-->

ADM SWINE FORUM 2026: DUKUNGAN ADM UNTUK INDUSTRI BABI INDONESIA

ADM Swine Forum 2026 diselenggarakan pada Selasa, 21 April 2026 di Bali. (Foto-foto: ADM)

Berlangsung pada 21 April di Hyatt Regency Sanur Bali, ADM Swine Forum 2026 mempertemukan para pemimpin industri, ahli nutrisi, dan produsen untuk membahas tantangan serta peluang yang terus berkembang dalam sektor babi global. Forum yang diselenggarakan oleh ADM Animal Nutrition ini menjadi platform strategis untuk bertukar wawasan, berbagi inovasi, dan mendorong solusi praktis guna meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan.

Acara ini dimoderatori oleh Prof Budi Tangendjaja, yang memastikan diskusi berjalan dinamis serta interaksi yang bermakna antara pembicara dan peserta sepanjang sesi.

Membuka forum, Wully Wahyuni, Country General Manager/Director ADM Animal Nutrition Indonesia, menekankan pentingnya kolaborasi di tengah kompleksitas industri yang semakin meningkat. Ia menyoroti bahwa sektor babi saat ini tidak hanya membutuhkan produk berkualitas tinggi, tetapi juga solusi terintegrasi berbasis sains yang didukung oleh kemitraan yang kuat.

Menurut Wully, forum ini tidak hanya dirancang sebagai wadah berbagi pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun dialog dan mendorong kolaborasi di seluruh rantai nilai. Ia menegaskan kembali komitmen ADM untuk menghadirkan solusi praktis yang siap diterapkan di lapangan, sesuai dengan kondisi pasar, sekaligus terus mendorong inovasi dan keberlanjutan. Industri babi di Indonesia, menurutnya, memiliki potensi pertumbuhan yang besar jika para pelaku bersedia beradaptasi dan berinvestasi pada sistem serta teknologi yang lebih baik.

“ADM Swine Forum ini salah satu bentuk komitmen kontribusi ADM terhadap industri peternakan. Setiap tahun kami merencanakan ada event seperti ini dimana kami mengundang industry stakeholder baik itu dari akademisi, praktisi, dan dari customer kami juga,” terang Country General Manager ADM Animal Nutrition Indonesia, Wully Wahyuni. “Para expert dari ADM juga dihadirkan supaya kita bisa exchange karena pastinya selalu ada teknologi dan inovasi baru. Saya berharap informasi-informasi itu juga bisa diadopsi di Indonesia.”

Menavigasi Industri Global dengan Biaya Tinggi dan Ekspektasi Tinggi

Fabio Catunda, Global Swine Director ADM, membuka sesi presentasi dengan gambaran menyeluruh tentang dinamika industri global. Ia menekankan bahwa daya saing kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan, di tengah kenaikan biaya, keterbatasan sumber daya, serta perubahan preferensi konsumen.

“Keberhasilan tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada efisiensi dan tanggung jawab dalam proses produksi. Pemahaman terhadap struktur biaya mulai dari pakan, tenaga kerja, hingga investasi modal menjadi kunci dalam menjaga profitabilitas,” terang Fabio.

Salah satu poin penting yang disampaikannya adalah pentingnya benchmarking. Meskipun rata-rata global terus meningkat, produsen dengan performa terbaik secara konsisten berada di atas rata-rata. Kesenjangan performa ini menjadi peluang besar bagi mereka yang mau mengadopsi praktik manajemen yang lebih baik serta teknologi modern.

Teknologi kini mengubah sistem produksi babi secara signifikan. Fabio menyoroti pergeseran dari manajemen peternakan yang reaktif menuju pendekatan prediktif berbasis teknologi precision livestock. Perangkat seperti sistem monitoring real-time menggunakan kamera dan sensor memungkinkan peternak memantau perilaku ternak, mendeteksi gejala penyakit lebih dini, dan merespons dengan lebih efektif.

Ia juga memperkenalkan konsep produksi energi di dalam peternakan babi. Dengan mengolah kotoran menjadi biomethane dan biocarbon, peternakan dapat menciptakan sumber pendapatan tambahan sekaligus meningkatkan keberlanjutan lingkungan. Integrasi antara produksi protein dan energi ini berpotensi menjadi kunci masa depan industri.

Menyeimbangkan Pengurangan Antibiotik dan Permintaan Pasar

Peralihan menuju produksi bebas antibiotik menjadi topik penting lainnya. Fabio menjelaskan bahwa permintaan konsumen, terutama generasi muda, semakin mengarah pada produk daging yang alami dan bebas antibiotik.

Di beberapa pasar, daging babi bebas antibiotik memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Namun, ia juga mengakui bahwa transisi ke sistem ini memiliki tantangan, seperti peningkatan risiko kematian dan kompleksitas manajemen.

Alih-alih menghilangkan antibiotik sepenuhnya, Fabio menyarankan pendekatan yang seimbang. Pengurangan penggunaan antibiotik yang dikombinasikan dengan solusi alternatif, seperti menjaga kesehatan usus, nutrisi yang lebih baik, dan manajemen peternakan yang optimal dapat menjaga performa sekaligus kesejahteraan hewan. Sistem traceability juga berperan penting dalam menangkap nilai tambah tersebut.

Nutrisi Sebagai Penggerak Efisiensi dan Profitabilitas

Dr Pedro Urriola, pakar nutrisi babi, memberikan wawasan mendalam mengenai strategi kecernaan energi dan protein. Ia menekankan bahwa pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam produksi, sehingga efisiensi nutrisi menjadi kunci profitabilitas.

Salah satu rekomendasi utamanya adalah penggunaan sistem net energy, yang memberikan gambaran lebih akurat tentang bagaimana hewan memanfaatkan pakan, terutama di kondisi tropis di mana heat stress memengaruhi metabolisme.

Ia juga menyoroti bahwa efisiensi harus dilihat dalam konteks ekonomi yang lebih luas. Pakan yang meningkatkan feed conversion belum tentu menghasilkan keuntungan lebih tinggi jika biayanya meningkat secara tidak proporsional. Oleh karena itu, strategi nutrisi harus disesuaikan dengan tujuan produksi yang spesifik.

Pada sisi protein, Dr Pedro menekankan pentingnya keseimbangan dan kecernaan asam amino. Ia mengatakan, ”Pendekatan yang beralih dari crude protein ke formulasi asam amino yang presisi memungkinkan performa yang lebih baik sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Konsep seperti standardized ileal digestibility dan adaptive protein nutrition turut meningkatkan kemampuan penyesuaian pakan terhadap kondisi yang berbeda.”

Peran Zinc yang Presisi pada Babi

Pedro juga menyoroti peran strategis zinc dalam meningkatkan produktivitas induk dan performa anak babi. Ia menjelaskan bahwa zinc bukan sekadar trace mineral, tetapi komponen fungsional yang mendukung integritas usus, respons imun, dan ketahanan fisiologis secara menyeluruh, terutama pada fase kritis seperti masa bunting dan awal perkembangan.

Menurutnya, aplikasi zinc yang tepat pada induk bunting dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan janin, sehingga menghasilkan anak babi yang lebih kuat dan seragam saat lahir. Hal ini berkontribusi pada tingkat kelangsungan hidup dan performa pertumbuhan yang lebih baik pada fase awal produksi. Pada anak babi, zinc berperan penting dalam menjaga kesehatan usus, khususnya pada periode pasca-sapih ketika hewan sangat rentan terhadap stres dan gangguan pencernaan.

Pedro menekankan bahwa strategi zinc modern tidak hanya berfokus pada peningkatan level penggunaan. Sebaliknya, pendekatannya harus pada optimalisasi bioavailabilitas dan pemilihan sumber zinc yang tepat untuk memaksimalkan efektivitas sekaligus meminimalkan dampak lingkungan. Dengan meningkatnya tekanan regulasi terhadap penggunaan mineral, presisi dalam nutrisi zinc menjadi semakin penting untuk memastikan performa dan keberlanjutan.

Mengelola Heat Stress dan Menjaga Konsumsi Pakan

Heat stress masih menjadi tantangan utama dalam produksi babi di daerah tropis. Ermin Magtagnob, Technical Manager Swine Asia ADM, menjelaskan bahwa suhu tinggi secara signifikan menurunkan konsumsi pakan pada induk menyusui, yang berdampak langsung pada produksi susu dan pertumbuhan anak babi.

Ia menekankan bahwa palatabilitas pakan saja tidak cukup untuk mengatasi dampak heat stress. Diperlukan pendekatan holistik yang mencakup optimasi nutrisi, perbaikan kondisi kandang, serta manajemen yang lebih baik.

Strategi seperti peningkatan densitas nutrisi, pengaturan waktu pemberian pakan, dan perbaikan sistem ventilasi dapat membantu mengurangi dampak heat stress serta menjaga performa ternak.

Momen pemberian cinderamata untuk para pembicara dan moderator, Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MSc MAppl

Memperkuat Biosekuriti di Seluruh Rantai Nilai

Biosekuriti tetap menjadi prioritas utama, terutama dalam menghadapi ancaman penyakit seperti African Swine Fever (ASF). Baik Fabio maupun Ermin menekankan pentingnya penerapan protokol yang ketat di seluruh level produksi.

Biosekuriti yang efektif membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari manajemen peternakan, operasional pabrik pakan, hingga kontrol rantai pasok. Risiko kontaminasi dapat terjadi di berbagai titik, sehingga konsistensi dan kewaspadaan sangat diperlukan.

Peningkatan biosekuriti tidak hanya penting untuk pencegahan penyakit, tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan dan ketahanan industri dalam jangka panjang.

Alternatif Pengganti Beta-Agonist

Dr Chung-Hyun Kim, Director of CD&D ADM Animal Nutrition APAC, membahas kebutuhan untuk beralih dari penggunaan beta-agonist. Meskipun senyawa ini sebelumnya digunakan untuk meningkatkan performa pertumbuhan dan kualitas karkas, regulasi serta kekhawatiran konsumen semakin membatasi penggunaannya.

Ia menjelaskan bahwa strategi pertumbuhan ke depan akan mengandalkan nutrisi presisi, feed additive fungsional, serta teknik formulasi yang lebih maju. Pendekatan ini memungkinkan produsen mencapai performa yang sebanding tanpa bergantung pada input yang kontroversial.

SINCRO: Nutrisi Presisi untuk Masa Depan

Salah satu sorotan utama forum adalah SINCRO, platform nutrisi presisi dari ADM. Dengan mengintegrasikan analisis near-infrared (NIR), monitoring mikotoksin, dan pemodelan lanjutan, SINCRO memungkinkan penyesuaian formulasi pakan secara real-time.

Sistem ini membantu nutritionist merespons variabilitas bahan baku serta perubahan kondisi peternakan, sehingga meningkatkan konsistensi dan efisiensi. Hal ini mencerminkan pergeseran menuju pengambilan keputusan berbasis data dalam nutrisi hewan.

“SINCRO itu untuk semua spesies baik poultry, aqua, ruminansia, dan swine juga. Kami mempunyai strategi namanya 3S yaitu segmen, solution, dan service,” kata Wully. “Segmennya ternak apa, dan solusi apa yang bisa kami tawarkan? Kemudian service apa yang kami akan berikan? Karena produk saja tidak cukup. Produk bisa ditiru, namun service adalah hal yang berbeda.”

Mengubah Pengetahuan Menjadi Aksi

Menutup forum, Prof Budi menyampaikan refleksi yang jujur dan berdampak mengenai kondisi industri babi di Indonesia.

Ia menyoroti bahwa industri ini masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina, terutama dalam hal produktivitas, di mana jumlah anak per induk sering kali masih di bawah 10 ekor. Kesenjangan ini dipengaruhi oleh faktor genetika, kualitas pakan, dan praktik manajemen, serta fakta bahwa di banyak daerah, usaha peternakan babi masih dianggap sebagai bentuk tabungan, bukan bisnis komersial sepenuhnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, ia menegaskan pentingnya forum seperti ADM Swine Forum 2026. Platform seperti ini sangat penting untuk membuka wawasan industri terhadap pengetahuan global, teknologi baru, dan pendekatan inovatif.

Pada akhirnya, ADM Swine Forum 2026 menjadi cerminan kondisi saat ini sekaligus peta jalan menuju masa depan, menegaskan bahwa pertumbuhan berkelanjutan dalam industri babi akan bergantung pada efisiensi, inovasi, dan kolaborasi yang kuat. (Rilis)

MENAKAR KINERJA PERUSAHAAN PUBLIK PETERNAKAN DI TENGAH DINAMIKA PROGRAM MBG

Webinar Nasional dalam rangka HUT ke-34 Infovet, menampilkan Victor Stefano dan Bagus Pekik, yang dipandu oleh Bambang Suharno. (Foto: Dok. Infovet)

Kebijakan strategis pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) diproyeksikan menjadi katalisator positif yang mampu mendongkrak kinerja emiten atau perusahaan publik di sektor peternakan/perunggasan nasional. Langkah intervensi ini dinilai efektif dalam menyerap hasil produksi daging ayam dan telur di tingkat domestik guna memperkuat kedaulatan protein bangsa.

Hal tersebut mengemuka dalam Webinar Nasional “Kinerja Perusahaan Publik Peternakan di Tengah Dinamika Program MBG” dalam rangka HUT ke-34 Infovet yang digelar pada Kamis (21/5/2026), dipandu oleh Pemimpin Redaksi Infovet, Bambang Suharno.

Acara dihadiri oleh sejumlah tokoh peternakan, antara lain Ketua Umum ASOHI Akhmad Harris Priyadi, Sugeng Wahyudi dan Setya Winarno (GOPAN), Indra Wahyudi (ADHMI), Baskoro Tri Caroko (konsultan perunggasan), Fadjar Sumping Tjaturrasa (Kementerian Pertanian), serta sejumlah tokoh perguruan tinggi, BRIN, dan lembaga terkait dari beberapa daerah.

Pada kesempatan tersebut, CMO PT Haida Indonesia, Bagus Pekik, didapuk sebagai narasumber yang memaparkan pandangan mendalam mengenai peran subsektor perunggasan nasional.

Menurutnya, sektor ini bukan sekadar lini bisnis biasa, melainkan pilar infrastruktur strategis untuk kedaulatan protein bangsa. Protein hewani berbanding lurus dengan peningkatan kualitas manusia Indonesia.

“Ayam dan telur adalah sumber protein yang paling cepat diproduksi, paling efisien, terjangkau, serta paling demokratis karena dapat diakses oleh hampir seluruh lapisan masyarakat,” ujar Bagus.

Kendati memiliki potensi besar, industri ini masih dibayangi berbagai tantangan klasik dan struktural. Bagus menyoroti volatilitas harga bahan baku pakan impor, seperti jagung dan bungkil kedelai (soybean meal/SBM). Hal ini krusial mengingat komponen biaya pakan menyerap porsi terbesar, yakni berkisar antara 60-70% dari total biaya produksi perunggasan.

Ia mengurai masalah pada sistem perunggasan nasional meliputi, di antaranya ketidakstabilan biaya pakan (feed cost), rantai pasok (supply chain) hulu hingga hilir yang terfragmentasi dan belum terintegrasi secara utuh, lemahnya distribusi logistik antarwilayah yang memicu disparitas pasokan (surplus vs defisit), tingginya ketergantungan pasar pada penjualan ayam hidup (live bird), serta minimnya infrastruktur hilirisasi dan rantai dingin (cold chain), hingga siklus kelebihan pasokan (oversupply) dan kekurangan pasokan (undersupply) yang terus berulang.

Dampak Finansial Kuartal I 2026
Dari sudut pandang pasar modal, Equity Research Analyst PT BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, yang juga menjadi narasumber, mengonfirmasi adanya lompatan performa yang solid pada kuartal I 2026 (1Q26). Berdasarkan data finansial terbaru, para integrator perunggasan berhasil membukukan laba bersih yang melampaui ekspektasi pasar berkat perbaikan dinamika supply-demand.

Emiten raksasa PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sukses mencetak rekor laba bersih kuartalan tertinggi sebesar Rp 2,6 triliun pada 1Q26, melonjak 13% secara kuartalan (qoq) dan tumbuh signifikan 68% secara tahunan (yoy). Pendapatan kotor CPIN tercatat kokoh di angka Rp 33,3 triliun. Keberhasilan ini didukung oleh strategi pemanfaatan stok bahan baku pakan yang telah dibangun sejak kuartal keempat 2025 sehingga mampu meredam tekanan biaya produksi.

Langkah positif serupa juga diikuti oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang membukukan laba bersih sebesar Rp 1,8 triliun pada 1Q26, melesat 14% qoq dan meroket 167% yoy. Pendapatan kotor JPFA melonjak 22% yoy mencapai Rp 27,2 triliun, didorong oleh pertumbuhan volume dan harga jual rata-rata (ASP) yang kuat di seluruh segmen.

Sementara itu, PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) mencatatkan pertumbuhan tahunan yang solid dengan laba bersih Rp 123 miliar (naik 96% yoy), meskipun mengalami normalisasi margin sebesar 4,0% secara kuartalan akibat mulai meningkatnya tekanan biaya bahan baku.

Menurut analisis ini, program MBG yang mulai berjalan penuh pada awal 2026 diproyeksikan mampu menyerap tambahan sekitar 13,5-20,3% dari total produksi ayam bulanan. Jika program ini diimplementasikan secara menyeluruh hingga mencapai target 82,9 juta penerima manfaat, tingkat penyerapan pasar berpotensi melonjak hingga 16,5-24,7%/bulan. (RBS)

PETERNAK RAKYAT MENJERIT: PERMINDO GELAR KONSOLIDASI AKBAR SIKAPI ANJLOKNYA HARGA AYAM

Foto bersama dalam kegiatan konsolidasi peternak unggas rakyat mandiri yang digelar Permindo. (Foto: Infovet/Ridwan)

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Permindo) menggelar konsolidasi akbar guna menyikapi krisis yang tengah melanda industri perunggasan rakyat. Pertemuan krusial yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026) di Bogor ini dihadiri oleh jajaran pengurus pusat, perwakilan Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN), Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), serta beberapa peternak mandiri dari berbagai daerah.

Kondisi riil di lapangan saat ini dinilai sudah berada pada tahap memprihatinkan. Para peternak rakyat terjepit di antara dua beban berat, yakni harga jual ayam hidup (live bird/LB) di tingkat peternak anjlok drastis, sementara di sisi lain harga bibit ayam (day old chick/DOC) dan pakan justru terus merangkak naik tanpa kendali.

Sekretaris Jenderal Permindo, Heri Irawan, mengungkapkan bahwa ketidakpastian pasar telah memicu praktik-praktik transaksi yang tidak sehat di lapangan. Regulasi harga seolah kehilangan taringnya dalam menghadapi realitas fluktuasi harian. Padahal sehari sebelumnya (Selasa, 19/5/2026), peternak rakyat bersama Kementerian Pertanian dan peternak skala besar telah duduk bersama agar harga jual LB di tingkat peternak bisa diangka Rp 19.500.

“Hari ini kami berkumpul bersama teman-teman peternak menyikapi kondisi harga live bird. Bahkan hingga sejam yang lalu (saat konsolidasi) situasi di lapangan masih menunjukkan adanya transaksi yang ‘kucing-kucingan’. Kondisi ini jelas tidak sejalan jika disandingkan dengan harga pakan dan DOC yang terus-menerus naik,” ungkap Herry.

Bahkan harga yang telah disepakati bersama pemerintah masih jauh dari harga pokok produksi (HPP) peternak yang berada diangka Rp 20.000-an ke atas, namun peternak tetap berupaya menjaga harga tersebut.

Kritik tajam juga dilayangkan terhadap efektivitas langkah-langkah darurat yang diambil oleh otoritas terkait. Ketua Umum Permindo, Kusnan, menilai intervensi yang dilakukan pemerintah selama ini belum menyentuh akar permasalahan mendasar yang dihadapi peternak rakyat mandiri.

“Saya melihat pertemuan di Kementerian Pertanian kemarin hanya berfungsi sebagai pemadam kebakaran saja, tidak menyelesaikan akar masalah. Kemarin kita sudah berupaya agar di angka Rp 21.000, kemudian turun lagi ke Rp 20.000, dan akhirnya kesepakatan itu pecah lagi. Oleh karena itu, kita harus kompak bergerak bersama sebelum memasuki momen krusial seperti Idul Adha dan bulan Suro,” ujar Kusnan.

Sementara itu, menurut salah seorang peternak yang hadir, Toto, menyuarakan keluhannya terkait hasil rapat di Kementan. Baginya, angka tersebut memaksa peternak untuk menanggung kerugian.

“Naik ke Rp 19.500 itu bagaimana? Sementara HPP-nya saja sudah mencapai Rp 21.800, masa kita dipaksa terus merugi? Tapi ya mau gimana. Kita sudah berusaha jangan sampai peternak rakyat mandiri jual di bawah HPP. Kita itu pebisnis, kita engga mau rugi, makannya kita suarakan kebenaran walaupun pahit. Makannya ayo kita kompak dan bersatu,” katanya.

Tiga Poin Resolusi Bersama Permindo
Guna menekan kerugian yang berkepanjang, Ketua Umum Permindo merumuskan tiga poin utama yang menjadi arah pergerakan ke depan.

Pertama, pengamanan harga jual minimal. Peternak sepakat untuk sementara waktu mendukung dan mengawal ketat batas harga Rp 19.500 sebagai benteng pertahanan terakhir, meskipun angka tersebut masih jauh dari ideal dan berada di bawah HPP peternak rakyat.

Kedua, penguatan daya tawar kolektif. Membangun soliditas dan persatuan nasional antarasosiasi peternak mandiri guna memperkuat posisi tawar agar mampu menangkap dan mengeksekusi program-program strategis dari pemerintah secara langsung.

Ketiga, mekanisme hilirisasi bersama. Menyusun tata cara dan menyambut mekanisme program hilirisasi produk perunggasan secara kolektif demi memperluas ketergantungan pada pasar segar (live bird market).

Diversifikasi Pasar dan Kemandirian Supplier
Dalam arahannya, Pembina Permindo, Hartono, menekankan pentingnya merancang ulang pola kerja sama dan pengawasan populasi guna menciptakan satu harga acuan yang ditaati bersama.

Menurutnya, jika peternak tidak kompak dalam menangani situasi ini dengan serius, ke depan ekosistem peternak mandiri bisa pecah. Pemain di industri ini semakin banyak dan padat. Sehingga dibutuhkan keputusan yang tegas dari pemerintah yang diinisiasi oleh soliditas peternak.

Di sisi lain, Wayan, seorang peternak, memberikan usulan taktis mengenai perluasan serapan pasar. Ia meminta agar peternak tidak hanya terpaku pada lingkaran Kementan saja. Permindo didesak untuk melayangkan petisi agar program jaminan sosial protein, penanganan stunting, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) diarahkan untuk menyerap produksi ayam dan telur dari peternak rakyat melalui Kementerian Perdagangan, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan.

Menutup konsolidasi, Setya Winarno, perwakilan dari GOPAN mengingatkan seluruh peserta untuk tetap optimis namun realistis dalam bergerak.

“Mari kita kompak menjaga harga dasar Rp 19.500 ini sebagai langkah awal sambil terus berjuang menaikkannya. Manfaatkan setiap peluang program pemerintah, dan yang paling penting untuk keberlangsungan usaha ke depan jangan terlalu loyal atau bergantung pada satu supplier sapronak saja agar kita memiliki alternatif efisiensi biaya,” katanya. (RBS)

TECHNICAL MEETING INDO LIVESTOCK 2026, SIAP HADIRKAN INOVASI DAN PROGRAM UNGGULAN

Technical Meeting Indo Livestock 2026 Expo & Forum. (Foto: Istimewa)

Menjelang pelaksanaan Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum, PT Napindo Media Ashatama (Napindo) sukses menggelar Technical Meeting pada Selasa (12/5/2026) bersama para peserta pameran, mitra, venue, dan stakeholder terkait.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju pelaksanaan pameran yang akan berlangsung pada 16-18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang.

Sebagai pionir pameran internasional industri peternakan di Indonesia, Indo Livestock terus konsisten menghadirkan platform strategis yang mempertemukan pelaku industri, pemerintah, asosiasi, akademisi, profesional, hingga investor. Melalui ajang ini, para stakeholder dapat memperluas jejaring bisnis, berbagi wawasan, memperkenalkan inovasi, serta mendorong kolaborasi lintas sektor.

Acara dibuka dengan sambutan dari Project Director Napindo, Lisa Rusli, yang menyampaikan apresiasi atas antusiasme dan kehadiran para peserta. “Sejak pertama kali diadakan pada 2002, Indo Livestock terus berkomitmen mempersembahkan yang terbaik sebagai wujud dukungan kepada industri pameran peternakan di Indonesia. Technical Meeting ini menjadi langkah penting dalam memastikan kesiapan seluruh rangkaian Indo Livestock 2026 Expo & Forum,” ujarnya.

“Kami optimis penyelenggaraan kali ini akan berjalan optimal serta menghadirkan peluang kolaborasi dan inovasi yang lebih besar bagi industri peternakan, poultry dan ruminansia, pakan ternak, pengolahan susu, pertanian, kesehatan hewan, alat-alat kedokteran hewan, perikanan, dan akuakultur di Indonesia.”

Sementara itu, Operation Director Napindo, Adhika Arthapaty, menegaskan bahwa kesiapan Napindo dalam menghadirkan penyelenggaraan pameran yang profesional dan berkualitas guna memberikan pengalaman terbaik bagi seluruh peserta dan pengunjung.

Technical Meeting ini turut dihadiri perwakilan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian. Dukungan pemerintah, kolaborasi industri, dan program unggulan pada penyelenggaraan edisi ke-19 ini, Indo Livestock secara resmi dituanrumahi oleh Kementerian Pertanian melalui Ditjen PKH. Pameran lintas industri ini juga mendapat dukungan dari 33 kementerian, lembaga, dan asosiasi yang bergerak di berbagai sektor industri terkait.

Tahun ini, Indo Livestock 2026 Expo & Forum siap menghadirkan lebih dari 600 peserta pameran dari 40 negara dengan target 20.000 pengunjung selama tiga hari pelaksanaan. Pengunjung tidak hanya dapat menjelajahi berbagai inovasi dan teknologi terbaru, tetapi juga memperoleh wawasan langsung dari para pakar industri mengenai isu dan tren terkini yang dapat mendukung pengembangan bisnis dan industri nasional.

Selain pameran dan forum, Indo Livestock 2026 juga akan diramaikan dengan sejumlah program unggulan, di antaranya Indo Livestock Grand Championship dan Youth Farmers Day, Program Sosialisasi SDTI (Susu, Daging, Telur, dan Ikan) yang dikemas dalam format Bazaar UMKM, Fun Activities, dan Talkshow turut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. (INF)

RAYAKAN 18 TAHUN JAPFA FOR KIDS, JAPFA BUKA KOMPETISI AKJJ 2026

Media gathering sekaligus pembukaan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026, Selasa (12/5). (Foto: NDV)

Merayakan 18 tahun perjalanan program Corporate Social Responsibility (CSR) JAPFA for Kids, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) menyeleranggakan media gathering sekaligus pembukaan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026. 

Rachmat Indrajaya selaku Direktur Corporate Affairs JAPFA mengatakan selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia.

”Kami percaya, membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat,” tutur Rachmat saat pembukaan AKJJ yang digelar di Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (12/5). 

Melalui penyelenggaraan AKJJ yang ketiga kalinya, JAPFA ingin lebih memperkuat kolaborasi bersama media dalam meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya mempersiapkan generasi penerus bangsa.  

AKJJ 2026 mengangkat tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”.

Sebagai bagian dari penyelenggaraan AKJJ 2026, JAPFA juga turut menghadirkan dewan juri dari berbagai latar belakang profesional.

Pada kesempatan yang sama Retno Artsanti, Head of Social Investment JAPFA mengemukakan tantangan terkait gizi anak di Indonesia masih menjadi perhatian bersama. 

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11% anak usia 5–12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Sementara itu, data yang dihimpun JAPFA di sembilan lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada tahun 2025, sebanyak 1.034 dari total 15.498 siswa (sekitar 6,6%) tercatat memiliki status gizi kurang dan gizi buruk. 

“Tahun 2024, JAPFA for Kids menjangkau 7 kabupaten/kota. Dari 15.518 siswa, sebanyak 1.479 diantaranya teridentifikasi memiliki status gizi kurang dan menjadi fokus utama program,” ungkap Artsanti. 

Lebih lanjut Artsanti mengatakan, setelah program berjalan, JAPFA for Kids berhasil meningkatkan status gizi 762 anak atau 51,5% dari total anak. 

Pada 2025, JAPFA for Kids dilaksanakan di 9 kabupaten/kota, menjadikan 123 sekolah sebagai sasaran program. Selanjutnya dari hasil pendataan, sebanyak 1.034 siswa teridentifikasi mengalami malnutrisi dan menjadi sasaran utama intervensi program. Setelah program berjalan, sebanyak 646 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.  

Pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof Dr drg Sandra Fikawati MPH di acara yang sama menuturkan edukasi publik mengenai pemenuhan gizi seimbang masih perlu terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk media. (NDV)

MUNAS III AMI TETAPKAN SAULAND SINAGA LANJUT PIMPIN AMI PERIODE 2026-2031

Foto bersama sebagian peserta Munas AMI. (Foto-foto: Dok. Gallus)

Musyawarah Nasional (Munas) III Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) secara aklamasi menetapkan Dr Ir Sauland Sinaga MS untuk kembali memimpin AMI periode 2026-2031. Munas berlangsung di NICE (Nusantara International Convention Exhibition), kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

Pelaksanaan Munas dilakukan usai Seminar Nasional Peternakan Babi yang digelar di lokasi yang sama. Acara berlangsung hangat dan penuh suasana kekeluargaan dengan dihadiri berbagai tokoh peternakan nasional serta anggota AMI dari berbagai daerah di Indonesia.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut pendiri AMI sekaligus Ketua Umum AMI periode 2002-2016 Dr Ir Rachmawati Siswadi MAgrSc, serta Bambang Suharno yang juga ikut mendirikan organisasi tersebut. Hadir pula Ketua Umum ASOHI periode 2010-2015 Drh Rakhmat Nuriyanto MBA, bersama anggota, dan pelaku usaha peternakan babi dari Bali, Jawa, Sulawesi Utara, NTT, Sumatra Utara, dan berbagai daerah lainnya.

Sauland Sinaga (tengah) bersama pendiri AMI Rachmawati Siswadi (kiri), dan Bambang Suharno usai penetapan Sauland melanjutkan kepemimpinan AMI 2026-2031.

Dalam Munas tersebut, Sauland menyampaikan laporan pertanggung jawaban dan paparan berbagai kegiatan serta capaian AMI selama masa kepemimpinannya. Salah satu perhatian utama AMI adalah perjuangan dalam penanganan African Swine Fever (ASF) yang sempat berdampak besar terhadap industri peternakan babi nasional.

Selain itu, AMI juga aktif meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai seminar dan pelatihan bekerja sama dengan sejumlah lembaga dan perusahaan, antara lain USSEC, perusahaan obat hewan, Infovet, ASOHI, Pusvetma, dan berbagai pihak lainnya.

Sauland juga menyampaikan bahwa di bawah kepemimpinan AMI saat ini, organisasi berhasil mendorong pemerintah menghentikan impor daging babi karena produksi dalam negeri dinilai sudah mencukupi kebutuhan nasional. Menurutnya, kehadiran dan peran AMI kini semakin diperhitungkan, termasuk dalam berbagai forum diskusi dan penyusunan regulasi pemerintah terkait peternakan babi.

“AMI semakin sering dilibatkan dalam berbagai forum strategis pemerintah terkait peternakan babi dan kebijakan peternakan nasional,” ujar Sauland.

Dalam kesempatan itu, Sauland juga menyampaikan bahwa dirinya memperoleh penghargaan Fighting ASF in Asia, Honor Roll dari Asian Agribiz. Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh pengurus dan anggota AMI. “Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, melainkan untuk AMI,” ungkapnya.

Suasana Seminar Nasional dan Munas AMI di NICE PIK 2.

Sementara itu, Dr Ir Rachmawati Siswadi MAgrSc, ikut menyampaikan apresiasinya terhadap kepemimpinan Sauland yang dinilai berhasil membawa organisasi terus berkembang dan semakin berkontribusi bagi dunia peternakan nasional.

Dalam kesempatan tersebut Rachmawati menyampaikan kronologis berdirinya AMI dan perkembangannya hingga sekarang. AMI berdiri pada 8 Mei 2002, di Kantor Infovet diprakarsai oleh Dr Rachmawati didukung oleh pengurus ASOHi saat itu antara lain Ketua Umum ASOHI A. Karim Mahanan, Sekjen ASOHI Drh Tjiptardjo SE, dan Bambang Suharno.

Menanggapi laporan Sauland, Rachmawati optimistis AMI akan terus maju dan semakin berperan dalam mendukung perkembangan industri peternakan babi Indonesia di masa mendatang. (BS)

INOVASI GENETIK HINGGA RANTAI PASOK PETERNAKAN DIKUPAS DALAM SEMINAR NASIONAL AMI

Para pembicara seminar. Dari kiri: Henrik Nielsen, Manmohan Singh, dan Prama Rangga Respati, yang dipandu oleh Agung Puji Haryanto. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) menyelenggarakan Seminar Nasional dan Musyawarah Nasional (Munas) pada Sabtu (9/5/2026) di NICE PIK 2. Mengangkat tema “Inovasi Genetik, Digitalisasi, dan Ketahanan Rantai Pasok Peternakan Babi untuk Daya Saing Global,” acara ini digelar melalui kolaborasi antara AMI, Agrimat, dan Majalah Infovet.

Dalam sambutannya, Ketua AMI, Sauland Sinaga, menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi industri peternakan babi domestik, khususnya di sektor pemuliaan (breeding). Menurutnya, penguatan genetika lokal menjadi fondasi penting untuk meningkatkan performa produksi.

Selain faktor genetik, Sauland menekankan pentingnya digitalisasi peternakan untuk mempermudah pemetaan dan pemantauan permintaan pasar (demand) secara akurat. Ia juga menggarisbawahi urgensi penguatan rantai pasok dan rantai dingin.

“Di Jakarta, kebutuhan daging babi untuk sektor hotel, restoran, sebagian besar masih dipasok impor. Oleh karena itu, sistem rantai dingin ini sangat diperlukan untuk menjaga kualitas produk lokal,” ujar Sauland, seraya menambahkan bahwa ketersediaan bahan baku pakan yang juga masih bergantung impor turut menjadi fokus utama yang harus segera dibenahi.

Secara ringkas, AMI memetakan empat isu krusial tersebut untuk memajukan industri babi nasional, yakni breeding untuk meningkatkan kualitas genetik ternak; digitalisasi peternakan sebagai alat pengambilan keputusan berbasis data yang akurat; sistem rantai dingin yang menjamin distribusi dan kualitas produk; serta pemberian nutrisi yang baik untuk efisiensi pakan dan kesehatan ternak.

Sambutan oleh Ketua AMI Sauland Sinaga, dan menampilkan salah satu narasumber yang hadir melalui daring Basilisa Reas.

Memasuki sesi seminar yang dipandu oleh Technical Consultant USSEC, Agung Puji Haryanto, menghadirkan pakar internasional di antaranya Henrik Nielsen, ahli genetika babi dari Denmark, yang memaparkan strategi peningkatan genetik untuk mencapai efisiensi produksi maksimal.

Kemudian dari sisi teknologi digital, Prama Rangga Respati dari Ausvet menjelaskan bagaimana smart farming membantu pemerintah dan peternak dalam melakukan surveilans kesehatan hewan secara real-time. Digitalisasi memungkinkan juga peternak mengelola risiko terkait iklim dan meningkatkan akurasi performa ternak.

Sementara itu, Manmohan Singh dari OctoFrost memaparkan peran teknologi canggih dalam pengolahan daging babi melalui sistem rantai dingin untuk memberikan nilai tambah pada produk industri.

Disusul pemaparan dari Technical Director for Animal Protein USSEC East-Asia, Basilisa Reas, yang memberikan perspektif menarik mengenai kaitan antara nutrisi dan biosekuriti. Ia menegaskan bahwa untuk mencapai performa yang baik, peternak harus menyeimbangkan tiga pilar, yakni genetik, nutrisi, dan biosekuriti.

Ia menjelaskan bahwa nutrisi yang tepat adalah langkah awal biosekuriti. Diet seimbang memperkuat imun, menjaga integritas usus sebagai penghalang infeksi alami, dan mengurangi tekanan penyakit dalam kelompok ternak. Dengan kecukupan nutrisi, terbukti mampu mengurangi ketergantungan peternak pada antibiotik yang sekaligus menjawab isu resistansi antimikroba global.

Suasana Seminar Nasional AMI di NICE PIK 2.

Rangkaian seminar tersebut juga menjadi momen spesial karena bertepatan dengan peringatan ulang tahun AMI yang ke-24, yang berdiri sejak 8 Mei 2002. Dalam kesempatan tersebut, Sauland Sinaga menyampaikan apresiasinya kepada para pendiri, di antaranya Dr Rachmawati Siswandi dan Bambang Suharno, atas dedikasinya membangun asosiasi hingga saat ini.

Usai seminar yang ditutup dengan diskusi panel, kegiatan pun masih berlanjut dengan agenda internal Munas AMI untuk menentukan arah organisasi ke depan. (RBS)

RUPS 2025: JAPFA PERKUAT FUNDAMENTAL, LABA DAN EKUITAS TUMBUH SIGNIFIKAN

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2025, didorong oleh strategi efisiensi, inovasi operasional, dan penguatan di seluruh lini bisnis. Hal ini disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) yang diselenggarakan pada 29 April 2026.

Sepanjang 2025, JAPFA membukukan penjualan neto sebesar Rp 60,72 triliun, meningkat dari Rp 55,80 triliun pada tahun sebelumnya. Laba usaha turut naik menjadi Rp 6,18 triliun dari Rp 5,06 triliun, sementara laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 4 triliun, tumbuh signifikan dari sekitar Rp 3,02 triliun pada 2024. Peningkatan kinerja ini juga tercermin pada laba per saham (EPS) yang naik dari Rp 260 menjadi Rp 344 per saham. Dari sisi neraca, total aset Perseroan meningkat menjadi Rp 40,06 triliun dan ekuitas naik menjadi Rp 20,02 triliun, mencerminkan fundamental keuangan yang semakin kuat.

Direktur JAPFA, Leo Handoko, menyatakan bahwa capaian ini merupakan hasil konsistensi Perseroan dalam menjalankan strategi operasional yang adaptif di tengah dinamika industri.

“Pencapaian ini mencerminkan fokus kami pada efisiensi, inovasi, dan peningkatan kualitas di seluruh segmen usaha. Kami berkomitmen menghadirkan produk dan layanan terbaik sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kinerja positif JAPFA didukung oleh kontribusi seluruh segmen usaha. Segmen pakan ternak memperkuat efisiensi melalui penerapan teknologi dan optimalisasi energi alternatif, serta strategi segmentasi produk untuk memperkuat daya saing. Segmen pembibitan unggas terus memperluas kapasitas melalui modernisasi fasilitas serta peningkatan penetrasi pasar domestik dan ekspor, sementara segmen peternakan komersial tetap menjadi kontributor utama dengan dukungan inovasi kandang closed house dan penguatan kemitraan peternak.

Di sisi hilir, segmen pengolahan hasil peternakan dan produk konsumen terus mendorong inovasi dan peningkatan kapasitas produksi. Sedangkan segmen budidaya perairan mencatat pertumbuhan melalui ekspansi pasar ekspor dan penguatan dukungan teknis kepada pelanggan.

“Keberhasilan JAPFA pada 2025 merupakan hasil kolaborasi seluruh tim dan mitra bisnis kami. Ke depan, kami akan terus mendorong inovasi, memperluas pasar, serta memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Leo Handoko. (Rilis)

EKSPOR PRODUK SUSU TEMBUS VIETNAM, DAYA SAING PETERNAKAN NASIONAL KIAN MENGUAT

Seremoni pelepasan ekspor produk olahan susu ke Vietnam. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan ekspor produk olahan susu ke Vietnam menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi peternak dan pelaku usaha sekaligus meningkatkan nilai tambah industri peternakan nasional.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Wirata, mengatakan keberhasilan ekspor tersebut menunjukkan peningkatan daya saing produk susu Indonesia.

“Momentum hari ini menjadi bukti nyata bahwa produk susu Indonesia semakin kompetitif di pasar global. Hal ini tercermin dari kinerja ekspor yang terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya pada Pelepasan Ekspor Produk Olahan Susu PT Cisarua Mountain Dairy di Bogor, Selasa (5/5/2026).

Berdasarkan data penerbitan sertifikat veteriner, dalam kurun waktu 2023-2026, total ekspor produk nasional telah melampaui 11,9 juta kilogram dengan nilai mencapai USD 15,3 juta. Dalam tiga tahun terakhir, peningkatan ekspor juga terjadi ke berbagai negara seperti Hong Kong, Filipina, dan Thailand, dengan Filipina menjadi pasar terbesar.

Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan yang konsisten sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir produk olahan susu yang semakin diperhitungkan di kawasan Asia. “Hal ini mencerminkan komitmen kuat dalam memperluas akses pasar internasional,” sebutnya.

Menurut dia, keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga pemenuhan standar internasional, terutama dalam aspek keamanan pangan dan kesehatan hewan. Pemerintah memastikan sistem jaminan mutu berjalan melalui pengawasan veteriner, sertifikasi, serta harmonisasi standar dengan negara tujuan ekspor.

Sementara itu, Dairy Manufacturing Director PT Cisarua Mountain Dairy, Bayu Triprasetyo, mengungkapkan dukungan dari pemerintah menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi mutu sekaligus memperlancar proses ekspor, termasuk ke pasar Vietnam yang kian menjanjikan.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan Kementerian Pertanian melalui pengawasan kesmavet, serta Kementerian Perdagangan yang telah mendorong kelancaran proses ekspor ke Vietnam. Sinergi ini semakin memperkuat komitmen kami untuk terus menghadirkan produk berkualitas serta berkontribusi lebih besar dalam peningkatan kinerja ekspor nasional,” ujar Bayu.

Dengan berbagai upaya yang terus dilakukan, pemerintah memastikan kegiatan ekspor tidak sekadar mendorong kinerja perdagangan nasional, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi peternak dan pelaku usaha. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer