-->

DARI PWMP KEMENTAN, PETANI MILENIAL GIATKAN DIVERSIFIKASI PAKAN TERNAK MELALUI KORPORASI



Ilustrasi

Program inisiasi Kementerian Pertanian yakni ‘Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian’ (PWMP) telah menetaskan pengusaha muda pertanian. Banyak Petani Pengusaha Milenial yang tidak hanya sukses sekadar bertani tapi juga berhasil mengembangkan usahanya di bidang pakan ternak dengan omzet fantastis bahkan telah melakukan ekspor.

Salah satunya Tekad Urip Sujarnoko dan Ardiansah yang berhasil merintis usaha produksi pakan ternak yang diberi nama PT Agro Apis Palacio. Keduanya merupakan alumni Fakultas Peternakan IPB dan mendapatkan program PWMP.

“Awalnya memang dedicated untuk domba dan kambing, tapi sekarang sudah banyak jenis lain. Mulai dari sapi, kelinci dan ada juga untuk lele. Lele ini ada di fasilitas kami yang ada di Lebak, Banten,” ujar Ardiansah, di salah satu lokasi usahanya di Bogor pada Kamis (21/5).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (YSL) menaruh harapan pertanian pada generasi milenial.
“Saya makin percaya anak muda yang mau terjun di bidang pertanian  bisa punya peluang kehidupan dan ekonomi yang lebih baik. Apalagi dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia maka dunia dalam genggaman kalian,” ujar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL). 

Selain di Bogor dan Banten, PT Apis juga memperluas wilayah hingga ke Magetan. Saat merintis usaha ini di tahun 2015 Ardiansah dan Tekad melihat adanya peluang bisnis di pakan ternak kambing dan domba.

“Ketika tidak banyak pabrik pakan lain yang fokus ke kambing dan domba karena mungkin kurang ekonomis, justru kami melirik bidang usaha ini,” ungkap Ardiansah.

Saat ini kapasitas produksi PT Apis telah mencapai mencapai ± 300 ton per bulan. Ardiansah mengaku untuk pasar terbesar masih di Jawa Barat dan Jabodetabek, walaupun di Jawa Timur sudah mulai besar statistik permintaannya. Bahkan omzet diraih PT Apis periode ini sudah mencapai 1,5-2 M per bulannya.

Lima tahun berjalannya usaha, PT Apis terus berkembang dan saat ini sudah memiliki unit usaha lai seperti farm, pengolahan limbah, dan produksi susu. Bahkan sudah menembus pasar ekspor ke Oman, Somalia.

Lebih lanjut disampaikan Ardiansyah, selain produksi pakan, juga terdapat unit usaha lain. Dalam pengembangannya, dirinya dan rekannya Tekad merangkul banyak pengusaha muda lainnya untuk bekerjasama dengan sistem joint venture, di antaranya Richard yang memiliki usaha peternakan domba dan Praselta yang memiliki usaha aqiqah.

Richard juga merupakan salah satu alumni IPB yang menerima manfaat PWMP pada tahun 2019. Saat ini, ternak di kandangnya mencapai 200 ekor domba untuk tujuan perbesaran. Sumber pakan untuk ternaknya berasal dari PT Apis dan fermentasi rumput yang diproduksi mandiri.

Berbeda dengan Ardiansah dan Richard, Praselta bersama kedua temannya (Andi dan Dzaky) menekuni usaha di bidang aqiqah yang diberi nama Aqiqah Dinar. Domba yang digunakan berasal dari kandang sendiri, yang didukung oleh kedua rekanannya.

“Per-bulannya bisa potong domba sekitar 80 ekor, kami juga menjaga kualitas produk, domba dan kambing yang digunakan berada di bawah pengawasan dokter hewan, serta pemotongan dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) berstandar ISO,” ungkap Praselta.

Selain itu Praselta bersama rekan-rekannya melakukan pemberdayaan masyarakat sekitar lokasi produksi dan memberikan pelatihan kepada SDM yang dibina.

“Itulah bedanya pengusaha jaman dulu dan pengusaha muda jaman milenial. Kalau jaman dulu, usaha dianggap sebagai kompetisi. Kalau pengusaha muda milenial ini, justru menghilangkan kata kompetisi, yang ada kolaborasi dan sinergi,” ujar Iwan salah satu peserta yang yang mengikuti pelatihan.

Secara terpisah Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan, Dedi Nursyamsi menegaskan dalam berbagai kesempatan penumbuhan wirausahawan muda pertanian menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkembangkan minat generasi milenial akan dunia pertanian.

“Dalam pelaksanaannya, Kementerian Pertanian bekerjasama dengan banyak pihak, termasuk Perguruan Tinggi Mitra, yang salah satunya adalah IPB, Bogor. Diharapkan melalui program PWMP mampu mewujudkan target 2,5 juta petani milenial dalam 5 tahun”, ujar Dedi.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Idha Widi Arshanti yang ikut berkunjung ke lokasi menyampaikan dukungan penuh Kementerian Pertanian kepada petani pengusaha milenial dalam mengembangka/n usaha taninya.

“Kami akan mendukung petani milenial ini untuk terus berkembang. Tidak hanya yang sudah besar saja, tetapi juga yang masih merintis. Kami akan hubungkan dengan pihak-pihak lain yang bisa membantu seperti misalnya market place, atau bantuan modal, pelatihan juga bisa,” ujar Idha. (Sumber: Investor Daily)


COVID-19, SERIKAT PETERNAK INGGRIS BERJUANG MELANJUTKAN RANTAI PASOKAN

Foto: ilustrasi

Pengecer dan serikat peternak di Inggris dan sekitarnyaberjuang untuk memastikan rantai pasokan telur dan daging unggas tetap berlangsung untuk memenuhi permintaan yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Angka terbaru menunjukkan permintaan telur dari konsumen Inggris naik 30% sementara permintaan daging unggas meningkat 25%.

Thomas Wornham, ketua dewan unggas National Farmers’ Union, mengatakan bahwa sementara rantai pasokan bertahan, ada gangguan yang berarti peluang bagi sebagian orang dan merugikan yang lain.

Mr Wornham mengatakan NFU telah bekerja sepanjang waktu untuk memastikan dampak telah diminimalkan di sektor perunggasan, menghubungkan bisnis bersama-sama dalam panasnya krisis dan bekerja dengan Defra (Department for Environment, Food and Rural Affairs) untuk menyelami kembali rantai pasokan agar terus bergerak.

Sementara itu di rak-rak toko dijumpai produk-produk impor. “Ini sangat membuat frustrasi dan sesuatu yang saya yakin tidak ingin dilihat konsumen. Apakah itu ayam Polandia atau telur Belanda, kami menegur secara langsung pada pengecer, dengan mempertimbangkan ketersediaan dan memastikan Inggris dan nilai-nilai produksi kami dicari terlebih dahulu. ”

Supermarket Lidl mendapat tekanan karena menyimpan telur Belanda bersama telur Inggris di beberapa tokonya. Hal itu mendorong Robert Gooch, kepala eksekutif British Free Range Egg Producers Association, untuk mengatakan bahwa skema British Lion telah sukses nyata selama 30 tahun terakhir.

“Sangat jarang terjadi telur impor dari sistem produksi mana pun ditebar di toko-toko ini. Kami berharap bahwa semua pengecer akan menyetok telur Inggris sedapat mungkin.” (Sumber: poultry.net)

KEKURANGAN PAKAN MENDORONG PARA PETERNAK IRAN UNTUK MENGUBUR DOC HIDUP-HIDUP

Foto: ilustrasi

Puluhan video yang diposting di media sosial di Iran menunjukkan ribuan DOC dikubur hidup-hidup dengan buldoser. Ini kemungkinan terkait dengan kenaikan harga di pasar pakan domestik Iran selama beberapa minggu terakhir.

“Diumumkan bahwa karena sanksi, transfer uang pembelian untuk sekitar 3 juta ton jagung dan bungkil kedelai tidak dilakukan tepat waktu sehingga persediaan bahan pakan tersebut terpengaruh. Akibatnya, harga pakan ternak naik,” Dr Majid Movafegh Ghadirly, ketua Asosiasi Industri Pakan Iran berkomentar.

Iran memproduksi 2,3 juta ton daging unggas dan 1 juta ton telur per tahun, dan mengimpor 80% bahan baku untuk produksi pakan, menurut Asosiasi Industri Pakan Iran.

Rekaman diposting tak lama setelah Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan bahwa sektor pertanian negara itu tidak terkena wabah coronavirus, dan bahwa warga tidak perlu khawatir tentang pasokan makanan karena produksi biji-bijian cukup untuk memenuhi kebutuhan lokal sampai Maret 2021.

Peternak tidak membeli anak ayam yang baru lahir karena lemahnya permintaan di pasar domestik. Ini berarti bahwa hatchery lokal tidak memiliki pilihan lain selain memusnahkan DOC.

Peternak lokal mengeluh bahwa konsumsi unggas dan telur sangat rendah karena epidemi Covid-19 yang berkelanjutan di negara itu membuat hampir seluruh industri perhotelan tidak beroperasi. Harga pakan ayam di Iran naik dua kali lipat menjadi 3.000 tomans (€ 0,18) per kilo.

Dengan penjualan yang lemah di pasar, para peternak tidak dapat menaikkan harga, yang berarti bahwa mereka harus menderita kerugian mendekati 3.000 tomans per ayam.

Harga pasar rata-rata untuk ayam sebelum awal pandemi Covid-19 adalah 12.800 tomans per kilo (€ 0,77), tetapi menyusut menjadi 9.500 tomans (€ 0,57) pada bulan April 2020, Pusat Statistik Iran memperkirakan.

Menanggapi kritik tersebut, Asosiasi Produsen DOC menulis surat kepada semua anggotanya melarang pemusnahan DOC, menjanjikan hukuman bagi mereka yang melanggar perintah. Belum terlihat apakah peringatan itu akan membuahkan hasil.

Diperkirakan bahwa hingga 15 juta ekor DOC dimusnahkan di Iran selama beberapa minggu terakhir karena krisis, kata Persatuan Petani Unggas Teheran dalam sebuah pernyataan akhir April.

Negara ini menghasilkan 1,2 miliar ekor anak ayam per tahun. Ada kekhawatiran bahwa para petani akan segera beralih ke pemusnahan ayam dewasa, karena krisis Covid-19 tidak akan segera mereda. (Sumber: poultryworld.net)

ILMUWAN AS MENCARI CARA UNTUK MENGURANGI SALMONELLA PADA UNGGAS

Foto: ilustrasi

Para ilmuwan dari University of Georgia dan Colorado State University bekerja dengan staf di USDA untuk mengembangkan teknik baru, dengan fokus pada pencegahan infeksi dan prediksi risiko dalam produksi bebas antibiotik. Setiap tahun, Salmonella menginfeksi sekitar 1,2 juta orang dan mengakibatkan kerugian ekonomi antara $ 2,3 miliar dan $ 11,3 miliar di Amerika Serikat dan prevalensinya tetap tidak berubah selama bertahun-tahun.

Penelitian, yang dipimpin oleh USDA Dr Adelumola Oladeinde berkonsentrasi pada Salmonella Heidelberg, salah satu strain utama yang menyebabkan wabah yang ditularkan melalui makanan. Strain ini sangat sulit untuk dihilangkan setelah mengkolonisasi peternakan broiler.

“Infeksi yang disebabkan oleh Salmonella Heidelberg juga lebih invasif daripada strain lainnya, dan Salmonella Heidelberg yang terkait dengan unggas cenderung membawa resistensi antibiotik dan gen virulensi. Oleh karena itu, ini merupakan model organisme untuk menguji mekanisme yang telah kami kembangkan, ”kata Dr Oladeinde.

Tim ilmuwan memfokuskan upayanya dalam 2 bidang utama - memeriksa bagaimana jenis kotoran unggas di kandang broiler dapat mencegah infeksi dan pengembangan resistensi antibiotik, dan menyusun sistem pemantauan kesehatan kawanan unggas yang dapat membantu mereka untuk memprediksi risiko infeksi lebih cepat.

Ini adalah praktik yang cukup umum di AS untuk mendaur ulang litter selama satu tahun atau lebih. Dr Oladeinde dan timnya mempelajari dampak dari menggunakan litter segar atau daur ulang pada kejadian Salmonella dalam kawanan unggas dan dampaknya pada pengembangan resistensi antibiotik, bahkan tanpa adanya penggunaan antibiotik.

Tim menginokulasi litter segar dan daur ulang di laboratorium dengan strain Salmonella yang berbeda dan dipantau selama 14-21 hari. Mereka juga melakukan percobaan dengan unggas hidup, memelihara ayam yang membawa Salmonella Heidelberg baik dengan litter segar atau daur ulang.

Mereka menemukan bahwa mikrobioma yang ada dalam litter daur ulang berkorelasi negatif dengan populasi Salmonella Heidelberg yang kebal antibiotik dalam usus ayam, dibandingkan dengan ayam broiler yang dibesarkan di litter segar.

"Ini menunjukkan bahwa menggunakan kembali litter mempromosikan mikrobioma yang tidak menguntungkan untuk Salmonella yang membawa resistensi antibiotik," katanya.

Tim juga telah menyelidiki cara-cara baru untuk memprediksi risiko Salmonella dalam suatu kawanan. Studi yang lebih luas telah menunjukkan bahwa beberapa bakteri menguntungkan yang diidentifikasi oleh tim dalam mikrobioma uanggas yang dibesarkan pada litter daur ulang, termasuk Bifidobacterium, dapat mengurangi kecemasan dan gejala mirip depresi pada tikus dan manusia, menunjukkan bahwa mikrobioma usus dapat berdampak positif pada otak.

Hal itu mengarahkan mereka untuk memulai pengembangan vision based Salmonella Predictor otomatis, yang mereka harapkan dapat mengidentifikasi dan menemukan unggas yang terinfeksi Salmonella dalam 2 minggu pertama kehidupan.

Predictor akan menggunakan teknik pencitraan canggih untuk mengumpulkan informasi tentang kesehatan unggas dan isyarat sosial yang terkait dengan infeksi Salmonella, termasuk sifat-sifat perilaku, berat unggas dan suhu tubuh. Mikrobiologi dan genetika molekuler juga akan digunakan untuk menentukan prevalensi Salmonella, virulensi dan status resistensi antimikroba.

Saat ini dalam tahap awal pengembangan, tim berusaha melatih sistem untuk mengidentifikasi isyarat sosial ayam broiler bebas Salmonella yang dipelihara tanpa antibiotik. Tahapan selanjutnya akan mencakup pengujian Predictor pada citra ayam broiler yang telah diinokulasi dengan strain Salmonella Heidelberg dan mengoptimalkan Predictor untuk uji verifikasi di kandang broiler komersial.

“Jika alat prediksi awal yang kami usulkan berhasil dikembangkan dan diadopsi oleh hanya 5% dari produsen ayam AS, itu bisa mengurangi jumlah ayam yang membawa Salmonella saat disembelih hingga 90 juta setiap tahunnya. Ini secara signifikan akan meningkatkan food safety dan mengurangi kebutuhan untuk menarik kembali ayam karena kontaminasi Salmonella, ”tambahnya. (Sumber: poultryworld.net)

GITA DAN INFOVET GELAR PERDANA ZOOM ONLINE SEMINAR BIOSEKURITI


Selasa 19 Mei 2020 jam 10.00 – 12.00 GITA Organizer dan Majalah Infovet menggelar Online Seminar Biosekuriti dengan tema : “Pandemi vs. Biosekuriti (Pada Peternakan Unggas) diikuti 120 peserta dari seluruh tanah air terdiri dari Akademisi (Unsrat Manado, Unlam Banjarmasin, Unram Lombok, IPB Bogor, Unpad Bandung, Unbra Malang, Unud Bali, Polbangtan Gowa, UNU Blitar, Unair Surabaya, UNP Kediri dll). Seminar ini adalah seminar perdana yang didukung oleh perusahan obat hewan nasional yaitu PT Romindo Primavetcom, PT Biomin dan PT Zoetis.
Alfred Kompudu
Seminar yang diselenggarakan di tengah maraknya Pandemi Covid 19 ini, menghadirkan pakar Biosekuriti yang masing-masing sudah lama malang melintang di bidangnya yaitu Alfred Kompudu, S Pt, MM (Master Trainer Biosekuriti dari  Australian Centre for International Agriculture Research) dengan materi : “Implementasi Biosekuriti 3-Zone di Peternakan Unggas” dan Drh. Baskoro Tri Caroko (National Poultry Technical Consultant) dengan materi : “Desinfeksi Yang Tepat Untuk Peternakan”. Sebagai moderator Bambang Suharno, Pemimpin Umum/Redaksi Infovet.
Baskoro Tri Caroko

Alfred Kompudu sebagai pembicara pertama mengawali dengan mengemukakan kasus merebaknya wabah Flu Burung (Avian Influenza) di Cina yang disebabkan virus H5N1 di Hunan – Cina yang merupakan provinsi pusat penyebaran virus Corona (Kompas.com), disamping mengemukakan terjadinya kematian puluhan unggas akibat wabah Flu Burung di Bondowoso – Jatim dan enam ribu ayam mati karena wabah penyakit unggas yang sama di Sidrap - Sulawesi  yang praktis waktunya hampir bersamaan dengan kemunculan Covid 19.

Pembicara menekankan bahwa untuk menghadapi kedua virus tersebut (baik Flu Burung maupun Covid 19) perlu dipegang 3 Prinsip Biosekuriti (Bio = Hidup, Sekurity = pengamanan) yaitu mencegah kuman masuk, tumbuh/berkembang dan menyebar, sedangkan elemen biosekuriti yang wajib diaplikasikan ialah isolasi, kontrol lalu-lintas/pergerakan (orang/kendaraan/barang/hewan lain) dan sanitasi (Cleaning & Desinfection).

Selanjutnya Alfred merekomendasikan “Biosekuriti 3-Zona” (Zona Merah = kotor, Zona Kuning = perantara/buffer dan Zona Hijau = bersih) untuk Peternakan Unggas dengan tujuan 1) Mencegah kuman/mikroorganisma menginfeksi unggas/ayam 2) Menjaring kuman hingga 3 lapisan perlakuan 3) PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) 4) Daya saing perunggasan (kualitas produk, ancaman AMR) 5) Sesuai dengan GFP (Good Farming Practise). Pada akhir penyajian materi Alfred meyakinkan peserta seminar dengan Analisa Ekonomi Implementasi Bio 3-Zona di Farm, bahwa peternakan ayam petelur (Layer) yang menerapkan akan menurunkan penggunaan Antibiotik 40%, penurunan penggunaan Desinfektan 30%, penghematan biaya OVK hingga Rp 10 jt (USD 770 – Kurs saat itu), HD (Hen Day) telur rata=rata 90% atau 56 kg/1.000 ekor Layer. Pada peternakan ayam pedaging (Broiler) yang menerapkan Bio 3-Zona ternyata mampu memperoleh tambahan profit (keuntungan) Rp 1.048,-/ekor/siklus.

Searah Jarum Jam: Drh Sulaxono,
Bambang Suharno, Baskoro, Alfred
Pembicara kedua Drh. Baskoro Tri Caroko mengemukakan bahwa berdasarkan fakta lapangan vaksinasi saja tidak cukup untuk mencegah suatu wabah penyakit unggas karena vaksin tidak memberikan proteksi 100%, disamping sumber penularan (Zoonotik Pools) sangat berpengaruh terhadap kejadian penyakit dan kita mengharapkan ayam tetap sehat agar tumbuh sempurna sehingga berproduksi optimal.

Selanjutnya Baskoro menekankan pentingnya Prinsip Pengendalian Penyakit Unggas ialah “One Health”, dalam arti bahan desinfektan yang digunakan harus mempertimbangkan 1) Efektif dan tidak berbahaya bagi pekerja, masyarakat dan makhluk hidup sekitarnya 2) Tidak menimbulkan kerusakan atau pencemaran, bebas polusi dan ramah lingkungan serta tidak menyebabkan residu antibiotik atau bahan berbahaya lainnya pada unggas maupun produk turunannya.

Seminar diakhiri dengan acara tanya-jawab yang nampak peserta sangat antusias, bahkan sempat menyinggung standar dosis dan jenis-jenis desinfektan yang boleh digunakan untuk menghadapi wabah virus yang menyerang manusia seperti Covid 19 dan virus Flu Burung yang menyerang hewan dan manusia. Para peserta yang hadir mendapatkan softcopy materi dan E-Sertificate. Seminar model “Online” ini diharapkan terus berlanjut dengan topik yang menarik dan dibutuhkan insan perunggasan khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. (S.Alam)





MANAJEMEN RANTAI PASOK DAN KEAMANAN PANGAN DI SAAT PANDEMI COVID-19

Daging, produk pangan hasil ternak. (Foto: Istimewa)

Rantai pasok merupakan rangkaian aliran barang, informasi dan proses yang digunakan untuk mengirim produk atau jasa dari lokasi sumber pemasok ke lokasi tujuan pelanggan.

Dimulai dari titik produsen ini bahan pangan akan bergerak menuju berbagai metode pengolahan. Pergerakan bahan pangan ini difasilitasi unit usaha logistik dan transportasi, yang akan menjamin bahwa produk pangan akan sampai kepada konsumen dengan tepat waktu dan berkualitas. 

Hal itu dijelaskan oleh Pengajar Fakultas Peternakan IPB, Dr Epi Taufik, dalam Pelatihan Online "Logistik Rantai Dingin pada Produk Hasil Ternak" yang diselenggarakan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB. Acara berlangsung pada 20-21 Mei 2020 juga menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi atau swasta, yakni Direktur Operasional PT Adib Logistics, Irene Natasha. 

Dijelaskan Epi, perbedaan mendasar antara rantai pasok pangan dengan rantai pasok lainnya adalah perubahan yang terus-menerus dan signifikan terhadap kualitas produk pangan di seluruh rantai pasok hingga pada titik akhir produk tersebut dikonsumsi. Adapun berdasarkan jenis proses produksi dan distribusi dari produk nabati dan hewani, rantai pasok pangan dibedakan atas dua tipe, yakni rantai pasok produk pangan segar dan rantai pasok produk pangan olahan.

Rantai pasok produk pangan segar seperti daging, sayuran, bunga, buah-buahan, secara umum rantai pasoknya meliputi peternak atau petani, pengumpul, grosir, importir, eksportir, pengecer dan toko-toko khusus. Pada dasarnya seluruh tahapan rantai pasok tersebut memiliki karakteristik khusus, produk yang dibudidayakan atau diproduksi dari sebuah farm atau pedesaan. Proses utamanya adalah penanganan, penyimpanan, pengemasan, pengangkutan dan perdagangan produk.

Adapun rantai pasok produk pangan olahan seperti makanan ringan, makanan sajian, atau produk makanan kaleng.

"Pada rantai pasok ini, produk pertanian dan perikanan digunakan sebagai bahan baku dalam menghasilkan produk-produk pangan yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Dalam banyak hal, proses pengawetan dan pendinginan melalui sistem rantai pendingin akan memperpanjang masa guna (shelf life) dari produk pangan yang dihasilkan," ujar Epi.

Kesuksesan rantai pasok pangan, lanjut dia, sangat tergantung pada interaksi yang kuat dan efektif antara pemasok bahan ramuan, penyedia bahan kemas utama (contact packaging providers), pengemas ulang (re-packers), pabrik maklon (co-manufacturers), pedagang perantara dan pemasok lainnya. (IN)

PEMBANGUNAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN INKLUSIF DALAM SITUASI PANDEMI COVID-19

Pembangunan peternakan dalam situasi pandemi (Foto:Ist)


Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional sudah seharusnya dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi upaya pengentasan kemiskinan dan pemerataan pembangunan. Dengan demikian, pembangunan ekonomi harus dilaksanakan secara berkelanjutan dan inklusif.

Hal ini berbeda dengan pembangunan yang dilakukan secara eksklusif, yaitu pembangunan yang hanya menjadikan aspek pertumbuhan ekonomi sebagai satu-satunya tujuan utama yang seringkali menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa pemerataan kesejahteraan, maka pembangunan inklusif menjadi pilihan logis dalam mempertahankan produksi, produktifitas, dan konsumsi produk produk peternakan dan pertanian pada situasi pandemi COVID-19.

"Pembangunan inklusif mengurangi tingkat kemiskinan dan terwujud karena semua pihak berkontribusi menciptakan peluang yang setara berbagi manfaat pembangunan dan memberikan ruang partisipasi seluas luasnya dalam pengambilan keputusan secara partisipatif, non diskriminatif dan akuntabel," jelas Prof Tjeppy Soedjana, Tim Analisis Kebijakan Puslitbang Peternakan, Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian RI yang menjadi pembahas dalam Diskusi Online yang diselenggarakan oleh Indonesia Livestock Alliance (ILA) dan Yayasan CBC Indonesia (YCI) pada Rabu (20/5) melalui aplikasi daring.

Diskusi online #Edisi10 dengan mengangkat tema “Praktik Bisnis Inklusif untuk Pengembangan Usaha di Sektor Pertanian dan Peternakan" yang dilaksanakan oleh YCI-ILA tersebut dengan berkolaborasi bersama Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) dan Partnership for Indonesia Suistainable Agriculture (PISAgro), serta atas dukungan Australia-Indonesia Partnership Promoting Rural Incomes through Support for Markets in Agriculture (PRISMA). PRISMA adalah sebuah program Kemitraan Pembangunan antara Pemerintah Australia (Department of Foreign Affairs and Trade, DFAT) dengan Pemerintah Indonesia (Bappenas). Kemitraan pembangunan multitahun ini bertujuan untuk mempercepat pengentasan kemiskinan melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Narasumber penting lain yang dihadirkan dalam diskusi rutin yang diselenggarakan untuk yang ke-10 itu yakni Ir. R. Anang Noegroho Setyo Moeljono, M.E.M (Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas), Lulu Wardhani (Unit Manager, Rural Development  Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT)), Devin Marco (Head of Portfolio PRISMA), M. Burmansyah K. (Manager Partnership & Smallholder PT Pupuk Kalimantan Timur), Regi Diar Patrizia (Business Development KJUB Puspetasari), Febroni Purba(Manager Marketing PT Sumber Unggas Indonesia), Dr. Andre Rivanda Daud (Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Peternakan Unpad).

Lebih jauh Tjeppy memaparkan, strategi utama pembangunan inklusif adalah dengan penciptaan lapangan kerja produktif dan menguntungkan, menyediakan jaring pengaman sosial yang efektif dan efisien untuk melindungi mereka yang tidak mampu bekerja atau yang terlalu sedikit mendapatkan manfaat pembangunan, meningkatkan pelayanan dasar publik dan dukungan kebijakan publik yang memadai.

Pada prinsipnya, pembangunan inklusif merupakan model pembangunan ekonomi lokal dengan melibatkan secara peran aktif pemerintah, sektor bisnis dan masyarakat yang diimplementasikan dalam bentuk intervensi program dengan memanfaatkan potensi ekonomi daerah, pengembangan perencanaan partisipatif, pengembangan forum multipihak, advokasi kebijakan publik, serta dukungan usaha kecil dan menengah terutama yang berbasis pemanfaatan sumber daya alam untuk membangun iklim pembangunan inklusif.

Pandemi COVID-19 telah mengganggu ketersediaan, distribusi, dan akses terhadap pangan di berbagai negara termasuk Indonesia, sehingga diperkirakan akan terjadi kelangkaan pangan, dan dikuti oleh perubahan perilaku masyarakat dalam mencukupi kebutuhan pangannya.

Melihat hal itu, Tjeppy menjelaskan, penanganan dampak dan potensi dampak ekonomi dan sosial dapat dilakukan melalui pendekatan pembangunan pertanian inklusif di perdesaan.

Beberapa langkah pendekatan itu yakni dengan mendekatkan petani pelaku usaha pertanian kepada teknologi inovatif untuk meningkatkan adopsi, perbaikan pendapatan, dan kesejahteraan ;jaminan ketersediaan penyediaan bahan pangan pokok, percepatan ekspor komoditas potensial setempat dalam mendukung keberlanjutan ekonomi ;pengembangan pasar tani di provinsi termasuk pasar online, jaring pengaman sosial melalui kegiatan padat karya dan fasilitas penyediaan pangan murah;dukungan terhadap UMKM dan usaha ekonomi informal di sektor pertanian ;dan menjamin keberlangsungan usaha pertanian melalui bantuan sarana produksi seperti alat dan mesin pertanian, input produksi berupa benih bibit ternak, pupuk dan biaya usaha pertanian -melalui kegiatan padat karya tunai. (IN)

PELAKU INDUSTRI PAKAN DAN OBAT HEWAN BICARA DAMPAK PANDEMI COVID-19






AYAM JUGA BISA STRES

Kepadatan kandang, salah satu faktor pemicu stres. (Sumber: Istimewa)

Serupa dengan manusia, hewan juga mengalami stres. Namun tentu saja parameter penyebab stresnya berbeda. Yang esensial tentu saja stres dapat menyebabkan imunosupresi dan memudahkan penyakit menyerang, performa pun bisa berantakan akibat stres.

Dalam KBBI, stres didefinisikan sebagai gangguan atau kekacauan mental dan emosional akibat faktor luar. Dari sini dapat dinalar bahwasanya stres ini berkaitan dengan lingkungan (termasuk iklim dan suhu) serta manajemen pemeliharaan.

Fisiologi Stres
Secara fisiologis, ketika ayam mengalami stres jangka panjang akibat faktor apapun, akan terjadi peningkatan sekresi hormon ACTH (Adrenocorticotropic) oleh kelenjar pituitari di otak. Tingginya kadar hormon ACTH akan menurunkan fungsi metabolisme secara umum, tanpa terkecuali penyerapan kuning telur pada masa day old chick (DOC).

Gangguan penyerapan kuning telur pada masa DOC tentunya akan menyebabkan pertumbuhan terhambat. Apalagi jika sisa kuning telur yang lambat terserap tadi terkontaminasi dan terinfeksi oleh mikroorganisme misalnya E. coli, tentunya omphalitis akan terjadi.

Hal lain yang juga lebih mengerikan dan pasti terjadi adalah terlambatnya penyerapan zat kebal yang ada pada kuning telur. Tentu saja jika ini terjadi, ayam akan menjadi lebih rentan terhadap penyakit akibat daya tahan tubuh menurun. Itulah mengapa stres juga dapat berujung pada imunosupresi.

Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Prof Agik Suprayogi, ada beberapa ciri-ciri stres pada hewan ternak. Pada ayam perubahan perilaku yang dapat dilihat misalnya ayam tampak gelisah di dalam kandang, sering kali membentangkan dan mengepakkan sayap, lebih banyak minum ketimbang makan, nafsu makan menurun, terlihat megap-megap (panting).

“Kita mikirnya udah macam-macam aja kalau melihat perubahan perilaku, ya wis ngalor-ngidul kepikiran penyakit ini-itu, padahal ayam itu enggak nyaman. Ini yang perlu kita sadari, makanya memang sulit mendeteksi stres juga,” tutur pria asal Malang tersebut.

Agik juga menyebut bahwa dampak stres pada hewan ternak yang ditakutkan bukanlah kematian, tetapi penurunan produksi. “Kalau mati atau setengah hidup, kita langsung potong, dagingnya masih bisa dijual. Tapi kalau produksi turun, akan rugi. Kasih pakan rutin tapi profit enggak, ya toh?,” katanya.

Kenali Faktor Penyebab Stres
Prof Lenny Van Erp dari HAS University Belanda dalam suatu presentasi pernah mengatakan bahwa kebanyakan ayam modern mengalami stres akibat… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020 (CR)

PAKAN KOMPLET FERMENTASI, SOLUSI PAKAN DI MUSIM KEMARAU

Pembuatan pakan komplet fermentasi (Foto: Fapet UGM)

Pada musim kemarau, penyediaan pakan dapat menjadi tantangan tersendiri bagi peternak karena terbatasnya stok pakan. Salah satu solusi yang dapat diambil yaitu dengan membuat pakan komplet fermentasi. Pakan ini berbasis hijauan pakan dan jerami yang bernilai nutrisi tinggi.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Dr Ir Ali Agus mengatakan pada Senin (18/5), pakan komplet fermentasi sangat cocok diterapkan pada saat musim kemarau atau saat terjadi bencana alam karena lebih praktis. Selain itu kandungan nutrisinya baik, biaya pembuatan terjangkau, dapat disimpan dalam waktu yang lama, dan menghemat waktu peternak.

Pada skala peternakan dan industri usaha sapi potong (feedlot), terdapat realitas berupa pemanfaatan jerami padi secara langsung. Hal itu menimbulkan masalah karena jerami padi dalam segi kuantitas memang melimpah, tetapi dalam segi kualitas masih tergolong bernutrisi rendah sebab hanya mengandung protein sekitar 3-4%.

Jerami padi kering dapat diolah menjadi jerami padi fermentasi yang kemudian diolah menjadi pakan komplet dengan menambahkan bahan lain sehingga kualitasnya meningkat, yaitu dari kadar protein 3-4% menjadi 7-8% dan tahan sepanjang musim. Bahan yang digunakan dalam teknologi pakan komplet terfermentasi adalah jerami padi dan beberapa jenis bahan pakan konsentrat (bersifat pilihan dan situasional) yang terdiri atas bekatul padi, onggok, gaplek, bungkil kopra, kulit kacang, roti, pollard, mollases, garam, jagung kuning giling, “starter mikrobia”, dan calsid. Pemanfaatan limbah pertanian tersebut dapat menekan biaya pembuatan pakan.

Nilai nutrisi pakan komplet dapat diatur dengan cara menentukan jumlah dan jenis campuran. Dengan demikian, ternak tidak berkesempaan memilih pakan sehingga memperkecil jumlah pakan yang tidak dimakan. Pakan komplet berbasis hijauan pakan dan jerami dapat diterapkan dalam skala rumah tangga maupun industri.

Pakan komplet cocok untuk jenis ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba. Ternak ruminansia memiliki rumen yang berisi jutaan mikrobia yang membuatnya mampu menyintesis beberapa jenis nutrisi penting yang dibutuhkan untuk mendukung kebutuhan hidup dan produksinya. Ternak ruminansia juga mampu mencerna sumber serat, seperti rumput, daun, jerami, dan by product pertanian.

Pembuatan pakan komplet berbasis jerami padi fermentasi diharapkan membuat peternak tidak perlu lagi merumput setiap hari. Peternak cukup membuat pakan komplet sekali saja dan dapat dipakai untuk cadangan makanan dalam jangka waktu tertentu tergantung pada kapasitas pembuatannya. Dengan demikian, peternak memiliki sisa waktu yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas lain.

Ali Agus menambahkan, Fakultas Peternakan telah mengimplementasikan pembuatan pakan komplet pada saat terjadi erupsi Gunung Merapi pada 2010. Pakan komplet merupakan solusi tepat guna di masa tersebut yang dapat mencegah peternak menerobos daerah berbahaya untuk merumput bagi ternaknya. (Rilis/INF)

LAGI-LAGI KOLIBASILOSIS

Omphalitis pada DOC salah satu indikasi infeksi E. coli. (Sumber: Istimewa)

Peternak mana yang tidak tahu kolibasilosis? Mungkin semua peternak ayam terutama broiler di Indonesia sudah pasti pernah merasakan kerugian yang diakibatkannya. Walaupun sudah banyak peternak yang bisa dibilang well educated, namun masih saja peternak kerap kali merasakan kerugian yang berulang.

Tidak usah diberitahu lagi, peternak Indonesia mungkin sudah lebih jago daripada technical service, sales representative, atau semacamnya mengenai penyakit ini. Petugas kandang juga sudah kenyang dengan hal tersebut. Namun misteri mengapa ketika kasus kolibasilosis dapat terus “membunuh” peternak secara berulang memang tak pernah bisa diungkap. 

Si Oportunis dan Residivis
Bakteri Escherichia coli, atau biasa disingkat dan lazim disebut E. coli merupakan bakteri yang normal hidup pada saluran pencernaan dan normal terdapat banyak di lingkungan peternakan ayam. Bakteri yang serupa juga terdapat pada saluran pencernaan mahluk hidup lainnya termasuk manusia.

Sifat dari bakteri ini pun sebenaranya sebagai bakteri pembusuk yang membantu pencernaan. Meskipun kebanyakan non-patogen, namun beberapa diantaranya menyebabkan infeksi saluran pencernaan pada berbagai mahluk hidup termasuk ayam.

Infeksi bakteri E. coli disebut kolibasilosis. Kolibasilosis pada ayam adalah penyakit lokal atau sistemik yang sebagian atau seluruhnya disebabkan oleh E. coli, termasuk koliseptisemia, koligranuloma, air sac diseases, avian cellulites, swollen head syndrome, peritonitis salfingitis, osteomyelitis/synovitis, panophtalmitis dan omphalitis atau infeksi kantong kuning telur.

Bakteri ini juga dapat mencemari lingkungan. Biasanya mereka dapat ditemukan dalam litter, kotoran ayam, debu atau kotoran dalam kandang. Debu dalam kandang ayam dapat mengandung 105 sampai 106 E. coli/gram (Tabbu, 2000).

Keberadaan E. coli dalam air minum merupakan indikasi adanya pencemaran oleh feses. Dalam saluran pencernaan ayam normal, terdapat 10-15% bakteri E. coli patogen dari keseluruhan E. coli.

Anben et al. (2001), mengelompokkan E. coli yang bersifat patogen sesuai dengan gejala klinis yang ditimbulkan, antara lain penyebab diare, penyebab septisemia dan Avian Pathogenic Escherichia coli (APEC). Galur APEC merupakan galur yang berhubungan dengan karakteristik penyakit kolibasilosis pada ayam.

Peradangan berupa perkejuan pada organ visceral akibat E. coli. (Sumber: Istimewa)

Menurut Drh Agustin Indrawati, staf pengajar mikrobiologi medis Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, menyatakan bahwa penyakit ini sesungguhnya benar-benar persoalan klasik yang tidak kunjung selesai. Hal ini juga berkaitan dengan praktik manajemen dalam beternak.

“Sifatnya memang bakteri normal di usus, tetapi ketika kondisi memungkinkan bagi mereka untuk menginfeksi, maka infeksi akan terjadi. Oleh karenanya peran manajemen sangat menentukan,” tutur Agustin.

Selain itu, yang lebih gawat lagi berdasarkan hasil penelitiannya, beberapa strain dari bakteri E. coli sudah mengalami resistensi terhadap beberapa jenis antimikroba. Tentu saja ini berbahaya bagi ternak, apalagi konsumen.

E. coli juga sering ditemukan pada produk daging ayam, kalau kebetulan E. coli-nya ternyata sudah kebal antimikroba, tidak dimasak sempurna, lalu termakan oleh manusia, dan kemudian manusia itu sakit, tentunya akan sulit mengeliminirnya, karenakan dia (E. coli) sudah kebal. Makanya masalah ini… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2020 (CR)

HARGA AYAM HIDUP PULIH DI TINGKAT PETERNAK, SENTUH RP 21.000


Harga ayam di tingkat peternak perlahan mulai membaik. (Foto: Istimewa)

Setelah beberapa bulan mengalami tekanan harga, kini peternak ayam mandiri perlahan dapat menikmati harga ayam hidup/livebird (LB) yang membaik. Ini menjadi angin segar bagi peternak pasalnya di beberapa daerah sudah menyentuh harga acuan pemerintah, yaitu di tingkat peternak Rp 19.000-21.000/kg.

Sesuai arahan Menteri Pertanian, setidaknya telah melakukan dua langkah intervensi di lapangan, yaitu pemantauan secara intensif ketersediaan dan penyerapan ayam hidup di tingkat peternak.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita, terus menggenjot upaya tersebut agar tidak terjadi gejolak harga akibat stok pangan, salah satunya ayam hidup.

“Di beberapa sentra produksi, harga ayam hidup sudah membaik dan peternak merespon positif langkah ini,” kata Ketut dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (15/5/2020).

Sementara Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia wilayah Jawa Tengah, Parjuni, menilai harga membaik karena supply-demand cukup seimbang. Adanya momen malam 21 Ramadan membuat kebutuhan meningkat mendekati Lebaran. Ia memperkirakan konsumsi masyarakat meningkat walau tidak signifikan karena masih pandemi COVID-19.

"Alhamdulillah kini harga LB yang sebelumnya Rp 14.000-15.000/kg meningkat ke harga Rp 21.000/kg," ucapnya. Parjuni pun meminta agar pengendalian suplai dan harga DOC terjaga agar harga terus membaik.

Pantauan Kementan per 14 Mei 2020, harga tertinggi terjadi di Yogyakarta dengan rataan harga Rp 22.222/kg, disusul Jawa Tengah dengan harga Rp 20.941/kg.

Secara rinci, Kementan memantau 17 kabupaten/kota di Jawa Tengah, dengan Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan telah menunjukan harga batas atas tingkat peternak, yakni Rp 21.000-21.500/kg.

Sementara Jawa Timur dengan 21 kabupaten/kota, terpantau rata-rata Rp 20.385/kg. Namun 10 Kabupaten/Kota (Gresik, Lamongan, Lumajang, Madiun, Magetan, Nganjuk, Ponorogo, Sidoarjo, Tuban dan Batu) sudah mencapai harga acuan batas atas, yaitu berkisar Rp 21.500-23.500/kg.

Selain itu, harga LB di wilayah Banten juga ikut terkerek naik dengan rataan harga mencapai Rp 19.583/kg. Hal serupa juga terjadi di Jawa Barat, yakni Rp 19.385/kg. Diikuti daerah Bogor dan Garut yang juga merangkak naik dikisaran Rp 17.500-18.400/kg.

Perbaikan harga LB juga berlaku di wilayah regional di luar Pulau Jawa, diantaranya Provinsi Bengkulu (Rp 23.500/kg), Sulawesi Utara (Rp 22.500/kg), Maluku (kisaran Rp 22.000/kg) dan Papua (kisaran Rp 27.135/kg).

Sebelumnya untuk menekan kerugian peternak mandiri akibat keterpurukan harga, Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, mengupayakan terobosan penyerapan ayam hidup peternak oleh perusahaan mitra perunggasan dengan komitmen penyerapan sebanyak 4.119.000 ekor. Hal ini dinilai telah mampu menekan kerugian peternak meski serapannya belum maksimal.

“Jumlah ayam yang sudah diserap perusahaan mitra peternakan sudah mencapai 856.484 ekor. Pemerintah berterima kasih pada para mitra yang telah membantu peternak mandiri” ungkap Ketut.

Secara rinci per 14 Mei 2020, pembelian ayam peternak mandiri di Jawa Barat sebanyak 411.564 ekor, Banten 26.615 ekor, Jawa Tengah 226.104 ekor, DI Yogyakarta 9.919 ekor, Jawa Timur 136.635 ekor, Bali 30.415 ekor dan Sumatera Utara 15.232 ekor. (INF)

PENERAPAN ASPEK KESRAWAN PADA RANTAI PASOK SAPI POTONG

Penerapan kesrawan pada ternak sapi potong sangat penting. (Foto: Istimewa)

Penanganan ternak dengan memperhatikan kesejahteraan hewan (kesrawan) akan menghasilkan kinerja yang efisien, aman bagi sapi dan operator, serta meningkatkan kualitas daging yang dihasilkan. Dengan demikian, penanganan hewan yang apik akan terwujud pula kesejahteraan hewan yang baik.

Hal itu disampaikan Neny Santy Jelita dalam sebuah pelatihan daring yang diselenggarakan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB. Pelatihan berlangsung selama dua seri dan dilakukan selama dua hari waktu pelatihan, yakni pada 13-14 Mei 2020 dengan mengangkat topik “Penerapan Animal Welfare pada Rantai Pasok Sapi Potong”.

Neny memaparkan, prinsip dasar kesrawan yakni ternak harus bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa tidak nyaman, bebas dari rasa sakit dan cedera, bebas dari rasa takut dan tertekan, serta bebas untuk menampilkan perilaku alaminya.

Saat berada di rumah penampungan, sapi harus diberikan penerangan yang baik agar operator bisa melakukan penanganan dengan optimal.

“Kami terbiasa ke rumah pemotongan hewan (RPH) dan melihat perlunya edukasi dan bantuan penyediaan fasilitas yang memadai. Penanganan sapi di RPH ini merupaan fase akhir yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Stres pada saat pemotongan akan menyebabkan daging akan berwarna kehitaman, bukan merah,” kata Neny.

Ia menambahkan, pada saat yang dijadwalkan di RPH juga harus seminimal mungkin, agar sapi tidak mengalami stres. Neny menyarankan supaya ternak harus segera disembelih secara cepat, baik menggunakan metode pembiusan ataupun tidak. Proses penyembelihan ini akan menentukan kualitas daging yang akan dibeli oleh konsumen.

Neny pun mengingatkan bahwa dalam hal kesrawan pada peternakan sapi potong ini harus bisa diterapkan pada lima hal utama, yakni pada saat penanganan hewan ternak, transportasi, penanganan di feedlot, penerapan di RPH, serta pada saat penyembelihan dengan pemingsanan. (IN)

PENGELOLAAN PAKAN HIJAUAN UNTUK SAPI DI LAHAN SAWIT

Integrasi sapi-sawit. (Sumber: iaccbp.org)

Integrasi ternak dalam usaha perkebunan sawit adalah menempatkan dan mengusahakan sejumlah ternak tanpa mengurangi aktivitas dan produktivitas kebun, bahkan keberadaan ternak tersebut dapat meningkatkan produktivitas tanaman, sekaligus produksi ternaknya. Integrasi ternak tersebut bertujuan agar terjadi sinergi saling menguntungkan yang pada akhirnya dapat membantu mengurangi biaya produksi.

Hal itu diuraikan oleh Ranch Manager Palm Cow Integration Dept, PT Buana Karya Bhakti, Wahyu Darsono, dalam sebuah seminar online tentang sistem pemberian pakan untuk sapi induk yang diselenggarakan oleh Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI), Jumat (15/5/2020). 

Wahyu mengatakan bahwa dalam integrasi sapi sawit maka kebun sawit harus diperankan sebagai lahan gembalaan atau sebagai pasture untuk pembiakan sapi atau produksi sapi grassfed. Dengan demikian, kebun atau pabrik sawit berperan menyediakan bahan pakan yang berkelanjutan bagi ternak, khususnya ternak ruminansia.

“Pengelolaan pasture di kebun sawit sebagai sumber pakan berkelanjutan perlu dilakukan secara terkontrol dengan alokasi paddock sesuai dengan grup atau status sapi dan berdasarkan stocking rate potensi biomass,” kata Wahyu. 

Demikian juga dengan optimalisasi pemanfaatan vegetasi gulma sebagai sumber pakan,  perlu didukung komitmen dan sinergi yang kuat antara kegiatan perkebunan dan kegiatan penggembalaan sapi, terutama pada aspek pemupukan, penanggulangan gulma dan panen TBS, serta pemanfaatan areal terbuka untuk introduksi tanaman hijauan pakan berkualitas.

“Untuk memenuhi kecukupan nutrisi sapi sesuai dengan status sapi dan pengaruh iklim terutama curah hujan, perlu diberikan pakan tambahan sebagai sumber protein, energi dan mineral,” pungkasnya. (IN)

REXSI : KELINCI UNGGUL DARI BALITBANGTAN

Rexsi, bibit unggul kelinci dari Balitbangtan

Usaha peternakan kelinci di masa kini semakin berkembang karena didorong oleh peningkatan permintaan terhadap produknya. Beberapa produk yang digemari masyarakat antara lain  kelinci hias, kelinci kesayangan, kelinci kontes maupun daging kelinci. Karena itu, para pelaku usaha ternak kelinci diharapkan mampu meningkatkan usaha ternaknya untuk memenuhi permintaan tersebut.

Salah satu kebutuhan utama para peternak kelinci yang mendesak adalah tersedianya bibit unggul dalam jumlah dan kualitas yang memadai. Pembibitan kelinci yang terdapat di lapangan saat ini hanya sebatas pada pembudidayaan ternak kelinci sebagai penghasil calon indukan baik pejantan maupun betina. Pengelolaannya juga masih secara tradisional sehingga ternak yang dihasilkan belum memiliki standar kualitas.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Kementerian Pertanian, Fadjry Djufry melalui sambungan telepon menyampaikan bahwa budi daya kelinci merupakan salah satu alternatif dalam penyediaan daging untuk pemenuhan protein hewani dan sekaligus sebagai upaya peningkatan pendapatan masyarakat. 

Kelinci Rexsi jantan

“Daging kelinci sangat baik untuk kesehatan karena mempunyai protein yang tinggi dengan kandungan lemak dan kolesterol yang rendah sehingga dapat memperbaiki gizi masyarakat”, urai Fadjry.

“Walaupun tidak sepopuler dengan beternak ayam ataupun bebek dan kambing, bukan berarti beternak kelinci tidak memiliki peluang pasar”, tambahnya

Lebih lanjut Fadjry mengatakan bahwa Balitbangtan melalui Balai Penelitian Ternak (Balitnak) telah melakukan serangkaian kegiatan penelitian untuk menghasilkan bibit unggul dari jenis-jenis kelinci yang tersedia. Salah satunya kelinci Rexsi Agrinak yang dilepas Kementerian Pertanian tahun 2017 dengan keputusan Mentan nomor 303/Kpts/SR.120/5/2017.

Kelinci Reksi Agrinak dikembangkan karena selain ukurannya besar sehingga dapat dimanfaatkan dagingnya untuk memenuhi kebutuhan protein hewani bagi keluarga, Kelinci Reksi Agrinak juga memiliki kelebihan pada warna bulu yang indah dan halus serta seragam panjangnya, sehingga kelinci jenis ini dapat dimanfaatkan sebagai penghasil kulit/bulu untuk selanjutnya diolah sebagai bahan kerajinan interior mobil, boneka, mainan anak-anak, selendang, tas wanita, aksesori rambut, sepatu bayi, topi dan sarung tangan

Mengamini pernyataan Kepala Balitbangtan, Peneliti senior dari Balitnak, Ciawi, Bogor Dr. Yono C. Raharjo, mengatakan bahwa daging kelinci berbeda dengan daging ternak ruminansia. Daging kelinci berserat halus dengan warna sedikit pucat, sehingga dapat dikelompokkan dalam golongan daging berwarna putih seperti halnya daging ayam. “Daging putih kadar lemaknya rendah dan glikogen tinggi. Rendahnya kandungan kolesterol dan natrium membuat daging kelinci sangat dianjurkan sebagai makanan untuk pasien penyakit jantung atau kolesterol, usia lanjut, dan mereka yang bermasalah dengan kelebihan berat badan”, jelasnya.

Kelinci Rexsi betina

Untuk memperoleh galur kelinci Rex yang stabil dan dengan konsistensi produksi yang tinggi, serangkaian program seleksi telah dilakukan terhadap suatu kelompok kelinci Rex yang diperoleh dari importasi tahun 1988 dan sudah beradaptasi dengan baik. Tujuan dari proses seleksi adalah untuk memperoleh suatu populasi kelinci Rex dengan keseragaman yang tinggi dan untuk memperbaiki konsistensi keunggulan produksi anak sekelahiran dan bobot sapih umur enam minggu.

Kelinci Rexsi Agrinak merupakan hasil seleksi dari kelinci rex yang memiliki keseragaman produktivitas, yaitu jumlah anak sekelahiran di atas enam ekor dan bobot sapih pada umur enam minggu yang tinggi. Karakteristik kualitatif warna rambutnya bervariasi campuran dua warna (hitam-putih), Castor, chincila (putih hitam-coklat) dan putih. Telinganya tegak dan oval menyempit.

Keunggulan dari kelinci Rexsi Agrinak adalah bobot lahir mencapai 55 gram dengan jumlah anak sekelahiran dapat mencapai 6 – 8 ekor. Memiliki bobot umur enam minggu 652 gram, untuk bobot induk 2.932,13 gram/ekor dengan koefisien keragaman 9% dan bobot jantan dewasa 2.744 gram dengan koefisien keragaman 10%.

Umur siap kawin jantan adalah 6 bulan dan betina 5,5 bulan dengan Lama kebuntingan 30 hari. Sedangkan untuk bobot potong umur 24 minggu 2.711 gram.

Kelinci Rexsi telah diujicobakan melalui kegiatan pembinaan kelompok di daerah-daerah yang memiliki udara yang sejuk dan dingin agar memperoleh produktivitas yang maksimal, seperti di Brastagi, Samarinda, Balikpapan Kaltim, Bogor, Sukabumi, Magelang, Bandung Barat, Cirebon, Tasikmalaya, Semarang, Kabupaten Magelang, Surakarta, Malang, Batu, Blitar, Mojokerto, Bojonegoro, dan Ngawi. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer