-->

ANTISIPASI POTENSI KELEMAHAN DALAM PENANGANAN CRD KOMPLEKS

Ayam menunjukkan gejala respirasi (gasping) akibat infeksi mycoplasma. (Foto: Istimewa)

Di beberapa layer farm yang penulis kunjungi, keluhan yang sering terdengar adalah ngorok tidak hilang meski sudah dua kali terapi, FCR naik tanpa sebab yang jelas, atau ayam batuk ringan yang tiba-tiba memburuk seminggu setelah ada perlakuan vaksinasi. Pola seperti itu hampir selalu mengarah ke satu hal yang sama, yaitu CRD tidak lagi datang sendirian, melainkan bersamaan dengan E. coli, virus pernapasan, dan kondisi kandang yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda bahaya sejak awal.

Bentuk rombongan inilah yang dalam literatur disebut complicated chronic respiratory disease (CCRD). Kombinasi Mycoplasma dengan infeksi sekunder E. coli, ND, IB, AMPV, ILT, dan lain sebagainya saling memperberatkan satu sama lain dan menimbulkan kerugian ketika produksi sudah telanjur turun.

Dua Wajah Mycoplasma yang Tidak Sama
Banyak yang masih menyamaratakan Mycoplasma gallisepticum (MG) dan Mycoplasma synoviae (MS), padahal keduanya punya karakter berbeda dan menuntut strategi deteksi yang berbeda pula.

MG relatif memiliki gejala yang konsisten, lebih mudah dikenali, dan masih cukup responsif terhadap antibiotik. Kerugian dapat muncul karena FCR naik, penurunan produksi telur, ditambah penurunan daya tetas pada breeder.

Sementara untuk MS jauh lebih sulit dideteksi. Infeksi tunggalnya sering tidak bergejala sama sekali dan baru terlihat jelas saat berkomplikasi dengan virus atau bakteri lain. MS juga tidak sebaik MG dalam merespons antibiotik, dan ayam yang pernah terpapar MS akan menjadi carrier sepanjang hidupnya dan terus berpotensi menularkan meski flock tampak sehat-sehat saja. Bila dibiarkan tanpa pengendalian sejak dini, penurunan produksi telur akibat MS bisa mencapai sekitar 7%, juga berdampak pada kualitas kerabang (jumlah telur kualitas II meningkat) yang sering luput dari perhatian.

Titik lemah pertama justru muncul di sini, banyak peternakan masih menganggap “Mycoplasma ya mycoplasma”, tanpa membedakan pendekatan diagnosis dan kontrol untuk masing-masing spesies.

Apa Kata Data Lapangan
Surveilans nasional yang dilakukan pada 350 sampel layer komersial di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi sepanjang 2025, memberikan gambaran cukup mengejutkan. Prevalensi MS secara keseluruhan tercatat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. 

Ditulis oleh:
Drh. A. Riwanda
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Head Office – Jl. Dr Saharjo, No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id 

CRD BUKAN SEKADAR INFEKSI: SAAT KECERNAAN NUTRISI MENJADI KUNCI KESEHATAN PERNAPASAN AYAM


Selama ini, chronic respiratory disease (CRD) pada ayam broiler maupun layer lebih sering dikaitkan dengan infeksi Mycoplasma gallisepticum (MG), yang dikenal sebagai salah satu patogen utama penyebab gangguan saluran pernapasan. Tidak mengherankan jika berbagai upaya pengendalian di lapangan masih didominasi oleh penggunaan antibiotik, vaksinasi, peningkatan biosekuriti, serta perbaikan ventilasi kandang.

Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan MG tidak selalu berujung pada gejala klinis yang berat. Sebaliknya, banyak peternakan mengalami kasus CRD yang kompleks akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari tingginya kadar amonia, kualitas litter yang buruk, kepadatan kandang, stres lingkungan, hingga ketidakseimbangan nutrisi pakan.

Perkembangan ilmu nutrisi unggas dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kesehatan saluran pernapasan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan saluran pencernaan. Konsep gut-lung axis menjelaskan adanya komunikasi biologis antara usus dan paru-paru melalui sistem imun mukosa, metabolit mikrobiota, serta mediator inflamasi. Artinya, kualitas nutrisi yang dikonsumsi ayam dan kemampuan saluran pencernaan dalam mencerna serta menyerap nutrient akan sangat menentukan kemampuan ayam menghadapi tantangan penyakit respirasi, termasuk CRD.

Ketika Kecernaan Nutrisi Menentukan Ketahanan Ayam
Tujuan utama formulasi pakan bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi berdasarkan angka kandungan protein atau energi, tetapi memastikan bahwa nutrien tersebut benar-benar dapat dicerna dan dimanfaatkan secara optimal oleh ayam. Nutrisi yang memiliki kecernaan tinggi akan menghasilkan penyerapan asam amino dan energi yang lebih efisien, sehingga mendukung pertumbuhan, produksi telur, sekaligus memperkuat sistem imun.

Sebaliknya, nutrien yang tidak tercerna akan menjadi substrat bagi bakteri di saluran pencernaan bagian bawah. Fermentasi protein oleh bakteri proteolitik menghasilkan berbagai senyawa seperti amonia, amina biogenik, indol, dan hidrogen sulfida yang bersifat iritatif terhadap mukosa usus. Kondisi ini memicu dysbiosis, meningkatkan permeabilitas usus (leaky gut), dan mengaktifkan respons inflamasi sistemik.

Dampaknya tidak hanya terbatas pada saluran pencernaan, tetapi juga memengaruhi jaringan mukosa saluran pernapasan sehingga ayam menjadi lebih rentan terhadap kolonisasi MG maupun infeksi bakteri sekunder seperti E. coli. Dengan kata lain, kesehatan saluran pernapasan sebenarnya dimulai dari usus yang sehat.

Protein Berlebih: Produktif atau Justru Menjadi Beban?
Masih banyak dijumpai anggapan bahwa peningkatan kadar protein kasar dalam pakan akan selalu menghasilkan performa yang lebih baik. Padahal, ayam tidak membutuhkan protein dalam jumlah berlebih, melainkan keseimbangan asam amino yang dapat dicerna sesuai kebutuhannya.

Protein yang tidak terserap akan mengalami proses deaminasi dan akhirnya diekskresikan sebagai nitrogen. Semakin tinggi protein yang terbuang, semakin besar pula nitrogen yang dikeluarkan melalui ekskreta. Di dalam litter, nitrogen tersebut akan diuraikan mikroorganisme menjadi gas amonia, terutama ketika kelembapan kandang tinggi dan ventilasi kurang optimal.

Inilah salah satu hubungan paling nyata antara nutrisi dan penyakit respirasi. Formulasi pakan yang kurang efisien tidak hanya meningkatkan biaya pakan, tetapi juga meningkatkan pencemaran udara di dalam kandang yang pada akhirnya memperbesar risiko gangguan pernapasan.

Pendekatan precision nutrition yang saat ini berkembang di industri global justru menekankan penggunaan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

PENYAKIT NGOROK YANG MASIH MENJADI MOMOK

Temuan umum patologi anatomis dari CRD (A dan B) pericarditis, perihepatitis, dan air sacculitis pada broiler. (C dan D) hal yang sama terjadi pada unggas layer. (Sumber: Marouf et al. 2022)

Penyakit pernapasan pada unggas merupakan salah satu tantangan utama yang menjadi momok menakutkan. Terlebih lagi aspek kesehatan ternak juga memiliki korelasi dengan produktivitas. Salah satu yang kerap menjadi residivis di Indonesia adalah mycoplasmosis alias chronic respiratory disease (CRD) yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum.

Ngorok biasa disebut peternak atau CRD kerap ditemui dalam suatu peternakan unggas. CRD adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan ayam dan bersifat kronis. Disebut “kronis” karena penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu lama dan sulit untuk disembuhkan.

Si Penyebab Ngorok
Biang keladi dari penyakit ngorok tadi tidak lain adalah Mycoplasma gallisepticum (MG), yang biasa disebut sebagai organisme mirip bakteri (bacteria-like organism). Berbagai praktisi perunggasan lokal maupun mancanegara bahkan menyebut MG sebagai salah satu patogen yang paling merugikan dalam industri unggas.

Dibalik ukurannya yang sangat kecil dan sederhana, MG memiliki kemampuan untuk menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan di seluruh dunia melalui penurunan produktivitas, peningkatan biaya pengobatan, dan peningkatan mortalitas pada unggas.

Dalam sebuah seminar mengenai penyakit pernapasan pada unggas, Veterinary Service Manager PT Ceva Indonesia, Drh Fauzi Iskandar, menerangkan mengenai sifat dan karakteristik MG. Ia mengatakan bahwa MG adalah bakteri dari kelompok Mycoplasma yang unik karena tidak memiliki dinding sel.

Hal ini membuatnya sangat sulit untuk diberantas dengan antibiotik biasa terutama yang bekerja dengan cara mengganggu sintesis dinding sel bakteri. Bakteri ini berbentuk pleomorfik dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan, membuatnya sulit dideteksi dan dikendalikan di peternakan unggas.

“Penggunaan antibiotik yang melisiskan dinding sel tentu tidak akan efektif, oleh karenanya MG ini sangat sulit diberantas, meskipun begitu bukan tidak mungkin untuk dikendalikan, hanya saja butuh “jurus khusus” dalam pengendaliannya,” tutur Fauzi.

Ia melanjutkan, MG dapat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. (CR)

MAKSIMALKAN PERFORMA GENETIK DENGAN BERBAGAI CARA

Pentingnya fase brooding menjadi penentu keberhasilan budi daya unggas broiler. (Foto: Istimewa)

Perkembangan pesat di sisi genetik harus dibarengi pengaplikasian yang apik dari berbagai aspek agar potensi tersebut maksimal. Hal ini mutlak harus dilakukan oleh setiap pembudidaya agar performa ayam maksimal.

Perbuatan baik akan kembali kepada pelakunya, begitupun perbuatan buruk. Pepatah demikian berlaku dalam pemeliharaan ayam, kadang perlakuan yang diberikan dengan maksud baik pun bisa berdampak buruk, apabila kurang memahami karakteristik ayam modern. Oleh karena itu, peternak harus memahami bagaimana sejatinya memperlakukan si ayam zaman now agar performanya maksimal.

Penuhi Kebutuhan Dasar Ayam Modern
Regional Technical Manager Cobb-Vantress Asia Pacific, Amin Suyono, menjabarkan mengenai perkembangan genetik ayam broiler sejak 1950-an hingga kini. Di mana pada 1950-an presentase daging dada yang dihasilkan oleh karkashanya 11,5%, sedangkan di masa kini presentasenya meningkat 2,5 kali lipatnya.

Meskipun begitu menurut Amin, dibutuhkan manajemen pemeliharaan yang baik untuk memenuhi potensi genetik yang luar biasa tersebut. Yang apabila ada satu aspek yang gagal dipenuhi, potensi tersebut tidak termanfaatkan secara maksimal.

“Memang tidak bisa dipungkiri, kita harus memenuhi hal ini. Karena dalam standar kita ayam memang diseleksi sedemikian rupa. Oleh karena perkembangan teknologi maka tata laksana pemeliharaan haruslah tepat,” kata Amin.

Brooding Berhasil, Performa Stabil
Dibutuhkan langkah konkret di lapangan agar performa broiler modern dapat mencapai potensi maksimalnya. Menurut Amin, sukses tidaknya membudidayakan broiler dapat diukur dari seberapa besar keberhasilan dalam fase brooding.

“Pada prinsipnya brooding ini adalah sprint bukan marathon, jadi dalam sprint start adalah kunci kemenangan. Kita harus fokus pada hal dasar dan menjalankan detail dengan sebaik mungkin,” ucapnya.

Aspek pertama yang perlu diperhatikan sebelum chick in menurutnya yakni dari segi sanitasi, disinfeksi, dan istirahat kandang. Ke semuanya akan berkaitan dengan kesehatan ayam karena sebelum ayam masuk, kandang dikondisikan sebersih mungkin dengan tingkat ancaman infeksius terendah.

Ia menekankan, brooding merupakan periode transisi di mana ayam ditaruh di tempat dengan kondisi suhu yang berbeda dari sebelumnya. Apabila suhu brooding tidak tepat, maka intake pakan dan air minum tidak akan maksimal. Amin mengatakan, perlu dilakukan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026. (CR)

TANTANGAN DAN STRATEGI MANAJEMEN DARI GPS HINGGA KOMERSIAL


Dalam dua dekade terakhir, industri perunggasan global mengalami lompatan besar yang didorong kemajuan genetik broiler. Seleksi genetik yang semakin presisi telah menghasilkan ayam dengan pertumbuhan lebih cepat, efisiensi pakan yang lebih baik, serta kapasitas produksi daging yang semakin tinggi.

Namun, di balik peluang tersebut, muncul tantangan baru yang menuntut pendekatan manajemen yang jauh lebih akurat, khususnya pada level pembibitan (breeder) hingga broiler komersial. Tren genetik broiler modern tidak lagi hanya berbicara tentang pertumbuhan, tetapi juga keseimbangan antara performa produksi, kesehatan, dan keberlanjutan sistem produksi.

Perubahan genetik ini memengaruhi seluruh rantai produksi, mulai dari great grand parent stock (GPS), parent stock (PS), hingga broiler komersial. Setiap level memiliki karakteristik biologis dan kebutuhan manajemen yang berbeda, namun saling terhubung secara erat. Kesalahan pengelolaan pada level hulu akan berdampak langsung pada performa di level hilir.

Oleh karenaitu, pemahaman menyeluruh terhadap tren genetik terbaru menjadi kunci bagi praktisi perunggasan dalam menjaga daya saing dan profitabilitas.

Karakteristik Genetik Broiler Generasi Baru
Broiler modern cenderung menunjukkan kematangan seksual yang lebih awal, laju pertumbuhan yang agresif, serta respons yang sangat cepat terhadap perubahan nutrisi dan lingkungan. Pada sisi positif, hal ini membuka peluang peningkatan total produksi telur breeder, perbaikan feed conversion ratio (FCR), dan peningkatan output daging pada broiler komersial.

Namun di sisi lain, ayam dengan potensi genetik tinggi juga lebih sensitif terhadap kesalahan manajemen, terutama terkait pengaturan pakan, energi, dan komposisi nutrisi.

Salah satu karakter utama genetik baru adalah pola produksi yang lebih cepat naik (fast production increase) dengan puncak produksi yang dicapai lebih dini. Kondisi ini menuntut sistem manajemen yang proaktif, bukan reaktif. Peternak dan manajer farm tidak lagi memiliki ruang toleransi yang besar terhadap keterlambatan penyesuaian pakan atau ketidaktepatan alokasi nutrisi.

Dinamika Manajemen pada Level GPS
Pada level GPS, fokus utama bukan hanya pada kuantitas produksi telur, tetapi juga kualitas genetik dan konsistensi performa reproduksi. Ayam GPS membawa potensi genetik tertinggi, sehingga kesalahan kecil dalam manajemen dapat berdampak besar secara berantai hingga ke broiler komersial. Tren genetik terbaru menunjukkan bahwa ayam GPS juga mengalami kematangan lebih awal, sehingga program feeding dan body weight control harus disusun dengan sangat ketat.

Pengendalian cadangan lemak (fat reserve) menjadi isu krusial pada level ini. Fat reserve above the target pada breeding farm menunjukkan bahwa cadangan lemak tubuh breeder melebihi standar ideal. Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan persistensi produksi telur, fertilitas, dan hatchability, serta meningkatkan risiko fatty liver. Umumnya, masalah ini berkaitan dengan kelebihan asupan energi, ketidakseimbangan energi-protein, atau manajemen feeding yang kurang presisi. Oleh karena itu, monitoring body weight, body composition, dan keseragaman flock menjadi fondasi utama dalam pengelolaan GPS modern.

Parent Stock, Titik Kritis Produksi dan Reproduksi
Level PS merupakan titik kritis yang menjembatani potensi genetik dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh: 
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

PERBAIKAN GENETIK DENGAN SEGALA EFEK SAMPINGNYA

Skema persilangan ayam broiler komersil. (Foto: Istimewa)

Peternakan ayam, terutama broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien. Industri ini terus berkembang dengan kemajuan dalam pemuliaan, nutrisi, dan praktik manajemen untuk memenuhi permintaan daging ayam yang terus meningkat.

Selama bertahun-tahun, seleksi ayam pedaging telah difokuskan pada peningkatan efisiensi konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan, hasil daging, dan kualitasnya. Hal ini menghasilkan ayam dengan rasio konversi pakan yang tinggi dan laju pertumbuhan yang cepat, selain itu dagingnya empuk dan diterima secara luas di seluruh dunia.

Industri broiler telah berkembang pesat karena tingginya permintaan daging ayam. Broiler telah menjadi alternatif popular terhadap daging sapi dan babi, sebagian karena laju pertumbuhannya yang cepat dan biaya produksi yang lebih rendah, dengan lebih dari 70 miliar ayam dipotong setiap tahun di seluruh dunia (Mace & Knight, 2022). Peternakan unggas, khususnya produksi broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien (Gržinić et al., 2023).

Genetika broiler telah memanfaatkan gudang materi genetik yang dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan selama puluhan tahun. Hal ini memungkinkan penerapan, yang memungkinkan industri menyediakan produk daging yang terjangkau yang sebagian besar berasal dari sumber tanaman kepada konsumen global.

Seleksi genetika broiler selama 60 tahun terakhir telah berfokus secara sempit dan intensif pada sifat-sifat produksi yaitu laju pertumbuhan dan efisiensi pakan. Hal ini telah menyebabkan masalah kesejahteraan yang signifikan pada unggas yang dipelihara untuk daging termasuk gangguan kaki, penyakit kardiovaskular, dan akibatnya tingkat kematian yang tinggi, sementara unggas indukan mengalami pembatasan pakan yang parah.  Masalah tulang seperti kondronekrosis bakteri dan dyschondroplasia tibia lazim terjadi dan studi terbaru melaporkan prevalensi unggas dengan gangguan gaya berjalan sedang hingga berat berkisar antara 5.5-48.5 %.

Di seluruh dunia, lebih dari 70 miliar ekor broiler di sembelih setiap tahunnya. Skala produksi ayam pedaging yang sangat besar ini berarti bahwa masalah kesejahteraan tersebar luas dan kemungkinan akan meningkat keparahannya karena meningkatnya populasi manusia global, meningkatnya permintaan daging, dan fokus yang berkelanjutan pada efisiensi produksi di sektor pertanian.

Oleh karena itu, industri broiler mewakili beberapa masalah kesejahteraan hewan yang paling serius di bidang pertanian. Ada kebutuhan mendesak untuk mengatasi masalah ini dengan menjadikan sifat-sifat kesejahteraan sebagai prioritas utama dalam program pemuliaan dan mengintegrasikannya dengan tujuan pemuliaan lainnya. Banyak penelitian merekomendasikan penggunaan jenis unggas yang pertumbuhannya lebih lambat dan tidak memiliki masalah kesejahteraan yang sama. Mengatasi masalah kesejahteraan ini sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan unggas serta untuk penerimaan sosial dan keberlanjutan industri broiler di seluruh dunia.

Bagaimana Ayam Pedaging Komersial Telah Berevolusi
Selama kurang lebih 40 tahun antara 1970-2007, ayam broiler telah mengalami evolusi dalam hal... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

MENELISIK POTENSI GENETIK AYAM MODERN

Pertumbuhan genetik ayam broiler modern. (Sumber: Ourworldindata.org, 2024)

Genetik ayam ras menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya performa produksi yang mengarah ke efisiensi. Seperti pada broiler, dimana saat ini pertumbuhannya lebih cepat dengan kemampuan konversi pakan yang lebih baik. Begitu pun pada unggas layer masa kini yang mempunyai lifespan yang lebih lama dan produktivitas yang lebih tinggi dari masa sebelumnya.

Monster untuk Memenuhi Kebutuhan Pasar
Berkat kemajuan di bidang teknologi serta seleksi breeding yang baik selama lebih dari 100 tahun, ayam ras mengalami perkembangan genetik yang sangat pesat. Hasilnya, broiler di masa kini semakin efektif dalam mengonversi pakan menjadi bobot badan sehingga menghasilkan daging yang lebih banyak yang tentunya dapat memenuhi keinginan pasar.

Pada penelitian terbaru, bahkan beberapa strain seperti Hubbard flex, Ross 308, dan Cobb 500 dapat mencapa bobot badan 2,3-2,5 kg dalam waktu 30-35 hari saja. Bayangkan, dari seekor DOC dengan berat 35-50 gram berkembang delapan kali lipatnya dalam sebulan.
Begitupun dengan ayam petelur modern juga didesain untuk kebutuhan ini. Dengan potensi menghasilkan telur yang bahkan diklaim mencapai 500 butir dalam waktu 100 minggu. 
 
Menurut Ketua Umum GPPU, Achmad Dawami, seleksi genetik broiler yang dilakukan selama ini telah meningkatkan produktivitasnya. Pada kurun waktu 1960 sampai 1970-an, untuk mencapai bobot hidup 1,3 kg membutuhkan masa pemeliharaan selama 84 hari, namun sekarang, dengan masa pemeliharaan kurang lebih 30-an hari, ayam broiler sudah mampu mencapai bobot hidup 2,5 kg.

“Potensi genetiknya memang memungkinkan untuk seperti itu, namun di lapangan sangat jarang peternak yang dapat mencapai potensi genetik maksimal dari si ayam. Oleh karenanya ini masih menjadi PR bersama, soalnya kalau potensi ini dapat dimaksimalkan, produksi kita akan lebih baik dari sekarang,” tutur Dawami.

Dirinya juga menyebut bahwa ke depannya kemungkinan besar ternak broiler masih akan menjadi sumber protein hewani primadona bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Pasalnya harga per gram proteinnya jika dibandingkan komoditas daging lainnya adalah yang termurah, sehingga hal ini juga akan berdampak pada tingginya permintaan pasar.

High Performance, High Maintenance
Memang benar dalam urusan performa tidak usah diragukan lagi dari segi pertumbuhan bobot per hari, konversi pakan, serta parameter pertumbuhan dari broiler sangat luar biasa. Namun begitu, sebagai kompensasinya aspek kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap stres dari ayam menjadi berkurang.

Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan. Menurutnya, ayam broiler saat ini memanglah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026. (CR)

MENGUBAH KEBIASAAN “JAHAT” DENGAN KONSUMSI PANGAN SEHAT

Mengalihkan gaya hidup yang lebih sehat dengan mengonsumsi protein hewani. (Foto: Istimewa)

“Omelan” istri terhadap suami untuk berhenti merokok cukup kuat pengaruhnya. Lebih kuat lagi apabila ada kejadian orang terdekat yang terserang penyakit kronis gara-gara “rajin” merokok sejak usia muda. Kisah ini buktinya.

Ini kisah nyata. Sepekan sebelum Lebaran Idul Fitri 1447 H lalu, tersiar berita duka di lingkungan Perumahan Bumi Sawangan Indah, Kota Depok, Jawa Barat. Alexandri, salah satu tokoh masyarakat di perumahan tersebut meninggal dunia, akibat kanker paru-paru akut. Diagnosis dokter yang menanganinya, penyebab terberat dari penyakit yang diderita disebabkan akibat konsumsi rokok.

Mendengar cerita sakit yang diderita orang tersebut sungguh memilukan. Sebelum berpulang, istri Alexandri sempat menyampaikan kepada dokter jika suaminya sudah merokok sejak masih sekolah menengah pertama (SMP). Jika dihitung sudah lebih dari 30 tahun merokok. Berbagai merek dan jenis rokok sudah dicobanya. Kendati ajal memang sudah jadi takdir, namun hadirnya penyakit kronis umumnya disebabkan oleh kebiasaan gaya hidup seseorang.

Gegara kejadian ini, rupanya sebagian tetangga terdekat mulai sadar dan pelan-pelan meninggalkan kebiasaan merokoknya. Setidaknya, mulai mengurangi. Para istri mereka tampaknya punya peran kuat mengingatkan suami.

“Ini memang jadi peringatan buat bapak-bapak di sini, biar bisa ngurangin rokok, termasuk suami saya. Hampir tiap hari saya ingetin suami, biar berhenti merokok. Saya bilang ke suami, itu udah ada contohnya,” tutur Hanifah, warga setempat.

Ibu rumah tangga ini mengaku tak bosan mengingatkan sang suami untuk pelan-pelan mengurangi rokok. Ia khawatir dengan kesehatan suami, setelah mengetahui kejadian memilukan tersebut.

“Sampai-sampai saya kadang bilang ke suami, Ayah kapan mau berhenti merokok. Ganti rokokmu dengan ayam goreng, itu lebih sehat,” lanjut Hanifah yang sehari-hari jualan ayam goreng.

Desakan ringan Hanifah kepada suaminya memang terlihat sederhana. Mengganti kebiasaan merokok dengan konsumsi ayam goreng, atau mungkin dengan camilan lain. Tetapi kalau dicerna ucapannya, ini pesan yang penting. Mengalihkan gaya hidup beracun ke gaya hidup yang lebih sehat.

Fenomena publik Indonesia dalam urusan rokok tiap tahun makin meningkat tingkat konsumsinya. Mengutip rilis yang dikeluarkan Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT), akhir Mei 2026 lalu, jumlah perokok dewasa di Indonesia terus bertambah dalam satu dekade terakhir. Data Komnas PT menyebutkan jumlah pengguna produk tembakau di Indonesia meningkat sekitar 8,8 juta orang dalam kurun 10 tahun terakhir.

Data tersebut merujuk pada Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021, yang dirilis kembali oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan pada 2024. Hasil survei menunjukkan sebanyak 34,5% penduduk dewasa Indonesia atau sekitar 70,2 juta orang menggunakan produk tembakau. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan prevalensi merokok tertinggi di dunia.

Komnas PT menyebut Indonesia bahkan diproyeksikan menjadi salah satu dari sedikit negara yang masih mengalami peningkatan jumlah perokok dalam dekade mendatang, ketika banyak negara lain justru menunjukkan tren penurunan.

Hasil “Omelan”
Hanifah yang mengaku tak pernah bosan mengingatkan suaminya untuk berhenti merokok, mungkin satu di antara sekian banyak istri yang bijak. Peran istri cukup besar dalam menjaga dan menyadarkan suami agar hidup sehat.

“Bukan apa ya, kalau suami sakit gara-gara rokok kan yang repot semua keluarga. Bukan cuma saya, tapi anak-anak juga bisa jadi korban, bisa ketularan penyakitnya. Pengeluaran uang juga jadi lebih boros,” ungkapnya.

Hanifah bercerita, meski baru beberapa bulan, “omelannya” kepada suami lumayan membuahkan hasil. Sang suami yang karyawan perusahaan swasta di Jakarta, perlahan mengurangi rokok. Sejak itu, Hanifah pun kerap membuatkan menu ayam goreng lebih banyak sebagai pengganti rokok. Tak ada hubungannya memang antara rokok dan ayam goreng, tapi kebetulan suaminya suka dengan ayam goreng.

“Yes, alhamdulillah sudah mulai berubah, suami jarang ngerokok kalau di rumah. Tapi enggak tahu ya kalau di luar rumah, soalnya saya enggak bisa ngawasi terus,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Langkah kecil yang dilakukan ibu rumah tangga ini sebenaranya cukup efektif untuk mencegah keburukan merokok di lingkungan keluarga. Mengalihkan anggota keluarga ke jalan yang benar dan menggantinya dengan ayam goreng, telur, atau bisa dengan olahan menu lain yang menyehatkan.

Andai saja yang dilakukan Hanifah juga dilakukan oleh sebagian besar ibu rumah tangga di negeri ini, niscaya tingkat konsumsi sumber protein hewani di Indonesia bakal meningkat. Tentu saja dengan syarat, para suami mau berubah. Hingga saat ini, jika menyimak data tingkat konsumsi daging dan telur ayam di dalam negeri masih belum naik secara signifikan.

Data Kementerian Pertanian (Kementan) kuartal I 2026, menyebutkan konsumsi daging ayam di Indonesia pada 2025 tercatat mengalami tren peningkatan, mencapai rata-rata sekitar 13,21 kg/kapita/tahun. Angka ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan protein hewani masyarakat serta didukung oleh program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kementan mengklaim, rata-rata konsumsi per kapita meningkat sekitar 3% dari tahun sebelumnya, menempatkan daging ayam sebagai sumber protein hewani yang paling mendominasi di Tanah Air.

Total estimasi kebutuhan konsumsi daging ayam ras nasional mencapai sekitar 3,87 juta ton. Kebutuhan ini dapat terpenuhi dengan baik melalui produksi dalam negeri yang diperkirakan mencapai 4,25 juta ton, menjadikan pasokan daging ayam nasional surplus.

Kalau Sudah Kronis
Penyandingan antara tingkat konsumsi daging dan telur ayam dengan konsumsi rokok masyarakat Indonesia setiap tahun sering menjadi trending topik. Dua kutub yang saling berseberangan, kutub satu menyehatkan dan kutub lainnya jadi sumber penyakit. Trending topik sering terjadi di tiap pertengahan tahun, saat peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, setiap 31 Mei.

Fenomena tahunan ini juga kerap mendapat perhatian dari para pakar gizi dari berbagai perguruan tinggi. “Fenomena semacam ini memang sulit diterima akal sehat. Kebutuhan asupan gizi untuk keluarga kadang harus dikalahkan sama kebutuhan rokok yang hanya jadi candu dan sumber penyakit,” ungkap Pakar gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Erwanto kepada Infovet.

Dosen ini tak habis pikir, jika dalam sehari orang menghabiskan Rp 20.000 lebih untuk membeli rokok setiap hari. Artinya, dalam sebulan Rp 600.000 dibakar begitu saja. Ia mengamsusikan jika dibelikan telur, dengan aumsi Rp 30.000, maka sebulan dia bisa beli 20 kg telur. Keluarga sehat, gizi terpenuhi, rumah juga bersih tanpa asap rokok.

Erwanto berpendapat, masalah rendahnya tingkat konsumsi daging dan telur ayam di Indonesia bukan semata-mata karena daya beli masyarakat masih rendah. Tetapi ini terkait erat dengan gaya hidup masing-masing orang. Gaya hidup tak melulu berkaitan dengan pergi ke club malam, karaoke, minum minuman keras, membeli barang-barang mewah, atau plesiran ke tempat wisata. Tapi, merokok pun jadi bagian dari gaya hidup seseorang.

Pakar gizi ini berargumen, kalangan perokok sangat sulit untuk mengurangi jatah rokoknya. Bahkan, ketika tidak memiliki uang sekalipun, para perokok berat akan mencari cara lain untuk bisa mendapatkan rokok, entah dengan meminta atau utang ke warung tetangga.

“Artinya pokok persoalan utama adalah pemahaman masyarakat dan kebiasan sebagian masyarakat kita yang memang lebih untuk tetap merokok, bagaimana pun kondisinya,” katanya.

Sebab itu, Erwanto sependapat dengan anggapan sebagian orang bahwa merokok yang tiada henti merupakan salah satu gaya hidup buruk yang paling sulit dihentikan. Gaya hidup ini bukan hanya dilakukan orang-orang yang memiliki duit lebih, tapi juga orang-orang yang hidup pas-pasan. Orang akan berhenti merokok, biasanya kalau sudah terserang penyakit kronis. (AK)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer