-->

MENGUSUNG ONE HEALTH, ONE WELFARE, KIVNAS XXI RESMI DIGELAR

Foto bersama KIVNAS XXI. (Foto: Infovet/Ridwan)

Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) resmi menyelenggarakan Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional (KIVNAS) XXI yang berlangsung pada 14-15 Agustus 2026, di Grand Serpong Hotel. Mengusung tema besar "One Health, One Welfare", gelaran ilmiah ini menampilkan beragam agenda strategis, mulai dari sesi pleno, presentasi ilmiah (oral dan poster), hingga seminar/workshop dari Unit Peminatan Non-Teritorial (UPNT).

​Rangkaian KIVNAS XXI hari pertama diawali dengan Morning Seminar yang menghadirkan Dr Drh Susan M. Noor, yang mengulas isu-isu krusial terkait kesehatan hewan nasional, termasuk kewaspadaan terhadap E. coli, isu resistansi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR), serta pentingnya penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggung jawab pada hewan.

Usai pemaparan, acara dilanjutkan dengan sesi sambutan secara resmi oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar (PB) PDHI, Drh Andi Wijanarko. Dalam sambutannya, Andi menyampaikan bahwa KIVNAS merupakan wahana penting untuk menyatukan ide demi kemajuan bersama profesi veteriner.

"Kita berkumpul di sini untuk memberikan ide bagi kemajuan kita bersama. KIVNAS ini adalah forum penting untuk memperkuat ilmu dan kolaborasi dalam memajukan kesatuan kedokteran hewan kita. Tema One Health, One Welfare mengingatkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tidak terpisahkan," ujar Andi.

​Ia juga menegaskan bahwa posisi strategis dokter hewan yang selalu hadir dan dibutuhkan dalam isu-isu vital bangsa, seperti penanganan zoonosis, pengendalian AMR, hingga penjaminan ketahanan dan keamanan pangan. Mengingat KIVNAS digelar menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan RI, Andi berharap KIVNAS XXI menjadi momentum nyata untuk mewujudkan dokter hewan Indonesia yang berintegritas, adaptif, dan kolaboratif demi melahirkan gagasan serta jejaring baru bagi masa depan.

Pada kesempatan yang sama, hadir sebagai Keynote Speaker, Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Drh Hendra Wibawa, menyampaikan visi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang maju dan berkelanjutan. Pembangunan tersebut tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan peternak dan penguatan sistem kesehatan hewan nasional.

Hendra juga memaparkan sejumlah tantangan kompleks yang masih dihadapi saat ini, seperti ancaman zoonosis, Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS), emerging infectious disease (EID), perubahan iklim, degradasi lingkungan, keamanan pangan, hingga dinamika perubahan sistem produksi peternakan, dan risiko AMR.

​Untuk menjawab kompleksitas tersebut, Hendra menyampaikan tiga pesan kunci. Pertama, proteksi. Yakni menjaga kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan untuk ketahanan kehidupan masyarakat.
"Yang kedua, promote. Dengan mempromosikan penguatan animal welfare karena keberadaannya penting bagi keberlanjutan usaha peternakan. Dan ketiga yaitu kolaborasi. Dengan memperkuat sinergi lintas sektor, karena tantangan ke depan yang semakin kompleks, sehingga seluruh pihak harus menjadi satu kesatuan demi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang lebih maju dan berkelanjutan," tukasnya.

Usai pembukaan resmi oleh Dirkeswan, kegiatan KIVNAS XXI dilanjutkan dengan pemaparan materi dari jajaran pakar, akademisi, dan praktisi senior. Pada hari pertama, hadir narasumber di antaranya Prof Dr Drh Bambang Pontjo P. (Dosen Patologi SKHB IPB University, Sekjen FAVA), Dr Drh Nusdianto Triakoso (Ketua UPNT AKIVI, Wadir RSHP Unair, Dosen FKH Unair), Drh Kadek Agus Agra Arnawa (Senior Vet, Dokter Hewan Praktisi Central Vet Bali, Anggota UPNT ADBVI), hingga Drh Anang Triatmoko (Dokter Hewan Praktisi GAIA Small Animal Clinic, Anggota UPNT ADBVI).

Kemudian pada hari kedua diskusi ilmiah dilanjutkan dengan pemaparan dari Drh Akhmad Harris Priyadi (Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia/ASOHI), Dr Siraya Chunekamrai (Veterinary Practice in Thailand, Founder The Thai Pony Foundation), ​Dr Drh Hasbullah Abdurrachman (Konsultan Bisnis, Senior Veterinarian Standard Biosensor Indonesia), ​Prof Dr Drh Widagdo Sri Nugroho (Dosen Dept. Kesmavet FKH UGM & Koord. Bid. Peningkatan Kompetensi UPNT Askesmaveti), Dr Drh Fitria Senja Murtiningrum (Dosen SKHB IPB University, Anggota UPNT ADHPHKI), hingga Drh Fajriyanti Qurrotuain (Dokter Hewan Praktisi, Anggota UPNT ADHPHKI).

Melalui pemaparan materi dan diskusi interaktif selama dua hari, KIVNAS XXI diharapkan melahirkan gagasan inovatif serta memperkuat sinergi interprofesional demi mewujudkan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan yang berkelanjutan di Indonesia. (RBS)

SEMARAK HUT KE-41, BBPMSOH HADIRKAN TALKSHOW, EKSPOSE KAJIAN ILMIAH, DAN BAZAR UMKM

Kegiatan talkshow menjadi momentum merefleksikan perjalanan 41 tahun BBPMSOH. (Foto: NDV/Infovet)

Tahun ini Balai Besar Pengujian Mutu Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) memasuki usia yang semakin matang. Memperingati HUT ke-41 sekaligus HUT RI ke-81 BBPMSOH menyelenggarakan berbagai kegiatan.

Acara utama adalah Talkshow dan Ekspose Hasil Kajian Ilmiah BBPMSOH yang berlangsung pada Kamis, 6 Agustus 2026, bertempat di area parkir kantor BBPMSOH, Bogor. Hadir sebagai tamu antara lain UPT lingkup Direktorat Jenderal Peternakan, ASOHI, pensiunan BBPMSOH, berbagai instani pemerintah di Kecamatan Gunungsindur, dan mitra-mitra BBPMSOH.

Talskhow bertajuk “Kiprah BBPMSOH dari Masa ke Masa: Mengawal Mutu dan Keamanan Obat Hewan Indonesia serta Menjawab Tantangan Masa Depan”, menghadirkan narasumber yaitu Kepala BBPMSOH Drh Hasan Abdullah Sanyata, pejabat senior Kementan drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa PhD, Ketua Kelompok Substansi Pengawas Obat Hewan Kementan Drh Arief Wicaksono , dan Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Drh Akhmad Harris Priyadi. Talkshow dimoderatori oleh Drh Yuni Yupiana MSc PhD.

Acara semestinya dibuka oleh Dr Drh Agung Suganda MSi, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan) yang berhalangan hadir. Sehingga diwakili oleh Direktur Kesehatan Hewan, Drh Hendra Wibawa MSi PhD yang membuka acara secara daring.

Dalam sambutannya, Hendra memaparkan. “Obat hewan merupakan komponen vital dalam mendukung produksi peternakan nasional. Oleh karena itu, mutunya harus terjamin mengingat obat hewan berdampak langsung terhadap kesehatan dan produktivitas ternak, keamanan pangan asal hewan, hingga kesehatan masyarakat. Dalam konteks tersebut, BBPMSOH memiliki peran strategis sebagai satu-satunya unit pelaksana teknis yang diakui pemerintah secara nasional dalam pengujian mutu, sertifikasi, analisis, dan pemantauan obat hewan.”

Hendra juga menyinggung sedikit mengenai isu resistensi antimikroba (AMR) yang telah menjadi perhatian global dan ancaman serius yang harus diantisipasi. 

“Meningkatnya penggunaan produk herbal sebagai alternatif pengobatan juga membutuhkan metode pengujian dan pengawasan yang relevan. Perkembangan tersebut menuntut BBPMSOH untuk terus memperkuat kapasitas, metode pengujian, serta kesiapan dalam merespons berbagai inovasi dan isu yang berkembang,” tuturnya. 

Jaminan mutu, khasiat, dan keamanan obat hewan pada akhirnya berkaitan erat dengan daya saing produk peternakan Indonesia, baik di pasar domestik maupun internasional. Semakin kuat jaminan terhadap kualitas dan keamanan obat hewan, semakin besar pula kepercayaan terhadap produk peternakan yang dihasilkan. Peran BBPMSOH menjadi semakin penting dalam memastikan obat hewan yang beredar aman, berkhasiat, dan memenuhi standar, sekaligus mendukung peningkatan daya saing sektor peternakan nasional di tengah tuntutan pasar yang semakin ketat.

Dalam sesi talkshow, Ketua ASOHI mengemukakan BBPMSOH memiliki peran strategis sebagai acuan dan parameter dalam memastikan mutu serta kelayakan obat hewan yang digunakan di industri peternakan. Standar pengujian yang diterapkan BBPMSOH juga dipandang tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi dan perkembangan produk obat hewan. 

“Jika dahulu obat hewan lebih banyak dipersepsikan sebagai sarana untuk mengobati ternak ketika sakit, kini paradigma tersebut mulai bergeser ke arah promotion dan prevention. Industri peternakan dituntut untuk lebih mengedepankan pencegahan, karena ketika ternak sudah sakit dan membutuhkan pengobatan, kondisi tersebut dapat dikatakan sudah terlambat,” ungkap Harris.

BBPMSOH menjadi rujukan penting bagi pelaku usaha untuk memastikan produk obat hewan yang beredar dan digunakan di peternakan telah memenuhi persyaratan mutu dan keamanan. Sertifikasi dan hasil pengujian BBPMSOH memberikan parameter yang jelas dalam membedakan produk yang layak digunakan di lapangan. Keberadaan standar dan pengawasan tersebut sekaligus mendorong industri obat hewan dan peternakan menjadi lebih tertib, teratur, serta memiliki kepastian dalam memilih produk yang memenuhi standar.

Ekspose Kajian Ilmiah 

Talkshow dilanjutkan dengan Ekspose Kajian Ilmiah yang menghadirkan narasumber para penyelia dari laboratorium BBPMSOH. 

Antara lain Penyelia Unit Virologi, Penyelia Unit Bakteriologi, Penyelia Unit Uji Farmasetik dan Premiks. Acara ini dipandu oleh Drh Rahajeng Setiawaty, MSi sebagai moderator.

Pada hari yang sama pula, seperti perayaan tahun-tahun sebelumnya. BBPMSOH mengadakan bazar murah di area masuk BBPMSOH yang diikuti oleh 25 UMKM. Bazar yang meriah menawarkan buah-buahan, sembako, makanan, minuman, butik, barang antik, kosmetik, dan produk-produk lainnya. (NDV)

PETERNAK PETELUR SOLO RAYA GELAR AKSI DAMAI

Aksi damai peternak petelur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Petelur se-Solo Raya di kawasan Bundaran Gladak, Solo. (Foto: Dok. Krishandrika)

Peternak petelur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Petelur se-Solo Raya menggelar aksi damai di kawasan Bundaran Gladak, Solo, Rabu (5/8/2026). Dalam aksi yang berlangsung tertib tersebut, para peternak membagikan telur kepada masyarakat sebagai bentuk protes atas kondisi industri perunggasan yang kian memprihatinkan.

Ketua Pinsar Kabupaten Boyolali, sekaligus Penanggung Jawab Aksi Damai, Drh Krishandrika Immanuel Raharjo, mengungkapkan bahwa para peternak saat ini tertekan dari dua sisi. Di satu sisi, penyusun HPP melambung akibat tingginya harga pakan, sementara di sisi lain, harga jual telur di tingkat peternak justru tertekan. Kondisi ini memaksa peternak harus menanggung kerugian.

“Pemerintah harus hadir dan tidak sekadar menjadi ‘pemadam kebakaran’. Langkah pencegahan harus dilakukan sejak dini agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat diantisipasi,” ujar Krishandrika dalam perbincangannya bersama Infovet, Kamis (6/8/2026).

Dalam aksi tersebut, terdapat beberapa poin yang menjadi tuntutan para peternak. Di antaranya penurunan harga pakan dan stabilisasi jagung dengan meminta pemerintah menstabilkan harga pakan. Jika diperlukan, pemerintah didesak membuka opsi impor jagung agar harganya dapat terealisasi sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP), yakni Rp 5.500/kg.

Kemudian meminta penghentian monopoli impor BKK, lalu mendesak pemerintah segera mengisi kekosongan posisi Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan meminta pembentukan Kementerian Peternakan yang khusus menangani sektor peternakan secara fokus.

Selain menyampaikan tuntutan teknis, Krishandrika juga menekankan pentingnya evaluasi tata niaga perunggasan nasional secara menyeluruh bukan parsial. Ia juga menyoroti perlunya sinkronisasi kebijakan antar kementerian dengan mengikis ego sektoral demi kepastian usaha peternak.

Terkait desakan pembentukan Kementerian Peternakan, Krishandrika menilai sektor peternakan dan kesehatan hewan memiliki cakupan yang terlalu luas jika hanya dijadikan bagian dari Kementerian Pertanian.

“Urusan kesejahteraan masyarakat ditopang oleh kecukupan protein hewani, begitu pula kesehatan manusia yang erat kaitannya dengan kesehatan hewan. Ke depan, sektor strategis ini harus dipegang oleh lembaga tersendiri dan dipimpin oleh pihak-pihak yang kompeten,” tukasnya. (INF)

ASOHI JAWA TIMUR GELAR PELATIHAN PJTOH ANGKATAN XXX, PERKUAT PENGAWASAN & MUTU OBAT HEWAN

Pembukaan Pelatihan PJTOH ASOHI Daerah Jawa Timur dimeriahkan dengan aksi bermain angklung dan sesi foto bersama. (Foto-foto: Dok. ASOHI)

Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Daerah Jawa Timur menyelenggarakan Pelatihan Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PJTOH) Angkatan XXX di Santika Hotel, Malang, Jawa Timur, 4-5 Agustus 2026.

Acara yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri para pemangku kepentingan, praktisi medis veteriner, serta perwakilan instansi pemerintah terkait untuk meningkatkan pemahaman regulasi, standar mutu, dan tata kelola peredaran obat hewan.

Pelatihan dibuka pada Selasa (4/8/2026), dengan rangkaian sambutan oleh Ketua ASOHI Daerah Jawa Timur Drh Suyud, Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur Dr Ir Indyah Aryani MM, serta pembukaan resmi oleh Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan) Drh Hendra Wibawa MSi PhD. Acara pembukaan juga dimeriahkan dengan aksi bermain angklung dan sesi foto bersama.

Pembukaan resmi secara daring oleh Dirkeswan Drh Hendra Wibawa MSi PhD.

Sesi materi diawali oleh Ketua Umum ASOHI, yang memaparkan peran ASOHI, etika profesional, tanggung jawab hukum dan teknis PJTOH, serta tata cara hubungan kerja dengan instansi pengawas. Pemaparan dilanjutkan oleh Ketua Koordinator Substansi Pengawas Obat Hewan, Drh Arief Wicaksono MSi, yang menyampaikan materi mengenai kebijakan dan regulasi obat hewan, mencakup undang-undang, sistem pengawasan, penanganan obat hewan ilegal, hingga sanksi administratif.

Pada sesi berikutnya menghadirkan pemaparan dari Korwil PDHI Jawa Timur, Drh Deddy F. Kurniawan MVet, tentang peran dokter hewan dalam industri obat hewan dan apotek veteriner. Materi dilanjutkan oleh Ketua Tim Kerja Mutu Obat Hewan, Drh Liys Desmayanti MSi, yang mengulas secara mendalam prinsip Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik (CPOHB), Cara Distribusi Obat Hewan yang Baik (CDOHB), pengadaan, penyimpanan, hingga prosedur penarikan obat (recall).

Hari pertama ditutup dengan paparan dari Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) yang diwakili oleh apt Muhammad Zahid SSi MSc, mengenai penjaminan mutu, pengujian sampel, dan rantai dingin (cold chain).

Memasuki hari kedua Rabu (5/8/2026), pelatihan dibagi ke dalam dua ruangan paralel pada sesi pagi untuk mendalami topik spesifik, di antaranya Ruang I (perusahaan obat hewan) berfokus pada pendaftaran dan peredaran pakan (medicated feed) yang dibuka secara daring oleh Direktur Pakan Dr Ir Tri Melasari SPt MSi, bersumber dari pemaparan Ahmad Riza Muzammil (Kabid Perbibitan, Pakan, dan Produksi Peternakan Jatim). Sesi dilanjutkan dengan pembahasan kebijakan karantina obat hewan oleh Drh Wirawan Budi Utomo dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur.

Hari kedua Pelatihan PJTOH dibuka oleh Direktur Pakan Dr Ir Tri Melasari SPt MSi melalui daring.

Sementara pada Ruang II (peredaran obat hewan), membahas peran apoteker dalam industri dan apotek veteriner bersama akademisi UGM, Dr apt Nunung Yuniarti SF MSi, serta pemenuhan perizinan apotek veteriner oleh Drh Hilda Sari dari DPMPTSP Kota Malang.

Memasuki sesi pleno kembali, peserta mendapatkan pembekalan materi mengenai regulasi perizinan apotek veteriner dan Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) oleh apt Drs Suhartono MFarm dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Disambung dengan penjelasan peredaran bahan baku obat lintas sektor oleh Wahyuwasti Kiki Mustikasari SFarm Apt MSc dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Pada sesi berikutnya, Ketua Bidang Peredaran ASOHI, Drh Andi Wijanarko, mengulas penggunaan obat hewan secara rasional guna mencegah resistansi antimikroba (AMR) dan memperhatikan withdrawal time (waktu henti obat). Penata Perizinan Ahli Muda DPMPTSP Provinsi Jawa Timur, Debby Febriyanti SE, turut memberikan informasi update perizinan berusaha berbasis Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025. 

Rangkaian materi pelatihan diakhiri oleh Kabid Kesehatan Hewan/PPNS Dinas Peternakan Jatim, Dr Drh Iswahyudi MP, yang memaparkan tata cara dokumentasi dan pelaporan stok obat hewan, serta peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dalam menindak peredaran obat hewan ilegal pada ritel seperti petshop dan poultry shop. Kegiatan diakhiri dengan pelaksanaan post-test, kuis, dan penutupan resmi oleh panitia.

Pihak penyelenggara mengharapkan melalui pelatihan ini para PJTOH memiliki pemahaman lebih mendalam mengenai etika profesi, tanggung jawab hukum, dan peran teknis di berbagai lini industri. Juga kegiatan ini diharapkan dapat mempererat koordinasi dan kemitraan antara praktisi/pelaku usaha dengan instansi pembina dan pengawas, seperti Dinas Peternakan, BBPMSOH, BPOM, BKHIT (Karantina), serta DPMPTSP, sehingga tercipta iklim usaha yang patuh terhadap regulasi dan perizinan berusaha terbaru. (INF)

MENUJU EDISI KE-20: GRAND LAUNCHING INDO LIVESTOCK 2027 EXPO & FORUM RESMI DIGELAR

Grand Launching Indo Livestock 2027 Expo & Forum, Selasa (28/7/2026). (Foto: Dok. Infovet)

PT Napindo Media Ashatama secara resmi menyelenggarakan momentum penting Grand Launching Indo Livestock 2027 Expo & Forum di Aloft South Jakarta Hotel, Selasa (28/7/2026). Peluncuran resmi ini menandai dimulainya tahapan persiapan menuju pameran bisnis peternakan dan kesehatan hewan terbesar di Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 21-23 Juli 2027 mendatang di Grand City Convex, Surabaya.

Penyelenggaraan Indo Livestock 2027 Expo & Forum tidak hanya hadir sebagai ajang pameran dagang tahunan, tetapi juga diproyeksikan sebagai ruang kolaborasi strategis dalam mendorong kemajuan subsektor peternakan dan kesehatan hewan nasional. Melalui berbagai kerja sama, para pemangku kepentingan industri diharapkan dapat saling memperkuat sinergi, memperluas jaringan bisnis, serta meningkatkan daya saing peternakan Indonesia di tingkat global.

Project Director PT Napindo Media Ashatama, Lisa Rusli, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang secara konsisten mendukung perjalanan Indo Livestock hingga saat ini.

“Kami sampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian selaku tuan rumah, serta dukungan dari kementerian, lembaga, asosiasi, mitra bisnis, peserta pameran, hingga insan media. Melanjutkan keberhasilan tema sebelumnya, Indo Livestock 2027 Expo & Forum akan terus hadir sebagai platform strategis yang mendukung pengembangan peternakan dan kesehatan hewan nasional,” ujar Lisa.

Lisa menegaskan, pameran di tahun mendatang memiliki arti yang sangat istimewa. Memasuki edisi ke-20, pameran ini sekaligus menjadi penanda reflektif 25 tahun perjalanan konsisten Indo Livestock dalam menjembatani ekosistem bisnis dan pengetahuan peternakan di Indonesia. Perjalanan seperempat abad ini merupakan cerminan komitmen berkelanjutan Napindo dalam memfasilitasi teknologi, inovasi, serta peluang investasi di subsektor peternakan dan kesehatan hewan.

“Penyelenggaraan Indo Livestock 2027 Expo & Forum di Surabaya merupakan langkah strategis untuk memperluas jangkauan ke wilayah ekosistem peternakan yang kuat. Hal ini memberikan akses yang lebih luas bagi pelaku usaha di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya, sekaligus menciptakan peluang investasi baru,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Junior Sales Manager Indo Livestock, Agnes Nilam, turut memaparkan gambaran komprehensif mengenai rencana pelaksanaan Indo Livestock 2027 Expo & Forum. Pemaparan tersebut mencakup target pengunjung, profil peserta pameran, tata letak area pameran, hingga berbagai agenda forum pendukung.

Agnes menjelaskan, Indo Livestock 2027 Expo & Forum ditargetkan akan menghadirkan sekitar 15.000 pengunjung, dengan luas area pameran 5.169 m2, yang akan diikuti oleh sekitar 300 perusahaan dan prinsipal dari 30 negara, dengan menghadirkan 10 paviliun negara. Pameran ini juga bersinergi dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Vet, dan Indo Fisheries.

Dengan dimulainya rangkaian tahapan peluncuran ini, pihak penyelenggara berharap sinergi yang terjalin antara pemerintah, asosiasi profesi, akademisi, dan pelaku usaha dapat terus memperkuat ekosistem peternakan Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing. (RBS)

RUPS GALLUS DIHADIRI KETUA ASOHI & TETAPKAN KOMISARIS BARU

Foto bersama dalam acara RUPS Gallus. (Foto: Dok. Infovet)

Bertempat di Kantor Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Kamis (4/6), PT Gallus Indonesia Utama (Gallus) yang merupakan Badan Usaha Milik ASOHI menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). RUPS dihadiri Direktur Utama Gallus Ir Bambang Suharno, bersama Direktur Keuangan-HRD Gallus Drh Rakhmat Nuriyanto, Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi, Komisaris Gallus Gani Harijanto, dan segenap pemegang saham atau perwakilannya.

RUPS kali ini membahas beberapa poin krusial mengenai performa dan arah kebijakan perusahaan. Diawali dengan pembukaan oleh Direktur Utama Gallus dan dilanjutkan dengan Pemaparan Laporan Keuangan Hasil Audit Tahun Buku 2025 oleh Direktur Keuangan-HRD Gallus. 

Dalam pertemuan itu, Bambang menyampaikan presentasi tentang peran Gallus dalam mendukung berbagai kegiatan ASOHI melalui kegiatan penulisan artikel di bulletin Info ASOHI, Majalah Infovet, penerbitan buku, event organizer, serta perkembangan Gallus yang dipercaya oleh berbagai lembaga swasta dan pemerintah baik nasional dan internasional.

Setelah Laporan Kegiatan Tahun 2025 serta Rencana Kerja untuk Tahun 2026 dipresentasikan, acara dilanjutkan dengan pandangan dari Dewan Komisaris dan pembahasan hal-hal lain, diakhiri dengan penutup.

Pertemuan diakhiri dengan diskusi mengenai ide-ide pengembangan Gallus ke depan seiring dengan dinamika yang terjadi dalam dunia bisnis peternakan dan perikanan. Ketua Umum ASOHI mendukung berbagai inovasi yang telah dan akan dilakukan Gallus.

Salah satu keputusan dalam RUPS itu juga adalah pengangkatan Drh Gowinda Sibit sebagai Komisaris Gallus yang baru menggantikan Gani Harijanto. Gani menyampaikan sudah cukup lama menjadi komisaris, sehingga perlu adanya penerus. Ia juga menegaskan, dengan adanya pergantian ini, pihaknya akan terus mendukung suksesnya Gallus sebagai Badan Usaha Milik ASOHI. (WK)

TMC RAYAKAN HARI JADI KE-27 DENGAN AKSI DONOR DARAH

Ultah TMC ke 27
Direktur Utama PT Tekad Mandiri Citra (TMC), drh Gowinda Sibit bersama Jajaran Manajemen merayakan ulang tahun PT Tekad Mandiri Citra yang ke-27 di Bandung, Jawa Barat

Menandai perjalanan panjang selama 27 tahun mendedikasikan diri di industri obat hewan Tanah Air, PT Tekad Mandiri Citra (TMC) memilih cara yang menyentuh hati untuk merayakan hari jadinya. Melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) bertajuk “TMC Peduli – Setetes Darah Untuk Negeri”, TMC menggelar aksi donor darah serta pemeriksaan kesehatan dan mata secara gratis di Pabrik TMC, Bandung, Jumat (3/7).

TMC adalah produsen obat hewan terkemuka dalam negeri yang didukung oleh pengalaman selama 27 tahun di industri obat hewan Tanah Air. Berbekal inovasi yang matang serta portofolio solusi kesehatan hewan yang komprehensif dengan membawa semangat dalam tagline “Tumbuh Kembang dan Sehat Bersama TMC”, menjadi landasan komitmen dan tekad TMC untuk menjadi korporasi profesional dan terkemuka berskala internasional yang berorientasi pada pasar melalui penyediaan berbagai produk berkualitas.

Dengan penuh kehangatan dan suka cita, gerakan kemanusiaan ini disambut antusias oleh para karyawan dari berbagai Departemen di TMC, PT Anugerah Panji Mandiri (APM), PT Biomol Nusantara Mandiri (BIOMOL), serta PT Ganesa KALPATARU Satya (KALPATARU).

Kegiatan hasil kolaborasi dengan PMI (Palang Merah Indonesia) Kota Bandung ini berhasil terkumpul sebanyak 95 kantong darah segar untuk kebutuhan masyarakat di Indonesia. Dari total kantong darah segar yang terkumpul ini akan disalurkan oleh PMI Kota Bandung.

Selain itu, jangkauan CSR kali ini diperluas dengan menggandeng PT Biotek Farmasi Indonesia untuk penyediaan pemeriksaan kesehatan gratis, serta Optical Noor untuk fasilitas pemeriksaan mata cuma-cuma bagi para peserta.

HUT Tekad Mandiri Cita ke 27
Jajaran Manajemen PT Tekad Mandiri Citra (TMC) mengikuti aksi donor darah yang bertajuk “TMC Peduli – Setetes Darah Untuk Negeri” dalam rangka ulang tahun PT Tekad Mandiri Citra yang ke-27 di Bandung, Jawa Barat

Menurut drh Gowinda Sibit, Direktur Utama PT Tekad Mandiri Citra, kegiatan ini sebagai wujud kebanggaan dalam memaknai TMC yang terus bertumbuh dan berkiprah selama 27 tahun di industri obat hewan Tanah Air. “Kegiatan donor darah ini sebagai bentuk berbagi dan kepedulian sosial TMC kepada masyarakat. Juga sekaligus untuk membantu ketersediaan stok darah khususnya di Kota Bandung,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Pak Erwin ini melanjutkan, melalui aksi donor darah ini mengajarkan kesetaraan dan kebersamaan yang tidak ada tandingannya sekaligus beramal dan melatih keikhlasan. “Setelah donor, kita lepas, serahkan kepada yang berwenang dan tidak tahu siapa yang akan mempergunakan darahnya,” ungkapnya.

Pria yang juga aktif melakukan donor darah lebih dari 50 kali ini mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme para pendonor mengikuti kegiatan ini, “Kegiatan ini akan diagendakan secara berkesinambungan sebagai wujud nyata TMC dalam berkontribusi untuk kesehatan masyarakat.”<’/p>

Ia berharap, TMC akan terus meningkatkan kualitas dan potensi diri agar memiliki daya kompetitif dan komparatif yang baik. “Mari bekerja dan terus belajar dalam membangun TMC agar terus bertumbuh, berkembang, dan sehat,” ajak Pak Erwin.

PARTISIPASI INFOVET DI INDO LIVESTOCK 2026, GELAR SEMINAR PERUNGGASAN

Foto bersama Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Industri peternakan unggas saat ini tengah menghadapi badai tantangan yang tidak main-main. Dari fenomena perubahan iklim global yang ekstrem, ancaman penyakit menular berbahaya, hingga fluktuasi kualitas bahan baku pakan lokal. Dampaknya sangat nyata bagi peternak, angka mortalitas melonjak, efisiensi pakan memburuk, pertumbuhan terhambat, dan ujung-ujungnya keuntungan merosot tajam.

Di tengah situasi pelik ini, Drh H. Baskoro Tri Caroko (BTC), seorang National Poultry Technical Consultant, membawa sebuah angin segar melalui pendekatan holistik dalam pemeliharaan unggas. Pendekatan ini menawarkan satu prinsip, “Keberhasilan peternak menekan mortalitas menempatkan mereka pada peluang profit terbaik. Ketika harga mahal, mendapat laba maksimal, pada waktu harga murah, kerugian minimal,” ujar BTC saat mengisi Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026 Expo & Forum, Kamis (18/6/2026).

Bagaimana konsep holistik ini mampu mengubah nasib peternakan dari jurang kerugian, BTC pun membedah formulanya. Pertama, fondasi utama (revolusi mindset dan upgrade operator kandang). Kegagalan sebuah peternakan sering kali secara instan ditimpakan kepada para pekerja lapangan. Namun, konsep holistik ini menegaskan bahwa kegagalan tidak selalu salah operator. Kuncinya ada pada revolusi mindset dan peningkatan kompetensi (upgrade) para penjaga kandang. Operator kandang harus menyadari bahwa tugas mereka bukan sekadar memberi pakan, melainkan memenuhi kesejahteraan unggas secara menyeluruh. Unggas harus dipastikan mendapat pakan berkualitas, air minum bersih, udara segar, serta perlindungan total (tidak keujanan, kepanasan, terhindar dari stres, dan aman dari predator).

Kedua, menjaga kualitas di lingkungan. Satu paradoks terbesar dalam peternakan konvensional adalah membiarkan unggas makan, minum, tidur, dan buang kotoran di tempat yang sama setiap hari. Jika kualitas lingkungan ini tidak dijaga, kandang akan berubah menjadi bom waktu penyakit bagi ternak. Pola holistik mewajibkan peternak secara aktif mengatasi dampak buruk dari siklus biologis ini. Tata kelola limbah dan manajemen kotoran ayam harus diatur sedemikian rupa agar mudah diamankan kapan saja, sehingga amonia tidak meracuni pernapasan unggas.

Ketiga, strategi upgrade total secara holistik. Untuk memanen ayam yang tumbuh cepat, sehat, dan produktif sesuai potensi genetiknya, peternak harus melakukan upgrade kapasitas kandang secara ketat berdasarkan bobot hidup, dengan standar ideal 12 kg live bird (LB) per meter persegi. Kemudian menerapkan program sanitasi, disinfeksi, dan drainase lingkungan kandang yang prima (biosecurity protection). Lakukan pemberian nutrisi dan perawatan intensif dengan menyediakan pakan berkualitas tinggi yang komposisinya seimbang sesuai kebutuhan setiap fase umur unggas. Hingga dukungan suplemen dan bijak antibiotik.

Pada kesempatan tersebut, BTC juga menceritakan kisah sukses para peternak broiler dan layer yang sudah ia bimbing. Dalam membantu melatih para peternak tersebut, ia mengaransemen dan menciptakan potensi team work di kandang.

“Sehingga sukses yang dicapai hakekatnya adalah keberhasilan yang dicapai peternak sendiri, peternak sebagai bintangnya, pemain utama pentas di panggung pertunjukan yang berhasil dan sukses karena bersedia melakukan upgrade manajemen, mau bersungguh-sungguh, dan kerja keras atas arahan yang diberikan, sehingga mortalitas turun, profit naik,” ungkapnya.

Menurutnya, pendekatan holistik membuktikan bahwa kesuksesan peternakan unggas tidak bisa dicapai dengan cara-cara instan atau parsial. Melalui payung konstelasi One Health (kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan yang saling terkait), peternakan dipandang sebagai sebuah ekosistem yang utuh.

“Ketika manusia berkomitmen untuk menjaga semesta, mulai dari menjaga kesehatan pekerja, merawat hewan ternak dengan penuh empati, hingga melestarikan lingkungan kandang, maka alam akan membalasnya dengan produktivitas yang melimpah. Komitmen mulia inilah yang tidak hanya akan menurunkan mortalitas dan menaikkan profit peternak, tetapi juga membawa berkah bagi ketahanan pangan bangsa,” tukasnya. (RBS)

TARGETKAN EKSPANSI BERTAHAP, WMU BERPELUANG JADI PRODUSEN TELUR CAGE-FREE TERBESAR DI ASIA TENGGARA

WMU menargetkan peningkatan kapasitas secara bertahap hingga 500.000 ekor pada 2027, yang berpotensi menjadikannya sebagai produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara. (Foto: Istimewa)

Kesadaran masyarakat terhadap produk pangan yang sehat dan aman, serta memperhatikan kesejahteraan hewan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sejalan dengan tren tersebut, permintaan telur cage-free menunjukkan pertumbuhan konsisten. Kondisi ini mendorong sejumlah produsen telur mempertimbangkan transformasi maupun ekspansi kapasitas produksi cage-free. Salah satunya PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU), yang melalui rencana pengembangannya berpotensi menjadi produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara.

Direktur Marketing WMU, Tri Mahawijaya Herlambang, mengatakan bahwa pasar telur cage-free di Indonesia terus berkembang. Menurutnya, pertumbuhan tersebut tidak hanya didorong perusahaan makanan multinasional, tetapi juga semakin banyak pelaku usaha dan perusahaan lokal yang mulai beralih menggunakan telur bebas sangkar.

“Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang, WMU tengah memperluas kapasitas peternakan telur cage-free secara bertahap, dari populasi saat ini sekitar 200.000 ekor ayam petelur menjadi 500.000 ekor yang ditargetkan selesai pada 2027. Kami optimistis permintaan telur cage-free akan terus meningkat. Karena itu, kami siapkan kapasitas produksi sejak sekarang agar siap mengantisipasi lonjakan permintaan yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” ujar Mahawijaya di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Saat ini, telur cage-free produksi WMU dipasarkan melalui skema business-to-business (B2B) kepada berbagai segmen pelanggan, mulai dari perusahaan katering, jaringan hotel, restoran, hingga gerai makanan cepat saji. Selain itu, WMU juga tengah menyiapkan peluncuran merek telur cage-free sendiri yang akan menyasar pasar ritel.

“Pengembangan ini bukan untuk menggantikan pasar yang sudah ada, melainkan membuka segmen baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang semakin peduli terhadap keberlanjutan, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan. Di sisi lain, sebagai perusahaan terbuka, WMU juga memiliki komitmen terhadap aspek sustainability. Penerapan animal welfare melalui sistem peternakan cage-free menjadi salah satu bentuk nyata implementasi komitmen tersebut,” tambahnya.

Menanggapi rencana ekspansi tersebut, Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, menyampaikan apresiasinya atas langkah WMU dalam memperluas kapasitas produksi cage-free di Indonesia. Menurutnya, meningkatnya komitmen konsumen maupun pelaku usaha terhadap keberlanjutan dan kualitas pangan membuka peluang yang semakin besar bagi pertumbuhan pasar telur bebas sangkar.

“Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan telur cage-free terus meningkat, terutama dari sektor ritel, hotel, restoran, perusahaan FMCG, serta layanan makanan. Saat ini, lebih dari 2.000 perusahaan makanan global telah memiliki komitmen penggunaan 100 persen telur cage-free, termasuk berbagai merek internasional yang beroperasi di Indonesia seperti KFC, Burger King, Hyatt, Marriott, dan Swiss-Belhotel International. Pada saat yang sama, juga semakin banyak perusahaan domestik yang mulai menerapkan atau sedang bertransisi menuju kebijakan pengadaan telur cage-free, seperti Super Indo, Ismaya Group, Bali Buda, Jiwa Jawi, dan masih banyak lagi,” kata Sandi.

Pertumbuhan produk cage-free juga tercermin dari hasil survei GMO Research, perusahaan riset pasar dan penyedia panel konsumen asal Jepang. Survei tersebut menunjukkan bahwa 55% konsumen Indonesia lebih memilih membeli produk dari merek yang hanya menggunakan telur cage-free. Selain itu, 72% responden juga setuju bahwa telur yang digunakan oleh perusahaan makanan seharusnya berasal dari peternakan yang menerapkan standar kesejahteraan hewan.

Di sisi lain, studi lintas negara yang dilakukan European Food Safety Authority (EFSA) menunjukkan bahwa peternakan telur cage-free memiliki risiko hingga 25 kali lebih rendah mengalami kontaminasi strain tertentu bakteri Salmonella dibandingkan peternakan dengan sistem kandang konvensional.

“Selain didorong permintaan pasar dan aspek kualitas produk, ekspansi WMU juga sejalan dengan diterbitkannya Permentan Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan. Kami berharap langkah WMU dapat menginspirasi lebih banyak produsen telur di Indonesia untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi perubahan kebutuhan pasar yang terus berkembang. Kami juga akan terus mendukung penguatan ekosistem cage-free di Indonesia agar pertumbuhan permintaan pasar dan ketersediaan pasokan dapat berjalan beriringan,” tukasnya. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer