVID-19". Lalu, Dr Ir Bess Triesnamurti dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi, Bogor memaparkan materi terkait dengan "Pemuliaan Ternak di Era Normal Baru Pasca Pandemi COVID-19", sedangkan Ir Bambang Suharno Pimpinan Redaksi Majalah Infovet membahas tentang "Prospek Peternakan di Era Normal Baru Pasca Pandemi COVID-19" dari sudut pandang media.

Terkait dengan prospek peternakan di era normal baru, para narasumber sepakat bahwa pandemi COVID-19 dan era baru sedikit banyak telah mengubah tatanan sosial dan dampaknya dapat dirasakan dari semua lini kehidupan, terutama yang berhubungan dengan ekonomi masyarakat, terjadi penurunan karena dampak pemutusan hubungan kerja dan lainnya. Hal ini secara tidak langsung berimbas pada menurunnya daya beli masyarakat terhadap pangan pokok termasuk pangan dari produk peternakan, yakni daging, susu dan telur. Penurunan daya beli terhadap produk ternak juga berdampak terhadap usaha budidaya, sehingga banyak peternak yang mengeluhkan perihal pandemi COVID-19 dengan beragam aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yang sejatinya aturan tersebut untuk keselamatan manusia itu sendiri. Namun demikian, menurut Prof Dr Ir Ismoyowati, masyarakat harus tetap mengonsumsi pangan bergizi agar dapat meningkatkan imunitas tubuh, salah satunya adalah mengonsumsi telur yang sering disebut sebagai immunomodulatory food.

Hal menarik lainnya dari webinar STAP-VII 2020 ini adalah pandemi COVID-19 disebut telah menumbuhkan gaya hidup baru dalam berbelanja, khususnya untuk produk peternakan melalui platform E-Commerce. “Penjualan daging beku melonjak tajam selama pandemi COVID-19 melalui penjualan online. Diharapkan pasca pandemi kebiasaan belanja daging beku akan berlanjut dan hal ini akan mendorong hilirisasi peternakan dan dapat mengurangi gejolak fluktuasi harga ,” kata Bambang Suharno, Pimpinan Redaksi Majalah Infovet.

Namun demikian Bambang memprediksi, masalah-masalah klasik peternakan seperti konlik tata ruang, konflik usaha skala kecil dan besar dan beberapa masalah lainnya masih akan berlanjut setalah pandemi berakhir. Ia menyarankan pemerintah melakukan perencanaan tata ruang untuk menjamin kepastian berusaha bagi peternak, meningkatkan infrastruktur rantai dingin untuk mengurangi gejolak harga, serta meningkatkan kampanye gizi khususnya ayam dan telur sebagai sumber protein yang berkualitas, produknya melimpah  dan terjangkau harganya.

Webinar STAP-VII ini ditutup setelah pelaksanaan seminar paralel melalui 10 channel yang mengelompok pada  empat bidang ilmu, yakni Teknologi Produksi Ternak, Teknologi Pakan dan Nutrisi Ternak, Teknologi Preservasi dan Pengolahan Hasil Ternak serta Sosial Ekonomi dan Agribisnis Peternakan. (Sadarman).

MEMBANGKITKAN UNGGAS LOKAL INDONESIA

Ternak ayam lokal Indonesia (Foto: Ist)

Di tengah pandemi COVID-19, sangat penting adanya pemenuhan protein hewani sebagai asupan gizi bagi tubuh agar terbangun sistem imun yang kuat dalam menangkal penyakit. Pemenuhan protein hewani tersebut bisa dipenuhi melalui unggas lokal Indonesia yang diharapkan bisa bangkit dan menjadi industri perunggasan yang lebih luas.

Hal tersebut mengemuka dalam seminar online Indonesia Livestock Club edisi kedua yang diselenggarakan oleh Indonesia Livestock Alliance (ILA) bekerja sama dengan Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI) dan Gabungan Pembibitan Ayam Lokal Indonesia (Gapali), Sabtu (27/6/2020).

Hadir sebagai pembicara, Ketua Gapali, Bambang Krista, yang memaparkan mengenai “Tantangan Pembibitan Ayam Lokal dan Alternatif Solusinya” mengatakan bahwa untuk menyentuh industrialisasi unggas lokal dibutuhkan roadmap, diantaranya strategi dalam pengendalian penyakit pada unggas lokal, menciptakan satu iklim usaha sehingga breeder daerah bisa berkembang dan peternak mudah mendapatkan bibit berkualitas dengan harga kompetitif.

“Bisnis ayam lokal/kampung boleh, tapi jangan kampungan. Ini saatnya ayam lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Bambang. Belakangan ini kebutuhan pasar nasional ayam lokal/kampung terus meningkat.

Ia pun berharap, pemerintah tetap mengoptimalkan fungsinya sebagai instansi terkait untuk menghasilkan galur ayam lokal yang berkualitas. “Sementara peran swasta melalukan pengembangan dan memperbanyak galur yang dihasilkan itu,” ucapnya.

Galur ayam lokal Indonesia pun telah banyak dikembangkan oleh pemerintah. Hal itu disampaikan oleh Peneliti Senior Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Prof Sofjan Iskandar, yang membahas materi mengenai “Otentifikasi dan Sertifikasi Unggas Lokal Indonesia”.

“Di Balitnak kita banyak menciptakan galur murni. Penetapan galur ini untuk otentifikasi unggas lokal di masing-masing daerah. Hal ini juga diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 117/2014 tentang Penetapan dan Pelepasan Rumpun atau Galur Hewan,” ujarnya.

Hal ini dilakukan untuk memberikan pengakuan pemerintah terhadap rumpun atau galur hewan yang ada di suatu wilayah sumber bibit dan penghargaan negara terhadap galur baru hasil pemuliaan yang dapat disebarluaskan kepada masyarakat. Agar terdapat perlindungan hukum dan menjamin kelestarian serta pemanfaatan unggas lokal bisa dilakukan secara berkelanjutan.

Prof Sofjan pun memberikan beberapa contoh unggas lokal yang sudah ditetapkan rumpun atau galurnya, diantaranya ayam Sentul, ayam Pelung, itik Alabimaster maupun ayam KUB dan lain sebagainya. Kesemua galur tersebut memiliki ciri khas dan kemampuan produksi baik telur maupun daging yang sangat baik.

Seminar yang dihadiri sekitar 270 orang peserta dari berbagai profesi ini juga menghadirkan Ahli Genetika Unggas Fakultas Peternakan Unpad, Dr agr Ir Asep Anang, yang memberikan pembahasan mengenai “Teknik Merekayasa Ayam Pribumi (Lokal) Unggul (Pendekatan Industri). (RBS)

WASPADA LEUCOCYTOZOONOSIS PADA AYAM

Kejadian Leucocytozoonosis di lapangan masih cukup merepotkan di peternakan ayam. (Foto: Istimewa)

Apa itu Leucocytozoonosis? Leucocytozoonosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit darah Leucocytozoon sp, yang tergolong dalam famili Plasmodiidae. Di lapangan kejadian kasus sering dikelirukan dengan malaria unggas oleh infeksi Plasmodium sp, karena memang masih satu famili Plasmodiidae dan adanya kemiripan gejala klinis dari keduanya.

Siklus hidup Leucocytozoon meliputi fertilisasi dan perkembangan seksual terjadi di dalam tubuh insekta, sedangkan multiplikasi aseksual terjadi di dalam sel-sel jaringan hospes, yaitu fase skisogoni pada paru-paru, hati, jantung, usus, limpa dan ginjal, serta fase gametogoni terjadi di dalam eritrosit atau leukosit.

Penularan Leucocytozoonosis terjadi melalui gigitan insekta penghisap darah seperti Simulium sp (lalat hitam), Culicoides sp (agas) dan Ornithonyssus sp (tungau) yang bertindak sebagai vektor atau hewan perantara yang menyebarkan penyakit dari hewan sakit ke hewan yang sehat, dari satu lokasi peternakan ke lokasi peternakan lainnya.

Meskipun vektor insekta hanya bersifat infektif selama 18 hari, namun letupan kasus penyakit di lapangan berlangsung terus selama musim serangga. Hal ini disebabkan oleh generasi penerus insekta tersebut berkembang pesat dan menggigit unggas-unggas carrier, sehingga siklus kejadian penyakit seakan tidak pernah berhenti.

Gejala klinis bervariasi, dipengaruhi umur, jenis hewan dan kondisi hewan itu sendiri (umumnya usia > 3 minggu). Gejala klinis yang umumnya terlihat adalah penurunan nafsu makan, demam, haus, depresi, bulu kusam, kemudian pial dan jengger pucat.

Kejadian penyakit dapat berlangsung cepat dengan angka kematian bervariasi dari 10-80%.  Pada kasus akut, mortalitas dapat mencapai 80%, proses penyakit berlangsung cepat dan mendadak, dengan gejala demam, anemia, kelemahan umum, kehilangan nafsu makan, tidak aktif, lumpuh dan terjadi kematian. Ayam dapat mengalami muntah, mengeluarkan feses/kotoran berwarna hijau dan mati akibat perdarahan.

Perubahan patologi paling menonjol adalah ditemukan adanyanya perdarahan titik atau petechiae dengan ukuran yang bervariasi pada kulit, jaringan subkutan, otot dan berbagai organ lain, misalnya ginjal, hati, paru-paru, usus, limpa, timus, pankreas  dan bursa fabricius. Organ hati dan ginjal biasanya membengkak dan berwarna merah kehitaman.

Ornithonyssus sp bertindak sebagai salah satu vektor atau hewan perantara penyebar penyakit pada ayam. (Sumber: veterinaryparasitology.com)

Pengendalian dan Pencegahan
Pengendalian dan pencegahan adalah dengan tindakan paling efektif dengan cara menekan atau mengeliminasi hewan perantara (insekta) dan burung liar sebagai carrier, guna memutus siklus kejadian penyakit yang berulang di lokasi tersebut... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2020) (AHD-MAS)

SERTIFIKASI NKV : WAJIB HUKUMNYA BAGI UNIT USAHA PETERNAKAN DAN PENGOLAHAN HASIL TERNAK

Kementan melalui Ditjennakkeswan akan menggalakkan sertifikasi NKV untuk unit usaha peternakan

Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melakukan sosialisasi Permentan No.11 tahun 2020 mengenai Nomor Kontrol Veteriner, melalui daring pada Selasa 23 Juni 2020 yang lalu. 

Permentan ini merupakan pembaruan dari Permentan No. 381 Tahun 2005 tentang Pedoman Sertifikasi Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan. Aturan tersebut dikeluarkan untuk melengkapi peraturan yang telah ada sebelumnya. Misalnya hal seperti penandatangan NKV dilakukan oleh Pejabat Otoritas Veteriner, penambahan jenis unit usaha produk hewan baik pangan maupun non pangan menjadi 21, persyaratan dan pengangkatan auditor NKV oleh Gubernur, serta peraturan sanksi terhadap pelaku unit usaha produk hewan.

Dalam peraturan tersebut juga diatur bahwa masa berlaku NKV dibatasi menjadi hanya 5 tahun dan setelah itu harus disertifikasi ulang. Hal itu disampaikan oleh ujar Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, kata Drh Ira Firgorita dalam paparannya.

Ira juga menjelaskan mengenai ekanisme sertifikasi NKV untuk unit usaha produk hewan dimulai dari mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Provinsi. Jika lengkap, kemudian permohonan dilimpahkan ke Tim Auditor yang ditugaskan oleh Pejabat Otoritas Veteriner Provinsi, lalu dilakukan proses audit.

Dalam peraturan tersebut juga disebutkan bahwa sertifikat NKV juga wajib dimiliki oleh, rumah potong hewan ruminansia, babi dan unggas. Lalu, sarang burung walet, baik rumah, pencucian, pengumpulan atau pengolahan.

Di sektor hulu, usaha budidaya sapi perah dan unggas petelur juga diwajibkan memiliki sertifikat NKV. Hal itu disebabkan karena unit usaha tersebut langsung menghasilkan produk yang bisa langsung dkonsumsi manusia. Tidak luput juga sertifikat NKV harus dimiliki oleh unit pengolahan produk pangan asal hewan seperti susu, daging telur dan madu. Selain itu, unit usaha pengolahan hewan non pangan misalnya usaha garmen (jaket kulit) juga wajib memiliki sertifikat NKV.

Drh Syamsul Ma'arif selaku Dirketur Kesmavet, Ditjennakkeswan menambahkan, penegakan persyaratan NKV ini akan dilaksanakan secara bertahap dan memiliki skala prioritas. Dalam hal ini, yang diprioritaskan terlebih dahulu yaitu, produsen, unit usaha atau perusahaan yang berskala bisnis dan melayani kebutuhan untuk publik.

Dirinya juga mengutarakan beberapa hal yang sifatnya perlu dan akan segera ditindaklanjuti agar pelayanan kepada masyarakat khususnya audit dalam rangka sertifikasi NKV tidak terhambat.

“Kami akan berusaha sebaik mungkin dalam melayani masyarakat, jika ada yang perlu ditindaklanjuti secara cepat, maka akan segera kami lakukan. Ini agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu dan terhambat,” tutup Syamsul.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer