-->

CACING, PARASIT YANG (DIAM-DIAM) BIKIN PAILIT

Infestasi cacing dalam saluran pencernaan ayam dapat menimbulkan luka pada mukosa usus dan menjadi tempat masuknya penyakit lain. (Foto: Istimewa)

Perhatian sering kali lebih banyak tertuju pada penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri dan mikotoksin, namun masyarakat peternakan sering luput dengan penyakit parasitik seperti cacingan. Di luar sana, masih saja ditemui kasus kecacingan pada peternakan ayam.

Akibat dari penyakit kecacingan secara klinis memang tidak separah akibat dari penyakit viral maupun bakterial, sehingga cacingan dipandang sebelah mata. Pada awal kejadian, penyakit cacingan tidak menimbulkan kematian dan tidak terlihat pada data recording farm, berupa penurunan produksi telur. Namun pada kenyataannya di lapangan, kasus cacingan seringkali menjadi pintu pembuka bagi masuknya penyakit viral dan bakterial lain.

Infestasi cacing dalam saluran pencernaan ayam dapat menimbulkan luka pada mukosa usus dan menjadi tempat masuknya bakteri Clostridium sp, sebagai penyebab penyakit Nekrotik enteritis (NE). Oleh karena itu, pengendalian dan penanganan kasus penyakit NE tidak terlepas dari langkah-langkah pengendalian penyakit parasiter cacingan, selain pengendalian juga terhadap penyakit parasiter Koksidiosis.

Peternak tidak pernah tahu ayam menderita cacingan atau tidak, selama tidak melakukan pemeriksaan terhadap feses, untuk mencari kemungkinan adanya telur cacing, maupun potongan tubuh cacing. Dan biasanya, diketahui ternak mengalami kecacingan setelah dilakukan bedah bangkai, berkaitan dengan kasus lain yang sedang diperiksa. Jarang sekali dilakukan bedah bangkai khusus yang ditujukan untuk mengetahui ada/tidaknya infestasi cacing di dalam tubuh ayam. Sehingga diagnosa kecacingan ditegakkan setelah terlihat adanya cacing di dalam saluran pencernaan.

Nematoda atau Cacing Gilig
Cacing ini merupakan cacing saluran pencernaan yang paling umum. Parasit ini disebut cacing gilig karena berbentuk bulat serta tidak bersegmen dan merupakan kelompok parasit penting pada unggas sehubungan dengan banyaknya spesies dan dampak yang ditimbulkan.

Ada dua jenis siklus hidup nematoda, siklus hidup langsung dan siklus hidup tidak langsung. Pada cacing gilig dengan siklus hidup langsung, perkembangan siklus hidup terbagi atas empat bagian; (1) Telur yang dikeluarkan bersama feses. (2) Telur yang berada di lingkungan, berkembang, menetas dan tertelan oleh hospes. (3) Berkembang menjadi larva pada bagian proventrikulus. (4) Cacing dewasa di usus.

Pengendalian dan pengobatan ditujukan langsung pada hospes dengan tujuan mematikan dan mengeluarkan parasit secara langsung. Sedangkan pada cacing dengan siklus hidup tidak langsung, pengendalian dan pengobatan dapat ditujukan terhadap hospes sementaranya dan pengobatan terhadap hospes dengan tujuan mematikan dan mengeluarkan parasit secara langsung.

Infeksi Ascaridia sp. 
Spesies Ascaridia merupakan contoh utama parasit cacing yang sering ditemukan pada ayam. Siklus hidup spesies ini tidak membutuhkan hospes perantara. Penularan penyakit parasit ini melalui… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2020)

Drh Yuni
PT ROMINDO PRIMAVETCOM

THEO LEKATOMPESSY KOMISARIS INDEPENDEN SIERAD PRODUCE

PT Sierad Produce Tbk (Foto:sieradproduce.com)


PT Sierad Produce Tbk selesai mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan pada Rabu (17/6/2020). Dalam rilis yang diterima Infovet, Sierad Produce mengangkat Theo Lekatompessy sebagai Komisaris Independen.

Theo Lekatompessy saat ini menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk, PT Pelayaran Tempuran Emas Tbk, and PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk.

Selain itu, Theo juga merupakan Chairman of INSA Foundation (Indonesian National Shipowner's Association), Waki Ketua AEI (Asosiasi Emiten Indonesia), dan anggota KADIN (Kamar Dagang Industri) for Benelux Committee.  

Direktur Utama PT Sierad Produce Tbk, Tommy Wattimena usai RUPS perseroan seperti dikutip dalam keterangan resminya mengatakan rapat juga menyetujui perubahan nama perseroan sejalan dengan sinergi dengan Group.

Selanjutnya rapat menyetujui perubahan nama Perseroan sejalan dengan sinergi dengan Group. Ditampilkan logo baru Perseroan yang akan digunakan bersamaan dengan nama baru tersebut yang akan ditentukan kemudian oleh Direksi, setelah memperoleh persetujuan dengan instansi terkait yang berwenang.

Berikut susunan Dewan komisaris dan Direksi Sierad Produce hasil RUPS Tahunan, Rabu (17/6/2020) sebagai berikut:

Dewan Komisaris
Komisaris Utama (Komisaris Independen)    : Antonious Joenoes Supit
Komisaris                                                       : Sri Lestari Anwar
Komisaris                                                       : Setiawan Achmad
Komisaris Independen                                   : Theo Lekatompessy

Direksi
Direktur Utama                                               : Tomy Wattemena Widjaja
Wakil Direktur Utama (Independen)               : Soh Ching Ker
Direktur                                                           : Wayan Sumantra
Direktur                                                           : Sri Sumiyarsi

KINERJA GEMILANG SIERAD PRODUCE, LABA MENINGKAT 207,69%



(Keterangan Ki-ka) Theo Lekatompessy, Antonius J Supit, Tommy Wattimena, Sri Sumiyarsi (Foto: Ist)  

Rabu (17/6/2020), PT Sierad Produce Tbk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa dengan menerapkan prosedur pencegahan COVID-19.

Perseroan membukukan Laba Bersih Tahun Berjalan sebesar Rp79,7 miliar naik 207,69% dibanding tahun 2018 sekitar Rp25,9 miliar dengan penjualan bersih sebesar Rp4.106 triliun meningkat 31,6% atau setara dengan Rp986 miliar dibandingkan penjualan bersih tahun 2018 sejumlah Rp3.120 triliun.

Enam mata acara disetujui antara lain pengangkatan Theo Lekatompessy sebagai Komisaris Independen Perseroan. Dalam RUPS, dipaparkan kinerja 2019 dan secara singkat kinerja kwartal I tahun 2020.

Direktur Utama Perseroan, Tommy Wattimena dalam keterangan resminya mengatakan kinerja menggembirakan ini merupakan hasil kerja keras tim antara manajemen dan seluruh karyawan, serta tenaga ahli kompeten Perseroan dalam menerapkan strategi bisnis yang berorientasi pada hasil.

“Tentunya kami tidak langsung merasa puas. Kami akan menjaga momentum pertumbuhan di tahun 2020 melalui serangkaian inovasi baru dan diferensiasi pasar,” tandas Tommy.

Melalui paparan singkatnya Tommy menjelaskan di tengah situasi pandemi COVID-19, Perseroan tetap membukukan kinerja positif berupa penjualan Perseroan pada kwartal pertama 2020 yang mencapai Rp1,15 triliun.

Nilai tersebut lebih meningkat dibandingkan kwartal pertama tahun 2019 sebesar Rp928 miliar dan laba usaha sebesar Rp59,2 miliar, dibandingkan kwartal pertama tahun 2019 sebesar Rp36,6 miliar.

Lebih lanjut Tommy menyampaikan tahun 2020 ini dimanfaatkan oleh Perseroan untuk mengeluarkan inovasi strategis dalam mengembangkan usahanya.

“Perseroan selalu berupaya mencari peluang usaha melalui inovasi yang memberikan nilai lebih kepada Perseroan maupun pelanggan dan pemangku kepentingan,” ujarnya.

Tahun 2020 Sierad berhasil menerapkan Halal Blockchain di Rumah Potong Ayam. Inovasi ini merupakan transformasi digital atas integritas dan transparansi data pada proses di Rumah Potong Ayam Perseroan.

“Selain jaminan kualitas produk, para pelanggan juga dapat secara langsung melakukan ketelusuran proses halal atas produk mulai dari awal produk masuk Rumah Potong Ayam hingga produk diterima oleh pelanggan,”/ terang Tommy.

PT Sierad Produce Tbk juga diketahui menjalin kerjasama dengan PT Great Giant Pineapple dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas pakan, menggunakan teknologi baru dalam bentuk ekstrak alami buah nanas (Bromelain) yang mampu meningkatkan berat badan ayam dan menurunkan tingkat kematian. Selain dari sisi kualitas produk, inovasi ini juga dapat memberikan efisiensi atas biaya produksi.

Program CSR

Tak hanya berinovasi, Perseroan juga tidak melupakan tanggung jawab sosialnya. Dibawah naungan Program Berbagi Cinta Jaga Sesama, Perseroan telah membangun infrastruktur Corporate Social Responsibility (CSR) yang sejalan dengan aktivitas usahanya dalam membantu langsung masyarakat di masa Pandemi COVID-19.

Perseroan memiliki target distribusi sumbangan sebanyak 100 ribu paket makanan kepada masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan kebutuhan selama pemberlakuan PSBB.

Kerja sama kemanusiaan ini dilakukan bersama dengan RedKendi, Rantang Hati dari Wahyoo, Gojek dan beberapa organisasi kemanusiaan lainnya. Program CSR tersebut tidak hanya sekedar memberi, namun juga dipastikan tepat guna sehingga manfaatnya sampai ke masyarakat penerima. (NDV)

DE HEUS ANIMAL NUTRITION MEMPERKUAT POSISINYA DI INDONESIA

PT Welgro dan PT Wirifa Sakti berhasil diakuisisi oleh De Heus Animal Nutrition

Tepat pada tanggal 2 Juni 2020 yang lalu, De Heus Animal Nutrition (De Heus) menyelesaikan proses akuisisi pabrik pakan miliki Neovia Indonesia (PT Welgro Feedmill dan PT Wirifa Sakti). Dengan selesainya proses akuisisi dua pabrik pakan yang berlokasi di Jawa Barat dan Jawa Timur ini semakin memperkuat posisi De Heus di Indonesia.

Pada tahun 2019 volume penjualan kedua pabrik tersebut mencapai 125.000 ton, sebagaimana kita ketahui juga bahwa Welgro dan Wirifa berfokus pada pakan unggas, aqua dan babi. Bagi De Heus Indonesia, akuisisi ini adalah langkah penting dalam mewujudkan ambisinya untuk menjadi pemain terkemuka di pasar pakan ternak Indonesia.

Gabor Fluit, Business Group Director De Heus Asia mengatakan bahwa proses akuisisi ini dapat mempercepat strategi pertumbuhan De Heus di Indonesia.

"Kami berhasil melakukan penetrasi di sini (Indonesia) pada tahun 2018 melalui akuisisi PT Universal Agribisnisindo (UAB), dengan selesainya proses ini kami melihat adanya potensi meningkatkan peluang yang sangat baik untuk memperluas posisi kami di area peternakan dan satwa aquatik, tentunya juga kami ingin lebih dekat dengan pelanggan baru kami yang sudah ada di kedua daerah tersebut dan terus mengembangkan potensi kami," tuturnya.

Gabor juga berujar meskipun dampak dari wabah Covid-19 menyebabkan permintaan pakan ternak turun, bukan berarti tidak akan kembali normal. De Heus percaya situasi akan kembali normal dan pasar akan kembali pulih. De Heus sendiri tidak berpikir dalam jangka pendek, mereka juga konsisten dalam menerapkan teknologi baru dan mengaplikasikannya pada customer sehingga terjadi hubungan yang saling menguntungkan.

"Sejak akuisisi UAB, De Heus telah mereplikasi cara pendekatan pasarnya yang kemudian berhasil dikembangkan di negara-negara Asia Tenggara lainnya, kami berusaha mendukung profesionalisasi lebih lanjut dari peternak independen di sektor peternakan dan aquatik dengan produk-produk pakan ternak berkualitas prima dan pendampingan teknis yang mumpuni. Selain itu, kami telah meningkatkan proses produksi, berinvestasi dalam pelatihan teknis personil dan memulai konstruksi jalur produksi baru untuk pakan ternak di pabrik pakan UAB yang ada, " urai Gabor.

Sementara itu Kay De Vreese, Presiden Direktur De Heus Indonesia juga menyatakan kegembiraannya dengan proses akuisisi tersebut.

"Kami sangat senang bahwa fokus kami pada peningkatan kualitas produk dan berbagi praktik terbaik diakui dan dihargai oleh pelanggan yang tumbuh secara signifikan di Indonesia. Kami akan terus menerapkan rencana investasi kami di tahun-tahun mendatang," tuturnya.

Ia melanjutkan bahwa pihaknya dengan senang hati menyambut Welgro dan Wirifa sebagai rekan baru di De Heus di Indonesia. 

"Kami telah mengenal Welgro dan Wirifa sebagai perusahaan yang dinamis dengan fokus pada peningkatan yang berkelanjutan, budaya ini sangat sesuai dengan budaya perusahaan De Heus," pungkasnya.

Bisnis pakan ternak sendiri tetap ramai, diperkirakan bahwa market size pakan ternak di Indonesia akan meningkat dan terus berkembang dari 19 juta ton pada 2019 menjadi 22 juta ton pada 2022. Dengan populasi Indonesia saat ini adalah 273 juta penduduk, tentunya ini menjadikan Indonesia sebagai pasar terbesar bagi protein hewani di Asia Tenggara. Permintaan protein hewani akan terus meningkat selama tahun-tahun mendatang karena pertumbuhan pendapatan dan populasi yang cepat, serta perubahan preferensi konsumen. (CR)

KEMENTAN GENJOT PERTAMBAHAN POPULASI SAPI BELGIAN BLUE

Sapi Belgian Blue,menjadi andalan Indonesia dalam memperbaiki genetik sapi Indonesia

Kementerian Pertanian terus berupaya memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat terutama yang berasal dari daging sapi. Salah satunya adalah pengembangan sapi Belgian Blue (BB) yang sudah dilakukan sejak tahun 2017 melalui Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang. Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) ini sudah berhasil memproduksi embrio sapi BB murni pertama di Indonesia.

"Produksi ini menggunakan dua sapi donor jenis BB murni hasil Transfer Embrio (TE) di BET Cipelang yakni Srikandi dan Arimbi," ujar I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI, Selasa (9/6).

“Pengembangan sapi BB dilaksanakan oleh dua belas UPT lingkup Kementerian Pertanian yang berasal dari tiga eselon 1 di Kementerian Pertanian, yaitu Badan Litbang Pertanian BPPSDMP dan Ditjen PKH, dengan dukungan pakar pendamping yang berasal dari perguruan tinggi terbaik di Indonesia”, ucap Ketut.

Pengembangan BB sendiri dilakukan di UPT yang memiliki kondisi lingkungan yang berbeda, tujuannya untuk mengetahui lingkungan terbaik di Indonesia bagi sapi BB sehingga sapi BB bisa beradaptasi dan berkembang dengan baik di Indonesia.

"Pengembangan BB di Indonesia dilakukan dengan dua acara yaitu melalui TE dan Inseminasi Buatan (IB)," jelas Ketut.

Ketut menambahkan, embrio dan semen BB yang digunakan untuk program pengembangan BB berasal dari negara asalnya, yaitu Belgia. Hal ini dikarenakan, pihaknya ingin sapi BB yang dikembangkan di Indonesia berasal dari sapi BB asli dari Belgia.

Selain itu, penggunaan embrio dan semen BB dalam program pengembangan sapi BB ini dinilai Ketut memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan harus mendatangkan sapi BB hidup dari Belgia.

"Biayanya juga lebih murah dan handling lebih mudah dibandingkan menghandling sapi hidup. Embrio BB digunakan untuk menghasilkan sapi BB murni sedangkan semen beku digunakan untuk menghasilkan sapi BB persilangan," paparnya.

Jadi cara kerjanya yaitu dengan menanam atau menitipkan embrio pada sapi lokal Indonesia yang memenuhi syarat. Lalu, untuk semen BB disuntikan pada sapi lokal Indonesia yang juga sudah memenuhi syarat.

Karena, sapi BB murni yang merupakan hasil transfer embrio membutuhkan bantuan untuk kelahirannya. Sekitar 95% sapi BB murni lahir dengan bantuan caesar, sedangkan sapi BB persilangan seluruhnya (100%) dapat lahir secara normal.

"Sampai dengan hari ini, kami mencatat kelahiran 455 ekor sapi BB yang tersebar di seluruh UPT pelaksana pengembangan BB," ungkap Ketut.

Ketut menyebut, BET Cipelang bersama dengan UPT pelaksana lainnya telah mampu melaksanakan program pengembangan sapi BB yang dibuktikan dengan kelahiran sapi BB di seluruh UPT pelaksana. Sedangkan, Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari dan Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang juga sudah mampu memproduksi semen beku sapi BB.

"Ini merupakan hal yang membanggakan bagi Kementan, kita sudah mampu memproduksi embrio sapi BB, dan memproduksi semen beku sapi BB," kata Ketut.

Diketahui, produksi embrio sapi BB murni ini sudah dilaksanakan pada 10 Februari 2020. Embrio yang dihasilkan dari sapi donor BET Cipelang ini berhasil menghasilkan embrio BB dengan komposisi darah BB 100 persen.

BET Cipelang sebagai satu-satunya UPT dengan tupoksi melaksanakan produksi, pengembangan dan distribusi embrio ternak telah mampu menghasilkan embrio sapi BB sebanyak 166 embrio (27 embrio BB murni dan 139 embrio BB persilangan).

"Embrio persilangan yang dihasilkan oleh BET Cipelang sudah dicoba untuk ditransferkan pada sapi resipien di BET Cipelang dan seluruhnya dapat lahir secara normal. Namun, untuk embrio BB murni belum dicoba," ucap Ketut.

Sapi BB persilangan ini, baik yang memiliki darah BB 50% mapun 75% mampu melahirkan secara normal, dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa sapi persilangan BB dengan sapi lainnya tidak memiliki kelainan reproduksi.

Sedangkan, semen beku BB yang dihasilkan oleh BBIB Singosari dan BIB Lembang terhitung sebanyak 27.862 dosis (17.579 dosis semen beku sapi BB murni dan 10.283 dosis semen beku BB persilangan).

Sebagai catatan, semen beku “Gatot Kaca” sapi BB jantan pertama di Asia Tenggara sudah dicoba untuk IB pada sapi Aceh di BPTUHPT Indrapuri. Sampai saat ini sudah terdapat 5 ekor sapi persilangan BB dengan sapi Aceh yang lahir, dan semuanya lahir secara normal.

Ketut menegaskan, dengan keberhasilan produksi semen dan embrio sapi BB oleh UPT lingkup Kementan, ketergantungan impor semen dan embrio beku BB Indonesia berkurang dan harapan pemenuhan kebutuhan daging akan dapat terwujud.

"Semen beku dan embrio beku BB ini akan didistribusikan kepada masyarakat setelah mendapatkan rekomendasi dari pakar pendamping pengembangan BB," tuturnya.

Lokasi sebaran tempat kelahiran sapi BB yaitu, BET Cipelang, BBPTUHPT Baturraden, BPTUHPT Padang Mengatas, BPTUHPT Sembawa, BPTUHPT Indrapuri, Balitnak, Polbangtan Bogor, BBPKH Cinagara, Polbangtan Yogyakarta - Magelang, Polbangtan Malang, BBPP Batu dan Loka Penelitian Sapi Potong Grati.

Sementara itu, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Sugiono, mengatakan sebelum disebar ke masyarakat akan dilakukan kajian lebih dulu untuk mendapatkan data yang akurat terkait pertumbuhan sapi BB. Dikatakan Sugiono, saat ini pengembangan sapi BB sudah dikaji di tingkat UPT lingkup Kementan.

"Hasilnya bagus, kita akan kaji terus di tingkat peternak yang sudah bagus manajemenya, setelah itu baru didistribusikan ke masyarakat," imbuhnya.

Menurut Sugiono, sperma sapi BB baru bisa disebar ke masyarakat pada tahun 2022 setelah melalui tahapan kajian yang berjenjang dari lingkup UPT, dan uji coba di peternakan dengan manajemen pengelolaan yang bagus. Hal-hal yang akan dikaji sebelum disebar yaitu pertambahan bobot badan, pertumbuhannya baik, aspek kesehatan, dan aspek lingkungan.

"Kajiannya perlu dua tahun, dicoba dulu di kelompok tertentu, kalau punya manajemen bagus baru dilepas ke peternak. Tahun ini Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan) juga sudah pakai semen BB di wilayah tertentu," jelas Sugiono.

Ia berharap ke depannya, sapi BB ini bisa terus dikembangkan sebagai salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi daging sapi dalam negeri yang kebutuhannya cukup tinggi.

"Sapi Belgian Blue ini memiliki bobot lebih besar dibanding sapi pada umumnya, jadi diharapkan dapat meningkatkan produksi daging sapi dalam negeri," pungkasnya.

Sekadar informasi, Sapi Belgian Blue atau yang lebih dikenal dengan Sapi BB ini merupakan sapi hasil pemuliaan yang dilakukan dalam kurun waktu yang sangat lama di negara asalnya, Belgia. Sapi ini merupakan hasil persilngan antara Sapi Shorthorn dengan sapi lokal Belgia saat itu.

Pembentukan sapi BB sendiri berawal dari upaya pemerintah Belgia untuk menghasilkan sapi dwiguna (penghasil susu dan penghasil daging). Namun, untuk memenuhi kebutuhan protein hewani di negara tersebut, arah pengembangan sapi BB membentuk sapi BB ini menjadi sapi potong penghasil daging.

Program pemuliaan sapi Belgian Blue ini sendiri pada saat itu dipimpin oleh seorang professor dari Belgia yaitu Professor Hanset pada tahun 1973, dengan keunggulan sapi BB yaitu 'double muscling'.

Performa sapi BB yang besar dan potensi karkas yang dimilikinya sangat menarik negara lain untuk ikut mengembangkannya. Sapi BB ini sudah mulai tersebar ke 40 (empat puluh) negara di dunia. (INF)

PROGRAM PUASA BAGI AYAM PETELUR

Ternak ayam penghasil telur. (Sumber: Ist)

Bagi masyarakat yang awam terhadap peternakan tentu terdengar janggal jika ayam harus melakukan puasa, padahal biasanya hal tersebut dilakukan oleh manusia.

Namun suatu kenyataan bahwa dalam pemeliharaan ayam petelur (layer) baik komersial maupun bibit (breeder), program puasa wajib dilakukan untuk mencapai bobot badan ideal yang mendukung pencapaian tujuan akhir yaitu produksi telur atau anak ayam (DOC) maksimal.

Program puasa pada ayam petelur berlaku di seluruh dunia, dan bila tidak diterapkan sudah dapat ditebak produksi telur atau DOC-nya kemungkinan rendah, karena ketika ayam memasuki usia remaja (pullet) bisa mengalami kegemukan yang dapat mempengaruhi kedua hal tadi.

Hal tersebut pun pernah penulis saksikan di salah satu peternakan ayam breeder di Liangangang, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Peternakan tersebut gagal mencapai produksi telur dan DOC, disertai kerusakan pada kaki ternak, fertilitas dan daya tetas rendah karena diberikan pakan sebagaimana mengikuti pemeliharaan unggas pedaging (broiler).

Pemeliharaan broiler sama sekali tidak mengenal program puasa karena masa hidupnya relatif singkat (4-5 minggu) dan tujuan akhirnya adalah produksi daging, sehingga harus diberi pakan yang mengenyangkan bagi ayam.

Metode Pemberian Pakan
Metode pemberian pakan pada ayam petelur komersial maupun bibit relatif beragam dengan tujuan mencapai bobot badan pullet sesuai standar dengan tingkat keseragaman yang sama. Bila tidak tercapai bobot badan ideal dan tingkat keseragaman rendah tentunya akan berpengaruh pada produksi yang kurang optimal dan berimbas pada peternak akibat kerugian yang cukup tinggi dan sulit diperbaiki.

Untuk itu pemberian pakan harus benar-benar diperhatikan. Adapun beberapa metode pemberian pakan yang banyak dikenal dan diterapkan di seluruh dunia antara lain:

a. Metode Skip a Day Feeding. Pemberian pakan dilakukan secara dibatasi, yaitu dengan cara satu hari diberi pakan dan satu hari dipuasakan, lalu satu hari diberi pakan (skip a day), dengan tujuan mengontrol bobot badan ayam pullet. Metode ini diterapkan mulai ayam petelur berumur 4-20 minggu dan bisa pula digunakan jika ketersediaan tempat pakan (feeding space) terbatas, dengan syarat potong paruh (debeaking) benar-benar sempurna untuk mencegah munculnya sifat kanibalisme saat ayam dipuasakan.

b. Metode 4-3 Feeding. Pemberian pakan dapat juga dilakukan dengan metode 4-3, yaitu dalam tiap periode satu minggu, dimana empat hari makan dan tiga hari puasa. Contoh pullet berumur lima minggu, standar pakan per harinya 52 gram maka jumlah pakan satu minggunya 364 gram (52 gram x 7 hari = 364 gram). Jumlah pakan satu minggu dibagi empat hari makan menjadi 91 gram per pullet (364 gram : 4 = 91 gram). Jadi setiap hari makan ayam pullet diberi pakan 91 gram (Minggu, Selasa, Kamis, Sabtu), sedang tiga hari dipuasakan (Senin, Rabu dan Jum’at).

c. Metode 3-1-2-1 Feeding. Pemberian pakan dilakukan dengan cara tiga hari diberi pakan satu hari puasa, dua hari diberi pakan, kemudian satu hari puasa. Contoh pullet berumur 16 minggu, standar pakan per hari 106 gram maka satu minggu 623 gram (89 gram x 7 hari = 623 gram). Jumlah pakan satu minggu dibagi lima hari makan = 124,6 gram (623 gram : 5 hari = 124,6 gram). Jadi pada hari makan (Minggu, Senin, Selasa, Kamis, Jumat) diberikan pakan 124,6 gram, sedang Rabu dan Sabtu dipuasakan. Metode ini dilakukan bila jumlah pakan yang diberikan dengan metode skip a day sudah maksimal dan dilakukan pada periode ayam menjelang bertelur (laying period).

Antisipasi sebelum dan saat diterapkannya program puasa untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan antara lain:

• Jumlah ayam dalam kandang harus pasti, agar jumlah pemberian pakan sesuai dengan kebutuhan ayam. Pada periode tertentu perlu audit/hitung ulang jumlah ayam, sebaiknya saat seleksi dan grading.
• Jumlah tempat pakan dan minum sesuai dengan standar dengan jumlah ayam yang ada.
• Perlu pemberian vitamin dan anti-stres dalam air minum.
• Ventilasi udara dalam kandang dibuat senyaman mungkin.
• Perlu disiplin anak kandang/karyawan dalam pengisian catatan harian kandang.
• Batas antar kamar (pen) kandang harus rapat sehingga tidak memungkinkan ayam dari pen sebelah masuk ke pen lain, karena akan mengacaukan jumlah ayam.
• Jangan sekali-kali menghentikan pemberian air minum. Berikan air bersih dan higiene.
• Kondisi litter harus kering sehingga tidak memberi kesempatan gas amonia dan gas lainnya mengganggu pernapasan ayam.
• Lampu penerangan kandang dipasang sesuai standar yang telah ditetapkan.
• Kualitas pakan tetap dijaga dan seminimal mungkin tidak ada pakan yang terbuang.
• Bila ada ayam yang menunjukkan sifat kanibalisme, segera pindahkan ayam ke kandang tersendiri.
• Program puasa hanya diterapkan pada ayam remaja, tidak pada ayam yang sedang berproduksi. ***

Ir Sjamsirul Alam
Praktisi perunggasan, alumni Fapet Unpad

KENYAMANAN KANDANG JADI “RUMAH IDAMAN” AYAM

Ternak ayam broiler yang dipelihara dalam kandang closed house. (Foto: Dok. Infovet)

Meskipun terbilang eksklusif karena tingginya biaya investasi, namun kandang closed house bisa dikatakan identik dengan “rumah idaman ayam”. Pasalnya, kondisi lingkungan yang dihasilkan dalam kandang closed house bisa diatur sesuai kebutuhan ayam. 

Beberapa keuntungan menggunakan kandang closed house diantaranya tidak terpengaruh perubahan lingkungan, kualitas udara yang tersedia lebih baik, pengaturan suhu, serta ayam pun menjadi lebih tenang, segar dan nyaman. Dengan manipulasi lingkungan tersebut, kepadatan ayam bisa ditingkatkan tanpa harus mendirikan bangunan kandang baru.

Kendati demikian, kandang closed house dengan segudang keunggulan tidak menjadi jaminan terbebas dari masalah stres ataupun penyakit pada ayam. Salah satu ancaman kesehatan ayam datang dari manajemen kelembapan yang buruk. Dampaknya, litter yang menggumpal akibat air dan kotoran menjadi sumber gas beracun, serta tempat berkembangnya virus dan bakteri yang mengancam kesehatan ayam. Salah satu ancaman besar dalam kandang closed house adalah munculnya amonia.

Dikenal mempunyai daya iritasi yang tinggi, keberadaan amonia dalam kandang harus diwaspadai. Dengan massa jenis lebih besar dari udara, amonia cenderung tidak mudah menguap ke atas dan terbuang ke udara. Karena itu ayam akan menghirup gas yang bisa mengiritasi mukosa membran pada mata dan saluran pernapasannya terus-menerus. 

Menurut Ritz et al., 2004, rekomendasi umum untuk kandungan amonia yang aman dan belum menimbulkan gangguan pada ayam di bawah 20 ppm. Lebih dari itu, amonia bisa menimbulkan kerugian. Selain merusak membran mata dan pernapasan, dampak lainnya membuat hambatan pertumbuhan dan penurunan produksi telur. Secara tidak langsung, amonia dengan kadar tinggi ternyata juga bisa memicu munculnya kasus infeksi penyakit-penyakit pada saluran pernapasan. Wajar saja, kerusakan membran saluran pernapasan melemahkan gerbang pertahanan terhadap infeksi bibit penyakit.

Efek lain dari tingginya kadar amonia adalah timbulnya gangguan pembentukan kekebalan tubuh, baik yang bersifat lokal maupun humoral. Pada produksi kekebalan lokal (IgA) yang terdapat dalam saluran pernapasan atas terjadi gangguan. Hal ini disebabkan rusaknya sel-sel epitel oleh iritasi amonia. Adapun kadar amonia yang tinggi dalam darah, akibat terhisap dalam jumlah besar, menyebabkan stres pada sel-sel limfosit sehingga produksi antibodi (IgG dan IgM) juga mengalami gangguan (North, 1984).

Pengaruh Amonia pada Ayam
Kadar Amonia (ppm)
Respon Petugas Kandang
Pengaruh Amonia pada Ayam
Kerusakan Pernapasan
Kerusakan Mata
Produksi Telur Menurun
Berat Badan Turun
20
Bau mulai tercium
Ringan
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
25-30
Bau tercium
Ringan
Ada (+)
Sedikit
Sedikit
50-60
Bau tajam
Ada (+)
Ada (+)
Ada (+)
Ada (+)
100
Iritasi hidung
Ada (+)
Ada (+)
Ada (++)
Ada (++)
200
Iritasi mata
Ada (++)
Ada (++)
Ada (+++)
Ada (+++)
Sumber: Disease of Poultry (2003) dalam Medion online.
Keterangan: Semakin banyak tanda (+) semakin parah.

Tepat Pengaturan
Salah satu prinsip dalam menurunkan suhu adalah sistem evaporasi dengan menggunakan colling pad, yaitu uap air yang dihasilkan colling pad akan dihisap kipas dan dialirkan ke dalam kandang. Efeknya, suhu yang awalnya tinggi menjadi lebih rendah. 

“Namun, ada masalah pada setting sistem elektrikalnya,” ujar Agus Yohani Slamet, pemilik Tembalang Poultry Equipment, sekaligus pengelola website peralatankandangayam.com dan kandangclosehouse.com.

Menurut Agus, kebanyakan teknisi mengatur aktivasi colling pad hingga suhu 25 atau 26° C. Artinya, colling pad akan berjalan atau aktif dialiri air hingga mencapai suhu tersebut. Adapun kipas dibuat off atau mati pada suhu 27° C. “Dampaknya, kelembapan menjadi tinggi. Salah satu indikatornya terlihat dari sekam yang menggumpal.” Jelasnya.

Agar performa kandang closed house optimal, pengaturan perlu dilakukan pada sistem elektrikal, yaitu cooling pad dan kipas. Untuk cooling pad, aktivasi sebaiknya diatur pada suhu 28,5 atau 29° C. Sementara kipas diatur pada suhu yang sama dengan cooling pad. Artinya, suhu kandang diatur pada suhu 29° C.

Setelah pengaturan suhu, selanjutnya adalah pengaturan waktu nyala dan mati cooling pad. “Cooling pad dibuat intermiten 6 menit menyala dan 5 menit mati,” jelas Agus. Pengaturan pada cooling pad dan kipas sebaiknya dibedakan antara siang dan malam hari. Jika kipas yang menyala pada malam hari sedikit, kandang menjadi pengap. Menurut Agus, kesalahan yang sering dilakukan peternak adalah mengandalkan Temtron, misalnya untuk sistem elektrikal otomatisnya dengan paramater suhu kandang yang rendah. 

“Pengalaman di Lombok, Nusa Tenggara Barat, kandang milik salah satu peternak dengan populasi 35 ribu ekor ayam bisa mencapai IP 401. Sistem elektrikal yang digunakan semi-otomatis,” ungkap Agus.

Indeks Produksi (IP) broiler merupakan parameter keberhasilan dalam beternak ayam. Di bawah 300 berarti buruk, antara 300-400 berarti baik, sedangkan di atas 400 diartikan excellent. Cara penghitungan Indeks Produksi sebagai berikut: Indeks Produksi (IP) = [Ayam hidup (%) x Berat rata-rata (kg)] : [Umur x FCR x 100%].

Dengan sistem semi-otomatis, mekanisme kerja alat tidak semata-mata diserahkan pada sistem otomatisnya. Peternak perlu melakukan pengaturan manual untuk merubah setting sehingga pengaturan saat membedakan setelan alat pada siang dan malam hari bisa dilakukan. 

Dengan pengaturan dan pengontrolan yang baik, serta rutin dan teratur, suhu lingkungan kandang akan lebih terjamin sesuai harapan ayam. Selain menghindarkan ayam dari stres akibat suhu tinggi, juga menghindari dari tingginya kelembapan yang berpengaruh pada kesehatan dan produksi. (INF)

DIGITALISASI SEKTOR PETERNAKAN DI INDONESIA

Industri 4.0 menyentuh bidang peternakan (Foto:INF) 


Industri 4.0 mengubah semua sektor industri (disruption), tidak terkecuali bidang peternakan. Internet of things-IoT, big data, machine learning, artificial intelligence-AI, robot, dan sharing economy adalah wajah baru industri saat ini.

Era industri tersebut juga telah mengubah sektor peternakan Indonesia, padahal di Indonesia tidak sedikit yang “gagal paham” terkait industri 4.0. Apalagi peternak kebanyakan adalah lulusan SMP atau di bawahnya, sementara data menunjukkan pengguna internet di negeri ini sudah mencapai 143 juta orang.

Setelah itu, banyak bermunculan platform di sektor peternakan saat ini yang memanfaatkan kemajuan teknologi untuk meningkatkan efisiensi usaha. Meski begitu, penggunaan berbagai aplikasi ini bila dibandingkan dengan negara maju seperti Jepang masih tertinggal.

“Di negeri Sakura tersebut kini sudah dikeperkenalkan dengan Society 5.0, sebuah upaya untuk memberikan pemahaman masyarakat untuk memanfaatkan berbagai smart-technology untuk meminimalkan peran manusia serta menghasilkan usaha peternakan yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan,” ujar Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Dr Ir Ali Agus DAA, DEA, IPU, ASEAN Eng, Senin (15/6).

Ali Agus menyatakan Fakultas Peternakan UGM memahami arti penting perubahan zaman, dari manual ke komputerisasi, dari offline ke web based. Oleh karena itu, Obrolan Peternakan (OPERA) seri #2 memberikan gambaran terkait teknologi yang sudah dimanfaatkan di Indonesia kepada masyarakat umum.

Lebih dari itu, dalam OPERA seri #2 diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang teknologi-teknologi yang akan berperan penting di masa mendatang pada industri peternakan. Maka tidak mengherankan jika OPERA seri#2 yang dilaksanakan pada pada 13 Juni 2020 pendaftar mencapai 709 orang di seluruh Indonesia.

Pembicara dalam OPERA catch #2 adalah Galuh Adi Insani SPt, MSc, dosen Fakultas Peternakan UGM serta founder dari platform BroilerX, Dalu Nuzlul Kirom, ST dari platform TERNAKNESIA, dan Ray Rezky Ananda, SPt yang merupakan CEO dari platform BANTUTERNAK.

Galuh Adi Insani,  dosen Fakultas Peternakan UGM sekaligus founder dari platform BroilerX, dalam obrolan kali ini memaparkan bagaimana perkembangan teknologi yang membantu perkembangan bidang peternakan secara spesifik, sebagai contoh bagaimana peran big data, cloud, dan artificial intelligence untuk meningkatkan efisiensi usaha peternakan. Selain itu, memberikan gambaran bagaimana kampus menghasilkan inovasi teknologi untuk mendukung peternak dalam beradaptasi dengan industri 4.0.

“Yang tidak kalah penting, upaya peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap perkembangan teknologi yang berkaitan dengan industry 4.0," ujarnya.

Dia menjelaskan BroilerX merupakan smart technologi yang dapat digunakan di kandang ayam pedaging untuk mencapai produktifitas yang tinggi. BroilerX merupakan alat untuk membantu manajemen peternakan unggas. Dengan menggunakan algoritma komputer yang dikembangkan secara khusus, peternak dapat mengelola data peternakan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan proses produksi.

“BroilerX ini didesain untuk mendukung peternak dalam mengambil keputusan di setiap kondisi dan
situasi, serta keputusan strategis yang akan datang," jelasnya.

Dalu Nuzlul Kirom mengungkapkan TERNAKNESIA adalah platform pengembangan usaha peternakan yang terdiri dari investasi, pemasaran (market), dan fundraising yang berhubungan dengan pangan. TERNAKNESIA memaparkan peran teknologi dalam mendukung business process dalam peternakan yang dikembangkan melalui teknologi, mulai dari investasi, pendampingan peternak, hingga penjualan produk peternakan.

“Perlu digarisbawahi bagaimana plafform ini berperan penting dalam memutus rantai pemasaran sehingga peternak dan pembeli tidak dirugikan. Upaya ini dilakukan melalui pembentukan komunitas pembeli (community buyer), sehingga dapat membantu dalam hal distribusi dan tentunya memberikan harga yang kompetitif baik untuk produsen dan konsumen," ungkapnya.

Menurutnya, ide yang menarik lainnya dari platform ini adalah membuat pasar ternak online melalui aplikasi sobat ternak, sehingga pembeli ternak dan peternak dapat saling berhubungan melalui media online. Selain itu, TERNAKNESIA membuat Ternaknesia 2.0, yakni blueprint untuk traceability product yang memastikan produk peternak halal, dari pakan yang diberikan hingga proses penyembelihan yang baik sesuai syariat.

Sementara itu, Ray Rezky Ananda, SPt menambahkan BANTUTERNAK merupakan platform investasi digital yang bertujuan untuk melakukan pemberdayaan peternak. Latar belakang inisiasi BANTUTERNAK adalah kondisi populasi peternak di Indonesia yang setiap tahun mengalami penurunan, sedangkan konsumsi protein hewani terus meningkat.

“Hal inilah yang menjadi keresahan saya sebab Indonesia bisa kekurangan bahan pangan dan tentu akan mengandalkan impor. Oleh sebab itu, BANTUTERNAK lahir sebagai mitra ternak untuk desiminasi teknologi dan pengetahuan kepada peternak," terangnya.

BANTUTERNAK juga memberikan penjelasan terkait pengalaman dalam memberdayakan peternak sehingga usaha yang dijalankan mendapat keuntungan. Teknologi ini menghubungkan antara peternak dengan investor, serta memberikan pembelajaran dan pemantauan kepada peternak supaya usaha yang dijalankan dapat sesuai dengan Standard Operational Procedure untuk mencapai target produksi.

“Saat ini, BANTUTERNAK telah bekerja sama dengan ribuan peternak di berbagai daerah di Indonesia. Peternak diberikan pendampingan dari pembelian bibit, pakan konsentrat, kesehatan ternak, dan penjualan ternak," imbuhnya. (Sumber: ugm.ac.id)

SOCIAL DISTANCING DAN LOCKDOWN PADA PETERNAKAN UNGGAS

Lockdown 1,5 tahun, kesejahteraan hidupnya terjamin 100%. (Dok. Pribadi)

Social distancing pada peternakan unggas dilakukan dengan cara membuat layout menempatkan ayam muda terpisah dari ayam remaja atau ayam dewasa dan posisi kandangnyapun sudah diatur sedemikian rupa sehingga jarak antara kandang satu dan kandang lainnya minimal selebar kandang (apabila lebar kandang 8 meter maka jarak antar kandang juga 8 meter). Pengaturan jarak kandang bertujuan menjaga agar ventilasi berfungsi dengan baik, sirkulasi udara lancer sehingga lingkungan di dalam kandang tetap nyaman dan segar.

Keberhasilan pemeliharaan ayam sangat ditentukan keberhasilan perawatan pada masa brooding. Operator kandang yang merawat anak ayam (DOC/day old chick) dipastikan menginap dikandang sejak DOC datang sampe selesai masa brooding. Prosedur ini bertujuan membatasi aktivitas operator menghindari kontak dengan sumber penularan dari luar yang beresiko tersebar ke dalam peternakan terutama pada DOC dan ayam muda yang masih sangat rentan penyakit.

Apabila selama perawatan ditemukan ada individu ayam menunjukan gejala sakit segera dipisahkan dari kelompok yang sehat, kemudian dikumpulkan dalam sangkar seleksi atau brooding khusus agar tidak menular pada kelompok populasi ayam yang sehat, lalu dilakukan perawatan intensif dan pengobatan sampe dinyatakan sembuh.

Sementara lockdown pada peternakan unggas sudah diterapkan sejak ayam dari DOC. Ayam yang baru menetas ditempatkan ke dalam boks kardus masing-masing berisi 100 ekor dan ektra dua ekor. Sesampainya di kandang, DOC kemudian di tebar terbagi menjadi beberapa klaster brooding yang dikelilingi pembatas plat seng setinggi 40 cm dengan kapasitas 1.200-1.500 ekor/klaster. Pembagian wilayah tersebut bertujuan agar perawatan ayam lebih intensif, mempermudah pelaksanaan program pengendalian penyakit menular dan monitoring kondisi status kesehatan unggas setiap hari.

Pada ayam broiler, masa lockdown pada umumnya berakhir setelah28 hari ketika ayam mencapai bobot 1,5 kg/ekor. Tetapi dalam kondisi darurat aturan bisa dipercepat menjadi 23 hari saja terkait order dengan harga menggiurkan, atau sengaja dipanen mempercepat periode berikutnya (potong siklus) akibat harga panen tidak menguntungkan.

Peternak mandiri dengan modal kuat sebagian memilih masa lockdown lebih dari 30 hari agar bisa menghasilkan ayam dengan bobot lebih besar, yakni 1,8-2 kg/ekor. Dalam kondisi normal perlakuan lockdown broiler pada setiap lokasi peternakan dilakukan serempak. Tanggal masuk DOC, umur dan panennya relatif serempak, all in all out, dengan tujuan memutus rantai penyebaran penyakit, selesai tuntas disetiap siklus pemeliharaan, agar tidak terjadi infeksi berulang (re-emerging disease), sehingga ayam terjaga tetap sehat dan mampu tumbuh cepat pada setiap periode pemeliharaan.

Selain peternakan ayam ras, peternakan ayam kampung juga melakukan lockdown meskipun dengan jumlah populasi dalam setiap klaster relatif tidak sebanyak peternakan ayam ras broiler maupun layer.

Pada ayam kampung pedaging untuk mencapai bobot 0,9-1 kg dilakukan lockdown selama 70 hari. Tetapi pada daerah tertentu seperti di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) cukup 40 hari saja untuk alasan konsumsi. Apabila diperlukan bobot lebih dari 1 kg, lockdown diperpanjang menyesuaikan kebutuhan. Konsekuensi dari perpanjangan masa lockdown adalah pertambahan biaya perawatan dan pengadaan pakan.

Pada peternakan ayam ras petelur modern, DOC yang datang biasa ditempatkan dalam kandang model sangkar kawat berisi 20 ekor setiap klaster cages. Setelah dirawat selama enam minggu, ayam dipindahkan ke kandang grower dengan tetap ter-lockdown dan terbagi ke dalam beberapa kandang sesuai kapasitasnya.

Pada umur 12 minggu, ayam boleh dipindahkan pada klaster kandang yang setiap kandangnya berisi ayam petelur dewasa. Prosedur lockdown pada ayam jenis petelur dilakukan selama 90 minggu atau kurang lebih 20 bulan. Perpanjangan masa lockdown dilakukan saat harga telur membaik, bisa diperpendek apabila produksi kurang bagus atau harga tidak menguntungkan.

Penerapan prosedur social distancing dan lockdown pada peternakan unggas, baik ayam kampung, broiler, jantan pedaging, layer komersil maupun layer breeder, harus diikuti ketersediaan fasilitas peralatan yang memadai, jaminan suplai pakan, air minum yang bersih, sarana kesehatan, lingkungan hidup yang nyaman dan terjaga aman. ***

Oleh: 
Drh Baskoro Tri Caroko
Poultry Tehnical Consultant

TELUR INFERTIL BEREDAR, IZIN USAHA BUDIDAYA AYAM PETELUR HARUS MILIKI NKV


Kementan perketat peredaran telur melalui sertifikasi NKV (Foto: Ist)

Kementerian Pertanian (Kementan) memperketat peredaran telur melalui sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV). Hal ini menyusul peredaran telur infertil.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita mengatakan, telur infertil dari breeding farm memiliki potensi risiko kesehatan bagi masyarakat apabila dikonsumsi.

Hal ini karena adanya residu fumigasi dari formaldehid dan ikut terkonsumsi serta masuk dalam saluran pencernaan manusia.

"Sertifikat NKV adalah sertifikat sebagai bukti tertulis yang sah, telah dipenuhinya persyaratan higiene dan sanitasi sebagai jaminan keamanan produk hewan pada unit usaha produk," jelas Ketut dalam siaran resmi, Minggu (14/6/2020).

Ketut mengatakan, NKV wajib dimiliki oleh semua unit usaha produk hewan termasuk unit usaha budidaya ayam petelur dan unit usaha pengumpulan, pengemasan dan pelabelan telur konsumsi. Hal ini sesuai dengan Permentan No. 11 Tahun 2020 tentang Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner pada unit usaha produk hewan.

Menurut Ketut, aturan ini sangat tegas dengan menerapkan sejumlah sanksi bagi pelanggar. Adapun sanksi bagi unit usaha yang tidak mengajukan sertifikasi NKV atau unit usaha yang belum memenuhi persyaratan teknis (dalam pembinaan maksimal 5 tahun) mulai dari sanksi administrasi berupa peringatan tertulis dan atau penghentian sementara dari kegiatan produksi hingga pencabutan izin usaha.

"Setiap produk hewan yang diedarkan untuk konsumsi, wajib berasal dari unit usaha yang memiliki NKV. Kami semua memahami bahwa persyaratan NKV adalah persyaratan yang ideal yang harus dipenuhi oleh produsen telur untuk menjamin bahwa telur tersebut aman di konsumsi oleh publik," ungkap Ketut.

Lebih lanjut ditegaskan Ketut, pihaknya memastikan sejauh ini ia berupaya untuk mendorong publik lebih peduli bersama dengan stakeholder, agar petani ternak bisa memperhatikan prinsip-prinsip keamanan (biosecurity dan biosafety) dalam beternak. Untuk itu, penegakan persyaratan NKV ini akan dilaksanakan secara bertahap dan memiliki skala prioritas.

Dalam hal ini diprioritaskan terlebih dahulu terhadap produsen telur, unit usaha atau perusahaan telur yang berskala bisnis dan melayani kebutuhan telur untuk publik.

"Konsumen diharapkan cerdas, tidak tergiur dengan harga yang murah. Belilah telur yang memang diperuntukan untuk konsumsi dan berlabel NKV, karena telah dijamin keamanan dan kualitasnya oleh pemerintah," tutur Ketut.

Sebagai informasi, telur infertil bersumber dari ayam ras petelur atau layer komersial hasil budidaya, bukan pembibitan (dalam pemeliharaannya tidak dicampur dengan pejantan) atau telah lazim disebut telur konsumsi.

Telur infertil mamiliki ciri warna cangkang atau kerabang telur berwarna coklat. Warna kerabang sendiri dipengaruhi deposit pigmen induk selama proses pembentukan telur dan ditentukan oleh genetik ayam. Namun, pembentukan warna kerabang telur tidak ditentukan oleh asupan pakan dan tidak berkaitan dengan nilai gizi telur. (Sumber: kompas.com)


ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer