-->

DIREKTORAT MARKETING FEED & DOC WONOKOYO ADAKAN ANNUAL MEETING 2020

Momen foto bersama acara  annual meeting PT Wonokoyo (Foto: Wonokoyo.co.id)

Ada kejutan manis dalam tradisi tahunan yang digelar Direktorat Marketing Feed & DOC Wonokoyo. Usai memberikan pengarahan sekaligus membuka secara resmi Annual Meeting 2020 itu, Ibu Hanna Tirto Kusumo (Direktur Marketing Feed & DOC) dibuat terkejut dengan berkumandangnya lagu  Selamat Ulang Tahun.

Suasana pun bertambah semarak, manakala Ibu Hanna meniup lilin diiringi tepuk tangan meriah seluruh hadirin.

Selama dua hari (25-26/2) Tim Pemasaran Feed & DOC mengikuti seluruh rangkaian acaranya. Tema Annual Meeting 2020  “Implementasikan Secara Konsisten Nilai Budaya Kerja MAJU Guna Meraih Keberhasilan dan Prestasi di Tahun 2020.”

Layaknya pertemuan tahun-tahun sebelumnya, kali ini juga dihadirkan pakar sebagai narasumber guna meng-update keilmuan dan pengetahuan Tim Pemasaran. Pakar tersebut adalah Prof. Dr. drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS. (Sumber: http://www.wonokoyo.co.id/news.html)

CATAT TANGGALNYA, INDONESIA LIVESTOCK CLUB AKAN DIGELAR


BPPI bersiap menggelar INDONESIA LIVESTOCK CLUB dengan tema Omnibus Law & Implikasinya terhadap Industri Perunggasan Nasional, di Jakarta pada 14 April 2020.

Pokok-pokok pembahasan:


  • Omnibus Law RUU Cipta Kerja untuk Ciptakan Iklim Investasi yang Kondusif di Industri Perunggasan
  • Telaah Kritis Regulasi Pendukung Pengembangan Perunggasan Skala Kecil dan Menengah
  • Analisis Omnibus Law RUU Cipta Kerja dan Iklim Berusaha di Indonesia
  • Kesiapan Industri Perunggasan dalam Menghadapi Omnibus Law RUU Cipta Kerja
  • Kajian Akademis Regulasi Pendukung Iklim Investasi Industri Perunggasan Nasional

KEMENTAN PERKUAT JEJARING LAOBRATORIUM KESWAN

Memperkuat jejaring lab keswan dalam mengantisipasi wabah

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) perkuat jejaring dan kapasitas laboratorium kesehatan hewan (veteriner) guna mengantisipasi ancaman wabah penyakit hewan. Menurut Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, hal ini diperlukan agar laboratorium veteriner mampu mendeteksi secara cepat, tepat, dan akurat penyebab wabah, termasuk penyakit infeksi baru/berulang (PIB).

Ketut menjelaskan bahwa penguatan kapasitas laboratorium veteriner merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2019 tentang Peningkatan Kemampuan dalam Mencegah, Mendeteksi, dan Merespon Wabah Penyakit, Pandemi Global, dan Kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia.

“Inpres tersebut harus diterjemahkan menjadi rencana kerja operasional dan terukur untuk mengatasi masalah aktual yang dihadapi saat ini, seperti African Swine Fever (ASF) di Sumatera Utara, Anthrax di Jawa Tengah dan DIY, serta antisipasi kemungkinan COVID-19 pada hewan," ujarnya saat menutup acara Pertemuan National Reference Coordinating Committee dan Jejaring Laboratorium Veteriner, 05/03/2920.

Ia juga berharap bahwa peningkatan kapasitas laboratorium veteriner tersebut dapat berkontribusi langsung pada peningkatan daya saing komoditi peternakan dan obat hewan, serta mendukung Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Di depan pimpinan Laboratorium Kesehatan Hewan lingkup Kementan dan provinsi se-Indonesia, Ketut berpesan agar peningkatan kapasitas laboratorium veteriner dilakukan secara berkelanjutan sebagai upaya mendukung peningkatan kualitas sistem kesehatan hewan nasional yang memenuhi standar internasional.

"Peningkatan kapasitas ini harus meliputi peningkatan kemampuan pengujian, manajemen sistem mutu, sistem manajemen biorisiko, jejaring kerja, dan sistem manajemen informasi," tegasnya.

Menurut Dirjen PKH, penguatan jejaring laboratorium veteriner dilakukan melalui penguatan laboratorium rujukan nasional penyakit hewan, penambahan ruang lingkup laboratorium rujukan nasional guna memenuhi kebutuhan pengujian ASF di Balai Veteriner Medan, COVID-19/SARS-CoV2 pada hewan di BBVet Wates, Toxoplasmosis di Balai Veteriner Lampung, serta Dourine dan Glanders di BBUSKP.

Lebih lanjut Ketut menjelaskan perlunya laboratorium rujukan nasional memperluas parameter pengujian keamanan pangan produk hewan, keamanan pakan dan obat hewan, serta berpartisipasi dalam jejaring laboratorium one health bersama jejaring laboratorium kesehatan masyarakat dan jejaring laboratorium universitas one health.

"Saat ini, hampir 100% laboratorium veteriner di bawah Kementan terakreditasi ISO/IEC SNI 17025:2017, namun untuk tingkat provinsi baru 19. Kita coba akselerasi agar pada tahun 2024 seluruh laboratorium veteriner terakreditasi ISO/IEC SNI 17025:2017," tambahnya.

Ketut kemudian meminta agar jejaring laboratorium veteriner juga mempedomani Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 101 Tahun 2018 tentang Standar Teknis Pelayanan Dasar pada Standar Pelayanan Minimal Sub-Urusan Bencana Daerah Kabupaten/Kota yang dapat dijadikan kerangka untuk penguatan kapasitas mencegah, mendeteksi dan merespon zoonosis pada pemerintah daerah.

Terakhir, ia berpesan agar laboratroium veteriner mengoptimalkan penerapan iVLab guna memperkuat sistem manajemen informasi di unit pelaksana teknis lingkup Kementan dan laboratorium veteriner provinsi. (CR)

PEMERINTAH TEGASKAN COVID-19 TAK MENULAR MELALUI HEWAN KESAYANGAN

Penyebaran COVID-19 terjadi dari manusia ke manusia dan belum ada bukti yang kuat bahwa hewan, terutama kucing dan anjing dapat menyebarkan penyakit tersebut (Foto: Shutterstock)

Menyikapai pemberitaan dan informasi yang beredar di masyarakat tentang potensi penularan COVID-19 atau virus Corona baru dari hewan ke manusia, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada bukti kuat yang menunjukan bahwa hewan, khususnya hewan kesayangan sebagai sumber penularan COVID-19. 

“Sudah ditegaskan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE), bahwa penyebaran COVID-19 terjadi dari manusia ke manusia dan belum ada bukti yang kuat bahwa hewan dapat menyebarkan penyakit ini,” ujar Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, dalam keterangan persnya, Kamis (12/3/2020). 

Oleh karena itu, Ia berpesan agar masyarakat tidak khawatir untuk memelihara hewan kesayangan seperti kucing dan anjing, serta tidak melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kesejahteraan hewan, seperti membuang atau menerlantarkannya. “Intinya saat menangani hewan pastikan mencuci tangan dengan air menggunakan sabun sebelum dan setelah kontak dengan hewan,” imbuhnya. 

Hal senada juga dikatakan Ketua Komisi Ahli Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Karantina Hewan, Tri Sayta Putri Naipospos. Menurut dia berdasarkan laporan dari otoritas pemerintah yang membidangi kesehatan hewan di Hongkong, telah ditemukan kasus positif lemah pada anjing milik pasien positif COVID-19 dan anjing tersebut tidak menunjukan gejala sakit.

“Penularan COVID-19 saat ini terjadi dari manusia ke manusia, fakta awal yang menunjukkan keterkaitan dengan satwa liar, dalam hal ini kelelawar masih dalam penelitian lebih lanjut,” ucapnya.

Sementara Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLitvet) Kementan, NLP Indi Dharmayanti, menyampaikan juga bahwa masih perlu waktu untuk memastikan apakah virus penyebab COVID-19 (SARS CoV2) berasal dari hewan dan kemudian menulari manusia (bersifat zoonosis).

Ia membeberkan, BBLitvet telah bekerjasama dengan Ditjen PKH dan dinas terkait dalam memeriksa 13 sampel dari 2 anjing dan 1 kelinci milik pasien positif COVID-19 di Depok, hasilnya pun negatif pada bebeberapa kali pemeriksaan.

“Dari beberapa publikasi memang terdapat data yang menunjukan bahwa virus penyebab COVID-19 mempunyai kedekatan genetik dengan virus yang terdapat pada kelelawar. Namun masih perlu studi lebih lanjut untuk memastikan perannya dalam penularan,” tukasnya.

Ia pun menegaskan bahwa penularan antar manusia merupakan rute utama penyebaran COVID-19, namun penelitian di hulu (pada hewan) terkait potensi zoonosis tetap perlu dilakukan sebagai langkah kesiapsiagaan. (INF)

PEMBIAKAN KAMBING SABURAI KEBANGGAAN BAGI LAMPUNG

Gubernur Lampung saat meninjau tempat pembiakan kambing Saburai di Pesawaran (Foto: Dok. Humas Pemprov)

Gubernur Lampung Arinal Djunaidi saat melihat kambing Saburai di tempat pembiakan Negerisakti, Gedongtataan, Pesawaran, Selasa, 10 Maret 2020. Dok. Humas Pemprov
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung terus mempersiapkan segala hal untuk mewujudkan Sang Bumi Ruwai Jurai menjadi lumbung ternak nasional. Apalagi Lampung sudah mampu melakukan pembiakan kambing.   

Salah satu hal yang dilakukan saat Gubernur Lampung Arinal Djunaidi yaitu meninjau UPTD Balai Pembibitan Ternak Kambing (BPTK) Saburai yang menjadi tempat pembiakan kambing Saburai di Negerisakti, Gedongtataan, Pesawaran, Selasa (10/3). Peninjauan tersebut dalam rangka memastikan langsung kesiapan pembiakan kambing Saburai.

Dalam kegiatan tersebut, Gubernur didampingi Kepala Bappeda Fredy, Plt Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Lili Mawarti dan jajaran.

Gubernur mengatakan pembiakan kambing Saburai merupakan suatu prestasi dan kebanggaan dari sektor peternakan di Lampung. "Bicara soal kambing, kita sudah punya keberhasilan. Terutama kambing dikawinkan antara peranakan etawa betina dengan kambing bur jantan sehingga anaknya menjadi kambing Saburai," ujarnya.

Menurut dia, kambing Saburai ini menjadi suplai untuk kebutuhan para peternak. "Saya datang ke sini untuk melihat jangan sampai terbuai dalam pembibitan, tetapi kondisi induk tidak diperhatikan. Mungkin tahun ini kita akan lakukan peremajaan induk, supaya ke depan lebih banyak," ujar mantan Sekprov Lampung itu.

Sebagai salah satu upaya, Gubernur akan menunda PAD dari UPTD BPTK Saburai pada tahun ini. Namun, pendapatan itu harus dimanfaatkan untuk peremajaan indukan. "Supaya nanti jumlah penyerahan atau pendistribusian pembibitan untuk ternak itu lebih besar dan banyak, kemungkinan keberhasilannya lebih besar," ujarnya.

Gubernur menjelaskan beberapa hari terakhir telah bertemu para petinggi BUMD DKI Jakarta. Dari pertemuan itu, BUMD DKI menginginkan agar bahan baku tidak lagi masuk Jakarta. Namun telah diproses di Lampung.

"Artinya, pemotongan atau RPH sudah disiapkan di sini sehingga di sana sudah tidak ada limbahnya," katanya.

Dia juga memastikan Lampung sudah sangat siap menjadi lumbung ternak nasional. Untuk itu, berapa pun kebutuhan nantinya, Lampung siap menyuplai.

Plt Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Lili Mawarti berharap kambing Saburai dapat menjadi ikon Lampung. Sebab, Lampung memiliki plasma nuftah berdasarkan rumpun yang sudah ditetapkan Kementan yaitu kambing Saburai. (Sumber: lampost.co)

PEMBUKAAN PERDANA RESTO DAN DEPO AYAM KAMPUNG NATCHICK

Warga sekitar tengah menikmati santapan ayam kampung secara gratis pada pembukaan perdana resto NatChick, Rabu (11/3). (Foto: Infovet/Ridwan)

Dalam rangka memperkenalkan ayam lokal kepada masyarakat, PT Sumber Unggas Indonesia (SUI) berafiliasi dengan PT Ayam Kampung Primadona (AKP) kian melebarkan sayapnya dengan mendirikan restoran dan depo NatChick di daerah Sentul, Bogor.

Acara soft opening perdana sekaligus promosi diadakan mulai 11-13 Maret 2020 di Sentul dengan makan ayam kampung dan telur ayam kampung secara gratis untuk 100 orang pertama yang hadir.  

Manager Marketing NatChick, Ade Sagia, mengatakan ayam kampung adalah pangan yang sehat dan merupakan produk lokal yang harus dilestarikan dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat Indonesia.

"Masyarakat Indonesia tidak asing dengan ayam kampung karena merupakan dari budaya bangsa. Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki masakan khas ayam kampung seperti ayam betutu dan ayam bumbu lengkuas,” katanya.

Dibukanya resto dan depo NatChick ini agar masyarakat umum bisa dengan mudah mencicipi sajian masakan ayam kampung yang kerap dianggap memiliki harga yang cukup tinggi.

"Memang sasaran kita adalah masyarakat secara umum supaya bisa menikmati ayam kampung dengan harga yang murah," ujar Direktur Utama PT SUI, Naryanto, ditemui pada acara soft opening NatChick, Rabu (11/3).

NatChick sendiri merupakan restoran ayam kampung pertama di Indonesia yang menawarkan menu ayam kampung olahan dengan bumbu khas Nusantara, seperti ayam betutu, ayam kampung bumbu lengkuas dan ayam kampung rebus. Harga yang ditawarkan di resto NatChick berkisar Rp 27,500 per paket.

Proses pengolahan ayam kampung NatChick juga telah memenuhi standar pangan yang sehat, mulai dari pembibitan, pembesaran dan pengolahan sesuai dengan prinsip Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).

Selain itu, depo NatChick di Sentul juga menjadi supplier untuk para outlet yang bekerja sama dengan AKP dalam memasarkan produk ayam kampung, khusus untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok dan sekitarnya. Saat ini sudah ada sekitar 70 outlet yang tersebar di Indonesia. 

Selain menu ayam kampung, NatChick juga menawarkan berbagai sajian kopi, diantaranya kopi Cemani, kopi Gaok dan Kopi Sentul. (RBS)

KEMENTAN AJAK TOKOH MASYARAKAT BALI DAN NTT BANTU KENDALIKAN PENYAKIT BABI

Foto bersama Dirjen PKH dan para tokoh masyarakat. (Foto: Dok. Kementan)

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) memandang penting peran tokoh masyarakat, agama, dan adat dalam memberikan dukungan untuk program pengendalian penyakit hewan. Hal tersebut disampaikan Dirjen PKH, I Ketut Diarmita saat berdiskusi dengan para tokoh yang hadir dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Penyakit Babi Wilayah Bali dan NTT, Jumat (06/3).

Menurutnya, selama ini pengendalian penyakit hewan lebih banyak mengandalkan aspek teknis saja, padahal aspek lain seperti sosial budaya dan dukungan politis tidak kalah pentingnya. Ketut kemudian mengambil contoh pentingnya pelibatan tokoh yang dipercaya oleh masyarakat dalam pengendalian penyakit hewan.

"Saya berharap para tokoh masyarakat, agama, dan adat yang hadir khususnya dari Bali dan NTT dapat mendukung upaya pencegahan dan pengendalian penyakit yang saat ini mengakibatkan kematian babi di Bali dan NTT," ungkapnya.

Ketut kemudian menjelaskan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, Ditjen PKH terus fokus dalam penanganan penyakit yang mengakibatkan kematian pada Babi. Kejadian tersebut berawal di Sumatera Utara pada akhir 2019, yang kemudian dinyatakan secara resmi sebagai wabah African Swine Fever (ASF).

ASF merupakan penyakit yang sudah lama ada, diawali di Afrika pada tahun 1920-an, penyakit ini menyebar ke Eropa dan akhirnya dalam beberapa tahun terakhir masuk ke dan menyebar di Asia.

"Penyakit ASF ini sangat menular, dan sampai saat ini belum ada obat atau vaksinnya. Sekali ASF masuk ke suatu wilayah, sulit untuk diberantasnya. Oleh karenanya, sejak China dinyatakan wabah pada akhir tahun 2018, sebenarnya Indonesia sudah mempersiapkan diri menghadapi masuknya penyakit ini," ujar Ketut.

Langkah-langkah yang telah dilakukan dari sejak wabah ASF terjadi di China, yakni membuat Surat Edaran kewaspadaan penyakit ASF, memberikan Bimtek dan Simulasi Penyakit ASF kepada petugas, melakukan sosialisasi secara langsung kepada petugas dan peternak, serta memberikan bahan sosialiasasi terkait ASF kepada dinas PKH di daerah.

"Kita juga telah siapkan bantuan desinfektan, sprayer, alat pelindung diri dan bahan pendukung lainnya, serta dana tambahan untuk pencegahan dan pengendalian ASF," tambah Ketut.

Ditjen PKH juga telah berkoordinasi dan meminta Karantina Pertanian untuk terus meningkatkan pengawasan terhadap barang bawaan penumpang pesawat atau kapal laut dari luar negeri yang membawa produk segar dan olahan babi, serta meminta stakeholder lain melakukan pengawasan penggunaan sisa-sisa makanan sebagai pakan babi (swill feed).

Selain pengendalian penyakit, pemerintah juga memikirkan jalan untuk pemulihan ekonomi bagi peternak dan pekerja di peternakan tersebut.

Bagi peternak terdampak, telah diberikan bantuan penguburan atau pembakaran bangkai. Ketut juga memberikan alternatif bagi pekerja yang terdampak kemungkinan fasilitasi pemberian bantuan ternak selain babi sebagai sumber penghidupan.

"Saat ini kita akan coba fasilitasi dengan pihak bank agar ada kebijakan yang meringankan peternak terkait kredit, pemberian kredit dengan bunga murah bagi peternak yang mau memulai usaha kembali, dan fasilitasi asuransinya," ucapnya.

Perkembangan Kasus Kematian Babi

Ketut kemudian menyampaikan update tentang data kematian babi akibat ASF di Sumut yang saat ini mencapai 47.534 di 21 kabupaten/kota. Ia menegaskan bahwa tanpa adanya pengetatan dan pengawasan lalu lintas hewan yang baik serta penerapan biosekuriti, sangat sulit membendung penyakit ASF ini.

"Belajar dari Sumut, dimana partisipasi masyarakat dalam program itu sangat penting, kita harapkan peran dan sumbangsih para tokoh masyarakat, agama, dan adat untuk dapat membantu memberikan pemahaman pada masyarakat terkait hal ini," harapnya.

Lebih lanjut, Ketut juga menjelaskan tentang data kematian babi di NTT yang saat ini mencapai 3.299 di 6 kabupaten/kota. Berdasarkan pemeriksaan laboratorium yang menunjukan hasil positif ASF di Kabupaten Belu, Ia menduga bahwa kasus kematian babi di kabupaten/kota lain di NTT juga disebabkan oleh penyakit yang sama.

Sementara itu di Bali angka kematian babi akibat penyakit yang disebut peternak sebagai Grubug Babi yang dinyatakan pemerintah sebagai suspek ASF telah mencapai 2.804 di 8 kabupaten/kota.

"Ke depan, kita coba tingkatkan terus upaya-upaya pengendalian yang kita lakukan. Dengan adanya dukungan para tokoh, harapannya kerja kita nantinya bisa lebih efektif menekan kasus," pungkasnya. (Rilis Kementan)

KONSUMSI TELUR PUYUH DAN KECERDASAN ANAK

Telur puyuh memiliki sejumlah kandungan nutrisi yang baik bagi tubuh. (Foto: Shutterstock)

Sore itu, Rustiani tampak gembira begitu melihat nilai ulangan harian anaknya, Rizky Ramdani, yang duduk di kelas V sekolah dasar. Nilai ulangan matematika buah hatinya hampir sempurna, yakni mendapat nilai 98. Tak hanya matematika, beberapa matapelajaran lainnya juga nilainya tak kalah bagus.

Ibu rumah tangga yang sehari-hari mengantar dan menjemput anaknya sekolah ini menuturkan, sejak kelas I anaknya yang nomor dua itu memang selalu juara di kelasnya. Nilai rapornya tak ada yang mengecewakan. “Kecuali nilai Penjaskesnya atau pelajaran olahraga, dia agak kurang suka olahraga soalnya,” tutur Rustiani yang suaminya bekerja sebagai peneliti di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

Kecerdasan Rizky juga diakui oleh gurunya di SD Durenseribu 04, Bojongsari, Depok. Hampir setiap ulangan harian nilainya tak pernah di bawah angka 8. “Dia memang anak cerdas, daya tangkapnya bagus. Ayahnya kan seorang peneliti, mungkin pinternya nurun ke anaknya,” ujar Anwar Sanusi, guru kelas Rizky, sambil tersenyum kepada Infovet.

Benarkah kecerdasan Rizky itu dikarenakan faktor genetik dari sang ayah yang seorang peneliti? Mungkin saja benar, faktor keturunan bisa menjadi pendukung kecerdasan anak. Tetapi menurut penuturan sang ibu, asupan gizi juga sangat menentukan tingkat kecerdasan seorang anak.

“Anak saya dari dulu suka banget makan telur, terutama telur puyuh. Hampir seminggu tiga kali dia mintanya pasti lauk telur puyuh,” ungkap Rustiani kepada Infovet

Lantaran sang anak suka mengonsumsi telur puyuh, ibu muda ini pun rajin membaca artikel seputar gizi. Meski tak tahu persis seperti apa kandungan gizi pada telur puyuh, namun ia yakin sangat bagus untuk pertumbuhan dan kecerdasan otak bagi anak.

Ahli gizi dari Univeritas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, Taufik Maryusman, SGz MGizi MPd, menyebutkan bahwa telur puyuh memiliki sejumlah kandungan nutrisi yang baik bagi tubuh. Menurutnya, telur puyuh memang tidak sepopuler telur ayam yang lebih banyak dikonsumsi rata-rata masyarakat. ”Padahal manfaatnya (telur puyuh) tidak kalah banyak dan bermanfaat bagi tubuh,” kata Taufik.

Ada beberapa kandungan nutrisi telur puyuh yang cukup baik untuk diketahui oleh orang tua agar anak-anaknya juga gemar mengonsumsi. Pertama, sama seperti telur ayam, telur puyuh tinggi protein. Satu porsi telur puyuh (setara lima butir) mengandung 6 gram protein yang ternyata sama banyak dengan satu butir telur ayam.

Protein diperlukan tubuh untuk dijadikan sumber energi, menjaga stamina, memelihara kesehatan kulit dan rambut, serta membangun dan menguatkan massa otot, baik dikonsumsi untuk anak-anak hingga orang dewasa.

Kedua, telur mini yang dihasilkan burung puyuh ini juga kaya akan vitamin A dan kolin. Setiap porsi telur puyuh menawarkan 119 miligram kolin dan 244 IU vitamin A. Artinya, seporsi telur puyuh mampu menyajikan sekitar 22-28% kebutuhan kolin harian dan 8-10% asupan vitamin A dalam sehari.

Nutrisi-nutrisi tersebut bekerja sama menjaga kerja sistem imun tubuh untuk mencegah risiko penyakit dan infeksi, khususnya mencegah perkembangan penyakit jantung. Vitamin A dan kolin juga berfungsi memelihara fungsi sistem saraf dan indra penglihatan.

Ketiga, telur burung puyuh mengandung lebih banyak selenium (26%) dan zat besi (9%) daripada telur ayam. Selenium bermanfaat untuk memelihara fungsi kognitif otak, meningkatkan metabolisme hormon tiroid dan memperbaiki kerusakan DNA. Sementara, zat besi berfungsi memproduksi sel darah merah sehat untuk mencegah anemia, zat besi juga mungkin berpotensi memberikan perlindungan terhadap penyakit jantung.

Kombinasi zat besi dan selenium dibutuhkan tubuh untuk memetabolisme otot serta memelihara kesehatan pembuluh darah. Jadi, mulailah konsumsi telur puyuh karena memiliki manfaat yang baik bagi tubuh dan bisa diolah menjadi lauk pauk yang lezat.

Tetap Berhati-hati
Menurut data dari American Heart Association yang dirilis pada 2002, telur puyuh terdiri atas putih telur (albumen) 47,4%, kuning telur (yolk) 31,9% dan kerabang serta membran kerabang 20,7%. Kandungan protein telur puyuh sekitar 13,1%, sedangkan kandungan lemaknya 11,1%. Sementara, kuning telur puyuh mengandung 15,7-16,6% protein, 31,8-35,5% lemak, 0,2-1,0% karbohidrat dan 1,1% abu. Telur puyuh juga mengandung vitamin A sebesar 543 ug (per 100g).

Lalu, bagaimana perbandingan kandungan nutrisi telur puyuh dengan telur ayam? Dilansir dari Very Well Fit, setiap 50 gram atau sekitar satu butir telur ayam berukuran besar mengandung 6 gram protein dan 78 kalori. Sedangkan, satu porsi telur puyuh (setara lima butir) mengandung 6 gram protein dan 71 kalori.

Bila mengonsumsi satu porsi telur puyuh, ini artinya sudah mendapatkan asupan protein yang sama dengan ketika makan sebutir telur ayam. Kandungan kalorinya pun hanya terpaut 7 kalori saja, sehingga tak jauh berbeda. Bukan hanya itu saja yang mirip, kandungan vitamin dan mineral pada dua jenis telur ini pun cenderung sama.

Dari sisi kandungan kolesterol, mungkin selama ini banyak yang menghindari mengonsumsi telur puyuh karena katanya bisa bikin kolesterol naik. Alhasil, memilih makan telur ayam saja yang lebih aman kandungan kolesterolnya, benarkah begitu?

Faktanya, seperti yang ditulis di Very Well Fit, setiap lima butir telur puyuh mengandung 5 gram lemak total, yang terdiri dari 1,6 gram lemak jenuh. Sementara itu, sebutir telur ayam ukuran besar (50 gram) mengandung 5 gram lemak total, dengan 1,5 gram lemak jenuh.

Meskipun perbedaannya tampak sedikit, kandungan lemak jenuh dalam telur puyuh tetap saja lebih tinggi daripada telur ayam. Hati-hati, lemak jenuh ini dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Maka dari itu, konsumsi telur puyuh secukupnya, jangan berlebihan, agar manfaat dalam telur dapat dirasakan.

Olahan Telur puyuh
Agar tak bosan mengonsumsi telur puyuh, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membuat olahan yang bervariasi. Di laman seputar masak atau kuliner, cukup banyak resep yang diunggah dan dapat didapat secara cuma-cuma.

Telur puyuh bisa diolah menjadi sajian yang istimewa, seperti olahan semur, balado, sayur lodeh, tahu sarang burung telur puyuh, tauco telur puyuh, atau kreasi lainnya. Dengan kreasi masakan yang dibuat, pasti anak-anak akan lebih tertarik mengonsumsi olahan di rumah ketimbang harus jajan di luar. (A. Kholis)

EROSI GIZZARD PADA DOC, ANTARA JEJAK MASA LALU DAN MASA DEPAN

Lapisan koilin gizzard DOC mengalami erosi (Dok. Giambrone)

Gut health telah menjadi pedoman bagi para ilmuwan dan kalangan industri peternakan untuk menentukan status kesehatan hewan ternak. Komponen gut health mencakup digesti dan absorbsi nutrisi yang efisien, populasi mikroba usus stabil, barrier usus berfungsi optimal, serta sistem imun berjalan efektif (Kogut et al., 2012). Peran saluran pencernaan sangat penting sebagai media tranformasi pakan sekaligus komponen sistim pertahanan.

Gizzard erosion (GE) adalah suatu bentuk abnormalitas organ saluran pencernaan yang ditandai oleh erosi atau ulser mukosa gizzard yang disebut koilin. Pada sistem pencernaan ayam, gizzard bertindak sebagai muscular stomach dengan peran utama penghancur makanan secara mekanis. Oleh beberapa ahli, erosi dan ulser dibedakan berdasarkan ada tidaknya perdarahan, karena ulser mampu menimbulkan kerusakan hingga jaringan yang lebih dalam. Erosi pada gizzard pertama kali diamati oleh Holst dan Halbrook tahun 1933 silam pada ayam umur lima minggu. Dalam perkembangannya, erosi gizzard juga dilaporkan terjadi pada DOC (day old chick), bahkan teramati di masa embrional umur 18 hari inkubasi (Hill, 2004).

Sampai saat ini belum ada data pasti terkait jumlah kasus erosi gizzard pada DOC di Indonesia. Sulitnya mendapatkan informasi karena DOC dengan erosi gizzard tidak menunjukkan gejala patognomonis sehingga sulit diidentifikasi. Pembuktian adanya erosi gizzard harus dilakukan dengan cara membunuh DOC, tentunya sangat merugikan bagi perusahaan pembibitan apalagi peternak. Meskipun tanda patognomonis sulit dikenali, tetapi penelitian Gohda dan Yoshimura (1980), menyebutkan jika erosi gizzard banyak terjadi pada DOC dengan bobot kecil dibandingkan bobot normal. Berbagai studi telah melaporkan tentang penyebab munculnya erosi gizzard pada DOC, antara lain dipicu oleh pakan induk (Mushett dan Ott, 1949), kondisi lambung (Good et al., 1968; Scott et al., 1985), mikotoksin (Giambrone et al., 2005), atau stres (Hayashi et al., 2013).

Penulis berpendapat, dengan gejala yang tersembunyi, erosi gizzard merupakan bentuk gangguan pencernaan bersifat sub-klinis. Sulitnya mengenali DOC berstatus erosi gizzard membuat penanganan menjadi susah ditentukan. Penelusuran penulis, jumlah riset kasus erosi gizzard pada DOC relatif tidak sebanyak pada ayam besar. Keterbatasan informasi dan referensi berdampak pada minimnya rumusan tindakan pencegahan. Lebih jauh dari itu, erosi gizzard pada DOC hanyalah... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2020)

Drh Rohan Firdaus MSc 
Praktisi Kesehatan Hewan

MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI PETERNAK AYAM MANDIRI

Foto: Istimewa

Untuk mempertahankan eksistensi peternak ayam mandiri di Indonesia, pembenahan berbagai sisi harus dilakukan. Dari sisi peternak, sejumlah langkah konkrit harus dilakukan, antara lain langkah efisiensi performa baik ketrampilan maupun managemen pemeliharaan ayam. Langkah berikutnya adalah revitalisasi perkandangan ke arah kandang yang semi modern atau modern dengan sistem kandang tertutup. Hal yang tak kalah pentingnya adalah alih teknologi budidaya ayam, yang dalam hal ini adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia peternak ayam yang harus diupayakan kemampuan penguasaan teknologinya.

Hal itu disampaikan oleh Wismarianto dari Soma Farm dalam sebuah Talkshow yang menganngkat tema Eksistensi Peternak Rakyat Mandiri melalui Teknologi CH dan Regulasi Kuota Unggas. Acara yang dilaksanakan dalam rangka pelantikan pengurus Ikatan Sarjana Peternakan (ISPI) Cabang Bogor atau Jawa Barat II tersebut dilangsungkan di kawasan Jalan Padjajaran Bogor pada 4 Maret 2020 lalu. Sementara dari sisi pihak luar, Wismarianto mengharapkan adanya dukungan berupa regulasi yang berpihak pada isisi hulu dan hilir, serta adanya dukungan permodalan perbankan untuk keberlangsungan peternakan ayam. Kebutuhan khusus yang sangat diperlukan peternak saat ini, tambahnya adalah sangat diperlukan adanya sistem klusterisasi, yakni peternak yang berkelompok dalam jumlah tertentu, sehingga mempermudah dalam mendapatkan perhatian dan perlindungan khusus.

Pembicara lain yakni Hery Wibowo menambahkan, industri perunggasan bisa bertahan hingga saat ini disebabkan oleh empat faktor utama, yakni kapital yang besar, sumber daya manusia yang lengkah, efisiensi produksi serta selalu mengikuti inovasi. Hal yang disebut terakhir, yakni inovasi sangat penting, karena di tingkat peternak saat ini masih ada asumsi bahwa kandang sistem tertutup itu mahal. Lebih lanjut Hery menjelaskan tentang adanya alternatif inovasi kandang sistem tertutup dengan biaya relatif murah dengan hasil yang lebih optimal. Hery menandaskan, inovasi kandang tertutup yang relatif murah tersebut berpijak pada prinsip pembangunan sistem kandang tertutup yakni menyediakan lingkungan ideal dan nyaman untuk ayam berdasarkan kebutuhannya, sehingga tercapai pertumbuhan ayam secara optimal sesuai dengan kemampuan genetikanya.(IN)

ARESIASI BALITBANGTAN UNTUK KOMISI IV DPR

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI berbincang dengan salah satu peternak


Komisi IV DPR RI yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi IV Dedi Mulyadi SH didampingi Kepala Badan litbang Pertanian (Balitbangtan) Dr Fadjry Djufry melakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Sungai Selan Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Bangka Belitung, Selasa (3/3).

Lokasi tersebut merupakan kampung integrasi sawit sapi binaan Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian. Di tempat ini, rombongan bertemu serta berbincang dengan beberapa petani peternak yang menjadi percontohan dalam program ini.

Dalam sambutannya Dr Fadjry Djufry menyampaikan bahwa Kelompok Tani Tunas Baru merupakan Laboratorium Lapang kegiatan integrasi Sawit Sapi sejak 2015. Badan Litbang Pertanian melakukan pembinaan dengan mengenalkan inovasi teknologi, khususnya pemanfaatan potensi biomassa yang melimpah yang bisa menjadi sumber pakan ternak, seperti pelepah sawit dan hijauan dibawah tanaman kelapa sawit.

Selain limbah pelepah sawit ada hasil samping industri kelapa sawit berupa lumpur sawit (solid decanter), bungkil inti sawit (palm kernel cake) yang dapat digunakan tambahan sebagai bahan baku pakan ternak. Mendengar penjelasan tersebut, Wakil Ketua Komisi IV memberikan apresiasi pada Balitbangtan yang telah memberikan inovasinya kepada petani dan peternak. "Balitbang Pertanian, sangat penting artinya untuk upaya peningkatan produksi pertanian," ungkap Dedi.

Fadjry juga menambahkan bahwa untuk kedepannya petani dan peternak harus dapat memanfaatkan program pemerintah, seperti program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dapat membantu menambah modal dalam usaha taninya.

“Pengguliran dana KUR menjadi salah satu solusi untuk memberikan akses permodalan kepada peternak. KUR itu tanpa agunan dan ada asuransinya, sehingga tidak ada ruginya, minimal dua hektar sawit satu ekor sapi,” tukas Fadjry. Ia tidak lupa menyarankan agar para peternak membentuk kelompok, sehingga perencanaan menjadi lebih mudah. 

Ketua kelompok tani Tunas Baru, Nurrohim dalam kesempatan yang sama menjelaskan proses kelompok tersebut menjadi salah satu kelompok yang menerapkan integrasi sawit sapi. “Kelompok Tani Tunas Baru kini menjadi percontohan kawasan integrasi sawit sapi, dan sudah melakukan Sekolah Lapang kepada kelompok tani lainnya, yang sampai saat ini sudah lebih 20 kelompok ikut menerapkan inovasi integrasi sawit sapi,” urai Nurrohim. Sementara, sampai saat ini jumlah sapi di kelompok mencapai lebih dari 200 ekor dan masih berpeotensi untuk menaikkan populasinya. (CR)

JAPFA RUN 2020: PADUAN AJANG LARI DAN FESTIVAL KULINER


Momen opening pendaftaran JAPFA Run 2020 (Foto: INF)

Pada 28 Juni 2020 mendatang, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk akan menggelar event perlombaan lari “JAPFA Run 2020”.

Mengusung konsep event lari yang dipadukan dengan festival kuliner, JAPFA Run 2020 diselenggarakan di Plaza Timur Gelora Bung Karno.

”Kami ingin mengajak masyarakat Indonesia mengadopsi gaya hidup sehat melalui olahraga lari. Selain itu turut mengkampanyekan pentingnya konsumsi protein untuk pertumbuhan dan daya tahan tubuh,” terang Rachmat lndrajaya, Direktur Corporate Affairs JAPFA,

Dalam JAPFA Run 2020, peserta akan menikmati race 5K dan 10K sekaligus menikmati pilihan hidangan lezat yang diisiapkan dengan kualitas mutu yang terjamin. Kepanitiaan juga menyiapkan total hadiah untuk peserta lari sebesar Rp 83 juta.

Ingin lebih merasakan pengalaman dan keseruan ajang lari ini, peminat disarankan segera mendaftar melalui website JAPFA. "Pendaftaran peserta kami buka mulai 5 Maret 2020 hingga 30 April 2020. Nantinya, peserta juga dapat berpartisipasi aktif di media sosial dengan menggunakan tagar #JAPFARun dan #BeginWithProtein," jelas Rachmat yang menargetkan jumlah peserta lari mencapai 2.500 orang. (NDV)

HEWAN MATI MENDADAK DI CIBARUSAH BUKAN KARENA VIRUS MENULAR

Ilustrasi ayam (Foto: Pixabay)


Video sejumlah hewan tiba-tiba mati di Perumahan Bumi Cahaya Residence, Cibarusah, Kabupaten Bekasi beberapa waktu lalu diunggah oleh akun twitter @kafiradikal. Adapun sejumlah hewan yang mati adalah tiga ekor kambing, dua ekor ayam, dan satu kucing.

Kepala Seksi Pengamatan dan Pemberantasan Penyakit Hewan (P3H) Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Dwiyan Wahyudiharto memastikan sejumlah hewan yang mati di Perumahan Bumi Cahaya Residence, Cibarusah, bukan karena virus menular.

“Kematian hewan-hewan tersebut diduga karena keracunan dan tidak menunjukkan adanya gejala penyebaran penyakit hewan menular seperti flu burung atau antrax,” ujar Dwiyan melalui keterangan tertulisnya, Rabu (4/3/2020).

Dwiyan mengatakan, hewan-hewan diduga keracunan dari makanan yang ada di sekitar lokasi kejadian. Hal itu dikuatkan dengan adanya hasil pemeriksaan uji cepat (rapid test) terhadap hewan-hewan tersebut. Apalagi kematian tersebut diketahui tidak menular dengan hewan-hewan lainnya.

“Kematian hewan-hewan ini hanya di satu titik lokasi itu saja. Jadi kemungkinan besar kematiannya karena ada sesuatu yang dimakan atau diminum oleh hewan-hewan tersebut. Kami juga sudah melakukan pemeriksaan uji cepat terhadap bangkai unggas (ayam) dan hasilnya juga negatif. Sedangkan pemeriksaan pada kambing dan kucing yang mati juga tidak dijumpai tanda-tanda penyakit hewan menular,” ujar Dwi.

Pihak Pemkab sudah melakukan langkah-langkah antisipasi di sekitar lokasi kejadian dengan menyemprotkan desinfektan atau cairan kimia untuk mencegah terjadinya infeksi. Selain itu, Pemkab juga mengimbau kepada masyarakat yang memiliki hewan peliharaan untuk sementara tidak mendekati lokasi kejadian. (Sumber: kompas.com)



CURAH HUJAN TINGGI, PETERNAK DIMINTA WASPADAI HIJAUAN RUMPUT

Peternak harus mewaspadai rumput yang masih muda (Foto: pixy.org)


Musim hujan yang sekarang ini masih berlangsung, memang mempermudah peternak hewan sapi, kambing dan unggas lainnya untuk memperoleh hijauan rumput untuk ternak. Menurut Drh Mukhlas Yasi Alamsyah (PT Eka Farma) pelopor pakan dan obat ternak di Indonesia, hal itu tetap perlu diwaspadai.

Peternak harus mewaspadai rumput yang masih muda, dengan kandungan air dan protein tinggi dan berserat kasar.

"Rumput muda dapat memicu kasus kembung dan diare pada ternak. Selain itu banyak dijumpai kasus-kasus gangguan pencernaan yang lainnya," kata Mukhlas dalam Bincang Hewan Sehat Selasa (3/3).

Masih kata dokter hewan lulusan Universitas Airlangga Surabaya itu, untuk ternak unggas, ayam kampung dan lainnya dengan sinar matahari yang berkurang di musim hujan akan banyak memicu kasus.

Kasus penyakit yang sering terjadi adalah ND/Tetelo (penyakit yang menyerang ayam dengan gejala kepala melintir) dan flu burung.

Imbau Mukhlas, para petenak sapi, kambing dan unggas untuk mewaspadai dengan seringnya turun hujan belakangan ini, dan menjaga kebersihan kandang. (Sumber: suaramerdeka.com)

SIAGA MENCEGAH WABAH PENYAKIT HEWAN BALITBANGTAN GELAR FGD

Pendekatan one health dibutuhkan dalam menyelesaikan penyakit hewan yang bersifat zoonotik

Selasa 3 Maret 2020 yang lalu, Badan Litbang Pertanian Kementan bersama dengan Balai Besar Penelitian Veteriner (BBALITVET) menggelar Focus Group Discussion bertajuk "Kesiapsiagaan Masuk dan Meyebarnya Penyakit Hewan Emerging dan Re-emerging di Indonesia". 

Tujuan dari acara tersebut yakni dalam rangka meningkatkan kewaspadaan semua pihak yang berkecimpung dalam upaya antisipasi, deteksi dini, dan merespon cepat dalam penanggulangan wabah penyakit hewan emerging dan re-emerging

Acara tersebut dihadiri oleh sekitar 115 orang peserta yang berasal dari berbagai instansi seperti Kementerian Kesehatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Intelijen Negara, Perguruan tinggi, LSM, Organisasi Profesi, dan tentu saja Kementerian Pertanian.

Seperti kita ketahui bersama bahwa beberapa bulan belakangan Indonesia kembali dihantam dengan mewabahnya beberapa penyakit hewan menular berbahaya baik yang bersifat zoonotik dan non-zoonotik. Sebut saja African Swine Fever (ASF) yang meluluhlantahkan sektor peternakan babi di Sumut beberapa waktu yang lalu, Anthraks yang kembali mewabah di Jawa Tengah, leptospirosis yang bergejolak ketika bencana banjir melanda, dan tentu saja yang terbaru yakni infeksi virus Corona (Covid-19) yang baru-baru ini menghebohkan nusantara. 

Balitbangtan punya mandat dalam urusan riset di bidang veteriner dan menjadi laboratorium rujukan nasional dalam bidang penyakit hewan, tetapi kedepanya diharapkan terjadi sinergisme dari pihak lain yang juga berkecimpung, sehingga konsep one health yang sering digaungkan itu benar - benar diaplikasikan dengan baik.

Ditemui oleh Infovet pada saat acara berlangsung, Kepala BBALITVET Bogor, Drh NLP Indi Dharmayanti menuturkan bahwa beberapa penyakit hewan yang bersifat zoonotik sudah sejak lama menjadi penyakit strategis dan sulit sekali diberantas. Contohnya anthraks, menurutnya hingga kini anthraks walaupun kasusnya sedikit, namun masih kerap terjadi di Indonesia, dan beritanya selalu menghebohkan. 

Indi juga menyinggung wabah Covid-2019 yang baru - baru ini diumumkan oleh presiden RI beberapa waktu yang lalu. Ia mengatakan bahwa sangat penting mempelajari Covid-2019 lebih dalam karena virus ini berpotensi memiliki sifat zoonotik. 

"Yang kita ketahui sejauh ini kan virus corona memang ada pada beberapa jenis hewan seperti kelelawar, trenggiling, anjing, kucing, dan bahkan ikan paus. Sama - sama virus corona, cuma beda genus dan clade saja. Nah yang perlu kita ketahui kan apakah nanti Covid-19 ini berpotensi zoonotik melalui hewan peliharaan atau hewan ternak, oleh karenanya ini juga harus dipelajari lebih dalam," tukas Indi.

Indi juga berharap agar acara ini sedianya dapat menjadi ajang utuk saling tukar informasi dan bersinergi antar instansi dalam penanggulangan wabah. Selain itu kedepannya hasil dari FGD ini nantinya dapat menjadi saran dan masukan bagi pemerintah pusat dalam mengatasi permasalahan penyakit hewan di Indoensia. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer