-->

PERBAIKAN GENETIK DENGAN SEGALA EFEK SAMPINGNYA

Skema persilangan ayam broiler komersil. (Foto: Istimewa)

Peternakan ayam, terutama broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien. Industri ini terus berkembang dengan kemajuan dalam pemuliaan, nutrisi, dan praktik manajemen untuk memenuhi permintaan daging ayam yang terus meningkat.

Selama bertahun-tahun, seleksi ayam pedaging telah difokuskan pada peningkatan efisiensi konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan, hasil daging, dan kualitasnya. Hal ini menghasilkan ayam dengan rasio konversi pakan yang tinggi dan laju pertumbuhan yang cepat, selain itu dagingnya empuk dan diterima secara luas di seluruh dunia.

Industri broiler telah berkembang pesat karena tingginya permintaan daging ayam. Broiler telah menjadi alternatif popular terhadap daging sapi dan babi, sebagian karena laju pertumbuhannya yang cepat dan biaya produksi yang lebih rendah, dengan lebih dari 70 miliar ayam dipotong setiap tahun di seluruh dunia (Mace & Knight, 2022). Peternakan unggas, khususnya produksi broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien (Gržinić et al., 2023).

Genetika broiler telah memanfaatkan gudang materi genetik yang dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan selama puluhan tahun. Hal ini memungkinkan penerapan, yang memungkinkan industri menyediakan produk daging yang terjangkau yang sebagian besar berasal dari sumber tanaman kepada konsumen global.

Seleksi genetika broiler selama 60 tahun terakhir telah berfokus secara sempit dan intensif pada sifat-sifat produksi yaitu laju pertumbuhan dan efisiensi pakan. Hal ini telah menyebabkan masalah kesejahteraan yang signifikan pada unggas yang dipelihara untuk daging termasuk gangguan kaki, penyakit kardiovaskular, dan akibatnya tingkat kematian yang tinggi, sementara unggas indukan mengalami pembatasan pakan yang parah.  Masalah tulang seperti kondronekrosis bakteri dan dyschondroplasia tibia lazim terjadi dan studi terbaru melaporkan prevalensi unggas dengan gangguan gaya berjalan sedang hingga berat berkisar antara 5.5-48.5 %.

Di seluruh dunia, lebih dari 70 miliar ekor broiler di sembelih setiap tahunnya. Skala produksi ayam pedaging yang sangat besar ini berarti bahwa masalah kesejahteraan tersebar luas dan kemungkinan akan meningkat keparahannya karena meningkatnya populasi manusia global, meningkatnya permintaan daging, dan fokus yang berkelanjutan pada efisiensi produksi di sektor pertanian.

Oleh karena itu, industri broiler mewakili beberapa masalah kesejahteraan hewan yang paling serius di bidang pertanian. Ada kebutuhan mendesak untuk mengatasi masalah ini dengan menjadikan sifat-sifat kesejahteraan sebagai prioritas utama dalam program pemuliaan dan mengintegrasikannya dengan tujuan pemuliaan lainnya. Banyak penelitian merekomendasikan penggunaan jenis unggas yang pertumbuhannya lebih lambat dan tidak memiliki masalah kesejahteraan yang sama. Mengatasi masalah kesejahteraan ini sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan unggas serta untuk penerimaan sosial dan keberlanjutan industri broiler di seluruh dunia.

Bagaimana Ayam Pedaging Komersial Telah Berevolusi
Selama kurang lebih 40 tahun antara 1970-2007, ayam broiler telah mengalami evolusi dalam hal... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

MENELISIK POTENSI GENETIK AYAM MODERN

Pertumbuhan genetik ayam broiler modern. (Sumber: Ourworldindata.org, 2024)

Genetik ayam ras menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya performa produksi yang mengarah ke efisiensi. Seperti pada broiler, dimana saat ini pertumbuhannya lebih cepat dengan kemampuan konversi pakan yang lebih baik. Begitu pun pada unggas layer masa kini yang mempunyai lifespan yang lebih lama dan produktivitas yang lebih tinggi dari masa sebelumnya.

Monster untuk Memenuhi Kebutuhan Pasar
Berkat kemajuan di bidang teknologi serta seleksi breeding yang baik selama lebih dari 100 tahun, ayam ras mengalami perkembangan genetik yang sangat pesat. Hasilnya, broiler di masa kini semakin efektif dalam mengonversi pakan menjadi bobot badan sehingga menghasilkan daging yang lebih banyak yang tentunya dapat memenuhi keinginan pasar.

Pada penelitian terbaru, bahkan beberapa strain seperti Hubbard flex, Ross 308, dan Cobb 500 dapat mencapa bobot badan 2,3-2,5 kg dalam waktu 30-35 hari saja. Bayangkan, dari seekor DOC dengan berat 35-50 gram berkembang delapan kali lipatnya dalam sebulan.
Begitupun dengan ayam petelur modern juga didesain untuk kebutuhan ini. Dengan potensi menghasilkan telur yang bahkan diklaim mencapai 500 butir dalam waktu 100 minggu. 
 
Menurut Ketua Umum GPPU, Achmad Dawami, seleksi genetik broiler yang dilakukan selama ini telah meningkatkan produktivitasnya. Pada kurun waktu 1960 sampai 1970-an, untuk mencapai bobot hidup 1,3 kg membutuhkan masa pemeliharaan selama 84 hari, namun sekarang, dengan masa pemeliharaan kurang lebih 30-an hari, ayam broiler sudah mampu mencapai bobot hidup 2,5 kg.

“Potensi genetiknya memang memungkinkan untuk seperti itu, namun di lapangan sangat jarang peternak yang dapat mencapai potensi genetik maksimal dari si ayam. Oleh karenanya ini masih menjadi PR bersama, soalnya kalau potensi ini dapat dimaksimalkan, produksi kita akan lebih baik dari sekarang,” tutur Dawami.

Dirinya juga menyebut bahwa ke depannya kemungkinan besar ternak broiler masih akan menjadi sumber protein hewani primadona bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Pasalnya harga per gram proteinnya jika dibandingkan komoditas daging lainnya adalah yang termurah, sehingga hal ini juga akan berdampak pada tingginya permintaan pasar.

High Performance, High Maintenance
Memang benar dalam urusan performa tidak usah diragukan lagi dari segi pertumbuhan bobot per hari, konversi pakan, serta parameter pertumbuhan dari broiler sangat luar biasa. Namun begitu, sebagai kompensasinya aspek kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap stres dari ayam menjadi berkurang.

Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan. Menurutnya, ayam broiler saat ini memanglah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026. (CR)

MENGUBAH KEBIASAAN “JAHAT” DENGAN KONSUMSI PANGAN SEHAT

Mengalihkan gaya hidup yang lebih sehat dengan mengonsumsi protein hewani. (Foto: Istimewa)

“Omelan” istri terhadap suami untuk berhenti merokok cukup kuat pengaruhnya. Lebih kuat lagi apabila ada kejadian orang terdekat yang terserang penyakit kronis gara-gara “rajin” merokok sejak usia muda. Kisah ini buktinya.

Ini kisah nyata. Sepekan sebelum Lebaran Idul Fitri 1447 H lalu, tersiar berita duka di lingkungan Perumahan Bumi Sawangan Indah, Kota Depok, Jawa Barat. Alexandri, salah satu tokoh masyarakat di perumahan tersebut meninggal dunia, akibat kanker paru-paru akut. Diagnosis dokter yang menanganinya, penyebab terberat dari penyakit yang diderita disebabkan akibat konsumsi rokok.

Mendengar cerita sakit yang diderita orang tersebut sungguh memilukan. Sebelum berpulang, istri Alexandri sempat menyampaikan kepada dokter jika suaminya sudah merokok sejak masih sekolah menengah pertama (SMP). Jika dihitung sudah lebih dari 30 tahun merokok. Berbagai merek dan jenis rokok sudah dicobanya. Kendati ajal memang sudah jadi takdir, namun hadirnya penyakit kronis umumnya disebabkan oleh kebiasaan gaya hidup seseorang.

Gegara kejadian ini, rupanya sebagian tetangga terdekat mulai sadar dan pelan-pelan meninggalkan kebiasaan merokoknya. Setidaknya, mulai mengurangi. Para istri mereka tampaknya punya peran kuat mengingatkan suami.

“Ini memang jadi peringatan buat bapak-bapak di sini, biar bisa ngurangin rokok, termasuk suami saya. Hampir tiap hari saya ingetin suami, biar berhenti merokok. Saya bilang ke suami, itu udah ada contohnya,” tutur Hanifah, warga setempat.

Ibu rumah tangga ini mengaku tak bosan mengingatkan sang suami untuk pelan-pelan mengurangi rokok. Ia khawatir dengan kesehatan suami, setelah mengetahui kejadian memilukan tersebut.

“Sampai-sampai saya kadang bilang ke suami, Ayah kapan mau berhenti merokok. Ganti rokokmu dengan ayam goreng, itu lebih sehat,” lanjut Hanifah yang sehari-hari jualan ayam goreng.

Desakan ringan Hanifah kepada suaminya memang terlihat sederhana. Mengganti kebiasaan merokok dengan konsumsi ayam goreng, atau mungkin dengan camilan lain. Tetapi kalau dicerna ucapannya, ini pesan yang penting. Mengalihkan gaya hidup beracun ke gaya hidup yang lebih sehat.

Fenomena publik Indonesia dalam urusan rokok tiap tahun makin meningkat tingkat konsumsinya. Mengutip rilis yang dikeluarkan Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT), akhir Mei 2026 lalu, jumlah perokok dewasa di Indonesia terus bertambah dalam satu dekade terakhir. Data Komnas PT menyebutkan jumlah pengguna produk tembakau di Indonesia meningkat sekitar 8,8 juta orang dalam kurun 10 tahun terakhir.

Data tersebut merujuk pada Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021, yang dirilis kembali oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan pada 2024. Hasil survei menunjukkan sebanyak 34,5% penduduk dewasa Indonesia atau sekitar 70,2 juta orang menggunakan produk tembakau. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan prevalensi merokok tertinggi di dunia.

Komnas PT menyebut Indonesia bahkan diproyeksikan menjadi salah satu dari sedikit negara yang masih mengalami peningkatan jumlah perokok dalam dekade mendatang, ketika banyak negara lain justru menunjukkan tren penurunan.

Hasil “Omelan”
Hanifah yang mengaku tak pernah bosan mengingatkan suaminya untuk berhenti merokok, mungkin satu di antara sekian banyak istri yang bijak. Peran istri cukup besar dalam menjaga dan menyadarkan suami agar hidup sehat.

“Bukan apa ya, kalau suami sakit gara-gara rokok kan yang repot semua keluarga. Bukan cuma saya, tapi anak-anak juga bisa jadi korban, bisa ketularan penyakitnya. Pengeluaran uang juga jadi lebih boros,” ungkapnya.

Hanifah bercerita, meski baru beberapa bulan, “omelannya” kepada suami lumayan membuahkan hasil. Sang suami yang karyawan perusahaan swasta di Jakarta, perlahan mengurangi rokok. Sejak itu, Hanifah pun kerap membuatkan menu ayam goreng lebih banyak sebagai pengganti rokok. Tak ada hubungannya memang antara rokok dan ayam goreng, tapi kebetulan suaminya suka dengan ayam goreng.

Yes, alhamdulillah sudah mulai berubah, suami jarang ngerokok kalau di rumah. Tapi enggak tahu ya kalau di luar rumah, soalnya saya enggak bisa ngawasi terus,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Langkah kecil yang dilakukan ibu rumah tangga ini sebenaranya cukup efektif untuk mencegah keburukan merokok di lingkungan keluarga. Mengalihkan anggota keluarga ke jalan yang benar dan menggantinya dengan ayam goreng, telur, atau bisa dengan olahan menu lain yang menyehatkan.

Andai saja yang dilakukan Hanifah juga dilakukan oleh sebagian besar ibu rumah tangga di negeri ini, niscaya tingkat konsumsi sumber protein hewani di Indonesia bakal meningkat. Tentu saja dengan syarat, para suami mau berubah. Hingga saat ini, jika menyimak data tingkat konsumsi daging dan telur ayam di dalam negeri masih belum naik secara signifikan.

Data Kementerian Pertanian (Kementan) kuartal I 2026, menyebutkan konsumsi daging ayam di Indonesia pada 2025 tercatat mengalami tren peningkatan, mencapai rata-rata sekitar 13,21 kg/kapita/tahun. Angka ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan protein hewani masyarakat serta didukung oleh program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kementan mengklaim, rata-rata konsumsi per kapita meningkat sekitar 3% dari tahun sebelumnya, menempatkan daging ayam sebagai sumber protein hewani yang paling mendominasi di Tanah Air.

Total estimasi kebutuhan konsumsi daging ayam ras nasional mencapai sekitar 3,87 juta ton. Kebutuhan ini dapat terpenuhi dengan baik melalui produksi dalam negeri yang diperkirakan mencapai 4,25 juta ton, menjadikan pasokan daging ayam nasional surplus.

Kalau Sudah Kronis
Penyandingan antara tingkat konsumsi daging dan telur ayam dengan konsumsi rokok masyarakat Indonesia setiap tahun sering menjadi trending topik. Dua kutub yang saling berseberangan, kutub satu menyehatkan dan kutub lainnya jadi sumber penyakit. Trending topik sering terjadi di tiap pertengahan tahun, saat peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, setiap 31 Mei.

Fenomena tahunan ini juga kerap mendapat perhatian dari para pakar gizi dari berbagai perguruan tinggi. “Fenomena semacam ini memang sulit diterima akal sehat. Kebutuhan asupan gizi untuk keluarga kadang harus dikalahkan sama kebutuhan rokok yang hanya jadi candu dan sumber penyakit,” ungkap Pakar gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Erwanto kepada Infovet.

Dosen ini tak habis pikir, jika dalam sehari orang menghabiskan Rp 20.000 lebih untuk membeli rokok setiap hari. Artinya, dalam sebulan Rp 600.000 dibakar begitu saja. Ia mengamsusikan jika dibelikan telur, dengan aumsi Rp 30.000, maka sebulan dia bisa beli 20 kg telur. Keluarga sehat, gizi terpenuhi, rumah juga bersih tanpa asap rokok.

Erwanto berpendapat, masalah rendahnya tingkat konsumsi daging dan telur ayam di Indonesia bukan semata-mata karena daya beli masyarakat masih rendah. Tetapi ini terkait erat dengan gaya hidup masing-masing orang. Gaya hidup tak melulu berkaitan dengan pergi ke club malam, karaoke, minum minuman keras, membeli barang-barang mewah, atau plesiran ke tempat wisata. Tapi, merokok pun jadi bagian dari gaya hidup seseorang.

Pakar gizi ini berargumen, kalangan perokok sangat sulit untuk mengurangi jatah rokoknya. Bahkan, ketika tidak memiliki uang sekalipun, para perokok berat akan mencari cara lain untuk bisa mendapatkan rokok, entah dengan meminta atau utang ke warung tetangga.

“Artinya pokok persoalan utama adalah pemahaman masyarakat dan kebiasan sebagian masyarakat kita yang memang lebih untuk tetap merokok, bagaimana pun kondisinya,” katanya.

Sebab itu, Erwanto sependapat dengan anggapan sebagian orang bahwa merokok yang tiada henti merupakan salah satu gaya hidup buruk yang paling sulit dihentikan. Gaya hidup ini bukan hanya dilakukan orang-orang yang memiliki duit lebih, tapi juga orang-orang yang hidup pas-pasan. Orang akan berhenti merokok, biasanya kalau sudah terserang penyakit kronis. (AK)

STRATEGI CERDAS KENDALIKAN STRES OKSIDATIF, MENJAGA KESEHATAN DAN PERFORMA UNGGAS MODERN


Di banyak kandang modern, ayam terlihat aktif, bulu rapi, dan nafsu makan normal. Namun ketika ditimbang atau dievaluasi, performa justru tidak sesuai harapan. Bobot badan tertinggal, FCR memburuk, atau produksi telur mulai menurun tanpa sebab yang jelas. Kondisi seperti ini sering membuat peternak bingung. Salah satu penyebab yang kerap luput dari perhatian adalah stres oksidatif.

Stres oksidatif bukan penyakit menular dan tidak selalu menimbulkan gejala klinis yang mencolok. Justru karena sifatnya yang “diam-diam”, kondisi ini sering menjadi penyebab turunnya performa secara perlahan namun konsisten.

Apa Sebenarnya Stres Oksidatif Itu?
Stres oksidatif terjadi ketika tubuh ayam mengalami ketidakseimbangan antara zat perusak yang disebut radikal bebas dengan kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Dalam kondisi normal, radikal bebas selalu terbentuk sebagai bagian dari proses metabolisme. Masalah muncul ketika jumlahnya terlalu banyak, sementara sistem pertahanan tubuh tidak mampu mengimbanginya.

Ketika hal ini terjadi, sel-sel tubuh ayam mulai mengalami kerusakan. Dinding sel menjadi rapuh, jaringan usus terganggu, fungsi hati menurun, dan sistem kekebalan melemah. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh dan berproduksi justru habis untuk memperbaiki kerusakan di dalam tubuh.

Dari Mana Stres Oksidatif Berasal di Kandang?
Salah satu pemicu utama stres oksidatif adalah stres lingkungan, terutama suhu tinggi. Heat stress membuat ayam bekerja ekstra keras untuk menurunkan suhu tubuhnya. Proses ini meningkatkan pembentukan radikal bebas secara signifikan. Semakin lama ayam terpapar panas, semakin besar risiko kerusakan sel yang terjadi.

Selain suhu, kepadatan kandang yang tinggi, ventilasi kurang optimal, litter basah, dan kadar amonia yang tinggi juga memperparah kondisi stres. Ayam yang hidup dalam lingkungan seperti ini berada dalam tekanan terus-menerus, meskipun tidak terlihat sakit.

Dari sisi nutrisi, penggunaan bahan baku berkualitas rendah, lemak yang sudah teroksidasi, serta pakan yang tidak seimbang juga dapat menjadi sumber stres oksidatif. Bahkan proses vaksinasi dan infeksi ringan yang tidak terdeteksi pun dapat meningkatkan beban oksidatif tubuh ayam.

Mengapa Stres Oksidatif Merugikan?
Dampak stres oksidatif jarang bersifat langsung dan drastis. Namun dalam jangka menengah hingga panjang, kerugiannya sangat terasa. Ayam menjadi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC 

MENJAGA PRODUKTIVITAS AYAM SAAT STRES MENGANCAM

Ayam yang dipelihara dalam sistem open house. (Foto: Gemini)

Ketika stres oksidatif menyerang, berbagai solusi diupayakan agar ayam nyaman dan produksi tetap aman.

Pada hakikatnya stres panas adalah efek gabungan dari suhu dan kelembapan relatif udara pada ayam yang dikenal sebagai suhu efektif. Meningkatkan kelembapan udara pada suhu berapapun akan meningkatkan ketidaknyamanan ayam dan stres panas.

Peternak harus hati-hati memantau suhu dan kelembapan di lokasi mereka. Umumnya, pada siang hari, suhu meningkat dan kelembapan relatif menurun. Metode pendinginan terbaik selama periode kelembapan rendah adalah pendinginan evaporatif (fogger, mister-pembuat kabut atau cool pad).

Sedangkan pada malam hari ketika suhu turun dan kelembapan biasanya meningkat, kelembapan tambahan yang disediakan oleh pengabut dapat meningkatkan tekanan panas. Saat kelembapan tinggi, peningkatan pergerakan udara dengan menggunakan kipas saja akan mengurangi tekanan panas di kandang terbuka.

Pergerakan udara menghasilkan efek wind chill yaitu penurunan suhu udara yang dirasakan oleh tubuh akibat adanya aliran udara. Tabel indeks tekanan panas untuk ayam petelur komersial telah dikembangkan.

Mengetahui Aspek yang Wajib Dibenahi
Regional Technical Manager Cobb-Vantress, Amin Suyono, menyatakan bahwa penyebab heat stress memang ada pengaruh dari lingkungan, namun demikian kualitas aspek manajemen pemeliharaan juga dapat mengurangi maupun menambah risiko keparahan kasus.

Sebagai contoh manajemen perkandangan yang kurang baik. Mulai dari konstruksi, jenis kandang, kepadatan kandang, manajemen ventilasi, bahkan bahan baku konstruksi kandang juga akan memengaruhi aspek tersebut.

“Terlebih lagi di negara kita masih banyak sistem open, di mana ini akan meningkatkan risiko cekaman heat stress baik di musim panas, maupun musim dingin terlebih ketika salah dalam mengatur ventilasi (menutup rapat ventilasi, dan lain-lain). Oleh karenanya closed house jadi solusi instan,” tutur dia.

Meskipun begitu, dibutuhkan modal yang besar dalam membangun closed house yang juga disertai oleh daya listrik yang menunjang, serta tenaga kerja yang terampil. Jadi menurut Amin, hanya tinggal memilih saja yang penting sudah tau titik kritis dan cara mengakalinya. 
Selain kandang, Amin juga menyinggung mengenai nutrisi. Pemberian ransum dengan kandungan nutrisi, terutama protein kasar yang berlebih bisa memperparah kasus heat stress.

Kelebihan protein kasar akan diuraikan oleh tubuh ayam untuk dibuang bersama feses. Penguraian protein kasar ini akan menghasilkan panas tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pencernaan karbohidrat ataupun lemak. Selain itu, protein kasar yang terbuang bersama feses akan diuraikan oleh bakteri yang ada di dalam feses menjadi amonia dan panas.

Kesadaran untuk Mencegah dan Bersahabat dengan Cuaca
Di musim panas, nantinya kasus... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

STRES OKSIDATIF, MUSUH TAK KASATMATA DI BALIK TURUNNYA PERFORMA

Mekanisme Penghilangan panas pada ayam. (Sumber: Hy-Line 2016)

Dalam industri perunggasan modern, peternak sering kali berhadapan dengan situasi yang membingungkan. Ayam tampak sehat, konsumsi pakan relatif normal, tidak ada gejala penyakit yang mencolok, namun performa produksi perlahan menurun. Bobot badan tidak mencapai target, konversi pakan memburuk, produksi telur menurun, kualitas karkas berkurang, dan respons vaksinasi tidak optimal. Di balik berbagai gejala yang tampak samar tersebut, sering kali terdapat satufaktor yang luput dari perhatian, yaitu stres oksidatif.

Stres oksidatif atau di Indonesia biasa dikaitkan dan disebut dengan stres panas/heat stress bukanlah penyakit. Ia merupakan kondisi fisiologis ketika tubuh unggas mengalami ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya.

Kondisi ini dapat terjadi pada broiler, layer, breeder, itik, puyuh, hingga unggas lainnya. Bahkan pada peternakan dengan manajemen yang baik sekalipun, stres oksidatif tetap dapat muncul apabila faktor pemicunya tidak terkendali.

Memahami Radikal Bebas
Untuk memahami stres oksidatif, pertama-tama perlu memahami apa yang disebut radikal bebas. Tony Unandar selaku konsultan perunggasan dan Anggota Dewan Pakar ASOHI, mengatakan bahwa radikal bebas adalah molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan sehingga sangat reaktif.

Dalam tubuh unggas, radikal bebas sebenarnya terbentuk secara alami sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Setiap kali sel menghasilkan energi melalui respirasi di mitokondria, sebagian kecil oksigen akan berubah menjadi senyawa reaktif yang dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS). Beberapa contoh ROS yakni superoksida (SO2-), radikal hidroksil (OH), dan lain sebagainya.

Selain ROS, terdapat pula reactive nitrogen species (RNS) yang berasal dari metabolisme nitrogen. Dalam jumlah terkendali, molekul-molekul ini justru memiliki fungsi penting. Mereka membantu sistem imun membunuh patogen, berperan dalam komunikasi antar sel, serta mengatur berbagai proses biologis. Masalah baru muncul ketika jumlah radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya. Pada saat itulah stres oksidatif mulai berkembang.

Mengapa Unggas Rentan Mengalami Stres Oksidatif?
Unggas modern memiliki karakteristik biologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap stres oksidatif dibandingkan nenek moyangnya. Broiler modern tumbuh sangat cepat. Dalam waktu sekitar 35 hari, berat badannya dapat mencapai lebih dari 2 kg. Pertumbuhan luar biasa ini membutuhkan aktivitas metabolisme yang sangat tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, sekaligus konsultan perunggasan. “Semakin tinggi metabolisme, semakin banyak... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

STRES OKSIDATIF, MUSUH TAK KASATMATA DI BALIK TURUNNYA PERFORMA

Mekanisme Penghilangan panas pada ayam. (Sumber: Hy-Line 2016)

Dalam industri perunggasan modern, peternak sering kali berhadapan dengan situasi yang membingungkan. Ayam tampak sehat, konsumsi pakan relatif normal, tidak ada gejala penyakit yang mencolok, namun performa produksi perlahan menurun. Bobot badan tidak mencapai target, konversi pakan memburuk, produksi telur menurun, kualitas karkas berkurang, dan respons vaksinasi tidak optimal. Di balik berbagai gejala yang tampak samar tersebut, sering kali terdapat satu faktor yang luput dari perhatian, yaitu stres oksidatif.

Stres oksidatif atau di Indonesia biasa dikaitkan dan disebut dengan stres panas/heat stress bukanlah penyakit. Ia merupakan kondisi fisiologis ketika tubuh unggas mengalami ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya.

Kondisi ini dapat terjadi pada broiler, layer, breeder, itik, puyuh, hingga unggas lainnya. Bahkan pada peternakan dengan manajemen yang baik sekalipun, stres oksidatif tetap dapat muncul apabila faktor pemicunya tidak terkendali.

Memahami Radikal Bebas
Untuk memahami stres oksidatif, pertama-tama perlu memahami apa yang disebut radikal bebas. Tony Unandar selaku konsultan perunggasan dan Anggota Dewan Pakar ASOHI, mengatakan bahwa radikal bebas adalah molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan sehingga sangat reaktif.

Dalam tubuh unggas, radikal bebas sebenarnya terbentuk secara alami sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Setiap kali sel menghasilkan energi melalui respirasi di mitokondria, sebagian kecil oksigen akan berubah menjadi senyawa reaktif yang dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS). Beberapa contoh ROS yakni superoksida (SO2-), radikal hidroksil (OH), dan lain sebagainya.

Selain ROS, terdapat pula reactive nitrogen species (RNS) yang berasal dari metabolisme nitrogen. Dalam jumlah terkendali, molekul-molekul ini justru memiliki fungsi penting. Mereka membantu sistem imun membunuh patogen, berperan dalam komunikasi antar sel, serta mengatur berbagai proses biologis. Masalah baru muncul ketika jumlah radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya. Pada saat itulah stres oksidatif mulai berkembang.

Mengapa Unggas Rentan Mengalami Stres Oksidatif?
Unggas modern memiliki karakteristik biologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap stres oksidatif dibandingkan nenek moyangnya. Broiler modern tumbuh sangat cepat. Dalam waktu sekitar 35 hari, berat badannya dapat mencapai lebih dari 2 kg. Pertumbuhan luar biasa ini membutuhkan aktivitas metabolisme yang sangat tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, sekaligus konsultan perunggasan. “Semakin tinggi metabolisme, semakin banyak oksigen yang digunakan. Semakin banyak oksigen digunakan, semakin besar pula pembentukan ROS,” tutur Wayan.

Sementara pada ayam petelur modern yang mampu menghasilkan lebih dari 300 butir telur/tahun. Produktivitas yang tinggi ini juga meningkatkan tekanan metabolik yang besar terhadap tubuh. Dengan kata lain, kemajuan genetika yang menghasilkan unggas berproduksi tinggi secara tidak langsung juga meningkatkan risiko terjadinya stres oksidatif.

Ia melanjutkan bahwa unggas termasuk... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

MUSUH DALAM SELIMUT YANG HARUS DIWASPADAI

Kapang/jamur dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Anomali iklim dan cuaca melanda, kekhwatiran insan perunggasan tetap sama, mikotoksin. Senyawa tak kasat mata yang bisa mencemari bahan baku dan pakan jadi tersebut masih menjadi momok bersama dalam industri pakan.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar di antara 2000-3000 mm/tahun, Indonesia merupakan negara yang cukup “nyaman” sebagai tempat hidup kapang/jamur.

Masalahnya kapang/jamur tersebut dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung dan kedelai yang merupakan bahan baku pakan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan sangat rentan terhadap kontaminasi toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut.

Faktor iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen dan handling di lapangan, membuat mikotoksin tidak bisa dielakkan, sehingga mengakibatkan potensi kerugian yang besar.

Sejatinya, toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak sering didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia.

Berbagai Jenis Mikotoksin
Dalam industri pakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang sangat ditakuti mencemari bahan baku maupun pakan jadi, ketujuhnya kerap mengontaminasi dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel.

Menurut Nutrisionis BEC Feed Solution, Mega Pratiwi Saragi, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tuturnya.

Maksudnya adalah kebanyakan petani jagung di Indonesia hanya mengandalkan iklim dalam mengeringkan jagungnya dengan bantuan sinar matahari/manual. Mungkin ketika musim panas hasil pengeringan akan baik, namun pada musim basah (penghujan) tentu tidak bisa diandalkan.

“Jika pengeringan tidak sempurna, kadar air dalam jagung akan tinggi, sehingga disukai oleh kapang. Lalu kapang akan berkembang di situ dan menghasilkan toksin,” tambahnya.

Masih masalah iklim menurut Mega, Indonesia yang beriklim tropis merupakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer